Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan mencakup banyak hal. Kegiatan
tersebut mencakup cara mengarahkan, menunjukkan jalan, menyupervisi, mengawasi
tindakan anak buah, mengoordinasikan kegiatan yang sedang atau akan dilakukan, dan
mempersatukan usaha dan berbagai individu yang memiliki karakteristik yang berbeda
(Gillies,1994). (Dengan demikian, kegiatan kepemimpinan selalu bersinggungan dengan
kegiatan dalam manajemen. Menurut Brosten, Hayman dan Naylor (1979) menyebutkan
bahwa kegiatan kepemimpinan paling sedikit mencakup 4 hal yang terkait dengan
kegiatan manajerial, yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian.
Pemimpin (leader) adalah seorang pemimpin yang mempunyai sifat-sifat
kepemimpinan personality atau authority(berwibawa). Ia disegani dan berwibawa
terhadap bawahan atau pengikutnya karena kecakapan dan kemampuan serta didukung
perilakunnya yang baik. Pemimpin (leader) dapat memimpin organisasi formal maupun
informal, dan menjadi panutan bagi bawahan (pengikut)nya. Biasanya tipe
kepemimpinannya adalah partisipatif leader dan falsafah kepemimpinannya adalah
pimpinan untuk bawahan. Sedangkan manajer juga merupakan seorang pemimpin,
yang dalam praktek kepemimpinannya hanya berdasarkan kekuasaan
atau authority formalnya saja. Bawahan atau karyawan atau staf menuruti perintah-
perintahnya karena takut dikenakan hukuman oleh manajer tersebut. Manajer biasanya
hanya dapat memimpin organisasi formal saja dan tipe kepemimpinannya ialah
autocratis leader dengan falsafahnya ialah bahwa bawahan adalah untuk
pemimpin.
Menurut Wahjosumidjo (1991:154) secara garis besar indikator kepemimpinan
adalah sebagai berikut, bersifat adil, memberi sugesti, mendukung tujuan, katalisator,
menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi, sumber inspirasi, bersikap
menghargai.
Salah satu keterampilan terpenting dari sebuah kepemimpinan, adalah kemampuan
pemimpin untuk berkomunikasi dengan bawahannya. Tujuan dari komunikasi adalah
bisa menyampaikan dan mengajak orang lain untuk mengerti apa yang disampaikan
dalam mencapai tujuan. Berkomunikasi berarti berusaha untuk mencapai kesamaan
makna, berbagi informasi, gagasan atau sikap seseorang kepada orang lain.

1
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara lain :
1. Apa peran dan fungsi pemimpin dalam pencapaian visi dan misi organisasi ?
2. Apa perbedaan peran pemimpin dan manajer ?
3. Apa saja indikator kepemimpinan ?
4. Apa itu gambaran teori dan gaya kepemimpinan ?
5. Apa bentuk-bentuk hubungan pemimpin dan bawahan ?

C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka tujuan yang di dapat antara lain :
1. Untuk mengetahui apa itu peran dan fungsi pemimpin dalam pencapaian visi dan
misi organisasi.
2. Untuk mengetahui apa saja perbedaan peran pemimpin dan manajer.
3. Untuk mengetahui apa itu indikator kepemimpinan.
4. Untuk mengetahui apa itu gambaran teori dan gaya kepemimpinan.
5. Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk hubungan pemimpin dan bawahan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kepemimpinan
Kepemimpinan pada dasarnya bersifat subjektif, dalam arti sempit tidak dapat
diukur secara objektif, dan dalam arti yang sangat luas tidak didapat dari atau diajarkan
di sekolah.
Kepemimpinan adalah kemampuan memberi inspirasi kepada orang lain untuk
bekerja sama sebagai suatu kelompok, agar dapat mencapai suatu tujuan umum.
Kemampuan memimpin diperoleh melalui pengalaman hidup sehari-hari. Pengertian lain
tentang kepemimpinan ialah segala hal yang bersangkutan dengan pemimpin dalam
menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan orang lain agar melaksanakan tugas dan
mewujudkan sasaran yang ditetapkan (LAN RI,1996).

B. Peran dan Fungsi Pemimpin dalam Pencapaian Visi dan Misi Organisasi
1. Peran Pemimpin
Kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan mencakup banyak hal. Kegiatan
tersebut mencakup cara mengarahkan, menunjukkan jalan, menyupervisi, mengawasi
tindakan anak buah, mengoordinasikan kegiatan yang sedang atau akan dilakukan,
dan mempersatukan usaha dan berbagai individu yang memiliki karakteristik yang
berbeda (Gillies,1994). (Dengan demikian, kegiatan kepemimpinan selalu
bersinggungan dengan kegiatan dalam manajemen.
Brosten, Hayman dan Naylor (1979) menyebutkan bahwa kegiatan
kepemimpinan paling sedikit mencakup 4 hal yang terkait dengan kegiatan
manajerial, yaitu perencanaan, pengorganisasian, motivasi, dan pengendalian.
2. Fungsi Pemimpin
Menurut Hadari Nawawi, secara operasional dapat dibedakan 5 fungsi pokok
kepemimpinan,yaitu:
a. Fungsi instruktif
Pemimpin berfungsi sebagai komunikastor yang menentukan apa (isi perintah),
bagaimana (cara menjalankan perintah), bila mana (waktu memulai,
melaksanakan, dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan

3
perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi orang
yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.

b. Fungsi konsultatif
Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebgai komunikasi dua arah.
Hal tersebut digunakan manakala pemimpin dalam usahan menetapkan keputusan
yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan orang orang
yang dipimpinnya
c. Fungsi partisipatif
Dalam menjalankanufngsi artisipatif pemimpin berusaha mengaktifkan ornag
orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan keputusan maupun dalam
melaksanakannya. Setiap anggota kelompok memperoleh kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang dijabarkan dari tugas
tugas pokok, sesuai dengan posisi masing masing.
d. Fungsi delegasi
Dalam menjalankan fungsi delegasi pemimpin memberikan pelimpahan wewenag
membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnya adalah
kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan untuk
pelimpahan wewenang dengan melaksanakannya secara bertanggung jawab.
e. Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian berasumsi bahwa kepemimpinan yang efektif harus mampu
mengatur aktifitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang efektif,
sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara maksimal.dalam
melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui
kegiatan bimbingan, pengarahan, koordinasi, dan pengawasan.

C. Perbedaan Peran Pemimpin dan Manajemen


Pada masa lampau tidak ada perbedaan antara istilah management
dengan Leadership. Keduanya diartikan sinonim (Trofino, 1993). Manager
dibayangkan sebagai leader.Menurut sejarah, masa kepemimpinan muncul pada abad
18. Banyak teori tentang pengertian kepemimpinan (leadership) yang diuarakan oleh
para pakar sejak beberapa abad dan banyak pula yang menggambarkan asumsi bahwa
kepemimpinan dihubungkan denganproses mempengaruhi orang baik individu,
kelompok maupun masyarakat. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan

4
adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut (followers). Peran pemimpin dan
kepemimpinannya sering rancu dengan peran manajer. Pemimpin yang baik adalah
membantu atau menolong orang lain untuk berubah serta menemukan inovasi untuk
menghadapi tantangan.. Kepemimpinan merupakan inti dari manajemen. Ini berarti
bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jikaada pemimpin yang efektif.
Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin yang memiliki jati diri
sebagai pemimpin.
Manajer direfleksikan melalui hirarkhi yang kuat dimana kekuasan dan
kewenangan ditentukan suatu posisi yang disandangnya dalam suatu organisasi.
Kerancuan ini disebabkan kurangnya kejelasan peran dan fungsi dari
keduanya. Pengertian manajemen dan leadership secara konsep terpisah dan kini
menjadi lebih jelas, mendefinisikan kepemimpinan lebih sulit, tetapi bila diteliti
perbedaan antara manager dan leader dikatakan bahwa manajer mengarah kepada
kekuatan legimitasi dan kontrol sedangkan leadership concern terhadap pemberdayaan
empowerment (Sofarrely & Brown,1998). Peran manager menjalankan organisasi
sementara itu peran leader melakukan perubahan (Posner&Kouzes, 1998). Benis (1990)
menyatakan bahwa leader adalah orang yang mengerjakan sesuatu yang benar do the
right thing sedangkan manager adalah orang yang mengerjakan sesuatu dengan cara
yang benar do thing right dan point dari keduanya didasarkan atas perbedaan nilai
(values). Bertolak dari pemikiran tersebut definisi dari leadershp menjadi berubah tanpa
batas (Lancaster 1999). Contoh: bila anda percaya bahwa leadership adalah sifat bawaan
sejak lahir, atau kontras dengan pendapat menyatakan bahwa kepemimpinan dapat
dipelajari dan dipikirkan, maka anda akan menjadi tenang untuk mendefinisikan dan
menghubungkanya dengan pengembangan aspek-aspek tentang kemimpinan. Sofarelli
& Brown (1998) mengidentifikasi perbedaan peran antara manager dan leader dalam
matrik dibawah ini:

Perbedaan Peran Pemimpin dan Manajer

MANAGER LEADER

Menciptakan stabilitas Bersikap proaktif


Melakukan kontrol Memiliki integritas
Menyelesaikan tugas Pendekatan dan kuat dengan prinsip.

5
Berpegang pada kewenangan sesuai Mendorong perubahan dan menghadapi
dengan posisinya tantangan status quo
Merencanakan, mengorganisir dan Menginspirasi pengikut
melakukan kontrol terhadap sumber daya
Menetukan kebijakan dan prosedure Memiliki visi ( visioner)
Mengikuti peraturan/hirarkhi Bersedia mengambil resiko
Mengutamakan organisasi dari pada staff Menghargai nilai-nilai
Mengembangkan hubungan baik
Berkomunikasi secara efektif
Tidak menggunakan kekuatan berdasarkan
posisi jabatan atau kewenangannya
Memberdayakan orang lain

Selain memahami perbedaan peran antara manager dan pemimpin, maka lebih jauh
dapat didentifikasi indikator-indikator dapat dipergunakan untuk mengenali
kepemimpinannya.Bila seorang leader telah dikenali, timbul pertanyaan apakah orang
ini dilahirkan sebagai leader atau berpikir seperti seorang leader? .atau
pertanyaan diganti menjadi apakah orang ini membuat saya mengetahui bahwa dia
seorang leader? Jawaban ini terletak pada indikator indikator seorang pemimpin.
Bertolak dari pemikiran tersebut definisi dari leadershp menjadi berubah tanpa batas
(Lancaster 1999). Contoh: bila anda percaya bahwa leadership adalah sifat bawaan sejak
lahir, atau kontras dengan pendapat menyatakan bahwa kepemimpinan dapat
dipelajari dan dipikirkan, maka anda akan menjadi tenang untuk mendefinisikan dan
menghubungkanya dengan pengembangan aspek-aspek tentang kemimpinan. Sofarelli &
Brown (1998) mengidentifikasi indikator indikator kepemimpinan antara lain:

1. Leaders memiliki pengikut


2. Leaders memiliki prinsip dan bekerja secara ethis
3. Leaders memiliki visi yang besar dan kuat ( kepemimpinan visioner)
4. Leaders mampu mengkomunikasikan visinya
5. Leaders memiliki tanggung jawab dan akuntabilitas
6. Leaders berhasil melakukan perubahan dan piawai dalam pengambilan keputusan
7. Leaders menghargai orang dan memfasilitasi pengembangan orang lain

Pemimpin mengkomunikasikan visinya, bekerja mencapai visi dengan cara-cara


ethis, serta menghargai nilai-nilai orang disekitarnya, menginspirasi dan memotivasi

6
pengikutnya. Para pengikutnya berespon serta dapat membangkitkan semangat
menghadapi tantangan yang mereka hadapi, karena pengikut mempercayainya dan yakin
bahwa visi atau mimpi besar yang digantungkan pemimpinnya akan dapat tercapai.

D. Indikator Kepemimpinan
Menurut Wahjosumidjo (1991:154) secara garis besar indikator kepemimpinan
adalah sebagai berikut :
1. Bersifat adil
Dalam kegiatan suatu organisasi, rasa kebersamaan diantara para anggota adalah
mutlak, sebab rasa kebersamaan pada hakikatnya merupakan pencerminan dari pada
kesepakatan antara para bawahan maupun antara pemimpin dengan bawahan dalam
mencapai tujuan organisasi.
2. Memberi sugesti
Sugesti biasanya disebut sebagai saran atau anjuran. Dalam rangka kepemimpinan,
sugesti merupakan pengaruh dan sebagainya, yang mampu menggerakkan hati orang
lain dan sugesti mempunyai peranan yang sangat penting di dalam memelihara dan
membina harga diri serta rasa pengabdian, partisipasi, dan rasa kebersamaan diantara
para bawahan.
3. Mendukung tujuan
Tercapainya tujuan organisasi tidak secara otomatis terbentuk, melainkan harus
didukung oleh adanya kepemimpinan. Oleh karena itu, agar setiap organisasi dapat
efektif dalam arti mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka setiap tujuan
yang ingin dicapai perlu disesuaikan dengan keadaan organisasi serta memungkinkan
para bawahan untuk bekerja sama.
4. Katalisator
Seorang pemimpin dikatakan berperan sebagai katalisator, apabila pemimpin itu
selalu dapat meningkatkan segala sumber daya manusia yang ada, berusaha
memberikan reaksi yang menimbulkan semangat dan daya kerja cepat semaksimal
mungkin.
5. Menciptakan rasa aman
Setiap pemimpin berkewajiban menciptakan rasa aman bagi para bawahannya. Dan
ini hanya dapat dilaksanakan apabila setiap pemimpin mampu memelihara hal-hal
yang positif, sikap optimisme di dalam menghadapi segala permasalahan, sehingga

7
dalam melaksanakan tugas-tugasnya, bawahan merasa aman, bebas dari segala
perasaan gelisah, kekhawatiran, merasa memperoleh jaminan keamanan dari
pimpinan.
6. Sebagai wakil organisasi
Setiap bawahan yang bekerja pada unit organisasi apapun, selalu memandang atasan
atau pimpinannya mempunyai peranan dalam segala bidang kegiatan, lebih-lebih yang
menganut prinsip-prinsip keteladanan atau panutan-panutan. Seorang pemimpin
adalah segala-galanya, oleh karena itu segala perilaku, perbuatan, dan kata-katanya
akan selalu memberikan kesan-kesan tertentu terhadap organisasinya.
7. Sumber inspirasi
Seorang pemimpin pada hakikatnya adalah sumber semangat bagi para bawahannya.
Oleh karena itu, setiap pemimpin harus selalu dapat membangkitkan semangat para
bawahan sehingga bawahan menerima dan memahami tujuan organisasi dengan
antusias dan bekerja secara efektif ke arah tercapainya tujuan organisasi.
8. Bersikap menghargai
Setiap orang pada dasarnya menghendaki adanya pengakuan dan penghargaan diri
pada orang lain. Demikian pula setiap bawahan dalam organisasi memerlukan adanya
pengakuan dan penghargaan dari atasan. Oleh karena itu, menjadi suatu kewajiban
bagi pemimpin untuk mau memberikan penghargaan atau pengakuan dalam bentuk
apapun kepada bawahannya.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan


adalah proses mempengaruhi, menggerakkan, mengarahkan, mendorong, dan mengajak
orang lain untuk bekerja sama dan mau bekerja secara produktif guna pencapaian tujuan
tertentu, sehingga indikator yang digunakan dalam variabel kepemimpinan adalah
menggunakan teori dari Wahjosumidjo yaitu: bersifat adil, memberi sugesti, mendukung
tercapainya tujuan, sebagai katalisator, menciptakan rasa aman, sebagai wakil organisasi,
sumber inspirasi, dan bersikap menghargai.

E. Gambaran Teori dan Gaya Kepemimpinan


1. Gambaran Teori
Terdapat beberapa pendekatan dalam menjelaskan teori- teori kepemimpinan,
antara lain pendekatan personal, pendekatan perilaku, pendekatan kontingensi.
a. Pendekatan Personal mengenai kepemimpinan

8
Melihat pemimpin dari sisi personal atau karakteristik figur dari seorang
pemimpin. Untuk memahami lebih jauh mengenai esensi dari pendekatan ini, maka
pembahasan akan terbagi dua, yaitu pembahasan mengenai pemimpin dan bukan
pemimpin, serta pemimpin efektif dan pemimpin yang tidak efektif. Pandangan
bahwa pemimpin harus cerdas, tinggi, bersifat terbuka, pada kenyataannya masih
menimbulkan pro dan kontra, terlebih pada kenyataanya bahwa banyak pemimpin
yang tidak memiliki kriteria tersebut, namun dia diakui sebagai pemimpin oleh
masyarakatnya. Pendekatan ini melihat bahwa karakteristik pemimpin bukan
sekedar dilihat dari sisi fisik saja, tetapi juga dari kemampuannya untuk mencapai
tujuan dari sebuah organisasi. Mereka yang mampu membawa anggotanya untuk
bersama-sama mencapai tujuan, dikatakan sebagai pemimpin yang efektif. Adapun
sebaliknya, mereka yang tidak mampu memengaruhi anggotanya untuk bersama-
sama mencapai tujuan dikatakan sebagai pemimpin yang tidak efektif.

b. Pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan


Pendekatan ini lebih memfokuskan kepada perilaku dan tindakan apa yang
dilakukan oleh seorang pemimpin atau pemimpin yang efektif perilaku, tidak
seperti faktor personal, dapat dipelajari sehingga mereka yang mendapatkan
pendidikan atau pelatihan yang memadai mengenai kepemimpinan akan mampu
menjadi pemimpin yang efektif. Pendekatan perilaku mengenai kepemimpinan
pada dasarnya memfokuskan pada dua aspek dari perilaku kepemimpinan, yaitu
fungsifungsi kepemimpinan (leadership functions) dan gaya kepemimpinan
(leadership styles).
c. Pendekatan kontingensi mengenai kepemimpinan
Pendekatan kontingensi dalam kepemimpinan adalah pendekatan kepemimpinan
yang mempertimbangkan situasi yang dihadapi. Pendekatan kontingensi
memandang bahwa gaya manajemen atau gaya kepemimpinan yang akan
memberikan kontribusi positif bagi organisasi sangat beragam dan sangat
ditentukan oleh keragaman situasi dan keadaan yang dihadapi oleh organisasi
tersebut dari waktu ke waktu. Terdapat beberapa model mengenai pendekatan
kontingensi ini,yaitu di antaranya model kepemimpinan situasional dari hersey-
blanchard, model LPC dari Fiedler, dan model jalan tujuan dari evans-house.

2. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dapat diartikan sebagai penampilan atau karakteristik
khusus dari suatu bentuk kepemimpinan . Ada 4 (empat) gaya kepemimpinan yang
telah dikenal yaitu: otokratis, demokratis, partisipatif dan laissez faire (Gillies, 1996).

9
a. Gaya Kepemimpinan Otokratis
Gaya kepemimpinan otokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan
kekuatan jabatan dan kekuatan pribadi secara otoriter, melakukan sendiri semua
perencanaan tujuan dan pembuatan keputusan dan memotivasi bawahan dengan
cara paksaan, sanjungan, kesalahan dan penghargaan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1) Wewenang mutlak terpusat pada pimpinan
2) Keputusan selalu dibuat oleh pimpinan
3) Kebijaksanaan selalu dibuat oleh pimpinan
4) Komunikasi berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan
5) Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para
bawahannya dilakukan secara ketat
6) Prakarsa harus selalu dating dari pimpinan
7) Tiada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran, pertimbangan atau
pendapat
8) Tugas- tugas bagi bawahan diberikan secara instruktif
9) Lebih banyak kritik daripada pujian
10) Pimpinan menuntut prestasi sempurna dari bawahan tanpa syarat
11) Pimpinan menuntut kesetiaan mutlak tanpa syarat
12) Cenderung adanya paksaan, ancaman dan hukuman
13) Kasar dalam bertindak
14) Kaku dalam bersikap
15) Tanggung jawab keberhasilan organisasu hanya dipikul oleh pimpinan.

Keuntungan : kecepatan serta ketegasan dalam pembuatan keputusan dan


bertindak, sehingga untuk sementara mungkin produktivitas dapat
naik.

Kerugian : suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan sehingga dapat


berakibat lebih lanjut timbulnya ketidak puasan.

b. Gaya Kepemimpinan Demokratis


Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya seorang pemimpin yang menghargai
karakteristik dan kemampuan yang dimiliki oleh setiap anggota
organisasi.Pemimpin yang demokratis menggunakan kekuatan jabatan dan

10
kekuatan pribadi untuk menggali dan mengolah gagasan bawahan dan memotivasi
mereka untuk mencapai tujuan bersama. kepemimpinan demokratis memiliki ciri-
ciri sebagai berikut :
1) Wewenang pimpinan tidak mutlak
2) Pemimpin bersedia melimpahkan sebagai wewenang kepada bawahan
3) Keputusan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
4) Kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan
5) Komunikasi berlangsung timbale balik, baik terjadi antar pimpinan dengan
bawahan maupun bawahan dengan bawahan
6) Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku perbuatan atau kegiatan bawahan
dilakukan secara wajar
7) Prakarsa dapat dating dari pimpinan maupun bawahan
8) Banyak kesempatan bagi bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan
dari pada instruktif
9) Tugas-tugas kepada bawahan diberikan dengan lebih bersifat permintaan dari
pada instruktif
10) Pujian dan kritik seimbang
11) Pimpinan mendorong prestasi sempurna para bawahan dalam bats kemampuan
masing-masing
12) Pimpinan meminta kesetiaan secara wajar
13) Pimpinan memperhatikan perasaan dalam bersikap dan bertindak
14) Terdapat suasana saling percaya, saling hrmat, menghormati dan saling harga
menghargai
15) Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul bersama pimpinan dan
bawahan.

Keuntungan : berupa keputusan serta tindakan yang lebih objektif, tumbuhnya


rasa ikut memiliki, serta terbinannya moral yang tinggi.

Kerugian : keputusan serta tindakan kadang kadang lamban, rasa tanggung


jawab kurang, keputusan yang dibuat bukan merupakan keputusan
yang terbaik.

c. Gaya Kepemimpinan Partisipatif

11
Gaya kepemimpinan partisipatif adalah gabungan bersama antara gaya
kepemimpinan otoriter dan demokratis dengan cara mengajukan masalah dan
mengusulkan tindakan pemecahannya kemudian mengundang kritikan, usul dan
saran bawahan. Dengan mempertimbangkan masukan tersebut, pimpinan
selanjutnya menetapkan keputusan final tentang apa yang harus dilakukan
bawahannya untuk memecahkan masalah yang ada.
d. Gaya Kepemimpinan Laisses Faire Liberal
Gaya kepemimpinan laisses faire dapat diartikan sebagai gaya membebaskan
bawahan melakukan sendiri apa yang ingin dilakukannya. Dalam hal ini,
pemimpin melepaskan tanggung jawabnya, meninggalkan bawahan tanpa arah,
supervisi atau koordinasi sehingga terpaksa mereka merencanakan, melakukan
dan menilai pekerjaan yang menurut mereka tepat.
Kepemimpinan Liberal antara lain berciri :
1) Pimpinan melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan
2) Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan
3) Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh para bawahan
4) Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahannya
5) Hampir tiada pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan, atau
kegiata yang dilakukan para bawahan
6) Prakarsa selalu dating dari bawahan
7) Hampir tida pengarahan dari pimpinan
8) Peran pimpinan sangat sedikit dalam kegiatan kelompok
9) Kepentingan pribadi lebih utama daripada kepentingan kelompok
10) Tanggung jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh orang per orang.

Selanjutnya dapat dikemukan bahwa keempat gaya kepemimpinan di atas memiliki


kelebihan dan kekurangan tersendiri. Setiap gaya kepemimpinan bisa efektif dalam
situasi tertentu tetapi tidak efektif dalam situasi lainya. Menurut (Gillies, 1996) Faktor
yang menetukan efektifitas gaya kepemimpinan secara situasional meliputi :

1) Kesulitan atau kompleksitas tugas yang diberikan


2) Waktu yang tersedia untuk menyelesaikan tugas
3) Ukuran unit organisasi
4) Pola komunikasi dalam organisasi
5) Latar belakang pendidikan dan pengalaman pegawai

12
6) Kebutuhan pegawai dan kepribadian pemimpin

Keuntungan : para anggota atau bawahan akan dapat mengembangkan


kemampuan dirinya.

Kerugian : kekacauan karena tiap pejabat bekerja menurut selera masing-


masing.

Teori lain mengatakana gaya kepemimpinan antara lain :

a. Teori Kontingensi
1) Teori Fiedler
Teori atau model kontingensi (Fiedler, 1967) sering disebut teori situasional
karena teori ini mengemukakan kepemimpinan yang tergantung pada situasi.
Model atau teori kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung
pada kecocokan antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan subordinatnya
sehingga situasi menjadi pengendali dan berpengaruh terhadap pemimpin.
Kepemimpinan tidak akan terjadi dalam satu kevakuman sosial atau
lingkungan. Para pemimpin mencoba melakukan pengaruhnya kepada anggota
kelompok dalam kaitannya dengan situasi-situasi yang spesifik. Karena situasi
dapat sangat bervariasi sepanjang dimensi yang berbeda, oleh karenanya hanya
masuk akal untuk memperkirakan bahwa tidak ada satu gaya atau pendekatan
kepemimpinan yang akan selalu terbaik. Namun, sebagaimana telah kita pahami
bahwa strategi yang paling efektif mungkin akan bervariasi dari satu situasi ke
situasi lainnya. Penerimaan kenyataan dasar ini melandasi teori tentang efektifitas
pemimpin yang dikembangkan oleh Fiedler, yang menerangkan teorinya sebagai
Contingency Approach. Asumsi sentral teori ini adalah bahwa kontribusi seorang
pemimpin kepada kesuksesan kinerja oleh kelompoknya adalah ditentukan oleh
kedua hal yakni karakteristik pemimpin dan dan oleh berbagai variasi kondisi dan
situasi. Untuk dapat memahami secara lengkap efektifitas pemimpin, kedua hal
tersebut harus dipertimbangkan. Teori kontingensi melihat pada aspek situasi dari
kepemimpinan (organization context). Fiedler mengatakan bahwa ada 2 tipe
variabel kepemimpinan: Leader Orientation dan Situation Favorability.
a) Leader Orinetation :

13
Apakah pemimipin pada suatu organisasi berorinetasi pada relationship atau
beorintasi pada task. Leader Orientation diketahui dari Skala semantic
differential dari rekan yang paling tidak disenangi dalam organisasi (Least
preffered coworker = LPC). LPC tinggi jika pemimpin tidak menyenangi
rekan kerja, sedangkan LPC yang rendah menunjukkan pemimpin yang siap
menerima rekan kerja untuk bekerja sama. Skor LPC yang tinggi menujukkan
bahwa pemimpin berorientasi pada relationship, sebaliknya skor LPC yang
rendah menunjukkan bahwa pemimpin beroeintasi pada tugas. Fiedler
memprediksi bahwa para pemimpin dengan Low LPC yakni mereka yang
mengutamakan orientasi pada tugas, akan lebih efektif dibanding para
pemimpin yang High LPC, yakni mereka yang mengutamakan orientasi
kepada orang atau hubungan baik dengan orang apabila kontrol situasinya
sangat rendah ataupun sangat tinggi. Sebaliknya para pemimpin dengan High
LPC akan lebih efektif dibanding pemimpin dengan Low LPC apabila kontrol
situasinya moderat.
b) Situation favorability :
Sejauh mana pemimpin tersebut dapat mengendailikan suatu situasi, yang
ditentukan oeh 3 variabel situasi, yaitu :
(1) Leader-Member Orintation: hubungan pribadi antara pemimpin dengan
para anggotanya.
(2) Task Structure: tingkat struktur tugas yang diberikan oleh pemimpin untuk
dikerjakan oleh anggota organisasi.
(3) Position Power: tingkat kekuasaan yang diperoleh pemimpin organisasi
karena kedudukan.

Situation favorability tinggi jika LMO baik, TS tinggi dan PP besar,


sebaliknya Situation Favoribility rendah jika LMO tidak baik, TS rendah dan
PP sedikit.

2) Teori Path Goal


Path-Goal Theory atau model arah tujuan ditulis oleh House (1971) menjelaskan
kepemimpinan sebagai keefektifan pemimpin yang tergantung dari bagaimana
pemimpin memberi pengarahan, motivasi, dan bantuan untuk pencapaian tujuan
para pengikutnya. Bawahan sering berharap pemimpin membantu mengarahkan
mereka dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain bawahan berharap para

14
pemimpin mereka membantu mereka dalam pencapaian tujuan-tujuan bernilai
mereka. Ide di atas memainkan peran penting dalam Houses path-goal theory
yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan pemimpin yang menjelaskan bentuk
tugas dan mengurangi atau menghilangkan berbagai hambatan akan
meningkatkan persepsi para bawahan bahwa bekerja keras akan mengarahkan ke
kinerja yang baik dan kinerja yang baik tersebut selanjutnya akan diakui dan
diberikan ganjaran.
Path Goal Theory menekankan pada cara-cara pemimpin memfasilitasi kinerja
kerja dengan menunjukkan pada bawahan bagamana kinerja diperoleh melalaui
pencapaian rewards yang diinginkan. Path Goal theory juga mengatakan bahwa
kepuasan kerja dan kinerja kerja tergantung pada expectancies bawahan. Harapan-
harapan bawahan bergantung pada ciri-ciri bawahan dan lingkungan yang
dihadapi oleh bawahan. Kepuasan dan kinerja kerja bawahan bergantung pada
leadership behavior dan leadership style. Ada 4 macam leadership style :
a) Supportive Leadership
Gaya kepemimpinan ini menunjukkan perhatian pada kebutuhan pribadi
karyawannya. Pemimpin jenis ini berusaha mengembangkan kepuasan
hubungan interpersonal diantara para karyawan dan berusaha menciptakan
iklim kerja yang bersahabat di dalam organisasi.
b) Directive Leadership
Pemimpin yang memberikan bimbingan khusus pada Karyawannya dengan
menetapkan standar kinerja, mengkoordinasi kinerja kerja dan meminta
karyawan untuk mengikuti aturan aturan organisasi.
c) Achievement Oriented Leadership
Pemimpin yang menetapkan tujuan yang menantang pada bawahannya dan
meminta bawahan untuk mencapai level performens yang tinggi.
d) Participative Leadership
Pemimpin yang menerima saran-saran dan nasihat-nasihat bawahan dan
menggunakan informasi dari bawahan dalam pengambilan keputusan
organisasi.

Hal yang menentukan keberhasilan dari setiap jenis kepemimpinan tersebut


adalah subordinate characteristics(contohnya: Karyawan yang internal l locus of
control atau external locus of control, karyawan yang mempunyai need achievement

15
yang tinggi atau need affiliation yang tinggi, dll.) danenvironmental factors (system
kewenangan dalam organisasi).

3) Teori Vroom dan Yetton


Leader-Participation Model ditulis oleh Vroom dan Yetton (1973). Model ini
melihat teori kepemimpinan yang menyediakan seperangkat peraturan untuk
menetapkan bentuk dan jumlah peserta pengambil keputusan dalam berbagai
keadaan. Teori Yetton dan Vroom mengemukakan bahwa kepuasan dan prestasi
disebabkan oleh perilaku bawahan yang pada gilirannya dipengaruhi oleh perilaku
atasan, karakteristik bawahan dan faktor lingkungan. Salah satu tugas utama dari
seorang pemimpin adalah membuat keputusan. Karena keputusan yang dilakukan
para pemimpin sering kali sangat berdampak kepada para bawahan mereka, maka
jelas bahwa komponen utama dari efektifitas pemimpin adalah kemampuan
mengambil keputusan yang sangat menentukan keberhasilan yang bersangkutan
melaksanakan tugas-tugas pentingnya. Pemimpin yang mampu membuat
keputusan dengan baik akan lebih efektif dalam jangka panjang dibanding dengan
mereka yang tidak mampu membuat keputusan dengan baik. Dalam mengambil
keputusan, bagaimana pemimpin memperlakukan bawahannya. Dengan kata lain
seberapa jauh para bawahannya diajak berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan. Sebagaimana telah kita pahami bahwa partisipasi bawahan dalam
pengambilan keputusan dapat meningkatkan kepuasan kerja, mengurangi stress,
dan meningkatkan produktivitas. Teori kepeminmpinan vroom & yetton adalah
jenis teori kontingensi yang menitikberatkan pada hal pengambilan keputusan
yang dilakukan oleh pemimpin. Dalam hal ini ada 5 jenis cirri pengambilan
keputusan dalam teori ini :
a) A-I : pemimpin mengambil sendiri keputusan berasarkan informasi yang ada
padanya saat itu.
b) A-II : pemimpin memperoleh informasi dari bawahannya dan mengambil
keputusan berdasarkan informasi yang didapat. jadi peran bahawan hanya
memberikan informasi, bukan memberikan alternatif.
c) C-I : pemimpin memberitahukan masalah yang sedang terjadi kepada
bawahan secara pribadi, lalu kemudian memperoleh informasi tanpa
mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, setelah itu mengambil
keputusan dengan mempertimbangkan/ tidak gagasan dari bawahannya.

16
d) C-II : pemimpin mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, lalu
menanyakan gagasan mereka terhadap masalah yang sedang ada, dan
mengambil keputusan dengan mempertimbangkan/tidak gagasan bawahannya.
e) G-II : pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara
berkelompok, lalu bersama sama merundingkan jalan keluarnya, dan
mengambil keputusan yang disetujui oleh semua pihak.

Contoh kasusnya, dalam sebuah took kue, pemimpin took akan membicarakan
masalah yang terjadi, misalnya cara menarik minat pembeli agar menjadi
pelanggan tetap tokonya. Pemilik took akan mengumpulkan semua karyawannya
dan menanyakan pendapat mereka. pemilik akan menampung semua gagasan
mereka, lalu memilih gagasan yang dianggap paling menarik dan disetujui oleh
semua karyawannya.

Contoh kasus diatas, itu sesuai dengan cirri pengambilan keputusan G-II yang
dikemukakan oleh vroom & yetton. Dan menurut saya, ciri G-II adalah yang
paling layak digunakan.

F. Bentuk-Bentuk Hubungan Pemimpin dan Bawahan


Bentuk-bentuk hubungan pemimpin dan bawahan antara lain :
1. Komunikasi pemimpin dan bawahan
Salah satu keterampilan terpenting dari sebuah kepemimpinan, adalah kemampuan
pemimpin untuk berkomunikasi dengan bawahannya. Tujuan dari komunikasi adalah
bisa menyampaikan dan mengajak orang lain untuk mengerti apa yang disampaikan
dalam mencapai tujuan. Berkomunikasi berarti berusaha untuk mencapai kesamaan
makna, berbagi informasi, gagasan atau sikap seseorang kepada orang lain. Kendala
utama dalam berkomunikasi adalah seringkali mempunyai makna yang berbeda
terhadap hal yang sama, itu karena setiap individu memiliki persepsi yang berbeda.
Demikian pula yang harus dipahami oleh atasan saat berbicara dengan bawahannya.
Komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan seorang
pemimpin. Efektif tidaknya seorang pemimpin akan dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam melakukan komunikasi antara lain berupa komunikasi
interpersonal. Salah satu bentuk komunikasi interpersonal adalah conversation atau
percakapan. Untuk dapat melakukan percakapan secara efektif, maka seorang
pemimpin membutuhkan conversational intelligence (CI) atau kecerdasan

17
percakapan. Semakin tinggi tingkat CI yang dipunyai seorang pemimpin maka ia
akan semakin efektif untuk menjalankan fungsi kepemimpinannya sehingga dapat
menerapkan hubungan dengan bawahannya dengan kepemimpin yang
transformasional.
2. Memotivasi bawahan
Cara dan upaya untuk melakukan kerja hebat adalah dengan menumbuhkan rasa cinta
terhadap pekerjaan kita. Sebab, dengan mencintai pekerjaan kita akan menjadi
termotivasi dan tertantang untuk melakukan yang lebih baik lagi. Rasa cinta
pekerjaan akan membuat kita berusaha untuk menggali potensi diri dan
meningkatkan kompetensi diri agar bisa melakukan yang terbaik.
Ada 5 faktor atau kunci motivasi kerja karyawan, yang meliputi : kepuasan,
penghargaan, pengakuan, inspirasi dan kompensasi.
a. Motivasi karyawan dengan membangun kepuasan
Dalam buku The Service Profit Chain, menyatakan bahwa satu-satunya cara
untuk memperoleh keuntungan yang berkelanjutan adalah dengan membangun
sebuah lingkungan kerja yang nyaman dan menarik, selalu fokus, dan menjaga
karyawan yang berbakat. Maksudnya adalah mereka harus bisa termotivasi
supaya siap menunjukkan kemampuan dan mendapatkan komitmen agar mampu
tampil di tingkat yang maksimal. Motivasi kerja berhubungan erat dengan tingkat
kepuasan diri pekerja atau karyawan dan hal ini dapat tercipta dengan adanya
lingkungan kerja yang menyenangkan. Sebab, jika kita fokus pada menciptakan
kepuasan karyawan, lalu fokus pada motivasi karyawan, maka akan tercipta suatu
hubungan kerja yang baik, karena karyawan yang puas akan mengurus pelanggan
dengan baik.
b. Motivasi karyawan melalui apresiasi
Memberikan apresiasi kepada karyawan sangatlah penting agar membangkitkan
perilaku positif dan prestasi karyawan, sehingga mereka dapat melakukan
pekerjaan dengan baik atau tidak. Manajer yang cerdas dapat meningkatkan
motivasi kerja karyawan dengan memberikan perhatian secara personal, seperti
memberikan tepukan di punggung, catatan tulisan tangan, atau komentar singkat
di aula. Dan menunjukkan atau memberikan penghargaan, usahakan agar
mengatakannya dengan lebih spesifik. Dengan menjadi spesifik, karyawan
menyadari tindakan mereka benar-benar diawasi. Dan, motivasi tingkat tinggi
karyawan akan didapatkan melalui hasil yang alami.

18
c. Motivasi karyawan melalui pengakuan
Sebagian orang mampu melakukan apapun hanya untuk mendapatkan pengakuan,
mereka juga dengan senang hati akan melakukan hal tersebut tanpa imbalan atau
bayaran. Hal ini bisa menjadi senjata rahasia seorang manajer untuk memotivasi
kerja karyawannya. Pengakuan merupakan 'hadiah emosional' untuk kerja
mereka, sepeti mengakui keunggulan karyawan di tempat kerja, memberikan
penghargaan atas keberhasilannya mencapai target penjualan atau bahkan
penghargaan untuk kehadiran dan kedisiplinannya. Hal ini dapat dikatakan sangat
efektif dalam upaya memotivasi karyawan.
d. Motivasi Karyawan Melalui Inspirasi
Inspirasi terlahir dari kepemimpinan. Motivasi kerja karyawan melalui inspirasi
ini meliputi misi perusahaan, serta maksud dan tujuannya. Dengan memiliki misi
yang jelas, orang yang bergabung dalam sebuah perusahaan / organisasi akan
tahu kemana akan pergi, sehingga dengan misi tersebut akan membuat para
karyawan menjadi bersemangat dan begairah dalam bekerja. Pastikan setiap
orang dalam organisasi perusahaan dapat memahami dan mengkomunikasikan
misi, dan ini dilakukan dalam proses pemenuhan misi perusahaan atau organisasi.
Sehingga hubungan antara misi-misi dan nilai-nilai individu serta tujuan dari
karyawan tercipta dengan baik.
e. Motivasi Karyawan Melalui Kompensasi
Sebagian besar orang akan termotivasi oleh uang. Karena itu, motivasi karyawan
melalui kompensasi, bisa dalam bentuk kenaikan gaji, pemberian bonus kinerja,
komisi, bagi hasil, dan pembagian hadiah lain seperti, mobil, motor, liburan, atau
barang-barang lainnya yang dapat digunakan sebagai hadiah. Apapun metode
yang dipilih, harus memiliki sistem yang baik di tempat orang atau manager yang
membangun motivasi kerja karyawan. Namun, tidak semua orang dapat
termotivasi oleh faktor yang sama, atau harus ada kombinasi faktor.
3. Menumbuhkan partisipasi
Partisipasi dalam organisasi merupakan keterlibatan yang meliputi pemberian
pendapat, pertimbangan dan usulan dari bawahan kepada pimpinan dalam
mempersiapkan dan merevisi tujuan organisasi. Partisipasi dalam proses peningkatan
kinerja karyawan merupakan suatu proses kerjasama dalam pembuatan keputusan
yang melibatkan dua kelompok atau lebih yang berpengaruh pada pembuatan

19
keputusan di masa yang akan datang. Manfaat Penerapan partisipasi dalam
peningkatan kinerja karyawan adalah :
1) Partisipasi akan menaikkan rasa kebersamaan dalam kelompok, yang akibatnya
akan menaikkan kerjasama anggota kelompok di dalam penetapan sasaran.
2) Partisipasi dapat mengurangi rasa tertekan.
3) Partisipasi dapat mengurangi rasa ketidaksamaan di dalam alokasi sumber daya
diantara bagian-bagian organisasi.

Meskipun partisipasi mempunyai banyak manfaat bukan berarti partisipasi


tidakmempunyai keterbatasan dan masalah yang berkaitan dengan partisipasi.

4. Pemberdayaan
Kepemimpinan yang memberdayakan membutuhkan seorang pemimpin yang
mempunyai kesiapan untuk menerima perbedaan dan memiliki kemampuan
mentransformasi perbedaan itu menjadi kekayaan dan potensi kemajuan organisasi.
Namun yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana seorang pemimpin
menyadarkan orang-orang yang dipimpinnya terkait potensi yang mereka miliki.
Seorang pemimpin tidak seharusnya memberikan solusi dan menyelesaikan
sendiri masalah yang dihadapi, melainkan mengarahkan para bawahannya untuk
menyelesaikan masalahnya sendiri. Ketahuilah bahwa potensi kepemimpinan itu
dimiliki oleh semua orang, tugas seorang pemimpin yang baik adalah menyadarkan
para bawahannya untuk memimpin diri mereka dan menyelesaikan masalah mereka
yang dihadapi.
Memiliki bawahan yang telah terbangun dan dapat mengelola dirinya sendiri
dengan baik merupakan impinan dari kepemimpinan yang memberdayakan. Karena,
bawahan yang sedemikian ini merupakan bawahan yang memiliki kemampuan untuk
bekerja dengan inisiatif sendiri tanpa harus dibimbing secara terus-menerus oleh
seorang atasan yang senantiasa mengawasi, mereka bekerja berdasarkan pada misi
organisasi yang jelas, sehingga mereka dapat dapat menjalankan aktivitas organisasi
secara maksimal.
Salah satu hal mendasar yang perlu dibangun dalam kepemimpinan yang
memberdayakan adalah komunikasi terbuka antara atasan dengan bawahan.
Komunikasi terbuka ini menjadi kanal yang memungkinkan agar segala hal dalam
setiap aktivitas organisasi dapat didiskusikan. Komunikasi yang terbuka dan elegan
hanya akan terbagun apabila ada kesalingpercayaan antara atasan dengan bawahan.

20
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kepemimpinan adalah kemampuan memberi inspirasi kepada orang lain untuk
bekerja sama sebagai suatu kelompok, agar dapat mencapai suatu tujuan umum.
Kemampuan memimpin diperoleh melalui pengalaman hidup sehari-hari. Pengertian lain
tentang kepemimpinan ialah segala hal yang bersangkutan dengan pemimpin dalam
menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan orang lain agar melaksanakan tugas dan
mewujudkan sasaran yang ditetapkan (LAN RI,1996).
Kegiatan kepemimpinan dalam keperawatan mencakup banyak hal. Kegiatan
tersebut mencakup cara mengarahkan, menunjukkan jalan, menyupervisi, mengawasi
tindakan anak buah, mengoordinasikan kegiatan yang sedang atau akan dilakukan, dan
mempersatukan usaha dan berbagai individu yang memiliki karakteristik yang berbeda
(Gillies,1994). (Dengan demikian, kegiatan kepemimpinan selalu bersinggungan dengan
kegiatan dalam manajemen.
Peran pemimpin dan kepemimpinannya sering rancu dengan peran manajer.
Pemimpin yang baik adalah membantu atau menolong orang lain
untuk berubah serta menemukan inovasi untuk menghadapi tantangan.. Kepemimpinan
merupakan inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai
tujuannya jikaada pemimpin yang efektif. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan
oleh seorang pemimpin yang memiliki jati diri sebagai pemimpin.
Pengertian manajemen dan leadership secara konsep terpisah dan kini menjadi
lebih jelas, mendefinisikan kepemimpinan lebih sulit, tetapi bila diteliti perbedaan antara
manager dan leader dikatakan bahwa manajer mengarah kepada kekuatan legimitasi
dan kontrol sedangkan leadership concern terhadap pemberdayaan empowerment
(Sofarrely & Brown,1998). Peran manager menjalankan organisasi sementara itu peran
leader melakukan perubahan (Posner&Kouzes, 1998). Benis (1990) menyatakan bahwa
leader adalah orang yang mengerjakan sesuatu yang benar do the right thing
sedangkan manager adalah orang yang mengerjakan sesuatu dengan cara yang benar do
thing right dan point dari keduanya didasarkan atas perbedaan nilai (values).

21
DAFTAR PUSTAKA

Agus Kontoro.2010. Buku Ajar Manajemen Keperawatan.Yogyakarta : Nuha Medika


Dessler, Gary.1998. Human Resource Management. Jakarta : Prenhallindo
McLeold, Raymond, DKK.2009. Sistem informasi manajemen. Jakarta : Salemba Empat
Suarli dkk. 2002. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis. Jakarta : Erlangga
Yukl, Gary A.1998. Leader Ship in Organzations. Jakarta : Prenhallindo

22