Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk yang kompleks. Kekompleksitasan manusia itu
tiada taranya di muka bumi ini. Manusia lebih rumit dari makhluk apapun
yang bisa dijumpai dan jauh lebih rumit dari mesin apapun yang bisa dibuat.
Manusia juga sulit untuk dipahami karena keunikannya. Dengan keunikannya
manusia adalah makhluk tersendiri dan berbeda dengan makhluk apapun
bahkan dengan sesamanya sekalipun.
Di dalam psikologi, tentunya membahas tentang individu atau manusia. Di
dalam diri manusia terdapat satu aspek yang disebut sebagai kepribadian.
Kepribadian sendiri merupakan karakteristik seseorang yang tidak dikenai
nilai. Kepribadian seseorang ini salah satunya terbentuk karena interaksi sosial
antar individu satu dengan individu lain, karena menusia sendiri merupakan
mahluk sosial. Hal ini juga berkaitan dengan hubungan batin diantara ibu dan
anaknya yang sangat kuat. Hubungan antara anak dan ibu tidak dapat
dipisahkan satusama lain karena keduanya saling membutuhkan. Sehingga
munculah teori relasi objek yang membahas tentang hubungan yang berasal
dari kedekatan seorang ibu dengan anaknya.
Beberapa tokoh dunia yang meneliti dan mengembangkan teori tentang
hubungan ibu dan anak ini diantaranya adalah Melanie Klein.

A. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah biografi tentang Melanie Klein ?
2. Bagaimanakah gambaran teori kepribadian tentang Melanie Klein ?
3. Bagaimanakah inti teori kepribadian tentang Melanie Klein ?
4. Bagaimanakah konsep diri menurut tentang Melanie Klein ?

1
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui biografi tentang tentang Melanie Klein.
2. Untuk mengetahui gambaran teori kepribadian menurut Melanie Klein.
3. Untuk mengetahui inti teori kepribadian menurut Melanie Klein.
4. Untuk mengetahui konsep diri menurut Melanie Klein.

C. Manfaat Penulisan
1. Manfaat Teoritis
Makalah ini diaharapkan dapat memberikan manfaat keilmuan
secara teoritis dalam ilmu pengetahuan khususnya dibidang Psikologi
Kepribadian. Makalah ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran
serta kontribusi bagi Psikologi Kepribadian.
2. Manfaat Praktis

Makalah ini diharapkan mampu membuka pemahaman tentang Teori


Relasi Objek yang dipelopori oleh Melanie Klein, serta dapat menjadi
referensi bagi pembuatan makalah selanjutnya yang ingin mengkaji
hal-hal yang mengenai Teori Relasi Objek

BAB II
PEMBAHASAN

2
A. Gambaran Umum Teori Relasi Objek

Teori Relasi Objek dari Melanie Klein dibangun berdasarkan observasi


yang cermat pada anak-anak. Kebalikan dari Freud, yang menekankan empat
sampai enam tahun pertama kehidupan, Klein menekankan pentingnya empat
sampai enam bulan setelah kelahiran. Ia juga sangat menekankan bahwa
dorongan-dorongan pada bayi (lapar, seks, dan lainnya) dilandasi oleh sebuah
objek, yaitu payudara, penis, vagina, dan seterusnya. Menurut Klein hubungan
anak dengan payudara merupakan dasar dari sebuah hubungan dan berperan
sebagai prototipe dari hubungan selanjutnya. seperti ibu dan ayah.
Kecenderungan awal seorang bayi untuk mcnghubungkan bagian-bagian dari
suaiu objek membuatnya mengalami suatu kondisi tidak realistis atau serupa
dengan khayalan yang memengaruhi hubungan interpersonalnya di kemudian
hari.

B. Biografi Melanie Klein

Melanie Reizes Klein lahir pada tanggal 30 Maret 1882 di Wina, Austria.
Ia lahir sebagai anak terakhir dari empat bersaudara dari pasangan Dr. Moriz
Reizes dan istri keduanya, Libussa Deutsch Reizes. Klein percaya bahwa ia lahir
sebagai seorang anak yang kehadirannya tidak direncanakan. Keyakinannya ini
membuatnya merasa ditolak oleh orang tuanya. Melanie merasa ada jarak
dengan ayahnya, yang lebih mencintai kakak perempuannya, Emilie (Sayers,
1991) Ketika Melanie lahir, ayahnya sudah lama melawan Yahudi Ortodoks dan
menolak untuk menerapkan agama apapun dalam kehidupannya. Akibatnya,
Klein tumbuh dalam keluarga yang tidak proagama, namun juga tidak
antiagama. Pada masa kanak-kanak, Klein mengamati kedua orang tuanya
menjalani pekerjaan yang tidak mereka sukai. Ayahnya seorang dokter yang
bekerja dibidang obat-obatan, yang kemudian berakhir dengan bekerja sebagai
asisten dokter gigi. Ibunya memiliki sebuah toko tumbuhan dan reptile. Sebuah
pekerjaan yang sulit, memalukan, dan menakutkan untuk seseorang yang takut
ular (H. Segal, 1979). Meskipun ayahnya bergelar dokter dan tidak memiliki

3
penghasilan yang mencukupi keluarganya, Klein bercita-cita menjadi seorang
dokter sama seperti ayahnya.

Hubungan-hubungan Klein di awal kehidupannya merupakan hubungan-


hubungan yang tidak sehat atau berakhir dengan tragedi. Ia merasa diabaikan
oleh ayahnya, yang dipandangnya sebagai sosok yang dingin dan jauh,
sedangkan hubungan dengan ibunya dirasakan sangat kaku, walaupun ia sangat
mencintai dan mengidolakan ibunya. Klein memiliki kedekatan dengan kakak
perempuannya Sidonie, yang lebih tua empat tahun darinya dan sering
mengajarkannya aritmatika juga membaca. Sayangnya, Sidonie meniggal ketika
:
Melanie berusia empat tahun. Pada tahun-tahun berikutnya, Melanie mengaku
bahwa ia tidak pernah merasa sangat sedih atas kematian Sidonie (H. Segal,
1992). Setelah kematian Sidonie, Klein menjadi sangat dekat dengan kakak laki-
lakinya Emmanuel, yang merupakan kakak laki-laki satu-satunya dan berusia
lima tahun lebih tua dari Melanie. Ia sangat mengagumi dan terobsesi pada
Emmanuel. Kemungkinan obsesi ini kemudian berpengaruh pada kesulitannya
dalam membina hubungan dengan laki-laki. Seperti Sidonie, Emmanuel juga
mengajari Melanie dengan sangat baik sehingga Melanie berhasil lolos dalam
ujian masuk sebuah sekolah persiapan yang bereputasi baik (Petot, 1990).
Saat Klein berusia 8 tahun, ayahnya meninggal, tetapi tragedi yang lebih
besar terjadi dua tahun kemudian, yaitu ketika kakak laki-laki yang sangat
dicintainya Emmanuel, meninggal. Kematian Emmanuel sangat mengguncang
Klein. Ketika masih berduka atas kematiannya, Melanie menikahi Arthur Klein,
seorang Insinyur teman dekat Emmanuel. Pernikahan ini diyakini Melanie
sebagai penyebab dari kegagalannya menjadi seorang dokter sehingga di
sepanjang sisa hidupnya, ia terus menyesal karena tidak mencapai tujuannya itu
(Grosskurth, 1986).
Sayangnya, pernikahan Klein tidak bahagia, ia menghindari hubungan
seksual dan tidak ingin hamil (Grosskurth, 1986). Meskipun demikian. ia
mempunyai tiga anak dari pemikahannya dengan Arthur, yaitu Melitta, lahir
tahun 1904; Hans, lahir tahun 1907; dan Erich, lahir tahun 1914. Pada tahun

4
1909, keluarga Klein pindah ke Budapest karena Arthur ditugaskan di sana. Di
tempat itu, Klein bertemu dengan Sandor Ferenczi, salah satu anggota lingkaran
dalam Freud, yang kemudian mengenalkannya pada dunia psikoanalisis. Ketika
ibunya meninggal pada tahun 1914, Klein mengalami depresi dan meminta
Ferenczi untuk menganalisisnya. Pengalaman ini merupakan titik balik dalam
kehidupannya. Pada tahun yang sama, ia membaca buku Freud yang berjudul
On Dreams (1901/1953). Pada saat yang sama ketika ia mulai mengenal Freud,
lahirlah anak ketiganya, Erich. Klein sangat memercayai psikoanalisis dan
mengajar anaknya sesuai dengan prinsip-prinsip Freudian. Sebagai bagian dari
pengajarannya, ia mulai menerapkan psikoanalisis terhadap Erich sejak ia
masih kecil. Selain itu, ia juga menganalisis Melitta dan Hans, yang di masa
mendatang keduanya malah menemui analis lain. Melitta, yang kemudian
menjadi psikoanalis, menemui Karen Horney dan juga analis lain. Hubungan
antara Horney dan Klein sangat menarik karena di kemudian hari, Klein
menganalisis dua puteri Horney yang termuda ketika usia mereka dua belas dan
sembilan tahun (putri tertua Horney yang berusia empat belas tahun menolak
dianalisis). Tidak seperti Melitta yang dianalisis dengan sukarela, kedua putri
Horney merasa terpaksa menghadiri sesi analisis. Sesi ini bukan sesi untuk
menyembuhkan gangguan neurotlk, melainkan sesi dengan tujuan pencegahan
(Quinn, 1987).
Pada tahun 1927, ia memutuskan pindah ke Inggris dan menetap di sana
sampai ia meninggal pada tanggal 22 September 1960. Pada hari pemakaman
Klein, putrinya (Melitta) melakukan penghinaan terhadapnya dengan
memberikan ceramah profesional menggunakan sepatu bot merah sehingga
mengejutkan para pengunjung yang hadir di sana (Grosskurth, 1986).
Pada tahun 1934, putra Klein yang kedua (Hans) meninggal karena jatuh.
Melitta, yang baru saja pindah ke London dengan suaminya yang juga seorang
psikoanalis, Walter Schmideberg, meyakini bahwa adiknya meninggal karena
bunuh diri dan ia menyalahkan ibunya atas kematian adiknya. Pada tahun
yang sama, Melitta memulai analisis dengan Edward Glover, salah satu
saingan Klein dalam British Society. Hal ini membuat hubungan Klein dengan

5
putrinya semakin memburuk, baik secara personal maupun profesional.
Bahkan, Melitta terus menyimpan rasa permusuhannya hingga setelah kematian
ibunya.

C. Pengantar Teori Relasi Objek

Teori relasi objek merupakan bagian dari teori Freud mengenai teori
insting, tetapi penyebabnya berbeda setidaknya dalam tiga hal. Pertama, teori
relasi objek tidak terlalu menekankan dorongan -dorongan biologis dan lebih
menekankan pada pentingnya pola yang konsisten dalam hubungan
interpersonal. Kedua, kebalikan dari teori Freud yang bersifat paternalistis dan
menekankan pada kekuatan dan kontrol ayah, teori relasi objek cenderung
lebih maternal dengan menekankan keintiman dan pengasuhan ibu. Ketiga,
teori relasi objek umumnya lebih memandang kontak dan hubungan sebagai
motif utama tingkah laku manusia, bukan kesenangan seksual.
Secara lebih spesifik dijabarkan bahwa teori mengandung banyak makna
sesuai dengan jumlahnya. Pada dasarnya, bab ini berkonsentrasi pada hasil
kerja Melanie Klen. Jika Klein disebut sebagai ibu dari teori relasi objek, maka
Freud adalah ayahnya. Telah disebutkan bahwa Freud (1915/1957) meyakini
setiap insting atau dorongan memiliki sebuah dorongan (impetus), sumber (a
source), tujuan (an aim), dan objek (an object). Tujuan dan objek berdampak
pada faktor psikologis. Walaupun kelihatannya tiap dorongan yang berbeda
mempunyai tujuannya masing-masing, namun tujuan dasar keduanya selalu
sama yaitu untuk mengurangi ketegangan dengan mencapai kesenangan. Dalam
istilah Freudian, manusia adalah objek suatu dorongan, bagian dari seseorang
atau sesuatu yang dapat membuat tercapainya suatu tujuan. Klein dan teori
relasi objek lainnya memulai dari asumsi dusar yang dikemukakan Freud
tersebut. Kemudian, mereka berspekulasi mengenai bagaimana kenyataan atau
khayalan seorang bayi di awal hubungan dengan ibunya atau dengan payudara
ibunya. Juga bagaimana keduanya menjadi model dari hubungan
interpersonalnya di masa mendatang. Bagaimanapun, hubungan pada orang

6
dewasa tidak selalu seperti pandangan mereka. Bagian terpenting dari
hubungan ini adalah representasi dari psikis internal pada objek-objek yang
terkait erat, seperti payudara ibunya dan penis ayahnya yang pernah
diintroyeksikan atau diambil dari struktur psikis seorang bayi dan kemudian
diproyeksikan terhadap pasangan hidupnya. Gambaran-gambaran internal ini
bukan representasi akurat dari orang lain, tetapi merupakan bagian atau sisa
pengalaman awal setiap orang.
Meskipun Klein terus menyebut dirinya sebagai Freudian, namun ia
melanjutkan teori psikoanalisisnya di iuar batasan yang telah ditetapkan oleh
Freud. Di lain pihak, Freud sendiri cenderung mengabaikan Klein. Freud tidak
banyak berpendapat ketika Klein memintanya memberikan saran. Contohnya
pada tahun 1925, ketika Ernest Jones mengemukakan pujiannya dan
menuliskan betapa Klein mengembangkan hasil kerja yang sangat bernilai
mengenai analisis masa kanak-kanak dan terapi bermain, Freud hanya
menjawab hasil karya Melanie Klein di Wing ini mengundang keraguan dan
konireversi" (Sterner. 1985. hlm. 30).

D. Psikoanalisis sebagai Pedagogi : educating Erich

Melanie Klein akhirnya menjadi terkemuka dengan teori hubungan-


hubungan objek dan terapis, tapi titik awalnya berasal dari psikoanalisis klasik. Ia
memulai tanpa gelar M.D. atau Ph.D. dan hanya menggunakan analisis pribadi
untuk memulai karirnya. Analis Klein, Sandor Ferenczi mendorongnya untuk
terlibat dalam salah satu peran profesional yang sedikit sesuai padanya:
mengamati perkembangan pendidikan anak-anak yang berkaitan dengan
pengamatan teori psikoanalitik. Klein menggunakan anaknya sendiri, yaitu Erich
sebagai subjek pertama, kontribusi klein paling awal adalah sebagian besar
konfirmasi dari teori psikoanalitik yaitu sebuah ide yang tidak kritis tentang efek
membebaskan psikoanalisis pada anak-anak. Dalam upaya awal, Klein
menggunaka pendapat Freud, yaitu ketika ia mengusulkan bahwa setiap neurosis
orang dewasa berasal dari neurosis pada masa kanak-kanak.

7
Dengan mengembangkan ide Freud kearah yang berbeda, klein (1975)
mengamati reaksi seorang anak terhadap hilangnya payudara ibu setelah proses
menyusui. Payudara merupakan sumber keluasan utama anak, dan ketika itu
hilang, sia anak akan seperti meyalahkan ibunya. Oleh karena itu, kita mencintai
dan membenci hal-hal yang dekat dengan kita. Konflik ini terselesaikan saat anak
sudah mulai memahami bahwa cinta ibunya tidak sebatas melalui payudara saja.
Akhirnya terbentuklah diferensiasi dan pemahaman yang lebih mendalam
mengenai hal tersebut. Perkembangan awal dalam memahami orang lain ini
membentuk pola bagi hubungan dengan orang lain di masa depan.

E. Kehidupan Psikis pada Bayi

Jika Freud menekankan pada beberapa tahun pertama dalam kehidupan


manusia, maka Klein lebih menekankan pada pentingnya empat sampai enam
bulan pertama. Baginya, seorang bayi tidak memulai hidupnya sebagai individu
yang kosong. Bayi membawa predisposisi untuk mengurangi pengalaman
kecemasan yang dihasilkan oleh dorongan insting hidup dan insting mati.
Kesiapan bayi untuk bertindak atau bereaksi seperti yang diharapkan secara
filogenetis merupakan faktor bawaan, sebuah konsep yang juga disetujui oleh
Freud.

1. Fantasi

Salah satu asumsi dasar yang dikemukalun oleh Klein adalah walaupun
baru lahir, seorang bayi sudah memiliki fantasi atau khayalan kehidupan yang
aktlf. Fantasi ini merupakan representasi psikis dari ketaksadaran insting id;
yang tidak bisa dicampuradukkan dengan fantasi kesadaran yang dimiliki oleh
anak-anak dan orang dewasa. Klein memang sengaja mengejanya dengan
fantasi (phantasy) untuk membedakannya dengan kesadaran. Ketika Klein
(1932) menulis mengenai dinamika kehidupan fantasi pada bayi, ia tidak
mengatakan bahwa bayi yang baru lahir bisa merangkum pemikirannya melalui
kata-kata. Maksudnya adalah bahkan sejak masih sangat kecil, bayi memiliki
gambaran ketaksadaran dari "baik" dan "buruk" Comohnya. perut penuh adalah

8
baik; perut kosong tidak baik. Selanjutnya, Klein mengemukakan bayi yang
tertidur saat sedang mengisap jarinya sedang berfantasi hahwa ia mengisap
puting payudara ibunya yang baik. Bayi yang kelaparan dan menangis serta
kakinya menendang berfantasi buruk sedang menendang atau menghancurkan
payudara ibunya yang buruk. Pemikiran mengenai payudara baik dan payudara
buruk ini sama dengan gagasan Sullivan mengenai ibu baik dan ibu buruk.
Seiring dengan berkembangnya sang bayi, fantasi ketidaksadaran
mengenai payudara ini masih berlanjut dan berdampak pada kehidupan
psikisnya sehingga muncul fantasi ketidaksadaran lainnya. Fantasi
ketidaksadaran yang muncul belakangan ini dibentuk melalui kenyataan yang
dialami dan predisposisi bawaan. Salah satu dari fantasi ini adalah Oedipus
Complex atau keinginan anak untuk menghancurkan salah satu orang tuanya
dan untuk terlibat secara seksual dengan orang tua satunya.Fantasi-fantasi ini
kontradiksi satu sama lain karena merupakan fantasi ketidaksadaran.
Contohnya, seorang anak laki-laki bisa berkhayal memukuli ibunya, namun
pada saat yang bersamaan ia juga ingin memiliki anak dari sang Ibu. Fantasi
tertentu sebagian terbentuk dari pengalaman seorang anak laki-laki bersama
Ibunya, sebagian lagi terbentuk dari predisposisi universal untuk
menghancurkan payudara ibunya dan untuk menyukai payudara yang baik.

2. Objek

Klein setuju dengan Freud bahwa manusia mempunyai dorongan bawaan


atau insting, termasuk insting kematian. Dorongan-dorongan tersebut berupa
objek. Objek-objek tersebut adalah dorongan lapar untuk mendapatkan
payudara baik, dorongan berhubungan badan dan memiliki organ seksual, juga
lainnya. Klein (1948) yakin bahwa sejak masa bayi awal, anak sudah berkaitan
dengan objek-objek eksternal ini, dan kemudian mulai berminat pada wajah
dan tangan yang dapat memenuhi kebutuhan mereka (Klein, 1991, hlm. 757).
Dalam khayalan aktifnya, bayi mengintroyeksi atau mencapai struktur psikis
pada objek- objek eksternal, termasuk penis ayahnya, tangan. dan wajah
ibunya, serta bagian tubuh lainnya. Objek yang diintroyeksikan lebih dari

9
sekadar pemikiran internal mengenai objek eksternal; mereka juga berkhayalan
dengan menginternalisasikan objek dalam istilah-istilah yang berwujud dan
konkret. Contohnya, anak yang mengintroyeksikan sang ibu percaya bahwa
ibunya akan selalu ada di dalam dirinya. Pendapat Klein mengenai objek
internal mengungkapkan bahwa objek ini mempunyai kekuatannya sendiri. Hal
ini sebanding dengan konsep Freud mengenai superego, yang mengasumsikan
kesadaran ayah dan ibunya terbawa dalam diri anak.

F. Posisi

Klein (1946) memandang bayi manusia secara konstan terlibat dalam


konflik mendasar antara insting hidup dan insting mati, yaitu antara baik dan
buruk, cinta dan benci, serta mencipta dan merusak. Seiring dengan pergerakan
ego menuju integrasi dan menjauhi disintegrasi, secara alamiah bayi akan
memilih sensasi yang menyenangkan daripada yang membuatnya frustrasi.
Dalam usahanya untuk menghadapi dikotomi baik dan buruk atau dalam
menghadapi objek internal dan eksternal, bayi mengatur pengalaman mereka
berdasarkan posisi tertentu. Klein memilih iitilah "posisi" daripada "tahapan
perkembangan" untuk mengindikasikan bahwa posisi dapat maju dan mundur.
Posisi bukanlah merupakan periode perkembangan dalam rentang waktu
tertentu dalam fase kehidupan manusia. Meskipun ia menggunakan label-label
psikiatris atau patologis, Klein bertujuan menempatkan posisi untuk mewakili
pertumbuhan dan perkembangan normal. Dua posisi yang dikemukakannya
adalah posisi paranold-schizoid dan posisi depresif.

1. Posisi Paranoid Schizoid


Pada bulan-bulan awal hidupnya, bayi melakukan kontak dengan
payudara baik dan payudara buruk. Pengalaman yang berkelanjutan ini
memberikan pilihan antara keberhasilan dan frustrasi akan kegagalan, yang
kemudian mcngancam keberadaan ego bayi tersebut. Bayi berkeinginan untuk
mengontrol payudara dengan penuh kuasa. Selain itu, bayi juga merasakan
adanya bawaan dari dalam dirinya untuk menghancurkan. Kedua keinginan

10
yang bertentangan ini kemudian memaksa bayi untuk menciptakan khayalan
merusak payudara dengan mengigit, mengoyak, ataupun merobeknya. Untuk
mengimbangi perasaan yang bertolak belakang ini, ego membelah diri untuk
menjaga kelangsungan insting hidup dan mati sebagai bagian dari payudara
ibunya. Saat ini, bayi mulai merasa takut akan payudara yang mengancam
dibanding merasa takut akan insting kematiannya. Namun, ia juga berhubungan
dengan payudara ideal yang menyediakan rasa cinta, rasa nyaman, dan rasa
terima kasih. Keinginan bayi untuk tetap meyakini perasaan akan payudara baik
merupakan keinginan untuk menjaga dirinya sendiri dan melawan ancaman
tersebut. Oleh karena itu, bayi mengadopsi posisi yang disebut Klein (1946)
sebagai posisi paranoid-schizoid, yaitu cara bayi untuk mengatur
pengalamannya yang juga mengandung perasaan paranoid sebagai pelaksana
pemisahan objek internal dan eksternal menjadi objek yang baik dan buruk.

Menurut Klein, bayi mengembangkan posisi paranoid-schizoid ketika


berusia tiga sampai empat bulan. Pada saat ini, egonya mempersepsi dunia
eksternal sebagai dunia yang subjektif dan fantastis, bukan objektif dan nyata.
Perasaan terancam pada seorang bayi merupakan perasaan paranoid, yaitu
perasaan yang tidak didasari oleh kenyataan atau bahaya dunia. Anak harus bisa
membedakan payudara baik dan payudara buruk sebab kalau konsep ini
bercampur aduk, maka ia akan kehilangan payudara baik sebagai labuhan akan
rasa hangat yang aman. Dalam dunia anak schizoid, kekerasan dan perasaan
diasosiasikan dengan payudara buruk, sementara perasaan cinta dan nyaman
diasosiasikan dengan payudara baik.
Tentu saja, bayi tidak menggunakan bahasa untuk mengidentifikasi
payudara baik dan payudara buruk, tetapi mereka menggunakan predisposisi
biologis untuk menilai positif pada pengasuhan dan insting hidup, serta menilai
negatif pada rasa lapar dan insting mati. Pembagian objek-objek di dunia dalam
kategori baik dan buruk menjadi prototipe ketika ia menilai orang lain dengan
mengembangkan perasaan ambivalen.
2. Posisi Depresif

11
Saat usia lima atau enam bulan, bayi mulai dapat melihat objek eksternal
secara utuh dan melihat bahwa terdapat kebaikan sekaligus keburukan pada
seseorang. Pada saat ini, bayi mengembangkan gambaran yang lebih realistis
sebagai individu yang independen dan dapat melakukan kebaikan dan
keburukan. Egonya juga mulai lebih matang sampai pada titik di mana perasaan
destruktifnya bisa diterima, ketimbang memproyeksikannya keluar. Bayi juga
menyadari bahwa ibunya bisa pergi jauh dan hilang selamanya. Bayi memiliki
perasaan takut akan kemungkinan kehilangan ibunya, keinginan untuk
melindungi ibunya, dan menjauhkannya dari segala bahaya yang disebabkan
oleh dirinya sendiri dan semua impuls-impuls yang bisa mencelakai sesama
manusia yang sebelumnya diproyeksikan terhadap ibunya. Akan tetapi, ego bayi
sudah cukup matang untuk menyadari bahwa la tidak mampu melindungi ibunya
sehingga bayi mengalami perasaan bersalah pada ibunya. Kekhawatiran akan
kehilangan objek yang dicintainya bergabung dengan perasaan
bersalah karena menginginkan kehancuran konstitusi objek, yang disebut dengan
Klein sebagai posisi depresif.
Anak yang sedang berada pada posisi depresif dapat mengenali objek
yang dicintainya menjelma menjadi satu di waktu yang sama. Mereka saling
mendekati satu sama lain untuk keinginan menghancurkan ibunya dan
keinginan untuk memperbaiki atas penyerangan ini. Anak melihat ibunya
sebagai suatu kesatuan dan dalam posisi yang berbahaya. jadi mereka bisa
merasa empti terhadapnya. Kualitas ini merupakan faktor yang menguntungkan
bagi hubungan interpersonal mereka di masa mendatang.
Posisi depresif ini menghilang saat anak berkhayalan bahwa mereka
sudah membuat perbaikan dan mengenali bahwa ibunya tidak akan menghilang
selamanya. tetapi akan kembali setiap kali ia pergi. Saat posisi depresif
menghilang. anak menghapuskan pandangan mengenai ibu baik dan ibu buruk.
Mereka juga dapat merasakan cinta tidak hanya dari ibunya, tetapi juga dapat
menunjukkan rasa cintanya kepada ibunya. Meskipun demikian, resolusi yang
tidak selesai dapat mengakibatkan kehilangan kepercayaan terhadap orang lain,
dihantui akan kematian dan kehilangan orang yang dicintainya, serta

12
bermacam-macam gangguan psikis.

G. Mekanisme Pertahanan Psikis

Klein (1955) mengemukakan bahwa sejak awal masa bayinya, anak


dapat mengadopsi beberapa mekanisme pertahanan psikis untuk melindungi
perasaan yang beresal dari kecemasan sadistis oral mengenai payudara-
payudara sebagai objek yang destruktif dan menakutkan di satu sisi, namun
payudara sebagai objek yang menyenangkan dan sangat membantunya di sisi
yang lain. Untuk mengontrol kecemasan ini, bayi menggunakan beberapa
mekanisme pertahanan diri, seperti introyeksi (introjection), proyeksi
(projection). pemisahan (splitting), dan identifikasi proyektif (projective
identification).

1. Introyeksi

Introyeksi yang dimaksud Klein adalah khayalan yang diperoleh bayi


mengenai persepsi dan pengalaman mereka dengan objek eksternal, yang
asalnya dari payudara ibu. Introyeksi dimulai saat pertama kali bayi disusui,
ketika dilakukannya usaha untuk memasukkan puting ibu ke dalam mulut bayi.
Biasanya. bayi mencoba untuk mengintroyeksi objek-objek baik dan
menyambut puting ibunya itu sebagai objek yang dapat melindunginya dari rasa
cemas. Namun kadangkala, bayi juga mengintroyeksikan objek-objek buruk,
seperti payudara buruk dan penis buruk untuk mengambil kendali dari objek-
objek tersebut. Ketika yang diintroyeksikan berupa objek yang berbahaya,
mereka menjadi ancaman Internal yang mampu menakut-nakuti sang bayi dan
meninggalkan residu ketakutan yang mungkin bisa diekspresikan dalam mimpi
atau dalam minat terhadap dongeng. seperti The Big Bad Wolf atau Snow
White and the Seven Dwarfs.

Objek-objek yang diintroyeksi bukan representasi akurat dari objek


nyata, tetapi sudah diwarnai dengan khayalan anak-anak. Misalnya, bayi
berkhayalan bahwa ibunya selalu ada bersamanya sehingga mereka merasa

13
sosok ibunya berada di dalam badannya. Tentu saja sebenarnya seorang ibu
tidak selalu ada, namun bayi tidak ingin mcnghilangkan khayalannya mengenai
kehadiran ibunya sehingga sosok ibunya ini menjadi objek internal.
2. Proyeksi

Bayi menggunakan introyeksi pada objek baik dan buruk, kemudian


mereka menggunakan proyeksi untuk mengeluarkannya. Proyeksi merupakan
khayalan yang dirasakan oleh seseorang dan impuls-impuls yang sebetulnya
dipindahkan pada orang lain, tidak berasal dari dalam diri sendiri. Bayi
menyisihkan kecemasannya mengenai penghancuran yang dilakukan oleh
dorongan-dorongan internal yang berbahaya dengan cara memproyeksikan
impuls destruktif yang tidak dapat dijadikan sebagai objek eksternal (Klein.
1935).
Anak memproyeksikan gambaran buruk dan baik dalam objek eksternal,
terutama objek mengenai orang tua mereka. Contohnya. anak laki-laki yang
mempunyai keinginan untuk mengebiri ayahnya kemungkinan merupakan
proyeksi dengan menyalahkan ayahnya karena mempunyai keinginan seperti
itu. Sama halnya dengan seorang anak perempuan yang berkhayalan untuk
mcnguasai ibunya. tetapi ia memproyeksikan khayalannya terhadap ibunya
bahwa ibunya akan membalas dendam dan menyiksanya.

Selain impuls buruk, orang bisa juga memproyeksikan impuls-impuls


baik. Contohnya., bayi yang merasa senang dengan payudara ibunya yang
dirasanya sangat menenangkan. Bayi kemudian mengatributkan perasaan
baiknya ini terhadap payudara dan mcmbayangkannya terus-menerus. Orang
dewasa juga kadangkala memproyeksikan perasaan cintanya terhadap orang
lain dan kemudian merasa yakin bahwa orang itulah yang sebetulnya jatuh cinta
padanya. Proyeksi juga membuat seseorang mcrasa yakin bahwa pendapatnya
yang subyektif itulah yang benar.

3. Pemisahan

Bayi hanya dapat mengatur aspek-aspek baik dan buruk serta objek

14
eksternal dengan cara memisahkan impuls-impuls yang tidak sesuai. Ego itu
sendiri sudah harus terpisah saat proses ini dilakukan. Baru kemudian bayi
mengembangkan gambaran mengenai saya yang baik dan saya yang buruk.
Hal ini memungkinkan mereka berhubungan dengan impuls menyenangkan dan
impuls destruktif terhadap objek eksternal.

Pemisahan ini bisa berakibat positif atau negatif pada anak. Apabila
pemisahan ini dilakukan secara tidak ekstrem dan tidak kaku, maka bisa
berdampak positif dan bermakna, baik pada bayi maupun pada orang dewasa.
Selain itu. pemisahan ini juga memungkinkan seseorang untuk melihat aspek
positif dan negatif pada kepribadiannya sendiri dan membedakan antara
kepribadian yang disukai dan tidak disukai. Sebaliknya. jika pemisahan
dilakukan secara berlebihnn dan tidak luwes, maka bisa menyebabkan represi
patologis. . Misalnya, jika ego anak sangat kaku untuk dipisahkan menjadi saya
yang baik dan saya yang buruk, maka mereka tidak dapat mengintroyeksikan
pengalaman buruknya menjadi ego baik. Ketika anak tidak dapat menerima
perilaku buruknya. mereka harus berurusan dengan impuls menakutkan dan
destruktif sehingga berupaya untuk menekannya.

4. Indentifikasi Proyektif

Proses mengurangi kecemasan yang keempat adalah indentifikasi


proyektif, yang merupakan mekanisme pertahanan psikis di mana bayi
memisahkan bagian dari diri mereka yang tidak dapat diterimanya. Hasil
pemisahan ini kemudian diproyeksikan menjadi objek lain. Terakhir,
diintroyeksikan kembali ke dalam diri mereka dalam benluk yang berbeda.
Dengan memasukkan kembali objek tersebut ke dalam diri mereka, bayi merasa
bahwa meraka sudah menjadi seperti objek yang diinginkannya. Misalnya, bayi
biasanya memisahkan bagian dari impuls destruktif mereka dan
memproyeksikannya pada payudara sebagai payudara yang buruk dan membuat
frustrasi. Berikutnya, identifikasi akan payudara ini diintroyeksikan kembali.
Proses ini membuat mereka mempunyai kontrol akan payudara sebagai objek
yang menyenangkan sekaligus menyulitkan.

15
Identifikasi proyektif menghasilkan pengaruh yang sangat kuat pada
hubungan interpersonal orang dewasa. Tidak seperti proyeksi yang sepenuhnya
berupa khayalan, indentifikasi proyektif hanya ada dalam hubungan
interpersonal yang nyata. Contohnya, seorang suami yang mempunyai
kecendcrungan kuat untuk mendominasi orang lain, walaupun ia tidak
menginginkan kecenderungan ini, akan memproyeksikan perasaan-
perasaannya tersebut pada istrinya yang kemudian dilihatnya sebagai istri
yang suka mendominasi orang lain. Kemudian, ia membuat istrinya
mendominasi. Ia berperilaku sangat submisif sehingga memaksa istrinya
menunjukkan kecenderungan mendominasi yang ia tanamkan pada istrinya
tersebut.

H. Internalisasi

Ketika teori relasi objek berbicara mengenai internalisasi, hal ini berarti
bahwa orang melakukan introyeksi, yaitu memasukkan aspek eksternal
kemudian diolahnya menjadi rangka kerja yang bermakna secara psikologis.
Teori Kleinian menekankan tiga internalisasi penting, yaitu ego, superego, dan
Oedipus complex.

1. Ego

Klein (1930,1946) meyakini bahwa ego atau sifat mementingkan diri


sendiri, sudah matang pada tahap yang jauh lebih awal daripada yang
diperkirakan oleh Freud. Sebenarnya Freud menduga ego memang sudah ada
pada saat kelahiran, namun ia tidak menghubungkan kompleks fungsi-fungsi
psikisnya sampai sekitar usia tiga atau empat tahun. Bagi Freud, anak kecil
didominasi oleh id. Klein tidak menghiraukan id dan mendasarkan teorinya
pada ego sejak awal lahirnya sudah mampu mengenali adanya dorongan
destruktif juga mencintai, dan mengolahnya melalui pemisahan, proyeksi, dan
introyeksi.

Klein (1959) meyakini bahwa meskipun pada saat kelahiran sesorang,

16
ego merupakan aspek yang paling tidak teratur, namun ego cukup kuat untuk
merasakan kecemasan, untuk menggunakan mekanisme pertahanan, serta untuk
membentuk objek relasi awal pada khayalan dan kenyataan. Ego mulai
bergabung dengan pengalaman pertama bayi saat menyusui ketika payudara
baik tidak hanya berisi susu, namun juga berisi cinta dan rasa aman. Akan tetapi.
bayi juga bisa mengalami payudara burukpayudara yang tidak berisi susu,
rasa cinta, dan rasa aman. Bayi mengintroyeksikan payudara baik dan payudara
buruk, dan gambaran ini merupakan titik utama untuk pembentukan ego
selanjutnya. Seluruh pengalaman ini, tidak hanya yang terkait langsung dengan
menyusui, dinilai oleh ego dan menentukan apakah akan berkaitan dengan
payudara baik atau payudara buruk. Contohnya, saat ego mengalami payudara
baik, maka ego mengharapkan pengalaman yang sama dengan objek lain, seperti
tangan, dot, atau ayahnya. Dengan demikian, relasi objek yang pertama
(payudara) menjadi prototipe untuk perkembangan ego dan hubungan personal
seseorang di kemudian hari.

Namun demikian, sebelum bergabung, ego harus terpisah terlebih dulu.


Klein berasumsi bahwa secara bawaan, bayi tidak hanya didorong untuk
berintegrasi, tetapi juga dipaksa untuk menghadapi dorongan-dorongan hidup
dan mati, seperti yang direfleksikan dalam pengalaman mereka terhadap
payudara baik dan payudara buruk. Untuk menghindari terjadinya disintregasi,
ego yang baru bergabung tersebut harus memisahkan diri menjadi saya yang
baik dan saya yang buruk. Saya yang baik akan dialami dengan susu dan rasa
cinta, sedangkan saya yang buruk akan dialami ketika tidak menerima susu dan
rasa cinta. Gambaran yang berlawanan ini memungkinkan mereka untuk
mengatur aspek baik dan buruk pada objek eksternal. Seiring dengan
bertambahnya kematangan, persepsi mereka menjadi semakin realistis sehingga
mereka tidak lagi melihat dunia sebagai bagian-bagian dari objek, dan ego
mereka menjadi semakin terintegrasi.

2. Superego

Gambaran Klein mengenai superego berbeda dari gambaran Freud.

17
Setidaknya ada tiga aspek penting yang membedakan pandangannya ini.
Pertama. proses penggabungan yang terjadi pada waktu kehidupan yang lebih
awal. Kedua, pertumbuhan Oedipus complex yang lidak mencukupi. Ketiga,
pandangannya lebih keji dan kasar. Klein (1933) sampai pada perbedaan ini
melalui analisisnya terhadap anak-anak, sebuah pengalaman yang tidak dialami
oleh Freud.

Perlu diingat bahwa konsep superego yang diajukan Freud terdiri dari
dua subsistem, egoideal yang menghasilkan perasaan inferior dan. yang kedua
kesimpulan yang menghasilkan perasaan bersalah. Klein menyimpulkan bahwa
semakin dewasa maka superego akan menghasilkan perasaan bersalah dan
inferior, tetapi analisisnya terhadap anak-anak membuatnya percaya bahwa
superego awal yang muncul pada anak-anak bukan menghasilkan perasaan
bersalah. melainkan perasaan terancam.
Menurut Klein, anak kecil merasa takut dihancurkan. dipotong. dan
dikoyak-koyak menjadi potongan-potongan kecilketakutan ini benar-benar
tidak proporsional dan tidak realistis terhadap kenyataan. Mengapa superego
pada anak-anak secara drastis dipisahkan dari kenyataan oleh orang tua
mereka? Klein (1933) mengemukakan bahwa jawabannya muncul dari insting
destruktif yang berasal dari bayi itu sendiri. yang dirasakannya sebagai
kecemasan. Untuk mengatur kecemasan ini, ego seorang anak menggerakkan
libido (insting hidup) melawan insting mati. Meskipun demikian, insting hidup
dan mati tidak bisa sepenuhnya dipisahkan sehingga ego dipaksa untuk
membela dirinya melawan tindakannya sendiri. Pertahanan yang dilakukan
oleh ego awal ini merupakan pondasi bagi perkembangan superego di mana
kekerasan yang ekstrem merupakan reaksi terhadap keagresifan ego dalam
melawan kecenderungan destruktif dari dirinya sendiri. Klein memercayai
bahwa superego yang keji dan kejam ini bertanggung jawab terhadaep
kecenderungan-kecenderungan antisosial dan tindakan kriminal pada orang
dewasa.

Klein menggambarkan superego anak usia lima tahun dengan cara yang

18
sama seperti yang dlgambarkan oleh Freud. Pada usia lima atau enam tahun,
superego memunculkan sedikit kecemasan dan rasa bersalah yang besar.
Superego juga kehilangan sebagian besar kekejamannya dan secara bertahap
berubah menjadi kesadaran yang realistis. Meskipun demikian, Klein
menolak gagasan Freud yang menyatakan bahwa superego merupakan
konsekuensl dari Oedipus complex. Klein malah menyatakan bahwa superego
berkembang sejalan dengan perkembangan Oedipus complex dan akhirnya
menyatu dalam perasaan yang realistis setelah Oedipus complex berkembang
sepenuhnya.

3. Oedipus Complex

Meskipun Klein percaya bahwa pandangannya mengenai Oedipus


complex merupakan lanjutan dan tidak sepenuhnya menerima gagasan Freud,
namun sebagian konsepnya berawal dari beberapa pandangan Freudian.
Pertama. Klein (1946,1948,1952) menyatakan bahwa Oedipus complex dimulai
jauh lebih awal daripada yang diungkapkan oleh Freud. Freud percaya bahwa
Oedipus complex terjadi selama tahap falik, yaitu ketika anak berusia sekitar
empat sampai lima tahun dan setelah mereka melewati tahap oral dan anal.
Sebaliknya, Klein mengungkapkan bahwa Oedipus complex terjadi bersamaan
dengan tahap oral dan anal, dan mencapai puncaknya pada tahap genital, yaitu
sekitar usia tiga atau empat tahun (Klein lebih suka menggunakan istilah tahap
"genital" dibanding "falik" karena tahap falik lebih mengarah pada psikologi
maskulin). Kedua, Klein percaya bahwa bagian terpenting dari Oedipus
complex adalah bahwa ketakutan anak akan adanya ancaman dari orang tuanya
karena anak berkhayalan mengosongkan tubuh orang tuanya. Ketiga, ia
menekankan pentingnya anak-anak menjaga perasaan positif terhadap kedua
orang tuanya selama tahun-tahun Oedipal. Keempat. ia berhipotesis
bahwa selama tahap-tahap awal, Oedipus complex menyediakan kebutuhan
yang sama, baik terhadap anak laki-laki ataupun perempuan, yaitu untuk
membangun sikap positif dengan objek yang baik dan menyenangkan
(payudara dan penis) dan menghindari objek yang buruk dan menakutkan

19
(payudara dan penis). Pada posisi ini, anak-anak laki-laki ataupun perempuan
dapat mengarahkan rasa cintanya terhadap orang tuanya, baik pada masing-
masing orang tua maupun pada keduanya. Anak- anak juga mampu
membangun hubungan homoseksual atau heteroseksual terhadap orang tuanya.
Seperti yang diungkapkan Freud, Klein berasumsi bahwa anak perempuan dan
laki- laki mengalami Oedipus Complex secara berbeda.

Perkembangan Oedipal pada Perempuan

Pada awal perkembangan Oedipal feminine, yaitu selama bulan pertama


dalam kehidupan, seorang anak perempuan melihat payudara ibunya sebagai
objek baik dan buruk. Kemudian, sekitar usia enam bulan ia mulai melihat
payudara lebih sebagai objek yang positif daripada negatif. Setelah itu. ia mulai
melihat ibunya secara keseluruhan sebagai objek yang penuh dengan kebaikan
dan sikap ini membuatnya berimajinasi mengenai bagaimana hadirnya seorang
bayi. Ia juga berkhayal bahwa penis ayahnya memberi ibunya berbagai hal,
termasuk bayi-bayi. Oleh karena anak perempuan kecil ini melihat penis
ayahnya sebagai pemberi bayi, maka ia mengembangkan hubungan positif
terhadap penis ayahnya dan berkhayal bahwa ayahnya akan memenuhinya
dengan bayi-bayi. Jika proses perkembangan Oedipus feminin ini berjalan
dengan mulus, maka anak perempuan akan menempatkan dirinya pada
posisi feminin dan mengembangkan hubungan yang positif dengan kedua orang
tuanya.
Namun. dalam situasi yang tidak terlalu ideal, anak perempuan akan
melihat ibunya sebagai saingannya dan berkhayal untuk merebut penis ayahnya
dari ibunya dan mengambil bayi-bayi ibunya. Keinginannya ini menghasilkan
paranoid bahwa ibunya akan menyakitinya dengan cara melukai dan
mengambil bayi-bayinya. Kecemasan yang dimiliki oleh anak perempuan ini
datang dari ketakutan di dalam dirinya yang merasa dilukai oleh ibunya, suatu
kecemasan yang hanya akan berkurang ketika ia kemudian melahirkan seorang
bayi yang sehat. Menurul Klein (1945), rasa iri akan penis (penis envy) dating
dari keinginan anak perempuan untuk diinternalisasi oleh penis ayahnya dan

20
unluk memperoleh bayi darinya. Khayalan ini menjadi penyebab semua hasrat
akan penis eksternal. Berlolak belakang dengan pandangan Freud, Klein tidak
dapat menemukan adanya bukti mengapa anak perempuan menyalahkan ibunya
karena menghadirkannya di dunia tanpa penis. Sebaliknya, Klein memandang
anak perempuan memiliki kedekatan yang sangai kuat dengan ibunya selama
periode Oedipal.

Perkembangan Oedipal pada laki-laki

Seperti pada anak perempuan, anak laki-laki juga memandang payudara


ibunya sebagai objek baik dan buruk (Klein, 1945). Kemudian selama bulan-
bulan pertama perkembangan Oedipal. anak laki-laki mengganii hasral oralnya.
yang semula pada payudara ibunya diganti mejadi hasral lerhadap penis
ayahnya. Pada masa ini. Anak laki-laki sedang berada pada posisifeminin di
mana ia mengadopsi sikap homoseksual pasif terhadap ayahnya. Kemudian, ia
bergerak mcnuju hubungan heleroseksual dengan ibunya. Oleh karena perasaan
homoseksual lerhadap ayahnya yang pernah dimilikinya, maka ia tidak lakul
ayahnya akan mengebirinya. Klein percaya bahwa posisi homoseksual pasif ini
merupakan faklor awal lerbentuknya hubungan heteroseksual yang sehat
dengan ibunya. Sederhananya. seorang anak laki-laki harus memiliki perasaan
yang baik terhadap penis ayahnya terlebih dulu, sebelum ia dapat menilai
miliknya.
Semakin ia dewasa, bagaimanapun. anak laki-laki mengembangkan
impuls oral-sadistis terhadap ayahnya dan ingin menggigit penisnya dan
membunuhnya. Perasaan-perasaan ini menumbuhkan kecemasan kastrasi dan
kelakulan bahwa ayahnya akan menyiksanya dengan cara menggigit penisnya.
Ketakulan ini meyakinkannya bahwa hubungan seksual dengan ibunya adalah
hal yang paling berbahaya baginya.
Oedipus complex anak laki-laki ini melebur sebagian karena kecemasan
kastrasinya. Faktor yang terpenting adalah kemampuannya unluk membangun
hubungan posilif dengan kedua orang tuanya pada waktu yang bersamaan. Pada
titik ini, anak laki-laki melihat orang tuanya sebagai objek yang utuh, sebuah

21
kondisi yang memungkinkannya untuk melalui posisi depresifnya.

Pada anak laki-laki maupun perempuan. resolusi yang schai pada Oedipus
complex berganlung pada kemampuannya unluk membiarkan ayah dan ibunya
berhubungan seksual. Tidak ada rasa keberatan aiau merasa lersaingi. Perasaan
posilif pada anak terhadap orang tuanya ini mengualkan hubungan seksualnya
ketika mereka dewasa.
Ringkasnya, Klein percaya bahwa seliap orang terlahir dengan dua
dorongan kuat insting hidup dan insting mati. Bayi mengembangkan hasrat
mengayomi pada payudara baik dan kebencian pada payudara buruk. Hal ini
menyebabkan kecenderungan seseorang untuk bertahan dalam suatu kchidupan
pada gambanran-gambaran psikis ketaksadaran mengenai baik dan buruk serta
senang dan menderita. Tahap yang paling penting dalam kehidupan adalah
beberapa bulan pertama, yang merupakan tahap di mana hubungan dengan ibu
dan objek signifikan lainnya menjadi model untuk hubungan interpersonal di
kemudian hari. Kemampuan orang dewasa untuk mencintai atau membendi
berasal dari relasi objekyang didapatinya pada masa kanak-kanak.

I. Psikoterapi

Klein, Mahler, Kohut, dan Bowlby adalah psikoanalis yang terlatih


dalam praktik-praktik ortodoks Freudian. Meskipun demikian, masing-masing
dari mereka memodifikasi penanganan psikoanalitisnya sesuai dengan orientasi
teoretisnya. Banyak ahli mengemukakan teori yang bervariasi mengenai
pendekatan terapi.

Kepeloporan Klein menggunakan psikoanalisis terhadap anak-anak tidak


diterima dengan baik oleh analis-analis lain selama tahun 1920-an hingga 1930-
an. Penolakan gagasan mengenai psikoanalisis terhadap masa kanak-kanak ini
terutama dilakukan oleh Anna Freud, yang menyatakan bahwa terapis tidak
dapat mengembangkan transferens pada anak kecil yang masih sangat dekat
dengan orang tuanya karena mereka tidak memiliki khayalan atau gambaran
yang tidak sadar. Oleh karena itu, ia mengklaim bahwa anak kecil tidak bisa

22
memperoleh keuntungan dari terapi psikoanalisis. Sebaliknya, Klein percaya
bahwa, baik anak-anak yang sehat maupun yang mengalami gangguan harus
melakukan psikoanalisis. Anak-anak yang mengalami gangguan akan
memperoleh keuntungan dari penanganan terapeutik. sementara anak-anak
yang sehat akan memperoleh keuntungan dari analisis prophilactic. Konsisten
dengan keyakinannya, ia bersikeras melakukan analisis terhadap anak-anaknya
sendiri. Ia juga bersikeras bahwa keberhasilan psikoanalisis terhadap anak
ditentukan dengan adanya transferens negative, sebuah pandangan yang tidak
disetujui Anna Freud dan banyak psikonalis lainnya.
Untuk memunculkan transferens negatif dan khayalan agresif, Klein
menyediakan mainan kecil, pensil dan kertas, cat, krayon, dan sebagainya untuk
setiap anak. Ia mengganti pendekatan analisis mimpi dan asosiasi bebas dari
Freud dengan terapi bermain. Ia percaya bahwa anak kecil dapat
mengekspresikan berbagai keinginan mereka yang tidak sadar dan sadar
melalui terapi bermain. Terapi bermain juga mendukung adanya transferens
negative, yaitu ketika pasien Klein yang masih anak-anak menyerangnya secara
lisan. Hal ini memberinya pcluang untuk menginterpretasikan alasan-alasan
tidak sadar di balik serangan-serangan tersebut (Klein, 1943).

Tujuan dan terapi Kleinian adalah mcngurangi perusuan kecemasan


yang depresif dan ketakutan yang mengancam dan untuk mengurangi
kekerasan objek yang terinternalisasi. Untuk memenuhi tujuan tersebut, Klein
mendorong pasien-pasiennya untuk mengalami kembali emosi dan khayalan
awal, nanum kali ini dengan bantuan terapis. Tugas terapis adalah menunjukkan
perbedaan antara kenyataan dan khayalan serta antara tidak sadar dan yang
sadar. Ia juga mengizinkan pasiennya untuk mengekspresikan transferens
positif dan negatif. Situasi ini penting agar terbentuk pemahaman pasien
mengenai bagaimana khayalan tidak sadar berhuhungan dengan situasi-situasi
sehari-hari. Begitu hubungan im dibuat, pasien-pasien merasakan berkurangnya
penderitaan yang diakibatkan oleh objek yang diinternalisasinya, berkurangnya
kecemasan depresifnya, dan mampu memproyeksikan ketakutan internal yang
dialaminya pada dunia luar.

23
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Teori relasi objek memandang kepribadian manusia sebagai produk dari
hubungan awal antara ibu dan anaknya yang berusia empat hingga enam bulan
pertama yang merupakan masa paling kritis untuk perkembangan kepribadian.
Klein percaya bahwa terdapat representasi internal psikis yaitu merupakan bagian
terpenting dalam objek signifikan awal, seperti pada payudara ibu dan penis ayah.
Menurut Klein, hubungan anak dengan payudara merupakan dasar dari sebuah
hubungan dan berperan sebagai prototipe dari hubungan selanjutnya.
Perkembangan ini mencoba mencari tahu bagaimana gambaran dan pola awal
hubungan diri sendiri dengan orang lain, yang dibangun pada masa kanak-kanak
yang mana bisa mempengaruhi konsep diri kita dan hubungan sosial melalui
tantangan-tantangan hidup dimasa selanjutnya.

Teori relasi objek merupakan bagian dari teori Freud mengenai teori
insting, tetapi penyebabnya berbeda setidaknya dalam tiga hal.

a. Pertama, teori relasi objek tidak terlalu menekankan dorongan -dorongan


biologis dan lebih menekankan pada pentingnya pola yang konsisten
dalam hubungan interpersonal.

b. Kedua, kebalikan dari teori Freud yang bersifat paternalistis dan


menekankan pada kekuatan dan kontrol ayah, teori relasi objek
cenderung lebih maternal dengan menekankan keintiman dan
pengasuhan ibu.

c. Ketiga, teori relasi objek umumnya lebih memandang kontak dan


hubungan sebagai motif utama tingkah laku manusia, bukan kesenangan
seksual.

24
Teori relasi objek telah mendorong munculnya banyak penelitian. Teori
relasi objek memiliki permasalahan dalam hal ketidakmampuannya untuk diulang
atau diuji kebenarannya, seperti halnya teori Freud (teori psikoanalisis ortodoks).
Kebanyakan gagasan didasarkan pada apa yang terjadi dalam diri psikis seorang
bayi sehingga asumsi tersebut tidak dapat diulang untuk disangkal atau
dibenarkan. Teori ini hanya memunculkan sedikit hipotesis yang diuji. Di lain
pihak, teori kedekatan dinilai tinggi dalam hal ketidakmampuannya untuk
diulangi. Kegunaan yang paling penting dari teori relasi objek adalah
kemampuannya dalam mengorganisasi atau mengelola informasi tentang perilaku
bayi. Di luar masa kanak-kanak teori relasi objek kurang bermanfaat sebagai
pengorganisasi pengetahuan.
B. SARAN
a. Untuk membentuk kepribadian baik pada anak, sebaiknya orang tua lebih
memperhatikan bagaimana hubungan kedekatan antara orang tua dan anak.
b. Teori relasi objek sebaiknya dapat menjadi acuan bagi orang tua untuk
dapat belajar banyak tentang kehangatan, penerimaan, dan pengasuhan
anak yang baik.
c. Untuk membentuk hubungan yang lebih efektif dengan orang lain
sebaiknya menggunakan gaya kedekatan rasa aman (bukan penghindar
bukan pencemas).
d. Jika terjadi perasaan kecemasan yang depresif dan ketakutan yang
mengancam serta kekerasan objek yang terinternalisasi, sebaiknya
menggunakan terapi klein untuk mengurangi itu.
e. Untuk mencari informasi mengenai kemampuan dalam mengorganisasi
atau mengelola informasi perilaku bayi, teori relasi objek dapat menjadi
solusinya.

DAFTAR PUSTAKA

25
Feist, J & Feist, GJ. 2011. Teori Kepribadian 1. Terjemahan Teheries of
Personality Hendriatno. Jakarta : Salemba Humanika

Friedman, Howards S. & Schustack, Miriam W. 2008. Kepribadian Teori


Klasik dan Riset Modern: Edisi ketiga Jilid 1. Penerbit Erlangga : Jakarta

Monte, christopher F., dan Sollod, Robert N. 2000. Beneath The Mask An
Introduction to Theories of Personality Seventh Edition. United states of
America : John Wiley & Sons.Inc

26