Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH METODE PENGUKURAN

PENGGUNAAN ALAT UKUR SEISMOGRAF

DOSEN PENGAMPU : Riza Adriat,M.Si.

Disusun oleh:
HENDRI NIM. H1071141015
DWI INTAN OKTAVIA NIM. H1071141022
ATHAYA RANA RAMADAHANI NIM. H1071141037
Prodi : Geofisika

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
TAHUN 2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas izin dan
petunjuk-Nya sehingga Makalah Metode Pengukuran Penggunaan Alat Ukur
Seismograf dapat terselesaikan demi memenuhi tugas serta bahan untuk melakukan
sebuah diskusi. Tidak lupa juga kami mengucapkan terima kasih kepada beberapa
literatur yang telah membantu kami dalam menemukan beberapa informasi tentang
Alat Ukur Seismograf.
Makalah ini berisi pengertian tentang seismograf, jenis-jenis seismograf,
fungsi seismograf, cara mengetahui posisi episentrum serta beberapa kelebihan dan
kekurangan dari alat ukur seismograf.
Kami sadar bahwa makalah ini belum begitu sempurna, penulis sangat
mengharapkan kritik serta saran dari Dosen mata kuliah Metode Pengukuran dan
pembaca khususnya agar menjadi sebuah koreksi bagi penulis untuk memperbaiki
kualitas makalah selanjutnya. Penulis mengucapkan terima kasih, semoga makalah
yang disajikan dapat bermanfaat.

Pontianak, 16 Januari 2016

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFTAR ISI............................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................................... 1
C. Tujuan ......................................................................................................................... 1
D. Manfaat ....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 3
A. Pengertian Seismograf ............................................................................................... 3
B. Sejarah Perkembangan Seismograf ......................................................................... 3
C. Komponen - Komponen Seismograf ........................................................................ 6
D. Fungsi Seismograf ...................................................................................................... 8
E. Jenis Seismograf Berdasarkan Pembacaan Skalar................................................. 9
F. Prinsip Kerja Seismograf ........................................................................................ 11
G. Cara Menggunakan Seismograf ............................................................................. 13
H. Proses Kerja (Sistem Pengukuran) ........................................................................ 14
I. Klasifikasi Besaran Gempa ..................................................................................... 15
J. Kelebihan dan Kekurangan .................................................................................... 17
BAB III PENUTUP ............................................................................................................... 19
A. Kesimpulan ............................................................................................................... 19
B. Saran ......................................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 20

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada pertengahan abad ke-18, gempa bumi diukur dengan instrument yang
bernama seismokop. Seismokop adalah peralatan perekam gempa paling primitif.
Seismokop terdiri dari sebuah container sederhana berisi air atau air raksa. Ketika
terjadi gempa, cariran tersebut akan bergerak naik-turun akibat getaran gempa yang
terjadi.
Seiring denganberjalannya waktu pengetahuan semakin berkembang padada
tahun 1920, ketika dua Ilmuwan Amerika mengembangkan alat yang disebut Wood-
Anderson seismograf. Alat ini lebih sensitive disbanding seismograf yang ada pada
asa itu, sehingga langsung banyak digunakan di seluruh dunia dan menjadi cikal
bakal seismograf yang sekarang ada dan berkembang.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan seismograf?
2. Bagaimanakah sejarah ditemukannya seismograf?
3. Apa sajakah jenis-jenis seismograf?
4. Bagaimanakah prinsip kerja dari seismograf?
5. Bagaimanakah kelebihan dan kekurangan dari seismograf?

C. Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah diatas maka dapat diketahui tujuan dari
pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan seismograf.
2. Untuk mengetahui sejarah dari seismograf.
3. Untuk mengetahui jenis-jenis seismograf.
4. Untuk mengetahui prinsip kerja dari seismograf.
5. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari alat ukur seismograf.

1
D. Manfaat

Adapun manfaat dari makalah ini adalah agar dapat dimanfaatkan sebaik
mungkin sehingga dapat memenuhi tugas metode pengukuran yang diberikan dan
sebagai sarana media pembelajaran serta menambah wawasan pengetahuan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Seismograf

Seismograf juga sering disebut dengan sebutan sismometer. Sismometer berasal


dari bahasa Yunani: seismos gempa bumi dan metero: mengukur. Menurut Giancoli
(2001 : 78) menyatakan : Secara umum seismograf adalah alat atau sensor getaran,
yang biasa digunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan
tanah. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram.
Sebuah seismograf dapat mencatat gempa berbentuk vertical dan gempa
berbentuk horizontal. Ketika terjadi gempa, getaran yang terekam adalah gelombang
primer, karena kecepatan rambatnya paling tinggi, lalu diikuti oleh rekaman
gelombang sekunder yang memiliki kecepatan rambat lebih rendah dari gelombang
primer. Gelombang permukaan datangnya paling akhir karena memiliki kecepatan
rambat paling rendah. Seismograf mencatat semua getaran dan kecepatan rambat
gempa bumi dalam bentuk seismogram. Alat ini sangat sensitif terhadap gelombang
seismik yang ditimbulkan karena gempa bumi, ledakan nuklir dan sumber gelombang
seismik lainnya.
Ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.
Skala Mercalli, Omori, Cancani, dan skala Richter, namun skala Richter adalah yang
paling popular untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang disebut dengan
magnitude (M). Berdasarkan skala-skala ini orang dapat mengenali kekuatan gempa
yang pada akhirnya berguna untuk mengantisipasi seperti desain konstruksi bangunan
dan jalan raya.

B. Sejarah Perkembangan Seismograf

Menurut Asti (2009:89), Seismograf pertama kali ditemukan oleh Zhang Heng
seorang astronom, matematik, engineer dan pelukis pada masa pemerintahan Dinasti
Han awal abad kedua. Pada masa itu Zhang Heng tidak mengatakan dengan pasti

3
bagaimana sebuah gempa diukur dengan satuan skala richter (skala richter belum
ditemukan sampai 1935), tapi tercatat berhasil menciptakan detector gempa pertama
di dunia, yaitu seismograf.
Bangsa Cina termasuk salah satu bangsa yang mempunyai budaya sangat
tinggi, banyak penemuan-penemuan yang ditemukan oleh bangsa Cina pada waktu
zaman dulu yang menjadi teknologi hingga sekarang sekarang. Diantara lain yaitu :
1. Serbuk Mesiu
2. Kompas
3. Kertas
4. Pasta
5. Seismograf
Menurut refrerensi Indra, pada zaman Dinasti Han Timur Tiongkok, sering
terjadi gempa bumi di ibukota Luoyang dan daerah sekitarnya. Menurut catatan buku
sejarah, selama 50 tahun dari tahun 89 hingga 140, pernah terjadi 30 kali gempa bumi
di daerah tersebut. Maka rakyat setempat sangat takut. Kemudian seorang ilmuwan
bernama Zhang Heng melakukan penelitian bidang gempa bumi tersebut. Akhirnya
pada tahun 132 M, Zhang Heng berhasil membuat alat pertama yang dapat
meramalkan gempa bumi di Tiongkok bahkan di seluruh dunia, dan dinamakan
seismograf.

Gambar 2.1. Seismograf Pertama Tahun 132M


Seismograf itu dibuat dari perunggu berbentuk seperti guci (lihat gambar 2.1)
yang di tengahnya terdapat batangan tembaga dan di luarnya terdapat 8 ekor naga

4
yang di kepalanya tersambung pada 8 batang tembaga tipis yang menghadap ke arah-
arah timur, selatan, barat, utara, timur laut, tenggara, barat laut dan barat daya.
Didalam mulut setiap naga terdapat bola tembaga yang kecil, di bawah kepala
setiap naga mendekam seekor katak tembaga, mereka semua membuka mulut besar-
besar, yang sewaktu-waktu dapat menyambut bola tembaga kecil yang dilontarkan
dari mulut naga.
Seandainya terjadi gempa bumi, maka batang tembaga seismograf itu akan
condong ke arah asal gempa bumi tersebut, kemudian menggerakkan kepala naga dan
naga yang berada di arah itu akan membuka lebar mulutnya, maka bola tembaga kecil
itu akan keluar dari mulut naga tersebut dan jatuh ke dalam mulut katak yang justru
mendekam di bawahnya. Dengan demikian, akan diketahui di mana terjadinya gempa
bumi.

Gambar 2.2. Seismometer Merkuri


Beberapa abad kemudian pada tahun 1855, Luigi Palmieri dari Italia merancang
sebuah seismometer merkuri. Seismometer buatan Palmieri ini memiliki tabung
berbentuk U (lihat gamabar 2.2) diisi dengan merkuri dan disusun di sepanjang titik-
titik kompas.

5
Gambar 2.3. Seismograf Pendulum Horizontal

Kemudian pada tahun 1880, John Milne seorang ahli seismologi dan geologi
berkebangsaan Inggris menemukan seismograf modern pertama. Alat ini merupakan
sebuah seismograf pendulum horizontal sederhana (lihat gamabar 2.3), sebuah mesin
yang mencatat getaran yang terjadi dengan gerakan tiba-tiba di sepanjang garis
patahan bumi.Dia juga yang pertama kali mempromosikan pembangunan stasiun
seismologi.
Setelah Perang Dunia II, seismograf pendulum horizontal itu dikembangkan
lagi menjadi Press-Ewing seismograf. Alat ini dikembangkan di Amerika Serikat dan
digunakan untuk merekam periode panjang gelombang. Seismograf ini kemudian
digunakan secara meluas di seluruh dunia hingga saat ini.

C. Komponen - Komponen Seismograf

Menurut Olivia N. Harahap (1994:93) : Seismograf adalah sebuah alat


elektronika yang berfungsi sebagai pencatat gempa bumi. Dalam sebuah seismograf
terdiri dari beberapa bagian, yaitu sebuah sensor, amplifier dan pengkondisi sinyal,
ADC, Time System, Rekorder, dan tentunya power supply. Gabungan antara
amplifier dan pengkondisi sinyal, ADC, dan time system biasa disebut dengan
Digitizer.

6
1. Sensor

Sensor untuk sebuah Seismograph disebut Seismometer. Seismometer


diartiakan sebuah sensor yang menangkap gelombang seismik yang berbentuk
besaran fisik. Bentuk output dari seismometer adalah tegangan listrik. Seismometer
sendri terbagi dua jenis yaitu Short Period dan Broadband.

2. Amplyfier / Pengkondisi sinyal

Output dari seismometer yang berupa tegangan tersebut merupakan input dari
bagian ini. Seperti namanya Amplyfier, berfungsi sebagai penguat tegangan dari
seismometer. Sebab tegangan yang dihasilkan oleh seismometer belum dapat diolah
secara langsung oleh ADC, Jadi perlu dikuatkan dan dipilih (difilter) oleh
pengkondisi sinyal. Hasil dari bagian Amplyfier dan Pengkondisi Sinyal inilah yang
menjadi input bagi ADC.

3. ADC

ADC atau Analog to Digital Converter adalah sebuah bagian yang berfungsi
sebagai perubah dari sinyal analog, berupa tegangan listrik yang dikeluarkan oleh
pengkondisi sinyal menjadi sebuah bentuk digital. Bentuk digital inilah nantinya yang
akan diproses menjadi sebuah informasi. Digitizer juga diintegrasikan dengan sebuah
logger sebagai media penyimpan data. Sehingga data tersebut tidak hilang dan dapat
dipergunakan sewaktu-waktu.

4. Time System

Time System atau sistem pewaktu dalam sebuah Seismograf sangat penting
sebagai penyedia informasi waktu dari parameter gempa bumi. Sistem pewaktu dapat
diperoleh dari sebuah RTC (Real Time Clock), biasanya berupa IC, dan sebuah GPS
(Global Position system). Pada masa sekarang ini RTC dan GPS keduanya
dibutuhkan dalam seismograf untuk saling melengkapi.

7
5. Recorder

Recorder di dalam sebuah seismograf berfungsi sebagai pencatat atau


perekam untuk selanjutnya di lakukan analisa lanjutan. Sudah jamak di sini bahwa
recorder berupa sebuah PC atau laptop. Selain sebagai recorder, peran PC bisa juga
sebagai data logger dan juga analisis data. Hal tersebut dimungkinkan karena
dilengkapi dengan software analisa.

6. Power Supply

Sebuah alat elektronika tidak dapat bekerja tanpa diberi power supply. Power
supply yang digunakan adalah tegangan DC atau searah. Untuk sebuah seismograf
tegangan dari sumber masuk ke digitizer untuk selanjutnya didistribusikan ke semua
bagian.

D. Fungsi Seismograf

Pada seismograf terdapat dua bagian, yaitu bagian horizontal dan vertikal,
fungsi keduanya adalah sebagai berikut :

Gambar 2.4. Seismograf Horizontal dan Vertikal

1. Seismograf Horizontal

Seismograf horizontal berfungsi untuk mencatat getaran bumi pada arah


mendatar. Pada Seismograf horizontal, massa stasioner digantung dengan sebuah

8
tali. Dibagian bawah terdapat jarum yang ujungnya menyentuh roll pita, yang selalu
berputar searah jarum jam. Tiang penompang roll pita terpancang pada tanah. Pada
waktu terjadi gempa, roll pita bergetar, sedang massa stasioner dan jarum jam tetap.
Maka terbentuklah goresan pada roll pita tersebut yang disebut seismogram.

2. Seismograf Vertikal

Seismograf Vertikal berfungsi untuk mencatat getaran gempa vertikal. Massa


Stasioner pada Seismograf vertikal ditahan oleh sebuah pegas (P) dan sebuah tangkai
berengsel. Ujung massa stasioner yang berjarum disentuhkan pada roll pita yang
selalu bergerak searah jarum jam. Jika terjadi getaran gempa, maka roll pita akan
bergerak sehingga akan terbentuk seismogram pada roll pita tersebut.
Dengan menggunakan alat pengukur gempa, seismograf vertikal dan
seismograf horizontal gempa yang terjadi baik gempa vertikal maupun gempa
horizontal akan tercatat dan terdeteksi. Untuk mengetahui keakuratan data gempa
yang diperoleh, maka lebih baik jika pada sebuah stasion BMG di pasang 3 alat
pengukur gempa atau Seismograf. Yaitu 2 pasang seismograf Horizontal yang
dipasang arah utara-selatan dan arah timurbarat, serta satu seismograf Vertikal. Hal
ini dilakukan untuk mengetahui dari arah mana getaran gempa terjadi.

E. Jenis Seismograf Berdasarkan Pembacaan Skalar

Berdasarkan cara pembacaan data, sesmograf terdiri atas 2 yaitu :

1. Seismograf Manual (mekanikal)

Jenis gerakan mekanikal dapat mendeteksi baik gerakan vertikal maupun


gerakan horizontal tergantung dari pendular yang digunakan apakah vertikal atau
horizontal.
Pada komponen horizontal utara-selatan, arah gempa yang dicatat adalah arah
gempa pada posisi utara atau selatan sedangkan pada komponen horizontal timur-
barat, arah gempa yang dicatat adalah arah gempa pada posisi timur atau barat, dan

9
pada komponen vertikal arah gempa yang dicatat adalah arah gempa dilatasi atau
kompresi.

Gambar 2.5. Seismograf Manual

2. Seismograf Digital (elektromagnetik)

Seismograf modern menggunakan elektromagnetik seismographer untuk


memindahkan volatilitas sistem kawat tarik ke suatu daerah magnetis. Peristiwa-
peristiwa yang menimbulkan getaran kemudian dideteksi melalui
spelgavanometer.Selain itu, seismograf digital modern menambahkan komponen
keempat yaitu layar, "user-friendly", dan cepat transfer data.

Gambar 2.6. Seismograf Digital

10
F. Prinsip Kerja Seismograf

Menurut Andrew Langley (2007: 67), menyatakan : Prinsip kerja dari alat ini
yaitu mengembangkan kerja dari bandul sederhana. Ketika mendapatkan usikan atau
gangguan dari luar seperti gelombang seismik maka bandul akan bergetar dan
merekam datanya seperti grafik.
Pada bandul matematis, berat tali diabaikan dan panjang tali jauh lebih besar
dari pada ukuran geometris dari bandul. Pada posisi setimbang, bandul berada pada
titik A. Sedangkan pada titik B adalah kedudukan pada sudut di simpangan
maksimum (). Kalau titik B adalah kedudukan dari simpangan maksimum, maka
gerakan bandul dari B ke A lalu ke B dan kemudian kembali ke A dan lalu ke B lagi
dinamakan satu ayunan. Waktu yang diperlukan untuk melakukan satu ayunan ini
disebut periode (T).

f = Komponen w menurut garis singgung pada lintasan bandul


P = Gaya tegang tali
N = Komponen normal dari W = m . g
l = Panjang tali
= Sudut simpangan

11
Gaya pemulih yang bekerja pada bandul yaitu -mg sin . Sehingga
persamaannya dapat ditulis sbb :
F = mg sin
Tanda negatif diatas menunjukkan bahwa gaya mempunyai arah yang
berlawanan dengan simpangan sudut . Karena gaya pemulih F berbanding lurus
dengan sin bukan dengan , maka gerakan tersebut bukan merupakan Gerak
Harmonik Sederhana. Jika sudut kecil, maka panjang busur x (x = L kali ) hampir
sama dengan panjang L sin . Dengan demikian untuk sudut yang kecil,
menggunakan pendekatan :
Sin
Sehingga persamaan gaya pemulih menjadi :
F = mg Sin -mg
Karena :
x = L
maka persamaan diatas menjadi persamaan yang sama seperti dengan hukum Hooke :
F = -kx
Periode pendulum sederhana dapat kita tentukan menggunakan persamaan :

Konstanta gaya efektif k kita ganti dengan mg/L :

12
sehingga frekuensi pendulum sederhana

Berdasarkan persamaan di atas, tampak bahwa periode dan frekuensi getaran


pendulum sederhana bergantung pada panjang tali dan percepatan gravitasi. Karena
percepatan gravitasi bernilai tetap, maka periode sepenuhnya hanya bergantung pada
panjang tali (L). Dengan kata lain, periode dan frekuensi pendulum tidak bergantung
pada massa beban alias bola pendulum.

G. Cara Menggunakan Seismograf

Seismograf horizontal dan vertical, mempunyai tugas masing-masing.


Seismograf horizontal bertugas untuk mengukur atau mencatat getaran bumi pada
arah horizontal. Sedangkan seismograf vertikal untuk mencatat getaran bumi pada
vertikal. Mengetahui getaran yang dirasakan yaitu dengan pendalar, dengan adanya
pendalar tersebut dapat mengetahui seberapa besar tekanan yang diberikan oleh
getaran tersebut.
Menurut Paz (1996:23) : Cara kerjanya adalah apabila pada massa stasioner
dipasang pena tajam dan ujung pena itu disinggungkan pada benda lain yang
dipancangkan di tanah, maka pada saat bumi bergetar, akan terjadi goresan antara
massa stasioner dan benda tersebut. Goresan tersebut merupakan wujud dari
gambaran getaran bumi. Dari goresan-goresan itu para ahli dapat membaca tekanan
dan frekuensi suatu gempa.
Seismograf modern dan Seismograf yang belum moderen, mempunyai tugas
yang sedikit berbeda, dikarenakan seismograf modern adalah gabungan dari
seismograf lama. Seismograf menggunakan dua gerakan mekanik dan
elektromagnetik seismographer. Kedua jenis gerakan tersebut dapat mendeteksi baik

13
gerakan vertikal maupun gerakan horizontal tergantung dari pendulum (pemberat)
yang digunakan apakah vertikal atau horizontal. Seismograf modern menggunakan
elektromagnetik seismographer untuk memindahkan volatilitas sistem kawat tarik ke
suatu daerah magnetik.

H. Proses Kerja (Sistem Pengukuran)

Gempa bumi adalah getaran atau vibrasi permukaan bumi. Perhatikan kata.
Permukaan berarti hanya kerak bumi, suatu patahan di mana satu bongkah batu telah
bergesekan dengan batu lain dengan kekuatan dan gesekan yang sangat besar. Energi
dari gesekan ini diubah menjadi getaran di dalam batu-batuan. Yang dapat terasa
sampai ribuan mil.
Sekarang getaran-getaran gempa bumi merupakan sejenis gerakan gelombang
yang bergerak pada kecepatan yang berbeda-beda melalui kerak bumi yang berbatu-
batu. Karena getaran-getaran itu mencapai jarak yang jauh dan merambat melalui
batu-batuan, pada waktu getaran-getaran ini sampai disebabkan seismograf dapat
mendeteksinya.
Bayangkan sebuah balok atau pelat beton. Sebuah grafik yang ditempelkan
balok atau pelat itu menonjol keluar. Grafik itu sejajar dengan tanah, seperti lembaran
kertas. Di atasnya, sebuah balok menonjol keluar dari tempat tergantungnya suatu
beban. Pada dasar beban itu terdapat sebuah pena, yang menyentuh grafik itu.
Sekarang muncul gelombang gempa bumi. Balok beton bergerak dan demikian juga
grafik yang menempel padanya. Tetapi beban yang digantung tidak bergerak. Jadi,
pena itu membuat tanda-tanda pada grafik itu pada waktu pena itu bergerak dan kita
memperoleh catatan tentang gempa bumi. Tentu saja alat ini dibuat dengan sangat
teliti sehingga gerakan yang pling kecil sekalipun dapat dicatat. Jadi, sistem
pengukuran yang terjadi pada seismograf ada 3 tingkatan :
1. Tingkat 1 : tingkat pendeteksi
Fungsinya adalah untuk untuk mendeteksi getaran di bawah tanah oleh alat
yang tertancap di tanah.
2. Tingkat 2 : tingkat perantara getaran
Fungsinya adalah menyalurkan getaran dari alat yang tertancap di tanah,
biasanya berbentuk tali atau semacamnya yang dapat menyalurkan getaran.
3. Tingkat 3 : tingkat penerima getaran
Fungsinya adalah menerima getaran dari perantara ke massa yang jadi satu
dengan pena, sehingga pena tersebut bergerak sesuai getaran yang diterima.

14
I. Klasifikasi Besaran Gempa

Besaran (magnnitudo) gempa yang didasarkan pada amplitude gelombang


tektonik dicatat oleh seismograf dengan menggunakan skala ritcher. Selain itu, ada
massa yang bebas sari getaran gempa yang disebut massa stasioner. Cara kerjanya :
apabila pada massa stasioner tadi dipasang pena tajam dan ujung pena itu
disinggungkan pada benda lain yang dipancangkan di tanah, maka pada saat bumi
bergetar, akan terjadi goresan antara massastasioner dan benda tersebut. Goresan
tersebut merupakan wujud dari gambaran getaran bumi. Dari goresan-goresan itu para
ahli dapat membaca tekanann dan frekuensi suatu gempa.
Skala Ciri-ciri
2,0 3,4 Tidak terasa, tapi terekam seismograf
3,5 4,2 Hanya terasa oleh beberapa orang
4,3 4,8 Terasa oleh banyak orang
4,9 5,4 Terasa oleh semua orang
5,5 6,1 Sedikit merusakkan bangunan
6,2 6,9 Merusak bangunan
7,0 7,3 Rel kereta api bengkok
7,4 7,9 Kerusakan hebat
8,0 Kerusakan luar biasa

A. Persamaan Perhitungan Kekuatan Gempa (agnitudo Skala Richter)


Magnitudo gempa bumi dihitung dengan menggunakan rumus : m = 1,3 + 0,6
Io. Dalam rumus ini, m = magintudo, Io adalah intensitas Ms yang didasarkan pada
skala Mercalli. Sebagai contoh, jika Anda memiliki gempa bumi dengan intensitas
XII (12), maka magnitudonya adalah m = 1,3 + 0,6 x 12 = 8,5 Skala Richter.
Cara kedua menghitung magnitudo adalah dengan menggunakan rumus berikut:
m = 2,2 +1,8 log ao. Dalam rumus ini m adalah magintudo dan ao adalah akselerasi

15
dalam cm/det2. Sebagai contoh, jika kita memiliki gempa bumi dengan akselerasi
1400 cm/det2, magnitudonya adalah m = 2,2 + 1,8 x log 1400 = 7,8.
Jika kita sudah berhasil menentukan besaran magnitudo, kita dapat menghitung
besaran energi yang terbuang. Untuk menghitung energi E, kita menggunakan rumus:
log E = 11,4 + 1, 5m. Sebagai contoh, jika kekuatan gempa yang dihitung sekitar 7,6,
maka rumusnya adalah: Log E= 11,4 +1,5 x 7,6 = 22. Ini adalah nilai dari logaritma
energi.
Cara kedua untuk menghitung besaran energi adalah dengan menggunakan
rumus log E = 16,4 + 1,5 log A / T) + 2,5 log D . Formula A ini memiliki amplitudo
yang lebih baik daripada yang lain, misalnya menyebut bahwa gelombang permukaan
menunjukkan akselerasi microns (1/1000 mm); T adalah periode gelombang dalam
detik; D adalah jarak episentrum dalam derajat.
Untuk mencari D , digunakan rumus : D = Ec/110.6 yaitu jarak ke episentrum
(dalam km). Sebagai contoh, jika amplitude A adalah 1070 microns, T adalah 20
detik dan D adalah 115 km. Kemudian akan dihasilkan log E = 16,4 + 1,5 x log (1070
/ 20) + 2,5 x log 115 = 24. Dengan inv log 24 dapat menghitung energi yang dilepas
adalah 1,4 x 1024 J.
Cara Menghitung Kekuatam Gempa:

a. Dengan menggunakan hasil pencatatan seismograf, yang satu seismograf


vertical, satu seismograf horizontal yang berarah utara-selatan, dan satu lagi
seismograf horizontal yang berarah timur-barat. Dengan tiga seismograf aini
akan ditemukan letak episentrum.
b. Dengan menggunakan tiga tempat yang terletak dlam satu homoseista. Ketiga
tempat yang terletak dalam satu homoseista itu dihubungkan, kemudian
ditarik garis sumbu pada garis yang menghubungkann tempat-tempat
pencatatan.
c. Dengan menggunakan tiga tempat yang mencatat jarak episentrum. Cara ini
dicari dengan rumus Laska, yaitu:

16
J. Kelebihan dan Kekurangan

Setiap alat seismograf dibuat secara perhitungan khusus. Tetapi kelebihan dan
kekurangan alat tersebut pasti ada, itu dikarenakan alat tersebut berfungsi untuk
mengetahui atau mendekteksi getaran, atau gempa bumi. Berikut adalah kelebihan
dan kekurangan seismograf :

1. Kelebihan

Kelebihan seismograf termasuk dari fungsi seismograf itu sendiri. Karena


seismograf terdapat banyak jenis dan macamnya. Jadi, seismograf mempunyai tugas
masing-masing. Berikut adalah kelebihan seismograf . Seismograf menggunakan dua
klasifikasi yang berbeda untuk mengukur Gelombang seismik yang dihasilkan
gempa, yaitu besaran gempa dan intensitas gempa. Kedua klasifikasi pengukuran ini
menggunakan skala pengukuran yang berbeda pula. Skala pengukuran gempa
tersebut terdiri dari skala Richter dan Skala Mercalli . Skala Richter digunakan untuk
menggambarkan besaran gempa, sedangkan Skala Mercalli digunakan untuk
menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung, dan
manusia.

17
Karena seismograf lama terdiri dari 2 macam yaitu Seismograf horizontal
bertugas untuk mengukur atau mencatat getaran bumi pada arah horizontal.
Sedangkan seismograf vertikal untuk mencatat getaran bumi pada vertikal.

2. Kekurangan

Alat seismograf dapat mengetahui getaran sekecil mungkin, tetapi bukan berarti
seismograf tidak mempunyai kelemahana atau kekurangan. Kekurangan seismograf
tersebut disebabkan oleh :

a. Jika getaran yang terlalu kuat membuat seismograf tidak mampu membuat
catatan, karena tangkai alat pencatat bisa mengalami kerusakan.
b. Karena seismograf adalah alat yang selalu didekatkan dengan lokasi getaran.
Jadi, ada peraturan yang memasang seismograf tersebut pada saat getaran
besar terjadi, karena melalui beberapa pertimbangan.

18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Seismograf adalah alat atau sensor getaran, yang biasa digunakan untuk
mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Hasil rekaman dari alat
ini disebut seismogram. Sebuah seismograf dapat mencatat gempa komponen vertical
dan gempa komponen horizontal.
Ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.
Skala Mercalli, Omori, Cancani, dan skala Richter, namun skala Richter adalah yang
paling popular untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Prinsip kerja yang digunakan
pada seismograf yaitu mengembangkan kerja dari bandul sederhana.
Dalam sebuah seismograf terdiri dari beberapa bagian, yaitu sebuah sensor,
amplifier dan pengkondisi sinyal, ADC, Time System, Rekorder, dan power supply.
Gabungan antara amplifier dan pengkondisi sinyal, ADC, dan time system biasa
disebut dengan Digitizer.

B. Saran
Dari pembahasan yang ada pada makalah ini mungkin masih belum lengkap
dalam pengumpulan data baik dari segi sestimatis dalam penyusunan makalah ini.
Kami mengharapkan semoga apa yang telah disajikan dapat bermanfaat bagi para
pembaca.

19
DAFTAR PUSTAKA

Yeti Nuryantini, Ade.2007.Gempa Bumi, Bandung: Karya Putra Darwati.

http://id.wikipedia.org/wiki/Alarm

http://id.wikipedia.org/wiki/Seismometer

http://www.kaskus.us/showthread.php?p=473585798

http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2165497-pengertian-seismograf-cara-
kerja-seismograf/

http://www.mafiosodeciviliano.com/artikel/teknik-sipil/567-cara-mengukur-besaran-
gempa-dan -skala-mercalli

http://asyafe.wordpress.com/2009/10/04/prinsip-kerja-seismograph/

20