Anda di halaman 1dari 20

PANDUAN PELAYANAN TAHAP TERMINAL

I. Latar Belakang
Kematian dan Proses Menuju Kematian adalah sebuah fenomena yang pasti akan terjadi
atau akan dijumpai manusia dalam kehidupannya.Ketika seseorang didiagnosa sakit
dengan sebuah sakit yang tergolong berat dan berstadium lanjut dimana pengobatan
medis sudah tidak mungkin diterimakan kepada si pasien, maka kondisi pasien tersebut
akan mengalami sebuah goncangan yang hebat. Dalam rangka menurunkan tingkat
kecemasan pada pasien, petugas akan menilai dan melakukan penilaian ulang terhadap
kategori pasien tahap terminal, serta bekerja sama dalam memberikan bantuan pelayanan
tahap terminal sesuai prosedur

II. Pengertian
Penyakit terminal adalah suatu penyakit yag tidak bisa disembuhkan lagi. Kematian
adalah tahap akhir kehidupan. Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau
mengikuti periode sakit yang panjang. Terkadang kematian menyerang usia muda tetapi
selalu menunggu yang tua.
Kondisi Terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penyakit / sakit
yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh sehingga sangat dekat dengan proses
kematian. Respon klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi fisik,
psikologis, sosial yang dialami, sehingga dampak yang ditimbulkan pada tiap
individu juga berbeda. Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang ditunjukkan
olehpasien terminal. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi
terminal, tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien sehingga
pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan
tenang dan damai. Penyakit yang bisa menyebabkan seseorang dalam kondisi
terminal/mengancam hidup,antara lain :
Penyakit kronis seperti TBC, Pneumonia, Edema Pulmonal,Sirosis Hepatis,
Penyakit Ginjal Kronis, Gagal Jantung dan Hipertensi.
Kondisi Keganasan seperti Ca Otak, Ca Paru - paru, Ca Pankreas, Ca Liver,
Leukemia, dll.
Kelainan Syaraf seperti Paralise, Stroke, Hydrocephalus dll.
Keracunan seperti keracunan obat, makanan, zat kimia.

1
Kecelakaan/Trauma seperti Trauma Kapitis, Trauma Organ Vital (Paru-Paru
atau jantung) ginjal dll.
Doka (1993) menggambarkan respon terhadap penyakit yang mengancam hidup ke dalam
empat fase, yaitu :
Fase Prediagnostik: terjadi ketika diketahui ada gejala atau faktor risiko penyakit
Fase Akut: berpusat pada kondisi krisis. Klien dihadapkan pada
serangkaiankeputusasaan, termasuk kondisi medis, interpersonal, maupun
psikologis
Fase Kronis: klien bertempur dengan penyakit dan pengobatannya.
Fase Terminal: dalam kondisi ini kematian bukan lagi hanya kemungkinan,
tetapi pasti terjadi.
III. Tujuan Pelayanan Tahap Terminal
Sebagai suatu proses pelayanan untuk mengurangi kecemasan pada pasien tahap terminal
dengan cara :
1. Menghilangkan/ mengurangi rasa kesendirian, takut dan depresi
2. Mempertahankan rasa aman, harkat dan rasa berguna
3. Membantu klien menerima rasa kehilangan
4. Membantu kenyamanan fisik Mempertahankan harapan
IV. Ruang Lingkup
Pelayanan tahap terminal dapat terjadi pada pasien yang dirawat di ruangan :
Instalasi Rawat Inap
ICU/ICCU
HCU
Home Care
Semua petugas yang bekerja di rumah sakit harus memahami bahwa pasien yang dirawat
inap memiliki risiko untuk tahap terminal, dan semua petugas tersebut memiliki peran
untuk memberikan pelayanan tahap terminal.
V. Tatalaksana
1. Klien dalam kondisi Terminal akan mengalami berbagai masalah baik fisik,
psikologis, maupun sosial-spiritual. Gambaran problem yang dihadapi pada kondisi
terminal antara lain :

2
Problem Oksigenisasi : respirasi irregular, cepat atau lambat, pernafasan
cheynestokes, sirkulasi perifer menurun, perubahan mental, agitasi-gelisah,
tekanan darah menurun, hipoksia, akumulasi secret, nadi ireguler.
Problem Eliminasi : Konstipasi, medikasi atau imobilitas memperlambat
peristaltik,kurang diet serat dan asupan makanan juga mempengaruhi
konstipasi, inkontinensia fekal bisa terjadi oleh karena pengobatan atau
kondisi penyakit (misalnya: Ca Colon), retensiurin, inkontinensia urin terjadi
akibat penurunan kesadaran atau kondisi penyakit (misalnya: trauma medulla
spinalis), oliguri terjadi seiring penurunan intake cairan atau kondisi penyakit
(misalnya: gagal ginjal).
Problem Nutrisi dan Cairan : asupan makanan dan cairan menurun,
peristaltik menurun, distensi abdomen, kehilangan BB, bibir kering dan pecah-
pecah, lidah kering dan membengkak, mual, muntah, cegukan, dehidrasi
terjadi karena asupan cairan menurun.
Problem suhu : ekstremitas dingin, kedinginan sehingga harus memakai
selimut.
Problem Sensori : Penglihatan menjadi kabur, refleks berkedip hilang saat
mendekati kematian, menyebabkan kekeringan pada kornea, Pendengaran
menurun, kemampuan berkonsentrasi menjadi menurun, pendengaran
berkurang, sensasi menurun.
Problem nyeri : ambang nyeri menurun, pengobatan nyeri dilakukan secara
intra vena, klien harus selalu didampingi untuk menurunkan kecemasan dan
meningkatkan kenyamanan.
Problem Kulit dan Mobilitas : seringkali tirah baring lama menimbulkan
masalah padakulit sehingga pasien terminal memerlukan perubahan posisi
yang sering.
Masalah Psikologis : klien terminal dan orang terdekat biasanya mengalami
banyak respon emosi, perasaaan marah dan putus asa seringkali ditunjukan.
Problem psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain
ketergantungan, hilang kontrol diri, tidak mampu lagi produktif dalam hidup,
kehilangan harga diri dan harapan, kesenjangan komunikasi/barrier
komunikasi.
Perubahan Sosial-Spiritual : klien mulai merasa hidup sendiri, terisolasi
akibat kondisi terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat
3
memaknai kematian sebagai kondisi peredaan terhadap penderitaan. Sebagian
beranggapan bahwa kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang
akan mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai. Sedangkan yang
lain beranggapan takut akan perpisahan, dikucilkan, ditelantarkan, kesepian,
atau mengalami penderitaan sepanjang hidup. Seseorang yang menghadapi
kematian/kondisi terminal, dia akan menjalani hidup, merespon terhadap
berbagai kejadian dan orang disekitarnya sampai kematian itu terjadi.
Perhatian utama pasien terminal sering bukan pada kematian itu sendiri tetapi
lebih pada kehilangan kontrol terhadap fungsi tubuh, pengalaman nyeri yang
menyakitkan atau tekanan psikologis yang diakibatkan ketakutan akan
perpisahan, kehilangan orang yang dicintai.
2. Cara Mengkaji Tingkat Kesadaran
Kesadaran adalah status individu tentang keberadaan dirinya dan hubungan
denganlingkungan sekitarnya.Menurut Strauss dan Glaser Tahun 1970, Tingkat
Kesadaran dibagi 3 :
Closed Awarness
Mutual Pretense
Open Awarness
Teknik lain untuk mengkaji tingkat kesadaran adalah dengan metode GCS (Glasgow
Coma Scale).
3. Pengkajian Tahap Terminal
Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang
b. Riwayat kesehatan dahulu
Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan
penyakit yang sama
c. Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien
Head to toe
Perubahan fisik saat kematian mendekat
a. Pasien kurang rensponsif
b. Fungsi tubuh melambat
c. Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja
4
d. Rahang cenderung jatuh
e. Pernafasan tidak teratur dan dangkal
f. Sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah
g. Kulit pucat
h. Mata terbelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya
4. Diagnosa keperawatan
a. Ansietas/ ketakutan individu , keluarga yang berhubungan diperkirakan dengan
situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut
akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup
b. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi,
penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain
c. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan
keluarga, takut akan hasil (kematian) dengan lingkungnnya penuh dengan stres
(tempat perawatan)
d. Risiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari sistem
pendukung keagamaan, kurang privasi atau ketidak mampuan diri dalam
menghadapi ancaman kematian
5. Kriteria hasil
Klien atau keluarga akan :
a. Mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan gangguan
b. Menceritakan pikiran tentang efek gangguan pada fungsi normal, tanggung
jawab peran dan gaya hidup
Klien akan :
a. Mengungkapkan kehilangan dan perubahan
b. Mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilangan dan perubahan
c. Menyatakan kematian akan terjadi
Anggota keluarga akan melakukan hal berikut :
Mempertahankan hubungan erat yang efektif, yang dibuktikan dengan cara
berikut:
a. Menghabiskan waktu bersama klien
b. Mempertahankan kasih sayang, komunikasi terbuka dengan klien
c. Berpartisipasi dalam perawatan
Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan:
a. Megungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien
5
b. Mengungkapkan kekawatirannya mengenai lingkungan tempat perawatan
Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontinyu selama perawatan klien.
Klien akan mempertahankan praktik spritualnya yang akan mempengaruhi
penerimaan terhadap ancaman kematian
6. Intervensi keperawatan
Diagnosa I
Ansietas/ketakutan (individu, keluarga) yang berhubungan dengan situasi yang tak
dikenal. Sifat kondisi yang tak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek
negative pada gaya hidup.
Kriteria hasil
Klien atau keluarga akan :
a. Mengungkapkan ketakutannya yang brhubungan dengan gangguan
b. Menceritakan tentang efek ganguan pada fungsi normal, tanggungn jawab,
peran dan gaya hidup
Intervensi
1. Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya :
a. Berikan kepastian dan kenyamanan
b. Tunjukkan perasaan tentang pemahaman dan empati, jangan menghindari
pertanyaan
c. Dorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang
berhubungan dengan pengobatannya
d. Identifikasi dan dukung mekanisme koping efektif klien yang cemas
mempunyai penyempitan lapang persepsi dengan penurunan kemampuan
untuk belajar. Ansietas cenderung untuk memperburuk masalah. Menjebak
klien pada lingkaran peningkatan ansietas tegang, emosional dan nyeri
fisik
2. Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah
atau sedang beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan
dapat dihilangkan dengan memberikan informasi akurat. Klien dengan
ansietas berat atauparah tidak menyerap pelajaran
3. Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan
mereka. Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan memberiakan
kesempatan untuk memperbaiki konsep yang tidak benar

6
4. Berikan klien dan keluarga kesempatan dan penguatan koping positif
menghargai klien untuk koping efektif dapat menguatkan renson koping
positif yang akan dating
Diagnosa II
Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang akan dihadapi
penurunan fungsi, perubahan konsep diri dan menark diri dari orang lain
Kriteria hasil klien akan :
a. Mengungkapakan kehilangan dan perubahan
b. Mengungkapakan perasaan yang berkaitan kehilangan dan perubahan
c. Menyatakan kematian akan terjadi
Anggota keluarga akan melakukan hal berikut : mempertahankan hubungan erat
yang efektif, yang dibuktikan dengan cara sebagai berikut:
a. Menghabiskan waktu bersama klien
b. Mempertahankan kasih sayang, komunikasi terbuka dengan klien
c. Berpartisipasi dalam perawatan
Intervensi
1. Berikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan,
diskusikan kehilangan secara terbuka, dan gali makna pribadi dari kehilangan.
Jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat pengetahuan
bahwa tidak ada lagi pengobatan yang dibutuhkan dan bahwa kematian sedang
menanti dapat menyebabkan menimbulkan perasaan ketidak berdayaan, marah
dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya. Diskusi terbuka
dan jujur dapat membantu klien dan anggota keluarga menerima dan
mengatasi situasi dan respon mereka terhadap situasi tersebut
2. Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang terbukti yang
memberikan keberhasilan pada masa lalu strategi koping positif membantu
penerimaan dan pemecahan masalah
3. Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut diri yang positif
memfokuskan pada atribut yang positif meningkatkan penerimaan diri dan
penerimaan kematian yang terjadi
4. Bantu klien mengatakan dan menerima kematian yang akan terjadi, jawab
semua pertanyaan dengan jujur proses berduka, proses berkabung adaptif tidak
dapat dimulai sampai kematian yang akan terjadi di terima

7
5. Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan
ketidak nyamanan dan dukungan penelitian menunjukkan bahwa klien sakit
terminal paling menghargai tindakan keperawatan berikut :
a. Membantu berdandan
b. Mendukung fungsi kemandirian
c. Memberikan obat nyeri saat diperlukan dan
d. Meningkatkan kenyamanan fisik (skoruka dan bonet 1982)
Diagnosa III
Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan takut
akan hasil (kematian) dan lingkungannya penuh stres (tempat perawatan)
Kriteria Hasil
Anggota kelurga atau kerabat terdekat akan :
a. Megungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien
b. Mengungkapkan kekawatirannya mengenai lingkungan tempat perawatan
c. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontinu selama perawatan klien
Intervensi
1. Luangkan waktu bersama keluarga atau orang terdekat klien dan tunjukkan
pengertian yang empati kontak yang sering dan mengkomunikasikan sikap
perhatian dan peduli dapat membantu mengurangi kecemasan dan
meningkatkan pembelajaran
2. Izinkan keluarga klien atau orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan,
ketakutan dan kekawatiran. Saling berbagi memungkinkan perawat untuk
mengidentifikasi ketakutan dan kekhawatiran kemudian merencanakan
intervensi untuk mengatasinya
3. Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU informasi ini dapat membantu
mengurangi ansietas yang berkaitan dengan ketidak takutan
4. Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan
berikan informasi spesifik tentang kemajuan klien
5. Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan
perawatan kunjungan dan partisipasi yang sering dapat meningkatkan interaksi
keluarga berkelanjutan

8
6. Konsul dengan atau berikan rujukan pada sumber komunitas dan sumber
lainnya keluarga denagan masalah-masalah seperti kebutuhan finansial,
koping yang tidak berhasil atau konflik yang tidak selesai memerlukan
sumber-sumber tambahan untuk membantu mempertahankankan fungsi
keluarga
Diagnosa IV
Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari sistem
pendukung keagamaan, kurang privasi atau ketidak mampuan diri dalam
menghadapi ancaman kematian. Klien akan mempertahankan praktik spritualnya
yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian
Intervensi
1. Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual
keagamaan atau spiritual yang diinginkan, bila yang memberi kesempatan
pada klien untuk melakukannya bagi klien yang mendapatkan nilai tinggi pada
doa atau praktek spiritual lainnya, praktek ini dapat memberikan arti dan
tujuan dan dapat menjadi sumber kenyamanan dan kekuatan
2. Ekspresikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan
dan praktik religius atau spiritual klien menunjukkan sikap tak menilai dapat
membantu mengurangi kesulitan klien dalam mengekspresikan keyakinan dan
prakteknya
3. Berikan privasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai kebutuhan klien,
dapat dilaksanakan privasi dan ketenangan, memberikan lingkungan yang
memudahkan refresi dan perenungan
4. Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdoa bersama klien lainnya atau
membaca buku keagamaan perawat meskipun yang tidak menganut agama
atau keyakinan yang sama dengan klien dapat membantu klien memenuhi
kebutuhan spritualnya

7. Implementasi
Diagnosa I
a. Membantu klien untuk mengurangi ansientasnya :
1) Memberikan kepastian dan kenyamanan
2) Menunjukan perasan tentang pemahaman dan empati, jangan menghindari
pertanyaan
9
3) Mendorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan
yang berhubungan dengan pengobotannya.
4) Mengidentifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif
b. Mengkaji tingkat ansientas klien. Merencanakan penyuluhan bila tingkatnya
rendah atau sedang
c. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan atau pikiran
mereka
d. Memberikan klien dan keluarga dengan kepastian dan penguatan prilaku
koping positif
e. Memberikan dorongan pada klien untuk menggunakan teknik relaksasi seperti
paduan imajinasi dan pernafasan relaksasi
Diagnosa II
a. Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan
perasaan,diskusikan kehilangan secara terbuka dan gali makna pribadi dari
kehilangan. Jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.
b. Memberikan dorongan penggunaam strategi koping positif yang terbukti
memberikan keberhasilan pada masa lalu
c. Memberikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut dari yang
positif
d. Membantu klien menyatakan dan menerima kematian yang akan terjadi,jawab
semua pertanyaan dengan jujur
e. Meningkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian, menghilangkan
ketidak nyamanan dan dukungan
Diagnosa III
a. Meluangkan waktu bersama keluarga/orang terdekat klien dan tunjukkan
pengertian yang empati
b. Mengizinkan keluarga klien/orang terdekat untuk mengekspresikan
perasaan,ketakutan dan kekhawatiran
c. Menjelaskankan lingkungan dan peralatan itu
d. Menjelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan
dan memberikaninformasi spesifik tentang kemajuan klien
e. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan
keperawatan

10
f. Mengkonsulkan atau memberikan rujukan ke sumber komunitas dan sumber
lainnya
Diagnosa IV
a. Menggali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktik atau ritual
keagamaan atau spiritual yang diizinkan bila ia memberikan kesempatan pada
klien untuk melakukannya
b. Mengekspresikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya
keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien
c. Memberikan privasi dan ketenangan untuk ritual, spiritual sesuai kebutuhan
klien dan dapat dilaksanakan
d. Menawarkan untuk menghubungi religius atau rohaniwan rumah sakit untuk
mengatur kunjungan menjelaskan ketersediaan pelayanan misalnya : alquran
dan ulama bagi yang beragama islam
8. Faktor-Faktor yang perlu dikaji :
Faktor Fisik
Pada kondisi terminal atau menjelang ajal klien dihadapkan pada berbagai
masalah pada fisik. Gejala fisik yang ditunjukan antara lain perubahan pada
penglihatan, pendengaran, nutrisi, cairan, eliminasi, kulit, tanda-tanda vital,
mobilisasi, nyeri. Perawat harus mampu mengenali perubahan fisik yang terjadi
pada klien, klien mungkin mengalami berbagai gejala selama berbulan-bulan
sebelum terjadi kematian. Perawat harus respek terhadap perubahan fisik yang
terjadi pada klien terminal karena hal tersebut menimbulkan ketidak nyamanan
dan penurunan kemampuan klien dalam pemeliharaan diri.
Faktor Psikologis
Perubahan Psikologis juga menyertai pasien dalam kondisi terminal. Perawat
harus peka dan mengenali kecemasan yang terjadi pada pasien terminal, harus bisa
mengenali ekspresi wajah yang ditunjukan apakah sedih, depresi, atau marah.
Problem psikologis lain yang muncul pada pasien terminal antara lain
ketergantungan, kehilangan harga diri dan harapan. Perawat harus mengenali
tahap-tahapmenjelang ajal yang terjadi pada klien terminal.

11
Menurut Kubler Ross (1969) seseorang yang menjelang ajal menunjukan lima
tahapan,yaitu :
1. Denial (menolak)
Pada tahap ini individu menyangkal dan bertindak seperti tidak terjadi sesuatu,
dia mengingkari bahwa dirinya dalam kondisi terminal. Pernyataan seperti
tidak mungkin, hal ini tidak akan terjadi pada saya, saya tidak akan mati
karena kondisi ini umum dilontarkan klien.
2. Anger (Marah)
Individu melawan kondisi terminalnya, dia dapat bertindak pada seseorang atau
lingkungan di sekitarnya. Tindakan seperti tidak mau minum obat, menolak
tindakan medis, tidak ingin makan, adalah respon yang mungkin ditunjukan
klien dalam kondisi terminal.
3. Bargaining (Tawar Menawar)
Individu berupaya membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk
mencegah kematian. Seperti Tuhan beri saya kesembuhan, jangan cabut
nyawaku, saya akan berbuat baik dan mengikuti program pengobatan".
4. Depresion (Depresi)
Ketika ajal semakin dekat atau kondisi semakin memburuk klien merasa terlalu
sangat kesepian dan menarik diri. Komunikasi terjadi kesenjangan, klien
banyak berdiam diri dan menyendiri.
5. Aceptance(Penerimaan)
Reaksi fisiologis semakin memburuk, klien mulai menyerah dan pasrah pada
keadaan atau putus asa. Peran perawat adalah mengamati perilaku pasien
terminal, mengenali pengaruh kondisi terminal terhadap perilaku, dan
memberikan dukungan yang empatik.
Faktor Sosial
Perawat harus mengkaji bagaimana interaksi pasien selama kondisi terminal,
karena pada kondisi ini pasien cenderung menarik diri, mudah tersinggung, tidak
inginberkomunikasi, dan sering bertanya tentang kondisi penyakitnya. Ketidak
yakinan dan keputusasaan sering membawa pada perilaku isolasi. Perawat harus
bisa mengenali tanda klien mengisolasi diri, sehingga klien dapat memberikan
dukungan sosial bisa dari teman dekat, kerabat/keluarga terdekat untuk selalu
menemani klien.
Faktor Spiritual
12
Perawat harus mengkaji bagaimana keyakinan klien akan proses kematian,
bagaimana sikap pasien menghadapi saat-saat terakhirnya. Apakah semakin
mendekatkan diri pada Tuhan ataukah semakin berontak akan keadaannya.
Perawat juga harus mengetahui disaat-saat seperti ini apakah pasien
mengharapkan kehadiran tokoh agama untuk menemani disaat-saat terakhirnya.
Empat Konsep dan Prinsip Etika, Norma, Budaya dalam Pengkajian
PasienTerminalNilai, sikap, keyakinan, dan kebiasaan adalah aspek
cultural/budaya yang mempengaruhi reaksi klien menjelang ajal. Latar belakang
budaya mempengaruhi individu dan keluarga mengekspresikan berduka dan
menghadapi kematian/menjelang ajal. Perawat tidak boleh menyamaratakan setiap
kondisi pasien terminal berdasarkan etika, norma, dan budaya, sehingga reaksi
menghakimi harus dihindari. Keyakinan spiritual mencakup praktek ibadah, ritual
harus diberi dukungan. Perawat harus mampu memberikan ketenangan melalui
keyakinan-keyakinan spiritual. Perawat harus sensitive terhadap kebutuhan ritual
pasien yang akan menghadapi kematian, sehingga kebutuhan spiritual klien
menjelang kematian dapat terpenuhi.
RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL
1. Jenis Diagnosa Keperawatan
Perawat mengumpulkan data-data senjang untuk membuat diagnosa keperawatan
klien pada kondisi terminal. Mengelompokan perubahan/masalah fisik,
psikologis, sosial, spiritual klien dan keluarganya kedalam kelompok aktual atau
risiko. Perawat harus mengidentifikasi batasan/karakteristik yang membentuk
dasar untuk kelompok diagnosa yang aktual atau risiko
2. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul pada pasien terminal
Klien menjelang ajal/kondisi terminal membutuhkan pertimbangan khusus ketika
diagnosa keperawatan ditegakkan. Klien yang sakit terminal menyebabkan
berbagai perubahan kondisi seperti perubahan citra tubuh, cacat fisik atau
perubahan konsep diri sejalan dengan memburuknya kondisi klien perawat
membuat diagnos yang relevan dengan kebutuhan dasar seperti perubahan rasa
nyaman, perubahan eliminasi, pernafasan tidak efektif, perubahan sensoris dan
sebagainya. Berbagai kondisi tersebut bisa dituangkan dalam bentuk diagnosa
actual atu potensial. Karena sifat dan tingkat keparahan kondisi terminal, data
pengkajian fisik harus dikumpulkan dengan sering dan dapat digunakan untuk
memvalidasi diagnosa.
13
Contoh diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kondisi terminal
antara lain :
Nutrisi tidak terpenuhi berhubungan dengan intake/asupan tidak adekuat.
Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan akumulasi secret.
Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan peningkatan suhu tubuh.
Konstipasi berhubungan dengan immobilisasi.
Potensial terjadi kecelakaan fisik berhubungan dengan kelemahan.
Gangguan konsep diri berhubungan dengan ketidak mampuan pasien
menerima keadaannya.
Cemas berhubungan dengan ketidakmampuan klien mengungkapkan
perasaannya dalam menghadapi kematian.
Depresi berhubungan dengan ketidaksiapan menghadapi kematian
PERENCANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL
1. Prinsip Rencana Keperawatan pada pasien terminal
Ketika merawat klien menjelang ajal/terminal, tanggung jawab perawat harus
mempertimbangkan kebutuhan fisik, psikologis, dan social yang unik. Perawat
harus lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak dengan klien
menjelang ajal,untuk mendengarkan klien mengekspresikan duka citanya dan
untuk mempertahankan kualitas hidup pasien.Tujuan merawat klien terminal
adalah sebagai berikut :
Mencapai kembali dan mempertahankan kenyamanan fisik.
Mempertahankan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.
Mempertahankan harapan.
Mencapai kenyamanan spiritual.
Menghindarkan / mengurangi rasa kesepian, takut, depresi dan isolasi.
Mempertahankan rasa aman, harkat , dan rasa berguna.
Membantu klien menerima kehilangan
2. Intervensi Keperawatan pada pasien terminal
Menurut Rando (1984), ada tiga kebutuhan utama klien terminal yaitu
pengendalian nyeri, pemulihan jati diri dan makna diri, dan cinta serta afeksi.
Kehadiran perawat harus bisa memberikan ketenangan dan menurunkan ansietas,
perawat dapat mendukung harga diri klien dengan menanyakan tentang pilihan
perawatan yang diinginkan. Perawat mendorong keluarga untuk berpartisipasi
dalam pembuatan keputusan klien dan keputusan bersama. Hal ini membantu
14
menyiapkan keluarga ketika klien sudah tidak mampu membuat pilihan. Setiap
klien dan keluarga harus ditangani secara unik dengan mengenali kebutuhan, rasa
takut, cita-cita, dan kekhawatiran mereka akan perubahan perjalanan penyakit.
Klien terminal mungkin mengkhawatirkan situasi dan dukacita dari orang yang
ditinggalkan. Selain membutuhkan bantuan dengan masalah yang berhubungan
dengan penyakit dan stress emosional yang ditimbulkan, klien juga membutuhkan
bantuan dalam masalah finansial, perubahan hubungan social dan seksual dan
kesulitan dalam menghadapi rumah sakit. Perawat bisa menggunakan pendekatan
interdisiplin ilmu untuk mengatasi masalah praktis pada pasien terminal.
PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING PADA PASIEN
TERMINAL
1. Konsep Bimbingan dan Konseling pada Pasien Terminal
Asuhan perawatan klien terminal tidaklah mudah. Perawat membantu klien untuk
meraih kembali martabatnya. Perawat dapat berbagi penderitaan klien menjelang
ajal dan melakukan intervensi yang dapat meningkatkan kualitas hidup, klien
harus dirawat dengan respek dan perhatian penuh. Dalam melakukan perawatan
keluarga dan orang terdekat klien harus dilibatkan, bimbingan dan konsultasi
tentang perawatan diperlukan. Pokok-pokok dalam memberikan bimbingan dan
konseling dalam perawatan pasien terminal terdiri dari :
a. Peningkatan Kenyamanan.
Kenyamanan bagi klien menjelang ajal termasuk pengenalan dan peredaan di
stress psiko biologis. Perawat harus memberikan bimbingan kepada keluarga
tentang tindakan penenangan bagi klien sakit terminal. Kontrol nyeri terutama
penting karena mengganggu tidur, nafsu makan, mobilitas, dan fungsi
psikologis. Ketakutan terhadap nyeri umum terjadi pada klien kanker.
Pemberian kenyamanan bagi klien terminal juga mencakup pengendalian
gejala penyakit dan pemberian terapi. Klien mungkin akan bergantung pada
perawat dan keluarganya untuk pemenuhan kebutuhan dasarnya, sehingga
perawat bisa memberikan bimbingan dan konseling bagi keluarga tentang
bagaimana cara memberikan kenyamanan pada klien.
b. Pemeliharan Kemandirian
Tempat perawatan yang tepat untuk pasien terminal adalah perawatan intensif,
pilihan lain adalah perawatan hospice yang memungkinkan perawatan
komprehensif di rumah.Perawat harus memberikan informasi tentang pilihan ini
15
kepada keluarga dan klien. Sebagian besar klien terminal ingin mandiri dalam
melakukan aktivitasnya. Mengizinkan pasien untuk melakukan tugas sederhana
seperti mandi, makan, membaca, akan meningkatkan martabat klien. Perawat
tidak boleh memaksakan partisipasi klien terutama jika ketidakmampuan secara
fisik membuat partisipasi tersebut menjadi sulit. Perawat bisa memberikan
dorongan kepada keluarga untuk membiarkan klien membuat keputusan.
c. Pencegahan Kesepian dan Isolasi
Perawat membutuhkan kesabaran dan pengalaman untuk merespon secara
efektif terhadap klien menjelang ajal. Untuk mencegah kesepian dan
penyimpangan sensori, perawat mengintervensi untuk meningkatkan kualitas
lingkungan. Lingkungan harus diberi pencahayaan yang baik, keterlibatan anggota
keluarga, teman dekat dapat mencegah kesepian. Keluarga atau penjenguk harus
diperbolehkan bersama klien menjelang ajal sepanjang waktu. Perawat
memberikan bimbingan kepada keluarga untuk tetap / selalu bersama klien
menjelang ajal, terutama saat-saat terkhir hidupnya.
d. Peningkatan Ketenangan Spiritual
Peningkatan ketenangan spiritual mempunyai arti lebih besar dari sekedar
meminta rohaniawan. Ketika kematian mendekat, Klien sering mencari
ketenangan. Perawat dan keluarga dapat membantu klien mengekspresikan nilai
dan keyakinannya. Klien menjelang ajal mungkin mencari untuk menemukan
tujuan dan makna hidup sebelum menyerahkan diri kepada kematian. Klien
mungkin minta pengampunan baik dari Yang Maha Kuasa atau dari anggota
keluarga. Selain kebutuhan spiritual ada juga harapan dan cinta, cinta dapat
diekspresikan dengan baik melalui perawatan yang tulus dan penuh simpati dari
perawat dan keluarga. Perawat dan keluarga memberikan ketenangan spiritual
dengan menggunakan ketrampilan komunikasi, empati, berdoa dengan klien,
membaca kitab suci, atau mendengarkan musik.
e. Dukungan untuk keluarga yang berduka
Anggota keluarga harus didukung melewati waktu menjelang ajal dan kematian
dari orang yang mereka cintai. Semua tindakan medis, peralatan yang digunakan
pada klien harus diberikan penjelasan, seperti alat Bantu nafas atau pacu jantung.
Kemungkinan yang terjadi selama fase kritis pasien terminal harus dijelaskan pada
keluarga.

16
2. Prosedur Bimbingan dan Konseling pada pasien terminal
Dalam memberikan bimbingan dan konseling kepada pasien terminal atau
keluarganya,harus ditetapkan tujuan bersama. Hal ini menjadi dasar untuk
evaluasi tindakan perawatan. Bimbingan yang diberikan harus berfokus pada
peningkatan kenyamanan dan perbaikan sisa kualitas hidup, hal ini berarti
memberikan bimbingan pada aspek perbaikan fisik, psikologis, social dan
spiritual.
PELAKSANAAN PERAWATAN LANJUTAN DI RUMAH
1. Batasan Perawatan Lanjut di Rumah
Penyakit terminal menempatan tuntutan yang besar pada sumber social dan
finansial. Keluarga mungkin takut berkomunikasi dengan klien, banyak hal sulit
yang dialami keluarga untuk mengatasi kondisi anggota keluarganya yang
terminal. Hal ini mencakup lamanya periode menjelang ajal, gejala yang sulit
dikontrol, penampilan dan bau yang tidak menyenangkan, sumber koping yang
terbatas, dan buruknya hubungan dengan pemberi perawatan. Alternatif perawatan
bisa dilaksanakan di rumah, dikenal dengan Perawatan Hospice.
Perawatan Hospice adalah program perawatan yang berpusat pada keluarga yang
dirancang untuk membantu klien terminal dapat hidup nyaman dan
mempertahankan gaya hidup senormal mungkin sepanjang proses menjelang ajal.
Sebagian besar klien dalam program hospice mempunyai waktu hidup 6 bulan
atau kurang. Program inidimulai di Irlandia tahun 1879, yang kemudian di Inggris,
amerika, dan Canada padatahun 1970-an. Komponen PerawatanHospice yaitu:
Perawatan di rumah yang terkoordinasi dengan pelayanan rawat jalan dibawah
administrasi rumah sakit.
Control gejala (fisik, fisiologis, sosio-spiritual).
Pelayanan yang diarahkan dokter.
Ketentuan tim perawatan interdisiplin ilmu yang terdiri dari dokter, perawat,
rohaniawan, pekerja sosial, dan konselor.
Pelayanan medis dan keperawatan tersedia sepanjang waktu.
Klien dan keluarga sebagai unit perawatan.
Tindak lanjut kehilangan karena kematian setelah keamatian klien.
Penggunaan tenaga sukarela terlatih sebagai bagian dari tim.

17
Penerimaan kedalam program didasarkan pada kebutuhan perawatan kesehatan
ketimbang pada kemampuan untuk membayar. Program hospice menekankan
pengobatan paliatif yang mengotrol gejala ketimbang pengobatan penyakit. Klien
dan keluarga berpartisipasi dalam perawatan . Perawatan klien dikoordinasikan
antara lingkungan rumah dan klien. Upaya diarahkan untuk tetap merawat klien
dirumah selama mungkin. Keluarga menjadi pemberi perawatan primer,
pemberian medikasi dan pengobatan, tim interdisiplin memberikan sumber
psikologis dan fisik yang diperlukan untuk mendukung keluarga.
2. Sistem Rujukan
Dalam pelayanan rujukan, rujukan pasien harus dibuat oleh penanggung jawab
perawatan. Diluar negeri Registered nurses (RN), mempunyai kewenangan untuk
merujuk pasien ke system pelayanan yang lebih tinggi lagi. Dalam perawatan
pasien dirumah, system rujukan bisa dibuat, dimana perawatan klien oleh perawat
home care dibawah yurisdiksi Registered nurses (RN). RN membuat delegasi
tugas-tugas perawatan yang harus dilaksanakan oleh perawat pelaksana yang telah
mempunyai izin (lisenced) dari lembaga berwenang. Prinsip Delegasi / Rujukan :
Perawat pelaksana secara hukum bertanggung jawab langsung untuk merawat
klien.
Perawat pelaksana bertanggung jawab untuk merujuk pasien, mengevaluasi
asuhan yang diberikan, bimbingan dan konseling pasien terminal.
Pemberian terapi intravena tergantung peraturan pemerintah setempat, ada
yang memberi kewenangan untuk melakukan terapi intravena oleh pelaksana
perawat, ada juga yang tidak.
Lembaga berwenang (Rumah sakit, binas kesehatan) memberi kan izin pada
perawat pelaksana untuk merawat dan membuat rujukan berdasarkan standar
asuhan keperawatan.
3. Langkah Perawatan Lanjut di Rumah
Perawatan lanjut di rumah ditujukan untuk memberikan perawatan fisik berupa
perawatan kebersihan diri, perawatan kulit, ambulasi, latihan dan mobilisasi,
berpakaian, kemampuan eliminasi dan lainnya. Perawatan harus memberikan
kebersihan, keamanan, kenyamanan dan lingkungan yang tenang. Inti perawatan
harus bisa memberikan kenyamanan bagi klien, peningkatan kemandirian,
Pencegahan Kesepian dan Isolasi, peningkatan ketenagan spiritual.

18
DOKUMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL
1. Tujuan Dokumentasi Askep pada Pasien Terminal
Bentuk dokumentasi pasien terminal di tiap rumah sakit sangat variatif.
Modiifikasi yang dikembangkan berbeda-beda, namun secara garis besar tujuan
dokumentasi adalah :
a. Memberi informasi perawatan seperti fakta, gambaran, hasil observasi
kesehatan klien ke tim kesehatan lainnya.
b. Menunjukan penampilan kerja perawat dalam merawat klien yang lebih
spesifik
c. Merupakan catatan mutlak atau dokumen legal yang digunakan sebagai
referensi kesehatan klien.
2. Prinsip Aspek Legal dan Etik
Pada prinsipnya semua catatan kesehatan klien adalah dokumen legal. Dalam
tinjauan legal-etik, bentuk perawatan yang diberikan tetapi tidak dicatat sama saja
dengan tidak memberikan perawatan. Oleh karena itu penting untuk mencatat
semua tindakan yang telah diberikan. Yang legal adalah tindakan yang
terdokumentasikan.
3. Teknik Pendokumentasian
Pendokumentasian atau Charting di tiap rumah sakit berbeda, terdapat 3 teknik
pendokumentasian, yaitu:
a. Berorientasi pada sumber (Source Oriented), informasi kesehatan pasien
didokumentasikan berdasarkan sumber tim kesehatan yang membuat. Contoh
ada 3 dokumentasi terpisah yaitu catatan kesehatan yang dibuat oleh dokter,
perawat, atau fisioterapi. Kekurangannya adalah untuk mengetahui gambaran
lengkap / utuh dari pasien, seseorang harus membaca secara terpisah tiap
lembar dokumentasi klien dari tiap sumber. Hal ini tentu akan menghabiskan
waktu, jenis dokumentasi biasanya dalam bentuk narasi.
b. Berorientasi pada Masalah (Problembased Oriented), pendokumentasian
berdasarkan masalah yang ditemukan pada klien. Semua masalah aktual
maupun risiko dibuat catatannya. Semua tim kesehatan mendokumentasikan
pada lembar yang sama. Keuntungannya semua gambaran kesehatan klien
dapat mudah dibaca.

19
c. Teknik komputerisasi (Computer Assisted Oriented), secara konstan dari
berbagai sumber bisa dilihat informasi terkini perkembangan kesehatan klien.
Data perkembangan kesehatan klien dituangkan dalam format DAR (Data,
Action,Responses).
4. Berpikir Kritis dalam pendokumentasian data. Dalam pendokumentasian perawat
harus berpikir kritis, hal-hal apa saja yang penting didokumentasikan untuk pasien
terminal. Hal penting yang harus dicatat adalah :
a. Perawat harus memperhatikan gejala fisik klien yang menyebabkan ketidak
nyamanan.
b. Perawat harus mengenali tahapan menjelang ajal.
c. Perawat memberikan dukungan system/lingkungan bagi klien menjelang
ajal/terminal.
d. Perawat dapat peka dan mampu menganalisa hal yang membuat pasien
terminal merasa nyaman atau tidak nyaman.
e. Perawat melihat penerimaan keluarga dan interaksi dengan pasien termina
VI. Bukti Dokumen
1. Dokumen Rekam Medis pasien
a. Apabila pasien dirawat di rumah sakit maka dokumentasi keperawatan sesuai
dengan dokumen rekam medis yang digunakan rumah sakit Xxxx
b. Apabila pasien dirawat di rumah / home care maka menggunakan berkas
rekam medis yang sudah ditetapkan oleh rumah sakit

20