Anda di halaman 1dari 25
MAKALAH MANAJEMENTERNAKUNGGAS “Kontribusi AyamLokaldiIndonesia ” \ Oleh: Kelas Kelompok :E :1

MAKALAH MANAJEMENTERNAKUNGGAS “KontribusiAyamLokaldiIndonesia

\

Oleh:

Kelas

Kelompok

:E

:1

GALIHMUHARRAMHENDROPRAYOGA

200110150025

MERDINAYUSTIMUSTIYA

200110150026

BONDANN

200110150134

MUHAMMADPADILA

200110150186

HARIZMUHAMMADRIANDY

200110150275

PACHMIPACHRIZAL

200110150129

SITKAERLIARSITA

200110150239

200110150129 SITKAERLIARSITA 200110150239 FAKULTASPETERNAKAN UNIVERSITASPADJADJARAN SUMEDANG 2017

FAKULTASPETERNAKAN

UNIVERSITASPADJADJARAN

SUMEDANG

2017

KATAPENGANTAR

PujisyukurpenulispanjatkankepadaAllahSubhanahuwata’alakarena atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan Makalah mata kuliah Manajemen Ternak Unggas yang mengenai “Kontribusi Ayam Lokal di Indonesia”. Penulisanmakalahinitidakakanselesaijikatidakdibantuoleh berbagaipihak. Karenaitupenulismenghaturkan terimakasihterutamakepada EndangSujana,S.Pt,MP. sebagaidosenpengampuManajemenTernakUnggas kelas E yang telah memberi penulis arahan dan rekomendasi untuk bisa menyusunmakalahini Ayah,ibu,dankeluargapenulisyangselalumemberi kandorongan semangat dan do’a kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini dengan baik. Serta semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporanakhirpraktikumini. Makalah ini masih perlu penyempurnaan, oleh karena itu penulis menerima kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan laporan praktikummengenaipengenalanpakanunggasini.semogalaporanpraktikumini adamanfaatnyabaikuntukpenulis,ataupununtukpembacanya.

Sumedang, September2017

Penulis

BAB

DAFTARISI

HALAMAN

 

KATAPENGANTAR

i

DAFTARISI

ii

DAFTARTABEL

iv

DFTARGAMBAR

v

I

PENDAHULUAN

1

 

1.1

LatarBelakang

1

1.2

IdentifikasiMasalah

2

1.3

MaksuddanTujuan

2

II

KAJIANKEPUSTAKAAN

3

 

2.1

PerkembanganPopulasiAyamLokal

3

2.2

PerkembanganProduksiAyamLokal

4

III

PEMBAHASAN

5

 

3.1

IdentifikasiAyamLokal

5

3.2

PerkembanganPopulasiAyamLokal

7

3.3

PerkembanganProduksiAyamLokal

9

3.4 KontribusuAyamLokaldalamPenyediaanDagingdan TelurdiIndonesia

14

IV

KESIMPULAN

17

DAFTARPUSTAKA

18

Tabel

DAFTARTABEL

Halaman

1 PopulasidanProduksiPeternakandiIndonesia

11

2 Produksidagingunggaspadatahun2012-2014(000ekor).

12

3 Konsumsirata-rataprodukpeternakan

14

4 Konsumsitelurrata-ratadiIndonesia

15

Gambar

DAFTARGAMBAR

Halaman

1 AyamLokalIndonesia

6

2 GrafikPerkembanganpopulasiayamlokaldiIndonesia

9

3 JumlahKonsumsidagingdiIndonesia

14

4 Grafikrata-ratakonsumsitelurdiIndonesia

15

I

PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakang Ayam lokal di Indonesia adalah kekayaan alam yang merupakan aset nasionalyangtidakternilaiharganya disebutjugadenganistilahayamlokalatau ayambukanras asliIndonesiayangtelahberadaptasi,hidup,berkembangdan bereproduksi dalam jangka waktu yang lama, baik dikawasan habitat tertentu maupun di beberapa tempat. Adapun perkembang biakannya dilakukan antar sesama tanpa ada perkawinan campuran dengan ayam ras Ayam kampung merupakanturunanpanjangdariprosessejarahgenetikperunggasanditanahair. SebagianbesarayamlokalIndonesiadipeliharadengansistimtradisional secaraekstensifsehinggaayam-ayamtersebutbebasberkeliaranmencarimakan dan tidur dimanapun seperti di pohon, lembah dan di setiap pinggir rumah penduduk. Sehingga produksi dari ayam lokal sendiri dapat diperkirakan jauh lebihrendahdibandingkanayam-ayamyangdipeliharadenganmanajemanyang baik seperti ayam petelur ataupun ayam pedaging. Nataamijaya galur yang memilikikeanekaragamanmorfologiyangberbeda.Keanekaragamanjenisayam lokal Indonesia ini merupakan potensi sumberdaya genetik yang mestinya dikembangkanuntukmendukungpembentukangalurayamIndonesiayangmurni danunggul,sehinggaketergantunganayamimporuntukpemenuhankebutuhan dagingnasionalsecaraperlahandapatdikurangi. Ayamlokalsendiriberproduksidagingnyatidaksetinggiayampedaging, dan produksi telurnyapun tidak setinggi ayam petelur. Namun ayam lokal memproduksikeduahasilternakdibidangunggastersebut.Menyadaribahwa

2

potensiayam lokalyangcukupbagusyaitudapatmemproduksidagingdan jugatelursekaligus,haltersebutlahyangmelatarbelakangidisusunnyamakalah menganaiayamlokaliniyaituuntukmengetahuilebihjauhmengenaiapayang disebut dengan ayam lokal, bagaimana perkembangan populasinya, bagaimana produktifitasnya,danbagaimanakontribusiayamlokaldalampenyediaandaging dantelurdiIndonesia.

1.2

IdentifikasiMasalah

1.

Identifikasiayam lokal.

2.

Perkembanganpopulasiayamlokal.

3.

Perkembanganproduksiayamlokal.

4.

Kontribusiayamlokaldalampenyediaandagingdantelur.

1.3

MaksuddanTujuan

1.

Mengetahuiidentifikasimengenaiayamlokal.

2.

Mengetahuiperkembanganpopulasiayamlokal.

3.

Mengetahuiperkembanganproduksiayamlokal.

4.

Mengetahuiayamlokaldalampenyediaandagingdantelur.

3
3

II

KAJIANKEPUSTAKAAN

2.1 PerkembanganPopulasiAyamLokal Selera konsumen khususnya masyarakat Indonesia terhadap ayam lokal sangattinggi. Halituterlihatdaripertumbuhanpopulasidanpermintaanayam

lokalyangsemakinmeningkatdaritahunketahun(Bakrieetal.,2003).Pada

tahun 2001–2004 permintaan konsumen terhadap ayam lokal pun mengalami

peningkatansebanyak4,5%.Mempertimbangkanpotensiitu,perludiupayakan

jalankeluaruntukmeningkatkanpopulasidanproduktivitasnya(Aman,2011).

Upayayangdapatdilakukanuntukmeningkatkanpopulasiayamlokalguna pemenuhanprodukpanganmenjaditerhambatkarenaadanyabeberapakendala

diantaranyayaituskalausahayangkecil(kepemilikantotaltidaklebihdari30

ekor,denganjumlahindukbetinakurang dari10ekor),produksitelurrendah (30–60 butir/tahun),kelangkaanbibit,pertumbuhan lambat,mortalitastinggi akibatpenyakit,biayaransumtinggi,sertadiusahakansecaraperorangandengan

pemeliharaantradisional(Gunawan,2002;Rohaenietal.,2004),sehinggapara

peternakayam lokaltidakmampumemenuhibesarnya permintaanpasar. Atas dasarhalitu,makadalampengembanganayamlokal,terdapatduasimpultitik tekan yang penting untuk diperhatikan yakni: (1) terdapatnya fenomena kelangkaan bibit di kalangan para peternak; dan (2) masih rendahnya

produktivitas(dagingdantelur)ayamlokal(Juarinietal.,2005).

Tidak hanya kendala yang tadi telah disebutkan, sejak tahun 2003 di IndonesiatelahmewabahvirusAvianInfluenza(AI)atauvirusfluburungyang menambah faktor sulitnya mengembangkan populasi ayam lokal. Hal ini juga

4

menyebabkan terjadinya penurunan populasi ayam lokal terutama pada tahun

2007-2008.DampakvirusAIinidapatmengakibatkan70-100%kematianpada

peternakanyangterserang(Bankdkk(2001)danSwayne danSuarez(2000)). Dikarenakan alasan itu pula banyak peternak ayam lokal yang mengalami kerugianyangsangatbesarsehinggaterjadilahkebangkrutanpadausahanya.

2.2 PerkembanganProduksiAyamLokaldiIndonesia Beberapa laporan mengenai pengkajian usahatani ayam kampung, yang menempati populasi terbanyak di antara ayam-ayam lokal lain, menunjukkan bahwa ayam kampung mempunyai beberapa kelebihan yang diapresiasi masyarakat,sehinggaeksistensinyadipertahankan.Kelebihantersebutantaralain hargajualsatuanproduklebihtinggidibandingkandenganayamras.Selaindari padaitu,pengembanganayamlokaldapatmendukungprogrampelestariandan pemanfaatan plasma nutfah dan memberikan kontribusi berarti pada pasokan

dagingdantelurnasional.Bahkanpadasaatterjadikrisismonetertahun1998,

usahataniayamlokallebihmampubertahandibandingkandenganusahataniayam

ras(GUNAWAN,2005).Berdasarkanbeberapakelebihantersebut,pemerintah

menempatkan posisi ayam kampung sebagai komoditas ternak utama dalam kebijaksanaanpembangunanpeternakanrakyatdiIndonesia.

III

PEMBAHASAN

5
5

3.1 IdentifikasiAyamLokal Ayam lokal di Indonesia adalah kekayaan alam yang merupakan aset nasionalyangtidakternilaiharganya.Sartika,dkk(2002) menyatakanbahwa Ayamkampungdisebutjugadenganistilahayamlokalatauayambukanrasasli Indonesia yang telah beradaptasi, hidup, berkembang dan bereproduksi dalam jangkawaktuyang lama,baikdikawasanhabitattertentu maupundibeberapa tempat. Adapun perkembang biakannya dilakukan antar sesama tanpa ada perkawinancampurandenganayam ras. AyamlokalyangadadiIndonesiamerupakanhasildomestikasiayamhutan merah (Gallus gallus) oleh penduduk setempat (Sulandari, dkk 2007). Nataamijaya (2006) melaporkan bahwa terdapat 31 rumpun ayam lokal yang sudah teridentifikasi di Indonesia. Keberadaan ayam lokal, umumnya tinggal sedikit bahkan beberapa diantaranya sudah ada yang mengalami kepunahan

(Nataamijaya,2006).Ayamlokalatauayamkampungmerupakansalahsatujenis

ternakunggasyangtelahmemasyarakatdantersebardiseluruhpelosoknusantara. Ayam lokal merupakan jenis ayam yang tidak atau belum mengalami usaha

pemuliaan.Ayamlokaldikenaljugadengansebutanayamburas(Junaedi,1988).

6

6 Gambar1.AyamLokalIndonesia Meskipunbelummengalamipemuliaan,ayamlokaltetapmemilikibeberapa keunggulan dibandingkan dengan

Gambar1.AyamLokalIndonesia

Meskipunbelummengalamipemuliaan,ayamlokaltetapmemilikibeberapa keunggulan dibandingkan dengan ayam lainnya, diantaranya yaitu ayam lokal yangdilepasbebasmemilikitingkatkekebalantubuhyanglebihtinggidanayam lokaldapathiduptanpapemberianpakankhusussehinggabiaya pemeliharaan ayamlokalpunlebihmurah.Akantetapi,ayamlokaljugamemilikikekurangan dibandingkanayamras,diantaranyatingkatkematiananakayamlokalyangrelatif tinggi, serta lamanya masa asuh oleh induk terhadap anaknya sehingga

mengurangiproduktifitas(Anwar,2011).

Ayamkampungdiindikasikandarihasildomestikasiayamhutanmerahatau (redjunglefowls)danayamhutanhijau(greenjunglefowls varius)Awalnya, ayamtersebuthidupdihutan,kemudiandidomestikasisertadikembangkanoleh masyarakat pedesaan. Ayam lokal memiliki beberapa kelemahan, antara lain adalahsulitnyamemperolehbibityangbaikdanproduktifitasnyayangrendah, ditambahdenganadanyafaktorpenyakitmusimansepertiND(NewcastleDisease)

kampungakansemakinmenurun,bahkanayamkampungyangmempunyaisifat-

sifatspesifikakanpunah(Sulandari,dkk2007).

7

Sosokayamlokalmudahdibedakandariayamrasdanayamburaslainnya. Halinidikarenakancorakdanwarnabulunyayangberagamsehinggamenjadiciri khasayamlokal.Jikadibandingkandenganayamras,ayamlokaljugajauhlebih lincahdanaktifbergerak.Bahkan,jikadipeliharasecaraumbaran,ayamlokal terbiasa hinggap atau istirahat di dahan pohon yang cukup tinggi. Selain itu, ukuran tubuhnya juga lebih kecil dibandingkan dengan ayam ras (Gunawan,

2002).

3.2 PerkembanganPopulasiAyamLokaldiIndonesia

Populasiayamlokalberjumlahsekitar275jutaekor(DITJENPKH,2011)

yangsebagianbesardikuasaiolehrumahtanggadipedesaanyaitusebanyak20,8

juta rumah tangga (kepemilikan 5 – 30 ekor/keluarga). Populasi tersebut

memberikankontribusiproduksidagingsebanyak267,6ributon/tahun.Secara

nasionalpopulasiternakunggaslokal(ayamdanitik)diIndonesiaberadapada posisikeduadanketigadariempatjenisunggas(ayamraspedaging,ayamras petelur, ayam lokal, dan itik lokal) yang digunakan sebagai sumber pangan (dagingdantelur).Sistembudidayaayamlokaldenganpemilikanpopulasisangat kecil,sehinggatidakdapatmenyediakanpopulasiyangmemadai. Kendaladalampengembanganayamlokalyaitumeliputiskalausaharelatif

kecil(kepemilikantidaklebihdari30ekor,denganjumlahindukbetinakurang

dari 10 ekor), produksi telur rendah (30 – 60 butir/tahun), kelangkaan bibit, pertumbuhanlambat,mortalitastinggi,mahalnyabiayaransum,sertadiusahakan secara perorangan dengan pemeliharaan tradisional (Gunawan, 2002; Rohaeni, dkk 2004).Haltersebutmengakibatkanparapeternakayamlokaltidakmampu memenuhi besarnya permintaan pasar. dalam pengembangan ayam lokal, bagi

8

penyelesaiannya,yaitu:(1)Kelangkaanbibitdikalanganpara peternakayam

lokal,dan(2)Masihrendahnyaproduktivitas(dagingdantelur)ayamlokal.

Menghadapipermasalahanproduktivitasayamlokalyangrendah,Supriadi,

dkk(2005)menjelaskanbahwarendahnyaproduktivitasayamlokaldiakibatkan

oleh tiga faktor, yaitu input usaha yang rendah, sifat genetik yang belum dimuliakan serta tingginya mortalitas. Input usaha yang rendah dapat terjadi karenausahapeternakanayamlokallebihbersifatsebagaiusahasambilandengan modaldanpenguasaanteknologiyangterbatas.Mortalitasyangtinggidiakibatkan oleh ekses dari penggunaan sistem pemeliharaan secara tradisional yang umumnyatidakmemperhatikandanmelaksanakanaspekbiosecuritydansistem vaksinasi. Kesulitanuntukmendapatkanbibit,merupakanhalyangseringdisuarakan olehpeternakayamlokal.Investasimodalyangbesaruntukpenyediaaninduk, seleksikualitasinduk,produksitelurinduk,alatmesintetas,tenagakerjadan penerapan teknologi menjadi kendala paling utama, sehingga menyebabkan terbatasnyaparapelakuusahadalam“industrikerakyatan”ayamlokal. Pada kurun waktu lima tahun terakhir (2011 – 2015), perkembangan populasi ayam buras di Indonesia mengalami stagnansi namun cenderung

meningkatdenganpertumbuhanrata-ratasebesar2,06%pertahunataurata-rata

populasi per tahun sebesar 275,16 juta ekor. Nuryati (2015), mengemukakan bahwa selama periode tersebut tidak pernah mengalami peningkatan sangat signifikan atau hanya meningkat rata-rata 2,06%,tertinggi tahun 2012sebesar 3,87%. Mengalami penurunan populasi satu kali 0,60% di tahun 2014. Menurunnyapeningkatanpopulasiayamburaslebihrendahdibandingkanayam raspedaging,halinimenunjukkanbudidayaayamburasdibandingkanayamras

9

peternaklebihtertarikuntukbudidaya ayamraspedagingmengingatbudidaya yang lebih mudah dan waktu panen yang lebih cepat. Meskipun demikian

populasiayamburasnasionallimaterakhirmeningkat2,06%pertahun.Kondisi

setahun terakhir juga menunjukkan adanya peningkatan sebesar 3,60%, dari

275,12jutaekorditahun2014menjadi285,02jutaekorditahun2015.

275,12jutaekorditahun2014menjadi285,02jutaekorditahun2015. Gambar2.GrafikPerkembanganpopulasiayamlokaldiIndonesia 3.3

Gambar2.GrafikPerkembanganpopulasiayamlokaldiIndonesia

3.3 PerkembanganProduksiAyamLokaldiIndonesia Ayam kampung sendiri merupakan salah satu rumpun ayam lokal di Indonesia, yang tidak khas alias beragam dalam warna bulu, bentuk jengger, ukurantubuhdankapasitasproduksinya.Ayamkampungdahuludansebagian sekaranghidupnyadiperkampungandipeliharadipedesaan. Padaawalnya ayamlokalinidipeliharasecaraekstensiftradisionalyaitu dengan cara diumbar dan mencari makanannya sendiri. Namun seiring perkembanganya, kiniayam lokalsudah banyak yang dipelihara dengan cara intensifataudikandangkan.Halitudikarenakancaraintensifdinilailebihbaik

10

karenamampumenghasilkanproduksiyangmaksimalwalaupunmembutuhkan waktu yang lebih lama. Dengan cara dipelihara intensif ruang gerak ayam menjadisemakinsedikityangmmembuatnyalebihsedikitmengeluarkanenergi

(Iskandar,S.2005).

BagimasyarakatIndonesia,tentunya ayamlokalsudahbukankomunitas yang asing. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Basis Data Statistik Pertanian,Kementerian Pertanian(BDSP)populasiayamlokalsecara nasional pada tahun 2010 berjumlah 257.544.000 ekor. Dalam rentang waktu setahun berdasarkan angka sementara Kementan, tepatnya tahun 2011 telah terjadi

peningkatanpopulasimenjadi274.893.000ekor.

Peningkatan ini, tentunya memperlihatkan bahwa semakin tingginya keinginanpeternaknasionaluntukmelakukanusahapeternakanayamlokal.Jika dilihatdariangkaproduksisecaranasional,sudahbarangtentuangkaproduksi untuk periode 2010/2011 akan terus meningkat. Seperti data yang juga telah dilansirolehBDSPdimana sebanyak267,60tondagingayamlokalnasional

telahdiproduksipadatahun2010danangkasementarapadatahun2011tercatat

sebanyak283,10ton.

11

Tabel1.PopulasidanProduksiPeternakandiIndonesia.

11 Tabel1.PopulasidanProduksiPeternakandiIndonesia. Daridatatersebutdapatdisimpulkanjugabahwaproduksiayamlokaldi tahun

Daridatatersebutdapatdisimpulkanjugabahwaproduksiayamlokaldi tahun 2014 dan 2015 mengalami peningkatan baik dari produksi daging dari

hanya297,65tonmenjadi314ton.Apabiladikonversikanpertumbuhannyadari

2014ke2015mencapai5,49%.Begitupuladenganproduksitelurdariproduksi

184,64 ton menjadi 191,76 ton dan apabila di koversikan ke persentase

pertumbuhannyamencapai3,86%.

12

DatapertumbuhantersebutsejalanpuladengandatadariDirjenPeternakan danKesehatanHewan(PKH)tentang produksidagingdariberbagaiunggasdi Indonesiasebagaiberikut:

Tabel2.ProduksiDagingUnggaspadaTahun2012-2014(000ekor).

Jenis Unggas

2012

2013

2014

Ayamraspedaging Ayam lokal Ayamraspetelur Itik lokal

1400,50

1497,90

1524,90

267,5

319,6

332,1

66,1

77,1

81

30,1

32

32,5

Daridatatersebutterlihatbahwadari2007hingga2014selalumengalami

naikturun.mengingatpreferensikonsumenayamlokalyangsangatspesifikdan potensigenetikyangtidakmampumenyamaiproduktivitasayamras,makatujuan

pengembanganunggaslokalbukanuntukmengganti100%produksiyangberasal

dariayamras.Sehinggaayamlokaltidakbisamenggantikanayamrasnamun salingmelengkapiuntukmencukupikebutuhanproteinhewani.Dengankatalain, penyediaan dan permintaan dapat diseimbangkan dalam rangka menjaga kestabilan harga yang akhirnya dapat memberikan keuntungan yang memadai

bagi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis ayam lokal. Selain itu motivasipeternakayamlokalmasihbanyakyangbergerakdibidanghobibukn skalaindustrisedangkanuntukayamrashampersemuapeternakbersifatbisnis. Ayamlokalmempunyaikelebihandibandingkandenganayamraspetelur atau pedaging.Ayam lokalmempunyai nilai gizi yang baik.Selain itu juga mempunyai rasa yang lebih khasdan nikmat dibanding dengan jenis ayam

pedaging maupun petelur.Serat

utamaya.Bahkansetiap lebaran ayam kampung identicdengan berbagai macam

menjadi ciri

yang liatdan

kenyal

13

masakan.Ayam lokoal juga mempunyai keistimewaan dibanding yang lain, di antaranya Ayam lokal lebihtahan terhadap penyakit dan mudah menyesuaikan dengancuacadiIndonesia.Selainitupakanyangdiperolehpunmudah,bahkan bisa dipelihara ala kadarnya.Tujuanutama orang memelihara ayam kampung adalahuntukdiambiltelur,daging,danuntukdikembangbiakkan. Peluangusahapengolahankarkasayamlokal,terutamauntukpasarmodern danrumahmakan.Pasarmenyeraptelurayamlokaljugacukupluas.Saatini, mudahsekalimenemukantelurayamlokaldijualdipasarmoderndenganharga yangjauhlebihtinggidibandingkandenganhargatelurayamras.Sayangnya, fakta yang ada menunjukkan hingga saat ini produksi ayam lokal pedaging maupun ayam lokal petelur di berbagai daerah belum mampu memenuhi permintaanpasar.Terlebih,padasaattertentusepertihariraya,permintaanayam lokalbisamelonjakbeberapakalilipatsehinggaterjadiketimpanganyangsangat tajamantarapemasokandanpermintaan.Tidakheranjikapadasaatsepertipada harirayahargasatuekorayamlokalbisamencapaihinggaratusanriburupiah. Kondisiinimenggambarkan besarnya peluangyangdiraih daribudidaya ayam lokal, baik pedaging mapun petelur. Terlebih, jika menggunakan sistem semi-intensifatauintensifsertamemperhatikanfaktor-faktorbudidayayangbaik sehinggahasilyangdidapatkanbisaoptimal.Satuhalyangcukuppenting,ayam lokalmerupakankomoditaspeternakanyangkonsumsinyatidakbersifatmusiman. Bahkanbisadikatakantrendemandsemakinmeningkat.Haltersebutmerupakan peluangbagipelakuagribisnisuntukmeningkatkankualitasdankuantitasdari produksiayamlokalgunamemenuhipermintaanpasar.

14

3.4 KontribusiAyamLokaldalamPenyediaanDagingdanTelurdi Indonesia

KontribusiAyamLokaldalamPenyediaanDagingdanTelurdi Indonesia Gambar3.JumlahKonsumsidagingdiIndonesia

Gambar3.JumlahKonsumsidagingdiIndonesia

Tabel3.Konsumsirata-rataprodukpeternakan

Tahun

Komoditi

 

Satuan

2015

2016

Daging

Kg

DagingSapi

Kg

0,417

0,417

DagingBabi

Kg

0,209

0,261

DagingAyamRas

Kg

4,797

5,11

DagingAyamKampung

Kg

0,626

0,626

DagingDiawetkan

Kg

0,261

0,261

Tetelan

Kg

0,104

0,104

SumberBadanPusatStatistikSusenasMaret2016

Beberapa bahan makanan produk peternakan disajikan pada Tabel 1 berdasarkanorangyangmengonsumsibahanmakanantersebutselamasatutahun

untuktahun2015dan2016.Rata-ratakonsumsiperkapitapendudukIndonesia

15

padatahun2016yangpalingtinggidarikelompokdagingyaitukonsumsidaging

ayamrassebesar5,110kgdanyangpalingrendahyaitukonsumsitetelansebesar

0,104kg.Berdasarkandatatersebut,dagingayamlocalataudapatkitasebutayam

kampong hanya memainkan peran dalam perdagingan sebesar 10% padatahun 2015dan 9%padatahun2016.

perdagingan sebesar 10% padatahun 2015dan 9%padatahun2016. Gambar4.GrafikRata-ratakonsumsitelurdiIndonesia

Gambar4.GrafikRata-ratakonsumsitelurdiIndonesia

Tabel4.KonsumsiTelurrata-ratadiIndonesia

Telur

Satuan

2015

2016

TelurAyamRas

Butir

97,398

99,796

TelurAyamKampung

Butir

3,754

3,546

TelurItik

Butir

2,138

1,981

TelurPuyuh

Butir

6,674

7,769

Berdasarkantabeldiatas,ayamrasmempunyaisumbangsihpalingbesar dalam penyediaan konsumsitelur diIndonesia baik di tahun 2015 ataupun di tahun 2016.Ayamkampungsendiriberadadiposisike-2dengan3,754butirtelur

yangdikonsumsipadatahun2015,dan3,546butirteluryangdikonsumsipada

16

tahun 2016.Perbandinganyangmencolokantaraayamraspetelurdenganayam kampungdalam haljumlahteluryang dikonsumsidikarenakan karena dalam produksitelurayam rasjauhlebihtinggijikadibandingkandenganayamlokal. Penyebab lainnya adalah karena jumlah ayam yang dibudidayakan pun lebih cenderungtinggiayamraskarenamemangdikhususkanuntukproduktifitastelur.

IV

KESIMPULAN

17
17

1. Ayamkampungdisebutjugadenganistilahayamlokalatauayambukanras asliIndonesiayangtelahberadaptasi,hidup,berkembangdanbereproduksi dalamjangkawaktuyanglama,baikdikawasanhabitattertentumaupundi beberapa tempat. Adapun perkembang biakannya dilakukan antar sesama tanpaadaperkawinancampurandenganayam ras.

2. Padakurunwaktulimatahunterakhir(2011–2015),perkembanganpopulasi

ayamburasdiIndonesiamengalamistagnansinamuncenderungmeningkat

denganpertumbuhanrata-ratasebesar2,06%pertahun.

3. Ayam lokal mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ayam ras petelur ataupedaging.Ayamlokalmempunyainilaigiziyangbaik.Ayamlokoaljuga mempunyai keistimewaan dibanding yang lain, di antaranya Ayam lokal lebihtahan terhadap penyakit dan mudah menyesuaikan dengan cuaca di Indonesia, namun produktifitas cenderung tidak ada peningkatan karena genetik ayam lokal sendiri masih sangat kurang diperhatikan jika dibandingkandenganayamraspedagingdanraspetelur.

4. Kontribusi ayam lokal sendiri dalam penyediaan daging dan telur di Indonesia masih dibawah ayam ras. Hal ini dikarenakan karena memang produktifitasayamlokalsendirimasihjauhdibawahayamras.

18

DAFTARPUSTAKA

Anwar,K.2011.PanduanSuksesBeternakDanBisnisAyamKampung.Penerbit.

Pinangmerah.Yogyakarta.Hal:45

DITJENPKH.2011.StatistikaPeternakan.DirektoratJenderalPeternakandan

KesehatanHewanKementerianPertanian,Jakarta.269hlm.

DitjenPeternakan.

2017.

Konsumsi

Periode

Tahun

2016.

http://ditjennak.pertanian.go.id/(Diaksespada4September2017:07.00)

GUNAWAN.2002.EvaluasiModelPengembanganUsahaTernakAyamBuras

dan Upaya Perbaikannya (Kasus di Kabupaten Jombang Jawa Timur).

Disertasi.ProgramPascasarjana.InstitutPertanianBogor,Bogor.179hlm.

GUNAWAN. 2005. Evaluasi model pengembangan ayam buras di Indonesia:

Kasus di Jawa Timur. Pros. Lokakara Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Semarang, 26 Agustus 2005. Puslitbang

Peternakan,Bogor.him.260-271.

Iskandar,S.2005.PertumbuhandanPerkembanganKarkasAyamSilanganKedu

xArabpadaduasistempemberianransum.JITV10(4):253–259.

Junaedi,D.1988.MempelajariRendemendanKondisiMutuKarkasAyam,Hasil

Industri Pemotongan Ayam di Daerah Kotamadya Bogor. Fakultas TeknologiPertanian,IPB.Bogor.

Nataamijaya,A.G.2006.EggproductionandqualityofKampungchickenfedrice

brandilutedcommercialdietandforagessupplement.J.Anim.Prod.8(3):

206−210.

ROHAENI,E.S.,D.ISMADI,A.DARMAWAN,SURYANAdanA.SUBHAN.

2004.ProfilusahapeternakanayamraslokaldiKalimantanSelatan(Studi

kasusdiDesaMurungPantiKecamatanBabirik.KabupatenHuluSungai UtaradanDesaRumintinKecamatanTambangan,KabupatenTapin).Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Bogor, 4 – 5

Agustus2004,PuslitbangPeternakan,Bogor.hlm.555–562.

Sartika,T.,B.Gunawan,R.MatondangdanP.mahyudin.2002.SeleksiGenerasi

Ketiga untukMengurangi SifatMengeram dalam MeningkatkanProduksi Telur Ayam Lokal. Laporan No.UAT/BRE/F-01/APBN/2001. Balai

PenelitianTernak,Bogor.hlm.1–9.

19

SulandariS,ZeinMSA,ParyantiS,SartikaT.2007.Taksonomidanasalusul

ayamdomestikasi.DalambukuKeragamanSumberDayaHayatiAyam LokalIndonesia:ManfaatdanPotensi.Editor:KusumoDiwyantodanSiti NuramaliatiPrijono.PusatPenelitianBiologi,LIPI EdisiIHal.7-24

SUPRIADI, H., D. ZAINUDDIN dan P.P. KETAREN. 2005. Kajian sosial ekonomipengembanganayamraslokaldilahanmarginal.Pros.Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi Pengembangan Ayam Lokal. Semarang, 25 Agustus 2005. Puslitbang Peternakan bekerjasama dengan Fakultas

Peternakan,UniversitasDipenogoro,Semarang.hlm.217–227.