Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM

PERAGAAN PERALATAN PRODUKSI


"ARTIFICIAL LIFT

Disusun Oleh :

PLUG G

STUDIO PERAGAAN PERALATAN PRODUKSI


JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN MINGGUAN PRAKTIKUM
PERAGAAN PERALATAN PRODUKSI
"ARTIFICIAL LIFT

DisusunOleh :

PLUG G

Disetujuiuntuk Studio Peragaan Peralatan Produksi


Jurusan Teknik Perminyakan
Fakultas Teknologi Mineral
Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

AsistenPraktikum,

Ridho Hilman Botituhe


BAB IV
METODE ARTIFICIAL LIFT

4.1. DASARTEORI

Artificial lift adalah metode pengangkatan fluida sumur dengan cara


mengintroduksi tenaga tambahan ke dalam sumur (bukan ke dalam reservoir)
dimana metoda ini diterapkan apabila tenaga alami reservoir sudah tidak mampu
lagi mendorong fluida ke permukaan atau untuk maksud-maksud peningkatan
produksi. Introduksi tenaga tambahan yang ada terdiri dari :
1. Pompa terdiri dari :
a. Pompa sucker rod
b. Pompa sentrifugal multistage
c. Pompa hidraulik
d. Pompa jet
2. Gas lift, terdiri dari :
a. Continous gas-lift
b. Intermittent gas-lift
3. Chamber lift

4.1.1. Unit Pompa Sucker-rod

4.1.1.1. Peralatan Pompa Sucker-Rod.


Peralatan pompa sucker-rod terdiri dari mesin penggerak mula, peralatan di
atas dan di bawah permukaan.
A. Mesin Penggerak Mula (Prime mover)
Penggerak mula merupakan sumber utama seluruh peralatan pompa sucker
rod di mana bahan bakarnya dapat berupa gas alam yang berasal dari sumur sucker-
rod, solar atau listrik tergantung pada jenis mesin yang digunakan.
B. Peralatan Pompa di atas Permukaan
Fungsi utama dari peralatan-peralatan ini adalah :
a. Memindahkan energi atau tenaga dari prime mover ke unit peralatan pompa
di dalam sumur.
b. Mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi satu gerak bolak-balik
naik turun.
c. Mengubah kecepatan putar prime mover menjadi suatu langkah pemompaan
(stroke per menit, SPM) yang sesuai atau yang diinginkan.
Di dalam industri migas, dikenal ada tiga macam pompa sucker-rod yaitu :
Konvensional (C).
Air Balance (B).
Mark II (M).
dan klasifikasi oleh API RP 11 L adalah sebagai berikut :
X XXX.X XXX XX
1 2 3 4 5
1.Jenis alat permukaan C = Konvensional
M = Mark II
A = Air Balance
2. Peak Torque Rating, ribuan in-lb
3. Gear reducer. D = double
S = single
4. Polished rod rating, ribuan lb
5. Panjang langkah maximum, inchi
Misal : C 1600 173 64
Komponen-komponen utama sucker rod dan fungsinya adalah sebagai berikut :
Gear Reducer.
Merupakan transmisi yang berfungsi untuk mengubah kecepatan putar dari
prime mover, gerak putaran prime mover diteruskan ke gear ruducer dengan
menggunakan belt. Di mana belt ini dipasang engine pada prime mover dan unit
sheave pada gear reducer.
V-Belt
Sabuk untuk memindahkan gerak dari prime mover ke gear reducer.
Crank Shaft.
Merupakan poros dari crank yang berfungsi untuk mengikat crank pada gear
reducer dan meneruskan gerak.
Counter Balance.
Adalah sepasang pemberat yang fungsinya :
untuk mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi gerak naik-turun.
menyimpan tenaga prime mover pada saat down stroke atau pada saat
counter balance menuju ke atas, yaitu pada saat kebutuhan tenaga kecil atau
minimum.
membantu prime mover pada saat up-stroke (saat counter balance bergerak
ke bawah) sebesar tenaga potensialnya karena kerja prime mover yang
terbesar adalah pada saat up-stroke (pompa bergerak ke atas) di mana
sejumlah minyak ikut terangkat ke atas permukaan.
Crank.
Merupakan sepasang tangkai yang menghubungkan crank shaft pada gear
reducer dengan counter balance. Pada crank ini terdapat lubang-lubang tempat
pitman bearing. Besar kecilnya langkah atau stroke pemompaan yang
diinginkan dapat diatur di sini dengan cara mengubah ubah pitman bearing,
apabila kedudukan pitman bearing ke posisi lubang mendekati counter balance,
maka langkah pemompaan menjadi bertambah besar atau sebaliknya apabila
menjauhi jarak antara crank shaft sampai dengan pitman bearing dengan
sebagai Polished stroke lenght yang fungsinya meneruskan gerak berputar dari
crank shaft pada gear reducer ke walking beam melalui pitman.
Pitman.
Adalah sepasang tangkai yang menghubungkan antara crank pada pitman
bearing. Fungsinya adalah merubah dan meneruskan gerak berputar menjadi
bolak-balik naik turun.

Walking beam.
Merupakan tangkai horizontal di belakang horse head. Fungsinya merupakan
gerak naik turun yang dihasilkan oleh pasangan pitman-crank-counter balance
ke rangkaian pompa di dalam sumur melalui rangkaian rod.
Horse head.
Menurunkan gerak dari walking bean ke unit pompa di dalam sumur melalui
bridle, polish rod dan sucker string atau merupakan kepala dari walking bean
yang menyerupai kepala kuda.
Bridle.
Merupakan nama lain dari wire line hanger, yaitu merupakan sepasang kabel
baja yang disatukan pada carrier bar.
Carrier bar.
Merupakan alat yang berfungsi sebagai tampat bergantungnya rangkaian rod
dan polished rod.
Polished rod Clamp.
Komponen yang bertumpu pada carrier bar yang fungsinya untuk mengeraskan
kaitan polish rod pada carrier bar dan tempat di mana dinamo meter (alat
pencatat unit berapa pompa) diletakkan.
Polished rod.
Polished rod merupakan bagian teratas dari rangkaian rod yang muncul di
permukaan. Fungsinya adalah menghubungkan antara rangkaian rod di dalam
sumur dengan perlatan-peralatan di permukaan.
Suffing box
Dipasang di atas kepala sumur (casing atau tubing head) untuk
mencegah/menahan minyak agar supaya tidak keluar bersama naik turunnya
polish rod. Dengan demikian seluruh aliran minyak hasil pemompaan akan
mengalir ke flowline lewat crosstee. Disamping itu juga berfungsi sebagai
tempat kedudukan polish head rod sehingga dengan demikian polish rod dapat
bergerak naik turun dengan bebas.
C. Sampson Post
Merupakan kaki penyangga atau penopang walking bean.
D. Saddle Bearing
Adalah tempat kedudukan dari walking bean pada sampson post pada
bagian atas.
E. Equalizer
Adalah bagian atau dari pitman yang dapat bergerak secara leluasa menurut
kebutuhan operasi pemompaan minyak berlangsung.
F. Brake
Brake di sini berfungsi untuk mengerem gerak pompa jika dibutuhkan,
misalnya pada saat akan dilakukan reparasi sumur atau unit pompanya sendiri.
G. Peralatan Pompa di dalam sumur
Fungsi peralatan pompa sucker rod di dalam sumur adalah untuk membantu
menaikan fluida sumur ke permukaan melalui tubing. Unit pompa sucker rod di
dalam sumur terdiri dari :
Tubing
Seperti halnya peralatan sembur alam, tubing digunakan untuk mengalirkan
minyak dari dasar sumur ke permukaan setelah minyak diangkat oleh pompa
yang di tempatkan pada ujung tubing.
Working barrel
Merupakan tempat di mana plunger dapat bergerak naik turun sesuai dengan
langkah pemompaan dan menampung minyak sebelum diangkat oleh plunger
pada saat up stroke.
Menurut standart API ada 2 (dua) jenis barrel, yaitu :
a. Liner barrel, biasanya jenis diberi simbol L.
b. Full barrel, yang terdiri dari satu bagian yang utuh dan kuat, biasanya
jenis ini diberi simbol H untuk heavy-wall dan W untuk thin-wall.

Plunger
Merupakan bagian dari pompa yang terdapat di dalam barrel dan dapat bergerak
naik turun yang berfungsi sebagai pengisap minyak dari formasi masuk ke
dalam barrel yang kemudian diangkat ke permukaan melalui tubing.
Standing valve
Merupakan katup yang terdapat di bagian bawah working barrel yang berfungsi
memberi kesempatan minyak dari dalam sumur masuk ke working barrel (pada
saat up-stroke valve terbuka) dan untuk menahan minyak agar tidak keluar dari
working barrel pada saat plunger bergerak ke bawah (pada saat down stroke
valve tertutup). Standing valve ini mempunyai peranan yang penting dalam
sistem pemompaan, karena effisiensi volumetris pompa sangat tergantung pada
cara kerja dan bentuk dari ball dan seat standing-valve.
Travelling valve
Merupakan ball and seat yang terletak pada bagian bawah dari plunger dan akan
ikut bergerak ke atas dan ke bawah menurut gerakan plunger.
Fungsinya :
Mengalirkan atau memindahkan minyak dari working masuk ke
plunger, hal ini terjadi pada saat plunger bergerak ke bawah.
Menahan minyak pada saat plunger bergerak ke atas (up-stroke)
sehingga minyak tersebut dapat (dipindahkan) ke tubing untuk
selanjutnya dialirkan ke permukaan.
Anchor
Komponen di pasang pada bagian bawah dari pompa, yang berfungsi :
Untuk memisahkan gas dari minyak agar supaya gas tersebut tidak ikut
masuk ke dalam pompa bersama-sama dengan minyak, karena adanya
gas akan mengurangi efisiensi pompa.
Untuk menghindarkan masuknya pasir atau padatan ke dalam pompa.
Mengurangi/menghindari terjadinya tubing stretch.
Ada dua macam type Gas Anchor :
Poorman type
Larutan dalam minyak yang masuk ke dalam anchor akan melepaskan diri
dari larutan (bouyancy effect). Minyak akan masuk ke dalam barrel melalui
suction pipe, sedangkan gas yang telah terpisah akan dialirkan ke annulus.
Apabila suction pipe terlalu panjang atau diameternya terlalu panjang atau
diameternya terlalu kecil, maka akan terjadi pressure lost yang cukup besar
sehingga menyebabkan terjadinya penurunan PI sumur pompa. Sedangkan
apabila section pipe terlalu pendek, maka proses pemisahan gas kurang
sempurna. Diameter suction pipe terlalu besar menyebabkan ruang annulus
antara dinding anchor dengan suction pipe menjadi lebih kecil, sehingga
kecepatan aliran minyak besar dan akibatnya gas akan masih terbawa oleh
butiran-butiran minyak. Diameter gas anchor yang terlalu besar akan
menyebabkan penurunan PI sumur pompa.
Packer type
Minyak masuk melalui ruang dinding anchor dan suction pipe. Kemudian
minyak jatuh di dalam annulus antara casing dan gas anchor dan ditahan
oleh packer, selanjutnya minyak masuk ke dalam pompa melalui suction
pipe. Di sini minyak masuk ke dalam annulus sudah terpisah dari gasnya.
Tangkai pompa
Tangkai pompa (sucker rod string) terdiri dari :
Sucker rod
Merupakan batang/rod penghubung antara plunger dengan peralatan di
permukaan. Fungsi utamanya adalah melanjutkan gerak naik turun dari
horse head ke plunger. Berdasarkan konstruksinya, maka sucker rod dibagi
menjadi 2 (dua) :

berujung box-pin
berujung pin-pin
Untuk menghubungkan antara dua buah sucker rod digunakan sucker rod
coupling. Umumnya panjang satu single dari sucker rod yang sering
digunakan berkisar antara 25-30 ft.

Dalam perencanaan sucker rod selalu diusahakan atau yang dipilih yang
ringan, artinya memenuhi kriteria ekonomis, tetapi dengan syarat tanpa
mengabaikan kelebihan (allowable stress) pada sucker rod tersebut. Sucker
rod yang dipilih dari permukaan, sampai unit pompa di dasar sumur
(plunger) tidak perlu sama diameternya, tetapi dapat dilakukan/dibuat
kombinasi dari beberapa type dan ukuran rod. Sucker string yang
merupakan kombinasi dari beberapa type dan ukuran tersebut. Disebut
Tappered Rod String.

Poni rod
Merupakan rod yang mempunyai panjang yang lebih pendek dari panjang
rod umumnya (25 feet). Fungsinya adalah untuk melengkapi panjang dari
sucker rod, apabila tidak mencapai kepanjangan yang dibutuhkan
ukurannya adalah : 2, 4, 6, 8, 12 feet.

Polished rod
Adalah tangkai rod yang berada di luar sumur yang mengubungkan sucker
rod string dengan carier bar dan dapat naik turun di dalam stuffing box.
Diameter stuffing box lebih besar daripada diameter sucker rod, yaitu : 1
1/8, 1 , 1 , 1 . Panjang polished rod adalah :8,11,16, 22 feet.

4.1.1.2. Prinsip Kerja Pompa Sucker Rod

Gerak rotasi dari prime mover diubah menjadi gerak naik turun oleh sistem
pitman-crank assembly, kemudian gerak naik turun ini oleh horse head, dijadikan
gerak lurus naik turun (angguk) untuk menggerakan plunger melalui rangkaian
rod. Pada saat up stroke plunger bergerak ke atas menyebabkan tekanan di bawah
turun. Karena tekanan dasar sumur lebih besar dari tekanan dalam pompa,
akibatnya standing valve terbuka dan minyak masuk ke dalam barrel. Pada saat
down stroke beban fluida yang ada di dalam barrel dan tekanan yang diakibatkan
oleh naiknya plunger, maka standing valve menutup sedangkan travelling valve
pada plunger terbuka akibat tekanan minyak yang tidak di dalam barrel,
selanjutnya pada saat up stroke maksimum minyak akan dipindahkan ke dalam
tubing. Proses ini dikakukan secara berulang-ulang, sehingga minyak dapat
mengalir ke permukaan.
4.1.1.3. Tipe Unit Pompa di Dalam Sumur (Sub Surface Pump)
Unit pompa di dalam sumur dapat dibedakan atas beberapa tipe, antara lain:
A. Tipe Rod Pump/Insert Pump (R-TYPE)
Unit pompa keseluruhan (working barrel, standing valve, plunger,
travelling valve) dimasukan ke dalam sumur bersama-sama dengan rod lewat
dalam tubing. Untuk keperluan reparasi dan penggantian pompa cukup dicabut
sucker rod-nya saja, dengan demikian seluruh unit pompa akan ikut terangkat
ke atas. Tipe pompa demikian ini sering digunakan pada sumur-sumur yang
dalam.
Tipe ini dibagi atas 3 (tiga) golongan :
Stationary barrel, Top anchor, misalnya RWA.
Stationary barrel, Bottom anchor, misalnya RWB.
Travelling barrel, Bottom anchor, misalnya RWT.
B. Tubing Pump (T-TYPE)
Pompa semacam ini dimasukan ke dalam sumur bersama-sama dengan
tubing, sedangkan plunger dan travelling valve diikatkan pada ujung bawah
dari sucker rod dan di turunkan sampai standing valve. Apabila pompa hendak
dicabut baik sucker rod maupun tubing harus pula dicabut bersama-sama. Tipe
ini sering digunakan pada sumur-sumur dangkal dan produktifitasnya kecil.
Untuk suatu tubing dengan ukuran tertentu, volume rod pump lebih kecil
daripada tubing pump. Karena diameter working barrel pada rod pump lebih
kecil daripada diameter dalam tubing, panjang pompa berkisar antara 4-22 feet.
Tipe tubing pump ada 2 (dua) jenis, yaitu :
Tubing pump dengan regular shoes.
Tubing pump dengan extenstion shoes dan nipple pada bagian bawah
pompa.
Catatan :
Kode-kode huruf yang terdapat pada jenis pompa sucker rod :
T :di depan menyatakan Type Tubing Pump
R :di depan menyatakan Type Rod Pump
W :di tengah menyatakan Full barrel
L :di tengah menyatakan Linear barrel
E :di belakang menyatakan Extention Shoe nipple
A :menyatakan Stationary-barrel dimana bagian atas yang disambung
pada tubing.
B :menyatakan Stationary-barrel dengan bagian atas dan bawah
disambung dengan tubing.
T : di belakang menyatakan travelling barrel.

4.1.2. Instalasi Gas lift

Yang dimaksud disini adalah semua peralatan gas lift baik yang berada di
dalam sumur maupun yang berada di permukaan, juga termasuk komplesi yang
digunakan dalam sistem gas lift tersebut.
4.1.2.1. Jenis- Jenis Komplesi Gas lift

1. Komplesi terbuka
Yaitu jenis komplesi sumur gas lift, dengan tubing string digantungkan di dalam
sumur tanpa memakai packer maupun standing valve. Jenis komplesi yang
demikian dianjurkan untuk sistem continuous gas lift. Jenis komplesi terbuka ini
jarang digunakan, tetapi untuk injeksi gas dari bagian tubing dan keluar dari annulus
akan lebih ekonomis, atau pada sumur yang mempunyai problem kepasiran.

2. Komplesi Setengah Tertutup


Yaitu jenis komplesi sumur gas lift, dengan tubing string digantungkan di dalam
sumur, menggunakan packer antara tubing dan casing serta tidak menggunakan
standing valve. Jadi, disini pengaruh injeksi gas terhadap formasi produktif dicegah
oleh adanya packer. Komplesi semacam ini cocok untuk continuous maupun
intermittent gas lift.

3. Komplesi Tertutup
Yaitu jenis komplesi sumur gas lift, dengan tubing string digantungkan di dalam
sumur, menggunakan packer dan juga standing valve ditempatkan di bawah valve
gas lift terbawah atau ujung tubing string. Dalam hal ini injeksi gas sama sekali
tidak terpengaruh terhadap formasi, karena dihalangi oleh packer dan standing
valve. Komplesi ini biasanya digunakan pada sumur-sumur dengan tekanan dasar
sumur rendah, dan produktivity index rendah.
4. Komplesi Ganda
Komplesi ganda ini digunakan pada sumur-sumur yang mana terdapat dua
formasi produktif atau lebih, diproduksikan melalui dua tubing yang terpisah dalam
satu sumur. Masing-masing formasi produktif tersebut dipisahkan dengan
menggunakan packer. Sedangkan susunan tubing tersebut bisa paralel atau sesuai
(konsentris). Sistem ini mempunyai keuntungan lebih menghemat gas injeksinya
bila production casing cukup besar, sehingga memungkinkan untuk ditempati oleh
dua tubing secara bersejajaran. Model sepusat ini digunakan bila diameter
casingnya kecil atau tidak memungkinkan untuk ditempati oleh dua tubing yang
diletakkan secara sejajar.

5. Komplesi Ruang (Accumulation Chamber Lift Instalation)


Sistem ini mirip dengan sistem komplesi tertutup, hanya bedanya di sini
menggunakan ruang akumulasi. Ruang akumulasi berfungsi untuk memperkecil
tekanan kolom minyak yang berada di dalam tubing. Tekanan kolom minyak
menjadi kecil, karena akibat rendahnya kolom cairan yang ada di dalam ruang
akumulasi, karena adanya packer di dalam tubing. Disamping ruang akumulasi
yang berfungsi untuk memperbesar rate produksi minyak yang dihasilkan. Tipe
komplesi ini digunakan pada sumur-sumur dengan tekanan dasr sumur rendah serta
productivity index yang rendah pula.

6. Pack off Instalation


Pada jenis ini, tidak perlu dilakukan penggantian tubing apabila ingin dilakukan
pemasangan valve-valve gas lift pada sumur-sumur yang bersangkutan. Hal ini
disebabkan, pada kedalaman casing tertentu telah di pasang pack off, di mana
berfungsi sebagai penghubung annulus dengan fluida di dalam tubing melalui
lubang kecil yang dapat dibuka dan ditutup. Hal ini dapat dilakukan karena terdapat
alat yang disebut slidding side door. Jadi pada jenis alat ini, bila suatu saat
memerlukan gas lift agar dapat meneruskan produksinya tidak perlu dilakukan
penggantian tubing. Dengan menggunakan metode wire line, slidding side door
dapat dibuka dan valve gas lift langsung digunakan.

4.1.2.2. Peralatan Gas lift


Peralatan gas lift untuk menunjang operasinya sistem pengangkatan minyak
dengan menggunakan metode injeksi gas ke dalam sumur dapat dibagi dalam dua
kelompok yaitu :
A. Peralatan di Atas Permukaan (Surface Equipment)
1. Well head Gas lift X-Mastree
Well head sebetulnya bukan merupakan alat khusus untuk gas lift saja, tetapi
juga merupakan salah satu alat yang digunakan pada metode sembur alam, dimana
dalam periode masa produksi, alat ini berfungsi menggantungkan tubing dan casing
disamping itu well head merupakan tempat duduknya X-mastree.
2. Station Kompresor Gas
Kompresor gas yaitu suatu alat yang berfungsi untuk mendapatkan gas
bertekanan tinggi untuk keperluan injeksi. Di dalam stasiun kompresor, terdapat
beberapa buah kompresor dengan sistem manifoldnya. Dari stasium kompresor ini
dikirimkan gas bertekanan sesuai dengan tekanan yang diperlukan sumur-sumur
gas lift melalui stasiun distribusi.
3. Stasiun Distribusi
Dalam menyalurkan gas injeksi dari kompresor ke sumur terdapat beberapa
cara, antara lain :
Stasiun distribusi langsung
Pada sistem ini gas dari kompresor disalurkan langsung ke sumur-sumur
produksi, sehingga untuk beberapa sumur mana membutuhkan gasnya tidak
sama, sistem ini kurang efisien.
Stasiun distribusi dengan pipa induk
Pada sistem ini lebih ekonomis, karena panjang pipa dapat diperkecil.
Tetapi karena ada hubungan langsung antara satu sumur dengan sumur
lainnya, maka bila salah satu sumur sedang dilakukan penginjeksian gas
sumur lain bisa terpengaruh.
Stasiun distribusi dengan stasiun distribusi
Pada sistem ini sangat rasional dan banyak dipakai di mana-mana, gas
dibawa dari Stasiun pusat ke stasiun distribusi dari sini gas dikirim melalui
pipa-pipa.
4. Alat-alat kontrol
Alat-alat kontrol yang dimaksudkan di sini adalah semua peralatan yang
berfungsi untuk mengontrol atau mengatur gas injeksi, seperti :
Choke kontrol
Adalah alat yang mengatur jumlah gas yang diinjeksikan, sehingga dalam
waktu yang telah ditentukan tersebut dapat mencapai tekanan tertentu
seperti yang diinginkan untuk penutupan dan pembukaan valve. Khusus
untuk intermittent gas lift.
Regulator
Adalah alat yang melengkapi choke kontrol berfungsi jumlah/banyaknya
gas yang masuk. Apabila gas injeksi telah cukup regulator ini akan menutup.
Khusus untuk intermittent gas lift.
Time Cycle Controller
Adalah merupakan alat yang digunakan untuk mengontrol laju/rate aliran
injeksi pada aliran intermittent berdasarkan interval waktu tertentu/dengan
kata lain, kerjanya berdasarkan prinsip kerja jam. Maka alat ini akan
membuka regulator selama waktu yang telah ditentukan untuk mengalirkan
gas injeksi, setelah selama waktu tertentu regulator menutup dalam selang
waktu yang telah ditentukan.
B. Peralatan di Bawah Permukaan (Sub Surface Equipment)
1. Kamar Akumulasi
Kamar akumulasi merupakan ruang/chamber terbuat dari tubing yang
berdiameter lebih besar dari tubing di bawahnya terdapat katup/valve tetap
untuk menahan cairan supaya jangan sampai keluar dari kamar akumulasi pada
saat dilakukan injeksi. Fungsinya adalah memperkecil tekanan kolom minyak
yang berada di atas tubing.
2. Pinhole Collar
Pinhole Collar adalah suatu collar khusus yang mempunyai lubang kecil tempat
gas injeksi masuk ke dalam tubing. Letaknya di dalam sumur ditentukan lebih
dahulu. Pada umumnya penggunaan collar semacam ini tidak effesien, karena
sumur tidak memproduksi secara optimum ratenya.
3. Valve gas lift
Secara penggunaan valve gas lift berfungsi untuk :
Memproduksi minyak dengan murah dan mudah tanpa memerlukan injeksi
gas yang tekanannya sangat besar.
Mengurangi unloading (kick off) atau tambahan portable compressor.
Kemantapan (stability) mampu mengimbangi secara otomatis terhadap
perubahan-perubahan tekanan yang terjadi pada sistem injeksi gas.
Mendapatkan kedalaman injeksi yang lebih besar untuk suatu kompresor
dengan tekanan tertentu.
Menghindari swabbing untuk high fluid well atau yang diliputi air.
Secara berturut-turut perkembangan valve dapat diikuti seperti berikut :
1. Spring loaded differential valve :
Jenis ini paling banyak digunakan pada masa-masa yang lalu bekerja
berdasarkan kondisi reservoir.Secara normal bila tidak ada gaya-gaya maka
valve tersebut akan membuka. Spring loaded pressure dapat diatur dengan
Adjust Table Nut agar spring pressure ini dapat berkisar 100-150 psi. Pada
saat valve terbuka, maka dua gaya yang bekerja pada tangkai valve :
Melalui port dibagian valve, sehingga tekanan injeksi gas
sepenuhnya pada kedalaman di manan valve dipasang, akan bekerja
seluruh permukaan atau dari steam, dan menekan melawan tekanan
dari spring (berusaha untuk menutup).
Melalui choke pada dinding sampai valve tersebut.
2. Mechanically Controlled Differential Valve
Membuka dan menutupnya valve dilakukan dengan kawat dari permukaan.
Jenis ini sudah jarang di pakai pada waktu sekarang, karena akan terjadinya
banyak kesulitan, kawat mudah putus, korosi effesiensi rendah, prinsip
pemikiran kurang populer, saat pemasangan lama, juga sangat sukar
operasinya pada saat unloading. Valve jenis ini untuk intermittent flow.
3. Specific Gravity Differential Valve
Jenis ini biasa dipergunakan untuk continuous flow, dengan menggunakan
diafragma karet. Membuka dan menutupnya valve berdasarkan gradient
tekanan di tubing, bila gradient tekanan di tubing naik, maka valve akan
membuka, bila gradient tekanan turun dengan adanya gas injeksi, maka
valve akan menutup.
4. Pressure Charge Bellow Valve
Jenis ini paling umum digunakan dewasa ini, karena mempunyai sifat-sifat
khusus, yaitu :
mudah dikontrol kerjanya, karena otomatis
operating pressure konstan
dapat digunakan baik intermittent maupun continuous
Secara normal valve ini akan menutup, karena adanya pressure charge
bellow. Sedangkan valve ini akan bekerja karena adanya tekanan injeksi gas.
5. Flexible Sleave Valve
Yang aliran gas masuk ke dalam tubing adalah karet yang mudah lentur
(flexible). Sedangkan valve ini mempunyai dome (ruang) berisi gas kering
dengan tekanan tertentu. Tekanan buka valve sama dengan tekanan tutupnya
dan juga sama dengan tekanan gas dalam dome. Valve dapat digunakan
untuk aliran intermittent maupun continuous dengan injeksi gas diatur dari
permukaan.
4.1.3. Pompa Centrifugal
Pompa centrifugal adalah pompa bertingkat banyak yang porosnya
dihubungkan langsung dengan motor penggerak. Motor penggerak ini
menggunakan tenaga listrik yang dialirkan dari permukaan dengan kabel dan
sumbernya dari power plant lapangan.
Unit peralatan centrifugal atau Electric Submersible Centrifugal Pump
terdiri dari beberapa komponen utama :
Swicth Board
Alat ini berfungsi sebagai kontrol dipermukaan guna melindungi peralatan-
peralatan bawah permukaan. Alat ini merupakan gabungan dari starter,
Upperload dan underload Protection dan Recorder Instrument (alat pencatat)
yang bekerja secara otomatis jika terjadi penyimpangan.
Junction Box
Junction box adalah tempat (kotak) yang terletak di antara swicth board dan
well head. Fungsinya untuk menghubungkan kabel swicth board dengan kabel
dari well head.
Tranformer
Alat ini digunakan untuk mengubah tegangan (voltage) sumber arus (generator)
menjadi tegangan yang sesuai dengan operating voltage motor di bawah
permukaan.
Tubing Head
Tubing head pada pompa centrifugal agak berbeda dengan tubing head
biasanya perbedaanya terutama terletak adanya kabel yang melalui tubing head.
Drum
Dipakai sebagai tempat menggulung kabel apabila pompa sedang dicabut.

4.1.3.1.Peralatan di Bawah Permukaan


Peralatan di bawah permukaan dari pompa centrifugal terdiri dari motor
listrik sebagai unit penggerak protector, gas separator, pompa centrifugal
multistage dan kabel listrik.
Dalam kondisi kerja, unit bawah permukaan ditenggelamkan dalam fluida
dengan disambung tubing yang kemudian digantungkan pada well head serta
dilengkapi pula dengan peralatan-peralatan sebagai pelengkap antara lain :
transformer, checkvalve, bleeder valve, klem kabel serta peralatan-peralatan service
pada saat pemasangan pompa centrifugal, reel of cable, shock absorber.
Motor Listrik
Motor listrik penggerak pompa adalah 3 phase, motor listrik ini dimasukkan ke
dalam rumah motor yang diisi dengan minyak motor untuk pendingin dan
merupakan isolasi motor terhadap fluida sumur.
Protector
Protector ini dipasang di bawah pompa, fungsinya antara lain :
menyimpan minyak motor dan minyak pompa
mengijinkan terhadap pengembangan pengurutan minyak motor dan
minyak pelumas motor
mencegah fluida sumur ke dalam motor atau ke rumah motor
untuk keseimbangan tekanan dalam motor dengan tekanan luar yaitu
tekanan fluida sumur pada kedalaman penenggelaman.
Pompa
Jenis pompanya merupakan pompa multistage dengan masing stage terdiri dari
satu impeller dan satu diffuser yang dimasukan dalam rumah, pada impeller
terdapat sudu-sudu atau blades yang akan mengalirkan fluida produksi.
Gas Separator
Untuk sumur yang gas oil ratio (GOR) tinggi, gas separator dapat
disambungkan pada pompa guna memperbaiki effesiensi pompa. Gas separator
ini sekaligus berfungsi sebagai intake pompa (tempat masuknya fluida kedalam
pompa) dan karena perbedaan density gas dan minyak maka gas akan terpisah
dari minyak.
Kabel
Tenaga listrik dari permukaan dialirkan ke motor melalui kabel, yang terdiri
dari tiga kabel tembaga yang di isolasi satu sama lain. Kabel diklem dengan
tubing pada interval jarak tertentu sampai ke tubinghead.
Check Valve
Letaknya satu joint di atas pompa, berfungsi sebagai :
bila pompa berhenti bekerja (shut down), menahan fluida agar tidak keluar
dari tubing (turun ke pompa lagi) dan menahan partikel-partikel pada agar
tidak mengendap dalam pompa.
Menjaga tubing tetap penuh dengan fluida pada saat pompa berhenti.
Bladeer Valve
Di pasang satu joint tubing di atas check valve berfungsi untuk mengijinkan
aliran fluida keluar pada waktu dilaksanakan pencabutan pompa centrifugal.
4.1.3.2.Prinsip Kerja Centrifugal
Prinsip kerjanya adalah berdasarkan pada prinsip kerja pompa centrifugal
dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa centrifugal adalah motor hidraulis yang
menghasilkan tenaga hidraulis dengan jalan memutar cairan yang melalui impeller
pompa. Cairan masuk ke dalam impeller pompa menuruti poros pompa
dikumpulkan dalam rumah pompa atau diffuser kemudian dikeluarkan keluar oleh
impeller, tenaga mekanis motor diubah menjadi tenaga hidraulis. Impeller terdiri
dari dua piringan yang di dalamnya terdapat sudu, pada saat impeller berputar
dengan kecepatan sudut W, cairan dalam impeller dialirkan keluar dengan tenaga
potensial dan kinetik tertentu, cairan yang tertampung dalam rumah pompa
kemudian dialirkan melalui pipa keluar (diffuser), dimana sebagian tenaga kinetik
diubah menjadi tenaga potensial berupa tekanan, karena cairan dialirkan keluar,
maka terjadi proses pengisapan.

4.2. DESKRIPSI ALAT


4.2.1. ESP Motor
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan ESP Motor
Plug G
Fungsi Alat:
Sebagai penggerak dari
submersible pump
sumur khususnya Shap
ESP.

Cara Pemasangan:
Motor dimasukkan
kedalam suatu rumah
motor yang terletak pada
posisi paling bawah dari
rangkaian peralatan
pompa ESP, kemudian
motor mendapat tenaga
dari arus listrik yang
dialirkan dari switcboard
melalui junction box,
kemudian menggerakkan
pompa. ESP Motor diisi
dengan minyak motor
sebagai pendingin serta
isolator terhadap fluida
(http://www.slb.com/artificial/submersible/reda_maximus_promotor.jpg) sumur.

Keterangan
- Spesifikasi :
Tabel IV-1.
Spesifikasi ESP Motor
4.2.2. ESP Protector
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan ESP protector
Plug G
Gambar Alat: Fungsi Alat:
-Menyimpan minyak motor
dan minyak pompa.
-Mengijinkan terhadap
pengembangan pengurutan
minyak motor dan minyak
pelumas motor.
-Mencegah fluida sumur ke
dalam motor atau rumah
motor.
-Untuk menjaga
keseimbangan tekanan dalam
motor atau tekanan luar yaitu
tekanan fluida sumur pada
kedalaman penenggelaman.
Cara Pemasangan:
Alat ini terletak dibawah
pompa dan pada dasarnya
dibagi menjadi 3 jenis bagian
yaitu:
-The bag Type
-The labyrinth Type
-The bellow design Type
(http://img.tradeindia.com/tradeleads/2/org_1935405.jpg) Yang berfungsi untuk
menjaga agar motor pompa
dapat berjalan dengan stabil.

Keterangan
- Spesifikasi
Tabel IV-2.
Spesifikasi ESP Protector
4.2.3. ESP Gas Separator
Acara Artificial Lift
Nama Alat ESP Gas Separator
Plug G
Gambar Alat: FungsiAlat:
Untuk memisahkan gas
dengan minyak agar
menghindari gas lock.
Cara Pemasangan:
Fluida yang masuk
kedalam rangkaian tubing
dipisahkan telebih dahulu
saat melewati gas
separator, gas terpisah dan
keluar melaui annulus.

(http://www.slb.com/artificial/submersible/vortex)

Keterangan
- Spesifikasi
Tabel IV-3.
Spesifikasi ESP Gas Separator
4.2.4. ESP Cable
Acara Artificial Lift
Nama peralatan ESP Cable
Plug G
Gambar Alat: FungsiAlat:
Power cable gunanya untuk
mengalirkan arus listrik
dari switchboard ke motor

Cara Pemasangan:
Kabel ini ditempatkan sepanjang
tubing dengan Clamp. Unit kabel ini
terdiri atas tiga buah kabel tembaga
yang satu sama lain dipisahkan
dengan pembalut terbuat dari karet
dan keseluruhannya dibungkus
dengan pelindung baja. Ada dua
(http://www.oil-gas.ru/companies/34/serv_prod/p382/)
jenis kabel, yaitu flat cable (pipih)
dan round cable (bulat), yang
penggunaannya tergantung pada
besarnya ruang (clearances) yang
tersedia
Keterangan
- Keterangan
Tabel IV-4.
Spesifikasi ESP Cable
4.2.5. PCP Rotor
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan PCP Rotor
Plug G
Fungsi Alat:
Membantu mengangkat
atau memompa fluida
reservoir ke permukaan.
Cara pemasangan:
PCP rotor dipasang
sampai kedalaman yang
diinginkan dan
dihubungkan dengan
motor yang ada di
permukaan. PCP rotor
digantungkan ke motor
yang ada dipermukaan.
Keterangan
- Spesifikasi :
Tabel IV-5.
Spesifikasi PCP Rotor
o High wear resistance.
o An additional plus of ceramic compared to metals
is the lower density, which lowers the weight of a
rotor by 50%.
o Physical advantages allow higher speeds, which is
an equivalent to an increase in hydraulic power.
The size of the pumps can be decreased without
reducing the performance.
o Homogenous surface = 0% Porosity.
Spesifikasi Desain
o Rotor:1-3/16"
o Theoretical Dairy Flow:4-9 M3/D
o Head Lift:1200-1600
o Transport Package:Standard Package
o Screw Number:Single Screw Pump
o Screw Suction Method:Single Suction
o Pump Shaft Position:Vertical
o Max Diameter:90mm
4.2.6. PCP Stator
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan PCP Stator
Plug G
Fungsi Alat:
Sebagai dudukan dari PCP
rotor untuk berputar
memompa/mengangkatflui
da reservoir ke permukaan.
Cara pemasangan:
PCP stator Terdiri dari
tabung baja yang melapisi
elastomer dan PCP Rotor.
Pemasangan biasanya
sudah dipasang dari atas
bersamaan PCP rotor lalu
di turunkan ke lubang bor.
Keterangan
- Spesifikasi :
Tabel V-6.
Spesifikasi PCP Stator
o Model:Llbq22
o Power:22kw
o Motor Model:Yb200L2-6
o Motor Rotary Speed:970 R/Min
o Drive Draft Rotary Speed:220
Spesifikasi Desain
R/Min
o Output Torque:450n.M
o Adjust Speed Range:15-220
5.2.7. PCP Elastomer
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan PCP Elastomer
Plug G
Fungsi Alat:
Sebagai bantalan antara rotor dan
stator yang mampu menahan beban
tekanan sehingga meminimalisir
terjadinya keretakan atau pecah pada
rotor.
Cara pemasangan:
PCP Elastomer adalah bentuk
lengkung yang ada pada PCP rotor
sigunakan untuk menahan agar minyak
tidak jatuh lagi. Bianya sudah
tergabung dalam bentuk PCP rotor.

Keterangan
- Spesifikasi :

Tabel V-7.
Spesifikasi PCP Elastomer

Parameters Test Typical Range of Values


ASTM D-2240, DIN
Hardness (Shore A) 55 to 75 Shore A
53505
ASTM D-412, DIN
Tensile Strength 1800 to 3200 psi
53504
ASTM D-412, DIN
Elongation at Breaks 200 to 700 %
53504
ASTM D-412, DIN
100 % modulus 300 to 900 psi
53504
Tear Strength ASTM D-642, T Die 20 to 200 lbf/ft
ASTM D-5963, DIN
Abration Resistance 100 to 300 mm3
53516
0.15 to 0.4 ( x% strain/ 15
Dynamic Properties No Standard
Hz)
Resilience ASTM D-2632, D-1054 5 to 25 %
Compression set ( 70
ASTM D-395 20 to 60 %
hours at 100o C)
5.2.8. PCP Drive Head
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan PCP Drive Head
Plug G
Fungsi Alat:
Meneruskan tenaga dari prime
mover ke V-beltuntuk memutar
rod dan pompa ulir.
Cara pemasangan:
Drive head assembly yang
dipasang diatas wellhead terdiri
dari beberapa bagian, diantaranya
roda gigi bevel penurunan
kecepatan dan pengubah arah
putarannya, break assembly
sebagai alat pengaman, drive
shaft yang memutar rotor pompa
melalui rods string yang ujung
paling bawahnya dihubungkan
dengan rotor pompa.Stator
pompanya dihubungkan dengan
tubing produksi di permukaan.
Letaknya diatas well head yang
dilengkapi dengan well head
frame untuk disambungkan ke
well head.
Keterangan
- Spesifikasi :

Tabel V-8.
Spesifikasi PCP Drive Head

Prime Mover
Internal Combustion
Feature Electric
Engine
Speed
Hydraulics VFD None Hydraulics None
Control
Speed
High Moderate None High None
Turndown
Relatives
$$ $$$$ $ $$ $
Cost
Maintenance
Moderate Low Low HIgh Low
Requirement
4.2.9. Side Pocket Mandrel
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan Side Pocket Mandrel
Plug / Regu / Nama G

Fungsi Alat :
Sebagai tempat dudukan gas
lift valve. Sambungan tubing
dimana terdapat gas lift valve
tempat gas lift masuk ke dalam
tubing.

Spesifikasi Alat :
-) ID = 8 cm
-) OD = 8,5 cm
-) L = 131 cm

Cara Pemasangan :
-) Mekanisme penurunannya
ada dua, yaitu :
1. Retrievable Tubing
2. Retrievable Wireline.

Keterangan :
-) Alat ini sudah di setting di permukaan sebelum metode Gas Lift
dilaksanakan, saat gas lift diterapkan pada mandrel ini akan ditempatkan valve
gas lift.
4.2.10. Gas Lift Valve
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan Gas Lift Valve
Plug / Regu / Nama G

Fungsi Alat :
Penyalur gas injeksi dari
annulus ke dalam tubing.

Spesifikasi Alat :
- Length of Spring up to 2,6
- Length of Dome up to 3,8
- Length of valve up to 15,1

Cara Pemasangan :
- Tubing retrievable : dipasang
di permukaan.
- Wireline retrievable :
dipasang dibawah permukaan.

Keterangan :
- Valve awalnya terbuka akibat Tekanan hidrostatik killing fluid lebih besar dari
Tekanan di valve. Kemudian seiring waktu penginjeksian gas, killing fluid terproduksi
di permukaan dan valve akan tertutup.
4.2.11. Working Barrel
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan Working Barrel
Plug / Regu / Nama G
Fungsi Alat :
Menampung minyak sebelum
diangkat oleh plunger pada saat up
stroke.

Spesifikasi Alat :

Cara Pemasangan dan cara kerja :


Pada saat up stroke, ruangan antara
traveling valve dan standing valve
akan bertambah besar, akibatnya
tekanan turun. Tekanan turun, fluida
masuk memenuhi ruangan tersebut,
kemudian karena fluida yang masuk

(sumber :Guo Boyun, Petroleum memiliki massa, traveling valve

Production Engineering, 2007) terbebani oleh fluida dan tertutup


disusul dengan standing valve. Fluida
yang masuk melewati traveling valve
akan terakumulasi pada working
barrel.

Keterangan :
4.2.12. Gas Anchor
Acara Artificial Lift
Nama Peralatan Gas Anchor
Plug / Regu / Nama G
Fungsi Alat :
memisahkan gas dari cairan formasi
sebelum fluida masuk ke dalam
pompa.

Spesifikasi Alat :

Cara Pemasangan dan cara kerja :


Pada saat upstroke, apabila gas anchor
tidak dipasang fluida (cair dan gas)
akan masuk ke dalam ruang antara
standing valve dengan traveling valve.
Karena gas mudah terkompresi dan
terekspansi, maka gas dapat
menyebabkan problem seperti gas
(sumber :Brown Kermit, Artificial Lift lock. Akibatnya tidak ada fluida yang
Method Ed 2a, 1980) terproduksi ke permukaan. Oleh
karena itu gas anchor berfungsi untuk
memisahkan gas liquid.

Keterangan :
4.4. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini berjudul Metode Artificial Lift. Artificial Lift atau
sembur buatan, dapat diketahui sebagai metode produksi dalam suatu sumur
minyak yang telah mengalami penurunan tekanan agar minyak dapat tetap
diproduksi. Adapun tujuan praktikum kali ini agar kita mengerti definisi dari
Artificial Lift serta peralatan produksi yang digunakan pada metode produksi ini.
Sumur tua biasanya sudah tidak memiliki tekanan reservoir yang kuat
dikarenakan depletion yang terjadi, sehingga diperlukan langkah lebih lanjut seperti
metode sembur buatan dengan menggunakan tenaga bantuan agar tekanan alir
dalam sumur tetap bisa dipertahankan. Artificial Lift sendiri bertujuan untuk
mempertahankan tekanan produksi dari sumur yang berproduksi dalam kurun
waktu yang lama. Artificial Lift dalam definisinya adalah metode pengangkatan
fluida produksi dengan cara menginjeksikan atau memberi tenaga tambahan secara
tidak langsung ke reservoir namun ke dalam lubang sumur, dimana metode ini
berfungsi untuk meningkatkan jumlah produksi. Artificial Lift memiliki jenis
peralatan sebagai tenaga tambahan, diantaranya adalah pompa dan Gas Lift. Pompa
sendiri dapat dibagi menjadi 4 macam yaitu pompa angguk (Sucker Rod Pump),
Multistage Centrifugal Pump, Hydraulic Pump, dan Jet Pump. Sucker Rod Pump
adalah pompa mekanik yang bekerja dengan menggunakan tenaga dari Prime
Mover dimana pompa ini menggunakan prinsip kerja tekanan dari alat yang
bernama Plunger. Plunger ini merupakan again dari pompa yang di dalamnya
terdapat barrel yang bergerak naik turun berfungsi sebagai penghisap fluida dari
formasi, alat ini ditambahi bola besi pejal dan seat yang berfungsi sebagai pintu
masuk dari masuknya fluida agar masuk ke dalam barrel, dimana apabila plunger
bergerak turun, maka volume yang ada di dalam barrel bertambah dan tekanannya
turun, sehingga tekanan dari sumur yang tinggi akan membuat fluida masuk dan
mengisi barrel, setelah terisi kemudian diangkat ke permukaan menggunakan
tubing. Proses ini dilakukan berulang-ulang sehingga fluida produksi dapat
terangkat naik ke atas permukaan. Kemudian pompa Multistage Centrifugal Pump,
alat ini memiliki prinsip kerja gaya sentrifugal dengan sumbu putar yang tegak lurus
terhadap gaya sentrifugalnya. Alat ini menggunakan tenaga motor hidrolik yang
menghasilkan tenaga hidrolik dengan cara memutar cairan melalui jalur keluar
fluida. Jalur ini terbagai menjadi 2, yaitu Impeller dan Diffuser. Sebagaimana
dengan proses kerja dari alat ini, cairan masuk ke dalam impeller pompa menuruti
poros pompa lalu dikumpulkan dalam rumah pompa atau diffuser kemudian
dikeluarkan oleh impeller, tenaga mekanis motor diubah menjadi tenaga hidrolis.
Impeller terdiri dari dua piringan yang di dalamnya terdapat sudut, pada saat
impeller diputar dengan kecepatan sudut putar sebesar, , maka cairan dalam
impeller akan dilemparkan keluar. Dengan tenaga potensial dan kinetik tertentu
cairan yang tertampung dalam rumah pompa kemudian dialirkan melalui pipa
keluar (diffuser), dimana sebagian tenaga kinetik diubah menjadi tenaga potensial
berupa tekanan, karena cairan dilemparkan keluar maka terjadi proses penghisapan.
Kemudian jenis Artificial Lift yang kedua adalah Gas Lift. Gas Lift adalah
metode sembur buatan yang menggunakan peralatan angkat dengan menggunakan
gas sebagai media angkat yang diinjeksikan dengan tekanan tinggi (minimal 250
psi) yang dialirkan melalui valve-valve yang dipasang dan memiliki jarak spasi
yang telah ditentukan. Agar efektif, metode Gas Lift ini harus memiliki syarat agar
bekerja dengan baik, yaitu tersedianya gas yang memadai untuk diinjeksi baik dari
sumur itu sendiri ataupun bersumber dari tempat lain di lingkungan sekitar sumur
tersebut, kemudian fluid level reservoir yang masih tinggi, menandakan tekanan
reservoir masih cukup untuk mengalirkan fluida dan masih terdapatnya gas yang
terkandung dalam reservoir. Gas Lift sendiri berprinsip kerja dengan
menginjeksikan gas ke dalam tubing, maka kondisi tekanan dasar sumur (Pwf) akan
mengalami penambahan volume gas, sehingga GLR (gas liquid ratio) akan
bertambah dan membuat Pwf menurun. Dengan menurunnya besar dari Pwf, sesuai
dengan rumus laju alir produksi, maka akan membuat laju alir produksi sumur
meningkat yang berarti sumur berhasil berproduksi, dimana hal inilah yang menjadi
tujuan utama pemasangan dan penggunaan Artificial Lift. Gas Lift sendiri terbagai
menjadi dua jenis metode, yaitu metode continuous gas lift dan metode intermitten
gas lift. Continuous gas lift bekerja dengan cara menginjeksikan gas bertekanan
tinggi secara terus-menerus (continue) ke dalam annulus sumur melalui valve-valve
yang sudah terpasang pada tubing sehingga gas masuk ke dalam tubing. Sedangkan
intermittent gas lift bekerja dengan cara menginjeksikan gas bertekanan tinggi
dengan volume tertentu yang bernama slug, dalam jeda waktu tertentu yang telah
ditentukan, sehingga gas yang masuk ke dalam tubing secara bertahap, setelah
waktu berjalan dan gas mulai habis, dari permukaan kembali menginjeksikan gas
kembali dan terus dilakukan sehingga fluida produksi dapat terangkat ke
permukaan. Adapun metode ini bergantung kepada kondisi produksi sumur yang
dilihat berdasarkan data IPR (Inflow Performance Relationship) dari sumur
tersebut, dimana apabila IPR dari suatu sumur tinggi, maka continuous gas lift
merupakan metode yang tepat digunakan karena tekanan dasar sumur masih besar
dan membuat kemampuan sumur untuk berproduksi masih tinggi, sedangakan
apabila IPR dari suatu sumur rendah, maka intermittent gas lift dapat digunakan
agar fluida yang masih ada di dalam reservoir dapat naik ke permukaan.
Desain artificial lift juga tergantung tipe komplesi, apakah dengan open hole
atau menggunakan interval perforasi. Pertimbangan utama adalah inflow
performace. Pada open hole, caving dan problem pasir dapat mengurangi inflow
performance. Pada interval perforasi, penyumbatan lubang perforasi menurunkan
inflow performance.. Sebagai contoh apakah tersedia gas atau tidak apabila
nantinya metode artificial lift yang akan dipasang adalah gas lift, bila ada maka
tubing dikomplesi dengan menambah side pocket mandrel sebagai tempat valve gas
lift. Bila tidak ada gas, bisa juga menggunakan compressor, tetapi harga sebuah
compressor sangat mahal sehingga perlu diperhitungkan secara matang pemilihan
metode artificial lift yang akan digunakan.