Anda di halaman 1dari 28

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material 2


Modul B Metal Hardening

Oleh:

Nama : Dedi Alfian


NIM : 13715052
Kelompok :2
Anggota (NIM) : Ilham Nurhamidi (13715007)
Prasetyo Bimantoro (13715029)
Mery Ayu W. (13715035)
Akmal Fauzi (13715059)

Tanggal Praktikum : 24 Oktober 2017


Tanggal Penyerahan Laporan : 30 Oktober 2017
Nama Asisten (NIM) : Kalis Khalif Munggaran (13713026)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Material logam merupakan material yang penggunaanya paling banyak
digunakan di dunia, terutama di industri alat-alat berat, kontruksi, transportasi dan
komponen mesin lainnya. Hal ini dikarenakan logam memiliki sifat yang menarik,
sifat-sifat itu seperti konduktifitas listrik, konduktifitas thermal, massa jenis, dan
beberapa sifat mekanik lainnya. Namun, semakin pesatnya perkembangan zaman,
semakin cepat juga perkembangan yang diharapkan dari sifat logam yang ada,
terutama kekerasannya, Sebagai upaya dari perkembangan zaman, didapati cara-
cara untuk merubah kekerasan dari logam, contohnya proses perlakuan panas dan
precipitation hardening yang biasanya digunakan untuk logam yang sudah
berbentuk solid, nantinya logam dipanaskan pada suhu tertentu dan dilakukan
pendiginan yang cepat agar struktur mikro yang ada di dalam logam tersebut
berubah. Namun dengan adanya proses pendigininan cepat, selalu terjadi juga
kekurangan dalam sifat logam tersebut, dimana logam biasanya menjadi sangat
keras dan berakibat menjadi getas, nantinya kegetasan ini bisa diminimalisir dengan
proses pemanasan kembali, atau sering disebut tempering.

1.2 Tujuan Praktikum


Menentukan nilai kekerasan baja karbon rendah dan tinggi setelah dan
sebelum dilakukan pemanasan (Heat Treatment).
Menentukan kekerasan paduan Al-Cu sebelum dan sesudah
Precipitation Hardening dan pengaruh waktu terhadap kekerasannya.
Menentukan kekerasan tembaga setelah proses annealing.
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Pengerasan Baja Karbon


Pengerasan pada karbon dapat dilakukan dengan proses heat treatment, heat
treatment adalah proses pengubahan sifat mekanik baja dengan merubah struktur
mikro dengan cara dipanaskan dan diatur laju pendinginanya, pada proses ini, yang
diubah pada benda kerja hanya sifat nya saja, bukan pada komposisi maupun bentuk
benda kerja, sehingga pemanasan hanya dilakukan sampai temperature austenisasi
(diatas 723) dan tidak menyentuh temperature titik cair benda kerja.

Gambar 2.1 Diagram Fasa Fe-C [1]


Ada beberapa jenis heat treatment yang umum digunakan, berikut
merupakan jenis-jenis nya:

a. Normalizing
Normalizing adalah proses pemanasan yang dilakukan mencapai temperatur
austenisasinya dan kemudian didinginkan diudara. Normalizing digunakan
untuk menormalkan kembali baja dan biasa struktur yang dihasilkan
merupakan butir yang halus
b. Full Annealing
Full Annealing adalah proses pemanasan yang dilakukan mencapat
temperatur austenisasinya dan kemudian didinginkan didalam tungku.
Proses pendinginan yang dilakukan didalam tungku cenderung lambat
sehingga Full Annealing biasa digunakan untuk melunakkan. Hal ini
disebabkan karena butir yang didapatkan cenderung lebih kasar
c. Quenching
Quenching adalah proses pemanasan yang dilakukan mencapat temperatur
austenisasinya dan kemudian didinginkan dengan cepat. Terdapat berbagai
macam cara pendinginan yang pernah dilakukan yaitu dicelupkan ke suatu
fludia, disiram,dan disemprot. Pendinginan yang cepat dilakukan agar
material tidak sempat untuk berdifusi sehingga terpaksa untuk melakukan
mekanisme geser dan membentuk fasa martensit. Tujuan dari proses ini
adalah untuk mendapatkan kekerasan yang tinggi dari suatu logam.
d. Tempering
Tempering adalah proses memanaskan kembali baja yang telah mengalami
proses quenching. Proses temper dibagi menjadi tiga tahapan
- Temper tahap satu (80 - 200 oC)
- Temper tahap dua (200 - 400 oC)
- Temper tahap tiga (400 600oC)
Proses temper biasa dilakukan untuk melunakan baja dan meningkan
mampu machinenya. Namun pada beberapa proses temper terkadang dapat
terjadi fenomena Temper Embrittlement dimana berubahnya fasa austenit
menjadi martensit yang meningkatkan kekerasan material. Fenomena
lainnya yang dapat terjadi pada proses temper adalah second phase
strengthening dimana terbentuknya fasa karbida yang meningkatkan
kekerasan material.
e. Spherodizing
Spherodizing adalah proses pemanasan kembali suatu material yang telah
mengalami proses quenching. Proses ini dilakukan untuk meningkatkan
ketangguhan material dengan cara membulatkan karbida. Proses
spherodisasi dapat dilakukan dalam tiga cara yaitu
- Menerapkan proses austenisasi, quench dan dilanjutkan dengan
proses temper tahap tiga
- Memanaskan untuk jangka waktu yang lama sedikit dibawah garis
A1
- Memanaskan secara fluktuatif disekitar garis A1

Dalam melakukan proses heat treatment, sering juga ditemukan


kegagalan-kegagalan yang membuat benda kerja menjadi cacat, berikut cacat-
cacat yang umum terjadi pada benda kerja hasil proses heat treatment:

a. Retakan
Retakan dapat terjadi pada material yang mengalami perubahan temperatur
secara drastis atau disebut juga thermal shock. Pada perlakuan panas,
thermal shock dapat terjadi apabila material tidak dapat menahan deformasi
berupa pengerutan akibat didinginkan terlalu cepat. Hal ini dapat terjadi
pada proses pendinginan cepat dengan menggunakan medium quench yang
memiliki nilai severity of quench yang besar.
b. Oksidasi
Oksidasi dapat terjadi akibatnya berikatan atom C dengan O2 didalam
tungku. Proses oksidasi dapat terjadi karena temperatur yang cukup yang
membuat atom C dapat berdifusi dan berikatan.
c. Dekaburisasi
Dekaburisasi merupakan fenomena berkurangnya atom karbon akibat
proses oksidasi. Hal ini menimbulkan segregasi pada baja dimana kekerasan
material menjadi tidak sama.
d. Soft Spot
Terkadang setelah proses pengerasan pada paja, terjadi pengerasan yang
tidak seragam di permukaan. Cacat ini dikenal sebagai soft spot dan dapat
disebabkan oleh:
- Terbentuknya vapour blanket
- Terbentuknya dekaburisasi local
- Inhomogenitas dari mikrostruktur
- Adanya material asing di permukaan logam seperti kotoran
- Benda kerja yang besar
e. Shadow Effect
Terjadi akibat mekanisme pendinginan yang tidak merata dikarenakan
pendinginan hanya dilakukan pada satu bagian sehingga hanya satu sisi
yang mengalami perubahan martensitic.

Ada dua jenis diagram yang sering digunakan dalam proses perlakuan
panas, yaitu CCT (Continuous Cooling Transformation) dan TTT (Time-
Temperatue Transformation). Perbedaan dari kedua kurva ini adalah dimana kurva
CCT menggambarkan perubahan fasa terjadi dengan suhu yang terus turun, atau
tidak dalam suhu yang konstan, sedangankan dalam kurva TTT perubahan fasa
terjadi pada saat suhu ditahan di temperature tertentu.

Gambar 2.2 Diagram TTT Baja Eutectoid[2]


Gambar 2.3 Diagram CCT Baja Eutectoid [3]
Diagram CCT dapat diturunkan dari diagram fasa Fe-C, dimana faktor yang
mempengaruhi bentuk diagram adalah persen karbon, semakin banyak persentase
karbon atau karbon ekivalen dari paduan, maka hidung kurva akan semakin
bergeser ke arah kanan dan titik Ms dan Mf akan semakin bergeser kebawah
mendekati temperature kamar, dan sebaliknya semakin sedikit persentase karbon
atau karbon ekivalen dari paduan, maka hidung kurva akan semakin bergeser ke
arah kiri mendekati sumbu tegak dan titik Ms dan Mf akan semakin bergeser ke atas.
Dari proses perlakuan panas dan proses pendinginan yang cepat, akan
terbentuk fasa martensite yang sifatnya getas, biasanya agar benda kerja tidak
terlalu getas akibat pembentukan martensite, benda kerja selalu dipanaskan kembali
atau disebut tempering.

2.2 Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu

Precipitation hardening adalah proses perlakuan panas yang bertujuan


untuk meningkatkan kekuatan dan kekerasan material dengan pembentukan
presipitat (fasa sekunder berukuran kecil) yang tersebar secara seragam di dalam
matriks yang nantinya presipitat ini menghambat pergerakan dislokasi sehingga
kekerasan paduan dapat meningkat. Paduan yang mudah dilakukan dengan metode
pengerasan ini adalah paduan yang dapat membentuk larutan lewat jenuh (super
saturated solid solution) dan ketika di-aging akan membentuk presipitat. Beberapa
paduan ini antara lain Al-Cu, Cu-Be, Cu-Sn, dan Mg-Al.

Gambar 2.4 Diagram fasa Paduan Al-Cu[4]


Dilihat dari diagram fasa diatas, kemampuan Al untuk melarutkan Cu
hanya berkisar 4%, jika kandungan Cu diatas 4% maka atom Cu yang akan
menempati matriks Al dalam bentuk intertisi.

Gambar 2.5 Proses Precipitation Hardening[5]


Dari gambar diatas, bisa diketahui proses atau tahapan-tahapan dalam
precipitation hardening, proses tersebut yaitu:
1. Solution Heat Treatment
Tahap pelarutan, merupakan tahap pertama dimana paduan dipanaskan
diatas temperatur solvus pada komposisi C0 dan pada temperatur T0 (daerah
fasa ) lalu ditahan hingga seluruh fasa terlarut (terbentuk larutan padat
homogen). Pada tahap ini presipitat larut dan segregasi yang ada pada
paduan awalnya berkurang.
2. Quenching
Tahap kedua, dimana larutan padat didinginkan secara cepat menuju
temperatur T1 (temperatur ruang untuk beberapa paduan). Hal ini dilakukan
untuk membentuk -super saturated solid solution. Pada saat ini atom tidak
memiliki cukup waktu untuk berdifusi menuju pengintian dan disini
presipitat tidak terbentuk. ss ini mengandung kelebihan Cu
dan hal tersebut bukan merupakan struktur kesetimbangannya. Pada tahap
ini paduan relatif bersifat lunak dan lemah.

3. Aging/ Precipitation heat treatment


Tahap ketiga, dimana , ss, dipanaskan kembali dibawah temperatur solvus
(T2) di daerah dua fasa + . Hal ini bertujuan untuk menghasilkan
presipitat halus terdispersi. Atom berdifusi hanya dalam jarak pendek pada
temperatur aging ini. Karena supersaturated tidak stabil, kelebihan atom
Cu berdifusi menuju inti dalam jumlah besar dan presipitat membesar.
Formasi dari presipitat halus terdispersi pada paduan merupakan tujuan dari
proses precipitation hardening. Presipitat halus terdispersi pada paduan
menghalangi pergerakan dislokasi dengan menekan dislokasi memotong
presipitat atau mengelilingi presipitat tersebut. Dengan membatasi
pergerakan dislokasi selama deformasi, maka paduan meningkat
kekerasannya.

Kekuatan dan kekerasan yang diinginkan dalam proses precipitation


hardening ini dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya waktu aging, waktu
aging mempengaruhi kekerasan dimana ketika waktu aging terlalu lama, akan
membuat kekerasan dari benda kerja menurun (tidak maksimal).

Gambar 2.6 Pengaruh waktu aging terhadap kekerasan[6]

Dari gambar diatas, bisa dilihat pada awal aging, cluster atom tembaga
membentuk presipitat kecil, disebut GP Zone. Seiring meningkatnya waktu aging,
kekerasannya akan meningkat, namun jika waktu aging terlalu lama, akan membuat
kekerasan menurun. Kekerasan maksimum didapat ketika terbentuknya fasa ,
overaging atau waktu aging yang terlalu lama akan membuat fasa dan , dan fasa
ini yang membuat kekerasan benda kerja menurun. Dibawah ini terdapat gambar
yang menunjukkan susunan atom yang terjadi saat proses precipitation hardening.

Gambar 2.7 tahap-tahap formasi dalam precipitation hardening[7]


2.3 Rekristalisasi

Logam yang mengalami deformasi plastis akibat dari proses (cold Working)
akan mengalami perubahan butir yang dimana perubahan butir ini akan disertai
dengan kenaikan kekuatan dan kekerasan namun juga mengalami penurunan
keuletan dan ketangguhan, untuk meminimalisir hal tersebut dilakukan proses
annealing, proses annealing adalah proses perlakuan panas dengan cara
memanaskan logam pada temperatur rekristalisasinya dan didinginkan secara
lambat.

Gambar 2.8 Pengaruh temperatur annealing terhadap keuletan dan kekuatan


tarik[8]
Dilihat dari gambar diatas, terdapat tiga tahap pada proses annealing yaitu
recovery, recrystallization, dan grain growth, berikut penjelasannya:
1. Recovery
Logam akan mengalami pengurangan internal stress, jumlah dislokasi
dan konfigurasi dislokasi yang disebabkan oleh cold work.
2. Rekristalisasi
Pembentukan butir equiaxial yang bebas regangan dan memiliki
kerapatan dislokasi yang rendah.
3. grain growth
Butir yang dihasilkan pada tahap rekristalisasi tumbuh membesar.

Proses-proses tersebut melibatkan pemanasan hingga mencapai temperatur


rekristalisasi. Temperatur rekristalisasi merupakan temperatur saat rekristalisasi
tercapai secara sempurna dalam waktu 1 jam. Temperatur rekristalisasi dipengaruhi
oleh dua hal, yaitu : persentase cold work dan impurities.

Gambar 2.9 pengaruh cold working terhadap temperature rekristalisasi[9]

Dilihat dari gambar diatas, semakin sedikit persentase cold working, maka
semakin tinggi temperature rekristalisasi, dan sebaliknya semakin banyak
persentase cold working, maka semakin rendah temperature rekristalisasi.
Sedangkan impurities berpengaruh karena impurities akan bersegregasi dan
berinteraksi dengan batas butir rekristalisasi sehingga akan mengurangi
pergerakannya. Hal tersebut dapat mengurangi laju rekristalisasi dan menaikkan
temperatur rekristalisasinya.
BAB III

PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Pengerasan Baja Karbon

Siapkan dua spesimen yang terdiri dari baja karbon rengah dan
tinggi

Ukur kekerasan awal

Panaskan Spesimen pada Temperature austenisasi nya selama


30 menit

Lakukan proses quenching ke dalam air

Ukur kekerasan akhir


3.2 Precipitation Hardening pada Paduan Al-Cu

Siapkan empat spesimen paduan Al-Cu

Panaskan sampai temperature 550 selama 12 jam lalu


quench ke dalam air

Ukur kekerasan semua spesimen

Panaskan kembali pada temperature 200 masing-masing


selama 10,30,60 dan 120 menit

Lakukan proses quecnh ke dalam air

Ukur kekerasan masing-masing spesimen

Buat kurva antara harga kekerasan dan waktu aging


3.3 Rekristalisasi

Panaskan enam spesimen tembaga pada 800, lalu dinginkan


di udara dan lakukan pengerolan reduksi 50%

Beri tanda setiap spesimen dengan nomor 1 sampai dengan 6

Ukur kekerasan salah satu spesimen

Panaskan spesimen no 1 sampai pada 800 selama 120


menit, no 2 sampai dengan 5 pada 400 selama 10,15,30,45,
dan 60 menit, no 6 pada 100 selama 90 menit

Setelah pendinginan, ukur kekerasaan masing-masing


BAB IV

DATA PERCOBAAN

4.1 Data Pengamatan

4.1.1 Pengerasan Baja karbon

Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan spesimen baja


karbon rendah dan tinggi, didapatkan data kekerasan seperti berikut:

Tabel 4.1 Data kekerasan Baja karbon

Spesimen T () Waktu (Menit) HRA Awal HRA Akhir


Baja Karbon Rendah 900 30 24.7 52.3
Baja Karbon Tinggi 900 30 73.7 114.3

4.1.2 Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu

Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan spesimen paduan


Al-Cu, didapatkan data kekerasan seperti berikut:

Tabel 4.2 Data kekerasan Paduan Al-Cu

Spesimen T() Waktu (menit) HRH Awal HRH Akhir


1 200 10 59.7 63
2 200 30 62 63
3 200 60 63.7 56.7
4 200 120 49 57.7

4.1.3 Rekristalisasi

Setelah dilakukan pengujian dengan menggunakan spesimen


Tembaga, didapatkan data kekerasan seperti berikut:
Tabel 4.3 Data kekerasan Tembaga

Spesimen Waktu (menit) T() HRH Awal HRH Akhir


1 15 400 52 53.3
2 30 400 52.3 52.3
3 45 400 59 38.7
4 60 400 52.5 10.3
5 90 100 53.7 57.7
6 120 800 51.3 41

4.2 Data Pengolahan

4.2.1 Pengerasan Baja Karbon

Setelah dilakuan pengujian dan didapatkan data seperti tabel diatas,


maka didapatkan grafik kekerasan baja karbon rendah dan tinggi sebelum dan
sesudah dilakukan pemanasan sebagai berikut:

Tabel 4.4 Grafik kekerasan baja karbon

Grafik Kekerasan Baja Karbon


140

120

100
Kekerasan (HRA)

80
Sebelum Pemanasan
60
Setelah Pemanasan
40

20

0
Baja Karbon Rendah Baja Karbon Tinggi
4.2.2 Precipitation Hardening Pada Paduan Al-Cu

Setelah dilakuan pengujian dan didapatkan data seperti tabel diatas,


maka didapatkan grafik kekerasan paduan Al-Cu sebelum dan sesudah dilakukan
pemanasan sebagai berikut:

Tabel 4.5 Grafik kekerasan Paduan Al-Cu

Grafik Kekerasan Paduan Al-Cu


70
60
Kekerasan (HRH)

50
40
30 Sebelum Pemanasan
20
Setelah Pemanasan
10
0
10 30 60 120
Waktu Pemanasan(Menit)

4.2.3 Rekristalisasi

Setelah dilakuan pengujian dan didapatkan data seperti tabel diatas,


maka didapatkan grafik kekerasan Tembaga sebelum dan sesudah dilakukan
pemanasan sebagai berikut:

Tabel 4.6 Grafik kekerasan Tembaga

Grafik Kekerasan Tembaga


70
60
HKekerasan (HRH)

50
40
30 Sebelum Pemanasan
20 Setelah Pemanasan
10
0
15 30 45 60 90 120
Waktu Pemanasan(menit)
BAB V

ANALISIS DATA

Pada praktikum metal hardening ini, digunakan tiga jenis spesimen,


yaitu baja karbon, paduan Al-Cu, dan Tembaga. Data-data yang diperoleh dalam
praktikum kali ini merupakan data-data yang diperoleh melalui tahapan masing-
masing setiap proses perlakuan.

Dari pengerasan baja karbon, didapatkan kedua spesimen mengalami


peningkatan kekerasan, terutama dalam baja karbon rendah, kekerasan akhir
mencapai dua kali lipat kekerasan awal, sedangkan dalam baja karbon tinggi,
kekerasan akhir tidak terlalu signifikan, hal ini disebabkan oleh kandungan karbon
yang sangat tinggi, dengan menggunakan diagram CCT dapat dijelaskan bahwa
pada baja karbon rendah titik Mf berada dibawah suhu kamar, sehingga terdapat
austenite sisa yang belum bertransformasi menjadi martensite, untuk mengubah
fasa austenite sisa ini bisa dilakukan proses tempering.

Kenaikan harga kedua spesimen ini disebabkan oleh perubahan fasa


yang terjadi di dalam benda kerja, ketika baja dilakukan pemanasan sampai 900
baja akan bertransformasi menjadi austenite dan ketika dilakukan quenching fasa
austenite akan bertransformasi menjadi martensite, fasa martensite ini lah yang
membuat benda kerja menjadi keras, martensite bersifat keras karena martensite
tersusun oleh struktur crystal BCT dimana karbon bebas yang terlarut dalam
austenite tidak sempat berdifusi keluar sehingga tidak terjadi transformasi dari FCC
ke BCC melainkan menjadi mekanisme geser yang akan membentuk struktur
crystal BCT yang mengandung banyak karbon sangat jenuh.

Pada proses precipitation hardening paduan Al-Cu, harga kekerasan


setelah pemanasan mengalami peningkatan dibandingkan sebelum pemanasan,
namun pada nilai kekerasan akhir terjadi perbedaan dengan harga kekerasan
literature, dimana dalam literature kekerasan akan cenderung meningkat dan saat
sudah overaging nilai kekerasan akan cenderung menurun, berbeda dengan hasil
dari praktikum kali ini, dimana hasil yang didapat kekerasan cenderung stabil dan
saat overaging mengalami penurunan nilai kekerasan dan pada waktu dua jam nilai
kekerasan menjadi meningkat, hal ini dapat disebabkan oleh kesalahan praktikan
dalam menggunakan mesin uji keras atau dapat juga disebabkan dari benda kerja,
karena patut diketahui spesimen yang digunakan berbeda-beda sehingga bisa saja
persebaran fasa yang tidak merata membuat pembetukan presipitat tidak homogen
di semua benda kerja.

Dari literatur, didapatkan titik leleh dari tembaga sekitar 1083,


dengan asumsi di literature bahwa temperature rekristalisasi senilai dengan 0,4Tm
berarti tembaga memiliki temperature rekristalisasi sebesar 433.2. Pada tembaga
no 5, dimana spesimen ini dipanaskan pada temperature 100 selama 90 menit,
mengalami peningkatan kekerasan, hal ini berbeda dengan literatur dimana
seharusnya material yang dipanaskan dibawah temperature rekristalisasi nya
mengalami penurunan kekerasan, sedangkan tembaga no 6, yang dipanaskan diatas
temperature rekristalisasi nya, di temperature 800 mengalami penurunan
kekerasan, hal ini sesuai dengan literatur dimana kekerasan material akan menurun
setelah dilakukan proses rekristalisasi.

Hal berbeda didapati dalam tembaga no 1-4, dimana terdapat perbedaan


kondisi, pada tembaga no 1 dan 2, mengalami peningkatan yang sedikit, namun
tembaga no 3 dan 4 mengalami penurunan kekerasan yang sangat pesat, seharusnya
kekerasan pada tembaga ini menurun tapi tidak terlalu signifikan karena tembaga
ini masih dipanaskan dibawah temperature rekristalisasinya.
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 KESIMPULAN

Setelah dilakukan percobaan, maka didapatkan kekerasan baja setelah


dilakukan pemanasan seperti berikut.

Spesimen T () Waktu (Menit) HRA Awal HRA Akhir


Baja Karbon Rendah 900 30 24.7 52.3
Baja Karbon Tinggi 900 30 73.7 114.3

Setelah dilakukan percobaan, maka didapatkan kekerasan paduan Al-Cu


setelah dilakukan pemanasan seperti berikut.

Spesimen T() Waktu (menit) HRH Awal HRH Akhir


1 200 10 59.7 63
2 200 30 62 63
3 200 60 63.7 56.7
4 200 120 49 57.7

Waktu aging berpengaruh terhadap nilai kekerasan pada benda kerja,


dimana jika waktu aging terlalu lama, kekerasan pada benda kerja cenderung akan
menurun.

Setelah dilakukan percobaan, maka didapatkan kekerasan tembaga setelah


dilakukan pemanasan seperti berikut.

Spesimen Waktu (menit) T() HRH Awal HRH Akhir


1 15 400 52 53.3
2 30 400 52.3 52.3
3 45 400 59 38.7
4 60 400 52.5 10.3
5 90 100 53.7 57.7
6 120 800 51.3 41

6.2 SARAN

Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam menggunakan/membaca


nilai pada mesin uji keras, dan sebaiknya proses praktikum tidak bercampur dengan
proses praktikum lain karena akan berpengaruh terhadap nilai kalibrasi kekerasan
Daftar Pustaka

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 400] [1]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 359] [2]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 368] [3]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 439] [4]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 438] [5] [6]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 440] [7]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal. 221] [8]

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011, hal.222] [9]

https://www.onlinemetals.com/meltpt.cfm

[Sumber: W. D. Callister, Materials Science and Engineering: An Introduction, 8th


ed., John Wiley & Sons, 2011]

[Krauss, George, Principles of Heat Treatment of Steel, American Society for


Metals, Ohio, 1980.]
LAMPIRAN

Tugas Setelah Praktikum

Pengerasan Baja Karbon

Pertanyaan

1. Mengapa baja dengan kadar karbon lebih tinggi memiliki kekerasan yang
lebih tinggi daripada baja karbon rendah setelah proses quenching?
2. Apakah pengaruh proses quenching dengan kekuatan dan kekerasan baja?
3. Jelaskan mekanisme terbentuknya martensit dan mengapa martensit
memiliki kekerasan yang tinggi pada baja?
4. Kapan terbentuk austenit sisa pada proses quenching dan apa pengaruhnya
terhadap kekerasan?
5. Jelaskan cara yang dilakukan untuk mengurangi keberadaan austenit sisa?

Jawaban

1. Hal ini dikarenakan jumlah karbon yang terdapat dalam rongga BCT nya
lebih banyak, dan juga baja karbon rendah umunya tidak dapat
membentuk martensite, melainkan sebuah fasa yang mirip dengan
martensite.
2. Proses quenching berpengaruh terhadap nilai kekerasan dan kekuatan baja,
dimana semakin cepat laju pendingingan maka semakin kuat dan keras
baja yang yang terbentuk karena lebih banyak fasa martensite yang
terbentuk akibat pendingininan yang cepat.
3. Pertama baja karbon dipanaskan sampai temperature austenite, lalu
didinginkan dengan cepat, akibat laju pendinginan yang cepat ini membuat
austenite tidak bisa berdifusi, akibat tidak terjadi difusi maka mekanisme
pembentukan martensit adalah mekanisme geser dan atom karbon tetap
dalam struktur austenit dan terjadi perubahan struktur dari FCC menjadi
BCT karena atom karbon yang berada pada celah oktrahedral atom Fe tidak
sempat mengalami difusi sehingga terbentuk sel satuan baru dimana salah
satu atom face pada FCC menjadi pusat sel satuan BCT. Martensit memiliki
kekerasan yang tinggi karena terdapat atom karbon yang menghambat
pergerakan dislokasi sehingga dislokasi menumpuk dan terjadi peningkatan
kekerasan
4. Austenite sisa terjadi akibat kadar karbon yang terlalu tinggi, kadar karbon
yang terlalu tinggi akan menggeser titik Mf semakin kebawah mendekati
0, akibatnya peningkatan kekerasan tidak terlalu besar karena masih
adanya austenite sisa.
5. Dengan melakukan sub zero treatment atau pendinginan baja karbon
disekitar 0,

Precipitation hardening pada paduan Al-Cu

Pertanyaan

1. Buat analisis pengaruh waktu aging terhadap kekerasan!


2. Mengapa presipitasi meningkatkan kekerasan/kekuatan?
3. Apa yang dimaksud dengan natural aging, artificial aging, dan over aging?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan GP zone?

Jawaban
1. Semakin tinggi temperature, selama masih di GP zone, maka nilai kekerasan
akan meningkat, namun jika sudah overaging maka kekerasan akan
menurun.
2. Karena dengan adanya pembetukan presipitat, dimana presipitat itu
menghalangi laju diskolasi, sehingga dislokasi sukar untuk bergerak atau
membutuhkan energi ekstra, maka dari itu kekerasan benda kerja dapat
meningkat.
3. Natural aging = perlakuan panas pada benda kerja dengan
mengombinasikan pemanasan pada temperatur kamar dan waktunya.
Artificial aging = aging pada temperatur di atas temperatur kamar tetapi
dibawah temperatur eutectic.
Over aging = aging yang terlalu lama sehingga presipitat membesar dan
lattice pulih kembali yang menghasilkan sifat yang lunak sehingga
kekerasan dan kekuatan menurun.
4. daerah pada aging ketika sudah mulai clustering dan mulai terbentuk
presipitat yang menghambat pergerakan dislokasi sehingga terjadi
peningkatan kekerasan pada material.

Rekristalisasi

Pertanyaan
1. Buatlah analisis antara temperatur pemanasan pada T = 800oC, 400oC, dan
100oC terhadap kekerasan material! Adakah hubungannya dengan struktur
mikronya? Jelaskan!
2. Temperatur rekristalisasi dipakai sebagai batas antar cold working dan hot
working. Jelaskan mengapa pemberian deformasi pada hot working tidak
meningkatkan kekerasan?
3. Jelaskan pengaruh cold work terhadap temperatur rekristalisasi material!
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan cold working dan hot working! Apa
masing-masing kelebihan dan kekurangannya dan berikan contohnya?
5. Jelaskan pengaruh recovery, recrystallization, dan grain growth terhadap
sifat mekanik material!

Jawaban
1. Pada T = 800oC, butir-butir kristal sudah tumbuh membesar yang membuat
nilai keluetan dan ketangguhan benda kerja sudah meningkat, Pada T =
400oC, proses baru sampai dengan rekristalisasi dimana baru tumbuh butir-
butir equaxial yang masih memiliki kerapatan dislokasi, sedangkan pada
Pada T = 100oC, baru terjadi recovery dimana berkurangnya internal stress
dan jumlah dislokasi
2. Karena pada hot working benda kerja dipanaskan diatas temperature
rekristalisasinya sehingga sudah terbentuk butir-butir equaxial yang baru
dan penyusunan ulang dislokasi yang dimana deformasi akibat pemrosesan
sebelumnya dapat dihilangkan dan sifatnya kembali seperti semula.
3. Semakin banyak persentase cold working dalam benda kerja maka semakin
rendah temperature rekristalisasinya.
4. Cold work = pemberian deformasi plastis pada benda kerja di bawah
temperatur rekristalisasinya.
Kelebihannya adalah tidak membutuhkan biaya untuk heat generator, hasil
permukaan halus, toleransi dimensi ketat dapat dicapai, dan kekuatan,
kekerasan, fatigue strength, dan wear resistance cenderung meningkat.
Kekurangannya adalah terjadi strain hardening, terdapat tegangan sisa,
permukaan harus bersih, dan keuletan menurun. Contohnya adalah cold
extrusion dan cold rolling.
Hot work = pemberian deformasi plastis pada material di atas temperatur
rekristalisasinya.
Kelebihannya adalah tidak terjadi strain hardening, pemrosesan lebih
mudah karena logam melunak akibat pemanasan, fasanya menjadi
homogen, dan sifat mekaniknya kembali seperti semula.
Kekurangannya adalah biaya besar untuk heat generator dan permukaan
kasar karena terjadi oksidasi. Contohnya adalah forging dan hot rolling

5. Recovery = Logam akan mengalami pengurangan internal stress, jumlah


dislokasi dan konfigurasi dislokasi yang disebabkan oleh cold work.

Rekristalisasi = Pembentukan butir equiaxial yang bebas regangan dan


memiliki kerapatan dislokasi yang rendah.

grain growth

Butir yang dihasilkan pada tahap rekristalisasi tumbuh membesar.