Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Secara umum, kearifan lokal dianggap sebagai pandangan hidup dan ilmu
pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang
dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam
pemenuhan kebutuhan mereka. Dengan pengertian-pengertian tersebut, kearifan
lokal bukan sekedar nilai tradisi atau ciri lokalitas semata melainkan nilai tradisi
yang mempunyai daya-guna untuk untuk mewujudkan harapan atau nilai-nilai
kemapanan yang juga secara universal yang didamba-damba oleh manusia.
Adapun ciri-ciri dari kearifan lokal yaitu mampu bertahan terhadap budaya
luar, memiliki kemampuan mengakomodasi budaya luar, memiliki kemampuan
mengendalikan, mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke
dalam budaya asli, mampu memberi arah pada perkembangan budaya.
Berdasarkan pengamatan penulis sebagai warga desa yang lahir,
bertumbuh dan berkembang di desa Aek Songsongan dan juga telah melakukan
wawancara kepada beberapa pihak terkait seperti para petuah desa, kearifan lokal
budaya jawa tengah yang masih sering dilakukan oleh masyarakat di desa Aek
Song-songan yaitu seperti upacara tingkeban (nujuh bulanan ) bagi wanita hamil,
tedak siten (upacara turun tanah) bagi anak yang baru belajar berjalan, selametan
orang meninggal, dan prosesi siraman pengantin.
Dari beberapa kearifan lokal di atas keseluruhannya menyiratkan bahwa
tradisi tradisi tersebut banyak memiliki manfaat bagi masyarakat disekitarnya
diantaranya masyarakat dapat membangun kebersamaan dengan meningkatkan
gotong royong dalam melaksanakan kearifan lokal, dapat mempererat tali
silahturahmi dan rasa kekeluargaan antar sesama masyarakat.
Dari beberapa manfaat kearifan lokal tersebut, di lain sisi upacara adat
ataupun kearifan lokal seperti ini tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam. Oleh
karena itu bisa saja kebiasaan adat seperti ini dihilangkan dari kebiasaan
masyarakat setempat.

1
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kearifan lokal budaya Jawa Tengah yang ada di desa Aek Song-
songan?
2. Bagaimana makna kearifan lokal dalam pandangan Islam?
3. Apakah ada nilai kekurangan dari kearifan lokal bagi masyarakat
sekitarnya?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui beberapa kearifan lokal budaya Jawa Tengah yang ada
di desa Aek Song-songan .
2. Untuk mengetahui makna kearifan lokal dalam pandangan Islam
3. Untuk mengetahui adanya nilai kekurangan dari kearifan lokal bagi
masyarakat sekitarnya

2
BAB II
ISI

A. Kearifan Lokal Budaya Jawa Tengah di Desa Aek Song-Songan


Secara umum, kearifan lokal dianggap pandangan hidup dan ilmu
pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang
dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam
pemenuhan kebutuhan mereka. Dengan pengertian-pengertian tersebut, kearifan
lokal bukan sekedar nilai tradisi atau ciri lokalitas semata melainkan nilai tradisi
yang mempunyai daya-guna untuk untuk mewujudkan harapan atau nilai-nilai
kemapanan yang juga secara universal yang didamba-damba oleh manusia.
(dalam situs Departemen Sosial RI)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal merupakan
seperangkat pengetahuan, nilai-nilai, perilaku, serta cara bersikap terhadap objek
dan peristiwa tertentu di lingkunganya yang diakui kebaikan dan kebenarannya
oleh masyarakat tersebut.
Berdasarkan pengamatan penulis sebagai warga desa yang lahir,
bertumbuh dan berkembang di desa Aek Songsongan dan juga telah melakukan
wawancara kepada beberapa pihak terkait seperti para petuah desa, kearifan lokal
budaya jawa tengah yang masih sering dilakukan oleh masyarakat di desa Aek
Song-songan yaitu seperti upacara tingkeban (nujuh bulanan ) bagi wanita hamil,
tedak siten, selametan orang meninggal, dan prosesi siraman pengantin.

1. Upacara Tingkeban / Mitoni (Nujuh Bulanan)


Upacara ini dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada
kehamilan pertama kali. Upacara ini bermakna bahwa pendidikan bukan saja
setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam rahim ibu. Dalam
upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan dengan air kembang setaman
dan di sertai doa yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar selalu
diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan
sehat.

3
Pelaksanaan upacara tingkeban dimulai dari siraman yang di lakukan oleh
para sesepuh sebanyak 7 orang termasuk ayah dan ibu wanita hamil serta suami
dari calon ibu. Siraman ini bermakna memohon doa restu agar proses persalinan
lancar dan anak yang akan dilahirkan selamat dan sehat jasmani dan rohani.
Setelah siraman selesai, dilanjutkan dengan upacara memasukkan telur
ayam dan cengkir gading. Calon ayah memasukkan telur ayam mentah ke dalam
sarung/kain yang di kenakan oleh calon ibu melalui perut sampai pecah kemudian
menyusul kedua cengkir gading di teroboskan dari atas ke dalam kain yang di
pakai calon ibu sambil di terima di bawah oleh calon nenek dan kelapa gading
tersebut di gendong oleh calon nenek dan di letak kan sementara di kamar. Hal ini
merupakan simbol harapan semoga bayi akan lahir dengan mudah tanpa ada
halangan.
Setelah itu kelapa gading yang tadi di bawa ke kamar, kembali di gendong
oleh calon nenek untuk di bawa keluar dan di letak kan dalam posisi terbalik
untuk di pecah. Kelapa gading berjumlah 2 dan masing masing di gambari tokoh
Wayang Kamajaya dan Kamaratih. Calon ayah memilih salah satu dari kedua
kelapa tersebut. Apabila calon ayah memilih Kamajaya maka bayi akan lahir Laki
laki, sedangkan jika memilih Kamaratih akan lahir perempuan ( hal ini hanya
pengharapan saja, belum merupakan suatu kesungguhan)
Pada upacara ini juga ada dodol rujak. Calon ibu membuat rujak di
dampingi oleh calon ayah, para tamu yang hadir membeli nya dengan
menggunakan kereweng sebagai mata uang. Makna dari upacara ini agar kelak
anak yang di lahirkan mendapat banyak rejeki dan dapat menghidupi keluarganya.

2. Tedak Siten
Upacara Tedak Siten atau di sebut juga Upacara Turun Tanah merupakan
upacara tradisi masyarakat Jawa yang di adakan pada anak pertama dari pasangan
suami istri. Tepatnya waktu diadakan upacara ini adalah saat sang anak berumur
tujuh lapan (7 x 38 hari) atau ketika anak mulai belajar berjalan. Makna dari
upacara ini adalah untuk memperkenalkan anak untuk pertama kali nya pada
tanah/ bumi dengan maksud agar kelak anak tersebut mampu untuk berdiri sendiri
dan mampu untuk melewati segala tantangan dalam kehidupan nya.

4
Ada beberapa langkah-langkah yang harus di lakukan saat melakukan
upacara tedak siten yaitu dimulai dengan membersihkan bayi terlebih dahulu
sebelum melakukan tedak siten. Kemudian memijak 7 warna, maksudnya si anak
harus memijak ketan yang di buat dengan tujuh warna yang berbeda , atau anak
harus memijak bubur dengan 7 warna, adapun warna yang harus di tapaki si anak
adalah:
1. Warna merah yang memiliki arti keberanian , maknanya agar si anak yang
melakukan upacara tedak siten tersebut memiliki keberanian untuk menjalani
kehidupannya kelak
2. Warna putih yang memiliki arti kesucian, maknanya di harapkan anak dapat
memiliki kesucian hati kelak di kemudian hari
3. Warna hitam yang memiliki arti kecerdasan , setelah memijak warna tersebut
diharapkan si anak dapat memiliki kecerdasan di kemudian hari
4. Warna kuning yang memiliki arti kekuatan , maknanya diharapkan si bayi
dapat memiliki kekuatan dalam menjalankan hidupnya
5. Warna biru yang memilliki arti kesetiaan, setelah memijak warna tersebut , di
harapkan si bayi memiliki sifat setia di masa yang akan datang
6. Warna merah jambu yang memiliki arti cinta kasih, setelah memijak warna
tersebut si bayi di harapkan kelak memiliki rasa cinta kasih
7. Warna ungu yang memiliki arti ketenangan , dimana di masa yang akan datang
si anak dapat bersikap tenang dalam pengambilan keputusan
Setelah selesai menapaki 7 warna, si anak dituntun untuk menapaki tangga
yang terbuat dari tebu sebanyak 7 buah, maknanya agar anak dapat memberanikan
diri dalam menjalani hidupnya, setelah turun dari tangga anak harus mengkais
pasir dengan kakinya yang arti kiasanya adalah mencari makan, di harapkan si
anak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya kelak.
Dan prosesi selanjutnya adalah kurungan yaitu memasukkan anak kedalam
kurungan yang terbuat dari bambu , atau biasa di gunakan untuk mengurung ayam
,makna kurungan ayam disini agar kelak si anak cepat dan mandiri seperti ayam,di
dalam kurungan juga terdapat beberapa benda-benda yang menyimbolkan
pekerjaan yang akan dilalui si anak kelak.

5
Setelah melakukan beberapa ritual ayah dan kakek si anak akan
menyebarkan udik-udik yaitu uang logam yang telah di campur kembang atau
bunga yang memiliki makna agar si anak dapat menjadi orang yang baik hati dan
dermawan pada saat dewasa.
Dan prosesi terakhir adalah mandi bunga yang maknanya adalah agar si
anak dapat membawa keharuman pada keluargannya ,keharuman yang di maksud
adalah agar si anak dapat membanggakan orang tua dan keluargannya. Dan
setelah di mandikan si anak di pakaikan baju yang bagus agar si anak memiliki
kehidupan yang bagus.

3. Selametan Orang Meninggal


Salah satu budaya Jawa adalah selamatan orang meninggal. Mereka biasa
menyebut dengan Slametan. Jika ada orang yang meninggal dunia, maka mereka
akan mengadakan selamatan, yang inti dari selamatan itu adalah mendoakan
orang yang sudah meninggal. Biasanya dilakukan dengan doa bersama dengan
membaca ayat-ayat Al Quran, dan doa-doa yang lain. Selamatan yang biasa
dilakukan oleh orang Jawa adalah :
1. 1-7 hari (telung dina, pitong dina), yaitu selametan yang diselenggarakan
untuk memperingati tiga hari dan tujuh hari meninggalnya seseorang.
Peringatan ini dilakukan dengan kenduri dengan mengundang kerabat dan
tetangga terdekat. Bahan untuk kenduri biasanya nasi, daging yang telah
digoreng, lauk-pauk kering, sambal santan yang dibagikan kepada tetangga
dan kerabat terdekat.
2. 40 hari (matangpuluh dina) yaitu selametan untuk memperingati empat puluh
hari meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan
kenduri juga. Namun ada tambahannya seperti ingkung, kedelai hitam, cabai
merah atau bawang merah yang telah dikupas.
3. 100 hari (nyatus dina) yaitu selametan untuk memperingati seratus hari
meninggalnya seseorang. Biasanya peringatannya dilakukan dengan kenduri
juga seperti yang dilakukan pada peringatan 40 hari
4. Mendhak 1 merupakan upacara yang diselenggarakan ketika orang meninggal
pada setahun pertama. Tata cara dan bahan yang diigunakan untuk

6
memperingati seratus hari meninggalnya pada dasarnya sama dengan ketika
melakukan peringatan seratus hari.
5. Mendhak 2 merupakan upacara terakhir untuk memperingati meninggalnya
seseorang. Tata cara dan bahan yang digunakan untuk memperingati mendhak
2 pada dasarnya sama dengan ketika melakukan peringatan mendhak 1.
6. 1000 hari (nyewu) yaitu peringatan seribu hari bagi orang yang sudah
meninggal. Peringatan dilakukan dengan mengadakan kenduri yang
diselenggarakan pada malam hari
Orang Jawa mempunyai rumus tersendiri dalam menghitung selamatan.
Salah satunya dengan memanfaatkan Hari dan pasaran. Hari adalah Senin,Selasa,
Rabu, Kamis, Jumat , Sabtu dan Minggu. Sedangkan pasaran adalah Pon, wage,
Kliwon, Manis (Legi) dan Pahing. Mereka mengkombinasikan hari dan pasaran
tersebut sehingga menemukan kapan hari selamatan tersebut.

4. Prosesi Siraman Penganten


Siraman Pengantin adalah salah satu bagian dari rangkaian upacara
perkawinan adat Jawa. Upacara siraman pengantin atau memandikan calon
pengantin, dilaksanakan sehari sebelum akad nikah. Perlengkapan dalam upacara
siraman ini, diantaranya air bersih dari beberapa sumber mata air (tujuh sumber
mata air), kembang setaman (bunga kenanga, kantil, melati dan mawar) yang
ditaburkan dalam air, sepasang kelapa muda hijau dan alas duduk. Mengapa calon
pengantin perlu siraman? Karena perkawinan adalah peristiwa yang suci untuk
membangun keluarga selama-lamanya. Oleh karena itu, sebelum perkawinan,
calon pengantin perlu bersuci. Adapun tata caranya yaitu:
1. Bunga sritaman ditaburkan ke dalam bejana dari tanah liat sebagai tcmpat
untuk mcnampung air. Selanjutnya dua butir kelapa yang masih ada sabutnya
diikat menjadi satu lalu dimasukkan ke dalam air tersebut.
2. Calon pengantin yang telah mengenakan busana siraman dengan alas kain dan
bagian luar memakai kain putih (mori), dijemput oleh orang tua dari kamar
pengantin dan dibimbing ke tempat upacara siraman. Di belakang mereka
mengiringi para pinisepuh serta petugas yang membawa baki berisi
seperangkat kain yang terdiri dari sehelai kain motif grompol, sehelai kain

7
motif nagasari, handuk yang digunakan setelah upacara siraman selesai.
Setelah sampai di tempat upacara calon pengantin dibimbing dan
dipcrsilahkan duduk di tempat yang telah disediakan oleh kedua orang tua.
3. Setelah diawali dcngan doa menurut kepercayaan masing-masing, orang tua
calon pengantin mengawali menyiram calon pengantin dcngan air bersih
dalam bejana tadi. Upacara Siraman ini diakhiri dan ditutup oleh sesepuh yang
ditunjuk.

B. Makna Kearifan Lokal Budaya Jawa Tengah di Desa Aek Song-songan


Dalam Pandangan Islam
Secara umum, kearifan lokal dianggap sebagai pandangan hidup dan ilmu
pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang
dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam
pemenuhan kebutuhan mereka. Dengan pengertian-pengertian tersebut, kearifan
lokal bukan sekedar nilai tradisi atau ciri lokalitas semata melainkan nilai tradisi
yang mempunyai daya-guna untuk untuk mewujudkan harapan atau nilai-nilai
kemapanan yang juga secara universal yang didamba-damba oleh manusia.
Telah kita ketahui bahwa beberapa kearifan lokal budaya jawa tengah
masih dilakukan oleh masyarakat di desa Aek Song-songan yaitu seperti upacara
tingkeban (nujuh bulanan ) bagi wanita hamil, tedak siten, selametan orang
meninggal, dan prosesi siraman pengantin. Secara keseluruhan kearifan lokal
tersebut menyiratkan bahwa tradisi tradisi tersebut memiliki manfaat bagi
masyarakat disekitarnya seperti dapat membangun kebersamaan, dapat
mempererat tali silahturahmi dan rasa kekeluargaan antar sesama masyarakat.
Sebagian besar masyarakat yang masih melakukan tradisi ini beragama
islam. Walaupun upacara adat tersebut bagus untuk sarana sosialisasi maupun
mempererat tali silaturahmi terhadap masyarakat sekitar, akan tetapi di lain sisi,
upacara adat seperti ini tidak ada tuntunannya dalam syariat Islam, sehingga sudah
seharusnya kebiasaan adat seperti ini dihilangkan dari kebiasaan masyarakat
setempat karena termasuk bidah ( sesuatu yang diadakan tetapi tidak ada
tuntunannya). Dan dalam riwayat Muslim dikatakan barangsiapa mengerjakan

8
suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan aturan agama kami, maka hal itu
ditolak.
Adat istiadat seperti ini ada baiknya mulai dihilangkan dalam kehidupan
masyarakat, jika manfaatnya untuk mempererat tali silaturahmi dapat
menggantinya dengan sosialisasi melalui pengajian atau yang lainnya. Banyak
cara untuk saling menjaga silaturahmi, seperti saling bertamu antar tetangga,
selalu mengucapkan salam ketika bertemu, dan lain lain.
Sekarang masih banyak masyarakat beragama Islam yang melaksanakan
kearifan lokal tersebut seperti melakukan tingkeban atau mitoni, dengan tatacara
yang sedikit berbeda (atau dibedakan) dengan tradisi Jawa. Keluarga yang
memiliki ibu yang hamil tujuh bulan mengajak tetangga-tetangganya guna
dimintai pertolongan untuk membacakan beberapa surat tertentu dari Alquran,
seperti Surat Yusuf, Surat Maryam, Surat Yasin, dll. Permasalahan yang
sebenarnya bukan terletak pada pilihan seseorang terhadap salah satu diantara
konsep agama dan budaya atau menerapkan keduanya, akan tetapi kesadaran
terhadap perbedaan nilai-nilai substantif yang dikandung oleh agama dan budaya.
Agama diyakini memiliki nilai-nilai transenden sehingga sering dipahami sebagai
suatu dogma yang kaku. Sementara nilai-nilai budaya relatif dipandang lebih
fleksibel sesuai kesepakatan-kesepakatan komunitas untuk dijadikan sebagai
standar normatif.
Oleh karenanya, diperlukan sebuah kearifan serta pandangan kritis
terhadap konsep-konsep agama dan budaya lokal yang membentuk perilaku
normatif masyarakat Jawa agar tidak terjadi kesalahan dalam memandang nilai-
nilai luhur budaya lokal dan juga tidak terjadi kesalahan dalam penerapan ajaran
agama.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Secara keseluruhan memang kearifan lokal menyiratkan bahwa tradisi
tradisi tersebut banyak memiliki manfaat bagi masyarakat disekitarnya
diantaranya masyarakat dapat membangun kebersamaan dan dapat mempererat
tali silahturahmi antar sesama masyarakat. Dan pada hakekatnya upacara seperti
ini juga dipercaya sebagai sarana menghilangkan petaka. Akan tetapi dalam
syariat Islam, upacara-upacara adat atau yang disebut juga kearifan lokal seperti
ini tidak dibenarkan karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Oleh karena itu
sudah seharusnya mulai untuk dihilangkan dari kehidupan masyarakat
Jika manfaatnya untuk mempererat tali silaturahmi dapat menggantinya
dengan sosialisasi melalui pengajian atau yang lainnya. Banyak cara untuk saling
menjaga silaturahmi, seperti saling bertamu antar tetangga, selalu mengucapkan
salam ketika bertemu, dan lain lain. Diperlukan sebuah kearifan serta pandangan
kritis terhadap konsep-konsep agama dan budaya lokal yang membentuk perilaku
normatif masyarakat Jawa agar tidak terjadi kesalahan dalam memandang nilai-
nilai luhur budaya lokal dan juga tidak terjadi kesalahan dalam penerapan ajaran
agama.

B. Saran
Seperti yang telah dijelakan bahwa dalam Agama Islam upacara-upacara
adat seperti itu tidak memiliki tuntunana dalam agama. Sehingga sudah
seharusnya untuk mulai ditinggalkan. Tetapi kalau untuk sekedar pengetahuan
bagi keturunan keturunan ataupun generasi-generasi penerus yang selanjutnya
mungkin dianjurkan tetapi ada baiknya untuk tetap memberikan nasehat bahwa
hukum untuk melaksanakan upacara adat tersebut tidak boleh dilakukan karena
tidak memiliki tuntunan dalam agama.

10