Anda di halaman 1dari 7

TEKNOLOGI EKSPLORASI BATUBARA

PENGINDERAAN JARAK JAUH

Oleh:

CHRISTIAN MARIANO ARITONANG


DBD 111 0130

KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKARAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2017
PENGINDERAAN JARAK JAUH (Inderaja)

Teknologi Penginderaan Jarak Jauh

LIDAR(Light Detection and Ranging) adalah sebuah teknologi sensor jarak

jauh menggunakan properti cahaya yang tersebar untuk menemukan jarak dan

informasi suatu obyek dari target yang dituju. Metode untuk menentukan jarak

suatu obyek adalah dengan menggunakan pulsa laser. Seperti teknologi radar,

yang menggunakan gelombang radio, jarak menuju obyek ditentukan dengan

mengukur selang waktu antara transmisi pulsa dan deteksi sinyal yang

dipancarkan.

Seperti teknologi radar, yang menggunakan gelombang radio, jarak menuju

obyek ditentukan dengan mengukur selang waktu antara transmisi pulsa dan

deteksi sinyal yang dipancarkan. Teknologi LIDAR memiliki kegunaan dalam

bidang geomatika, arkeologi, geografi, geologi, geomorfologi, seismologi, fisik

atmosfer, dan lain-lain. Sebutan lain untuk LIDAR adalah ALSM (Airborne Laser

Swath Mapping) dan altimetri laser. Akronim LADAR (Laser Detection and

Ranging) sering digunakan dalam konteks militer. Sebutan radar laser juga

digunakan tapi tidak berhubungan karena menggunakan cahaya laser dan bukan

gelombang radio yang merupakan dasar dari radar konvensional.

Penginderaan jarak jauh merupakan suatu teknologi dengan memanfaatkan

sarana angkasa (luar angkasa) untuk dapat melakukan observasi pada permukaan

bumi. Penginderaan jauh ini juga akan (dapat) sangat membantu dalam
melakukan interpretasi bawah permukaan tanah terutama pada daerah-daerah

yang ditutupi oleh vegetasi atau lapukan kuarter.

Dengan bantuan penginderaan jarak jauh (terutama foto udara) dapat membantu

juga dalam pembuatan peta-peta topografi maupun peta-peta tematik dengan cepat

dan akurat. Selain itu karena data-data dapat diperoleh dalam bentuk data digital,

maka dapat dilakukan kompilasi maupun manipulasi peta dengan cepat melalui

bantuan teknologi komputer.

Secara umum penginderaan jarak jauh (inderaja) ini dapat dilakukan dengan 3

(tiga) sistem, yaitu :

1. Foto udara

Merupakan pemotretan permukaan bumi dengan menggunakan kamera foto

dengan menggunakan pesawat udara. Adapun hasil pemotretan yang dapat

diperoleh adalah :

- Fotograf Hitam & Putih (B & W Film).

- Fotograf berwarna (Color Film).

- Inframerah hitam & putih (B & W IR).

- Inframerah berwarna (Color IR).

Dalam suatu pengamatan foto udara terdapat 7 (tujuh) komponen dasar foto udara

yang perlu diketahui, yaitu :

1) Bentuk, berhubungan dengan kenampakan fisik suatu objek.

2) Ukuran, berhubungan dengan dimensi suatu objek dan umumnya

berfungsi sebagai skala,

3) Pola, berhubungan dengan posisi/sifat/karakteristik spasial suatu objek,


4) Bayangan, dapat menjadi petunjuk interpretasi (sebagai guide untuk

kenampakan suatu objek), namun dapat juga menjadi kendala dalam

interpretasi (jika menghalangi fisik objek yang penting),

5) Rona, merupakan tingkat (gradasi) kecerahan/warna relatif suatu objek

terhadap objek lain,

6) Tekstur, merupakan kombinasi dari bentuk, ukuran, pola, bayangan, atau

rona,

7) Situs/lokasi/indeks, merupakan letak/posisi relatif objek terhadap objek

lain.

2. Penginderaan gelombang mikro

Penginderaan jarak jauh dengan menggunakan gelombang mikro dapat

dilakukan dalam segala kondisi alam (kabut, berawan, siang, malam, dll.)

tergantung pada panjang gelombang yang digunakan. Penginderaan dengan

gelombang mikro ini umumnya menggunakan sensor gelombang mikro aktif yang

dikenal dengan RADAR (Radio Detection and Ranging), dimana transmisi berupa

ledakan pendek (pulsa gelombang mikro) dan merekam kekuatan gema/pantulan

yang direspon oleh objek.

Umumnya peralatan sistim Radar ini dipasang pada pesawat terbang maupun

pesawat antariksa (ulang-alik). Sistem Radar yang digunakan pada umumnya

adalah SLR (Side Looking Radar) dan SLAR (Side Looking Airborne Radar).
Karena resolusi spasial yang dihasilkan oleh sistem SLR/SLAR ini relatif lebih

kasar daripada resolusi yang dihasilkan oleh foto udara, maka SLR/SLAR ini

jarang digunakan pada tahapan penelitian (pemetaan) rinci, tapi hanya (umum)

digunakan pada pemetaan awal (survei tinjau reconnaissance).

3. Penginderaan jauh dengan satelit

Penginderaan jarak jauh dengan menggunakan wahana ruang angkasa (satelit)

dengan melakukan pemotretan bumi melalui sistem penginderaan Return Beam

Vidicom (RBV) ataupun dengan Multispectral (MSS) dengan menggunakan satelit

Landsat, dan hasil yang diperoleh disebut dengan Citra Landsat.

Data landsat diperoleh melalui Multispectral Imagery, sehingga dapat

menghasilkan produk-produk sebagai berikut :

Landsat CCTs untuk MSS atau TM Imagery, yang cocok untuk

pemrosesan dengan bantuan komputer.

Bayangan hitam putih dalam bentuk lembaran berukuran 23 x 23 cm

dengan skala 1 : 1.000.000.

Cetak berwarna atau hitam putih dan skala dapat disempurnakan sampai

dengan skala 1 : 100.000.

Aplikasi yang dapat dilakukan berdasarkan hasil landsat ini adalah :

Peta-peta struktur geologi, berdasarkan interpretasi kelurusan-kelurusan

akibat refleksi spektral yang terjadi. Dari pengamatan struktur geologi

tersebut dapat menghasilkan (mengidentifikasi) sesar, rekahan-rekahan,

atau juga jalur mineralisasi.


Interpretasi dan pembuktian peta geologi dan peta alterasi berdasarkan

perbedaan warna atau kontras (rona).

Beberapa satelit lain yang sering digunakan dalam penginderaan jarak jauh adalah

Seasat-1, umumnya untuk penelitian oseanografi (dari ketinggian 800 km).

SPOT, yang merupakan satelit Perancis (Satelit Proboloire Pour 1

Observation de La Terre).

Satelit cuaca, antara lain NOAA/TIROS, GOES, NIMBUS, DMSP.


REFERENSI

http://ruangtambang.blogspot.co.id/2015/03/aplikasi-penginderaan-jauh.html

http://banti-indonesia.com/blog/peta-topografi-dengan-lidar/