Anda di halaman 1dari 11

SEJARAH LAHIRNYA EKOLOGI TUMBUHAN

A. Sejarah dan perkembangan Ekologi Tumbuhan


1. Sejarah Ekologi Tumbuhan
Bila ditinjau dari peristilahannya, telah diperkenalkan oleh seorang ekologiwan Jerman
yang bernama Ernest Haeckle (1869). Ekologi berasal dari kata Latin oekologie yang berasal
dari kata oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti kajian atau ilmu. Jadi ekologi berarti
kajian organisme di habitatnya atau di tempat hidupnya. Menurut Ernest Haeckle ekologi adalah
ilmu yang mempelajari seluk beluk ekonomi alam, suatu kajian hubungan anorganik serta
lingkungan organik di sekitarnya. Menurut C. Elton (1927) ekologi adalah ilmu yang mengkaji
sejarah alam atau perkehidupan alam (natural history) secara ilmiah, dan menurut Andrewartha
(1961) ekologi adalah ilmu yang membahas penyebaran (distribusi) dan kemelimpahan
organisme. Sedangkan Eugene P. Odum (1963) menyatakan bahwa ekologi adalah ilmu
pengetahuan tentang struktur dan fungsi alam. Charles J. Krebs (1978) menyatakan ekologi
adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji interaksi-interaksi yang menentukan penyebaran dan
kemelimpahan organisme. Sekarang definisi ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi
makhluk hidup dengan lingkungannya, baik lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik.
Interaksi makhluk hidup dengan lingkungan abiotiknya, bagaimana lingkungan
mempengaruhinya, dan bagaimana makhluk hidup merespon pengaruh tersebut.
Sedangkan interaksinya dengan sesama biotik menyebabkan terjadinya simbiotik dari
berbagai makhluk hidup. Kajian ekologi komunitas berkembang ke dalam dua kutub, yaitu di
Eropa yang dipelopori oleh Braun-Blaunquet (1932) yang kemudian dikembangkan oleh para
ahli lainnya. Mereka tertarik untuk mempelajari komposisi, struktur, dan distribusi dari
komunitas. Kutub lainnya di Amerika, seperti Cowles (1899), Clements (1916), dan Gleason
(1926) yang mempelajari perkembangan dan dinamika komunitas tumbuhan. Sedangkan
Shelford (1913,1937), Adams (1909), dan Dice (1943) di Amerika dan Elton di Inggris
mengungkapkan hubungan timbal balik antara tumbuhan dan hewan.
Pada saat yang bersamaan perhatian terhadap dinamika populasi juga banyak
dikembangkan para ahli. Pendekatan secara teoritis dikembangkan oleh Lotka (1925), dan
Voltera (1926) menstimuli pendekatan secara eksperimen. Pada tahun 1940-an dan 1950-an

1
Lorenz dan Tinbergen mengembangkan konsep-konsep tingkah laku yang bersifat instink dan
agresif. Sedangkan tingkah laku sosial dalam regulasi populasi dikembangkan oleh Wynne dan
Edward (1960) secara mendalam di Inggris. Berdasarkan penemuan-penemuan dari Darwin
(1859) dan Wight (1931) ekologi berkembang kearah kajian genetika populasi, kajian evolusi,
dan adaptasi. Leibig (1840) mengkaji pengaruh lingkungan nonbiotik terhadap organisme,
sehingga ekologi berkembang ke arah eko-klimatologi dan ekofisiologi.

2. Perkembangan Ekologi Tumbuhan


Ahli-ahli ekologi tumbuhan mencoba menemukan faktor-faktor yang men-dukung dan
berperanan dalam kehidupan vegetasi. Mereka terus menerus mencoba melakukan penelitian ke
arah yang lebih baik, sebagaimana ahli biologi lainnya dengan mengikuti perkembangan
kemajuan bidang kimia dan fisika, seperti ditemukannya DNA, ikatan hidrogen dan partikel sub
atom dan lain-lain. Manusia selalu berusaha untuk mengetahui hasil penemuan yang sudah ada,
dan dalam rangka untuk menggali penemuan yang akan datang. Ahli ekologi tumbuhan sangat
berkeinginan untuk mengetahui hubungan yang lengkap antara tumbuhan yang satu dengan yang
lainnya dan dengan lingkungannya.
Secara lebih mendasar, ekologiwan tumbuhan ingin menjawab beberapa perta-nyaan
seperti; Bagaimana tumbuhan mengatasi masalah dispersal, perkecambahan pada tempat yang
cocok, kompetisi, nutrien dan pembebasan energi? Bagaimana tumbuhan dapat bertahan
terhadap keadaan yang kurang baik atau yang membahayakan, seperti api, banjir, kemarau
panjang dan lain-lain? Bagaimana tumbuhan dapat menjelaskan keberadaannya, kekuatan
tumbuh dan jumlahnya pada masa yang lalu, sekarang dan masa yang akan datang pada habitat
mereka?
Dengan mengembangkan pertanyaan tersebut di atas, maka banyak sekali informasi yang
bisa digali dari hubungan sesama tumbuhan dan dengan lingkungannnya. Ada ekologiwan yang
tertarik kepada masalah-masalah yang bersifat mendasar dalam melakukan deskripsi vegetasi,
tetapi ada juga ekologiwan yang yang tertarik pada masalah penerapan informasi dasar tersebut,
sehingga memunculkan ekologi terapan. Ekologiwan tumbuhan terapan banyak dikenal sebagai
manajer penggembalaan ternak, rimbawan atau agronomiwan. Mereka berusaha untuk
mengetahui bagaimana tumbuhan beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga tumbuhan
tersebut dapat tetap berada pada habitatnya. Peletak dasar ekologi tumbuhan adalah Friedrich

2
Heinrich Alexander von Humbolt (1769-1859) ahli botani. Ia banyak meneliti tentang botani,
dan memperkenalkan term assosiasi, fisiognomi, hubungan antara distribusi tipe vegetasi dengan
faktor-faktor lingkungan seperti elevasi, ketinggian, dan temperatur. Humbolt juga dikenal
sebagai tokoh geografi tumbuhan. Anton Kerner von Marilaun (1831-1898) dikenal setelah dia
menerbitkan hasil penelitiannya yang berjudul Plant Life of the Danube Basin (1863), dengan
tuntas ia menjelaskan pengertian dari suksesi. August Grisebach (1814-1879) telah melakukan
perjalanan yang luas dan telah mendeskripsikan lebih dari 50 tipe-tipe vegetasi utama dalam
term fisiognomi modern. Ia menjelaskan hubungan distribusi tumbuhan dengan faktor-faktor
lingkungan. Tokoh biologi lain yang mempunyai kontribusi dalam perkembangan ekologi
tumbuhan adalah Oscar Drude (1890 dan 1896), Adolf Engler (1903), George Marsh (1864), Asa
Gray (1889) dan Charles Darwin yang terkenal dengan bukunya Origin of Species.
Ekologi tumbuhan berkembang dengan cepat setelah beberapa ahli botani juga tertarik
meneliti ekologi tumbuhan. Johannes Warming (1841-1924) berhasil mengidentikasi 2600
spesimen tumbuhan dan menulis sebuah buku tentang vegetasi (1982), dimana di dalamnya
diuraikan tentang geologi, tanah dan iklim, tipe-tipe vegetasi dan komunitas, dominan dan
subdominan, nilai adaptasi bermacam-macam life form, pengaruh api terhadap komposisi
komunitas dari suksesi serta fenologi dari komunitas dan taxa. Andreas Franz Wilhelm Shimper
(1856-1901) ahli botani Jerman, ia menerbitkan buku yang berjudul Plant Geography on a
Physiological Basis (1898 dan 1903), sebagai pemula ekofisiologi. Selanjutnya Jozep Paczoski
(1864-1941) dan Leonid Ramensky (1884-1953) telah menulis hal-hal yang berkenaan dengan
fito-sosiologi dan fitocoenocis. Clinton Hart Merriam (1855-1942) dari Universitas Columbia,
juga telah melakukan ekspedisi yang panjang dalam melakukan penelitian vegetasi dalam
hubungannya dengan zona elepasi.
Ahli ekologiwan yang sangat terkenal Frederick Edward Clements (1874-1945) besar
sekali sumbangannya terhadap kemajuan Ekologi Tumbuhan. Pada tahun 1898 ia telah
menerbitkan sebuah karya yang berjudul The Phytogeography of Nebraska. Ia juga banyak
menulis keadaan vegetasi di Amerika Utara, tentang formasi dan suksesi, varian lokal dan lain-
lain. Sejak tahun 1925, ekologi tumbuhan terus berkembang dengan pesat, hal ini terjadi karena
sumbangan yang sangat besar dari para ekologiwan dari Eropa dan Amerika. Di antara
ekologiwan tersebut adalah Henry Gleason yang tahun 1926 dengan panjang lebar menulis
tentang asosiasi dan komunitas tumbuhan. Ekofisiologi telah dikembangkan sekitar tahun 1940

3
dan 1950 an. Dari tahun 1940 an sampai 1970 an telah pula mengembangkan sinekologi. Di
Eropa, Christen Raunkier telah mengembangkan klasifikasi life form dan metode sampling
vegetasi. Tokoh yang juga besar andilnya dalam pengembangan ekologi tumbuhan adalah Josias
Braunn-Blanquet (1884-1980) yang mengembangkan metode sampling komunitas, reduksi data,
dan nomenklatur asosiasi.

A. Pendekatan Ekologi Tumbuhan


Pada saat berbicara tentang ekologi hutan maka perbincangannya tidak akan lepas dari
autekologi dan sinekologi.
a) Autekologi, yaitu ekologi yang mempelajari suatu spesies organisme atau organisme
secara individu yang berinteraksi dengan lingkungannya. Contoh autekologi misalnya
mempelajari sejarah hidup suatu spesies organisme, perilaku, dan adaptasinya terhadap
lingkungan. Jadi, jika kita mempelajari hubungan antara pohon Pinus merkusii dengan
lingkungannya, maka itu termasuk autekologi. Contoh lain adalah mempelajari
kemampuan adaptasi pohon merbau (Intsia palembanica) di padang alang-alang, dan lain
sebagainya.

b) Sinekologi, yaitu ekologi yang mempelajari kelompok organisme yang tergabung dalam
satu kesatuan dan saling berinteraksi dalam daerah tertentu. Misalnya mempelajari
struktur dan komposisi spesies tumbuhan di hutan rawa, hutan gambut, atau di hutan
payau, mempelajari pola distribusi binatang liar di hutan alam, hutan wisata, suaka
margasatwa, atau di taman nasional, dan lain sebagainya.
Ekologi tumbuhan berusaha untuk menerangkan rahasia kehidupan pada tahapan
individu, populasi dan komunitas. Ketiga tingkat utama ini membentuk sistem ekologi yang
dikaji dalam ekologi tumbuhan. Masing-masing tingkatan adalah bersifat nyata, tidak bersifat
hipotetik seperti spesies, jadi dapat diukur dan diobservasi struktur dan operasionalnya. Individu
dan populasi tidak terpisah-pisah, mereka membentuk asosiasi dan terorganisasi dalam
pemanfaatan energi dan materi membentuk suatu masyarakat atau komunitas dan berintegrasi
dengan faktor lingkungan di sekitarnya membentuk ekosistem.

4
1. Sinekologi (Ekologi komunitas)
Sinekologi adalah tingkatan lebih besar dalam ekologi tanaman, perluasan populasi
berdasarkan perbanyakan dan persebaran. Sinekologi tidak melihat individu secara sendiri,
melainkan perilaku populasi baik secara spasial maupun temporal, terdiri dari pertumbuhan
populasi, homeostasis. Umumnya, vegetasi alami terdiri dari keanekaragaman spesies yang
memanfaatkan sumberdaya yang ada. Dalam sinekologi, spektrum yang luas dari respon di
tingkat selular dan seluruh tanaman tergantikan oleh keanekaragaman yang besar pada
spesies (350.000 spesies tanaman vaskular) yang menentukan komposisi proporsi yang
berbeda pada vegetasi permukaan bumi. Beberapa hal yang menjadi pokok bahasan dalam
sinekologi adalah:
Interaksi antara tanaman dan lingkungannya
Interaksi antara tanaman dengan hewan
Interaksi antar tanaman
Dari segi sinekologi, dapat dipelajari berbagai kelompok jenis tumbuhan sebagai suatu
komunitas, misalnya mempelajari pengaruh keadaan tempat tumbuh terhadap komposisi dan
struktur vegetasi, atau terhadap produksi hutan. Dalam ekosistem bisa juga dipelajari pengaruh
berbagai faktor ekologi terhadap kondisi populasi, baik populasi tumbuhan maupun populasi
binatang liar yang ada di dalamnya. Akan tetapi pada prinsipnya dalam ekologi tumbuhan, kajian
dari kedua segi (autekologi dan sinekologi) itu sangat penting.
Sinekologi berkembangan dari Geografi Tumbuhan, yang mengkaji pada tingkat
komunitas. Sinonim dari Sinekologi adalah Ekologi komunitas, Filososiologi, Geobotani, Ilmu
Vegetasi dan Ekologi Vegetasi. Sinekologi mengkaji komunitas tumbuhan dalam hal:
Sosiologi Tumbuhan, yaitu deskripsi dan pemetaan tipe vegetasi dan komunitas.
Komposisi dan struktur komunitas
Pengamatan dinamika komunitas, yang mencakup proses seperti transfer nutrien dan
energi antar anggota, hubungan antagonistis dan simbiotis antara anggota, dan proses,
dan suksesi (perubahan komunitas menurut waktu).
Mencoba untuk mendeduksi tema evolusioner yang menentukan bentuk komunitas secara
evolusioner.

5
2. Autekologi (Ekologi Spesies)
Autekologi memperhatikan kondisi dan tanggapan individu spesies tanaman dalam
habitat mereka. Selama evolusi, tumbuhan telah menempati setiap habitat terestrial dengan
kondisi mulai dari iklim tropis, es abadi, padang rumput, padang gurun dan tempat dengan
salinitas tinggi dimana kandungan nutrisinya yang sangat rendah. Kondisi lingkungan yang
berbeda ini mengharuskan tanaman untuk beradaptasi.
Subyek dari autekologi adalah hasil dari proses tersebut, yaitu untuk menemukan ciri
yang memungkinkan individu tanaman untuk berkembang di bawah kondisi tertentu. Tanggapan
yang mungkin terhadap lingkungan adalah reaksi biokimia sampai dengan perubahan morfologi.
Tanaman terdiri dari berbagai macam bentuk, dari tumbuhan raksasa yang berusia ratusan tahun
di hutan hujan tropis dengan siklus hidup yang dimulai dari perkecambahan untuk pembentukan
biji dalam hitungan abad, sampai pada spesies tahunan di daerah kering yang membentuk biji
hanya dalam waktu beberapa hari. Ciri yang dimilki oleh tanaman untuk menanggapi keadaan
lingkungan adalah pada struktur dan fisiologi.
Keseluruhan ekologi tanaman dapat dibagi dalam beberapa cara. Individu tanaman akan
mengatur berbagai komponen dan menjaga keseimbangan mereka, antara lain:
Keseimbangan suhu, suhu yang diperlukan tidak berlebihan
Keseimbangan air, kondisi aktif dimungkinkan jika sel dalam kondisi air yang cukup
Keseimbangan nutrisi, pertumbuhan akan terjadi hanya dengan adanya elemen esensial
dalam nutrisi
Keseimbangan karbon, diperlukan untuk mensuplai organ yang ada untuk pertumbuhan
dan reproduksi.
Dari segi autekologi, maka bisa dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap
hidup dan tumbuhnya suatu jenis pohon yang sifat kajiannya mendekati fisiologi tumbuhan,
dapat juga dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan tumbuhnya suatu
jenis binatang liar atau margasatwa. Bahkan dalam autekologi dapat dipelajari pola perilaku
suatu jenis binatang liar, sifat adaptasi suatu jenis binatang liar, maupun sifat adaptasi suatu jenis
pohon.Bagian dari ekologi tumbuhan yang mengkaji masalah adaptasi dan tingkah laku spesies
atau populasi dalam kaitannya dengan lingkungannya. Sub divisi dari autekolgi meliputi
demekologi (spesiasi), ekologi populasi dan demografi (pengaturan ukuran populasi), ekologi
fisiologi atau ekofisiologi, dan genekologi (genetika). Autekologi mencoba untuk menjelaskan

6
mengapa suatu spesies dapat terdistribusi. Bagaimana sifat fenologi, fisiologi, morfologi dan
tingkah laku atau genetik dari suatu spesies yang sukses terus pada suatu habitat. Mereka
mencoba menggambarkan bagaimana pengaruh lingkungan pada tingkat populasi, organismik
dan sub organismik. Autekologi dapat bergerak ke dalam spesialisasi lain di luar ekologi, seperti
fisiologi, genetika, evolusi dan biosistematik. Jadi autekologi adalah keseluruhan ekologi
tanaman, memperhatikan reaksi pada tingkatan organ individu (misalnya, tunas, ukuran daun,
kedalaman akar) atau hubungan antar organ (misalnya, penyebaran materi antara pucuk dan akar,
regulasi dari koordinasi akar dan pucuk). Ekologi individu tanaman menyajikan hubungan antara
stres fisiologi dengan kondisi lingkungan. Berdasarkan tingkat integrasinya maka secara ilmu,
kajian ekologi tumbuhan dapat dibagi dalam dua pendekatan, yaitu sinekologi dan autekologi.
Sinekologi, berdasarkan falsafah dasar bahwa tumbuhan secara keseluruhan merupakan
suatu kesatuan yang dinamis. Masyarakat tumbuhan dipengaruhi oleh dua hal, yaitu keluar
masuknya unsur-unsur tumbuhan dan turun naiknya berbagai variabel lingkungan hidup. Dalam
sinekologi komunitas tumbuhan atau vegetasi mempunyai perilaku sebagai suatu organisma
utuh. Vegetasi bisa lahir, tumbuh, matang dan akhirnya mati. Dua bidang kajian utama dalam
sinekologi adalah bidang kajian tentang klasifikasi komunitas tumbuhan dan bidang kajian
tentang analisis ekosistem.
Autekologi, falsafah yang mendasarinya adalah dengan memandang tumbuhan sebagai
ukuran yang menggambarkan kondisi lingkungan sekitarnya. Clements menyatakan bahwa setiap
tumbuhan adalah alat pengukur bagi keadaan lingkungan hidup tempat ia tumbuh. Dalam hal ini
paling sedikit yang dimaksud dengan alam lingkungannya adalah iklim dan tanah. Dari kajian ini
lahir bidang kajian yang menilai bahwa tumbuhan adalah sebagai indikator alam atau indikator
lingkungan hidup. Bidang kajian ini dikenal dengan ekologi fisiologi. Perbedaan dari kedua
bidang kajian ini adalah:
Sinekologi Autekologi
Bersifat filosifis Bersifat eksperimental
Deduktif Induktif
Deskriptif Kuantitatif
Sulit dengan pendekatan rancangan Dapat dilakukan berdasarkan rancangan
percobaan atau eksperimental design percobaan atau eksperimental design

7
B. Manfaat Terapan Dari Eekologi Tumbuhan
1. Ekologi Pertanian
Pada tahun 1230 sampai 1307 terbit buku yang berjudul OPUSRURALIUM
COMMODORUM oleh Pietro De Crecenzi, yang berisi tentang masalah-masalah lingkungan
pertanian. Terbitnya buku tersebut membuka sejarah baru di bidang pertanian, terutama yang
bersangkutan dengan masalah lingkungan tanaman, hingga menjelma menjadi ilmu lingkungan
tanaman yang lazim disebut dengan ekologi tanaman (Hardi, 2009).. Ekologi merupakan salah
satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. Berbicara ekologi pasti berbicara mengenai semua
makhluk hidup dan benda-benda mati yang ada di dalamnya termasuk tanah, air, udara dan lain -
lain. Dimana lingkungan yang ditempati berbagai jenis makhluk hidup tersebut saling
mempengaruhi dan dipengaruhi.Makhluk hidup dalam memenuhi kebutuhannya tidak terlepas
dari bantuan makhluk hidup lain, contohnya makhluk hidup membutuhkan pelepas dahaga yaitu
air, manusia membutuhkan energy yaitu makanan baik sumber makanannya dari tumbuhan-
tumbuhan maupun hewan, dan sebagainya.
Adanya interaksi dan hubungan antara manusia dengan lingkungannya disebut ekologi.
Ilmu lingkungan dapat juga dianggap sebagai titik pertemuan ilmu murni dan ilmu terapan.
Ilmu lingkungan sebenarnya ialah ekologi (ilmu murni yang mempelajari pengaruh faktor
lingkungan terhadap jasad hidup), yang menerapkan berbagai asas dan konsepnya kepada
masalah yang lebih luas, yang menyangkut pula hubungan manusia dengan lingkungannya.
Dalam ilmu lingkungan, seperti dalam halnya ekologi, jasad hidup pada dasarnya dipelajari
dalam unit populasi. Populasi dapat dikatakan sebagai kumpulan individu spesies organism
hidup yang sama. Menentukan populasi memang sukar, kalau anggotanya terpisah-pisah dalam
sebuah wilayah, dimana jarak menjadi sebagi penghalang antar individu, seperti halnya gajah
atau harimau di Asia, pohon cemara di Eropa, bahkan manusia di dunia.
2. Ekologi Hutan
Istilah Ekologi diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (1869), berasal dari bahasa Yunani,
yaitu : Oikos = Tempat Tinggal (rumah) Logos = Ilmu, telaah. Oleh karena itu Ekologi adalah
ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan
dengan lingkungnya. Odum (1993) menyatakan bahwa ekologi adalah suatu studi tentang
struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem
menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk

8
keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-
faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem tersebut. Fungsi ekosistem
menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam
sistem. Ini jelas membuktikan bahwa ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh
pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta
dengan semua komponen yang ada di sekitarnya.
Adapun ekologi hutan adalah cabang dari ekologi yang khusus mempelajari ekosistem
hutan. Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem karena hubungan antara masyarakat tumbuh-
tumbuhan pembentuk hutan dengan binatang liar dan alam lingkungannya sangat erat. Hutan
dipandang sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu dibentuk atau
disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak bisa berdiri sendiri, tidak
bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling memengaruhi dan saling bergantung. Berkaitan dengan hal
tersebut, perlu diperhatikan beberapa definisi tentang hutan sebagai berikut:
1. Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati
yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan
lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. 41 Tahun 1999).
2. Hutan adalah lapangan yang ditumbuhi pepohonan yang secara keseluruhan merupakan
persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem (Kadri dkk.,
1992).
3. Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-
pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan
(Soerianegara dan Indrawan, 1982).
Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang hidup dalam lapisan dan di
permukaan tanah dan terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem
yang berada dalam keseimbangan dinamis (Arief, 1994).

9
Menurut Dwidjoseputro (1994) Ekologi hutan adalah ilmu yang mempelajari hubungan
antara mahluk hidup dengan lingkungan. Hubungan ini sangat erat dan kompleks sehingga
menyatakan bahwa ekologi adalah biologi lingkungan (enviromental biology). Hutan adalah
masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan
yang berbeda dengan keadaan diluar hutan. Hubungan antara masyrakat, tumbuh-tumbuhan
hutan, margasatwa dan alam lingkungannya begitu erat sehingga hutan dapat dipandang sebagai
suatu sistem ekologi atau ekosistem. Ekologi hutan adalah cabang ekologi yang khusus
mempelajari masyarakat atau ekosisitem hutan. Hutan dapat dipelajari dari segi autekologi dan
sinekologi (Anonymous, 2010).
Dari segi autekologi, maka di hutan bisa dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan
terhadap hidup dan tumbuhnya suatu jenis pohon yang sifat kajiannya mendekati fisiologi
tumbuhan, dapat juga dipelajari pengaruh suatu faktor lingkungan terhadap hidup dan
tumbuhnya suatu jenis binatang liar atau margasatwa. Bahkan dalam autekologi dapat dipelajari
pola perilaku suatu jenis binatang liar, sifat adaptasi suatu jenis binatang liar, maupun sifat
adaptasi suatu jenis pohon. Dari segi sinekologi, dapat dipelajari berbagai kelompok jenis
tumbuhan sebagai suatu komunitas, misalnya mempelajari pengaruh keadaan tempat tumbuh
terhadap komposisi dan struktur vegetasi, atau terhadap produksi hutan. Dalam ekosistem hutan
itu bisa juga dipelajari pengaruh berbagai faktor ekologi terhadap kondisi populasi, baik populasi
tumbuhan maupun populasi binatang liar yang ada di dalamnya. Akan tetapi pada prinsipnya
dalam ekologi hutan, kajian dari kedua segi (autekologi dan sinekologi) itu sangat penting karena
pengetahuan tentang hutan secara keseluruhan mencakup pengetahuan semua komponen
pembentuk hutan, sehingga kajian ini diperlukan dalam pengelolaan sumber daya hutan.
Dahulu berlaku suatu ketentuan , bahwa hutan harus tetap merupakan 60% dari luas suatu
wilayah atau suatu negara. Jikalau orang mau membangun rumah dusuatu pekarangan,
pembangunan tidak boleh mengambil tempat lebih daripada 30% luas pekarangan. Dibeberapa
negara maju yang tidak megalami masalah ledakan penduduk, misalnya negara-negara
skandivania, ketentuan itu dipegang teguh. Pekarangan, halaman yang ada disekitar rumah
merupakan lingkungan untuk memberi kesegaran para penghuni rumah. Bagi suatu negara, hutan
diharapkan berfungsi seperti halnya suatu penyegar bagi kehidupan penduduknya. Selain itu
hutan merupakan sumber kekayaan alam yang pemanfaatannya dapat menunjang kesejahteraan
hidup masyarakat (dwidjoseputro, 1994). Meskipun hutan masuk sumber daya alam yang dapat

10
dipulihkan kembali lewat reboisasi atau penghijauan kembali, namun pelaksanaannya tidak
semudah seperti perencanaannya. Dalam hal ini campur tangan manusia mutlak diiperlukan
untuk mencegah berbubahnya hutan menjadi padang rumput atau lebih buruk lagi menjadi
gurun. Pada ekologi tumbuhan sebagaimana kita ketahui , bahwa tidak ada diseluruh daerah
tropik terdapat hutan basah. Di wilayah-wilayah yang curah hujannya kering sama sekali,
terdapat hutub ranggas. Hutan jati dalam musim kemarau kehilangan daunnya sama sekali,
karena ia beradaptasi dengan lingkungannya untuk mengurangi penguapan. Perhatian yang lebih
harus dilakukan untuk hutan Indonesia demi mewujudkan bumi yang lebih sehat.

11