Anda di halaman 1dari 12

WAWASAN NUSANTARA SEBAGAI GEOPOLITIK INDONESIA

(Makalah Kewarganegaraan)

Oleh:

Muhammad Farhan Adyn 3425163846

Khadijah Lathifia Abidah 3425161242

Megarizka Aulia 3425163753

Rimbi Brahma Cari 3425161050

Sany 3425163453

Program Studi Biologi

Fakultas Matematika dan IPA

Universitas Negeri Jakarta

2017

Page 1
Kata Pengantar

Pertama penulis panjatkan puja puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat
dan anugerah-Nya, penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Dorongan moral maupun semangat
yang tinggi juga merupakan modal yang besar sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas di mata kuliah Kewarganegaraan.
Semoga yang kami tulis ini dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Melalui makalah ini penulis akan membahas mengenai wawasan nusantara sebagai
geopolitik Indonesia. Mulai dari definisi, latar belakang wawasan nusantara, dan hal-hal lainnya
yang berkaitan dengan geopolitik Indonesia.

Dalam penulisan ini, Penulis mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik, dan penulis memohon maaf
apabila dalam penulisan makalah ini masih ada kesalahan. Karena sesungguhnya penulis sadari
bahwa, tidak ada satupun yang sempurna didunia ini, kecuali yang menciptakan alam semesta
dan seisinya.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna dalam menambah
wawasan mengenai Nusantara sebagai geopolitik Indonesia.

Penulis

Page 2
Daftar Isi

BAB I

Pendahuluan........................................................................................................................4

Pengertian Geopolitik..4

Latar Belakang Wawasan Nusantara

BAB II

Kedudukan, Fungsi, dan Tujuan Wawasan Nusantara

Wawasan Nusantara Sebagai Wawasan Wilayah

Praktek Negara-Negara

Wawasan Nusantara Sebagai Wawasan Dalam Mencapai Tujuan Pembangunan Nasional

Unsur Wadah

Unsur Isi

Tata Laku

Sasaran Implementasi Wawasan Nusantara dalam Kehidupan Nasional

Sosialisasi Wawasan Nusantara

Beberapa Kebijakan Kelautan Indonesia

BAB III

Kesimpulan

Saran

Page 3
BAB I

PENDAHULUAN

Dewasa ini berbagai permasalahan yang berpotensi mengancam persatuan dan kesatuan
Indonesia sering kali terjadi. Seperti ketika lepasnya pulau Sipadan dan pulau Ligitan ketangan
Malaysia. Begitu pula tentang Provinsi Timor Timur yang melepaskan diri dari NKRI. Untuk
menjawab persoalan-persoalan ini kita perlu meningkatkan pemahaman dan implementasi
mengenai konsep Negara dan kedaulatan. Untuk menegakkan kedaulatan Negara Indonesia harus
mengerahkan segala kemampuan atau potensi. Baik potensi politik, potensi ekonomi, potensial
sosial-budaya, maupun potensi pertahanan dan keamanan.

Oleh karena itu, Negara dan penyelenggara pemerintah perlu memberikan apresiasi yang
lebih seperti upaya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya (pemerataan ekonomi),
penghargaan terhadap adat sebagai bagian hukum adat (kearifan lokal), membuka secara luas
ruang public masyarakat untuk berpartisipasi, termasuk partisipasi warga Negara dalam
mempertahankan kedaulatannya. Sehingga diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan dan
memahami pengertian dan makna geopolitik, latar belakang filosofis geopolitik Indonesia
(wawasan nusantara), makna penting wawasan nusantara bagi bangsa Indonesia,
membandingkan berbagai teori geopolitik yang dikemukakan oleh pakar dengan geopolitik
Indonesia serta menjelaskan bentuk, kedudukan dan fungsi wawasan nusantara.

I.I. Pengertian Geopolitik

Menurut Widoyo Alfandi (2002 : 5-8) geopolitik merupakan perpaduan kata geografik dan
politik. Geografi adalah ilmu pengetahuan yang meliputi disiplin ilmu fisik maupun disiplin ilmu
sosial, yang obyek formalnya dalam garis besar terbagi dua hal, yaitu:

1. Suatu telaah geografi sistemik dengan pendekatan multidisipliner yang diterapkan dalam
suatu wilayah tertentu (systemic and regional approach).
2. Suatu telaah geografi berdasarkan pendekatan holistic teransdisipliner (intergrated
approach) yang menggunakan analisis tertentu (keruangan, ekologi, system serta
historis).

Page 4
Sehingga didapat bahwa geografi politik adalah cabang geografi manusia yang obyek
studinya aspek keruangan, pemerintahan atau kenegaraan dipermukaan bumi. Ciri utama
geografi politik adalah wilayah politik, aktivitas politik, institusi politik. Dan sifatnya
statis.geopolitik adalah ilmu yang mempelajari kondisi fisik, ekonomi, sosial-politik,
antropologi, sebagai factor-faktor yang mempengaruhi proses kebijakan pemerintah mengenai
politik dan Hankam, yang bersifat intern dan ekstern, berdasarkan telaah geografi politik.

Geopolitik memandang ruang dari sudut kepentingan pemerintah dan bersifat dinamis, yang
memandang suatu Negara tumbuh dan berkembang seperti organisme. Sebagai bahan
perbandingan dengan geopolitik Indonesia perlu disampaikan ajaran/pandangan tentang
geopolitik dari beberapa ahli dunia sebagaimana dikemukakan oleh Lemhannas (1999:28)

1. Ajaran Frederick Ratzel (Abad XIX) 1884-1904


Frederick Ratzel merumuskan ilmu bumi politik sebagai penelitian ilmiah yang
bersifat universal. Ia menyatakan bahwa dalam hal tertentu pertumbuhan Negara mirip
dengan pertumbuhan organisme yang memerlukan ruang hidup dan juga melalui proses
lahir, tumbuh, berkembang, menyusut, dan mati. Ajaran ini disebut sebagai konsep ruang
yang melihat Negara sebagai suatu ruang yang ditempati oleh kelompok politik. Inti
ajaran Frederick Ratzel :
(1) Suatu bangsa dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya tidak terlepas dari
hokum alam, hanya bangsa yang unggul yang akan dapat bertahan hidup terus.
(2) Membenarkan hukum ekspansi. Perkembangan kebudayaan dalam bentuk gagasan,
kegiatan, dan produksi harus diimbangi dengan penekanan suatu wilayah.
2. Ajaran Rudolf Kjellen (sarjana politik Swedia 1864-1922)
Rudolf Kjellen melanjutkan teori dari teori Frederick Retzel yang menyatakan bahwa
Negara bukan saja suatu organisme tetapi juga harus memiliki intelektual. Rudolf Kjellen
merumuskan Negara dalam suatu system politik pemerintahan yang meliputi bidang
geopolitik, ekonomi politik, demo politik, krato politik, dan sosio politik.
3. Ajaran Karl Houshoffer (sarjana jerman 1896-1946)
Inti ajaran Karl Houshoffer :
(1) Kekuasaan imperium daratan yang kompak akan dapat mengejar kekuasaan
imperium maritime untuk menguasai pengawasan di laut.

Page 5
(2) Beberapa Negara besar di dunia akan timbul dan akan menguasai Eropa,Afrika,
dan Asia barat (jerman, Italia dan Jepang).

Karl Houshoffer berpendapat bahwa:

(1) Geopolitik adalah doktrin Negara dibumi.


(2) Geopolitik adalah doktrin perkembangan politik yang didasarkan kepada
hubungannya dengan bumi
(3) Geopolitik adalah ilmu yang mempelajari organisme politik dan ruang
susunanya.
(4) Geopolitik adalah landasan ilmiah bagi tindakan politik dalam perjuangan
kelangsungan hidup suatu organisme Negara untuk mendapatkan ruang hidupnya

Selain teori ahli di atas, ada teori lainnya yaitu:

a. Sir Halford Mackinder (1861-1947), mencetuskan wawasan benua atau konsep


kekuatan di darat. Ia mengatakan bahwa barang siapa yang menguasai daerah jantung
(Eurasia, Afrika) yang pada akhirnya akan menguasai dunia.
b. Sir Walter Raleigh (1554-1918), Alfred Thajer Mahan (1804-1914), mengemukakan
wawasan bahari atau konsep kekuatan di laut. Mereka mengatakan bahwa siapa yang
menguasai lautan akan menguasai perdagangan, dan siapa yang menguasai
perdagangan berarti menguasai kekayaan dunia sehingga dunia akan dikuasainya.
c. W. Mitchel (1887-1896) A. Saversky (1894), Ciulio Douhet (1869-1930) dan JFC
Fuller (1878), melahirkan teori wawasan dirgantara atau konsep kekuatan di udara.
Mereka berpendapat bahwa kekuatan di udara merupakan daya tangkal yang ampuh
terhadap ancaman, dan dapat melumpuhkan, musuh di kandang sendiri agar tidak
mampu lagi bergerak untuk menyerang.
d. Nicholas J Spykman (1893-1943) menghasilkan teori daerah batas (rimland) yang
merupakan teori wawasan kombinasi. Teori inilah yang banyak dipakai negarawan
ahli geopolitik dan strategi untuk menyusun kekuatan bagi negaranya.

I.II. Latar Belakang Wawasan Politik

Page 6
Menurut Hamdan Mansyur (2006 : 64-78) dalam menentukan, membina, dan
mengembangkan wawasan nasionalnya, bangsa Indonesia menggali dan mengembangkan dari
kondisi nyata yang terdapat di lingkungan Indonesia sendiri. Pemahaman latar belakang
filososfis sebagai pemikiran dasar pengembangan wawasan nasional Indonesia ditinjau dari:

1. Falsafah Pancasila
Nilai nilai pancasila mendasari pengembangan wawasan nasional antara lain member
kesempatan menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing sebagai wujud nyata
penerapan hak asasi manusia. Mengedepankan kepentingan masyarakat yang lebih luas
harus lebih diutamakan, tanpa mematikan kepentingan kelompok atau golongan.
2. Aspek Kewilayahan
Kondisi objektif geografi yang terdiri atas ribuan pulau, memiliki karakteristik yang
berbeda dengan Negara lain. Pengaruh geografi merupakan suatu fenomena yang mutlak
diperhitungkan karena mengandung beranekaragaman kekayaan alam dan jumlah
penduduk yang besar.
3. Aspek Sosial Budaya
Indonesia terdiri atas ratusan suku bangsa yang masing-masing memiliki adat istiadat,
bahasa, agama dan kepercayaan. Oleh Karena itu, tata kehidupan nasional yang
berhubungan dengan interaksi antar golongan masyarakat mengandung potensi konflik
yang besar, terlebih lagi kesadaran nasional masyarakat masih relative rendah dan jumlah
masyarakat yang terdidik relative terbatas.
4. Aspek Historis
Dengan semangat kebangsaan yang menghasilkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
1945 dimana Indonesia mulai merdeka, maka semangat ini harus dipertahankan dengan
semangat persatuan yang esensinya adalah mempertahankan persatuan bangsa dan
menjaga wilayah kesatuan Indonesia.

Page 7
BAB II

ISI

II.I. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan Wawasan Nusantara

a. Kedudukan Wawasan Nusantara


Wawasan nusantara berkedudukan sebagai visi bangsa. Visi adalah keadaan atau
rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan. Wawasan nasional merupakan visi
bangsa yang bersangkutan dalam menuju masa depan. Visi bangsa Indonesia sesuai
dengan konsep wawasan nusantara adalah menjadi bangsa yang satu dengan wilayah
yang satu dan utuh pula.
Menurut Rahman HI (2008 : 145-146) wawasan nusantara dalam paradigma nasional
dapat dilihat dari spesifikasinya, yaitu:
1. Pancasila sebagai falsafah, ideology bangsa, dan dasar Negara berkedudukan sebagai
landasan idiil.
2. Undang-undang Dasar (UUD 1945) sebagai konstitusi Negara, berkedudukan sebagai
landasan konstitusional.
3. Wawasan nusantara sebagai visi nasional, berkedudukan sebagai landasan
konsepsional
4. Ketahanan nasional sebagai konsepsi nasional berkedudukan sebagai landasan
konsepsional
5. Dokumen Rencana Pembangunan sebagai kebijakan nasional, berkedudukan sebagai
landasan operasional.

Page 8
b. Fungsi Wawasan Nusantara
Wawasan nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan, serta rambu-rambu
dalam menentukan segala kebijakan, keputusan dan tindakan, dan perbuatan bagi
penyelenggara Negara di tingkat pusat dan daerah, maupun bagi seluruh rakyar Indonesia
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
c. Tujuan Wawasan Nusantara
Tujuan Wawasan Nusantara secara kedalam yaitu untuk kepentingan nasional dan secara
keluar untuk ikut serta dalam usaha penyelenggraan dan membina kesejahteraan dan
perdamaian Negara. Selain itu, juga untuk ,mewujudkan nasionalisme yang tinggi di
segala aspek kehidupan rakyat Indonesia yang lebih mengutamakan kepentingan nasional
daripada kepentingan individu, golongan, suku bangsa ataupun daerah.

Dimensi: konsep kewilayahan sikap nasionalisme


- darat
- Laut
- Udara
Perwujudan Kepulauan
Nusantara sebagai satu
Wawasan Nusantara kesatuan: politik,
ekonomi, sosial budaya
dan Hankam

Wawasan Nusantara Wawasan Nusantara


sebagai doktrin sebagai Konsepsi
Nasional Politik

II.II. Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Wilayah

Gagasan Wawasan Nusantara menurut Lemnhannas (1997 : 27-35) berpangkal dari


konsepsi Negara kepulauan (archipelagic state concept). Konsepsi Negara kepulauan mula-mula

Page 9
dikemukakan pada tanggal 13 desember 1957 dalam bentuk Deklarasi Juanda yang
menyatakan:

1) Bahwa bentuk geografi Indonesia sebagai suatu Negara kepulauan mempunyai sifat dan
corak tersendiri
2) Bahwa menurut sejarah sejak dulu kala kepulauan Indonesia merupakan suatu kesatuan
3) Bahwa batas laut territorial yang termaktub dalam Teritoriale Zee en Maritieme Kringen
Ordonnatie 1939 memecah keutuhan terirotial Indonesia karena membagi wilayah
daratan Indonesia dalam bagian-bagian terpisah dengan teritorialnya sendiri-sendiri.

Untuk memperkuat kedudukan hukumnya, Deklarasi Juanda dipertegas dengan Peraturan


Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPU) No. 4 Tahun 1960 yang menyatakan bahwa
laut wilayah lebarnya 12 mil diukur dari garis pangkal lurus (straight base line) dan bahwa
semua kepulauan dan laut yang terletak diantaranya harus dianggap sebagai satu kesatuan yang
bulat maka luas wilayah Indonesia menjadi 5.193.250 km persegi.

Pada tanggal 17 februari 1969 pemerintah Indonesia mengeluarkan Deklarasi tentang


landas kontinen dengan pertimbangan antara lain:

1) Segala sumber mineral dan sumber kekayaan alam lainnya, termasuk organisme-
organisme hidup yang merupakan jenis sedentair yang terdapat pada dasar laut dan tanah
dibawahnya dilandasan kontinen, merupakan milik Indonesia dan merupakan berada di
bawah yuridikasinya yang eksklusif.
2) Dalam hal landasa kontinen Indonesia, termasuk depressive-depressie (bagian yang
dalam) yang terdapat dalam landas kontinen atau kepulauan Indonesia yang berbatasan
dengan suatu Negara lain, maka pemerintah Republik Indonesia bersedia untuk melalui
perundingan dengan Negara bersangkutan menetapkan suatu garis batas sesuai dengan
prinsip-prinsip hukum dan keadilan.
3) Menjelang tercapainya persetujuan seperti dimaksud di atas, Pemerintah Republik
Indonesia akan mengeluarkan izin untuk mengadakan eksplorasi serta memberikam izin
untuk produksi minyak dan gas bumi dan untuk eksploitasi sumber mineral ataupun
kekayaan alam lainnya, hanya untuk daerah sebelah Indonesia dari garis tengah (median
line) yang ditarik dari pantai daripada pulau-pulau Indonesia yang terluar.

Page
10
4) Ketentuang-ketentuan tersebut di atas tidak akan mempengaruhi sifat serta status
daripada perairan di atas landas kontinen Indonesia sebagai laut lepas, demikian pula
ruang udara di atasnya.

Perjanjian garis batas landas kontinen yang pertama berhasil diadakan dengan Malaysia pada
bulan Oktober tahun 1969, yang kemudian disusul oleh penandatanganan perjanjian dengan
Negara tetangga lain sebgai berikut;

1. Perjanjian RI Malaysia tentang Penetapan Garis Batas Landas Kontinen Kedua Negara
(Selat Malaka dan Laut Cina Selatan) ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1969
mulai berlaku tanggal 7 November 1969.
2. Perjanjian RI Thailand tentang Landas Kontinen Selat Malaka bagian Utara dan Laut
Andaman, ditandatangani tanggal 17 Desember 1971 dan berlaku mulai tanggal 7 April
1972.
3. Persetujuan RI Malaysia dan Thailand mengenai Landas Kontinen bagian utara tanggal
21 Desember 1971 dan berlaku tanggal 16 Juli 1973.
4. Persetujuan RI Australia tentang penetapan atas batas dasar laut tertentu (di laut
Arafuru, di depan pantai selatan pulau Irian dan di depan pantai utara Irian) Tanggal 18
Mei 1971 dan berlaku mulai tanggal 19 November 1973.
5. Persetujuan RI Australia tentang penetapan batas-betas dasar laut tertentu di daerah
Laut Timor dan Laut Arafuru sebagai tembahan pada persetujuan tanggal 18 Mei 1971,
tanggal 9 Oktober 1972.
6. Persetujuan RI India tentang penetapan garis batas landas kontinen antara kedua Negara
(batas antara Sumatera dan Nikobar) ditandatangani dan mulai berlaku tanggal 8 Agustus
1974.

Perjuangan untuk menegakka Wawasan Nusantara bidang wilayah di forum Negara tetangga
yang telah menghasilkan persetujuan dan perjanjian tersebut di atas dilanjutkan dengan
perjuangan di konferensi Hukum Laut Internasional ke III yang diselenggarakan oleh PBB atau
united nationconference on the law of the sea (UNCLOS).

Page
11
Setelah itu, untuk membulatkan konsep kewilayahannya, pada tanggal 21 Maret 1980
pemerintah Indonesia telah mengumumkan tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia yang
lebarnya 200 mil diukur dari garis pantai pangkal laut wilayah Indonesia.

Pengumuman Pemerintah tersebut didorong oleh factor sebagai berikut:

1. Semakin terbatasnya persediaan ikan


2. Pembangunan Nasional Indonesia
3. Zona Ekonomi Eksklusif, sebagai rezim hukum Internasional

Di dalam Zona Ekonomi Eksklusif, Indonesia mempunyai dan melaksanakan:

a) Hak berdaulat untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi, pengelolaan dan pelestarian
sumber daya hayati dan non hayati dan hak berdaulat lainnya eksplorasi dan eksploitasi
sumber tenaga dari air, arus dan angin.
b) Hak yurisdiksi yang berhubungan dengan :
- Pembuatan dan penggunaan pulau buatan, instalasi dan bangunan lainnya
- Penelitian ilmiah mengenai laut
- Pelestarian lingkungan laut
- Hak lain berdasar hukum internasional

Di dalam ZEE Indonesia, kebebasan pelayaran dan penerbangan internasional serta


kebebasan pemasangan kabel dan pipa di bawah permukaan laut dijamin sesuai hukum
Internasional, ZEE Indonesia dikukuhkan dengan UU No. 5 tahun 1983, setahun setelah
ditandatanganinya hukum laut Internasional yang baru di Teluk Montego, Jamaika, oleh hampir
seluruh peserta konferensi Hukum Laut Internasional (kecuali Amerika dan 3 negara lainnya).

Page
12