Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KEGIATAN MAGANAG MINGGU KE

INSTALASI FARMASI DAN GIZI (BLOK III)

Disusun Oleh:
ANGGIE ANNISA PERMATASARI 20171030044
ARDIANSYAH AHMAD 20171030045
WIDYA UTAMI ANANDA PUTRI 20171030073

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEM RUMAH SAKIT


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

RS PKU Muhammadiyah Bantul berdiri diatas luas lahan sekitar 5.700


2
m . Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul berdiri pada tanggal 1 Maret
1966 didirikan klinik Rumah Bersalin yang saat itu diberi nama rumah
bersalin khusus ibu dan anak. Sejak berdiri tahun 1966 dengan status rumah
bersalin khusus ibu dan anak (RB-KIA) sampai tahun 1995 meningkat
menjadi rumah sakit khusus (RSK) menjadi rumah sakit umum pada tahun
2001. Kepala dinas kesehatan kabupaten Bantul mengijinkan RSKIA Bantul
menjadi RS umum Muhammadiyah Bantul dengan memperhatikan surat ijin
pengembangan RSKIA menjadi RSU nomor 167/III.0.H/2001 tanggal 11
Agustus 2001 dan hasil pemeriksaan tim perijinan pelayanan kesehatan
swasta dinas kesehatan Bantul tanggal 9 Oktober 2001 serta persyaratan untuk
menyelenggarakan Rumah Sakit umum telah dipenuhi. Oleh karena itu
Rumah Sakit Khusus ibu dan anak Muhammadiyah Bantul menjadi Rumah
Sakit Umum PKU Muhammadiyah Bantul.
PKU Muhammadiyah Bantul sebagai salah satu rumah sakit swasta di
kabupaten Bantul memberikan nuansa baru dalam dunia kesehatan. Rumah
Sakit ini merupakan tempat yang strategi bagi masyarakat Bantul untuk
dijangkau. Berkat kerja dalam memberikan layanan kesehatan kepada
masyarakat Bantul, PKU Muhammadiyah mendapatkan ISO 9001:2000
tentang manajemen mutu rumah sakit.
Falsafah dari RS PKU Muhammadiyah Bantul merupakan perwujudan
dari ilmu, iman dan amal sholeh. RS PKU Muhammadiyah Bantul
mempunyai visi yaitu terwujudnya rumah sakit yang islami yang mempunyai
keunggulan kompetatif global dan menjadi kebangaan umat. Misi dari RS
PKU Muhammadiyah Bantul adalah berdakwah melalui pelayanan kesehatan
yang berkualitas dengan mengutamakan peningkatan kepuasan pelanggan
serta peduli pada kaum dhuafa.
RS PKU Muhammadiyah Bantul memiliki SOP terkait pencegahan ILO
sehingga untuk upaya pencegahan ILO sering diterapkan misalnya 7 langkah
cuci tanggan yang baik dan benar, sterilisasi alat dan lingkungan, kamar
operasi, perawatan luka post operasi sesuai SOP, selain itu juga keluarga
sering diberikan pendidikan kesehatan terkait pencegahan infeksi luka. Setiap
3 bulan atau 1 bulan sekali sering dilakukan pelatihan terkait pencegahan
infeksi luka operasi namun untuk pendataan kejadian angka infeksi luka
operasi terbaru belum ada dibagian keperawatan.
Rumah sakit PKU Muhammadiyah Bantul mempunyai sembilan bangsal
perawatan dengan jumlah tempat tidur 151, terdiri dari Al-Fath (VIP) dengan
5 tempat tidur dan Al- Kahfi dengan 13 tempat tidur serta jumlah perawat
sebanyak 18 orang, An-Nissa (Ruang nifas) dengan 13 tempat tidur dan
jumlah perawatan sebanyak 4 orang dan bidan 8 orang, Al- Ikhlas (Anak)
dengan 21 tempat tidur dan jumlah perawat sebanyak 17 orang, Al-Araf
(Penyakit dalam, umum dan VIP) dengan 31 tempat tidur dan jumlah perawat
sebanyak 27 orang, Al-Insan (Bedah khusus kelas 3) dengan 15 tempat tidur
dan jumlah perawat sebanyak 15 orang, Al-Kautsar (Umum kelas 1 dan 2)
dengan 20 tempat tidur dan sebanyak 15 orang dan An-Nur (Kamar Bayi)
dengan 10 tempat tidur dan jumlah perawat sebanyak 9 orang. Ruang bersalin
dengan 6 tempat tidur dan jumlah bidan sebanyak 10 orang.

B. Tujuan Kegiatan
1. Untuk mengetahui struktur organisasi instalasi farmasi dan gizi.
2. Untuk mengetahui gambaran alur kerja di instalasi farmasi dan gizi.
3. Untuk mengetahui SDM di unit instalasi farmasi dan gizi.
4. Untuk melihat fasilitas yang mendukung kinerja di instalasi farmasi dan
gizi.
5. Untuk mengetahui manajemen mutu dan akreditasi : Dokumen mutu dan
indikator mutu di instalasi farmasi dan gizi.
6. Untuk memahami dan mengetahui permasalahan-permasalahan di instalasi
farmasi dan gizi.
7. Untuk mengetahui mekanisme koordinasi di instalasi farmasi dan gizi.
8. Untuk mengetahui program kerja masing-masing instalasi farmasi dan
gizi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. FARMASI
1. PENGERTIAN INSTALASI
Instalasi adalah fasilitas penyelenggara pelayanan medik, pelayanan
penunjang medik, kegiatan penelitian, pengembangan, pendidikan, pelatihan
dan pemeliharaaan sarana rumah sakit (Depkes RI, 1992. Farmasi adalah
suatu profesi kesehatan yang berhubungan dengan pembuatan dan distribusi
dari produk yang berkhasiat obat. Farmasi juga meliputi profesi yang sah dan
fungsi ekonomi dari distribusi produk yang berkhasiat obat yang baik dan
aman (Aditama YT, 2000. Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek
kefarmasian yang dilakukan di rumah sakit (Siregar & Amalia, 2003.
Jadi, Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu
bagian/unit/divisi tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan
kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar
& Amalia, 2003. Secara umm Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) dapat
diartikan sebagai suatu departemen atau unit di rumah sakit di bawah
pimpinan seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang apoteker yang
memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
kompeten secara profesional, tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang
bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian yang
mencakup perencanaan, pengadaan, produksi, penyimpanan, dispensing obat
berdasarkan resep, pengendalian mutu, dan pengendalian distribusi dan
penggunaan seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit (Siregar & Amalia,
2003.
Kepustakaan lain mengartikan Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS)
sebagai suatu unit di rumah sakit yang merupakan fasilitas penyelenggaraan
kefarmasian di bawah pimpinan seorang farmasis dan memenuhi persyaratan
secara hukum untuk mengadakan, menyediakan, dan mengelola seluruh
aspek penyediaan perbekalan kesehatan di rumah sakit yang berintikan
pelayanan produk yang lengkap dan pelayanan farmasi klinik yang sifat
pelayanannya berorientasi kepada kepentingan penderita (http:// farmasi-
istn.blogspot.com 2008/01/instalasi-farmasi-rumah-sakit.html, 2009.
Pelayanan farmasi rumah sakit merupakan salah satu kegiatan di rumah
sakit yang menunjang pelayanan kesehatan yang bermutu. Hal tersebut
diperjelas dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit, yang
menyebutkan bahwa pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak
terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi
kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk
pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

2. TUJUAN INSTALASI FARMASI


Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1197/Menkes/SK/X/2004, tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit, adalah
sebagai berikut :
a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan
biasa maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan
pasien maupun fasilitas yang tersedia.
b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur
kefarmasian dan etik profesi.
c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat.
d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan
evaluasi pelayanan.
f. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan
evaluasi pelayanan
g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda.

Sedangkan tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit menurut The


American Society of Hospital Pharmacist (1994), adalah sebagai berikut :
a. Turut berpartisipasi aktif dalam penyembuhan penderita dan memupuk
tanggung jawab dalam profesi dengan landasan filosofi dan etika.
b. Mengembangkan ilmu dan profesi dengan konsultasi pendidikan dan
penelitian.
c. Mengembangkan kemampuan administrasi dan manajemen, penyediaan
obat dan alat kesehatan di rumah sakit.
d. Meningkatkan keterampilan tenaga farmasi yang bekerja di instalasi
farmasi rumah sakit.
e. Memperhatikan kesejahteraan staf dan pegawai yang bekerja di
lingkungan instalasi farmasi rumah sakit.
f. Mengembangkanpengetahuan tentang farmasi rumah sakit untuk
meningkatkan mutu pelayanan.
3. TUGAS DAN FUNGSI INSTALASI FARMASI
Tugas pokok dan fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit Menurut
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/Menkes/SK/X/2004, adalah
sebagai berikut: Tugas Pokok Instalasi Farmasi Rumah Sakit, antara lain.
a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal.
b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan farmasi profesional berdasarkan
prosedur kefarmasian dan etik profesi.
c. Melaksanakan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
d. Memberi pelayanan bermutu melaluianalisa, dan
evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan farmasi.
e. Melakukan pengawasan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
f. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang farmasi.
g. Mengadakan penelitian dan pengembangan di bidang farmasi.
h. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar
pengobatan dan formularium rumah sakit.

Fungsi Instalasi Farmasi Rumah Sakit, antara lain :


a. Pengelolaan perbekalan farmasi yang meliputi:
1) Memilih perbekalan farmasi sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit.
2) Merencanakan kebutuhan perbekalan farmasi secara optimal.
3) Mengadakan perbekalan farmasi berpedoman pada perencanaan yang
telah dibuat sesuai ketentuan yang berlaku.
4) Memproduksi perbekalan farmasiuntuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
5) Menerima perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi dan
ketentuan yang berlaku.
6) Menyimpan perbekalan farmasi sesuai dengan spesifikasi
dan persyaratan kefarmasian.
7) Mendistribusikan perbekalan farmasi ke unit-unit pelayanan di rumah
sakit.
b. Pelayanan kefarmasian dalam penggunaan obat dan alat kesehatan yang
meliputi:
1) Mengkaji instruksi pengobatan/resep pasien
2) Mengidentifikasi masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat
dan alat kesehatan.
3) Mencegah dan mengatasi masalah yang berkaitan dengan obat dan
alat kesehatan
4) Memantau efektifitas dan keamanan penggunaan obat dan
alat kesehatan.
5) Memberikan informasi kepada petugas kesehatan, pasien/keluarga.
6) Memberi konseling kepada pasien/keluarga.
7) Melakukan pencampuran obat suntik.
8) Melakukan penyiapan nutrisi parenteral.
9) Melakukan penanganan obat kanker.
10) Melakukan penentuan kadar obat dalam darah.
11) Melakukan pencatatan setiap kegiatan.
12) Melaporkan setiap kegiatan.

Secara khusus pelayanan farmasi meliputi (Rakhmisari D, 2006):


a. Sistem pengadaaan dan inventaris.
b. Pembuatan obat termasuk pembungkusan kembali sesuai kebutuhan dan
Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
c. Bantuan penyelenggaraan sistem distribusi yang efesien, baik bagi pasien
rawat inap maupun rawat jalan.
d. Pelayanan keprofesian meliputi pencampuran, penyampaian obat dalam
hal dosis, indikasi, efek samping, perhitungan kadar dan harga.
e. Pelayanan bahan dan alat steril untuk keperluan pembedahan, kegiatan
medis dan perawatan tertentu di ruangan dan di dalam rumah sakit.
f. Pemberian informasi yang baik kepada staf dan pasien.
4. MANAJEMEN INSTALASI FARMASI
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, maka perlu
dilaksanakan fungsi manajemen farmasi yang tentu tidak terlepas dari konsep
umum manajemen logistik, di mana unsurnya meliputi: perencanaan,
penganggaran, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
penghapusan, dan pengendalian (Rakhmisari D, 2006). Di bawah ini
penjelasan dari masing-masing manajemen farmasi, yaitu sebagai berikut :
a. Perencanaan
Perencanaan barang farmasi merupakan suatu proses kegiatan
seleksi perbekalan farmasi dan penentuan jumlah barang farmasi dalam
rangka pengadaan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mendapat
jenis dan jumlah barang farmasi sesuai dengan kebutuhan dan
menghindari terjadinya kekosongan barang farmasi.
b. Penganggaran
Penganggaran merupakan realisasi pendanaan dari kegiatan
operasioanal yang telah disesuaikan dengan usulan dari perencana/user
dengan memperhitungkan efektivitas dan efisiensi. Fungsinya untuk
menghitung kebutuhan dengan harga satuan yaitu skala mata uang, dapat
berdasarkan harga pembelian waktu yang lalu atau menurut informasi
harga terbaru.
c. Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan
yang telah ditetapkan atau disetujui dalam fungsi sebelumnya yaitu
perencanaan dan penganggaran. Pengadaan barang farmasi bersifat
tekhnis menyangkut pihak luar dan dalam penyelenggaraannya terkait
dengan berbagai kebijaksanaan pemerintah seperti Keppres No.16 Tahun
1994 tentang pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara
khususnya Pasal 21 mengenai pengadaan barang dan jasa.
d. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan yang sangat penting dimana
seluruh jenis, jumlah, kualitas dan spesifikasi serta persyaratan lainnya
dari suatu barang farmasi yang diterima harus sama dengan yang
tercantum dalam surat perjanjian/kontrak. Kegiatan ini merupakan suatu
proses penyaringan barang farmasi yang tidak sesuai dengan kontrak
yang telah ditetapkan seperti kuantitas, kualitas, spesifikasi, kemasan dan
segel/merk.
e. Penyimpanan
Penyimpanan merupakan suatu kegiatan dan usaha untuk
melakukan pengurusan penyelenggaraan dan pengaturan barang
persediaan di dalam ruang penyimpanan. Pengelolaan penyimpanan yang
tidak baik dapat berdampak kepada meningkatnya anggaran rumah sakit
dan biaya yang ditanggung oleh pengguna layanan farmasi, seperti
bertambah panjangnya lama hari rawat serta timbulnya efek samping dan
toksisitas bahkan kematian akibat pemakaian dari suatu obat/barang
farmasi.
f. Pendistribusian
Pendistribusian merupakan kegiatan pengurusan,
penyelenggaraan, dan pengaturan pemindahan barang farmasi dari
tempat penyimpanan ke tempat pemakai/user sehingga menjamin
kelancaran pelayanan farmasi yang bermutu dan pada akhirnya dapat
menentukan keberhasilan dari terapi yang diberikan. Prinsip dari
pendistribusian barang farmasi adalah barang farmasi yang diperlukan
harus selalu tersedia pada saat diperlukan.
g. Penghapusan
Penghapusan merupakan proses menghapus tanggung jawab
Bendahara Barang atau pengelola barang atas bahan atau barang tertentu
sekaligus mengeluarkan dari catatan/pembukuan sesuai dengan peraturan
yang berlaku. Penghapusan dapat dilakukan dengan pemusnahan yaitu
dibuang, dibakar atau dipendam/ditanam; dijual/dilelang. Dalam rumah
sakit pemerintah hasil penjualan dan pelelangan harus disetor ke kas
negara.
h. Pengendalian
Pengendalian merupakan upaya sistematis dalam proses
memastikan kegiatan yang telah dilakukan sesuai dengan kegiatan yang
direncanakan. Tujuan pengendalian barang farmasi adalah untuk
menyimpan sedikit mungkin persediaan/barang farmasi di dalam rumah
sakit, dengan tetap menjaga agar tidak kekurangan untuk barang-barnag
farmasi yang penting serta menciptakan keseimbangan antara persediaan
dengan permintaan.
Aktivitas utama layanan resep farmasi rawat jalan adalah penerimaan
resep, pengelolaan resep serta peracikan. Di mana ketiga aktivitas tersebut
akan mengkonsumsi waktu yang berbeda berdasarkan jenis resep dan jumlah
item pada setiap lembar resep. Sebagai contoh pada jenis resep racikan akan
mengkonsumsi waktu yang lebih lama dibandingkan dengan obat jadi.
Demikian juga jumlah item pada setiap resep akan mempengaruhi waktu
layanan resep tersebut (Wijono D, 1999). Jadi komponen aktivitas di dalam
satu siklus layanan resep yang dilakukan secara tidak efektif akan
menentukan waktu tunggu yang harus ditanggung oleh konsumen
(Donabedian A, 1980).
Prinsip mendasar manajemen obat adalah optimasi dana dalam rangka
pengadaan obat keperluan lain rumah sakit. Optimasi seperti ini berarti
(Silalahi B, 1989) :
a. Meningkatkan efesiensi suplai dan manajemen obat serta keperluan
lainnya.
b. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional.

5. ARUS BARANG INTALASI FARMASI


Setiap terjadi penjualan berarti terjadi pengeluaran barang dari apotek
dan barang yang keluar tersebut harus diisi kembali hingga jumlah barang itu
tetap. Tetapi hal ini tidak mungkin mengadakan keseimbangan setiap hari
untuk setiap produk karena frekuensi pembelian menjadi sangat tinggi dan
berakibat volume pekerjaan menjadi besar (Anief M, 1995).
Oleh karena itu harus dicari waktu yang tepat kapan saat pembelian
produk yang wajar dilakukan hingga ada keseimbangan antara beban
pekerjaan dan kemampuan memenuhi permintaan dalam penjualan (Anief M,
1995).
Arus keluar masuknya barang akan melalui jalur seperti (Anief M, 1995):
a. Dari PBF masuk gudang
b. Dari gudang masuk ruang racikan
c. Dari ruang racikan ke tangan pasien
Dari arus barang terdapat tiga jenis kegiatan yang terlibat (Anief M, 1995):
a. Pengadaan barang (pembelian)
b. Pergudangan (penyimpanan)
c. Penyerahan barang (penjualan)

Di bawah ini gambar arus barang di Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) :
6. Struktur organisasi farmasi

Struktur organisasi IFRS dapat didesain dalam berbagai tahap berikut


(Siregar & Amalia, 2003) :
a. Tetapkan struktur dasar dari organisasi atau segmentasi utama IFRS yaitu
pengadaan, pelayanan, dan pengembangan.
b. Identifikasi semua unsur operasi (kegiatan yang dapat diidentifikasi yang
perlu dilakukan)
c. Tetapkan tanggung jawab untuk melakukan unsur operasi itu kepada
segmentasi utama dari struktur organisasi dasar IFRS, yaitu segmen
pengadaan, segmen pelayanan, dan segmen pengembangan.
d. Kumpulkan pekerjaan itu (dalam segmen utama) dibagi-bagi lagi menjadi
paket pekerjaan yang logis yang disebut tugas.
e. Tetapkan tanggung jawab dan wewenang berkaitan dengan tiap tugas.
f. Tetapkan hubungan tiap tugas dengan tugas lain. Hal ini mencakup
hubungan hierarki (garis komando) dan pola komunikasi dan koordinasi
yang dengan melalui itu dilaksanakan semua kegiatan antar unit/bagian
dalam IFRS.
g. Padukan pekerjaan bagian/unit internal IFRS dan bagian/unit eksternal
IFRS (bagian/unit rumah sakit) sehingga tujuan mutu dapat dicapai dalam
cara yang optimal.

Berikut ini contoh struktur organisasi Instalasi Farmasi Rumah Sakit


(IFRS):

Kepala IFRS

Ka. Sie Bagian Bagian Ka. Sie Kasir


Tata Usaha Pembelian Gudang Peracikan Besar

- Asisten Apoteker
- Bagian umum/personalia
- Penjualan obat bebas
- ATK
- Kasir kecil
- Administrasi hutang
- Juru Resep
- Administrasi piutang

B. INSTALASI GIZI
1. DEFINISI INSTALASI GIZI
Berdasarkan SK. Men. Kes No. 134 / Men. Kes / IV / 1978 dan SK.
Men. Kes No. 983 / 1992 menyebutkan bahwa Instalasi Gizi merupakan
wadah yang melaksanakan pelayanan gizi di rumah sakit. Sebagai salah satu
sarana penunjang di rumah sakit, Instalasi Gizi berfungsi sebagai : pengadaan
dan penyediaan makanan, pelayanan gizi ruang rawat inap, penyuluhan dan
konsultasi gizi, penelitian dan pengembangan gizi terapan.
Pelayanan gizi rumah sakit merupakan upaya integrasi dan pelayanan
kesehatan paripurna di rumah sakit yang terkait dengan keenam fungsi rumah
sakit yaitu promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, pendidikan dan penelitian.
Upaya pelayanan gizi rumah sakit bertujuan agar tercapai kesembuhan pasien
dalam waktu singkat. Pelayanan gizi yang diberikan kepada pasien rawat inap
bertujuan agar pasien memperoleh makanan yang sesuai guna mencapai status
gizi yang optimal, oleh karena itu makanan yang disediakan harus
diperhitungkan jumlah dan mutu gizinya sehingga dapat dihabiskan pasien
dan berjalan sesuai dengan program yang ditetapkan.
Penyelenggaraan makanan di rumah sakit tidak jauh beda dengan
pelayanan makanan di institusi pada umumnya, dimana setiap kegiatan
merupakan suatu system yang saling berkaitan satu sama lainnya dan saling
mempengaruhi untuk mencapai tujuan yang sama. Kegiatan system
penyelenggaraan makanan meliputi perencanaan menu, produksi, distribusi,
sarana, tenaga, dana dan pengendalian mutu makanan. Keterpaduan dari
kegiatan tersebut akan mempengaruhi mutu makanan yang dihasilkan.
Di Indonesia hingga saat ini upaya peningkatan mutu makanan di rumah
sakit terkesan belum dilakukan secara terpadu. Komponen penyelenggaraan
makanan yang kurang terkoordinasi jelas berpengaruh kurang baik terhadap
mutu produk makanan dan terhadap persepsi konsumen atas makanan yang
disajikan.
Tujuan khusus pelayanan gizi menurut PGRS (2003) adalah :
a. Penegakkan diagnosis gangguan gizi dan metabolisme zat gizi
berdasarkan anamnesis, antropometri, gejala klinis dan biokimia tubuh.
b. Penyelenggaraan pengkajian dietetic dan pola makan berdasarkan
anamnesis diet dan pola makan.
c. Penentuan kebutuhan gizi sesuai keadaan paisen.
d. Penentuan bentuk pembelian bahan makanan, pemilihan bahan makanan,
jumlah pemberian serta cara pengolahan bahan makanan.
e. Penyelenggaraan evaluasi terhadap preskripsi diet yang diberikan sesuai
perubahan klinis, status gizi dan laboratorium.
f. Penterjemahan preskripsi diet, penyediaan dan pengolahan sesuai dengan
kebutuhan dan keadaan pasien
g. Penyelenggaraan penelitian aplikasi dibidang gizi dan dietetik.
h. Penciptaan standar diet khusus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi yang dapat membantu penyembuhan penyakit.
i. Penyelenggaraan penyuluhan dan konseling tentang pentingnya diet pada
pasien dan keluarganya.
2. DIET GIZI
Diet mempunyai dua makna yaitu : satu sebagai makanan dan kedua
pengaturan jumlah dan jenis makanan yang dimakan setiap hari agar kita tetap
sehat. Diet yang dilakukan di Rumah Sakit tujuannya adalah untuk
meningkatkan status nutrisi dan membantu kesembuhan pasien . Maka istilah
yang lazim digunakan adalah diet rumah sakit.
Dalam pelaksanaan asuhan nutrisi di ruang rawat inap, diperlukan
kerjasama yang erat dan terpadu, saling mengerti dan menghormati, diantara
berbagai unsur yang terkait dengan pelaksanaan asuhan nutrisi yaitu dokter,
perawat, ahli gizi dan farmasi.
Tujuan pemberian diet adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan
daya tahan tubuh dalam menghadapi penyakit / cedera khususnya infeksi dan
membantu kesembuhan pasien dari penyakit dengan memperbaiki jaringan
yang aus atau rusak serta memulihkan keadaan homeostasis yaitu keadaan
seimbang dalam lingkungan internal tubuh yang normal / sehat.
Tujuan pemberian diet di rumah sakit harus memperhatikan :
a. Makanan dengan kandungan nutrisi yang baik dan seimbang, menurut
keadaan penyakit dan status gizi masing-masing pasien.
b. Makanan dengan tekstur dan konsistensi yang sesuai menurut kondisi
gastro intestinal dan penyakit masing-masing pasien.
c. Makanan yang mudah dicerna dan tidak merangsang, seperti misalnya
tidak mengandung bahan yang bisa menimbulkan gas, tidak mengandung
bahan yang lengket, tidak terlalu pedas, asin, berminyak serta tidak
terlalu panas atau dingin.
d. Makanan yang bebas unsur aditif berbahaya misalnya pengawet dan
pewarna. Makanan alami jauh lebih baik dari pada makanan yang
diawetkan atau dikalengkan.
Makanan dengan cita rasa yang menarik untuk menggugah selera makan
pasien yang umumnya terganggu oleh penyakit dan kondisi indera pengecap
atau pembau.
3. SISI MAKAN
Keberhasilan suatu pelayanan gizi di ruang rawat inap dievaluasi dengan
pengamatan sisa makanan yang tidak dikonsumsi setalah makanan disajikan.
Sisa makanan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal antara lain faktor
psikologis yang disebabkan karena menurunnya aktivitas fisik selama dirawat,
rasa tidak senang, rasa takut karena sakit, ketidak bebasan bergerak karena
adanya penyakit menimbulkan rasa putus asa. Manifestasi rasa putus asa itu
sering berupa hilangnya nafsu makan dan rasa mual, faktor ini membuat
pasien terkadang tidak menghabiskan porsi makanan yang telah disajikan.
Perubahan yang terjadi pada pasien dalam hal makanan bukan saja macam
makanan yang disajikan berbeda dengan makanan biasa dimakan di rumah,
akan tetapi juga cara makanan itu dihidangkan, tempat makan, waktu makan,
lingkungan makan dan sebagainya. Semua keadaan ini sering menjadikan
beban mental bagi orang sakit yang apabila tidak diperhatikan justru
merupakan penghambat dalam proses penyembuhan penyakit. Faktor
psikologis, sosial, budaya, keadaan jasmani dan keadaan gizi penderita adalah
beberapa faktor yang perlu mendapat perhatian dalam penyelenggaraan
pengaturan makanan bagi pasien di Rumah Sakit.
Analisa sisa makanan merupakan salah satu cara untuk melakukan
evaluasi pelayanan gizi yang diberikan, terutama pelayanan makan.
Penyelenggaraan makan di Rumah Sakit lebih banyak dihadapkan pada
beberapa masalah yang tidak ditemui pada penyelenggaraan makanan di
instansi lain. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya sisa makanan
bisa berasal dari dalam diri pasien itu sendiri dan faktor yang berasal dari luar
yaitu makanan yang disajikan.
Sisa makanan adalah jumlah makanan yang tidak habis dikonsumsi
setelah makanan disajikan. Sisa makanan dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Waste yaitu makanan yang hilang karena tidak dapat diperoleh / diolah
atau makanan hilang karena tercecer.
b. Platewaste yaitu makanan yang terbuang karena setelah dihidangkan
tidak habis dikonsumsi.
Cara penentuan sisa makan dapat diukur dengan menggunakan beberapa
cara yaitu :
a. Weighed Plate Waste
Metode ini digunakan untuk mengukur / menimbang sisa makanan
setiap jenis hidangan atau untuk mengukur total sisa makanan pada
individual atau kelompok. Kelebihan dari metode ini adalah dapat
memberikan informasi yang lebih akurat / teliti. Sedangkan kelemahannya
adalah karena menggunakan cara penimbangan maka memerlukan waktu,
cukup mahal karena perlu peralatandan tenaga pengumpul data harus
terlatih dan terampil.
b. Observasional Method
Pada metode ini sisa makan diukur dengan cara menaksir secara visual
banyaknya sisa makanan untuk setiap jenis hidangan. Hasil taksiran bisa
dalam bentuk berat makanan yang dinyatakan dalam gram atau dalam
bentuk skor bila menggunakan skala pengukuran.
c. Self Reported Consumption
Pengukuran sisa makanan individu dengan cara menanyakan kepada
responden tentang banyaknya sisa makanan. Pada metode ini responden
yang menaksir sisa makan menggunakan skala taksiran visual.
Bagi pasien yang mempunyai kebiasaan makan bersama dengan
anggota keluarganya, harus makan sendiri sambil berbaring atau duduk
ditempat tidur, dapat membuat pasien tersebut sangat merasakan bahwa ia
benar-benar sakit. Hal demikian itu perlu diperhatikan dan diatasi baik
dengan jalan mengijinkan anggota keluarganya hadir di samping tempat
tidurnya pada waktu makan, atau mengusahakan orang sakit yang dirawat
dalam satu ruangan dapat makan bersama pada waktunya. Apabila cara
tersebut dilakukan maka dapat mengurangi sisa makan yang terbuang dan
merupakan salah satu untuk memperpendek hari perawatan pasien karena
penderita cepat sembuh.
4. WAKTU MAKAN
Manusia secara alamiah akan merasa lapar setelah 3 4 jam makan,
sehingga setelah waktu tersebut sudah harus mendapatkan makanan, baik
dalam bentuk makanan ringan atau berat.
Jarak waktu antara makan malam dan bangun pagi sekitar 8 jam. Selama
waktu tidur metabolisme di dalam tubuh tetap berlangsung, akibatnya pada
pagi hari perut sudah kosong sehingga kebutuhan energi diambil dari
cadangan lemak tubuh. Keterlambatan pemasukan zat gula ke dalam darah
dapat menimbulkan penurunan konsentrasi dan rasa malas, lemas dan
berkeringat dingin.
Pasien rawat inap selain mengkonsumsi makanan dari rumah sakit juga
mengkonsumsi makanan dari luar rumah sakit, hal ini yang menimbulkan
terjadinya banyak sisa makanan pada pasien rawat inap. Apabila hal ini tidak
mendapat perhatian yang serius maka berdampak pada banyak terjadinya sisa
makanan. Waktu makan adalah berapa kali orang lazim makan dalam sehari.
Setiap bangsa mempunyai waktu makan yang berlainan, misalnya waktu
makan orang Amerika dan Eropa berlainan dengan waktu makan orang
Timur. Makanan di rumah sakit harus tepat waktu, tepat diet dan tepat jumlah
khususnya untuk penderita Diabetes Mellitus. Waktu yang paling rawan dan
harus dimonitor ketepatannya adalah waktu makan pagi, hal ini disebabkan
karena waktu makan malam dan makan pagi jarak waktunya terlalu panjang.
5. PENAMPILAN MAKANAN
Penyajian makanan merupakan faktor terakhir dari proses
penyelenggaraan menu makanan. Meskipun makanan diolah dengan cita rasa
yang tinggi tetapi bila dalam penyajiannya tidak dilakukan dengan baik, maka
nilai makanan tersebut tidak akan berarti, karena makanan yang ditampilkan
waktu disajikan akan merangsang indera penglihatan sehingga menimbulkan
selera yang berkaitan dengan cita rasa.
Masalah penyajian makanan kepada orang sakit lebih komplek dari pada
makanan untuk orang sehat. Hal ini disebabkan oleh nafsu makan, kondisi
mental pasien yang berubah akibat penyakit yang diderita, aktifitas fisik yang
menurun dan reaksi obat-obatan disamping sebagian pasien harus menjalani
diet.
Hasil survei menyebutkan bahwa faktor utama kepuasan pasien terletak
pada pramusaji. Di mana pramusaji diharapkan dapat berkomunikasi, baik
dalam bersikap, baik dalam berekspresi, wajah dan senyum akan
mempengaruhi pasien untuk menikmati makanan dan akhirnya dapat
menimbulkan rasa puas. Sebaliknya perhatian pramusaji dapat tidak
memuaskan pasien ketika pramusaji kurang perhatian dalam memberikan
pelayanan dan kurang memperlakukan pasien sebagaimana manusia yang
ingin selalu diperhatikan dan dipenuhi kebutuhannya. Pramusaji sebagai
pegawai sebaiknya menghindari pemaksaan pelayanan makanan kepada
pasien akan tetapi harus berusaha untuk meningkatkan kesadaraan pasien
terhadap hidangan makanan.
Dalam penyajian makanan perlu di perhatikan beberapa hal pokok yaitu
pemilihan alat yang tepat untuk menyajikan makanan seperti piring, mangkok
dan lain-lain, susunan makanan dalam alat penyajian makanan. Untuk
menampilkan makanan lebih menarik, susunan makanan perlu mendapat
perhatian, karena makanan yang disusun pada alat penyaji yang tepat akan
memberikan kesan menarik. Menurut Sediaoetama cara penyajian dan
peralatan yang digunakan dalam menghidangkan makanan ikut berpengaruh
pada penerimaan makanan tersebut, sehingga pada waktu menghidangkan
perlu memperhatikan peralatan yang digunakan harus sesuai dengan tingkat
sosial calon konsumen dan tingkat kualitas peralatan harus sesuai dengan
tingkat kualitas makanan yang disajikan.
Dalam menyajikan makanan rumah sakit paling tidak terdapat alat makan
yang sesuai dengan dietnya misalnya untuk makanan biasa ada tempat nasi,
tempat lauk, tempat sayur dan tempat buah serta sendok dan garpu. Tidak
kalah pentingnya yaitu adanya tutup makan, mengingat tidak semua pasien
langsung menyantap sajian makanan karena keadaannya.
Di rumah sakit perlu adanya penyelenggaraan gizi kuliner yang
merupakan perpaduan antara ilmu dengan seni, yaitu ilmu gizi, ilmu bahan
makanan dan pengetahuan tentang alat-alat penyelenggaraan makanan serta
seni mengolah bahan makanan yang dimulai dari memilih bahan makanan,
mempersiapkan bahan makanan, memasak bahan makanan serta menyajikan
makanan atau hidangan sehingga menarik, menggugah selera dan lezat
rasanya.
Adapun penampilan makanan meliputi :
a. Warna Makanan
Warna makanan memegang peranan utama dalam penampilan
makanan. Warna daging yang sudah berubah menjadi coklat kehitaman,
warna sayuran yang sudah berubah menjadi pucat sewaktu disajikan, akan
menjadi sangat tidak menarik dan menghilangkan selera untuk
memakannya. Dalam suatu menu yang baik haruslah terdapat kombinasi
warna lebih dari dua macam untuk membuat penampilan makanan
menjadi lebih menarik.
b. Bentuk Makanan
Untuk membuat makanan lebih menarik biasanya disajikan dalam
bentuk- bentuk tertentu. Bentuk makanan waktu disajikan dapat dibedakan
menjadi beberapa macam sebagai berikut :
1) Bentuk yang sesuai dengan bentuk asli bahan makanan.
2) Bentuk yang menyerupai bentuk asli, tetapi bukan merupakan bahan
maknan yang utuh.
3) Bentuk yang diperoleh dengan cara memotong bahan makanan dengan
teknik tertentu atau mengiris bahan makanan dengan cara tertentu.
4) Bentuk sajian khusus seperti bentuk nasi tumpeng atau lainnya yang
khas.
6. BESAR PORSI MAKANAN
Porsi makanan adalah banyaknya makanan yang disajikan dan
kebutuhan setiap individu berbeda sesuai dengan kebiasaan makannya. Di
negara maju porsi makanan sudah dibakukan, bahkan bahan makanan yang
dijual di pasar swalayan sudah dalam ukuran atau berat tertentu. Keadaan
demikian tentu sangat memudahkan, sedangkan di Indonesia porsi baku
makanan belum ada tetapi porsi makanan di rumah sakit disesuaikan dengan
kebutuhan makan pasien.
7. CARA PENYAJIAN MAKANAN
Penyajian makanan memberikan arti khusus bagi penampilan makanan.
Penyajian dirancang untuk menyediakan makanan yang berkualitas tinggi dan
dapat memuaskan konsumen, aman serta harganya layak. Penggunaan dan
pemilihan alat makan yang tepat dalam penyusunan makanan akan
mempengaruhi penampilan makanan yang disajikan dan terbatasnya
perlengkapan alat merupakan faktor penghambat bagi pasien untuk
menghabiskan makanannya.
8. RASA MAKANAN
Penilaian terhadap bahan makanan berbeda-beda, tergantung dari
kesenangan atau selera seseorang. Penilaian orang akan berbeda karena
pengalamam berbeda, misalnya rasa enak pada jenis makanan yang sama akan
berbeda pada setiap orang.
Rasa makanan ditimbulkan oleh terjadinya rangsangan terhadap berbagai
indera dalam tubuh manusia, terutama indera penglihatan, indera penciuman
dan indera pengecap. Makanan yang memiliki rasa yang tinggi adalah
makanan yang menarik, menyebarkan bau yang sedap dan memberikan rasa
yang lezat.
Dua aspek utama dalam makanan adalah penampilan makanan sewaktu
dihidangkan dan rasa makanan pada saat dimakan. Kedua aspek tersebut sama
pentingnya untuk diperhatikan agar betul-betul dapat menghasilkan makanan
yang memuaskan.
Disamping penampilan makanan maka rasa makanan juga
mempengaruhi banyaknya sisa makanan pada pasien rawat inap. Adapun yang
mempengaruhi rasa makanan adalah :
a. Suhu Makanan
Suhu dapat mempengaruhi indera pengecap (lidah) untuk menangkap
rangsangan rasa. Perbedaan suhu akan menyebabkan perbedaan rasa yang
timbul. Makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin akan sangat
mengurangi sensitivitas syaraf pengecap terhadap rasa. Suhu makanan
juga mempengaruhi daya terima seseorang terhadap makanan yang
disajikan sesuai dengan cuaca / lingkungan.
b. Bumbu Masak dan Bahan Penyedap
Bumbu adalah bahan yang ditambahkan pada makanan dengan
maksud untuk mendapatkan rasa makanan yang enak dan rasa yang tepat
setiap kali pemasakan. Dalam setiap resep masakan sudah ditentukan jenis
bumbu yang digunakan dan banyaknya masing-masing jenis bumbu itu.
Disamping bumbu yang sedap, berbagai bumbu yang digunakan dapat
pula membangkitkan selera karena memberikan rasa makanan yang khas.
Rasa yang diberikan oleh setiap bumbu akan berinteraksi dengan
komponen rasa primer yang digunakan dalam masakan sehingga
menghasilkan rasa baru yang lebih nikmat. Rasa makanan dapat diperbaiki
atau dipertinggi dengan menambahkan bahan penyedap ( Flavauring).
c. Tekstur Makanan
Tekstur adalah hal yang berkaitan dengan struktur makanan yang
dirasakan di mulut. Tekstur meliputi rasa garing, keempukan dan
kekerasan makanan yang dirasakan oleh indera pengecap. Tekstur dapat
mempengaruhi rasa yang ditimbulkan oleh makanan.
1) Bau / Aroma Makanan
Aroma yang disebarkan oleh makanan merupakan daya tarik
yang sangat kuat dan mampu merangsang indera pencium sehingga
membangkitkan selera. Bau makanan juga dapat menentukan
kelezatan makanan tersebut
BAB III
METODE KEGIATAN MAGANG

A. Waktu
Kegiatan magang blok IV dimulai pada minggu keenam tanggal 13-16
November 2017 yang membahas tentang instalasi farmasi dan gizi.
B. Tempat
.
C. Penjadwalan
Kegiatan untuk blok III dilakukan selama 1 minggu dengan penjabaran :
1. Hari pertama melakukan observasi diruang rawat inap dan bidang
keperawatan
2. Hari ke 2-3 melakukan survey wawancara masalah kepada kepala unit
instalasi rawat inap dan manajer keperawatan. Dilanjutkan dengan
observasi disetiap bangsal.
3. Hari 4 melakukan penyusunan dan pengumpulan laporan kegiatan magang
di unit rawat inap dan keperawatan kepala pembimbing.

D. Kegiatan yang dilakukan


1. Survey
2. Observasi
3. Wawancara
BAB IV
HASIL & PEMBAHASAN KEGIATAN MAGANG
A. Struktur Organisasi Unit Kerja
1. Instalasi Rawat Inap

Direktur utama
utamautama
Direktur pelayanan medik

Manajer Ralan & ranap

Instalasi rawat inap Rawat jalan

Manajer keperawatan

Karu Karu Karu Karu Karu Karu

Al-Kautsar Al-Fath Al-Kahfi Al-Ikhlas Al-Insan Al-Araaf An-nisa An-Nur Ruang


bersali
n
Ko.shif Ko.shif Ko.shif Ko.shif Ko.shif Ko.shif Ko.shif Ko.shif Ko.shif
t t t t t t t t t
TIM TIM TIM TIM TIM TIM TIM TIM TIM

2. Bidang keperawatan

Direktur utama Direktur Pelayanan medik

Manajer Keperawatan

Kasi mutu keperawatan


Kepala ruangan

Staff pelaksana
B. Gambar Alur Kerja di Unit
1. Instalasi rawat inap

Instalasi Gawat Darurat (IGD) &


poliklinik (melakukan
assessment, menentukan Bangsal
diagnosa dan penempatan
pasien di bangsal )

TIM Pelaksana Kepala Ruangan

2. Bidang keperawatan

Kasi rawat inap

Staff Unit
Kepala ruangan Sarana dan Prasaran
bangsal

Pemenuhan SDM Logistic

SDI melakukan
rekrutmen

seleksi

Kredensial oleh komite


keperawatn

Laporan hasil kredensial


diserahkan ke direktur

Direktur mengeluarkan
surat tugas
C. Sumber Daya di Unit
1. Instalasi Rawat Inap
Penjabaran sumber daya keperawatan disetiap bangsal yaitu sebagai
berikut :
a. Bangsal An-nisa jumlah pegawai 12 orang, 4 orang perawat tetap
dan 8 orang sebagai bidan tetap.
b. Bangsal An-Nur jumlah pegawai 9 orang sebagai perawat tetap.
c. Ruang Bersalin jumlah pegawai 10 orang sebagai bidan tetap.
d. Bangsal Al-Fath
e. Bangsal Al-Kahfi
f. Bangsal Al-Ikhlas jumlah pegawai 17 sebagai perawat tetap.
g. Bangsal Al-Insan jumlah pegawai 15 sebagai perawat tetap.
h. Bangsal Al-ARaaf jumlah pengawai 27 orang, 21 orang perawat
tetap dan 5 orang PKWT.
i. Bangsal Al-Kautsar jumlah pegawai 15 orang, 10 orang perawat
tetap, 4 orang perawat kontrak, 1 orang PKWT.
2. Bidang keperawatan
Jumlah total pegawai perawat termasuk non pelayanan sejumlah
201dengan rincian 160 orang sebagai perawat tetap, 27 orang sebagai
perawat kontrak dan 14 orang PKWT. Jumlah total bidan 35 orang, 21
orang bidan tetap, 10 orang sebagai bidan kontrak dan 4 orang PKWT.
Jumlah total perawat gigi 2 orang yang merupakan pegawai tetap.

D. Fasilitas Mendukung Kinerja di Unit


Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala unit rawat inap,
kebutuhan fasilitas yang terdapat disetiap bangsal telah terpenuhi.

E. Manajemen Mutu di Unit


Manajemen mutu diunit terbagi menjadi :
1. Mutu sumber daya
Peningkatan mutu sumber daya dengan melakukan pelatihan sesuai
kebutuhan diunit, serta melakukan kegiatan workshop bagi pegawai
dirumah sakit.
2. Mutu pelayanan
Penilaian mutu pelayanan dengan melihat indikator :
a. Indikator Kinerja klinis
b. Indikator keselamatan pasien
i. Keteapatan identifikasi pasien
ii. Peningkatan komunikasi efektif
iii. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
iv. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi.
v. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
vi. Pengurangan resiko pasien jatuh
Mutu pelayanan dinilai dengan melihat tingkat ketercapaian dari setiap
indikator.

F. Permasalahan-permasalahan di Unit
Permasalahan yang dominan diunit rawat inap yaitu masalah sumber daya dan
persediaan linen. Berdasarkan hasil wawancara ditemukan adanya multi task
pada kebanyakan pegawai keperawatan. Terjadinya kelebihan tugas
diakibatkan karena kurangnya sumber daya yang tersedia, contohnya untuk
pencatatan administrasi selama perawatan dari mulai pasien masuk sampai
pasien keluar rumah sakit dikelola oleh perawat yang bertugas. Sehingga
tanggung jawab perawat bertambah dari yang seharusnya.

G. Mekanisme Koordinasi di Unit


Koordinasi di unit dilakukan dengan melakukan rapat bulanan di masing-
masing unit bangsal, hasil rapat bulanan dilaporkan ke kepala instalasi rawat
inap kemudian dibuatkan laporan rutin dalam 2 bulan sekali ke kepala rumah
sakit.

H. Program Kerja di Unit (Rutin maupun pengembangan)

1. Intalasi rawat inap

a. Proker rutin
Program kerja untuk pengembangan SDM dengan mengikuti diklat
dan seminar, untuk sarana dan prasarana di setiap unit melakukan
pengkajian kebutuhan unit contohnya penggantian alat-alat serta
pengecetan ruangan.

b. Proker jangka panjang


Penambahan alat-alat dengan teknologi terbaru, renovasi ruangan.

2. Bidang keperawatan
a. Proker rutin
Program kerja untuk pengembangan SDM dengan mengikuti diklat
dan seminar. Penyediaan ATK, PPGD dilakukan 5 tahun sekali,
seminar internal dilakukan secara rutin.

b. Proker unggulan
Layanan terpadu islami.
c. Proker inovasi
Dalam proses pembuatan aplikasi asuhan keperawatan elektronik.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARANAN

1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dari kepala instalasi rawat
inap dan keperawatan serta kepala ruangan setiap bangsal, masalah yang
dominan terjadi diunit adalah kurangnya SDM yang sesuai dengan
kompetensinya, Sehingga terjadi penempukan tugas pada beberapa pegawai.
Kepala ruangan telah melaporkan kekurangan SDM kepada kepala instalasi,
dan kepala instalasi membuat proker untuk pemenuhan SDM tersebut untuk
diserahkan kepada pihak pengelolaan sumberdaya insani. Tetapi laporan
tersebut belum ditindak lanjuti.
2. Saran
1. Sebaiknya dilakukan penambahan SDM yang kompeten dibidangnya.
2. Sebaiknya dilakukan pengadaan administrasi elektronik .
3. Melakukan evaluasi kepuasan kepagawai.
Daftar Pustaka

Depkes RI., 1992. UU RI No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. Depkes RI.
Muninjaya, Gede. 2011. Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Jakarta : EGC
Permenkes RI Nomor 129 Tahun 2008 tentang standar pelayanan Minimal RS
Permenkes Nomor 40 tahun 2017 tentang PENGEMBANGAN JENJANG KARIR
PROFESIONAL PERAWAT KLINIS