Anda di halaman 1dari 142

I t^

qk)

1*,
't:
),

i l?t
\!
!
" "*t*rg*i,r,V,:t..i,
Qmr
.fi z-
7*,'
4-

MEKANIKA
TEKNIK 2
STATIKASKEGUNAANNYA

,-i !r

it
BALOK TERUSAN
KONSTBUKSI PORTAL STATIS TIOAK TERTENTU
PERUBAHAN BENTUK EIASTIS'
GARIS PENGARUH

PERBAIKAN
BUKU RUSAK
{trH. l9e7 11995

/'1\
JV)
YJV
PENERBIT KANISIUS lr. HEINZ FRICI(
Mekanika Teknik - Statika dan Kegunaannya 2
02801 8
O Kanisius 1979 Kata pengantar
Jilid kedua buku llmu mekanika teknik * statika dan kegunaannya ini mencakup se-
PENERBIT KANISIUS (Anggota IKAPI) buah Pengantar ke dalam Metode perhitungan sistim statis tidak tertentu dan sebuah
Jl. Cempaka 9, Deresan, Yogyakarta 55281 bab tentang garis pengaruh. Lampirannya dengan jumlah tabel-tabel yang cukup luas
Telepon (0274) 88783, Teleks 25243, Fax (0274) 63349 juga dapat mengisi kekosongan dalam bidang ini di pasaran buku statika. Di samping
Kotak Pos 1125Nk, Yogyakarta 55011 itu tabel-tabel itu akan berguna sekali dalam praktek. Buku ini ditutup dengan daftar
kependekan, daftar istilah penting dan pustaka.
Cetakan perlama 1979 Atas dasar kenyataan, bahwa di lndonesia nilai ukuran-ukuran seperti kg, kgi cm2. t,
Cetakan kedua 1981 tm dsb. masih berlaku, maka tidak digunakan nilai ukuran-ukuran yang baru seperti N
(Newton), KN (Kilonewton) dan MN (Meganewton). Untuk kebutuhan konversi dapat
Cetakan ketiga 1982
Cetakan digunakan petunjuk berikut:
Cetakan Gaya-gaya : dasarnyaialahkN (kilonewton) : 1'000 N :0.001 MN I

Cetakan 1e88 MILIK Beban : kN/m dan kN/m2


Cetakan ISHO
PERPUSTAKAA..I DAERAH Momen : kNm
Tegangan : N/mm2
Cetakan 1991 J {W q, Til\{U;{
Cetakan Dasar-dadbr Newton dihasilkan dari Fisika, yang menentukan kecepatan jatuh g :
9.80665 rirls2. Diatifrkan dalam bidang pembangunan, yang men{hitung dengan
faktor keamanan yang besar. maka 9: 10.0 m/s2 boleh dikatakan cukup teliti.
Untuk konversi dapat dikatakan, bahwa:
1kg:1kP=t0N
atau 1t : 1Mp : 10kN : 0.01 MN dsb.
Ucapan banyak terima kasih saya sampaikan pertama-tama kepdda VEB-Verlag f0r
Bauwesen di Berlin, Jerman Timur, yang telah menyerahkan dengan cuma-cuma
copyright bab 8. (Perubahan bentuk elastis) dan 9.'(Garis pengaruhl, serta B.G.
Teubner Verlag di Stuttgart, Jerman Barat. Kemudian pengajar statika saya, lr. Adam
Magyar'di Z0rich, Swis, yang telah memperkenalkan kepada saya rahasia-rahasia
statika pada tahun 1962-65, Wakil Pimpinan Pendidikan lndustri Kayu Atas (PIKA)
Semarang, Sdr. l. Susmadi, sebagai korektor bahasa lndonesia dan lr. Mlodzik dari
Biro lnsinyur Fietz + Leuthold AG di ZUrich, Swis, yang telah rnenyediakan diri
meneliti semua rumus dan menghitung kembali contoh-contoh.
Perlu ditambahkan di sini, bahwa baik dalam pemelihan bahan maupun dalam su-
sunan kepustakaan diusahakan selengkap mungkin. Semoga buku ini akan berman-
faat sekali bagi para mahasiswa dan para arsitek dalam praktek dan mendapatkan
sambutan seperti yang saya harapkan dan yang memberikan kekuatan kepada saya
untuk menyelesaikan tugas ini. Kebahagiaan akan memenuhi hati saya menerima im-
ISBN 979-413-345-0 balan jasa itu.

Hak Cipta dilindungi Undang-undang.


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun,
termasuk fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit.

Dicetak oleh Percetakan Kanisius Yogyakarta


Kami menantikan saran dan usul ke arah perbaikan, yang pasti akan timbul setelah
penggunaan buku ini, dengan tangan terbuka dan senang hati. Terbitan pertama ini
dimungkinkan oleh subsidi yang kami terima dari Liechtenstein Development, Vaduz,
Principality of Liechtenstein.
lsi buku: Jilid l, halaman:

Semarang, Maret 1978 1. Pengetahuan dasar tentang statika 13

lr. Heinz Frick 1. 1 Pengetahuan dasar 13


1. 1. 1 Pembangunan pada konstruksi batang dan rangka
batang 't4
1. 1. 2 Beban pada konstruksi batang dan rangka batang 16
1. 1.3 Tumpuan pada konstruksi batang dan rangka
batang 17
1. 1. 4 Sifat-sifat bahan bangunan 19
1. 2 Gaya 20
1. 3 Mengumpulkan dan membagi gaya dalam satu bidang 21
1. 3. 1 Ukuran dan jurusan pada gaya 21
1. 3. 2 Gaya-gaya dengan titik tangkap bersama 23
1. 3. 3 Poligon batang tarik 26
"l. 3. 4 Pembagian satu gaya R pada tiga garis kerja 32
1. 4 Momen 35
1: 4. 1 Momen satu gaya 35
1. 4. 2 Momenkumpulangaya 35
1. 4. 3 Gayaganda 37
1. 4. 4 Pindahan sejajar dari satu gaya 38
1. 5 Syarat-syarat keseimbangan 38
1. 6 Penggunaan syarat-syarat keseimbangan pada perhitungan
konstruksi batang dan rangka batang 40
1. 6. 1 Perhitungan reaksi pada tumpuan N
1. 6. 2 Gaya dalam B
1. 6. 3 Pdrjanjian tanda 44

2. llmu inersia dan ketahanan 46

2. :l Besaran-besaran lintang M
2. 1. 1 Titik berat pada bidang t'.' 46
2. 1. 2 Momen lembam dan momen sentrifugal pada
bidang 49
2. 1. 3 Momen lemban pada sistim koordinat berpindah 50
2. 1. 4 Momen lembam pada sistim koordinat terputar 52
2. '1. 5 Lingkaran Mohr 55

tv
2. 2 Tegangan normal 57 3. 2. 5 Balok tunggal dengan beban segitiga 113
2. 2. 1 Ketentuan keseimbangan 57 3. 2. 6 Balok tunggal dengan macam-macam beban dan
2. 2. 2 Ketentuan perubahan bentuk 59 gaya 115
2. 2. 3 Hubungan antara masing-masing tegangan 60 3. 2. 7 Contoh-contoh 117
2. 2. 4 Garis sumbu nol 61 3. 3 Konsole 120
2. 2. 5 Gaya tekarr dan gaya tarik 63 3. 3. .1 Konsole
dengan satu gaya pada ujung yang bebas 120
2. 2. 6 Momen lentur 63 3. 3. 2 Konsole dengan beberapa gaya 121
2. 2. 7 Momen tahanan 64 3. 3. 3 Konsole dengan beban merata 121
2. 2. 8 Besaran inti 65 3. 3. 4 Konsole dengan gaya horisontal 121
2, 3 Tegangan geser 69 3. 3. 5 Konsole dengan macam-macam beban dan gaya 122
2. 3. 1 Tegangan geser oleh gaya lintang 69 3. 4 Balok tunggal dengan konsole 123
2. 3. 2 Tegangan geser oleh gaya torsi 72 3. 4. 1 Balok tunggal dengan satu konsole 123
2. 4 Fegangan-tegangan 73 3. 4. 2 Balok tunggal dengan dua konsole 127

2. 4. 1 Tegangan linear 73 3. 4. 3 Contoh-contoh 129


2. 4. 2 Tegangan dalam bidang 76 3. 5 Balok tunggal bersudut 134
2. 5. Penggunaan dan keamanan 79 3. 5. 1 Pengetahuan dasar 134
2. 5. 1 Keamanan 79 3. 5. 2 Balok tunggal bersudut siku 134
2. 5. 2 Beban yang berulang-ulang 79 3. 5. 3 Balok tunggal bersudut miring 143
2. 5. 3 Teori-teorititik patah B1 3. 5. 4 Balok tunggal dengan lengkungan miring 152
2. 6 Tekukan 81 3. 6 Balok rusuk Gerber 153
2. 6. 1 Macam-macam tekukan 81 3. 6. 1 Pengetahuan dasar dan kemungkinan-kemungkinan
2. 6. 2 Contoh-contoh 86 pemasangan engsel pada Balok rusuk Gerber 153
2. 6. 3 Tekukan pada topang ganda 87 3. 6. 2 Contoh-contoh 158
2.7 fekukanex-sentris 91 3. 7 Konstruksi portal tiga ruas dan konstruksi busur tiga ruas 160
2. 7. 1 Tiang terbengkok 91 3. 7. 1 Pengetahuan dasar 160
2. 7. 2 Tiang yang tertekan ex-sentris 93 3. 7. 2 Konstruksi portal tiga ruas 161
2. 7. 3 Tiang dengan beban lintang 95 3. 7. 3 Konstruksibusurtiga ruas 168
2. 8 Perhitungan lendutan dan garis elastis 96
4. Konstruksi rangka batang (vakwerk) V 176
2. 8. 1 Pengetahuan dasar 96
4. 1 Pengetahuan dasar 176
2. 8. 2 Syarat Mohr 96
2. 8. 3 Penentuan lendutan menurut Mohr secara grafis 97
4. 2 Pembangunan konstruksi rangka batang 178

2. 8. 4 Contoh-contoh 98
4. 2. 1 Ketentuan statis 178
4. 2. 2 Kestabilan konstruksirangka batang 180

3. Kontruksi batang 101


4. 2. 3 Pembangunan dan bentuk konstruksi rangka batang 181
4. 3 Penentuan gaya-gaya batang 183
3. 1 Pengetahuan dasar 101 Cremona
4. 3. 1 Perhitungan gaya batang menurut 183
3. 2 Balok tunggal 103 Cullmann
4. 3. 2 Perhitungan gaya batang menurut 185
3. 2. 1 Balok tunggal dengan satu gaya 103 4. 3. 3 PerhitungangayabatangmenurutA. Ritter 186
3. 2. 2 Balok tunggal dengan beberapa gaya 105 4. 4 Tambahan pengetahuan tentang konstruksi rangka batang
3. 2. 3 Balok tunggal dengan beban merata 108 belah ketupat dan konstruksi rangka batang berbentuk K 188
3. 2. 4 Balok tunggal dengan beban merata terbatas 110 4. 5 Contoh-contoh 190

vil
5. Perhitungan alat-aiat sambungan 203 6. 5. 6 Balok terusan dengan ujung padaengsel 290
5. 1 Alat-alat sambungan baja 203
6. 5. 7 Persiapan cara distribusimomen 292
5. 1. 1 Sambungan keling dan baut pada konstruksi baja 6. 5. 8 Cara distribusi momen menurut Cross 292
203
5. 1. 2 Sambungan las
6. 5. I Contoh-contoh 293
207
5. 1. 3 Contohsambungan-sambunganbaja 212
5. 2 Alat-alat sambungan kayu 226 7. Konstruksi portal statis tidak tertentu 304
5. 2. 1 Gigitunggal 226
5.2.2 Paku 227 7. 1 Konstruksi portaldengan titik simpulyang kaku 304
5. 2. 3 Baut dan baut pasak khusus 230 7. 1.'l Pengetahuandasar 304
5. 2. 4 Pasak cincin, bulldog connector dan plat paku 235 7. 1. 2 Cara distribusi momen menurut Cross 304
5. 2. 5 Konstruksi berlapis majemuk dengan perekat 239 7. 1. 3 Contoh-contoh 305
5. 2. 6 Contoh sambungan-sambungan kayu 241 7. 2 Kontruksi portal dengan titik simpulyang goyah 322
7. 2. 1 Penurunan tumpuan pada balok terjepit 322
7. 2. 2 Pengaruh atas titik simpul yang goyah 324
Jilid ll, Halaman: 7. 2.3 Contoh-contoh 326
7. 2. 4 Konstruksi portal bertingkat dengan titik simpul
6. Balok terusan 253
yang goyah 82
6. 1 Balok terjepit 253
6. 1. 1 Pengetahuan dasar 253 8. Perubahan bentuk elastis u2
6. 1. 2 Gaya-gaya pada balok terjepit 2il 8. 1 Pengetahuan dasar 342
6. 1. 3 Lendutan 262 8. 2 Teoriter,tang kerja virtual 343
6. 1. 4 Balokterjepitsebelah 2U 8. 2. 'l Kerja virtual 343
6. 2 Balok terjepit elastis 265 8. 2. 2 Persamaan kerja pada konstruksibatang 345
6. 2. 1 Pengetahuan dasar 265
8. 2. 3 Persamaan kerja pada konstruksirangka batang 350
6. 2. 2 Sistim titik potong 266
8. 2. 4 Hasil pOng-integral-an pada kerja virtual 351
6. 2. 3 Jarak penting pada titik potong 270
8. 3 Syarat-syarat brikatan pada perubahan bentuk elastis 354
6. 2. 4 Macam-macamjepitan 271
8. 3. 1 Syarat Betti 3il
6. 3 Sistim titik potong pada balok terusan 274
8. 3. 2 Syarat Maxwell 355
6. 3. 1 Pengetahuan dasar 274
8. 3. 3 Syarat Castigliano 356
6. 3. 2 Menentukan titik potong 275
8. 3. 4 Syarat Mohr 357
6. 3. 3 Gaya-gaya pada balok terusan
6. 4 Persamaan tiga momen (Clapeyron)
277
8. 3. 5 Ringkasan 358
282 8. 4 Contoh-contoh 359
6. 5 Sistim Cross pada balok terusan 286 8. 4. 1 Pergeseran dan'perputaran pada konstruksi batang 359
6. 5. 1 Pengetahuan dasar 286
8. 4. 2 Pergeseran pada konstruksi rangka batang 369
6. 5. 2 Perjanjian tanda pada sistim Cros 287
8. 5 Garis elastis pada konstruksi batang 372
6. 5. 3 Momenjepitan 287
8" 5. 1 Pengetahuan dasar 372
6. 5. 4 Momen pada titik simpul 28 8. 5. 2 Penentuan bobot-beban W 372
6. 5. 5 Momen jepitan dan momen distribusi yang disalur- 8. 5. 3 Penentuan garis elastis dengan bobot beban W pada
kan 289 konstruksi batang 374
vil
ix
8. 6 Garis elastis pada konstruksi rangka batang 379 9. 5. 4 Ringkasan 437
8. 6. 1 Pengetahuan dasar 379 9. 5. 5 Contoh-contoh rB8
8. 6. 2 Penentuan garis elastis dengan bobot beban W pada 9. 6 Garis pengaruh pada balok terusan 49
konstruksi rangka batang 379 Pengetahuan dasar 9.6.1 49
8.6.3 Ringkasan 384 9. 6. 2 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang statis ber-
8.6.4 Contoh 384 lebih 450
9. 6. 3 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, momen lentur
9. Garis pengaruh dan gaya lintang 452
389
9. 6. 4 Penentuan garis.garis pengaruh secara grafis 452
9. 1 Pengetahuan dasar dan penggunaan garis pengaruh 389
9. 1. 1 Pengetahuan dasar 389
9. 1. 2 Penentuan garis pengaruh 390
Lampiran 459
9. 1. 3 Penggunaangarispengaruh 391
9. 1. 4 Ringkasan 393 l. 1 Rumus-rumus yang penting 459
9. 2 Garis pengaruh pada balok tunggal 393 l. 1. 1 Rumus-rumusyang penting pada bab: Pengetahuan I

9. 2. 1 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan 393 dasar 459


9. 2. 2 Garis pengaruh pada gaya lintang 394 l. 1. 2 Rumus-rumus yang penting pada bab: llmu inersia
9. 2. 3 Garis pengaruh pada momen lentur 395 dan ketahanan 459
9. 2. 4 Beban yang tidak langsung 396 l. 1. 3 Rumus-rumus yang penting pada bab: Konstruksi
9. 2. 5 Garis pqngaruh pada lendutan 398 batang 461
9. 2. 6 Ringkasan 399 l. 1. 4 Rumus-rumus yang penting pada bab: Konstruksi
9. 2. 7 Contoh-contoh 399 rangka batang 462
9. 3 Garis pengaruh pada konsole, pada balok tunggal dengan l. 1. 5 ,lumus-rumus yang penting pada bab: Perhitungan
konsole dan pada balok rusuk Gerber 406 alat-alat sambungan 462
9. 3. 1 Garis-pengaruh pada konsole 2106 l. 1. 6 Rumus-rumus yang penting pada bab: Balok
9. 3. 2 Garis pengaruh pada balok tunggaldengan konsole 407 terusan 462
9. 3. 3 Garis pengaruh pada balok rusuk Gerber 409 l. 1. 7 Rumus-rumus yang penting pada bab: Konstruksi
9. 3. 4 Ringkasan 410 portal statis tidak tertentu 4U
9. 3. 5 Contoh-contoh 411 l. 1. 8 Rumus-rumus yang penting pada bab: Perubahan
9. 4 Garis pengaruh pada busur tiga ruas 415 bentuk elastis 464
9. 4: 1 Perhitungan dengan beban yang tetap 415 l. 1. I Rumus-rumus yang penting pada bab: Garis peng-
9. 4. 2 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan 411 aru h 465
9. 4. 3 Garis pengaruh pada momen lentur 418 l. 2 Tabel-tabel 467
9. 4. 4 Garis pengaruh pada gaya normal dan gaya lintang 419 l. 2. 1 Penentuan titik berat pada bidang yang datar 467
9. 4. 5 Ringkasan 421 l. 2. 2 Penentuan momen lembam dan momen tahanan 470
9. 4. 6 Contoh, 421 l. 2. 3 Nilai-nilaibahan baja profil 472
9. 5 Garis pengaruh pada konstruksi rangka batang 424 l. 2. 4 Nilai-nilaibalok kayu segiempat 484
9. 5. 1 Pengetahuan dasar 424 l. 2. 5 Tegangan tekuk yang diperkenankan untuk baja
9. 5. 2 Konstruksi rangka batang dengan tepi sejajar 425 ST 37 87
9. 5. 3 Konstruksi rangka batang dengan batang tepi tidak l. 2. 6 Faktor tekuk yang diperkenankan untuk kayu kelas
sejajar 429 I s/d lV /l88

xi
l. 2. 7 Penentuan tegangan o maksimal dan lendutan f
maksimal pada konstruksi batang rtg3
l. 2. I Penentuan momen dan reaksi tumpuan pada balok
6. Balok terusan
rusuk Gerber 494
l. 2. I Nilai-nilai alat sambungan besi seperti keling, baut

l. 2.10
dan las
Nilai-nilai alat sambungan kayu seperti paku, baut,
496
6. 1. Balok teriepit
baut pasak khusus, pasak cincin, bulldog connector
dan pelat paku 499 6. 1.1. Pengetahuan dasar
l. 2.11 Penentuan momen jepitan pada balok terjepit dan Jepitan pada suatu balok terjadi kalau sudut putar tumpuan o dan B lebih
pada balok terjepit sebelah 505 kecil daripada balok tunggal garis elastis mengubah lengkungan makin keras pen-
t. 2.12 Penentuan bagian beban pada syarat persamaan jepitan makin lebih dekat pada pertengahan balok terjepit.
tiga momen menurut Clapeyron 509 Jepitan maximal terjadi kalau sudut o dan l) : 6.
t. 2.13 Penentuan momen dan reaksi tumpuan pada balok Oleh karena balok terjepit merupakan tiga kali statis tidak tertentu, maka kita tidak
terusan 512 dapat berhasil menggunakan syarat-syarat perseimbangan.
Yang sebetulnya harus kita cari ialah:
l. 2.'14 Hasil peng-integral-an pada kerja virtual 516
t. 3 Daftar kependekan 518 M,; Mrdan H
t. 4 Daftar istilah penting 520
t. 5 Pustaka

Gambar6. 1. 1. a.

Pada umumnya gaya H boleh dihapuskan, jikalau digunakan sistim tumpuan jepitan
seperti berikut, tinggallah perhitungan M, dan Mr.

Gambar6. 1. 1. b.

xI 253
6.1.2. Gaya-gaya pada balok terjepit
Kita memilih suatu sistim dasar yang serupa dengan sistim yang kita
punyai, kita terapkan untuk balok terjepit dengan panjang (lebar bentang) / kita
memilih satu balok tunggal dengan lebar bentang /.
t, b-asl'[]r-$-Adoz
tYtt-w Mz:
(0
- llol ' at - la - ool' At (6.2.)
or' Dz - 0t' az
Pada sistim dasar ini kita pasang semua gaya dan beban yang ada dengan tam-
bahan momen M, dan Mr.
Dengan menentukan sudut putar tumpuan (pada contoh ini a = D : 0l kita bisa
menentukan syarat-syarat elastis dan selanjutnya dengan superposisi perhitungan Pada contoh di atas dengan sudut putar tumpuan o : [] : o momen jepitan M ,; M,
statika dengan menggunakan persamaan elastis. menjadi:

Mr
rvr: at'P2-
b-3-t-:-a-F^ ' y1. !t-!tl-o-:t
: or'
/ ^
Pl'02 ' 0z - At' az
(6.3. )

Cara.perhitungan sudut putar tumpuan:


Cara paling mudah untuk mencari sudut putar tumpuan ialah dengan membebani
Perubahan bentuk sistim dasar dengan diagram (bidang) momen yang direduksikan dengan faktor
pada sistim dasar: t/E. t.

oleh gaya dan beban a., dan B,


aJ 0o sudut putar
tumpuan
( Sistim dasar

olehM,:1 A
dti A1 sudut putar
tumpuan
Diagram momen
\----..-

\ pt,-1
t' Bidang momen yang
dibebani
oleh M, : 1

a2; ll2putar tumpuan


Gambar 6. 1. 2. b.
Gambar 6. 'l. 2. a.

'l
Dengan superposisi bagian-bagian dari sudut putar tumpuan kita mendapat persa- I
maan elastis seperti berikut:
at: 3Er
[' (6:4. )
e : eo * M.,.a, -f Mr.a,
A=0"+M.,.A1 +M2.A2
(6.1) 0r:#
254 255
I
Untuk mencari M,dan Mryang sebenarnya kita hanya harus mencari ao dan Bo.
ardan l),
Mencari ao dan fi6.
Sebagai dasar dapat dikatakan, bahwa oo dan Bo bisa didapat dengan membebani
sistim dasar dengan M,diagram (bidang) momen yang direduksikan dengan faktor
I / E.tl.

Contoh beban merata:


i
Diagram momen |,
Sistim dasar

E
tsidang momen yang Diagram momen
I
dibebani
t.l I

Gambar 6. 1 . 2. c.
I I
lJz =
3Et
(6.5.) Bidang momen yang
I I dibebani
a2 =
6Et
Gambar6. 1.2. d.

l'l oo = Ao = Ra = Rrdari bidang momen yang dibebani


A1 = []t il
Hasil tentang ai 0i az; 02 (6.6.)
0, = az
Ra=Re:+ i t#t do= ao=f, (6.9.)

Dengan hasil ini kita bisa mengisi persamaan elastis. Maka:


Sekarang momen jepitan M, dan M, dapat dihitung:
u, = ltzo - fit - eos - Bryf .4t
$.7.1 M,=-P#,-#;lT',
rv, = ltzB - - at tztt, - "d) .Tt
Dan pada contoh dengan o : [] : o - M,; Mrmenjadi: ,'l
Mr= -t2os-fist
+ (6.8.)
Mr=Mz Mt= Mz= -qi'z (6.10. )

karena sistim symetris


Mz= -(2Bs-asl'+
I 257
:-"-:':- -r:i-rl
256 ,t
',J iifl.Anl i
irr
'$i.r, I
l

Ir
Contoh gaya Pusa t: P
Sistim dasar P.a
ao: [Jo: E.l ', P.a a - P.a
0o:fi0: (6.13.
+
E.t z Z.f t(a+c) )

,r4
4, 4z dan untuk M, = Mz
Dlagram momen

=4./ v m,=-lz
lfi u+c) - lfi o*a)
2Et
I

ffi
P' l
P'a (a
Bidang momen yang Mt: Mz - + c) (6.14. )

dibebani
Gambar 6. 1. 2. e.
Contoh dengan beberapa gaya: I

l- P. l1 P.12 (6.11.)
- -a-P'l
qo-Po- oo= fio: 16El
4El 4 16El
Sistim dasar
dan untuk Mt = Mz

P. l' | 2El
M,= -1, +# - 16Et '' t
Mt= Mz= -+ (6.12. )
Diagrap momen

Contoh dua gaYa Yang simetris:


Bidang momen yang
dibebani

Gambar6. 1.2. g.
Sistim dasar

Mencari bidang M menurut bab. 3. 2.2. Mekanika teknik - Statika dan keguna-
Diagram momen annya jilid l"
Selanjutnya dibebani sistim dasar dengan bidang M"yang dibagi dengan f . /.
Selanjutnya menentukan reaksi tumpuan ao dan Bo.

Menentukan diagram momen dan diagram gaya lintang


Bidang momen Yang
dibebani Untuk memungkinkan gambaran diagram momen kita menggarBbar diagram
momen Mr, diagram momen jepitasn M, dan M, dan selanjutnya semua disuper-
Gamb'ar 6. 1. 2. f .
posisi. Hasil sekarang menjadi momen dari balok terjepit.

288 259
Harus memperhatikan tanda (+,-) dari M, dan Mr. Biasanya gaya lintang yang
lebih besar harus berada pada tumpuan dengan momen jepitan yang lebih besar.
Sistim dasar Dengan rumus tentang gaya lintang bisa juga ditentukan reaksi tumpuan seperti
berikut:
I x
I n'll
Diagram momen Rt: Rao Re: Ran + (6.17.
tM' )
I oleh Mo
I

\ l+
I
Contoh-contoh:
uX' Balok terjepit dengan beban merata
Diagram momen oleh
H, ll
lr( , Mt
Diagram momen:

--/1
l'1,
'l
.I

t,,
Diagram momen oleh
M2
L!,
I A q.l?
1T
lt
A
dtiiltY B q.
2l
Gambar 6. 'l .
Momen, gaya lintang, tumpuan: 2. k
Diagram momen
tlt N rt t/2 yang disuperposisi
MF-r, =
q- 12
24
(6.18.)
Gambar6. l.2. h. A : Qokarena M,
tllHl 1 - Mt = A
--t z Mol
Momen pada titik x adalah: Ra: Ra: RAo: R1n

Balok terjepit dengan gaya pusat

M=Mo+Mr. i*', I (6.15. )


Diagram.momen:

p.l
(perhatikan tanda ( +,
-) pada momen M, dan Mrl T
Untuk menggambar di-
agranr gaya lintang kita P. I
tambah On dari sistim
dasar dengan M, - M,
T
t
Momen, gaya lintang, tumpuan: Gambar6. 1.2. I
Gambar 6. 1. 2. i.

MFmar: !* (6.19)
A= Mr- Mt:0
Rumus untuk menentukan O a:ao+ryiM' (6.16. )
:+ .Mol
Aokarena

Rt: Re = RAo: Rao

260 261
d 1.3. Lendutan Contoh gaya pusat:

Perhitungan lendutan pada balok teriepit didapat dengan superposisi dari


lendutan-lendutan pada sistim dasar:
Re= Ro:+*
Gaya-gaya dan beban pada sistim dasar
memperlakukan lerrdutan sebesar . . fo fo = Ra,* * #,
Jepitan atau momen jepitan pada sistim
dasar memperlakukan lendutan sebesar ., f , 5 q'lo
'": 3f4'E.r
Lendutan pada balok terjepit adalah
superposisi lfo- f^l ,
a
*.-,e(6.20.)
q-P l' _ q'lo
-
t:-
'm 12'E'l 8 96.8/
Contoh beban merata: P.I
8ft
Re=Ra=+# Gambar6. 1.3. b.

ilo
ro: Ratt - 1l' - 4p'P p'P
'?= 4aEt ilEl
, _ P'P
'- 192Et
16.?21

t 5 q'ln
'o-- 384: E.l
g.12 q. 6. 1.4. Balok terjepit sebelah
. l2 lo
- 12. E-l I %.El Seperti pada balok terjepit, kita pilih juga satu sistim dasar, yaitu balok
tunggal.

d
t2tt
Gambar6. 1.3. a'
Gambar6. 1.4. a.
- 5q.lo 4g'lo Q' lo
r= 'naE - 3tqr| = ', - 38/.-Et
(6.21. )
Pada sistim dasar ini kita pasang semua gaya dan beban yang ada dengan tam-
bahan M,.
Kita menentukan selanjutnya, bahwa sudut putar tumpuan o = 0.
Syarat-syaratelastis: q= eo+ M,.a,, = 0 :

Mr=-00 (kalau a = 0) (6.23.)


A1

q-:o
Mr = (kalau a ) 0) $.24.1
A7

262 263
Contoh beban merata: 6.2. Balok terjepit elastis
q.
Mo*r. -. 8
12
6.2. t. Pengetahuan dasar
q. It
Mri ao= 24.E1

I
or=__TEl_

o.13 3El
Mr=-zlr--t - t
Gambar 6. 2. 1 . a.

(6.25)
E,="#l Suatu ujung balok pada umumnya terjepit elastis jikahu sudut putar tergantung
pada besarnya momen jepitan.
o:= -rr'Mradalah jephan elastis pada tumpuan sebelah kiri. e, adalah ukuran
r:3 jepitan pada tumpuan sebelah kiri dan sudut pada tumpuan yaryg terpotong dari
balok terjepit pada momen M r =
- 1.
llt
I r---;-l
* (6.26.
ll = - e7' M2adalahjepitan elastis pada tumpuan sebelah kanan.
e 2 adalah ukuran jepitan pada tumpuan sebelah kanan.

a = - l,' Mr dan B = - ez' Mz adalah syarat-syarat elastis pada baloil< terjepit


nAo l'*'= |
)

elastis. Atas rfasar ini kita juga bisa menggunakan sebagian dari persamaan elastis
yang sudah ditentukan pada bab 6. 1. Balok terjepit.
Hanya pada tumpuan dengan
catatan: persamaan elastis hanya boleh digunakan untuk konstruksi balok di atas
Gambar6. 1,4. b. momen M -- 0. tiang yang kaku dan bukan di atas tiang yang goyah atau tumpuan yang bisa
mengalami penurunan.
Persamaan elastis yang baru adalah:

Reaksi pada tumpuan: a : ao * M1' a1 * M2' a2=


- et' Mr
Gaya lintang:
0 = Ao + Mt' At + Mz' flz= - Ez. Mz
M,_M, = Reol-
A = ao+ --T-' Ra
# atau:
* * *
A=Ao+
M
I
,^= + +
g.l
8
as M1(a,
0o+Mr'0r+Mrlfi2+ql=0
e1) M2' o2 = Q

Atas dasar persamaan elastis ini kita bisa mencari momen jepitan M, dan M,

A:Oo+\l l6.Tt.l ,^=Y menurut rumus berikut:

(6.28.)
Mt= fio'az- o61fi, + e
rr:3# (a1 * e1) (82+ e2l - o2 (6. 29.)

2U 265
Mr. llt + Mrlp, + er) = O
ao' Dt - Be (a1 + e1)
Mz= (a1 * e1) lB, + erl az' ( 6.29. )
alau,
M'=- Dt
- Dt
Mt fiz* ez

menurut Gambar 6.2.2.b.:

M2 b
6.2.2. Sistim titik potong Mr -_ l-b
Kita memilih satu balok terjepit sebelah tanpa gaya dan tanpa beban,
hanya dengan momen sebelah tumpuan sendi. Atas dasar ini balok akan atau: A' - b
lJt* tz l-b
melengkung dan kita bisa menggambar diagram momen.
Gambar 6.2.2.b.
\ n, ,, Dengan persamaan elastis atas
\ dasar ao : o kita boleh ber-
' katat
b: Dt'l
dan selanlutnya: B1+p2+e2 (6.31.l

M{a1 *ql+Mr'qz=0
Dengan perhitungan ini kita mempelajari bahwa: Jarak titik potong a.dan b tidak
atau:
#: -;i, bergantung pada besarnya momen M,dan Mr.
Dengan menggunakan pengetahuan ini kita bisa mencari M,dan Mrseperti berikut:

ar + et= o, I-Z-
az -a
?
ar+Er =l-l-a
Gambar6.2.2. a.
o, : b- lt2+Ez:
t_b
llt t
Oleh karena diagram momen adalah satu garis lurus, kita bisa menghitung tempat Az*ez l-b
titik potong J. Boleh dikatakan jarak a untuk titik potong J adalah suatu per-
Menurut rumus (6.29. ) kita boleh menghitung M1 dan M2*bagai;
bandingan dengan momen M,dan Mr'.

M2 l-a Mt= Ao'a'b-ao'a(l-b)


a2'd'l
a:a2
atau:
l-a qr+ Er i6,32.)

Mz=
a 'a'B-lJo(l*a)b
a.' I o2' d' I
dan selanjutnya: (6.30 )
ot+ a2+ e1

Kalau kita menarik garis siku-siku dengan balok pada titik potong J dan titik potong
K (garis titik potong). garis titik potong itu menentukan momen titik potong sebesar
Pada bagian kanan kita bisa menggunakan perhitungan yang sama dengan hasil M,dan M*. Keuntungan pada M,dan Mradalah bahwa mereka dapat dihitung lebih
seperti berikut: mudah daripada M, dan Mz dan pada bagian besar M, dan Mrbisa juga ditentukan
(K menjadi titik potong sebelah kanan dengan jarak bl secara grafis:

266 267
Jarak titik potong untuk / tetap menurut rumus (6' 30.) dan (6. 31. ):

I
,,1 '= t.
az'I
I
aet
"f
d1 + aZ+ t1 I I (6.35.)
r'
,*ry
t1
I -+
3Et 6fl+ b=
I

Mi=Mr'+.urI
---] o"**,u .2.2.c.
M*= Mt
1* *, Lf Momen pada titik potong untuk / tetap menurut rumus (6. 33. )

Atau dengan bantuan rumus (6. 32. ) hasilnya M ,dan M


rseperti berkut: Mi: y!#ry
6' a' E' l' an (6.36.)
M, = -a---!o
Mt=-'r'oo
I az
M*=-+ x (6.33.) 'loz =
ta

Mx:-y!+ru
Hasil ini berdasarkan pada konstruksi sederhana yang dinamakan garis bersilang
dan potongan garis bersilang:
Contoh beban merata:

^tK'=M, b at
IK-Mx
I
M,.t a ao.l
atau: K't- ''' -
a I a2a
Mt
t--

q'a'l
dan selanjutnya: K':-'o
a2l0tI x=--o (6.34.)

Gambar 6. 2. 2. d. c'b'l
Dengan pengetahuan tentang titik potong dan garis bersilang dan pada balok
dengan momen lembam / tetap kita bisa menentukan garis penutup pada segala Bukti dari gambar:
diagram momen pada balok terjepit dan balok terusan secara grafis. o'a'l
Mi '
Untuk balok dengan momen lembam / yang tetap adalah beberapa hubungan yang
q.t2:, J tvt, --
I
memudahkan perhitungan jarak titik potong dan momen titik potong seperti 82
berikut: (sama juga untuk M*)

268 269
Contoh gaya P dengan jarak c dan c': Jarak titik potong pada balok tunggal:

I oz' I (6.39.)
a1+d2+81
I
@

Gambar 6. 2. 3. b.
garis penutup

6. 2. 4. Macam-macam iepitan
Pada suatu titik simpul kita bisa menerangkan persoalan:
.\.-.\.
Gambar 6. 2. 2. e.
M,-
'
_a_:u'.t-! p.c/!j c') 4
l2 6.l.El
Qo

Mi:
' -
p.u."J--!!L-!'
tt
,r= _ P.b ,:_J!l_9)
Bukti dari gambar: Gambar 6. 2. 4. a.

a
K'I=u.
Mi :u(l:"')
Mo Mi= P'a
12 Batang 1 yang dihubungkan dengan kaku pada batang-batang2s/d 4 menerima
momen M.
Y!- t P.c.c' Kejadian ini menimbulkan dua pertanyaan:
K' i+c' 1. Bagaimasna besarnya bagian momen M padabatang-batang2s/ d 4.?
2. Berapa besarnya ukuran jepitan batang 1 terhadap batang-batang2s/d4?
6.2.3. Jarak penting pada titik potong Di bawah akibat momen M semua batang-batang memutar dengan sudut a karena
hubungannya yang kaku. Kita mengambil salah satu batang, umpamanya batang 2,
Jarak titik potong pada balok ter.iepit kaku:
dan memperhatikan kejadian itu dengan teliti:
Andaikata sudut putar a - E' M' alau dengan kata lain, sudut putar a adalah
olehkarenaa : 0 - El = 2 :'0 perbandingan dengan bagian momen pada batang 2. Ukuran jepitan e ' adalah sudut
pada ujung atas 2 atas momen M' : 1.
Pendapat ini bisa digunakan juga pada batang-batang lainnya. Ukuran jepitan
a= az'l
' |I b: llr't (6.37.) menentukan daya pencegah terhadap putaran oleh momen pada batang 1.
Gambar 6. 2. 3. a. at+q2 I ^_ fir+Az Ukuran dan besarnya ukuran jepitan pada hal ini hanya tergantung pada momen
lembam /, modul elastis E dan macam tumpuan pada ujung bawah. Atas dasar ini
maka disebut ukuran jepitan sendiri.
Kebalikan dengan ukuran jepitan pada batang 1 yang hanya tergantung pada
6-E.l :b (6.38.) momen lembam /, modul elastis Edan macam tumpuan pada ujung bawah batang-
bagi / tetap ,
d-
lt 1_ batang 2 sld 4, dan bukan pada momen lembam / dan modul elastis Fsendiri. Atas
3.E.t ' 6.E.t dasar ini maka disebut ukuran jepitan asing.

270 271
Perhitungan ukuran jepitan sendiri I I
l. Jqitan pada ujung bwah yang sudah diketahui: Az= 3Et ',
0,': att dan selanjutnya: (6.43.)
a- pada ujung bawah sebagaijepitan elastis berhku prsamaan elastis berikut:
11, a=My|ar*M2'a2 1.
lal * I 2b -3a
,, : dan selanjutnya:
fr = Mt'h + Mz'h= -,82.M2 2.
3 Et t_i Alt ' 6El t-a (6.44.)

dari2 : Mt' h = b. pada ujung bawah sebgai jepitan yang kaku berlakrr persamaan elastis berikut:
- M2lE2 + lt2) I

fl
diisi dalam 1. :
et.= oz-f;.a, o - h .o - h h3h
tt= 3Er-
t'2'3El,Pr-6El
o:Mt'ot-Mt.A'az t- -3t'aCt
'llz+q t
I

dan selaniutnya: ,,' =-!-


3 llihat juga rumus (6. 41 . )l
4 E I
untukMl=1' a=E7 o.2
q = at - ---:
0.r : oz
al +E2 _
(6.,!0.)
c. pada ujung bawah sebagai engsel berlaku persamaan elastis berikut:
Gambar 6. 2. 4. b. Dz= ot
h l0 hr
t':3'r-l,n'u6,1 4
' llihat juga rumus {6. 42.)l
3Et
b' pada ujung bawah sebagai jepitan yang kaku
berlaku persamaan elastis berikut:
Perhitungan ukuran jepitan asing dan pembagian momen pada titik simpul
El=01-:= i t2=g
01+ a2
Persamaan momen pada titik simpul adalah:
02 =
hh
6Ej ; at =
lEi dan selanjutnya: M : M'+ M" + M"'(11
oleh karena semua berputar dengan sudut a, maka dapat dikatakan:
c. pada ujung bawah sebagai engsel berlaku persamaan
erastis berikut:
a = M.Er= M'.e': M".e":M".t"' l2l
E2: a E1 = a1 dan selanjutnya:
G.42.) M'=!!--!'
E.
; M":AL'
2. Titik potong pada ujung bawah yang sudah diketahui: hasil ini dimasukan ke dalam (1):
a. pada ujung bawah sebagaijepitan elastis berlaku persamaan
elastis berikut:
M=M.\
LI,L
*u '-,', *M +,
\ ,o=00+Mr'0t+Mz'[]z
1 t'L 't
Et =
' )n'=l i.o=o (karenatirjakacia E1 E'L T

beban)
1_1_1- 1
(6.45)
Gambar 6. 2. 4. c. Mz: -1;Mr= t a- ra.ner: -fi 1 t t t

272
273
Hasil ini melihatkan, bahwa kebalikan ukuran iepntan asing ialah jumlah kebalikan
ukuran jepitan sendiri.
M' : M' il t' dan M' = M' 4/ e"
Kita tadi sudah melihat bahwa
Bisa dikatakan bagian momsn M', M" dsb. bisa ditentukan dengan momen yang
dikalikan dengan satu perbandingan. Perbandingan ini kita tentukan dengan pr
Gambar6.3. 1. a.
( koef isien distribusi).
Artinya: ukuran jepitan asing pada batang yang dibebani dibandingkan dengan Sebagai sistim dasar kita memi!ih beberapa balok tunggal dengan momen tumpuan
ukuran jepitan sendiri pada batang yang tidak dibebani. yang disuperposisi pada sistim dasar.
Pada dua batang selalu ada dua perbandingan 1r (koefisien distribusi), dengan Persamaan elastis dengan pengertian bahwa garis elastis berjalan harmonis,
memperhatikan batang yang mana yang dibebani. Sebagai keterangan, koefisien adalah:
distribusi p selalu diberi tanda panah seperti terlihat pada contoh berikut.
[]:-o' A':-o"
Contoh perhitungan koefisien distribusi ir.
Atas dasar pengetahuan ini kita langsung bisa menentukan sebagai persamaan
elastis syarat persamaan tiga momen (lihat bab. 6. 4.)secara analitis atau bisa juga
rt= + (batanglyang menggunakan cara graf is.
dibebani)

F,: ? (batang 2yang


'1 dibebani)
t1
pr+= q
E3
,x: E1
dsb. Gambar6.3. 1. b.

Kita memikirkan balok terusan hanya menerima beban pada satu bagian antara dua
Gambar6.2.4. d.
tumpuan sebagai balok terjepit elastis dengan:
Dengan rumus yang tadi (6.45.) digunakan untuk menghitung ukuran jepitan a:*tr.M, D:*cz.Mz
asing, kita bisa menentukan p hanya dengan menggunakan ukuran jepitan sendiri
Sekarang semua bagian balok terusan sebelah kiri dari bagian yang kita
seperti terlihat pada rumus berikut:
memperhatikan adalah suatu sistim yang terjepit sebelah kiri dengan momen
Ez' El
_ : ------ : E3 sebelah kanan seperti dibicarakan pada bab 6. 1. 4. (balok terjepit sebelah).
E2l.- L3 lt2
a1
E2* E3 Titik momen nol ada pada titik potong J"
Pada bagian balok terusan yang sebelah kanan dari bagian yang kita
- memperhatikan adalah suatu sistim yang terjepit sebelah kanan dengan momen

6. 3. Sistim titik potong pada balok terusan sebelah kiri dan titik momen nol ada pada titk potong K.
Dengan cara ini ditentukan bagian per bagian dari balok terusan yang diper-
hitungkan. Sesudah ditentukan semua diagram momen pada semua bagian balok
6. 3. 1. Pengetahuan dasar terusan tinggal disuperposisi saja.
Sistim atau konstruksi balok terusan terjadi kalau suatu balok lurus
menumpu tiga kali atau lebih. Balok terusan di atas tumpuan itu boleh berputar 6. 3.2. Menentukan tatik potong
bebas akan tetapi tumpuan itu menjadi kaku, dengan maksud agar tidak bisa turun
atau naik tempatnya. Lihat juga bab7.2.'l . (penurunan tumpuan pada balok Penentuan secara analitis:
terjepit). Pada konstruksi bangunan rumah syarat atau ketentuan ini biasanya boleh Ukuran iarak a dan b untuk titik potong J dan K pada balok dengan
digunakan. momen lembam / tetap, telah kita tentukdn pada bab 6. 2. 2. dan 6. 2. 3.

274 275
I

Rumus-rumq5nya ialah seperti berikut: pada balok terjepit:

1 . pada balok yang terjepit elastis: d- l'


5+ 6 E ll't1 I
b'= (6.47.)
3+1,5V z+t,sl
b: 3. pada balok tunggal dengan tumpuan yang bebas pada putaran:

3+ 6El'ez r f

2. pada balok terjepit: d=b=


I
I a'=
,*'i ; b=
,* 7
(6.2t8.)

3
Penentuan secara graf is:
Cara grafis hanya boleh dilakukan pada balok dengan momen lembam / tetap.
3. pada balok tunggal dengan tumpuan yang bebas pada putaran: ? - jJ
Ukuran jarak a'dan b' untuk titik potong berikutnya J' dan K'pada balok dengan
momen lembam /tetap, kita menentukan atas dasar rumus (6.30.) rumus-rumus
berikut:

Gambar 6. 3. 2. a.

6.3.3. Gaya-gaya dan momen pada balok terusan


1. pada balok yang terjepit elastis: Contoh 1:
l' lebar bentang dari bagian Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.3.3. a.) dengan beban merata

/
Yan9 diperhatikan
lebar bentang bagian kiri
t*+tz--:rl 8.5t/m ditentukan momen-momen dan diagram masing-masing momen dengan
superposisinya.
dari l' ( 6.46. )

l' lebar bentang dari bagian r


YanO diperhatikan
3. +1r- *bl
/ lebar bentang bagian kanan
dari l'
Gambar6" 3.3. a.
276 277
Contoh 2:

Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.3.3.c.) dengan beban merata g =
5.2.t/m dan gaya-gaya Pt : 15.0 t dan Pz = 20.0 r ditentukan motnen-momen
dengan masing-masing diagram momen dan superposisinya dan diagram gaya
lintang dan reaksi pada masing-masing tumpuan.

,'T = 5.'z Llm

a = 5.6<. I U= 2.9. a-3.o I h,'-;1rc

Gambar 6.3.3.c

Diapram momen beban

E
s
rl

N C-D

iagram momen

disuperposisi penutup masing-ma


diagram momen gaYa P,

- -\- ;5
Gambar 6.3.3.d

o
p t 279
I
F.
u \t "2 2-o
o'
ol
;t
Menentukan masing-masing reaksi tumpuan secara grafis:

Q, !s.2a I l?' trot qr' 26'ot Qr' 16.4

diagram momen beban


-+

diagram momen beban


Gambar situasi (dibagi sebagai 3 balok tunggal) O : resultante g pada masing-
masing bagian.

*--/

Gambar gaya (1 cm : 10 t)
Gambar 6.3.3.f .

Menentukan diagram gaya lintang:


Dengan bantuan masing-masing reaksi tumpuan, kita dengan mudah bisa
menggambar diagram gaya lintang seperti berikut:

-BiBt

Gambar 6.3.3.e Gambar 6.3.3.9.

280
6. 4. Syarat persamaan tiga momen (Clapeyron). Untuk memudahkan perhitungan, maka biasanya digunakan kependekan-
kependekan berikut:
Kita perhatikan dua bagian I dan l'yang berturut-turut pada suatu balok 6E 'ao
terusan: lc sebagai l.+ I Seoagar f
6E
sebagai , n sebagai , ' lJ,
4 +
Persamaan tiga momen menurut Clapeyron kemudian kita tentukan sebagai:

llr 11j Gambar 6. 4. a


- 9'4
142
M1l" + 2M2(le + /[,) + M34 = -8' l" (6.49.)
Persamaan elastis yang berlaku pada tiap-tiap tumpuan adalah:
Bagian beban dan ,8 ini pada umumnya dapat kita tentukan menurut tabel
E
D=Ao+Mt'pr+M2.02 l.2. 12. Tabel-tabel untuk menentukan bagian beban pada syarat
persamaan tiga
momen, pada lampiran.
o' = qo' * Mz' .ar' + Mr'ar'
Bagian beban pada beberapa balok terusan yang sering timbul:
dan oleh fi + a' : 0 kemudian kita dapat:
l. Balok terusan dengan beban merata:
Mr'At + Mr(Jr+ o1'l + M.'at' * Do * a6' = Q

Pada persamaan elastis ini ada tiga nilai yang belum diketahui, yaitu tiga momen
pada tiga tumpuan yang berturut-turut. Oleh karena itu persamaan elastis ini boleh
dinamakan persamaan tiga momen atau dalil tiga momen, ditemukan oleh
Clapeyron pada tahun 1857.
Gambar6.4. b.
Persamaan tiga momen ini berlaku untuk semua kemungkinan seperti momen
lembam / tidak tetap, macam-macam gaya dan beban dan macam-macam lebar
q' 13
bentang (l dan l'tidak sama).
ao: Do= Zq.et
Pada balok terusan dengan / tetap, dan dengan menggunakan nilai sudut putar
tumpuan o dan B yang sudah diketahui dapat kita tentukan: dan kemudian dapat kita tentukan bagian beban sebagai:

M,.
+H * M/+ * #, * *,.*-: * oo'
- fio
e =sF"6=#
atau pada balok terusan dengan momen lembam / tidak tetap: n =+0,=+
2. Balok terusan dengan gaYa Pusat:
w' + + 2Mz. rr. l+ r lt+ M,t'+ :- 6Eoo'
? - u*, ? P P
Kita melihat, bahwa perbandingan momen lembam harus ditentukan demikian
rupa, sehingga /" menjadi momen lembam suatu bagian sembarang pada balok \-1J \- I
terusan ini dan / menjadi momen lembam bagian balok terusan yang lain masing-
masing.
Ltz I V. !t" t!/,
I I
Dalam persamaan tiga momen ini bagian kanan menjadi bagian beban oleh karena Il
t
hanya bagian ini yang mengalami perubahan oleh beban pada balok terusan. Gambar 6. 4. c.

282 283
P. 12 Menerrtukan mcxren:
oo: Ilo= dan kemudian
lAf t o' 12 6.5. 4.22
Mor=Li= :14.3tm
t: f,.e'. r dan r:* -P.1. ,
o' 12 6.5 . 5.32
:22.8tm
M*=-;= ,
3. Balok terusan dengan satu gaya sembarang:

M, + Mtl + ZMrll+l'l + Mrl' :-lnt-s,t'


P c Ir+-l \q#
q' 12 , g" l'2 ,,
0
!i,t
4.2+5.3 0 44
P_ J \- 09.50
t, t
b a E Jyf+.2 _. 6.5r5'3', s.a
t I
Gambar6.4. d.
2.M2-t951 : 362.3

Momen tumpuan B lMzl - MB = - 19.0 tm


,o=
ffi a + rt dan o'o=l-3-!' b' + l'l
Diagram momen:

dan kemudian dapat kita tentukan bagian beban sebagai:

n=Y .., = l" i:r'o' ft, + t,)


* : T'0" -
Gambar 6. 4. f.
''1r'b r, + a)

4. Balok terusan dengan bentuk beban yang lain bisa dilihat pada tabel l. 2. 12.
Menentukan masing-masing reaksi tumpuan:
pada lampiran

RA q I MB 6.5' 4.2_n=
Contoh:
^ =t_i=-__, ' 19.0
e.2t
Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.4. e.) dengan beban merata q =
^ q' I MB 6.5'4.2 19.0 r
6. 5 t/m ditentukan momen tumpuan I dengan bantuan syarat persamaan tiga
momen menurut Clapeyron. Selanjutnya kita menentukan tumpuan masing-masing
untuk menggambar diagram gaya lintang. (Momen lembam / tetap). ^ l' + MB= 6.5' 5.3* 19.0= 20.8
q' I t
RBkun"n =f -t ', S:
^ q't' ue :6.5:! _ I: = 13,6 t
Hs=2-r:2-53:'
Rs = Re*iri * RBk"rrn = 18'2 + 20'8 = 39'0 t

Dengan bantuan reaksi tumpuan masing-masing kita bisa menggambar diagram


Gambar 6. 4. e. gaya lintang seperti berikut:

284 285
6.5.2. Perjanjian tanda pada sistam Cross
Perjanjian tanda pada sistim Cross hanya digunakan untuk melakukan
distribusi momen. Pada semua perhitungan dan penentuan yang lain kita meng-
gunakan perjanjian tanda yang sudah diketahui dan yang ditentukan pada bab
1.6.3.
Perjanjian tanda pada sistim Cross adalah:

Momen jepitan adalah positif ( + ) jikalau momen jepitan akan berputar


pada suatu titik simpul searah jarum jam, dan menjadi negatif (-)jikalau
akan berputar berlawanan arah jarum jam.

maximal Mrldan Mr, menurut rumus (6.26.)

,,' : Ro : y
Gambar 6. 4. g.

Pada tempat gaya lintang menjadi nol {x1 dan x2) kita bisa menentukan momen
Misalnya:

# trL
= :+
6.5 + 1.42m; - 2q =
'r'xt = Y +

ffi * [
q Mxr - 6.5 tm
13.0

x, = R^ - -:--
13.6
: + Z.O9m; MxZ =
R", 13.62
+ 14.2 tm
'q6.5 2q 13.0
-
6. 5. Sistim Cross pada balok terusan
6. 5. 1. Pengetahuan dasar \
Jikalau pada suatu balok terjepit elastis kita mengetahui nilai momen
jepitan. Kita dengan mudah bisa menghitung gaya-gaya yang timbul, menurut
- Gambar 6.5.2.a.
rumus (6. 15.) dan (6.16.) misalnya:
Dengan menggunakan perjanjian tanda pada sistim Cross ini, pada balok terusan
M= Mo+Mt-l**r-1 misalnya momen pada satu tumpuan sebelah kiri dan sebelah kanan tidak mem-
punyai tanda yang sama, melainkan mereka bertanda ( + ) dan (- ). Oleh karena itu
L1: tl^-i- . Mr-M, cara distribusi momen baru mungkin kalau jumlah momen suatu titik simpul men-
"t jadi nol.
Padahal jepitan kaku momen jepitan dapat dihitung dengan cepat atau dapat di- Akan tetapi untuk menentukan diagram momen misalnya. kita harus melakukan
- perjanjian tanda dari bab 1.6.3.
ambil dari tabel-tabel (lihat lampiran 9.2.6.).
Sistim Cross menggunakan keuntungan ini dengan ketentuan. bahwa pada suatu
balok terusan yang semua bagian-bagian berada dalam keadaan terjepit kaku 6.5.3. Momen jepitan
sebelah-menyebelah. Momen jepitan yang akan timbul pada tumpuan-tumpuan Pada balok terusan dengan lembam /tetap dan dengan beban sembarang
pada umumnya bukan menjadi nol, melainkan timbul suatu momen jepitan pada momen jepitan boleh ditentukan seperti berikut:
tiap jepitan yang ditentukan. Dengan sistim Cross kita sekarang melepaskan satu
demi satu jepitan dan momen jepitan yang timbul akan disalurkan pada balok Mt: -l2ao-lrrrT'
terusan.
Cara ini dapat dilakukan sampai pada tiap-tiap titik simpul atau tumpuan momen
jepitan menjadi nol, atau hampir nol (distribusi momen). Mz: -(2Ao-.rrT'
286 2a7
Sesudah sudut putar tumpuan oo dan fi,, ditentukan, momen jepitan pada balok ter-
atau:
jepit kaku bisa dihitung atau diambil pada tabel-tabel {lihat lampiran 9.2.6.).
!+t oF,'' ' 4El! ,............4Eb
Mr: M2: Ms:............ Mn:
"tt lt lz l, ' ""' ' ln
Momen pada titik simpul
.6.5.4.
Jikalau kita menjumlahkan semua momen jepitan pada suatu titik simpul. ketentuan ini boleh diperpendek lagi dengan 4 E dengan penentuan /< sebagai angka
jumlah momen jepitan tidak menjadi nol. melainkan jumlah itu menjadi resultante kekakuan batang seperti berikut
momen jepitan (momen residu). Selanjutnya kita melepaskan titik simpul yang kita
perhatikan dengan jepitan kaku pada titik simpul sekeliling. Sebagai keseimhangan l, ln
- u
pada titik simpul yang kita perhatikan kita pasang sekarang salu momen distribusi
dengan nilai yang sama dengan resultante momen jepitan tetapi dengan tanda ( + )
h=x' t:r' (6.50.)

atau (-)terbalik. Oleh akibat ini momen distribusi (M,ratau M) titik simpul akan
boleh kita katakan:
berputar dengan sudut o seperti sudah ditentukan pada bab 6.2.4. (macam-macam
jepitan). Mr: M2: M, = ........ 1y1n =
atau:

Mt:M'*r,r,:M *i Mz=r'bu, *,:*


bu
hln (6.51.)
/] il1 Mq
f et
yaitu: momen distribusi Ml atau M dapat membagi batang masing-masing menurut
tt ilt perbandingan angka kekakuan batang.
Sebagai koefisien distribusi p pada titik simpul yang kita perhatikan kita boluh
l, l, Gambar 6.5.4.a
berkata:
k1
t,|=Et bagi batang 1, dan
Pada bab macam-macam jepitan itu kita tentukan ukuran jepitan e' sebagai sudut
putar a dengan momen M = 1 pada ujung batang itu. Oleh karena pada titik simpul
yang kita perhatikan semua batang berputar dengan sudut a yang sama. kita bisa 2
ur= >k bagibatang2dsb.
menulis:
a : Mt.tt -* Mz.tz = Ms.4........ : Mn.en 6.5.5. Momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan
dan sebagai persamaaan momen pada titik simpul itu: Momen Mn yang berada sebagai bagian momen distribusi pada batang n
M : Mr + M2 + M, + ............ M, pada titik sinrpul yang kita perhatikan sebagai 'lepas' menyalurkan Momen /1,7',
kepada ujung batang, yang dijepit kaku.
selanjutnya:
Sebagai koefisien induksi y kita menentukan perbandingan antara momen distribusi
Mr: Mr: -t'. t.z yang disalurkan dan dengan momen distribusi pada batang n.
atau:
111 ',r

.........-
-:
1 2 3 En {6.52.}
Ukuran jepitan c, s/d e, pada momen lembam / yang tetap.dan dengan ujung balok
terjepit menjadi'
ln
4Eln Gambar6.5.5.a.

288
289
Pada umumnya M', boleh diperhitungkan menurut bab 6.1.4. (balok terjepit Akan tetapi momen jepitan pada balok terjepit sebelah bisa juga dihitung dengan
sebela h) seperti berikut: menggunakarr ketentuan tentang balok terjepit, misalnya:

lZ
M'n: -
Ir
30
a1
Gambar 6"5.5.c
N
jikalau momen lembam I tetap pada baloknya:
I Hr Hrh

oo= Mn'l ; q1:


6Er 3Ei
Ms:Mr+0.5Ml
dengan hasil seperti berikut:
(6.M.)
*;:t ,, (6.53. )
Ma: M, + 0.5 M2

perlu diperhatikan, bahwa tanda ( + , - ) adalah sa'ma untuk M, dan M'n.


Hasil ini juga bisa kita cari dengan menggunakan metode atau sistim titik potong
dengan jarak titik potong a = l/3 seperti ditentukan pada batang yang terjepit kaku Harus diperhatikan, bahwa Ml dan M2mendapat tanda ( + , -, ) yang sama. Momen
sebelah dan dengan momen lembam /tetap (lihat juga bab6.2.3.). lepitan ini sekarang bisa beraksi pada titik sirnpul.
Momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan harus diperhatikan nanti
kalau kita akan menentukan nromen jepitan pada titik simpul berikutnya. Angka kekakuan k':
Pada distribusi momen kita harus memperhatikan juga perobahan angka kekakuan
batang (k1 pada batang yang punya tumpuan rol atau engsel sebelah:
6.5.6. Batang dengan engsel pada ujungnya
I
ukuran jepitan pada tumpuan rol menjadi: r :
*r
ukuran jepitan pada jepitan menjadi: ,' :
Gambar 6.5.6. a 01, ,
Pada bab 6.5.4. (Momen pada titik simpul), rurnus (6.50.) kita menentukan semua
Kalau kita melihat batang AB yang disambung kaku pada titik B dan
punya tumpuan rol atau engsel pada u.lung,4 perhitungan dapat dimudahkan sekali 4Et
kalau kita tidak memakai cara balok terjepit, melainkan langsung menggunakan Dengan cara itu kita memudahkan perhitungan angka kekakuan batang k. Tetapi
ketentuan tentang momen jepitan dan momen distribusi yang disalurkan, tentang untuk batang yang punya tumpuan rol atau engsel sebelah kita harus
angka kekakuan batang dan tentang koefisien induksi. memperhatikan perbandingan Ildengan X' yang menjadi 3i4. (angka kekakuan
batang k').
M e nentu ka n momen jepita n : Pada perhitungan angka kekakuan batang k' kita harus menghitung kali 0,7b
untuk mendapat k'pada batang yang punya tumpuan rol atau engsel sebelah:
Pada umumnya digunakan pengetahuan rumus (6.23.)

: I
M.:- lto k' 0.75 ' -7 (6.55.)
' fi,

Gambar 6.5.6.b Gambar 6.5.6.d.

290 291
Oleh karena tumpuan ro{ atau engsel tidak bisa menyalurkan momen apa pun koefi- 6.5.9. Contoh-contoh
sien induksi y menjadi nol.
Contoh 1:
Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.5.9.a.) dengan &ban merara I t/m
(6.56.)
dan dengan momen lembam / yang tetap, ditentukan momen-mornen maximal
pada tumpuan dan pada bagian masing-masing. (oleh karena nilai I jikalau momen
lembam / tetap, tidak penting, karena sebenarnya hanya perbandingan, kita boleh
menggunakan nilai / = 1.)
6.5.7. Persiapan cara distribusi momen
l. Menentukan nilai-nilai bagi batang masing-masing:
Q. l+/m
ln
kn .... pada tbptiap batang
ln

ln :kn pada tiaptiap titik simpul


2k Gambar 6.5.9.a

.... pada tiap-tiap batang I I

Semua nilai ini kita isi pada gambar (lihat contoh-contoh bab 6.5.9.). 0.?08 .0.75 - 0.167 . 07s *
Perbedaan antara sistim titik potong dengan cara distribusi momen menurut Cross 0.t56 0. r39 0.1?5
adalah, bahwa dengan sistim Cross bisa digunakan momen lembam / yang berbeda
pada tiap-tiap bagian balok terusan.
IK 0. 95 0. G4
k
2. Menentukan momen jepitan: 0.529 0.471 o.527 0.473
{x
Kita menentukan momen jepitan pada balok terjepit atau balok terjepit sebelah Y

pada tiap-tiap bagian balok terusan yang dibebani dan mengisi hasil juga bersama
tanda ( + , - ) pada gambar (iihat contoh-contoh pada bab 6.5.9. ) -2.88 +4.32 -4.32 + 4.50
@ -0.76 -0.68 -0.34
+0.M +0.08 +0.6 o
6. 5. 8. Cara distribusi momen menurut Cross
Cara distribusi momen mulai dengan resultante momen jepitan (momen
residu) terbesar. Selanjutnya momen distribusi yang sama besarnya dengan
resultante momen jepitan tetapi dengan tanda (+,-) terbalik disalurkan pada
batang-batang yang dihubungkan pada titik simpul itu, dan kepada titik simpul
berikutnya. Momen yang disalurkan harus diperhatikan pada perhitungn momen
distribusi pada titik simpul berikutnya menurut koefisien induksi. Dengan meng-
gunakan begitu persiapan pada titik simpul itu pada permulaan tidak seimbang dan
harus dikoreksi dengan perobahan momen distribusi sampai perhitungan ini cukup
teliti. (Jikalau dihitung dengan tm sampai satu angka sesudah koma).
Momen pada ujung batang masing-masing sekarang boleh digunakan untuk meng-
gambar diagram momen dengan perhatian pada perjanjian tanda yang lama (lihat
bab 1.6.3.).

292 293
Perhitungan momen Mmax BC pada bidang 8C:
Perhitungan momen jepitan Mo: kita boleh menggunakan rumus yang baru seperti berikut:
(lihat juga pada tabel-tabel bab 9.2.6.)

Momen A -0
M.u,: 1t _ *, (6.57)

Momen Bp;r; : - 2.88 tm di dalam rumus ini, masing-masing bagian berarti:


Rc : Reaksi pada tumpuan dengan momen jepitan yang terkecil
q't: : Mc : Momen jepitan yang terkecil
Momen 9k"run : -- _ !'L2' : - 4.32 tm beban merata
12 12
Menurut rumus (6.17.) kita bisa menentukan reaksi tumpuan Ba
Momen Cp;r; Momen B6nrn : - 4.32 tm
A4t- !,
RB : Reo *
I
g:_!' 'r .6.0,
Momen Cku,run = - 8
=_ 8
-* 4.50 tm
Rau =
q.l
=2t. 7.2 = + 3.6t
2

Momen D
RB : Rao* M,: M, : +3.6 3.66 + 4.58
= +4.06t
I
Distribusi rnomen menurut Cross:

O LMa = 4.32: .+ 1.44tm


-- 2.88 -r MmaxBC= *Ma=ry - 3.66: +4.satm
: t:tfie ' Fi,= - 1.44'0.529 : - 0.76 tm
*
AMa *i,i
Contoh 2:
LMB krnun : LMa pz |-t.*,-
= - 1.44' 0.471 : - 0.68 tm 'l
Pada balok terusan menurut gambar berikut (6.5.9'b. ), lihat juga contoh pada bab
@ ttMc : -4.66 + 4.50: -0.16tm 6.3.3. kita menggunakan cara distribusi momgn menurut Cross, kemudian kita
AMcxi,i : AMc'Fz': * 0.16'0.527: + 0.08tm l menentukan semua reaksi pada masing-masing tumpuan untuk menggambar
+0'16tm diagram gaya lintang dan menentukan maximsl pada masing-masing bidang.
f,Mckunun : AMc'j"r: ='f 0.16'0.473: +0.8&tm |
q : total 8.5tm
Perhitungan momen Mmax AB pada bidang l8:
menurut rumus (6.26.) kita boleh menentukan Mmax AB = Raz/2 g dengan reaksi
tumpuan Rapada tumpuan rol atau engsel, dan menurut rumus (6.17.)kita menen-
tukan R4 itu sebagai:
: lc = 5,00 m
R" - ljq:+1.641
lz 6.0O m
:q-'-t *tvtq-:1i-1f
IlA"7--l__-{-43_-
Gambar 6.5.9.b
,*", o, : H' 1.642
.) : + 1.34tm 1 1 1 1

I (k') 0.150
Perhitungan momen MmaxcD pada bidang CD.' k= 7 (k')0.167 0.167 0.500
menurut perhitungan momen Mmax Co kita tentukan: :k = 0.667
k
RD =,;' -ry= T-T:1224' Y: rtk 0.500 0.500 0.250 0.750 0.769 231

2.242
Mmax CD - ryp'
2q
--{ : + 2"50 tm

294 295
25.50 - 25.W + 2.83 - 2.83 + 26.56 Momen C6r", _ g.l' =
8.5-2.0'
- 21.25 12 12
- 9.12 - - 18.25 - 5.48
3.92 * + 7.95 + 23.4 - + 11.92
2.83tm

- 9.17 2,!5 @
Momen 017 MomenC : -2.83tm
0.57 * + 1.14 + 1.72
4.37 * - 2.18 g.12 8.5 . 5.02
* + 0.4 Momen Dpru,
+ 0.55 1.6i 8
0.98 - 26.ffitm
1
-
0.12 * + 0.25 0.73 * + 0.37
@* o.2o 0.20 * - 0.10 0.14 * -- 0.28 0.11 Momen E = 0

+ 0.06 0.18 * + 0.09

Distribusi momen menurut Cross:

o LMo +26.56-2.83= +23.73tm


aMo *iri LMo'rr: - 23.73.0.769: - 18.25tm
LMD kurun : LMo'y= *23.73.0.231 : -5.8tm - 23.73 tm
Perhitungan momen jepitan Mo:
(lihat juga pada tabel-tabel bab 9. 2. 6.) @ aMc - 25.50
- 6.29 : - 31.79 tm
LMc riri LMo' u : + 31.79'0.750 : + 23.4tm
+ 31.79 tm
LMc kunun : LM"'tr: +31 .790.250: +7.95tm

Momen/ 0
o LMo + 11.92tm
LMo *iri LMo' y- -'11.92.0.769 : - 9.17 tm
MomenB*i,i--+=-!.5#g - 11.92 tm
LMD kurr, = LMo. t, = - 'l
1 .52 .A.231 : - 2.75 tm
=- 21.25tm
LMc 4.58 tm
@ -
aMc xi, LMc'y = +4.58.0.750= +3.4tm
: LM"' t, : + 4.58. 0.250 = + 1.14 tm + 4.58 tm
LMc k"nrn

*21 .25 + 29-99: + 8.74tm


- t#:
@ aMa
Momen Bkanan: --9'5#g' aB kiri La. t, = - 8.74. 0.500 : * 4.37 tm
- 8.74tm
= - 25.fi tm LMa'P - 8.74. 0.500 =- 4.37 tm
Momen C*;;= MomenB = -25.50tm dsb. "....

296 297
Menentukan masing-masing reaksi tumpuan: Menentukan momen maximal pada rnasing-masing bagian balok:
l'
q' Ab 19.13 5.76 = 13.371 MntaxAts:*=+10.521m
R"
RA = 211 - - t*as - -; = 1,57 m)

: 9-!-L + M| = 19.13 + 5.76 = 24.Bgt MmaxDE= =+19'74tm (xpo=-'R. = 2.'l6m)


Re *iri 2t t * q
51.741
Q'lz : zs.il+ 1"35 = 26.851 - i - Mc : 34.31 - 17.80 = + 16.51tm
R1^
R B k"nun - 211*ryt-Mc I MmaxBC

R c *iri - Q.tz
2
_ ryE--itc : 25.s0 - 1.3b :24.1st
l, MmaxcD : rf, *Ma :+ 4.18 - 17.60: + 13.45tm
I 32.75t
Rckrru, -- Q.lt
2 *ryL--n4,
' lz
: a.n + o.1o = 8.60t I Dengan hasil ini kita bisa menggambar diagram momen:
Gambar 6. 5. 9. d

RD uri - Q.lr _ Mc - Mo = B.Eg - 0.10 = 8.60 t


2 lJ -fte Us
32.58 t
MD
Q.lq + ---:: :
RD kur* 2 lo
= ^ .24 + 2.93
t1 24.1.81 I

RE * Q'lq - YL : 2r.2s,, 2.93 : 18.32 t


2 lo

+
Dengan hasil ini kita menggambar diagram gaya lintang:

Pada contoh 2 ini kita perlu memperhatikan dengan khusus momen maximal pada
tumpuan I yang dengon -25.85 tm jauh lehih besar daripada momen terbesar
berikutnya (bidang DE, + 19.74 tm.) Kemungkinan untuk mengawasi kejadian ini
tergantung pada bahan bangunan yang dipilih:
1. Konstruksi beton bertulang:
Pada konstruksi beton bertulang ada dua kemungkinan:
a. dengan merendahkan ketinggian puncak momen pada tumpuan I jikalau tiang
beton bertulang yang menjadi tumpuan I cukup lebar, kita boleh mengguna-
kan rumus berikut:

ms-4LAt
Ms':Ms* 2

*, =Li * hlt4 ln (6.58. )

Gambar6.5.9. c Gambar 5.5.9.e.

298 299
Perhitungan momen jepitan Mo:

Momen A, A' :0 Momen D = Momen Ckurun =


l' -21.23 tm
Momen Bp;,; 5.2. 6.42 P' a2' b
_q_'
:
t, :-- LU =-l1.5qj!
20.32 . 4
8 l- -26.62 tm Momen D'
-
Momen D : - 35.92 tm

Distribusi momen menurut Cross:

@ LMe 45.08 + 10.83 ..


_ 34.?q u
P'a.b 15'3.6.28 AMakiri
Momen B'p11 = --t, (t1al= ' to = - LMs.y- +34.2s 0.369: + l2.Mtnr
2.e+ - 18.46 tm
+ 34.25 tm
AMBkur", = LMe U=*34.25 0.63 1 = +21.61 tm
Momen B*i,i - *45.08tm

@ aMc -0.02+40.82= - +o.agll


aMc xirt AMc'y - *40.80'0.583 =
-23.79tm .. 40.80 tm
Momen 8.Kanan _ g'12 'LM, AMc y =-40.80.0.417- +17.01 tm
rrrun
12
Momen C1; = Momen Bsrnu,
= -10.83 tm
@ aMa =- 1'l .90 rm

aM a xiri tMe.p = + 11.90.0.369 = + 4.39 tnr )


| + 11.90tm
aM I krnun AMe s = + 11.90.0.631 = + 7.51 tm

dsb...... ......
Momen C6r* *
_ ___tg' 12 5.2. 7.02
=__/__= --21 .23 tm
Menggambar diagram momen dan diagaram gaya rintang bisa rihat pada
bab 6.3.3. (gaya-gaya dan momen pada balok terusan).
contoh 2

Momen C'kr*n _ ._P.a.bz_ 20.3.4,


12 -- 7^0, = - 19.59 tm

Momen C6n.n
- t10.82 tm
302
303
selanjutnya melepaskan satu per satu titik simpul sampai semua momen pada satu
titik simpul menjadi seimbang. atau boleh dikatakan resultantenya menjadi nol.
Semua batang harus dihitung sebagai balok terjepit atau terjepit sebelah. Selama
7. Konstruksi Portal statis tidak pada satu titik simpul resultante momen belum menjadi nol kita harus memasang
satu momen distribusi seperti pada balok terusan.
tertentu Perhitungan momen boleh digunakan menurut urutan berikut:
1. Perhitungan momen iepitan pada ujung kiri dan kanan batang masing-masing
sebagai balok terjepit atau balok terjepit sebelah'
2. Menentukan resultante momen jepitan lLMl pada titik simpul masing-masing'
7.1. Konstruksi portal dengan titik simpul yang 3. Membagi momen distribusi menurut angka kekakuan batang pada batang
masing-masing
kaku 4. Menyalurkan momen jepitan (momen residu) menurut koefisien induksi
(zt) ke
titik simpul berikutnya.
7. 1. 1. Pengetahuan dasar 5. Menentukan resultante momen jepitan (AlV) pada titik simpul berikut dan
sistim cross yang digunakan untuk perhitungan statika pada balok seterusnYa menurut 2' s/d 4'
pada sudut Memperhatikan perjanjian tanda ( + - ) pada sistim Cross seperti dibicarakan pada
terusan pada bab 6 juga dapat digunakan untuk menentukan momen ,

pada konstruksi porral, jikalau titik simpul tidak bisa bergerak, walaupun boleh bab 6. 5. 2.
memutar.
Titik simpul atau titik sudut pada konstruksi portal menjadi kaku
(tidak bisa 7.1.3. Contoh-contoh
bergerak), iikalau misalnya konstruksi portal itu bisa menyalurkan
gaya horisontal contoh 1: Konstruksi portal dengan titik simpul yang kaku, lihat Gambar 7. 1. 3. a.
kepadalotengbetonatausuaianginhorisontaldankepadadindingbangunanyang berikut.
kaku. Akan tstapi hafrls dikatakan bahwa pada banyak konstruksi portal titik sim- Dicari: Mirmen-momen pada tumpuan. titik simpul dan pada batang, reaksi tum-
pul tidak boleh dinilai sebagai kaku. puan-tumpuan dan diagram gaya normal dan gaya lintang'
Misalnya pada konstruksi portal dua ruas dengan Fo 2

gaya Fo (lihat gambar 7.1- 1. a. sebelah kanan) titik


simpul (titik sudut) dengan pasti akan bergerak di
bawah gaya Fo. Soal-soal seperti itu kita namakan
konstruksi porial dengan titik simpul yang goyah
(lihat bab 7. 2.).
GambarT' 1' 'l ' a'
gaya
Pada perhitungan momen pada sudut portal pengaruh atas gaya normal dan
lintang boleh pada prakteknya dihapuskan'
Perhitungan konstruksi portal menurut cross boleh digunakan hanya pada
konstruksi portal dengan momen lembam / pada masing-masing batang meniadi
tetap.
6 Gambar 7. 1. 3. a.
7.1.2. Cara distribusi momen menurut Gross
Momen lembam /:
DenganmenggunakansistimCrosspadakonstruksiportalkitabisa batangl B, H,
menentukan momen piaa suout-sudut. Dengan momen itu kita
akan bisa -3\* '12
l=-= = 67'500 cm{

menentukan reaksi tumpuan, momen pada batang-batang,'gaya


normal dan gaya
batang2 - 4| +
batang3 -4 + / = 686'6O0 cma
lintang. batang4 -65 I = 416'000cma
MenurutCrosskitatentukansemuatitiksimpulsebagaikakudandenganbegitu,
batangmasing.masingmenjadibalokterjepit.Sepertipadabalokterusankita
batang3 - + / = 160'000cma
305
304
batano4 7I
- | = 312'5oo4cm4 Perhitungan momen jepitan:
uatanJ5 - 8l- q = 4tlm
Angka kekakuan batang k:
p1.,_*9_!, 4.0 .7.02
batangl-3 *,, I 67',500 ---=;-tz : -16.3[ttm=
batangz-4 krn I
= 400 = 1i8.75 cm 3

- 1G33 tcm
batang3 - 4 k..
batang4 - 5 = 981 cm3
#Mqs=M?.q=" - 1633 tcm
ko.,
batang3 - 6
= 832 cm3
kr" =
I[]
320.cm3

i::ffi;_; = 625 cm3 Mq,s- _q'l'=


12 -
5.0 . 5.02
12 = -10'40tm=
Koefisien distribusi p:
- 104O tcm
Ms,c= Mq.s : 1O4O tcm
Titik simpul3: koefisien distribusip :
Distribusi momen menurut Cross:
3-l g.,: 168.75 -'Y'3'4=-12=
k,_r = 168.75 cm3 batang -,
rq6e7s =
0.1'15

981 -6
L" = . 981 cm3 batang 3.-4 -, yrn: 1469.75
= 0.667 +1
t.J0t GamLrar 7. 1. 3. b.
320
Lr.u = 320 cm3 batang 3-6 -. pr3_u:
raogTs =
0.218

rkg - 1'465.75 cm3 rFs = 1.0(X)


f-T7jd1
(5) oo
_t9
- tE8 :H:]I;H
Titik simpul4: koefisien distribusip : -35/, **l**NBlBgs +369

k3. 4-3 981 :-


-, H:tlffiiq 3r273
I I l**:
F] r+lt{l+tt++t
+17
:_3.
= Sl cm3 batang ..,r4_3:
zooo.Ts =
0.376 =1 eooo iZ + ll
eoo
LLlt
L{!9J
l-196 I

168.75 L2261
\n 168.75 cm3 batang 4-2 -, yo_r=
zooo7s =
0.065

kn-s 832 cm3 batang 4-5 -, po_u: 832 = 0.319


2606j5
625 t:iid f;td
ko-z 625 cm3 batang 4-7 -, po., = .
= 0.240
zoooTs
.6 r.10a
-19 -+l17
3t)
-+8
:& = 2'606.75 cm3
&r = 1.000
-t7E + /65

'I
. Kita mulai dengan distribusi momen pada titik simpul dengan resultante momen
Titik simpul 5: koefisien distribusi p: jepitan aM yang terbesar, pada contoh I ini, dengan titik simpul 3. Resurtante
jepitan LMrpada titik simpul 3 ini nrenjadi + 1,633.tcm, yang akan
832 Tomen
k4 = &12 cm3 [ratang 5-4 -, p5-o=
u57 = 0.570 dibagi sebagai momen distribusi kepada batang 1 _ 3, batang 3 _ 4 dan
batang 3 6 menurut koefisien distribusi g:
625 -
Lr{ = 625 cm3 batang 5-8 -,g5"=
1457
= 0.0 AM3= + 1633tcm.
:lq = 1'457 cm3
AM31 ..
- 1633 0. 115 : - 188tcm
LMro- -- 15i!3.ttE7 - -108gtcm
&s = I.000
AMs'= -1633.0,218= - 356tcm
l - ^M.=-1633tcm
J
306
307
Momen distribusi ini .akan disalurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang 5. Disitribusi momen berikut dilakukan pada titik simpul 3 dengan AM, : 1 214
berikut menurut koefisien induksi y:
- 216 : + 168 tcm dsb. sampai distribusi momen kesepuluh (sampai semua
kepadatitiksimpul 1:- 188.0.5= - 94tcm resultante momen jepitan pada titik simpul masing-masing menjadi nol).
kepada titik simpul4 : - 1089 . 0.5 : - 545 tcm
Menggambar diagram momen :
kepadatitiksimpul6 : - 356. 0.5 : - 178tcm
Pertama kita tentukan tanda (+,-) dari momen-momen yang baru diteniukan
dengan sistim Cross.
2. AMq = - 1633 - 545 + 10210 =- 1138tcm
LMq,s = + 1138' 0,376 = + 428tcm Momen pada batang-batang yang horisontal adalah positif ( + )jikalau ada
AMq,z= + 1138'0,065 = + 74tcm t
LMq,s = + 1138' 0,319 = + 363tcm - AMq =* 1138rtcm gaya tarik pada sisi bawah dari batang horisontal itu, dan menjadi negatif
(- ) sebaliknya.
AMqt = + 1138'0,240 = + 273tcm I Momen pada batang-batang yang berdiri adalah posisif (+ ) jikalau ada
gaya tarik pada sisi dalam (pada portal) atau sisi kanan (pada tiang tengah)
Momen distribusi ini akan disalurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang dari batang vertikal itu, dan menjadi negatif (- ) sebaliknya.
berikut menurut koefisien induksi y:
kepada titik simpul 3 '. + 428. 0.5 : + 214 tcm Atas dasar perjanjian tanda (+,-! ini kita boleh menentukan tanda-tanda momen
kepada titik simpul 2 : + 74 .0.5 : + 37 tcm seperti berikut:
kepadatitiksimpul 5:+ 363.0.5 =+ 182tcm
kepada titik simpul 7 : + 273. 0.5
Pada titik simpul 3:
=+ 137 tcm
batang3-4=-6.02tm Pada titik simpul 5:
batang3-1: +2.O8tm batang5 - 4 : - 3.83tm
3. AM5- - 1040 + 182: - 858tcm ) batang3-6= -3.96tm batangS*8: -3.83tm
LMs,o: +858.0,57: +489tcm l -L Mu = + 858tcm
LMs,= +858.0,43: +369tcm t Pada titik simpul4: Padatumpuanl = -1.04tm
batang4-3*-18.82tm Pddatumpuan2: - 1.30tm
Momen distribusi ini akan disalurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang ber- batang4-2= - 0.61 tm Padatumpuan6: + 1.98tm
ikut menurut koefisien induksi y: batang4-5=-15.95tm PadatumpuanT
: + 245tcm =- 1.13tm
kepadatitiksimpul4 : + 489. 0.5 batang4-7 = + 2.26tm PadatumpuanS: + 1.92tm
kepadatitiksimpul 8: + 369.0.5: + 185tcm
-1,04
4. Distribusi momen sekarang mulai lagi pada titik simpul dengan resultante
momen jepitan yang terbesar. pada contoh 1 ini, pada titik simpul 4:
LMA: + 245tcm
LM^.s: -- 245 .0,376 : - 92 tcm
AMo.z= *245.0,065: - 16tcm - ^M4=
AMq,s : * 245.0,319 : - 78tcm
I
-245tcm
AMo., : * 245. 0,240 : - 59tcm I
Momen distribusi ini akan di5alurkan kepada tiap-tiap titik simpul yang ber-
ikut menurut koefisien induksi y:
kepada titik simpul 3:
- 92. 0.5 : - 46 tcm 3,04

kepada titik simpul 2:


- 16. 0.5 =- 8 tcm 299
2
kepada titiksimpul5 : - 78. 0.5 =- 39tcm
kepada titik simpulT : - 59 . 0.5 : - 30 tcm
Gambar 7. 1 . 3. c.

+1,98 Mpn

308 309
(Penentuan momen maksimal pada bidang masing-masing lihat selanjutnya Rs,q=-14.92+5,0'5,0 = 10,08 tl AsA= - 10'08t
sesudah penentuan reaksi tumpuan dengan gambarT. 1. 3. h.).

Menentukan gaya lintang (O):


^.,u=H#&=1,le* I ..".Os,0-Oo=-1,191
Oleh momen iepitan pada ujung-ujung batang dan bebanan pada batang itu kita 86 = 1,19t* I
bisa menentukan ukuran gaya lintang menurut rumus (6. 16.) berikut:
M".M ,0,, =ulii4:0,68t*
I
R7 = 0,68t* ""'Ql-Q7=+0'68t
dengan Oo : Gaya lintang oleh beban pada sistim dasar (balok tunggal) I
Untuk menerangkan momen pada ujung batang masing-masing untuk perhitungan
gaya lintang kita gambar sistim statis dari portal tsb. dengan ukuran dan jurusan ,r.r=E*W=1,15t*
momen: I
OO) Rs = 1,15t - I
Hasil digambar pada sistim statis dari portal tsb:

. GambarT. 1.3. d.

Untuk perhitungan gaya lintang pada batang yang vertikal dan yang tanpa beban
kita hanya perlu menentukan reaksi pada tumpuan dengan hasil berikut: .l.3.
PrQm 2s=1.1s GambarT. e.

Reaksi pada tumPUan: Gaya lintang:


Dengan menentukan tanda ( + , - ) dari gaya lintang seperti berikut. kita bisa meng-
gambar diagram gaya lintang.
_ 1,M + 2,08: 0.78t *
R1
4,0 I .....O1 :Os,r:-0,78t
R?,.r = 0.78tt I Gaya lintang pada batang yang horisontal adalah positif ( + ) jikalau
batang sebelah kiri dari satu potongan sembarang akan naik ke atas, dan
:0,23t- menjadi negatif (- ) sebaliknya.
R2 I ...C,2:O.q,z- -0,231 Gaya lintang pada batang yang berdiri adalah posisif (+ ) jikalau balok
Rq,z = 0,23t * I sebelah bawah dari satu potongan sembarang akan bergerak ke kiri, dan
menjadi negatif ( - ) sebaliknya.
4,0.7,0 6,02 - 18,82
12,17 tt =+ 12,17t
Rs,t - 2' 7,0
Q,+
Pada gambar diagram gaya lintang kita perhatikan ketentuan-ketentuan berikut:
Pada batang yang horisontal gaya lintang yang positif ( + ) cligambar sebelah atas
Rq,s=-12,17+4,0'7,0 15,83 t t O+,s =- 15'831
dari batang itu, dan yang negatif (- ) sebaliknya. Pada batang yang berdiri gaya lin-
- 5,0 ' 5,0 15,95 -'3,83 tang yang positif ( + ) digambar pada sisi luar (pada portal) atau sisi kiri (pada tiang
x+s= t I =+ 14,921
2 - 5,0
14.92 Q,s tengah) dari batang vertikal itu, dan yang negatif ( - ) sebaliknya.

310 311
a78I

Gambar 7. 1. 3. g.

Menentukan reaksi-reaksi tumpuanr


l0tt q68 1,15 Gambar 7. 1 . 3. f .
Dengan ketentuan momen-momen jepitan, gaya lintang dan gaya normal dan gaya
pengikat horisOntal pada titik simpul 3 sebetulnya semua 14 reaksj tumpuan sudah
Gaya pengikat horisontal pada titik simpul (Fr): diperhitungkan.
Reaksi tumpuan tsb. adalah:
Konstruksi portal dengan titik simpul yang kaku pada contoh 1 ini menjadi kaku
oleh pengikatan horisontal pada titik simpul 3. padatumpuanl: R,n = - 0.78 1
Reaksi tumpuan horisontal {Fr} adalah: M1 1.O4tm
o,nt A23
2: Rrn =
pada tumpuan + 0.23 t
+ M2 =
-
b uett + +
q8 +
padatumPuan6: F. =
- 0'30tm
u,f + 1.19t
padatumpuano: nru = - 12.17t
ZH = 0 = - 161*0,78 + 1,'19 + 0,23 - 0,68 - 1,15
8'n = $ 1'19t
Fs= 1,42-2,61 = - 1,19t(gayatekan) Mo = $ 1'98tm
Menentukan gaya normal (lV): padatumpuanT: R* = -30.75t
Pada konstruksi portal seperti pada contoh 1 ini gaya normal bisa ditentukan R-ln = - 0'68 1

sesudah gaya lintang ditentukan. M7 1.'13tm


Menurut gambar 7, 1. 3. e. dan perhitungan reaksi tumpuan pada titik simpul 3 kita padatumpuanS: 8ru = - 10.08t
bisa menentukan pada bdtang-batang yang horisontal: 8rn 1.15 t
MB = + 1'92tm
Nr.o - Q,'78-
1.,19
- 1,19 = - l,60t
No.s= - 1,60-0,23+0,68: -1,15t Pemeriksaan mnurllt syarat-syarat perseimbangan :

2V = 4,0.7,0 + 5,0. 5,0 - 12,17 -30,75 - 10,08 = 28 + 25- 52,0 = 0


dan pada batang-batang vang berdiri: 2H = *0,78 + 0,23 + 1,19 + 1,19*0,68- 1.15 = -2,61 + 2,61 = 0
Ns.o= -12,17t Reaksi pada tiap-tiap tumpuan:
Net= - 15,&3- 14,92= -30,75t t&'tm
N s.a =
- 10,08 t
Gaya normal diperhitungkan gaya tarik sebagai positif (+ ) dan gaya tekan
sebagai negatif (-).

Pada gambar diagram gaya normal kita perhatikan ketentuan-ketentuan berikut: GambarT. 1.3. h.
Pada batang yang horisontal gaya normal yang positif (+ ) digambar sebelah bawah
dari batang itu, dan yang negatif (- ) sebaliknya.
Menentukan momen maximal lMrdan M*l:
Pada batang yang berdiri gaya normal yang positif (+ ) digambar pada sisi dalam
(pada portal) atau sisi kanan (pada tiang tengah) dari batang vertikal itu, dan yang Momen maximal bisa ditentukan seperti pada
negatif (- ) sebaliknya. t!fr balok terusan pada rumus (6. 57):

312 313
rumus (6.57.)i M^r,
R-2 Angka kekakuan batang f:
i--Mc !]- = 3 lgp
14h,45O0
yaitu: 12.172
batans't -2' ki,r= = 240cm3
Mx
Z.q.O-6.02:+12.5tm
- 4t
1073P :
batang3 ki," = 14hr4m
-b'!- =g' 201 cm3
M,,
*#-3.&l- + 6.32tm
Ukuran x dan xr dapat ditentukan pada tempat gaya lintang menjadi nol:
batans2-3* k;r=+ = #=?fficnf
Koefisien distribusi p:
A, 12.17-4.0'x:0
titik simpul 2: koefisien distrilcusi p:
kr,z : batang 1 - 2- ur,., =ffi=0.095
or' = -10;G . t'-; 24O cm3

t6 =,.:],",",2eemdaritianstensah) kz.r
= 2'?fscm3 batang 2-3*ur.r:ffi:qS
Ekz = 2'520 cm3 ZPz = 1'000

x dan x,dapat diukur dari tumpuan dengan reaksi iumpuan verfikal yang terkecil titik simpul 3: koefisien distribusi p:
(lihat gambar 7. 1. 3. h. dan diagram momen 7. 1. 3. c. ).

Contoh 2: Konstruksi portal dua ruas. Dengan suai angin konstruksi menjadi kaku
kr.r = 2,2&) cm3 batang 2 - 3* nr., :#=0.920
pada titik simpul (sudut). Menentukan momen jepitan untuk beban konstruksi atap ke,r
(loteng) dan untuk beban horisontal oleh tekanan angin. = 2OI cm3 batans3-4*r.,.=ffi=o-.P
Ik, : &s: 1'000
"* '
2'431

Perhitungan momen jepitan:


momen jepitan oleh beban merata (konstruksi atap) g : 4.0 t/m

M,: M,: - # : -i# : -21,33tm


Distribusi momen menurut Cross: (diperhitungkan seperti biasa)

Gambar 7. 1. 3. i.
oooo@@
6 Ed66rbNr6brcoi**lJo]
:BEESIPTF\I I IISI
I *1'1*,1* ,l* ,l* 'l*,lL!
lEllrotq qts *rs qrsqET
-296 l{t t\Eh6N5tqsts. 1.r71
Momen lembam /: 15il I I tNNN+tqr
I rll+ rl+ rl+ rl+ rl+ rl+
l;m
_lJ
'batangl-2 - /: 1e_l{' : 't6,00 dma = 16O(XX) cma
---J
-t
eocooe ;-5
12 trT7d @
34it4'
batang2 -3 /=
12
= 182,@dma = 1822000cma

batang3 -4 l: 3,0:ry'
12
: 10,72dma = 10710 cma GambarT. 1.3. k.

3t4 315
Menggambar diagram momen: Pada permulaan contoh 2 ini kita menentukan bahwa konstruksi portal dua ruas ini
dengan memperhatikan perjanjian tanda kita bisa menggambar diagram momen boleh dihitung dengan titik simpul sebagai kaku oleh konstruksi suai angin.
oleh beban merata (konstruksi atap) o= 4.0 tl m seperti berikut: Sekarang kita harus memeriksa, apakah suai angin betul cukup kuat untuk
menerima gaya horisontal oleh tekanan angin.

Menentukan gaya lintang (O):


Untuk perhitungan gaya lintang pada.batang yang vertikal kita hanya perlu menen-
tukan reaksi horisonlal pada tumpuan masing-masing.

ZMz= o = Rn's.oo +
12'!t * m"

Gambar7.1.3.1.
Rtt = -*(1!_!g + M2l =-3,0+ tf = * z,ut -01
Perhitungan jepitan momen jepitan: 1.2'5.02 0+3.29
-
xzl=
momen jepitan oleh beban (tekanan) adgin w = 1.2t/ m z - s.o = + 3.66 1 =42
M2= -ry{ = -12y = _3,75tm ^ Mz- Mz - 3,29 - 0,18
n2'3=- 8po =- 8po
=+0'431
=Q2's
Rs,z = + 0.43t
)
^ -375
(l)+ =11
36 -J
- - Mz 0,1R
+--2
r--2.
E,!J ^Re,q: - ?, = -rn = -o,ost I
l-d291
Distribusi momen menurut Cross: = o,,o
fiqA= -o.ost I
Gaya pengikat horisontal pada titik simgul2lF):
Dengan memperhatikan catatan di bawah gambar 7. 1.3. n. reaksi gaya pengikat
horisontal F, harus disalurkan oleh suai angin: (pada perhitungan kita memilih
Gambar 7. 1. 3. m. jurusan F, dari kirl ke kanan)
Menggambar diagram momen:
dengan memperhatikan perjanjian tanda kita bisa menggambar diagram momen Fz: R2,., * Be,o =- 3,66 1- 0.05 1 =- 3.71 t
oleh beban (tekanan) angin w = 1 .2t/ m seperti berikut:
Tanda minus (-) menentukan bahwa pilihan jurusan F, dari kiri ke kanan
sebetulnya salah, dan F, berjurusan dari kanan ke xiri, yaitu gaya tarik.
Menentukan gaya normal (y't/):

N,,r= Or,r= +0.213t


Ns.a=-Qz,s: -0.43t
Nz,s:Fz*O2,,= -3.71 + 3.66=-0.05t
Menentukan reaksi-reaksi tumpuan:
reaksi tumpuan masing-masing oleh tekanan angin (w) adalah:
padatumpuanl: R,* = -2.!ll
R'u = -0'43t
pada tumpuan 2 : F, =
- 3.71t (oleh suai angin)
padatumpuan4: Rou = +0.t
Gambar7.1.3. n.
Ro* = -0'05t
316 - 317
Menentukan momen maximal dsb. menurut contoh. 1. Koefbien distdrusi p:
titik simpul 1: koefisien distribusi p:
Contoh 3: 953
Konstruksi portal bertingkat menurut garnbar 7. 1. 3. o. Dengan pertolongan gaya kr-, = 963 crnl batangl -2 - r1,2= 1251 = 0.762
pengikat horisontal Fo, dan d,, kita bisa menentukan sistiminisebagai kaku. kr. = fficrna 2S
batangl -4 - 111,4= =_0!s
Dicari: Momen-momen menurut Cross. Ek, = 1'251 1%1
"rP :rr = l.(trO
tot tot
3p0 titik oimpul2: koefisien distribwi p:
q=\0t'/n
Fot
+ L-, = 9tB cnf
batans2- 1- yz.t=
# = o.oto
l9:. : 900 cnf
25/35 t-. = 444cm3 batans2-3 + ,".r= ffi:0.$2
z\= 2'an cms
For batans2-s * ,r,u=#-iJg
4 -25/65
2s/60 6 = 1'000
'+2
2s/45 25/t 0 I

a titik simpul3: kof isien distribusi,r :


s
batang3 -2 +
krz = g(Dcnf
L. - 2S crf r.,r= ffi -o'^t
zh = l'198crrP + F3.6: M :_ j!1s
Gambar 7. 1. 3. o. batang3 - 6 iiss
Momen lembam /: :re = l.(trO
. 25.653 titk simpul4: koef isien distribusi p:
kr, fficnf =#=0.173
kr, = 953 cnf batans4-1 - p4.1

kt, = 474crr?
lz,z: ls,a=25'a603 =450000crd Ik = 1'725"*r
batans4._S - Fr,s = # = 0.552

25 - 353
batans4 -7' ret = ffi =-!.ns
= 1'([0
'+4
25.46 titik simpul 5: koefisien dbtribusi p:
It" = -4 + rr.o= #
953 cnr3
batanss =0.32i!
La - 444cnf
/a,z = 189600 cma |!* = 900crYf
batanss -2 + ,r.r= # =o.ru,
q" = 651 cnf
/s,s : 260000 crna :\ = 2'e+z cnf batang 5 - 6 - F5,6= # =0.*
Angka kekakuan batang k:
batang4-5 + ko,u
batang 5 - 8 * P5,8=ffi=o.u
batangl-2 kr,, t I :- s7?W
600
:953cms IPs = l'GD
koefisien distribusi p:
batang2 - 3danbatang5 - 6 kr,rdanks,o:900cms titik simpul6:
batang 1 - 4 dan batang 3 - 6 k,.o dan k..u -- 298 cm3
ku = So"t batans6-5 + ,.,u= # -O.V2
batang2-5 kz_s=444cm3 L, = Ecrnr
batang4-7 ko,:474cnf
k'u-e = 250 cnr3
batang6*3 + r.,.= ffi =0.Z)6
:\ = 1',r148 cnf
batangS-8 ks.s =650cm3 batans6-9 4 ,r,r=ffi =-o.y
batango-e ,'o, : 1_ffi = 25ocm3 i :+t6 = 1'000

318 319
--\

Perhitungan momen jepitan: pada titik simpul3 : batang 3 2 I


Mt,t= Mz,t= -4r!gj!{eu =
batang 3
4: batang4-
-
- 6 t: 2.48tm
+ 4.37 tm
- 12,otm padatitiksimpul 1 =
batang 4
- 5 = -* 9.10tm
Mz) = M\t= -'o'H#'* (5,0
- 1,0) = - 8,ootm
batang 4
- 7 = 4.73 tm
pada titiksimpul5 : batang 5 = tm
- 4 - 'l
16.61
1o'o 'l-Lq' 5'0'? 15,0 . 6.0
batang 5 - 6 = 5.14 tm
Mt,s = - - 8
=- 18,19 tm batang 5 - 2 = - 0.95 tm
batang 5 - I = + 0.52 tm
15,0' 6.0 padatitik simpul6 : batang6 * 5 = 4.55 tm
Ms,n =- =- 12,64 tm -
batang 6 - 3 = + 2.80 tm
batang 6 - 9 1.75 tm
Ms,a= M,s= -18'oo- 5'oo= - 1l,25tm
pada tumpuan 7: = + 2.37 tm
Distribusi momen menurut Cross: pada tumpuan 8: = - 0.26 tm
@o@ oo@
sxE$Br**NI
Nqtn$t
i * ,l * rl* .l[*] TIT]T]B Menggambar diagram momen :

-303
:rra +180
;Ti|
+21 +78
-, +8
+41
_Jl
ft-rTit
l-12d ;t0
+l
fiia
Enil,
-o
+12
oo Pl o@o
GTBa-l
-1
-10
-291 +210
-t 52 +00
-463 lEll'9sEle* *lB*i
l-uitr*qrqqs +175
=-0
-1
+l
I rl+r
lPll rl+ lsllr +l+ +
lLl
@
Lltr+ r

oo
r

l-4731
@oo

I
Gambar 7. 1 . 3. p.

Atas dasar perjanjian tanda ( +, - ) bagi momen-momen kita dapat menentukan


tanda-tanda momen seperti berikut:
padatrtiksimpul 1: batangl-2 \
batangl-4 t = - 4.28 tm
pada titiksimpul2 : batang2
- 1
- 13.95tm
batang2 - 3 = - 12.57 tm
batang 2- 5 = + 1.38 tm
320 321
7"2. Konsiruksi portal dengan titik
simpul yang goyah

7.2.1. Penurunan tumpuan pada balok terjepit Gambar 7. 2. 1. c.


Jikalau pada satu balok terjepit satu tumpuan mulai turun vertikal ke
bawah, penurunan tumpuan itu mengakibatkan momen jepitan pada dua tumpuan Momen lembam /-'

jepitan yang mempunyai ukuran dan tanda (+,-) yang sama sebelah kiri dan
sebelah kanan. Besarnya ukuran tergantung pada ukuran penurunan tumpuan d batang 1 -- 2dan batang2 - 3 , ='u;:" : ffi000 cm{
(yang selanjutnya dinamakan sebagai koefisien pergoyangan) dan pada angka
kekakuan batang. Pada balok terjepit dengan momen lembam / tetap, momen Angka kekakuan batang k'.'
jepitan (Mn) menjadi: 3 880000 :
batangl-2 k'tz: 4 825 cm3
800

Mix= +6+d =u*',0 r dsn.k: l/l (7.1.1 batang2 - 3 k'z-r--


3 880000
?' 600
: 1100 cmr

Koefisien distribusi:
dan pada balok terjepit sebelah momen jepitan (M,rl menjadi:
titik simpul 2: koefisien distribusi:

Mi*: +
3E. l.d 4E'd
--tk' dgn. k' =
3t 0.2.t k'r-t = 825 cm3 batangl -2 Ft.z*
825
= A,4fr3
1925
1t 4l
100
- 3
1
ki-: = 1'100 crn3 batang2 Fz,t= =__qtr
1925
Sesudah momen jepitan (M,rl oleh ukuran penurunan tumpuan d pada balok terjepit
ditentukan, kita selanjutnya bisa mencari momen masing-masing pada balok
Ik, : 1'925.'n' Zp, - 1,000
terusan misalnya atau konstruksi portal menurut sistim Cross.
Perhitungan momen koreksi pergoyangan (M4):
Gambar balok terjepit
dengan penurunan tumpuan
Mi*z,t = !:f*! k,t.z : 4-?1#ryj B2s = 2600000 kscm = 26,00 tm

Gambar7.2. 1. a Mikz,t:Ll-! k,z-t : 1'219009'3 1r00 - 4620000kscm = 46,2tm

Distribusi rnomeft menurut Cros6:


Gambar balok teriepit sebelah L +Hi*

dengan penurunan tumpuan rol + | l+


0,42s | Ek.ts2s I a2y 0.572
Gambar7.2. 1. b.

Contoh: Pada balok terusan dari beton bertulang tumpuan 8 mengalami


penurunan tumpuan sebesar 3 cm oleh karena pondasi di bawah tiang itu tidak
cukup kuat. (E : 210'000 kg/cm2).
Dicari: Momen koreksi pergoyangan lM,rl yang timbul oleh penurunan tumpuan I Contoh ini memperlihatkan dengan Mix = - 34.65 tm suatu tegangan yang tihggi
itu. sekali pada sistim statis tidak tertentu oleh suatu turunan tumpuan yang agak kecil.

322 323
,/

7.2.2. Berpengaruh atas titik simpul yang goyah Momen jepitan Mopada konstruksi portal yang terjepit dan dengan titik simpul yang
Seperti berulang kali ditentukan sistim cross sampai sekarang hanya kaku adalah:
boleh dilakukan kalau titik simpul pada waktu mendistribusi momen menjadi kaku. Mo.r: * 2.69tm
Ketentuan ini pada banyak hal tidak betul. Tanpa misalnya loteng dari beton ber- Mo., -* * 5.38 tm
tulang atau konstruksi suai angin yang khusus, hampir semua konstruksi portal Mo,z = 4.22tm
menjadi goyah. -
Mo,t- * 2.11tm
contoh: Konstruksi portal yang terjepit. Untuk memudahkan perhitungan ini kita Momen jepitan dengan tanda (index) Mo menentukan, bahwa momen jepitan itu
tentukan, bahwa angka kekakuan batang k : 1 untuk semua batang. Atas dasar ditentukan pada konstruksi portal dengan titik simpul yang kaku. lni hanya mungkin
itu, koefisien distribusi F : o.s untuk semua batang. Harus diperhatikan, bahwa oleh gaya Fyang menerima gaya horisontal pada batang 2 3. -
koefisien induksijuga menjadi y: 0.5 seperti biasa.
Suatu gaya pengikat horisontal (F) menjadi positif (+ ) jikalau jurusannya
ke kanan, dan menjadi negatif (- ) sebaliknya.

Untuk menerangkan momen jepitan pada tiap-tiap ujung batang pada perhitungan
gaya pengikat horisontal (fl kita menggambar sistim konstruksi portal yang rer.jepit
dengan masing-masing momen.

Gambar7.2.2. a

Perhitungan momen jepitan :

Gambar-l .2.2. c
P' a' bz 12,0:?,9_-:,0' _ _
Mt,z : - 8 64 t_
t? 9,0, Perhitungan gaya pengikat horisontal F0:

Mt,z : *
P' a2' b ,3t;_9.4=_5,76tm Gaya pengikat horisontal Fo = gaya lintang A.,., * ArA
t,
ZMt = Q = Qr,z' 4,0 + Msj + Ms,2
Distribusi momen menurut Cross: At.z: -114(Mo,j+ Ms,2l: -114 (2,69 + 5,38) = -2,02r
ocoe
BBlagRe**tm
ZM4 = 0 = O:,q' 4,0 - Mo,s
- Mo,q
As,q: 1/4(MsB + Mo,ql = 114A,22 + 2,11r,: 1.58t
6+R I ldl
* ' + r+ r+ rll il
Fo= -2,02+1,58: -0,44t

Atas dasar perhitungan ini kita lihat, bahwa gaya pengikat (Fo)jurusannya ke kiri.
Tanpa gaya pengikat horisontal (Fo) konstruksi portal yang terjepit bergerak ke
kanan dan perlu diperhitungkan lagi sebagai konstruksi portal dengan titik simpul
yang goyah dengan koefisien pergoyangan d. Koefisien pergoyangan d mengaki-
batkan momen jepitan M,* sebagai tambahan bagi momen jepitan Mo yang bisa kita
Gamt:ar7.2.2.tt tentukan dengan cara distribusi momen menurut Cross. t
324
325
Jalan lain sebotulnya lebih berguna. Kita memilih suatu koefisien pergoyangan J Perhitungan gaya pengikat horisontal (F;1i;
(ukuran bergerak) dan menentukan momen jepitan M;p menurul bab 7. 2. 1. Oleh
momen jepitan Mp pada batang vertikal kita mendapat suatu gaya pengikat
3,00tm 2M.r:0
horisontal F;1
r\ 400 tm
Oleh karena gaya pengikat horisontal Fo pada konstruksi portal dengan titik simpul
yang goyah harus menjadi nol kita memilih koefisien pergoyangan J {ukuran
bergerak ) begitu, supaya :
1l- I Fik' 4,0 + 3,0 + 4,0 + 3,0 + 4,0 = 0

- = 3,0+4,0+3,0+40
t* q,o = 3.5t
Fo-i'F*=O atau n=- F9
Fik
(7.3.)

Selanjutnya momen jepitan Mp oleh kcefisien pergoyangan d harus dikalikan


J-i- J*
!00 tm 400 tm Gambar 7. 2. 3. c.

dengan fektor oengikaf g. Momen jepitan Makhirnya menjadi

menurut rumus (7. 3.) kita boleh menentukan I dengan:


M : Mo + F' Alli* v.4.t
t,: . # :0,126 (F" lihat pada gambar 7 .2.2. d.l

Lebih mudah lagi momen jepitan M bisa kita tentukan jikalau kha tidak memilih
koef isien pergoyangan
J, rtelainkan langsung memilih momen jepitan /1,f1.
menurut rumus (7. 4.) kita boleh menentukan momen jepitan M seprti berikut (Mo
lihat di bawah gambar 7. 2.2. b.l:
7.2.3. Contoh-contoh
Contoh 1: Konstruksi portal vang terjepit, lihat gambar 1.2.2. a. mengalami M : Mo + i' M, = Mo* 0,126 tm
pergerakan sebesar d (koefisien pergoyangan). Pergerakan d menjadikan momen Mt: Mo,t+ y'Mr,, : + 2,69 -0,126'4,0 : + 2,'l9tm
Mp.1 ,2danM;p43sebesar + Stmpadabatang 1-2dan mornen M,y1,1 danMp3.4 Mz: Mo,z+i'Mt,z: - 5,38+0,126'3,0 : - 5.00 tm
sebesar "+ 5 tm pada hratang 3-4. Mz: Mo,z+y'Mt,t - - 4,22-0,126'3.0 : - 4,60tm
Ma : Mo,o + y' Mr,o = + 2,11 + 0,126' 4,0 : + 2,6'l tm

Contoh 2: Konstruksi portal yang terjepit seperti pada contoh 1, tetapi dibebani
oleh gaya horisontal P = 3.0 t pada tiang 1-2.
Angka kekakuan batang * = 1 untuk semua batang. Atas dasar ini koefisien
distribusi g = 0.5 untuk semua batang.
Gambar 7. 2. 3. a

Distribusi momen (Ma) menurut Cross:

Hasil momen Mipadalah:


Mi*.t = -4.0tm
Mi*.2 : +3.0rm
Mi*,s = -3.0tm
Mi*.q = + 4.0tm
Gambar 7 2.3. b Gambar 7. 2. 3. d

326 321
Perhitungan momen jepitan :
Catatan: Pada contoh 1 dan 2 momen Mp oleh pergerakan d (koefisien per-
M, " : M,. = - P' h goyarrgan) adalah simetris (panjangnya dan momen lembam yang sama pada dua
88 = -3-.9_-4'0 = - 1,Stm
kaki konstruksi portal, batang 1-2 dan batang 3-4) oleh karena itu angka kekakuan
Distribusi momen menurut Cross: batang k1.2dan k3-a menjadi sama juga.
s .. b,i<- Tetapi misalnya pada contoh konstruksi portal dua ruas dengan tumpuan berengsel
';',i -l: atau terjepit menurut gambar 7.2.3 g. dan h. momen M;pberlainan pada batang
t5a Hasil momen jepitan Mo adalah: 1-2dan batang 3-4.
t5- Mo.r = - 1.9tm
"a:a Mo.z = -0.7tm
Mo,r = +0'2tm
Mo,a : - 0.1tm

Gambar 7. 2. 3- e.

Perhitungan gaya pengikat horisontal (Fo): Gambar g.


7. 2. 3. g.
Gambar7.2.3. Gambar7.2.3. h.

A7 tm A2 tm
Menurut rumus (7. 1.) kita boleh menentukan momen jepitan Mpseperti berikut:
lMro-g (lihat gambar 7. 2. 3. h)
co
s 6!:!Ld :61'
P 3t N'
i
I

sa Fo'4,0 + 3,0.2,0 + 0,7 - 1,9 + 0,2 + 0,1 :0 pada batang 1 _ztn - M* t=


"tK't ht'
&:d
hr -d = y+!f!-
6 E' kt
-+'
5
S
6,0-0,7+1.9-0.2-0.1 pada batang 3-4 Ul * Mi*,, =
6!.!r.d _6E.kr-d A utu_h,
I
" h,, h, 6E.k,
\J
I J I 4
s- _.t
4,0

oleh karena d parla titik simpul 2 dan d pada titik simpul 3 harus sama. kita boleh
1,9tm Ql tm Gambar 7. 2. 3. f
menulis:
Perhitungan momen lMipl seperti pada contoh 1 oleh d-:
Yu h, = Y-t&t:L
Mrk,l -. 4.0 rm 6E.kt 68.k,
Mir.,z : +3.0tm
Atas dasar pengetahuan ini, kita bisa menentukan perbandingan antara Mik,l
Mtr,r : -3.0tm (momen jepitan sebelah kiri) dan M6., (momen jepitan sebelah kanan) seperti
Mit,q : +4'0tm berikut:

Perhitungan gaya pengikat horisontal (Fa)seperti pada contoh 'l : F;1 = 3.51.
W-kr.k, (7.5.)
Menurut rumus (7. 3. ) kita boleh menentukan Mi*., ht ' h,
! dengan:
pada konstruksi portal dengan dua ruas dengan tumpuan berengsel lihat pada gam-
Fo + y. F,k - 1,275 + t1 3,5 = 0 F=1ff =0,3M
bar7.2.3. g. kita menentukan:
Menurut rumus (7. 4. ) kita boleh menentukan momen jepitan M seperli berikut:
M - Mo + 0,364 Ml w=ki.k"
Mi*,, ht h,
(7.6. )

Mt = - 1,9 + 0,364(-4,0) = - 1,9 * 1,456 = - 3,356 tm


Mz : - 0,7 + 0,364'3,0 : * 0,7 + 1,092 + 0,392 tm Jikalau pada konstruksi portal dua ruas satu kaki tertumpu engsel dan kaki kedua
M,= +0,2+0,364(-3"01 = -0,892tm terjepit seperti pada gambar 7.2. 3. i. berikut, kita menentukan momen jepitan M;p
Mn: - 0,1 +0,364.4,0 = + 1,356tm oleh pergerakan d (koefisien pergoyangan) menurut rumus berikut:

328 329
Gaya pengikat horisontal Fo* bagi tekanan angin sudah ditentukan di muka dengan
i:2 .,. 3.71 t.

Seka!'i:in;J kita memilih suatu pergerakan d (koetisien pergoyangan) yang meng-


Gambar7.2.3. i. akibatkan satu momen Mi*,2 = 10 tm. Jikalau titik simpul 2 bergerak oleh M7r,2
(
sebesar d, ritik simpul 3 bergerakjuga sebesar d; menurut rumus (7. 6.) kita boleh
nrenurut rumus (7. 1.) dan (7. 2.) momen jepitan M;1 adalah: menentukan:

pada batang 1 -2Ul - Mi*.r =


6+?d : 9!#j - a= Ua.t!, fl
uu : {}.L. !il : 2Q . 201
' _ o,
Mi*,, hr,z hr,o 500 400 0,503
padabatang3-4(r) 4+d 4 E'
!"' d * a = Ut*t!,, kemudian:
o#:
- Mi*., - - Mi*.r= *,*,, 1o,o '# : 'to,zt6tm
oleh karena pada titik simpul 2 dan d pada tkik simpul 3 d harus sama kita bisa
menentukan perbandingan antara rnomen jepitan M;p1dan M;p,rseperti berikut: Distribusi momen Mik menurut Cross:

w:3kt.2k,'
Mi*,, ' 17.7.t
hr h, c '^ tm
9.37 gBTtm
'i*- ( .\_
+1000

contoh 3: Pada contoh 2 (konstruksi portal dua ruas) lihat gambar 7. 1. 3. i.


tidak mencari gaya pengikat horisontal Fpada konstruksi portal dengan titik simpul
yang kaku, melainkan dihitung sebagai konstruksi portal dengan titik simpul yang
kita
-01
+26
+5
ffi
(IIII:Ii:FiFT
lT) (--) (+, rN
r'i'
goyah.
r__l
q=40t/m
3,75 tm Ql3tm

ss
I'l 7 GambarT" 2.3.

Momen M,radalah:
m.

Mix.z: + 9.37tm
Gambar7.2.3. n.

Garnbar 7.2"3.
Garflbar 7.2" k.
3. k
Ti J
i_l* M*.s:-9.87tm
Gaya pengikat horisontal F,1 oleh momen Mik:

Fx : +ffi . ffi = 1,874 + 2,47 = 4,s4t


Gambar 7. 2. 3. l.
Menurut rumus (7. 3.) kita bisa menentukan rl:

Ukuran konstruksi portal, beban merata, tekanan angin, angka-angka kekakuan u -- - F./Ft^
batang dan koefislen distribusi dsb. diambil dari contoh 2, bab7. 1.3.
,t=- 0.03
4,U =-0,0069=0
Momen Mo adalah: 3.75tm
-Mo.z: - Oleh karena r: (hampir) nol pergoyangan pada konstruksi porta{ dua ruas ini ka-
Mo.s = - 3. 13 tm (lihat gambar 7.3.2. l.l
rena beban merata (konstruksi atap) boleh dikata.kan tidak ada.
Gaya pengikat horisontal Fobagibeban merata: Akan tetapi pergogyangan ada oleh beban (tekanan) angin. Menurtrt rumus (7. 3.)
_ 3,75
Fa:-. _-_ *
3,13 kita blsa menentukan pr:
" 5,0 4,0- =-0,75+0,78=+0,03t -
u=-
(-3.7)
454 ==+0,85
330
3['1
E
Momen Mo sudah ditentukan pada gambar 7. 1. 3. m. dan 7. 1. 3. n. dengan: 'tr.t
Mo,z= -3,29tm
Mo,t= + 0,18tm FI

Menurut rumus (7. 4. ) kita bisa menentukan momen M2dan M, seperti berikut:

M = Mo+ l'Mix
Mt= -3,29+ 9.37'0,85: -3,29 + 7,96: + 4,67tm
Mt: + 0.18-9,87'0.85: +0,18-8,39= -8,21tm Gambar7.2.4. a. Gambar 7. 2. 4. b.

Dengan memperhatikan perhitungan secara ini, kita boleh memenuhi rumus (7.3.)
Perhatikan perobahan besar bagi momen ini kalau dibandingkan dengan momen
dan rumus (7. 4. ) seperti berikut:
Modari portal dua ruas dengan titik simpul yang kaku.
Menggambar diagram momen-(Mo + y.Mll oleh tekanan angin:
Ft,o t lrt' Ft,, + w' Ft,z : 0 (7.8. )

Ftt., * irr ' Ftt.. + ttz' Ftt,z: 0 (7.9.)

dengan faktor pergoyangan I-r1 dan p, kita boleh menentukan M seperti berikut:
N
b
+ M = Mo + yi Mt + yz'Mz (7.10.)

Contoh: Pada contoh 3, konstruksi portal bertingkat dengan titik simpul yang kaku,
Iihat gambar 7. 1. 3. o., kita tidak mempunyai lagi gaya pengikat horisontal Fo.1 dan
Fo,11 melainkan suatu tekanan angin W, ..- 1.5 t dan Wo: 3.5 t.
Ukuran portal, beban merata dsb., angka kekakuan batang dan koefisien distribusi
masing-masing diambil juga pada contoh 3 bab 7. 1. 3. Gambar situasi dan gambar
Gambar 7. 2.3. o dengan momen masing-masing diperingatkan sebelah bawah:
428 7.38 2,48

w7

lt< |
3,00 -
iil l;-'1,-
,l*- q95 *
7.2.4. Konstruksi portal bertingkat dengan titik simpul yang
goyah o
c)
<!)'
11- I'
,u

437 tm 2,80
iW+
..l+ Gambar7.2.4. d.
Sistim perhitungan pada konstruksi portal dengan titik simpul yang goyah t3,5 t
menjadi lebih sulit jikalau ada beberapa gaya pengikat horisontal (Fo). Misalnya 4, /J a52 1,75
o +,.\- t,
pada konstruksi portat bertingkat pertama kita menggerakkan tingkat satu dengan
it' Fto 14
ls- lo

l,* l'*
koefisien pergoyangan d-1. Selanjutnya kita memperhatikan tingkat satu sebagai I

kaku dan menggerakkan tingkat dua dengan koefisien pergoyangan J,, dsb. Pada J-- I
prakteknya kita mulai perhitungan pada tingkat teratas dan menurun tingkat demi
tingkat ke bawah. 5,00, ?,37
J,._
tm 0,26

Gambar7.2.4. c Gambar7.2.4. e.

333
332
Gaya pengikat horisontal F1,o dan Fs1.o oleh gaya dan beban yang vertikal menjadi: Distribusi momen M11 menurut Cross:
F;1,o oleh momen jepitan dari batang 1-4,2-5 dan 3-6 menurut Gamhrar 7.2. 4. d.
o(9o eo@
Fu,o - 4,28 * 4,37 + 1,8 + 0,95 + 2*9t 39
-,-- =- *0,vl7t sRtB;t*lisl *l3gP-llpl
3,00--:*- ll+ rl+lLIl rlt +r I+lLrl

Fq,o oleh momen jepitan dari batang 4-7 ,5-B dan 6-9 menurut gambar 7 .2. 4. e.

Fr,o: + 0,347 + - 4,73 - 2,37 + 0,52 + 0,26 + 1,15


=- 0,796 t
,rLLo
+26-
@oo
4,00
Gaya pengikat horisontal Fyyl,o dan F1ry11,o oleh gaya (tekanan) angin. Oleh karena
tekanan angin W, dan Wo membebani konstruksi portal ini pada titik simpul 'l dan 4,
tekanan angin tidak mengakibatkan momen pada konstruksi portal ini, Gaya Ganl
pengikat horisontal F,,ry1,o dan F1ry'1.o menjadi sama dengan WrdanWo. -_-J
-9
I
Fwrr,u : - 1,5t F*,, : - 3,5t - l2t
-83
+1000
Perhitungan rnomen M1 dan Mnoleh pergerakan (koefisien pergoyangan) d, dan d,,
sembarang: lEllt*ro+iG
lHll lNq+6
lA[ I l+N
Atas penentuan koefisien pergoyangan d1 yang sembarang bagi tingkat satu pada Llllr+ll+lt r

konstruksi portal bertingkat ini, kita juga harus mencari koefisien pergoyangan ,11 CIo@
untuk tingkat dua untuk menentukan momen Mldan Mupada akhirnya.
Setindak demi setindak kita bisa menghitung seperti berikut:
@
-96
Penentuan momen Mil:
Koefisien pergoyangan d', sembarang pada titik simpul 1 rnengakibatkan pada
Garnbar 7. 2. 4. f.
batang 1-4 suatu momen M6,rdan Mi*,. : + '10 tm.
Menurut rumus (7. S.)tita boleh menghitung: Atas dasar distribusi momen menurut Cross momen-momen Mn rneniadi:
Mir.r-&;-.lu- pada titik simpul 1: batang 1 - 2l
Mix., hz,s hr,o
batang 1 - 4l
7.54tm
pada titik simpul2: batang 2 6.37 tm
oleh karena h2 5 soma dengan hj_4 kita menentukan: - 1
batang 2
- 3 6.13 tm
W --
kz s tvtik'2. -= M.1.. !-]-L
batang 2 - 5 12.50 tm
Miu,, - kr,.o -M, 'vt*'r k* pada titik simpul3: batang 3 2\ 7.34tm
batans3-6t
Menurut contoh 3 pada bab 7 . 1 . 3. angka kekakuan batang kr-r : 298 dan kr-, = pada titik simpul 4: batang 4 7.78tm
zlzl.t[, s6l66jrr16ya kita menentu kan
- 1

batang 4 + 5.72 tm
- 5
batang 4 - 7 tm
Mi*,r: Mix,, = 10.0. 444/298 : 14,90 tm
pada titik simpul 5: batang 5
2.06
- 4 5.17 tm
Oleh karena angka kekakUan batang 3-6 sama dengan batang 1-4 kita boleh menen- batang 5 - 2 12.6'l tm
tukan, bahwa Mi*,. = M;1,6 juga menjadi 10 tm seperti juga Mip,rdan M;p.0. batang 5 - 6 + 5.30 tm
batang 5 - 8 2.14tm
pada titik simpul 6: batang 6 6.19 tm
- 5
batang 6 - 3 + 7.49 tm
batang 6 - 9 + 1.30 tm

334
335
-v
rumpuan 7: : + 1.03tm Distribusi momen M7 menurut Cross:
\r6a rumpuan 8: : + 1'07 tm
\ad' @eo o@e
F1,2oleh My:
* ctr do cJls-l
Nq t$l sr-:t**li{l
+1 I r1+ rll +t
, oengikat horisontal Fx,2dan +|lr.lrqt+l

Gay'"'
-41 12.5 734 2,06 2,14 1,30

i\-
4'li-\-\2- tr

.rnin 12,61 7,49 {u-


1,03
l,
tnt
J,* I,*
1,07
E@
Gambar 7. 2. 4. h.
-n67.2.4.9- +2
G|f'- :.-T
.2.4. g. gaya pengikat horisontal meniadi: +6
.rrrut gambar 7 F11,2
-txtt
lle"-
[*]l**1.:lesisl +1380
'l
,il + 7J8 + 12,fi + \2,61 + 7,34 + 7,49 _ .a - t!!
Bl. l.,i-Tlrl il5
lg'azA.r +t

Ft,,
z 3'oo - e@oo +7
[.r r;al

gambar7. 2. 4. h. gaya F1,2menjadi:


-140nurut
dlt'
2.06 1.03 2,14 1,07 *.]13!
- - - - = _ 20,31
il-.--18,42*ff
momen Mi. Gambar7.2.4. i
^ooilan
p0r'l-1sn pergoyangan d1 sembarang pada titik simpul 4 mengakibatkan pada
yoe"no4_7 pada titik simpul 4 dan 7 suatu momen Mi*,a - M*.7 - + '10 tm. Atas dasar distribusi momen menurut Cross. momen-momen Ml meniad|.
bat'',irtrumus (7. 5.) dan rumus (7. 7.) kita boleh menghitung: padatitiksimpul 1: batangl -2\= _ 0.57tm
t\,lEI'"
4t
batang 1 -
1 = +
H:
' pada titik simpul 2: batang 2 - 0.46 tm
M,r.o :1o,oo 13,8 tm
tril,b, ,*, batang2-3 = - 0.25tm
batang2-5 = - 0.71tm
pada titik simpul 3: batang 3 - 2
2 k6.g
,o,oo 3.5tm batang 3 - 6,
I= * 0. 17 tm
3 kq.t ?:ffi= padatitiksimpul4: batang4-1 - + 1.35tm
batang4-5 - + 6.35tm
batang4-7 - + 7.70tm
pada titik simpul 5: batang 5
-4 = - 5.84 tm
batang5-2 = + l.60tm
batangS-6 = + 3.94tm
batang5-8 = + 11.38rm
pada titik simpul 6: batang 6 .. 5 = - 2.fXl tm
batang6-3 = -* 0.35tm
batang6-9 = 3.18tm

337
pada tumpuan 7: : 8.85 tm Mornen pada titik simpul 1:
pada tumpuan 8: : 12.59 trn bratang 1-2 =- 4,28+0,1094'(* 0,57) +0,0282'(+ 7,54l= 4,',r3 tm
batang 1*4:* 4,28 +0,1094'(- 0,57) +0,0282'(+ 7,541 - 4,13 tm
Gaya pengikat horisontal F11.1 clan F1,1 oleh Mp

Momen pada titik simpul2:


057 Q7t An
batang 2*1
tt;- ri- t, batang 2 * 3
= -13.95+0,'1094'(+ 0,46) + 0,0282'(- 6,37) =
= - 12,57 + 0,i094' {- 0,25) + 0,0282'( + 6,131 =
- + 1,38 + 0,1094'(- 0,71) + 0,A282 '(+ 12,501 =
-* 14.08 tm
12,43tm
+'l ,65tm
,1,* *lr- ,]r.-
l,J|tm 1,60 0,35
batang 2*5

Momen pada titik simpul3:


batang 3-2 : - 2,48 +0,1094'{+ 0,17) + A,0282'(- 7.34) "= - 2,67 tm
Gambar7.2.4. k. GambarT' 2.4. l.
batang 3-6 = - 2,M +0,'1094'(+ 0,17) + A,0282'l-- 7,&l = - 2,67 tm

menurut gambar 7. 2. 4. k. gaya pengikat horisontal F11,1 menjadi:


Momen pada titik simpul 4:
, il.t -
a,57 - 0,71 - 0,17 - 1,35 - 1,60 - 0,35 : .r.CO
Eo .i
batang 4*1 : + 4,37 +0,1C8)4'("r- '1,35) + 0,0282 ' (- 7,78) = + 4,30 tm
3,00
batang 4--5 = - 9.10 + 0,1094'(+ 6,35) + 0,0282' (+ 5,721 = - 8,24 tnt
dan menurut gambar 7. 2.4.1. gaya F;.1 menjadi: batang 4-7 = - 4,73+ 0,1094'(+ 7.7 l .+ 0.0282' { - 2.06i = - 3,95 tm
7,70 + 11,38 + 3.18 + 8,85 + 12,59
FLr= +1,8+ 4,m
=+ 12,51 t
Momen pada titik simPul 5:
batang 5*4 = * 16,61 + 0.1094'(- 5,84) + 0,0282' (- 5,171 = * 17,40 tm
Penentuan faktor pergoyangan tr1 dan 1t2i
batang 5 -- 2 = -- 0,95 + 0,1094'( + 1,6 ) +" a,0282 '(-- 12,61) = -* 1,13tm
Faktor-faktor pergoyangan 1,lt dan p2 bisa diperhitungkan dengan penggunaan
batang 5-O : +0,1094'(+ 3,9'4) + 0,0282' (+ 5.30) = 14,56tm
rumus (7.8.)dan rumus (7.9.)seperti berikut: -15,14
batang 5-8 : + 0,52 + 0,1094'(+ '11,38) + 0,0282 ' (-. 2,14) = + 1,70 tm
Ft,o + ltr' Ft,, + irr' Ft,z :O
Ftt,o + lrr ' Flt,, + lrz' Ft,z: O Momen pada titik simpul6:
batang 6-5 : - 4,55 + 0,1094't- 2,83) + 0,0282 '{- 6,19} = - 5,03tm
a) dengan hasil pada gaya dan beban vertkal: batang 6-3 : + 2,80 + 0,1094'(-' 0,35) +0,0282'lt'7,491 =+ 2,97tm
6--9 : - 1,75 + 0,1094' (- 3,18) +0,0282'(+ 1,30)=- 2,06tm
- 0,796 + lL'12,51 + lz' l- 20,3) : 0 Fr = 0,1094 batang

- 0,U7 + lrr'(- 1,58) + lz'18,42:0 lz= 0,0282


Momen pada tunrpuan 7:
b) dengan hasil pada gaya (tekanan) angin: (*
lVl.r ,= + 2,37 + 0,1094. 8,85) +0,0282.{+ 1"03} = + 1,43tm
- yz'(- 20,3) :
3,5 + itt'12,51 + 0 t\: O,479
Momen pada tumpuan 8:
- ,5 + lr''(- 1,58) + ttz'18.42: b:0,123
'l
Me: * 0,26+ 0,1094. (*
O
12,59) + A,0282.1+ 1,07) =- 1.61tm
Momen-momen oleh beban vertikal sebetulnya bisa ditentukan menurut
17. 10.1 seperti berikut:
M = Mo+ ltt'Mr + iz' Mt

Momen Mo diambil pada contoh 3 di bawah gambar 7. 1. 3. p.

338 339
Gambar diagram momen oleh gaya dan beban vertkal: Momen pada titik simpul 4:
batang4-1:0,479'l+ 1,35) + 0,123.1* 7,781 = -0,31 tm
batang4- 5 = 0,479.(+ 6.35) +lO,tZS.l+ 5.721 = + 3,74tm
s
batang4-7:0,479'(+ 7,70t. +0,123.(- 2,06) = +3.2t4tm
r'
6
t\
lo
3's{'
Momen pada titik simpul 5:
batang 5- 4 = 0,479' (- 5,84) + o,'t23 . (- 5,17) = - 3,42 tm
batang 5- 2: 0,479 . (+ 1,6 ) + 0,123 . (- 12,61 ) = - 0,78 tm
batang 5- 6 : 0,479 . (+ 3,94) + 0,123 . (+ 5,3 ) : + z,il tm
batang 5- 8 = 0.479' (+ 11,38) + 0.123 l- 2,141 = + 5.18 tm
Momen pada titik simpul 6:
batang 6- 5= 0,479 . l- 2,831 + 0,123 . (- 6,19) : - 2,"12 tm
Ir;ii batang 6- 3= 0,479 . l- 0,35) + 0,123 . l+ 7,491 = + 0,75 tm
6- I = . (- + 0,123 . (+ '1.3 ) =
batang 0,479 3,18)
- 1,S tm
Momen pada tumpuan 7:
Mz = 0,479 (- 8,85) + 0,123 ' (+ 1,03) : - 4,10 tm

Momen pada tumpuan 8:


Ma : 0,479 . (_ j2,S9t + 0,123 . (+ 1,07) = 5,89 tm
-
Gambar diagram momen oleh gaya (tekanan) angin:
(o Gambar7.2.4. n.
(o
?+r,20

_ Gambar7.2.4.m.

Momen-momen oleh tekanan angin yang sebetulnya bisa ditentukan juga menurut
rumus (7. 10). perlu hanya diperhatikan. bahwa Mo : O.

Momen pada titik simpul 1:


batang 1-2 =0,479'l- 0,57) + 0,123'l + 7,5a1 = + 0,65tm
batangl-4=+0.62tm
Momen pada titik simpul 2:
batang2-1=0,479 '(+ 0,46) + 0,123'l+ 6,37) = -0,56tm
batang2-3:0,479 '(-0,25) + 0,123'(+ 6,13) = + 0.63tm
batang 2 - 5 = 0,479' l- 0,711 + 0,123' (- 12,50) = + 1,20 tm

Momen pada titik simpul 3:


batang 3 - 2: 0,479'l+ 0,171 + 0,123'l- 7,231 : - 0,82 tm
batang 3-6 : -0,73tm
340 341
Dengan pengetahuan yang ada sampai sekarang kita hanya bisa menentukan len-
dutan pada balok tunggal menurut bab 2.8. (Perhitungan lendutan dan garis
elastis). Untuk perhitungan lendutan pada konstruksi rangka batang misalnya
8. Perubahan bentuk elastis belum ada pengetahuan dasar.
Pada bab-bab berikut kita menentukan cara untuk memperhitungkan perubahan
bentuk elastis tidak hanya pada konstruksi batang dan rangka batang melainkan
juga perubahan titik simpul pada tiap jurusan sembarang'.

8.1. Pengetahuan dasar


8.2. Teoritentang keria virtual
Pada bab 2. (llmu inersia dan ketahanan) sudah ada beberapa ketentuan
dan rumus tentong perubahan bentuk. Dengan pengetahuan itu, terutama bab 2. 3. 8.2.1. Kerja virtual
2. (Gaya torsi) dan 2. 8. (Perhitungan lendutan dan garis elastis), kita bisa Asas tentang kerja virtual ditemukan oleh Lagrange pada tahun 1788.
menghitung lendutan dan putaran pada konstruksi batang dengan garis sumbu Tetapi harus dikatakan, bahwa pada prinsipnya kerja virtual sudah diketahui lebih
yang lurus. Pada perhitungan perubahan bentuk untuk konstruksi rangka batang
dahulu. Mengenai asas kerja virtual kita mengakui bahwa ini bukan satu ketenttlan
dan untuk konstruksi derrgan sistim statis tidak tertentu kita dalam bab ini mencari
atau perjanjian, oleh karena dalam beberapa hal asas ini tidak mungkin dibuktikan.
metode-metocje untuk menentukan perubahan bentuk pada konstruksi-konstruksi Akan tetapi dari penggunaan dan pengalaman kebenaran asas tentang kerja virtual
dalam bidang. Selanjutnya kita terutama memperhatikan perubahan bentuk elastis,
sebetulnya sudah cukup dibuktikan. Ada beberapa buku ilmu mekanika teknik yang
sedang hubung6n hubungan teoretis hanya ditrerikan sedikit saja, menurut ke- menerangkan seluruh Statika atas dasar asas tentang kerja virtual, kebalikan
oerluan dan secara umunl.
dengan misalnya buku ini, yang menerangkan dasar-dasar statika atas jajaran
Teori-teori tentang perubahan bentuk elastis yang lebih luas dan lebih dalam mem- (belah ketupat) gaya-gaya.
br.rtuhkan keluasan studi/mata kuliah jurusan arsitektur.
Selanjutnya penerangan mengenai asas kerja virtual langsung mulai pada
Berikut daftar perubahan bentuk dalam alasan yang bisa mengakibatkannya:
konstruksi batang dan rangka batang dalam bidang. oleh karena bagi kita dalam
buku ini yang penting ialah prakteknya. Oleh karena itu asas tentang kerja virtual
pada suatu titik atau suatu benda dalam ruang kita terbatas.
Gaya normal Kata 'virtual' dari bahasa latin = virtus : kemungkinan, kemampuan, mengan-
perubahan suhu seragam dung maksud, bahwa pergeseran/pergerakan dalam jurusan sembarang harus
mungkin. akan tetapi hubungan antara bagian-bagian konstruksi batang atau
Momen lentur
rangka batang tidak boleh terusakkan.
Gaya lintang
Suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi ba-
Sebagai keterangan kita membayangkan suatu konstruksi batang atau rangka
wah pada suatu konstruksi batang
batang dikenai gaya-gaya P1 dan momen-momen M1.
Gaya-gnya dan momen-momen ini menjadi satu kumpulan yang seimbang. Kita
boleh rnengntakan:

Pada konstruksi batang dan rangka batang momen torsi tidak timbul, karena itu trr-o tr*r* t*r=o
selanjutnya kita membatasi diri pada pembicaraan tentang pemutaran. Juga pada Dalam rumus ini ry menjadi jarak siku-siku dari gaya Ppdan suatu titik kutub sem-
bab 2. (llrnu inersia dan ketahanan), kita telah mempelajari, bahwa pengaruh gaya barang. Perubahan bentuk pada konstruksi batang atau rangka batang mengaki-
lintang pada lebar bentang dan ukuran balok yang biasa, pada umumnya kecil batkan pergeseran d dan perputaran (p, pergeseran titik simpul k yang bertepatan
sekali. Karona itu selanjutnya kita juga mernbatasi diri pada pembicaraan tentang dengan jurusan gaya-gaya P1 disebtltkan sebagai d1.
hal itu dalam buku ini. Fada umumnya kita hanya memperhatikan gaya normal, Selanjutnya kita membayangkan beban konstruksi batang atau rangka batang oleh
momen lentur dan perbedaan suhu untuk menentukan perubahan bentuk, dan suatu kumpulan gaya virtual. Untuk gaya-gaya virtual dan momen-momen virtual
terutarna yang harus diperhatikan ialah lendutan. ini kita boleh juga mengatakan:

342 343
4F* = o itrrrr * |Mx: O
Jikalau gaya virtual dan pergeseran berjurusan sama atau momen virtual
Selanjutnya kita menyebutkan sernua g6ya, momn, ukuran atau nilai yang dan perputaran jurusannya sama, kerja virtual menjadi positif (+ ) jikalau
berhubungan dengan kumpulan gaya virtual dengan garis melintang di atas huruf- krorlawanan menjadi negatif (-).
nya. oleh kumpulan gaya virtual titik simpul k mengalami suatu pergeseran virtual
d1. Tergantung pada bentuk dan cara konstruksi batang atau rangka batang dan Rumus (8. I.) menentukan, bahwa jumlah semua kerja virtual menjadi nol, atau
menurut besarnya kumpulan gaya virtual, pergeseran virtual bisa amat kecil. dengan kata-kata lain:
Batasan ini sebetulnya suatu keharusan supaya jurusan gaya-gaya p1 tidak meng-
alami perubahan. Jikalau suatu konstruksi batang atau rangka batang yang menerima
Pada gambar (8.2. 1. a.) berikut kita melihat suatu titik simpul pada suatu k beban. gaya dan momen menjadi seimbang, seharusnya jumlah pergeser-
konstruksi batang atau rangka batang dikenai gaya-gaya p1 (resultante). oleh an oleh kerja virtual yang amat kecil (jumlah gaya virtual dan jumlah
beban kumpulan gaya virtual titik simpul k mengalami pergeseran ke k-. Karena momen virtual) menjadi nol.
penggeseran lurus v1 menjadi amat kecil kita juga boleh mengatakan, bahwa peng-
geseran itu menjadi satu sektor lingkaran dengan jari-jari ek, atau dengan kata-kata
Antara gaya-gaya P1 dan momen-momen Mkyang diterima oleh konstruksi batang
lain, tiap pergeseran yang amat kecil boleh juga ditentukan sebagai suatu putaran O
atau rangka batang, dan gaya virtual P1 dan momen virtual Mptidak ada hubungan.
pada suatu titik kutub O.
Hanya dasar-dasarnya yang sama yang menentukan bahwa jumlahnya harus seim-
bang.
Giliran ini boleh juga dibalik, sehingga pertama kumpulan kerja virtual meng,enai
konstruksi batang atau rangka batang, dan pergeseran diakibatkan oleh kumpulan
gaya Ppdan momen M1. Ketentuannya tidak diubah, dan hasilnya seperti berkut:

\ iPkdk
+
lMr*=s (8.2.)

, Gambar8.2.1.a. Rumus (8. 2.) boleh digunakan untuk menentukan konponen perubahan bentuk
Pada persarnaan keseimbangan di atas titik kutub masih sembarang. oleh suatu kejadian perubahan bentuk yang tertentu dan oleh suatu kefadian
Pada gambar 8.2. 1. a. dipilih titik kutub O dan boleh dikatakan:
perubahan bentuk sembarang. lsi rumus ini dinamakan sebagai asas kerja virtual.
Rumus ini menjadi dasar $erhitungan-perhitungan perubahan bentuk pada sistim
tr : so<p
statis tidak tertentu.
d1-vlcosW Sebagai kebalikan dari dasar itu kita bisa mengatakan selanjutnya:
&: qrcosV
6] = p^a*cos V= r*tp Jikalau pada suatu pergeseran virtual sembarang pada suatu konstruksi
batang atau rangka batang jumlah semua pekerjaan dan junrlah semua
rk= {r gaya menjadi nol, gaya-gaya itu berarti dalam keseimbangan.
=
q
hasil-hasil ini bisa diiskan pada rumus ZM * 0 tadi, maka rerdapat rumus (8. l.):
n n 8.2.2. Persamaan keria pada konstruksibatang
2Ppi 1+ \Mptp = g (8.1.1
1 1 Pandangan-pandangan dari bab 8. 2. 1. yang umum kita lanjltkan pada
konstruksi batang. Pada bab 8.2.'l . ditentukan, bahwa jumlah gaya dalam dan
Menurut ketentuan ilmu alam suatu hasil kali di bawah satu angka jumlah r adalah gaya luar seimbang. Juga pada konstruksi batang jumlah kerja virtual harus men-
suatu kerja. Oleh karena kerja ini diakibatkan oleh suatu kumpulan gaya virtual kita jadi nol. lni berarti, bahwa kerja virtual luar 4, menjadi sama dengan kerfa virtual
menamakan kerja ini kerja virtual. dahmA;.

344
345
selalriutnya kita perhatikan kerja virtual luar. sampai pada saat ini belum ada keten- 2. lVlomen lentur
tuan apa pun bagi gaya virtual baik banyaknya maupun ukurannya. sebetutnya
srrttu gaya Fatau yang berhubungan dengan satu mo{yleR &ddengan reaksi-reaksi
Oleh pembebanan dengan momen lentur maka batang akan melengkung.
tumpuannya sudah mencukupi untuk penentuan nihi beban virtual. pada umurn- Perubanan J:entuk oleh sudut putar rp pada garis elastis boleh ditentukan seperti
berikut:
nya dianggap F = 1.0 atau M = 1.0 maka kita katakan:

Aa = t,Oa* + ZCc: Ai
dengan Pk = 1,0 !=A.].Y.'rq--M
- Et 'G--E/ ,^- q--) (
oan M
A:,J"'-i -ds
EI

Aa = f,O,px + ZCc: Ao, dengan Mk : 1,0 keria virtual dalam oleh momen lentur boleh kita tentukan sebagai berikut:
Nilai dpada penentuan ini meniadi reaksi tumpuan oleh beban virtual dan c meniadi
pergeaeran tumpuan pada arah (jurusan) reaksi tumpuan. Penentuan ini b&h
iuga
Aiw = rMM o" (8.4.)
dirrbah dengan hail berkut: ) -pT
1,0 dk : 41- 2Cc = Ai
1,4 qk
- tCc
Pergeseran pada titik simpul k sebetulnya adalah kerja virtual dalam, dikurangi 3. Perubahan suhu seragam (t"l
dengan kerja virtual tumpuannya. Kemudian kita harus menentukan kerja virtual Perubahan paniangnya batang oleh perubahan suhu seragam adalah:
dalam. oleh karena kerja virtual luar menjadi hasil kali gaya virtual luar dan peng-
geseran yang sebenarnya. Atas dasar ini boleh kita katakan, bahwa kerja virtual t'
dalam seharusnya hasil kali beban virtual dan perubahan bentik yang sebenarnya.
As - 4/ss atau: As - J or'rds
Selanjutnya kita menentukan kerja virtual dalam oleh pengaruh masing-masing.
kerfa virtual dalam oleh perubahan suhu seragam boleh kita tentukan sebagai
berkut:
1. Gaya normal
Ao,: J
r rly'a,tds (8.5.)
Perubahan memanjang pada suatu batang oleh gaya normal dapat ditentukan
dengan:

N
As= 4. Suhu yang berbeda.pada sisi atas dan sisi bawah pada konstruksi
EF'
betang (Atl
Baiklah kita meneliti rumus ini obh karena mernilng mungkin gaya normal (rv) atau
Oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi bawah maka batang akan
luas batang (F) tidak menjadi tetap pada selr.rruh paniang (s) dari batarlg itu, rnaka p
melengkung. Perubahan bentuk oleh sudut putar pada garis elastis boleh diten-
kita menulis: tukan sebagai berikut:

a": Joa" : (o.At


I !, o' 1
p ="_4f
h'a
1 _ d<p dan
ds
q= ) , d"
kerja virtual dalam obh gaya normal bobh kita tentukan sebagai berikur:
kerja virtual dalam oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi bawah boleh kita
tentukan sebagai berikut:

8rro,
o,r= f (8. 3.)
a,o,= { nff a' (8.6.)

346
347
5. Gaya lintang Dengan bantuan rumus (8.8.)kita bisa menentukan pergeseran d* pada suatu titik
Walaupun kita menentukan atas dasar bab 8. 1., bahwa pengaruh gaya lintang k pada satu konstruksi batang di bawah pengaruh momen lentur, gaya normal,
terlalu kecil dan boleh diabaikan, kita menentukan selanjutnya kerja virtual dalam. gaya lintang dan perubahan suhu. Selanjutnya kita menentukan masing-masing
Pergeseran pada garis sumbu oleh gaya lintang adalah: diagram gaya lintang, gaya normal dan momen oleh beban sebenarnya (dasar) dan
selanjutnya kita tentukan diagram masing-masing tsb. oleh gaya virtual Fr = 1.0.
(xA Pada waktu itu gaya virtual F1 = 1.0 bekerja pada titik dan jurusan pergeseran d1
w= ) ds
* yang dicari.
Jikalau kita mencari perputaran 91 garis sumbu batang pada titik k kita juga boleh
kerja virtual dalam oleh gaya lintang boleh kita tentukan sebagai berikur:
menggunakan rumus (8.8.). Sekarang hanya kita pasang momen virtual ilr = l.g
pada titik dan jurusan putaran yang dicari. Bagi beban ini kita menentukan diagram

a,o-Jffa" (8.7.)
masing-masing tersebut.
Momen, gaya normal dan gaya lintang berhubungan dengan suatu bagian batang
yang amat kecil (ds) pada suatu titik sembaran S. M, N, Q dan il, y'rl, O menentukan
nilai-nilai pada titik x pada suatu konstruksi batang. Pada perhitungan integral
Dengan begitu kita sudah mengetahui masing-masing bagian dari kerja virtual fungsi-fungsi pada tiap-tiap gaya harus dikalikan sebelum diintegralkan. Penginte-
dalam. Persamaan kerja pada konstruksi batang dibaca seperti berikut: gralan berhubungan dengan seluruh panjangnya konstruksi batang. Pengintegralan
itu mula-mula kita rasa agak sulit. Akan tetapi pada pembebanan yang biasa timbul,
kita mempunyai tabel-tabel yang sudah diintegralkan pada lampiran l. 2. dan peng-
t,odr= I#a"+ J !, o,: I# a"-- f N,s,a,+ J u ff a,->cc gunaannya dapat diterangkan pada bab 8. 2. 4. (Hasil pengintegralan pada kerja
virtual).
(8.8.) Persamaan kerja pada konstruksi batang (8. 8. ) diisi semua kemungkinan
pembebanan pada konstruksi batang dalam bidang. Suatu perubahan tumpuan
'l
Sebetulnya faktor. .O pada sebelah kiri boleh dihapuskan oleh karena tidak ada tidak terjadi selalu, dan pengaruh pada .suatu perubahan suhu biasanya
pengaruh atas hasil persamaan kerja ini, walaupun kita tidak boleh lupa, bahwa diperhitungkan terpisah. Pengaruh pada gaya normal dan gaya lintang, seperti
faktor il6 sebelah kiri menjadi kerja virtual luar. sudah dikatakan pada bab 8. 1. (Pengetahuan dasar) blasanya boleh diabaikan.
Pada persamaan kerja pada konstruksi batang ini masing-masing bagian berarti: Atas dasar ini, selanjutnya tinggallah suatu rumus yang jauh lebih sederhana:
M, N, Q Momen. gaya normal. gaya lintang pada titik x oleh beban yang
sebenarnya f uart
M, N, A Momen, gaya normal, gaya lintang pada titik x oleh beban virtual Fp 1,Odk: ) :; a"
= 1.O atau M* = 1.Q pada titik ke arah d1 atau dengan sudut p1
d Reaksi tumpuan oleh beban virtual
c Pergeseran sebenarnya dari titik tumpuan dalam jurusan reaksi tum- Jikalau kita perhatikan momen lembam / yang tidak tetap, kita isikan suatu per-
puan (pada umumnya menjadi nol) bandingan momen lembam l./ I ke dalam rumus yang tadi seperti pada syarat per-
t
Af
Perubahan suhu seragam
Perbedaan suhu antara sisi atas dan sisi bawah pada suatu batang
samaan tiga momen (Clapeyron) (6. zl9.) atau pada bab 2. 8. (Perhitungan lendutan
dan garis elastis) dan menghasilkan:
h Tinggi balok (batang)
s Panjangnya balok (batang)
ft
ds Sebagian dari batang yang amat kecil l,oEtcau: )uula" {8.9.}
I, F, E, Momen lqpbam, iuas batang dan modul elastis pada batang
G Modul pergeseran (lihat bab 2. 3. 1.)
at 1 /oC angka penguluran suhu Biasanya digunakan hanya persamaan kerja pada konstruksi batang ini untuk
x faktor koreksi (kappa) bagi gaya lintang, oleh karena gaya lintang menentukan pergeseran pada konstruksi batang. Pada bab8.4. 1. (Pergeseran dan
sebetulnya tidak tetap pada tingginya bentuk batang. Nilai tergantung perputaran pada konstruksi batang) kita mendapatkan beberapa contoh yang
pada bentuk (m,isalnya bagi bentuk segiempat sejajar x = 1.2) menggunakan persamaan kerja pada konstruksi batang (8. 8) dan (8: 9.).

348
8.2.3. Persamaan kerja pada konstruksi rangka batang 8.2.4. Hasil pengintegralan pada keria virtual
Atas dasar pengetahuan persamaan kerja pada konstruksi batang kita Pertama kita menghitrng pergeseran dengan bantuan persamaan kerja
bisa dengan mudah menentukan persamaan kerja pada konstruksi rangka batang. pada konstruksi batang pada suatu contoh sederhana. Kita akan menentukan len-
Pada konstrukei rangka batang tidak ada momen lentur dan gaya lintang. Gaya nor- dutan pada pertengahan suatu balok tunggal dengan momen lembam / tetap dan
mal, pada konstruksi rangka batang ditentukan sebagai gaya batang S dan .S men- beban merata S. (lihat gambar 8. 2. 4. a.l .
jadi tetap pada seluruh panjangnya batang s, dan oleh karena itu tidak perlu lagi Pada contoh ini kita mendapat momen lentur dan gaya lintang, yang pada contoh
menghitung dengan integral. Selanjutnya cukup jikalau dihitung dengan I (jumlah) ini kita abaikan. oleh karena pada contoh ini tidak ada perubahan suhu atau
batang dan beban. penurunan tumpuan kita boleh menggunakan persamaan kerja pada konstruksi
Maka persamaan kerja pada konstruksi rangka batang dibaca sebagai berikut: batang {8. 9.). Gaya virtual P = 1.0 kita tempatkan pada tempat dan jurusan
pergeseran yang dicari.

Contoh:
Loa* =:H "
+ :s-a,rp- Ic" (8. 10.)
Beban yang sebenarnya Bebanvirtual P= t.O
dengan bidang momen M dengan bidang momen lk?

Pada persamaan kerja pada konstruksi rangka batang ini masing-masing bagian
berarti:
S gaya normal pada batang vang sebenarnya

W
5 gaya normal pada batang oleh beban virtual P1 = I.0 pada titik simpul t pada

W
jurusan pergeseran d1
s panjangnya batang masing-masing
Bagien-bagian yang lain sama seperti pada bab 8. 2.. 2. Persamaan kerja pa(a
konstruksi batang (8. 8.). Oleh karena sekarang kita memperhatikan konstruksi
rangka batang kita lmrus mengawasi, bahwa gaya virtual P : 1.0 tidak bekerja lagi Gambar 8. 2. 4. a Garnbar 8. 2. 4. b.
pada suatu titik k sembarang, melainkan pada suatu titik simpul *.
*
q:
]rl* -ull
g!2,
Untuk menentukan pergeseran dp, kita pertama-tama dengan bantuan Cremona oleh M, - *.
*, oler,F =1,0, fr, -
atau Cullmann-Ritter mencari gaya batang S masing-masing yang se[enarnya.
Selanjutnya sekali lagi untuk mencari gaya batang S masing-masing oleh gaya vir- oleh karena batang pada contoh ini menjadi lurus dengan morlen lembom / tetap
tual P: 1.0 pada titik simpul k, yaitu pada titik simpul yang akan kita cari perge- kita boleh mengatakan, bahwa ds = dx dan kemudian I = lcdan l"/t
- 1.
serannya d1. Kemudian kita meng-superposisikan-kan dua hasil ini pada batang t/2
masing-masing.
Seperti sudah ditentukan pada bab 8. 2. 2. (Persamaan kerja pada konstruksi
Etd:2[(qrr- *,) la^ 4
batang) kita boleh menyederhanakan persamaan kerja pada konstruksi rangka t/2
batang (8. 10.) Eeperti berikut:

_ _E
Et6 = * ! (* - *,1 a, =
*1, - iL;
1,OEFc6k: ).SS
;: s (8. 11.)
Et6=*('rz-"1 :# denoan
- 6 =5
wEt
3!:-
Hasil ini sudah kita ketahui dari bab 2. 8. (Perhitungan lendutan dan garis elastis)
Pada bab 8. 4.2. (Pergeseran pada konstruksi rangka batang) kita mendapat con- hanya penentuannya dengan cara ini lebih sulit. Akan tetapi hasil ini boleh kita ubah
toh yang menggunakan persamaan kerla pada konstruksi rangka batang (8. 10.) lagi seperti berikut:
dan(8. 11.).
Etd-*r,= fr+[r="unrr
350
351
r
Perhitungan f./.d pasti akan lebih sederhana lagi jikalau kita mngetahui nilai c. M 3. Trapesium - bidang segiempat:
dan M menjadi ukuran momen maximal yang sebenarnya dan oleh beban virtual F Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian
: 1.0. c menentukan bentuk-bentuk dari tiap-tiap bidang (diagram) momen yang ke2dengan kt - k2 -- k.
akan dikalikan.
Selanjutnya kita menentukan beberapa persamasn untuk kombinasi bntuk bidang Eldik - {r,a* + ir3kl
momen masing-masing. Ordinat-ordinat bagi bidang momefl kemudian ditentukan Ul
dengan i dan k dengan s sebagai panjangnya batang. Pada persamaan berikut kita
litrat, bahwa E/.d,1 meniadi sama dengan integral JMi M* ds oleh bidang momen
M;dan Mppda paniangnya batang s. Etr);p:)t,,*,.t*, c=11
(8. 14.)

1. Trapesium * bidang sembarang:


Gambar 8. 2. 4. e.

,,ffi]ilIflffiflu Mi=itf .,;i


rs ss 4. Bidang segiempat
- segiempat:

Etdip=)Utr*o,:
0
*lr*'**
00
gf un*a, Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejaCian
ke 3 dengan i1 = i2 = i.

Gambar 8. 2. 4. c.

lntegral pada rumus ini berarti momen pada bidang motren M1 dibandingkan pada Eld,r = ;11" c= l (8. 15. )

ordinat sisi kanan fi) dan ordinat sisi kiri (77i. Selanjutnya dapat kita katakan:
k,'k

El6ik= iryll (8. 12.) Gambar 8. 2. 4. f.


!liry,+
2. Trapesium - trapesium:
Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian
5. Bidang segitiga
- segiempat:
ke 1.:
Kejadian, ini merupakan suatu kelanjutan clari kejadian

|t1t,"3"***o]") *f tlr,"{"* = il6nir:


ke3dengan i7
a
. Etdik= Q

] *, f"t .''flffilffirm**,,-,
El6ik = | Wr*, + irk, + i2& + 2i2k2l tt,:,r:Iifs c:1 1
(8. 16.)
*rt
El6ik=
f t,;fr*,+k2) + irlkr+2k)l (8.13.)
Gambar8.2.4. g

Gambar8.2.4. d

FUI''ilGAS
352 353
T. A.
t9,.'7 I i*98
6. Bidang segitiga
- segitiga searah:
Kejadian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian
ke2 dengan it = i: iz - O; kt : k dan kz : O
o,: JN * i'r r I, u o *, - In , o;,

(8.2.Ikita tentukan, bahwa giliran kumpulan gaya s,),renar-


Pada rumus (8. 'l .)dan
nya dan kumpulan gaya virtual boleh juga bolak-balik sehingga kita jugla boleh
Etr\;1,=fuz**ot berkata:
*'fill.llllmffirrrrTn,, ,-,
A, I*r 4u.rJ oo q'GF* jrn4r,
rns,r : ! *s .:+ (8.17.)
jikalau kita memperbandingkan rumus,47 dengan rumus 4; kita boleh menentukan,
bahwa A, : A,.
Kerja virtual luar pada ,'{ menjadi A" = Z P.J (lihat juga rumus (8. 1. )) ctan kerja luar
GambarB.2.4. h.
:
pada,4i menjadi Aa >P.a ttifratluga rumus (8. 2.)).
Dengan ini syarat Sefti berbunyi:
7. Bidang segitiga * segitiga berlawanan:
Keladian ini merupakan suatu kelanjutan dari kejadian Jumlah kerja virtual oleh gaya F pada pergeseran d oleh P menjadi sarna
ke2dengan it = i;iz: O;kr: Odan kz= k dengan jumlah gaya P pada pergeseran J oleh gaya virtual P.

Et(tik=f,t**oi
(8.19. )
'P.d:>P,F
tu,r : !o i*s c= 1

6
(8. 18. )
Syarat ini juga boleh digunakan jikalau tidak ada gaya P dan gaya virtual P,
melainkan momen M dan momen virtual M. Pergeseran d dapat diganti dengan
Gambar 8. 2. 4. i. sudut putaran rp dan Jdengan 9.

Pada semua kemungkinan yang lain bisa digunakan tabel-tabel 1.2. 14. (Tabel-tabel
hasil pengintegralan pada kerja virtual) pada lampiran buku ini. Biasanya hanya
dikerjakan dengan menggunakan tabel-tabel itu. Harus dipe;hatikan, bahwa tabel-
8. 3. 2. Syaratdari Maxwell
tabel itu hanya boleh digunakan jikalau momen lembam / tetap. Contoh-contoh Maxwell menentukan pada tahun '1864 tentang keterikatan pada per-
pada bab 8.4. 1. (Pergeseran dan perputaran pada konstruksi batang) menerang- ubahan bentuk elastis sesuatu yang sebetulnya menjadi suatu kelanjutan dari syarat
kan penggunaan tabel-tabel itu. dari Betti.
Jikalau kita menentukan, bahwa:
d1o menjadi pergeseran titik k pada jurusan gaya Pp ,= 1.0 oleh beban yang
8.3. Syarat-syarat berikatan pada perubahan sebenarnya.
dri menjadi pergeseran titik k pada jurusan gaya Pp: 1.0 oleh gaya Pi : 1.0
bentuk elastis pada titik L
dir menjadi pergeseran titik i pada jurusan gaya P; = 1.0 oleh gaya P1 : 1.0
8.3. 1. Syarat dari Betti pada titik k.
Betti menentukan pada tahun 1872 tentang ikatan pada perubahan dsb. . ....
bentuk elastis: Selanjutnya bidang momen yang akan diintegralkan mendapat indizes yang sama
Kita perhatikan hasil kerja virtual dalam oleh suatu gaya normal N, gaya lintang O seperti d, maka misalnya:
dan momen M dengan gaya-gaya virtual oleh Pyang menjadi N; A dan ili. Menurut
rM M, rM, M
rumus (8.3.); (8.4.)dan (8.7.)kita boleh berkata: ,
rlIX
J
I - "
EI
ds atau ,\*o: ) -ff dt

354
355
r
Pada rumus ini bagian masing-masing berarti:
Sebagai fungsi dari Pi kita tentukan:
Mi = bidang momen oleh gaya P : 1.0 pada titik i
Mr : bidang momen oleh gaya P : 1.0 pada titik k . 1^. 1 Pi
Ar:iPi6ir:Z (kerja pada jurusan pergeseran)
Mo : bidang momen oleh beban yang sebenarnya c

Untuk menentukan d,1 kita mencari bidang momen oleh gaya pr : 1.0 dan oleh dan A1x = Pld1n (kerja tidak pada jurusan pergeseran)
gaya virtual Pi = 1.0
Selanjutnya diintegralkan.
Untuk menentukan misalnya d1; bidang momen yang harus kita cari sebetulnya lo?
sama jalannya seperti tadi (gaya Pi : 1.0 dan gaya virtual e* : 1.91
kemudian A": i a* *o, 1P;,\,,1
Kemudian seharusnya hasil masing-masing menjadi sama, atau dengan kata-kata
lain syarat dari Maxwellberbunyi: dengan memperhatikan, bahwa P;tidak terganrung dari Ax boleh kita tentukan:

Pergeseran suatu titik i oleh gaya P : 1.0 pada titik


JAa _ P
(i) = derivasi)
k menjadi sama *o *'lill =rl/l +{J/tt:t\i'
OPi ;
dengan pergeseran titik k oleh gaya P : 1.0 pada titik i.
dengan hasil yang menjadi syarat dari Castigliano:

(8. 20) 0A. 1Ai


8.21.t
lPi aP,

Syarat ini boleh dilakukan pada konstruksi batang maupun konstruksi rangka
batang.
8. 3.4. Syarat dari Mohr
8. 3. 3. Syarat dari Castigliano Syarat yang ditemukan Mohr pada tahun 1868 menentukan perubahan
bentuk. oleh karena mudah digunakan, syarat Mohr pada umumnya paling disukai.
Syarat yang ditentukan Castigliano pada tahun 1879 tentang perubahan Penggunaannya terbatas pada balok tunggal.
bentuk elastis sebetulnya bisa berguna pada konstruksi batang dan konstruksi
rangka batang tetapi syarat dari castigliano jauh lebih rumit daripada sistim yang Atas dasar lengkungan k pada suatu balok boleh kita tentukan:
lain yang lebih mudah dan merupakan kelanjutan pada praktek. lf ..-# *

Pada suatu balok tunggal dengan gaya P; kita


(t) tambahkan beban dengan suatu kumpulan *:1= __y:_ ..,,,,
y'z1t1z r 8.22.t
a 11 +
gaya P1 s/d Pr. Kita boleh mengsuper-
posisikan dua beban ini untuk menerima
jumlah kerjaluar A,. Gambar 8. 3. 4. a.

Oleh karena itu kita selanjutnya boleh menentukan untuk suatu potongan balok
yang melengkung menurut gambar 8. 3. 4. a.:

k-it--f::- lr+tr)
ds = 1161q= jy

Gambar8.3.3. a. s/d c. Persamaan pada garis elastis kemudian terbaca:

Atau dengan bentuk lain,4, menjadi: dq'l ,,M


Aa,=Ar+A1 +Alt. ,ir=;=Y =- rt (8. 23. )

356
357
a

Selaniutnya kita menentukan hubungan-hubungan seperti berikut:


tetap. Jikalau tidak. kita boleh menggunakan suatu momen lembam dengan per-
M-Mo+)Odx,
r bandingan l"/1.
4. Pada konstruksi rangka batang persamaan kerja menjadi suatu jumlah, dan oleh
dMr o' )odx' karena itu penggunaannya tidak mengalami kesulitan.
,1, -o 5. Syarat dari Maxwell menentukan, bahwa pergeseran dp suatu titik i oleh gaya P
: 1.0 pada titik k menjadi sama dengan pergeseran dki titik k oleh gaya P : 1.0
d2M pada titik /.
tl 8.24.)
0x'

Jikalau kita menrbandingkan persamaan (8. 23.) dan (8. 24"1 kita bisa melihat,
bahwa mereka beiarti berkeluarga. 8. 4. Contoh-contoh
'\
,l M d2M 8.4.1. Pergeseran dan perputaran pada konstruksi batang
dx'
I -
Ll
dall ;;-
(, x'
q
Dasar perhitungan adalah rumus (8.8.) dan yang dipersingkat (8.9.).
Persamaan ini menjadi dasar syarat Mohr yang bisa selanjutnya digunakan secara Rumus (8. 8.) kita tambah dengan perbandingan momen lembam /. dan tiap-tiap
grafis atau secara analitis seperti sudah diterangkan pada bab 2. 8. (perhitungan bagian dengan perbandingan luas batang F" seperti berikut:
lendutan dan garis elastis).

8.3. 5. Ringkasan 1,oEt"dr = I *n j o, *


t J -* | o, * ff,j.oo';* (8.25.)
1. Asas tentang kerja virtual menentukan: Jikalau suatu konstruksi batang atau
rangka batang yang dibebani, ada dalam keadaan seimbang (termasuk reaksi
pada tumpuan masing-masing) dan konstruksi ini rnenerima suatu pergeseran oleh + rr"l J No,t,as *I n -f as-:cc ]
suatu kumpulan gaya virtual, kita boleh mengatakan, bahwa jumlah kerja virtual
oleh gaya itu menjadi nol.
Dengan rumus (8.25.) ini kita bisa menentukan d* dengan memperhatikan segala
Jikalau kita membalik urutan ini, kita mendapat asas tentang kerja virtual. Asas ini
pengaruh dan kemungkinan. Menurut keperluan, kita juga bisa menggunakan
menjadi dasar untuk perhitungan perubahan bentuk.
bagian masing-masing dari rumus (8.25.)ini.
2" Pergeseran pada suatu titik pada suatu konstruksi batang atau rangka batang
Dalam perhitungan kita perhatikan hal-hal sebagai berikut:
dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan kerja dengan menggunakan
satu gaya vitual Pp: 1.0 atau satu momen Mr : 1.0. Kerja virtual luar ini menjadi
1. Menentukan sistim statis, gaya dan beban dengan diagram momen (M"1, gaya
normal (/U.) dan gaya lintang (O,i.
sama dengan kerja virtual dalam, dikurangi oleh pergeseran reaksi tumpuan yang
biasanya menjadi nol.
2. Menentukan momen lembam / (jikalau belum tentu kita memilih suatu momen
lembam taksiran) atau menentukan perbandingan momen lembam pada
3. Ferhitungan kerja virtual dalam pada konstruksi batang bisa dilakukan
pada
masing-masing batang.
umumnya dengan menggunakan tabel-tabel tentang hasil peng-integral-an di
mana bentuk-bentuk dan kombinasi-kombinasi yang sering timbul sudah diten- 3. Jikalau perlu menentukan panjangnya batang s. atau /" dengan perbandingan
tukan sebagai nilai integral JW,Wods.
momen lembam /" seperti ditentukan pada syarat persamaan tiga momen
(ClaPeYron) lc : l' lc/1.
JW,Wrds menunjuk bahwa tabel-tabel tentang hasil peng-integral-an tidak hanya
berlaku untuk bidang (diagram) momen, melainkan juga untuk bidang gaya normal
4. Menentukan pergeseran dan perputaran yang akan dicari dan memasang gaya
virtual P = 1.0 atau momen vitual M = 1.0 pada tempatnya.
dan gaya lintang, walaupun biasanya pengaruh pada gaya lintang dan gaya normal
boleh dihapuskan.
5. Menentukan diagram momen M, dan jikalau perlu juga diagram gaya normal rV
dan gaya lintang O.
oleh karena itu pada umumnya pada tabel-tabel hasil peng-integral-an digunakan
nilai integral I M;Mrds.
6. Memperhitungkan pergeseran atau perputaran dengan rumus (8. 25.) dan
dengan bantuan tabel-tabel hasil pengintegralan pada kerja virtual pada lam-
Pada batang atau bagian batang yang diperhatikan seharusnya momen lembam /
pian 1.2. 14.
358
359
I

Contoh 1: Pada konstruksi portal dua ruas dengan momen lembam / tetap (lihat Fertanyaan 1: Pada tempat dan jurusan d6 kita menempatkan gaya virtual P = 1.0
gambar Lrerikut) dicari: dan menentukan diagram momen M berikut:

t-
E;
300'000 cma diagram M
El 200 cm2 (nilai dalam t)
2'1OO tlcm2

:P
E
w -1.0t/ n

46- 1,0 t
I
MS Gambar 8. 4. 1 . c.
Gambar 8. 4- 1 . a
Momen-momen digambarkan pada sisi yang menerima gaya tarik. Penentuan tan-
1. Pergeseran tumpuan b oleh beban angin w : 1.0 t/m dengan memperhatikan da (+,-) sebetulnya tidak perlu, yang penting hanya penentuan ordinat masing-
pengaruh momen lentur. masing dan bentuk bidang (diagram) momen.
2. Pergeseran titik simpul (sudut) c oleh beban angin w dengan memperhatikan Selanjutnya kita dapat menghitung dengan urutan kaki kiri, batang horisontal, kaki
pengaruh momen lentur dan gaya normal. kanan:
3. sudut perputaran garis elastis kaki a-c pada tumpuan a dengan perhatian 1l
pengaruh-pengaruh seperti pada titik 2. 1,0 Et)t,o i24,0 6,0 ' 6,0 r 4,Ol2' 24,0' 6,0 ' 24,0'4,0 ' 8,0 . 6,0 '
U
-q,o 148,0.4,0
Penyelesaian: 2 4,ot . 4.0
Menurut ketentuan untuk perhitungan titik 1 s/d 6 kita sudah mengetahui titik 1,
sistim statis. Titik 2 dan 3 tidak perlu diperhatikan oleh karena momen lembam I
1,0 Ehbo = 650,67 t2nrl
sudah diketahui dan menjadi tetap. Akan tetapi kita harus menentukan diagram
momen Mo dan diagram gaya normal y'y'o menurut ketentuah pada bab 7. (Kons- El(\ bo . 650,67 tmr
truksi portal statis tidak tqrtentu) kita mendapat hasil berikut: 650,67
tJbo
2,1 . 101 . 3,0' 10-3
- 0,0103 m

,\
tt - 1,03 cm
diagram M diagram y'V
Pada perhitungan ini pada kaki kiri kita mengintegralkan segitiga-segitiga, pada
(nilai dalam tm) (nilaidalam t)
batang horisontal trapesium-trapesium, dan pada kaki kanan parabol segitiga. -
Jikalau dua bidang (diagram) momen berada pada sisi batang yang sama,
hasil pengintegralan menjadi positif ( + ), jikalau tidak hasilnya menjadi
negatif ( - ).

Jikalau hasil pengintegralan men.jadi positif ( + ), maka jurusan gaya virtual P men-
jadi sarna dengan jurusan rj.
Pada pertanyaan2: Pada tempat dan jurusan d. kita menempatkan gaya virtual P =
Gambar 8 4.1 b 1.0 dan menentukan diagrarn momen dan diagram gaya normal

36C)
361
P =10
diagram M diagram rV
diagram fr diagram fi

lu
Tl,5 GambarS. 4. 1. d. Gambar 8. 4. 1 . e

Kita menentukan pergeseran d. oleh tiap-tiap akibat tersendiri:


a) pengaruh oleh momen lentur (lihat gambarS. 4. 1. b.dan d.): kita menentukan perputaran <pa oleh tiap-tiap akibat tersendiri:
a) pengaruh oleh momen lentur (lihat gambar 8. 4. 'l . b. dan e. ):
11 '6,0'6,0
EldcM = + 6 4,0'6,02' 24,0 + 8,0) + 0 11
i24,0 Elq'uy = '1,0 6,0 - 6 4,0.1,0.2 24,0 + 8,0) - 0
224,0
E16", :2gg + 224:5'l2tms Elqupl = *72,0-37,3 - *i09,3tm
.
d"M
512 _ 109,3
=
2."1 .
.lO7 .35. = 0,00814 m
,-1_TO, :"0. rOa =
,,0-3 QaM '= 0,00174

dcrvr = 0,814 cm
b) pengaruh olch gaya normal (lihat gambar 8. 4. 1. b. dan e. ):
b) pengaruh oleh gaya normal (lihat gambar8. 4. 'l . b. dan d.):
EFgpuu - -i,0' 4,0' 0,25' 6.0-1,0' 4,0' 0,25. 4,0,. -10,0t
EFdcN = 1,0' 4,0' 1,5'6,0' : 0 - 1,0'4,0"1,5' 4,0 , 10,0
,paN =,
EFI"N = 36.0+24,0= 60,0tm 1 . 10?. ) o. 1,,,2= -0,00002

. 60,0
c)
d"N = ,j. ,pa:10,: o,ooo14m perputaran gs, diterima oleh superposisi:

(Pao : -0,00174-0,00002 - -0,00176


,r"* - 0,014 cm
eao : -0,00176Pq = -0,'lo
c) pergeseran d" diterima oleh superposisi:
Tanda negalif (-) menunjukkan, bahwa perputaran rpa berlaku terhadap jurusan
r\ro: r\", + drN = 0,814 + 0,014 = 0,828cm momen virtual M. Dengan hasil ini kita juga membuktikan, bahwa pengaruh pada
perputaran oleh gaya normal biasanya begitu kecil, sehingga kita boleh mengabai-
Dengan hasil ini kita sudah membuktikan, bahwa pengaruh pada pergeseran oleh kan perhitungan.
gaya normal biasanya begitu kecil maka kita boleh mengabaikan perhitungan.
Contoh 2: Pada rusuk 'Gerber' berikutnya dicari lendutan di tengah bagian balok
Pada pertanyaan 3: Pada tempat dan jurusan rpu kita tempatkan momen vitual M
: 1.0 tm dan kita tentukan diagram momen dan diagram gaya normal yang tergantung antara engsel dan tumpuan C. Beban merata sebesar q = 1.0 tl m;
nrodul elastis E = 2'100 t/cm2 dan laa : lec: 9'800 cma.
362
363
r
Selanjutnya kita dapat menghitung (dalam urutan; bagian balok A-B - konsole
- bagian balok tergantung):
: 111
El6mo 0 + 1,0.5,0 + 1,0.5,0 - 1,0.5,0 + 0 +
a4,0. i2,0. T3,125.
1
+ +o* .1,0.4,0.f, +o+o+o
diagram momen Mo 34'0.1'0.2'O f,r,0.'t,0.2,0 ]z,o

Gambar8.4. 1. f Eldmo = 11,78 tm3

s_ 11,78 . 105
Penyelesaian: vm| - z,t .ror.s3. to, = 0,572 cm
Diagram momen Mo sudah ditentukan pada gambar 8. 4. 1. f. Oleh karena dengan
menggunakan tabel-tabel hasil pengintegralan kita dengan bidang momen Mo ini Contoh 2 ini menerangkan, bahwa pada diagram (bidang) momen agak rumit kita
tidak dapat ditemukan, kita akan membagi diagram momen pada empat bebanan boleh membagi diagram momen itu ke dalam beberapa diagram momen yang agak
dasar, yaitu: momen pada bagian balok yang tergantung, gaya pada engsel, sederhana supaya kita bisa menggunakan tabel-tabel hasil pengintegralan pada ker-
momen pada konsole dan momen pada balok ,4
-I seperti berikut: ja virtual {r1.2. 14.1.
1
diagram momen oleh beban merata Contoh3: Pada konstruksi portal berikutdengan dt : 12' 10-6Srd ;

pada bagian balok yang tergantung :


/= 150'000 cma; h 70cm dan E = 2'100tlcm2 menurut gambarS. 4. f . i.

diagram momen oleh gaya yang tim-


bul pada engsel

diagram momen oleh beban merata


pada bagian konsole

diagram momen oleh beban merata


pada bagian .4
-I
Gambar 8. 4. 1. g. Gambar8.4. l. i.

Untuk menentukan lendutan maksimal pada tengah-tengah bagian balok yang.


tergantung, kita memasang satu gaya virtual P = 1.0 pada tempat dan jurusan len- Dicari:
dutan yang dicari, dan menentukan diagram momen fr menurut gambar berikut:
1. Pergeseran vertikal pada titik 1 oleh beban merata e : 1.0 t/m pada batang
2-b.
2. Pergeseran vertikal pada titik 1 oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi
bawah pada batang dan 2-b oleh At = 20o.
1
-2
fi;tooo-4,*:. Penyelesaian:
Penentuan bidang (diagram) momen oleh beban merata dan oleh gaya virtual P:
diagram momen M
1.0 t pada titik 1 seperti berikut:
Gambar8.4. 1. h.

364 365
P=fit dicari:
1. Pergeseran vertikal pada engsel c oleh beban angin w.
2. Pergeseran vertikal pada engsel c oleh perubahan suhu pada sisi atas batang
horisontal dengan tr : 40o dan pada sisi bawah tZ : 10".
3. Perputaran garis sumbu pada tumpuan b oleh perubahan suhu seperti
diterangkan pada titik 2.
diagram momen Mo
Penyelesaian:
Gambar8.4. 1. k. Penentuan bidang momen oleh beban angin w pada batang (kaki) kiri:
Pada pertanyaan 1:

Etdlo - - !n,s.4,0. 1o,o = - 166,7tm1

166,7. 106 diagram M (tml


dro = -.10t. = - 0.53 cm
2,'t 150. 103

Pada pertanyaan 2: Atas dasar rumus (8. 8.) dan rumus (8. 25.) kita dapat menen-
tukan pergeseran oleh perbedaan suhu seperti berikut:
Gambar8.4. 1. m.
o,= Init":H Jno" Untuk telitinya pengertian kita menggambar pada batang vertikal sebelah kiri
diagram momen oleh beban angin w, dan diagram momen oleh reaksi tumpuan a
lntegral ini menentukan bidang momen M oleh gaya virtual P.
yang horisontal sebelah kanan. Selanjutnya kita tentukan momen lembam perban-
,
ot 12.10'6.20 'l
= O, + 4,0) : 0,0096m dingan seperti berikut:
Z4,O(10,4
drr = 0,96 cm l" = l" th : tn : u,o
1-3i1910,
= 7,2 m
k
Hasil integral f Mlf ds menjadi positif (+ ) jikatau pembengkokan garis sumbu
oleh perbedaan suhu berjurusan sama dengan beban virtual P yang dipilih sem- 4:L+= 5,0 m

barang, dan bagian konstruksi batang yang lebih panas adalah juga pada sisi yang
menerima beban virtual. Pada pertanyaan 1: Pada tempat dan jurusan d" kita menempatkan gaya virtual P:
1.0 dan menentukan diagram momen, dan untuk penyelesaian pertanyaan 2 juga
contoh 4: Pada konstruksi portal tiga ruas menurut gambar berikut dengan s langsung diagram gaya normal.
sebagai tiang (batang) yang vertikal dan rg sebagai batang yang horisontal dengan
nilai-nilai berikut /n = 100'000 cma; /" = 120'000 cma; f = 2'1@ tlm2; hs: 50 cm;
h" = 60 cm dan at = 12.10-6/grd.
diagram momen M

q
I
I
1,, diagram gaya normal ff(= tt

t,ut l. Gambar8.4. 1. n.
ltoo Gambar 8. 4. l.

366
367
r
Selanjutnya hasil pengintegralan menjadi: Oleh karena bidang momen pada batang yang horisontal sebelah kiri dan kanan dari
engsel meniadi sama besarnya dengran tanda (+,-) berlawarian, maka jumlah
Et"6"s: 11
412,5.1,5.5,0 - 5 18,75.1,5.5,0 +- 3
1
6,25. 1,5.5,0 bidsng momen itu meniadi nol. Selaniutnya kita hanya perlu memperhatikan
diagram gaya normal untuk menentukan rp61"

Elcdco = 23,4 -46,9 + 15,6 : qot : 12 ' 10-5' 10'0,10'600 :


-7,9tm3 O,OO72

6co = - 7,9 . 106 =- 0,0314 cm 96.0 : 0,130


.
2,1 103 . 1.2. 10s

Oleh karena hasil menjadi negatif (-) maka kita ketahui, bahwa jurusan d"oter- 8.4.2. Fergeseran pada konstruksi rangka batang
hadapjurusan gaya virtual P, atau dengan kata lain, berjurusan dari bawah ke atas.
Pada pertanyaan 2: Perubahan suhu itu kita bagi atas: a) Perubahan suhu seragam Daaarnya pacJa perhiturrgan adalah rumus {8. 10.}dan rumus (8. 11.). Un-
ts : 10o dan b) Perbedaan suhu pada sisi atas dan sisi bawah batang sebesar At tuk mencari hasilnya kita bekerja setapak demi setapak seperti berikut:
= 30o. 1. Fenentuan paniangnya s dan luas batang Fbagi tiap-tiap batang. Pengurangan
Menurut rumus (8.25.)kita dapat menentukan: luas bateng oteh lobang baut atau alat sambungan lain tidak usah diperhatikan.
2. Penentuan gaya batang masing-masirrg oleh beban sebenarnya dengan
a,= f No,t,arn I nrffa, 3.
meGggiunaka n cara Cremona atau Cu Jlman- R itter.
Penentuan gaya batang Smasing-masing oleh beban virtual P * 1.0 denE;an
Oleh karena perubahansuhu ini hanya dialami batangyang horisontal (R) kita dapat cara grafis (Cremona) atau analitis (Cultrnann-Bitter).
menentukan bagi ts dan At masing-masing d",. dan d"41 berikut: 4. Mencari haeil dengon menggunakan persamaar'! kerja pada konstruk$i rangka
batang. Perhitungan oleh beban atau perutlahan suhu iebih baik dilaksanakan
, (*
dcts : qt t" f ruAs
J - dan 6rar:a,LtT ) Mds masing-masing tersendiri.
5. Menjumlal*an hasil pada semua batang pada konstruksi rangka hatang'
lntegral ini menentukan diagram (bidang) momen M dan diagrarn gaya normal ly' Perhiturygan ini pada umumnya dilalwanakan dengan beban dalam f dan ukuran
oleh gaya virtual P(lihat juga gambar8.4. 1. n.). dalarn cm sebagai tabel seperti terlihat pada eontoh-contoh berikut. Pada
prakteknya persamaan kerja pada konstruksi rangka batang digunakan dalarn ben-
dcrs : - 12' 10 9' 10'0,3'600 : - 0,02cm tuk berikut:
, = 12. 10 6.30 22 - 1 150.300
._-
: + 0,27 cm
dcLt
6d( : :SSi- (8.26")

d"t : -4,02 + 0,27 : + 0,25cm


Contoh 1: Pada konstruksi rangka hatang berikutnya dicari pergeseran pada titik
Pada pertanyaan 3: Pada tempat dan putaran qpo kita memasang suatu momen vir- sinrpul m. Ukuran masing-masing batang terlihat pada tabel berikut. E -= 100'000
:
tual:M 1.0 dan menentukan bidang (diagram) momen dan diagram gaya normal: kg/cm2:

Gambar8.4. 1. o Gambar 8.4.2.a.

368 369
Penyelesaian:
Pada titik simpul dan jurusan d- kita tempatkan suatu gaya virtual P = 1 ,0 seperti
terlihat pada gambar 8. 4.2. b. berikut.

At- 15,0 t
GambarB.4.2. c.

Penyelesaian:
Padatitiksimpul sdan jurusandskitaternpatkansuatugayavirtual P = l.0seperti
Gambar8.6.4. b
terlihat pada gambar 8. 4.2. d. berikut.
Dengan mengunakan sistim Cremona atau Cullmann-Ritter kita menentukan gaya Pada beban ini batang 5 dan 6 menjadi batang nol, dan t =S dan .93 : fi:
batang S oleh beban sebenarnya dan gaya batang S-oleh beban virtual, dan meng-
isi hasilnya pada tabel berikut.
Perlu diperhatikan, bahwa pada jumlahan batang 1 sld 4 bersifat ganda (kiri dan
kanan) maka batang 5 hanya timbul satu kali.

batang s F s/F s s SSs/F


Dlm. Icml lcm2l [1/cml (t) (t) (t/cml Gambar8.4.2. d

I Pada pertanyaan 1: kita gunakan tabel seperti berikut:


600 1m 6,00 + 4,5 + 0,75 20,25
2. 360 160 2,25 - 5,4 -* 0,90 10,92 batang s F s/F s s SSs/F
3 360 160 2,25 - 3,6 0,90 7,28
4 360 120 3"00 - 1,8 -0 0,00 lcml lcm2l [1/cm] (t) (t) (t/cm)
>1....7 38,45
211....4 76,90 1,2 720 24,6 29,3 + 18,0 + 1,8 950
5 400 100 4,00 + 2, + 1,0 8,00 3,4 600 38,4 15,6 - 15,0
- 1,5 351
'r3,8
Edn 84.90 7 400 29.0 - 10.0 - 1,0 290
2....7 1591

.
d*o= u,9 d",=ffi:o,76cm
,Oa =0,85cm Pada pertanyaan 2: Perubahan suhu hanya dialami batang 1 dan 2, dan oleh karena
Oleh karena tiap batang yang tidak punya gaya batang (batang nol) tidak ikut dalam
itu persanraan kerja pada konstruksi rangka batang hanya perlu pada dua batang
perhitungan, kita bisa memudahkan perhitungan dengan menentukan pertama itu. Oleh karena batang'l dan2 nrempunyai beban Syang sama, perhitungan dr,
semua batang nol.
kemudian menjadi:
d"1 : sa1f"s : 1,8-12. 10 6 .20 .720 = 0,31 cm
Contoh 2: Pada konstruksi rangka batang berikutnya dicari penurunan titik simpul s Fada pertanyaan 3: Pergeseran ca pada tumpuan a berjurusan ke kanan. Oleh
dengan E - 2'100t/ cm2, a1: 12.10-6 grd'1 , F1 = Fz:24.6cm2, Ft: Fq: 38.4 karena reaksi tumpuan A6oleh beban virtual F - l.O berjurusan ke kiri, kerja virtual
cm2, F7: 13.8 cm2, oleh: menjadi negatif (* ):
1. Gaya P = 10 t pada titik simpul s
2. Perubahan suhu t : 20" pada batang 1 dan2
An = 1,gr cu = 1,0cm
3. Pergeseran tumpuan a sebesar ca : 1.0 cm ke kanan e, =- 1,5.1,0= -1,5tcm
t,od. = ->Ci ds: + 1.5cm
370 371
8.5. Garis elastis pada konstruksi batang

8.5. 1. Pengetahuan dasar


Gambar 8. 5. 2. a
Seperti telah dikatakan pada bab 2.8. (Perhitungan lendutan dan garls
elastis) pada bab ini tidak dikemukakan pengetahuan baru, melainkan bersifat Suatu potongan sembarang, kita tontukan dengan k, potongan di samping kiri
memperdalam pengetahuan yang sudah-sudah. dengan k-1 dan yang di samping kanan dengan k+1. Jarak k*1 sld k kita ten-
Sebagai peringatan kita selanlutnya mengatasi setindak demi setindak penentuan tukan dengan,{p dan jarak k sld k+ 1 dengan ,i1 * 7 dsb. Ukuran atau iarak bagiarr-
garis elastis menurut syarat Mohr (lihat bab 2.8.2. dan 8. 3. 4.): bagian diagram momen ini menjadi sembarang. Akan tetapi seharusnya momen
lembam / menjadi tetap pada satu bagian.
1. Penentuan reaksi tumpuan dan diagram momen oleh beban sebenarnya.
Ukuran dan luas pada bagian-bagian bidang momen ditentukan begitu, maka gaya
2. Pembebanan konstruksi batang pada titik 1. dengan diagram (bidang) momen
sebagai resultante bagian bidang momen tidak bekeria pada balok tunggal pacia
itu yang dinegatifkan (-).
titik beratnya, melainkan pada tempat potongan, misalnya & k + 1 dsb'
3. Perhatikan perubahan momen lembam .dengan mempereduksikan diagram
momen yang sepadangnya.
4. Pemotongan diagram momen itu ke dalam bagian-bagian. Garis batas diagram aza:---
\-
momen yang lengkung dengan begitu dapat diluruskan pada bagian masing- r; t
<*- t'l
masing. Penentuan titik berat pada bagian masing-masing. -*i,--
5. Pembebanan konstruksi batang dengan gaya-gaya yang menjadi resultante-
f?
resultante pada bagian masing-masing diagram momen.
6. Penentuan reaksi tumpuan oleh bebanan titik 5. itu. Reaksi tumpuan ini menjadi
sudut putar tumpuan (o,p) dikalikan dengan F. /.
1. Penentuan diagram (bidang) momen oleh bebanan titik 5. itu. Garis batas
Gambar8.5.2. b
diagram momen sekarang menjadi garis elastis dikalikan dengan E /.
8. Penentuan momen maximal oleh bebanan titik 5. itu, pada tempat dengan gaya
lintangnya menjadi nol. Momen maksimal itu menjadi lendutan maksimal Gaya-gaya ini ditentukan dengan E. lr. Wp. Nilainya ditentukan sebagai reaksi
dikalikan dengn E /. tumpuan pada dua balok tunggal dengan lebar bentang,Il dan,l1* 7. Dengan gaya-
gaya E. l"' Wx ini kita membatasi lagi balok tunggal dari gambar 8. 5. 2. a. dan
Penentuan garis elastis menurut syarat Mohr ini tidak rnenjadi sulit. Oleh karena mendapatkan garis elastis sebagai diagram momennya. Namanya bobot-beban W
pelrentuan secara analitis memerlukan banyak waktu, biasanya digunakan cara Perhitungan E. lc. Wk dilakukan dengan meratakan bagian bidang mon'len yang
graf is. sebenarnya melengkung. Kita mendapatkan trapesium yang bisa dibagi dalam dua
Yang menjadi paling sulit pada perhitungan itu, yalah penentuan titik berat dari segitiga. Nilasi We ditentukan seperti berikut:
bagian masing-masing dari bidang momen.
1 l^ 1 t-2 * lrrr^r*,
'l
* irr.,^0,,
Selaniutnya kita menentukan suatu persamaan yang mernungkinkan perhitungan
tsb. tanpa menentukan titik berat masing-masing bagian bidang momen dahulu.
El"Wp=rMrr^rii* iM*),* i 5 *i il;
Dengan menggunakan persamaan yang baru ini, kita bisa memudahkan titik 3 s/d 5
pada perhitungan garis elastis menurut syaral Mohr.
Et".wp = [ tr*r, + 2Ml li + QMp + M1,ar),\i ]1l 18.27.1

8. 5. 2. Penentuan bobot-beban W dengan penentuan, bahwa:


l^
Kita memperhatikan suatu balok tunggal yang dibebani oleh suatu dia- ti:I* dan trirt:
gram (bidang) momen seperti berikut: i LL,r,'l;q,,

372 ?B ----
Pada tumpuan sebelah kiri dapat kita katakan, bahwa ,( = 0 dan ,l* : 0 dan karena
itu ,\1* 1 : ,tr. Bobot-beban Wo menjadi pada titik itu:

,\i
Elcwo = 12Mo + Mrl (8.28.)
6
diagram gaya lintang O
Sebaliknya pada tumpuan sebelah kanan kita tentukan k = nl ,lr* r = o dan 11 =
,1, dengan bobot-beban W,: Au= Qu-i- Px.t

Etcwn- * rr,r+2Mnt (8.29.)

Jikalau misalnya semua bagian dari suatu bidang momen sama lebarnya dan
momen lembam / dari balok tunggal menjadi tetap kita bisa menyederhanakan
M*= Mx, + O1l1
rumus (8. 27.) seperti berikut:
Gambar8.5.3. a.

Etwk :t rrr., + 4M* -+ Mk+lt (8.30.)

Persamaan kedua tentang diagram momen bisa kita tentukan juga dengn kata-kata
Selanjutnya pada tumpuan kiri bobot-beban Wo menjadi: berikut:

Etwo:IOmo*u,t (8. 3'r.) Momen lenlur Mp pada suatu titik sembarang k pada suatu balok tunggal
menjadi sama dengan momen lentur M2-1 pada titik k-l sebelah kiri, di-
tambah dengan hasil kali gaya lintang Oft antara titik k dan titik k-l
dengan jarak 11.
dan kemudian pada tumpuan kanan bobot-beban W, menjadi:

Contoh 1: Pada balok tunggal A-B berikut dicari garis elastis dengan meng-
Etwn: tr*,,,+2M,) (8. s2.) gunakan bobot-beban W. lo : 24'0O0 cma; l, = 4,W cma dan E = 2'100 t/ cm2.

20 t/m

8.5.3" Penentuan garis elastis dengan bobot beban W pada


konstruksi batang

Pada bab 8.5.2. tadi kita rentukan persarnaan yang membantu kita pada Gambar8.5.3. b.
perhitungan pembebanan oleh diagram mornen dengan gaya-gaya yang dikalikan
dengan E.l. Pada bab ini kita mencari jalan untuk menentukan garis elastis dengan
Penyelesaian:
cara yang paling mudah. Kita ingat konstruksi diagram gaya lintang dan diagram
Beban merata dibagi sembarang seperti misalnya pada gambar berikut8.5.3' c.,
momen, dengan ketentuan seperti berikut:
dan reaksi tumpuan Radan R6dapat ditentukan sebagai:

374 375
uo = 5,10. 7,6b = 7.65t
i_ror,oo.

,, = #2,0. E,10 " 2,58 : 2,sEt

8-
lrl
1l'
I
eIE
co
aN

I
Gambar8.5.3. c.
t\
Sebagai perbandingan momen lemban kita memilih /1 oleh karena /1 sudah berada rl
ro
pada bagian besar pada balok tunggal ini. Selanjutnya ditentukan: o

lc:lt l: =r t^ ltl1300
= 1,*5
l1 i- 24000

Pada perhitungan ini kita menggunakan suatu tabel seperti berikut. Baris 1 s/d 6
berisikan data-data dari beban yang sebenarnya. baris 7 s/d 1'l berisikan data-data
untuk penentuan bobot-beban W, baris '12 dan 13 brerisikan data-data yang
diperlukan untuk reaksi tumpuan R; dan fr6 yang rnenjadi sudut putar tu{tlFxren o,
B dikalikan dengan E.l dan baris 14 sld 17 berisikan data-data dari beban oleh
bobot-beban W"

1r'
(o
ti
I

376 E
o l- l.
Bobot-beban Wditentukan menurut rumus (8. 27.):
8.6. Garis elastis pada konstruksi
6 ElcWk : lMr-, + 2 Mkl lk + Q Mk + Mp11l ),iaa1 rangka batang
6 ElcWk: mk + nk

Elcwk = + npl
*,-r 8. 6. 1. Pengetahuan dasar
Misalnya pada titik 4:
Pada konstruksi batang garis elastis menjadi garis surnbu batang yang
6ElcW4: lMt+2M4ll'4+ (2M4+ Msli's: m4+ n4 melengkung. Pada konstruksi rangka batang ketentuan ini tidak lagi benar, oleh
karena perubahan bentuk berasal dari perubahan panjangnya batang masing-
mq : {'12,N + 2' 14,361.' 0.90 = 37,2tm2 masing, dan pergeseran titik simpul masing-masing selanjutnya.
Pada konstruksi rangka batang kita menentukan suatu garis elastis pada batang
na = 12' 14,36 + 14,50)'0,90 : 38,9tm2 tepi bawah. Garis elastis ini tidak merupakan suatu garis melengkung, melainkan
suatu poligon. Semua batang pada suatu konstruksi rangka batang harus tetap
ElcW4:
1
+ 38,9) :12,7 1m2 menjadi lurus, karen mereka menerima gaya normal saja dan bukan momen lentur.
6137,2 Garis elastis pada suatu batang tepi menjadi tentu sesudah pergeseran masing-
masing titik simpul rnenjadi tetap.
Penentuan R a dan 196 seperti berikut: Dengan diagram pergeseran Williot kita mengetahui secara grafis untuk menen-
1 tukan pergeseran titik simpul pada konstruksi rangka batang, walaupun dalam
Rr=
+ElZW4;: Et">wi + rangka buku ini, kita tidak bisa mempelajari diagram pergeseran Williot tsb. di atas.
Pada konstruksi rangka batang dengan hanya beberapa titik simpul dan bentuknya
Ra = E l"LWi - Re = ElcZWi - E t">Wi I; simetris kita bisa menggunakan rumus jumlahan, yang akan diterangkan pada bab
Hasil masing-masing boleh digambar seperti berikut sampai kita mendapat garis ini. Hanya jarrglan meremehkan keluasan kumpulan angka-angka.
elastis: Pada konstruksi rangka batang dengan banyak titik simpul kita selanjutnya menen-
tukan suatu perhitungan atas dasar perhitungan garis elastis pada konstruksi
diagram momen lentur (tm) batang.

8.6.2. Penentuan garis elastis dengan bobot-beban W pada


konstruksi rangka batang
Penentuan garis elastis pada konstruksi batang dilaksanakan dengan
bobot-beban W. Bobot-beban W itu yang dikalikan dengan E' / menjadi suatu
bagian dari diagram momen. Kita mengerti, bahwa kejadian ini tidak mungkin pada
konstruksi rangka batang, oleh karena pada konstruksi ini hanya tirnbul gaya nor-
mal dan bukan momen lentur. Berdasarkan atas pengetahuan ini kita harus menen-
bobot-beban W (tm2)
tukan pertama bobot-beban W pada konstruksi rangka betang dengan rumus-
garis elastis (ukuran dalam cm)
rumus yang baru. Sesudah bobot-beban W ditentukan, baru kita boleh
menyelesaikasn perhitungan seperti pada konstruksi batang.
Atau dengan kata-kata lain kita memilih suatu balok tunggal sebagai sistim dasar
dan membebani sistim dasar ini dengan bobot-beban W yang ditentukan secara
baru dan kemudian menggambar diagram momen yang menentukan garis elastis
8. 5.3. d. konstruksi rangka batang itu.

378 379
Selanjutnye kltaraenentulan bobot-bebon W pada konstnlksi rangka bat4: tr**,
l6p - 6p.) = {d,+r - d1) + Wrl**,
11

d* - 6x-, dx-, - d*
T':-^i;;;-"**
wk:6\y,-dq# (8.33.)

Pada rumus (8. 33.) ini hubungan antara bobot-beban W dengan orclinat garis
elastis sudah ada, walaupun rumu6 ini belum dapat digunakan untuk prhitungan
nilai bobot-beban Wp.
Selanjutnya kita mengubah rumus (8. 33. ) sebagai berkut:
dkn,
wk:i d1,- 6* . , dk

&-ln_rt,rn--
wx : * lr or,+ (
* +
r**1,)
a* -,r,**1,d**,
Rumus ini terdiri dari hasil kali faktornya yang meniadi pergmeran sebenarnYa.
Kalau kita mengetahui 1ii1 dan 1/11*1 sebagai beban virtual dengan haEilnya,
bahwa bobot-beban Wsebetulnya menjadi kerja virtual luar. Pada bab 8. 2. 2. lPer-
samaan kerja pada konstruksi batang) kita sudah menentukan, bahwa keria virtual
luar lA,l meniadi sama dengan keria virtual dalam (,4/.
Gambar8.6.2. a.
Atas dasar pengetahuan ini kita boleh menentukan bobot-beban yy sebagai:
Pada gambar 8. 6.2. a. teb. di atas kha lihat suatu bagian konstruksi rangka batang
dengan garis elastb pada batang tepi bawah. Garis elastis dapat ditentukan dengan (8.34.)
gambar poligon batang iarlk oleh bobot-beban W. Atas dasar pengertian konstruk-
si grafis ini kita boleh menentukan perbandingan-perbandingan berikut: Dalam rumus (8. 34.) ini As menjadi perubahan panisngnya batang s oleh bebon
yang sebenarnya. S menjadi gaya oleh beban virtual 1/i1 dan 1l)q*1. Padegnm-
tk _ lk -lk*r_--o**'
ak"Fr-- l--
oki bar 8. 6. 2. b. kita melihat beban keria virtual yang harus kita pasang pada titik sim-
pul k untuk menentukan bobot-beban W. kita juga melihat, bahwa jurnlah beban
dan selaniutnya: menjadi seimbang. Harus dikatakan di sini, bahwa beban virtual tidak selalu harus
menjadi P-: 1 .0 t.
a*: dx-6x-, dk+t: dk+r: 6**r- dp * bpal
Gambar8.2.6. c.
Gambar 8. 2. 6. b
Jikalau kita kemudian membandingkan segitiga yang diarsir pada gambar situasi
dan gambar gaya (lihat gambar 8.6.2. a.). Oleh karena semua tiga sisi meniadi se-
jajar kita boleh mengatakan segitiga-segitiga itu menjadi sebangun dan per-
bandingan dibaca seperti berikut:
bu-, : W,
't' b*+t: W*l*n, jikalauH =
:^*'
Ak+t 17
dan 1

Kita selaniutnya mengisi hasil a1; a1 11d6r1 bpl1 ke dalam rumus tsb. di atas
dengan tujuan menentukan hubungan antara bobot-beban Wdengnn ordinat garis
elastis:

380
r?,-**,, 381

I
Oleh karena kumpulan beban virtual menjadi seimbang mereka tidak menyebabkan
reaksi-reaksi tumpuan. Oleh karena itu hanya batang-batang antara titik simpul +,L)av*
k- 1 dan k + I menerima beban S. Tanda I dalam rumus (8. 34. ) selanjutnya hanya
+
|tnur
+ Auk+r) - #-*rw.,Mr_ nr"#.,^dk+l +
Ak+1
berisi bagian konstruksi rangka batang tsb. di atas. Jikalau kita pada kumpulan
gaya virtual menentukan dimensi sebagai (1/dimensi panjangnya) kita mendapat
(8.36.)
bobot-beban W tanpa dimensi.
Bobot-beban W pada konstruksi rangka batang pada umumnya ditentukan menu-
Dengan rumus (8.35.)dan rumus (8.36.)ini kita bisa menentukan bobot-beban W
rut gambar 8. 2" 6. b. dan c. seperti berikut: pada konstruksi rangka batang. Harus diperhatikan tanda ( + , - ) pada perobahan
Gaya virtual S menurut gambar 8. 2. 6. b.: panjangnya As pada batang masing-masing.
Pada konstruksi rangka batang dengan batang tepi atas dan bawah sejajar dan
*' masing-masing bagian dengan ukuran yang sama kita boleh menentukan:
Op = Oo*, =.
hpcosy p
U*:U*+r:0
y*:0 gt: tpr+1: q: konstanttetap)
Dr= + D*,t= * o**;, It:lr+t:,\=konstant
rkr ht: h = konstant
ur,:-* vr=o v*+t=**,
Gaya virtual S menurut gambar 8. 2. 6. c.:

,|

U* = U**t ht
Op:Qo*.'t=g

^ h pcos
Dqx*t: *
<p p.1 hpcostPpll
GEmbar 8. 2. 6. d. GambarS. 2. 6. e.
Vqa:0 Vk=
11 vqt*t -* o
lp lq**r Selanjutnya pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang naik (gambar 8.
2.6. d.), kita boleh menentukan bobot-beban Wsebagai:
Selanjutnya pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang naik (gambar 8.
2.6. b.), kita boleh menentukan bobot-beban Wsebagai:

wt: -|toor* Lo1,ai*


fi-*tur+ Ad111) -]ror*, + avk+r)
*r = -E*ru(ao1, + Ao111) * + hk*,pk- Ldr*t
a**rodk (8.37. )

-;Avk1-i-Ayr,.t
Ak Ak+1 dan pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang turun (gambar 8.2.6. e. ),
bobot-beban Wmeniadi:
(8.35.)

dan pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang turun (gambar 8. 2. 6. *r = + tLup + - fi*toru + adp,"1l * | or* (8.38. )
^uk+1t
c. ), bobot-beban I4lmenjadi:

382 383
Ssudah kita menentdRafi bobot.beban W kita membebani suatu balok tunggal Penyelesaian:
sebagai rbJim dasar dengan bobot-beban Witu dan mendapat garis elastis dengan Pada pertanyaan 1: Karena sistim menjadi simetris kita hanya harus menentukan
orclinat yang di*alikan derqnn F. beban pada batang masing-masing yang sebenarnya So dan beban oleh gaya vir-
tual P = 1.0 pada titik simpul 1,2dan 3 pada batang masing-masing (51, 52 dan
se).
8.6.3. Ringkastrt Penentuan ini boleh dilakukan dengan empat kali menggunakan cara grafis
(Cremonalatau cara analitis (Cullmann-Ritter). Oleh karena Oz = Ozdan O'2: g',
1. Sebagai goris elastis pada konstruksi rangka batang pada umumnya kita dan U1 = Uzdan U's = U3,dan U'2 = U'lmempunyai gaya yang masing-masing
tentukan garis eta'stie pada batang tepi bavrmh. Garis elastis menjadi suatu sama, tabel 1 dijadikan satu batang dengan panjangnya s misalnya 02 + 03 dsb.
poligon bukan garis lengkung, oleh karena batang masing-masing tidak me- a) Beban virtual P : 1 .O pada titik simul 1 (nilaiSl ):
bngd<ung, hanya berubah panjangnya. Oleh perubahan pada titik simpul ma- Ukuran dan sebagainya seperti pada gambarS.6.4. a.
sing-masing kita tentukan gario elastis itu.
2. Pada konstruksi rangka batang dengan beberapa titik simpul saja kita boleh
menggunakan rumus jumlahan yang berulang kali digunakan.
3. Pada konstruksi rangka batang dengan banyak titk simpul kita menentukan
gnrie elastis dengan bmntuan bobot-beban W.
4. Kita nnenentukan bobot-beban wmenurut rumus (8.35.) s/d rumus (8.38.).
Untuk itu kita memerlukan peru.lcahan panjangnya batang masing-masing oleh
beben yang sebenarnYa.
5. Dengnn bobot-beban w kita membebani sistim dasar - suatu balok tunggal -- Gambar 8. 6. 4. b
dan menerima garis elastis sebagai diagram rnomen'
b) Beban virtual P = 1.0 pada titik simpul2 (nilai52):

8.6.4. Contoh
Pada ksnstruksi rangka batang berikut dengan beban yarq tentu dan
dengran E : 2'lC{Jllem2 harus ditentukan garis elastis menurut/dengan:
1 . bantuan rumus iurnlahan
2. bafiuanbobot-beban W

I A';',- qtost
I Gambar 8. 6. 4. c.

c) Beban virtual P = 1.0 pada titik simpul 3 (nilai 53):

Gambar 8. 6. 4. a. Gambar8.6.4. d.

384 385
Tabel 1: Pergeseran vertikal pada titik simpul 1 s/d 3 menurut rumus jumlahan moniadi:
Baris 1 s/d 4 berisikan data-data konstruksi rangka batang, baris 5 s/d 8 berisikan
gaya batang masing-masing oleh beban sebenarnya dan oleh beban virtual dan
: 1?J g:0,725cm
,i.'
baris9s/d 1l menjadi hasil rumus jumlahan, yaitu SoSl s/F: E. d1 dan SoS2s/F 2100
: E.dzdan SoS3s/F = E.6t.
3172,1
r].: =1.51 Cm
' 2'too
gaya batang
tang s F s/F E. d, E. 6, E' dt ,\- :34].2 = 1 8o cm
so sr s2 sr ' 21ffi

lcm) lcn|) (cm tl It) (t) (t) Itl (t/cm) (t/cm) (t/cm)
Pada pertanyaan 2'. Pada penentuan garis elastis dengan bobot-beban W kita
2 3 4 5 6 7 I 9 10 l1 menentukan pertama perobahan paniangnya batang masing-masing As = So s/F.
Karena itu kita tentukan gaya batang So oleh beban sebenarnya. Semua dihitung
oI 424 60,0 7,07 ,1,000 + 233,0 + 188,5 + 133, I sebagai tabel pada tabel 2 yang berikut. Karena konstruksi rangka batang pada con-
-26,7 -1,237 -0,701
o ,o, 912 70,0 13,03 + 226,5 + 529,0 + 373,5 toh ini menjadi simetris kita hanya memperhatikan satu bagian saia.
-29,6 -0.587 -1,370 -0.968
Penentuan E. W1 dan E. W3 leriadilah dengan rumus (8. 36.) dan E. Wz dengan
o io; 912 70,0 13.03 -29,6 -o,242
*0,562
-0,968 + 93,2 + 217,0 + 373 5 rumus (8.35.). Sebagai pendahuluan kita menentukan beberapa nilai yang akan
oI 424 60,0 7,07 + 33,4 + 77,3 + 133, 3 diperlukan.untuk menentukan E. W1 sl d E. W3:
-26.7 -0.177 -0,410 -o,707
U ,U, 700 20,2 34,65 + 18,9 + 0.875 + 0,708 + 0.500 + 573.5 + 463.0 + 327, 5 1',| 'l
" = 0,00333
1
= 0,00222
U,ui 1000 24.6 N,70 +28,8 + 0,333 +0,778 + 1,333 + 390,0 + 912,0 + 1563, 0 i,, aOO i- 4rlo

U ;U; 7N 20,2 34.65 + 18.9 +0.125 + 0,290 + 0,500 + 81,8 + 189,8 + 327, 5 'l 1
0,0[,0472
1 1
- 0.00276
hrcosyl 300'0,707 -- h2cosy2 367'0,987
D s(n 12,63 39,65 + 12,9 -0,309 + 0.800 + 0.569 - 188.8 + 410,0 + 291,0
_ 19. 2 11 : 11
D3 673 9.67 70,00 + 0,54 + 0.332 + 0,772
-0.509 + 12,5 + 29,2 0,00417
hrcos rp2
0.00341
h, cos rp1 300 ' C),800 367 ' 0,800
D: 673 9,67 70.00 + 0,54 -0,128 -0,301 -0,509 4,8 11,4 - 19. 2
11 :
+ + + 0,00367
D 500 12,63 39,65 + 12,9 +0,141 + 0.328 + 0.569 72,1 167,7 291,0 h2cos tp, 367 '0,743
300 9.60 31.25 0,0 + 1,00 0,00 0,00 0 0 0 1',I =
ircot,4r, -
0.00299
2 367 31,0 11 ,82 - 8,1 0,00 0.00 0,00 0 0 0 4so:0,743
450 9.60 0,0 0,00 0,00 1.000 0 0 0
3
't6,90
Misalnya penentuan W, menurut rumus (8.35.):
V"7 367 31.0 11,U - 8,1 0,00 0,00 0,00 0 0 0

V:I 300 9,60 31,25 0,0 0.00 0,00 0.00 0 0 0 11111


Jumlah : ' h2cosyt h2copq2 ' hrcosrpl ' )2 il
+ 1521.9 }3172 + 3775.2

dan selanjutnya:

EW2 = -0,00276 (-385,0) + 0,00341 ' 512,0 + 0,00367 ' 37,9

EW, - +'l ,062+ 1,745+0,139 : 2,946t/cm'?

386 3Bl
Tabel 2:

batang s F s EAs EW, Ewz Y2EW! 9. Garis pengaruh


Dimensi Icm1 lcm2 Icml It/ cml It/ cm|l [t/ cm21 It/ cmzl
I 2 3 4 6 6 7 8
or 424 60,0 -26,7 - 188,8 + 0,88,
Orot 912 70,0 -29,6 -385.0 +1,62 9. 1. Pengetahuan dasar dan penggunaan garis
U,U, 700 20,2 + 18,9 + 655,0 +2,18 +1,n2 pengaruh
3 500 24,6 +28,8 + 586,0 +1,fi2
D 500 12,6 + 12,9 +512,0 -2,135 + 1,745
9. 1. 1. Pengetahuan dasar
D2 673 9.6 + 0,* + 37,9 +0,139 -0,114
I 300 9,6 0 0 0 0 Dengan ketentuan-ketentuan statika yang kila ketahui sampai sekarang,
kita dapat menentukan reaksi tumpuan dan gaya batang pada. suatu konstruksi
367
2 31,0 - 8,1
- 95,8 batang atau rangka batang dan kemudian menentukan ukuran batang, tegangan-
3 450 9,6 0 0 0 0 tegangan yang timbul dan perubahan bentuk elastis. Penentuan-penentuan ini se-
lalu berdasarkan atas beban dan gaya yang tentu dengan nilai, jurusan dan titik
tal + 0,953 + 2.946 + 1.188 tangkapnya. Pada beban merata kita memperhatikan berat sendiri beserta beban
Dengan bobot-beban W yang baru ditentukan pada tabel 2 kita akan membebani berguna, yang walaupun bergerak dan tidak tetap, dihitung juga seperti beban
sistim dasar (balok tunggal) pada/dalam tabel 3. dan mendapat garis elastis dengan tetap. Akan tetapi pada banyak konstruksi bangunan timbul beban bergerak
pergeseran d pada titik simpul masing-masing. misalnya jembatan lalu lintas, jembatan kereta api, rel derek dsb. dengan titik
tangkapnya yang selalu beralih-alih. Pada umumnya beban bergerak ini bekerja se-
Tabel 3:
jajar anting dan pada bab ini kita hanya memperhatikan beban yang berjurusan seja-
jaranting. Kemudian juga beban bergerak ini berjarak.tetap.
k EW* i E.o E.O.l EM d
Pada beban yang tetap (mati) walau gaya-gaya dalam suatu batang berubah. pada
Dim. [t/ cmzl lcml . [t/ cm2l It/ cml [t/ cml Icm) tiap-tiap potongan tertentu ada juga gaya-gaya dalam tertentu. Pada beban yang
bergerak nilai gaya dalam berubah pada tiap-tiap gerakan beban itu. Untuk me-
Sp. 1 2 3 4 5 6 nentukan ukuran-ukuran batang selanjutnya kita harus memperhatikan nilai reaksi
tumpuan dan gaya batang yang maksimal dan yang minimal pada potongan
a 0 0 mming-masing. Untuk penentuan nilai-nilai maksimal dan minimal ini,kita meng-
gunakan garis pengaruh'
1 0.953 1526,1 0,725
Gambar g. 1. 1. a.
400 4,134 1653,6 p beban merata
7-gaya-gaya -to.r t/h qr- t0.0 t /n
2 2,9tt6 3179,7 1,51

500 1.188 594,0


A00 ------+-- =32500
3 2,376 3773,7 1,80 -
Garis pengaruh harus kita tentukan untuk semua nilai statika seperti reaksi tum-
Hasil-hasil ini menjadi sama dengan hasil-hasil pada pertanyaan 1, walaupun pekeriaan puan, gaya lintang atau lendutan pada suatu titik tertentu, dan menjadi suatu garis
pada pertanyaan 2 (dengan mengunakan bobot-beban Wl jauh lebih sederhana dengan sifat khusus masing-masing. Penentuannya hanya menjadi satu bagian dari
daripada dengan penggunaan rumus jumlahan.
389
388
soal-soal yang timbul tetapi penggunaannya terletak pada penyelesaian yang
menentukan gaya-gaya dalam yang dicari. Untuk menentukan ordinat-ordinat 4 salah satu garis pengaruh kita meng-
sebagai gaya-gaya P kita menentukan misalnya roda-roda suatu kereta api dsb. gulingkan suatu gaya P : 1 .0 (t) pada seluruh konstruksi batang.
dan beban merata menjadi misalnya lalu lintas mobil dsb. seperti dilihat pada gam- Pada titik tangkap masing-masing oleh gaya P = 1 .0 ini kita menentukan
bar 9. 1. I a. di atas. pengaruh atas nilai statika yang dicari dan menentukan hasil ini sebagai
ordinat 4 di bawah titik tangkap itu. Ujung-ujung ordinat 4 masing-masing
9. 1.2. Penentuan garis pengaruh yang dihubungkan dengan suatu garis kita tentukan sebagai garis
pengaruh dan luasnya sebagai bidang pengaruh.
Pada perhitungan statika pada suatu konstruksi batang atzu rangka
batang dengan gaya-gaya dan beban mati kita menentukan suatu potongan sem- Catatan: Pada beberapa buku statika lain untuk kependekan ordinat garis pengaruh
barang untuk penentuan gaya-gaya dalam. Juga pada gaya-gaya dan beban yang juga digunakan I atau y.
bergerak kita harus tahu di mana potongan sembarang bermanfaat dan untuk gaya Ordinat-ordinat pada suatu garis pengaruh dapat meniadi positif atau negatif.
dalam yang mana kita harus menentukan garis pengaruh. Dengan pengetahuan ini Selanjutnya kita menentukan, bahwa ordinat yang positif kita gambar ke bawah
kita dapat menentukan titik tangkap dari gaya atau beban yang kita perlukan pada dan ordinat yang negatif kita gambar ke atas dari suatu garis dasar dengan titik
penentuan gaya dalam yang maksimal dan yang minimal. walau nilai maksimal dan batasan (n = 0) antaranya. Walaupun suatu garis pengaruh digambar pada seluruh
minimal ini mungkin tidak menjadi nilai maksimal dan minimal pada batang yang konstruksi batang, pengaruhnya tergantung hanya pada satu titik yang di-
diperhatikan, nam!n menolong menentukan garis pengaruh dan titik tangkap yang perhatikan (misalnya tumpuan ,4). Garis pengaruh meniadi terlepas/bebas dari
bersangkutan. gaya-gaya atau beban yang bekerja pada konstruksi batang dan dapat juga diten-
tukan tanpa memperhatikan beban yang bekerja pada konstruksi batang itu.
P pada titik tangkap
1,2dan3
9. 1.3. Penggunaan garis pengaruh
Keterangan-keterangan berikut membicarakan satu gatis pengaruh pada
reaksi tumpuan sebagai contoh. Caranya sebenarnya dapat iugn dilakukan pada
garis-garis pengaruh yang lain.

t1r' A pada titik tangkap I


112' A pada titik tangkap 2
11r' A pada titik tangkap 3 Gambar 9.1.2.a.

untuk menentukan garis pengaruh kita menggulingkan suatu gaya p pada seluruh
panjangnya konstruksi batang dan menentukan pada tiap-tiap titik tangkap
pengaruhnya atas reaksi tumpuan atau gaya dalam.
sebagai keterangan kita perhatikan gambar g. l. 2. a. di atas. Gaya p pada bagian Ordinat 4' A untuk gaya P' 1,0 pada
kiri dari balok terusan itu menyebabkan reaksi tumpuan A yang positif (+ ). Reaksi titik tangkap A' P1q1 * P242 + Ptnt Gambar 9. 1.3. a.
tumpuan 4 ini makin besar makin dekat gaya ppada tumpuan,4. Jikalau gaya p
misalnya bekerja pada bagian kanan, maka reaksi tumpuan.4 menjadi negatif (-).
Suatu gaya P = 1 .0 (t) mengakibatkan pada tumpuan 4 suatu gaya (reaksi tum-
Nilai reaksi tumpuan A oleh gaya P yang bergerak kita tentukan sebagai ordinat
4 puan) sebesar (1. 0) 4. Oleh karena itu, satu gaya sebesar Pmengakibatkan suatu
pada titik tangkap masing-masing. Hubungannya dapat kita lihat pada gambar
reaksi tumpuan sebesar P. 4 .
9. 1.2. a. Garis itu sebetulnya sudah menjadi suatu garis pengaruh pada reaksi Jikalau pada konstruksi batang di atas bekerja suatu kumpulan gaya dengan n gaYa
tumpuan 4.
P, tiap-tiap gaya P; mengakibatkan reaksi tumpuan Pi.ei.

390 391
Reaksi tumpuan dapat kita tentukan:
9. 1.4. Ringkasan
Ra = t
l=n
Fini
1. Garis pengaruh kita gunakan untuk penentuan nilai maksimal dan minimal pada
{9. 1.} reaksi tr-rmpuan dan gaya dalam pada beban yang bergerak.
i+1 I
I 2. Dengan mernperhatikan bentuk garis pengaruh dapat kita menentukan cara
Sebagai penentuan reaksi tumpuan Fa dengan bantuan garis pengaruh kita dapat I
pembebanan pada suatu konstruksi batang atau rangka batang supaya beban
menentukan: tiap=tiap gaya P1 harus dikalikan dengan ordinatnya 4i dengan l
l
itu mengakibatkan reaksi tumpuan atau gaya dalam yang maksirnal atau yang
memperhatikan tanda (+, -)kemudian hasil kali masing-masing dijumlahkan. Fa mimimal.
maksimal kita dapatkan dengan memasang kumpulan gaya itu pada bagian dengon 3. Garis pengaruh dapat kita gambar dengan satu gaya P = 1 .0 (t) yang kita gu-
ordinat garis pengaruh 4 yang positif, dan Ra minimal dengan memasang kumpulan lingkan pada seluruh panjangnya konstruksi batang atau rangka batang.
gqya itu pada bagian konstruksi batang dengan ordinat garis pengaruh 4 yang 4. Pada penggunaan garis pengaruh kita membebani hanya bagian-bagian dengan
negatif . Gambar garis pengaruh membantu kita dalam pencarian titik-titik yang pa- ordinat 4 yang positif atau yang negatif saja. Pada beban merata kita me-
ling jelek dan yang paling ideal. ngalikan beban dengan bidang pengaruh. Pada gaya atau kumpulan gaya kita
mengalikan gaya masing-masing dengan ordinatnya 4 dan menjumlahkan hasil
Nilai maksimal kita dapatkan dengan memasang gaya-gaya yang terbesar kali itu.
pada tempat dengan ordinat garis pengaruh 4 yang terbesar. Nilai maksimal kita dapatkan dengnn memasang gaya-gaya yang terbesar padg
tempat, yang ordinat garis pengaruhnya 4 terbesar.
Jikalau kita atas dasar ketentuan ini belum dapat menentukan titik-titik tangkap
kumpulan gaya, kita harus mendorong kumpulan gaya itu demikian rupa, eehingga
gaya berikut bekerja pada titik dengan 4r"r. 9.2. Garis pengaruh pada balok tunggal
d,
9.2. 1. Garis pengaruh pada roaksitumpuan
Seperti telah dibicarakan pada bab 9. 'l . 2. garis pengaruh pada misalnya
tumpuan .4 dapat kita tentukan dengan menggulingkan suatu gaya P = 1,0 (t) pada
seluruh panjangnyo lebar bentang 1 pada balok tunggal yang diperhatikan. Pada
tumpuan A gaya P = 1,0 mengakibatkan suatu reaksi tumpuan sebesar I a = 1,0
yang menentukan ordinat 4 garis pengaruh sebagai n = 1 ,0.' Jikalau gaya P = 1,0
bekerja pada tumpuan I reaksi tumpuan pada tumpuan 4 menjadi nol (Ro = 91.
Gambar 9.1.3. b. Oleh karena itu, ordinat 4 garis pengaruh pada tumpuan I menjadi n : 0 juga.
Jikalau gaya P: 1.0 bekerja pada titik tangkap sembarang dapat kita tentukan
Beban merata akan kita bagi atas potongan dx yang kecil. sehingga beban itu
reaksi tumpuan 4 sebagai Fn = 1,0 . z'/l dengan ordinat 11 garis pengaruh sebagai
bekerja sebagai satu gaya P. Hasilnya dapat diringkaskan menurut rumus (9. 1.)
dan gambar 9. 1. 3. b. di atas sebagai: 4= z'/l' 1,0.
nn
Hasil ini menjadi persamaan suatu garis lurus, dan berarti, bahwa kita b&h meng-
rr
Ra = ) Q dx 4 = s) n dx :
hubungkan titik ordinat 4 = 1,0 pada tumpuan / dengan titik ordindt 4 = 0 pada
mm
eF(m.n) I
tumpuan seperti terlihat pada gambar 9.2. 1. a. berikut:

Nilai lntegral ini menjadi luasnya bidang pengaruh antara titik m dan titik n..

t9.2.t DAI
Pada beban merata kita harus mengalikan ordinat g dari beban merata dengan
--i Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4

luasnya bidang pengaruh di bawah beban merata itu.


Nilai maksimal juga kita dapatkan dengan memasang beban merata pada tempat,
yang ordinat garis pengaruhnya 4 terbesar.
Gambar 9.2. 1. a Garispengarur",#
392 393
Jikalau kita ingin menggambar garis pengaruh pada reaksi tumpuan I kita dapati Kita dapat menggambar garis pengaruh pada gaya lintang pada suatu potongan
ordinat 4 garis pengaruh pada tumpuan B sebagai 4 - 1,0 dan pada tumpuan.4 sembarang dengan menentukan ordinat 4 garis pengaruh pada tumpuan ,4 sebagai
sebagai 4= 0. Lihatjugagambar9.2. 1.a. di atas (Penggunaangarispengaruh). n= 1,0 dan pada tumpuan I sebagai n :
Maka pada penentuan reaksi tumpuan oleh kumpulan gaya yang tertentu, dan be-
- 1,0.
Hubungan vertikal antara dua garis ini dapat kita gambar pada potongan sem-
kerja pada bagian garis pengaruh dengan ordinat 4 besar kita dapat menentukan re- barang.
aksi tumpuan 4 sebagai jumlah gaya-gaya yang dikalikan dengan ordinat 4 masing- Penggunaan garis pengaruh pada gaya lintang kita lakukan dengan mengalikan
nrasing seperti juga terlihat pada gambar 9.2. 1. b. berikut: bagian ordinat 4 yang positif dengan O dan bagian ordinat 4 yang negatif dengan
gaya lintang O.
zi
i : j
'l
Ra=2P;4i =2P1 >P,'i
9.2.3. Garis pengaruh pada momen lentur
Sudah kita ketahui, bahwa suatu gaya P = 1,0 pada suatu balok tunggal
Gambar9.2. 1. b. pada tumpuan masing-masing tidak rnengakibatkan suatu momen. dan karena itu
ordinat 4 garis pengaruh pada momen lentur pada tumpuan masing-masing men-
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan,4
jadia : g.
Jikalau kita memperhatikan suatu potongan c pada balok tunggal ini dan gaya P :
1,0 bekerja pada titik potong c, maka gaya P = 1,0 mengakibatkan suatu momen
sebesar M : 1,0. x. x' /1.
Hasil ini berarti bahwa ordinat 4 pada garis pengaruh pada titik potong c juga men-
jadi 4 : 1,0. x. x' /1. Jikalau gaya P = 1,0 bekerja di sebelah kanan potongan c
9.2.2. Garis pengaruh pada gaya lintang
sembarang, maka momen itu menjadi M = R a. xdan ordinat 4 = R a.i. Hasil ini
Gaya lintang sebetulnya jumlah semua gaya yang bekerja siku-siku pada berarti, bahwa garis pengaruh ini menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan .4
garis sumbu batang (balok tunggal) sebelah kiri atau yang dalam hubungan yang yang dikalikan dengan x, dan menjadi suatu garis lurus.
sama sebelah kanan pada suatu potongan. Jikalau suatu gaya P : 1.0 bekerja Gaya P = 1.0 yang bekerja di sebelah kiri potongan c sembarang mengakibatkan
sebelah kanan dari potongan c maka gaya lintang Q" = Ra. momen M = R6. r. dan ordinat n : Re. x,yang menjadi garis pengaruh pada
Oleh karena itu pada suatu gaya P = 1.0 yang bekerja antara potongan c dan tum- reaksi tumpuan I yang dikalikan dengan x ' . Lihat gambar 9. 2. 3, a. berikut:
puan I garis pengaruh gaya lintang menjadi juga garis pengaruh reaksi tumpuan ,4.
Jikalau gaya P = 1.0 bekerja sebelah kiri dari potongan c maka gaya lintang O" :
RA - 1.0 = - Ra.Oleh karena itu pada suatu gaya P = 1.0 yang bekerja antara
tumpuan ,4 dan potongan c garis pengaruh pada gaya lintang menjadi juga garis
pengaruh pada reaksi tumpuan 8 yang negatif . Lihat gambar 9 .2.2. a. berikut:

Garis pengaruh pada momen /U

Garis pengaruh pada gaya lintang O" ---.-.il


--J-j Gambar 9.2.3.a.
Garis pengaruh pada gaya lintang O7
Kemudian kita dapat menentukan garis pengaruh pada momen lentur dengan
menentukan ordinat 4 = x . x' /l padatitik c dan menghubungkan nilai ini dengan
titik tumpuan A dan B.

395
Cara lain dapat iuga kita lakukan dengon nrenggenrbar ukuran x di banreh tunpuan Pada beban yang tidak langsung garis pengaruh harus menjadi suatu garis
,4 dan ukuran x'
di bawah tumpuaR 8, hubungkan titik-titik ini dengan titik tum- lurus.
puan yang di depan, dua garis lurus ini harus rnerptrn1lai tit& potoflg cli bawah
potongan cdan ordinatnya harus n - x. x'/1. Selanjutnya kita perhatikan satu balok tunggal dengan beban yang tidak langsung
menurut gambar 9.2. 4. c. berikut. Dicari: garis pengaruh pada tumpuan A, pada
9.2.4. Beban yang tidak langsung gaya lintang O dan momen lentur M.

Pada banyak jenis konstrukei bangunan, terutama pada konstruksi jem-


batan beban berguna diterinra oleh balok tunggal yang melintang dan yang duduk
di atas konstruksi batang utama. Kejadian ini kita namakan beban yang tidak Gambar9.2.4. c
hrqsung.

Beban yang tidak langsung


Garis pengaruh pada reaksi
GarSar 9.2.4. a.
tumpuan,4
Suatu gaya P yang bekerja antara titik m-ldsrn titik rn rnengakilratkan @a titik
simgrl dengan konstruksi batang utama suatu beban sebesar: __-1
Garis pengaruh pada gaya
P-', = P'T P-= P: lintang O,

Pada penyelesaiannya gaya Psebenarnya harus menjadi sama dengan jurntah gaya
is
P, dan P.-1 dan kita dapat menentukan: I
L--
h = P-:t4m-1 *Pm4m

h = Pfn,-.r*eln- Garis pengaruh pada momen


lentur M"
c' c'
14n-1
* T4-=4o*4u

Sebagai keterangan bisa dilihat gambar 9. 2. 4. b. berikut: Kita dapat menggambar garis pengaruh masing-masing pada beban yang tidak
langsung seperti garis pengaruh biasa. Kemudian kita menggambar garis hubungan
yang lurus antara ordinat 4 pada titik rn dan 4 pada titik rr-1, seperti terlihat pada
gambar 9. 2.4. c. di atas.
Dengan menggunakan cara ini kita dapat melihat, bahwa pada garis pengaruh pada
reaksi tumpuan tidak ada perubahan. Pada garis pengaruh'pada gaya lintang kita
dapatkan suatu garis penghubung miring dan pada garis pengaruh pada momen
lentur dapat kita potong titik puncak di bawah gaya P.
Pada penyelesaian penentuan ordinat-ordinat pada beban yang tidak langsung
sebaiknya kita menghitung dengan perbandingan-perbandingan berikut.
Gambar9.2.4. b Pada beban merata yang tidak langsung garis pengaruh pada gaya lintang menjadi
agak sulit karena titik n = 0 tidak sama dengan titik potong c.
Ordinat 4 di bawah gaya P sebenarnya terdiri dari dua komponen 4o dan 4r.
Nilainya ditentukan dengan garis hubungan ordinat garis pengaruh 4* dan 4._1 . Untuk memudahkan perhitungan kita menentukan luasnya bidang ( + , - ) fi dan F2

Hasil ini dapat kita tulis sebagai: dari bidang pengaruh dan luasnya bidang pengaruh seluruhnya'F seperti berikut:

396 397
2-1 Dengan superposisi pengaruh masing-masing kita dapatkan:
I

I
hl (n : 1,0) drs: Pir + P2dD + Prdr, + ... + Pndrn

Atau menurut syarat dari Maxwell llihat bab 8. 3. 2. ) dapat kita tentukan:
lh
I dn: P.f... + Pr6r, + 13d31 + ... + Pndnl
L
I., Gambar9.2.4. d.
Hasil ini berarti, bahwa d4menjadi lendutan atau dengan kata lain ordinat garis
elastis pada titik 1,2,3, ....., n oleh gaya P : 1.0 pada titik 1. Ordinat garis elastis
ini kita kalikan dengan nilai gaya P sebenarnya. Jumlah hasil kali masing-masing
Ft:-ln,t"+r,t q, P2, P3, . .. .. . . , Pn
menjadi lendutan pada titik 1 oleh gaya
h,=h1 h,:h! Karena ketentuan ini menjadi sama dengan ketentuan garis pengaruh pada len-
dutan, dapat kita tentukan:
a
clic=hr:lhr+hrl cr - " a+b
Garis pengaruh pada lendutan titik k sembarang menjadi sama seperti
1 a2 a+b+c = titik
F,- -!nll,""*l ,!
2" I a+b
_-- -
-Z
ha2
"+b
garis elastis oleh gaya P 1 .0 pada rt sembarang.

dan selanjutnya 9.2.6. Ringkasan


1. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4 mempunyai pada titik tumpuan 4
-ha2_hb2
l-:- ordinat I : 1.0 dan pada titik tumpuan I ordinat 4 : 0 dan menjadi suatu garis
' 2 a+b 'tF-:-- 2 a+b (9. 3. )
lurus.
2. Garis pengaruh pada gaya lintang terdiri dari garis pengaruh pada reaksi
h b2*a2 h lb-allb + al tumpuan A yang positif dan garis pengaruh pada reaksi tumpuan I yang
F=fi+Fz: z a+b negatif dengan garis pengubung vertikal pada titik potong c. Garis pengaruh
a+b
pada gaya lintang menjadi negatif pada bagian balok tunggal sebelah kiri dan
menjadi positif pada bagian yang kanan.
F : Ft + Fr: Iw-ul (9.4.) 3. Garis pengaruh pada momen lentur mempunyai nilai (ordinat) n = x . x'/l pada
titik potong c dan ordinat n : 0 pada titik tumpuan A dan 8. Antara titik-titik
tertentu ini garis pengaruh menjadi garis lurus.
4. Garis pengaruh pada beban yang tidak langsung harus menjadi garis lurus.
9.2.5. Garis pengaruh pada lendutan 5. Garis pengaruh pada lendutan pada titik k sembarang menjadi sama seperti
garis elastis oleh gaya P = 1.0 pada titik k sembarang.
Atas dasar pengetahuan pada bab 2. 8. (perhitungan lendutan) dan bab 6.
1.3. (Lendutan) kita perhatikan suatu balok tunggal yang dibebani dengan
9.2.7. Contoh-contoh
beberapa gaya. Lendutan pada suatu titik 1 sembarang oleh beban yang sebenar-
nya kita tentukan dengan kependekan d16. Contoh 1: Pada gambar 9. 2. 7. 1. a. berikut kita melihat suatu balok tunggal (jem
suatu gaya P = 1.0 yang bekerja pada titik 1 mengakibatkan lendutan pada titik 1 batan) dengan suatu kumpulan gaya (kereta api). Jikalau dua kumpulan gaya itu
sebesar d11 dan kemudian oleh gaya P1 lendutan pr . d.1. satu per satu atau bersama bisa lewat jembatan ini, dapat kita tentukan dengan
Suatu gaya P = 1.0 yang bekerja pada titik 2 mengakibatkan lendutan pada titik 1 bantuan garis pengaruh nilai-nilai seperti berikut:
sebesar d.12dan kemudian oleh gaya P2 lendutan pz. dn. 1. Reaksi tumpuan A maksimal
Seterusnya kita mendapatkan lendutan Ps.d asld pr. 61n. 2. Momen maksimal pada titik potong c dengan jarak x : 5.0 m

398 399
Contoh 2: Suatu balok tunggal {jembatan} dengan lebar bentang / = 25'00 m Karena kita tidak tahu apakah ini betul-betul men.iadi momen Mp maksimal, kita
dengan balok melintang dengan jarak = 5.00 m dibebani secara tidak langsung harus juga memeriksa kemungkinan gerbong sebelah kiri dan sebelah kanan dari
oleh kumpulan gaya (kereta api) atau kumpulan gaya (gerbong). Berat sendiri kereta api itu (lihat gambar 9.2,7.2. d.) dan mendapatkan nilai yang sedikit lebih
'konstruksi batangini menjadi g=1.5tlm, lihatjugagambar9.2.7.2'a,berikut. tinggi dari nilai yang tadi:
Tempat kereta api dan gerbong menjadi sembarang. Nilai-nilai yang dicari: Mp:10,0 (0,60 + 1,50 + 4,2o + 5,10 + 6.00 + 5.40 + 4,80
1. Reaksi tumpuan ,4 maksimal + 4,20 + 2,N + 1,80 + 0,20) : 10,0.36.20 = 362.0tm
2. Momen maksimal pada titik potong c dengan iarak x = 10.0 m
3. Pada titik potong c itu ditentukan gaya lintang 3, Penentuan gaya lintang atas dasar beban tadi pada titik potong c dengan jarak
4. Gaya lintang yang maksimal dan yang minimal pada titik potong c'dengan x= 10.0 m:
jarakx = 6.00m.
Karena titik potong c dengan jarak x : 10.0 m menjadi sama dengan titik tumpuan
Penyelesaian: balok melintang (tiap-tiap 5.0 m) kita hanya dapat menentukan gaya lintang
1. Penentuan reaksi tumpuan ,A maksimal: sebelah kiri (/) dan sebelah. kanan(r) dari titik potong c itu. Karena garis pengaruh
pada beban yang tidak langsung rnenjadi suatu ganis lurus, hasil gaya lintang pada
Roda pertama dari kumpulan gaya (kereta api) kita pasang tepat di atas tumpuan A potongan kiri atau kanan dari titik potong c harus menjadi sama (lihat gambar 9. 2.
dan kereta api kedua kita pasang sedekat mungkin (lihat gambar 9.2.7.2. b.l. 7.2. e. dan f . berikut). Pembebanan harus sama seperti ditentukan pada gambar L
Penyelesaian kita pisahkan atas berat sendiri (g) dan kumpulan gaya (P seperti 2.7.2. d"
berikut:
Selanjutnya kita dapatkan hasil gaya lintang sebagai:
1
Rnc: gF:1,521,0.25,0 = 18,75t
anr : t,s1) tl5,0 - 5,0) = 7,s t
Rap = 10,0(1.00 + 0.94 + 0,88 + 0,88 + 0,82 + 0,76 + 0,70 + 0,46
+ 0,210 + 0,34 + 0,28 + 0,22 + 0,161
:
as,= 1,5Tn o,o - 1o,o) = o
Re p - 1A,0. 6,96 69,6 t
= 1Q,Q(*0,04 - 0,10 + 0,12 + 0,36 + 0,60 + 0,54 + 0,48 + 0,42
2. Penentuan momen maksimal pada titik potong c dengan x = 10.0 m:
Qp1
+ 0,24 + 0,18 + 0,021
Karena kita pasang kumpulan gaya demikian rupa, sehingga salah satu gaya P
bekerja pada titik potong c kita tidak usah memotong puncak garis pengaruh pada Ap1: 10,0.2,82 = 28,2t
momen lentur dan ordinat 4 pada titik potong c dengan jarak x = 10.0 m dapat kita
tentukan sebagai: Oo, :10,0{- 0,04 - 0,10 - 0,28* 0,34 - 0,40 * 0,16 + 0.08 + 0,32
+ 0,24 + 0,18 +
n= xx'
0,02)
r :
10,0.15,9_
2ro - = 6,00
=o'(ru
Ao, = 10,4 {-- 0,48} = - 4,80 t
Selanjutnya kita pasang kumpulan gayd (kereta api) demikian rupa, sehingga
bekerja pada titik potong c dengan jarak x = 10.0 m. Sebelah kanan kita tempatkan
suatu kereta api lagi dan sebelah kirl suatu gerbong sedekat mungkin (lihat gambar
9.2.7.2. c. berikut) dan terdapat nilai-nilai seperti berikut:

Ms : 1
6,0. 1,5 : 112,5tm
225,O.
Mp= 10,0(0,60 + 1,il + 4,20 + 5,10 + 6,0 + 5,40
+ 4,80 + 4,2O + 1,80 + 0,60)
Mp = 10,0 .35,40 = 354,0 tm Gambar situasi Gambar 9. 2.7.2. a.

402 403
tso t50 150 t'o
%tm_ 150
-,150,t50,150 ts7 150

Garis pengaruh pada gaya lintang 0",


Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4

s)

c) |
l
----
_-r- l

Garis pengaruh pada gaya lintang A",-",

t0 t50 t50
__
Garis pengaruh pada momenlentur M" 2000
i--r-
h)
450 100
--.J:.1 - -1
d)

Garis pengaruh pada gaya linlang Q", Gambar 9.2.1.2. f. s/d h.


-i,
Garis pengaruh pada momenlentur M"
4. Penentuan gaya lintang yang maksimal dan yang minimal pada titik potong c'
dengan jarak x= 6.0 m:
Menurut gambar 9. 2.7.2. g. kita mendapatkan Q",
-r, dengan memasang kereta
api dan satu gerbong pada bagian garis pengaruh yang positif. Kita mendapatkan
----1 hasil:

os : 1,sT tls,o - s,o) = 7,s t


Apmax = 10,0(0,36 + 0.@ + 0,54 + o.zl8 +o,42 + 0,36 + 0.18 +o,121

Garis pengaruh pada gaya lintang O"7


Gambar9.2.7.2. b. s/d e. Apmax = 10,0.3,06 : 30.61

404 405
Perlu diperhatkan, bahwa tempat tumpu'an menentukan tanda
(+.-) garis
Selanjutnya menurut gambar 9.2.7 .2. h. kita dapatkan Ar,
-6 dengan memasang
pengaruh pada gaya lintang domikian rupa, sehingga gaya lintang menjadi positif
sebagian dari kereta api pada bagian garis pengaruh yang negatif. Kiu men- jikalu tumpuan
dapatkan hasil: iit.t", tr.puan konsole berada di sebelah kiri dan menjadi negatif
konaole berada di sebelah kanan.
Qpmin = 10,0 (- -
0,020 0,080 - 0,140 - 0,200)
= 10,0 (-0,440) =- 4,40 t

9.3. Garis pengaruh pada konsole, pada balok 9.3.2. Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole
: 1'0 bergprak
tunggal dengan konsole dan pada balok Jikalau pada suatu balok tunggal dengan konsole gaya P
pengaruh
antara tumpuan.4 dan 8, konsole itu tidak mempengaruhi bentuk garis
rusuk Gerber atau dengan kata-kata lain: garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole an-
tara tumpuan A dan B harus sama seperti garis pengaruh pada balok tunggal.
9.3. 1. Garis pengaruh pada konsole Jikalau gaya F: 1.0 bergerak pada konsole yang sebelah kiri, reaksi tumpuan R1
Penentuan garis pengaruh pada konsole sebenarnya tidak ada kesulitan- akan.tumbuh linearsampai gaya P = 1.0 bekeria pada ujung konsoleyang bebas
nya. dengan nilai:
Jikalau gaya P = 1.0 bekerja pada suatu titik sembarang reaksi tumpuan juga men- a.+l
jadi Ra: 1.0, dan garis pengaruh pada $uatu titik sembarang juga harus mem- RA: 1,0--!
t-
punyai ordinat n : 1.0 maka garis pengaruh ini menjadi suatu segiempat menurut
gambar 9. 3. 1. b.
Jikalau gaya P = 1.0 bergerak pada konsole yang sebelah kanan, reaksi tumpuan
Gaya lintang hanya timbul jikalau P : I.0 bekerja pada ujung konsole yang bebas,
86 akan tumbuh linear juga dan kita dapat menentukan pengaruh atas tumpuan ll
yaitu pada gambar 9. 3. 1. a. sebelah kanan dari potongan sembarang z'. Gaya lin-
sebagai:
tang selalu menjadi O = 1.0 tidak terikat pada titik tangkap gaya P: 1.0 selama
titik tangkap itu berada antara potongan yang kita perhatikan dan ujung konsole a.
yang bebas. Garis pengaruh pada gaya lintang juga menjadi suatu segiempat antara
RA : - 1,0;
potongan z'yang diperhatikan dan ujung konsole yang bebas, seperti terlihat pada
pada
garnbar9.3. 1. c. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4 berbentuk selanjutnya seperti terlihat
Garis pengaruh pada momen lentur hanya timbul jikalau gaya P = 'l .0 bekeria an- gambar 9. 3. 2. b. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan I kita dapatkan secara
tara titik potong z'yang kita perhatikan dan ujung konsole yang bebas. Antara tum- kiasan (lihat gambar 9. 3' 2. c.).
puan dan titik potong z'orclinat n garis pengaruh menjadi n : 0. Dari titik potong z; Gayalintang-padatitikpotongcmenjadi samapadaP= l.0sebelahkiri dari titik
ke kanan ordinat 4 tumbuh linear sampai gaya P = 1.0 bekerja pada titik ujung kon- poiong c, dengan reaksi tumpuan RB yang negatif' Pada P : 1 '0 sebelah kanan
garis
sole yang bebas dan mengakibatkan suatu mornon sebeear M -= 1,0. z dengran or- dari titik porong c sama dengan reaksi tumpuan Ba' Kejadian ini menentukan
dinat 4 : z, seperti terlihat pada gambar 9. 3. 1. d. berikut: pengaruh pada gaya lintang O" seperti terlihat pada gambar 9 '3'2"d' berikut'
Moien lentur pada titik potong c menjadi negatif jikalau gaya : 1 .0 bekerja pada
p
al salah satu konsole. Hasil atau ordinat 4 dapat kita tentukan sebagai:
Gambar9.3. 1. a. s/d d.
A

Garis pengaruh pada reaksi tumpuan 4


M:-Rsx'=- Ir pada konsole sebelah kiri, dan

-t-
M: - R4x: - ?, pada konsole sebelah kanan.

"--]-:ru- Garis pengraruh pada gaya lintaqg Or,


Penentuan garis Pengaruh pada momen lentur dapat kita lihat pada
9. 3. 2, e, berikut:
gambar

at
-4, Garis pengaruh pada momen lentw M,.
407
406
--1-)
Gambar 9. 3. 2. a. s/d g. Garis pengaruh oleh gaya P = 1.0 terhadap potongan z, atau 2,, sem-
barang pada bagian konsole dapat kita tentukan seperti pada konsole
Lriasa pada bab 9. 3. 1. (Garis pengaruh pada konsole).

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan 4 9.3. 3. Garis pengaruh pada balok rusuk Gerber
Pada penentuan garis pengaruh pada balok rusuk Gerber kita perhatikan
balok rusuk Gerber menurut gambar 9. 3. 3. a s/d h. berikut. perhitungan balok
rusuk Gerber dengan beban yang tetap dapat dilakukan menurut bab 3. 6. (Balok
rusuk Gerber).
lngat, bahwa bagian balok yang bergantung (tumpuan A s/d engsel 91 ) pada
Garis pengaruh pada perhitungan menjadi suatu balok tunggal. Ketentuan ini dapat kita lakukan juga
reaksi tumpuan I pada penentuan garis pengaruh. Jikalau suatu gaya bekerja sebelah kanan dari
engsel 91 maka gaya itu tidak berpengaruh atas tumpuan A, gaya lintang O maupun
momen lentur M.
Kesimpulan: garis pengaruh pada bagian balok rusuk Gerber yang bergantung
hanya menerima pengaruh oleh gaya-gaya pada bagian yang bergantung itu. Lihat
Garis pengaruh pada juga gambar 9. 3. 3. a., c. dan d.
gaya lintang Oc Pada penentuan garis pengaruh bagian balok rusuk Gerber yang menjadi balok
tunggal dengan konsole pada kedua ujung (antara engsel g 1 dan 92) kita perhatikan
dahulu bab 9. 3. 2. (Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole). Jikalau
misalnya gaya P: 'l .0 melewati engsel gt pada jurusan ke tumpuan A, maka
Garis pengaruh pada pengaruhnya atas tumpuan 8 makin lama makin kecil. Jikalau gaya p: 'l .0 bekerja
momen lentur M" pada tumpuan A gaya P itr: tidak mengakibatkan reaksi lagi pada bagian balok
rusuk Gerber antara engsel-engsel g1 dan 92 maka ordinat garis pengaruh n : O.
Atas dasar kejadian ini dapat kita tentukan garis pengaruh pada bagian balok rusuk
Gerber antara engsel-engsel 91 dan 92pada reaksi tumpuan RB, gaya lintang O2
atau momen lentur M2, seperti pada balok tunggal dengan konsole. Kemudian dari
ujung konsole yang menjadi engsel 91 atau 92 kita hubungkan titik itu dengan titik
Garis pengaruh pada
tumpuan A atau D, masing-masing karena ordinat n = 0. Lihat juga gambar 9. 3. 3.
gaya lintang Qr, dan Q.r.,
b., e.,t., g. dan h. berikut.

il',
Pada balok rusuk Gerber dengan beban yang tidak langsung. ketentuan-ketentuan
dapat kita lihat pada bab 9. 2. 4. (Beban yang tidak langsung).
Garis pengaruh pada Akhirnya dapat kita tentukan:
el momen lenlur Mz,dan Mz
1. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, pada gaya lintang dan pada momen
Atas dasar gambar 9. 3.2. b. s/d e. dapat kita tentukan: lentur terdiri dari garis-garis yang lurus.
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, pada gaya lintang dan pada momen
2. Garis pengaruh pada semua tumpuan mendapat ordinat n : 0 dengan
fentur pada suatu potongan c antara tumpuan A dan B kita dapatkan de-
kekecualian misalnya tumpuan A pada garis pengaruh pada reaksi tumpuan ,4
dsb.
ngan garis pengaruh pada balok tunggal yang diperpanjang lurus sampai
ujung konsole masing-masing.
Garis p,engaruh pada tiap-tiap titik engsel mengubah jurusan (titik engsel : titik
patahan garis pengaruh).

408
409
Gambar 9. 3. 3. a' 3 2. Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole pada reaksi tumpuan, pada
s/d h. gaya lintang dan pada momen lentur pada suatu potongan sembarang antara
dua tumpuan balok tunggal ini kita dapatkan dengan memperpanjangkan lurus
Garis pengaruh garis pengaruh pada balok tunggal sampai ujung konsole masing-masing.
pada reaksi tum- Garis pengaruh pada balok tunggal dengan konsole pada reaksi tumpuan, pada
puan.4 gaya lintang dan pada momen lentur pada suatu potongan sembarang pada
bagian konsole, dapat kita tentukan seperti pada konsole biasa.
4. Garis pengaruh pada bagian balok rusuk Gerber yang bergantung, dapat kita
Garis pengaruh
pada reaksi tum- tentukan seperti pada balok tunggal biasa.
puan I Garis pengaruh pada bagian balok rusuk Gerber di antara dua engsel, dapat kita
tentukan seperti pada balok tunggal dengan konsole dan kemudian meng-
hubungkan titik ujung garis pengaruh pada engsel dengan titik tumpuan berikut
Garis pengaruh dengan ordinat 4 = 0 dengan garis lurus.
pada gaya lin- Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, pada gaya lintang dan pada momen
tang O1 lentur terdiri.dari garis-garis yang lurus (pada semua konstruksi batang yang
statis tertentu) dan selalu mengubah jurusan pada suatu titik engsel. Garis
Garis pengaruh pengaruh kemudian mendapatkan pada semua tumpuan ordinat 4 = 0 kecuali
pada momen pada tumpuan yang ditentukan dengan garis pengaruh pada reaksi tumpuan
lentur M1 itu.

Garis pengaruh 9.3.5. Contoh-contoh


pada gaya iin-
tang A2 Contoh 1: Pada suatu rel sebagai balok rusuk Gerber berjalan dua derek menurut
gambar 9. 3. 5. a. berikut (tekanan derek dalam kurung menjadi beratnya derek
sendiri). Dicari:
Garis pengaruh
pada momen 1. Reaksi tumpuan R4, Rsdan R6
lentur M2 2. Momen lentur pada pertengalun bagbn,4-B
3. Momen lentur pada pertengahan bogian engsel grC
Garis pengaruh 4. Momen tumpuan M6
pada gaya lin- 5. Gaya lintang pada tumpuan I
tang O1

Garie pengnruh
pada momen
lentur M1

Gambar9.3.5. a.
9.3.4. Ringkasan Penyelesaian:
1. Garis pengaruh pada konsole membentuk pada reaksi tumpuan dan pada gaya
lintang suatu persegi empat dan pada momen lentur suatu segitiga dengan titik 1. Penentuan reaksi tumpuan Ra, Rsdan Rg;
puncak di atas ujung konsole yang bebas dan titik ordinat4 = 0 pada potongan Garis pengaruh pada reaksi tumpuan masing-masing yang maksimal dan yang
yang diPerhatikan' minimal dapat dilihat pada gambar 9. 3. 5. b. berikut.

410 411
Pada tumpuan,4 kita dapatkan nilai maksimal dan minimal seperti tergambar pada 2. Penentuan momen lentur pada pertengahan bagian A_ B:
gambar9. 3. 5. b. sebagai: Kita menentukan ordinat 4 garis pengaruh pada titik potong di pertengahan bagian
RA*", = 10,0(1,075 + O,U2l + 14,0$,741 + 0,4751 :36,2t ,4
-I sebagai:
RA-i,: 10,0 (- 0,100 - 0,333) + 14,0 (-0,300 0,211) = - - 11,51 xx' 6,0'6,0
Pada tumpuan I kita dapatkan nilai maksimal dengan memasang dua derek ini
' I 12,0
pada tempat dengan ordinat 4 : maksimal dan kemudian dapat ditentukan: Kemudian dapat kita gambar garis pengaruh seperti terlihat pada gambar 9. 3. 5. c.
: berikut. Nilai-nilai Mmax A_B dan M*;n 4-s kita dapat kita tentukan sebagai:
RB-u* 10,0 (1,000 + 1.233) + 14,0 (1,333 + 0,9fl7l = 54,7 t
Nilai minimal kita dapati dengan memasang derek pada bagian garis pengaruh yang Mmax : A_B 10.0(1,000 +2,4ol0) + 14,0(3,000+ 1,4O0) : 95,6tm
negatif karena pada derek kiri satu roda masih berdiri pada bagian garis pengaruh Mmin A-B : 10,0(-0,600-2,000) + 14,0(-1,800-"t,2671:
yang positif (lihat gambar 9. 3. 5. b. ), maka kita menentukan, bahwa derek itu men- -69,0tm
jadi kosong (tidak bekerja) dan yang diperhatikan hanya berat sendiri. Nilai minimal 2W 2M t20 3m Garis pengaruh pada momen lenlur M^.r4_s
selanjutnya menjadi:
RB
-in = 5,0 (-0.075 + 0,158) + 14,0 (0,033 - 0,3221 : - 3,635 t
Pada tumpuan C kita hanya dapat menentukan nilai maksimal. karena tidak ada
pengaruh yang negatif dan yang bisa menentukan nilai minimql. Selanjutnya nilai
maksimal menjadi:
Rc-"r= 10,0Q,ilz + 0,876) + 14,0 (0,975 + 1,2421 : 46,2t
Rc-in=o
Garis pengaruh
pada reaksi tum- Gambar9.5.3. c. Garis pengaruh pada momen lentur Mm6A-B
puan 4-r,
3. Penentuan momen lentur pada pertengahan bagian g-C..

Garis pengaruh Garis pengaruh dapat kita tentukan seperti pada titik 2. dan seperti terlihat pada
pada reaksi tum- gambar 9. 5. 3. d. berikut. Pada penentu an M^lng-c kita mendorong satu derek ke
puan.4n.';n bagian kiri yang tidak mempengaruhi bagian g-i. Kemudian dapat kita tentukan
nilai M^rr*g dan M^inn-6 seperti berikut:

Garis pengaruh Mmax s*c = 10,0(1,0O0 +2,4001.+ 14,0(3,000+ 1,40/ll. = 95.6tm


pada reaksi tum- Mmin s-c = 14,0(+0,150-1,450) = -18,2tm
puan 8-",
Garis pengaruh pada momen lentur
Mmarg-c
Garis pengaruh
pada reaksi tum-
puan 8r;n

Garis pengaruh
Garis pengaruh pada
pada reaksi tum-
momen lentur M.;nn_g
puan Cr*
Gambar9.3.5. b. Gambar 9. 3. 5. d.

4't2 413
4. Penentuan momen tumpuan 8:
Kita menggambar garis pengaruh pada momen tumpuan I pada bagian konsole
sbelah kanan dari tumpuan L Ujung konsole (engsel g) kita hubungkan dengan
garis lurus dengan tumpuan C fi - O) dan sampai ujung konsole yang di sebelah
kanan dari tumpuan C, seperti terlihat pada gambar 9. 3. 5. e. berikut. Nilai-nilai
M^r* gdan M,6n Bdapal kita tentukan sebagai:
MtmxB = 10,0(-1,200-4,m0) + 14,0(-3,600-2,533) = -137,8tm
M.n a = 14,0(-0,100 + 0,967) = 12,15tm

Garis pengaruh pada momen


tumpuan Mmax B
Gambar 9. 3. 5. f.

Garis pengaruh pada gaya


lintang A^a* B,

Garie pengaruh pada filornen tumpuan MminB


Gember 9. 3. 5. e.

5. Penontuan gaya lintang pada tumpuan 8..


Karena pada titik potong yang kita perhatikan (titik tumpuan 8) ada bekerja suatu
Garis pengaruh pada
gaya (reaksi tumpuan 8); maka kita harus menggambar garis pengaruh pada gaya
lintang Am6 Br
lintang sebelah kiri (4 dan sebelah kanan (r) dari tumpuan-B itu seperti terlihat pada
Gambar9.3.5. g.
gambar 9. 3. 5. f. dan 9., dan kemudian kita dapatkan nilai O.u, dan Or;n juga
dengan nilai sebelah kiri (4 dan sebelah kanan (r) sebagai Amax Bt Amax B, Amin Bt
d6n O]n;n,sr seperti berikut:

Amin =
Bt 10,6'0,4@-0,63A + 14,0(-0,733-l,m) = -34,6t
Amax Br = 5,0(+0,075-0,158) + 14,0(-0,088+0,081) = +0,6t
9.4. Garis pengaruh pada busur tiga ruas
Amax B, = 10,0(1,000+1,000) + 14,0(1,000+0,733) = +4,25t
Amin Br = 14,01+0,025-0,242) = -3,04t 9. 4. 1. Perhitungan dengan beban yang tetap
' Sebagai dasar pada penentuan konstruksi busur tiga ruas dengan beban
yang tetap kita perhatikan penentuan-penentuan bab 3. 7. 3. 2. (Konstruksi busur
tiga ruas dengan gaya-gaya pada dua bagian busur), terutama penyelesaian secara
analitis (lihat gambar 3.7 . 3. f . pada jilid satu buku ini).
Atas dasar ketentuan-ketentuan itu dapat juga kita tentukan garis pengaruh pada
beban yang tetap.

414 4't5
Dangan v7 sebagni resultante semua gaya yang vertikal pada bagian konstruksi
busur tiga ruas yang sebelah kiri dari potongan $crnbarang x. y menjadi positif
iikalau berjurusan ke atas.
Hl rneniadi resultante semua gaya yang horisontal pada bagian konstruksi busur
tiga rllas yang sebelah kiri dari potongan sembarang x. l/ menjadi positif
iikalau ber-
jurusan ke kanan.
Rurnus (9. 5.) dan rumus (9. 6.) hanya dapat digunakan pada konstruksri busur tiga
ruas dengan beban yang tetap.

9.4.2. Garie pengaruh pada reaksi tumpuan


Pada beban tetap reaksi tumpuan R4n dan ff6, menjadi sama pada
konstruksi busur tiga ruas dan pada sistim dasar (balok tunggal dengan lebar ben-
tang = 0. Oleh karena itu garis pengaruh pada reaksi tumpuan )rang vertikal harus
menjadi sama $eperti pada garis pengaruh pada reaksi turnpuan pada balok tunggal
Gambar9.4. 1. a.
(lihat garnbar 9. 4. 2. a. dan b. ).
Reaksi tumpuan R4 dan Rs dan kita bagi atas komponen 'horisontal' H'a dan H's Komponen horisontal H pada beban yang tetap dapat kita tentukan tlengan rnorren
dan komponen vertikal, yaitu 8a, dan 86, menurut rumus berikut: pada erqsel pada si$tim dasar, yang dibagi dengan tingginya titik puncak (cian
engsel) f pada konstruksi busur tiga ruas. Garis pengaruh komponerr horisontal I/
RAn :
I re,u, orn Ra, =
I ze'", dapat kita gambar demikion rupa. sehingga kita gambar garis pengaruh pada
momen lentur pada sistim dasar (lihat bab g. 2. 3.) dengafl ordinatnya rnasing- mas-
ing dibagi dengan tingginya titik puncak f.
R4, dan R6, menentukan juga reaksi tumpuan pada sistim dasar, yaitu suatu balok OrO;nat garis &ngarr;4 pada engsel g kern"rudian menjadi: ,n :Jr.#-
tunggal dengan lebar bentang I seperti terlihat pada gambar 9. 4. 1. a. di atas.
Kemudian komponen horisontal H menjadi:
(lihat.iuga ganrbar 9. 4. 2. c.).
H = Hn = He: H'4coso = H'Bcosa = ,,"o", ='fo Garnbar 9. 4. 2. a. s/tl c.

Dengan M* sebagaimomen lentur pada sistim dasar pada titik engsel g dan de-
ngan fsebagai tingginya engsel dari garis penghubung tumpuan 4 dan tumpuan 8.
Momen lentur pada potongan sembarang x dapat kita tentukan sebagai:

Mr: Mw- HY o'


L-- ------]:=:"o
Garis pengelruh pada
Dengan M, sebagai momen pada titik x sembarang pada sistim dasar flihat juga ls reaksi tumpuan rt?7,
gambar 9. 4. 1. a.). L--"''-
Pada penentuan gaya normal dan gaya lintang kita menggunakan rumus-rumus
dan pengetahuan dari bab 3. 7. 3.2. dan menentukan pada potongan x sembarang: Garis pengaruh pada
reaksi tumpuan frp,

(9.5.)
- N, = IVTsin <p + ZHlcostp
Garis pengaruh oleh
Ax - 2Vtcos <p 2H1sin (9.6.)
- <p komponen horisontal H

416 417
Gambar9.4.3. a. s/d e.

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan 4

#toro Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan 8

Gambar 9. 4.2. d. dan e. Garis pengaruh pada momen


lentur Mo,
Penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan .4 dan I dapat kemudian kita
lakukan dengan superposisi garis pengaruh pada reaksi tumpu?n Rqv atau Rs, Garis pengaruh oleh kompo-
c) nen horisontal H yang dikali-
dengan garis pengaruh oleh komponen horisontal H seperti terlihat pada gambar 9.
4.2. d. dan e. di atas. kan dengan ukuran y
Jikalau tumpuan A dan I tidak berada dalam satu dataran maka kita harus
memperhatikan pengaruh sudut a. Atau dengan kata-kata lain garis pengaruh oleh Garis pengaruh pada momen
lentur M, yang di-superposisi-
komponen horisontal H harus dikalikan dengan tan a sebelum di-superposisi-kan
kan
menurut gambar 9. 4.2. d. dan e. di atas.

Garis pengaruh pada momen


9.4.3, Garis pengaruh pada momen lentur lentur M, yang di-superposisi-
kan
Pada penentuan garis pengaruh pada momen lentur dengan beban tetap
kita perhatikan rumus berikut:

Mr: Mor- HY 9.4.4. Garis pengaruh pada gaya normal'dan gaya Iantang
seperti pada garis pengaruh pada reaksi tumpuan, garis pengaruh pada momen
lentur terdiri dari suatu kombinasi dua garis pengaruh .yang sudah kita ketahui. Kita memperhatikan rumus (9.5.) gaya normal pada titik x pada
Garis pengaruh pertama ialah garis pengaruh pada momen lentur pada suatu titik konstruksi busur tiga ruas dengan beban tetap yang berbunyi:
sembarang x pada sistim dasar (lihat juga bab 9. 2. 3. ) dengan ordinatnya:
xx' - N, = IVTsin <p * ZHlcosQ
n: l
Karena sebenarnya Hr : H dapat kita tulis:
garis pengaruh kedua ialah garis pengaruh oleh komponen horisontal H yang
negatif dan yang dikalikan dengan ukuran y. Y ialah tingginya busur pada titik sem-
barang x ilihat gambar 9. 4. 3. a. berikut). ordinat 4s di bawah titik engsel I kemu-
- Nr= (Ra*2P7)sinP + Hcosp
dian menjadi: Menurut bab 9. 4. 2. dapatkita tentukan. bahwa
lrl,
n= tf Y RA : Ra, + //tan a
Jikalau kita men-superposisi-kan dua garis pengaruh ini kita dapatkan garis dan kemudian:
pengaruh pada momen lentur seperti terlihat pada gambar 9. 4. 3. d. berikut
(bidang yang diarsir). Boleh juga menggambar garis pengaruh pada momen lentur :
- N, (Ra, + Htana - ZP/sinq + H cosP
ini seperti terlihat pada gambar 9. 4. 3. e. berikut.
I
419
418
Pada rumus ini R4,
- EPt meniadi gaya lintang Oq, pada suatu balok tunggal Garis pengaruh oleh kompo-
dengan lebar bentang = I oprda titik sembarang x:
nen horisontal l/ yang dikali-
- Nr= Osrsinrp + Htanasinrp + Hcostp kan dengan faktor sin (rp-o)
COs o
H -'l Garis pengaruh pada gaya lin-
- N, = Osrsin 9 * ;;; (sino sin rr * cosa cosp) t tang O, yang disuperposisi-
kan
* N. = Qorsing * , cos(P * o)
Garis pengaruh pada gaya lin-
(9.7.) e)
COs a tang Oor yang dikalikan
\ de-
E ngon sin <p

Penentuan gaya lintang atas dasar rumus (9. 6.) pada titik x ssmbararp pada
Garb pengaruh oleh kompo-
konstruksi hrsur tiga ruas dengan bebon tetap kha lakukan demikian ruia.
f) nen horisontal H yang dikali-
sehingga:
kan dengan f6119; coe(r+r'o)
cos o
Or=IYTcoeq-ZH1sin9
Garis pengaruh @a gaya nor-
Ox = Oorcos q + Htanoc,osg - Hsinq mal fl, yang di-zuperposisi-kan

ox = oorcos. - *" (sin rp cos a Gambar9. 4. 4. c. s/d g.


- cos rp sin o)

9.4.5. Ringkasan
a, = aorcosp -,
sinlq - o), (9.8.) Penentuan garis pengaruh pada konstruksi busur tiga ruas berdasarkan
cos a
rumus-rumus penentuan reaksi tumpuan, !'nomen lentur, gaya norrnal dan gaya lin-
tang pada konstruksi busur tiga ruas dengan beban tetap.
Jikalau tumpuan A dan B berada dalam satu dataran, maka a = 0.
Kita dapot menggambar garis pongaruh pada konstruksi busur tiga ruas selalu
Rurnus (9. 7.) dan rumus (9. 8.) dapat kita tulis seperti berikut:
dengan men-superposisi-kan dua komponen dengan garis pengaruhnya yang
dikalikan dengan satu faktor.
- N, = Osrsinrp + Hcos<p
Q, = Aorcosp - Hsinq 9.4.6. Contoh
Suatu konstruksi busur tiga ruas yang berbentuk parabol menurut gambar
9. 4. 6. a. berikut. Dengan bantuan garis pengaruh masing-masing kita cari: reaksi
tumpuan, momen lentur, gaya lintang dan gaya normal pada titik x oleh berat sen-
Gambar9.4.4. a. dan b. diri gr = 1.0 1/mdanbobanq = 3.0t/m.

\--------L- 1,

Garis pengaruh pada gaya lin-


ili tang Qo, yang dikalikan
dengan cos rp
Gambar 9. 4. 6. a.
420
421
Penyelesaian: =
Penentuan nilai y dan rp menurut ilmu ukur:

t=12,@m f=4,00m x=3,00m x,=9,00m en'


^s' Gambar9.4.6. d.
11 = lr= 6,00m
t
menurut persamaan parabol dapat kita tentukan:
Garis pengaruh pada gaYa lintang
y = #,il - x) = \#3,0.s,0 = 3,oom A, = QorcosP - Hsinrp Padax : 3'00 m
oleh Osrcosrp * 4, = l,Ocosrp = 0,882
y' =
# u -2x) = )# fi2n -2.3,0) = 0,667 oleh Hsin e - rlg= 0,750'0,555 = 0,416

tan(p = 0,667 p = 33,7o sin(p = 9,5,55 cosp = 0,832


\
s
R E.'

Penentuan garis pengaruh masing-masing:


5B.
Gambar 9. 4. 6. b. dan c.

Gambar 9. 4. 6. e.

Garis pengaruh pada gaya normal

- N, = Osrsinrp + HcosrpPadax:3.0m
Garis pengaruh pada reaksi
tumpuan i9a dengan 4, : t,@
oleh Oo, sinp * nr: l,Osine = 0.555
oleh Hcos q * Hg: 0,750.0,t1i]2 = 0,@4
Garis pengaruh oleh komponen
horisontal H dengan
Hasil oleh penentuan garis pengaruh:
lrl, Pada reaksi tumpuan masing-masing:
nc: -V =ffi:0,750
6,0.6,0
1
RA-"r= T 1,0.12,0(1,0+3,0) =24,0t
Garis pengaruh pada momen lentur
M, = Mo, H.y pada x = 3.0 m
- H-a, =
1
0,75.12,0 (1,0 + 3,0) = 18,0t
2
xx' 3,0.9,0
4ox: ,:6=2,250
Pada momen lentur:
t.l. Titik dengan momen nol kita dapatkan pada titik 4.&) m dari tumpuan ,4 menurut
ns = iv: 0,750.3,00 = 2,2fi gambar 9. 4. 6. c. di atas. Luasnya bidang momen yang negatif dan yang positif
selanjutnya meniadi:
1
F1: ,4,ffi.125: +2,70

422 423
1 [rarang merurrut A. Ritter). Persamaan-petsarnaan itu memperlihatkan. bottwa
r_ = z 7,2O.0,7W= _2,70 gayi, hdt,fitng dapat ditentukan dengan molnen lentur dan gaya lintang pada suatu
F =F++F =0 srstirn d{}s,ar (balok tunggal} dengan suatu faktor menurut bentuk korxstruksi rangka
batang rrnaring-masing. Karena itu garis pengaruh pada gaya batang {unpa faltor-
Karena beban oleh berat sendiri selalu ada pada seluruh konstruksi busur tiga ruas
faktor itu) biasanya meniadi sanxr saperti garis pengaruh pada ggya lintang dan
yang pada contoh ini meniadi simetris dengan garis / -- 8 yang horisontal dapat kita
mornen lentur pada balok tunggal. Kadang-kadang garis perqaruh hanrs di-
tentukan: Ms = A.
sup6rp(,sisi-kan seperti pada konstruksi busur tiga rua$.
iJntuk menentukan nilai batasan pada momen lentur oleh beban q kita membetrani
Pada dasar-dasar konstruksi rangka batang telah kita tentukan, bahwa gaya-gsy8
hanya bagian dengan bidang pongaruh yang positif atau yang negatff, yaitu:
hanya dapar bekerja mda titik simpul masing-masing. Jikalau kernudian timbul
Mpma' = + 2,70.3,00 = 8,10tm gaya-gaya yang bekerja antara dua titik simpul, kita harus memperhatikan
Mpn* = pengotahuan tentang beban yang tidak langsung {lihat bab 9. 2. 4. ).
- 2,70.3.00 = - 8,10tm
Pada penentuan garis pengaruh pada konstrukai rangka baung harue kita
Pada gaya lintang: pertrotikan batang tepi yang menerima beban. Pada umumnya batang topi itu ditan-
Os=0 dai dengan garis putus.

Aon,,, =* 0,416.3,0.3,0 * 't,87 t 9.5.2. Konstruksi rangka batang dengon batang tepi ceisiar
Ool-iri= *- 1,87 1 Fersarnaan gaya batang pada konstruksi rangka batang dengan batang
tepi seiajar menurut pengotahusn dacar A. Bitter (lihat bab 4. 3. 3.) dapat kita to{t-
Pada gaya normal: tukan:
Pada batang tepi atas (O) dan bawah (U):
= --1,0 r+ 12,0.0,6a4 -*a,o.o,rss *
Ns
]s,o.o+ror
Ns= - 1,0.5408 = -5,408t
(9.9.1
Mrma = -- 3,0.5,rm = - 16,224t Nrr*o = O
N min= -21,53t
ParJa batang diagonal (O):

9. 5. Garis pengaruh pada konstruksi rangka a


batang
D - +'----:*--
(p
Sln
(9.10.)

9.5. f. Pengetahuan dasar Pada batang vertikal ( V):

Tidak mungkin dalam bab ini kita memperhatikan sernua kemungkinan


mengenai garis-garis pengaruh pada konstruksi rangka batang yang statis tertentu. V=l:PalauV=OatauV=tA (9. 1r. )

(ita akan membatasi diri pada beberapa macam konstruksi rangka batang yang
psnting. Ketentuan-ketentuan pada konstruksi rangka batang itu iuga dapat
digunakan pada konstruksi rangka batang yang lain. Garis pengaruh pada gaya batang tepi dapat i(ita gambat dengan penentuan geris
Reaksi tumpuan pacia suatu konstruksi rangka batng biasa menjadi sama seperti pengaruh pada momen lentur lxda sistim dasar (balok tunggal) dengan ordinatnya
pada suatu balok tunggal dengan lebar bentang yang sama. Oleh karena itu juga n yang dibagi atas ketinggian h konstruksi rangka batang itri (lihat iuga gambar
garis pengaruh menjadi sanra dan kita mengabaikan konstruksi garis pengaruh pada 9. 5. 2. a. s/dc").
reaksi tumpuan pada konstruksi rangka batang selan.iutnya.
Pada pener"ltuan garis pengaruh pada gaya batang kita menggunakan gmrsamaan Garis pengaruh pada gaya batang diagonal dapat kita gambat dengan penentuan
pada beban yang tetap yang telah kita pelajari pada bab 4. 3. 3. (Ferhitungan gaya garis pengaruh pada gaya lintang pada sistim dasar dengan ordinatnya 4 yang

424 425
dibagi atas sin g (dengan 9 sebagai miringnya diagonal menurut gambar 9. 5.2. a., Pada garis pengaruh pada gaya batang diagonal kita pertama menentukan garis
d.dane.) 4 = l.0menjadi 4 = 1/sin<p. pengaruh pada gaya lintang dengan ordinat n : 1/sin rp.
Garis pengaruh pada gaya batang vertikal tergantung pada cara pemasangan Dua titik ujung diagonal yang diperhatikan kita hubungkan dengan dua garis
diagonal sebelah kiri dan sebelah kanan. Bisa garis pengaruh pada gaya batang ver- pengaruh itu (lihat gambar 9. 5. 2. d. dan e. di atas), Pada penentuan garis
tikal seluas satu bagian sebelah kiri dan sebelah kanan dari titik simpul yang pengaruh pada konstruksi rangka batang dengan beban yang tidak langsung kita
diperhatikan, atau menjadi nol (lihat juga gambar 9. 5. 2. a. dan f.), atau garis perhatikan rumus (9. 3.)dan rumus (9, 4.). Tanda (+,-) pada garis pengaruh pada
pengaruh pada gaya batang vertikal menjadi sama dengan garis pengaruh pada gaya batang diagonal menentukan juga tanda gaya batang masing-masing.
gaya lintang (lihat juga gambar9. 5.2.5.,l. dan m. berikut). Pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal kita pasang ordinat 4 =
Sebagai keterangan kita perhatikan pertama suatu konstruksi rangka batang 1.0 di bawah batang vertikal itu (lihat juga gambar 9. 5. 2. f. di atas). Jikalau gava p
dengan batang tepi sejajar dengan diagonal yang turun naik seperti terlihat pada = 1.0 bekerja pada suatu titik simpul pada samping batang vertikal V1 yang kita
gambar 9. 5. 2. a. berikut: perhatikan, maka tidak ada gaya batang dan karena itu ordinat 4 = Q.
Pada konstruksi rangka batang dengan batang tepi bawah yang dibebani seperti
misalnya dapat dilihat pada gambar 9. 5. 2. a. di atas batang vertikal V6 dan Vp*1
Gambar9.5.2.a.sldl. menjadi batang tanpa gsya (batang noll dan karena itu juga ordinat goris pengaruh
4:0'
Sebagei kamungkinan keduc klta perhatikan suatu kon8trukei rangka batang
dengan diagonalnya naik (atau turun) semuanya, menurut gambar g. 5. 2. g.
berikut:
Garis pengaruh pada
gaya batang tepi ba-
wah U1 Gambar9. 5.2. g. s/d l.

Garis pengaruh pada


gaya batang tepi atas
A1 Garis pengaruh pada
gaya batang tepi
Garis pengaruh pada bawah V1

gaya batang diagonal


Dp Garis pengaruh pada

,7 /'fL,-.;E-
gaya batang tepi atas
Garis pengaruh pada la# O1
gaya batang diagonal
Dk*t Garis pengaruh pada
gaya batang diagonal
Dp
Garis pengaruh pada
gaya batang vertikal
Garis pengaruh pada
V* gaya batang vertikal
Vp dengan batang
Garis pengaruh pada gaya batang tepi dapat kita gambar rnenurut ketentuan tadi tepi bawah yang me-
(lihat gambar 9. 5. 2. b. dan c.). Karena titik k yang kita perhatikan menjadi juga nerima beban atau
suatu titik simpul, garis pengaruh menjadi suatu garis lurus sebelah kiri dan sebelah
kanan dari titik k itu. Tanda (+,-) pada garis pengaruh pada gaya batang tepi
- pada V*-'r dengan ba-
tang tepi atas yang
menentukan juga tanda gaya patang masing-masing. menerima beban

426
427

, //t
sama timbul pada u,iung masing-masinS pada konstruksi rangka batang ini yang
Garis pengaruh pada
dapat kita lihat pada gambar 9. 5. 2. a. di atas.
E.l gaya batang vertikal
Sebagai kemungkinan ketiga perhatikan suatu konstruksi rangka batang dengan
Vp dengan batang batarrg tepi sejajar dan dengan diagonal saja seperti terlihat pada gambar 9. 5. 2. p.
tepi atas yang mene-
berikut:
rima beban atau pada
V1*1 dengan batang
Gambar 9. 5. 2. p. s/d s.
tepi bawah yang me-
nerima beban

Garis pengaruh pada


gaya batang V**2
tr-l-.- Garie perpnruh pada
gaya batang tepi ba-
dengan batang tepi wah Up dengan pe-
bawah yang mene- ngaruh beban yang
rima beban tidak langsung

Garis pengaruh pada

o/
IN gaya batang vertikal
Vo dengan batang
Garis pengaruh pada
gaya batang tepi atas
Q*
Gambor 9. 5. 2. m. e/d o tepi atas Yang mene-
rima beban , D----
i;.,,
*2[-]-----.__,!
Garis pengaruh paoa
Penentuan garis pengaruh pada batang tepi dan pada gaya batang diagonal V- I
,rrerrurut gambar 9. 5. 2. h. s/d k. di atas tidak mengalarni kesulitan dan dapat
fr I
___J gaYa batang diagonal
Dk
dilakukan seperti pada contoh konstruksi rangka batang dengan diagonal yang
turun naik pada gambar 9. 5. 2. a. dsb. Pada penentuan garis pengaruh pada batang tepi bawah pada konstruksi rangka
Penentuan garis pengaruh pada gaya baung vertikal harus seimbang dengan gaya batang ini harus diperhatikan pengaruh oleh beban yang tidak langsung, seperti
lintang Oseperti ditentukan pada rumus (9. 11.). Batang vertikal Vsekarang berdiri dibicarakan pada bab 9.2."4. Atas dasar ketentuan itu garis pengaruh antara titik
pada suatu titik simpul yang fuga menerirna beban. Fada titik itu gaya lintang O iuga
sirnpul k- 1 dan k + t harus menjadi garis lurus, seperti terlihat pada gambar 9. 5. 2.
mengubah nilainya. Timbul sekarang pertanyaan apakah pilai gaya lintang sebelah q. di atas.
kiri atau sebelah kanan dari tltik itu berpengaruh. Jawaban pertanyaan ini pada Pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang diagonal O1 kita juga
konstruksi rangka batang dengan semua diagonal turun atau naik menjadi penting menghubungkan dengan garis lurus suatu bagian yang ada antara dua titik simpul
setali dan hanya mungkin jikalau batang tepi yang menerima beban sudah diten- pada batang tepi bawah. Karena itu garis pengaruh pada gaya batang diagonal
tukan. Dp* 1 menjadi sama dengan tanda ( +, - ) berlawanan.
Pada penentuan kita perhatikan potongan l-l menurut A. Ritter seperti digambar
pada gpmbor 9. 5. 2. g. di atas. Potongan l-l itu kena batang vertikal V1. Gaya lin-
tsng yanq borpengaruh ada pada bagian yang potongannya l-l dikenai batang tepi 9.5.3. Konstruksi rangka batang dengan batang tepi tidak
yang mone.fona beban. seiajar
Jikalau batang tefi yang menerima beban menjadi batang tepi bawah. maka garis
Penentuan garis-garis pengaruh pada konstruksi rangka batang dengan
pongaruh pada gaya batang vertikal Vs dapat dilihat pada gambar 9. 5,2. 1. di atas.
batang tepi tidak sejajar berdasarkan atas persamaan-persamaan penentuan gaya
Garis penganrh ini menjadi sama dengan garis pengaruh pada gaya batang vertikal
batang oleh beban yang vertikal dan yang tetap (mati).
Vpl pada batang tepi atas yang menerima beban.
Kemudian kita perhatikan suatu bagian konstruksi rangka batang dengan batang
Pada keiadian yang berlawanan kita perhatikan gambar 9. 5. 2. m. Pada batang ver-
tepi tidak sejajar seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. a. berikut. tlagian konstruksi
tikal V1*2 yeng di tengah-tengah konstruksi rangka batang ini kita perhatikan
rangka batang kita potong menurut potongan yang ditentukan dalam gambar 9. 5.
ketentuan-ketentuan pada konstruksi rangka batang dengan diagonal yang naik
3. a. dan perhatikan bagian sebelah kiri potongan itu.
turun dan mendapat hsil seperti terlihat pada gambar 9. 5. 2. n. Pendapatan yang
429
428
-r;-t., menurut rumus (9. 12.) dapat kita tentukan:

/ U cos0 --
ff o^" ocosy = -+
dan kemudian kita dapatkan:
Mo M,
Dcosy +
ho hu
Gambar9.5.3. a

Kita tentukan gaya batang tepi dengan syarat keseimbangan 2M : 0 dan sebagai
titik kutub kita pilih titik potong dua gaya batang yang lain seperti telah ditentukan
o: i* (eo, - *l (9.13.)

pada bab 4. 3. 3. Jumlah momen semua gaya luar selanjutnya kita tentukan sebagai
Atas dasar rumus (9. 13.) kita lihat, bahwa garis pengaruh pada gaya batang
M dengan index , pada batang tepi atas dan dengan index , pada batang tepi diagonal menjadi suatu superposisi atas dua garis pengaruh yang sudah diketahui
bawah. seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. e. berikut.
Kita dapat menentukan: Karena penentuan dan gambaran garis pengaruh ini menjadi agak rumit, maka
dapat kita hitung gaya batang diagonal dengan cara lain juga.
Mo-Uro:Q Mr+ Orr=g Kita memperhatikan gambar 9. 5. 3. b. berikut dengan potongan yang telah diten-
tukan. Dengan titik potong i bagi dua batang tepi konstruksi rangka batang ini
rodan rrdapat kita tukar dengan: sebagai titik kutub kita menentukan syarat keseimbangan ZM, : g.
Jikalau sekarang suatu gaya P: 1.0 membebani bagian konstruksi rangka batang
ro = hocosA r,, = hucosy yang sebelah kanan dari potongan kita dapat menentukan syarat keseimbangan
pada bagian kiri (tanpa beban) konstruksi rangka batang ini sebagai:
kemudian persamaan pada gaya batang tepi dapat ditulis demikian rupa, sehingga:

-Raar:Pr ra*:O D*: - RA+


,dk
.MoMoM, Mu (9.12. )
ro ho cos[t ru hu cosy Garis pengaruh pada gaya batang diagonal Dppada bagian kanan konstruksi rangka
batang ini sebenarnya menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan RA yang
negatif dan yang dikalikan dengan a p/ r4p.
Jikalau kita sekarang membandingkan rumus (9. 12.) ini dengan rumus (9.9) kita Jikalau gaya P: 1.0 membebani bagian konstruksi rangka batang yang sebelah
melihat, bahwa sebetulnya kita hanya mengganti ketinggian konstruksi rangka kiri potongan. maka kita dapat menentukan persamaan pada bagian kanan (tanpa
batang h dengan jarak yang siku-siku r antara titik simpul (kutub) dan batang tepi beban) dari konstruksi rangka batang ini sebagai:
berhadapan. Sebetulnya rumus (9, 9.) menjadi suatu bentuk khusus pada rumus (9.
12.)dengan A = 0,T - Odanr : h. Rebr + Dr6r - Dx: + RB -l!L
Atas dasar pengetahuan ini dapat kita tentukan, bahwa penentuan gaya batang
- Q

tepi pada konstruksi rangka batang dengan tepi yang sejajar dan dengan tepi yang yang menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan RB Yang dikalikan dengan
tidak sejajar menjadi sama, hanya dengan memperhatikan jarak r yang menggan- bp/r6p, seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. f. berikut. Pada bagian beban yang
tikan ketinggian konstruksi rangka batang h. tidak langsung kita hubungkan garis pengaruh dengan suatu garis lurus.
Gaya batang diagonal dapat kita tentukan dengan syarat keseimbangan ZH : 0 Konstruksi garis pengaruh pada gaya batang diagonal Dp dapat diperiksa karena
dengan hasil seperti berikut: dua garis miring dari garis pengaruh harus mempunyai titik potong pada titik kutub i
dengan bukti seperti berikut:
Dcos<p+Ucosfi+Ocosy=Q dp : ak: bp
Dk
fa* fa*

430 -: 431
Sedang pers{rmaan penentuan gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang Pada penentuan gaya batang yang vertikal, sebagai keterangan kita perhatikan per-
dengan batang tepi seiaiar berbeda menurut benruk diagonalnya maka penentuan tama suatu konstruksi rangka batang dengan diagonal yang turun naik rnenurut
gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengnn batang tepi tidak seja- Gambar 9. 5. 3. S. berikut:
jar menjadi lebih rumit lagi. Biasanya gaya batang vertikal hanya dapat ditentukan
dengan suatu potongan lingkaran, keliling tilik simpul yang diperhatikan, seperti
terlihat pada gambar 9. 5. 3. g. berikut. Persamaan percntuan gaya batang vertikal
terdiri dari beberapa bagian yang berarti, bahwa garis pengaruhnya kita dapatkan
dengan superposisi.
i---#-
\:-

v;t/'
Gambar 9. 5. 3. g

Menurut persamaan keseimbangan IV = 0 dapat kita tentukan pada titik simpul k


dengan suatu potongan lingkaran:

Vx
- P* - U1 sin A* + U**rsin p1*, : 0

V*- Px* UlcosfltanDk + Upllcosfipartanpl*, : 0

Menurut rumus (9. 12.) dapat kita tentukan:


Garis pengraruh pada
gplm batang tepi ba-
lJpcosBl = tuf lJp,,1cos{}pa, =
wah U
+
Garis pengaruh pada vx = P* * tang1,n1l (9. 14.)
gaya batang tepi atas
$r"nB1-
o
Jikalau kita memperlakukan penyelesaian ini pada titik simpul t- / kita dapatkan:

dua kemungkinan
e) - Vx., - -P*-, A*.rsin y1-, + Olsin 7* = g
menggambar garis Vkl + Pk-l f 01-1 CoS),1-1
- tan y1-1 - O1 cos yk tanyk = 0
pengaruh pada gaya
batang diagonal D o1-1 cosy/<.r = -- +*-
h*-, Op cos yk : -!&'L
l.hr'w1q h*-,

V*-, :- P*-, + (tan 7u-, -- tan y1 ) (9. 15.


# )

Dr
,a
Jikalau tidak ada gaya yang bekerja pada titik simpul yang kita perhatikan P = 0
rumus (9. 14.)dan (9. 15.)menjadi rumus (9. 11.)jikalau batang tepi menjadi seja-
Gambar9. 5. 3. b. s/d f. jar, karena Dr = O, |x-r : 0,/t-r : 0 dan y1 = 0. Ketentuan ini mernbuktikan,

432 433
r
bahwa garis pengaruh pada gaya batang vertikal betul-betul menjadi suatu super-
posisi dari dua garis pengaruh yang sudah diketahui. R.q-lPx t A*nrsinyl*, + U1 sin Dr- V* =0
Jikalau kita perhatikan kemudian suatu konstruksi rangka batang dengan diagonal
berarah sama seperti terlihat pada gambar g. s. 3. h. berikut dan dengan batang
or - &o t6n ytr*1 * ff rrnr1x - vt : o

tepi bawah yang menerima beban, dapat kita tentukan:

k
RA- Z Pp + opsinyp * Uk*rsinpl*, + Vk:O
1

A**, * Okcosy*tan yk * lJ*+tcospl*ltanpp*, + Vk: O

Gambar 9. 5. 3^ i.

Jikalau batang tepi atas menerima beban, maka kita harus memperhatikan gaya lin-
tang 01*1 pada bagian kanan konstruksi rafigka batang yang terpotong. persa-
maan gaya batang vertikal V1 kemudian dapat kita tentukan seperti berikut:
Gambar9.5.3. h.

Batang tepi atas


Menurut rumus (9. 12. ) dapat kita tentukan: yang menerima beb,an: V1 = * ak*,. ftan Br -tan y111)
+ (9.17.)
Ol,cosyp= -+ t)p,1cosfi1,.r=+ Batang tepi bawah
yang menerima beban: V1 = + ok + Ur. fip * tany1,*
ff 1l

okr,- * &t + vk: o


ffru"yr rtanB1*t
Kemungkinan-kemungkinan superposisi garis pengaruh menurut rumus (9. .l4. ) s/d
Jikalau batang tepi atas menerima beban, maka beban ,,0"* ,"rp"ngaruhi bagian rumus (9. 17.) dapat kita perhatikan pada gambar g. 5.3. k. berikut. Karena
kiri konstruksi rangka batang yang terpotong. Kemudian gaya lintang bagian kanan penyelesaian pada gambar itu dapat dilakukan pada konstruksi rangka batang
itu o1 menggantikan o1* 1 . Persamaan gaya batang vertikal v1 kemudian dapat kita dengan batang tepi sejajar maupun tidak sejajar kita memilih sebagai sistim dasar
tentukan seperti berikut: suatu balok tunggal seperti terlihat pada bagian atas gambar 9. 5. 3. k. berikut.

Sistim dasar
Batang tepi bawah
yang menerima beban: V1 = . (tan y1 Garis pengaruh pada
- ak *, + - tan B1., 1)
gaya batang vertikal
(9. 16.
Batang tepi atas
)
iantt,.,1 V1 menurut rumus-
: - At + Mk -fftorD, rumus:
yang menerima beban: V* (tany1 tanBl*1)
hk -
(9.14.)
Jikalau kita memperhatikan selaniutnya suatu konstruksi rangka batang dengan
diagonal berarah sesama seperti terlihat pada gambar g. S. 3. i. berikut dan dengan
batang tepi bawah yang menerima beban, dapat kita tentukan: (9. 15.1

434
435
r
(9. 16.1 0,!
dengan batang tepi
At
,* EI
bawah yang meneri-
ma beban
---.*.--J Garis pengaruh pada gaya batang vertikal V1
(9. 16.) dengan batang tepi bawah yang menerima
beban
dengan batang tepi
Itan 7, - tan Br-r)
atas yang menerima
beban

{tdn lr\ - toh h.t) I {9. 17.}


dengan batang tepi
atas yang menerima
beban Garis pengaruh pada gaya batang vertikal V1
l\'tmy,.,1 i dengan batang tepi atas yang menerima
(9.17.) beban
L**---- dengan batang tepi
bawah yang meneri- Gambar91 5.3. 1.

Gambar9. 5.3. k. ma beban


Kita lihat, bahwa penentuan garis pengaruh pada goya batang vertikal menjadi
Penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal pada konstruksi rangka sebenarnya garis-garis pengaruh pada reaksi tumpuan masing-masing yang
batang dengan batang tepi tidak sejajar dan dengan semua diagonal yang turun dikalikan dengan faktor masing-masing. Harus diperhatikan ketentuan batang tepi
atau naik, dapat kita lakukan menurut pengetahuan A. Ritter seperti pada penen- yang mana yang menerima beban seperti terlihat pada gambar 9. 5. 3. 1. di atas'
tuan garis pengaruh pada gaya batang diagonal.
Jikalau gaya P: 1.0 bekerja pada bagian kanan dari konstruksi rangka batang 9.5.4. Ringkasan
yang terpotong penentuan dapat kita lakukan pada bagian kiri yang tidak dibebani:
1. Penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan pada konstruksi rangka batang
menjadi sama seperti pada balok tunggal dengan lebar bentang yang sama.
- R4ap- V1 rv*:0 V*:-R^+ (9. 18. )
2. Penentuan garis pengaruh pada gaya batang kita lakukan atas dasar penge-
tahuan penentuan gaya batang menurut A. Ritter dsb. yang kita dapatkan dari
Jikalau gaya P : 1.0 bekerja pada bagian kiri dari konstruksi rangka batang yang garis pengaruh pada momen lentur dan piada gaya lintang pada bakck tunggal
terpotong penentuan dapat kita lakukan pada bagian kanan yang tidak dibebani: dengan lebar bentang yang sama.
3. Pada konstruksi rangka batang dengan batang tepi sejajar dapat kita tentukan:
br Garis pengaruh pada gaya batang tepi kita dapatkan dengan membagi garis
-RBbk+Vk rv*=0 Vt-- + Ro fvk
(9. 19.)
pengaruh pada momen lentur dengan ordinatnya 4 oleh tingginya konstruksi
rangka batang h tsb. Garis pengaruh pada gaya batang diagonal kita dapatkan
dengan membagi garis pengaruh pada gaya lintang dengan ordinatnya 4 oleh
sin rp.
Pada penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal kita harus
memperhatikan cara pemasangan diar cnal-diagonal. Pada konstruksi rangka
batang dengan diagonal yang naik turun batang vertikal menerima gaya vertikal
menerima gaya vertikal pada titik simpul. Pada konstruksi rangka batang
dengan diagonal semua naik atau semua turun batang vertikal menerima gaya
Sistim dasar lintang pada bagian kiri atau kanan dengan tanda (+.-) berlawanan dengan

437
436
r
diagonal. Pada konstruksi rangka batang dengan diagonal saja kita harus 1. Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang tepi bawah (lihat gambar
memperhatikan beban yang tidak langsung. Garis pengaruh menjadi suatu garis 9. 5. 5. 'l . b. s/d e. berikut):
lurus antara dua titik simpul.
4. Pada konstruksi rangka batang dengan tepi tidak sejajar dapat kita tentukan: Batang Uldan U7 menjadi batang nol. Pada U2dan U3 momen pada tumpuan ,4
Garis pengaruh pada gaya batang tepi kita dapatkan dengan membagi garis yang berpengaruh. Garis pengaruh pada gaya batang Uq, Usdan U6 berdasarkan
pengaruh pada momen lentur dengan ordinatnya 4 dengan jarak r yang siku- pada momen lentur pada sistim dasar pada titik simpul yang berhadapan. Juga
siku antara titik simpul (kutub) dan batang tepi berhadapan. Garis pengaruh pada batang Uc, Us dan U6 harus kita perhatikan pengetahuan tentang beban
pada batang diagonal kita dapatkan dengan superposisi dua garis pengaruh yang tidak langsung.
yang sudah diketahui atau dengan bantuan penentuan gaya batang menurut A.
Ritter. batang Uz = Ut:
Penentuan garis pengaruh pada gaya batang vertikal menjadi beraneka warna
menurut cara pemasangan diagonal-diagonal, menurut batang tepi yang mana 4o: -
a1
n,
= _:j = _2,000
yang rnenerima beban dsb. Hanya pada konstruksi rangka batang dengan
diagonalnya yang turun semua atau naik semua, dapat kita menggunakan
pengetahuan penentuan gaya batang menurut A. Ritter.
batang Uo :

xqX'q 6.0.15.0
9.5..5. Contoh-contoh lh
=
21,0.3.0
= 1,428
Contoh 1: Pada suatu derek berkonstruksi rangka batang portal menurut gambar
9. 5. 5. 1. a. berikut dicari garis-garis pengaruh pada gaya batang masing- 4o = - 4a: - 1,428 tto: -1,428#: -0,286
masing.
h: 1,428ffi : o,zr+ ns: 1,428H: 't,141

batang Ur:

qe :-ifx{'a =ffi
12,0.9.0
=1,714

4o= -i,714f,-: -0,857 4ro= -1,714#: -0,571

ry= 1,714#= 1,2tA n,=1.714#=1,142

batang Ur:

Gambar 9. 5. 5. 1 . a. x{'a
th
= #f,:f, = 0,8s8
Penyelesaian:
Karena kita hanya memperhatikan gaya-gaya yang sejajar anting, reaksi tumpuan
masing-masing menjadi vertikal dan reaksi tumpuan H = O dan karena itu gaya
4o= -0,*#= -0,286 4ro =- 0,858

batang D : Ojuga.

438
439
b) Garis pengaruh pada gaya batang lJz = lJi
n,.-ry:;*=1,0s2 4r=0

batang O2:

n,=+=#=1.ooo 4r=0
c) Garis pengaruh pada gaya batang Ua:
batang Ot = 0e:

4r=- *=-HH:-o,Bse
batang Os = Ao:

d) Garis pengaruh pada gaya batang Us:


'" - !#t
n!: lh = --9'0-'12'0
21,0.3,0
= -1.714

batang O7: O6:

4,= - # = -#f# = -t,4zl


batang Oe : O16:

n,n=f=*3 =t,*
e) Garis pengaruh pada gaya batang U6:

f ) Garis pengaruh pada gaya batang O1:

Gambar9.5. 5. l. b. s/d e.
g) Garis pengaruh pada gaya batang 02:
rll
?. Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang tepi atas (lihat gambar
9. 5. 5. f. s/d l. berikut):
I
Pada batang O1 dan O2\ang berpengaruh adalah momen lentur pada titik simpul 1
pada konsole. Garis pengaruh pada gaya batang O3 s/d 06 berdasarkan pada h) Garis pengaruh pada gaya batang 03 = Oa,:

momen lentur pada sistim dasar, dan batang O9 dan 01g kita perhatikan momen
pada tumpuan 8.

batang Or:
3.0
COSY = = 0,95 r = hcosy:3,0.0.95 :2,85
/tot+ 1,o- Gambar9.5.5.1. f. s/d h.

440 441
i) Garis pengaruh pada gaya batang 05 = 06: batang D2:

D=
srn (p
= stn
-l! g = 1,414 4o: 4t = 1,414 4r : o
=:=
Antara titik simpul 1 dan titik simpul 2 harus kita perhatikan beban yang tidak
langsung.

batang Dss/d Ds:


k) Garis pengaruh pada gaya batang Ot = Oe: Pada semua garis pengaruh pada gaya batang diagonal ini dapat kita tentukan:

1,0
4a = - 4r:;;; *- r/T: t,+t+ cp = 45o

,,:nol=1,414ffi=o,4o4

l) Garis pengaruh pada gaya batang O9 : O16:


tto=*af=r,u+#=0,fr2
I batang D1s:
1.0
4ro:--::-=-1,414
srn (p
4g=0
Gambar9. 5. 5. l. i. s,/d L

m) Garis pengaruh pada gaya batang D7:


3. Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang diagonal (lihat gambar
9. 5. 5. 1. m. s/d s.): IN
l: _\ \
Garis pengaruh pada gaya batang diagonal D1 dapat kita tentukan menurut rumus lr
(9. 13.) dan pada garis pengaruh pada gaya batang diagonal yang lain kita
perhatikan rumus (9. 10.). Pada batang diagonal D2dan D1s kita gunakan garis
pengaruh pada gaya lintang konsole dan pada batang diagonal yang lain garis n) Garis pengaruh pada gaya batang D2i
pengaruh pada gaya lintang pada balok tunggal.

batang D1:
1 I M,
o= cos(p Mo I r____v
hu - ho
' '
1 = \raTi@-:1,2o o) Garis pengaruh pada gaya batang D3:
---;
cos g 3,0 R
:r
karena mornen lentur Mo = 0 dapat kita tentukan:

o=*+ ,,=*l H= -1,20H=-1,200


sl
:.1
L-- Gambar9.5.5.1. m. s/d o.

M2 443
p) Garis pengaruh pada gaya batang -Dt = Dd Karena batang tepi atas tidak menerima beba'n, rnaka Pl = 0 dan kemudian iuga
Iz=0danselanjutnYa:
vr=
:l
e ffant, tanrr = $ = O,aSa

L 4o= - {f o.rea= -0,333 4r=o

q) Garis pengaruh pada gaya batang - Do = Dl batang Y3:

4a=-1,@0 4o= _r,mo#=_1,2{t


batang Y8:

41e = 1.000 4g=0

r) Garis pengaruh pada gaya batang - Da = Ds: t) Garis pengaruh pada gaya tratang V 1:

u) Garis pengaruh pada gaya batang y2:


;[-->__ _
Garis pengaruh pada gaya batang D1o: ?
v) Garis pengaruh pada gaya batang y3:

Gambr9. 5.5. 1. p. s/d s.

4. Penentuan garis-garis pengaruh pada gaya batang vertikal (lihat gambar 9. 5.


5. 1. t. s/d w. berikut):
w) Garis pengaruh pada gaya batang V6:
Gaya batang vertikal V l dan Vs menjadi sama dengan beban pada titik simpulnya.
Gaya batang vertikal V3 menjadi sama dengn reaksi tumpuan,4. Batang vertikal l/2
menerima beban oleh batang tepi atas yang mengubah jurusannya pada titik sirnpul
l, tetapi batang vertikal Vas/d V7 menjadi batang nol.
Gambar9.5.5. 1. t. s/d w"
batang t/1:
Contoh 2: jembatan kereta api berkonstruksi rangka batang dengan
Pada suatu
4o = 1,000 4r = 0 diagonal saja menurut gambar 9. 5. 5. 2. a. berikut, tentukanlah gayabatang u, o
batang Y2: dan D oteh berat sendiri S : 2-O t/m dan oleh kereta api seperti ditentukan pada
gambar 9. 1. 1. a. dan gambar 9. 5. 5. 2. b. dan c. Titik simpul pada batang tepi atas
menurut rumus (9. 15.) ' Vz =- Pr * ,ru"y, - tan y2).
ff berada pada suatu garis Parabol.

444 M5
2. Penentuan garis pengaruh pada gaya batang O:

hs : 7,56 + 12 (8,0
- 7,56) : 7,78m

cos/= -+=:- =0.904 ts = hs cos y : 7,78.O,W = 7,73 m


V 4.02 + 0.442

tt00 -4000 xi's n,0.28,0


12
4s=- rh =Asra?,n=-r'5r
Gambar 9. 5. 5. 2. a.
1
Penyelesaian: og= -2,0 ,1,51 .48,0 = -72,5t
2. Penentuan garis pengaruh pada gaya batang U:
Op =- + 0,423 + 0,W + 0,664 + 0,785)
12,5 |.0,302
ht = ho x4x'o = 4,0 + 11
ffi16,0.32,0 -5,2 18,02(0,905 + 1,51) + ,1,51.28,01
hq = 4,@ + 3,56 = 7.56 m
Or= -12,5.2,718 -5,2(9.66 +21,14l,: - 194,0t
xex'o 16,0'32,0
h,=
- th, - 4a,0.7,fi- =
1'41

Karena pada batang u harus kita perhatikan pengaruh oleh beban yang tidak
langsung, maka kita tentukan:
t/m
nt: r,arffi= 1,058
5.?0
n5= 1,41ffi='t,ztz
Selanjutnya kita harus mencari penempatan kereta api yang paling tidak mengun-
tungkan sistimnya. Kita memilih jarak-jarak tsb. seperti terlihat pada gambar g. 5. 5.
2. b. berikut.
Garis pengaruh pada gaya batang O Gambarg.5. S.2. c.

-1
Uo= 2,01
712,0.
1,058 + 8,0,11fi,058 + i2i2t + ,28,0.1,232t 3. Penentuan garis pengaruh pada gaya batang D (lihat juga gambar
9. 5. 5. 2. d. sld f. berikut):
Uc = 2.0 (6,35 + 9,16 + 17,24t = 2,0.32,75: 65,6t
Kita tentukan pertama titik potong batang tepi bawah dan batang tepi atas dan
Up : 12,5(0,352 + 0.49t + 0.635 + 0J76 + 0,917) + 5,2(9,16 + jarak siku-siku titik potong itu ke batang diagonal D yang kita perhatikan.
17,241
Up = 12,5.3,174 + 5,2. 26,4 = 39,6 + i37,2 = 176,8 t
hoA
a::ho= la1 +ll:h, di =
hr- ho

4.
hz : ho * lt;!t rr*z: 4,0 +
4.O
48fr,
8,0'210,0 : 6,22m

4,0.8,0 :14,4m :
Garis pengaruh pada gaya batang U ai=
2,22
bi ai + I = 14,4 + ,0 + uE,0:62,4m
Gambar9.5.5.2. b.

446 M7
Jarak 16 dapat kita tentukan dengan mudah karena dua segitiga yang di-arsir pada
gambar 9. 5. 5. 2. d. menjadi sebangun. Karena itu r4 rnenjadi 15.5 m. Ordinat-
9.6. Garis pengaruh pada balok terusan
ordinat 4 pada reaksi tumpuan masing-masing kemudian menjadi: Pengetahuan dasar
9.6. 1.
14'4 Sampai saat ini kita hanya memperhatikan dan menentukan garis
qo= d;
a= 15,5
= o.g3o n,=*=W=4,02 pengaruh pada sistim statis tertentu. Sesudah kita ketahui beberapa ordinat 4 yang
penting, maka garis pengaruh sudah dapat digambar.
Penentuan penempatan kereta api yang paling tidak menguntungkan sistimnya
Garis pengaruh pada sistim statis tidak tertentu menjadi bukan garis lurus, melain-
dapat kita lihat pada gaya batang D maksimal (gambar 9, 5. 5. 2' e. ) dan pada gaya
kan garis bengkok. Penentuan ordinat-ordinat 4 pada urnumnya nremerlukan
batang D minimal (gambar 9. 5. 5. 2. f . )
banyak pekerjaan dan perhitungan sampai garis pengaruh itu dapat digambar.
Pada gambar9.6. 1. a. berikut dapat dilihat garis-garis pengaruh pada suatu balok
Ds = z,o( o,sss ' 6.ao
| -:-
} o,osz ' 41,60} - *26,84 t
terusan. Kita melihat, bahwa terutama pada bagian balok terusan dengan nilai yang
kita cari, bentuk garis pengaruh, walaupun melengkung, meniadi sebangun dengan
Dpnnx = 12,5(0,067 + 0,201 + 0,335 + 0,1121 = +8,941 garis-garis pengaruh pada balok tunggal. Oleh karena itu, pengetahuan garis-garis
pengaruh pada balok tunggal dapat membantu tanggapan kita pada penentuan
Dpmin = -12,51O,4g7 + 0,697
+ 0,666 + 0,636 + 0,605) garis pengaruh pada balok terqsan.
1

-2,0 129,6'0,s74 .)n '////z Gambar 9.6. 1. a


V7,. 72. 77.
D
Dpmin = -12,5'3,101 - 17,0 = -55,8t
Garis pengaruh r:'ada
reaksi tumpuan,4

Garis pengaruh pada


reaksi tumpuan B

_.=Il +.t?.5 t Garis pengaruh pada gaYa batang D-r,

e)
Garis pengaruh pada
momen lentur M pa-
da titik sembarang m

Garis pengaruh pada


gaya lintang O pada
Garis pengaruh pada gaya batang Dmin : Gambar 9.5.5.2. d^ s/d f titik sembarang n

48 449
Garis pengaruh pada
momen pada tumpu-
anB

Karena penentuan garis-garis pengaruh pada balok terusan sering diperlukan


walaupun penentuan menjadi agak rurnit maka biasanya digunakan tabel-tabel.
Tabel-tabel itu pada balok terusan dengan jarak tumpuan masing-masing menjadi
sama dan dengan momen lembam / tetap ditentukan ordinat-ordinat 4 pada titik-
titik sepersepuluhan lebar bentang /. Tabel-tabel itu ditemukan oleh misalnya: bo
A n g e r- T ra m, Zel lerer, Ka pf erer atau K le i nl og el.
Penentuan garis-garis pengaruh pada balok terusan dengan beban tidak langsung
masih tetap berlaku seperti pada balok tunggal dsb., maka oleh itu garis-garis
pengaruh bukan lagi menjadi garis lengkung r'nelainkan gar'is poligon'
penentuan garis-garis pengaruh pada balok tefusan dapat dilakukan secara analitis
Gambar 9" 6.2. a.
atau secara grafis dengan bantuan sistim titik potong, lihat bab 6' 3'
Dalam rangka buku ini garis pengaruh pada balok terusan kita bicarakan hanya Pada penentuan garis pengaruh beban atau cara pembebanan pada sistim statis
pada prinsipnya dan tanpa contoh-cgntoh karena penyelesaian terlalu luas untuk biasanya belum diketahui. Karena itu nilai d1o belum dapat kita tentukan dengan
tujuan buku ini. suatu angka tertentu. Jikalau kita menggulingkan suatu gaya P = 1,0 pada seluruh
panjang balok terusan ini nilai dp, berubah pada tiap-tiap pergeseran gaya P itu.
Jikalau kita menentukan pergeserart dro dengan P : 1,0 sebagai ordinat di l r:wah
9.6.2. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang statis ber' tiap-tiap titik tangkap gaya P itu, maka d16 sebetulnya menjadi garis pengaruh pada
lebih lendutan'pada titik 1 pada sistim dasar yang statis tertentu. Sama saja dapat kita
tentukan pada d2s dan d36 Menurut bab 9. 2. 5. garis pengaruh pada lendutan rnen-
Garis-garispengaruhpadareaksitumpuan,momenlenturmaupungaya jadi garis elastis oleh suatu gaya F = 1,0 pada titik 1,2atau 3. Nilainya dapat kita
lintang pada suitu sistim statis tidak tertentu berdasarkan pada garis pengaruh
tentukan dengan cara-cara yang sudah diketahui, dan yang kita tentukan sebagai
pada reaksi tumpuan yang statis berlebih. Karena'itu pertama kita tentukan garis
d*..
pengaruh itu'
Selanjutnya kita memperhatikan tiga persamaan di atas. Sebagai nilai dr* d2- dan
Sebagai keterangan kita perhatikan suatu balo,k t"rrr"n terletak di atas lima tum-
puan, seperti terlihat pada gambar 9 .6.2. a. berikut.
dr- kita ketahui garis-garis pengaruh pada lendutan pada titik 1,2 dan 3 yang men-
jadi identik dengan garis elastis pada sistim statis tertentu oleh gaya P : 1.0 pada
Kemudian kita menentukan reaksi tumpuan vertikal Ra, RC dan Lgp,sebagai reaksi
titik 1.2 atau 3. Bagian kanan pada tiga persamaan d1., dz. dan dr,, itu pada tiap-
tumpuan yang statis berlebih dengan nilai X,, X, dan X.. Pada beban yang mati
tiap titik sembarang pada balok terusan ini berisi suatu nilai. Karena itu pada Xr, X,
(tetap) dapat kita tentukan tiga persamaan berikut untuk mencari tiga nilai yang
dan X, kita mendapatkan nilai-nilai yang tergantung dari titik tangkap gaya P : 1,0
statis berlebih , Xr, Xrdan Xr:
dan yang rnenjadi ordinat-ordinat pada garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang
statis berlebih.
6rrXr+dnX2+d,,X3--d., Karena nilai-nilai 6kntidak menjadi tetap kita belum menrlapatkan hasil pada tiga
persamaan ini. Tetapi karena d,1 rnenjadi pergeseran suatu titik i oleh x1 : 1"0 pada
62rXr + d22X2 + dpX3 = - 6ro
titik k. Dengan d1- kita menentukan garis elastis oleh gaya P = 1 ,0 pada titik k.
Jikalau kita memperhatikan ordinat garis elastis pada titik i yaiig menjadi d,1 yang
6rrX, + drrX, + d31X3 =* 63s
pada saat ini menjadi juga dp, (Lihat juga rumus (8. 20.), Syarat dari Maxwell).
Pada sistim $tatis tertentu dengan satu nilai yang statis berlebih, perhitungan ini
Pada rumus-rumus ini d1; misalnya menjadi pergeseran titik k oleh gaya X7 Bagian
menjadi mudah karena kita hanya membagi ordinat garis elastis d1p atas d11 dan
beban d1o rnenjadi p"ig"rerrn titik k oleh beban yang sebenarnya. Semua
pergeseran ditentukan pada sistim dasar, yaitu pada balok tunggal' mendapat ordinat garis pengaruh pada X7.

450 451
Atas dasar penentuan-penentuan di atas dapat kita menentukan garis elastis pada bab 6. 3. 3. contoh 2 (lihat gambar 6. 3. 3. f. dan 9. 6. 4. 1. d.) dan dengan hasil
reaksi tumpuan yang statis berlebih X t , X z , - . X n ' Tinggallah kemudian penen- reaksi tumpuan masing-masing dapat digambar diagram gaya lintang (lihat gambar
tuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan, momen lentur dan gaya lintang. 6. 3. 3. g. dan 9. 6. 4. 1. e. berikut):

9. 6.3. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan, momen lentur dan


gaya lintang
Pada balok teRlsan dengan beban tetap (mati) dapat kita tentukan reaksi
tumpuan, momen lentur dan gaya lintang dengan bantuan reaksi tumpuan yang
statis berlebih Xr, Xz . Xn dengan superposisi:
Ra R,rlo + XrRa, + X2RA2 + XpRap+ * XnR4n
M Mo + X,M, + XrM, + X*Mr + ...'. + XnMn
o Qo + XrA, + Xra, + XrQ* + .... + XnAn

Pada penentuan garis-garis pengaruh kita gunakan cara yang sama. Garis pengaruh
pada reaksi tumpuan ,4 kita dapatkan oleh superposisi ordinat garis pengaruh ,94p.
dengan Ra1, \anQ dikalikan dengan ordinat garis pengaruh pada X1, dengan Ra2
yang dikalikan dengan ordinat garis pengaruh pada X2 dsb. Pada penentuan ini Ra7
menjadi reaksi tumpuan oleh X7 -- 1.0, Rnz menjadi reaksi tumpuan oleh X2 : 1'0
dsb. Sebagai ringkasan dapat kita katakan, bahwa garis-garis pengaruh pada balok
terusan atau pada sistim statis tidak tertentu yang lain terdiri dari bagian-bagian
seperti berikut: /-J
1. ordinat garis pengaruh pada sistim dasar (balok tunggal dsb.) dengan nilai r=r:1"
Ra6, Asdan Ms.
2. Ordinat garis pengaruh pada reaksi tumpuan yang statis berlebih Xt, Xz
.. . Xndanyangdiakibatkan olehXT = 1'0, Xz: 1.0, .'..' Xn : 1'0pada
titik yang kita perhatikan dan yang harus dikalikan dengan Rnr, Raz, ..."
R4naldu Mr, Mz, . Mnatau Q1, Qz, ..... Qu'
Kita melihat bahwa pemborosan perhitungan untuk penentuan garis-garis
"l':
Hfr,
-: Yz'
pengaruh pada sistim yang statis tidak tertentu menjadi besar sekali. a
$
Akan tetapi kalau kita memperhatikan cara perhitungan ini kita dapat melihat,
bahwa caranya menjadi sebetulnya sama seperti pada perhitungan balok terusan
secara grafis dengan menggunakan slstim titik potong (lihat bab 6.3.).
/t -1,_l

9. 6.4. Penentuan garis-garis pengaruh secara grafis


1. Penentuan momen lentur dan gaya lintang pada balok terusan dengan I
beban yang tetap (mati): {
Pada suatu balok terusan dengan macam-macam beban dan gaya seperti terlihat t
pada gambar 9. 6. 4. 1. a. berikut kita tentukan titik potong menurut bab 6. 3. 2'
(lihatgambar9.6.4. L b.)dan kemudian dengan superposisi dapat kita menggam-
bar diagram momen menurut bab 6. 3. 3. (lihat gambar 9. 6. 4. 1 . c. ). Kemudian kita
Gambar9. 6. 4. 1. a. s/d e.
menentukan masing-masing reaksi tumpuan secara grafis seperti diterangkan pada

453
452
2. Penentuan garis-garis pengaruh pada balok terusan dengan beban yang a/
tadak tetap (bergerak):
Supaya penentuan garis-garis pengaruh yang menjadi garis lerigkung menjadi
AQ2-auqk0r
I
J',6
Qz-+ utk0u H7
y'
Q2:a'utl.<
6'
Ht-
bt S,
/Q2:a'utk0r

J"'4' J, K
H r
seteliti mungkin, biasanya bagian balok terusan masing-masing dibagi sepuluh. rlJ 7

Pada contoh berikut, lihat gambar 9. 6. 4. 3. a. s/d g. kita hanya membagi empat 4 1t3'utk llt Ia
n2-4 ct'qr:r,utk ll,
supaya gambar tidak menjadi terlalu rumit.
Seperti pada beban tetap kita pertama menentukan titik potong J, J', J'dsb. dan
K, K', K'dsb. (lihat garnbar9.6.4. 1. b.). Kemudian kita menggulingkarr suatu
gaya P - 1.0 pada seluruh panjangnya balok terusan ini. Gaya P = 1.0 selalu
berhenti sebentar pada msing-masing titik yang kita tentukan tadi. Pada tiap-tiap
perhentian ini kita menggambar diagram momen Mo (lihat gambar 9. 6. 4. 3. a. dan
b.). Diagram momen itu dapat digambar dengan bantuan potongan garis ber-
silang, lihat juga gambar 6.2.2. c. pada bab 6. 2. 2.
/Qsts'utkQ5
Karena contoh ini menjadi simetris, cukup jikalau digambar garis pengaruh pada
15'-n,utkl,ft
\
bagian pertama dan kedua.
3. Garis pengaruh pada mornen lentur: Z'
Jikalau kita mau menggambar garis pengaruh pada momen lentur pada titik sem- tl zioislo'
45:-s'utk ll7 utk l/3
barang 3 (M3) kita rnengukur dari diagram momen pada titik 3 semua nilai42sld4a
yang sebagai ordinat garis pengaruh kita gambar pada tiap-tiap titik. misalnya 42 knt4e-eutku'
pada titik 2, 16 pada titik 3 dsb. Ujung-ujung ordinat ini dihubungkan dengan garis
lengkung dan mendapat garis pengaruh pada momen lentw M3 (lihat gambar 9. 6.
4. 3. a. dan c.)
Cara ini berlaku pada bagian balok terusan yang diperhatikan. Pada bagian-bagian
yang lain kita mengukur nilai ordinat 46 si d 49 antara garis sumbu balok terusan dan
garis penutup dari diagram momen (lihat gambar 9. 6. 4. 3, b. dan c.). Karena balok
terusan pada contoh ini menjadi simetris nilai ordinat 42'sld
'.i4'dan 46's/d 49'
il,S*,s s
dapat diambil pada titik 3'sebelah kanan (lihat gambar 9. 6. 4. 3. a. dan b.).
'S-s +x:
Maka dapat kita lakukan penentuan garis pehgaruh pada momen lentur M7.
Kita lihat, bahwa penentuan momen maksimal kita dapatkan jikalau semua beban
Garis pengaruh pada momen lentur M3
berada pada satu bagian dari balok terusan, dan bagian sebelah kiri sena bagian
sebelah kanan tinggal kosong. Pengaruh suatu gaya atau beban atas bagian ketiga
sudah hampir menjadi nol.
Yang harus kita perhatikan dengan khusus ialah suatu titik sembarang (9) yang
berada antara suatu titik potong (K) dan suatu tumpuan (C2l seperti terlihat garis
pengaruhnya pada gambar S. 6. 4. 3. a. berikut. Nilai momen maksimal kita
dapatkan pada suatu beban merata terbatas. Sebagai garis putus pada gambar itu
Garis pengraruh pada mornen lentur lVfi
dapat dilihat garis pengaruh pada momen lentur pada titik potong K'.
Pada penentuan garis pengaruh pada momen tumpuan Mlkita dapat mengukur 42'
s/d qa' dan 46' s/d qe' pada C3 (lihat gambar 9. 6. 4. 3. f.). Pada penentuan garis
pengaruh pada momen tumpuan Mil kita dapat mengukur semua ordinat 4 pada
tumpuan C2 (lihat gambar9. 6.4. 3. a., b. dan g.).
Kita lihat. bahwa penentuan momen maksimal kita dapatkan iikalau semua beban
berada pada bagian sebelah kiri dan kanan pada tumpuan yang kita perhatikan.
Bagian-hagian sesudahnya sebaiknya ditinggalkan kosong. Garis pengaruh pada momen lentur M9

454 455
7

89t0g',g',

' ./;
Garis pengaruh pada momen tumpuan Mg

+
+

{a 1 ! Garis pengaruh pada gaya lintang O3


Garis pengaruh pada momen tumpuan M11 Gambar 9. 6. 4. 3. a- s/d g. ls $
{<

\ s
RS
\
4. Garis pengaruh pada gaya lintang: R-'
Re

Pada penentuarr garis pengaruh pada gaya lintang (lihat gambar 9. 6. 4. 4. a. s/d f

berikut) kita sebaiknya mernperhatikan suatu balok tunggal (lihat bab 9. 2. 2.1 dan
.
\
s.
mengingat, bahwa dua momen tumpuan menurut perbandingan nilainya dan tanda Garis pengaruh pada gaya lintang 07
(+,-) mengakibatkan suatu tambahan atau kurangan pada gaya lintang atau -t/
reaksi tumpuan menurut rumus (6. 16.) dan (6. 17.) yang kemudian dapat ditulis
seperti berikut:

o(RA) : oo(Ras) * ta--lm1 = Qo t Ao Garis pengaruh pada reaksi tumpuan 4


Garis pengaruh pada reaksi tumpuan C1
Perbedaan AO dapat kita tentukan secara grafis dengan mudah. Seperti terlihat
misalnya pada contoh 2. gambar 6. 3. 3. f . pada gambar gaya dapat kita tentukan
dengan suatu garis sejajar dengan garis penutup s yang kena titik kutub, nilai reaksi s
RS
tumpuan kiri atau kanan. Pada poligon batang tarik menurut gambar 9. 6. 4. 3. a. +
& +
g
dan b. garis penurut menjadi garis horisontal. Perbedaan antara garis horisontal dan RS
{ R{?
garis sejajar pada garis penutup masing-masing kiri dan kanan pada suatu tumpuan s, ll*
menentukan nilai AO pada garis pengaruh pada gaya lintang, seperti terlihat pada Rl s
R9
gambar 9. 6. 4- 4" g. berikut.
Karena pada bagian pertama pada balok terusan ini semua garis penutup naik ke kiri
kita terima tambahan-tambahan pada bidang gaya lintang yang positif dan t
kurangan-kurangan pada bidang gaya lintang yang negatif. Jarak antara dua garis t
Re
ini selalu harus menjadi 1 (lihat gambar9. 6. 4. 4. b dan c.).
Karena pada bagian-bagian yang kita perhatikan hanya timbul momen pada tum-
puan dapat kita tentukan ordinat-ordinat untuk garis pengaruh dengan mengukur
Garis pengaruh pada reaksi tumpuan C2
ukuran H (jaraktitik kutub pada gambar gaya) dari titik potong J ke kanan atau K ke
kiri. Pada titik itu kita dapat mengukur siku-siku pada garis sumbu balok terusan Gambar 9. 6. 4. 4. a. s/d f.
sampai garis penutup rnasing-masing.
Jarak titik kutub H dapat kita tentukan dengan menggambar garis sejajar dari
poligon batang tarik pada bagian balok terusan yang diperhatikan oleh p 1.Q pada
ujung-ujung gaya P = 1.0 itu. Jarak H sebenarnya selalu harus menjadi sama
karena P : 1.0 juga selalu sama. Gambar 9. 6. 4. 4. g.

456 457
I
5. Garis pengaruh pada reaksi tumpuan:
Penentuan garis pengaruh pada reaksi tumpuan menjadi sebetulnya suatu garis
pengaruh pada gaya lintang pada suatu titik tumpuan. Garis pengaruh pada reaksi
tumpuan sebetulnya juga dapat ditentukan dengan melankaui tumpuan yang
[*ampiran
diperhatikan, dan memasang suatu gaya P = 1.0 yang membebani balok terusan
pada titik tumpuan itu. Sekarang kita tentukan garis elastis pada balok terusan itu
dan garis elastis ini menjadi garis pengaruh pada reaksi tumpuan itu. (Syarat dari
Land. ). l. 1. Rumus-rumus yang penting
1.1.1. Rumus-rumus yang penting pada bab 1. Penge
I Garis pengaruh pada reaksi tumpuan,4
tahuan dasar
Nomor: Uraian rumus: Halaman:
8 Garis pengaruh pada reaksi tumpuan Cr
(1.1.) Penghubung antara tegangan yang timbul dan tegangan yang
diperbolehkan 20
11.2.1 Syarat Hook 20
I Garis pengaruh pada reaksi tumpuan C2
(1. 3.) Penentuan dasar suatu gaya P 22
(1.4.) Penentuan dasarsuatu gaya P 22
Gambar9.6.4.5. a.
(1.5.) Hubungan antara nilai dari ilmu ukur dan nilai dari mekanika teknik
(statika) 22
(1. 6.) Penentuan resultante pada dua gaya 24
(1. 7.) Penentuan resultante pada dua gaya 25
(1. 8.) Syarat tangkai pengungkit 30
(1. 9. ) Fersamaan momen pada gaya yang sejajar 30
(1 . 0. )
1 Penentuan resultante pada beberapa gaya yang tidak sejajar 32
(1.11.) Tiga persamaan untuk membagi suatu resultante r9 atas tiga garis
kerja 33
11 . 12.1 Syarat persantaan momen Ritter v
(1. 13.l Momen dari satu gaya 35
(1. 14. ) Momen dari kumpulan gaya 36
(1. 15.) Syarat-syarat keseimbangan gaya 38
(1. 16.) Syarat-syarat keseimbangan momen 39
11 . 17.1 Syarat-syarat keseimbangan gaya dan molnen 39

1.1.2. Rumus-rumus yang penting pada bab 2. llmu inersia


dan ketahanan

,2. 1.1 Ketentuan jarak titik berat pada umumnya 6


12.2.1 Ketentuan jarak titik berat pada trapesium I
{2.3.) Penentuan momen lembam pada umumnya 49
12.4.1 Penentuan jari-jari lembam pada umumnya 50
(2. 5.) Momen lembam oleh jari-jari lembam dan F 50

458
r
(2. 6. ) Momen lembam pada sistim koordinat berpindah 50
t2. M.t Penentuan ),iapada topang ganda konstruksi baja 88
Q.7.1 Momen lembam pada sistim koordinat pada titik berat 51
Q.49.1 Penentuan t4pada topang ganda konstruksi kayu 90
(2.8.\ Momen lembam pada segiempat pada titik berat (x, y) 5'l (2.50.) Penentuan tegangan omax pada tiang terbengkok 92
(2. 9. ) Momen lembam pada segiempat pada sisi-sisi (x', y') 51
Q.5"t.l Hubungan antata a* yang sebenarnya dan orft yang diperbolehkan
(2. 10.) Momen lembam pada segitiga 51 pada tiang terbengkok 92
Q.'11 .l Momen lembam pada trapesium pada sisi bawah
(x1 52 t2.52.t Hubungan antara o,1 yang sebenarnya dan or1 yang diperbolehkan
12. 12.1 Momen lembam pada trapesium pada titik berat
(x) 52 pada tiang yang tertekan eksentris o2
(u, v) 53 (2.53.) Hubungan antara o6 yang sebenarnya dan or1 yang diperbolehkan
12. 13.1 Koordinat u dan v pada sistim koordinat terputar
12. 14.1 Momen lembam pada sistim koordinat terputar (u, v) 53 pada tiang dengan beban lintang 95
(2. 15. ) Momen lembam pada sistim koordinat terputar (u, v) il
(2. 16. ) Sudut putar a pada sistim koordinat terputar il
12. 17.1 Momen lembam utama /1 dan /2
55
(2. 18.) Syarat-syarat perseimbangan gaya luar dan gaya dalam 58
t.1.3. Rumus-rumus yang penting pada bab 3.
(2. 19.) Persamaan penguluran pada potongan yang datar 59
Konstruksi batang
12.2O.l Tegangan o pada penguluran yang datar dan Etetap 60

Q.21 .l Persamaan penentuan gaya normal N


60
Nomor: Uraian: halaman:
12.22.1 Tegangan o pada sistim koordinat bertitik tangkap pada titik berat 61
(3.1.) Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan satugaya 103
(2.23.1 Tegangan o pada sistim koordinat terkonyungsi 6'l
(3. 2. ) Momen maksimal pada balok tunggal dengan satu gaya 103
12.24.1 Persamaan garis sumbu nol 61
(3. 3. ) Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan gaya pusat 104
Q.25.1 Koordinat xn dan yn dari garis sumbu nol dengan garis sumbu (3.4.) Momen maksimal pada balok tunggal dengan gaya pusat 105
61
terkonYungsi (3.5.) Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan beberapa gaya 105
,.2.26.1 Tegangan o pada sistim koordinat terkonyungsi 62
(3.6.) Reaksi tumpuan pada balok tunggal dengan dua gaya Pyang simetris 107
63
12.27.1 Rumus garis sumbu n<ll linear (3.7.) Momen makimal pada balok tunggal. dengan dua gaya P yang
Tegangan o pada gaya tarik dan gaya tekan 63
Q.28.1 simetris 107
Q. n.l Tegangan o pada sistim koordinat terkonyungsi 63
(3. 8. ) Fleaksi tumpuan pada balok tunggal dengan bebanmerata 108
(2. 30.) Tegangan o oleh momen lenlur Mr, Mrsaja 64
(3.9.) Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban merata 108
(2. 31 .)
Tegangan o oleh momen lentur M, saja 64
(3. 10.) Momen pada titik x sembarang pada balok tunggal dengan beban
65
Q.32.1 Tegangan omaxpada sisi atas dan sisi bawah - merata 108
(2. 33.) Penentuan besaran inti k 67
(3.11.) Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban merata terbatas 111
Q. U.l Syarat keseimbangan tegangan geser 70
13.12.1 Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban segitiga yang
(2. 35.) Syarat keseimbangan tegangan geser 71
simetris 113
(2. 36.) Penentuan omaxpada segiempat sejajar 71
(3. 13.) Momen maksimal pada balok tunggal dengan beban segitiga yang
(2. 37 .l
Penentuan o -urpada prof il baja berbentuk / 72
satu hadap saja 114
(2. 38.) Tegangan linear 74
(3. 14.) Momen maksimal pada konsole dengan satu gaya pada ujung yang
(2. 39.) Tegangan dalam bidang n bebas 120
12. N.l Tegangan utama dalam bidang
77
,.2.
(3. 15.) Momen maksimal pada konsole dengan beban merata 121
41.1 Hubungan antara gaya tekuk dan lendutan batang tekuk 82
(3. 16.) Momen maksimal pada konsole dengan gaya horisontal 122
.2.42.1 Penentuan pelengkungan pada batang tekuk 82
(3. 17.) Gaya normal dan gaya lintang pada balok tunggal yang miring 144
12.43.1 Penentuan pelengkungan pada batang tekuk a ( 1 82
(3. 18.) Tegangan amaxpada balok tunggal dengan lengkungan miring 152
12. M.l Penentuan gaya tekan Psryang bahaya
83
(3. Momen maksimal yang bercita-cita pada balok rusuk Gerber 155
12.45.1 Penentuan gaya tekan PpfanQ bahaya u 19.)
(3.20.) Jarak engsel yang bercita-cita pada balok rusuk Gerber 156
.2. 6.1 Penentuan tegangan o17 |on$ bahaya
u
12.47.1 Penentuan tegangan okr pada sepenjangkanan plastis pada baja
ST 37 85

461
460
1.1.4. Rumus-rumus yang penting pada bab 4. (6. 16.) Balok terjepit: menentukan gaya lintang 2@
Konstruksi rangka batang (6. 17. )Balok terjepit: menentukan reaksi pada tumpuan 261
(6. 18.) Balok teriepit dengan beban merata: momen maximal 261
(4. 1.) (6. 19. )Balok terjepit derorgan gaya pusat: mo{nen maximal 261
Persamaan keseimbangan pada rangka batang 179
14.2.t Penentuan konstruksi rangka batang yang statis tertentu
(6. 20. )Balok terjepit: menentukan lendutan f b2
179
(4.3.) Penentuan gaya batang tepi atas O menurut Rhter 187
(6. 21 .)Balok terjepit dengan beban merata: lendutan maxirnal 2f,2
(4.4.) Penentuan gaya batang tepi bawah U menurut Rifter {'6.22.1 Balok terjepit dengan gaya pusat: lendutanmaxirnal 263
187
(4.5.) Penentuan gaya batang diagonal D menurut Ritter 188
(6. 23. )Balok terjepit sebelah: momen jepitan kalau a = 0 263
i6.24.1 Balok terjepit sebelah: momen jepitair kalau a ) 0 243
(6. 25. )Balok terjepit sebelah dengan beban merata:
momen jepitan 2U
!.1.5. Rumus-rumus yang penting pada bab 5. (6. 26. ) Balok terjepit sebelah dengan beban merata:
Alat-alat sambungan momen maximal 2U
i.6.27.1 Balok terjepit sebelah dengan beban merata:
(5. 1.) Beban yang diperkenankan satu keling atau baut terhadap tegangan gaya lintang 2M
geser 204 (6. 28. ) Balok terjepit sebelah dengan beban merata:
(5.2.) Beban yang diperkenankan satu keling atau baut terhadap tekanan reaksi pada tumpuan 2U
(5.3.)
dinding lobang 204 (6.29.) jepitan
Balok terjepit elastis: momen 265
Gaya lintang A6pada topang ganda dari baja 223 (6.30.) Jarak titik potong a ffi
(5.4.) Gaya pergeseran fpada topang ganda dari baja ?23 (6.31.) Jarak titik potong b 267
{5. 5. ) Momen M pada topang ganda dari baja 224 (6.32.) Perhitungan momen jepitan dengan jarak titik potong 267
(5. 6. ) Tegangan normal o6 pada gigi tunggal 227 (6.33.) Perhitungan momen pada titik potong J dan K 28
(5.7.) Tegangan geser r pada gigi tunggal 227 (6.34.) Potongan K dan K' pada garis bersilang 268
(6. 35. ) Jaraktitikpotong adanb dengan/tetap 269
(6.36.) Perhitungan momen pada titik potong dengan /tetap 269
t. 1.6. Rumus-rumus yang penting pada bab 6. (6. 37. ) Jarak titik potong pada balok teriepit 270
Balok terusan (6.38.) Jarak titik potong pada balok terjepit dengan / tetap 270
t6.39.) Jarak titik potong pada balok tunggal 271
Nomor: Uraian rumus: halaman: (6.40.) Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan elastis 272
(6.1.) Balok terjepit: persamaan elastis 2il (6.41.) Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan yang kaku 272
(6. 2. ) Balok terjepit: momen jepitan 255 $.42.t Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada engsel 272
(6.3.) Balokterjepit: momenjepitan o = D : 0 255 (6.43.) Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan elastis 273
(6.4.) Perhitungan sudut tumpuan oleh Mt : 1 255 (6. 44. ) Perhitungan ukuran jepitan sendiri pada jepitan elastis 273
(6. 5. ) Perhitungan sudut tumpuan oleh M2 =l 256 (6. 45. ) Perhitungan ukuran jepitan asing 273
(6. 6. ) Persamaan sudut tumpuan 256 (6.46.) Jarak titik potong a' dan b' pada balok terjepit elastis 276
(6.7.) Balok terjepit: momen jepitan 256 $.47.t Jarak titik potong a' dan b' pada balok terjepit 277
(6.8.) Balokterjepit: momenjepitan a = 0 = 0 256 (6. 48. ) Jarak titik potonq a' dan b' pada balok tunggal 277
(6.9.) Balok terjepit dengan beban merata: sudut tumpuan 257 (6. 49. ) syarat persamaan rrga mornen (clapeyron) 283
(6. 10.) Balok terjepirdengan beban merata: momen jepitan 257 (6. s0.) Penentuan angka kekakuan batang k 289
(6. 11.) Balok terjepit dengan gaya pusat: sudut tumpuan 258 (6. 51.) Perhubungan antara momen distribusi dan angka kekakuan batang 289
(6.12.) Balok terjepit dengan gaya pusat: momen jepitan 258 (6.52.) Penentuan koefisien induksi y 289
(6. 13. ) Balok terjepit dengan dua gaya: sudut tumpuan 259 (6. s3.) Penentuan koefisien induksi y pada balok dengan /tetap 290
(6. 14.) Balok terjepit dengan dua gaya: momen jepitan 259 (6. s.) Perhitungan momen jepitan pada balok terjepit sebelah 291
(6.15.) Balok terjepit: menentukan momen pada titik x 2ffi (6. 55. ) Penentuan angka kekakuan batang k' pada balok terjepit sebelah 291

462 463
r-
(6.56.) Penentuan koefisien induksi y pada balok terjepit sebelah 292 Hasil pengintegralan pada kerja virtual:
(6.57.) Balok terusan dengan beban merata: momen maksimal pada satu 18.12.t Bidang limas - bidang sembarang 352
295 (8. 13.) Bidang limas - bidang limas 352
bagian
(8. 14.) Bidang limas - bidang segiempat 353
(6.58.) Merendahkan ketinggian puncak momen pada momen yang negatif
299 (8.15.) Bidang segiempat - bidang segiempat 353
(
- ) di atas tumpuan pada konstruksi beton bertulang. (8.16.) Bidang segitiga - bidang segiempat 353
(8.17.) Bidang segitiga * bidang segitiga sejajar 354
1.1.7. Rumus-rumus yang penting pada bab 7. (8. 18.) Bidang segitiga bidang segitiga tidak sejajar 3il
Konstruksi portal -
(8. 19.) Syaratdari Betti 355
17. 1.1 Momen jepitan M;ppada penurunan tumpuan pada balok terjepit 322 (8.20.) Syaratdari Maxwell 356
17.2.1 Momenjepitan Mppadatumpuanpadabalokterjepitsebelah 322 (8.21.) Syaratdari Castigliano 357
(7.3.) Faktor pengikat t' pada gaya pengikat horisontal pada konstruksi 8.22.1 Syaratdari Mohr tentang lengkungan k 357
yang goyah 326 (8.23.) Syaratdari Mohr tentang persamaan garis lengkung 357
17. 4.1 Momen jepitan pada konstruksi yang goyah dengan perhatikan faktor t8.24.t Syaratdari Mohr 358
pengikat! 326 (8.25.) Pergeseran dan perputaran pada konstruksi batang 3s9
(7.5.) Perbandingan antara momen jepitan pada konstruksi portal dengan (8.26.) Persamaan kerja pada konstruksi rangka batang pada prakteknya 369
panjangnya kaki berbeda dan yang terjepit pada tumpuannya 329 t8.27.t Penentuan bobot-beban W I pada konstruksi batang 373
(7.6.) Perbandingan antara momen jepitan pada konstruksi portal dengan (8.28.) Bobot-beban Wopada tumpuan kiri 374
panjangnya kaki berbeda dan yang berengsel pada tumpuannya 329 (8.29.) Bobot-beban Wnpada tumpuan kanan 374
(7.7.1 Perbandingan antara momen jepitan pada konstruksi portal dengan (8.30.) Bobot-beban Wppada momen lembam /tetap 374
panjangnya kaki berbeda dan yang terjepit sebelah dan (8.31.) Bobot-beban Wopada /tetap, pada tumpuan kiri 374
berengsel menYebelah 330 (8.32.) Bobot-beban Wrpada /tetap, pada tumpuart kanan 374
(7.8.) Penentuan gaya pengikat horisontal rl = 0 pada konstruksi portal (8.33.) Bobot-beban Wppada konstruksi rangka batang 381
bertingkat pada tingkatsatu 333 (8.34.) Bobot-beban W p pada konstruksi rangka.batang 381
(7.9.) Penentuan gaya pengikat horisontal Frr : 0 pada konstruksi portal (8.35.) Bobot-bieban Wppada diagonal yang naik 382
bertingkat pada tingkat dua 333 (8" 36.) Bobot-beban Wppada diagonal yang turun 383
(7. 10.) Penentuan momen M pada konstruksi portal bertingkat 333 (8.37.) Bobot-beban Wp pada diagonal yang naik pada konstruksi rangka
batang dengan tepi sejaiar 383
(8.38.) Bobot-beban Wp pada diagonal yang turun pada konstruksi rangka
r. 1.8. Rurnus-rumus yang pentang pada bab 8.
batang dengan tepi sejajar 383
Perubahan bentuk elastis
(8. )
1. Persamaan keseimbangan kerja virtual 344
(8. 2. ) Persamaan keseimbangan kerja virtual dengan giliran terbalik 345
r. 1. 9. Rumus-rumus yang penting pada bdb 9.
(8. 3. ) Kerja virtual dalam oleh gaya normal 346
Garis pengaruh
(8.4.) Kerja virtual dalam oleh momen lentur u7
(8. 5. ) Kerja virtual dalam oleh perubahan suhu seragam u7
(8. 6) Kerja virtual dalam oleh suhu yang berbeda pada sisi atas dan sisi (9.1.) Reaksi tumpuan oleh kumpulan gaya P dengan garis pengaruh 392
bawah u7 (9.2.) Reaksi tumpuan oleh beban merata g dengan bidang pengaruh 392
(8. 7) Kerja virtual dalam oleh gaya lintang 3A ((9.3.) Luasnya bagian (+)atau bagian (-) pada bidang pengaruh pada
(8. 8) Persamaan kerja pada konstruksi batang w beban yang tidak langsung 398
(8.9.) Persamaan kerja yang diperpendekkan pada konstruksi batang 349 (9.4.) Luasnya bidang pengaruh seluruhnya pada beban yang tidak
(8. 10.) Persamaan kerja pada konstruksi rangka batang 350 langsung 398
(8.11.) Persamaan kerja yang diperpendekkan pada konstruksi rangka (9.5.) Gaya normal pada titik x pada konstruksi busur tiga ruas dengan
batang 350 beban tetap 416

465
M
(9.6.) Gaya lintang pada titik x pada konstruksi busur tiga ruas dengan t.2. 1. Penentuan titik berat pada bidang yang datar
bebasan tetap 416
(9.7.) Gaya normal pada titik x pada konstruksi busur tiga ruas dengan
beban tetap 420
(9.8.) luasnya F jarak titik berat e
Gaya lintang pada titik x pada konstruksi busur tiga ruas dengan Bentuk
beban tetap 420
) Gaya batang tepi pada konstruksi rangka batang dengan tepi sejajar
(9. 9. 421 Persegi-empat

ESH
(9. 10.) Gaya batang diagonal pada konstruksi rangka batang dengan tepi F:a'b
sejajar 425 dengan sama sisi: e:,
(9.11.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan tepi F=a2

,ffi
sejajar 425
1.9.12.1 Gaya batang tepi pada konstruksi rangka batang dengan tepi tidak
seja.jar 430 Jajaran
(9. 13.) Gaya batang diagonal pada konstruksi rangka batang dengan tepi F:a'h h
tidak sejajar 431
n : /6t-.t "= i
(9. 14.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan diagonal
turun naik dan tepi tidak sejajar 433
(9. 15.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan diagonal

*ffi
turun naik dan tepi tidak sejajar 433
Trapesiurn
(9. 16.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua
h a+2b
diagonal berarah sesama dan tepi tidak sejaiar 434
F: a+b.
_ n:m.n -
A-:--
3 a+b
(9. 17.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua 2
diagonal berarah sesama dan tepi tidak se.iaiar 435
(9. 18.) Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua
diagonal naik atau turun dan tepi tidak seiajar 436
Segiempat sembarang S pada titik F"rotong garis
(9.19.)

.d1\
Gaya batang vertikal pada konstruksi rangka batang dengan semua FJ dan Glt, F dan G
diagonal naik atau turun dan tepi tidat< sejajar 436 h'+h"
: ---z men jadi titik tengah
r --'s diagonal ,a,C dan BD,

t#i:s\ cian jarak Cll - AE dan


DJ = BE.

,/\ Segitiga
.e /,{,f"\ I
"//\ \ i :' l-:lu
r,{flfl
I h
F=, 9-:I'
ti
h = b.siny
L-:_rl

467
466
Bentuk iarak titik berat e
Eentuk jarak titik berat
Segi-banyak sama sisi -
u U_--
360
0o :180-,,
e

n
n' R2 seperempat lingkaran
p; __qi64 R=- r
r::_l'
JN
4
e2: 3n-4
^-r
Jtr
2 180 180
^u cos lstn- F=r2'n = 0,4244 r
= n.r..tg I -n n 4 = 0,5756 r
'10*.3r
: - r,: 2 R "in
2vrR'?
180 2
= n'S2 u S e," =--r e' =
o_ "rn,
n
luasnya F': 12-3n' 12inr
n : banyaknya sudut
- cos180
=H s
n =2 ctg
180
: rz(1-
= 0,2234? = 0.7766 r
n F,
it: o,urcr,

1.132 2r
Sektor lingkaran 2s 2 sino
3
4 1.414
R
R
3,4M
2r
r 0,5774s
0.7071s o,414r
0.2887s
0,5 s
0,5
0,7071
0,4330s'
1s?
1,299R,
2F'2
5,1961
412
3
4 r b : t2 n'ao
"3b - 3 ' arc,
-t =
5 r,176
1R
R 1,453 r 0,8506s
'ls
1 .1 55r 0.6882s 0,8090 1,772 s1 2,378R1 3,633r? 5 2 360- =o'0a87266' qo' 12
=3.F
12' s
6 1t 1 ,'l 55r 0,8660s 0.8600 2,598 s' 2.599R' 3,4&r2 6
. 2'F = roo'n :0,017453 . (
o =; -180- qo
7 0.8678R 0,9631 r 1 .152 s 1,038 s 0,9010 3,634 s2 2.736R' 3,371rt 1
I 0,7654R 0,8284r 1.307 s 1,207 s 0,9239 4,828 sl 2.82tiqt 3,314tt 8 _ 8t-s ) co < 900 sektor 600 sektor 900
9 0,6840R 0,7279r 1,462 s 1,374 s 0.9397 6,182 s? 2.893R' 3,27612
q - 3 le(1500
'to 0,6180R 0.6498r 1,6',t8 s 1,539 s 0,9511 7.694 s'] 2,939R' 3,24612 10

e' :# = s7,2s69
e =-2n r
4\[2
8:-^- I
Jn
0,5635R 0.5873r 1.775 s 1,O42r 1,703 s 0.9595 9,366 s' 2,974R7 3.23012 = 0,6366 t :0,6002 r
0.51 76R 0,5359r 1.932 s 1.035r 1,866 s 0,9659 11,20 sz 3R, 3,215t
0,39028 0,3979r 2.563 s 1,O20r 2,514 s 0.9809 20,11 s2 3,061R' 3,1831 segmen lingkaran
0.3129R 0.3'r67r 2.563 s 2.563r '1,012 s 0,9877 31 ,57 s1 3.090R1 3.1 681
- rz,qo'n r{b-s, +s.h sl 2 r3 ' sin3 o
' 2'180 2 "- l2r 3
contohl;n -5 s =30 mm conloh2: n 12 R 75 rnrn
R -- 0.8506 30 = 25.52 mm r = 0,9659 '15 = 72,44 mm s2h
r - 0,6882 30 . 20.65 mm ' s =0,5176 75 =.38,82 mm th2+-
F -1.72A 30, = 1548 mm, F ,3. 75'? ..16875 mnr'l r'ao'n
b : -- 0,017453r.q00
186-
s = 2. r. sn = uzr-nl
Lingkaran f zr/

h : r ( 1 -cos+ l :r - vC= 1, tso =ts$ =


F =r2.r=Or+
u'd il=
4
Elips

Setengah lingkaran er= *r:0,4244r = ,lt -";o - v/ibl


,2.- 3n-4
z =d2
8
ez = Jn- : 0,5756 r

468
469
1.2.2. Penentuan momen lembam dan mornen tahanan
Mornen I Momen Momen momen lembam / momen tahanan t/l/
tahanan Ut/
h2 6b2+6b_b1+b12
fid1 !dt
64 32 6bllJrirlb-" 12 3b+2br
2b * br h 3b+2bl
: !-l 4
: flt'
4
e:---
3 2b+bl
b trl : :
lx: 0,7854 ra 0,7854 r3
J * 0,05 d. - 0,1 d3
H4
-h4
tt 5H
A- 19t-a:y -n
D4
-d1
64 D
lt
4
R4
-ra -n-hl
H1
_ ha h".
t/. _H4 : 0.1179 I: -
ltz 12H H
Pada pipa dengan dinding yang tipis:
H
e: ll t
2- t'
_Ii
w:T- q.[,.(+)']
n,
17 l:W'R
- 0,1'1785 hr
-BI! :--!
j1 : Bll3-bh3

"- lrfr
w -;.H
Wt - 0,2587 rr 17

w2 : 0,1908 r!
0,1098 ra
et :0,4244 r
bh2 ez :0,5756 r
qn!{, + g}1 w: B-[ -t ! !1
2 12 6H
3
ls : 0,0549 rr

a
l))* o'"" " et: 0.42:44 r
er :0,5756 r .l:- Be,3-bh3+ae23
I lxy : 0,125r{ 3 e1

J-., : 9,525., lss : 0,0165 r{ a.:-


1 aH2*bd2 W: : '-1-
' 2 aH+bd e2

st/t
a:rvi ez: H -et
r ls : 0,0075 rr
16 - 0,865

:
F :
0,5413 ra
2,598 rz
5vl
-J-- r3
l))- o,'' " et :
:
0,2234 r
16 ez 0,7766 r
lxy : 0,125 11
: 0,54'13 rr
l5s s Q,@{'( ;a

1+2]/2
___-_ r.
6
: 0,5381 r'. 0,6906 rr
L b^, Lb
4 4 ",
- 0,8758 er : 0,8758 c: :
: 0,0547 a{ : 0,1095 a3
- 0,7854 b a: 0,7854 b a,

e :0,974 r 471
1.2.3. Tabel nilai-nilai pada bahan baja profilmasing-masing
1. 2. 3. 1. Tabelnilai-nilaiprofilbaja I NP

Sx : momn statis pada separuh luasnya profil

-_-
a
1
S,. = {i jarak titik berat pada bagian ta!'ik dan tekan

., -- l, --
ux
momen lembam
^,
Jx momen statis pada sayap

It : momentembam : +[2b. tr + (h - 2t]s3l


torsi menurut
rumus A. F6ppl

Bentuk ukuran-ukuran berat garis sumbu x-x garis sumbu y-y lobang bentuk
ry I wy'l Sxls*ls', w
h
lo
lmm mm
t
mm
r2
cm2
lx
cm4 cmalcmll.-
iy
cm3 l.-1.- cm4
l1
ldrmax
mmlmm
h1
mm
U
mzlm I
41lt 35 7,1 4,7 3,7 15,3 6,8 '1,8 3,6 2,0 0,87 4,73 3,67 3,94 0,488 78 0,210 4112
6 60 40 3,75 5,9 4,6 34,1 11,4 7,4 5,9 3,0 0,96 6,79 5,02 5,68 0,552 4'l 0,2s7 5
I 80 42 3,9 qg 7,3 7,58 5,95 77,8 19,5 3,20 6,29 3,00 0.91 11,4 6,84 6,93 0,928 27 59 0,304 I
t0 100 50 4,5 5,8 )1 10,6 8,32 34,2 4,O1 12,2 4,88 1,07 19,9 o<? '10,2 1,72 76 75 0,370 !0
12 170 58 5,1 14,2 11,7 328 54,7 4i81 I t,) 7,41 't,23 '10,3 17,4 30 92 o,439 l2
14 11+O 66 8,6 3,4 '18,3 14,4 573 81,9 5,61 35,2 10,7 't,40 47,7 12,0 14,6 4,66 34 11 109 0,502 l4
l5 qq
160 74 6,3 72,8 't7,9 935 117 6,40 54,7 14,8 1,55 68,0
q?1
13,7 16,8 7,08 38 14 125 0,575 l6
t8 o. )
180 87 6,9 10,4 4,1 77,9 21,9 1 450 161 7,20 19,8 'l,v1 15,5 19,1 10,3 44 14 142 0,640 l8
20 200 90 11 ,3 4,5 33,5 26,3 2 140 214 8,00 117 26,0 1,87 125 17,7 21.1 14,6 46 17 159 0,709 20
2t 770 9B 8,1 12,2 4,9 39,5 31,1 3 060 278 8,80 162 JJ, I ana 162 18,9 23.4 20,1 57 17 175 o,775 22

24
25
740
750
106
1'10
8,7 13,1
13,6
46,1 36,7 4 750 354 9,59 221
756
41,7 2,20 706 20,6 2:t,o 56 17 19?. o,844 u
9 5,4 49,7 39,0 4 970 397 10,0 46,5 2,27 231 21,5 16,t 31,3 17 200 o,877 23
76 260 113 1tt,1 5,6 q?Z 41,9 5740 442 10,4 288 51,0 2,37 ?57 27,8 36,1 20
58 208 0,906 26
2A 280 119 14,1 15,2 6,1 61,1 48,O 7 590 't1,1 364 61,7 2.45 316 14,U 30,1 47,8 62 20 715 0,966 28

30 300 125 10,8 16,2 6,5 69,1 54,2 9 800 653 11,9 451 72,2 7,56 481 1E 7 32,4 61,2 64 20 241 1,03 30
32 320 131 '1
1,5 17,3 6,9 77,8 61,1 12 510 782 12,7 s55 2,67 457 27,4 34,6 78,2 70 2A 257 '1,09 t2
34 340 137 18,3 ?? 86,8 68,1 15 700 923 13,5 674 98,4 2,80 540 29,1 36,9 97,5 74 20 274 't,15 ?t
36 360 143 13 19,5 7,8 97,1 76,2 19 610 1090 't4,2 818 114 2.90 638 -?0,7 39,1 173 74 23 290 1,21 36

3B 380 149 20,5 8,2 107 81r,0 24 010 1160 15,0 975 't31 3,02 74',1 3?,4 41,4 150 80 1? 305 1,27 38
a0 400 155 14,4 71,6 8,6 1't8 92,6 79 210 1460 15,7 r1 60 149 3,1 3 857 34,1 43,6 183 84 23 373 1,33 40
4211t 42'5 163 15,3 23 132 104 35 970 1740 16,7 1440 176 3,30 1020 36,2 46,5 233 86 26 343 't,41 4211t
45 454 170 16,) 24,3 9,7 147 45 850 7040 17,7 r 730 203 3,43 1 200 49,1 288 92 26 363 1,48 1.5

tt?1lt 4t5 118 17,1 25,6 10,3 56 480 2380 18,6 2090
2090 235 3,50 1m 40,4 52,1 354 96 16 384 1,55 47112
50 500 185 1B 27,0 10,8 180 141 68 740 2750 19,6 7480
2480 768 3,72 1670 42,4 54,6 449 100 76 404 1,63 50
55 550 200 '19 30 41 0 713 167 99 180 361 0 ?1,6 .490 349 4,07 2120 46,8 60,0 618 110 26 444 1,80 55
60 600 215 21,6 32,4 13 754 199 1 39 000 4630 23,4 4674 434 4.30 2730 50,9 66,5 875 120 26 485 't,92 50

472 473
1.2.3.2. Tabel nilai-nilai profil baia U NP
Sx = momen statis pada separuh luasnya profil
I
S, : * jarak titik berat pada bagian tarik dan tekan
Jx

tekan momen lembam


)^= E: momen statis pada sayaP

It = momen lembam : [2b.t3 + (h-2t) s3]


+
torsi menurut rumus A. FoPPI
6: jarak yang menentukan lr2 = lv2 : 2l' pada dua prosil
baia U NP

Bentuk ukuran-ukuran berat garis sumbu x-x gans sumbu y-y t


xliEx
I '
lxfifx "
I lobano,

'.l'l
I

5 rl F ev]r, la ty *r]iy s*1,, s'x l1 i


+ar+ ll-ll wrdlin,
l_-La_]+l
U

E mmmm] mm mm cm2 o"'I ::l :l- cm3 cm4 cm3 i cm .*r | .- cm cm4
1.. l-.i.,,:"J
mA:
mm m2/m

8
t0
-
'. T-.;
lool rot
i 6
6
8
8,5
4
4,5
11,0
13,5
a,s+ | t,+s
I

10,511,ss1206
13,4 1 1,60 364
106 26,5
41,2
3,10
3,91
19,4
29,1
6,36
8,49
1,33
1"47
15,9
24,5
6,65
8,42
7,41
9,61
2,74
t,Y6
zB
ttL
I - I,zslt+
42l',to4 130114
s51120i30117
64
+o o,312
o,377
8
t0
12 120 I 55 7 9 4,5 17,0 60,7 4,62 43,2 11 ,1 1 ,59 36,3 10,0 '12,0 4,30 s2 0,434 12
l4 l4oleol 20,4 ta.o : t;ts I 605 86,4 5,45 14,8 41< 51,4 11,8 14,1 6,02 70 I 14A I 3s I 17 I 98 a,489 t4
tt 10
7 5 62.,7

16 '160 I es 7q 10,5 5,5 24,O 18,8 I 1,84 | 92s '115 6,2',1 813 16,3 't,89 r'r8,8 13,3 16,4 7,81 8211s6135120111s o,546 16
lsol rol zz.o 't t,gz J I :so
I

t8 8 11 5,5 28,0 150 6,95 114 2?-,4 v,o? dl,6 r3,r 18,8 9,98 96t174'401201133 0,6't1 i8
20 200 7s 8,5 11 ,5 6 32,2 25,3 2,0',1 1910 191 1,70 148 2'1,0 7,14 11.',l 16,8 21,3 12,6 io8 I rqo +o I z: I rsr 0,661 zo

I rol 29,4 2,14 | 2690 'tLz I 208 I 45 I 23 167


I

27 220 9 17,5 6.5 37,4 245 8,48 197 33,6 2,30 18,5 23,5 17,0 0,718 22

24 240 I ,, 9,5 13 6,5 47,3 37,2 2,73 | 3600 300 9,22 248 39,6 7,42 179 24,1 75,9 20,8 134 i 724 I 45 I 26 )184 o.775 24
76 2601 901
I

10 14 7 48,3 37,9 2,35 i 4870 37'.i. 9.,99 317 47,7 2,56 221 21,8 28,2 23,7 146121+olsol26i200 0,834 26
B 2Boj gsl 10 15 41.8 \ 2.53 I 6280 448 10,9 399 57,7 2,74 266 23.6 30,2 33,2 160 I 262 I 50 26 I 716 0,890 28
30 3oo I roo I 10 16 8 s8.8 46,2 z,to | 8o3o s35 11,7 495 67,8 2,90 316 75,4 32,3 40,6 174 I 282 | ss ) ?6 1232 0,950 30

12 320 100 14 17,5 8,75 75,8 s9,5 I 2,50 I 10 870 679 12,1 597 80,6 2,81 413 7'6,3 35,4 69,2 182 I 286 5s I 26 I 246 0,982 t2
35 350 100 14 16 o 77,3 60,6 2,40 | 17840 734 1?,9 570 75,0 2,77 459 ?.8,6 40,2 63,2 204 | 300 I ss I 26 1282 1,05 35
38 381 102 13,3 '16 11,2 79,7 ez,o i z,ts I rsz:o 826 14,1 613 78,4 7,78 505 3't,1 45,9 67,1 230 I 324 I s5 | 26 1312 1,11 38
40 400 1'10 14 18 9 91,5 zr,alz,eslzotso 1 020 14,9 846 102 3,04 618 32,9 46,9 85.2 240 I 346 I 60 I 26 1324 1,18 40

T- I - --:11t''i1::n'"'*r1*n11"":11"1- Profil baja dengan ukuran khusus bangunan I tt


t -1
-l--l l-l :-i ;TT EJff l- l: I ^' I ":
fw Profil baja dengan ukuran knusus kereta api Profil baja dengan ukuran khusus bangunan f \i,
--l -'-
l--l-'- 4,18 -- 1 -- r---t- I ,o -r----
t05. 65 65 8 8
4,07 61,2 't3,2 ,,,ur]rr,.'r,rol,o,o
8,80 | 10,4 Iio,',, 36 i ',,2 I ,, |
36 ,0, 1o,o:. 105. 65
tg5. 60
105
145 bU I I 5.43 53,it 11,9 1,6s I 49,2 1i,9 I 15,8 4,76 68 't?.8 ' t. 35 i 17 | 111 | 0,494 t45. 60

235. 90 235 90 10 12 5 42,4 9,00 272 40,5


ilirr:r
2,s3 i 17s ,1e,2 12s,8 t1e,s eB ] raa I so I ze I ro: o,zas 235.
300. 7s 300 10 10 5 42,8 10,7 145 24,2 1,84 i204 1241 40,6 116,1 182 t 242 A 23 I 257 0,857 300. '0
r5
300. 78 300 78 10 13 5,5 47,6 11,1 209 34,7 z,'to t, zlt 24,7 :e,r I z:,0 raz ] zs4 40 ' 23 j z+s i o,esa 300. 78

474 475
T
1.2. 3.3. Tabel nilai-nilai profil baja L

lxy - momen sentrifugal


J9
It : momen lembam : -0 12u-.1 ,'
!
torsi menurut rumus A. F6PPel

-11
12 =,

jarak garis sumbu garis sumbu x-xdany-y bentuk


Bentuk
L t -e rl:71 L
1. a. s l1 wx lX t( i hl tfl a.a'5

mm cm4 cm3 cm cm4 cm cm4 cm

t5.'4
15.3 3,5 0,82 0,48 0,67 0,t5 0,15 o,43 115 3,06 29,6 1,55 42,7 2,57 20 80. 80. 8
1,05 0.51 0,73 0,19 0,19 o,42 35,9 1,54 4,95 23 l0
139 3,03 51,6
161 3,00 43,0 1,53 59,0 8,44 23 12
20. 20' 3 1,12 0,60 1 ,41 0,85 0,39 0,28 0,59
181 2,96 48,6 1,54 66,4 13,2 23 14
4 1,45 o,64 0,90 0.48 0,35 0,58

25.25.3 3,5 1,42 1,12 0,73 1,77 1,03 o.79 u,45 0,75 184 3,45 47,8 68,2 23 0"351 t0. 90. I
I 1,85 1,45 0,76 1,08 1,O1 0,58 o,74 218 3,4',1 57,1 1,75 80,9 ?3 ii
5 2,26 1,77 0,80 1,'13 1,1I 0,69 o,77 250 3,39 55,9 1,7 4 92,1 26 t3

30. t0. 3 1,74 't,36 0,84 1,18 1,41 0,65 0,90 280 3,82 'l ,95 23 0,390 100. t00. t0
4 2,27 1,78 0,89 1.24 1,8'l 0,86 0,89 328 3,80 86,7 1,95 10,7 23 72
5 2.75 2,18 0,92 1.30 2.16 1,O4 0,88
372 3,77 98,3 1,94 16,8 76 '14
35.35.{ 2,67 ajo 1,00 2,47 1,42 7,96 1,18 1,05
379 4,73 98,6 2.,16 140 6,93 23 0,430 rr0. tt0. 10
6 3,87 3,04 1,08 1,53 4,14 't,71 1,O4
444 4,21 116 2,15 164 11,9 )3 17
14
10. 40. { 3,08 2,42 1,12 2,83 1,58 4.48 't,56 s05 4,',l8 133 2,14 186 18,7 76
5 3,79 2,97 1,16 1,64 5,43 1,91
a 4,48 3,52 '1,20 't,70 6,33 2,2e 541 4,62 140 2.35 701 10,1 23 0,469 t20. t20' t!
675 4qq 162 232 16,5 26 t3
45.15.5 4,30 3,38 't,28 3,18 1,8',1 7,43 2,43 1,35 705 4,56 186 7,34 264 25,1 26 t5
, 5,86 4,60 1,36 1,97 't0,4 3,31 1,33
750 5,00 194 2,54 278 14,1 23 0,508 t30. t30. 12
1o,50.5 4,80 3,Tt 1,40 3,54 1,98 't1,o
,t2,8
3,05 1,51
857 4,97 223 2,51 11 1 26 l4
6 5,69 4,47 1,45 7,O4 3,6'l 1,50
2,t2 354 31,0 76 !6
, 6,56 5,15 1,49 7,1',| 14,6 4,15 1,49 959 4,94 751
) 8.24 6,47 1,56 2,2',1 17,9 5,20 1,47
10',10 5,38 262 2,74 376 19,4 76 o,547 t&0. tgo. t3
53'tt.6 6,31 4,95 1.56 2,71 17,3 4.& 1,66 1150 5,36 298 2,73 475 79,5
8 8,23 6,46 1,64 2,32 22,1 5.72 '1,64 1 280 5,33 334 2,72 42,6
t0 10,1 7,90 1,72 2.,43 25,3 6,97 1,62
1340 5,77 347 2,94 498 25,9 0,586
40. 60. a 6,91 5,42 1,69 2,39 22,8 5,29 1,82 2,93 558 38,4 t6
1510 5,74 391
t 9,03 7,@ 1.77 2,50 79,1 6,88 1,80
1,78 1670 5,70 438 I q? 617 54,3 t8
t0 1',t,1 8,69 1,85 2,62 34,9 8,4',1

750 6,15 453 3,14 648 34,0 4,625 t60. t60. t5


63.6t'' 8,70 6,83 1,85 2,62 33,4 7,18 1.96 1

, 11,0 8,62 1,93 2,73 4',1,3 9,W 1,94 1950 5,13 506 3,13
211
722 49,1 11
l9
fi 13,2 10,3 2,@ 2,83 48,8 '10,8 1.91 2140 6,10 558 791 68,1

1o.70 -, 9,40 7,38 1,97 2,79 42.4 8,43 2,'t2 2690 6,96 619 3,50 46,5 0,705 180. t80. t6
) 11,9 9,34 2,05 2,90 52,6 '1o,6 2,10 )970 6,93 757 3,49 65.8 18
tl 14,3 11,2 2,11 3,0'1 61,8 12,7 2,C8
3260 6,90 830 3,49 89,8 20

13.,5-' 10,r 7,94 2.@ 2,95 5?.,4 9,67 1,78


3740 7,78 943 3,91 1 400 51 ,9 o.185 200 . 200. 't6
t ll,5 9.03 2,13 3,Ol 58,9 11,0
13,5
2,76
2,25 4150 7,75 1050 3,90 1 550 73,5 t8
t0 14.1 11,1 2.2'l 3,12 7',1,4
4540 7,7? 11 60 3.89 1 690 100 20
l2 15.7 11,1 2,79 3,24 82,4 '15,8 2.72

477
476
bentuk
Bentuk garis sumbu x-x dan Y-Y
rf
e -t if tn -rl1l
wllwrldr
L
a.a.s
1,,
I

a. a. S
lxlWt ix
cm4 cm cm4 I .. mmlmmlmm mm
mm cm cm{ I .-' crh

115 3,06 79,6 1 ,55 47,1 2,51 20 80.80.8


8tt" 80. 0 12,3 9,66 2,26 3,20 72.3 12,6 2.42 139 3,03 35,9 1,54 51 ,6 4,95 23 t0
t0 15,1 11,9 2,34 3,31 87.5 15,5 2,41 3,00 43,0 1,53 59,0 8.44 23 l7
l2 17,9 14,1 2,41 3,41 102 18,2 7,39 181
161
2,96 48,6 1,54 66.4 13,7 13 '14
t4 20,6 '16,1 2,49 3,51 115 20,8 2,36
184 3.45 47,8 1,16 68,2 4.',t1 0,351 90. t0. 9
,0. ,0. , 15,5 12,7 2,54 3,59 116 18,0 2,74 218 3,41 57,1 1,75 80,9 7,47 73 It
il 18.7 14,7 2,62 3,70 138 21.6 7,72 250 3,3e 55,9 1,74 92,1 12.1 )6 i3
t3 71,8 17,1 2,74 3,81 158 25,1 2,69
280 3,82 7?'l 104 6,21 23 0,390 r00.100.t0
t00. 100. l0 '19,2 15,1 2,82 3,99 171 24,7 3,M 328 3,80 86,2 121 10,7 )3 l2
l2 22,7 17,8 2,90 4,10 241 29,2 3,4;i" 3.77 98,3 137 15,8 1q
lt1 26,2 20,6 2,98 4,21 23s 33.s 3,00
379 4,?.3 98,6 7,16 140 6,93 23 0,430 tt0.tt0.t0
)3 17
fio- lr0.l0 21,2 16,6 3,07 4,34
/+,45
239
280
30,1
35,7
3,36
3,34
444 4,71 I tb
'133
11,9
18,1 26 ll.
l7 75,1 '19,7 3,15 505 4,18 2,14 186
l4 29,O 22,8 3,21 4,54 3'19 41,O 3.32
541 4,62 140 2, l5 201 10,1 2l o.469
t20. r20- li 25,4 19,9 3,36 4.75 341 39,5
46,0
3,66
3,64
625 4,59 162 134 232 1 6,5 76
26
l3 29,7 23,3 3,44 4,86 394 70s 4,56 185 2,34 260 25,1
t5 33,9 26,6 3,5'.1 4,96 446 52,5 3,63
750 s,00 194 2,54 278 14,1 23 0,508
3,64 5,15 4"12 50.4 3.97 857 4,97 2,53 317 26
t30. 130. 12 30,0 73,6
lt 34,7 27,2 3,72 5,76 54 58,2 3,94 959 4,94 -154 33,0 26
5,37 605 55,8 3,92
t6 39,3 30,9 3,80
o,541
1 010 5,38 762 316 19,4
4,27 475 )qq t5
t40-l{0.ll 35,0 27,5 3,92. 5,54
5,66
638
723
63,3
72.3 4,75
11 50 5,36
5,33
298
334 2,11 42,6 17
t5 40,0 31,4 4,00 1 280

l, 45,0 3s,3 4,08 5,77 805 91,2 4,23


)ai 498 25,9 0,586 t50.t50.t4
1340 5,77 341
38,4 t6
t50. lso . ll 40,3 31,6 4.21 10,6 5,95 845
949
78,7
88,7
4,58
4,56
1510 5,74 391
438
2,93
2,93
558
612 54,3 t8
t6 45,7 35,9 4,29 6,O7 1670 5,70
t8 q,1 4,36 6,17 1050 99,3 4,54
51,0
1750 6,15 453 3,14 648 34,O t6 I 0,625 t60.160.15
95,5 4,88 3,13 49,1 17
t60. t50. 15 46,1 36,7 4,49 6,35 1100 1950 5,13 506
q,7 6,46 1 230 108 4,86 6.10 558 3,12 791 68,1 t9
l7 s13 4,57 2140
4.84
l, 57,5 45,1 4,65 5,58 1 350 118
2690 6,96 679 3,50 1 000 1+6,5 0,705 t80. t80. t6
680 130 5,51 6,93 3,49 1110 65,8 t8
rto. lEo. 16 55,4 43,5 5,02 12,7 7,11 1 7970
145 5,49 830 3,49 1210 89,8 20
!8 61,9 48,6 5,10 7,22 1870 3260 5,90
68,4 s3,7 5,18 7,33 7040 164 5,4'l
70 0.78 5 200. 200. t6
3740 7,78 943 3,91 1 400 51 ,9
162 6,15 050 3,90 1 550 73,5 IE
7,80 7340 4150 7,75
200. 200 - la 14,1 1
61,8 48,5 5,52 20
7,92 2600 181 6,13 4540 7.72 1 160 3.89 1 690 100
t0 69,1 54,3 5,50
fr 76,4 59,9 5,68 8,04 2850 199 6.1',|

4t9
478
U

1.2.3.4. Tabel momen lembam I dari bagian badan dari profil baja ,t
1.2.3.5. Tabel nilai-nilai pipa air
I
i E c
sc',
i G o
o-
Momen lembam / pada badan dengan tebalnya f tidak ada 1
a
f G
CD
c 'o
dalam tabel berikut dapat kita menggunakan nilai t = 10 mm
!
E
o
o
!
o
o)
T
G
o)
E
=
c J- -o
gE
o
f
o.
'd. o
G
-o
c