Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PORTOFOLIO PSIKIATRI

DOKTER INTERNSIP

Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi

Oleh:
Addy Saputro, dr.
045/IDI-NGW/IPRA/VI/2016

Pembimbing:
Setiyoko, dr.

RUMAH SAKIT UMUM DOKTER SOEROTO


NGAWI
2017
No. ID dan Nama Peserta : dr. Addy Saputro
No. ID dan Nama Wahana : RSUD Soeroto Ngawi
Topik : Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi
Tanggal (kasus) : 09 Januari 2016
Nama Pasien : Ny. S No. RM : 246631
Tanggal Presentasi : Pembimbing : dr. Setiyoko
Tempat Presentasi : RSUD Soeroto Ngawi
Objektif Presentasi :
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Anamnesis dengan pasien dilakukan pada tanggal 09 Januari 2017 pukul
11.00 WIB di Poli Jiwa RSUD Soeroto.
Deskripsi :
Pasien seorang perempuan, 24 tahun, merasa sedih dan khawatir, mood
depresif dan cemas, isi pikir preokupasi terhadap pacarnya, motorik agitasi.
Mengobati gangguan campuran anxietas dan depresi pasien serta membantu pasien
Tujuan :
menemukan sendiri penyelesaian masalahnya
Bahan
Tinjauan Pustaka Riset Kasus Audit
Bahasan :
Cara Presentasi dan
Diskusi E-mail Pos
Membahas : Diskusi
Data Pasien : Ny. S No. Registrasi : 246631
Ruang : Poli Jiwa Terdaftar Sejak : 09 Januari 2017
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Gambaran Klinis
Keluhan Utama: Merasa sedih dan khawatir
Riwayat penyakit Sekarang:
Autoanamnesis
Pasien wanita, penampilan sesuai umur, mengenakan atasan merah muda, jaket abu-
abu, dan jilbab putih motif bunga merah muda, datang sendirian ke Poli Jiwa. Pasien bercerita
bahwa sejak 3 bulan lalu dirinya merasa sedih dan khawatir karena merasa hubungannya
digantung oleh pacarnya yang tidak segera memenuhi janji untuk menikahinya. Pacar pasien
beralasan menunggu diangkat PNS, baru akan menikahi pasien. Satu minggu lalu pasien juga
menemukan sabun hotel di tas pacarnya. Hal ini yang menyebabkan pasien bertambah sedih
dan cemburu.
Pasien pertama kali mengenal pacarnya tiga tahun yang lalu. Ia adalah seorang pegawai
tidak tetap di Perhutani, selisih umurnya enam tahun lebih tua dari pasien. Saat itu pacar pasien
sudah memiliki istri dan anak. Pacar pasien merasa bahwa pasien lebih baik dari istrinya dan
bisa membimbing dirinya untuk menjadi lelaki yang lebih baik. Pacar pasien berjanji akan
segera menceraikan istrinya, lalu menikahi pasien. Selama tiga tahun ini, hubungan pasien dan
pacarnya sudah layaknya hubungan suami istri. Mereka biasa melakukan hubungan seksual di
hotel atau di rumah pasien. Pasien juga mendapat dukungan finansial dari pacarnya. Pasien
tahu bahwa pacarnya suka mabuk-mabukan dan main perempuan. Pasien merasa cemburu dan
kecewa. Orang tua dan teman-teman pasien sudah menasihati bahwa pacarnya bukan orang
baik-baik dan sebaiknya segera menghentikan hubungan ini. Tapi pasien enggan memutuskan
pacarnya karena masih cinta dan merasa lemah jika harus hidup tanpa pacarnya. Pernah pasien
minta putus, pacarnya menolak, marah-marah, dan mengumpat.
Saat ini pasien tinggal bersama kedua orang tuanya. Sehari-hari, pasien hanya di rumah
karena dilarang pacarnya bekerja ataupun jalan-jalan dengan alasan tidak mau pasien kenal
laki-laki lain.
Pasien merasa sedih, pesimis, sering melamun, malas beraktivitas, dan tidak ada
harapan hidup. Pasien kerap merasa nyeri ulu hati dan berdebar jika mulai kepikiran tentang
pacarnya. Pasien menyangkal mendengar bisikan maupun melihat sosok aneh. Selama
pemeriksaan, pasien tampak sedih dan gelisah. Beberapa kali pasien menggoyang-goyangkan
kakinya hingga membentur meja..
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami kesedihan seperti ini sebelumnya.
3. Riwayat Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa.
4. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik
Pasien belum menikah. Pasien tinggal bersama kedua orangtuanya. Pasien tidak bekerja
5. Lain-lain
Faktor Pencetus:
Hubungan dengan pacar yang digantung
Faktor Premorbid:
Pasien adalah orang yang terbuka, namun mudah merasa khawatir dan curiga
Faktor Organik:
Tidak ditemukan
PEMERIKSAAN PSIKIATRI
Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 09 Januari 2017
Status Psikiatrik:
1. Kesan Umum: Pasien wanita, penampilan sesuai umur, mengenakan atasan merah muda, jaket abu-
abu, dan jilbab putih motif bunga merah muda. Selama pemeriksaan, pasien tampak dan gelisah.
2. Kontak: (+) verbal, koheren
3. Kesadaran: compos mentis, tidak berubah
4. Orientasi: waktu, tempat, orang dalam batas normal
5. Daya Ingat: dalam batas normal
6. Mood / Afek: mood depresif dan cemas / afek serasi
7. Proses Berpikir: Bentuk: realistik; Arus: logorrhea; Isi : preokupasi terhadap pacarnya. Waham (-)
8. Intelegensi: cukup
9. Persepsi: halusinasi (-), ilusi (-)
10. Psikomotor: agitasi
11. Kemauan: menurun
12. Insight: baik
ASSESMENT
Diagnosis Multiaksial (PPDGJ III)
Axis I: Gangguan campuran anxietas dan depresi (F41.2)
Axis II: Ciri kepribadian paranoid
Axis III: tidak ditemukan
Axis IV: masalah dengan pacarnya
Axis V: GAF scale saat pemeriksaan 80-71
GAF scale 1 tahun terakhir 100-91
PLAN
DIAGNOSIS
-
PENATALAKSANAAN
Kapsul: Trihexyphenidyl 2 mg
Trifluoperazine 1,5 mg
Fluoxetine 10 mg
Alprazolam 0,25 mg
Mf pulv da in caps 2x1 kapsul
EDUKASI
Menenangkan pasien, mendengarkan pasien bercerita, menunjukkan empati
Mengajak pasien untuk menganalisis dan menemukan sendiri solusi dari permasalahannya
Menyarankan pasien untuk melakukan aktivitas yang disukainya untuk membantu mengalihkan
perhatian pasien dari masalahnya dan mengurangi kesedihan dan kekhawatiran pasien
Menyarankan pasien untuk datang lagi ke Poli Jiwa sambil mengajak kedua orang tuanya.
KONSULTASI
Konsultasi ke bagian Psikiatri
DAFTAR PUSTAKA
1. Maramis, Willy F. et Albert A. Maramis. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2.
Surabaya: Airlangga University Press.
2. Tiller, John W. G. 2012. Depression and Its Comorbidities: Depression and Anxiety. MJA
Open 1 Suppl 4, 1 October 2012, pp 2831.
3. Maslim, Rusdi. 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III.
Jakarta: PT Nuh Jaya.
4. Maslim, Rusdi. 2003. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik (Psychotropic
Medication) Edisi Ketiga. Jakarta: PT Nuh Jaya.
HASIL PEMBELAJARAN
1. Mengetahui kriteria diagnosis gangguan campuran anxietas dan depresi.
2. Mengetahui tata laksana psikofarmaka maupun psikoterapi untuk kasus gangguan campuran
anxietas dan depresi.

TINJAUAN PUSTAKA

Ada perdebatan yang panjang apakah gangguan depresi dan gangguan anxietas merupakan dua
kondisi yang berbeda atau keduanya merupakan varian dari gangguan yang satu atau ada kategori
ketiga, yaitu depresi-anxietas yang berbeda dari depresi dan anxietas murni.1
Di Australia, prevalensi gangguan anxietas sebanyak 14,4%. Penelitian juga menunjukkan
bahwa 85% pasien depresi juga mengalami gejala gangguan anxietas dan hampir 90% pasien depresi
memiliki komorbid dengan gangguan anxietas.2
Gangguan campuran anxietas dan depresi dapat menyerang semua kelompok usia. Hampir
50% orang dewasa dengan riwayat 12 bulan gangguan cemas menyeluruh juga memiliki kriteria untuk
gangguan depresi mayor seumur hidupnya, hanya 7,4% yang tidak. Pasien kebanyakan datang ke
dokter dikarenakan keluhan fisiknya, bukan kejiwaannya.2
Adapun pedoman diagnostik gangguan campuran anxietas dan depresi antara lain:3
a. Terdapat gejala-gejala anxietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak
menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri.
Untuk anxietas, beberapa gejala otonomik harus ditemukan walaupun tidak terus-menerus,
di samping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan.
b. Bila ditemukan anxietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus
dipertimbangkan kategori gangguan anxietas lainnya atau gangguan anxietas fobik.
c. Bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas yang cukup berat untuk menegakkan masing-
masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan diagnosis
gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapat
dikemukakan satu diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan.
d. Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang jelas, maka harus
digunakan kategori F43.2 gangguan penyesuaian.

Kriteria anxietas sendiri meliputi:3


a. Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di ujung tanduk, sulit konsentrasi,
dsb.)
b. Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai)
c. Overaktivitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar-debar, sesak
napas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering, dsb.)

Sindroma anxietas disebabkan hiperaktivitas dari sistem limbik SSP yang terdiri dari
dopaminergic, noradrenergic, serotoninergic neurons yang dikendalikan oleh GABA-ergic neurons
(Gamma Amino Butiric Acid, suatu inhibitory neurotransmitter). Psikofarmaka untuk sindroma
anxietas antara lain:4
a. Benzodiazepine
Diazepam, Chlordiazepoxide, Lorazepam, Clobazam, Bromazepam, Alprazolam
b. Non-Benzodiazepine
Sulpride, Buspirone, Hydroxyzine

Adapun kriteria depresi meliputi:3


a. Gejala utama:
Afek depresif
Kehilangan minat dan kegembiraan
Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang
nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas
b. Gejala lainnya:
Konsentrasi dan perhatian berkurang
Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang

Sindrom depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa aminergic
neurotransmitter (noradrenaline, serotonin, dopamine) pada celah sinaps neuron di SSP (khususnya
pada sistem limbic) sehingga aktivitas reseptor serotonin menurun. Mekanisme obat anti-depresi
adalah menghambat reuptake aminergic neurotransmitter dan menghambat penghancuran oleh enzim
monoamine oksidase, sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada celah
sinaps neuron tersebut yang dapat meningkatkan aktivitas reseptor serotonin.4
Psikofarmaka untuk depresi antara lain:4
a. Obat anti-depresi trisiklik (TCA)
Amitriptyline, Imipramine, Clomipramine, Tianeptine
b. Obat anti-depresi tetrasiklik
Maprotiline, Mianserin, Amoxapine
c. Obat anti-depresi MAOI-reversible (MonoAmin Oksidase Inhibitor)
Moclobemide
d. Obat anti-depresi SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors)
Sertraline, Paroxetine, Fluvoxamine, Fluoxetine, Duloxetine, Citalopram
e. Obat anti-depresi atypical
Trazodone, Mirtazapine, Venlafaxine

Selain psikofarmaka, perlu dilakukan psikoterapi pada pasien dengan gangguan jiwa apapun,
termasuk pasien dengan gangguan cemas campur depresi. Ada banyak jenis psikoterapi, salah satunya
adalah psikoterapi supportif. Psikoterapi supportif ini bertujuan antara lain untuk menguatkan daya
mental yang ada, mengembangkan mekanisme yang baru dan yang lebih baik untuk mempertahankan
kontrol diri, dan mengembalikan keseimbangan adaptif (dapat menyesuaikan diri). Ada banyak cara
yang dapat digunakan, antara lain: ventilasi atau (psiko-)katarsis, persuasi atau bujukan, sugesti,
penjaminan kembali (reassurance), bimbingan dan penyuluhan, terapi kerja, hipnoterapi dan
narkoterapi, psikoterapi kelompok, serta terapi perilaku.1

SOAP
A. SUBJEKTIF
Pasien bercerita bahwa dirinya merasa sedih dan khawatir karena merasa hubungannya
digantung oleh pacarnya yang tidak segera memenuhi janji untuk menikahinya. Selain itu, pacar
pasien suka mabuk-mabukan dan main perempuan. Orang tua dan teman-teman pasien sudah
menasihati bahwa pacarnya bukan orang baik-baik dan sebaiknya segera menghentikan hubungan
ini. Tapi pasien enggan memutuskan pacarnya karena masih cinta dan merasa lemah jika harus
hidup tanpa pacarnya. Pasien merasa sedih, pesimis, sering melamun, malas beraktivitas, dan tidak
ada harapan hidup. Pasien kerap merasa nyeri ulu hati dan berdebar jika mulai kepikiran tentang
pacarnya. Pasien menyangkal mendengar bisikan maupun melihat sosok aneh. Selama
pemeriksaan, pasien tampak sedih dan gelisah.
B. OBJEKTIF
Status psikiatri
Kesan umum : pasien kelihatan sesuai umurnya, kesehatan fisik baik, berat badan normal,
tinggi badan normal, tidak ada cacat fisik, berpakaian rapi, ekspresi muka
sedih
Kontak : verbal (+), mata (+), relevan (+), lancar (+)
Kesadaran : kualitatif : normal,
Kuantitatif : GCS 4-5-6
Afek emosi : depresi
Proses pikir : bentuk: realistik
Arus : koheren
Isi : preokupasi
Intelegensi : normal
Persepsi : halusinasi (-), ilusi (-).
Kemauan : menurun
Psikomotor : normal
C. ASSESMENT
Diagnosis Multiaksial (PPDGJ III)
Axis I: Gangguan campuran anxietas dan depresi (F41.2)
Axis II: Ciri kepribadian paranoid
Axis III: tidak ditemukan
Axis IV: masalah dengan pacarnya
Axis V: GAF scale saat pemeriksaan 80-71
GAF scale 1 tahun terakhir 100-91
D. PLANNING
DIAGNOSIS
-
PENATALAKSANAAN
Psikofarmaka:
Kapsul: Trihexyphenidyl 2 mg
Trifluoperazine 1,5 mg
Fluoxetine 10 mg
Alprazolam 0,25 mg
2x1 kapsul

Psikoterapi supportif:
Menenangkan pasien, mendengarkan pasien bercerita, menunjukkan empati
Mengajak pasien untuk menganalisis dan menemukan sendiri solusi dari permasalahannya
Menyarankan pasien untuk melakukan aktivitas yang disukainya untuk membantu mengalihkan
perhatian pasien dari masalahnya dan mengurangi kesedihan dan kekhawatiran pasien
Menyarankan pasien untuk datang lagi ke Poli Jiwa sambil mengajak kedua orang tuanya

KONSULTASI
Konsultasi ke Bagian Psikiatri

KONTROL
Kontrol ke Poli Psikiatri