Anda di halaman 1dari 37

PRESENTASI KASUS

IDENTITAS PASIEN

- Nama : Ny. N.U


- Umur : 35 tahun
- Jenis kelamin : Perempuan
- Agama : Kristen Protestan
- Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
- Pendidikan : SMA
- Alamat : Kudamati
- Tanggal masuk : 06 Februari 2017

Anamnesa ( Autoanamnesa )

Keluhan utama : Benjolan pada payudara sebelah kanan


Keluhan tambahan : Nyeri (+/-), berat badan menurun (-), nafsu makan berkurang (-),
nyeri kepala (-), mual/muntah (-/-), buang air besar dan buang air
kecil tidak ada keluhan.

Riwayat Penyakit Sekarang


Penderita datang dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara sebelah kanan sejak 3 minggu
yang lalu. Awalnya benjolan tidak diketahui oleh pasien dan pasien baru menyadarinya, ukuran
benjolan seperti itu. Benjolan terasa nyeri hanya sesekali. Berat badan tidak menurun dan nafsu
makan baik, buang air besar dan buang air kecil tidak ada keluhan. Pasien sudah menikah dan
mempunyai seorang anak.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya, hipertensi (-), Diabetes mellitus (-).
Riwayat Penyakit Keluarga
Kakak perempuan juga mempunyai benjolan namun di punggung.

Riwayat Pengobatan
Pernah minum namun tidak mengingat nama obat.

Riwayat Kebiasaan/Sosial
Pasien sering mengkonsumsi bakso, dengan frekuensi kira kira 4-5x dalam satu minggu.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Present
- Keadaan umum : Tampak baik
- Kesadaran : Compos mentis
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Nadi : 68 x/menit
- Pernapasan : 20 x/menit
- Suhu : 36,6C

Status Generalis

KEPALA
- Bentuk : Normocephal
- Rambut : Hitam, lurus
- Mata : Konjungtiva anemis
Sklera anikterik
Pupil bulat, simetris, isokor, refleks cahaya +/+
- Telinga : Bentuk normal, simetris, liang lapang, serumen (-)
- Mulut : Bibir tidak pecah-pecah, tidak sianosis, gusi tidak berdarah,
gigi lengkap.

1
LEHER
- Inspeksi : Bentuk normal, simetris, benjolan (-)
- Palpasi : Pembesaran KGB (-)
JVP dalam batas normal

THORAKS
- Mammae ( status lokalis )
- Paru-paru
- Inspeksi : Bentuk normal, pergerakan pernapasan simetris kanan = kiri
- Palpasi : Fremitus taktil kanan = kiri
Fremitus vokal kanan = kiri
- Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler, Ronkhi -/-, Wheezing -/-
- Jantung
- Inspeksi : Pulsasi iktus kordis tidak terlihat
- Palpasi : Pulsasi iktus kordis tidak teraba
- Perkusi : Batas atas sela iga II parasternal kiri
Batas kanan sela iga IV midsternal kanan
Batas kiri sela iga V midklavikula kiri
- Auskultasi : Bunyi jantung I II reguler murni, murmur -/-, gallop -/-

ABDOMEN
- Inspeksi : Perut datar, simetris
- Palpasi : Konsistensi supel
Nyeri tekan (-), Nyeri lepas (-)
Hepar tidak membesar
Lien tidak membesar
- Perkusi : Asites (-), meteorismus (-)
- Auskultasi : Peristaltik usus (+) normal

2
EKSTREMITAS
- Superior : Tidak ada kelainan
- Inferior : Tidak ada kelainan

STATUS LOKALIS
Pemeriksaan Mammae
- Mammae Dekstra
Inspeksi :
a. Bentuk : Tampak benjolan berukuran 4x5 cm.
b. Permukaan : Licin
c. Kulit : Kemerahan (-), mengkerut (-), peau de orange (-), dimpling (-)
d. Areola mammae : Tidak tampak tonjolan dan radang
e. Papila mammae : Tidak tampak retraksi papil dan kemerahan

Palpasi :
a. Permukaan : Teraba benjolan berukuran 4x5cm.
b. Konsistensi : Padat, kenyal
c. Suhu Raba : Sama seperti suhu jaringan sekitar
d. Pergerakan : Sukar digerakkan
e. Massa tumor : Terletak di kuadran kanan atas, konsistensinya padat, kenyal,
permukaan licin, batas jelas, terfiksasi pada dinding dada dan kulit,nyeri tekan (-), jumlahnya
1 buah.

- Mammae Sinistra
Inspeksi :
Bentuk normal, permukaan rata, kulit, areola mammae dan papilla
mammae dalam batas normal
Palpasi :
Permukaan rata, konsistensi kenyal, suhu raba sama dengan jaringan sekitar,
pergerakan mudah digerakkan, massa tumor (-)

3
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Laboratorium :
- Darah rutin :
- Hb : 13,9 gr%
- HCT : 38.9%
- MCV : 84 m3
- MCH : 30.1 pg
- MCHC : 35.7 g/dl
- WBC : 5.3 x 103/mm3
- Masa pendarahan : 1
- Masa pembekuan : 5
- elektrolit
Natrium : 139 mmol/L
Kalium : 3,8 mmol/L
Chlorida : 113 mmol/L
- Biokimia darah :
- GDP : 85 mg/dl
- Fungsi hati :
- SGOT : 11 u/l
- SGPT : 20 u/l
- Fungsi ginjal :
- Ureum : 21 mg%
- Kreatinin :-
- Asam urat : 3.4 mg
- Bilirubin
Total : 0.6 mg/dl
Direct : 0.2 mg/dl
Indirect : 0.4 mg/dl

Pemeriksaan rontgent :
Thoraks foto : Paru-paru dan jantung dalam batas normal

4
RESUME

Seorang wanita, 35 tahun, pekerjaan swasta, Penderita datang dengan keluhan terdapat benjolan pada
payudara sebelah kanan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya benjolan tidak diketahui oleh pasien
dan pasien baru menyadarinya, ukuran benjolan seperti itu. Benjolan terasa nyeri hanya sesekali.
Berat badan tidak menurun dan nafsu makan baik, buang air besar dan buang air kecil tidak ada
keluhan. Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya, hipertensi (-), Diabetes
mellitus (-). Pasien mengaku kakak perempuannya mempunyai benjolan namun di punggung. Pasien
pernah minum namun tidak mengingat nama obat, serta pasien sering mengkonsumsi bakso, dengan
frekuensi kira kira 4-5x dalam satu minggu. Pasien sudah menikah dan mempunyai seorang anak.

PEMERIKSAAN FISIK :
Status Present :
- Keadaan umum : Tampak baik
- Kesadaran : Compos mentis
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Nadi : 68 x/menit
- Pernapasan : 20 x/menit
- Suhu : 36,6C

Status Generalis :
- Kepala : Dalam batas normal
- Leher : Dalam batas normal
- Thoraks
- jantung : Dalam batas normal
- paru-paru : Dalam batas normal

- Abdomen : Dalam batas normal


- Ekstremitas : Dalam batas normal

5
Status Lokalis :
Mammae
-Dextra
Inspeksi :
a. Bentuk : Tampak benjolan berukuran 4x5 cm.
b. Permukaan : Licin
c. Kulit : Kemerahan (-), mengkerut (-), peau de orange (-), dimpling (-)
d. Areola mammae : Tidak tampak tonjolan dan radang
e. Papila mammae : Tidak tampak retraksi papil dan kemerahan

Palpasi :
a. Permukaan : Teraba benjolan berukuran 4x5cm.
b. Konsistensi : Padat, kenyal
c. Suhu Raba : Sama seperti suhu jaringan sekitar
d. Pergerakan : Sukar digerakkan
e. Massa tumor : Terletak di kuadran kanan atas, konsistensinya padat, kenyal,
permukaan licin, batas jelas, terfiksasi pada dinding dada dan kulit,nyeri tekan (-), jumlahnya
1 buah.

-Sinistra : Dalam batas normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
- Lab darah : Dalam batas normal
- Foto rontgent thoraks : Paru-paru dan jantung dalam batas normal

DIAGNOSIS KLINIS
Tumor mammae dekstra e.c suspek keganasan

RENCANA TERAPI
Operatif : Eksisi Tumor.

6
PROGNOSA
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad functionam : bonam

7
DISKUSI

Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan foto
rontgent thorax diperoleh data sebagai berikut:
Pada anamnesa adanya tumor di mammae dekstra, tidak terdapat penurunan berat badan dan
nafsu makan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pada mammae sebelah kanan Teraba benjolan
berukuran 4x5cm dengan konsistensi padat, kenyal, dengan suhu sama seperti suhu jaringan
sekitar, sukar digerakkan, terletak di kuadran kanan atas, permukaan licin, batas jelas, terfiksasi
pada dinding dada dan kulit,nyeri tekan (-), jumlahnya 1 buah. Sedangkan mammae sebelah kiri
dalam batas normal. Pada pemeriksaan penunjang laboratorium dan foto thoraks masih dalam
batas normal.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka diagnosa klinis pasien yang saya temukan adalah tumor
mammae dekstra e.c suspek karsinoma mammae T2NoMx . dan dilihat dari faktor resiko penderita
termasuk pada belum termasuk golongan high risk karena usia masih 35 tahun. Prognosa pada
pasien ini adalah 5-years survival rate 92%. Jadi penanganan yang terbaik adalah eksisi tumor dan
biopsi untuk menentukan prognosa terutama jika tumor tersebut bersifat ganas.

8
DEFINISI
Tumor atau neoplasma secara umum di artikan sebagai benjolan atau pembengkakan
yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal dalam tubuh. Pertumbuhan tumor dapat bersifat
ganas (malignan) atau jinak (benign).1
Tumor jinak mammae ialah lesi jinak yang disebabkan pertumbuhan sel abnormal yang
dapat terjadi pada payudara.1

ANATOMI DAN FISIOLOGI

Gambar 1. Anatomi payudara

Gambaran umum 1,2


Mammae dekstra dan mammae sinistra
berisi glandula mammaria dan terdapat dalam fascia
superficialis dinding thoraks ventral. Pada wanita
dan pria memiliki sepasang mammae, namun pada
pria glandula mamma tersebut tidak berkembang
dan mengalami rudimenter.
Mammae terletak di bagian anterior dan
termasuk bagian dari lateral thoraks. Kelenjar susu
yang bentuknya bulat ini terletak di fasia pektoralis. Gambar 2 . anatomi

9
Mammae melebar ke arah superior dari iga dua, inferior dari kartilago kosta enam dan medial
dari sternum serta lateral linea midaksilaris. Pada bagian mammae yang paling menonjol terdapat
sebuah papilla, dikelilingi oleh daerah yang lebih gelap yang disebut areola. Terdapat Langer
lines pada kompleks nipple(papilla)-areola yang melebar ke luar secara sirkumfranse
(melingkar). Langer lines ini signifikan secara klinis kepada ahli bedah dalam menentukan area
insisi pada biopsi mammae. Pada bagian lateral atasnya jaringan kelenjar ini keluar dari
lingkarannya ke arah aksila, disebut penonjolan Spence atau ekor payudara.
Mammae berisi 15-20 lobus glandula mammaria yang tiap lobusnya terdiri dari beberapa
lobulus. Tiap-tiap lobulus memiliki saluran kearah papilla yang disebut ductus laktiferus.
Diantara kelenjar susu dan fasia pektoralis, juga diantara kulit dan kelenjar tersebut mungkin
terdapat jaringan lemak yang disebut ruang retromamer. Diantara lobulus tersebut ada jaringan
ikat yang disebut ligamentum suspensorium Cooper yang berfungsi sebagai penyangga.
Struktur payudara terdiri atas:
- Parenkim epithelial
- Lemak, pembuluh darah, syaraf dan saluran getah bening
- Otot dan fasia
VASKULARISASI DAN PERSYARAFAN2
1. Arteri
Payudara mendapat perdarahan dari:
a. Rami intercostales arterioles dari ateria thoracica interna, yaitu salah satu cabang dari
arteri subclavia
b. Arteri thoracica lateralis (a. mamaria eksterna) dan arteri thoracoacromialis, yaitu
cabang dari arteri axillaris
c. Arteri intercostales posterior, cabang pars thoracica aortae dalam spatial intercostales
I, II. dan IV
2. Vena
Pada payudara terdapat tiga grup vena:
a. Cabang-cabang perforantes v. mammaria interna
b. Cabang-cabang v. aksilaris
c. Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis

10
3. Limfe
Penyaluran limfe dan mammae sangat penting peranannya dalam metastase sel kanker.
a. Bagian terbesar disalurkan ke nodi lymphoidei axillaris, terutama ke kelompok
pektoral, tetapi ada juga yang disalurkan ke kelompok apikal, subskapular, lateral, dan
sentral.

Terdapat enam grup kelenjar getah bening axilla:3

Gambar 3. Pembuluh getah bening aksila dan mamaria interna dari payudara

1. Kelenjar getah bening mammaria eksterna, terletak dibawah tepi lateral m. pektoralis
mayor, sepanjang tepi medial aksila.
2. Kelenjar getah bening skapula, terletak sepanjang vasa subskapularis dan
thorakodorsalis, mulai dari percabangan v. aksilaris menjadi v. subskapularis sampai
ke tempat masuknya v. thorako-dorsalis ke dalam m. latissimus dorsi.
3. Keleniar getah bening sentral (Central node), terletak dalam jaringan lemak di pusat
ketiak. Kelenjar getah bening ini relatif mudah diraba dan merupakan kelenjar getah
bening yang terbesar dan terbanyak.
4. Kelenlar getah bening interpektoral (Rotters node), terletak diantara m. pektoralis
mayor dan minor, sepanjang rami pektoralis v. thorakoakromialis.
5. Kelenjar getah bening v. aksilaris, terletak sepanjang v. aksilaris bagian lateral, mulai
dari white tendon m. lattisimus dorsi sampai ke medial dan percabangan v. aksilaris
v. thorako-akromalis.

11
6. Kelenjar getah bening subklavikula, mulai dari medial percabangan v. aksilanis v.
thorako-akromialis sampai dimana v. aksilaris menghilang dibawah tendon m.
subklavius. Kelenjar ini merupakan kelenjar axial yang tertinggi dan termedial
letaknya. Semua getah bening yang berasal dan kelenjar-kelenjar getah bening aksila
masuk ke dalam kelenjar ini.

b. Sisanya disalurkan ke nodi limphoidei infraclaviculares, supraclaviculares, dan


parasternales.
c. Persyarafan4
Persarafan kulit mammae bersifat segmental dan berasal dari segmen dermatom
T2 sampai T6. Jaringan kelenjar mammae sendiri diurus oleh sistem saraf otonom.
Pada prinsipnya inervasi mammae berasal dari N. intercostalis IV, V, VI dan cabang
dari plexus cervicalis.
Persarafan kulit mammae diurus oleh cabang pleksus servikalis dan nervus
interkostalis. Jaringan kelenjar mammae sendiri dipersarafi oleh saraf simpatik. Ada
beberapa saraf lagi yang perlu diingat sehubung dengan penyulit paralisis dan mati
rasa pasca bedah, yakni nervus interkostobrakialis, nervus kutaneus brakialis medialis
yang mengurus sensibilitas daerah aksila dan bagian medial lengan atas. Pada diseksi
aksila, saraf ini sukar disingkirkan sehingga sering terjadi mati rasa pada daerah
tersebut.
Saraf nervus pektoralis yang menginervasi muskulus pektoralis mayor dan minor,
nervus torakodorsalis yang menginervasi muskulus latissimus dorsi, dan nervus
torakalis longus yang menginervasi muskulus serratus anterior sedapat mungkin
dipertahankan pada mastektomi dengan diseksi aksila.

FISIOLOGI3
Perkembangan dan fungsi payudara dimulai oleh berbagai hormon. Estrogen diketahui
merangsang perkembangan duktus mamilaris. Progesteron memulai perkembangan lobules-
lobulus payudara juga deferensiasi sel epitel. Prolaktin merangsang laktogenesis.

12
1. Pubertas terjadi pembesaran payudara yang diakibatkan karena bertambahnya jaringan
kelenjar dan deposit jaringan lemak.
2. Siklus menstruasi pada fase premestruasi akan terjadi pembesaran vaskular dan pembesaran
kelenjar, kemudian akan terjadi regresi kelenjar pada fase pasca menstruasi.
3. Kehamilan dan laktasi : pada kehamilan tua dan setelah melahirkan, payudara kolostrum
sampai sekitar 3-4 han postpartum, kemudian sekresi susu dimulai sebagai respon terhadap
rangsang penghisapan dan bayi (sucking refleks).
4. Monopouse : Lobulus berinvolusi. Lemak menggantikan

JENIS-JENIS TUMOR JINAK PAYUDARA


A. Fibroadenoma Mammae5

Gambar 4. Fibroadenoma mamae

Fibroadenoma adalah lesi yang sering terjadi pada mammae. Setelah menopause, tumor
tersebut tidak lagi ditemukan. Fibroadenoma sering membesar mencapai ukuran 1 atau 2 cm.
Kadang fibroadenoma tumbuh multiple (lebih 5 lesi pada satu mammae), tetapi sangat jarang.
Pada masa adolesens, fibroadenoma tumbuh dalam ukuran yang besar. Pertumbuhan bisa cepat
sekali selama kehamilan dan laktasi atau menjelang menopause, saat rangsangan estrogen
meningkat. Nodul Fibroadenoma sering soliter, mudah digerakkan dengan diameter 1 hingga 10

13
cm. Jarang terjadinya tumor yang multiple dan diameternya melebihi 10 cm
(giantfibroadenoma).

Gambar 5. Fibroadenoma

INSIDENS : Fibroadenoma merupakan neoplasma jinak yang terutama terdapat pada wanita
muda berusia 15-25 tahun. Fibroadenoma terjadi secara asimptomatik pada 25% wanita.
ETIOPATOGENESIS : Etiologi dari fibroadenoma masih belum diketahui pasti tetapi
dikatakan bahwa hipersensitivitas terhadap estrogen pada lobul dianggap menjadi penyebabnya.
Usia menarche, usia menopause dan terapi hormonal termasuk kontrasepsi oral tidak merubah
risiko terjadinya lesi ini. Faktor genetik juga dikatakan tidak berpengaruh tetapi adanya riwayat
keluarga (first-degree) dengan karsinoma mammae dikatakan meningkatkan risiko terjadinya
penyakit ini. Fibroadenoma mammae dianggap mewakili sekelompok lobus hiperplastik dari
mammae yang dikenal sebagai kelainan dari pertumbuhan normal dan involusi. Fibroadenoma
sering terbentuk sewaktu menarche (15-25 tahun), waktu dimana struktur lobul ditambahkan ke
dalam sistem duktus pada mammae. Lobul hiperplastik sering terjadi pada waktu ini dan
dianggap merupakan bagian dari perkembangan mammae.

GAMBARAN KLINIS : Biasanya wanita muda menyadari terdapatnya benjolan pada payudara
ketika sedang mandi atau berpakaian. Kebanyakan benjolan berdiameter 2-3 cm, namun FAM
dapat tumbuh dengan ukuran yang lebih besar (giant fibroadenoma). Pada pemeriksaan, benjolan
FAM kenyal dan halus. Benjolan tersebut tidak menimbulkan reaksi radang (merah, nyeri,
panas), mobile (dapat digerakkan) dan tidak menyebabkan pengerutan kulit payudara ataupun
retraksi puting (puting masuk). Benjolan tersebut berlobus-lobus. Tumor ini tidak melekat pada

14
jaringan sekitarnya sehingga mudah untuk digerakkan dan Kadang-kadang fibroadenoma
tumbuh multipel. Mayoritas tumor ini terdapat pada kuadran lateral superior dari mammae.
Biasanya fibroadenoma tidak nyeri, namun kadang nyeri jika ditekan.
DIAGNOSIS : Diagnosa bisa ditegakkan melalui pemeriksaan fisik walaupun dianjurkan juga
untuk dilakukan aspirasi sitologi. Fine-needle aspiration (FNA) sitologi merupakan metode
diagnosa yang akurat. Diagnosa fibroadenoma bisa ditegakkan melalui gambaran klinik pada
pasien usia muda dan karena itu, mammografi tidak rutin dikerjakan. Fibroadenoma dapat
dengan mudah didiagnosa melalui Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) atau biopsi jarum
dengan diameter yang lebih besar (core needle biopsi).

Gambar 6. Biopsi Aspirasi Jarum Halus

GAMBARAN HISTOPATOLOGIS : Menunjukkan stroma fibroblastik longgar yang terdiri


dari ruang seperti saluran (ductlike) dilapisi epithelium yang terdiri dari berbagai ukuran dan
bentuk. Ductlike atau ruang glandular ini dilapisi dengan lapisan sel tunggal atau multiple yang
regular dan berbatas tegas serta membran basalis yang intak
PENATALAKSANAAN : Pada fibroadenoma dilakukan eksisi dibawah pengaruh anestesi
lokal atau general. Fibroadenoma residif setelah pengangkatan jarang terjadi. Jika terjadi
rekurensi, terdapat beberapa faktor yang diduga berpengaruh. Pertama, pembentukan dari
trulymetachronous fibroadenoma. Kedua, asal dari tumor tidak diangkat secara menyeluruh
sewaktu operasi dan mungkin karena presentasi dari tumor phyllodes yang tidak terdiagnosa

B. Kista Mammae6,7
Mikrokista terlalu kecil untuk dapat diraba, Kista tidak dapat dibedakan dengan massa
lain pada mammae dengan mammografi atau pemeriksaan fisis dan ditemukan hanya bila

15
jaringan tersebut dilihat di bawah mikroskop. Jika cairan terus berkembang akan terbentuk
makrokista. Makrokista ini dapat dengan mudah diraba dan diameternya dapat mencapai 1
sampai 2 inchi.

Gambar 7. Fibroadenoma dan kista

INSIDENS : Dikatakan bahwa kista ditemukan pada 1/3 dari wanita berusia antara 35 sampai 50
tahun. Secara klasik, kista dialami wanita perimenopausal antara usia 45 dan 52 tahun, walaupun
terdapat juga insidens yang diluar batas usia ini terutamanya pada individu yang menggunakan
terapi pengganti hormon.
ETIOPATOGENESIS : kista mammae merupakan suatu kelainan dari fisiologi normal lobular.
Penyebab utama terjadinya kelainan ini masih belum diketahui pasti walaupun terdapat bukti
yang mengaitkan pembentukan kista ini dengan hiperestrogenism akibat penggunaan terapi
pengganti hormon. Patogenesis dari kista mammae ini masih belum jelas. Penelitian awal
menyatakan bahwa kista mammae terjadi karena distensi duktus atau involusi lobus. Sewaktu
proses ini terjadi, lobus membentuk mikrokista yang akan bergabung menjadi kista yang lebih
besar; perubahan ini terjadi karena adanya obstruksi dari aliran lobus dan jaringan fibrous yang
menggantikan stroma.

GAMBARAN KLINIS : Karekteristik kista mammae adalah licin dan teraba kenyal
pada palpasi. Kista ini dapat juga mobile namun tidak seperti fibroadenoma. Gambaran
klasik dari kista ini bisa menghilang jika kista terletak pada bagian dalam mammae. Jaringan
normal dari nodular mammae yang meliputi kista bisa menyembunyikan gambaran klasik dari
lesi yakni licin selama dipalpasi. Selama perkembangannya, pelebaran yang terjadi pada jaringan

16
payudara menimbulkan rasa nyeri. Benjolan bulat yang dapat digerakkan dan terutama nyeri bila
disentuh, mengarah pada kista.

DIAGNOSIS : Diagnosis kista mammae ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan aspirasi
sitologi. Jumlah cairan yang diaspirasi biasanya antara 6 atau 8 ml. Cairan dari kista bisa berbeda
warnanya, mulai dari kuning pudar sampai hitam, kadang terlihat translusen dan bisa juga
kelihatan tebal dan bengkak. Mammografi dan ultrasonografi juga membantu dalam penegakkan
diagnosis tetapi pemeriksaan ini tidak begitu penting bagi pasien yang simptomatik.
PENATALAKSANAAN : Eksisi merupakan tatalaksana bagi kista mammae. Namun terapi ini
sudah tidak dilakukan karena simple aspiration sudah memadai. Setelah diaspirasi, kista akan
menjadi lembek dan tidak teraba tetapi masih bisa dideteksi dengan mammografi. Walau
bagaimanapun, bukti klinis perlu bahwa tidak terdapat massa setelah dilakukan aspirasi.
Terdapat dua cardinal rules bagi menunjukkan aspirasi kista berhasil yakni (1) massa menghilang
secara keseluruhan setelah diaspirasi dan (2) cairan yang diaspirasi tidak mengandungi darah.
Sekiranya kondisi ini tidak terpenuhi, ultrasonografi, needle biopsy dan eksisi direkomendasikan.
Terdapat dua indikasi untuk dilakukan eksisi pada kista. Indikasi pertama adalah sekiranya
cairan aspirasi mengandungi darah ( selagi tidak disebabkan oleh trauma dari jarum ),
kemungkinan terjadinya intrakistik karsinoma yang sangat jarang ditemukan. Indikasi kedua
adalah rekurensi dari kista. Hal ini bisa terjadi karena aspirasi yang tidak adekuat dan terapi
lanjut perlu diberikan sebelum dilakukan eksisi.

C. Papilloma Intraduktus8
Papilloma Intraduktus merupakan tumor benigna pada epithelium duktus mammae
dimana terjadinya hipertrofi pada epithelium dan mioepithelial. Tumor ini bisa terjadi
disepanjang sistem duktus dan predileksinya adalah pada ujung dari sistem duktus yakni sinus
lactiferous dan duktus terminalis.
INSIDENS : Papilloma Intraduktus soliter sering terjadi pada wanita paramenopausal
atau postmenopausal dengan insidens tertinggi pada dekade ke enam.
ETIOPATOGENESIS : Etiologi dan patogenesis dari penyakit ini masih belum jelas. Dari
kepustakaan dikatakan bahwa, Papilloma Intraduktus ini terkait dengan proliferasi dari epitel
fibrokistik yang hiperplasia.

17
GAMBARAN KLINIS : Hampir 90% dari papilloma intraduktus adalah dari tipe soliter.
Papilloma Intraduktus soliter sering timbul pada duktus laktiferus dan hampir 70% dari pasien
datang dengan nipple discharge yang serous dan bercampur darah. Ada juga pasien yang datang
dengan keluhan massa pada area subareola walaupun massa ini lebih sering ditemukan
pada pemeriksaan fisis. Massa yang teraba sebenarnya adalah duktus yang berdilatasi.
GAMBARAN HISTOLOGI : Secara histologi, tumor ini terdiri dari papilla multipel yang
masing-masing terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi sel epitel kuboidal atau silinder yang
biasanya terdiri dari dua lapisan terluar epitel menutupi lapisan mioepitel.
PENATALAKSANAAN : Umumnya, pasien diterapi secara konservatif dan papilloma serta
nipple discharge dapat menghilang secara spontan dalam waktu beberapa minggu. Apabila hal
ini tidak berlaku, eksisi lokal duktus yang terkait bisa dilakukan. Eksisi duktus terminal
merupakan prosedur bedah pilihan sebagai penatalaksanan nipple discharge. Pada prosedur
ini,digunakan anestesi lokal dengan atau tanpa sedasi. Tujuannnya adalah untuk eksisi dari
duktus yang terkait dengan nipple discharge dengan pengangkatan jaringan sekitar seminimal
mungkin. Apabila lesi benigna ini dicurigai mengalami perubahan kearah maligna, terapi yang
diberikan adalah eksisi luas disertai radiasi.

D. Kelainan Fibrokistik9
Penyakit fibrokistik atau dikenal juga sebagai mammary displasia adalah benjolan
payudara yang sering dialami oleh sebagian besar wanita. Benjolan ini harus dibedakan dengan
keganasan. Kelainan fibrokistik pada payudara adalah kondisi yang ditandai penambahan
jaringan fibrous dan glandular.
INSIDENS : Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada wanita berusia 25-50 tahun
(>50%).

GAMBARAN KLINIS : Kelainan ini terdapat benjolan fibrokistik biasanya multipel, keras,
adanya kista, fibrosis, benjolan konsistensi lunak, terdapat penebalan, dan rasa nyeri. Kista dapat
membesar dan terasa sangat nyeri selama periode menstruasi karena hubungannya dengan
perubahan hormonal tiap bulannya. Wanita dengan kelainan fibrokistik mengalami nyeri
payudara siklik berkaitan dengan adanya perubahan hormon estrogen dan progesteron. Biasanya
payudara teraba lebih keras dan benjolan pada payudara membesar sesaat sebelum menstruasi.

18
Gejala tersebut menghilang seminggu setelah menstruasi selesai. Benjolan biasanya menghilang
setelah wanita memasuki fase menopause. Pembengkakan payudara biasanya berkurang setelah
menstruasi berhenti.
DIAGNOSIS : Kelainan fibrokistik dapat diketahui dari pemeriksaan fisik, mammogram, atau
biopsi. Biopsi dilakukan terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis kanker.
Perubahan fibrokistik biasanya ditemukan pada kedua payudara baik di kuadran atas maupun
bawah.
Evaluasi pada wanita dengan penyakit fibrokistik harus dilakukan dengan seksama untuk
membedakannya dengan keganasan. Apabila melalui pemeriksaan fisik didapatkan benjolan
difus (tidak memiliki batas jelas), terutama berada di bagian atas-luar payudara tanpa ada
benjolan yang dominan, maka diperlukan pemeriksaan mammogram dan pemeriksaan ulangan
setelah periode menstruasi berikutnya. Apabila keluar cairan dari puting, baik bening, cair, atau
kehijauan, sebaiknya diperiksakan tes hemoccult untuk pemeriksaan sel keganasan. Apabila
cairan yang keluar dari puting bukanlah darah dan berasal dari beberapa kelenjar, maka
kemungkinan benjolan tersebut jinak.
PENATALAKSANAAN : Medikamentosa simptomatis, operasi apabila medikamentosa tidak
menghilangkan keluhannya dan ditemukan pada usia pertengahan sampai usia lanjut.

E. Tumor Filoides (Kistosarkoma filoides)10


Tumor filodes atau dikenal dengan kistosarkoma filodes adalah tumor fibroepitelial yang
ditandai dengan hiperselular stroma dikombinasikan dengan komponen epitel. Tumor filodes
umum terjadi pada dekade 5 atau 6. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara),
dan biasanya muncul sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran
bervariasi, meskipun tumor filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena
pertumbuhannya yang cepat. Tumor filoides merupakan suatu neoplasma jinak yang bersifat
menyusup secara lokal dan mungkin ganas (10-15%). Pertumbuhannya cepat dan dapat
ditemukan dalam ukuran yang besar.
INSIDENS : Tumor ini terdapat pada semua usia, kebanyakan pada usia 45 tahun.
GAMBARAN KLINIS : Tumor filoides adalah tipe yang jarang dari tumor payudara, yang
hampir sama dengan fibroadenoma yaitu terdiri dari dua jaringan, jaringan stroma dan glandular.
Berbentuk bulat lonjong dengan permukaan berbenjol-benjol, berbatas tegas dengan ukuran yang

19
lebih besar dari fibroadenoma. Benjolan ini jarang bilateral (terdapat pada kedua payudara), dan
biasanya muncul sebagai benjolan yang terisolasi dan sulit dibedakan dengan FAM. Ukuran
bervariasi, meskipun tumor filodes biasanya lebih besar dari FAM, mungkin karena
pertumbuhannya yang cepat.
PENATALAKSANAAN : Tumor filoides jinak diterapi dengan cara melakukan pengangkatan
tumor disertai 2 cm (atau sekitar 1 inchi) jaringan payudara sekitar yang normal. Sedangkan
tumor filoides yang ganas dengan batas infiltratif mungkin membutuhkan mastektomi
(pengambilan jaringan payudara). Mastektomi sebaiknya dihindari apabila memungkinkan.
Apabila pemeriksaan patologi memberikan hasil tumor filodes ganas, maka re-eksisi komplit dari
seluruh area harus dilakukan agar tidak ada sel keganasan yang tersisa.

F. Adenosis Sklerosis10
Adenosis adalah temuan yang sering didapat pada wanita dengan kelainan fibrokistik.
Adenosis adalah pembesaran lobulus payudara, yang mencakup kelenjar-kelenjar yang lebih
banyak dari biasanya. Apabila pembesaran lobulus saling berdekatan satu sama lain, maka
kumpulan lobulus dengan adenosis ini kemungkinan dapat diraba. Adenosis sklerotik adalah tipe
khusus dari adenosis dimana pembesaran lobulus disertai dengan parut seperti jaringan fibrous.
Banyak istilah lain yang digunakan untuk kondisi ini, diantaranya adenosis agregasi, atau
tumor adenosis. Sangat penting untuk digarisbawahi walaupun merupakan tumor, namun kondisi
ini termasuk jinak dan bukanlah kanker.
GAMBARAN KLINIS : Apabila adenosis dan adenosis sklerotik cukup luas sehingga dapat
diraba, dokter akan sulit membedakan tumor ini dengan kanker melalui pemeriksaan fisik
payudara. Perubahan histologis berupa proliferasi (proliferasi duktus) dan involusi (stromal
fibrosis, regresi epitel). Adenosis sklerosis dengan karakteristik lobus payudara yang terdistorsi
dan biasanya muncul pada mikrokista multipel, tetapi biasanya muncul berupa massa yang dapat
terpalpasi. Kalsifikasi dapat terbentuk pada adenosis, adenosis sklerotik, dan kanker, sehingga
makin membingungkan diagnosis.
PENATALAKSANAAN : Biopsi melalui aspirasi jarum halus biasanya dapat menunjukkan
apakah tumor ini jinak atau tidak. Namun dengan biopsi melalui pembedahan dianjurkan untuk
memastikan tidak terjadinya kanker.

20
G. Galaktokel10
Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang sedang hamil atau
menyusui atau dengan kata lain merupakan dilatasi kistik suatu duktus yang tersumbat yang
terbentuk selama masa laktasi. Galaktokel merupakan lesi benigna yang luar biasa pada payudara
dan merupakan timbunan air susu yang dilapisi oleh epitel kuboid. Seperti kista lainnya,
galaktokel tidak bersifat seperti kanker.
GAMBARAN KLINIS : Biasanya galaktokel tampak rata, Kista menimbulkan benjolan yang
nyeri dan mungkin pecah sehingga memicu reaksi peradangan lokal serta dapat menyebabkan
terbentuknya fokus indurasi persisten. Benjolan dapat digerakkan, walaupun dapat juga keras
dan susah digerakkan
DIAGNOSIS : Untuk menegakkan diagnosa dilakukan skrining sonografi, dimana akan terlihat
penyebaran dan kepadatan tumor tersebut.
PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan galaktokel dilakukan dengan aspirasi jarum halus
untuk mengeluarkan sekret susu. Pembedahan dilakukan jika kista terlalu kental dan sulit di
aspirasi

H. Mastitis9

Gambar 8. Mastitis
Mastitis adalah infeksi yang sering menyerang wanita yang sedang menyusui atau pada
wanita yang mengalami kerusakan atau keretakan pada kulit sekitar puting.
ETIOPATOGENESIS : Kerusakan pada kulit sekitar puting tersebut akan memudahkan bakteri
dari permukaan kulit untuk memasuki duktus yang menjadi tempat berkembangnya bakteri dan
menarik sel-sel inflamasi. Sel-sel inflamasi melepaskan substansi untuk melawan infeksi, namun
juga menyebabkan pembengkakan jaringan dan peningkatan aliran darah.

21
GAMBARAN KLINIS : Pada mastitis menyebabkan payudara menjadi merah, nyeri, dan terasa
hangat saat perabaan. Terkadang sukar dibedakan dengan karsinoma, yaitu adanya massa
berkonsistensi keras, bisa melekat ke kulit, dan menimbulkan retraksi puting susu akibat fibrosis
periduktal, dan bisa terdapat pembesaran kelenjar getah bening aksila.
PENATALAKSANAAN : Pada mastitis dengan kondisi ini diterapi dengan antibiotik. Pada
beberapa kasus, mastitis berkembang menjadi abses atau kumpulan pus yang harus dikeluarkan
melalui pembedahan.

I. Ductus Ectasia10
Ektasia duktus merupakan lesi benigna yang ditandai adanya pelebaran dan pengerasan
dari duktus.
INSIDENS : Ektasia duktus adalah kondisi yang biasanya menyerang wanita usia sekitar 40
sampai 50 tahun dan di anggap sebagai variasi normal proses payudara wanita usia lanjut.
GAMBARAN KLINIS : Adanya massa berupa ductus yang membesar dicirikan dengan sekresi
puting yang berwarna hijau atau hitam pekat, dan lengket. Pada puting serta daerah disekitarnya
akan terasa sakit serta tampak kemerahan.
PENATALAKSANAAN : Kondisi ini umumnya tidak memerlukan tindakan apapun, atau dapat
membaik dengan melakukan pengkompresan dengan air hangat dan obat-obat antibiotik. Apabila
keluhan tidak membaik, duktus yang abnormal dapat diangkat melalui pembedahan dengan cara
insisi pada tepi areola.

J. Nekrosis Lemak8
Nekrosis lemak terjadi bila jaringan payudara yang berlemak rusak, bisa terjadi spontan
atau akibat dari cedera yang mengenai payudara. Ketika tubuh berusaha memperbaiki jaringan
payudara yang rusak, daerah yang mengalami kerusakan tergantikan menjadi jaringan parut.
GAMBARAN KLINIS : Nekrosis lemak berupa massa keras yang sering agak nyeri tetapi tidak
membesar. Kadang terdapat retraksi kulit dan batasnya tidak rata.
DIAGNOSIS : Karena kebanyakan kanker payudara berkonsistensi keras, daerah yang
mengalami nekrosis lemak dengan jaringan parut sulit untuk dibedakan dengan kanker jika
hanya dari pemeriksaan fisik ataupun mammogram sekalipun.

22
GAMBARAN HISTOPATOLOGIS : Terdapat nekrosis jaringan lemak yang kemudian
menjadi fibrosis.
PENATALAKSANAAN : Dengan biopsi jarum atau dengan tindakan pembedahan eksisi.

H. Tumor ganas payudara

Definisi 11
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme
normalnya, sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali.
Selain itu, kanker payudara (Carcinoma mammae) didefinisikan sebagai suatu penyakit
neoplasma yang ganas yang berasal dari parenchyma.
Patofisiologi11
Transformasi: Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi.
Fase inisiasi: Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan oleh suatu
agen yang disebut yang bisa berupa bahan kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau sinar matahari.
Tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan yang sama terhadap suatu karsinogen. Kelainan
genetik dalam sel atau bahan lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan
terhadap suatu karsinogen. Bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih
peka untuk mengalami suatu keganasan.
Klasifikasi11
Berdasarkan WHO Histological Classification of breast tumor, kanker payudara
diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Non-invasif karsinoma
o Non-invasif duktal karsinoma
o Lobular karsinoma in situ
2. Invasif karsinoma
o Invasif duktal karsinoma
Papilobular karsinoma
Solid-tubular karsinoma

23
Scirrhous karsinoma
Special types
Mucinous karsinoma
Medulare karsinoma
o Invasif lobular karsinoma
Adenoid cystic karsinoma
karsinoma sel squamos
karsinoma sel spindel
Apocrin karsinoma
Karsinoma dengan metaplasia kartilago atau osseus metaplasia
Tubular karsinoma
Sekretori karsinoma
3. Paget's Disease11

Penyakit pagets dari puting susu (mammary pagets) adalah suatu lesi
eritematosa berbatas tegas disertai skuama yang menunjukkan adanya karsinoma
saluran kelenjar lapisan dalam payudara. Dasar biasanya merupakan karsinoma
duktal infiltrasi dan berdiferensiasi baik. Gejala awal yang sering adalah gatal
atau rasa terbakar pada puting disertai erosi pada permukaan atau ulkus. Diagnosa
ditegakkan dengan biopsi pada daerah erosi. Sering lesi didiagnosis dan ditangani
sebagai dermatitis atau infeksi bakteri. Sir James Paget melaporkan 15 kasus
ulkus puting susu kronik pada tahun 1874. Ia menemukan adanya warna muda
terang pada permukaan ulkus yang terlihat seperti eksim kulit difus yang akut. Ia
mengemukakan bahwa adanya iritasi kronik merupakan salah satu diagnosis
keganasan pada wanita dengan 2 tahun menderita tumor payudara. Keadaan pada
kasus yang jarang ini kemudian dinamakan pagets disease. Kejadian Pagets
disease dilaporkan sekitar 1%-3% dari keganasan payudara. Gambaran klasik
histologi ditemukan pada epidermis puting susu dan areola mamma. Asal sel ini
masih kontroversi dan telah diajukan dua teori histogenesis yang mungkin yaitu
teori epidermotropik dimana sel-sel dari duktus terminalis bermigrasi ke putting
dan teori transformasi dimana sel epidermal putting berubah menjadi sel pagets.

24
Stadium14

Untuk menentukan suatu stadium, harus dilakukan pemeriksaan klinis dan ditunjang dengan
pemeriksaan penunjang lainnya yaitu histopatologi atau PA, rontge , USG, dan bila
memungkinkan dengan CT scan, scintigrafi, dll. Banyak sekali cara untuk menentukan stadium,
namun yang paling banyak dianut saat ini adalah stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistem
TNM yang direkomendasikan oleh UICC (International Union
Against Cancer dari World Health Organization)/AJCC
(American Joint Committee On cancer yang disponsori oleh
American Cancer Society dan American College of Surgeons).

STADIUM 0
Disebut Ductal Carsinoma In Situ atau Non-
invasive Cancer. Yaitu kanker tidak
menyebar keluar dari pembuluh / saluran
payudara dan kelenjar-kelenjar (lobules) susu
pada payudara.

Gambar 9. Stadium 0
STADIUM I
Tumor masih sangat kecil dan tidak menyebar
serta tidak ada titik pada pembuluh getah
bening
STADIUM II a :
Pasien pada kondisi ini : Gambar 10. Stadium 1
Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan
telah ditemukan pada titik-titik pada saluran getah bening
di ketiak (axillary limph nodes )
Gambar 11. Stadium IIa
Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5 cm. Belum menyebar ke titik-
titik pembuluh getah bening pada ketiak.
Tidak ada tanda-tanda tumor pada payudara, tapi ditemukan pada titik-titik di pembuluh
getah bening ketiak.

25
STADIUM IIB :
Pasien pada kondisi ini : Gambar 12. Stadium IIb

1. Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tapi tidak melebihi 5 cm.


2. Telah menyebar pada titik-titik di pembuluh getah bening ketiak.
3. Diameter tumor lebih lebar dari 5 cm tapi belum menyebar.
STADIUM III A :
Pasien pada kondisi ini :
Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh
getah bening ketiak.
Diameter tumor lebih besar dari 5 cm dan telah menyebar ke titik-titik pada pembuluh
getah bening ketiak.
Gambar 13. Stadium IIIa
STADIUM III B :
Tumor telah menyebar ke dinding dada atau
menyebabkan pembengkakan bisa juga luka bernanah
di payudara. Atau didiagnosis sebagai Inflammatory
Breast Cancer. Bisa sudah atau bisa juga belum
menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah bening
di ketiak dan lengan atas, tapi tidak menyebar ke Gambar 13. Stadium IIIb

bagian lain dari organ tubuh.

STADIUM IIIC :
Sebagaimana stadium IIIB, tetapi telah
menyebar ke titik-titik pada pembuluh getah
bening dalam group N3 ( Kanker telah
menyebar lebih dari 10 titik disaluran getah
bening dibawah tulang selangka ).

Gambar 14. Stadium III c

STADIUM IV :
Ukuran tumor bisa berapa saja, tetapi telah

26
menyebar ke lokasi yang jauh, yaitu :
Tulang, paru-paru,liver atau tulang rusuk.

Gambar 15. Stadium IV

SISTEM TNM14
TNM merupakan singkatan dari "T" yaitu tumor size atau ukuran tumor, "N" yaitu node atau
kelenjar getah bening regional dan "M" yaitu metastasis atau penyebaran jauh. Ketiga faktor T,
N, dan M dinilai baik secara klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan
dilakukan pemeriksaan histopatologi (PA). Pada kanker payudara, penilaian TNM sebagai
berikut:
a. T (tumor size), ukuran tumor:
o T 0: tidak ditemukan tumor primer
o T 1: ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang
o T 2: ukuran tumor diameter antara 2-5 cm
o T 3: ukuran tumor diameter > 5 cm
o T 4: ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau dinding
dada atau pada keduanya, dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit
payudara kemerahan atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor utama
b. N (node), kelenjar getah bening regional (kgb):
o N 0: tidak terdapat metastasis pada kgb regional di ketiak/aksilla
o N 1: ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan
o N 2: ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan
o N 3: ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau pada kgb
di mammary interna di dekat tulang sternum

c. M (metastasis), penyebaran jauh:


o M x: metastasis jauh belum dapat dinilai

27
o M 0: tidak terdapat metastasis jauh
o M 1: terdapat metastasis jauh
Setelah masing-masing faktor T, N, dan M didapatkan, ketiga faktor tersebut kemudian digabung
dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut:14
Stadium 0: T0 N0 M0
Stadium 1: T1 N0 M0
Stadium II A: T0 N1 M0/T1 N1 M0/T2 N0 M0
Stadium II B: T2 N1 M0 / T3 N0 M0
Stadium III A: T0 N2 M0/T1 N2 M0/T2 N2 M0/T3 N1 M0/T2 N2 M0
Stadium III B: T4 N0 M0/T4 N1 M0/T4 N2 M0
Stadium III C: Tiap T N3 M0
Stadium IV: Tiap T-Tiap N-M1
Menurut American joint committee dalam kaitanya stadium klinik karsinoma mamma kaitan
dengan daya hidup yaitu :15
Tabel 1. Sistem TNM menurut American joint committee
Stadium klinik Daya hidup
Stadium. I : Garis tengah tumor < 2cm nodus (-), tidak metastase 85 %
Stadium II : garis tengah tumor < 5cm nodus (+), tidak melekat, metastase
(-) 66 %
Stadium III : Tumor > 5cm , tumor dengan ukuran tertentu disertai dengan
invasi kulit atau melekat pada dinding dada., nodus pada supraclvikular (+) 41 %
Stadium IV : Metastase jauh 10%

Gejala klinis16
a. Benjolan pada payudara
Umumnya berupa benjolan yang tidak nyeri pada payudara. Benjolan itu mula-mula kecil,
semakin lama akan semakin besar, lalu melekat pada kulit atau menimbulkan perubahan pada
kulit payudara atau pada putting susu
b. Erosi atau eksema puting susu
Kulit atau puting susu tadi menjadi tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah muda atau
kecoklat-coklatan sampai menjadi oedema hingga kulit kelihatan seperti kulit jeruk (peau
d'orange), mengkerut, atau timbul borok (ulkus) pada payudara. Borok itu semakin lama
akan semakin besar dan mendalam sehingga dapat menghancurkan seluruh payudara, sering
berbau busuk, dan mudah berdarah. Ciri-ciri lainnya antara lain:

28
Pendarahan pada puting susu.
Rasa sakit atau nyeri pada umumnya baru timbul apabila tumor sudah besar, sudah timbul
borok, atau bila sudah muncul metastase ke tulang tulang.
Kemudian timbul pembesaran kelenjar getah bening d ketiak, bengkak (edema) pada
lengan, dan penyebaran kanker ke seluruh tubuh

Faktor risiko17
Menurut Moningkey dan Kodim, penyebab spesifik kanker payudara masih belumdiketahui,
tetapi terdapat banyak faktor yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
kanker payudara diantaranya:
1. Faktor reproduksi : Karakteristik reproduktif yang berhubungan dengan risiko terjadinya kanker
payudara adalah nuliparitas, menarche pada umur muda, menopause pada umur lebih tua, dan
kehamilan pertama pada umur tua. Risiko utama kanker payudara adalah bertambahnya umur.
Diperkirakan, periode antara terjadinya haid pertama dengan umur saat kehamilan pertama
merupakan window of initiation perkembangan kanker payudara. Secara anatomi dan fungsional,
payudara akan mengalami atrofi dengan bertambahnya umur. Kurang dari 25% kanker payudara
terjadi pada masa sebelum menopause sehingga diperkirakan awal terjadinya tumor terjadi jauh
sebelum terjadinya perubahan klinis.
2. Penggunaan hormon : Hormon estrogen berhubungan dengan terjadinya kanker
payudara. Laporan dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa terdapat
peningkatan kanker payudara yang signifikan pada para pengguna terapi estrogen
replacement. Suatu metaanalisis menyatakan bahwa walaupun tidak terdapat risiko
kanker payudara pada pengguna kontrasepsi oral, wanita yang menggunakan obat ini
untuk waktu yang lama mempunyai risiko tinggi untuk mengalami kanker payudara
sebelum menopause. Sel-sel yang sensitive terhadap rangsangan hormonal mungkin
mengalami perubahan degenerasi jinak atau menjadi ganas.
3. Penyakit fibrokistik: Pada wanita dengan adenosis, fibroadenoma, dan fibrosis, tidak
ada peningkatan risiko terjadinya kanker payudara. Pada hiperplasis dan papiloma, risiko
sedikit meningkat 1,5 sampai 2 kali. Sedangkan pada hiperplasia atipik, risiko meningkat
hingga 5 kali.
4. Terdapat hubungan yang positif antara berat badan dan bentuk tubuh dengan kanker
payudara pada wanita pasca menopause. Variasi terhadap kekerapan kanker ini di negara-

29
negara Barat dan bukan Barat serta perubahan kekerapan sesudah migrasi menunjukkan
bahwa terdapat pengaruh diet terhadap terjadinya keganasan ini.
5. Konsumsi lemak : Konsumsi lemak diperkirakan sebagai suatu faktor risiko terjadinya
kanker payudara. Willet dkk. melakukan studi prospektif selama 8 tahun tentang
konsumsi lemak dan serat dalam hubungannya dengan risiko kanker payudara pada
wanita umur 34 sampai 59 tahun.
6. Radiasi : Eksposur dengan radiasi ionisasi selama atau sesudah pubertas meningkatkan
terjadinya risiko kanker payudara. Dari beberapa penelitian yang dilakukan disimpulkan
bahwa risiko kanker radiasi berhubungan secara linier dengan dosis dan umur saat
terjadinya eksposur.
7. Riwayat keluarga dan faktor genetik: Riwayat keluarga merupakan komponen yang
penting dalam riwayat penderita yang akan dilaksanakan skrining untuk kanker payudara.
Terdapat peningkatan risiko keganasan pada wanita yang keluarganya menderita kanker
payudara. Pada studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara berhubungan dengan
gen tertentu. Apabila terdapat BRCA 1, yaitu suatu gen kerentanan terhadap kanker
payudara, probabilitas untuk terjadi kanker payudara sebesar 60% pada umur 50 tahun
dan sebesar 85% pada umur 70 tahun. Faktor Usia sangat berpengaruh -> sekitar 60%
kanker payudara terjadi di usia 60 tahun. Resiko terbesar usia 75 tahun.

Terapi

Ada beberapa pengobatan kanker payudara yang penerapannya banyak tergantung pada
stadium klinik penyakit yaitu:
Mastektomi adalah operasi pengangkatan payudara. Ada 3 jenis mastektomi (Hirshaut &
Pressman, 1992):18, 19,20
Modified Radical Mastectomy, yaitu operasi
pengangkatan seluruh payudara, jaringan
payudara di tulang dada, tulang selangka dan
tulang iga, serta benjolan di sekitar ketiak.

Gambar 16. Modified Radical Mastectomy

30
Total (Simple) Mastectomy, yaitu operasi
pengangkatan seluruh payudara saja, tetapi bukan
kelenjar di ketiak.

Gambar 17. Total mastectomy

Radical Mastectomy, yaitu operasi pengangkatan


sebagian dari payudara. Biasanya disebut
lumpectomy, yaitu pengangkatan hanya pada
jaringan yang mengandung sel kanker, bukan
seluruh payudara. Operasi ini selalu diikuti dengan
pemberian radioterapi. Biasanya lumpectomy
direkomendasikan pada pasien yang besar
tumornya kurang dari 2 cm dan letaknya di pinggir
payudara. Gambar 18. Radical mastectomy

Radiasi
Penyinaran/radiasi adalah proses penyinaran pada daerah yang terkena kanker dengan
menggunakan sinar X dan sinar Gamma yang bertujuan membunuh sel kanker yang masih
tersisa di payudara setelah operasi. Efek pengobatan ini tubuh menjadi lemah, nafsu makan
berkurang, warna kulit di sekitar payudara menjadi hitam, serta Hb dan leukosit cenderung
menurun sebagai akibat dari radiasi.
Kemoterapi
Kemoterapi adalah proses pemberian obat-obatan anti kanker dalam bentuk pil cair atau
kapsul atau melalui infus yang bertujuan membunuh sel kanker. Tidak hanya sel kanker pada
payudara, tapi juga di seluruh tubuh. Efek dari kemoterapi adalah pasien mengalami mual
dan muntah serta rambut rontok karena pengaruh obat-obatan yang diberikan pada saat
kemoterapi.

31
DIAGNOSIS2
A. Pemeriksaan Fisik20,21

1. SADARI (Pemeriksaan payudara sendiri)


Tujuan dari pemeriksaan payudara sendiri adalah mendeteksi dini apabila terdapat
benjolan pada payudara, terutama yang dicurigai ganas, sehingga dapat menurunkan angka
kematian. Meskipun angka kejadian kanker payudara rendah pada wanita muda, namun sangat
penting untuk diajarkan SADARI semasa muda agar terbiasa melakukannya di kala tua. Wanita
premenopause (belum memasuki masa menopause) sebaiknya melakukan SADARI setiap bulan,
1 minggu setelah siklus menstruasinya selesai.

Cara melakukan SADARI adalah :

a. Wanita sebaiknya melakukan SADARI pada posisi duduk atau berdiri menghadap
cermin.
b. Pertama kali dicari asimetris dari kedua payudara, kerutan pada kulit payudara, dan
puting yang masuk.
c. Angkat lengannya lurus melewati kepala atau lakukan gerakan bertolak pinggang untuk
mengkontraksikan otot pektoralis (otot dada) untuk memperjelas kerutan pada kulit
payudara.
d. Sembari duduk / berdiri, rabalah payudara dengan tangan sebelahnya.
e. Selanjutnya sembari tidur, dan kembali meraba payudara dan ketiak.
f. Terakhir tekan puting untuk melihat apakah ada cairan.

32
Gambar 19. Pemeriksaan SADARI

B. Pemeriksaan Penunjang21

Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan pada payudara adalah
mammografi dan ultrasonografi (USG). Teknik yang baru adalah menggunakan Magnetic
Resonance Imaging (MRI) dan Nuklear skintigrafi.
a. Mammografi
Mammografi dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi tidak teraba; jadi sangat
baik untuk diagnosis dini dan screening. Ketepatan 83 95%, tergantung dari teknisi dan ahli
radiologinya. Mammografi adalah metode terbaik untuk mendeteksi benjolan yang tidak teraba
namun terkadang justru tidak dapat mendeteksi benjolan yang teraba atau kanker payudara yang
dapat dideteksi oleh USG. Mammografi digunakan untuk skrining rutin pada wanita di usia awal
40 tahun untuk mendeteksi dini kanker payudara.
b. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan lesi solid dan kistik.

33
c. Scintimammografi
Adalah teknik pemeriksaan radionuklir dengan menggunakan radiosotop Tc 99 sestamibi.
Pemeriksaan ini mempunyai sensitifitas tinggi untuk menilai aktivitas sel kanker pada payudara.
Selain itu dapat pula mendeteksi lesi multipel dan keterlibatan KGB regional.

d. Diagnosis Pasti (3)


Diagnosa pasti hanya dapat ditegakan dengan pemeriksaan histopatologis. Bahan
pemeriksaan dapat diambil dengan beberapa cara, yaitu
1. Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)
2. Needle core biopsi dengan jarum Silverman
3. Excisional biopsy dan pemeriksaan frozen section (potong beku) waktu operasi
4. Pemeriksaan potong beku (frozen section) waktu operasi banyak dilakukan di senter-senter
pendidikan. Ketepatan cukup tinggi 97,65 % dengan tidak ada false positif dan hanya 0,6 % false
negatif.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Sjamsuhidajat, R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 3, Jakarta, EGC, 2010, hal
: 475-478.
2. Pierce A.G, Neil R.B, At a Glance Ilmu Bedah, Edisi 3, Jakarta, Erlangga, 2007.
3. Staf pengajar bagian ilmu bedah FKUI, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Jakarta, Penerbit
FKUI, 2010, hal : 324-326; 333-334.
4. Sabiston, Buku Ajar Bedah. Essential of Surgery bagian 2, Jakarta, penerbit buku
kedokteran EGC, 1994
5. David.C.Sabiston, JR, MD. IN THE Biological Basis of Modern Surgical Practice.
Fifteenth Edition. Wb Saunders Company, 1997
6. Evans A, Ellis I. 2002. Breast Benign Calcification. In: Evans A, Pinder S, Wilson R,
Ellis I, ed. 2002. Breast Calcification a Diagnostic Manual. London: Greenwich Medical
Media. p 4, 5-6, 12, 20
7. Michael.M.Henry. In Clinical Surgery Second Edition. Elsevier Saunders, 2005
8. Henry M.M, Thompson J.N. 2007. Breast Disease. Clinical Surgery. Second edition.
Elsevier. p 453
9. Aksara Medisina, kumpulan kuliah Ilmu Bedah Khusus, Salemba, Jakarta, 1990.
10. Schnitt S.J, Connolly J.L. 2000. Pathology of Benign Breast Disorders. In: Harris J.R,
Lippman M.E, Morrow M, Osborne K, ed. Disease of the Breast. Second edition.
Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins. p 15
11. Schnitt S.J, Connolly J.L. 2000. Staging of Breast Cancer. In: Harris J.R, Lippman M.E,
Morrow M, Osborne K, ed. Disease of the Breast. Second edition. Philadelphia:
Lippincott Williams and Wilkins. p 34
12. Charlene J Reeves, Gayle Roux, Robin Lockhart (Mc.Graw.Hill Nursing Core Series)
International Edition
13. Cohen S.M, Aft R.L, and Eberlein T.J. 2002. Breast Surgery. In: Doherty G.M et all, ed.
The Washington Manual of Surgery. Third edition. Philadelphia: Lippincott Williams and
Wilkins. p 40.

35
14. Greenall M.J, Wood W.C. 2000. Cancer of the Breast. In: Morris J.P, Wood W.C, ed.
Oxford Textbook of Surgery. Second edition. Oxford University Press. p 107
15. Jatoi I, Kaufmann M, Petit J.Y. 2006. Surgery for Breast Carcinoma. In: Schroder G, ed.
Atlas of Breast Surgery. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. 67, 81-82
16. Kirby I.B. 2006. The Breast. In: Brunicardi F.C et all, ed. Schwartzs Principles of
Surgery. Eight edition. New York: McGraw-Hill Books Company.
17. http:// emedicine.medscape.com/article/435779-overview
18. http://www.holoogic.com/benign-breast-tumors
19. Skandalakis et all. 2000. Breast. Skandalakis Surgical Anatomy. Second edition. New
York: Springer Science and Business Media Inc.
20. Zollinger R.M. 2003. Additional Procedures. In: Zollinger Sr, ed. Zollinger Atlas of
Surgical Operation. Eight edition. New York: McGraw-Hill Books Company
21. Jatoi I, Kaufmann M, Petit J.Y. 2006. Diagnostic Procedures. In: Schroder G, ed. Atlas of
Breast Surgery. Berlin: Springer-Verlag Berlin Heidelberg. p 19-21

36