Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang
masih banyak terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit
yang banyak menjadi penyebab kematian anak yang berusia di bawah lima tahun
(balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap penyakit diare adalah hal
yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah apabila ada
orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang
mengalami diare. Misalnya, pada sebagian kalangan masyarakat, diare dipercaya
atau dianggap sebagai pertanda bahwa anak akan bertumbuh atau berkembang.
Kepercayaan seperti itu secara tidak sadar dapat mengurangi kewaspadaan orang
tua. sehingga mungkin saja diare akan membahayakan anak.

Menurut data United Nations Childrens Fund (UNICEF) dan World


Health Organization (WHO) pada 2009, diare merupakan penyebab kematian
nomor 2 pada balita di dunia, nomor 3 pada bayi, dan nomor 5 bagi segala umur.
Data UNICEF memberitakan bahwa 1,5 juta anak meninggal dunia setiap
tahunnya karena diare.

Di Indonesia sendiri, sekira 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau
sekira 460 balita setiap harinya akibat diare. Daerah Jawa Barat merupakan salah
satu yang tertinggi, di mana kasus kematian akibat diare banyak menimpa anak
berusia di bawah 5 tahun. Umumnya, kematian disebabkan dehidrasi karena
keterlambatan orangtua memberikan perawatan pertama saat anak terkena diare.

Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan. Perubahan


iklim, kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan
merupakan faktor utamanya. Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food,
Fly , Feces, danFinger.
Angka kejadian diare di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini
masih tinggi. Di Indonesia, sekitar 162 ribu balita meninggal setiap tahun atau
sekitar 460 balita setiap harinya. Dari hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) di Indonesia, diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita
dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur. Setiap anak di Indonesia
mengalami episode diare sebanyak 1,6 2 kali per tahun

Sepintas diare terdengar sepele dan sangat umum terjadi. Namun, ini
bukan alasan untuk mengabaikannya, dehidrasi pada penderita diare bisa
membahayakan dan ternyata ada beberapa jenis yang menular.Diare kebanyakan
disebabkan oleh Virus atau bakteri yang masuk ke makanan atau minuman,
makanan berbumbu tajam, alergi makanan, reaksi obat, alkohol dan bahkan
perubahan emosi juga dapat menyebabkan diare, begitu pula sejumlah penyakit
tertentu.

1.2. Rumusan Masalah

Bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga dengan


masalah Diare?

1.3. Tujuan

Mengetahui cara memberikan asuhan keperawatan terhadap keluarga dengan


masalah diare?
BAB II

KONSEP DASAR KELUARGA

2.1. Definisi

Pengertian keperawatan kesehatan keluarga (Family Healt Nursing) dapat


dinyatakan berdasarkan berbagai sumber sebagai berikut.

1. Keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh


perkawinan, adopsi dan kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan
fisik,mental, emosiaonal dan sosial dari individu-individu yang ada
didalamnya terlihat dari pola interaksi yang saling ketergantungan untuk
mencapai tujuan bersama (Friedman, 1998).
2. Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan
darah dan ikatan adopsi yang hidup bersama dalam satu rumah tangga,
anggota keluarga, berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan
peran sosial keluarga (burgess dkk, 1963).
3. Keluarga menurut stuart (1991), meliputi 5 sifat yaitu:
a. Keluarha merupakan unit suatu sistem.
b. Setiap anggota keluarga dapat atau tidak dapat saling berhubungan
atau dapat dan tidak selalu tinggal dalam satu atap
c. Keluarga dapat mempunyai anak ataupun tidak mepunyai anak
d. Terdapat komitmen dan saling melengkapi antar anggota keluarga
e. Keluarga mempertahankan fungsinya secara konsiten terhadap
perlindungan, kebutuhan hidup dan sosialisasi antar anggota keluarga

2.2. Tipe Keluarga

Berbagai bentuk dan tipe keluarga, berdasarkan berbagai sumber kritikal


untuk memberikan berbgai sumber, dibedakan berdasarkan keluarga tradisional
dan keluarga non-tradisional.
1. Menurut Maclin (1988), pembagian tipe keluarga adalah sebagai berikut:
a. Keluarga tradisional
1) Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan
anak-anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama.
2) Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga hanya dengan
satu orang yang mengepalai akibat dari perceraian, pisah atau
ditinggalkan.
3) Kasangan inti, hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak
atau tidak ada anak yang tinggal sama mereka.
4) Bujang dewasa yang tinggal sendirian
5) Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari
nafka, istri tinggal di rumah dengan anak yang sudah kawin atau
bekerja
6) Jaringan keluarga besar: terdiridua keluarga inti atau lebih atau
anggota keluarga yang tidak menikah hidup berdekatan dalam
daerah geografis
b. Keluarga non-tradisional
1) Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak
menikah (biasanya terdiri dari ibu dan anak saja)
2) Pasangan suami istri yang tidak menikah tetapi suda mempunyai
anak
3) Keluarga gay/lesbian adalah pasangan yang berjenis kelamin sama
hidup bersama sebagai pasangan yang menikah
4) Keluarga komuni adalah rumah tangga yang terdiri darilebih satu
pasangna monogami dengan anak-anak, secara bersama
menggunakan fasilitas, sumber dan memiliki pengalaman yang
sama
2. Menurut Allender & Spradley (2001), membagi tipe keluarga berdasarkan:
a. Keluarga tradisional
1) Keluarga inti (nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari
suami istri dan anak kandung atau anak angkat
2) besar (extended family) yaitu keluarga inti ditamba dengan
keluarga lain yang mempunyai hubungan darah, misalnya kakek,
nenek, paman, dan bibi
3) Keluarga Dyad yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri
tanpa anak
4) Single parent yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
dengan anak kandung atau anak angkat, yang disebabkan karena
perceraian atau kematian
5) Single adult, yaitu rumah tangga yang terisi dari seorang dewasa
saja
6) Keluarga usia lanjut yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri
yang berusia lanjut
b. Keluarga non-tradisional
1) Commune family, yaitu lebih dari satu keluarga tanpa pertalian
darah hidup serumah.
2) Orang tua (ayah/ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak
hidup bersama dalam satu rumah tangga
3) Homoseksual yaitu dua individu sejeenis kelamin hidup
bersamadalam satu rumah tangga.

2.3. Fungsi Keluarga

Fungsi Keluarga Merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau
sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarga. Terdapat beberapa fungsi
keluarga manurut Friedman (1998) ; Setiawati dan Dermawan (2005) yaitu:
1. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan tentang kepribadian dari anggota keluarga. Merupakan
respon dari keluarga terhadap kondisi dan situasi yang dialami tiap
anggota keluarga bik senang maupun sedih, dengan melihar bagaimana
cara keluarga mengekspresikan kasih sayang.
2. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada
anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan
batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-
nilai budaya keluarga. Bagaimana keluarga produktif terhadap sosial dan
bagaimana keluarga memperkenalkan anak dengan dunia luar dengan
belajar berdisiplin, mengenal budaya dan norma melalui hubungan
interaksi dalam keluarga sehingga mampu berperan dalam masyarakat.
3. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam
melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta
menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental dan
spiritual, dengan cara memelihara anggota keluarga serta mengenali
kondisi sakit setiap anggota keluarga
4. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan, papan dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana
keluarga. Mencari sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan,
pengaturan penghasilan keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
5. Fungsi biologis
Fungsi biologis, bukan hanya ditujukan untuk meneruskan keturunan
tetapi untuk memelihara dan membesarkan untuk kelanjutan generasi
selanjutnya.
6. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih sayang
dan rasa aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina
pendewasaan kepribadian anggota keluarga, dan memberikan identitas
keluarga
7. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan
pengetahuan, keterampilan, membentuk perilaku anak, mempersiapkan
anak untuk kehidupan dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkatan
perkembangannya.

2.4. Tahapan Keluarga

Perawat keluarga perlu mengetahui tentang tahapan dan tugas perkembangan


keluarga, untuk memberikan pedoman dalam menganalisis pertumbuhan dan
kebutuhan promosi kesehatan keluarga serta memberikan dukungan kepada
keluarga untuk memajukan dari satu tahap ke tahap berikutnya.

Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall & Miller (1985) Dkk. Seperti:

1) Tahap I, keluarga pemula atau pasangan baru


2) Tahap II, keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayisampai unur 30
bulan)
3) Tahap III, Keluarga Dengan Anak Usia Prasekolah (Anak Terutama
BeruMUR 2,5)
4) Tahap IV, keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)
5) Tahap V, keluarga dengan anak remaja (anak tertua usia 6 13 Tahun)
6) Tahap VI keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak
pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah).
7) Tahap VII, orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiun)
2.5. Tugas Keluarga
1) Ketidakmampuan keluarga untuk menganal masalah kesehatan, termasuk
bagaimana persepsi terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian, tanda
dan gejala, faktor penyebab dan persepsi keluarga terhadap masalah yang
dialami keluarga.
2) Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauhmana
keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana
masalah dirasakan oleh keluarga, keluarga menyerah atau tidak terhadap
masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap akibat atau adakah
sikap negatif dari keluarga terhadap masalah kesehatan, bagaimana sistem
pengambilan keluarga yang dilakukan keluarga terhadap anggota keluarga
yang sakit.
3) Ketidakmampuan keluarga untuk merawat anggota keluarga yang sakit.
Seperti bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat dan
perkembangan perawatan yang diperlukan, sumber sumber yang ada
dalam keluarga serta sikap keluarga terhadap yang sakit.
4) Ketidakmampuan keluarga untuk memodifikasi lingkungan. Seperti
pentingnya hygiene bagi sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan
penyakit yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota keluarga dalam
menata lingkungan dalam dan luar rumah yang berdampak
terhadapkesehatan keluarga.
5) Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan.
Seperti, kepercayaan keluarga terhadap fasilitas pelayanan kesehatan dan
petugas kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan
keluarga terhadap penggunaan fasilitas kesehatan, apakah pelayanan
kesehatan terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang kurang baik
yang dipersepsikan keluarga.
BAB III

KONSEP TEORITIS DIARE

3.1. Definisi

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau
setengah cairan, dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari
keadaan normal yakni 100-200 ml sekali defekasi (Hendarwanto, 1999).

Menurut WHO (1992) diare adalah buang air besar encer atau cair lebih
dari tiga kali sehari.

Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi
dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer, dapat berwarna
hijau atau dapat bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 2002).

3.2. Anatomi dan Fisiologi

Anatomi sistem pencernaan

a) Mulut
b) Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
kerongkongan, merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan makanan,
letaknya dibelakang rongga mulut dan didepan ruas tulang belakang.
c) Gaster (lambung)
Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat mengembang
paling banyak terutama didaerah epigaster.
d) Usus halus
Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang
berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya 6cm,
merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan obstruksi
hasil pencernaan makanan.
Usus halus terdiri dari :
- Duodenum
Disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda
melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada
bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang nambulir disebut
papila vateri.
- Yeyunum
Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di
antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum).
Pada manusia dewasa panjangnya 2-3 meter.
- Ileum
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus.
Pada sistem pencernaan manusia panjangnya sekitar 4-5 m dan
terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus
buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan
berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
e) Usus besar/interdinum mayor
Panjangnya 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari
makanan, tempat tinggal bakteri koli, tempat feces
f) Rektum.
Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor
dengan anus.
g) Anus.
Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum
dengan dunia luar.

Usus besar mempunyai berbagai fungsi yang semuanya berkaitan dengan


proses akhir isi usus. Fungsi usus besar yang paling penting adalah mengabsorpsi
air dan elektrolit, yang sudah hampir lengkap pada kolon bagian kanan. Kolon
sigmoid berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah
dehidrasi sampai defekasi berlangsung (Preice & Wilson, 1994). Kolon
mengabsorpsi air, natrium, khlorida, dan asam lemak rantai pendek serta
mengeluarkan kalium dan bikarbonat. Hal tersebut membantu menjaga
keseimbangan air dan elektrolit dan mencegah terjadinya dehidrasi. (Schwartz,
2000)

Gerakan retrograd dari kolon memperlambat transit materi dari kolon


kanan dan meningkatkan absorpsi. Kontraksi segmental merupakan pola yang
paling umum, mengisolasi segmen pendek dari kolon, kontraksai ini menurun
oleh antikolinergik, meningkat oleh makanan dan kolinergik. Gerakan massa
merupakan pola yang kurang umum, pendorong antegrad melibatkan segmen
panjang 0,5-1,0 cm/detik, tekanan 100-200 mmHg, tiga sampai empat kali sehari,
terjadi dengan defekasi. (Schwartz, 2000)

Gas kolon berasal dari udara yang ditelan, difusi dari darah, dan produksi
intralumen. Nitrogen, oksigen, karbon dioksida, hidrogen, metan. Bakteri
membentuk hidrogen dan metan dari protein dan karbohidrat yang tidak tercerna.
Normalnya 600 ml/hari. (Schwartz, 2000)

3.3. Etiologi
1. Faktor infeksi
- Infeksi enteral
infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli, Salmonella,
Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi virus
(Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit
(E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
- Infeksi parenteral
merupakan infeksi di luar sistem pencernaan yang dapat menimbulkan
diare seperti: otitis media akut, tonsilitis, bronkopneumonia, ensefalitis
dan sebagainya.
2. Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan
sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa).
Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting pada bayi
dan anak. Di samping itu bisa terjadi malabsorbsi lemak dan protein.
3. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun dan
alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4. Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas), jarang
terjadi tetapi dapat ditemukan pada anak yang lebih besar.

3.4. Tanda dan Gejala


1. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer.
2. Pada anak cengeng, gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat, nafsu makan
berkurang.
3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
4. Daerah sekitar anus kemerahan dan lecet karena seringnya difekasi dan
tinja menjadi lebih asam akibat banyaknya asam laktat.
5. Ada tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elistitas kulit menurun),
ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan disertai
penurunan berat badan.
6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun,
denyut jantung cepat, pasien sangat lemas hingga menyebabkan kesadaran
menurun.
7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
3.5. Patofisiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah:

1. Gangguan osmotic
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga terjadi pergeseran
air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga usus yang berlebihan
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus dan
selanjutnya timbul diare kerena peningkatan isi lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus untuk
menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya
dapat timbul diare pula.

3.6. Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan tinja
2. Makroskopis dan mikroskopis
3. PH dan kadar gula dalam tinja
4. Bila perlu diadakan uji bakteri
5. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan
menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
6. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
7. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.
3.7. Pemeriksaan Diagnostik
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,
perubahan pada elektro kardiagram).
4. Hipoglikemia.
5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase
karena kerusakan vili mukosa, usus halus.
6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
mengalami kelaparan.

3.8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diare akut adalah sebagai berikut :

1. Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi.


Ada 4 hal yang penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi
yang cepat dan akurat, yaitu:
2. Jenis cairan yang hendak digunakan.
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena
tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah bila
dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia dapat
diberiakn NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan dengan 1
ampul Nabik 7,5% 50 ml pada setiap satu liter NaCl isotonik. Pada
keadaan diare akut awal yang ringan dapat diberikan cairan oralit untuk
mencegah dehidrasi dengan segala akibatnya.
3. Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak diberikan harus
sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan. Derajat dehidrasi
ringan, sedang, berat dapat dinilai dengan Skor Mourice King.
Menilai tingkat dehidrasi ringan sedang berat dengan menggunakan Skor
Maurice King, sebagai berikut :

Keterangan:

- Nilai 0-2 : dehidrasi ringan


- Nilai 3-6 : dehidrasi sedang
- Nilai 7-12: dehidrasi berat
4. Dietetik
Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan
kurang dari 7 kg, jenis makanan :
- Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak
tak jenuh.
- Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim).
- Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan
misalnya susu yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang
berantai sedang atau tak jenuh.
5. Obat-obatan yang diberikan pada anak diare adalah:
- Obat anti sekresi (asetosal, klorpromazin)
- Obat spasmolitik (papaverin, ekstrakbelladone)
- Antibiotik (diberikan bila penyebab infeksi telah diidentifikasi)
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah pertama dari prioritas keperawatan dengan


pengumpulan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai
permasalahan yang ada. (Hidayat, 2004 : 98) Adapun hal-hal yang dikaji meliputi:

1) Identitas Klien
Data umum meliputi : ruang rawat, kamar, tanggal masuk, tanggal
pengkajian, nomor medical record.
Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama,
suku dan gaya hidup.
2) Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama : Bab cair lebih dari 3x.
3) Riwayat Keperawatan Sekarang
Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan BAB cair
berkali-kali baik desertai atau tanpa dengan muntah, tinja dapat bercampur
lendir dan atau darah. Keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah
napsu makan menurun, suhu badan meningkat, volume diuresis menurun
dan gejala penurunan kesadaran.
4) Riwayat Keperawatan Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit
menjadi parasit), alergi makanan, dll.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah
dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan
hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat
mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan
lain-lain.
6) Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : klien lemah, lesu, gelisah, kesadaran turun
b. Pengukuran tanda vital meliputi : Tekanan Darah, Nadi, Respirasi dan
suhu tubuh.
c. Keadaan sistem tubuh : Mata : cekung, kering, sangat cekung
- Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen,
peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah,
minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus,
minum sedikit atau kelihatan tidak bisa minum
- Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena
asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
- Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi
menurun pada diare sedang .
- Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 detik, suhu
meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok),
capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
- Sistem perkemihan : oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam).

2. Diagnosa Keperawatan

a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


kehilangan cairan skunder terhadap diare.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare
/ output berlebih dan intake yang kurang.
c. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
skunder terhadap diare

3. Intervensi Keperawatan
1) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
kehilangan cairan skunder terhadap diare
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
keseimbangan dan elektrolit dipertahankan secara maksimal

Kriteria hasil :

- Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR :


< 24 x/mnt )
- Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cekung,
UUB tidak cekung.
- Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari.

Intervensi :

1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit


R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa
dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan
segera untuk memperbaiki defisit
2. Pantau intake dan output
R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat
keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
3. Timbang berat badan setiap hari
R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan
kehilangan cairan 1 lt.
4. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien, 2-3 lt/hr
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
5. Kolaborasi : Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
R/ Koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal
ginjal (kompensasi).
6. Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
7. Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
R/ Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar
seimbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai
anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

2) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


diare/output berlebih dan tidak adekuatnya intake.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam di RS kebutuhan


nutrisi terpenuhi

Kriteria :

- Nafsu makan meningkat


- BB meningkat atau normal sesuai umur

Intervensi :

1. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat


tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang
mengiritasi lambung dan sluran usus.
2. Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau
sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
3. Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
4. Monitor intake dan out put dalam 24 jam
R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
5. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : terapi gizi : Diet TKTP rendah
serat, obat-obatan atau vitamin
R/ Mengandung zat yang diperlukan oleh tubuh
3) Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
dampak sekunder dari diare
Tujuan : Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi
peningkatan suhu tubuh

Kriteria hasil :

- Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)


- Tidak terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kalor, tumor, fungtio laesa)

Intervensi :

1. Monitor suhu tubuh setiap 2 jam


R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya
infeksi)
2. Berikan kompres hangat
R/ Merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas
tubuh
3. Kolaborasi pemberian antipirektik
R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak.

4. Implementasi

Pelaksanaan merupakan salah satu tahap dari proses keperawatan keluarga


dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat
keluarga untuk mendapatkan perbaikan kearah perilaku hidup sehat. Pelaksanaan
tindakan keperawatan keluarga didasarkan kepada asuhan keperawatan yang telah
didusun

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan kegiatan yang membandingkan antara hasil,


implementasi dengan kriteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilan bila hasil dan evaluasi tidak berhasil sebagian perlu disusun rencana
keperawatan yang baru.
BAB IV

TINJAUAN KASUS

Resume

Tn. A sebagai kepala keluarga menyebutkan susunan keluarganya terdiri


dari istrinya (Ny. B), anaknya yang pertama (An. C) yang sudah sekolah SD kelas
3 dan anak yang kedua (An. D) yang baru berumur 4 tahun. Ny. B selaku istri dan
Ibu Keluarga (IK) mengatakan anaknya (An. C) sudah buang air besar sebanyak
13 kali dari jam 8 malam sampai sekarang (jam 10 pagi) dan BAB berbentuk cair.
IK juga mengatakan Anak C mengalami demam sempat suhu sampe 39C dan
badannya sangat lemas sampai tidak bisa tidur semalaman. Waktu ditanya oleh
IK, Anak C mengaku waktu disekolah dia makan pecel yang dibeli dari warteg
yang tempat maknnya tidak terdapat penutupnya. Anak C juga mengaku sehabis
makan pecel dia minum es potong yang tempat penjualan esnya tidak bersih. IK
juga mengatakan sudah 3 hari ini anak C suka jajan cilok diberi saus yang sering
lewat didepan rumah. IK selama ini tidak melarang anak C jajan sembarangan.

Setelah dilakukan observasi, luas rumah keluarga bapak A 7 x 8 m2 terdiri


dari 2 lantai, lantai pertama untuk kamar mandi dan parkir motor. Lantai kedua
ada 2 kamar, dapur dan ruang tamu. Lokasi rumah keluarga bapak A berada di
perumahan padat dengan resiko kebanjiran saat musim hujan. Kamar mandi
keluarga bapak A terlihat kotor, dan saat musim hujan, rumah keluarga bapak A
lantai satu terendam air hujan setinggi diatas mata mata kaki.
Analisa Data

Data Subjektif Data Objektif


- IK mengatakan anaknya (An. C) - Tanda tanda vital :
sudah buang air besar sebanyak 13 S : 37,8 C
kali dari jam 8 malam sampai RR : 24 x/menit
sekarang (jam 10 pagi) dan BAB N : 68 x/menit
berbentuk cair. - Anak C tampak lemas dan
- IK juga mengatakan Anak C berbaring lemah ditempat tidur
mengalami demam sempat suhu - Anak C tampak pucat dan
sampe 39C dan badannya sangat konjungtiva anemis
lemas sampai tidak bisa tidur - Anak C sudah BAB 2 kali selama
semalaman 1 jam dengan konsistensi cair.
- Anak C mengaku waktu disekolah - Luas rumah keluarga bapak A 7 x
dia makan pecel yang dibeli dari 8 m2 terdiri dari 2 lantai, lantai
warteg yang tempat maknnya tidak pertama untuk kamar mandi dan
terdapat penutupnya. parkir motor. Lantai kedua ada 2
- Anak D juga mengaku sehabis kamar, dapur dan ruang tamu.
makan pecel dia minum es potong - Lokasi rumah keluarga bapak A
yang tempat penjualan esnya tidak berada di perumahan padat dengan
bersih. resiko kebanjiran saat musim
- IK juga mengatakan sudah 3 hari hujan.
ini anak C suka jajan cilok diberi - Kamar mandi keluarga bapak A
saus yang sering lewat didepan terlihat kotor, dan saat musim
rumah. hujan, rumah keluarga bapak A
- IK selama ini tidak melarang anak lantai satu terendam air hujan
C jajan sembarangan. setinggi diatas mata mata kaki.
Prioritas Masalah

1) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada keluarga bapak A


khusussnya Anak C berhubungan dengan Ketidakmampuan keluarga
untuk merawat anggota keluarga yang sakit.
No Kriteria Nilai Skor Pembenaran
1. Sifat Masalah 3/3 x 1 1 IK mengatakan anaknya (An. C)
(Aktual) sudah buang air besar sebanyak
13 kali dari jam 8 malam sampai
sekarang (jam 10 pagi) dan
BAB berbentuk cair.
2. Kemungkinan masalah 2/2 x 2 2 IK selama ini tidak melarang
untuk diubah anak C jajan sembarangan.
(Mudah)
3. Potensial masalah untuk 3/3 x 1 1 Anak C mengaku waktu
dicegah (Tinggi) disekolah dia makan pecel yang
dibeli dari warteg yang tempat
maknnya tidak terdapat
penutupnya.
4. Penonjolan Masalah 2/2 x 1 1 IK juga mengatakan Anak C
(Segera diatasi) mengalami demam sempat suhu
sampe 39C dan badannya
sangat lemas sampai tidak bisa
tidur semalaman
Total : 4

Intervensi yang diberikan :

1. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit


R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa
dan pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan
segera untuk memperbaiki defisit
2. Pantau intake dan output
R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat
keluaran tak aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
3. Timbang berat badan setiap hari
R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan
kehilangan cairan 1 lt.
4. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada anak 2-3 lt/hr
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah
atau lendir dalam tinja. Diare juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana
terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena
frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal
yaitu lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai
atau tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi
pada lambung atau usus.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenitto. 2000. Diagnosa Keperawatan Aplikasi Pada Praktek Klinis. Ed 6.


Jakarta: EGC.
Achjar, A.H. Komang. 2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga.
Jakarta: CV Agung Seto.