Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH BIOTEKNOLOGI

KULTUR SEL DAN JARINGAN

KELOMPOK 1

1) ALBERTILDIS A. MEDJA
2) DESRY D. E. KASE
3) HEPSIE O. S. NAUK
4) MARIO S. FEKA
5) MILA A. BERE

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2017
KULTUR SEL DAN JARINGAN

Pelaksanaan teknik kultur jaringan ini berdasarkan teori sel seperti yang ditemukan
oleh scheiden dan schwann, yaitu bahwa sel mempunyai kemampuan autonom, bahkan
mempunyai kemampuan totipotensi. Kultur adalah budidaya sementara jaringan adalah
sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan fungsi yang sama. Sehingga kultur jaringan
adalah membudidayakan jaringan tanaman menjadi tanaman kecil yang mempunyai sifat
seperti induknya. (Daisy. P danWijayani. A: 1994).

Kultur jaringan adalah suatu metode penanaman protoplas, sel, jaringan, dan organ
pada media buatan dalam kondisi aseptik sehingga dapat beregenerasi menjadi tanaman
lengkap. Salah satu aplikasi kultur jaringan yang telah dikenal secara meluas dan telah
banyak diusahakan untuk tujuan komersial adalah perbanyakan tanaman. Perbanyakan
melalui kultur jaringan yang banyak diusahakan secara komersial pada saat ini terutama di
negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Eropa.

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif.
Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian
tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media
buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang
tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi
tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman
dengan menggunakan bagian vegetative tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan
di tempat steril. (Daisy. P danWijayani. A: 1994).

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,


khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang
dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai
sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga
tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah
besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh
bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:

1) Pembuatan media
2) Inisiasi
3) Sterilisasi
4) Multiplikasi
5) Pengakaran
6) Aklimatisasi
Kultur jaringan akan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan jaringan
meristem. Jaringan meristem adalah jaringan muda, yaitu jaringan yang terdiri dari sel-sel
yang selalu membelah, dinding tipis, plasmanya penuh dan vakuolanya kecil-kecil.
Kebanyakan orang menggunakan jaringan ini untuk tissue culture. Sebab, jaringan meristem
keadaannya selalu membelah, sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur
pembelahan
Berdasarkan bagian-bagian tanaman yang dikulturkan secara spesifik terdapat beberapa
macam kultur:
1. Kultur organ, yaitu kultur yang diinisiasi dari organ-organ tanaman seperti: pucuk
terminal dan aksilar, meristem, daun, batang, ujung akar, bunga, buah muda, embrio,
dan sebagainya.
2. Kultur biji (seed culture), kultur yang bahan tanamnya menggunakan biji atau
seedling.
3. Kultur kalus, yaitu kultur sekumpulan sel yang tidak terorganisir, hanya sel-sel
parenkim yang berasal dari bahan awal
4. Kultur suspensi, yaitu kultur sel bebas atau agregat sel kecil dalam media cair. Pada
umumnya kultur suspensi diinisiasi dari kalus.
5. Kultur protoplas, yaitu kultur sel-sel muda yang diinisiasi dalam media cair yang
dihilangkan dinding selnya. Kultur protoplas digunakan untuk hibrididasi somatik
(fusi dua protoplas baik intraspesifik maupun interspesifik).
6. Kultur haploid (kultur mikrospora/ anther), yaitu kultur dari kepala sari (kultur
anther) atau tepung sari (kultur mikrospora)

Biondi and Thorpe (Thorpe, 1981) menyatakan bahwa terdapat tiga prinsip utama yang
terlibat dalam tekhnik kultur jaringan yaitu:
1. Isolasi bagian tanaman dari tanaman utuh seperti organ, jaringan, dan sel secara
aseptik.
2. Memelihara bagian tanaman tadi dalam lingkungan yang sesuai dan kondisi kultur
yang tepat.
3. Pemeliharaan dalam kondisi aseptic.
Landasan Kultur Jaringan
Landasan kultur jaringan didasarkan atas tiga kemampuan dasar dari tanaman, yaitu:
a. Totipotensi adalah potensi atau kemampuan dari sebuah sel untuk tumbuh dan
berkembang menjadi tanaman secara utuh jika distimulasi dengar benar dan sesuai.
Implikasi dari totipotensi adalah bahwa semua informasi tentang pertumbuhan dan
perkembangan suatu organisme terdapat di dalam sel. Walaupun secara teoritis
seluruh sel bersifat totipotensi, tetapi yang mengekspresikan keberhasilan terbaik
adalah sel yang meristematik.
b. Rediferensiasi adalah kemampuan sel-sel masak (mature) kembali menjadi ke kondisi
meristematik dan dan berkembang dari satu titik pertumbuhan baru yang diikuti oleh
rediferensiasi yang mampu melakukan reorganisasi manjadi organ baru.
c. Kompetensi menggambarkan potensi endogen dari sel atau jaringan untuk tumbuh
dan berkembang dalam satu jalur tertentu. Cantohnya embrioagenikali kompeten cel
adalah kemampuan untuk berkembang menjadi embrio funsional penuh. Sebaliknya
adalah non-kompeten atau morfogenetikali tidak mempunyai kemampuan.

A. TOTIPOTENSI

Teori Totipotensi Sel (Total Genetic Potential), artinya setiap sel memiliki potensi
genetik seperti sel zigot yaitu mampu memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi
tanaman lengkap. Totipotensi yaitu kemampuan setiap sel tumbuhan untuk menjadi individu
yang sempurna.Teori totipotensi ini dikemukakan oleh G.Heberlandt tahun 1898. Dia adalah
seorang ahli fisiologi yang berasal dari Jerman. Pada tahun 1969, F.C. Steward menguji ulang
teori tersebut dengan menggunakan objek empulur wortel. Dengan mengambil satu sel
empulur wortel, F.C. Steward bisa menumbuhkannya menjadi individu wortel.

Gambar 1. Contoh kultur jaringan


B. PLURIPOTEN
PlurIpotensi berarti memiliki kemampuan atau potensi untuk berubah menjadi sel atau
jaringan lain. Pada Stem cell memiliki sifat Pluripotent. Oleh karena itu stem cell ini bisa
ditumbuhkan menjadi sel-sel darah (hematopoetik), menjadi jaringan saraf, atau jaringan ikat.
Stem cell adalah sel yang tidak/belum terspesialisasi yang mempunyai 2 sifat:
1. Kemampuan untuk berdiferensiasi menjadi sel lain (differentiate). Dalam hal ini
stem cell mampu berkembang menjadi berbagai jenis sel matang, misalnya sel saraf,
sel otot jantung, sel otot rangka, sel pankreas, dan lain-lain.
2. Kemampuan untuk memperbaharui atau meregenerasi dirinya sendiri (self-
regenerate/self-renew). Dalam hal ini stem cell dapat membuat salinan sel yang
persis sama dengan dirinya melalui pembelahan sel.

C. PERSYARATAN DALAM PELAKSANAAN KULTUR JARINGAN

Agar berhasil dengan baik ketika akan melakukan kultur jaringan, terdapat beberapa syarat
yang harus diperhatikan, antara lain sebagai berkut:

1) Pemilihan eksplan
Eksplan adalah bagian dari tanaman yang digunakan dalam kulturisasi. Eksplan ini
menjadi bahan dasar bagi pembentukan kalus (bentuk awal calon tunas yang
kemudian mengalami proses pelengkapan bagian tanaman, seperti daun, batang, dan
akar). Sebagian eksplan sebaiknya dipilih dari pucuk muda tanaman dewasa yang
diketahui asal-usul dan varietasnya, tidak terinfeksi penyakit, dan jenisnya unggul.
2) Penggunaan media yang cocok
Media yang cocok memengaruhi pertumbuhan eksplan yang telah ditanam untuk
menjadi plantlet (tanaman kecil). Media yang baik, harus memenuhi syarat nutrisi
yang diperlukan eksplan untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, di dalam
media kultur jaringan ditambahkan berbagai macam mineral, vitamin, sumber
karbohidrat, dan zat pengatur tumbuh (hormon).
3) Keadaan yang aseptic dan pengaturan udara yang baik.
Semua tahapan yang dilakukan dalam kultur jaringan harus dilakukan secara aseptik.
Hal ini guna menghindari kontaminasi oleh jamur maupun bakteri. Oleh karena itu,
sterilisasi eksplan kedalam medium dilakukan di dalam laminar air flow cabinet
untuk mencegah kontaminasi. Penyimpanan kultur juga harus di dalam ruangan
dengan suhu, pencahayaan dan pengaturan udara yang baik.

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KULTUR JARINGAN


a. Genotipe
Keberhasilan dari pengkulturan suatu jaringan/ protoplas tergantung pada pada genotype
tanaman. Genotipe merupakan pasangan alel dari suatu individu yang terekspresikan
dalam bentuk morfologi serta fungsi fisiologi sebagai suatu fenotipe dari tanaman.
Pertumbuhan dari kultur jaringan atau organ dan in vitro morfogenesis lebih dipengaruhi
oleh genotype sumber jaringan atau organ yang digunakan. Tidak jarang antar varietas
yang memiliki sifat dekat namun kebutuhannya akan lingkungan dan media berbeda.
b. Poliploidi
Poliploidi pada tanaman merupakan faktor internal dalam tubuh tanaman yang
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam lingkungan
lapang dapat kita perhatikan bahwa tanaman dengan poliploid lebih kecil mempunyai
anakan yang lebih banyak jika dibandingkan dengan tanaman yang mempunyai poliploid
yang lebih besar.
Fenomena tersebut ternyata terekspresikan juga di dalam kultur in vitro. Hal ini
dikarenakan dalam pembelahan sel multiplikasi/duplikasi kromosom pada tanaman
berploidi besar berlangsung lebih lama jika dibandingkan dengan tanaman yang
mempunyai poloidi lebih kecil.Peristiwa ini karena berpengaruh terhadap regenerasi
tanaman berploidi besar yang akhirnya berlangsung lebih lambat jika dibandingkan
dengan tanaman yang memiliki poloidi lebih kecil.
c. Media Kultur
Regenerasi tanaman dipengaruhi oleh komposisi media yang digunakan. Masing-masing
jenis eksplan/sel dan genotip tanaman memerlukan komposisi media yang berbeda-beda
(Pierik 1987). Menurut Wattimena et al. (1992), media untuk menumbuhkan sel/eksplan
tanaman pada dasarnya berisi unsure hara makro, mikro, dan gula sebagai sumber
karbon. Selain itu, media kultur juga dilengkapi dengan zat besi, vitamin, mineral, dan
zat pengatur tumbuh. Hardjo (1994) menyatakan bahwa pada prinsipnya media untuk
kultur jaringan terdiri dari campuran garam-garam anorganik, karbon sebagai sumber
energi, vitamin, dan ZPT. Unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman
terdapat dalam bentuk garam-garam anorganik.

d. Zat Pengatur Tumbuh


Zat pengatur tumbuh adalah persenyawaan organic selain nutrien yang dalam jumlah
sedikit (1 mM) dapat merangsang, menghambat, atau mengubah pola pertumbuhan dan
perkembangan tanaman (Moore, 1979 dalam Gunawan, 1992). Zat pengatur tumbuh
sangat berperan di dalam mengarahkan pertumbuhan sel tanaman. Kombinasi zat
pengatur tumbuh yang tepat akan menghasilkan pertumbuhan sel yang optimal
(Wattimena et al., 1992).
Penggunaan zat pengatur tumbuh di dalam kultur jaringan tergantung pada arah
pertumbuhan jaringan tanaman yang diinginkan. Untuk pembentukan tunas digunakan
sitokinin sedangkan untuk pembentukan akar digunakan auksin. Jenis dan konsentrasi
zat pengatur tumbuh yang tepat untuk setiap tanaman tidak sama, tergantung pada
genotip serta kondisi fisiologi jaringan tanaman (Lestari, 2011).
E. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN KULTUR JARINGAN

Keuntungan

Melestarikan sifat tanaman induk.


Menghasilkan tanaman yang memiliki sifat seragam.
Menghasilkan tanaman baru dalam jumlah besar
Dapat menghasilkan tanaman yang bebas virus
Dapat dijadikan sebagai sarana pelestarian plasma nutfah
Untuk menciptakan varietas baru melalaui rekayasa genetika. Sel yang telah direkayasa
Dikembangkan melaui kultur selsehingga menjadi tanaman baru yang lengkap.

Kerugian

Bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap hama penyakit dan udara luar
Bagi orang tertentu, cara kultur jaringan dinilai mahal dan sulit.
Membutuhkan modal ivestasi awal yang tinggi untuk bangunan (laboratoriumkhusus),
peralatan dan perlengkapan.
Diperlukan persiapan SDM yang handal untuk mengerjakan perbanyakan kultur jarin
gan agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan
Produk kultur jaringan pada akarnya kurang kokoh
Mahal
REFERENSI

https://www.scribd.com/Makalah-Kultur-Sel-Kelompok-4-pdf
bamboo-test.do.latera.ru/kultur_sel_jurnal_unpad.pdf
biologi.uin-malang.ac.id/PETUNJUK-PRAKTIKUM-KJH.pdf
www.chanif.lecture.ub.ac.id/files/2013/KULTUR-JARINGAN.ppt
staff.uny.ac.id/sites/Kultur%20Jaringan%20_%20ppt
https://www.scribd.com/doc/286029259/totipotensi-biologi