Anda di halaman 1dari 10

Untuk Mengatasi Permasalahan pada Kulit

Di dalam dunia farmasi, manfaat belerang sudah lama diterapkan untuk mengatasi
beberapa masalah kulit. Belerang bisa bertindak sebagai keratolitik atau
mengelupaskan kulit mati. Fungsi belerang yang lain untuk kulit adalah sebagai
pembunuh bakteri, jamur, tungau kudis, dan parasit lainnya.

Belerang yang digunakan untuk mengobati masalah kulit telah diolah bersama
bahan lainnya menjadi berbagai bentuk, di antaranya berbentuk losion, krim, bubuk,
atau sabun. Beberapa masalah kulit, seperti acne vulgaris (jerawat), jerawat
rosacea, dan dermatitis seboroik bisa diatasi oleh belerang. Selain dengan cara
mengelupas sel kulit mati, belerang juga bisa membantu mengatasi jerawat dengan
cara menghilangkan penyumbat pada pori-pori kulit.

Penggunaan produk berbahan belerang untuk pemakaian luar sebaiknya dengan


resep dokter. Jikapun membeli produk yang tersedia di pasaran, pastikan untuk
membaca label dan petunjuk pemakaian dengan saksama. Yang tidak kalah penting
adalah selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah menggunakan
produk berbahan belerang.

Produk untuk pemakaian luar dalam bentuk krim atau losion tidak boleh dioleskan
pada kulit pecah-pecah karena justru bisa memperburuk kondisi yang dialami.
Begitu juga dengan beberapa bagian tubuh lain, seperti kelopak mata, bibir, hidung,
dan mulut, upayakan jangan sampai terkena produk jenis ini. Jika terdapat ruam
atau tanda-tanda alergi lainnya setelah memakai produk berbahan dasar belerang,
maka segera hentikan pemakaian.
KOMUNITAS EKS PENDERITA KUSTA DUSUN
NGANGET
Author by bk3sPosted on 02/06/2008
Dusun Nganget terdiri dari 3 buah RT, 2 RT masuk Desa Kedung jambe dan 1 RT masuk Desa
Mulyorejo Kecamatan Singgahan Kabupaten Tuban, dan letaknya + 35 Km dari Kota Tuban ke
arah selatan dan + 15 Km dari Kota Bojonegoro ke arah utara. Dusun ini terletak di perbukitan
yang dikelilingi hutan gundul yang sekarang mulai reboisasi. Lahan yang ditempati eks penderita
kusta adalah milik Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur yang telah diserahkan oleh rumah sakit Kusta
pada tahun 1997, dan lahan milik perhutani. Ada 2 buah kali yang melintas di daerah tersebut,
yaitu kali air panas yang mengandung belerang dan kali air biasa. Pada kali air panas dibuat
pemandian untuk para penderita kusta. Selama 11 tahun, mulai tahun 1935 sampai dengan 1946,
dusun itu dijadikan perkampungan Lepraseri (perkampungan Kusta) oleh pemerintah kolonial
Belanda, dan sejak tahun 1947 ditangani rumah sakit Kusta Ngaget Tuban sampai dengan tahun
1985 sejak tahun 1985, bagi pasien yang sudah di nyatakan sembuh oleh rumah sakit di buatkan
rumah oleh Departemen Sosial sebanyak 110 buah rumah.

Sampai sekarang di dusun Nganget beroprasi sebuah Panti rehabilitasi eks Penderita Kusta (Perda
Jatim No. 12 Tahun 2000) unit pelaksana tekhnis Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur dengan sebuah
balai Pengobatan yang berjaringan dengan rumah sakit Sumber glagah Mojokerto.

Jumlah penduduk dusun Nganget menurut catatan RT bulan Agustus 2005sebesar 464 orang, laki-
laki 234 orang dan perempuan 230 orang, sedang pada bulan April tahun 2006, Kepala Panti
Rehabilitasi eks Kusta Nganget mencatat 86 orang yang tinggal di dalam Panti ada + 400 orang
(149 KK) yang hidup di luar Panti atau di permukiman dari seluruh penduduk itu tercatat 152
orang eks penderita kusta dan 312 orang bukan eks penderita kusta yang tinggal di
perkampungan (anak, istri, anggota keluarga lainnya eks penderita kusta). Berdasarkan tempat
tinggal, penduduk dusun nganget mengelompokkan dirinya menjadi kelompok ?sosial? (dalam
Panti), kelompok ?kulon kali? dan kelompok ?puncung? yang berada di luar Panti yaitu di
perkampungan, kelompok sosial adalah kelompok yang secara resmi tercatat identitasnya di
instansi ? instansi pemerintah, sedang dengan kelompok lainnya belum semua tercatat, kecuali
tercatat sebagai keluarga miskin.

Jika datang bantuan dari pemerintah terhadap kelompok sosial, maka kelompok lainnya cemburu
karena mereka merasa punya hak yang sama. Pengelompokan tersebut atas dasar sosial
keagamaan lebih menonjol dan berpengaruh pada kehidupan sehari ? hari, kelompok Nahdatul
Ulama, yang pemimpinnya menjabat ketua RT dan sebagai pengusaha mebeler mengasuh
kegiatan ? kegiatan Taman Pendidikan Agama (TPA), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), tahlilan
untuk ibu-ibu dan tahlilan untuk bapak-bapak, semua kegiatan berpusat di Masjid. Disamping
kelompok NU, kelompok sosial lainnya adalah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang juga
punya Masjid sendiri dengan pemimpinnya juga menjabat sebagai ketua RT, dengan kegiatan
ritual dan sosial.

Disamping 2 kelompok sosial keagamaan ada juga kelompok jemaat kristiani yang dipimpin oleh
seorang pegawai Panti, putra dari pendiri perkampungan eks penderita kusta. Dan gereja tersebut
berdiri di kompleks Panti.

Di atas tiga kelompok sosial kegamaan, sering terjadi konflik terbuka, terutama antara kelompok
NU dan kelompok LDII. Namun dari ketiga kelompok baik NU, kelompok Kristiani, dan LDII, sama
? sama memiliki kebiasaan yang cukup rukun dengan salin mengunjungi ataupun ikut serta dalam
kegiatan keagamaan baik dalam kelompok NU, LDII ataupun kelompok Kristiani di tingkat Desa.

Sedang dari aspek pemerintahan Desa selain ada 3 orang RT, dari dusun ini ada 3 orang eks
penderita kusta yang menjadi anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Desa Kedung jambe.

Apa mata pencaharian mereka? Sesuai dengan sumber daya lokal yang tersedia, yaitu tanah
pertanian dan hutan (jati), sebagaian besar 32,22% penduduk bertani pada lahan milik Dinas
sosial Propinsi Jawa Timur, dan selain itu bermata pencahariaan dari hasil hutan atau kayu sebesar
6,48%, sebagai tukang kayu 5,60%, sebagai pengusaha mebeler 60,3% dan dari mereka yang
hidup dari perdagangan kecil 20,68%, lain ? lain 4,95% terdiri dari mengemis, tukang batu, dukun
bayi, tukang becak, pemulung dan pengamen, prosentase terkecil 1,72% adalah PNS yang dinas
di Panti dengan balai pengobatan.
Sempit dan terbatasnya tanah pertanian dan gundulnya hutan merupakan faktor yang tidak
menunjang untuk meningkatkan kesejahteraan, sementara itu tingkat ketrampilan warga untuk
mata pencaharian yang lain sempit terbatas, juga ditambah lagi lemahnya marketing untuk
pendistribusian hasil kerajinan yang mereka buat.

Melalui Panti, Dinas Sosial Propinsi Jawa Timur, pada tahun 2000, berusaha membantu keluarga
miskin dengan dana sebesar Rp. 50.000.000,- (Lima Puluh Juta Rupiah) sebagian data bentuk
bantuan kambing dan sebagian lagi dalam bentuk uang. Namun belum dapat diketahui apa
sebabnya bantuan kambing kurang berhasil, tapi sangat mungkin dampak ekonomisnya tidak
segera dirasakan keluarga miskin, padahal banyak kebutuhan pokok yang mendesak, sedang
bantuan uang lebih berhasil dikelola menjadi dana simpan pinjam, dikarenakan menurut
pengalaman mereka, simpan pinjam ini dapat menghambat menjalarnya rentenir ke dusun itu.
Dan juga simpan pinjam untuk menghidupkan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), dan simpan
pinjam sendiri dapat berkembang menjadi Koperasi serba usaha. Tidak hanya simpan pinjam tapi
juga untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari hari. Dalam organisasi KUBE berkumpul ketua RT,
pemimpin Agama yang juga pengusaha yang menjadi tumpuan masyarakat komunitas eks
penderita kusta dusun Nganget.

Komunitas eks penderita kusta Nganget berproses menuju integrasi sosial melalui kegiatan sosial
ekonomi yang merupakan masalah bersama yang mendesak. Tidak berlebihan jika pemerintah
Propinsi Jawa Timur dan instansi ? instansi terkait, Pemerintah Kabupaten Tuban, Perhutani,
Yayasan Kusta Indonesia dan LSM ? LBN lainnya bersama ? sama masyarakat Jawa Timur
memberikan uluran tangan dalam upaya memberdayakan mereka untuk meningkatkan
kesejahteraan, semoga.
blokTuban.com - Kabupaten Tuban memiliki banyak tempat yang layak untuk dikunjungi. Baik karena
nilai historisnya, maupun kondisi alamnya yang indah untuk dinikmati bersama. Salah satunya adalah
sumber mata air hangat yang berada di Dusun Nganget, Desa Kedungjambe, Kecamatan
Singgahan.

Dari arah jalan raya, letak pemandian kurang lebih 100 meter. Namun bila ditempuh dari Kota Tuban
sekitar 45 km, butuh sekitar 1 jam untuk sampai di lokasi. Sungai Nganget ini bukan satu-satunya di
Tuban, tetapi ada 3 tempat , yaitu di Singgahan, Bangilan dan Prataan Parengan. Bedanya, di sini
lebih banyak dihuni oleh eks penderita kusta.

Sumber mata air hangat di Dusun Nganget ini, dijadikan sebagai pemukiman para penyandang
penyakit kusta atau lebih dikenal dengan istilah leproseri atau perkampungan kusta. Di lokasi tersebut
dulu ada rumah sakitnya. Namun sekarang rumah sakit itu telah diubah menjadi Panti Rehabilitasi
Sosial Eks Penderita Kusta oleh Dinas Sosial Jawa Timur. Menurut sejarahnya, tempat ini dijadikan
tempat isolasi penderita kusta sekitar tahun 1935 oleh pemerintah kolonial Belanda.

Banyak pengunjung yang berduyun-duyun guna menikmati panasnya air belerang alami yang muncul
di tengah-tengah sungai tersebut. Selain sakit kusta, mayoritas bagi mereka yang datang lantaran
ingin terapi alami, gatal- gatal, saraf, dan penyakit kronis lainya.

Menurut pemilik warung di salah satu sudut tepi sungai, Sumitri (48) perkampungan Nganget terdiri
dari 3 RT dan dihuni oleh sekitar 120 kepala keluarga. Rata-rata penduduknya adalah eks penderita
kusta.

"Semakin tambah pengunjung yang menetap," ujarnya saat ditemui blokTuban.com di warung
miliknya.

Sementara itu, salah satu pengunjung, M. Soleh (56), mengaku dirinya setiap seminggu 3 kali
melakukan terapi di mata air tersebut. "Biar tambah sehat dan fresh badannya," kata pria asal
Parengan itu.

Saat pagi ini, banyak warga yang berendam bahkan mandi di sungai tersebut. Mereka tak mengenal
usia, muda dan tua berjeburan di air yang mengandung belerang tersebut.

Salah satu pengunjung lokal, Suhadi (60) pihaknya mengaku cocok dengan air tersebut untuk terapi
"Kalau lama nggak ke sini, badan terasa pegal malah," ujarnya. [hid/ito]
LENSAINDONESIA.COM : Jawa Timur menempati peringkat pertaman
sebagai provinsi dengan penderita kusta terbanyak di Indonesia.
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Jatim, hingga tahun 2011 jumlah
pengidap kusta yang baru mencapai 5 ribu jiwa.

Jatim menjadi yang tertinggi di Indonesia. Sebab penyakit kusta menyebar


hampir disetiap penjuru wilayah, terutama di daerah Pantura dan
Madura,kata Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Budi Rahaju saat jumpa pers
peringatan Hari Kusta Sedunia ke-59 di kantornya, Jalan Ahmad Yani, Jumat
(27/1/2012).

Budi Rahaju menyatakan, tingginya angka penderita kusta disebabkan


rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan faktor
kemiskinan. Penderita kusta kebanyakan dari masyarakat ekonomi bawah
yang kurang atau belum memahami arti penting dari kebersihan lingkungan.
Selain kuman, kebersihan lingkungan juga menjadi faktor lain penyebab
kusta.

Daerah yang paling banyak penderita penyakit yang juga dikenal dengan
lepra ini antara lain, Sumenep lalu Probolinggo, Jember, Pamekasan,
Bangkalan, Tuban, Lumajang, Pasuruan, Sampang, dan Situbondo.
Sedangkan Surabaya termasuk kawasan perkotaan di Jatim yang juga
memiliki catatan yang tidak sedikit soal jumlah penderita Kusta meski
perbandinganya jauh dibawah 10 kabupaten lainya.

Bila tidak disegera tangani dengan baik. Penyakit ini akan terus mewabah.
Memang penyakit kusta bisa disembuhkan, namun penyakit ini terus ada dan
mewabah karena faktor lingkungan dan SDM,ujarnya.

Ia menambahkan, penyakit kusta dapat menyebabkan cacat tubuh secara


permanen, apabila tidak segera ditangani sejak dini dan diobati secara rutin.
Ada dua kategori cacat tubuh yang disebabkan kusta yakni cacat primer dan
cacat sekunder, ucapnya.
Cacat primer disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama
kerusakan akibat respons jaringan terhadap kuman Kusta. Sedangkan cacat
sekunder terjadi akibat cacat primer, terutama akibat adanya kerusakan
saraf (sensorik, motorik, otonom).

Saya mengimbau kepada warga yang menderita kusta untuk segera berobat
ke puskesmas setempat, dan pengobatan diberikan secara gratis kepada
penderita kusta, pungkas Rahaju.rid
seputartuban.com Para penderita kusta atau lepra di Kabupaten Tuban mengalami
peningkatan. Pada tahun 2012 sebanyak 212 penderita, sedangkan tahun 2013 ada sebanyak 248
penderita. Namun bagi pengerita penyakit ini jangan berkecil hati, karena bisa disembuhkan
dengan pengobatan rutin. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban, Saiful Hadi saat
diwawancarai, Jumat (21/3/2014) mengatakan penderita kusta mengalami peningkatan. Untuk
penderita kusta atau lepra paling banyak di Kecamatan Merakurak. Kita selalu melakukan
sosialisasi terhadap masyarakat agar tidak kuwatir dengan penyakit tersebut, sebab bisa
disembuhkan, katanya.

Penyakit ini juga tidak menular selama tidak melakukan kontak langsung kepada penderita
minimal selama 6 bulan berturut-turut dan ada kesamaan gen. Kusta atau lepra merupakan
penyakit infeksi yang langsung dalam waktu lama yang disebabkan oleh mycobacterium leprae.
Sedangkan tanda-tandanya sangat beragam, namun bisa diketahui dengan melihat tanda fisik
pada kulit dan saraf. Tanda yang tampak pada kulit penderita kusta berupa bercak putih seperti
panu atau bercak merah seperti kadas pada kulit yang tidak gatal. Tidak mengeluarkan keringat,
tidak ditumbuhi bulu, dan mati rasa atau kurang rasa terhadap rasa nyeri. Terdapat benjolan-
benjolan kemerahan (nodul) yang tersebar pada kulit, alis dan rambut rontok, muka berbenjol-
benjol dan tegang.

Lalu, tanda-tanda yang menunjukkan telah terjadi kerusakan saraf atau luka yang tidak sakit, kulit
melepuh. Sulita melakukan aktivitas sehari-hari seperti memasang kancing baju, memegang
pulpen, atau mengambil benda kecil, kesukaran berjalan dan kesukaran menutup mata dengan
rapat.

Ada dua jenis penyakit kusta, yaitu tipe kering dan tipe basah. Di Indonesia paling banyak tipe
basah, dan dapat menyebabkan cacat bagi penderitanya. bila merasa menderita segera
memeriksakan, jangan sampai lebih dari 3 bulan, harap Saiful.

Namun demikian, dihimbau kepada semua masyarakat agar tidak mengucilkan penderita kusta,
karena tidak menular bila tidak melakukan kontak langsung secara terus menerus. Penyakit itu
bisa disembuhkan dengan melakukan pengobatan selama 13 bulan sampai 18 bulan, dan biaya
pengobatannya digratiskan.

Dihimbau kepada semua masyarakat jangan malu-malu, kalau bisa lebih sering memeriksakan
akan lebih cepat sembuhnya. Seminggu sekali itu sudah bagus, dan bagi penderita diharapkan
segera melakukan pemeriksaan ke Puskesmas tanpa dipungut biaya sepeserpun, tegas Syaiful.
(lis)
1 Persen Penderita Kusta Jatim Ada di
Pantura
Jumat, 12 September 2014 15:01 WIB

SURABAYA (bangsaonline) Penderita kusta di wilayah pantura (pantai utara) Jatim


mendominasi jumlah penderita kusta di Jatim. Jumlahnya mencapai 71 persen dengan
angka 3.054 penderita. Sedangkan total penderitanya di Jatim 4.293 orang di tahun
2013.
Selain wilayah pantura, di merata Madura juga banyak penderitanya, ujar Kepala
Dinas Kesehatan (dinkes) Jatim dr Harsono kepada wartawan, Jumat (12/9). Data di
Dinkes Jatim, penderita kusta yang mengalami kecacatan 184 orang. Sedangkan
penderita anak-anak mencapai 177 penderita. Kami mengupayakan jangan sampai
penderita kusta dibawah usia 15 tahun sampai 5 persen. Jangan lebih 5 persen, tandas
Harsono.
Karena itu, pihak Dinkes Jatim benar-benar mengawasi anak-anak di daerah yang
banyak penderita kustanya. Para petugas kesehatan (juru kusta) di daerah sering
masuk ke sekolah-sekolah untuk memeriksa kesehatan anak-anak. Mereka didiagnosa
dengan cara sederhana.
Anak-anak disuruh berdiri di dekat jenderla, nanti dilihat badannya kalau ada yang
nampak mengkilat dilihat dari sudut tertentu, disisihkan. Kemudian, bagian yang
mengkilat ini (seperti panu) diraba. Apabila tidak terasa, dicoba ditusuk pakai jarum.
Jika masih tidak terasa, ada indikasi dia kena kusta. Ini yang akan diperhatikan. Akan
kami beri obat, jelas Harsono.
Jika dalam pemeriksaan ada yang berpotensi kena kusta, maka dalam radius 20 rumah
dari rumah si penderita akan diperiksa. Petugas juru kusta akan muter ke seluruh
rumah karena itu sudah sesuai protap. Kusta ini bukan penyakit menurun. Memang
penyakit menular, tetapi penularannya lama. Bahkan, yang 10 tahun berkumpulpun
belum tentu tertular kalau tidak ada gen kusta, tandasnya.
Untuk sementara ini, jumlah Rumah Sakit Kusta (RSK) di Jatim ada dua. Yakni RSK
Sumberglagah Mojokerto dan RSK di Kediri. Dinkes Jatim berencana membuka lagi
di Madura karena disana juga banyak penderitanya. Meski sementara ini cuma dua
RSK, tetapi juru kusta kami sudah terlatih. Di Tuban juga ada UPT Rehabilitasi Kusta
yang tim medisnya juga sudah lengkap. Tahun 2017 kami targetkan seluruh penderita
kusta sudah tertangani, pungkasnya.
Anggota Dewan Jatim Usulkan Pemprov
Bangun RS Kusta di Tuban
INDRAPURA-Tingginya angka penderita penyakit kusta di Jawa Timur membuat DPRD provinsi Jatim
prihatin. Bahkan Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan jumlah penderita kusta tertinggi di
Indonesia. Fakta itu membuat Dewan Jatim terhenyak dan minta pemprov Jatim agar serius
menanggulangi penyakit yang disebabkan bakteri lepra dan menyerang saluran saraf tepi saluran
pernapasan atas ini. Penderita kusta akut akan mengalami kerusakan jaringan tubuh hingga
menyebabkan kehilangan anggota tubuh seperti jari tangan atau telapak tangan dan kaki.

Khozanah Hidayati, anggota Fraksi PKB DPRD Jatim mengaku sangat prihatin tingginya angka
penderita kusta di provinsi Jatim. Politisi perempuan PKB yang akrab disapa Mbak Ana itu lebih
prihatin lagi dengan adanya fakta 71 persen penderita penyakit yang di masyarakat dianggap momok
menakutkan itu justru terdapat di wilayah pantai utara (Pantura) yang notabene adalah daerah
pemilihannya.
Saya prihatin dengan tingginya angka penderita kusta di Jatim. Terlebih mayoritas penderitanya ada
di pantura yang merupakan dapil saya. Saya minta pemprov serius menanggulangi masalah ini, ujar
Khozanah saat ditemui di gedung DPRD Jatim.

Anggota Dewan dari dapil Tuban dan Bojonegoro mengaku miris dengan minimnya RS Kusta (RSK)
di Tuban. Bahkan hingga saat ini Jatim baru memiliki dua rumah sakit khusus penderita kusta yakni
RSK Sumberglagah Mojokerto dan RSK di Kediri. Padahal Mojokerto dan Kediri bukan daerah
endemi kusta. Menurutnya, sudah saatnya pemprov membangun satu rumah sakit khusus kusta di
wilayah pantura, mengingat di sinilah jumlah penderita kusta terbanyak.

Caleg peraih suara terbanyak di dapil Jatim IX itu mengusulkan agar pemprov selain melakukan
penyuluhan atau edukasi terhadap masyarakat agar terhindar dari bakteri penyebab kusta, dalam
jangka dekat, dirinya mendesak pemprov membuat RSK. Di Tuban sudah saatnya memiliki unit
pelayanan teknis (UPT) rehabilitasi medis dengan jumlah tim medis yang sudah memadai. Dengan
demikian, pemprov tinggal meningkatkan status UPT itu menjadi RSK. Dengan begitu, rumah sakit
khusus kusta itu bisa cepat beroperasional dan mengkover penderita kusta yang bearada di sekita
wilayah pantura.
Untuk mewujudkan hal itu, Khozanah berharap pemprov beserta dinas terkat turun tangan, sebab bila
penanggulangan kusta diserahkan pada daerah tidak akan maksimal karena dana dan sumber daya
manusia (SDM) yang dimiliki pemkab sangat terbatas.
Saya kira sudah waktunya pemprov membangun sebuah rumah sakit baru di Tuban. Hal itu penting
untuk mengkover besarnya penderita di wilayah pantura. Saya sebagai anggota Dewan berharap ada
langkah konkret dari pemprov. Apalagi pempro punya program Jawa Timur bebas ksuta pada tahun
2017, tutur perempuan berkerudung itu.

Sebelumnya, Kepala Dinkes Jatim, dr. Harsono merilis sebanyak 4.293 orang di Jatim dinyatakan
menderita penyakit Kusta. Penderita kusta di wilayah pantura (pantai utara) mendominasi jumlah
penderita kusta di Jatim. Jumlahnya mencapai 71 persen dengan angka 3.054 penderita.

Selain wilayah pantura, di merata Madura juga banyak penderitanya. Data di Dinkes Jatim, penderita
kusta yang mengalami kecacatan 184 orang. Sedangkan penderita anak-anak mencapai 177
penderita. Kami mengupayakan jangan sampai penderita kusta dibawah usia 15 tahun sampai 5
persen. Jangan lebih 5 persen, tandas Harsono.