Anda di halaman 1dari 42

OLEH :

KELOMPOK 6_IB

Afifah binti Adlas


Afrilia Ayu permata
Asri yulianti
Mega aprilia ningrum
Widya astute
Zarotul aini

KETUA KELOMPOK : afifah binti adlas

KELAS 1B

AKBIB INTERNASIONAL PEKANBARU


TA. 2011 / 2012
Daftar isi

Kata pengantar

Daftar isi

Bab I

Landasan teori

Anatomi dan biomekanik tulamg belakang

Patofiologi nyeri pinggang bawah

Intervensi fisioterapi

Lumbopelvic rhythm

Bab II

Pembahasan Biomekanik Sendi Tuang Punggung

Tujuan Percobaan

Alat-alat Percobaan

Prosedur

Data Hasil Pengamatan

Pembahasan / Perhitungan

Bab III

Kesimpulan

Penutup

Daftar Pustaka
Bab I

Landasan Teori

Punggung manusia merupakan aspek tubuh bagian belakang mulai dari bawah leher

sampai diatas pinggul. Tulang belakang kita terdiri dari 33 ruas (7 tulang leher, 12

punggung, 5 pinggang, 5 tulang pinggul, 4 tulang duduk) yang mana berfungsi sebagai

pelindung bagi jaringan dan syaraf tulang belakang, penyangga berat badan, poros

dan sumbu yang kuat dan lentur untuk kepala, dan sebagai postur dan penggerak

Menurut anatomi tubuh, tulang belakang manusia terdiri dari ruas-ruas yang

diantara ruas-ruas tersebut terdapat bantalan tulang belakang yang disebut discus

intervertebralis . Fungsi tulang belakang menjadi sangat penting dalam menopang

berat badan manusia sehingga manusia sebagai mahluk yang ditakdirkan berkaki dua

dapat berdiri dengan tegak dan berjalan stabil.

Anatomi Tulang Belakang Manusia

Manual handling adalah suatu kegiatan yang menggunakan kekuatan badan sebagai

tumpuan, termasuk didalamnya kegiatan angkat-mengangkat, membawa, mendorong,

menarik, memindahkan sesuatu yang menggunakan tenaga seorang diri tanpa alat

bantu.

Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan,

punggung, dan sebagainya. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera

tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang salah.
Pada kenyataannya manual handling sering kali tidak dapat dihindari dalam sebuah

pekerjaan. Ada kalanya seseorang menganggap remeh pekerjaan yang memakai

metode manual handling. Padahal jika direnungkan bahaya / resiko jangka

panjangnya adalah sangat fatal.

Beberapa penyakit yang dapat ditimbulkan akibat dari kesalahan dalam bekerja

tanpa alat bantu seperti, cedera tangan dan kaki, otot terkilir atau keseleo. Selain

itu penyakit yang dapat ditimbulkan dari kegiatan manual handling dalam hal angkat-

mengangkat secara manual dengan frekuensi yang tinggi (berulang-ulang) adalah

cedera tulang belakang seperti back pain (nyeri pinggang), atau lebih parah lagi bisa

terkena low back pain (nyeri pinggang bawah). Penyakit ini bisa dikategorikan

sebagai cedera tulang belakang kronis yang diakibatkan karena teknik mengangkat

yang tidak tepat, terlalu sering membungkuk, mengangkat yang berulang-ulang tanpa

memikirkan tehnik yang lebih baik apabila pekerjaan itu sering dilakukan. Ada pula

penyakit yang dapat ditimbulkan adalah saraf terjepit. Ini terjadi akibat dari isi

discus yang ada didalam tulang belakang keluar dan menekan saraf yang ada

dibelakangnya.

Menurut statistic sekitar 80% penduduk dunia merasakan nyeri di bagian belakang

tubuhnya. Dari jumlah itu, sekitar 20% berhubungan dengan tulang belakang. Tidak

sedikit penderita menahun mengidap rasa sakit pada tulang belakang. Penderita

seperti ini, menggerakkan tubuh saja tidak bisa dan kesakitan jika tidur miring.

Kesakitan ini bisa menjalar ke kaki yang bisa menimbulkan kelumpuhan.


1. Anatomi dan Biomekanik Tulang Belakang

Anatomi

Anatomi tulang belakang perlu diketahui agar klinisi dapat menentukan elemen apa

yang terganggu pada timbulnya keluhan nyeri punggung bawah.

Tulang vertebrae merupakan struktur komplek yang secara garis besar terbagi atas

2 bagian. Bagian anterior tersusun atas korpus vertebra, diskus intervertebralis

(sebagai artikulasi), dan ditopang oleh ligamnetum longitudinale anterior dan

posterior. Sedangkan bagian posterior tersusun atas pedikel, lamina, kanalis

vertebralis, serta prosesus tranversus dan spinosus yang menjadi tempat otot

penyokong dan pelindung kolumna vertebrale. Bagian posterior vertebra antara satu

dan lain dihubungkan dengan sendi apofisial (faset).

Stabilitas vertebrae tergantung pada integritas korpus vertebra dan diskus

intervertebralis serta dua jenis jaringan penyokong yaitu ligamentum (pasif) dan

otot (aktif). Untuk menahan beban yang besar terhadap kolumna vertebrale ini

stabilitas daerah pinggang sangat bergantung pada gerak kontraksi volunter dan

reflek otot-otot sakrospinalis, abdominal, gluteus maksimus, dan hamstring.

Diskus intervertebralis, baik anulus fibrosus maupun nucleus pulposusnya adalah

bangunan yang tidak peka nyeri. Dari gambar di atas, tampak bahwa yang merupakan

bagian peka nyeri adalah:


Lig. Longitudinale anterior

Lig. Longitudinale posterior

Corpus vertebra dan periosteumnya

Articulatio zygoapophyseal

Lig. Supraspinosum.

Fasia dan otot

Secara anatomis kolumna vertebralis terdiri dari 33 ruas tulang yaitu 7 ruas tulang

servikalis, 12 ruas tulang thorakalis, 5 ruas tulang lumbalis, 5 ruas tulang sakralis,

dan 4 ruas tulang koksigeus. Secara fungsional kolumna vertebralis merupakan satu

kesatuan, baik dalam fungsi statis maupun fungsi dinamis.

Vertebra lumbal terdiri dari lima dan tiap ruas dipisahkan oleh diskus

intervertebralis, sedang os sacrum juga terdiri dari 5 ruas tetapi ruas S1 sampai

S5 menyatu. Beban pada vertebra lumbalis paling besar dan secara anatomis-

kinesiologis mempunyai siri spesifik dan berkaitan dengan hip-pelvic complex dan

lower thorax spine. Vertebra lumbalis memiliki mobilitas yang besar dan spesifik

sehingga menuntut konskuensi stabilitas yang besar dan spesifik pula, yang dibentuk

oleh jaringan kontraktil dan nonkontraktil. Stabilitas dan gerakannya ditentukan

oleh facet, discus, ligamen, dan otot disamping korpus itu sendiri. Berikut ini adalah

gambaran tentang pilar anterior dan posterior columna vertebralis yang mana pilar

anterior berfungsi untuk menyangga berat badan dan ini merupakan struktur utama

pada corpus vertebrae.

1)Pilar Anterior

Pilar anterior ini struktur utamanya adalah korpus vertebra dan diskus
intervertebralis yang berfungsi untuk menyangga berat badan dan karena berat

badan kita terpusat di tulang belakang bagian bawah, maka korpus vertebra di

daerah lumbosakral bentuknya lebih besar dan kuat daripada daerah servikal atau

thorakal.

Bagian pilar anterior diperkuat oleh ligamentum longitudinale anterior yang melekat

erat pada korpus vertebra dan anulus fibrosus, bagian posterior oleh ligamentum

longitudinale posterior.

2)Pilar Posterior

Pilar posterior terdiri atas ; dua arkus vertebra yaitu dua processus transverses,

satu processus spinosus dan dua pasang articularis superior dan inferior. Sendi ini

disebut sendi facet atau articulatio intervertebralis karena diselubungi oleh kapsul

yang melekat erat pada facies articularisnya.

Pilar posterior diperkuat oleh ligamentum plaval, ligamentum interspinalis,

ligamentum supraspinal, dan ligamentum intertransversal.

3)Muskular

Otot-otot yang menyokong punggung bawah dikelompokkan sesuai dengan fungsi

gerakannya. Kelompok ekstensor terdiri dari ; m. quadratus lumborum, m.

sacrospinalis, m. multifidus, m. intertransversarii, m. costolumbalis, m. iliolumbalis.

Sedangkan kelompok fleksor terdiri dari otot-ortot perut yaitu ; m. rectum

abdominis, m. obliquus internus abdominis, m. obliquus externus abdominis.


Biomekanik

Nyeri Punggung Bawah akibat tendomyosis disebabkan oleh faktor biomekanik

(mechanical Low Back Pain), adanya peregangan pada tendon, ligamen, fascia dan

otot, dan postur yang abnormal.

Faktor-faktor biomakanik penyebab nyeri punggung bawah adalah faktor statik dan

faktor dinamik.

a.Faktor Statik

Terjadi akibat adanya deviasi dari postur atau sikap tubuh berupa kiposis atau

skoliosis, sehingga terjadi perubahan titik pusat berat badan ( TPBB ). Tubuh akan

berusaha mengembalikan TPBB ke tempat yang normal dengan kekuatan ekstra dan

sering diikuti peregangan dari otot dan tendon yang dapat menimbulkan nyeri. Bila

terjadi terus-menerus dalam waktu yang lama akan menimbulkan hipertonus dan

lebih lanjut akan merupakan sumber nyeri.

b.Faktor Dinamik

Pada nyeri punggung bawah karena faktor dinamik, yang salah satu penyebabnya

adalah tekanan abnormal pada punggung bawah yang normal, misalnya beban terlalu

berat sehingga otot tidak mampu menahan atau mengangkat beban terlalu lama

sehingga otot dan akan mengalami peregangan akibat hipertonus.


2. Patofisiologi Nyeri Pinggang Bawah

Bangunan peka nyeri mengandung reseptor nosiseptif (nyeri) yang terangsang oleh

berbagai stimulus lokal (mekanis, termal, kimiawi). Stimulus ini akan direspon dengan

pengeluaran berbagai mediator inflamasi yang akan menimbulkan persepsi nyeri.

Mekanisme nyeri merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan

sehingga proses penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah

spasme otot, yang selanjutnya dapat menimbulkan iskemia.

Nyeri yang timbul dapat berupa nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya

berbagai mediator inflamasi; atau nyeri neuropatik yang diakibatkan lesi primer

pada sistem saraf.

Iritasi neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama,

penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang kaya nosiseptor dari

nervi nevorum yang menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut

saraf dan bertambah dengan peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan.

Kemungkinan kedua, penekanan mengenai serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi

perubahan biomolekuler di mana terjadi akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya.

Penumpukan ini menyebabkan timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka

terhadap rangsang mekanikal dan termal. Hal ini merupakan dasar pemeriksaan

Laseque.
Definisi

Nyeri punggung bawah atau Low Back Pain didefinisikan sebagai nyeri dan

ketidaknyamanan, yang terlokalisasi di bawah sudut iga terakhir (costal margin) dan

di atas lipat bokong bawah (gluteal inferior fold), dengan atau tanpa nyeri pada

tungkai.

Berdasarkan lama perjalanan penyakitnya, nyeri punggung bawah diklasifikasikan

menjadi 3 yaitu, akut, sub akut, dan kronis. Nyeri punggung bawah akut

didefinisikan sebagai timbulnya episode nyeri punggung bawah yang menetap dengan

durasi kurang dari 6 minggu. Untuk durasi antara 6-12 minggu didefinisikan sebagai

nyeri punggung bawah sub akut, sedangkan untuk durasi lebih panjang dari 12

minggu adalah nyeri punggung bawah kronis.

Sebab Terjadinya NPB

Pada dasarnya, timbulnya rasa nyeri pada NPB diakibatkan oleh terjadinya tekanan

pada susunan saraf tepi yang terjepit pada area tersebut. Secara umum kondisi ini

seringkali terkait dengan trauma mekanik akut, namun dapat juga sebagai akumulasi

dari beberapa trauma dalam kurun waktu tertentu. Akumulasi trauma dalam jangka

panjang seringkali ditemukan pada tempat kerja. Kebanyakan kasus NPB terjadi

dengan adanya pemicu seperti kerja berlebihan, penggunaan kekuatan otot

berlebihan, ketegangan otot, cedera otot, ligamen, maupun diskus yang menyokong

tulang belakang. Namun, keadaan ini dapat juga disebabkan oleh keadaan non-

mekanik seperti peradangan pada ankilosing spondilitis dan infeksi, neoplasma, dan

osteoporosis.
Patofisiologi dari NPB sangatlah kompleks. Beragam struktur anatomi dan elemen

dari tulang lumbal (tulang, ligamen, tendon, otot, dan diskus) diyakini sangat

berperan dalam timbulnya gangguan. Sebagian besar dari elemen lumbal memiliki

inervasi sensorik sehingga dapat memicu sinyal nosiseptif yang timbul sebagai

respons terhadap stimulus kerusakan jaringan. Sebab lainnya adalah gangguan pada

saraf, contohnya adalah skiatika. Pada kasus NPB kronis, seringkali dijumpai

penyebabnya adalah campuran antara nosiseptif dan neurologis.

Tanda dan Gejala

Berdasarkan pemeriksaan yang cermat, NPB dapat dikategorikan ke dalam 3

kelompok berikut ini:

Simple Back Pain (NPB sederhana) dengan karakteristik :

Adanya nyeri pada daerah lumbal atau lumbosakral tanpa penjalaran atau

keterlibatan neurologis

Nyeri mekanik, derajat nyeri bervariasi setiap waktu, dan tergantung dari

aktivitas fisik

Kondisi kesehatan pasien secara umum adalah baik

NPB dengan keterlibatan neurologis, dibuktikan dengan adanya 1 atau lebih

tanda atau gejala yang mengindikasikan adanya keterlibatan neurologis

Gejala : nyeri yang menjalar ke lutut, tungkai, kaki, ataupun adanya rasa baal

di daerah nyeri

Tanda : adanya tanda iritasi radikular, gangguan motorik maupun sensorik

atau refleks

Red flag NPB dengan kecurigaan mengenai adanya cedera atau kondisi

patologis yang berat pada spinal.


Karakteristik umum :

Trauma fisik berat seperti jatuh dari ketinggian ataupun kecelakaan

kendaraan bermotor

Nyeri non-mekanik yang konstan dan progresif

Ditemukan nyeri abdominal dan atau torakal

Nyeri hebat pada malam hari yang tidak membaik dengan posisi telentang

Riwayat atau ada kecurigaan kanker, HIV, atau keadaan patologis lainnya yang

dapat menyebabkan kanker

Penggunaan kortikosteroid jangka panjang

Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya, menggigil, dan atau

demam

Fleksi lumbal sangat terbatas dan persisten

Saddle anesthesia, dan atau adanya inkotinensia urin

Risiko untuk terjadinya kondisi yang lebih berat adalah awitan NPB pada usia

kurangdari 20 tahun atau lebih dari 55 tahun.

Setiap gejala yang dialami yang disebutkan di atas, tentu saja harus mendapatkan

penatalaksanaan yang adekuat. Namun, pada kondisi NPD dengan keterlibatan

neurologis ataupun kondisi-kondisi red flags, investigasi dan tindakan

penatalaksanaan harus dilakukan segera.


Faktor Resiko

Usia

Nyeri pinggang merupakan keluhan yang berkaitan erat dengan umur. Secara

teori, nyeri pinggang atau nyeri punggung bawah dapat dialami oleh siapa saja,

pada umur berapa saja. Namun demikian keluhan ini jarang dijumpai pada

kelompok umur 0-10 tahun, hal ini mungkin berhubungan dengan beberapa

faktor etiologik tertentu yag lebih sering dijumpai pada umur yang lebih tua.

Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua

dan insiden tertinggi dijumpai pada dekade kelima.1 Bahkan keluhan nyeri

pinggang ini semakin lama semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.

Jenis Kelamin

Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri

pinggang sampai umur 60 tahun, namun pada kenyataannya jenis kelamin

seseorang dapat mempengaruhi timbulnya keluhan nyeri pinggang, karena

pada wanita keluhan ini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami

siklus menstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkan

kepadatan tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogen sehingga

memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.

Status Antropometri

Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri

pinggang lebih besar, karena beban pada sendi penumpu berat badan akan

meningkat, sehingga dapat memungkinkan terjadinya nyeri pinggang.


Tinggi badan berkaitan dengan panjangnya sumbu tubuh sebagai lengan beban

anterior maupun lengan posterior untuk mengangkat beban tubuh.

Pekerjaan

Faktor risiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot

rangka terutama adalah kerja fisik berat, penanganan dan cara pengangkatan

barang, gerakan berulang, posisi atau sikap tubuh selama bekerja (awkward

posture), getaran, dan kerja statis. Oleh karena itu, riwayat pekerjaan

sangat diperlukan dalam penelusuran penyebab serta penanggulangan keluhan

ini.

Aktivitas / olahraga

Sikap tubuh yang salah merupakan penyebab nyeri pinggang yang sering tidak

disadari oleh penderitanya. Terutama sikap tubuh yang menjadi kebiasaan.

Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada

posisi yang salah dapat menimbulkan nyeri pinggang, misalnya, pada pekerja

kantoran yang terbiasa duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang

pada kursi, atau seorang mahasiswa yang seringkali membungkukkan

punggungnya pada waktu menulis. Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri

dengan membungkuk atau menekuk ke muka. Posisi tidur yang salah seperti

tidur pada kasur yang tidak menopang tulang belakang. Kasur yang diletakkan

di atas lantai lebih baik daripada tempat tidur yang bagian tengahnya lentur.

Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri langsung membungkuk mengambil

beban merupakan posisi yang salah, seharusnya beban tersebut diangkat

setelah jongkok terlebih dahulu.


Selain sikap tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan, beberapa

aktivitas berat seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1

jam dalam sehari, melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton

lebih dari 2 jam dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak

tangga dalam sehari, berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula

meningkatkan resiko timbulnya nyeri pinggang.

Kebiasaan merokok

Kebiasaan merokok diketahui menimbulkan berbagai dampak pada kesehatan.

Hubungannya dengan kejadian NPB, diduga karena perokok memiliki

kecenderungan untuk mengalami gangguan pada peredaran darahnya,

termasuk ke tulang belakang.

Abnormalitas struktur

Ketidaknormalan struktur tulang belakang seperti pada skoliosis, lorodosis,

maupun kifosis, merupakan faktor risiko untuk terjadinya NPB. Kondisi

menjadikan beban yang ditumpu oleh tulang belakang jatuh tidak pada

tempatnya, sehingga memudahkan timbulnya berbagai gangguan pada struktur

tulang belakang.

Riwayat episode NPB sebelumnya

Individu dengan riwayat episode NPB, memiliki kecenderungan dan risiko

untuk berulangnya kembali gangguan tersebut.


Tindak Lanjut dan Perawatan Medis

Tujuan utama dari penatalaksanaan kasus NPB adalah untuk menghilangkan nyeri,

mempertahankan dan meningkatkan mobilitas, menghambat progresifitas penyakit,

dan mengurangi kecacatan. Penatalaksanaan untuk NPB dapat merupakan terapi

medikamentosa, dan juga dapat berupa terapi non medikamentosa yang akan

dijelaskan kemudian.

Pencegahan

Telah dibahas sebelumnya bahwa kejadian NPB pada pekerja sangat terkait dengan

pekerjaan yang dilakukannya. Risiko di tempat kerja meliputi kerja fisik berat,

penanganan dan cara pengangkatan barang, gerakan berulang, posisi atau sikap

tubuh selama bekerja, getaran, dan kerja statis. Maka, tindakan pencegahan yang

dilakukan juga harus berdasarkan pada faktor-faktor tersebut, yakni :

Pencegahan primer yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kejadian NPB di

tempat kerja.

Pencegahan sekunder untuk mengurangi kejadian NPB dengan deteksi dini.

Pencegahan tersier dilakukan untuk meminimalisir konsekuensi atau

disabilitas yang mungkin timbul dalam perjalanan penyakitnya.


Tindakan pencegahan tersebut dilakukan dengan strategi pencegahan sebagai

berikut :

Edukasi dan pelatihan

Pekerja perlu mendapatkan edukasi tentang cara bekerja yang baik, dalam hal

ini yang terkait dengan gangguan NPB. Edukasi dapat meliputi teknik

mengangkat beban, posisi tubuh saat bekerja, peregangan, dan sebagainya.

Lebih lanjut juga diberikan exercise untuk meningkatkan kekuatan,

fleksibilitas, dan ketahanan dari punggung bawah.

Ergonomi dan modifikasi faktor risiko

Bila memang ada faktor risiko pekerjaan terhadap timbulnya NPB di tempat

kerja, maka perlu dilakukan upaya kontrol. Upaya ini dapat meliputi pengadaan

mesin pengangkat, ban berjalan, dan sebagainya. Adanya regulasi khusus dari

perusahaan mengenai pembatasan jumlah beban yang dapat diangkat oleh

pekerja adalah langkah yang baik. Demikian juga halnya dengan pembatasan

waktu bekerja. Faktor risiko individu, bila ada, juga harus dikendalikan.

Misalkan kebiasan merokok.

Walaupun belum didapatkan bukti yang kuat bahwa modifikasi faktor risiko

dapat mencegah kejadian NPB, namun setidaknya dapat meningkatkan

kesehatan pekerja secara umum.

Pemilihan pekerja

Pemilihan pekerja dilakukan dengan skrining pra-kerja. Riwayat kesehatan

dan hasil pemeriksaan fisik harus diperhatikan dengan seksama. Adanya


riwayat episode NPB sebelumnya merupakan salah satu indikator adanya

kemungkinan akan berulangnya kembali gangguan tersebut bila calon pekerja

itu berhadapan dengan faktor risiko yang ada di tempat kerja. Penggunaan

rontgen dan tes kekuatan sebagai salah satu alat skrining tidak dianjurkan

karena ketidakefektifannya dalam mendeteksi adanya NPB.

Tujuan akhir dari program pencegahan ini meliputi :

Penurunan insiden dan prevalensi NPB

Penurunan angka disabilitas dan perbaikan fungsi

Menjaga pekerja tetap dapat bekerja

Meningkatkan produktivitas

Mengurangi dampak sosioekonomi dan pekerjaan dari NPB


3. Intervensi Fisioterapi

Anamnesis

Anamnesis yang cermat dan terperinci tentang sifat nyeri, saat timbulnya, lokalisasi

serta radiasinya sangat diperlukan dalam menetapkan diagnosa. Perlu ditanyakan

tentang peristiwa sebelumnya yang mungkin menjadi pencetus keluhan, seperti

adanya trauma, sikap tubuh yang salah, misalnya waktu mengangkat beban, kegiatan

fisik atau olahraga yang tidak biasa, dan penyakit yang dapat berhubungan dengan

keluhan nyeri pinggang tersebut.

Adanya keluhan neurologis perlu diperhatikan dan perlu pemeriksaan neurologis yang

lebih teliti, dan bahkan perlu pemeriksaan kemungkinan adanya tanda keganasan.

Pemeriksaan rontgen terutama untuk kelainan tulang dan persendian sangat

diperlukan, bahkan perlu teknik khusus dan alat lebih canggih seperti MRI, CT Scan,

EMG, dan lain-lain. Pemeriksaaan laboratorium sangat membantu untuk menentukan

penyakit sistemik yang mungkin sebagai penyebab nyeri pinggang.

Penyebab nyeri pinggang ini sangat bervariasi dari yang ringan seperti sikap tubuh

yang salah sampai yang berat dan sangat serius, misalnya oleh keganasan. Kondisi

psikologis seperti neurosis, histeria dan reaksi konversi mungkin pula berkaitan

dengan nyeri pinggang. Depresi lebih jarang sebagai penyebab nyeri pinggang,

sebaliknya depresi sering timbul sebagai komplikasi nyeri pinggang kronik.


Pemeriksaan Fisik

Inspeksi :

Gerakan aktif pasien harus dinilai, diperhatikan gerakan mana yang membuat nyeri

dan juga bentuk kolumna vertebralis, berkurangnya lordosis serta adanya skoliosis.

Berkurang sampai hilangnya lordosis lumbal dapat disebabkan oleh spasme otot

paravertebral.

Gerakan-gerakan yang perlu diperhatikan pada penderita:

Keterbatasan gerak pada salah satu sisi atau arah.

Ekstensi ke belakang (back extension) seringkali menyebabkan nyeri pada

tungkai bila ada stenosis foramen intervertebralis di lumbal dan artritis

lumbal, karena gerakan ini akan menyebabkan penyempitan foramen sehingga

menyebabkan suatu kompresi pada saraf spinal.

Fleksi ke depan (forward flexion) secara khas akan menyebabkan nyeri pada

tungkai bila ada HNP, karena adanya ketegangan pada saraf yang terinflamasi

diatas suatu diskus protusio sehingga meninggikan tekanan pada saraf spinal

tersebut dengan jalan meningkatkan tekanan pada fragmen yang tertekan di

sebelahnya (jackhammer effect).

Lokasi dari HNP biasanya dapat ditentukan bila pasien disuruh membungkuk

ke depan ke lateral kanan dan kiri. Fleksi ke depan, ke suatu sisi atau ke

lateral yang meyebabkan nyeri pada tungkai yang ipsilateral menandakan

adanya HNP pada sisi yang sama.


Nyeri NPB pada ekstensi ke belakang pada seorang dewasa muda

menunjukkan kemungkinan adanya suatu spondilolisis atau spondilolistesis,

namun ini tidak patognomonik.

Palpasi :

Adanya nyeri (tenderness) pada kulit bisa menunjukkan adanya kemungkinan suatu

keadaan psikologis di bawahnya (psychological overlay).

Kadang-kadang bisa ditentukan letak segmen yang menyebabkan nyeri dengan

menekan pada ruangan intervertebralis atau dengan jalan menggerakkan ke kanan ke

kiri prosesus spinosus sambil melihat respons pasien. Pada spondilolistesis yang

berat dapat diraba adanya ketidak-rataan (step-off) pada palpasi di tempat/level

yang terkena. Penekanan dengan jari jempol pada prosesus spinalis dilakukan untuk

mencari adanya fraktur pada vertebra. Pemeriksaan fisik yang lain memfokuskan

pada kelainan neurologis.

Refleks yang menurun atau menghilang secara simetris tidak begitu berguna pada

diagnosis NPB dan juga tidak dapat dipakai untuk melokalisasi level kelainan, kecuali

pada sindroma kauda ekuina atau adanya neuropati yang bersamaan. Refleks patella

terutama menunjukkan adanya gangguan dari radiks L4 dan kurang dari L2 dan L3.

Refleks tumit predominan dari S1.

Harus dicari pula refleks patologis seperti babinski, terutama bila ada hiperefleksia

yang menunjukkan adanya suatu gangguan upper motor neuron (UMN). Dari

pemeriksaan refleks ini dapat membedakan akan kelainan yang berupa UMN atau

LMN.
Pemeriksaan motoris : harus dilakukan dengan seksama dan harus dibandingkan

kedua sisi untuk menemukan abnormalitas motoris yang seringan mungkin dengan

memperhatikan miotom yang mempersarafinya.

Pemeriksaan sensorik : Pemeriksaan sensorik akan sangat subjektif karena

membutuhkan perhatian dari penderita dan tak jarang keliru, tapi tetap penting arti

diagnostiknya dalam membantu menentukan lokalisasi lesi HNP sesuai dermatom

yang terkena. Gangguan sensorik lebih bermakna dalam menunjukkan informasi

lokalisasi dibanding motoris.

Tanda-tanda perangsangan meningeal :

Tanda Laseque: menunjukkan adanya ketegangan pada saraf spinal khususnya L5

atau S1. Secara klinis tanda Laseque dilakukan dengan fleksi pada lutut terlebih

dahulu, lalu di panggul sampai 900 lalu dengan perlahan-lahan dan graduil dilakukan

ekstensi lutut dan gerakan ini akan menghasilkan nyeri pada tungkai pasien

terutama di betis (tes yang positif) dan nyeri akan berkurang bila lutut dalam

keadaan fleksi. Terdapat modifikasi tes ini dengan mengangkat tungkai dengan lutut

dalam keadaan ekstensi (stright leg rising). Modifikasi-modifikasi tanda laseque

yang lain semua dianggap positif bila menyebabkan suatu nyeri radikuler. Cara

laseque yang menimbulkan nyeri pada tungkai kontra lateral merupakan tanda

kemungkinan herniasi diskus.

Pada tanda laseque, makin kecil sudut yang dibuat untuk menimbulkan nyeri makin

besar kemungkinan kompresi radiks sebagai penyebabnya. Demikian juga dengan

tanda laseque kontralateral. Tanda Laseque adalah tanda pre-operatif yang terbaik

untuk suatu HNP, yang terlihat pada 96,8% dari 2157 pasien yang secara operatif
terbukti menderita HNP dan pada hernia yang besar dan lengkap tanda ini malahan

positif pada 96,8% pasien. Harus diketahui bahwa tanda Laseque berhubungan

dengan usia dan tidak begitu sering dijumpai pada penderita yang tua dibandingkan

dengan yang muda (<30 tahun).

Tanda Laseque kontralateral (contralateral Laseque sign) dilakukan dengan cara

yang sama, namun bila tungkai yang tidak nyeri diangkat akan menimbulkan suatu

respons yang positif pada tungkai kontralateral yang sakit dan menunjukkan adanya

suatu HNP.

Penatalaksanaan HNP

Penatalaksanaan NPB diberikan untuk meredakan gejala akut dan mengatasi etiologi.

Pada kasus HNP, terapi dibagi berdasarkan terapi konservatif ,terapi fisik dan

terapi operatif.

Terapi konservatif

Tujuan terapi konservatif adalah mengurangi iritasi saraf, memperbaiki kondisi fisik

pasien dan melindungi dan meningkatkan fungsi tulang punggung secara keseluruhan.

90% pasien akan membaik dalam waktu 6 minggu, hanya sisanya yang membutuhkan

pembedahan.
Terapi fisik

Traksi pelvis

Menurut panel penelitian di Amerika dan Inggris traksi pelvis tidak terbukti

bermanfaat. Penelitian yang membandingkan tirah baring, korset dan traksi dengan

tirah baring dan korset saja tidak menunjukkan perbedaan dalam kecepatan

penyembuhan.

Diatermi/kompres panas/dingin

Tujuannya adalah mengatasi nyeri dengan mengatasi inflamasi dan spasme otot.

Pada keadaan akut biasanya dapat digunakan kompres dingin, termasuk bila terdapat

edema. Untuk nyeri kronik dapat digunakan kompres panas maupun dingin.

Korset lumbal

Korset lumbal tidak bermanfaat pada NPB akut namun dapat digunakan untuk

mencegah timbulnya eksaserbasi akut atau nyeri pada NPB kronis. Sebagai

penyangga korset dapat mengurangi beban pada diskus serta dapat mengurangi

spasme.

Latihan

Direkomendasikan melakukan latihan dengan stres minimal pada punggung seperti

jalan kaki, naik sepeda atau berenang. Latihan lain berupa kelenturan dan penguatan.

Latihan bertujuan untuk memelihara fleksibilitas fisiologik, kekuatan otot, mobilitas

sendi dan jaringan lunak. Dengan latihan dapat terjadi pemanjangan otot, ligamen

dan tendon sehingga aliran darah semakin meningkat.


Latihan kelenturan

Punggung yang kaku berarti kurang fleksibel akibatnya vertebra lumbosakral tidak

sepenuhnya lentur. Keterbatasan ini dapat dirasakan sebagai keluhan kencang.

Latihan untuk kelenturan punggung adalah dengan membuat posisi meringkuk seperti

bayi dari posisi terlentang. Tungkai digunakan sebagai tumpuan tarikan. Untuk

menghasilkan posisi knee-chest, panggul diangkat dari lantai sehingga punggung

teregang, dilakukan fleksi bertahap punggung bawah bersamaan dengan fleksi leher

dan membawa dagu ke dada. Dengan gerakan ini sendi akan mencapai rentang

maksimumnya. Latihan ini dilakukan sebanyak 3 kali gerakan, 2 kali sehari.

Latihan penguatan

Latihan pergelangan kaki: Gerakkan pergelangan kaki ke depan dan belakang dari

posisi berbaring.

Latihan menggerakkan tumit: Dari posisi berbaring lutut ditekuk dan kembali

diluruskan dengan tumit tetap menempel pada lantai (menggeser tumit).

Latihan mengangkat panggul: Pasien dalam posisi telentang, dengan lutut dan

punggung fleksi, kaki bertumpu di lantai. Kemudian punggung ditekankan pada lantai

dan panggul diangkat pelan-pelan dari lantai, dibantu dengan tangan yang bertumpu

pada lantai. Latihan ini untuk meningkatkan lordosis vertebra lumbal.

Latihan berdiri: Berdiri membelakangi dinding dengan jarak 10-20 cm, kemudian

punggung menekan dinding dan panggul direnggangkan dari dinding sehingga

punggung menekan dinding. Latihan ini untuk memperkuat muskulus kuadriseps.


Latihan peregangan otot hamstring: Peregangan otot hamstring penting karena otot

hamstring yang kencang menyebabkan beban pada vertebra lumbosakral termasuk

pada anulus diskus posterior, ligamen dan otot erector spinae. Latihan dilakukan

dari posisi duduk, kaki lurus ke depan dan badan dibungkukkan untuk berusaha

menyentuh ujung kaki. Latihan ini dapat dilakukan dengan berdiri.

Latihan berjinjit: Latihan dilakukan dengan berdiri dengan seimbang pada 2 kaki,

kemudian berjinjit (mengangkat tumit) dan kembali seperti semula. Gerakan ini

dilakukan 10 kali.

Latihan mengangkat kaki: Latihan dilakukan dengan menekuk satu lutut, meluruskan

kaki yang lain dan mengangkatnya dalam posisi lurus 10-20 cm dan tahan selama 1-5

detik. Turunkan kaki secara perlahan. Latihan ini diulang 10 kali.

Proper body mechanics: Pasien perlu mendapat pengetahuan mengenai sikap tubuh

yang baik untuk mencegah terjadinya cedera maupun nyeri.

Terapi operatif

Terapi bedah berguna untuk menghilangkan penekanan dan iritasi pada saraf

sehingga nyeri dan gangguan fungsi akan hilang. Tindakan operatif pada HNP harus
10
berdasarkan alasan yang kuat yaitu berupa:

Defisit neurologik memburuk.

Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).

Paresis otot tungkai bawah.


4. Lumbopelvic Rhythm

Suatu gerakan koordinasi antara lumbal spine dan pelvis terjadi selama inifleksi

trunk sampai jari-jari tangan mencapai lantai/tanah. disebut lumbopelvic rhythm.

Pada saat kepala dan upper trunk (punggung atas) mulai fleksi, maka pelvis akan

bergeser ke posterior (backward tilt) untuk memperta-hankan pusat gravitasi

seimbang diatas dasar tumpuan

Ketika trunk berlanjut ke fleksi, maka dikontrol oleh otot ekstensor spine sampai

sekitar 45o.

Kemudian ligamen-ligamen bagian posterior akan tegang dan orientasi facet dalam

bidang frontal, sehingga memberikan stabilitas pada vertebra & otot relax.

Pada akhir ROM, seluruh segmen vertebra di-stabilisasi oleh ligamen-ligamen

posterior dan facet joint.

Pada akhir ROM, pelvis mulai berotasi ke de-pan (forward tilt) yang dikontrol oleh

otot glu-teus maximus dan hamstring.

Kemudian pelvis melanjutkan rotasi ke depan sampai pemanjangan penuh akhir ROM

dipengaruhiotot ekstensor spine dan hamstring tercapai. oleh fleksibilitas otot

ekstensor spine dan fascia serta otot ekstensor hip (hams-tring).

Pada saat trunk kembali ke posisi tegak, diawal gerakan otot ekstensor hip

merotasikan pelvis kearah posterior (backward tilt).

Kemudian otot ekstensor spine memanjangkan spine (ekstensi trunk) dari posisi

fleksi.
Lumbopelvic rhythm dapat terganggu akibat kebiasaan postur yang jelek,

keterbatasan pan-jang otot atau fascia, atau injury dan gangguan propriosepsi.

Bab II

Pembahasan Biomekanik sendi tulang

punggung

A.Tujuan percobaan

Tujuan utama dari penatalaksanaan kasus NPB adalah untuk menghilangkan nyeri,

mempertahankan dan meningkatkan mobilitas, menghambat progresifitas penyakit,

dan mengurangi kecacatan. Penatalaksanaan untuk NPB dapat merupakan terapi

medikamentosa, dan juga dapat berupa terapi non medikamentosa yang akan

dijelaskan kemudian.

Percobaan ini dilakukan dengan tujuan menganalisa biomekanik prinsip kerja poros

sendi tulang punggung yang dilakukan untuk mendapatkan beberapa tujuan antara

lain :

1. Menentukan keuntungan biomekanik dari prinsip kerja biomekanik nya

sendi tulang punggung dan kaitannya pada poros sendi tumpuannya

dngan menggunakan prinsip kerja tuas dari beberapa pergerakan posisi

membungkuk dengan fariasi beban.


2. Menentukan besarnya kekuatan kerja berupa gaya tumpu poros sendi

tulang punggung atas dari beberapa pergerakan posisi membungkuk dgn

fariasi beban.

3. Menentukan besarnya gaya kontraksi otot punggung atas yang

bekerjauntuk menahan gaya pembebanan dari beberapa pergerakan

posisi membungkuk.

4. Menganalisa kemungkinan adanya efek fisiologi biomekanik yang di

timbulkan dari beberapa posisi pergerakan tersebut.

B.Alat-alat percobaan
Busur derajat : Untuk mengukur derajat pembungkukan dari

percobaan.
Jam tangan : Untuk menghitung waktu

Tali : Untuk mengikat beban


Thermometer : Untuk mengukur suhu

Meteran : untuk mengukur tinggi fundus uterus


Phantom bayi : Sebagai beban

Mahasiswi yang memperagakan


C. Prosedur

Dalam percobaan ini akan dikaji beberapa besaran fisis penting dari prinsip

biomekanik kerja poros sendi tulang punggung ketika menopang tulang panggung atas

yang pada prinsipnya berfungsi sebagai tuas . Beberapa besara fisis itu antara lain :

Keuntunagan biomeanik , besar atau kecilnya gaya tumpuan pada poros tulang

punggungterbawah dan juga gaya kontraksi otot tulang punggung atas karena

beberapa orientasi dari posisi membungkuk atau variasi sudut , serta efek fisiology

yang ditimbulkan oleh poros sendi tulang punggung terbawah sebagai tumpuan

karena adanya variasi pembebanan dalam waktu tertentu .

penentuan beberapa contoh disain tipe gaya membungkuk dari pengukuran ini

akan dilakukan antara lain dengan menentukan beberapa posisi membungkuk karena

perubahan pergerakan tulang punggung atas baik itu kearah bawah maupun ke atas

seperti pada gambar di bawah :

Tipe gaya membungkuk I

Posisi 45 ke atas
Posisi 45 ke bawah

Tipe gaya membungkuk II

Posisi 0

Prosedur pengambilan data :

1. Timbang berat badan orang tersebut m1 dan berat penambahan masa (

bayi ) m2 , dan catat dalam tabel .

2. Demontrasikan orang tersebut dengan berbagai tipe posisi membungkuk

seperti pada gambar diatas , dan catat variasi sudut dengan lam waktu

t ditentukan oleh pembimbing pratikum .


3. Bila percobaan ini dilakukan oleh 1 atau beberapa orang , maka catatlah

efek fisiology yang dirasakan ketika bertahan dalam periode waktu yang

ditentukan t saat melakukan tipe membungkuk , misalkan letih di

punggung atau poros sendi atau terasa pada otot punggung , dll .

4. Bila dilakukan dengan simulasi , maka prosedur (3) tidak ada .

D. Data Hasil Pengamatan


Tabel data percobaan dalam menganalisis biomekanik poros sendi tulang

punggung yang melibatkan beberapa parameter pendukung pengambilan data dapat

dilihat pada tabel tersebut :

No Masa Masa Lama Sudut Sudut Gaya Gaya


Orang Total Waktu f R
M1 W= Percobaan 0 0 (N) (N)
(kg) (m1+m2)g
(N)

T

(detik)

1 60 60,3 15 54 12 0 -301,5 -301,5

2 60 60,3 15 33 12 15 0,96 1,005


3 60 60,3 15 23 12 30 166 190,82

4 60 60,3 1514 12 45 76,75 109,64


Keuntungan Biomekanik Efek Fisiologi
Sudut KB X

0 - 0,2 Pegal, kesemutan, sakit pada pinggang dan lutut

15 62,8 Pegal, kesemutan, sakit pada pinggang dan lutut

30 0,36 Pegal, kesemutan, sakit pada pinggang dan lutut

45 0,78 Pegal, kesemutan, sakit pada pinggang dan lutut

Keterangan :

: sudut diukur sesuai tipe gaya membunguk

: ditentukan melalui perhitungan perumusan

x : dihasilkan dari efek fisiology yang terasa ketika tanpa

pembebanan tanpa adanya pembebanan dalam bernagai tipe gaya

membungkuk.

E. Pembahasan / perhitungan
1) 00

R= w

(sin cos cos sin )

= 60,3

(sin 0 cos 120 cos 00 sin 120)

= 60,3

0 x 0,98 1 x 0,2

= 60,3 = 60,3 = -301,5

0 0,2 - 0,2
F = R cos KB = w/F

= - 301,5 x cos 0 = 60,3

= -301,5 x 1 - 301,5

= - 301,5 = - 0,2

2) 150

R = w

(sin cos cos sin )

= 60,3

(sin 150 cos 120 cos 150 sin 120)

= 60,3

(0,26 x 0,98 0,96 x 0,2)

= 60,3 60,3 1,005

0,25 0,195 0,06

F = R cos KB = w 60,3 62,5

= 1,005 x cosn 150 F 0,9648

= 1,005 x 0,96 60,3/0,96 62,8

= 0,9648 0,96
3) 300

R = w

(sin cos - cos sin )

= 60,3

(sin 300 cos 120 cos 30o sin 120)

= 60,3

(0,5 x 0,98 0,87 x 0,2)

= 60,3 60,3 = 190,82

0,49 0,174 0,316

F = R cos KB = W 60,3 0,36

= 190,82 cos 300 F 16,6

= 190,82 x 0,87

= 166

4) 450

R = W

(sin cos cos sin )

= 60,3

(sin 450 cos 120 cos 450 sin 120)

= 60,3

(0,7 x 0,98 0,7 x 0,2)

= 60,3 60,3 109,64

0,69 0,14 0,55


F = R cos KB = W 60,3

= 109,64 cos 450 F 76,75

= 109,64 x 0,7 0,78

= 76,75

Bab III

Kesimpulan dan penutup

Kesimpulan
Nyeri pinggang saat ini merupakan suatu keadaan yang menyebabkan terjadinya

inefisiensi pada suatu pekerjaan dan merupakan kondisi yang paling

banyak membutuhkan perawatan kesehatan.

Hal ini akan menyebabkan timbulnya gangguan dalam produktifitas kerja sehingga

secara langsung dan tidak langsung akan mempengaruhi ekonomi.Struktur tulang

belakang merupakan struktur yang kompleks, sehingga untuk memahami secara

lengkap tentang gejala nyeri pinggang dan melakukan pemeriksaan tulang belakang

bagian lumbosakral, seseorang harus memahami dulu struktur normal dan kinetik

dari neuromuskuloskeletal tulang belakang


Penutup
Penatalaksanaan konservatif nyeri pinggang bawah tergantung pada banyak faktor,

misal usia, pekerjaan, bagaimana etiologi dan berat penyakit, reaksi terhadap

penyakit dan adanya deficit neurologik. Sebagai contoh penderita yang terkena

nyeri pinggang bawah dengan herniasi discus tulang belakang, apabila sudah

diberikan pengobatan, tetapi karena faktor pekerjaan, penderita tetap bekerja

mengangkat beban berat, maka upaya penatalaksanaan tidak tercapai secara

maksimal.

Jadi disini penting sekali perlunya anamnesa antara pasien dengan tanaga medis,

sehingga faktor resiko yang mencetuskan nyeri pinggang bawah dapat dicegah.

Apabila diberi penanganan secara konservatif, ternyata rasa nyeri masih menetap,

maka indikasi operasi perlu ditimbangkan. Prinsip penanganan konservatif nyeri

pinggang bawah: - Istirahat, program kegiatan sehari-hari harus dibatasi.

Sebaiknya penderita dilarang mengangkat barang berat, berdiri terlalu lama,

melakukan perjalanan jauh.


Daftar Pustaka

Aulina S. Anatomi dan Biomekanik Tulang Belakang. Dalam: Meliala L, Nyeri

Punggung Bawah, Kelompok Studi Nyeri Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf

Indonesia. Jakarta, 2003.

Kasjmir YI. Penatalaksanaan Medik Nyeri Punggung Bawah. Dalam Meliala L, Suryono

B, Wibowo S. Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah I Indonesian Pain Society,

Yogyakarta, 2003.

Meliala L. Patofisiologi Nyeri pada Nyeri Punggung Bawah. Dalam: Meliala L, Nyeri

Punggung Bawah, Kelompok Studi Nyeri Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf

Indonesia. Jakarta, 2003.

Meliala L. Patofisiologi dan Penatalaksanaan Nyeri Punggung Bawah . Dalam Meliala

L, Suryono B, Wibowo S. Kumpulan Makalah Pertemuan Ilmiah I Indonesian Pain

Society, Yogyakarta, 2003.

Referensi Internet

Dr. Lutfi Gatham Sp OT K(Spine). Teknologi Terbaru Atasi Tulang Belakang.

http://www.persi.or.id/banten/data/tulang_belakang.pdf diakses tanggal 27

november 2011

FKUnsri. 2007. Nyeri Pinggang / Low Back Pain.

http://fkunsri.wordpress.com/2007/09/01/nyeri-pinggang-low-back-pain/ diakses

tanggal 27 november 2011


Patel AT, Ogle AA. Diagnosis and management of acute low back pain. Available

from:URLhttp://www.afp/low%20back%20pain\Diagnosis%20Management%20of%

20Acute%20Low%20Back%20Pain.htm diakses tanggal 27 november 2011

Wheeler AH, Stubbart J. Pathophysology of chronic back pain. Up date April 13,

2006. www.emedicine.com/neuro/topic516.htm