Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN MASALAH GANGGUAN

KESEHATAN JIWA : PERILAKU KEKERASAN

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah KEPERAWATAN JIWA kelas 3A S1
keperawatan yang di ampu oleh dosen Sri Siska M. S.KEP.NS,

Disusun oleh Kelompok 3 :

1. AYU CHAYA NINGRUM (720153049)


2. FANI SETIAWAN (720153015)
3. LANY AFRIANA (720153049)
4. LILIX WAFIKHOYUN L. (720153027)
5. MINATI LAELI K. (720153030)
6. MUH. IRSYADUN NAFI (720153031)
7. MUSLIHATUS SAADAH (720153033)
8. MUKHAMIMAH (720153041)
9. RESTIANA APRILIA P.D (720153049)
10. YESY DAMAYANTI (720153049)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KUDUS

Jalan Ganesha 1 Purwosari Kudus Telp./Faks.(0291)442993/437218 Kudus 59316 Website :


http://www.stikesmuhkudus.ac.id.

1
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
sehingga pembuatan makalah ini dapat terselesaikan sebagaimana yang diharapkan.

Dalam makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan pada bayi baru lahir dan konsep komplikasi
bayi baru lahir.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota yang terkait dalam penyusunan makalah
ini, sehingga dapat digunakan sebagaimana mestinya. Walaupun kami tahu bahwa dalam malakah ini masih
banyak kekurangan dalam hal materi, teknik penulisan, sampai kepada format makalahnya.

Semoga makalah ini dapat menjadi salah satu bahan representasif terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan pembacanya. Oleh karena itu, saran dan kritikan yang bersifat membangun sangat kami harapkan
demi pembuatan makalah selanjutnya.

Kudus, 9 November 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Judul Makalah .................................................................................................................................................. i


Kata pengantar................................................................................................................................................. 2
Daftar isi............................................................................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................................ 4
1.1 latar belakang ......................................................................................................................................... 5
1.2 Rumusan masalah .................................................................................................................................. 6
1.3 Tujuan penulisan makalah ..................................................................................................................... 6
BAB 11 PEMBAHASAN ................................................................................................................................. 6
2.1 Definisi .................................................................................................................................................. 6
2.2 Faktor predisposisi ................................................................................................................................. 6
2.3 Faktor presipitasi .................................................................................................................................... 6
2.4 Diagnosa keperawatan dan pohon masalah ........................................................................................... 6
2.5 Strategi pelaksanaan pasien ................................................................................................................... 6
2.6 Strategi pelaksanaan keluarga ................................................................................................................ 6
BAB III PENUTUP .......................................................................................................................................... 6
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................................... 6
3.2 saran ....................................................................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................................... 6

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

1.2 RUMUSAN MASALAH


a) Menjelaskan pengertian dari perilaku kekerasan
b) Menjelaskjan faktor predisposisi & presipitasi pada perilaku kekerasan
c) Menjelaskan asuhan keperawatan gangguan kesehatan jiwa perilaku kekerasan
1.3 TUJUAN PENULISAN MAKALAH
Dalam pembuatan makalah ini kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan
sedikit tentang proses keperawatan pada area keperawatan JIWA, dan dapat di gunakan sebagai
penunjang proses belajar mengajar khususnya untuk mahasiswa jurusan keperawatan.

4
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI PERILAKU KEKERASAN

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah
atau amuk dimana seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik yang tidak
terkontrol (Yosep, 2009)
Suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara fisik dapat membahayakan bagi diri
sendiri atau pun orang lain (Sheila L. Videbeck, 2008).
Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu-individu beresiko menimbulkan bahaya langsung
pada dirinya sendiri ataupun orang lain (Carpenito, 2000).
Jadi, perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan individu yang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan/mencederai diri sendiri, orang lain bahkan dapat merusak lingkungan.
Perilaku
Perilaku yang berkaitan dengan perilaku kekerasan antara lain :
a. Menyerang atau menghindar (fight of flight)
Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf otonom beraksi terhadap sekresi epinephrin
yang menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar, sekresi HCl meningkat,
peristaltik gaster menurun, pengeluaran urine dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan juga meningkat
diserta ketegangan otot, seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku dan disertai reflek yang
cepat
b. Menyatakan secara asertif (assertiveness)
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif,
agresif dan asertif. Perilaku asertif adalah cara yang terbaik untuk mengekspresikan marah karena individu dapat
mengekspresikan rasa marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikolgis. Di samping itu perilaku
ini dapat juga untuk pengembangan diri klien
c. Memberontak (acting out)
Perilaku yang muncul biasanya disertai akibat konflik perilaku acting out untuk menarik perhatian orang lain.
d. Perilaku kekerasan
Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan kepada diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

2.2 FAKTOR PREDISPOSISI

Menurut Budiana Keliat (2004) faktor presipitasi dan predisposisi dari perilaku kekerasan adalah:
1. Faktor predisposisi
a. Psikologi
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk
b. Perilaku
Reinforcement yang diterima jika melakukan kekerasan, sering mengobservasi kekerasan, merupakan
aspek yang menstimulasi dan mengadopsi perilaku kekerasan.
c. Sosial budaya
Budaya tertutup, kontrol sosial tidak pasti terhadap perilaku kekerasan menciptakan seolah-olah
perilaku kekerasan diterima.
5
d. Bioneurologis
Kerusakan sistem limbik, lobus frontal atau temporal dan ketidakseimbangan neurotransmiter.

FAKTOR PRESIPITASI

Yaitu faktor yang bersumber:


a. Klien, misalnya : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, percaya diri kurang.
b. Lingkungan sekitar klkien, misalnya : padat,ribut, kritikan mengarah pada penghinaan, kehilangan
orang yang dicintai atau pekerjaan dan kekerasan.
c. Interaksi dengan orang lain, misalnya: provokatif dan konflik

a. Faktor presipitasi dapat dibedakan menjadi faktor eksternal dan internal.


1) Internal adalah semua faktor yang dapat menimbulkan kelemahan, menurunnya percaya diri, rasa takut sakit,
hilang kontrol dan lain-lain.
2) Eksternal adalah penganiayaan fisik, kehilangan orang yng dicintai, krisis dan lain-lain.
Hal-hal yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan atau penganiayaan antara lain sebagai berikut.
1) kesulitan kondisi sosial ekonomi.
2) kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu.
3) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai
orang yang dewasa.
4) Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisosial seperti penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mampu
mengontrol emosi pada saat menhadapi rasa frustasi.
5) kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan perubahan tahap perkembangan keluarga.

Fase- fase perilaku kekerasan


a. Triggering incidents
Ditandai dengan adanya pemicu sehingga muncul agresi klien. Beberapa faktor yang dapat menjadi
pemicu agresi antara laian: provokasi, respon terhadap kegagalan, komunikasi yang buruk, situasi yang
menyebabkan frustrasi, pelanggaran batas terhadap jarak personal, dan harapan yang tidak terpenuhi.
Pada fase ini klien dan keluarga baru datang.
b. Escalation phase
Ditandai dengan kebangkitan fisik dan emosional, dapat diseterakan dengan respon fight or flight. Pada
fase escalasi kemarahan klien memuncak, dan belum terjadi tindakan kekerasan. Pemicu dari perilaku
agresif klien gangguan psikiatrik bervariasi misalnya: halusinasi, gangguan kognitif, gangguan
penggunaan zat, kerusakan neurologi/kognitif, bunuh diri dan koping tidak efektif.
c. Crisis point
Sebagai lanjutan dari fase escalasi apabila negosiasi dan teknik de escalation gagal mencapai tujuannya.
Pada fase ini klien sudah melakukan tindakan kekerasan.
d. Settling phase
Klien yang melakukan kekerasan telah melepaskan energi marahnya. Mungkin masih ada rasa cemas dan
marah dan berisiko kembali ke fase awal.
e. Post crisis depression
Klien pada fase ini mungkin mengalami kecemasan dan depresi dan berfokus pada kemarahan dan
kelelahan.
f. Return to normal functioning

6
Klien kembali pada keseimbangan normal dari perasaan cemas, depresi, dan kelelahan.

Mekanisme Koping
Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme koping klien, sehingga dapat membantu klien untuk
mengembangkan mekanisme koping yang kontruktif dalam mengekspresikan kemarahannya. Mekanisme koping
yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represif,
denial dan reaksi formasi.
Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena
ditinggal oleh orang yang dianggap sangat berpengaruh dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi, maka
dapat menyebabkan seseorang rendah diri (harga diri rendah), sehingga sulit untuk bergaul dengan orang lain.
Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain ini tidak diatasi akan memunculkan halusinasi berupa suara-suara
atau bayangan yang meminta klien untuk melakukan tindak kekerasan. Hal tersebut akan berdampak pada
keselamatan dirinya dan orang lain (resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan).
Selain diakibatkan berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga yang kurang baik dalam menghadapi
kondisi klien dapat mempengaruhi perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif). Hal ini tentunya
menyebabkan klien sering keluar masuk RS atau menimbulkan kekambuhan karena dukungan keluarga tidak
maksimal (regimen terapeutik inefektif.

DATA YANG PERLU DIKAJI


Masalah Keperawatan Data yang perlu dikaji
Perilaku Kekerasan Subjektif :
Klien mengancam
Klien mengumpat dengan kata-kata kotor
Klien mengatakan dendam dan jengkel
Klien mengatakan ingin berkelahi
Klien menyalahkan dan menuntut
Klien meremehkan

Objektif :
Mata melotot
Tangan mengepal
Rahang mengatup
Wajah memerah dan tegang
Postur tubuh kaku
Suara keras

2.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN POHON MASALAH

A. Diagnose 1

Resiko Perilaku kekerasan

1. Tujuan umum

Klien tidak mencederai sendiri, orang lain dan lingkungan

7
2. Tujuan khusus :

a. Klien dapat membina hubungan saling percaya

b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan

c. Klien dapat mengidentifikasi tanda perilaku kekerasan

d. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang bisa dilakukan

e. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

f. Klien dapat mengontrol PK dengan nafas dalam

3. Strategi Pelaksanaan

a. SP 1 :

1) Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan

2) Mengidentifikasi tanda perilaku kekerasan

3) Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang bisa dilakukan

4) Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan

5) Mengajarkan cara kontrol PK dengan nafas dalam

6) Melatih cara kontrol PK dengan nafas dalam

7) Membimbing Pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

b. SP 2

1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2) Melatih pasien cara kontrol PK fisik 2 (memukul bantal/ kasur/ konversi energi)

3) Membimbing Pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

c. SP 3

1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2) Melatih pasien cara kontrol PK dengan verbal (meminta, menolak dan mengungkapakan marah dengan baik
)

3) Membimbing Pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

d. SP 4

1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2) Melatih pasien cara kontrol PK dengan Spiritual ( berdoa, wudhu, sholat)

3) Membimbing Pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian


8
e. SP 5

1) Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya

2) Menjelaskan cara kontrol PK dengan minum obat ( prinsip 5 benar minum obat)

3) Membimbing Pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. POHOJN MASALAH

9
2.4 STRATEGI PELAKSANAAN PASIEN
Tindakan keperawatan untuk pasien
a. Tujuan
1) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
3) Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya
4) Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya
5) Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya
6) Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik, spiritual, sosial, dan
dengan terapi psikofarmaka.
b. Tindakan
1) Bina hubungan saling percaya
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman
saat berinteraksi dengan saudara. Tindakan yang harus saudara lakukan dalam rangka membina hubungan
saling percaya adalah:
a) Mengucapkan salam terapeutik
b) Berjabat tangan
c) Menjelaskan tujuan interaksi
d) Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien
2) Diskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu
3) Diskusikan perasaan pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
a) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik
b) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara psikologis
c) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara sosial
d) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara spiritual
e) Diskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan secara intelektual
4) Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat marah secara:
a) verbal
b) terhadap orang lain
c) terhadap diri sendiri
d) terhadap lingkungan
5) Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya
6) Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan secara:
a) Fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam
b) Obat
c) Social/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya
d) Spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien
7) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik:
a) Latihan nafas dalam dan pukul kasur bantal
b) Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur bantal
8) Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal
a) Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan
baik, mengungkapkan perasaan dengan baik
b) Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal.
9) Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual:
a) Latih mengontrol marah secara spiritual: sholat, berdoa
b) Buat jadwal latihan sholat, berdoa
10) Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat:
a) Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien,
benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat)
disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat
b) Susun jadwal minum obat secara teratur

10
11) Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi mengontrol Perilaku
Kekerasan

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan marah, tanda dan
gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya serta cara mengontrol secara
fisik I

2.5 STRATEGI PELAKSANAAN KELUARGA


1. Tindakan keperawatan untuk keluarga
a. Tujuan

Keluarga dapat merawat pasien di rumah

b. Tindakan

1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien

2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab,

tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut)

3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti
melempar atau memukul benda/orang lain

4) Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan

a) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat

b) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapt melakukan kegiatan tersebut
secara tepat

c) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku
kekerasan

5) Buat perencanaan pulang bersama keluarga

SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di
rumah

1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien

2) Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab,

tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku

tersebut)

3) Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti
melempar atau memukul benda/orang lain

11
BAB IV
PENUTUP
Pada kasus perilaku kekerasan yang dialami pada tindakan yang dilakukan sesuai dengan konsep teori adalah
membina hubungan saling percaya, membantu klien mengungkapkan penyebab perasaan jengkel atau marah,
membantu klien mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan, membantu mengungkapkan akibat atau kerugian
dari cara yang digunakan klien, membantu klien mengidentifikasi cara yang konstruktif dalam berespon terhadap
kemarahannya dan mengajarkan cara untuk menyalurkan energy marah yang sehat agar tidak menciderai diri sendiri,
oarng lain dan lingkungan.
(Budi Anna Keliat , S.Kp 1998)
SARAN
1. Tingkatkan semangat individu dan kerjasama kelompok, mengelola kasus kelompok agar dapat memberikan
asuhan keperawatan secara profesional.
2. Mempersiapkan diri baik fisik maupun materi sebelum praktek khususnya dalam bidang keperawatan jiwa.

DAFTAR PUSTAKA
Aziz R, dkk. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa, Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo

Tim Direktorat Keswa. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa Bandung : RSJD Bandung.
Carpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC

Keliat, Ana Budi. Dkk. 2009. Model kepeawatan profesional jiwa. Jakarta: EGC

Keliat, Ana Budi. Dkk. 2005. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Jakarta; EGC

Kusumawati, farida. 2010.Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta :salemba medika

Stuart GW, Sundeen. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta; EGC

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung; Refika Aditama

Videbeck, Sheila L. 2008. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta :EGC

12