Anda di halaman 1dari 25

AKUNTANSI PEMERINTAHAN INDONESIA

KOREKSI KESALAHAN, PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI,


PERISTIWA LUAR BIASA DAN
AKUNTANSI PENDAPATAN DAN BELANJA

Kelompok 3
Ngurah Pradif Nahusha Pratama (1406305032)
I Putu Aditya Prastika (1406305113)
Putu Ryan Sutha Negara (1406305149)

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2015
Dasar Hukum dan Koreksi Kesalahan

Dasar Hukum

Akuntansi kewajiban pemerintahan diatur dalam peraturan pemerintah (PP) nomor 24


Tahun 2005 dalam standar akuntansi pemerintah pernyataan No. 10 (PSAP 10) tentang Koreksi
Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa.

Pengertian Istilah

Berikut istilah istilah yang digunakan dalam Pernyataan Standar dengan pengertian :

1) Kebijakan akuntansi adalah prinsip prinsip, dasar dasar, konvensi konvensi,


aturan aturan, dan praktik praktik spesifik yang dipilih oleh suatu entitas pelaporan
dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
2) Kesalahan adalah penyajian pos pos yang secara signifikan tidak sesuai dengan yang
seharusnya yang mempengaruhi laporan keuangan periode berjalan atau periode
sebelumnya.
3) Koreksi adalah tindakan pembentulan akuntansi agar pos pos yang tersaji dalam
laporan keuangan entitas menjadi sesuai dengan yang seharusnya.
4) Peristiwa Luar Biasa adalah kejadian atau transaksi yang secara jelas berbeda dari
aktivitas normal entitas dan karenanya tidak diharapkan terjadi dan berada diluar
kendali atau pengaruh entitas sehingga memiliki dampak yang signifikan terhadap
realisasi anggaran atau posisi aset/kewajiban.

Koreksi Kesalahan

Kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan pada satu atau beberapa periode
sebelumnya mungkin baru ditemukan pada periode berjalan. Kesalahan mungkin timbul dari
adanya keterlambatan penyampaian bukti transaksi anggaran oleh pengguna anggaran, kesalahan
perhitungan matematis, kesalahan dalam penerapan standar dan kebijakan akuntansi, kesalahan
interpretasi fakta, kecurangan, atau kelalaian.

Kesalahan ditinjau dari sifat kejadiannya dikelompokkan dalam 2 (dua) jenis :


a) Kesalahan yang tidak berulang; Kesalahan tidak berulang adalah kesalahan yang
diharapkan tidak akan terjadi kembali, dan dikelompokkan dalam 2 (dua) jenis : a)
Kesalahan yang tidak berulang yang terjadi pada periode berjalan; b) Kesalahan yang
tidak berulang yang terjadi pada periode sebelumnya.
b) Kesalahan yang berulang dan sistematik. Kesalahan yang berulang dan sistemik adalah
kesalahan yang disebabkan oleh sifat alamiah (normal) dari jenis jenis transaksi tertentu
yang diperkirakan akan terjadi berulang.

Koreksi kesalahan atas pengeluaran belanja yang tidak berulang terjadi pada periode
periode sebelumnya dan mempengaruhi posisi kas dan tidak mempengaruhi secara material
posisi aset selain kas, apabila laporan keuangan periode tersebut sudah diterbitkan, dilakukan
dengan pembetulan pada kaun pendapatan lain lain. Koreksi kesalahan atas penerimaan
pendapatan yang tidak berulang yang terjadi pada periode periode sebelumnya dan
mempengaruhi posisi kas, apabila laporan keuangan periode tersebut sudah diterbitkan,
dilakukan dengan pembentulan pada akun akuitas dana lancar. Koreksi kesalahan tidak dengan
sendirinya berpengaruh terhadap pagu anggaran atau belanja entitas yang bersangkutan dalam
periode dilakukannya koreksi kesalahan.

Koreksi kesalahan belanja dapat dibagi dua yaitu yang menambah saldo kas dan yang
mengurangi saldo kas. Contoh koreksi kesalahan belanja yang menambah saldo kas yaitu
pengembalian belanja pegawai karena salah perhitungan jumlah gaji, dikoreksi menambah saldo
kas dan pendapatan lain lain. Contoh koreksi kesalahan belanja yang mengurangi saldo kas
yaitu terdapat transaksi belanja pegawai tahun lalu yang belum dilaporkan, dikoreksi mengurangi
akun entitas dana lancar dan mengurangi saldo kas.

Koreksi kesalahan pendapatan dapat dibagi menjadi dua yaitu yang menambah saldo kas
dan yang mengurangi saldo kas. Contoh koreksi kesalahan pendapatan yang menambah saldo
kas yaitu terdapat transaksi penyetoran bagian laba perusahaan negara yang belum dilaporkan.
Contoh koreksi kesalahan pendapatan yang mengurangi saldo kas yaitu kesalahan pengembalian
pendapatan dana alokasi umum karena kelebihan transfer.

Perubahan Kebijakan Akuntansi dan Peristiwa Luar Biasa


Perubahan Kebijakan

Perubahan di dalam perlakuan, pengakuan, atau pengukuran akuntansi sebagai akibat dari
perubahan atas basis akuntansi, kriteria kapitalisasi, metode, dan estimasi, merupakan contoh
perubahan kebijakan akuntansi. Suatu perubahan kebijakan akuntansi harus dilakukan hanya
apabila penerapan suatu kebijakan akuntansi yang berbeda diwajibkan oleh peraturan perundang
undangan atau standar akuntansi pemerintahan yang berlaku, atau apabila diperkirakan bahwa
perubahan tersebut akan menghasilkan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan,
atau arus kas yang lebih relevan dan lebih andal dalam penyajian laporan keuangan.

Perubahan kebijakan akuntansi tidak mencakup hal hal sebagai berikut :

(a) adopsi suatu kebijakan akuntansi pada peristiwa atau kejadian yang secara
substansi berbeda dari peristiwa atau kejadian sebelumnya; dan
(b) adopsi suatu kebijakan akuntansi baru untuk kejadian atau transaksi yang
sebelumnya tidak ada atau yang tidak material.

Peristiwa Luar Biasa

Peristiwa luar biasa menggambarkan kejadian atau transaksi yang secara jelas berbeda dari
aktivitas biasa. Di dalam aktivitas biasa entitas pemerintah termasuk penanggulangan bencana
alam atau sosial yang terjadi berulang. Peristiwa luar biasa harus memenuhi seluruh persyaratan
sebagai berikut :

1) Tidak merupakan kegiatan normal dari entitas.


2) Tidak diharapkan terjadi dan tidak diharapkan terjadi berulang.
3) Berada diluar kendali atau pengaruh entitas.
4) Memiliki dampak yang signifikan terhadap realisasi anggaran atau posisi
aset/kewajiban.

Laporan Keuangan Konsolidasian

Dasar Hukum
Peraturan Pemerintah (PP) nomor 24 Tahun 2005 mengatur penyajian laporan keuangan
konsolidasian dalam standar akuntansi pemerintahan pernyataan No. 11 (PSAP 11) tentang
Laporan Keuangan Konsolidasian.

Pengertian Istilah

Berikut adalah istilah istilah yang digunakan dalam Pernyataan Standar dengan pengertian:

1) Badan Layanan Umum (BLU) adalah instansi di lingkungan pemerintah yang


dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang
dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan dan dalam
melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi da produktivitas.
2) Entitas akuntansi adalah unit pemerintah pengguna anggaran/pengguna barang dan
oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan
untuk digabungkan pada entitas pelaporan.
3) Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas
akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang undangan wajib
menyampaikan laporan pertanggung jawaban berupa laporan keuangan.
4) Konsolidasi adalah proses penggabungan antara akun akun yang diselenggarakan
oleh suatu entitas pelaporan dengan entitas pelaporan lainnya, dengan mengeliminasi
akun akun timbal balik agar dapat disajikan sebagai satu entitas pelaporan
konsolidasi. Laporan keuangan konsolidasian adalah suatu laporan keuangan yang
merupakan gabungan keseluruhan laporan keuangan entitas pelaporan sehingga
tersaji sebagai satu entitas tunggal.

Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasian

Laporan keuangan konsolidasian terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,


Catatan atas Laporan Keuangan, Laporan Keuangan Konsolidasian disajikan untuk periode
pelaporan yang sama dengan periode laporan keuangan entitas pelaporan dan berisi jumlah
komparatif dengan periode sebelumnya. Dalam standar ini proses konsolidasi diikuti dengan
eliminasi akun- akun timbal balik (recprocal accounts). Namun demikian, apabila eliminasi
dimaksud belum dimungkinkan, maka hak tersebut diungkapkan dalam Catatan atas Laporan
Keuangan.

Entitas Pelaporan
Suatu entitas pelaporan ditetapkan di dalam peraturan perundang undangan, yang
umunya bercirikan :

1) Entitas tersebut dibiayai oleh APBN atau dibiayai oleh APBD atau mendapat
pemisahan kekayaan dari anggaran.
2) Entitas tersebut dibentuk dengan peraturan perundang undangan.
3) Pimpinan entitas tersebut adalah pejabat pemerintah yang diangkat atau pejabat
negara yang ditunjuk atau yang dipilih oleh rakyat.
4) Entitas tersebut membuat pertanggungjawaban baik langsung maupun tidak langsung
kepada wakil rakyat sebagai pihak yang menyetujui anggaran.

Entitas Akuntansi

Penggunan anggaran/ penggunan barang sebagai entitas akuntansi menyelenggarakan


akuntansi dan menyampaikan laporan keuangan sehubungan dengan anggaran/barang yang
dikelolanya yang ditunjukkan kepada entitas pelaporan.Setiap unit pemerintahan yang menerima
anggaran belanja atau mengelola barang adalah entitas akuntansi yang wajib menyelenggarakan
akuntansi, dan secara periodik menyiapkan laporan keuangan menurut standar akuntansi
pemerintahan. Perusahaan negara/daerah pada dasarnya adalah suatu entitas akuntansi, namun
akuntansi dan penyajian laporannya tidak menggunakan standar akuntansi pemerintahan.

Prosedur Konsolidasian

Konsolidasian yang dimaksud oleh Pernyataan Standar ini dilaksanakan dengan cara
menggabungkan dan menjumlahkan akun yang diselenggarakan oleh entitas pelaporan lainnya
dengan atau tanpa mengeliminasi akun timbal balik.Entitas pelaporan menyusun laporan
keuangan dengan menggabungkan laporan keuangan seluruh entitas akuntansi yang secara
organisatoris berada di bawahnya.

Laporan keuangan Badan Layanan Umum (BLU) digabungkan pada kementrian


negara/lembaga teknis pemerintahan pusat/daerah yang secara organisatoris membawahinya
dengan ketentuan sebagai berikut :

1) Laporan Realisasi Anggaran BLU digabungkan secara bruto kepada Laporan Realisasi
Anggaran kementrian negara/lembaga teknis pemerintah pusat/daerah yang secara
organisatoris membawahinya.
2) Neraca BLU digabungkan kepada neraca kementrian negara/lembaga teknis pemerintah
pusat/daerah yang secara organisatoris membawahinya.

Badan Layanan Umum

Badan layanan umum (BLU) menyelenggarakan pelayanan umum, memungut dan


menerima serta membelanjakan dana masyarakat yang diterima berkaitan dengan pelayanan
yang diberikan, tetapi tidak berbentuk badan hukum sebagaimana kekayaan negara yang
dipisahkan.

A. AKUNTANSI PENDAPATAN

Dalam PP No 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, pendapatan


didefinisikan sebagai berikut: Pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum
Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali. Rekening Kas
Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang daerah yang ditentukan oleh kepala
daerah untuk menampung seluruh penerimaan daerah dan digunakan untuk membayar seluruh
pengeluaran daerah pada bank yang ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 13 Tahun
2006, mendefinisikan pendapatan sebagai hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih. Dari kedua definisi tersebut jelas terlihat bahwa pendapatan merupakan
hak pemerintah yang menambah nilai ekuitas dana pemerintah.

Sumber pendapatan daerah dikelompokkan sebagai berikut:

o Pendapatan Asli Daerah (PAD)


o Dana Perimbangan (Pendapatan Transfer)

o Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah.

Dari kelompok pendapatan di atas, hanya Pendapatan Asli Daerah yang ada di SKPD
(Satuan Kerja Perangkat Daerah), sedangkan dua kelompok pendapatan lainnya hanya ada di
PPKD. Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-
sumber dalam wlayahnya sendiri yang dipungut berdasarkan Peraturan Daerah.
a. PAD menurut Peraturan Pemerintah

PP No. 24 tahun 2005 Permendagri No. 13 Tahun 2006


Pajak Daerah Pajak Daerah
Retribusi Daerah Retribusi Daerah
Hasil pengelolaan kekayaan daerah Hasil pengelolaan kekayaan daerah
yang dipisahkan yang dipisahkan
Lain-lain PAD yang sah Lain-lain PAD yang sah

b. Pendapatan transfer

Pendapatan transfer merupakan pendapatan yang berasal dari entitas pelaporan lain, seperti
pemerintah pusat atau daerah otonom lain dalam rangka perimbangan keuangan. Transfer dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam rangka desentralisasi ini disebut juga dana
perimbangan. Pendapatan tranfer ini terdiri dari:

1. Pendapatan Dana Bagi Hasil (DBH), yaitu dana yang bersumber dari APBN yang
dialokasikan ke daerah berdasarkan persentase tertentu untuk kebutuhan daerah dalam
rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Bagi Hasil ini terdiri dari DBH Pajak (PBB,
BPHTB, dan PPh Perorangan) dan DBH Sumber Daya Alam (kehutanan, Pertambangan
umum, perikanan, Pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi, pertambangan
panas bumi).
2. Dana Alokasi Umum (DAU), merupakan dana yang bersumber dari APBN yang
dialokasikan dengan tujuan pemeraan kemampuan keuangan antar daerah untuk
mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.

3. Dana Alokasi Khusus (DAK), merupakan dana yang bersumber dari APBN yang
dialokasikan dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan
urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.

c. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah


Kelompok lain-lain pendapatan daerah yang sah dibagi menurut jenis pendapatan yang
mencakup:
1. Hibah yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah lainnya,
badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri, kelompok masyarakat/perorangan dan
membaga luar negeri yang tidak mengikat.
2. Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat
bencana alam

3. Dana bagi hasil pajak dari propinsi kepada kabupaten/kota.

4. Dana penyesuain dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah.

5. Bantuan keuangan dari propinsi atau pemerintah daerah lainnya.

Ketentuan Penerimaan Pendapatan

Beberapa ketentuan pendapatan daerah adalah:

a. semua pendapatan daerah dilaksanakan melalui rekening kas umum daerah


b. semua pendapatan harus didukung dengan bukti yang lengkap dan sah

c. SKPD dilarang memungut pendapatan selain sesuai dengan kewenangannya yang


diatur berdasarkan Perda.

d. Komisi, rabat, potongan atau pendapatan lainnya dengan nama apapun dan dalam
bentuk apapun yang dapat dinilai dengan uang merupakan pendapatan daerah.

e. Pengembalian atas kelebihan pendapatan harus didukung dengan bukti yang lengkap
dan sah dan diperlakukan sesuai dengan ketentuan dalam Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP).

f. SKPD dilarang menggunakan langsung pendapatan untuk membiayai


pengeluaran/belanja, kecuali ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.

Akuntansi Pendapatan SKPD


a. Transaksi pendapatan di SKPD dicatat oleh Petugas Penatausahaan Keuangan SKPD
(PPK-SKPD). Transaksi ini dicatat harian pada saat kas diterima oleh bendahara
penerimaan atau pada saat menerima bukti transfer dari pihak ketiga.
b. Koreksi atas pengembalian pendapatan (yang tidak berulang), yang terjadi atas
pendapatan tahun berjalan, dicatat sebagai pengurang pendapatan. Sedangkan koreksi
atas pengembalian pendapatan periode sebelumnya, dicatat sebagai belanja tidak terduga
(PP No. 24 Tahun 2005, dicatat sebagai pengurang ekuitas dana lancar).
c. Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang atas penerimaan pendapatan periode
berjalan atau sebelumnya, dicatat sebagai pengurang pendapatan.
d. Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto.

Dokumen Sumber yang Digunakan


Dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan transaksi pendapatan di PPKD ini
adalah sebagai berikut

Transaksi Dokumen Sumber


Penerimaan PAD - Surat Ketetapan Pajak Daerah
- Surat Ketetapan Retribusi
- Surat tanda bukti pembayaran
- Bukti penerimaan lainnya

Standar Jurnal Transaksi Pendapatan


Berikut adalah standar jurnal untuk mencatat transaksi penerimaan pendapatan di SKPD.

No Transaksi Standar Jurnal

1 Penerimaan pendapatan pajakDr. Kas di Bend Penerimaan/Bank . xx


daerah Cr. Pendapatan Pajak Daerah. ............... Xx
2 Penerimaan pendapatan Dr. Kas di Bend Penerimaan/Bank . xx
Retribusi daerah Cr. Pendapatan Retribusi Daerah .... ....xx
3 Penerimaan hasil Dr. Kas di Bend Penerimaan/Bank .......... xx
pengelolaan kekayaan Cr. Hasil pengelolaan kekayaan daerah
daerah yang dipisahkan yang dipisahkan ................................. xx
4 Penerimaan Lain-lain PAD yangDr. Kas di Bend Penerimaan/Bank ......... xx
sah Cr. Lain-lain PAD yang sah................ ...xx

Berikut adalah standar jurnal untuk mencatat transaksi penyetoran pendapatan ke Kas
Daerah

Penyetoran Pendapatan Ke Kas Daerah Dr. RK-PPKD ........................................... xx


Cr. Kas di Bend Penerimaan/Bank ......... xx

Dalam kondisi tertentu, dimungkinkan terjadi pengembalian kelebihan pendapatan yang


harus dikembalikan ke pihak ketiga. Jika pengembalian kelebihan pendapatan sifatnya berulang
(recurring) baik yang terjadi di periode berjalan atau periode sebelumnya, dan juga berlaku bagi
pengembalian yang sifatnya tidak berulang tetapi terjadi dalam periode berjalan. PPK-SKPD
berdasarkan informasi transfer kas dari BUD mencatat transaksi pengembalian kelebihan
tersebut dengan jurnal sebagai berikut :

Pengembalian kelebihan pendapatan Dr. Pendapatan ........................................ xx


Cr. RK-PPKD ............................................. xx

Pada saat pengembalian kelebihan pendapatan tersebut dilakukan melalui Rekening Kas
Daerah, Akuntansi PPKD akan mencatat transaksi pengembalian kelebihan pendapatan tersebut
dengan jurnal sebagai berikut :

Pengembalian kelebihan Pendapatan Dr. RK-SKPD ........................................... xx


Satker yang dicatat oleh PPK-PPKD Cr. Kas di Kas Daerah ............................. xx
Jika pengembalian kelebihan pendapatan tersebut bersifat tidak berulang dan terkait dengan
pendapatan periode sebelumnya, Satuan Kerja tidak melakukan pencatatan. Pencatatan dilakukan
oleh Akuntansi PPKD dengan jurnal sebagai berikut :

Pengembalian kelebihan Pendapatan, Dr. SiLPA xx


bersifat tidak berulang. Cr. Kas di Kas Daerah .............................. xx

AKUNTANSI PENDAPATAN PPKD


Kelompok pendapatan yang menjadi kewenangan PPKD adalah sebagai berikut: Dana
Perimbangan (pendapatan transfer), Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah. Transaksi
pendapatan di PPKD dicatat oleh Petugas Penatausahaan Keuangan PPKD (PPK-PPKD).
Transaksi ini dicatat harian pada saat kas diterima oleh Kas Daerah atau pada saat menerima
bukti transfer dari pihak ketiga. Koreksi atas pengembalian pendapatan (yang tidak berulang),
yang terjadi atas pendapatan tahun berjalan, dicatat sebagai pengurang pendapatan. Sedangkan
koreksi atas pengembalian pendapatan periode sebelumnya, dicatat sebagai belanja tidak terduga
(PP No. 24 thn 2005, dicatat sebagai pengurang ekuitas dana lancar). Pengembalian yang
sifatnya normal dan berulang atas penerimaan pendapatan periode berjalan atau sebelumnya,
dicatat sebagai pengurang pendapatan.

Dokumen Sumber Yang Digunakan


Dokumen sumber yang digunakan sebagai dasar pencatatan transaksi pendapatan di PPKD ini
adalah sebagai berikut :

Transaksi Dokumen Sumber


Penerimaan dana perimbangan -Surat tanda bukti transfer pembayaran dari KPPN
-Bukti penerimaan lainnya
Lain-lain Pendapatan Daerah Yang -Surat tanda bukti penerimaan
Sah -Bukti penerimaan lainnya (Berita acara penerimaan)

Standar Jurnal Transaksi Pendapatan


Berikut adalah standar jurnal untuk mencatat transaksi pendapatan di PPKD
No Transaksi Standar Jurnal
1 Penerimaan pendapatan DanaDr. Kas di Kasda/Bank ............ xx
perimbangan Cr. Pendapatan dana perimbangan ....... xx
2 Penerimaan pendapatan Lain-lainDr. Kas di Kasda/Bank ........................... xx
yang sah Cr. Lain-lain Pendapatan Daerah yg sah.. ....Xx

Dalam kondisi tertentu, dimungkinkan terjadi pengembalian kelebihan pendapatan yang harus
dikembalikan ke pihak ketiga. Jika pengembalian kelebihan pendapatan sifatnya berulang
(recurring) baik yang terjadi di periode berjalan atau periode sebelumnya, dan juga berlaku bagi
pengembalian yang sifatnya tidak berulang tetapi terjadi dalam periode berjalan. PPK-PPKD
berdasarkan informasi transfer kas dari BUD mencatat transaksi pengembalian kelebihan
tersebut dengan jurnal sebagai berikut

Pengembalian kelebihan Pendapatan Dr. RK-SKPD ........................................... xx


Satker yang dicatat oleh PPK-PPKD Cr. Kas di Kas Daerah ............................. xx

Jika pengembalian kelebihan pendapatan tersebut bersifat tidak berulang (Non recurring) dan
terkait dengan pendapatan periode sebelumnya, Satuan Kerja tidak melakukan pencatatan.
Pencatatan dilakukan oleh Akuntansi PPKD dengan jurnal sebagai berikut :

Pengembalian kelebihan Pendapatan, Dr. SiLPA ....................................... xx


bersifat tidak berulang (non recurring) Cr. Kas di Kas Daerah .............................. xx

B. PENGAKUAN PENGUKURAN, PENCATATAN, PENYAJIAN DAN


PENGUNGKAPAN PENDAPATAN

o Pengakuan Pendapatan
Secara umum, pendapatan dapat diakui ketika:
a) Diperoleh, yaitu ketika entitas telah menyelesaikan secara substansial apa yang menjadi
kewajibannya. Penyelesaian kewajibannya inilah yang akan menjadi pendapatan ketika
seluruh proses selesai.
b) Sudah direalisasikan/dapat direalisasikan, yaitu ketika kas/hak tagih (piutang) sudah
diterima atas penyerahan barang/jasa atau ketika jumlah kas/hak tagih (piutang) sudah
dapat ditentukan atas penyerahan barang/jasa tersebut.
Kedua prinsip pengakuan tersebut dapat diterapkan dalam kondisi akuntansi yang
berbasis akrual. Untuk akuntansi pemerintah di Indonesia, seperti yang diatur dalam PP 24 Tahun
2005 prinsip pengakuan pendapatan menggunakan basis kas. Penggunaan basis kas mengakui
pendapatan ketika pendapatan tersebut diterima direkening umum negara/daerah. Dengan kata
lain, pendapatan diterima pemerintah ketika pemerintah sudah menerima dana secara tunai atas
pendapatan tersebut. Namun hal lain yang perlu diingat adalah penerimaan kas tersebut
merupakan hak pemerintah yang tidak bisa dikembalikan. Ada kalanya, pemerintah menerima
dana dari pihak ketiga sebagai jaminan pelaksanaan suatu kegiatan. Dana ini harus dikembalikan
kembali ke pihak ketiga apabila kegiatan yang dipersyaratkan sudah dilakukan. Penerimaan dana
ini tidak boleh diakui sebagai pendapatan pemerintah.Dalam praktiknya, sangat dimungkinkan
bahwa tahun anggaran yang sedang berjalan terjadi pengembalian/koreksi pendapatan, baik
untuk pendapatan tahun berjalan maupun pendapatan tahun sebelumnya. Apabila menggunakan
basis akrual, maka pengembalian/koreksi pendapatan tahun anggaran sebelumnya akan menjadi
pengurangan/penambahan ekuitas dana lancar, sedangkan pengembalian/koreksi pendapatan
tahun anggaran berjalan menjadi pengurangan/penambahan pendapatan.
o Pengukuran Pendapatan
Mengenai pengukuran pendapatan, pendapatan diukur dalam hal nilai dari produk atau
jasa yang dipertukarkan dalam transaksi. Nilai ini merupakan nilai kas bersih atau nilai sekarang
yang didiskontokan atau nilai uang yang diterima atau yang akan diterima dalam pertukaran
dengan produk atau jasa yang ditransfer perusahaan kepada pelanggannya. Menggunakan konsep
tersebut, maka pengurangan apa pun dalam harga tetap, baik berupa diskon ataupun piutang tak
tertagih, harus dikurangi ketika menghitung pendapatan. Selain itu untuk transaksi-transaksi non
kas nilai pertukaran ditetapkan setara dengan nilai pasar dari barang yang diberikan atau
diterima, atau lebih jelas untuk dihitung. Namun dalam konteks akuntansi pemerintah di
Indonesia, sesuai dengan PP 24 Tahun 2005 pendapatan diakui dengan asas bruto, yaitu dengan
mencatat jumlah brutonya dan tidak mencatat jumlah neto. Dengan demikian segala macam
biaya yang langsung mengurangi jumlah yang diterima tidak menjadi pengurangan dalam
melakukan pencatatan. Biaya tersebut akan dicatat sebagai belanja di tahun anggaran yang sama.
C. AKUNTANSI BELANJA

KARAKTER BELANJA
Belanja juga merupakan bagian utama dari suatu anggaran,disamping pendapatan juga
ada belanja dalam pemerintahan. Anggaran belanja merupakan batas tertinggi yang dapat
direalisasikan oleh suatu unit pemerintah .Selisih anggaran pendapatan dan anggaran belanja
merupakan surplus atau defisit. Belanja negara atau daerah merupakan pengeluaran pemerintah
dari rekening kas umum negara/daerah sebagai pengurangan kekayaan bersih atau ekuitas dana
lancar pada tahun yang bersangkutan yang tidak diperoleh pembayarannya kembali oleh
pemerintah. Anggaran belanja diklasifikasikan sesuai dengan jenis belanja, organisasi ,dan
fungsi sesuai dengan klasifikasi anggarannya yaitu sesuai dengan APBN untuk pemerintah pusat
atau APBD untuk pemerintah daerah.sesuaI dengan jenisnya ,belanja pemerintah pusat
diklasifikasikan dalam belanja operasional dan belanja modal. Belanja operasional merupakan
belanja yang habis pada tahun berjalan atau dalam akuntansi sektor prifat dikenal dengan
revenue expenditures sedangkan belanja modal merupakan belanja yang tidak habis satu tahun
atau menghasilkan aset tetap pemerintah.

GAMBARAN UMUM SISTEM AKUNTANSI BELANJA


Anggaran belanja disusun bersama dengan anggaran pendapatan dan anggaran
pembiayaan melalui mekanisme penggaran. Anggaran tersebut disusun berdasarkan kebutuhan
pemerintah secara prioritas dan memiliki ukuran kinerja selama satu tahun dari masing-masing
penguna anggaran yaitu kementrian negara/lembaga atau satuan prangkat kerja daerah. Realisasi
belanja diperoleh melalui kas negara atau kas daerah.Dalam merealisasikan anggaran tersebut,
pemerintah mengeluarkan rincian anggaran belanja untuk setiap pengunaan
anggaran.berdasarkan rincian tersebut, pengguna anggaran akan membuat dokumen pelaksanaan
anggaran(DIPA atau DPA) untuk dilaksanakan oleh pengelola keuangan pemerintah.
Berdasarkan DIPA/DPA tersebut,pengguna anggaran melakukan transaksi-transaksi yang
menimbulkan beban atau pengeluaran. Pembebanan pengeluran tersebut diwujudkan dengan
pembuatan surat perintah membayar(SPM) yang dibuat oleh pengguna anggaran yang ditujukan
pada pengelola keuangan pemerintah. Pengelola keuangan meneliti SPM tersebut dari sisi
kebenaran perhitungan , persyaratan serta ketersediaan anggaran dan kas.

STANDAR AKUNTANSI BELANJA


Standar akuntansi mengatur pengertian,pengakuan,penilaian/pengukuran, dan pengungkapan.
Pengertian Belanja
Belanja adalah semua pegeluaran rekening kas umum negara/daerah yang menguraikan
yang menjadi kewajiban pemerintah,dan tidak diperoleh kembali oleh pemerintah.(PSAP No.01
dan 02 pp No.24 Tahun 2005). Belanja seperti definisi diatas merupakan pengeluaran yang
diperoleh pemerintah dari kegiatan normal pemerintah yang tidak diperoleh kembali pengeluaran
tersebut pemerintah kemungkinan melakukan pengeluaran tetapi akan memperoleh kembali
pengeluaran tersebut. Sebagai contoh, pemerintah mengeluarkan uang kas negara/daerah untuk
membentuk perusahaan (penanaman modal) atau memberi pinjaman kepada pihak lain.
Pengeluaran sepertiu itu bukan merupakan belanja tetapi merupakan pengeluaran pembiayaan.
Secara umum Belanja dalam APBD dikelompokkan menjadi lima kelompok yaitu:
a) Belanja Administrasi Umum
Belanja Administrasi Umum adalah semua pengeluaran pemerintah daerah yang tidak
berhubungan dengan aktivitas atau pelayanan publik. Belanja administrasi umum terdiri atas
empat jenis, yaitu:
1) Belanja Pegawai, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk orang/personel yang
tidak berhubungan secara langsung dengan aktivitas atau dengan kata lain merupakan
biaya tetap pegawai.
2) Belanja Barang, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk penyediaan barang dan
jasa yang tidak berhubungan langsung dengan pelayanan publik.
3) Belanja Perjalanan Dinas, merupakan pengeluaran pemerintah untuk biaya perjalanan
pegawai dan dewan yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelayanan publik.
4) Belanja Pemeliharaan, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk pemeliharaan
barang daerah yang tidak berhubungan secara langsung dengan pelayanan publik.
b) Belanja Operasi, Pemeliharaan sarana dan Prasarana Publik
Belanja ini merupakan semua pengeluaran pemerintah daerah yang berhubungan dengan
aktivitas atau pelayanan publik. Kelompok belanja ini meliputi:
1) Belanja Pegawai, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk orang/personel yang
berhubungan langsung dengan suatu aktivitas atau dengan kata lain merupakan belanja
pegawai yang bersifat variabel.
2) Belanja Barang, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk penyediaan barang dan
jasa yang berhubungan langsung dengan pelayanan publik.
3) Belanja Perjalanan, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk biaya perjalanan
pegawai yang berhubungan langsung dengan pelayanan publik.
4) Belanja Pemeliharaan, merupakan pengeluaran pemerintah daerah untuk pemeliharaan
barang daerah yang mempunyai hubungan langsung dengan pelayanan publik.

c) Belanja Modal
Belanja modal merupakan pengeluaran pemerintah daerah yang menfaatnya melebihi
satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan daerah dan selanjutnya akan
menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya operasi dan pemeliharaan. Belanja modal
dibagi menjadi:
1. Belanja Publik, yaitu belanja yang manfaatnya dapat dinikmati secara langsung oleh
masyarakat umum. Contoh belanja publik yaitu pembangunan jembatan dan jalan raya,
pembelian alat transportasi massa, dan pembelian mobil ambulans.
2. Belanja aparatur yaitu belanja yang menfaatnya tidak secara langsung dinikmati oleh
masyarakat akan tetapi dirasakan secara langsung oleh aparatur. Contoh belanja aparatur:
pembelian kendaraan dinas, pembangunan gedung pemerintahan, dan pembangunan
rumah dinas

d) Belanja Transfer
Belanja Transfer merupakan pengalihan uang dari pemerintah daerah kepada pihak ketiga
tanpa adanya harapan untuk mendapatkan pengembalian imbalan meupun keuntungan dari
pengalihan uang tersebut. Kelompok belanja ini terdiri atas pembayaran:
a. Angsuran Pinjaman
b. Dana Bantuan
c. Dana Cadangan

e) Belanja Tak Tersangka


Belanja tak tersangka adalah pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah untuk
membiayai kegiatan-kegiatan tak terduga dan kejadian-kejadian luar biasa.

D. PENGAKUAN PENGUKURAN, PENCATATAN, PENYAJIAN DAN


PENGUNGKAPAN BELANJA

Pengakuan Belanja
a. Belanja pada pemerintah pusat diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari Rekening
Kas Umum Negara. Pengakuan atas terjadinya belanja langsung dilakukan ketika surat
perintah pencairan dana langsung (SP2D-Ls) atas belanja tersebut terbit.
b. Khusus pengeluaran melalui bendahara pengeluaran pengakuan belanjanya terjadi pada
saat pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai
fungsi perbendaharaan umum. Hal ini dibuktikan dengan diterbitkannya SP2D ganti
uang persediaan (SP2D-GU) atas belanja tersebut. Di pemerintah pusat, unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan umum adalah unit yang ditetapkan sebagai bendahara
umum negara dan/atau sebagai kuasa bendahara umum negara.
c. Dalam hal badan layanan umum, belanja diakui dengan mengacu pada peraturan
perundangan yang mengatur mengenai badan layanan umum.
Selain itu, belanja merupakan semua bentuk pengeluaran kas dari BUN/BUD yang tidak
akan diperoleh pembayarannya kembali. Titik dimana belanja diakui adalah pada saat kas
dikeluarkan dari rekening BUN/BUD, bukan pada saat beban terjadi. Dengan demikian basis
yang dipakai dalam pengakuan belanja adalah basis kas.
Pengukuran Belanja
Belanja diukur berdasarkan nilai nominal bruto yang dikeluarkan dan tercantum dalam
dokumen sumber pengeluaran yang sah untuk pengeluaran dari Kas Negara, yaitu surat perintah
membayar (SPM)/SP2D; atau pengesahan oleh bendahara umum negara berupa surat pengesahan
hibah langsung/surat perintah pembukuan/pengesahan (SPHL/SP3). Belanja langsung, termasuk
di dalamnya transfer keluar, dibukukan sebesar SPM-Ls/SP2d-Ls yang terbit. Belanja yang
menggunakan uang persediaan dibukukan sebesar SP2D-GU yang terbit atas belanja tersebut.
Transaksi belanja dalam mata uang asing harus dibukukan dalam mata uang rupiah dengan
menjabarkan mata uang asing tersebut menurut kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi.
Penyajian dan Pengungkapan Belanja
Belanja disajikan dan diungkapkan dalam Laporan Realisasi Anggaran menurut jenis
belanja dengan menggunakan nilai rupiah. Rincian lebih lanjut jenis belanja diungkapkan pada
Catatan atas Laporan Keuangan. Klasifikasi belanja menurut organisasi disajikan dalam Laporan
Realisasi Anggaran atau di Catatan atas Laporan Keuangan. Klasifikasi belanja menurut fungsi
disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Transaksi belanja dalam mata uang asing
dijabarkan ke dalam mata uang rupiah dengan menggunakan kurs tengah bank sentral pada
tanggal transaksi.

. AKUNTANSI REALISASI BELANJA


Realisasi belanja negara atau daerah merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh kas
negara atau kas daerah. Dokumen sumber meliputi SPM, SP2D, bukti pengeluaran lainnva, dan
nota debet bank.
Belanja tersebut dicatat sebagai saldo debet karena belanja merupakan perkiraan yang
mengurangi ekuitas dana dan menginduk pada perkiraan Ekuitas Dana yang bersaldo kredit, hal
ini merupakan turunan dari persamaan akuntansi Aset = Kewajiban + ekuitas Dana.
Seperti akuntansi pada umumnya, jika belanja dicatat sebadai debet, maka saldo kredit
dicatat sebagai kas. Namun, di dalam sistem akuntansi pemerintah, kas dicatat oleh unit
organisasi yang memiliki kewenangan perbendaharaan di Departemen keuangan atau biro
Bagian keuangan. Oleh karena itu, sebagai ganti perkiraan kas. maka saldo kredit untuk mencatat
belanja tersebut adalah perkiraan "Piutang kepada kas umum Negara/daerah". Dengan catatan
tersebut seolah-olah piutang timbul pada saat alokasi anggaran telah berkurang senilai realisasi
belanja.
Secara umum transaksi belanja meliputi tiga transaksi yaitu realisasi belanja operasi,
realisasi belanja modal, dan realisasi pengeluaran melalui uang persediaan atau kas kecil .
a. Belanja Operasi
Seperti dijelaskan dalam akuntansi realisasi belanja diatas belanja operasi merupakan
pcngeluaran pemerintah untuk kegiatan yang memiliki manfaat pada periode tersebut.
Pengeluaran tersebut untuk seperti belanja pegawai, belanja barang/ jasa, belanja bunga, subsidi,
dan hibah. Pencatatan belanja operasi dilakukan berdasarkan dokumen transaksi berupa SPM dan
SP2D oleh pengguna anggaran. Sebagai contoh. Departemen perdagangan melakukan
pcngeluaran belania pegawai sebesar Rp20 triliun,

maka pencatatan tersebui adalah sebagai berikut:

Belanja Operasi 20.000.000.000.000


Piutang kepada kas umum Negara 20.000.000.000.000

Pengeluaran kas dicatat oleh Departemen Keuangan di KPPN berdasarkan dokumen SPM,
SP2D, dan nota debet sebagai berikut:

Pengeluaran 20.000.000.000.000
Kas 20.000.000.000.000

Pencatatan di atas dilakukan kas umum negara daerah digunakan untuk menyusun laporan arus
kas sebagai bagian laporan keuangan pemerintah.

Contoh Kasus
(PT Indosat Tbk dan Entitas Anak)
Sebelum 1 Januari 2012, Perusahaan mencatat perjanjian sewa menara sebagai sewa operasi,
yang mana hal ini dipandang sebagai satu kesatuan antara tanah dan bangunan, dan keseluruhan
perjanjian tersebut diperlakukan sebagai sewa tanah. Efektif 1 Januari 2012, Perusahaan
menerapkan PSAK 30 (revisi 2011) secara retrospektif, di mana Perusahaan diharuskan
melakukan klasifikasi elemen tanah dan bangunan dalam perjanjian sewa menara secara terpisah
apakah sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi. Dampak utama PSAK 30 (revisi 2011)
adalah pengakuan aset dan kewajiban sewa pembiayaan atas elemen bangunan dalam perjanjian
sewa slot menara di mana Perusahaan bertindak sebagai lessee.
Sebelum 1 Januari 2012, tidak ada panduan spesifik atas akuntansi untuk perjanjuan konsesi jasa.
Grup memperlakukan perjanjian ini sebagai kontrak executory. Aset prasarana yang dibangun
dalam perjanjian ini diperlakukan sebagai aset tetap dan disusutkan selama taksiran masa
manfaatnya. Efektif tanggal 1 Januari 2012, Grup telah menerapkan secara retrospektif ISAK
16, Perjanjian Konsesi Jasa dan ISAK 22, Perjanjian Konsesi Jasa: Pengungkapan, untuk
memperlakukan kontrak konsesi Perusahaan. Dampak penerapan ISAK 16 dan ISAK 22 terdapat
pada pengakuan pendapatan , aset prasarana yang dibangun dalam perjanjian tidak diakui
sebagai aset, dan pengakuan aset keuangan.
Sebelum 1 Januari 2011, menurut PSAK, goodwill diamortisasi dengan menggunakan metode
garis lurus berdasarkan masa manfaatnya. Mulai tanggal 1 Januari 2011, goodwill tidak
diamortisasi melainkan dilakukan uji penurunan bagi goodwill setiap tahun (pada 31 Desember)
dan bila terdapat indikasi penurunan nilai. Perubahan kebijakan akuntansi ini berdasarkan
amandemen PSAK 22, Kombinasi Bisnis yang diterapkan secara prospektif. Menurut PSAK,
sampai tanggal 31 Desember 2009, pendapatan dari jasa penyambungan diakui sebagai
pendapatan pada saat penyambungan selesai dilakukan (pasca-bayar) atau pada saat aktivasi
kartu perdana (pra-bayar). Sejak 1 Januari 2010, komponen aktivasi dari penjualan paket perdana
telah ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan selama rata-rata masa hubungan yang
diharapkan dari pelanggan. Perubahan kebijakan akuntansi ini merupakan dampak dari
pencabutan PSAK 35, Akuntansi Pendapatan Jasa Telekomunikasi yang berlaku secara
prospektif.

KASUS AKUNTANSI PEMERINTAHAN INDONESIA SAP 11


(BELANJA DAERAH : BELANJA PEGAWAI KABUPATEN NGAWI)

Pada studi kasus kali ini mengangkat tentang belanja daerah Kabupaten Ngawi.
Kabupaten Ngawi merupakan salah satu kabupaten yang secara geografis berada di Propinsi
Jawa Timur bagian barat yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Tengah dan
mempunyai letak yang sangat strategis karena dilewati jalur poros Jogyakarta Solo Surabaya.
Posisi geografis serta sumber daya yang ada menjadikan kabupaten Ngawi mempunyai daya
tarik bagi tumbuhnya kegiatan pembangunan. Namun terdapat permasalah-permasalah ekonomi,
lingkungan dan sosial yang berada di Kabupaten Ngawi. Jika ditinjau lagi permasalahan tersebut
terdapat hubungannya dengan pengelolaan keuangan daerah Kabupaten Ngawi. Diketahui bahwa
Kabupaten Ngawi memiliki alokasi dana untuk belanja pegawai lebih besar daripada belanja
modal ataupun belanja barang dan jasa. Seperti yang terdapat pada tabel 1.1 ini menjelasakan
tentang alokasi dana untu belanja langsung dan belanja tidak langsung Kabupaten Ngawi.
Table 1.1
Realisasi Belanja Daerah Kabupaten Ngawi
Tahun 2009-2011
URAIAN REALISASI

TAHUN 2009 2010 2011

B. BELANJA DAERAH 803.673.798.000 1.041.015.546.100 1.078.529.104.903

1. BELANJA TIDAK LANGSUNG 605.657.206 728.460.676.550 750.351.128.595

a. Belanja Pegawai 479.018.719 689.575.003.250 692.120.049.191

b. Belanja Bunga 109.714 56.840.250 58.075.780

c. Belanja Hibah 77.959.156 11.567.000.000 18.638.102.000

d. Belanja Bantuan Sosial 5.588.807 6.399.000.000 4.204.750.000

e. Belanja Bagi Hasil Kepada 1.549.040 - 664.807.000


Provinsi, Kabupaten/Kota Dan
Pemerintahan Desa
f. Belanja Bantuan Keuangan 41.431.770 20.691.273.150 34.207.344.625
Kepada Provinsi, Kabupaten/Kota
Dan Pemerintah an Desa
g. Belanja Tidak Terduga - 171.559.900 458.000.000

2. BELANJA LANGSUNG 198.016.592 312.554.869.550 328.177.976.308

a. Belanja Pegawai 28.353.286 22.550.451.700 26.458.369.650

b. Belanja Barang Dan Jasa 67.991.864 121.967.561.900 145.991.701.876

c. Belanja Modal 101.671.442 168.036.855.950 155.727.904.782

Surplus (Defisit) 803.673.798 (58.679.457.100) 51.990.989.609

Sumber : Dinas Pendapatan Pengelola Keuangan dan Aset (DPPKA) Kabupaten Ngawi

Total realisasi belanja Kabupaten Ngawi tahun 2010 mencapai 1.041,015 milyar rupiah,
hanya meningkat sekitar 29,5 % dari tahun 2009 yang mencapai 803,673 juta rupiah. Sedangkan
total realisasi belanja Kabupaten Ngawi pada tahun tahun 2011 mencapai 1.078,529 milyar
rupiah, meningkat sekitar 3,6 % dari tahun 2010 yang mencapai 1.041,015 milyar rupiah.
Meskipun Kabupaten Ngawi pada tahun 2009 dan 2011 mengalami surplus namun Belanja
pegawai yang dilakukannya terlihat tidak wajar/
Belanja pegawai kabupaten ngawi tahun dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
yang signifikan. Pada tahun 2009 mencapai 479,018 juta rupiah, pada tahun 2010 mengalami
peningkatan yang cukup drastis yakni mencapai 689,575 milyar rupiah. Kemudian pada tahun
2011 belanja pegawai Kabupaten Ngawi mencapai 692,120 juta rupiah atau 64,17 % dari total
belanja daerah kabupaten ngawi, nilai tersebut sangat besar hingga Kabupaten Ngawi hampir
dinyatakan kolaps oleh pemerintah pusat.
Dengan belanja pegawai yang tinggi, berakibat pada anggaran untuk belanja
modal dan belanja barang dan jasa sangat rendah serta porsi pembangunan di Kabupaten Ngawi
sangat terbatas, Oleh karena itu, Kementerian Dalam Negeri mengancam akan melikuidasi
Pemerintah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, karena menganggarkan komposisi belanja pegawai
yang tidak wajar. Atas ancaman dari Kemendagri, Badan Pengelola Keuangan Pemerintah
Propinsi (Pemprov) Jawa Timur, meminta Pemkab Ngawi untuk mengevaluasi agar terhindar
dari likuidasi. Belanja pegawai yang terlalu besar dapat menjadi tolak ukur ketidakefisien kinerja
anggaran belanja Kabupaten Ngawi. Belanja pemerintah daerah secara langsung maupun tidak
langsung berdampak pada kualitas pelayanan publik dan mendorong aktivitas sektor swasta di
daerah yang bersangkutan. Belanja yang tidak optimal dapat mengakibatkan rendahnya kualitas
pelayanan publik dan menurunnya aktivitas sektor swasta. Dilihat dari studi kasus Kabupaten
Ngawi menunjukkan bahwa belanja daerah yang dilakukan tidak efetif dalam peningkatan
pelayan publik dan pembanguan didaerahnya. Belanja daerah Kabupaten Ngawi lebih besar
alokasinya untuk belanja pegawai dari pada belanja modal dan belanja barang dan jasa.
Jadi sebaiknya, penganggaran yang efektif dan efisien itu hendaknya dilakukan
berdasarkan azas efisiensi, tepat guna, tepat pelaksanaanya dan dapat dipertanggung jawabkan.
Dana yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan pelayanan publik
dan kesejahteraan yang maksimal untuk kepentingan masyarakat bukan hanya menguntungkan
satu atau beberapa pihak saja.
DAFTAR PUSTAKA

http://lindawati-stkipbandarlampung.blogspot.co.id/2011/12/pendapatan-dan-belanja-pemerintah.html

http://fauzanmisra.blogspot.co.id/2010/12/akuntansi-pendapatan-pada-pemerintah.html

http://seiyoumi.blogspot.co.id/2012/04/akuntansi-pendapatan-bagi-pemerintahan.html

http://sangpemungutcukai.blogspot.co.id/2016/03/beban-dan-belanja-dalam-laporan.html

Revrisond Baswir. 2000. Akuntansi Pemerintahan Indonesia. Yogyakarta: BPFE.


Bahtiar Arif, Muchlis, Iskandar. 2002. Akuntansi Pemerintahan, Jakarta : Salemba Empat.
Abdul Halim. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Jakarta : Salemba Empat.
http://meweks.blogspot.co.id/2012/12/koreksi-kesalahan-perubahan-kebijakan.html