Anda di halaman 1dari 2

Pay-for-Performance Sebagai Motivasi dan Kunci Keberhasilan Dalam Bekerja

Sonny Mochamad - 55117110148


sonny_mochamad@yahoo.com

Dalam jurnalnya yang berjudul Pay-for-Performances Effect on Future Employee Performance:


Integrating Psychological and Economic Principles Toward a Contingency Perspective,ketiga penulis
menggambarkan Pay-for-Performance sebagai suatu gambaran yang terjadi saat pemberlakuan kebijakan
upah berdasarkan kriteria tertentu.
Upah merupakan penerimaan sebagai suatu imbalan dari pemberi kerja kepada penerima kerja
untuk suatu pekerjaan atau jasa yang telah dan atau akan dilakukan, berfungsi sebagai jaminan
kelangsungan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan produksi, dan dinyatakan atau dinilai dalam
bentuk uang yang ditetapkan menurut suatu persetujuan dan peraturan-peraturan dan dibayarkan atas dasar
suatu perjanjian kerja
Pay-for-Performance merupakan suatu reward atau penghargaan kepada karyawan atas
keberhasilannya dalam suatu pencapaian atau target tertentu sehingga dapat memberikan motivasi lebih
dalam bekerja. Bagi yang performansinya bagus maka akan diberikan penghargaan dengan paket
remunerasi yang baik. Sebaliknya bagi karyawan yang performansinya jelek akan mendapatkan punishment
(hukuman) dengan paket remunerasi yang jelek juga. Bayangkan saja seandainya ada karyawan yang
memiliki performance berbeda namun dibayar sama, akibatnya bisa jadi karyawan yang performance nya
bagus akan terdemotivasi dan menurunkan performance nya. Disinilah peran Pay-for-Performance muncul.
Dalam menilai seorang karyawan yang dikaitkan dengan sistem balas jasa (gaji, insentif dan bonus), pihak
manajemen akan menentukan berdasarkan formula tertentu dengan melakukan penetapan besaran
berdasarkan periode atas waktu serta besaran kenaikan per waktu tersebut (biasanya dalam prosentase).
Sedangakan sistem merit, biasanya diterapkan untuk karyawan administrasi dan staf profesional, tidak
untuk pekerja pabrik atau operator mesin.
Agar hal demikian tidak terjadi, maka manajemen harus melakukan trade off antara besarnya
imbalan bagi karyawan dengan biaya tenaga kerja yang ditanggung organisasi atau perusahaan, serta
memastikan bahwa imbalan yang dibayarkan dapat memengaruhi kinerja karyawan (performance based
pay). Organisasi harus benar-benar merancang sistem imbalan secara efektif dan efisien. Namun demikian,
dalam penerapannya masih terdapat kendala, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1)
perubahan desain pekerjaan, (2) komposisi dan skill tenaga kerja yang semakin beragam tambah
mempersulit penilaian kinerja, terakhir (3) keakuratan penilaian kinerja itu sendiri.
Dalam merancangan sistem balas jasa, perancangan harus melalui suatu sistem formal dan
terstruktur untuk memberikan imbalan kepada SDM atas apa yang mereka lakukan demi keberhasilan
perusahaan. Namun, imbalan itu diberikan berdasarkan kinerja mereka, dimana besar kecilnya imbalan
berkaitan dengan kinerja mereka, namun imbalan tersebut dapat ditetapkan atau diberikan berdasarkan hal
seperti berikut.

Waktu kerja (time-based pay), adalah besaran imbalan berdasarkan lamanya waktu yang
dihabiskan oleh sumber daya manusia dalam pekerjaan.
Kompetensi (competency-based atau skill-based pay), keterkaitan antara besarnya imbalan dan
keterampilan/keahlian yang dimiliki
Senioritas (seniority-based pay), dimana besar kecilnya imbalan berkaitan dengan lamanya
pengabdian sumber daya manusia di dalam satu perusahaan.
Berat ringannya pekerjaan (job-based pay), dimana besar kecilnya memperoleh imbalan berkaitan
dengan berat ringannya tugas dan tanggung jawab oleh karyawan dalam pekerjaan.
Karakteristik pekerjaan (job characteristic), hitungan imbalan berdasarkan jenis pekerjaan yang
dilakukan
Penetapan sistem merit dan bonus dilakukan melalui penailaian yang dilakukan secara belakala.
Dengan faktor yang dinilai pada umumnya meliputi kepribadian karyawan (integritas dan kecerdasan),
kemampuan (pendidikan, pengalaman) dan hasil karya (disiplin, kerjasama, tanggung jawab dan rasa
memiliki).
Sebagai kesimpulan, ide utama pay-for-performance adalah untuk meciptakan hubungan erat
antara kinerja pekerja dengan besaran gaji yang didapatkan. Semakin produktif, maka skala bonus dan merit
dapat langsung dirasakan oleh karyawan sehingga kinerja perusahaan dapat meningkat sejalan dengan
kenaikan tingkat produktifitas pekerjanya.