Anda di halaman 1dari 5

FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN

Cindy Ika Putri1 2031511007


Umajaya2

1. Mahasiswa Jurusan Biologi, FPPB, Universitas Bangka Belitung


2. Dosen praktikum biologi, FPPB, Universitas Bangka Belitung

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan,
akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH
dari medium tempat bakteri hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia.
Faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor
abiotik, dimana faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yaitu,
mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat
dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose, dan sintropisme. Faktor-faktor
abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik,
kelembaban, sinar gelombang ,dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya
senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadientomo 1985).
Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan mikroba. Setiap mikroba mempunyai kisaran suhu dan suhu optimum
tertentu untuk pertumbuhannya (Dwijoseputro 1995).
Nilai pH yang semakin rendah, semakin efektif pengaruh asam organik
sebagai pengawet, meskipun pertumbuhan setiap jasad renik dalam makanan
mempunyai nilai pH optimum, minimum, dan maksimum. pH tidak jarang
berinteraksi dengan parameter lain dalam makanan dengan menghambat
pertumbuhan. Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam
atau basa. Mikroba umumnya menyukai pH netral yaitu pH 7 (Brooks 1994).
Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air.
Berdasarkan tekanan osmosis yang diperlukan mikroba dapat dikelompokkan
menjadi: (1) mikroba osmofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar gula
tinggi. (2) mikroba halofil, adalah mikroba yang dapat tumbuh pada kadar garam
halogen yang tinggi. (3) mikroba halodurik, adalah kelompok mikroba yang dapat
tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar
garamnya dapat mencapai 30% (Hamid 2009).

Tujuan
Melihat pengaruh faktor lingkungan pertumbuhan ( suhu, pH, dan kadar garam
dalam medium) terhadap pertumbuhan bakteri.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari jumat tanggal 13 Oktober 2017 pada
pukul 09.30 12.00 WIB. Kegiatan dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi
Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi, Univeritas Bangka Belitung.

Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum adalah tabung reaksi, laminar air flow,
dan bunsen. Bahan yang digunakan adalah biakan bakteri Staphylococcus aureus,
Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli dan Bacillus subtilis, kaldu nutrisi
dengan pH 3, 7, 9 dan 11 dalam tabung reaksi dan NaCl.

Cara Kerja :
1. Biakan-biakan bakteri kultur murni disuspensikan masing-masing dalam
larutan kaldu nutrisi selama 24 jam.
2. Tabung reaksi steril yang mengandung kaldu nutrisi dengan pH 3, 7, 9
disiapkan.
3. Setiap suspensi bakteri diambil sebanyak 1 ose dan dimasukan dalam
larutan-larutan tersebut.
4. Larutan dengan pH 3, 7, 9 dan 11 dieramkan pada suhu 370 C selama 24
jam.
5. Larutan dengan kadar garam 0,5%, 0,75%, dan 1% dieramkan pada suhu
370 C.
6. Bakteri yang tumbuh dalam larutan tersebut menyebabkan larutan menjadi
keruh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil
Tabel 1. Hasil pengamatan faktor lingkungan pertumbuhan bakteri
Kadar Garam pH
Bakteri
0,5% 0,7% 1% 5 7 9 11
Staphylococcus -
aureus
Pseudomonas - -
aeruginosa
Eschericia coli - -
Bacillus subtilis - -
Ket : = keruh - = bening

Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan bakteri Staphylococcus
aureus memiliki ketahanan terhadap kadar garam dan pH dibandingkan dengan
bakteri yang lain. Menurut Abubakar (1994) Kebanyakan mikroorganisme dapat
tumbuh pada kisaran pH sebesar 3 4, kebanyakan bakteri mempunyai pH
optimum sekitar pH 6,5 7,5 dibawah pH 4 5 dan diatas 8,5 tidak dapat tumbuh
dengan baik. Nilai pH untuk pertumbuhan mikroba mempunyai hubungan dengan
suhu pertumbuhan, jika suhu naik, pH optimum untuk pertumbuhan juga naik.
Patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH 7) atau pH yang sedikit basa
(pH 7,4) beberapa bakteri tumbuh pada pH 6 ; tidak jarang dijumpai organisme
yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5, sangat jarang suatu organisme dapat bertahan
dengan baik pada pH 4, bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian karena
banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau basa
(Volk & Wheeler 1993).
Mikroba umumnya menyukai pH netral yaitu pH 7, beberapa bakteri dapat
hidup pada pH tinggi (medium alkalin) apabila mikroba ditanam pada media
dengan pH 5 maka pertumbuhan didominasi oleh jamur, tetapi apabila pH media 8
maka pertumbuhan didominasi oleh bakteri. Berdasarkan pHnya mikroba dapat
dikelompokan menjadi 3 yaitu mikroba asidofil adalah kelompok mikroba yang
dapat hidup tumbuh baik pada pH 6,0 8,0 pada pH 2,0 5,0, mikroba mesofil
(neutrofil) adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 5,5 8,0, dan
mikroba alkafil adalah kelompok mikroba yang dapat hidup pada pH 8,4 9,5
(Brooks 1994).
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada konsentrasi 0,5%
NaCl dan 0,7% NaCl terdapat bakteri, ini menandakan bahwa adanya aktivitas
bakteri karena bakteri tumbuh optimum pada kadar garam rendah. Konsentrasi 1%
NaCl tidak terdapat adanya koloni, ini menandakan bahwa tidak ada aktivitas
bakteri di dalamnya karena kandungan garamnya tinggi mengakibatkan matinya
bakteri.
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan bakteri Staphylococcus aureus


dapat tumbuh dengan baik pada media dibandingkan dengan bakteri Pseudomonas
aeruginosa, Eschericia coli dan Bacillus subtilis sementara pada konsentrasi NaCl
0,5% dan 0,7% bakteri Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa,
Eschericia coli dan Bacillus subtilis dapat tumbuh dengan baik karena kandungan
garamnya rendah, konsentrasi NaCl 1% tidak terdapat adanya koloni bakteri karena
kandungan garamnya tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar A R. 1994. Mikrobiologi Teknik. Banda Aceh: Unsyiah.

Brooks 1994. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 2 . Jakarta: EGC.

Dwijoseputro. 1995. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Hamid Z. 2009. Nutrisi Mikroba, Sebuah Esensi Dasar Untuk Kehidupan Mikroba.
http://zaifbio.com./2009/01/31/nutrisi-mikroba,sebuah-esensi-dasar-untuk-
kehidupan-mikroba/. [05 November 2017]

Hadioetomo R.S. 1985. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta : Gramedia.

Volk &Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid 1. Jakarta: Erlangga