Anda di halaman 1dari 7

PENGATURAN TEGANGAN DAN FREKUENSI

1. PENGATURAN TEGANGAN

Penyaluran tenaga listrik menjadi bagian yang penting dalam sistim tenaga listrik
karena pada umumnya lokasi pembangkit jauh dari lokasi beban (konsumen). Bila
saluran semakin panjang, tegangan sistem harus dipertahankan dalam batasannya.
Di dalam Aturan Jaringan (Grid Code) sistem interkoneksi Jawa-Bali tercantum salah
satunya tentang batasan tegangan normal sistem. Tegangan normal atau tegangan
nominal harus dipertahankan dalam batasan sebagai berikut:

Tegangan Nominal Kondisi Normal

500 kV +5%, -5%

150 kV +5%, -10%

70 kV +5%, -10%

20 kV +5%, -10%

Adapun tujuan pengaturan tegangan sistem tenaga listrik antara lain :


Tegangan merupakan salah satu kualitas sistem tenaga listrik.
Ekskursi tegangan dapat mempengaruhi unjuk kerja peralatan listrik atau
bahkan dapat merusak peralatan tersebut.
Ekskursi tegangan dalam waktu yang lama dapat memperbesar kemungkinan
terjadinya voltage collapse.

Secara keseluruhan sistem, ada beberapa hal yang dapat dilakukan dalam
pengaturan tegangan, yaitu :

1.1 Pengaturan Tap Changer Transformator


Pengaturan tap changer transformator dapat dilakukan kapan pun saat
diperlukan tapi harus dengan memperhatikan sisi sekunder transformator.
Setiap perubahan tegangan pada sisi sekunder transformator, maka akan
mempengaruhi kualitas tegangan di sub sistem 150 kV. Ini sering terjadi
karena jarak antar GI 150 kV yang berjauhan, terutama di wilayah RJTD
dan RJTB.

Pengaturan Tap Transformator

1.2 Pengaturan Kompensator : Reaktor dan Kapasitor

Reaktor Shunt
Pemasangan reaktor shunt bertujuan untuk mengkompensir pengaruh
kapasitansi penghantar, khususnya untuk membatasi kenaikan
tegangan pada ujung transmisi atau pada beban rendah dan pada saat
switching. Pada umumnya digunakan pada SUTET dengan panjang
lebih dari 200 km atau pada SUTET yang pendek dengan sumber yang
lemah. Reaktor shunt dipasang pada ujung transmisi pada rel atau pada
sisi tersier transformator seperti terlihat pada gambar berikut:

Pemasangan Reaktor Shunt

Kapasitor Shunt
Pemasangan kapasitor shunt bertujuan untuk memasok daya reaktif
dan memperbaiki tegangan lokal . Dapat dipasang pada sisi distribusi
maupun sisi transmisi. Pada sisi distribusi digunakan untuk koreksi
power factor dan perbaikan tegangan penyulang, umumnya
dioperasikan secara otomatis (time clock, voltage dan current sensing).
Dan pada sisi transmisi digunakan untuk kompensasi rugi-rugi transmisi
dan untuk perbaikan tegangan . Kapasitor shunt dapat dipasang secara
manual maupun otomatis. Pemasangan kapasitor shunt disisi distribusi
dan transmisi dapat dilihat pada Gambar 2.2. (a) dan (b) sebagai berikut:

Pemasangan Kapasitor Shunt

Static VAr Compensator (SVC)


SVC terdiri dari kapasitor atau reaktor yang di-switch secara elektronik.
Teknologi yang terdapat didalamnya duantaranya Thyristor Controlled
Reaktor (TCR) dan Fixed Capasitor (FC), serta TCR dengan Thyristor
Switched Capasitor (TSC).

Kompensator Serempak
Berupa motor serempak yang berputar tanpa beban mekanis.
Kompensator serempak dapat menghasilkan atau menyerap daya
reaktif tergantung pada nilai eksitasi dan memberikan fleksibilitas
operasi. Pada umumnya dipasang di rel sisi penerima dari saluran
tegangan tinggi yang panjang. Pemasangan kompensator serempak
dapat dilihat pada Gambar di bawah.
Pemasangan Kapasitor Serempak dan Penunjukan Kurva Daya Reaktif Vs
Tegangan

1.3 Pengaturan Daya Reaktif Generator

Pengaturan daya reaktif unit pembangkit adalah dengan menerapkan pola


menyerap atau menghasilkan daya reaktif, yaitu dengan pengaturan pola
eksitasi pembangkit. Daya reaktif tidak mengalir jauh sehingga harus dipasok
didaerah setempat (lokal). Daya reaktif juga harus memenuhi hukum kirchoff
yaitu daya reaktif total ke satu rel (simpul) harus sama dengan nol.

Daya reaktif dan nilai tegangan saling terkait erat. Peningkatan konsumsi daya
reaktif yang besar dapat menurunkan tegangan rel selain itu peningkatan
pembangkitan daya reaktif juga menaikkan tegangan rel. Mutu tegangan
dinyatakan baik jika sesuai dengan Grid Code (+5% hingga -5% untuk sistem
500 kV dan +5% dan -10% untuk sistem 150 kV dan 70 kV). Nilai tegangan
operasi diluar batas yang diijinkan pada rentang waktu yang lama dapat
mempengaruhi unjuk kerja peralatan atau bahkan dapat merusak peralatan.

Generator serempak dapat memasok atau menyerap daya reaktif tergantung


kondisi eksitasi dari generator yang diatur oleh AVR. Pada kondisi over excited,
generator memasok daya reaktif dan pada kondisi under excited, generator
menyerap daya reaktif. Kemampuan generator untuk memasok atau menyerap
daya reaktif dibatasi oleh arus medan, arus jangkar dan daerah pemanasan
generator (kurva kapabilitas).

Tiga hal yang membatasi kemampuan daya reaktif generator serempak :


batas arus jangkar,
batas arus medan,
batas daerah pemanasan generator.
2. PENGATURAN FREKUENSI

Frekuensi adalah salah satu besaran listrik yang merupakan gelombang sinusoidal
dari tegangan atau arus listrik dalam satu detik dan diukur dengan besaran Hertz.
Frekuensi merupakan salah satu tolok ukur kualitas tenaga listrik. Dalam kondisi
normal, frekuensi menunjukkan keseimbangan sesaat antara pembangkitan dan
beban (load and demand).

2.1 Maksud Dan Tujuan


Salah satu parameter mutu pada sistem tenaga listrik yang sangat penting untuk
dijaga kestabilannya adalah frekuensi. Pasokan energi dengan frekuensi yang
berkualitas baik merupakan kebutuhan konsumen.

Pengendalian frekuensi tidak semata untuk memuaskan pelanggan, tindakan ini juga
bertujuan untuk menjaga kestabilan sistem yang sangat tergantung dari peran
pembangkit.

Keuntungan-keuntungan berikut dapat diperoleh dengan adanya pengendalian


frekuensi sistem yang baik :

1. Kestabilan frekuensi dapat mempermudah pengontrolan generator dan


governor, khususnya untuk pembangkit termal dengan kapasitas besar.
Kestabilan pada pengaturan kecepatan dapat mempermudah operasi boiler dan
turbin, menurunkan tekanan termal dan vibrasi sudu-sudu rotor. Intensitas
tekanan disebabkan oleh uap yang masuk ke sudu-sudu rotor turbin tidak
tersebar merata. Intensitas terdiri dari frekuensi dasar dari satu putaran yang
dianggap satu siklus dan menambah harmonik yang lebih besar. Sudu-sudu rotor
menerima uap sebanding dengan frekuensi dasar dan harmonik yang lebih besar
perputarannya.
2. Frekuensi yang stabil bermanfaat untuk mesin-mesin yang bekerja secara
otomatis.
3. Kestabilan dan kecepatan putar motor-motor listrik dapat meningkatkan kualitas
produksi, khususnya dalam bidang tekstil dan industri kertas yang menggunakan
motor-motor berkecepatan tinggi.
4. Kestabilan frekuensi juga dibutuhkan di rumah yang menggunakan jam listrik.
Penanganan ketika tejadi keadaan dimana frekuensi < 50 Hz dapat dilakukan dengan
cara:

menambahkan jumlah total energi yang di suplai ke sistem melalui cara


menambah unit pembangkit yang bekerja.
Memanfaatkan fasilitas LFC (load Frequency Control)/AGC yang
mengendalikan putaran generator sesuai dengan fluktuasi beban. Ketika
beban besar makan AGC akan memberikan bahan bakar lebih banyak agar
unit pembangkit dapat membangkitkan energi sesuai yang dibutuhkab oleh
beban
Apabila unit pembangkit sudah beroperasi maksimal, maka dengan terpaksa
harus dilakukan pengurangan beban melalui manual load shedding
(pembuangan beban) ataupun melaui relai UFR yang bekerja ketika frekuensi
sistem berada dibawah nilai settingnya.

Sebaliknya penanganan ketika tejadi keadaan dimana frekuensi > 50 Hz dapat


dilakukan dengan menaikkan daya aktif pembangkit dengan berdasar pada merit
order agar keekonomian tercapai.

2.2 Strategi Pengaturan Frekuensi

Pengaturan frekuensi secara umum ada dua yaitu :

1. Pengaturan daya aktif ( sisi generator)

Frekuensi pada sistem tenaga listrik dapat diatur dengan melakukan pengaturan daya
aktif yang dihasilkan generator. Pengaturan daya aktif ini erat kaitannya dengan Torsi
mekanik yang dikendalikan oleh governor. Terdapat 3 cara pengaturan frekuensi yaitu
pengaturan primer, sekunder (otomatis dan manual) dan manual dispatch.

2. Pengurangan beban

Sistem dapat mengalami kekurangan pasokan daya secara tiba-tiba atau telah
diprediksi sebelumnya. Kekurangan daya secara tiba-tiba terjadi apabila kehilangan
pasokan daya yang relative besar (unit pembangkit besar trip) sehingga kebutuhan
konsumen lebih besar dari pada kemampuan pambangkitan saat itu, maka untuk
mengembalikan frekuensi system pada kondisi normal perlu dilakukan pelepasan
beban.

Pelepasan beban dapat dilakukan manual atau otomatis dengan mengunakan relay
under frequency (UFR).