Anda di halaman 1dari 34

TUGAS KELOMPOK

MAKALAH AKUNTANSI MANAJEMEN

TOPIK BAHASAN : ARSITEKTUR DAN INFORMASI KINERJA

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 3 , dengan anggota :

No. Urut Daftar


No Nama Mahasiswa NPM Paraf
Hadir

1 Afid Setyoadi 1401160311 2

2 Bayu Dwi Putra Anoraga 1401160211 7

3 Dinil Asyrofi 1401160305 10

4 Hasyim Azhari 1401160259 16

KELAS 8 D
PRODI DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM
POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN
BULAN MARET TAHUN 2017
I. APBN dan Konsep Umum Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi
perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran
pemerintah. Dengan adanya campur tangan yang dilakukan oleh pemerintah diharapkan
perekonomian pada suatu negara dapat mencapai keseimbangan yang diinginkan. Menurut
Sadono Soekirno (2006) kebijakan fiskal diartikan sebagai langkah-langkah pemerintah
membuat perubahan dalam perpajakan dan pengeluaran pemerintah dengan maksud untuk
mempengaruhi pengeluaran agregat dalam perekonomian.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan suatu penerjemahan dari
Kebijakan Fiskal. Artinya bagaimana kebijakan fiskal yang di tentukan oleh pemerintah yang
berwenang di jadikan sebagai suatu anggaran atau pijakan pemerintah dalam menjalankan roda
perekonomian di Indonesia.
Secara umum, tujuan yang ingin dicapai melalui kebijakan fiskal adalah untuk
memperbaiki keadaan ekonomi, mengusahakan kesempatan kerja (mengurangi pengangguran),
dan menjaga kestabilan harga-harga secara umum. Mengurangi pengangguran merupakan tujuan
yang palingutama dari kebijakan fiskal karena perekonomian suatu negara dapat mencapai laju
pertumbuhan yang dikehendaki melalui tingkat penggunaan tenaga kerja penuh (full
employment). Sebagai salah satu kebijakan ekonomi makro pada suatu negara, kebijakan fiskal
memiki fungsi yang sangat penting. Fungsi tersebut antara lain adalah fungsi stabilisasi, alokasi ,
dan distribusi (Musgrave, 1959). Penjelasan ketiga fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Stabilisasi
Fungsi stabilisasi dari kebijakan fiskal dilakukan oleh pemerintah dengan cara melakukan
penyesuaian pada kebijakan di bidang perpajakan serta pengeluaran pemerintah. Adanya
penyesuaian tersebut diharapkan keadaan perekonomian bisa berada pada tingkat harga yang
stabil dan terserapnya tenaga kerja (full employment).
b. Alokasi
Fungsi alokasi dijalankan oleh pemerintah dengan cara mengalokasikan sumber daya
ekonominya. Sumber daya ekonomi tersebut dilakukan oleh pemerintah dilakukan dengan secara
langsung dengan membeli barang-barang seperti pertahanan dan pendidikan, dan secara tidak
langsung melalui berbagai pajak dan subsidi-subsidi.
c. Distribusi
Fungsi dijalankan pemerintah dengan cara melakukan penyesuaian pada pengeluarannya
dengan tujuan untuk mendistribusikan barang-barang yang diproduksi oleh masyarakat agar
seluruh masyarakat dapat menikmati barang-barang kebutuhannya secara adil dan merata.
Defisit APBN bukanlah hal tabu dan kini tidak bisa dihindari lagi kenaikannya.
Dalam situasi yang memerlukan sustainability fiscal seperti sekarang ini, pelonggaran angka
defisit wajar terjadi dan memang mau tidak mau harus dilakukan. Persoalannya sekarang, pada
kisaran angka defisit berapakah yang bisa dijadikan acuan anggaran dan pastinya juga masih
dalam kendali.
Persoalan defisit anggaran pada dasarnya selalu berkutat pada sumber dana apa yang bisa
digunakan untuk menutupi. Dari sisi penerimaan, ada dua opsi yang bisa diambil, yaitu apakah
menggenjot penerimaan dari pajak ataukah menambah utang baru. Sementara itu, Dari sisi
pengeluaran, pemerintah bisa melakukan efisiensi dengan jalan melakukan penghematan di luar
belanja rutin.
Karena itu APBN harus dikelola secara efisien, ekonomis, efektif, transfaran dan
bertanggungjawab. Pilihan atas cara pengalokasian Anggaran Belanja Negara (APBN) untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat (social welafare) umumnya dipengaruhi 2 tantangan: tekanan
fiskal dan tuntutan transparansi. Cara yang paling efektif untuk menjawab 2 tantangan tsb adalah
Penganggaran Berbasis Kinerja (PBK). Penganggaran adalah cara sistematis untuk
mengalokasikan sumber daya dan PBK telah dipilih untuk diterapkan di Indonesia sebagaimana
amanat UU 17/2003 dalam pasal 14 dan penjelasan umum angka 6.
Penganggaran berbasis kinerja (performance-based budgeting) merupakan suatu
pendekatan sistematis dalam penyusunan anggaran yang mengaitkan pengeluaran yang
dilakukan organisasi sektor publik dengan kinerja yang dihasilkannya dengan menggunakan
informasi kinerja. Performance budgeting mengalokasikan sumber daya pada program, bukan
unit organisasi semata, dan memakai output measurement sebagai indikator kinerja organisasi.
Pengkaitan biaya dengan output organisasi merupakan bagian integral dalam berkas atau
dokumen anggaran. Greg Hager, dkk. Menjelaskan dasar-dasar dalam PBK,:
1. Tujuan, instansi/lembaga harus mengembangkan rencana strategis terhadap apa yang ingin
dicapai. Rencana tersebut semestinya berisi tujuan dengan mengacu pada outcome yang
memiliki value bagi masyarakat. Hal ini diwujudkan dengan perumusan Logical
framework (Rencana Strategis) yang jelas dan relevan dengan basis pada outcome;
2. Ukuran Kinerja, berdasarkan rencana strategis, dikembangkan secara spesifik, Pengukuran
sistematis dari hasil yang digunakan untuk menentukan seberapa baik instansi dapat
memenuhi tujuan mereka. Hal ini diwujudkan dengan perumusan Sistem evaluasi yang
bisa mengukur atas pelaksanaan rencana strategis sehingga menghasilkan informasi kinerja
yang valid;
3. Kaitan, Tujuan dan ukuran kinerja merupakan bagian integral bagian dari proses anggaran.
Alokasi terkait dengan hasil instansi, yaitu seberapa baik dalam capaian tujuan yang
ditunjukkan oleh ukuran kinerja. Hal ini diwujudkan dengan perumusan Informasi kinerja
yang valid menjadi bagian integral dalam proses penyusunan anggaran.;
4. Akuntabilitas, Pimpinan lembaga bertanggung jawab terhadap Hasil. Akuntabilitas
didasarkan pada capaian lembaga, pimpinan lembaga berperan besar dalam bagaimana
pengalokasian sumber daya untuk mencapai tujuan lembaga.

II. Kondisi Belanja Kementerian/Lembaga


1. Pagu Belanja Dalam APBN Th 2007-2013
Grafik di atas menunjukkan bahwa porsi Belanja KL cenderung meningkat dan oleh karena itu
menjadi tantangan para pengelola anggaran Belanja KL untuk semakin meningkatkan
Profesionalitasnya dalam mengelola belanja tersebut.

2. Pagu dan Realisasi Belanja K/L

Sejak ditetapkan UU No 17 Tahun 2003, PBK digunakan sebagai pendekatan penyusunan


RKA-K/L dalam rangka penyusunan RAPBN dan mulai diterapkan kepada seluruh K/L pada
tahun 2009. Pagu dan realisasi belanja K/L sejak digunakannya PBB dalam penyusunan RKA-
K/L adalah sbb :
3. Alokasi Belanja K/L per Fungsi

Grafik di atas menunjukkan bahwa proporsi belanja K/L terbesar masih didominasi
fungsi Pelayanan Umum diikuti oleh fungsi Pendidikan dan Ekonomi. Selama kurun waktu
Tahun 2009 s.d. 2013 fungsi Pertahanan mengalami peningkatan cukup signifikan dari Rp.12 T
menjadi Rp.92T.

4. Hasil evaluasi kinerja atas pelaksanaan RKA-K/L (PMK 249/2011) :

Dari obyek evaluasi sebanyak 424 program di seluruh K/L, maka hasil evaluasi terhadap
program-program dimaksud adalah:

1. Jumlah output terlalu banyak (11.702 output) dan banyak output yang bersifat
administratif bukan subtantif a.l berupa laporan ,unit , dokumen (teridentifikasi 3.879
output), berkarekteristik input al. kendaraan, gedung bangunan (teridentifikasi 360
output);
2. Tidak tersajinya rangkaian hubungan (relevansi) yang jelas antara subkomponen-
komponen-suboutput-output-outcome, kegiatan dengan tujuan program,maupun antar
kegiatan dalam program yang sama;
3. Indikator kinerja masih mencerminkan informasi yang bersifat normatif al.
Terwujudnya pengelolaan anggaran yang tepat waktu,transfaran dan akuntabel; Tingkat
kemantapan jalan, Panjang jalan baru yang dibangun.
4. Temuan di atas mengindikasikan bahwa ternyata penyerapan anggaran belum
sepenuhnya mencerminkan kualitas belanja KL, bahkan Kondisi output di atas juga
berpotensi disalahtafsirkan oleh masyarakat bahwa Belanja KL banyak untuk keperluan
birokrasi sehingga seolah menjadi justifikasi pemborosan anggaran.

Dari hasil evaluasi dan kajian terhadap hasil evaluasi tersebut, dapat diidentifikasi bahwa
Permasalahan Fundamental adalah Lemahnya Arsitektur da Informasi Kinerja dalam RKA-
KL. Hal tersebut menyebabkan:
Manfaat hasil kinerja program tidak jelas;
Struktur program tidak mencerminkan informasi kinerja;
Relevansi output dengan outcome tidak jelas;
sehingga RKA-KL sulit dijadikan alat manajerial, sulit dan lambat dalam pengambilan
kebijakan, dan mengakibatkan sulitnya mengkomunikasi program kepada stakeholder.

Mindset terhadap Sistem Monitoring dan Evaluasi baru dipandang sebagai rutinitas biasa
yang tidak penting (business as usual). Capaian Kinerja Program sulit diukur sehingga
pelaksanaan monev sehingga hanya dapat menghasilkan data/informasi output transaksional.
Sebagian besar digunakan sebagai laporan yg bersifat administrative saja dan belum dapat
dilakukan secara optimal karena rumusan komponen (Outcome-Output) sebagai target kinerja
belum memenuhi kaidah SMART.

Minimnya informasi strategis menjadi masalah selanjutnya, informasi kredibel yang tersedia
hanyalah penyerapan anggaran yang pada akhirnya berakibat:

Sesuatu yang semakin tidak jelas maka akan semakin sulit bagi Pemerintah untuk
menunjukan performance yang jelas;
Apabila masyarakat tidak bisa menangkap dengan jelas program-program Pemerintah
maka dukungan dan kepercayaan pada birokrasi semakin menurun
Efektif dan efisien dalam pengelolaan APBN semakin menjadi sekedar slogan
Dari permasalahan yang dirumuskan dalam menindaklanjuti hasil evaluasi dimaksud, maka
Solusi yang harus ditempuh adalah dilakukannya upaya penguatan Arsitektur dan Informasi
Kinerja Dalam RKA-K/L.

III. Strategi Penguatan Penyusunan Anggaran


Berdasarkan kajian dan analisis yang telah dilakukan, maka perlu segera dilakukan upaya
perbaikan dengan strategi dan tahapan yang terstruktur dan bertahap. Strategi tersebut memuat
upaya perbaikan dari sisi obyek (RKA-K/L), metode & proses bisnis, serta subyek (orangnya),
dengan beberapa pertimbangan antara lain:
1. Objek
Arsitektur dan informasi kinerja dalam RKA-K/L saat ini masih lemah. Rumusan input,
kegiatan, output, dan outcome baru berfungsi sebagai pin untuk mendapatkan anggaran.

2. Metode dan Proses Bisnis

Penguatan arsitektur & informasi program tersebut harus diikuti perbaikan metode dan
proses bisnis penyusunan dan evaluasinya, sehingga proses penyusunan dan evaluasi
anggaran tidak sekedar menjalankan rutinitas tahunan.

3. Subjek

Kendala utama pada sisi subjek adalah mindset, dimana penyusunan anggaran dan evaluasi
masih dilakukan berdasarkan business as usual.
Agenda kerja penguatan anggaran yang dirancang oleh DJA adalah sebagai berikut :

IV. Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja Dalam RKA-K/L

Dalam melakukan Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja Dalam RKA-K/L


Direktorat Jenderal Anggaran menyususn beberapa tahapan yang harus dilakukan, tahapan
tersebut adalah :

1. Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja Dalam RKA-K/L


Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja Dalam RKA-K/L semula berdasarkan struktur
organisasi menjadi berdasarkan fungsi dengan basis outcome. Input, Aktivitas, Output dan
Outcome ditetapkan mulai dari organisasi sampai seluruh level organisasi. Substansi pendekatan
berdasarkan fungsi adalah :
a. Informasi kinerja harus disusun sesuai kerangka logika berpikir ( logic model )
b. Informasi kinerja terdapat pada setiap level organisasi.
2. Penguatan dan Penajaman Informasi Kinerja Program Dalam RKA-K/L
Dalam melakukan penguatan dan penajaman informasi kinerja program dalam RKA-K/L
terdapat beberapa langkah yang harus dilalui, antara lain :
Langkah 1 : Melakukan analisis perumusan kondisi yang terdiri dari menentukan fungsi/sub
fungsi yang merupakan urusan menteri berkenaan, mengidentifikasi kondisi dan melakukan
analisis permasalahan.
Langkah 2 : Menyusun informasi kinerja atas rencana strategis (program) yang telah
ditetapkan secara berurutan yaitu Rencana Strategis Outcome, Output, Aktivitas dan Input.

Langkah 3 : Melakukan validasi atas informasi kinerja program yang telah disusun, validasi
dilakukan oleh penanggung jawab penyusunan informasi kinerja program.

Secara berurutan mekanisme penyusunan informasi kinerja dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Fungsi
Tentukan Fungsi/Sub Fungsi yang merupakan urusan Menteri berkenaan (sesuai
pendelegasian dari Presiden) Contoh:
a. Kementerian Keuangan > Fungsi Pelayanan Umum, Sub Fungs Fiskal
b. Kemenerian Pendidikan > Fungsi Pendidikan
c. Kementerian Perdagangan > Funsi Ekonomi, Sub Fungsi Perdagangan
2. Kondisi
a. Identifikasi kondisi yang diharapkan dalam fungsi/sub fungsi berkenaan
Lihat visi pimpinan yang lebih tinggi
Lihat visi organisasi anda
Bisa menggunakan standar internasional sebagai referensi kondisi yang
diinginkan
*) Visi harus outcome/customer oriented
b. Identifikasi kondisi existing didukung data
c. Identifikasi gap (permasalahan) Need/problem adalah gap antara kondisi yang
diinginkan dan kondisi existing
d. Analisis permasalahan (penyebab gap). Cari akar masalah (apakah kekurangan
dipihak customer atau factor eksternal atau efektivitas output kita)
3. Customer
Identifikasi customer / target group
a. Tentukan customer yang perlu diintervensi
b. Identifikasi sumberdaya yang ada di komunitas berkenaan yang bisa menyelesaikan/
berpartisipasi pemecahan (sebagian) permasalahan tersebut
4. Outcome
Tentukan perubahan konkrit yang diinginkan (tahapan ini akan menghasilkan rumusan
outcome, indicator, dan targetnya)
a. Tentukan perubahan konkrit
b. Pernyataan jelas (outcome)
c. Tentukan indicator dan target yang jelas dan terukur
d. Rinci berdasarkan periode waktu
5. Asumsi
Susun asumsi/factor eksternal yang berpotensi mempengaruhi target kinerja yang telah
ditentukan.
6. Output
Susun output yang tepat bagi customer agar kondisi yang diinginkan tercapai
7. Aktivitas
Susun aktivitas untuk memproduksi dan men-deliver output tersebut sampai pada
customer.
8. Input
Susun Input yang diperlukan untuk menjalankan berbagai aktivitas yang telah ditentukan.

V. Logical Framework

Logical framework adalah gambaran visual atau visualisasi logis dari suatu rencana
strategis yang menunjukkan rangkaian/ hubungan antara input, proses, output sampai dengan
outcome yang dihasilkan yaitu sebagai respon terhadap suatu situasi yang dihadapi organisasI.

1. Menentukan rumusan, indikator dan target kinerja outcome

Outcome adalah keadaan yang ingin dicapai atau dipertahankan kepada penerima manfaat dalam
periode waktu tertentu (jangka panjang, menengah, dan pendek). Kriteria rumusan outcome
antara lain :

1. Jelas siapa customer


2. Dalam perspektif eksternal (customer oriented dan bukan internal oriented)
3. Spesifik (urusan dan/atau customr berbedadari ihak lain)
4. Jelas bentuk perubahan yang diharapkan (kondisi yang dituju)
5. Relevan dengan dengan kebutuhan dan/atau permasalahan
6. Sebaiknya diibuat dalam kalimat positif, misalnya meningkatnya
Kriteria rumusan indikator dan target kinerja outcome antara lain :

1. Penyusunan a. Relevan dalam pengukuran outcome yang telah ditetapkan


indikator kinerja (relevant)
outcome b. Jelas dan tidak bermakna ganda,mudah dimengerti dan
digunakan (well-defined)
c. Bisa diukur dg skala penilain tertentu yang disepakati
(measurable)
d. Sesuai dengan upaya peningkatan kinerja (appropriate)
e. Akurat dan dapat mengikuti perubahan tingkatan kinerja
(reliabel)
f. Didukung ketersedian data secara rutin/periodik
g. Sumber data yang kredibel

2. Penyusunan target a. Menunjukan seberapa besar perubahan yang diharapkan ,


kinerja diiwujudkan dalam bentuk : angka, persentase, rasio, point
estimate atau range
b. Menunjukan berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menuju kondisi yang diharapkan tersebut

2. Menentukan rumusan, indikator dan target kinerja output

Output adalah adalah suatu produk akhir yang dihasilkan dari serangkaian proses yang
diperuntukan bagi customer atau target group. Kriteria rumusan output antara lain :

1. Merupakan produk akhir dari suatu rangkaian proses


2. Digunakan untuk eksternal program (customer/target group)
3. Mencerminkan kepentingan dan prioritas customer atau target group
4. Harus terukur dan keterukurannya ditunjukan oleh indikatornya
Secara umum dapat disimpulkan bahwa output merupakan apa yang dihasilkan, sedangkan
outcome merupakan tujuan kenapa output perlu dihasilkan. Kriteria rumusan indikator dan target
kinerja output antara lain :
1. Tentukan produk a. Perhatikan rumusan outcome yang telah dihasilkan
akhir yang b. Pahami seluruh proses dan siklus pelaksanaan tusi dalam
diperlukan oleh organisasi
customer atau c. Pastikan bahwa suatu produk benar-benar produk akhir
target group untuk kebutuhan eksternal dan secara langsung dapat
mempengaruhi outcome

2. Penyusunan a. Relevan dalam pengukuran output yang telah ditetapkan


indikator kinerja (relevant)
output b. Jelas dan tidak bermakna ganda,mudah dimengerti dan
digunakan (well-defined)
c. Bisa diukur dg skala penilain tertentu yang disepakati
(measurable)
d. Sesuai dengan upaya peningkatan kinerja (appropriate)
e. Akurat dan dapat mengikuti perubahan tingkatan kinerja
(reliabel)
f. Didukung ketersedian data secara rutin/periodek
g. Sumber data yang kredibel
h. Menunjukan seberapa besar perubahan yang diharapkan ,
diiwujudkan dalam bentuk : angka,persentase,rasio,point
estimate atau range
i. Menunjukan berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menuju kondisi yang diharapkan tersebut

3. Penyusunan target a. Menunjukan seberapa besar /banyak produk akhir yang


kinerja harus dihasilkan untuk costumer , diiwujudkan dalam bentuk :
angka, persentase ,rasio ,point estimate atau range
b. Menunjukan berapa lama waktu yang diperlukan untuk
menghasilkan produk akhir yang diperuntukan bagi customer
tersebut
3. Menentukan aktivitas dan input

Aktivitas adalah berbagai proses yang diperlukan untuk menghasilkan output atau mekanisme
mengkonversi input menjadi output. Rumusan aktivitas merupakan penyusunan proses bisnis
mulai dari awal sampai dengan dihasilkannya suatu output atau sampai output tersebut
tersampaikan pada customer.

Input adalah sumber daya atau prasyarat yang dibutuhkan selama aktivitas berlangsung guna
menhasilkan atau men-deliver output. Umumnya input antara lain meliputi:

Sumber daya manusia;


Peralatan dan mesin;
Tanah dan bangunan;
Data dan infromasi; dan
Norma / sistem / prosedur / ketentuan.

4. Validasi atas informasi kinerja program

Validasi atas informasi kinerja program bertujuan untuk memastikan bahwa informasi kinerja
yang telah disusun sudah baik dan kredibel serta dapat dipertangungjawabkan secara akademis
dan professional (prosesnya sudah dilakukan secara best practice). Pada tahap ini perlu
melibatkan para pemangku kepentingan yang terkait dengan program berkenaan untuk melihat
bersama-sama informasi kinerja yang telah disusun (check and balance).
VI. Contoh Informasi Kinerja:

Berdasarkan keterkaitan antar dokumen perencanaan dan penganggaran yang tertuang dalam
Renstra/Renja dan form ADIK RKA-K/L dapat digambarkan seperti berikut:

FORM ADIK/ RKA-K/L RENSTRA/RENJA

Form 1: K/L

Form 2:
Program : xxxx

Form 2: Generik Form 2: Teknis


Form 3: Generik Form 3: Teknis Form 3:
Kegiatan : xxxx

Sumber : www.analis-anggaran.com

Berikut adalah contoh gambaran arsitektur informasi kinerja lingkup Kementerian Keuangan
yang mempunyai fungsi di bidang fiskal. Informasi yang terdapat dalam contoh dimaksud belum
menggambarkan keseluruhan informasi kinerja di bidang fiskal. Maksud contoh ini lebih kepada
menunjukkan bagaimana struktur informasi kinerja sesuai fungsi diturunkan (cascading) ke
organisasi dibawahnya.

Asumsi yang digunakan dalam menurunkan informasi ke level dibawahnya adalah menggunakan
struktur organisasi yang existing, meskipun dalam perkembangannya dapat disusun struktur
organisasi baru dengan tetap mempertahankan informasi kinerja yang sudah ada.

Contoh informasi tingkat Kementerian/Lembaga :

Fungsi K/L : 01 Pelayanan Umum


01.01 Lembaga Eksekutif dan Legislatif, Masalah Keuangan
dan Fiskal, serta Urusan Luar Negeri
Input K/L : SDM
Gedung dan Bangunan
Peralatan dan mesin
Bahan perkantoran
NSPK
Anggaran

Aktivitas K/L : Penyusunan target penerimaan dan pengeluaran


Pengalokasian anggaran
Menghimpun penerimaan
Mengelola pembiayaan
Pengelolaan kas negara
Pemanfaatan idle-money

Output K/L : Pendanaan yang efektif dan efisien bagi Pengguna


Anggaran.
Indikator:
Jumlah alokasi anggaran untuk program dengan
kriteria informasi kinerja yang baik (%)
Realisasi penerimaan negara (% thp target)
Ketepatan waktu pemenuhan penerimaan
Ketepatan jumlah anggaran yang disalurkan
kepada PA
Ketepatan waktu penyaluran anggaran kepada
PA

Outcome K/L : Terwujudnya kondisi fiskal yang berkelanjutan bagi


penyelenggaraan pemerintahan.
Indikator:
Tax-GDP Ratio (%)
Jumlah PNBP (Rp)
Debt-GDP Ratio (Khusus Utang Pemerintah)
(%)
Defisit APBN (%)
Proporsi APBN atas tren PDB (%)

Input K/L PIC


SDM Setjen (penerimaan dan pembinaan
pegawai)
BPPK (peningkatan kapasitas pegawai)

Gedung dan bangunan Setjen (Penyusunan)


Peralatan dan mesin Itjen (Pengawasan)
NSPK BKF (Litbang)

Anggaran Setjen

Aktivitas K/L PIC


Penyusunan target penerimaan dan BKF
pengeluaran

Pengalokasian anggaran DJA

Menghimpun penerimaan DJP (Perpajakan)


DJBC (Bea dan cukai)
DJA (Penatausahaan PNBP)
DJKN (Lelang)

Mengelola pembiayaan DJPR


Pengelolaan kas negara DJPB

Pemanfaatan idle money DJPB


Setjen
Contoh Informasi Kinerja tingkat Eselon I : DJA

Input Eselon I Aktivitas Eselon I Output Eselon I Outcome Eselon I


SDM Evaluasi kinerja tahun Alokasi anggaran yang akurat Terwujudnya stabilitas
Gedung dan bangunan sebelumnya bagi pendanaan program anggaran bagi Pengguna
Peralatan dan mesin Penyusunan alokasi Pemerintah Anggaran dalam mewujudkan
Data dan informasi anggaran Indikator: target Pemerintah
NSPK Pembahasan alokasi Jumlah alokasi Indikator:
Anggaran anggaran bersama DPR anggaran untuk Jumlah perubahan
program dengan anggaran (kali)
kriteria informasi
kinerja yang baik (%)
Deviasi antara target
dan realisasi capaian
output (%)

Evaluasi atas jenis dan


tariff PNBP Regulasi PNBP yang efektif Penerimaan PNBP yang
Monitorig dan bimtek Indikator: optimal
pengelolaan PNBP Jumlah regulasi PNBP Indikator:
Penyesuaian tariff PNBP yang diterbitkan Jumlah PNBP (Rp)
dan penyelesaian aspek Akurasi target
legalnya penerimaan
Inventarisasi dan
pemetaan jasa dan
layanan Pemerintah
Penyusunan jenis dan
target PNBP baru
Penyelesaian aspek legal
Monitoring

Contoh Informasi Kinerja Tingkat Eselon I: DJA

Input Eselon I PIC Aktivitas Eselon I PIC Output Eselon Outcome Eselon I PIC
I

SDM Set Evaluasi kinerja DSP Alokasi Distribusi alokasi Dit.PAPBN,


Gedung dan DJA tahun sebelumnya anggaran yang anggaran yang tepat A1, A2, A3,
bangunan Set Penyusunan Dit efektif efisien sasaran DSP
Peralatan dan DJA anggaran A1 Indikator: Indikator:
mesin Dit Jumlah Rasio APBN
Data dan Set A2 alokasi atas tren
informasi DJA Dit anggaran PDB (%)
NSPK Pembahasan A3 untuk
anggaran bersama program
DPR dengan
Set Dit kriteria
DJA Evaluasi atas jenis PAP informasi
(intern dan tariff PNBP BN kinerja
al) Monitorig dan yang baik
Anggaran DSP bimtek pengelolaan (%)
(ekster PNBP Penerimaan PNBP
nal) Penyesuaian tariff Regulasi PNBP yang optimal Dit PNBP
HPP PNBP dan yang efektif Indikator:
Dit penyelesaian aspek Indikator: Jumlah PNBP (Rp)
PNBP legalnya Jumlah
Inventarisasi dan regulasi
Set pemetaan jasa dan PNBP
DJA layanan Pemerintah yang
Penyusunan jenis diterbitkan
dan target PNBP Akurasi
baru target
Penyelesaian aspek penerimaa
legal n
Monitoring
Input Eselon II PIC Aktivitas Eselon II Output Eselon II PIC

Anggaran EKP selaku Daduktek Persiapan evaluasi Informasi capaian target EKP
Pengumpulan data kinerja nasional
Analisis Indikator
Penyusunan Ketepatan waktu
rekomendasi penyampaian
Reporting informasi

Kajian TSP
Perumusan naskah Norma penganggaran SB
Finalisasi Indikator: EKP
Sosialisasi Jumlah norma yang
diterbitkan
Ketepatan waktu
penerbitan norma
Pemetaan kebutuhan TIP
Penyusunan desain Sistem informasi
Pemograman Indikator
Pemeliharaan Jumlah sistem
informasi yang
dibangun/
dikembangkan
Jumlah sistem
informasi yang
dipelihara

Sumber : Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu


Berikut adalah contoh form ADIK:

Form I:

Sumber : RKAKL Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu


Sumber : RKAKL Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu
Sumber : RKAKL Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu
Form II:

Sumber : Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu


Form IIIF

Form IIIF

Sumber : Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu


Form III

Sumber : Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu


Penelitian dan Penelaahan Informasi Kinerja Hasil Penataan ADIK K/L

Dasar Hukum

Peraturan Direktur Jenderal Anggaran Nomor PER-3/AG/2015 tentang Pedoman


Pelaksanaan Penelitian dan Penelaahan Informasi Kinerja Hasil Penataan Arsitektur dan
Informasi Kinerja Kementerian Negara/Lembaga.

Mekanisme Penelitian dan Penelaahan

Berdasarkan Pasal 1 dan pasal 4 Perdirjen di atas adalah sebagai berikut:

(1) Penelitian dan penelaahan Informasi Kinerja hasil penataan Arsitektur dan
Informasi Kinerja (ADIK) yang selanjutnya disebut Penelitian dan penelaahan
ADIK, adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh Direktorat Anggaran Bidang
Perekonomian dan Kemaritiman, Direktorat Anggaran Bidang Pembangunan
Manusia dan Kebudayaan, dan Direktorat Anggaran Bidang Politik, Hukum,
Pertahanan dan Keamanan, dan Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara yang
selanjutnya disebut Direktorat Anggaran untuk memastikan bahwa informasi
kinerja yang disusun Kementerian/Lembaga dengan menggunakan aplikasi ADIK
adalah telah lengkap dan sesuai dengan konsep kerangka berpikir logis (logical
framework).

(2) Penelitian dan penelaahan ADIK bertujuan untuk:

a. Meneliti kelengkapan isian pada setiap bagian Form ADIK Kementerian


Negara/Lembaga; dan

b. Menelaah hubungan logis rumusan informasi kinerja pada setiap dan/atau


antar level Form ADIK yang disampaikan oleh Kementerian Negara/Lembaga.

(3) Penelitian dan penelaahan ADIK merupakan penelahaan tambahan atas


penelaahan RKA-K/L sepanjang referensi kinerja yang tertuang dalam aplikasi
ADIK belum tertuang dalam aplikasi RKA-K/L dan Sistem Perbendaharaan dan
Anggaran Negara (SPAN).

(4) Penelitian dan penelaahan ADIK dilakukan oleh Direktorat Anggaran


(5) Penelitian dan penelaahan ADIK dilakukan terhadap Form ADIK yang
disampaikan K/L ke Direktorat Jenderal Anggaran c.q Direktorat Anggaran,
sebagai mitra kerja K/L

(6) Direktorat Anggaran dapat berkoordinasi dengan K/L mitra kerja terkait dalam
melakukan penelitian dan penelaahan atas rumusan ADIK K/L

(7) Dalam hal diperlukan, Direktorat Anggaran dapat berkoordinasi dengan Direktorat
Sistem Penganggaran dalam melakukan penelitian dan penelaahan atas rumusan
ADIK K/L

(8) Dalam hal rumusan informasi kinerja K/L dalam Rencana Kerja K/L belum
ditetapkan, Direktorat Anggaran dapat memberikan masukan perbaikan atas
rumusan ADIK K/L yang sudah diteliti dan ditelaah

(9) Untuk RKA-K/L 2017, penelitian dan penelaahan ADIK sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan sebelum penyampaian RKA-K/L Pagu Anggaran
Tahun Anggaran 2017 oleh K/L ke DJA

(10) Dalam hal Kementerian Negara/Lembaga belum menyampaikan penataan ADIK


hingga ditetapkannya Pagu Anggaran Tahun Anggaran 2017, penelitian dan
penelaahan ADIK dapat dilakukan sampai dengan penyampaian RKA-K/L
Alokasi Anggaran Tahun Anggaran 2017.

(11) Hasil penelitian dan penelaahan ADIK sebagaimana dimaksud digunakan sebagai
bahan menyusun referensi informasi kinerja pada aplikasi RKA-K/L.

Sumber : Direktorat Jenderal Anggaran, Kemenkeu


Daftar Pustaka

Hermawan, Erry. (2011). Analisis Penerapan Sistem Anggaran Berbasis Kinerja di


Lingkungan Rumah Tangga Kepresidenan-Sekretariat Negara RI. Tesis. Jakarta:
Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.

Direktorat Jenderal Anggaran. Penataan Arsitektur dan Informasi Kinerja Dalam RKA-
K/L. Jakarta: Kementerian Keuangan.

Direktorat Jenderal Anggaran. Sinkronisasi Informasi Kinerja Antar Sistem. Jakarta:


Kementerian Keuangan. Diakses Diakses pada tanggal 29 Maret 2017 dari
http://www.analisis-anggaran.com/penataan-adik/sinkronisasi.htm

Ariyasa, Kadek. (2013). Pengertian Anggaran Berbasis Kinerja. Diakses pada tanggal 29
Maret 2017 dari: https://ikadekariyasa.wordpress.com/

Syahrurrahmah, Nur. (2016). Kebijakan APBN 2016. Diakses pada tanggal 29 Maret
2017 dari: http://rurryrahma.blogspot.co.id/2016/02/v-
behaviorurldefaultvmlo_29.html