Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akad perkawinan dalam islam bukanlah perkara perdata semata, melainkan
ikatan suci antara seorang laki-laki dan wanita (misaqan galiza) yang terkait
keyakinan dan keimanan insan manusia kepada Allah SWT. Dengan demikian ada
dimensi ibadah yang terkandung dalam suatu rangkain perkawinan. Untuk itu
perkawinan harrus dijaga degan baik sehingga bisa abadi dan apa yang menjadi
tujuan perkawinan yang menjadi keluarga sakianah, mawaddah warokhmah.
Namun sering kali apa yang hakikinya menjadi tujuan perkawinan tersebut
kandas di tengah perjalanan. Putusnya sebuah pwerkawinan itu sebenarnya wajar-
wajar saja. Konsekuensi lepasnya sebuah akad pernikahan adalah talak. Makna
dasar dari talak adalah melepaskan perjanjian.
Islam mendorong terwujudnya perkawinan yang bahagia dan kekal dan
menghindarkan dari perceraian (talak). Dapat dikatakan, pada prinsipnya islam
tidak memberi peluang untuk terjadinya perceraian kecuali pada hal-hal yang
darurat yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga.
Jelas bahwasannya talak merupakan suatu institusi yang digunakan untuk
melepaskan sebuah ikatan perceraian.Sesungguhnya perbuatan mubah tapi dibenci
Allah SWT adalah talaq. Dengan demikian putusnya perkawinan telah diatur
dalam fiqih maupun dalam UUP (Undang-undang Perkawinan)
Perceraian tidak bisa dipisahkan dari perkawinan, tak ada perceraian tanpa
diawali perkawinan. maka perceraian merupakan jalan keluar (way out) terakhir
yang mesti ditempuh. Perceraian tidak dapat dilakukan kecuali telah ada alasan-
alasan yang dibenarkan oleh agama dan undang-undang
Dalam hukum Islam, alasan-alasan perceraian itu mengalami
perkembangan sesuai dengan keadaan sosial yang melingkupi hukum tersebut.
Karena itu, dalam makalah ini, penulis berupaya menyoroti dan memaparkan

1
alasan-alasan perceraian, terjadinya iddah dan rujuk Perspektif hukum Islam
dalam pengembangan hukum nasional di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Perceraian ?
2. Bagaimana prosedur dan akibat hukumnya ?
3. Apa pengertian dari iddah dan rujuk ?
4. Bagaimana prosedur dan akibat hukumnya ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk Mengetahui pengertian dari Perceraian.
2. Untuk Mengetahui prosedur dan akibat hukumnya.
3. Untuk Mengetahui pengertian dari iddah dan rujuk.
4. Untuk Mengetahui prosedur dan akibat hukumnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian dari Perceraian


Perceraian merupakan bagian dari pernikahan, sebab tidak ada perceraian
tanpa diawali pernikahan terlebih dahulu. Pernikahan merupakan awal dari hidup
bersama antara seorang pria dan seorang wanita yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku pembentukan peradaban.
Dalam prespektif fiqih. Perkawinan dalam islam tidak boleh dipandang
sebagai sakremen yang sama dengan pernikahan di agama Hindu dan Kristen,
sehingga tidak dapat diputuskan. Ikatan pernikahan harus dipandang dengan
alamiah yang bisa bertahan sampai ajal menjemput diantara keduanya dan terpisah
di tengah jalan1.
Menurut imam Malik sebab-sebab putusnya perkawinan adalah talak 2 ,
khulu3, khiyar/fasakh4, syiqah5, nusyu6z, ila dan zihar7. Sedangkan menurut imam
Syafii sebab-seba putusnya perkawinan adalah adalah talak, khulu, khiyar, fasakh,
syiqah, nusyuz, ila, zihar, dan lian.8
pada prinsipnya islam tidak memberi peluang untuk terjadinya perceraian
kecuali pada hal-hal yang darurat yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

1
Amir Nurudin dan Azhari Tarigan Akamal, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta:
: Kencana Group, 2004), h. 207
2
Talak adalah melepaskan perjanjian
3
Khuluadalah perceraian atas persetujuan suami-isteri dengan jatuhnya talak satu dari
suami kepada isteri dengan tebusan harta atau uang
4
Khiyar/fasakh adalah merusakkan atau membatalkan
5
Syiqah adalah perselisihan suami-isteri yang diselesaikan dua orang hakam
6
Ila adalah suami bersumpah untuk tidak mencampuri isterinya
7
Zihar adalah seorang suami yang bersumpah bahwa isterinya itu baginya sama dengan
punggung ibunya.
8
Lian adalah sumpah yang di dalamnya terdapat pernyataan bersedia menerima laknat
Tuhan apabila yang mengucapkan sumpah itu berdusta.

3
Setidaknya ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam kehidupan rumah
tangga yang dapat memicu terjadinya perceraian yaitu9 :
1. Terjadinya nusyuz dari pihak istri
Nusyuz bermakna kedurhakaan yang dilakukan istri kepada suami yang
bisa berupa sebuah penyelewengan, pelanggaran perintah dan hal-hal yang
mampu merusak keharmonisan dalam rumah tangga. Di jelaskan dalam
potongan surah an-Nisa ayat ke 3 yang artinya :
wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka
nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur
mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka
mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi
Maha besar.
Dari penjelasan ayat surah an-Nisa 4/43 di atas dapat kita tarik
sebuah opsi sebagai berikut :
a. Istri diberi nasihat dengan cara yang maruf agar ia segera sadar terhadap
kesalahannya.
b. Pisah ranjang, merupakan pelajaran bagi istri dalam hal psikologis agar
istri dapat melakukan koreksi diri.
c. Apabila dengan kedua opsi diatas tidak berhasil maka jalan trakhir
dengan cara memberi hukuman fisik seperti pukulan dengan catatan tidak
membahayakan istriseperti betisnya.

2. Nusyuz suami terhadap pihak istri


Nusyuznya seorang suami terjadi dalam bentuk kelalaian dalam memenuhi
keawajibannya terhadap istri, baik nafkah lahir maupun batin.

3. Terjadinya syiqaq

9
Amir Nurudin dan Azhari Tarigan Akamal , Hukum Perdata Islam di Indonesia, Hal. 209-
213

4
Syiqaq adalah percekcokan yang terjadi antara suami dan istri yang sering
disebabkan oleh faktor ekonomi sehingga keduanya sering bertengkar.
Diperjelas dalam UU No. 7 Tahun 1989 bahwa syiqah adalah perselisishan
yang tajam antara suami dan istri.

4. Salah satu pihak melakukan perbuatan zina (fahisyah)

Dalam prespektif UU No 1/1974 perkawinan adalah membentuk keluarga


yang bahagia, kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa namun dalam realitanya
perkawinan kandas di tengah jalan yang menyebabkan perceraian. Dalam pasal 38
UUP dinyatakan bahwa :
Perkawinan dapat putus karena, a. Kematian, b. Perceraian dan c, atas
keputusan Pengadilan.
Realitanya dalam kehidupan masyarakat khususnya Tenaga Kerja Indonesia
(TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di indonesia banyak terjadi putusnya
perkawinan dengan keputusan pengadilan. Disebabkab oleh kepergian salah satu
pihak tanpa kabar berita untuk jangka waktu yang lama. Merujuk dalam hukum
perdata pada pasal 493 ada dinyatakan :
Apabila, selain terjadinya meninggalkan tempat tinggal dengan
sengaja, seorang diantara suami istri selama genap sepuluh tahun
telah tidak hadir dalam temmpat tinggalnya, sedangkan kabar
tentang hidup atau matinyapun tak pernah diperolehnya, maka si
istri atau suami yang ditinggalkannya, atas izin pengadilan negeri
tempat tinggal suami istri bersama berhak memanggil pihak yang
tidak hadir tadi dengan iga kali panggilan umum berturut-turut
dngan cara seperti teratur dalam pasal 467 dan 46810.

Dalam Prespektif Kompilasi Hukum Islam (KHI). Perceraian mengikuti


alur yang digunakan UUP dan menggunakan aturan-aturan yang lebih rinci.

10
Subekti dan Tjitrosudibio, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Jakarta: PT. Pradnya
Paramita, 2009), h.153

5
Perkawinan dapat putus disebabkan perceraian pada pasl 114 yang membagi
perceraian menjadi dua bagian, perceraian yang disebabkan talak dan perceraian
yang disebabkan oleh gugatan perceraian.

1. Perceraian dikarenakan talak.


Berkenaan dengan pembagian talak. KHI membagi talak menjadi 3 bentuk
yaitu talak raji, talak bain sughra, dan talak bain kubro. Seperti yang
terkandung dalam pasal 118 dan 11911.
talak raji adalah talak yang boleh dirujuk kembali oleh mantan suaminya
selama masa iddah, atau sebelum masa idahnya berakhir. (pasal 119) Firman
alloh dalam surah al-bakarah ayat 229 "Talak (yang dapat dirujuk adalah 2
kali,setelah itu boleh rujuk/mencerainya dengan cara baik-baik pula)
talak bain sughra adalah adalah menghilangkan pemilikan mantan suami
terhadap mantan istrinya tetapi tidak menghilangkan kebolehan mantan suami
untuk rujuk dengan memperbaharui akad nikah (pasal 119 ayat 2) dan talak
bain kubra (pasal 120) adalah talak tiga, mantan suami tidak boleh rujuk
kembali kecuali jika mantan istrinya pernah menikah lagi.
Disamping pembagian diatas dikenal juga pembagian talak ditinjau dari
segi waktu menjatuhkannya dalam talak sunni dan bidi :
talak sunni (pasal 121 KHI) adalahtalak yang dijatuhkan terhadap istri
yang sedang suci dan tidak dicampuri dalam waktu suci tesebut. dan talak bidi
seperti termuat dalam pasal 122 adalah talak yang dilarang karena dijatuhkan
pada waktu istri dalam keadaan suci dan sudah dicampuri pada waktu suci
tersebut.

2. perceraian yang disebabkan oleh gugatan12.


a. Permohonan cerai talak karena istri melalaikan kewajiban (UU No. 1/1974
pasal 34 ayat 3)

11
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan
Kompilasi Hukum Islam, (Bandung : citra umbara, 2013), h. 358
12
Amir Nurudin dan Azhari Tarigan Akamal, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 225-
228

6
b. Permohonan cerai talak karena istri berbuat zina atau pemadat (PP No.
9/1975 pasal 19 huruf a)
c. Permohonan cerai talak karena istri meninggalkan suami dalam selam 2
tahun berturut-turut tanpa izin dan tanpa alasan yang sah. (PP No. 9/1975
pasal 19 huruf b)
d. Permohonan cerai talak karena istri mendapat hukuman penjara 5 tahun
atau lebih (PP No. 9/1975 pasal 19 huruf c)
e. Permohonan cerai talak karena pihak suami/istri melakukan kekejaman
atau penganiyayan berat yang membahayakan pihak lain. (PP No. 9/1975
pasal 19 huruf d)
f. Permohonan cerai talak karena istri mendapat cacat badan atau penyakit
akibat tidak dapat menjalankan kewajiaban seorang istri. (PP No. 9/1975
pasal 19 huruf e)
g. Permohonan cerai talak karena terus menerus terjadi perselisishan dan
pertengkaran. (PP No. 9/1975 pasal 19 huruf f)
h. Permohonan cerai talak karena istri murtad. (KHI Pasal 16 huruf h)
i. Permohonan cerai talak karena syiqaq. (PP No. 9/1975 pasal 76)
j. Permohonan cerai talak karena lian. (UU No. 7/1989 pasal 87 ayat 1)

B. Prosedur dan akibat hukumnya


1. Prosedur Cerai
Tata cara perceraian (prosedur) pengajuan permohonan dan gugatan
perceraian merujuk pada Pasal 118 HIR dan bila dilihat dari subjek hukum atau
pelaku yang mengawali terjadinya perceraian dapat dibagi dalam dua aspek,
yaitu sebagai berikut.
a. Tata cara Cerai Talak (Suami yang Bermohon untuk Bercerai)
Apabila suami yang mengajukan permohonan ke pengadilan untuk
menceraikan istrinya, kemudian istrinya menyetujuinya disebut cerai
talak. Hal ini diatur dalam pasal 66 UUPA. Sesudah permohonan cerai
talak diajukan ke Pengadilan Agama, pengadilan Agama melakukan

7
pemeriksaan mengenai alasan-alasan yang menjadi dasar diajukannya
permohonan tersebut.
b. Cerai Gugat (Istri yang Bermohon untuk Bercerai)
Cerai gugat adalah ikatan perkawinan yang putus sebagai akibat
permohonan yang diajukan oleh istri ke Pengadilan Agama, yang
kemudian termohon (suami) menyetujuinya, sehingga pengadilan agama
mengabulkan permohonan dimaksud. Cerai gugat diatur dalam pasal 73
UUPA. Mengenai alasan perceraian dan alat bukti untuk mengajukan
gugatan diatur dalam pasal 74, 75, dan 76 UUPA dan Pasal 133, 134, dan
135 KHI.
Gugatan tersebut gugur apabila suami atau istri meninggal sebelum
adanya putusan pengadilan mengenai gugatan perceraian itu. Namun, bila
terjadi perdamaian, tidak dapat diajukan gugatan perceraian baru
berdasarkan alasan yang ada dan telah diketahui oleh penggugat sebelum
perdamaian tercapai.

2. Akibat Hukum putusnya perkawinan karena perceraian ialah13 :


a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-
anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak; bilamana ada
perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi
keputusannya;
b. Bapak yang bertanggung-jawab atas semua biaya pemeliharaan dan
pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan
tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan
bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut;
c. pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan
biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas
isteri.

13
Amir Nurudin dan Azhari Tarigan Akamal, Hukum Perdata Islam di Indonesia,
h.219

8
C. Pengertian dari Iddah dan Rujuk
1. Iddah
a. Pengertian Iddah
Kata iddah berasal dari kata idad dalam bahasa arab yang berarti
bilangan atau hitungan. Dan, dalam istilah fiqih berarti masa menunggu
yang harus dijalani seorang mantan istri yang ditalak atau ditinggal mati
oleh suaminya, sebelum ia dibolehkan menikah kembali.14. Iddah adalah
jangka waktu yang ditetapkan syara setelah perceraian. Iddah merupakan
jangka waktu saat wanita yang telah ditalak tidak boleh melakukan
pernikahan sampai jangka waktu tersebut berakhir.
Bagi seorang istri yang putus perkawinannya dari suaminya, berlaku
baginya waktu tunggu (masa iddah), kecuali apabila seorang istri dicerai
suaminya sebelum berhubungan (qabla al-dukhul), baik karena kematian,
perceraian, atau atas keputusan pengadilan. Dalam undang-undang Nomor
1 Tahun 1974 tentang perkawinan dituangkan dalam pasal 11:
1) Bagi seorang wanita yang putus perkawinannya berlaku jangka waktu
tunggu.
2) Tenggang waktu jangka waktu tunggu tersebut ayat (1) akan diatur
dalam peraturan pemerintah lebih lanjut.
Dalam peraturan pemerintah nomor 9 tahun 1975, masalah ini
dijelaskan dalam Bab VII Pasal 39. Sementara dalam kompilasi hukum
islam dijelaskan pada Pasal 153, 154, dan 155. Pada pasal 153 ayat (1)
kompilasi menyatakan: bagi seorang istri yang putus perkawinannya
berlaku waktu tunggu atau iddah, kecuali qabla al-dukhul dan
perkawinannya putus bukan karena kematian suami. (lihat pasal 39 PP
Nomor 9 tahun 1975). Dasarnya, firman Allah dalam surat Al-Ahzab
[33]:49: Hai orang-orang yang beriman, apa bila kamu menikahi
perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu menceraikan
mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas

Muhammad Baqir, Fiqih Praktis II (menurut Al-quran, As-sunnah, dan Pendapat


14

para Ulama) buku kedua (seputar pernikahan dan warisa), 2008, h. 221

9
mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya, maka
berilah mereka mutah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara sebaik-
baiknya.15
iddah, yaitu masa menanti yang diwajibkan atas perempuan agar
diketahui kandungannya berisi atau tidak. iddah dapat terjadi kadangkala
dengan melahirkan, dan dengan beberapa bulan, atau quru pada yang
lain.16

b. Macam- Macam Iddah


Adapun macam-macam waktu tunggu atau masa iddah dapat
dijelaskan sebagai berikut:

1) Putusnya perkawinan karena ditinggal mati suami


Pasal 39 ayat (1) huruf a PP No. 9/1975 menjelaskan: apa bila
perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu ditetapkan 130
(seratus tiga puluh) hari. Ketentuan dalam kompilasi diatur dalam
pasal 153 ayat (2) huruf a. bedanya dalam kompilasi merincinya, yaitu
walaupun qabla al-dukhul. Ini berdasarkan pada QS Al-Baqarah
[2]:234: Artinya: orang-orang yang meninggal dunia diantara kamu
dengan meninggalkan istri-istri (hendak para istri itu) menangguhkan
dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.
Ketentuan tersebut diatas berlaku bagi istri yang ditinggal mati
suaminya dalam keadaan tidak hamil. Apabila istri tersebut dalam
keadaan hamil, maka waktu tunggu bagi mereka adalah sampai ia
melahirkan (Ps. 39 ayat (1) huruf c PP, dan Ps. 153 ayat (2) huruf d
KHI).
Persoalannya adalah apabila istri yang ditinggal mati suami
dalam keadaan hamil, melahirkan dalam waktu tidak sampai (4 bulan

15
Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Ed Revisi, (Jakarta:Rajawali Pers,
2013), h. 245-246
16
Imam Taqiyuddin Abubakar bin Muhammad Alhusaini, Kifayatul Akhyar (kelengkapan
orang shaleh) bgn k-2, (Surabaya: Bima Iman, 2003), h. 256

10
10 hari). Mayoritas (Jumhur) Ulama, menurut Ibn Rusyd17 berpendapat
bahwa masa iddah wanita tersebut adalah sampai melahirkan,
meskipun selisi waktu kematian suami hingga ia melahirkan hanya
setengah bulan, atau kurang dari 130 hari. Berbeda pendapat Mayoritas
Ulama tersebut, Imam Malik dan Ibn Abbas. Menurut Malik, masa
Iddah wanita tersebut diambil waktu yang terlama dari dua jenis iddah
tersebut, apakah 130 hari atau melahirkan. Ali Ibn Abu Thalib
sependapat dengan Malik tersebut.18
Seandainya suami menceraikan istrinya dengan talak Rajyi (talak
yang masih memungkinkan rujuk) tetapi kemudian meninggal dunia
sementara si istri masih menjalani Iddah-Nya, maka Iddah si istri
berubah menjadi Iddah kematian, yaitu (4 bulan 10 hari (hitung sejak
saat wafat mantan suaminya itu). Ini mengingat bahwa si istri pada saat
itu kematian suaminya masih tetap dianggap sebagai istrinya yang sah,
dan yang karenanya tetap menjadi salah seorang ahli warisnya juga.
Lain halnya jika ia sedang menjalani masa Iddah dari talak Bain (talak
yang tidak mungkin dirujuk lagi) maka Iddahnya tetap tiga kali masa
suci, dan tidak berubah menjadi Iddah kematian. Ini mengingat bahwa
sejak dijatuhkannya talak Bain, ia bukan lagi status istri yang sah dari
mantan suami yang kini meninggal dunia.19

2) Putus perkawinan karena perceraian


Istri yang dicerai oleh suaminya ada beberapa kemungkinan waktu
tunggu sebagai berikut:
a) Dalam keadaan hamil

17
Ibn Rusyd, Bidayah Al-Mujtahid juz 2, (semarang: Usaha Keluarga, tt.), h. 72.
18
Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia. (eds revisi), h. 146-147
19
Muhammad Baqir, Fiqih Praktis II (menurut al-quran, as-sunnah, dan pendapat para
ulama), h. 224

11
Apabila istri dicerai suaminya dalam keadaan hamil maka
Iddah-Nya sampai ia melahirkan kandungannya ( QS Al-Thalaq
[65]:4 jo. Ps. 39 ayat (1) huruf c PP, jo. Ps. 153 KHI).20
b) Dalam keadaan tidak Hamil

1) Apabila istri dicerai sebelum terjadi hubungan kelamin, maka


tidak berlaku masa iddah baginya (QS Al-Ahzab [33]:49).
2) Apabila ia dicerai suaminya setelah terjadi hubungan kelamin
(dukhul)

Bagi yang masih datang bulan, waktu tunggunya di tetapkan


(3) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 hari (Ps. 39 ayat
(1) b. PP, jo, Ps, 153 ayat (2) huruf b KHI).
Bagi yang tidak atau belum berdatang bulan masa iddahnya
tiga bulan atau 90 hari. (Ps. 39 ayat (1) huruf b. PP. jo. Ps.
153 ayat (2) huruf b KHI). Terdapa dalam QS. Al-Thalaq
[65]:4: dan perempuan-perempuan yang putus asa dari
haid di antara perempuan-perempuan jika kamu ragu-ragu
(tentang masa iddah-Nya) maka iddah mereka adalah 3
bulan, dan begitu pula perempuan-perempuan yang tidak
haid.
Bagi istri yang pernah haid sedang pada waktu menjalani
iddah tidak haid karena menyusui maka iddahnya tiga (3)
kali waktu suci (Ps. 153 ayat (5) KHI)
Dalam keadaan pada ayat (5) tersebut bukan karena
menyusui, maka iddahnya selama satu tahun, akan tetapi
bila dalam waktu satu tahun tersebut ia berhaid kembali,
maka iddahnya menjadi tiga kali suci.21
Perempuan dalam keadaan iddah Bain yang tidak sedang
mengandung, baik talak tebus (khuluk) atau talak tiga, hanya

Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, h. 248


20
21
Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, h. 248

12
berhak memperoleh tempat tinggal. Demikian itu menurut
pendapat Malik dan Syafii. sedangkan menurut Abu Hanifah, ia
berhak memperoleh nafkah dan tempat tinggal selama masa
iddahnya, sama seperti dalam iddah akibat talak Rajyi,
mengingat bahwa ia diharuskan menjalani masa iddahnya
dirumah yang menjadi tempat tinggalnya pada saat masih
berlangsungnya ikatan perkawinan dengan mantan suaminya.22

3) Putus perkawinan karena Khulu, fasakh, dan lian


Waktu iddah bagi janda yang putus perkawinannya karena
khulu (cerai gugat atas dasar tebusan atau iwadl dari istri), fasakh
(putus perkawinan misalnya karena salah satu murtad atau sebab lain
yang seharusnya dia tidak dibenarkan kawin), atau lian, maka waktu
tunggu berlaku seperti iddah Karenna talak.

4) Istri ditalak raji kemudian ditinggal mati suami dalam situasi Iddah
Apabila istri ditalak RajI kemudian dalam waktu iddah
sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (2) huruf b, ayat (5) dan ayat
(6) pasal 153 KHI ditinggal mati oleh suaminya, maka iddahnya
berubah menjadi (4 bulan/130 hari) terhitung saat wafat suaminya.

Jadi dalam hal ini, masa iddhanya yang telah dilalui pada saat
suaminya masih hidup tidak dihitung, akan tetapi dihitung dari saat
kematian. Sebab keberadaan istri yang dicerai selama menjalani masa
iddah, dianggap masih terikat dalam perkawinan, karena memang
bekas suaminya itulah yang berhal untuk merujuknya, selama masih
dalam masa iddah.
Suami menemui istrinya yang sedang menjalani masa iddah,
menurut pendapat Abu Hanifah r.a., tidak ada salahnya bagi seorang
perempuan yang menjalani masa iddah akibat talak Rajyi (iddah

22
Muhammad Baqir. Fiqih Praktis II, (menurut al-quran, as-sunnah, dan pendapat para
ulama), h. 225

13
yang masih memungkinkan rujuk dengan suaminya) untuk berdandan
bagi suaminya, memakai wangi-wangian dan perhiasan seperti kalung,
gelang, dan sebagainya, juga pakaian yang bagus-bagus, meski dengan
catatan bahwa suaminya tidak dibenarkan menemuianya secara tiba-
tiba, melaikan dengan cara sedemikian sehingga membuat si istri
mengertahui kedatangannya. Misalnya dengan ucapan salam atau
gerakan tertentu (berdehem dan sebagainya).
Demikian pula beberapa pengikut mazhab SyafiI r.a. menyatakan
bahwa seorang perempuan yang sedang menjalani masa iddah akibat
talak Rajyi, sebaiknya berhias bagi suaminya sedemikian rupa
sehingga muda-mudahan dapat mendorong terjadinya rujukan diantara
mereka.

c. Tenggang waktu hitungan masa iddah


Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu bahwa salah satu prinsip
atau asas yang telah ditekankan dalam hukum perkawinan Islam di
Indonesia adalah mempersulit terjadinya perceraian, maka perceraian hanya
dapat dilakukan didepan sidang pengadilan agama setelah pengadilan
agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak
(Ps. 115 KHI), oleh karena itu, tenggang waktu tunggu dijatuhkan pada saat
putusan pengdilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, sedangkan
bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggangan waktu tunggu
dihitung saat kematian suami (Ps. 39 ayat (3) PP. jo. Ps. 153 ayat (4) KHI).
Ketentuan hukum tentang tenggang waktu hitungan waktu tunggu
(iddah) tersebut adalah sebagai idealitas hukum. Dalam kenyataannya,
memungkinkan timbulnya persoalan, yaitu apabila karena factor emosi
yang tidak terkendali, sehingga seorang suami dengan sangat gampang
mengucapkan talak atau menceraikan istrinya, dan diperburuk oleh
kekurangtahuan tentang prosedur perceraian dipengadilan, sehingga ia tidak
dapat menahan diri dalam mencerai istrinya didepan sidang pengadilan, dan
mengucap talak pada waktu itu juga, maka sejak saat itu terjadi perceraian.

14
2. Rujuk
a. Pengertian Rujuk
berasal dari bahasa Arab rajah yang berarti kembali. Yang dimaksud
disini adalah kembali hidup bersuami istri antara laki-laki dan perempuan
yang melakukan perceraian dengan jalan talak raji selama masih dalam
masa iddah tanpa akad nikah baru.23
Hak rujuk itu berada pada pihak suami sebagai imbangan hak talak
yang dipunyainya. 24 Dengan demikian rujuk itu lebih tepat dinamakan
melanjutkan atau mengukuhkan kehidupan perkawinan yang sempat
berhenti. Pada rujuk menurut yang disepakati oleh ulama, rujuk tidak
memerlukan wali untuk mengakadkannya, tidak perlu dihadiri oleh saksi
dan tidak perlu pula mahar. Dengan demikian pelaksanaan rujuk lebih
sederhana dibandingkan dengan perkawinan.

b. Hukum dan dasar rujuk


Pada asalnya hukum ruju' adalah jaiz (boleh), tetapi bisa menjadi
haram, makruh, sunnah dan wajib sesuai dengan tujuan rujuk itu dilakukan.
Adapun hukum-hukum tersebut, yaitu :
1) Haram, jika percerailah lebih baik daripada ruju'.
2) Makruh, bila diperkirakan justru merugikan bila dilakukan ruju'.
3) Sunnat, bila diperkirakan ruju' lebih baik dan bermanfaat daripada tetap
cerai, dan bagi suami yang menthalaq istrinya dengan thalaq bain.
4) Wajib, khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu, jika salah
seorang istrinya dithalaq sebelum gilirannya disempurnakannya.
Menurut pendapat lain, hukum rujuk itu sama halnya dengan hukum
perkawinan, dalam mendudukkan hukum asal dari rujuk itu ulamak
berbedda pendapat. Jamhur ulamak mengatakan bahwa rujuk itu adalah

23
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 99
24
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 100

15
sunat. Dalil yang di gunakan adalah firman allah dalam surat al-Baqarah
ayat 228:



Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti
itu (masaiddah), jika mereka (para suami) menghendaki ishlah

c. Rukun dan syarat rujuk


Adapun rukun dan syarat rujuk sebagai berikut25, yaitu:
1) Suami yang meruju' dengan syarat berakal, baligh dan tidak dipaksa.
2) Istri yang diruju' dengan syarat sudah dikumpulinya dengan keadaan
thalaq raj'I dan masih dalam waktu 'iddah.
3) Shignat (ucapan) ada dua yaitu :
4) Sharih (jelas) seperti : "aku ruju' engkau". "Aku terima terima kembali
kepada engkau".
5) Kinayah (tidak jelas) misalnya : "aku nikahi engkau. Ruju' dengan
ucapan kinayah memerlukan niat, yaitu apabila ia tidak niat maka
tidak sah ruju' itu. Disyaratkan ucapan ruju' itu tidak beta'liq
(digantungkan), misalnya "aku ruju' engkau bila engkau mau". Ruju'
semacam ini tidak sah walaupun istrinya mau. Ruju' yang dibatasi
waktunya juuga tidak sah, misalnya : "aku ruju' engkau sebulan".
6) Saksi. Saksi dalam ruju' itu diperluka, yaitu dua orang yang adil.
Firman Allah Q.S. ath Thalaq : 2, yang artinya Apabila mereka Telah
mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau
lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan
kesaksian itu Karena Allah
D. Prosedur dan Akibat Hukumnya
Pelaksanaan rujuk di Indonesia telah diatur amat rapi dalam Pengaturan
Menteri Agama Nomor 3 tahun 1975 tentang Kewajiban Pegawai Pencatat Nikah

25
Ali Yusuf As-Subki, Fiqh Keluarga, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), h. 365

16
dan Tata Kerja Pengadilan Agama, Bab XI pasal 32, 33, 34. Peraturan Menteri
Agama tersebut antara lain menentukan bahwa rujuk dilakukan dengan persetujuan
istri di hadapan Pegawai Pencatat Nikah atau P3 NTR. Dari ketentuan ini saja,
menurut hukum yang berlaku di negara kita, rujuk harus dilakukan secara lisan oleh
suami dengan persetujuan istri di hadapan saksi-saksi yang terdiri dari Pegawai
Pencatat Nikagh atau P3 NTR.26
Pasal 167 KHI27 :
1. Suami yang hendak merujuk istrinya datang bersama-sama istrinya ke
Pegawai Pencatat Nikah yang mewilayahi tempat tinggal suami istri dengan
membawa penetapan tentang terjadinya talak dan suratketerangan lain yang
diperlukan.
2. Rujuk dilakukan dengan persetujuan istri dihadapan Pegawai Pencatat
Nikah atau Pembantu Pencatat Nikah.
3. Pegawai Pencatat Nikah atau Pembantu Pegawai Pencatat Nikah memeriksa
dan menyelidiki apakah suami yang akan merujuk itu memenuhi syarat-
syarat merujuk menurut hokum munakahat, apakah rujuk yang akan
dilakukan itu masih dalam masa iddah talak raj'I, apakah perempuan yang
akan dirujuk itu adalah istrinya.
4. Setelah itu suami mengucapkan rujuknya dan masing-masing yang
bersangkutan beserta saksi-saksi menandatangani Buku Pendaftaran Rujuk.
5. Setelah rujuk itu dilaksanakan, Pegawai Pencatat Nikah atau Pembantu
Pegawai Pencatat Nikah menasehati suami istri tentang hukum-hukum dan
kewajiban mereka yang berhubungan dengan rujuk.28

Pasal 168 KHI29 :


1. Dalam hal rujuk yang dilakukan di hadapan Pembantu Pegawai Pencatat
Nikah, daftar rujuk dibuat rangkap 2 (dua), diisi dan ditandatangani oleh

26
Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, (Yogyakarta: UII Press, 2000), h. 100
27
MA-RI, Kompilasi Hukum Islam, (Bandung: Citra Umbara: 2003), h.286
28
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media,
2009), h.235
29
MA-RI, Kompilasi Hukum Islam, h.288

17
masing-masing yang bersangkutan beserat saksi-saksi, sehelai dikirim
kepada Pegawai Pencatat Nikah yang mewilayahinya, disertai surat-surat
keterangan yang diperlukan untuk dicatat dalam Buku Pendaftaran Rujuk
dan yang lain disimpan.
2. Pengiriman lembar pertama dari daftar rujuk oleh Pembantu Pegawai
Pencatat Nikah dilakukan selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari sesudah
rujukk itu dilakukan.
3. Apabila pertama dari daftar rujuk itu hilang, maka pembantu pegawai
pencatat nikah membuatkan salinan dari daftar lembar kedua, dengan berita
acara tentang sebab-sebab hilangnya.
4. Apabila lembar pertama dari daftar rujuk hilang, maka Pembantu Pegawai
Pencatat Nikah membuatkan salinan dari daftar lembar kedua, dengan berita
acara tentang sebab-sebab hilangnya.

Pasal 169 KHI30 :


1. Pegawai Pencatat Nikah membuat surat keterangan tentang terjadinya rujuk
dan mengirimkannya kepada Pengadilan Agama ditempat berlangsungnya
talak yang bersangkutan, dan kepada suami dan istri masing-masing
diberikan kutipan Buku Pendafatan Rujuk menurut contoh yang ditetapkan
oleh Menteri Agama.
2. Suami istri atau kuasanya dengan membawa Kutipan Buku Pendaftaran
Rujuk tersebut datang ke Pengadilan Agama ditemppat berlangsungnya
talak dahulu untuk mengurus dan mengambil Kutipan Akta Nikah masing-
masing yang bersangkutan setelah diberi catatan oleh Pengadilan Agama
dalam ruang yang telah tersedia pada Kutipan bahwa yang bersangkutan
telah rujuk.
3. Catatan yang dimaksud ayat (2), berisi tempat terjadinya rujuk diikrarkan,
nomor dan tanggal Kutipan Buku Pendaftaran Rujuk, dan tanda tangan
Panitera.31

30
MA-RI, Kompilasi Hukum Islam, h.289
31
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h.246

18
Adapun akibat adanya hukum rujuk ini, yaitu :
1. Dapat menyambung semula hubungan suami isteri untuk kepentingan
kerukunan numah tangga
2. Membolehkan seseorang berusaha untuk rujuk meskipun telah berlaku
perceraian.
3. Rujuk dapat mengekalkan pernikahan dengan cara sederhana tanpa melalui
akad nikah baru, setelah terjadi perceraian antara suami dan isteri.
4. Rujuk merupakan sarana untuk menyatukan kembali hubungan antara suami
isteri dengan cara ringan dari segi biaya, waktu, maupun tenaga atau pikiran.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

19
Tata cara perceraian (prosedur) pengajuan permohonan dan gugatan
perceraian merujuk pada Pasal 118 HIR dan bila dilihat dari subjek hukum atau
pelaku yang mengawali terjadinya perceraian dapat dibagi dalam dua aspek, yaitu
sebagai berikut.
a. Tata cara Cerai Talak (Suami yang Bermohon untuk Bercerai)
b. Cerai Gugat (Istri yang Bermohon untuk Bercerai)

Iddah merupakan jangka waktu saat wanita yang telah ditalak tidak boleh
melakukan pernikahan sampai jangka waktu tersebut berakhir. Bagi seorang istri
yang putus perkawinannya dari suaminya, berlaku baginya waktu tunggu (masa
iddah), kecuali apabila seorang istri dicerai suaminya sebelum berhubungan (qabla
al-dukhul), baik karena kematian, perceraian, atau atas keputusan pengadilan.
Dalam undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dituangkan dalam
pasal 11.
Rujuk adalah kembali hidup bersuami istri antara laki-laki dan perempuan
yang melakukan perceraian dengan jalan talak raji selama masih dalam masa iddah
tanpa akad nikah baru. Hak rujuk itu berada pada pihak suami sebagai imbangan
hak talak yang dipunyainya.
Pelaksanaan rujuk di Indonesia telah diatur amat rapi dalam Pengaturan
Menteri Agama Nomor 3 tahun 1975 tentang Kewajiban Pegawai Pencatat Nikah
dan Tata Kerja Pengadilan Agama, Bab XI pasal 32, 33, 34.

B. Saran
Dalam pembuatan dan pembahasan makalah ini, tentulah jauh dari
kesempurnaan, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT semata. Maka dari
itu kritik dan saran yang mendukung dari pembaca sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah yang kami susun.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Husaini, Imam Taqiyuddin Abubakkar Bin Muhammad. Kifayatul akhyar


(kelengkapan orang shaleh) Jilid II. Surabaya : Bima Iman. 2003

20
As-subki, Ali Yusuf. Fiqh Keluarga. Jakarta: Sinar Grafika. 2010

Basyir, Azhar Ahmad. Hukum Perkawinan Islam. Yogyakarta: UII Press. 2000

Baqir, Muhammad. Fiqh Praktis Menurut Al-Quran, As-Sunnah, dan Pendapat


Para Ulama. 2008.

MA-RI. Kompilasi Hukum Islam. Bandung: Citra Umbara. 2003

Naruddin, Amir dan Tarigan, Azhari Akamal. Hukum Perdata Islam di Indonesia.
Jakarta : kencana group. 2004.

Rofiq, Ahmad. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. 2013

Rusyd, Ibn. Bidayah Al-Mujtahid juz 2. Semarang: Usaha Keluarga. Tanpa tahun.

Subekti, dan Tjitrosudibio. Kitab Undang-Undang HUKUM PERDATA. Cet ke 40.


Jakarta : PT. Pradnya Paramita. 2009.

Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada


Media. 2009.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan


Kompilasi Hukum Islam. Bandung : citra umbara

21