Anda di halaman 1dari 47

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini di susun sebagai
tugas dari mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah Deteksi
Dini Gangguan Tumbuh Kembang pada Bayi dan Balita. Terima kasih kami sampaikan kepada
dosen mata kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah yang telah
membimbing kami untuk menyelesaikan tugas makalah ini.

Demikianlah Makalah ini kami susun agar bermanfaat dan dapat memenuhi tugas mata
kuliah Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah. Kami menyadari bahwa
di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami
berharap adanya kritik dan saran agar kedepannya bisa diperbaiki.

Jakarta, 31 Oktober 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar 1

Daftar Isi 2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 3


1.2 Rumusan Masalah 3
1.3 Tujuan 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian deteksi dini tumbuh kembang 4


2.2 Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan 5
2.3 Deteksi dini penyimpangan perkembangan 14
2.4 Deteksi dini penyimpangan mental emosional 38

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 46

DAFTAR PUSTAKA 47

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda tapi saling
berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan
mempunyai dampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan berkaitan dengan
pematangan fungsi organ atau individu. Untuk pencapaian tumbuh kembang yang optimal
tergantung pada potensi biologisnya. Selain itu untuk mengetahui apakah pertumbuhan dan
perkembangn anak dapat berjalan secara optimal bisa dilakukan penilaian tumbuh kembang.
Pada saat ini berbagai metode deteksi dini untuk mengetahui gangguan perkembangan anak
telah dibuat. Demikian pula dengan skrining untuk mengetahui penyakitpenyakit yang
potensial dapat mengakibatkan gangguan perkembangan anak. Karena deteksi dini kelainan
perkembangan anak sangat berguna, agar diagnosis maupun pemulihannya dapat dilakukan
lebih awal, sehingga tumbuh kembang anak dapat berlangsung seoptimal mungkin.
Sayangnya, banyak ahli kesehatan yang percaya bahwa tidak banyak yang dapat dikerjakan
untuk mengatasi kelainan ini dan mereka percaya pula bahwa kelainan yang ringan dapat
normal dengan sendirinya. Sikap seperti ini dapat menghambat pemulihannya, bahkan pada
kasuskasus tertentu dapat mengakibatkan cacat yang permanen.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan deteksi dini tumbuh kembang?
2. Bagaimana cara mendeteksi dini penyimpangan pertumbuhan?
3. Bagaimana cara mendeteksi dini penyimpangan perkembangan?
4. Bagaimana cara mendeteksi dini penyimpangan mental emosional?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian deteksi dini tumbuh dan kembang.
2. Untuk mengetahui deteksi dini penyimpangan pertumbuhan.
3. Untuk mengetahui deteksi dini penyimpangan perkembangan.
4. Untuk mengetahui deteksi dini penyimpangan mental emosional.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Deteksi Dini Tumbuh Kembang

Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk


menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra
sekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak,
maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu
dalam membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan
ibu/keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit
dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di
tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa :
1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan
status gizi kurang/buruk dan mikro/makrosefali.
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya
masalah mental emosional, autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas.

4
Adapun jadwal kegiatan dan jenis skrining/deteksi dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada balita dan anak prasekolah oleh tenaga kesehatan adalah sebagai berikut :

Jadwal dan jenis deteksi dini tumbuh kembang dapat berubah sewaktu-waktu yaitu pada :
a. Kasus rujukan.
b. Ada kecurigaan anak mempunyai masalah tumbuh kembang.
c. Ada keluhan anak mempunyai masalah tumbuh kembang.

2.2 Deteksi Dini Penyimpangan Pertumbuhan


Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dilakukan di semua tingkat pelayanan.
Adapun pelaksana dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :
Tingkat Pelayanan Pelaksana Alat yang digunakan
Keluarga, masyarakat - Orang tua. - KMS,
- Kader imunisasi. - Timbangan dacin
- Petugas PADU, BKB TPA,
dan Guru TK.
Puskesmas - Dokter - Tabel BB/TB
- Bidan - Grafik LK
- Perawat - Timbangan
- Ahli gizi - Alat ukur tinggi badan
- Petugas lainnya - Pita pengukur lingkar
kepala

5
Berikut ini Grafik Pertumbuhan Sesuai Usia :

A. Pengukuran Berat Badan Terhadap Tinggi Badan (BB/TB)


1. Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak, normal,
kurus sekali atau gemuk.
2. Jadwal pengukuran BB/TB disesuai dengan jadwal deteksi dini tumbuh kembang
balita. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.
3. Pengukuran Berat Badan/BB
- Menggunakan timbangan bayi

Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun


atau selama anak masih bisa berbaring/duduk tenang.
Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang.
Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka 0.
Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaos kaki, sarung tangan.
Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan.
Lihat jarum jam timbangan sampai berhenti.

6
Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan.
Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.
- Menggunakan timbangan injak.

Letakkan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak.


Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka O.
Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis, tidak memakai alas
kaki topi, jam tengan, kalung, dan tidak memegang sesuatu.
Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi.
Lihat jarum timbangan sampai berhenti.
Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan.
Bila anak terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di
tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.

4. Pengukuran Panjang Badan (PB) atau Tinggi Badan (TB):


- Cara mengukur dengan posisi
berbaring:

7
Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang.
Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar.
Kepala bayi menempel pada pembatas angka O.
Petugas 1: kedua tangen memegang kepala bayi agar tetap menempel pada
pembatas angka O (pembatas kepala).
Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar tetap lurus, tangan kanan
menekan batas kaki ke telapak kaki.
Petugas 2 membaca angka di tepi di luar pengukur.
Ukuran Panjang Badan (PB) digunakan untuk anak umur O sampai 24 bulan
yang diukur telentang. Bila anak umur O sampai 24 bufan diukur berdiri,
maka hasil pengukurannya dikoreks dengan menambahkan 0.7 cm.

- Cara mengukur dengan posisi berdiri:

Anak tidak memakai sandal atau sepatu.


Berdiri tegak menghadap kedepan.
Punggung pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur.
Ukuran Tinggi Badan (TB) digunakan untuk anak umur cli atas 24 bulan
yang diukur berdiri. Bila anak umur diatas 24 bulan diukur telentang, maka
hasil pengukurannya dikoreksi dengan mengurangkan 0,7 cm

8
5. Penggunaan Tabel BB/TB (Direktorat Gizi Masyarakat 2002)
Ukur tinggi/panjang dan timbang berat badan anak, sesuai cara di atas.
Lihat kolom tinggi/panjang badan anak yang sesuai dengan hasil pengukuran.
Pilih kolom berat badan untuk laki-laki (kiri) atau perempuan (kanan) sesuai
jenis kelamin anak, cari anak berat badan yang terdekat dengan berat badan
anak.
Dari angka berat badan tersebut, lihat bagian atas kolom untuk mengetahui
angka Standar Deviasi (SD).

9
Contoh :
Seorang anak laki-laki dengan panjang badan 71 cm dan berat badan 6,8 kg. Pada
kolom panjang badan ank laki-laki 71 cm, apabila ditarik garis lurus ke kiri ternyata
berat badan 6,8 kg terletak pada kolom 6,0 6,9 kg; kolom <-2 SD s/d 3 SD;
interpretasinya anak kurus.

10
B. Pengukuran Lingkaran Kepala Anak (LKA)
- Tujuan pengukuran lingkaran kepala anak adalah untuk mengetahui lingkaran
kepala anak dalam batas normal atau diluar batas normal.
- Jadwal, diseusaikan dengan umur anak. Umur 0-11 bulan, pengukuran dilakukan
setiap tiga bulan. Pada anak yang lebih besar, umur 12-72 bulan, pengukuran
dilakukan setiap enam bulan. Pengukuran dan penilaian lingkaran kepala anak
dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.

1) Pemantauan lingkar kepala


Lingkar kepala anak diukur dengan menggunakan grafik lingkar kepala
Nelhaus (1968).
Grafik bayi laki-laki cukup bulan dimulai dengan ukuran 32-38 cm, sedangkan
grafik bayi perempuan cukup bulan dimulai dari ukuran 31-37 cm.
Lingkar kepala di bawah -2 SD disebut mikrosefali dan bila ukurannya di atas
+2 SD disebut makrosefali.
Lingkar kepala diukur setiap bulan pada tahun pertama, setiap 3 bulan pada
tahun ke dua, dan setiap 6 bulan pada usia 3 sampai 5 tahun.

2) Pemantuan ubun-ubun besar


Pengukuran ubun-ubun besar (fontanel anterior) juga memegang peranan
penting.
Ukuran ubun-ubun besar normal pada bayi baru lahir cukup bulan adalah 2 cm
x 2 cm, dengan permukaan agak cekung.

11
Ukuran ubun-ubun besar ini dapat membesar dalam 3 bulan pertama, kemudian
akan mengecil dan menutup dengan bertambahnya umur bayi.
Ukuran ubun-ubun besar yang sangat kecil atau lebih besar dari 4 cm harus
dicurigai adanya gangguan perkembangan jaringan otak selama kehamilan.
Ubun-ubun besar bayi normal umumnya telah menutup pada usia 19 bulan.
Ubun-ubun besar bayi normal sekitar 90-95% telah menutup pada usia 19
bulan. Jika di bawah usia itu sudah menutup disebut Craniosynostosis. Biasanya
gangguan ini disertai dengan ukuran lingkar kepala yang kecil. Sebaliknya bila
ubun-ubun terlambat menutup bisa disebabkan karena hidrosefalus, sindroma
down, kekurangan hormon tiroid dan berbagi penyakit lainnya

3) Grafik Lingkaran Kepala bayi Perempuan dan Laki-laki (Nelhaus, 1969)

12
Setelah mendapatkan hasil dan pengukuran di atas maka masukkan pada kurva
lingkar kepala dari Nelihaus. Pada bagian bawah kurva merupakan usia si anak dalam
bulan dan tahun, dan bagian samping kurva adalah ukuran lingkar kepala si anak dalam
satuan cm.
Misal usia Banggole adalah 4 tahun dan hasil lingkar kcpalnya adalah 50 cm, maka
dalarn kurva buatlah titik pada pertemuan antara usia 4 tahun ke bagian atas dan besar
ukuran kepala 50 cm ke bagian samping kanan.
Jika titik pertemuan berada diantara dua titik putus-putus maka termasuk lingkar kepala
normal. Tapi jika hasil dan pertemuan titik tersebut berada di luar (bagian atas atau bagian
bawah) garis putus-putus maka dinyatakan tidak normal.
Ukuran kepala sesuai kurva jika berada pada bagian atas garis titik putus-putus
disebut Macrosefal atau lingkar kepala lebih besar dari ukuran normal. Dan jika hasil
ukuran berada di bawah garis putus-putus bagian bawah maka disebnt Microsefal atau
lengkar kepala lebih kecil dari ukuran lingkar kepala normal.

C. Pemantauan status gizi dengan menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)


Pemantauan pertumbuhan merupakan salah satu kegiatan utama programperbaikan
gizi, yang menitikberatkan padaupaya pencegahan dan peningkatankeadaan gizi balita.
Pemantauan pertumbuhan merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri :
1) Penilaian pertumbuhan balita secara teratur melalui penimbangan setiap bulan,
pengisian dan penilalan hasil penimbangan berdasarkan Kartu Menuju Sehat.
2) Tindak lanjut setiap kasus gangguan pertumbuhan berupa (konseling,penyuluhan
dan rujukan).
3) Tindak lanjut berupa kebijakan dan program di tingkat masyarakat, serta
meningkatkan motivasi untuk memberdayakan keluarga.
Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal
anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur. Dengan KMS
gangguan pertumbuhan atau risiko kelebihan gizi dapat diketahui lebih dini, sehingga
dapat dilakukan tindakan pencegahan secara lebih cepat dan tepat sebelum masalahnya
lebih berat KMS dibedakan antara KMS anak laki-laki dan KMS anak perempuan,

13
KMS anak laki-laki berwarna dasar biru dan terdapat tulisan untuk laki-laki dan KMS
perempuan berwarna dasar merah muda danh terdapat tulisan untuk perempuan
Fungsi utama KMS ada 3, yaitu;
1) Sebagai media untuk mencatat dan memantau riwayat kesehatan balita secara
lengkap, meliputi : pertumbuhan, perkembangan, pelaksanaan imunisasi,
penanggulangan diare, pemberian kapsul vitamin A, kondisi kesehatan
pemberian ASI eksklusif, dan Makanan Pendamping ASI.
2) Sebagai media edukasi bagi orang tua balita tentang kesehatan anak.
3) Sebagai sarana komunikasi yang dapat digunakan oleh petugas untuk
menentukan penyuluhan dan tindakan pelayanan kesehatan dan gizi.
Cara Memantau Pertumbuhan Balita :
Pertumbuhan balita dapat diketahui apabila setiap bulan ditimbang, hasil penimbangan
dicatat di KMS, dan antara titik berat badan KMS dari hasil penimbangan bulan lalu dan
hasil penimbangan bulan ini dihubungkan dengan sebuah garis. Rangkaian garis-garis
pertumbuhan anak tersebut membentuk grafik pertumbuhan anak.

2.3 Deteksi Dini Penyimpangan Perkembangan

Tingkat Pelayanan Pelaksana Alat Yang Di Gunakan

Keluarga Dan Masyarakat 1. Orang Tua Buku KIA

2. Kader Kesehatan, BKB, TPA

1. Petugas Pusat PADU Terlatih KPSL

2. Guru TK Terlatih TDL

TDD

1. Dokter KPSP

2. Bidan TDL

3. Perawat TDD

14
A. Kuesioner PraSkrining Perkembangan (KPSP)
Tujuan skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah untuk
mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. Jadwal
skrining/pemeriksaan KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36,
42,48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta
ibu datang kembali pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan rutin. Misalnya
bayi umur 7 bulan, diminta kernbali untuk skrining KPSP pada umur 9 bulan. Apabila
orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang.
Sedangkan umur anak bukan umur skrining maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk
umur skrining terdekat yang Iebih muda.

Alat instrumen yang digunakan adalah:


Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi 9 10 pertanyaan tentang kemampuan
perkembangan yang telah dicapai anak.

Sasaran KPSP anak umur O-72 bulan.


Alat bantu pemeriksaan berupa: pensil, kertas, bola sebesar bola tenis ,kerincingan, kubus
berukuran sisi 25 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biscuit kecil
berukuran 0.5 - 1 cm.

Cara menggunakan KPSP:


1. Pada waktu pemeriksaan/skrining, anak harus dibawa.
2. Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal bulan dan umur anak lebih 16 hari
dibulatkan menjadi 1 bulan.
3. Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai
4. KPSP terdini ada 2 macam pertanyaan, yaitu:
Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak, contoh: dapatkah bayi makan
kue sendiri.
Perintah kepada bu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang
tertulis pada KPSP. Contoh: Pada possi bayi anda telentang, tariklah bayi pada
pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi duduk.

15
5. Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh karena itu
pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.
6. Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap pertanyaan
hanya ada 1 jawaban, YA atau TIDAK. Catat jawaban tersebut pada formulir.
7. Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak menjawab pertanyaan
terdahulu.
8. Teliti kembali semua pertanyaan dan jawaban.

16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
Interpretasi hasil KPSP:
1. Hitunglah berapa jumlah jawaban Ya.
2. Jawaban Ya, bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak bisa atau pernah atau sering
atau kadang-kadang melakukannya.
3. Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak belum pernah melakukan
atau tidak pernah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu.
4. Jumlah jawaban Ya = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap
perkembangannya (S).
5. Jumlah jawaban Ya = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M).
6. Jumlah jawaban Ya = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P).
7. Untuk jawaban Tidak, perlu dirinci jumlah jawaban tidak menurut jenis
keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).

Bila perkembangan anak sesuai umur (S), lakukan tindakan berikut:


a. Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik.
b. Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
c. Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin, sesuai dengan
umur dan kesiapan anak.
d. lkutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di posyandu
secara teratur sebulan 1 kali dan setiap ada kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB).
Jika anak sudah memasuki usia prasekolah (36-72 bulan), anak dapat diikutkan pada
kegiatan di Pusat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kelompok Bermain
danTaman Kanak-kanak.
e. Lakukan pemeriksaan/Skrining rutin menggunakan KPSP setiap 3 bulan pada anak
berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 24 sampal 72
bulan.
Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut:
a. Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada anak lebih
sering lagi, setiap saat dan sesering mungkin.
b. Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak untuk
mengatasi penyimpangan /mengeiar ketertinggalannya.

32
c. Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang
menyebabkan penyimpangan perkembangannya.
d. Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian dengan menggunakan daftar
KPSP yang sesuai dengan umur anak.
e. Jika hasil KPSP ulang jawaban Ya tetap 7 atau 8 maka kemungkinan ada
penyimpangan (P).

Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P), lakukan tindakan berikut:


Rujuk ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan
perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara & bahasa, sosialisasi dan
kemandirian).

B. Tes Daya Dengar (TDD)


Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar
dapat segera ditindaklanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak.
Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dan 12 bulan dan setip 6 bulan
pada anak umur 12 bulan keatas.

Alat/sarana yang diperlukan adalah:


a. Instrumen TDD menurut umur anak.
b. Gambar binatang (ayam, anjing, kucing), manusia.
c. Mainan (boneka, kubus, sendok, cangkir, bola).

Cara melakukan TDD:


1. Tanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak dalam bulan.
2. Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesual dengan umur anak.
3. Pada anak umur kurang dari 24 bulan:
a. Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang tua/pengasuh anak. Tidak usah ragu-
ragu atau takut menjawab, karena tidak untuk mencari siapa yang salah.
b. Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu berurutan.

33
c. Tunggu jawaban dan orangtua/pengasuh anak.
Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh, anak dapat melakukannya
dalam satu bulan terakhir.
Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/pengasuh anak tidak
pernah/tidak tahu atau tidak dapat melakukannya dalam satu bulan
terakhir.
Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui orangtua/pengasuh untuk
dikerjakan oleh anak:
Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah
orangtua/pengasuh.
Jawaban YA jika anak dapat melakukan perintah
orangtua/pengasuh.
Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat atau tidak mau melakukan
perintah orangtua/pengasuh.
Interpretasi:
1. Bila ada satu atau lebih jawaban TIDAK, kemungkinan anak mengalami gangguan
pendengaran.
2. Catat dalam Buku KIA atau kartu kohort bayl/balita atau status/catatan medik anak,
jenis kelainan.

Intervensi:
1. Tindak lanjut sesual dengan buku pedoman yang ada.
2. Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi.

34
35
36
C. Tes Daya Lihat (TDL)
Tujuan tes daya lihat adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya lihat agarsegera
dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman
daya lihat menjadi lebih besar. Jadwal tes daya lihat dilakukan setiap 6 bulan pada anak
usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan.

Alat/sarana yang diperlukan adalah:


1. Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik
2. Dua buah kursi, 1 untuk anak, 1 untuk pemeriksa.
3. Poster E untuk digantung dan kaitu E unuk dipegang anak.
4. Alat penunjuk.

Cara melakukan tes daya lihat:


1. Pilih suatu ruangan yang bersih dan tenang, dengan penyinaran yang baik.
2. Gantungkan poster E setinggi mata anak pada posisi duduk.
3. Letakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dan poster E, menghadap ke poster E.
4. Letakkan sebuah kursi Iainnya di samping poster E untuk pemeriksa.
5. Pemeriksa memberikan kartu E pada anak. Latih anak dalam mengarahkan kartu
E menghadap atas, bawah, kiri dan kanan; sesuai yang ditunjuk pada poster E
oleh pemeriksa. Beri pujian setiap kali anak mau melakukannya. Lakukan hal ini
sampai anak dapat mengarahkan kartu E dengan benar.

37
6. Selanjutnya, anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku/kertas.
7. Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf E pada poster, satu persatu, mulai baris
pertama sampai baris keempat atau baris E terkecil yang masih dapat dilihat.
8. Puji anak setiap kali dapat mencocokkan posisi kartu E yang dipegangnya
dengan huruf E pada poster.
9. Ulangi pemeniksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama.
10. Tulis baris E terkecil yang masih dapat dilihat, pada kertas yang telah disediakan:
mata kanan : mata kiri :

Interpretasi:
Anak prasekolah umumnya tidak mengalami kesulitan melihat sampai baris ketiga pada
poster E. Bila kedua mata anak tidak dapat melihat baris ketiga poster E, artinya tidak
dapat mencocokkan arah kartu E yang dipegangnya dengan arah E pada baris ketiga
yang ditunjuk oleh pemeriksa, kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.

Intervensi:
Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat, minta anak datang lagi untuk
pemeriksaan ulang. Bila pada pemeriksaan benikutnya, anak tidak dapat melihat sampai
baris yang sama, atau tidak dapat melihat baris yang sama dengan kedua matanya rujuk ke
Rumah Sakit dengan menuliskan mata yang mengalami gangguan (kanan, kiri atau
keduanya).

2.4 Deteksi Dini Penyimpangan Mental Emosional


Pengertian deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan atau
pemeriksaan untuk menumbuhkan secara dini adanya masalah mental emosional, autisme
dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas pada anak, agar dapat segera
dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui,
maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang
anak. Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan.

38
A. Deteksi Dini Masalah Mental Emosional Pada Anak Pra Sekolah
Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan atau masalah
mental emosional pada anak prasekolah.
Ada beberapa jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya
penyimpangan mental emosional pada anak, yaitu :
1. Kuesioner masalah mental emosional (KMME) bagi anak umur 36 bulan sampai
72 bulan.
2. Ceklis autis anak prasekolah (Cheklist for Autism in Toddlers / CHAT) bagi
anak umur 18 bulan sampai 36 bulan.
3. Formulir deteksi dini gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas (GPPH)
menggunakan Abreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36 bulan ke atas.

Cara melakukan :
1. Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu
perilaku yang tertulis pada KMME kepada orang tua atau pengasuh anak.
2. Catat jawaban Ya, kemudian hitung jumlah jawaban Ya.

Interpretasi :
Bila ada jawaban Ya, maka kemungkinan anak mengalami masalah mental
emosional.
Intervensi :
Bila jawaban Ya hanya satu :
a. Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan buku pedoman
pola asuh yang mendukung perkembangan anak.
b. Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan rujuk ke
Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang
anak.
Bila jawaban Ya ditemukan dua atau lebih :
Rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh
kembang anak. Rujukan harus disertai informasi mengenai jumlah dan
masalah mental emosional yang ditemukan.

39
KUESIONER MASALAH MENTAL EMOSIONAL (KMME)

No. Pertanyaan Ya Tidak


1. Apakah anak anda sering terlihat marah tanpa sebab
yang jelas ? (seperti banyak menangis, mudah
tersinggung, atau bereaksi berlebihan terhadap hal-
hal yang sudah biasa dihadapinya)
2. Apakah anak anda tampak mengindar dari teman-
temanya atau anggota keluarganya? (seperti ingin
merasa sendirian, menyendiri atau metrasa sedih
sepanjang waktu, kehilangan minat terhadap hal-hal
yang biasa dinikmatinya)
3. Apakah anak anda terlihat berprilaku merusakan
menentang terhadap lingkungn sekitarnya?
Seperti melanggar peraturan yang ada, mencuri,
seringkali melakukan perbuatan yang berbahaya bagi
dirinya, atau menyiksa binatang atau anak anak
lainya) Dan tampak tidak peduli terhadap nasihat-
nasihat yang sudah diberikan kepadanya?
4. Apakah anak anda memperlihatkan adanya rasa
ketakutan atau kecemasan yang berlebihan yang tidak
dapat dijelaskan asalnya dan tidak sebnding dengan
anak lain yang seusianya?
5. Apakah anak anda mengalami keterbatasan oleh
karena adanya konsentrasi yang buruk atau muah
teralihkan perhatiannya. sehingga mengalami
penurunan dalam aktivitas sehari-hari atau prestasi
belajarnya?

40
6. Apakah anak anda menunjukkan prilaku kebingungan
sehingga mengalami kesulitan dalam komunikasi dan
membuat keputusan?
7. Apakah anak anda menunjukan perubahan pola tidur ?
(seperti sulit tidur sepanjang waktu, terjaga sepanjang
hari, sering terbangun saat tidur malam oleh karena
mimpi buruk, mengigau).
8. Apakah anak anda mengalami perubangan pola
makan? (seperti ekhilangan nafsu makan, makan
berlebihan atau tidak mau makan sama sekali)
9. Apakah anak anda seringkali mengeluh sakit kepala,
sakit perut, atau keluhan-keluhan fisik lainnya?
10. Apakah anak anda sering mengeluh sering putus asa
atau berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya?
11. Apakah anak anda menunjukkan adanya kemunduran
prilaku atau kemampuan yang dimilikanya? (seperti
ngompol kembali, menghisap jempol, atau tidak mau
berpisah dengan orang tua atau pengasuhnya
12. Apakah anak anda melakukan perbuatan yang
berulang-ulang tanpa alasan yang jelas?

B. DETEKSI DINI AUTIS PADA ANAK PRA SEKOLAH


Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dm1 adanya autis pada anak umur 18
bulan sampai 36 bulan.
Jadwal deteksi dini autis pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada
keluhan dari ibu/pengasuh atau ada kecurigaan. Keluhan tersebut dapat berupa salah
satu atau Iebih keadaan di bawah ini:
1. keterlambatan berbicara
2. gangguan komunikasi interaksi sosial
3. perilaku yang berulang-ulang

41
Alat yang digunakan adalah CHAT (Checklist for Autism in Toddlers). CHAT ini
ada 2 jenis pertanyaan, yatu:
1. Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/pengasuh anak. Pertanyaan
diajukan secara berurutan, satu persatu. Jelaskan kepada orangtua untuk tidak
ragu-ragu atau takut menjawab.
2. Ada 5 perintah bagi anak, untuk melaksanakan tugas seperti yang tertulis CHAT.

Cara menggunakan CHAT.

1) Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku
yang tetulis pada CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak.
2) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada CHAT
3) Catat jawaban orang tua pengasuh anak dan kesimpulan hasil pengamatan
kemampuan anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali apakah semua pertanyaan
telah dijawab.

CHAT (Checklist for Autism in Toddlers)

A Alo Anamnesa Ya Tidak


1. Apakah anak senang diayun ayun atau diguncang guncang
naik turun di paha anda ?
2. Apakah anak tertarik (memperhatikan) anak lain ?

3. Apakah anak suka memanjat manjat, seperti memanjat tangga ?

4. Apakah anak suka bermain ciluk ba, petak umpet ?

5. Apakah anak pernah bermain seolah olah membuat secangkir


teh menggunakan mainan berbentuk cangkir dan teko, atau
permainan lain ?
6. Apakah anak pernah menunjuk atau meminta sesuatu dengan
menunjukkan jari ?
7. Apakah anak pernah menggunakan jari untuk menunjuk ke suatu
agar anda melihat ke sana ?

42
8. Apakah anak dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil atau
bus) ?
9. Apakah anak pernah memberikan suatu benda untuk
menunjukkan sesuatu ?

B Pengamatan Ya Tidak
1. Selama pemeriksaan apakah anak menatap (konyak mata) dengan
pemeriksa ?
2. Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk
sesuatu di ruangan pemeriksaan sambil mengatakan Lihat itu ada
bola (atau mainan lain) ?
3. Usahakan menarik perhatian anak, berikan mainan gelas / cangkir
dan teko. Katakan pada anak : Buatkan secangkir susu buat
mama ?
4. Tanyakan pada anak : Tunjukkan mana gelas! (gelas dapat
diganti nama benda lain yang dikenal anak dan ada di sekitar kita).
Apakah anak menunjukkan benda tersebut dengan jarinya?
5. Apakah anak dapat menumpuk beberapa kubus/balok menjadi
suatu menara ?

Interpretasi

Resiko tinggi menderita autis : bila jawaban tidak pada pertanyaan A5, A7, B2,
B3, dan B4.
Resiko rendah menderita autis : bila jawaban tidak pada pertanyaan A7 dan B4
Kemungkinan gangguan perkembangan lain : bila jawaban tidak jumlahnya 3
atau lebih untuk pertanyaan A1-A4; A6; A8-A9; B1;B5.
Anak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam kategori 1, 2, dan 3.

43
Intervensi :

Bila anak risiko menderita autis atau kemungkinan ada gangguan perkembangan,
rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak.

C. Deteksi Dini Gangguan Pemusatan perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) Pada Anak
Prasekolah
Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini adanya gangguan pemusatan
perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak 36 bulan keatas.
Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila
ada keluhan dari ibu atau pengasuh atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader,
BKB, petugas PAUD, Pengelola TPA, dan guru TK. Keluhan tersebut dapat
berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini :
1. Anak tidak bisa duduk tenang
2. Anak selalu bergerak atau tujuan dan tidak mengenal lelah
3. Perubahan suasana hati yang mendadak atau impulsive (Depkes, 2014,
hlm.74).
Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini gangguan pemusatan perhatian
dan hiperaktivitas/ GPPH (Abbreviated Conners Ratting Scale),
Formulir ini terdiri 10 pertanyaan yang ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh
anak atau guru TK dan pertanyaan yang perlupengamatan pemeriksa.
Cara menggunakan Formulir deteksi dini GPPH yaitu:
1. Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu prilaku
yang tertulis pada formulir GPPH. Jelaskan kepada orangtua/ pengasuh anak
untuk tidak ragu- ragu atau takut menjawab.
2. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada
formulir deteksi dini GPPH.
3. Keadaan yang ditanyakan atau diamati ada pada anak dimanapun anak
berada, misal ketika dirumah, disekolah, pasar, toko, dll) setiap saat dan
ketika anak dengan siapa saja.
4. Catat jawaban dan hasil pengamatan prilaku anak selama dilakukan
pemeriksaaan. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

44
Interpretasi :
Hasil pemeriksaan GPPH yaitu dengan memberi nilai masing-masing jawaban
sesuai dengan bobot nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total :
- Nilai 0 : Jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak.
- Nilai 1 : Jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak.
- Nilai 2 : Jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak.
- Nilai 3 : Jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.

Bila nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH.

FORMULIR DETEKSI DINI

GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIFITAS (GPPH)

(Abbreviated Conners Ratting Scale)


No. 0 1 2 3
1. Tidak kenal lelah, atau aktifitas yang berlebihan (usil)
2. Mudah menjadi gembira, impulsif (gembira yang
berlebihan)
3. Mengganggu anak lain (usil)
4. Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai, rentang
perhatian pendek
5. Menggerak-gerakkan anggota badan atau kepala secara
terus-menerus
6. Kurang perhatian, mudah teralihkan
7. Permintaannya harus segera dipenuhi, mudah menjadi
frustasi
8. Sering dan mudah menangis
9. Suasana hatinya mudah berubah dengan cepat dan drastis
10. Ledakan kekesalan, tingkah laku eksplosif dan tak terduga
(mudah merusak)
Jumlah
Nilai total

45
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. Dengan
ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi
akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat
rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga.
Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini
akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

46
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. Pedomean Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anan di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Kementrian Kesehatan RI.
Jakarta: 2014
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/42072/Chapter%20II.pdf/;jsessionid=DE
9EA1598A231845DCA494798207C7F1?sequence=4 di unduh pada 30 Oktober pukul 20.00
WIB
http://kurikulumpaud.blogspot.com/2013/06/stimulasi-deteksi-intervensi-dini.html

https://hmarsuki.files.wordpress.com/2014/10/deteksi_dini_tumbang_anak_2014_revisi_terupdat
e.pdf

https://www.slideshare.net/pjj_kemenkes/praktikum-1-petunjuk-praktikum-deteksi-dini-tumbuh-
kembang

47