Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber daya
alamyang melimpah, baik itu sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam non-
hayati. Sumber daya mineral merupakan salah satu jenis sumber daya non-hayati. Sumber
daya mineral yang dimiliki oleh Indonesia sangat beragam baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Endapan bahan galian pada umumnya tersebar secara tidak merata di dalam
kulit bumi. Sumber daya mineral tersebut antara lain: minyak bumi, emas, batu bara, perak,
timah, dan lain-lain.
Sumber daya itu diambil dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia.
Sumber daya alam merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan nasional, oleh
karena itu harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat dengan
memperhatikan kelestarian hidup sekitar.
Belerang atau Sulfur adalah unsur kimia dalam SPU yang memiliki lambang S dan
nomor atom 16. Belerang merupakan unsur non-logam yang tidak berasa. Belerang, dalam
bentuk aslinya adalah sebuah zat padat kristalin kuning. Di alam, belerang dapat ditemukan
sebagai unsur murni atau sebagai mineral-mineral sulfida dan sulfat. Belerang adalah unsur
penting untuk kehidupan dan ditemukan dalam asam amino. Belerang atau sulfur didapatkan
dalam 2 bentuk yaitu sebagai senyawa sulfida dan sebagai belerang alam. Sebagai senyawa
sulfida didapatkan dalam bentuk galena-PbS, kalkopirit-CuFeSz dan Pirit- FeS. Sedang
belerang alam unsur tersebut berbentuk kristal bercampur lumpur atau merupakan hasil
sublimasi.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun masalah yang akan dibahas di dalam makalah ini :


1. Bagaimana proses pembentukan belerang ?
2. Dimana saja penyebaran belerang di indonesia ?
3. Teknik eksplorasi yang dapat diterapkan ?
4. Teknik eksploitasi apa yang dapat diterapkan dalam penambangan belerang ?
5. Bagaimana pengolahan belerang ?
6. Seperti apa pemanfaatan belerang ?
7. Apa dampak yang ditimbulkan dari penambangan belerang ?
8. Bagaimana prospek belerang ?

1.3. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui proses terbentuknya belerang
2. Mengetahui penyebaran belerang di indonesia

1
3. Mengetahui teknik eksplorasi yang dapat diterapkan
4. Mengetahui teknik eksploitasi yang dapat diterapkan dalam penambangan belerang
5. Mengetahui proses pengolahan belerang
6. Mengetahu pemanaatan belerang
7. Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari proses penambangan belerang
8. Mengetahui prospek belerang

2
BAB II
GANESA BAHAN GALIAN

2.1. Ganesa Pembentukan


Di Indonesia semua endapan belerang mempunyai hubungan erat dengan kegiatan
gunung berapi. Endapan tersebut dapat merupakan endapan sedimen, kerak belerang, atau
endapan hidrothermal-metasomatik. Mengenai asal mula belerang ada beberapa pendapat
yang membahasnya diantaranya adalah :
1. Menurut Bischof, belerang berasal dari H2S yang merupakan hasil reduksi CaSO4
oleh karbon dan methan. Reaksinya adalah sebagai berikut :
CaSO4 + 2C -----------> CaS + 2CO2
CaSO4 + CH4 -----------> CaS + CO2 + 2H2O
CaS + CO2 + H2O -----------> CaCO3 + H2S
2H2S + O2 -----------> 2H2O + 2S
Terbentuknya H2S menjadi belerang bisa dengan 2 cara yaitu oksidasi oleh air, tanah
dan reaksi antara H2S dengan CaSO4.
2H2S + O2 -----------> 2H2O + 2S (O2 dan air tanah)
3H2S + CaSO4 -----------> 4S + Ca(OH)2 + 2H2O
2. Pendapat yang mengatakan bahwa belerang berasal dari dome. Belerang disini
dibentuk oleh bakteri de sulpho vibrio desulfuricans umpamanya sulfat oleh bakteri
diubah menjadi sulfit. Selanjutnya sulfid diubah lagi menjadi belerang contohnya
seperti yang terdapat di Gulf-Coast di Amerika Serikat.
3. Pendapat yang menerangkan bagaimana terdapatnya belerang pada gipsum, dikatakan
bahwa belerang pada gipsum diendapkan langsung dari poly sulfit (suatu solut yang
mengandung sangat banyak belerang.

2.2. Penyebaran di Indonesia


Menurut Sumarti (2010), sampai saat ini baru diketahui 6 provinsi di Indonesia yang
menyimpan tambang belerang, yaitu :
1. Jawa barat : Gunung Tangkuban Perahu, Danau Putri, Galunggung, Ceremai, Telaga
bodas
2. Jawa tengah : Gunung Dieng
3. Jawa timur : Gunung Arjuno, Gunung Welirang, Gunung Ijen.
4. Sumatera utara : Gunung Namora
5. Sulawesi utara : Gunung Mahawu, Soputan, dan Gunung Sorek Merapi
6. Maluku : Pulau Damar

3
Dari total jumlah sulfur yang diproduksi tersebut, sekitar 70-85% digunakan untuk
pembuatan asam sulfat. Sedangkan asam sulfat banyak digunakan untuk industri pupuk
(37%), industri bahan kimia (18%), industri bahan warna (8%), pulp dan kertas (7%), besi
baja, serat sintetis, minyak bumi dan lain-lain.

Gambar : peta persebaran belerang di Indonesia

4
BAB III
EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI

3.1. Teknik Eksplorasi


Metode Eksplorasi Geokimia
Dalam penyelidikan geokimia diperlukan adanya beberapa penahapan yang ditujukan
untuk kepentingan efisiensi dalam hal waktu, tenaga dan biaya. Tidak semua proses
pencarian dapat menunjukkan hasil sesuai target yang hendak dicapai, maka harus ditentukan
strategi penyelidikan yang tepat sebelum proses pencarian dilakukan atau dimulai.
1. Penyelidikan Pendahuluan. Penyelidikan ini juga sering disebut sebagai survei
orientasi (orientation survey ). Penyelidikan ini merupakan penyelidikan yang
pertama kali dilakukan dalam penyelidikan secara keseluruhan. Pada metode endapan
sungai aktif (stream sedimentmethod ) tahap survei orientasi ini bertujuan untuk
menentukan media contoh yang paling baik untuk diambil, ukuran besar butir contoh,
tata cara kerja (prosedur) pengumpulan contoh di lapangan dan analisis di
laboratorium sampai dengan metode pengolahan data. Pada tahapan ini masih
meliputi daerah yang sangat luas, sehingga metode yang digunakanpun masih bersifat
umum dan akan memberikan hasil dengan tingkat ketelitian yang masih sangat
rendah.
2. Penyelidikan Geokimia Tinjau. Pada tahap penyelidikan ini daerah yang diselidiki
masih meliputi daerah yang luas dan contoh utama yang dikumpulkan berupa endapan
sungai aktif. Jenis conto ini dapat mewakili daerah bagian hulu (cacthment area) yang
luas. Maksud dari tahap penyelidikan geokimia tinjau ini adalah untuk menentukan
daerah yang beranomali dan menentukan daerah mineralisasi.
3. Penyelidikan Geokimia Tindak Lanjut. Dalam tahapan penyelidikan ini contoh utama
yang dikumpulkan masih tetap endapan sungai aktif dan masih ditambah lagi dengan
contoh-contoh lain seperti endapan danau, endapan daerah mata air dan endapan
sumur. Tingkat kerapatan contoh sudah lebih besar dibandingkan dengan tahapan
sebelumnya, pengambilan contoh biasanya pada sungai orde 1, 2 dan paling besar
pada sungai orde 3. Tujuan dari penyelidikan ini adalah untuk melengkapi informasi
dari daerah beranomali yang telah diselidiki sebelumnya, selain itu juga untuk
menentukan batas daerah anomali yang telah ditemukan pada penyelidikan tingkat
tinjau lebih ke arah hulu lagi (cacthment area).
4. Penyelidikan Geokimia Rinci. Pada tahapan ini penyelidikan geokimia contoh yang
dikumpulkan tidak hanya endapan sungai tapi juga ditambah dengan contoh tanah,
batuan, dan tumbuhan. Kerapatan pengambilan contoh endapan sungai semakin besar
atau jarak antar lokasi contoh semakin rapat, sedangkan pengambilan contoh tanah
dikerjakan secara jenjang (grid sampling) atau punggung dan lereng perbukitan (ridge
and spur ). Penyelidikan ini dapat dipadukan dengan penyelidikan geofisika yang
kemudian diteruskan dengan eksplorasi secara fisik dengan membuat parit uji,
pemboran atau pekerjaan bawah tanah.

5
Tiap eksplorasi geokimia terdiri dari tiga komponen, yaitu sampling (pengambilan
contoh), analisis, dan interpretasi. Ketiganya komponen tersebut merupakan fungsi bebas
yang saling terkait. Kegagalan yang terjadi pada tahap yang satu akan mempengaruhi tahap
berikutnya. Kemudian dalam pemilihan metode-metode yang akan digunakan eksplorasi
geokimia, harus disesuaikan dengan jenis endapan yang akan dicari.

Gambar : Penggunaan kompas, GPS dan palu geologi dalam kegiatan eksplorasi geokimia

Gambar : Pengambilan sampel endapan sungai aktif menggunakan ayakan pada kegiatan eksplorasi
geokimia

6
Gambar : Penambilan sampel tanah (grid sampling)

7
3.2. Teknik Eksploitasi
Eksploitasi adalah usaha penambangan dengan maksud untuk menghasilkan bahan
galian dan memanfaatkannya. Kegiatan ini dapat dibedakan berdasarkan sifat bahan
galiannya yaitu, galian padat dan bahan galian cair serta gas.
Metode penambangan Manual :
Penambangan belerang dengan metode ini dilakukan apabila kandungan endapan
belerang yang ada tidak terlalu banyak atau sedikit. cara penambangannya dengan metode ini
biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat penambangan manual, seperti cangkul,
linggis, gancu, dan kerajang serta dilaksanakan dengan sistem padat karya.

Gambar : tambang belerang kawasan kawah ijen (pembongkaran dan penggalian)

Gambar : penggunaan linggis dalam proses penambangan

8
Gambar : Proses pemuatan menggunakan keranjang

Gambar : Penggunaan keranjang dalam proses pengangkutan belerang

9
Gambar : Gancu

10
BAB IV

PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN

4.1. Pengolahan

Pengolahan belerang untuk keristal, dapat langsung dimasukkan ke dalam dapur


autoclave. Dalam dapur autoclave ditambahkan solar, air, NaOH, kemudian dipanaskan
dengan memasukkan uap air. Panas dengan tekanan 3 atmosfir selama 30-60 menit.
Pemisahan akan terjadi karena belerang mempunyai titik lebur yang lebih rendah
dibandingkan dengan mineral-mineral pengotornya. Hasilnya yang berupa belerang cair
dialirkan melalui filter dan kemudian dicetak.

Untuk belerang jenis lumpur, pengolahannya perlu dilakukan secara flotasi terlebih
dahulu sebelum dimasukkan kedalam dapur autoclave. Maksud dari pada flotasi disini adalah
untuk meningkatkan kadar belerang dan menghilangkan senyawa-senyawa besi sulfida dan
silikat dari larutan. Cara pengolahan lain untuk belerang jenis ini adalah dengan cara
pelarutan dan penghabluran dengan menggunakan pelarut karbon disulfida, dimethyl disulfid
atau larutan hidrokarbon berat lainnya.

Sedangkan untuk mengolah belerang secara sederhana dapat dilakukan dengan jalan
memanaskan bongkah-bongkah belerang di dalam wajan besi atau aluminium yang
berdiameter antara 80-100 cm diatas tungku sederhana yang terbuat dari batu andesit dan
tanah liat.

Gambar : Skema pengolahan belerang

11
4.2. Pemanfaatan

Kembang api adalah mainan terlaris pada musim-musim tertentu. Misalnya, malam
tahun baru, atau pada bulan Ramadhan, dan yang mirip lainnya. Meskipun kembang api
sudah banyak dijual dipasar dengan harga yang cukup murah, tapi kalau bisa buat sendiri,
akan lebih menyenangkan. Selain itu, jika Anda mahir mengembangkan tutorial membuat
kembang api, tentunya dengan salah satu bahan penting yaitu belerang. Beberapa jenis
kembang api yang modern misalnya, kembang api warna warni, jadi bukan hanya satu warna
saja.

Berikut adalah bahan bahan yang dibutuhkan :

1. Belerang

2. Serbuk besi baja

12
3. Serbuk sendawa

4. Lem kayu

5. Kawat tali

13
Proses pembuatan kembang api :

1. Masukkan lem kayu kedalam ember.

2. Campurkan Belerang, Serbuk besi baja, dan Serbuk Sendawa menjadi satu. Kemudian
tumbuk sampai halus.

3. Masukkan hasil adonan ke dalam ember berisi lem kayu tersebut.

4. Celupkan kawat tali ke dalam adonan, lalu angkat dan biarkan sampai kering.

5. Setelah kering, bakar dan lihat hasilnya.

Proses pembuatan kembang api berwarna sama saja seperti pada pembuatan kembang
api biasa. Bedanya terletak pada senyawa oksidator yang digunakan. Berikut bahan campuran
untuk menghasilkan warna bervariasi:

Kalium nitrat (warna ungu).

Barium nitrat (warna hijau).

Nitrat Stronsium (warna merah).

14
BAB V

LINGKUNGAN DAN PROSPEK

5.1. Lingkungan

Pemanfaatan suatu sumberdaya tentu memiliki dampak dan manfaat. Dampak ini dapat
mengenai manusia secara langsung sebagai pengendali utama ataupun kepada lingkungan
akibat eksternalitas pemanfaatan sumberdaya belerang. Dampak yang dapat dikatakan layak
untuk dianalisis pada umumnya merupakan dampak penting. Kriteria dampak penting
menurut Suparmoko (2006) adalah:

1. Manusia yang terkena dampak ada dalam jumlah yang besar


2. Dampak mengenai wilayah yang cukup luas
3. Keberlangsungan dampak cukup memakan waktu lama
4. Intensitas dampak tinggi
5. Banyak komponen lingkungan lain yang terkena dampak
6. Dampak tersebut mempunyai sifat kumulatif
7. Dampak mengakibatkan tidak dapat dikembalikannya lingkungan kepada bentuk dan
keadaan sebelumnya.

beberapa dampak dan manfaat dari adanya kegiatan penambangan sumberdaya


belerang adalah:

Dampak :

1. Resiko penyakit gingivitis pada pekerja tambang meningkat

Penelitian yang dilakukan Kartiyani (2006) menyebutkan bahwa subjek yang terpapar
uap sulfur memiliki risiko mengalami karang gigi yang lebih besar daripadasubjek yang tidak
terpapar. Penelitian Tuominen dalam Kartiyani (2006) pada pekerja pabrik baterai dan seng
menyebutkan bahwa risiko penyakit terjadi pada pekerja yang telah 15 tahun bekerja dan
terpapar uap sulfur.

2. Risiko gangguan fatal paru pada sebagian besar penambang belerang

Penyakit gangguan faal paru disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah
paparan hidrogen sulfida (H2S). Gas ini salah satunya dihasilkan oleh aktivitas pembentukan
belerang dalam proses kegunungapian. Guidorri (1996) dalam Masud(2013) menyebutkan
bahwa paparan gas H2S dalam konsentrasi 20-50 ppm dapatmenyebabkan iritasi paru dan
iritasi mukosa.

15
3. Pencemaran lingkungan

Salim (2008) menyebutkan bahwa pencemaran lingkungan merupakan salah satu


dampak pokok dalam sebuah kegiatan pertambangan. Pengolahan sumberdaya hasil tambang
akan menghasilkan zat sisa yang akan mencemari lingkungan

Manfaat :

Meskipun mempunyai beberapa dampak negatif, Salim (2008) dalam bukunya juga
menyebutkan bahwa keberadaan tambang memberikan dampak positif bagi masyarakat
lingkar tambang, yaitu:

1. Bertambahnya lapangan kerja

Adanya pertambangan secara otomastis akan membuat lapangan kerja baru.


Penambahan lapangan kerja ini biasanya akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang
relatif besar, yaitu masyarakat lingkar tambang.

2. Meningkatnya kesejahteraan

Bertambahnya lapangan kerja dan tenaga kerja yang berkerja dalam sektor
pertambangan membuat pendapatan masyarakat naik dan kesejahteraan masyarakat
meningkat. Hal ini karena tingkat upah dalam sektor pertambangan umumnya lebih tinggi
daripada hasil bekerja dari menanam padi di sawah.

3. Terangkatnya potensi pariwisata daerah

Uniknya kegiatan penambangan khususnya penambangan secara tradisional menarik


minat wisatawan untuk datang dan berkunjung. Salah satu penambangan yang dilakukan
dengan unik dan tradisional adalah penambangan sumberdaya belerang Gunungapi Ijen.

5.2. Prospek

Potensi dan penyebaran endapan belerang Indonesia saat ini baru diketahui dengan total
cadangan sekitar 5,4 juta ton. Untuk tipe sublimasi, karena proses terjadinya didasarkan
kepada aktivitas gunung berapi, maka selama gunung berapi aktif, belerang tipe ini dapat
diproduksi. Dengan demikian sumber daya belerang sublimasi dapat dianggap tidak terbatas.

Perkembangan produksi belerang di Indonesia dalam kurung 1999 sampai dengan 2016
berfluktuasi, namun cenderung meningkat dengan laju perubahan tahunan sebesar 9,4%.

Dibandingkan dengan produksinya, komsumsi belerang di Indonesia pada kurun yang


sama cukup tinggi dan cenderung menigkat dengan laju pertumbuhan tahunan sebesar 8%.
Industri yang mengkomsumsi belerang adalah industri pupuk sebesar 1,8 juta ton, dengan laju
pertumbuhan (lp) tahunan sebesar 9,7%. Selanjutnya industri kimia sebanyak 216.233 ton
(11,83%). Industri gula sebanyak 140.117 ton (16,07%). Dan industri ban, karet, kembang
api dan korek api. Sementara itu, nilai komsumsi belerang pun mengalami kenaikan dari Rp.

16
1,7 milyar tahun 1977 menjadi Rp. 69,4 milyar tahun 1987 dengan laju pertumbuhan tahunan
sebesar 26,54%.

belerang bongkah Rp 3.900,-

belerang bubuk Rp 40.000,-

17
BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

1. Belerang merupakan unsur non-logam yang tidak berasa. Belerang dalam bentuk
aslinya adalah sebuah zat padat kristalin kuning.
2. Semua endapan belerang mempunyai hubungan erat dengan kegiatan gunung berapi.
Endapan tersebut dapat merupakan endapan sedimen, kerak belerang, atau endapan
hidrothermal-metasomatik.
3. Penambangan endapan belerang dapat dikerjakan berdasarkan sifat bahan galiannya
yaitu, galian padat dan bahan galian cair serta gas.

6.2. Saran

Masalah pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh proses penambangan belerang


seharusnya dapat diminimalisir dengan dilakukannya inovasi baru oleh pemerintah atau
perusahaan pada lingkungan sekitar agar dapat menekan presentase dampak buruk yang
ditimbulkan.

Kegunaan belerang dalam pencampuran industri kimia di Indonesia sangat tidak


didukung dengan keamanan dan keselamatan kerja dalam penambangannya, oleh karena itu
pemerintah dan perusahaan mestinya memperhatikan dan meningkatkan terkait K3 dan
pekerjaannya.

18