Anda di halaman 1dari 13

MODUL II RANGKAIAN TAPIS (FILTER)

Dewantara Permata Yong (K1C016059)


Asisten: Irvan Najib
Tanggal Percobaan: 18/10/2017
PAF15210P-Praktikum Elektronika Dasar I
Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan GeofisikaFakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Unsoed

Abstrak

Pada Praktium rangkaian tapis kali ini, kita kembali mempelajari cara
menggunakan alat-alat praktikum yang ada, seperti : generator isyarat dan
osiloskop, serta mengulang kembali cara metode kalibrasi. Melalui percobaan yang
telah dilakukan dapat dipelajari karakterisktik dari rangkaian tapis lolos rendah
dan rangkaian tapis lolos tinggi. Hasilnya dapat mengetahui grafik tanggapan
amplitude pada kedua rangkaian. Selain itu kita juga menentukan besar nilai Vout
pada Vin konstan dengan frekuensi yang berubah-ubah, , untuk menghitung nilai K
pada rangkaian tapis lolos rendah dan pada rangkaian tapis lolos tinggi.
Menghitung frekuensi potong dan membuat grafik hubungan antara K dan log f
dari data pengamatan yang telah diperoleh.

Kata Kunci: Amplitudo, tegangan, frekuensi, tapis lolos tinggi dan tapis lolos
rendah.

1. PENDAHULUAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk memahami kembali bagaimana cara menggunkan generator isyarat,
osiloskop dan kalbrasi alat. Disamping itu praktikum ini mengenal karakteristik rangkaian tapis lolos tinggi
dan tapis lolos rendah.

2. STUDI PUSTAKA
Secara umum komponen elektronika dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu kelompok komponen
elektronika aktif dan kelompok komponen elektronika pasif. Adapun perbedaan mendasar dari komponen
elektronika aktif dan pasif adalah pada ada tidaknya sumber tegangan eksternal yang dibutuhkan untuk
operasi komponen.

Jika komponen membutuhkan sumber tegangan eksternal (umumnya tegangan DC), maka komponen
elektronika tersebut tergolong ke dalam komponen aktif. Sedangkan komponen yang tidak membutuhkan
sumber tegangan eksternal untuk operasinya disebut komponen elektronika pasif. Contoh dari komponen
elektronika aktif adalah dioda dan transistor. Contoh dari komponen elektronika pasif adalah resistor,
kapasitor, induktor dan trafo. Oleh karena adanya komponen aktif maupun pasif, maka dapat disusun pula
filter aktif dan filter pasif. Pada umumnya, filter aktif adalah filter yang mengandung operational amplifier

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 1


dalam rangkaiannya, sedang filter pasif tidak mengandung operational amplifier. Pada praktikum kali ini
akan dibahas rangkaian filter pasif sederhana.

Dalam rangkaian elektronik seringkali didapatkan sinyal yang tidak diinginkan (noise). Beruntunglah pada
banyak kasus sinyal yang mengandung informasi memiliki frekuensi yang berbeda cukup jauh dari sinyal
noise. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu alat yang dapat menyeleksi frekuensi. Rangkaian filter adalah
rangkaian yang dapat menyeleksi frekuensi inputan yang memiliki berbagai jenis frekuensi ke sinyal
keluaran yang hanya memiliki rentang frekuensi tertentu. Pada keadaan ideal, rangkaian filter elektronik
TIDAK menurunkan besar tegangan masukan.

Gambar 2.1 Diagran Alir Rangkaian Filter Elektronika

Rangkaian filter dapat juga disebut dengan rangkaian tapis. Pada praktikum kali ini hanya akan dibahas
rangkaian filter pasif sederhana. Rangakaian filter pasif sederhana hanya mengandung resistor dan
kapasitor. Secara umum, rangakaian filter terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama adalah rangkaian filter
yang hanya meloloskan sinyal dengan frekuensi tinggi dan tidak meloloskan sinyal dengan frekuensi
rendah. Rangkaian ini disebut dengan High Pass Filter (HPF) atau Tapis Lolos Tinggi. Rangkaian filter yang
kedua adalah Low Pass Filter atau Tapis Lolos Rendah. Berkebalikan dengan rangkaian High Pass Filter,
Low Pass Filter hanya meloloskan sinyal dengan frekuensi rendah dan tidak meloloskan frekuensi tinggi.

Namun, terdapat suatu pertanyaan. Pada rentang manakah frekuensi input akan diteruskan atau
dipotong? Pada rangkaian filter elektronika, terdapat frekuensi cut-off atau frekuensi potong. Frekuensi
cut-off dapat dicari secara teoritik dengan perhitungan matematis. Namun demikian, frekuensi cut-off
teoritik tidaklah sama dengan frekuensi cut-off pada percobaan (buktikan!). Untuk menganalisa respon
amplitudo terhadap frekuensi, dapatlah dibuat suatu kurva respon amplitudo (disebut juga bode plot).
Kurva respon amplitudo biasanya dilukiskan dengan 20.logG() terhadap frekuensi (f), dimana :

G(w) = Vout / Vin

w = 2f

2.1 JUDUL SUB-BAB


a. Tapis Lolos Rendah
b. Tapis Lolos Tinggi

3. METODOLOGI
Peralatan dan bahan yang digunakan antar lain :
1. Osiloskop
2. Generator Isyarat
3. Breathboard
4. Resistor 1 KOhm
5. Kapasitor 1000 F
6. Kabel penghubung

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 2


Cara Kerja :

a. Tapis Lolos Rendah

Membuat rangkaian lolos


rendah seperti modul

Menghubungkan generator
isyarat pada jalur input
rangkaian

Mengatur generator pada


frekuensi 50 Hz dan
mengatur amplitude
sampai menghasilkan
tegangan 100 mVpp pada
osiloskop

Menghubungkan osioskop
pada jalur output rangkaian

Tentukan nilai tegangan


puncaknnya sebagai Vou

Mengulangi langkah diatas


untuk variasi frekuensi
mulai dari 50 Hz sampai 1
MHz

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 3


b. Tapis Lolos Tinggi

Membuat rangkaian lolos


tinggi seperti modul

Menghubungkan generator
isyarat pada jalur input
rangkaian

Mengatur generator pada


frekuensi 1 MHz dan
mengatur amplitudo
sampai menghasilkan
tegangan 100 mVpp pada
osiloskop

Menghubungkan osioskop
pada jalur output rangkaian

Tentukan nilai tegangan


puncaknnya sebagai Vout

Mengulangi langkah diatas


untuk variasi frekuensi
mulai dari 1 MHz sampai
50 Hz

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 4


4. HASIL DAN ANALISIS
4.1. Perhitungan dan Data Praktikum
Diketahui: R = 1 KOhm = 1000 Ohm
C = 10000 pF = 10-8 F
Ditanya : fp = ?
Jawab: fp = 1/RC = 1/1000(10-8) = 100 KHz
Frekuensi potong tiap rangkaian memiliki nilai yang sama yaitu 100 KHz karena percobaan dilakukan
menggunakan nilai R dan C sama baik pada rangkaian tapis lolos rendah dan tapis lolos tinggi.
a. Tapis Lolos Rendah

Frekuensi Vin (mV) Vout (mV) K = Vout/Vin


(Hz)

50 100 10 0.1

100 100 7.5 0.075

200 100 5 0.05

300 100 3.5 0.035

400 100 2.5 0.025

500 100 2 0.002

600 100 2 0.002

700 100 1.75 0.0175

800 100 1.5 0.015

900 100 1.5 0.015

1000 100 1.25 0.0125

2000 100 1.25 0.0125

4000 100 1 0.01

6000 100 0.6 0.006

8000 100 0.6 0.006

10000 100 0.6 0.006

20000 100 0.6 0.006

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 5


40000 100 0.6 0.006

60000 100 0.6 0.006

80000 100 0.5 0.005

100000 100 0.5 0.005

200000 100 0.5 0.005

400000 100 0.5 0.005

600000 100 0.5 0.005

1000000 100 0.5 0.005

10000000 100 0 0

b. Tapis Lolos Tinggi

Frekuensi Vin (mV) Vout (mV) K = Vout/Vin


(Hz)

50 100 0 0

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 6


100 100 0.5 0.005

200 100 0.5 0.005

300 100 0.5 0.005

400 100 0.5 0.005

500 100 0.5 0.005

600 100 0.5 0.005

700 100 0.6 0.006

800 100 0.6 0.006

900 100 0.6 0.006

1000 100 0.6 0.006

2000 100 0.6 0.006

4000 100 0.6 0.006

6000 100 1 0.01

8000 100 1.25 0.0125

10000 100 1.25 0.0125

20000 100 1.5 0.015

40000 100 1.5 0.015

60000 100 1.75 0.0175

80000 100 2 0.02

100000 100 2 0.02

200000 100 2.5 0.025

400000 100 3 0.03

600000 100 3.5 0.035

1000000 100 5 0.05

10000000 100 7.5 0.075

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 7


Perhitungan
a) Tapis lolos rendah
Pada frekunesi 1000 Hz
K = Vout/Vin = 1.5/100 = 0.015
b) Tapis Lolos Tinggi
Pada frekuensi 1000 Hz
K = Vout / Vin = 0.6/100 = 0.006
4.2 Analisis
1) Pada rangkaian tapis lolos rendah, semakin besar frekuensinya maka akan semakin kecil
nilai K nya, tetapi nilai K-nya lebih rendah daripada nilai K pada rangkaian tapis lolos
tinggi.
2) Pada rangkaiainn tapis lolos tinggi, semakin besar frekuensinya maka akan semakin kecil
nilai K-nya, tetapi nilai K-nya lebih tinggi dariada nilai K pada rangkaian tapis rendah
lolos rendah.
3) Nilai K pada rangkaian tapis lolos rendah dan rangkaian tapis lolos tinggi berbeda karena
pemasangan rangkaian pada rangkaian tapis lolos rendah dan rangkaian tapis lolos
tinggi berbeda.

5. KESIMPULAN
Praktikum kali ini bertujuan untuk memahami, mengenal dan bagaimana cara menggunkan alat seperti
generator isyarat, osiloskop, multimeter digital, resistor, dll. Cara mnggunkan generator isyarat adalah
dengan cara menyetel generator sesuai apa yang kita ingin muncukan, pada osiloskop akan membaca
hasil dari generator. Kedua erat dan tidak dapat dipisahkan.

Selain mengetahui cara menggunakan generator isyarat dan osiloskop, kita juga belajar menggunkaan
multimeter digital dan menyusun rangakai resistor pada breadboard. Multimeter digital dpat untuk

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 8


mengukur tegangan sumber, tegangan tiap resistor dan nilai hambatannya sendiri. Caranya dengan cara
memutar saja pentunjuk yang ada pada multimeter tersebut dan dilakukan perhitungan untuk mencari
nilai kuat arusnya dengan cara manual melalui perhitungan.

Daftar Pustaka
[1] http://analisawarna.com/2016/03/22/apa-itu-kalibrasi-dan-kapan-kita-perlu-melakukannya/?
gclid=CjwKCAjw3_HOBRBaEiwAvLBboh6Qf3GgXynALDO3AfHtZyyrppIsvKms_AU8Y6wJ-
vlfrD0m5fghChoCQpsQAvD_BwE , 10 Oktober 2017, 12:25 PM.

[2] Arifin, M.T., Buku Penuntun Elektronika Fisis Dasar 1, Jurusan Fisika Universitas Hasanuddin,
Makasar, 2010.

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 9


MODUL III ANALISA LISSAJOUS
Dewantara Permata Yong (K1C016059)
Asisten: Irvan Najib
Tanggal Percobaan: 18/10/2017
PAF15210P-Praktikum Elektronika Dasar I
Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan GeofisikaFakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Unsoed
Abstrak

Laporan ini merupakan laporan tentang bagaimana cara menggunakan metode


Lissajous untuk mengukur beda fase dari dua sinyal listrik AC. Selain mengukur
beda fase, metode Lissajous juga digunakan untuk mengukur frekuensi dari sebuah
sinyal listrik AC. Nama metode Lissajous diambil dari seorang nama fisikawan
Perancis pada abad 19 yaitu Jules A Lissajous. Secara istilah, Lissajous adalah
suatu pola atau gambar garis lurus, melengkung, melingkar, atau ellips yang
ditimbulkan oleh titik yang dipengaruhi oleh dua gerakan harmonik sederhana
saling tegak lurus, dan frekuensinya berbanding dengan rasio yang sederhana.

Kata Kunci : Laporan, metode, Lissajous, beda fase, frekuensi

1. PENDAHULUAN
Laporan ini merupakan laporan tentang bagaimana cara menggunakan metode Lissajous untuk
mengukur beda fase dari dua sinyal listrik AC. Selain mengukur beda fase, metode Lissajous juga
digunakan untuk mengukur frekuensi dari sebuah sinyal listrik AC. Nama metode Lissajous diambil dari
seorang nama fisikawan Perancis pada abad 19 yaitu Jules A Lissajous. Secara istilah, Lissajous adalah
suatu pola atau gambar garis lurus, melengkung, melingkar, atau ellips yang ditimbulkan oleh titik yang
dipengaruhi oleh dua gerakan harmonik sederhana saling tegak lurus, dan frekuensinya berbanding
dengan rasio yang sederhana. Hasil yang didapat pada praktikum analisa Lissajous ini berupa sebuah
gambar grafik yang muncul pada osiloskop.

2. STUDI PUSTAKA
Analisa Lissajous merupakan sebuah analisa tentang pencitraan yang terbentuk pada layar osiloskop
dmana kita akan mencari beda fase dan frekuensi dari gambar tersebut. Dibawah ini merupakan contoh
pencitraan pada osiloskop dalam menentukan beda fase.

Contoh(2.1) : Pencitraan Lissajous beda fase


Dalam istilah, beda fase merupakan perbedaan sudut antara dua gelombang sinusoidal yang sedang
diamati. Maksud dalam istilah beda fase itu adalah menyatakan ukuran seberapa jauh, diukur dalam
sudut, sebuah titik pada gelombang berada di depan atau di belakang titik yang bersesuaian dengan
gelombang lainnya. Untuk gelombang yang berlawanan, fasenya 180 sedangkan untuk yang sefase
fasenya 0,[1].

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 10


Sebelumnya kita telah membahas pencitraan gambar grafik pada beda fase, sekarang akan
dibahas pencitraan grafik pada frekuensi. Dibawah ini merupakan contoh pencitraan pada osiloskop
dalam menentukan frekuensi.
Dalam istilah, frekuensi merupakan suatu besaran yang menyatakan banyaknya gelombang yang terjadi
setiap detik serta memiliki satuah Hz(Hertz),[1].

3. METODOLOGI
Peralatan dan bahan yang di gunakan adalah sebagai berikut :
1. Osiloskop
2. Generator Isyarat
3. Resistor
4. Kapasitor
5. Breathboard
6. Trafo step-down
7. Kabel penghubung
Cara Kerja

4. HASIL DAN ANALISIS

4.1 PENGUKURAN BEDA FASE


Frekuensi = 10 KHz

Arah Besar Komponen

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 11


Grafik A B C D
Gambar

Serong Kanan 4 8.2 4 2.4

= 1/(sin(B/A))
= 1/(sin(8.2/4))
= 1/(sin(2.05))
= 1/0.035
= 28.57

4.2 PERHITUNGAN PENGUKURAN FREKUENSI


Mencari Jala Jala PLN
Waktu Pembanding = 50
a) Waktu 1:2
T = x/100 = 50/100 = 0.5
f = 1/T = 1/0.5 = 2 Hz
b) Waktu 1:4
T = x/200 = 50/200 = 0.25
f = 1/T = 1/0.25 = 4 Hz
c) Waktu 1:6
T = x/300 = 50/300 = 0.166
F = 1/T = 1/0.166 = 6.024 Hz

4.3 ANALISIS
4.3.1 Pengukuran Beda Fase
a) Pada pengukuran beda fase, besar tiap komponen yaitu, 4 pada A, 8.2 pada B, 4 pada C, dan 2.4
pada D.
b) Arah grafik mengarah ke serong kanan
c) Setelah dihitung, beda fasenya adalah 28.57
4.3.2 Pengukuran Frekuensi
a) Frekuensi pada perbandingan 1:2 adalah 2 Hz
b) Frekuensi pada perbandingan 1:4 adalah 4 Hz
c) Frekuensi pada perbandingan 1:6 adalah 6.024 Hz

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 12


5. KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1.) Beda fasenya bernilai 28.57


2.) Frekuensi pada perbandingan 1:2 adalah 2 Hz, pada perbandingan 1:4 adalah 4 Hz, dan pada
perbandingan 1:6 adalah 6.024 Hz

DAFTAR PUSTAKA
[1] https://www.scribd.com/document/293379628/Paf15210-A-Analisa-
Lissajous-03-h1e014058

Laporan Praktikum Laboratorium Elektronika, Instrumentasi dan Geofisika FMIPAUnsoed 13