Anda di halaman 1dari 17

CASE BASED DISCUSSION (CBD)

PULPITIS AKUT ET PERIODONTITIS

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menempuh


Program Pendidikan Profesi Dokter (PPPD)
Bagian Ilmu Kesehatan Gigi dan Mulut RSUD Kota Semarang

Dosen Pembimbing:

Drg. Setyo Hastuti

Disusun oleh :

Putih Nurani Hadianti

01.209.5983

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2014
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Putih Nurani Hadianti

NIM : 01.209.5983

Fakultas : Kedokteran

Universitas : Universitas Islam Sultan Agung

Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter

Bidang Pendidikan : Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut

Periode Kepaniteraan Klinik : 20 Januari-1 Februari 2014

Judul Kasus : Pulpitis Akut et Periodontitis

Diajukan : Januari 2014

Pembimbing : drg. Setyo Hastuti

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL:.

Mengetahui

Pembimbing

drg. Setyo Hastuti


BAB I

PENDAHULUAN

Masalah kesehatan di Indonesia semakin meningkat khususnya kesehatan gigi dan


mulut. Salah satu penyakit gigi dan mulut yang menjadi urutan tertinggi dalam kesehatan
gigi dan mulut yaitu karies gigi. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (RIKESDAS)
tahun 2007, prevalensi nasional masalah gigi dan mulut adalah 23,5%.

Upaya pencegahan penyakit gigi dan mulut di Tanah Air dinilai belum efektif. Jumlah
kasus sakit gigi dan mulut tinggi serta cenderung meningkat, terutama pada anak-anak.
Dilihat dari kelompok usia, anak-anak usia di bawah 12 tahun paling rentan dengan penyakit
gigi mulut. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (2007), 36,1 persen anak pada usia itu
pernah menderita gigi berlubang. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
persentase itu jauh lebih besar, yaitu 76,5 persen. Artinya, 24 juta anak pernah mengalami
sakit gigi dan mulut, 90 persen di antaranya berupa karies.

Karies gigi merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat menular dan terutama
mengenai jaringan keras gigi sehingga terjadi kerusakan jaringan keras setempat. Namun,
masyarakat akan datang ke dokter apabila sudah terdapat keluhan yang dialaminya seperti
nyeri, gigi goyang ataupun bau mulut. Padahal kelainan tersebut merupakan kerusakan yang
paling parah terjadi, bahkan seringkali gigi sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Kasus
karies memiliki hubungan erat dengan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga
kebersihan mulutnya atau oral hygiene.

Pulpitis adalah suatu kondisi medis dimana terjadi suatu peradangan pada pulpa gigi
yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri pada gigi berlubang, gigi fraktur, atau faktor
lainnya yang nantinya memungkinkan terjadinya invasi bakteri pada pulpa yang terbuka dan
menyebabkan seseorang merasakan sakit ketika tersentuh oleh rangsangan dari luar seperti
minuman dingin dan panas, permen. Periodontitis adalah peradangan pada jaringan yang
menyelimuti gigi dan akar gigi. Hal ini terjadi ketika terjadi peradangan pada gusi yang
menyebar ke jaringan lunak dan tulang. Ketika gusi yang mendukung gigi geligi mengalami
kerusakan, selanjutnya gigi akan menjadi goyang, yang akhirnya gigi dapat lepas. Akumulasi
plak dan tartar pada dasar gigi berakibat pada terbentuknya celah antara gusi dan gigi. Infeksi
daripada bakteri yang tetap ada di dalam plak selanjutnya akan menyerang tulang rahang,
menyebabkan tulang yang menyokong gigi menjadi hilang.
Penyusunan laporan ini telah menjadi tantangan tersendiri bagi penulis. Oleh karena
itu, penulis sungguh berharap bahwa pembahasan dalam laporan ini dapat bermanfaat bagi
pembaca untuk lebih memahami tentang penyakit gigi dan mulut.
BAB II

DESKRIPSI KASUS

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. AAP
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 13 tahun
Alamat : Jl. Pucang Anom Raya No.71 Mranggeng Kab. Demak
Pekerjaan : Pelajar
No .CM : 278126
Tanggal diperiksa : 25 Januari 2014

II. KELUHAN SUBYEKTIF


Anamnesa

1. Motivasi Datang :
Atas keinginan sendiri

2. Keluhan Utama :
Gigi kiri bawah bagian belakang berlubang

3. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan berlubang pada gigi kiri bawah bagian
belakang. Pasien juga mengeluhkan rasa nyeri sejak 1 minggu. Keluhan nyeri
sudah diobati dengan obat yang dibeli dari Apotek dan keluhan mulai berkurang
namun belum sembuh sempurna. Kemudian pasien datang ke Poli Gigi dan Mulut
RSUD Kota Semarang dengan tujuan ingin menambal gigi rahang kiri bawah
bagian belakang tersebut.

4. Riwayat Penyakit Lain


Gigi dan Mulut :
o Riwayat cabut dan tambal disangkal
Sistemik : (-)
III. PEMERIKSAAN OBYEKTIF
1. Keadaan umum : baik
a. Kesadaran : compos mentis
b. Keadaan gizi : baik
c. Lain-lain :(-)
2. Extra oral
a. Pipi : Tidak ada kelainan
b. Bibir : Tidak ada kelainan
c. Wajah : Simetris, tidak ada kelainan
d. Kelenjar limfe sub mandibula
i. Kanan : Tidak ada kelainan
ii. Kiri : Tidak ada kelainan
3. Intra oral
a. Jaringan lunak
i. Mukosa : Tidak ada kelainan
ii. Lidah : Tidak ada kelainan
iii. Ginggiva : Tidak ada kelainan
iv. Palatum : Tidak ada kelainan
b. Jaringan keras
Tulang rahang/alveolus : tidak ada kelainan
Gigi geligi
1. Gigi 3.6
a. Inspeksi : caries (+)
b. Sondage : profunda, nyeri (+)
c. Perkusi : nyeri (+)
d. Tekanan : nyeri (-)
e. Palpasi : goyang (+)
f. Thermal test : nyeri (+)
IV. ORAL HYGIENE
Baik, tidak terdapat calculus pada semua regio gigi,
Gosok gigi 2x sehari.
V. DIAGNOSA KELUHAN UTAMA
3.6 Pulpitis Akut

VI. DIAGNOSA PENYAKIT GIGI DAN MULUT LAINNYA


3.6 Periodontitis

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


a. Pemeriksaan laboratorium : (-)
b. Pemeriksaan foto : (-)

VIII. RENCANA TERAPI


Gigi 3.6 : Pro Konservasi

IX. TERAPI
Arsen dentorik
Amoxicilin 500 mg (3x1 tab)
Asam mefenamat 500 mg (3x1 tab)
Metronidazol (3x1 tab)

X. NOMENKLATUR WHO
55 54 53 52 51 61 62 63 64 65
18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28
48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38
85 84 83 82 81 71 72 73 74 75

Keterangan:

: Caries, luksasi
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

PULPITIS

1. Definsi

Pulpitis adalah peradangan atau inflamasi dari pulpa dental sebagai akibat dari

karies yang sudah masuk ke dalam pulpa gigi, maupun trauma ditandai dengan gejala

utama berupa rasa sakit pada gigi

2. Klasifikasi

Pada umumnya klasifikasi pulpitis adalah sebagai berikut

Berdasarkan lamanya perjalanan penyakit

a. Pulpitis Akut

b. Pulpitis Kronis

Berdasarkan luasnya kerusakan pulpa

a. Pulpitis Parsialis, mengenai bagian pulpa di kamar (chamber) saja

b. Pulpitis Totalis, mengenai saluran akar pulpa (canal)

3. Etiologi

Faktor-faktor penyebab dapat dibagi menjadi 3, yaitu

a. Bakteri

Penyebab utama caries adalah mikroorganisme beserta produk-

produknya. Reaksi pulpa dapat terjadi pada lesi dini dentin. Stelah itu dengan

berlanjutnya proses caries walaupun pulpa belum terkena, sel-sel inflamasi

akan mengadakan penetrasi melalui dentin yang terbuka, sehingga apabila

caries sudah mengenai pulpa maka terjadilah suatu inflamasi yang kronis
b. Mekanis

Cedera pada pulpa oleh karena jatuh atau pukulan pada wajah, dengan atau

tanpa disertai fraktur. Apabila pulpa terbuka, kuman akan mengadakan penetrasi

kedalam dan menyebabkan inflamasi pulpa

c. Kimiawi

Kerusakan pulpa dapat disebabkan oleh erosi bahan-bahan yang bersifat

asam ataupun uap

4. Patogenesis

Patogenesis pulpitis diawali dari terjadinya caries yang disebabkan oleh daya

kariogenik dari bakteri yang timbul karena adanya produksi asam laktat. Akibatnya,

PH cairan disekitar gigi tersebut menjadi rendah atau bersifat asam. Kondisi tersebut

cukup kuat untuk melarutkan mineral-mineral pada permukaan gigi sehingga gigi

menjadi erosi. Jika caries sudah mencapai email-dentin, caries akan menyebar ke

segala arah dentin menjadi luas, akhirnya sampai ke pulpa

Setelah Caries sampai ke pulpa, maka terjadilah proses inflamasi pada pulpa.

Kemudian terjadi pelepasan histamine dan bradikinin yang menyebabkan vasodilatasi,

sehingga permeabilitaskapiler meningkat, terjadi akumulasi sel PMN dan peningkatan

cairan intrerstisial disekitar area inflamasi (edema lokal). Edema lokal ini

menyebabkan peningkatan tekanan didalam pulpa sehingga dapat menekan saraf-saraf

yag ada didalam pulpa dan jaringan sekitarnya. Gejala penakanan ini dapat

menyebabkan rasa nyeri ringan sampai sangat kuat tergantung keparahan

inflamasinya, yang dipengaruhi oleh virulensi kuman, daya tahan tubuh, serta

pengobatan yang diberikan.


5. Manifestasi Klinis

a. Pulpitis akut parsialis

Keluhan Subjektif

Sakit pada waktu terkena makanan

Sakit pada waktu rangsangan panas atau dingin

Sakit spontan, terutama malam hari, sehingga mengganggu tidur

Penderita masih bisa menunjukan gigi yang sakit

Pemeriksaan objektif

Ekstra oral : tidak ada kelainan

Intra oral

Inspeksi : Caries (+)

Sondage : Sakit (+), Profunda

Perkusi : Sakit (+)

Tekanan : (-)

Palpasi : (-)

Thermal test : Sakit (+)

b. Pulpitis akut totalis

Keluhan Subjektif

Seperti pada partialis, hanya pada derajat yang lebih hebat

Penderita tidak dapat tidur

Penderita tidak dapat lagi menunjukkan gigi mana lagi yang sakit

Pada gigi atas rasa sakit dapat menjalar sampai ke pelipis, sedangkan

pada gigi bawah rasa sakit dapat menajalar sampai ke telinga

Pemeriksaan Objektif
Ekstra oral : Tidak ada kelainan

Intra oral

Inspeksi : Caries (+)

Sondage : Sakit (+), Profunda

Perkusi : Sakit (+)

Tekanan : Sakit (+)

Palpasi : Mungkin sedikit goyang

Thermal test : Sakit (+)

c. Pulpitis Kronis

Keluhan subjektif

Penderita pernah sakit hebat, kemudian lenyap. Penderita tidak dapat

menggunakkan gigi tersebut sehingga hanya mengunyah pada satu sisi saja

Pemeriksaan Objektif

Ekstra oral : Tidak ada kelainan

Intra oral

Inspeksi : Caries (+) terlihat banyak karang gigi sebab regio gigi

tersebut tidak digunakan untuk mengunyah, self cleaning tidak ada

Sondage : Sakit (+), Profunda

Perkusi : (-)

Tekanan : (-)

Palpasi : (-)

Thermal test : (-)

6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan seluruh kasus pulpitis adalah pemberian analgetik, perawatan

saluran akar, dan menghilangkan factor penyebab dengan pulpektomi. Peradangan


mereda jika penyebabnya di obati. Jika pulpitis diketahui pada stadium dini maka

penambalan sementara yang megandung obat penenang saraf bisa menghilangkn

nyeri. Tambalan ini bisa dibiarkan sampai 6-8 minggu kemudian diganti dengan

tambalan permanen. Jika terjadi kerusakan pulpa yang luas dan tidak dapat diperbaiki,

satu-satunya cara untuk menghilangkan nyeri adalah dengan mencabut pulpa, baik

melalui pengobatan saluran akar maupun dengan pencabutan gigi.

PERIODONTITIS
I. Definisi
Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (=
jaringan periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang
yang membentuk kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis
jaringan ikat yang memegang gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai
media peredam antara gigi dan tulang).
Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan
periodontal dengan gigi mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (= tulang
yang menyangga gigi) juga mengalami kerusakan.
Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada
gusi) yang tidak dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi
sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal.

II. Etiologi
Periodontitis umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm
yang mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat
pada permukaan gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang
menyebabkan gingivitis dan periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas garis
gusi. Bakteri dan produknya dapat menyebar ke bawah gusi sehingga terjadi proses
peradangan dan terjadilah periodontitis.
Etiologi Periodontitis Secara Umum
Terutama disebabkan oleh mikroorganisme dan produk-produknya yaitu: plak
supra dan sub gingiva. Faktor predisposisi atau faktor etiologi sekunder dari
periodontitis dapat dihubungkan dengan adanya akumulasi, retensi dan maturasi dari
plak, kalkulus yang terdapat pada gingiva tepi dan yang over kontur, impaksi
makanan yang menyebabkan terjadinya kedalaman poket. Faktor sistemik juga dapat
berpengaruh pada terjadinya periodontitis, meskipun tidak didahului oleh proses
inflamasi. Tekanan oklusal yang berlebihan juga dapat memainkan peranan penting
pada progresivitas penyakit periodontitis dan terjadinya kerusakan tulang (contohnya:
pada pemakaian alat ortodonsi dengan tekanan yang berlebihan).

Karekteristik klinis
Gingiva biasanya mengalami inflamasi kronis. Penampakan luar sangat
bervariasi tergantung dari lamanya waktu terjadinya penyakit dan respons dari
jaringan itu sendiri. Warna gingiva bervariasi dari merah sampai merah kebiruan.
Konsistensinya dari odem sampai fibrotik. Teksturnya tidak stippling, konturnya pada
gingiva tepi membulat dan pada interdental gingiva mendatar. Ukurannya rata-rata
membesar, junctional epithelium berjarak 3-4 mm kearah apikal dari CEJ. Tendensi
perdarahan banyak, pada permukaan gigi biasanya terdapat kalkulus diikuti dengan
adanya eksudat purulen dan terdapat poket periodontal yang lebih dari 2 mm, terjadi
mobilitas gigi.

Histopatologi dan Patogenesis


Periodontitis dimulai dengan gingivitis dan bila kemungkinan terjadi proses
inflamasi, maka pada kebanyakan pasien, tetapi tidak semua pasien terjadi proses
inflamasi secara bertahap dan akan memasuki jaringan periodontal yang lebih dalam.
Bersama dengan proses inflamasi akan timbul potensi untuk menstimulasi resorpsi
jaringan periodontal dan pembentukan poket periodontal.

Tipe poket periodontal


Poket periodontal merupakan suatu pendalaman sulkus gingiva dengan migrasi apikal
dari apitelium junction dan rusaknya ligamen periodontal serta tulang alveolar.
Ada dua tipe poket periodontal yang didasarkan pada hubungan antara epitelium
junction dengan tulang alveolar.
1. Poket periodontal suprabony yaitu dasar poket merupakan bagian koronal
dari puncak tulang alveolar.
2. Poket periodontal infrabony yaitu dasar poket merupakan bagian apikal dari
puncak tulang alveolar.

Pembentukan poket periodontal


Poket periodontal adalah sulkus gingiva yang mengalami pendalaman karena
migrasi apikal junctional epithelium dan kerusakan ligamen periodontal serta tulang
alveolar. Pembesaran gingiva juga berperan dalam meningkatkan kedalaman poket .
Sementara mekanisme yang pasti dari pembentukan poket belum diketahui
secara lengkap. Page dan Schoeder, dua orang ahli patologis yang terkemuka,
membuat klasifikasi tahap patogenesis sebagai berikut:
1. Permulaan terjadinya lesi :
Karekteristik dari permulaan lesi adalah vaskulitis pembuluh-pembuluh darah
yang mengarah ke dalam junctional epithelium, meningkatnya aliran cairan
gingiva, gerakan leukosit ke dalam junctional epithelium dan sulkus gingiva,
protein serum ekstraseluler, perubahan aspek koronal dari junctional
epithelium, dan hilangnya serabut-serabut kolagen disekitar pembuluh darah
gingiva.
2. Lesi tingkat awal :
Lesi awal terlihat dimulai dengan karakteristik permulaan lesi dalam jumlah
yang besar, munculnya sel-sel limfoit di bawah junctional epithelium dimana
ada konsentrasi akut, perubahan fibroblas, serabut-serabut kolagen gingiva
mengalami kerusakan yang lebih parah, dan proliferasi awal sel-sel basal pada
junctional epithelium.
3. Lesi yang telah terbentuk :
Dengan adanya lesi yang telah terbentuk manifestasi inflamasi akut akan
bertahan;didominasi oleh sel-sel plasma; akumulasi immunoglobulin di bagian
ekstravaskular;kerusakan serabut-serabut kolagen terus berlanjut; proliferasi,
migrasi apikal dan terlihat perluasan junctional epithelium ke lateral; dan ada
kemungkinan pembentukan poket periodontal awal, tetapi tidak terjadi
kerusakan tulang yang cukup besar.
4. Lesi tingkat lanjut :
Lesi tingkat lanjut adalah tipikal dari periodontitis dan mempunyai
karakteristik sebagai kelanjutan dari gambaran lesi yang telah terbentuk,
penyebaran lesi ke dalam tulang alveolar dan ligamen periodontal yang
mengakibatkan kerusakan tulang, hilangnya serabut-serabut kolagen yang
berdekatan dengan poket epithelium, fibrosis pada daerah yang lebih periferal,
adanya sel-sel plasma yang telah berubah, pembentukan poket periodontal,
periode eksaserbasi dan periode aktifitas patologis yang sangat kecil,
perubahan sumsum tulang menjadi jaringan fibrous, dan secara umum terlihat
adanya reaksi jaringan inflamasi dan immunopatologis.

III. Gejala
Kadang
pasien tidak
merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda yang dapat
diperhatikan adalah :
- Gusi berdarah saat menyikat gigi.
- Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak.
- Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi.
- Terdapat nanah di antara gigi dan gusi.
- Gigi goyang.

IV. Pemeriksaan
Dokter gigi biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis pada jaringan gusi
dan melihat apakah ada gigi-gigi yang mengalami kegoyangan. Hubungan antara gigi-
gigi rahang atas dan bawah saat menggigit juga akan diperiksa.
Kemudian dokter gigi akan melakukan pemeriksaan yang disebut periodontal
probing, yaitu teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman poket (kantong
yang terbentuk di antara gusi dan gigi). Kedalaman poket ini dapat menjadi salah satu
petunjuk seberapa jauh kerusakan yang terjadi. Sebagai tambahan, pemeriksaan
radiografik (x-rays) juga perlu dilakukan untuk melihat tingkat keparahan kerusakan
tulang.

Penatalaksanaan
Perawatan periodontitis dapat dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
Fase I : fase terapi inisial, merupakan fase dengan cara menghilangkan beberapa
faktor etiologi yang mungkin terjadi tanpa melakukan tindakan bedah periodontal atau
melakukan perawatan restoratif dan prostetik. Berikut ini adalah beberapa prosedur
yang dilakukan pada fase I :
1. Memberi pendidikan pada pasien tentang kontrol plak.
2. Scaling dan root planning

3. Perawatan karies dan lesi endodontik


4. Menghilangkan restorasi gigi yang over kontur dan over hanging
5. Penyesuaian oklusal (occlusal ajustment)
6. Splinting temporer pada gigi yang goyah
7. Perawatan ortodontik
8. Analisis diet dan evaluasinya
9. Reevaluasi status periodontal setelah perawatan tersebut diatas
Fase II : fase terapi korektif, termasuk koreksi terhadap deformitas anatomikal
seperti poket periodontal, kehilangan gigi dan disharmoni oklusi yang berkembang
sebagai suatu hasil dari penyakit sebelumnya dan menjadi faktor predisposisi atau
rekurensi dari penyakit periodontal. Berikut ini adalah bebertapa prosedur yang
dilakukun pada fase ini:
1. Bedah periodontal, untuk mengeliminasi poket dengan cara antara lain:
kuretase gingiva, gingivektomi, prosedur bedah flap periodontal, rekonturing
tulang (bedah tulang) dan prosedur regenerasi periodontal (bone and tissue
graft)
2. Penyesuaian oklusi
3. Pembuatan restorasi tetap dan alat prostetik yang ideal untuk gigi yang hilang
Fase III: fase terapi pemeliharaan, dilakukan untuk mencegah terjadinya
kekambuhan pada penyakit periodontal. Berikut ini adalah beberapa prosedur yang
dilakukan pada fase ini:
1. Riwayat medis dan riwayat gigi pasien
2. Reevalusi kesehatan periodontal setiap 6 bulan dengan mencatat scor plak, ada
tidaknya inflamasi gingiva, kedalaman poket dan mobilitas gigi
3. Melekukan radiografi untuk mengetahui perkembangan periodontal dan tulang
alveolar tiap 3 atau 4 tahun sekali
4. Scalling dan polishing tiap 6 bulan seksli, tergantung dari evektivitas kontrol
plak pasien dan pada kecenderungan pembentukan kalkulus
5. Aplikasi tablet fluoride secara topikal untuk mencegah karies
V. Pencegahan
Pencegahan penyakit periodontal antara lain dengan cara :
1. Menyikat gigi setiap habis makan dengan pasta gigi yang mengandung
fluoride
2. Membersihkan sela-sela antara gigi dengan dental floss, dental floss ini
gunanya untuk mengangkat sisa makanan yang terdapat di leher gigi dan di
bawah gusi
3. Saat ini sudah banyak di produksi "dental water jet" yang terbukti lebih efektif
menghilangkan perdarahan gusi di bandingkan dental floss
4. Makanan bergizi yang seimbang
5. Mengunjungi dokter gigi secara teratur untuk dilakukan pemeriksaan rutin dan
cleaning