Anda di halaman 1dari 5

KERATITIS

A. Definisi
Keratitis adalah reaksi inflamasi kornea atau suatu peradangan pada kornea.
Keratitis jamur dapat menyebabkan infeksi jamur yang serius pada kornea dan
berdasarkan sejumlah laporan jamur telah ditemukan menyebabkan 5 6% kasus
keratitis ulseratif. Lebih dari 70 spesies jamur telah ditemukan sebagai penyebab
keratitis

B. Etiologi
Penyebab keratitis bermacam-macam. Bakteri, virus dan jamur dapat
menyebabkankeratitis. Penyebab paling sering adalah virus herpes simplex tipe 1.
Selain itu penyebab lain adalah kekeringan pada mata, pajanan terhadap cahaya
yang sangat terang, benda asing yang masuk ke mata, reaksi alergi atau mata yang
terlalu sensitif terhadap kosmetik mata, debu, polusi atau bahan iritatif lain,
kekurangan vitamin A dan penggunaan lensakontak yang kurang baik (Mansjoer,
2001). Secara ringkas dapat dibedakan :
1. Jamur berfilamen (filamentous fungi) :
Bersifat multiseluler dengan cabang-cabang hifa. Jamur berfilamen :
Furasium sp, Acremonium sp, Aspergillus sp, Cladosporium sp,
Penicillium sp, Paecilomyces sp, Phialophora sp, Curvularia sp,
Altenaria sp. Jamur tidak bersepta : Mucor sp, Rhizopus sp, Absidia s
2. Jamur ragi ( yeast) : Jamur uniseluler dengan pseudohifa dan tunas :
Candida albicans, Cryptococcus sp, Rodotolura sp.
3. Jamur difasik : Pada jaringan hidup membentuk ragi sedang media
pembiakan membentuk miselium : Blasomices sp, Coccidiodidies sp,
Histoplastoma sp, Sporothrix sp. Tampaknya di Asia Tenggara
tidak begitu berbeda penyebabnya, yaitu Aspergillus sp da Fusarium
sp, sedangkan di Asia Timur Aspergillus sp
4.
C. Manifestasi klinis
Tanda patognomik dari keratitis ialah terdapatnya infiltrate di kornea. Infiltrat

dapat ada di seluruh lapisan kornea, dan menetapkan diagnosis dan pengobatan

keratitis. Pada peradagan yang dalam, penyembuhan berakhir dengan pembentukan

jaringan parut (sikatrik), yang dapat beurpa nebula, macula, dan leukoma. Adapun

gejala umumnya adalah : Keluhan air mata yang berlebihan


Nyeri mata yang hebat
Penurunan tajam penglihatan
Silau

D. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan laboratorium dimana sanga membantu
sekali untuk mendiagnosis suatu keratitis jamur. Dimana yang paling utama
yaitu melakukan pemeriksaan kerokan kornea (sebaiknya dengan spatula kimura),
yaitu dari dasar dan tepi ulkus dengan biomikroskop. Dapat dilakukan pewarnaan
KOH, Gram, Giemsa atau KOH + Tinta India, dengan angka keberhasilan masing-
masing 20-30%, 50-60%, 60-75% dan 80%. Lebih baik lagi melakukan biopsy
jaringan kornea dan diwarnai dengan Periodic Acid Schiff atau Methenamine Silver,
tapi sayang karena memerlukan biaya yang besar. Akhir-akhir ini dikembangkan
Nomarski differential interference contrast microscope untuk melihat morfologi
jamur dari kerokan kornea (metode Nomarski) yang dilaporkan cukup memuaskan.
Selanjutnya dilakukan kultur dengan agar Sabouraud atau agar ekstra maltosa.

E. Penatalaksanaan
Pengamatan klinik dan laboratorium memperlihatkan bahwa jamur berbeda
sensibilitas nya dengan anti jamur, tergantung spesiesnya. Hal tersebut sering
dilupakan, ditambah lagi jenis obat anti jamur yang terbatas tersedia secara
komersial di Indonesia. Secara ideal langkah-langkah yang ditempuh sama dengan
pengobatan terhadap keratitis/ ulkus bakterialis
1. Diagnosis kerja atau diagnosis klinik
2. Pemeriksaan laboratorik :
- Kerokan kornea, diwarnai dengan KOH , Gram, Giemsa atau KOH +
tinta India.
- Kultur dengan agar Sabouraud atau ekstrak maltose
3. Pemberian anti jamur topical berspektrum luas
4. Penggantian obat bila tidak terdapat respon.

F. Pathofisiologi
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung yang uniform dan jendela yang
dilalui berkas cahaya retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang
uniform, avaskuler, dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif
jaringan kornea, dipertahankan oleh fungsi sawar epitel. Epitel adalah sawar yang
efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea dan merupakan satu
lapis sel-sel pelapis permukaan posterior kornea yang tak dapat diganti baru. Sel-sel
ini berfungsi sebagai pompa cairan dan menjaga agar kornea tetap tipis dan basah,
dengan demikian mempertahankan kejernihan optiknya. Jika sel-sel ini cedera atau
hilang, timbul edema dan penebalan kornea yang pada akhirnya menggangu
kesehatan

G. Konsep asuhan keperawatan


1. Pengkajian
Keluhan utama : Gangguan penglihatan (visus menurun),mata sakit
Lakrimasi.
Riwayat penyakit sekarang :
- Mata merah dan bengkak
- Merasa kelilipan
- Gangguan penglihatan (visus menurun)
- Mata sakit, gatal, silau
- Fotofobi, lakrimasi, blefarospasme.
- Adanya flikten/infiltrat pada kornea.
Riwayat penyakit masa lalu
- Pernah menderita konjungtivitas/herpes
- Trauma
Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi :
Hiperemi pada konjungtiva
Adanya flikten/infiltrat pada kornea.
Adanya lakrimasi
Mata tampak merah dan bengkak .
b. Pemeriksaan diagnostik
Pemulasan fluorescen
Tes schirmer
Keratometer
Fotokeratoskop
topografi

2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa Tujuan & KH Intervensi
Resiko tinggi terhadap Tujuan : - tentukan tajam penglihatan
cedera berhubungan Cedera tidak akan terjadi pada kedua mata.
dengan penurunan tajam KH : - pertahankan posisi tempat

ditandai dengan ( visus -visus kembali normal tidur rendah, pagar tempat
tidur tinggi & bel disamping
menurun, silau, adanya -tidak tampak luka cedera
tempat tidur
flikten pada kornea, pada anggota tubuh
- singkirkan barang barang
nerasa kelilipan )
yang dapat menimbulkan
cedera.
- beritahu pasien untuk tidak
menggaruk mata

Nyeri berhubungan dengan Tujuan : - kaji tingkatan nyeri


proses inflamasi
ditandai Dalam aktu 3x24 jam rasa - ajarkan tehnik relaksasi(
dengan (mata terasa sakit, nyeri berkurang latihan nafas dalam / ajak
mata merah &
KH : pasien cerita )
bengkak,wajah meringis,
-rasa sakit pada mata -kolaborasi dengan
tampak gelisah )
berkurang pemberian analgetik.
-wajah tampak cerah- tidak
gelisah
- mata tidak bengkak / merah