Anda di halaman 1dari 4

Ajaran Samin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Ajaran Samin (disebut juga Pergerakan Samin atau Saminisme) adalah salah satu suku yang ada
di Indonesia. Masyarakat ini adalah keturunan para pengikut Samin Surosentikoyang
mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan
terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan.[1] Bentuk yang dilakukan adalah menolak
membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap
memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga
sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya.[2]
Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga baru pada tahun '70-an, mereka baru tahu
Indonesia telah merdeka. Kelompok Samin ini tersebar sampai Jawa Tengah, namun konsentrasi
terbesarnya berada di kawasan Blora, Jawa Tengah dan Bojonegoro, Jawa Timur yang masing-
masing bermukim di perbatasan kedua wilayah.[3] Jumlah mereka tidak banyak dan tinggal di
kawasan pegunungan Kendeng di perbatasan dua provinsi. Kelompok Samin lebih suka
disebut wong sikep, karena kata samin bagi mereka mengandung makna negatif.[4] Orang luar
Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak
membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro.
Pokok ajaran Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren,
Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang, 1914.[5][6]

Daftar isi
[sembunyikan]

1Ajaran
2Penyebaran
3Pokok-pokok ajaran Saminisme
4Kebudayaan
o 4.1Sikap
o 4.2Bahasa
o 4.3Pakaian
o 4.4Sistem kekerabatan
o 4.5Pernikahan
o 4.6Sikap terhadap lingkungan
o 4.7Pemukiman
o 4.8Upacara dan tradisi
5Masyarakat Samin saat ini
6Lihat pula
7Referensi
8Pranala luar

Ajaran[sunting | sunting sumber]


Pengikut ajaran Samin mempunyai lima ajaran[7]:

tidak bersekolah,
tidak memakai peci, tapi memakai iket, yaitu semacam kain yang diikatkan di kepala mirip
orang Jawa dahulu,
tidak berpoligami,
tidak memakai celana panjang, dan hanya pakai celana selutut,
tidak berdagang, dan
penolakan terhadap kapitalisme.

Penyebaran[sunting | sunting sumber]


Tersebar pertama kali di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah. Pada 1890 pergerakan Samin
berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung, Blora, Jawa Tengah. Gerakan ini lantas
dengan cepat menjalar ke desa-desa lainnya. Mulai dari pantai utara Jawa sampai ke seputar hutan
di Pegunungan Kendeng Utara dan Kendeng Selatan, atau di sekitar perbatasan provinsi Jawa
Tengah dan Jawa Timur menurut peta sekarang.[8]

Pokok-pokok ajaran Saminisme[sunting | sunting sumber]


Pokok ajaran Samin adalah sebagai berikut:

Agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama,
oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting
adalah tabiat dalam hidupnya.
Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka
mengambil milik orang.
Bersikap sabar dan jangan sombong.
Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan
hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah
meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya.
Bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang
Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur ketidakjujuran. Juga tidak boleh
menerima sumbangan dalam bentuk uang.

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]


Sebagaimana paham lain yang dianggap oleh pendukungnya sebagai agama, orang Samin juga
memiliki "kitab suci". "Kitab suci"' itu adalah Serat Jamus Kalimasada yang terdiri atas beberapa
buku, antara lain Serat Punjer Kawitan, Serat Pikukuh Kasajaten, Serat Uri-uri Pambudi, Serat Jati
Sawit, Serat Lampahing Urip, dan merupakan nama-nama kitab yang amat populer dan dimuliakan
oleh orang Samin.
Ajaran dalam buku Serat Pikukuh Kasajaten (pengukuhan kehidupan sejati) ditulis dalam
bentuk puisi tembang, yaitu suatu genre puisi tradisional kesusasteraan Jawa.
Dengan mempedomani kitab itulah, orang Samin hendak membangun sebuah negara batin yang
jauh dari sikap drengki srei, tukar padu, dahpen kemeren. Sebaliknya, mereka hendak mewujudkan
perintah "Lakonana sabar trokal. Sabare dieling-eling. Trokali dilakoni."
Sikap[sunting | sunting sumber]
Walaupun masa penjajahan Belanda dan Jepang telah berakhir, orang Samin tetap
menilai pemerintah Indonesia saat itu tidak jujur. Oleh karenanya, ketika menikah mereka tidak
mencatatkan dirinya baik di Kantor Urusan Agama/(KUA) atau di catatan sipil.
Secara umum, perilaku orang Samin/ 'Sikep' sangat jujur dan polos tetapi kritis.
Bahasa[sunting | sunting sumber]
Mereka tidak mengenal tingkatan bahasa Jawa, jadi bahasa yang dipakai adalah bahasa Jawa
ngoko. Bagi mereka menghormati orang lain tidak dari bahasa yang digunakan tapi sikap dan
perbuatan yang ditunjukkan.
Pakaian[sunting | sunting sumber]
Pakaian orang Samin biasanya berupa baju lengan panjang tanpa kerah, berwarna hitam. Laki-
laki memakai ikat kepala. Untuk pakaian wanita bentuknya kebaya lengan panjang, berkain sebatas
di bawah tempurung lutut atau di atas mata kaki.
Sistem kekerabatan[sunting | sunting sumber]
Dalam hal kekerabatan masyarakat Samin memiliki persamaan dengan kekerabatan Jawa pada
umumnya. Sebutan-sebutan dan cara penyebutannya sama. Hanya saja mereka tidak terlalu
mengenal hubungan darah atau generasi lebih ke atas setelah Kakek atau Nenek.
Hubungan ketetanggaan baik sesama Samin maupun masyarakat di luar Samin terjalin dengan
baik. Dalam menjaga dan melestarikan hubungan kekerabatan masyarakat Samin
memiliki tradisi untuk saling berkunjung terutama pada saat satu keluarga mempunyai hajat
sekalipun tempat tinggalnya jauh.
Pernikahan[sunting | sunting sumber]
Menurut Samin, perkawinan itu sangat penting. Dalam ajarannya perkawinan itu merupakan alat
untuk meraih keluhuran budi yang seterusnya untuk menciptakan Atmaja (U)Tama (anak yang
mulia).
Dalam ajaran Samin, dalam perkawinan seorang pengantin laki-laki diharuskan
mengucapkan syahadat, yang berbunyi kurang lebih demikian: Sejak Nabi Adam pekerjaan saya
memang kawin. (Kali ini) mengawini seorang perempuan bernama Saya berjanji setia
kepadanya. Hidup bersama telah kami jalani berdua.
Demikian beberapa ajaran kepercayaan yang diajarkan Samin Surosentiko pada pengikutnya yang
sampai sekarang masih dipatuhi warga samin.
Menurut orang Samin perkawinan sudah dianggap sah walaupun yang menikahkan hanya orang
tua pengantin.
Ajaran perihal Perkawinan dalam tembang Pangkur orang Samin adalah sebagai berikut
(dalam Bahasa Jawa):
Basa Jawa Terjemahan
Saha malih dadya garan, "Maka yang dijadikan pedoman,
anggegulang gelunganing pembudi, untuk melatih budi yang ditata,
palakrama nguwoh mangun, pernikahan yang berhasilkan bentuk,
memangun traping widya, membangun penerapan ilmu,
kasampar kasandhung dugi prayogntuk, terserempet, tersandung sampai kebajikan yang dicapai,
ambudya atmaja 'tama, bercita-cita menjadi anak yang mulia,
mugi-mugi dadi kanthi. mudah-mudahan menjadi tuntunan."
Sikap terhadap lingkungan[sunting | sunting sumber]
Pandangan masyarakat Samin terhadap lingkungan sangat positif, mereka
memanfaatkan alam (misalnya mengambil kayu) secukupnya saja dan tidak pernah
mengeksploitasi. Hal ini sesuai dengan pikiran masyarakat Samin yang cukup sederhana, tidak
berlebihan dan apa adanya. Tanah bagi mereka ibarat ibu sendiri, artinya tanah memberi
penghidupan kepada mereka. Sebagai petani tradisional maka tanah mereka perlakukan sebaik-
baiknya. Dalam pengolahan lahan (tumbuhan apa yang akan ditanam) mereka hanya
berdasarkan musim saja yaitu penghujan dan kemarau. Masyarakat Samin menyadari isi dan
kekayaan alam habis atau tidak tergantung pada pemakainya.
Pemukiman[sunting | sunting sumber]
Pemukiman masyarakat Samin biasanya mengelompok dalam satu deretan rumah-rumah agar
memudahkan untuk berkomunikasi. Rumah tersebut terbuat dari kayu terutama kayu jati dan
juga bambu, jarang ditemui rumah berdinding batu bata. Bangunan rumah relatif luas dengan
bentuk limasan, kampung, atau joglo. Penataan ruang sangat sederhana dan masih tradisional,
terdiri dari ruang tamu yang cukup luas, kamar tidur, dan dapur. Kamar mandi dan sumur terletak
agak jauh dan biasanya digunakan oleh beberapa keluarga. Kandang ternak berada di luar, di
samping rumah.
Upacara dan tradisi[sunting | sunting sumber]
Upacara-upacara tradisi yang ada pada masyarakat Samin antara lain nyadran (bersih desa)
sekaligus menguras sumber air pada sebuah sumur tua yang banyak memberi manfaat pada
masyarakat. Tradisi selamatan yang berkaitan dengan daur
hidup yaitu kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Mereka melakukan tradisi
tersebut secara sederhana.

Masyarakat Samin saat ini[sunting | sunting sumber]


Perubahan zaman juga berpengaruh terhadap tradisi masyarakat Samin. Mereka saat ini sudah
menggunakan traktor dan pupuk kimiawi dalam pertanian, serta menggunakan peralatan rumah
tangga dari plastik, aluminium, dan lain-lain.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


Sedulur Sikep

Referensi[sunting | sunting sumber]


1. ^ Benda, Harry; Lance Castles (1969). "The Samin Movement". Bijdragen tot de Taal-, Land- en
Volkenkunde: 207216, 218240.
2. ^ Korver, A. Pieter E. (1976). "The Samin Movement and Millenarism". Bijdragen tot de Taal-, Land-
en Volkenkunde: 249266.
3. ^ King, Victor T. (1973). "Some Observations on the Samin Movement of North-Central Java:
Suggestions for the Theoretical Analysis of the Dynamics of Rural Unrest". Bijdragen tot de Taal-,
Land- en Volkenkunde: 457481.
4. ^ Rohmah, Ainur. "Saminism followers want exemption from religion section on e-ID". The Jakarta
Post.
5. ^ Van Der Kroef, Justus M. (September 1952). "The Messiah in Indonesia and Melanesia". The
Scientific Monthly 75 (3): 161165.
6. ^ Shiraishi, Takashi (Oct 1990). "Dangir's Testimony: Saminism Reconsidered". Indonesia: 95120.
7. ^ Faizal, Elly Burhaini. "Practicing Benevolence, Samin Tribe Endures Scorn". The Jakarta Post.
8. ^ Sastroatmodjo, Suryanto (1952). Masjarakat Samin (Blora). Central Java, Indonesia: the Indonesian
Information Ministry's publication. p. 482.