Anda di halaman 1dari 15

KONDISI PARIWISATA INTERNASIONAL

Berdasarkan data yang dikutip dari WTO , pada tahun 2000 wisatawan manca negara
(wisman) internasional mencapai jumlah 698 juta orang yang mampu menciptakan
pendapatan sebesar USD 476 milyar. Pertumbuhan jumlah wisatawan pada dekade 90-an
sebesar 4,2 % sedangkan pertumbuhan penerimaan dari wisman sebesar 7,3 persen, bahkan di
28 negara pendapatan tumbuh 15 pesen per tahun.

Sedangkan jumlah wisatawan dalam negeri di masing-masing negara jumlahnya lebih besar
lagi dan kelompok ini merupakan penggerak utama dari perekonomian nasional. sebagai
gambaran di Indonesia jumlah wisatawan nusantara (wisnus) pada tahun 2000 adalah sebesar
134 juta dengan pengeluaran sebesar Rp. 7,7 triliun. Jumlah ini akan makin meningkat
dengan adanya kemudahan untuk mengakses suatu daerah.

Atas dasar angka-angka tersebut maka pantutlah apabila pariwisata dikategorikan kedalam
kelompok industri terbesar dunia ( the world's largest industry ), sebagaimana dinyatakan
pula oleh John Naisbitt dalam buku tersebut diatas . Sekitar 8 persen dari ekspor barang dan
jasa, pada umumnya berasal dari sektor pariwisata. Dan pariwisata pun telah menjadi
penyumbang terbesar dalam perdagangan internasional dari sektor jasa, kurang lebih 37
persen, termasuk 5-top exports categories di 83% negara WTO, sumber utama devisa di 38%
negara dan di Asia Tenggara pariwisata dapat menyumbangkan 10 12 persen dari GDP serta
7 8 persen dari total employement .

Dominasi tujuan wisata pun mulai berubah. Apabila di tahun 1950, 15 tujuan wisata utama di
dunia terkonsentrasi di Eropah Barat dan Amerika Utara, yang mendatangkan 97% dari
jumlah wisatawan dunia, maka pada tahun 1999 jumlah ini menurun menjadi 62%, sisanya
menyebar diberbagai belahan dunia terutama Asia Timur , Eropah Timur, dan Amerika Latin.
Diantaranya di kawasan Asia Timur dan Pasifik, kedatangan wisatawan tercatat 122 juta
diantaranya yang tertinggi diraih oleh Cina sebesar 31,29 juta dengan perolehan devisa USD
16,231 miliar. sedangkan terendah dari sepuluh besar adalah Jepang dengan kedatangan
wisatawan 4,757 juta dan memperoleh devisa USD. 3,374 miliar. Dan Indonesia merupakan
negara dengan urutan kedelapan yang dikunjungi oleh 5,064 juta dengan peroleh devisa USD.
5,7 miliar (pada tahun 2000).

Prospek pariwisata ke depan pun sangat menjanjikan bahkan sangat memberikan peluang
besar, terutama apabila menyimak angka-angka perkiraan jumlah wisatawan internasional (
inbound tourism ) berdasarkan perkiraan WTO yakni 1,046 milyar orang (tahun 2010) dan
1,602 milyar orang (tahun 2020), diantaranya masing-masing 231 juta dan 438 juta orang
berada di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dan akan mampu menciptakan pendapatan dunia
sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020.

Berdasarkan angka perkiraan tersebut maka, para pelaku pariwisata Indonesia seyogyanya
melakukan perencanaan yang matang dan terarah untuk menjawab tantangan sekaligus
menangkap peluang yang akan bersliweran atau lalu lalang di kawasan kita. Pemanfaatan
peluang harus dilakukan melalui pendekatan re-positioning keberadaan masing-masing
kegiatan pariwisata dimulai dari sejak investasi, promosi, pembuatan produk pariwisata,
penyiapan jaringan pemasaran internasional, dan penyiapan sumber daya manusia yang
berkualitas. Kesemuanya ini harus disiapkan untuk memenuhi standar internasional sehingga
dapat lebih kompetitif dan menarik, dibandingkan dengan kegiatan yang serupa dari negara-
negara disekitar Indonesia.

Walaupun demikian, persaingan ini seharusnya disikapi pula bersama-sama dengan


persandingan sehingga mampu menciptakan suasana co-opetition ( cooperation and
competition ) terutama dengan negara tetangga yang lebih siap dan lebih sungguh-sungguh
menangkap peluang datangnya wisatawan internasional di daerah mereka masing-masing.
Paling tidak kita harus mampu menangkap dan memanfaatkan tetesan wisatawan yang
berkunjung ke negara tetangga untuk singgah ke Indonesia.

PERUBAHAN POLA KONSUMSI

Disamping jumlah wisman yang makin meningkat, saat ini pun telah terjadi perubahan
consumers-behaviour pattern atau pola konsumsi dari para wisatawan . Mereka tidak lagi
terfokus hanya ingin santai dan menikmati sun-sea and sand, saat ini pola konsumsi mulai
berubah ke jenis wisata yang lebih tinggi, yang meskipun tetap santai tetapi dengan selera
yang lebih meningkat yakni menikmati produk atau kreasi budaya ( culture ) dan peninggalan
sejarah ( heritage ) serta nature atau eko-wisata dari suatu daerah atau negara.

Perubahan pola wisata ini perlu segera disikapi dengan berbagai strategi pengembangan
produk pariwisata maupun promosi baik disisi pemerintah maupun swasta. Dari sisi
pemerintahan perlu dilakukan perubahan skala prioritas kebijakan sehingga peran sebagai
fasilitator dapat dioptimalkan untuk mengantisipasi hal ini. Disisi lain ada porsi kegiatan
yang harus disiapkan dan dilaksanakan oleh swasta yang lebih mempunyai sense of business
karena memang sifat kegiatannya berorientasi bisnis.Dan dengan diberlakukannya Undang-
undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah maka perlu pula porsi kegiatan
untuk pemerintah daerah yang akibat adanya otonomi daerah lebih memiliki wewenang untuk
mengembangkan pariwisata daerah. Secara sederhana pembagian upaya promosi misalnya
akan dapat ditempuh langkah-langkah dimana untuk pemerintah pusat melakukan country-
image promotion , daerah melakukan destination promotion sesuai dengan keunggulan
daerah masing-masing, sedangkan industri atau swasta melakukan product promotion
masing-masing pelaku industri.

Di bidang budaya harus dirintis kembali pengembangan dan peningkatan kehidupan


kebudayaan dikalangan masyarakat secara rutin dan berkesinambungan diberbagai tingkatan
daerah sejak desa sampai ke perkotaan, tidak lagi dipusatkan hanya di Pusat ataupun di ibu
kota propinsi. Gerakan massal ini memerlukan waktu minimal 5 10 tahun. Adanya upaya
penyeragaman budaya menjadi budaya nasional, seperti pada masa lalu, haruslah dicegah
agar ke-bhineka-an budaya dan kesenian dapat tumbuh berkembang dengan sehat dan
alamiah. Apresiasi budaya dan kesenian diberbagai tingkatan harus dilakukan oleh rakyat
secara spontan bukan lagi didasarkan karena adanya arahan dari pusat ataupun
diselenggarakan melalui panitia pusat. Yang pada akhirnya setelah surat keputusan berakhir
maka berbagai event ataupun festival pun tidak muncul lagi dan menunggu SK berikutnya.
Paragdima berpikir semacam ini haruslah dikikis habis oleh para pelaku pariwisata itu
sendiri. Dan seandainya pun Pemerintah ada dananya dan akan membantu kegiatan-kegiatan
budaya kesenian, hendaknya hanyalah bersifat start-up untuk menggulirkan kegiatan
tersebut pada tahap-tahap awal sedangkan untuk selanjutnya harus dapat dikembangkan
sendiri dari swadaya masyarakat.

Dibidang peninggalan benda-benda sejarah pun hendaknya dilakukan pendekatan yang


serupa, dalam arti penemuan situs-situs baru ataupun pemeliharan berbagai peninggalan
sejarah atau pun museum, dilakukan tidak semata-mata hanya untuk memenuhi kewajiban
dinas semata atau kenikmatan disiplin ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kegiatan
tersebut. Agar apresiasi terhadap peninggalan sejarah dapat lebih ditingkatkan maka pola
berfikirpun hendaknya diadakan pula re-positioning yakni dengan menjadikannya sebagai
salah satu daya tarik wisatawan dunia untuk berkunjung ke Indonesia. Perubahan ini tidak
akan merusak keberadaan dari benda-benda bersejarah bahkan akan makin memberikan
apresiasi yang lebih tinggi lagi baik terhadap upaya pemeliharaan benda bersejarah maupun
terhadap budaya bangsa.

Menarik untuk disimak Deklarasi Bali tentang Conserving Cultural Heritage for Sustainable
Social, Economic and Tourism Development pada tanggal 14 Juli 2000 antara lain : The
growth of the tourist industry brings welcome economic development to many parts of the
world. Cultural tourism is now a significant sector of this industry. Mass tourism and
inappropriate behavior by tourists and those in the tourist industry can, and has, adversely
affected the cultural identity of tourism centers. The tourism industry must recognize that it
has a responsibility to contribute to the maintenance of the living culture on which it relies .

Dan sesungguhnya culture dan heritage ini adalah nyawanya atau roh dari kegiatan
pariwisata Indonesia. Tanpa adanya budaya maka pariwisata akan terasa hambar dan kering,
dan tidak akan memiliki daya tarik untuk dikunjungi.

TEKNOLOGI DAN PARIWISATA

Data yang disajikan WTO terdapat pula hal yang menarik yakni bahwa ditemu kenali adanya
4 negara kelompok besar penyumbang wisatawan dunia yakni Amerika Serikat, Jerman,
Jepang dan Inggeris yang menyumbangkan 41% dari pendapatan pariwisata dunia. Dari segi
teknologi, keempat negara inipun merupakan negara-negara terbesar pengguna teknologi
informasi- internet, yakni 79 persen dari populasi internet dunia (tahun 1997) k.l. 130 juta
pengguna internet. Angka-angka ini bukanlah secara kebetulan atau di-gathuk-gathukan ,
tetapi memang ada korelasi yang erat antara pemakaian teknologi informasi dengan
peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara.

Internet tidak semata-mata hanya merupakan temuan teknologi belaka, tetapi juga merupakan
guru untuk mendidik manusia menemukan berbagai informasi (termasuk informasi
pariwisata) yang diinginkannya, sehingga membuat hidup jauh lebih mudah ( to make life
much easier) . Wisatawan kini tidak sabar menunggu informasi yang biasanya diberikan
melalui biro jasa perjalanan ataupun organisasi lainnya. Mereka lebih senang mencari sendiri
apa yang ada di benaknya sehingga mampu meyakinkan bahwa produk yang dipilihnya
adalah yang terbaik.

Mengapa hal ini menjadi sangat penting di industri pariwisata ? Hal ini karena produk
ataupun jasa yang diinginkan di sektor pariwisata tidak muncul ataupun exist pada saat
transaksi berlangsung. Pada saat perjalanan wisata dibeli pada umumnya hanyalah membeli
informasi yang berada di komputer melalui reservation system nya. Yang dibeli oleh
wisatawan hanyalah hak untuk suatu produk, jasa penerbangan ataupun hotel. Berbeda
dengan komoditas lainnya seperti TV ataupun kamera, wisata tidak dapat memberikan
sample sebelum keputusan untuk membeli dilakukan, it cannot be sampled before the
traveler arrives . Keputusan untuk membeli pun kebanyakan berasal dari rekomendasi dari
relasi, brosur, atau iklan diberbagai media cetak. Jadi sesungguhnya bisnis pariwisata adalah
bisnis kepercayaan atau trust .

Dengan adanya internet, informasi yang dibutuhkan untuk suatu perjalanan wisata tersedia
terutama dalam bentuk World Wide Web atau Web. Konsumen sekarang dapat langsung
berhubungan dengan sumber informasi tanpa melalui perantara. Dan saat ini dikenal new-
truth para marketers pariwisata yakni

if you are not online, then you are not on-sale. If your destination is not on the Web then it
may well be ignored by the millions of people who now have access to the internet and who
expect that every destination will have a comprehensive presence on the Web. The Web is the
new destination marketing battleground and if you are not in there fighting then you cannot
expect to win the battle for tourist dollars

Haruslah diyakini bahwa Web adalah saluran ideal dan alat yang ampuh untuk
mempromosikan daerah tujuan wisata, dengan biaya yang sangat murah. Namun dalam
berkompetisi ini yang harus diperhatikan, karena merupakan senjata utama kita, adalah
kualitas dari informasi itu sendiri. Karena wisatawan akan mendasarkan keputusannya untuk
mengunjungi suatu DTW atau obyek wisata hanya kepada berbagai informasi yang tersedia
untuk mereka di Web. Sekali mereka mendapat informasi yang keliru maka keunggulan
teknologi ini akan menjadi tidak ada gunanya

COMMUNITY-BASED TOURISM DEVELOPMENT

Pada bulan Juli 2000, Bank Dunia mulai memikirkan bagaimana caranya menanggulangi
masalah kemiskinan melalui sektor pariwisata yang kemudian dikenal dengan community-
based tourism (CBT). Selanjutnya diidentifikasi adanya tiga kegiatan pariwisata yang dapat
mendukung konsep CBT yakni adventure travel , cultural travel dan ecotourism . Dibahas
pula kaitannya dengan akomodasi yang dimiliki oleh masyarakat atau disebut small family-
owned hotels yang biasanya berkaitan erat dengan tiga jenis kegiatan tersebut. Bank Dunia
yakin bahwa peningkatan wisata adventur e , ecology dan budaya akan mampu meningkatkan
pendapatan masyarakat setempat dan sekitarnya sekaligus memelihara budaya, kesenian dan
cara hidup masyarakat disekitarnya. Selain itu CBT akan melibatkan pula masyarakat dalam
proses pembuatan keputusan, dan dalam perolehan bagian pendapatan terbesar secara
langsung dari kehadiran para wisatawan. Sehingga dengan demikian CBT akan dapat
menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif
terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan
akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh
akibat peningkatan kegiatan pariwisata. Jadi sesungguhnya CBT adalah konsep ekonomi
kerakyatan di sektor riil, yang langsung dilaksanakan oleh masyarakat dan hasilnyapun
langsung dinikmati oleh mereka.

Yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam konsep CBT adalah wisatawan domestik
(wisnus) yang perannya sangat besar dalam menumbuhkan dan mengembangkan obyek-
obyek wisata yang nantinya diharapkan akan dikunjungi oleh wisman. Obyek-obyek wisata
yang sering dan padat dikunjungi oleh wisnus akan memperoleh manfaat lebih besar
dibandingkan dengan yang jarang dikunjungi wisnus. Makin banyak wisnus berkunjung ,
makin terkenal obyek tersebut dan pada akhirnya merupakan promosi untuk menarik
datangnya wisman.
Dengan dilaksanakannya otonomi daerah, maka pengembangan dan pembangunan obyek
wisata atas dasar CBT ini adalah merupakan salah satu tugas pemerintah daerah, meskipun
tetap diupayakan agar hanya sampai sebatas sebagai fasilitator untuk menarik investor swasta
melakukan kegiatan-kegiatan tersebut. Event-event pariwisata harus disusun secara konsisten
sehingga dapat dijadikan acuan para pelaku pariwisata menjual ke berbagai pasar pariwisata
dunia. Tanpa event yang tetap dan berkualitas maka akan sulit menarik pengunjung ke lokasi
tersebut. Selain itu prasarana pariwisata pun harus ditingkatkan kualitasnya terutama yang
terkait dengan kesehatan, kebersihan, keamanan dan kenyamanan.

NERACA SATELIT PARIWISATA (TOURISM SATELLITE ACCOUNT)

Sebagai bagian dari kegiatan ekonomi, maka mau tidak mau pariwisata pun harus mengikuti
pakem ilmu ekonomi yakni setiap kegiatan harus dapat di-kuantitatif-kan, yang pada
umumnya melalui alat statistik sehingga dapat mencerminkan keadaan sesungguhnya dari
pencapaian suatu kegiatan yang direncanakan. Sehingga masyarakat yang tidak langsung
bergerak di kegiatan pariwisata dapat mengerti dalam bahasa yang lebih universal.

Pada waktu ini penghitungan angka-angka statistik pariwisata didasarkan pada data sekunder
yang berasal dari berbagai lembaga yang terlibat langsung dengan kedatangan wisman, antara
lain Imigrasi, Biro Pusat Statistik, Bank Indonesia, Depbudpar, Disparda,PHRI. Kesulitan
akan dihadapi apabila angka-angka statistik kita digabungkan ataupun dibandingkan dengan
angka statistik negara lainnya. seringkali tidak sepadan atau tidak apple to apple .

Untuk itulah WTO pada tahun 1991 dalam International Conference on Travel and Tourism
Statistics di Ottawa, merekomendasikan diterapkannya ukuran baru tentang sumbangan
pariwisata terhadap perekonomian yang dikenal dengan Tourism Satellite Account (TSA)
atau NESPARNAS (Neraca Satelit Pariwisata Nasional). Standar statistik ini sesungguhnya
mengacu kepada UN System of National Accounts yang menampilkan definisi dan klasifikasi
yang dipergunakan untuk survai sesuai standar internasional, sumbangan terhadap
perekonomian dan keterkaitannya dengan berbagai sektor ekonomi lainnya, konsumsi yang
dilakukan oleh wisatawan baik untuk sektor pariwisata maupun sektor lainnya. Konsep-
konsep penerapan TSA di Indonesia saat ini sedang dikembangkan dan diharapkan dalam
waktu dekat akan dapat mulai diterapkan secara bertahap.

Hal ini dibuktikan dengan masih rendahnya daya saing industri di pasar
internasional. Menurut GCI (Global Competitivenes Index), pada tahun 2010
peringkat daya saing Indonesia di antara negara anggota ASEAN, Indonesia
berada pada urutan ke-5 setelah Singapura (3), Malaysia (26), Brunei (28),
Thailand (38), dan berada di atas peringkat Vietnam (59), Filipina (85), dan
Kamboja (109). Artinya Indonesia harus meningkatkan lagi daya saingnya di
tingkat regional ASEAN, sehingga bisa menjadi excellent service leader yang
mengungguli negara-negara ASEAN di bidang jasa. Untuk itu perlu bagi
Pemerintah dan semua elemen seperti swasta, dan masyarakat aware dan siap
dengan AEC 2015 yang sudah di depan mata.

Sebagai contoh adalah kebutuhan tenaga medis di Indonesia seperti dokter


dan perawat, banyak tenaga medis Indonesia kini berasal dari Philipina dan
Vietnam yang bekerja di rumah sakit Indonesia, karena posisi Indonesia masih
berada pada pengelompokan kompetitif menengah dan harus bersaing dengan
kedua anggota negara ASEAN tersebut. Faktornya antara lain karena
keterbatasan dalam penggunaan bahasa Inggris oleh tenaga medis Indonesia
yang masih memposisikan bahasa Indonesai sebagai bahasa asing dan bukan
bahasa kedua.

Dalam hal ini, bisa disimpulkan jumlah dokter dan perawat di Indonesia
masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Rasio dokter
dengan jumlah penduduk berada pada angka 0,3 untuk setiap 1.000 penduduk.
Jauh tertinggal dibandingkan dengan rasio Singapura (1,7), Malaysia (1,2), dan
Filipina (1,1). Demikian juga untuk perawat, rasionya adalah 2,0, sementara
Singapura (5,2), Malaysia (2,4), dan Filipina (4,3). Untuk itu mampukah tenaga
kerja medis kita bersaing.

Untuk itu Pemerintah perlu untuk memperhatikan permasalahan tersebut


dan membangun startegi dan grand design yang bersifat nasional, baik di tingkat
kompetensi SDM pusat mupun daerah dalam rangka peningkatan daya saing,
maka pembangunan sektor industri jasa nasional yang sinergi dengan daerah
dilakukan melalui dua pendekatan. Pendekatan pertama yaitu pendekatan top
down, merupakan pembangunan industri sektor jasa dibidang keahlian dan
keterampilan dengan tingkat kompetensi tertentu (grading) yang direncanakan
(by design) dengan memperhatikan prioritas dan memenuhi kriteria yang
ditentukan secara nasional dan diikuti oleh partisipasi daerah melalui kebijakan
industri secara nasional dilakukan dengan menentukan industri prioritas.
Pendekatan kedua adalah bottom-up yaitu melalui pemilihan dan
penetapan kompetensi jasa inti yang merupakan keunggulan sektor industri jasa
SDM daerah sehingga memiliki daya saing. Pengembangan kompetensi inti
industr SDM daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri jasa
nasional karena pengembangan industrinya lebih fokus dan lokusnya juga jelas,
sehingga kinerja menjadi terukur dan mudah dievaluasi program
pengembangannya.

Dalam pendekatan tersebut, Kementerian terkait harus membangun


pengembangan kompetenasi inti industri jasa SDM di daerah melalui identifikasi
kompetensi inti industri jasa dan fasilitasi lainnya. Namun demikian, perlu
membuat kajian khusus untuk menentukan kempetensi inti industri jasa yang
dimiliki oleh kabupaten/kota yang belum menyentuh dari sisi peluangnya. Misal
skill yang dimiliki seperti terampil administrasi, perpajakan, perawatan,
pelayanan, dan sebagainya sedangkan keahlian yang dimiliki seperti ahli
anestesi, ahli bedah, ahli pelatihan dan sebagainya yang lebih dekat pada
sertifikasi profesi.

Adapun hasil kajian kompetensi inti industri jasa yang dihasilkan bisa
menjadi semacam rekomendasi bagi daerah dalam rangka mengembangkan
sektor industrinya. Permasalahan yang juga dihadapi oleh daerah saat ini, antara
lain karena konsep kompetensi inti industri jasa beserta manfaat-manfaatnya
yang belum diterapkan secara benar dalam perencanaan perekonomian daerah,
nasional dan regional.

Dengan demikian Indonesia dapat memenuhi lapangan kerja di dalam


negeri dan bisa bersaing dengan tenaga kerja asing karena sudah terampil dan
ahli dibidangnya dan tidak menutup kemungkinan adanya pergerakan tenaga
kerja ahli Indonesia ke luar negeri sebagai tenaga kerja yang terampil dan
bermartabat sehinga kita tidak lagi mendengar kasus adanya TKI Indonesia di
negara Asia dan Timur Tengah yang dihina dan mengalami penyiksaan, dan tidak
dipenuhi haknya. Dari segi pemerataan ekonomi akan meningkatkan
pendapatan tenaga kerja Indonesia yang dengan sendirinya meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia dan negara-negara anggota ASEAN.

Disamping itu untuk menangani konflik tenaga kerja yang terus


bermunculan, seperti contoh kasus tenaga kerja migrant Indonesia dan Malaysia
maka Pemerintah harusberupaya melindungi warga negaranya melalui upaya
diplomasi dan pembuatan kesepakatan bilateral dengan menyusun nota
kesepahaman bersama (Memorandum Of Understanding) yang bertujuan
menjmin hak dan kewajiban para tenaga kerja Indonesia sehingga tercapai
kesejahteraan antar kedua negara.

Lebih lanjut lagi untuk sinergi antara pemerintah pusat dan daerah maka
perlu menyusun peta panduan pengembangan industri jasa keunggulan daerah
tersebut dalam peta panduan pengembangan kompetensi inti sebagai wujud
komitmen bersama antara pusat dan daerah, sehingga menjadi pedoman
operasional bagi daerah dalam menyusun perencanaan pembangunan industri
jasa di daerah. Sebagai contoh sektor industri pariwisata di daerah Bali
membutuhkan tenaga kerja jasa terampil di bidang perhotelan, hospitality,
restoran, dan sebagainya membutuhkan standar kompetensi tertentu yang bisa
dikembangkan. Dan amsih banyak lagi daerah-daerah di Indonesia yang bisa
mengembangkan sektor jasa di daerahnya dengan mengenali potensi keunggulan
daerah tersebut, dan tentu saja sektor Pariwisata sangat dominan untuk
dikembangkan di Indonesia dengan mengeksplorasi jasa di bidang budaya,
kuliner, wisata gunung, laut , pantai dan sebagainya.
Tulisan saya berjudul "Perhatikan Sektor Industri Jasa di MEA 2015, hal
14.

Indonesia harus bisa menelaah daya saing SDM bangsa yang secara
analisis bisa diunggulkan dan membenahi kelemahan sektor jasa lainnya secara
bertahap, dan hal ini bisa dimulai dengan pendidikan dan pelatihan yang
dilaksanakan melalui kerjasama internal (pemerintah dan swasta) dan eksternal
(kerjasama antar lembaga pendidikan, pelatihan, universitas ASEAN dan luar
negeri). Semoga Indonesia akan kembali menunjukkan kejayaannya sebagai
negara besar menuju kesejahteraan bangsa dengan mempersiapkan Sumber daya
manusia yang terampil dan ahli melayani serta sebagai bangsa bermatabat yang
berdiri sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Salam ASEAN.

Pariwisata adalah sektor yang tetap menggeliat di tengah pelambatan ekonomi global.
Wisatawan lokal mulai diperhitungkan di tengah membaiknya pendapatan masyarakat dan
tren gaya hidup berwisata. Bagaimana Panorama mengantisipasi hal tersebut? Berikut
kutipan wawancara dengan Royanto Handaya, President Director Panorama Tours Indonesia,
dikutip dari marketing.co.id :

Anda sudah banyak makan asam garam bisnis travel and leisure, sebenarnya apa yang
paling menarik dari bisnis ini?

Bisnis pariwisata adalah bisnis yang tangguh. Sekalipun berbagai ancaman dari krisis
ekonomi global, bom, perang atau fluktuasi harga minyak dunia, bisnis pariwisata tetap saja
berkibar. Saat ini, perjalanan bukan lagi dirasakan sebagai sebuah kemewahan yang mahal,
melainkan sudah menjelma menjadi gaya hidup masyarakat yang menuntut kehidupan yang
seimbang antara kerja dan keluarga.
Di samping itu, bagi negara merupakan penyumbang devisa besar. Selama beberapa tahun
terakhir data menunjukkan sektor pariwisata masuk dalam lima besar penyumbang
pemasukan negara. Dan bisnis ini sedang berkembang sangat pesat di Indonesia, sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi yang terbilang bagus, yang ditandai dengan status Indonesia
yang meningkat menjadi investment grade, pendapatan per kapita tahun 2010 mencapai
US$3.500 per orang. Terjadi pertumbuhan jumlah masyarakat kelas menengah ke atas yang
pesat, disertai distribusi pendapatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi di luar Jakarta
atau Pulau Jawa.

Anda diangkat menjadi Presdir PT Panorama Tours sejak Januari 2011, terobosan apa
yang Anda lakukan?

Sebagai industri kreatif, bisnis pariwisata tergolong sebagai bisnis yang sangat dinamis. Di
tengah-tengah perubahan lingkungan di dalam maupun luar perusahaan yang sangat cepat,
disertai pengaruh langsung dari regionalisasi dan globalisasi.

Berbagai inovasi begitu dibuat begitu cepat menjadi nampak usang, karena dengan mudah
ditiru tanpa malu-malu oleh banyak pesaing yang lebih senang menjadi follower, sehingga
perlu terus dilakukan inovasi yang lebih baru. Inilah tantangan yang sungguh menarik,
berkejaran dengan waktu dan teknologi, dan di saat yang sama harus terus bertumbuh, baik
secara organik maupun anorganik.

Oleh sebab itu, sejumlah terobosan perlu diselenggarakan secara berkesinambungan,


termasuk di antaranya pengembangan organisasi dan sumber daya manusia yang merupakan
dasar buat melahirkan sejumlah inovasi teknologi dan perbaikan koordinasi kerja.

Bagaimana hasilnya sampai saat ini?

Jika kita mau objektif, pengakuan hasil yang absah bukan datang dari internal, melainkan
apabila datang dari pihak luar. Secara kebetulan, di dalam negeri Panorama Tours terpilih
meraih penghargaan Rekor Bisnis 2012 untuk kategori Biro Perjalanan Paling Inovatif dalam
inovasi pengembangan produk dan layanan. Di luar negeri, Panorama Tours terpilih oleh
Malaysia Tourism Award 2010/2011, Special Jury Award sebagai Innovative Foreign Tour
Operator.

Panorama sepertinya menerapkan strategi integrated brand (semua lini usaha pakai
merek Panorama). Apakah ini menjadi kekuatan utama dalam bersaing dengan
kompetitor?

Memang strategi ini sudah menjelma menjadi kekuatan utama bagi Panorama Group, yang
berdampak kepada seluruh anak perusahaan di bawahnya, baik bidang tourism,
transportation, hospitality and related businesses, termasuk di antaranya Panorama Tours,
sebagai differential advantage yang memampukan perusahaan dalam bersaing dengan
kompetitor.

Bagaimana sebenarnya persaingan di bisnis travel and leisure?

Secara luas ada beberapa segmen bidang usaha yang tercakup dalam bisnis travel and leisure,
di antaranya adalah inbound (wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia),
outbound (wisatawan Indonesia yang berkunjung ke mancanegara), domestik (wisatawan
Nusantara), MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition), dan special interest
(minat khusus).

Dengan adanya tidak kurang dari 7.000 biro perjalanan wisata yang terdaftar sebagai anggota
ASITA (Association of Indonesian Travel Agencies), 50 perusahaan penerbangan dalam dan
luar negeri, ribuan hotel yang tersebar luas seantero Indonesia, dan situs bisnis online yang
pesat menjamur, tentu sudah dapat digambarkan bagaimana ketatnya persaingan dalam bisnis
ini.

Masyarakat awam tahu kegiatan marketing perusahaan travel and leisure biasanya
hanya promosi wisata di hotel atau mal. Apakah cuma sebatas itu?

Kegiatan marketing dalam bentuk promosi wisata di hotel atau mal yang banyak dikenal luas
sebagai kegiatan travel fair biasanya merupakan salah satu metode yang dipergunakan biro
perjalanan wisata yang mengincar segmen pasar bisnis outbound yang sifatnya memang
business to consumers. Maka membutuhkan eksposur karena target segmen pasarnya adalah
masyarakat luas yang ingin melakukan perjalanan ke luar negeri. Biasanya juga disertai
sejumlah kegiatan advertisement and promotion lainnya yang dapat menjangkau pasar
konsumen ini seluas-luasnya, termasuk penggunaan media sosial.

Jika targetnya adalah segmen pasar lainnya, maka sudah pasti dibutuhkan kegiatan marketing
yang berbeda pula. Misalnya bisnis inbound yang sifatnya lebih ke arah business to business
melalui berbagai kegiatan seperti travel mart, tour catalogue, courtesy call, dan lain-lain.

Seperti kita tahu, Eropa dan AS tengah dilanda krisis. Apakah krisis di Eropa dan AS
berdampak pada kinerja bisnis Panorama?

Yang kini terjadi adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara Amerika Utara dan
Eropa Barat, disertai perlambatan di Cina dan India, mitra dagang utama merekakarena
permintaan berkurang dan menyebabkan harga menurun. Tapi pada saat yang sama, ternyata
sejumlah kawasan lain seperti Asia Pasifik, Amerika Selatan, Afrika, dan Australia, justru
yang terjadi kebalikannya, pertumbuhan ekonomi yang pesat atau moderat, bahkan rendah
seperti di Jepang.

Di sinilah letak ketangguhan (resilient) dunia pariwisata. Wisatawan mancanegara dari Eropa
boleh saja menurun, tapi digantikan oleh pertumbuhan wisatawan dari negara lain, sehingga
Indonesia tetap mengalami pertumbuhan wisatawan mancanegara yang positif. Dari sini
sudah dapat kita pahami bahwa krisis Amerika Utara dan Eropa Barat tidak berdampak
langsung kepada kinerja bisnis Panorama.

Bagaimana dengan turis Nusantara, apakah cukup signifikan menopang krisis di Eropa
dan AS?

Adalah benar, pepatah budaya Indonesia yang menyatakan ,Tidak ada akar, rotan pun

"Palang Merah" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Palang Merah, lihat Palang
Merah (disambiguasi).
Lambang palang merah dan bulan sabit merah; asal mula nama gerakan ini.

Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional merupakan kumpulan dari
organisasi kemanusiaan terbesar di dunia, seringkali dikenal sebagai Palang Merah (bahasa
Perancis: Croix rouge). Gerakan ini terdiri dari tiga komponen yaitu:

Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross,


ICRC), sebuah komite yang berpusat di Jenewa, Swiss, yang memiliki kewajiban
khusus di bawah hukum perikemanusiaan/humaniter internasional
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
(International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies, IFRC), yang
merupakan badan keanggotaan dari perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit
Merah nasional dari setiap negara yang didirikan untuk mengkoordinasi aksi bantuan
internasional dan mempromosikan aktivitas kemanusiaan internasional.
Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Nasional dari 186 negara (untuk
daftar selengkapnya lihat Daftar Serikat Palang Merah dan Bulan Sabit Merah).

Gerakan Palang Merah sekarang ini memiliki lebih dari 115 juta sukarelawan.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) adalah lembaga kemanusiaan swasta yang
berbasis di Jenewa, Swiss. Negara-negara peserta (penanda tangan) keempat Konvensi
Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977 dan 2005, telah memberi ICRC mandat untuk
melindungi korban konflik bersenjata internasional dan non-internasional. Termasuk di
dalamnya adalah korban luka dalam perang, tawanan, pengungsi, warga sipil, dan non-
kombatan lainnya.

ICRC adalah salah satu dari tiga komponen, sekaligus cikal bakal, Gerakan Palang Merah
dan Bulan Sabit Merah Internasional. Selain ICRC, komponen Gerakan antara lain Federasi
Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) dan 186
Perhimpunan Nasional. Perhimpunan Nasional di Indonesia bernama Palang Merah Indonesia
(PMI). ICRC adalah organisasi tertua dan dihormati dalam Gerakan, dan merupakan salah
satu organisasi yang paling banyak diakui di seluruh dunia. Salah satu contoh pengakuan
dunia, ICRC telah tiga kali menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1917, 1944, dan
1963.

Daftar isi
1 Misi dan mandat
2 Status Hukum
3 Sejarah
o 3.1 Pendirian Komite Internasional Palang Merah
o 3.2 Sebelum Perang Dunia I
o 3.3 Perang Dunia I
o 3.4 Perang Dunia II
o 3.5 Pasca Perang Dunia II
4 Organisasi
o 4.1 Direktorat
o 4.2 Majelis
o 4.3 Dewan Majelis
o 4.4 Presiden
o 4.5 Staff
o 4.6 Pendanaan
5 Emblem/Lambang
6 Prinsip-Prinsip Dasar
7 ICRC dan Gerakan
8 Kegiatan
9 ICRC di Indonesia
o 9.1 Kegiatan
10 Referensi
11 Pranala luar

Misi dan mandat


Pernyataan misi resmi ICRC berbunyi: Komite Internasional Palang Merah (ICRC) adalah
organisasi yang tidak memihak, netral, dan mandiri, yang misinya semata-mata bersifat
kemanusiaan, yaitu untuk melindungi kehidupan dan martabat para korban konflik bersenjata
dan situasi-situasi kekerasan lain dan memberi mereka bantuan. ICRC mengarahkan dan
mengkoordinasi kegiatan bantuan kemanusiaan dan berupaya mempromosikan dan
memperkuat hukum humaniter dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal. Tugas utama
ICRC bersumber pada Konvensi Jenewa dan Statuta Gerakan, dimana dikatakan bahwa tugas
ICRC antara lain:

memantau kepatuhan para pihak yang bertikai kepada Konvensi Jenewa


mengorganisir perawatan terhadap korban luka di medan perang
mengawasi perlakuan terhadap tawanan perang (Prisoners of War POW) dan
melakukan intervensi yang bersifat konfidensial dengan pihak berwenang yang
melakukan penahanan.
membantu pencarian orang hilang dalam konflik bersenjata (layanan pencarian)
mengorganisir perlindungan dan perawatan penduduk sipil
bertindak sebagai perantara netral antara para pihak yang berperang

Status Hukum
ICRC adalah satu-satunya institusi yang disebut secara eksplisit menurut Hukum Humaniter
Internasional (HHI) sebagai otorita pengawas. Mandat hukum ICRC bersumber pada empat
Konvensi Jenewa 1949, serta Statuta Gerakan. ICRC juga menjalankan tugas-tugas yang
tidak secara khusus diamanatkan oleh hukum, seperti mengunjungi tahanan politik di luar
konflik dan memberikan bantuan kemanusiaan dalam bencana alam.
ICRC adalah asosiasi swasta yang terdaftar di Swiss dan mendapat hak-hak istimewa dan
kekebalan hukum di wilayah Swiss selama bertahun-tahun. Hak-hak istimewa itu dikatakan
mendekati kedaulatan de facto. Pada tanggal 19 Maret 1993, landasan hukum perlakuan
khusus untuk ICRC ditetapkan melalui perjanjian resmi antara Pemerintah Swiss dan ICRC.
Perjanjian ini melindungi "kesucian" (sanctity) semua properti ICRC di Swiss termasuk
kantor pusat dan arsip-arsip, memberi kekebalan hukum kepada anggota dan staf,
membebaskan ICRC dari semua pajak dan biaya, menjamin pengiriman barang, jasa, dan
uang yang dilindungi dan bebas kepabeanan, memberi ICRC privilese komunikasi yang aman
setara dengan kedutaan asing, dan menyederhanakan perjalanan ke dalam dan ke luar Swiss
bagi ICRC. Sebaliknya Swiss tidak mengakui passport yang dikeluarkan ICRC.

Berbeda dengan keyakinan umum, ICRC bukan entitas berdaulat seperti Orde Penguasa
Militer Malta (Sovereign Military Order of Malta) dan juga bukan merupakan organisasi
internasional, baik non-pemerintah (LSM) maupun antar pemerintah. ICRC membatasi
keanggotaannya hanya warga negara Swiss, dan juga tidak seperti kebanyakan LSM, ICRC
tidak memiliki kebijakan keanggotaan yang terbuka dan tak terbatas bagi semua orang karena
anggota baru dipilih oleh Komite (melalui suatu proses yang disebut cooptation/pemilihan).
Akan tetapi, sejak awal 1990-an, ICRC mempekerjakan orang-orang dari seluruh dunia untuk
bekerja dalam misi lapangan dan di Kantor Pusat. Pada tahun 2007, hampir setengah staf
ICRC bukan warga negara Swiss. ICRC mendapat privilese dan kekebalan hukum di banyak
negara, berdasarkan hukum nasional di negara-negara tersebut, berdasarkan perjanjian antara
ICRC dan pemerintah, atau, dalam beberapa kasus, berdasarkan yurisprudensi internasional
(seperti hak delegasi ICRC untuk tidak memberi kesaksian di depan pengadilan
internasional).

Sejarah
Pendirian Komite Internasional Palang Merah

ICRC berawal dari visi dan tekad satu orang: Henry Dunant. Tanggal: 24 Juni 1859. Tempat:
Solferino, kota kecil di Italia utara. Pada waktu itu tengah pasukan Austria dan Prancis
bertempur sengit. Sore harinya, 40.000 prajurit bergeletakan tewas atau terluka. Henry
Dunant, seorang warga Swiss, kebetulan melewati daerah itu untuk suatu urusan bisnis. Ia
ngeri menyaksikan ribuan prajurit menderita tanpa pelayanan medis. Ia mengajak penduduk
setempat merawat mereka. Dia tekankan bahwa prajurit dari kedua belah pihak harus diberi
perawatan yang setara.

Sekembalinya ke Swiss, Dunant menerbitkan sebuah buku berjudul A Memory of Solferino


(Kenangan dari Solferino), yang berisi dua usulan:

agar pada masa damai didirikanperhimpunan - perhimpunan bantuan kemanusiaan


yang memiliki juru rawat yang siap untuk merawat korban luka pada waktu terjadi
perang;
agar para relawan ini, yang akan bertugas membantu dinas medis angkatan bersenjata,
diberi pengakuan dan perlindungan melalui sebuah perjanjian internasional.

Pada tahun 1863, sebuah perkumpulan amal bernama Perhimpunan Jenewa untuk
Kesejahteraan Masyarakat membentuk sebuah komisi lima orang untuk mewujudkan gagasan
Dunant itu. Beranggotakan Gustave Moynier, Guillaume-Henri Dufour, Louis Appia,
Theodore Maunoir, dan Dunant sendiri, komisi ini kemudian mendirikan Komite
Internasional Pertolongan Korban Luka, yang kemudian menjadi Komite Internasional
Palang Merah atau ICRC. Mereka lalu terus mengembangkan gagasan Henry Dunant. Atas
undangan mereka, 16 negara dan empat lembaga filantropis menghadiri Konferensi
Internasional di Jenewa pada tanggal 26 Oktober 1863. Dalam konferensi ini sebuah lambang
pembeda, yaitu palang merah di atas dasar putih, diadopsi. Lahirlah Palang Merah.