Anda di halaman 1dari 40

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemantauan Janin


Pemantauan janin merupakan suatu upaya untuk menilai keadaan janin dikaitkan
dengan aktifitas janin, kesehatan ibu, keadaan plasenta, cairan amnion, keadaan tali pusat
dan kontraksi uterus, yang dilakukan pada masa kehamilan (antepartum) dan persalinan
(intrapartum). Penting dilakukan pemantauan untuk mengurangi atau menurunkan resiko
tingginya angka kematian perinatal yaitu Angka kematian bayi (AKB) dan Angka
kematian ibu (AKI) (Doengoes, 2001).
Pemantauan detak jantung bayi digunakan untuk memeriksa kesehatan selama
persalinan. Mendengarkan dan merekam detak jantung bayi bertujuan untuk
mengidentifikasi bayi yang kekurangan oksigen. Denyut jantung bayi dapat dipantau
sebentar-sebentar menggunakan monoral atau doppler genggam. Detak jantung juga bisa
diperiksa terus menerus menggunakan Elektronik Fetal Monitoring (EFM) (Cunningham,
2005).

B. Evidance Based Midwife (EBM) pada Intrapartum Fetal Monitoring


1. Pengertian Electronic Fetal Monitoring (EFM)
Electronic Fetal Monitoring (EFM) adalah ketika menggunakan mesin USG
Doppler untuk memantau detak jantung bayi sementara secara bersamaan menggunakan
sensor tekanan untuk memantau kontraksi ibu. Kedua sensor ini terkait dengan mesin
rekaman, yang menunjukkan print-out atau komputer layar detak jantung bayi dan
kontraksi ibu (Alfirevic, Devane et al. 2006).
Elektronik Fetal Monitoring (EFM) adalah suatu metode untuk mengetahui
kondisi dari janin dengan mencatat perubahan dari denyut jantung janin apakah dalam
keadaan normal ataun tidak normal. Alat ini biasanya digunakan pada akhir usia
kehamilan atau dapat juga digunakan selama proses persalinan berlangsung sehingga
dapat memantau keadaan dari janin yang akan lahir. EFM dapat dilakukan baik secara
eksternal maupun internal pada kandungan ibu hamil. Ada dua jenis EFM, yaitu :
a) Pemantauan internal adalah memantau dengan meletakkan electrode yang
ditempelkan pada kepala janin untuk mengetahui suara denyut jantung janin dan
pergerakan dari janin. Alat ini digunakan ketika ketuban sudah pecah dan vagina
mengalami pembukaan sekitar 2-3 cm, sehingga electrode dapat dipasang pada
kepala janin.
b) Pemantauan eksternal (indirect) dimana denyut jantung janin (DJJ) dan kontraksi
uterus dipantau melalui transduser yang diletakkan pada dinding abdomen ibu .
(Alfirevic, Devane et al. 2006).

2. Tujuan
a) Untuk mengetahui dan mengobservasi gerakan janin
b) Mengetahui frekuensi denyut jantung janin mengalami penyesuaian konstan karena
menanggapi lingkungan dan rangsangan lainnya. Monitor janin mencatat detak
jantung bayi yang belum lahir dan grafik pada selembar kertas.
c) Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan oksigen janin.
d) Untuk mencegah intra uterin fetal death.
e) Untuk mencegah dan mengurangi angka kematian ibu dan anak.
f) Untuk mengetahui tanda-tanda abnormal pada janin sejak dini (Wong, Dona L,
2002).
3. Indikasi Pemantauan dengan EFM
a) Oligohidramnion, hipertensi
b) FHR abnormal
c) Malpresentasi dalam persalinan
d) Ibu yang menderita diabetes militus dan kehamilan ganda
e) Riwayat persalinan secara SC
f) Trauma abdomen
g) Ketuban pecah lama
h) Air ketuban kehijauan
i) Kehamilan resiko tinggi
j) Induksi persalinan.
k) Persalinan premature (Rayburn William, 2001: Suyono, 1995).
4. Petunjuk Hasil
a) Hasil Normal
Seorang bayi yang belum lahir, denyut jantung normal berkisar antara 120-160
beats per menit (bpm). Bayi yang menerima cukup oksigen akan bergerak di sekitar.
Monitor strip akan menampilkan bayi denyut jantung meningkat sebentar karena dia
bergerak. Hasil pemantauan bayi dianggap reaktif ketika bayi denyut jantung
meningkat minimal 20 bpm di atas dasar denyut jantung setidaknya 20 detik. Ini
harus terjadi setidaknya dua kali dalam jangka waktu 20 menit. Reaktif hati menilai
jejak/tanda (juga dikenal sebagai non-reaktif stress test) dianggap sebagai tanda bayi
kesejahteraan (Cunningham, 2005).
b) Hasil Abnormal
Jika frekuensi detak jantung janin turun sangat rendah atau meningkat sangat
tinggi, sudah jelas bahwa bayi berada dalam keadaan gawat, dan harus segera
ditangani. Namun, banyak bayi yang mengalami masalah seperti itu tidak memberi
tanda-tanda jelas. Selama kontraksi, aliran oksigen (dari ibu) melalui plasenta (untuk
bayi) untuk sementara dihentikan. Bayi harus terus bernafas setiap saat kontraksi.
Diantara kontraksi, bayi harus menerima oksigen lebih dari cukup untuk
melakukannya dengan baik selama kontraksi. Pertama tanda bahwa bayi tidak
mendapatkan oksigen yang cukup antara kontraksi sering drop pada bayi denyut
jantung setelah kontraksi (akhir perlambatan). Penilaian jantung bayi ke tingkat
normal antara kontraksi, hanya untuk drop lagi setelah kontraksi berikutnya. Hal ini
juga merupakan tanda distress (Cunningham, 2005).
5. Pemantauan Janin Secara Auskultasi Intermiten
Sebanyak 4 % wanita Amerika Serikat, EFM hanya digunakan sesekali selama
persalinan. Ini disebut auskultasi intermiten, dan pada umumnya tenaga kesehatan harus
memakai sensor mesin selama 20-30 menit setiap jam (tidak bisa menemukan panduan
yang merekomendasikan frekuensi tertentu dan panjang EFM intermiten), (Declercq,
Sakala et al 2007).
Dengan auskultasi intermiten, tenaga kesehatan (nakes) mendengarkan detak
jantung janin selama sekitar 60 detik menggunakan stetoskop janin (fetoskop atau
pinard) atau perangkat doppler ultrasound genggam. Saat mendengarkan, nakes juga
melakukan palpasi kontraksi ibu dengan menempatkan tangan di perut. Kebanyakan
pedoman setuju bahwa auskultasi intermiten harus dilakukan setiap 15-30 menit selama
fase aktif tahap pertama persalinan (5-10 cm pelebaran) dan setiap 5-15 menit selama
fase mendorong tahap kedua persalinan (AWHONN, 2008).
Secara teoritis, tujuan pemantauan denyut jantung janin selama persalinan adalah
untuk mengidentifikasi masalah oksigen pada janin sehingga nakes dapat
mengintervensi dan mencegah komplikasi seperti cerebral palsy, kerusakan otak, kejang
baru lahir, atau kematian. Namun, pada saat yang sama, tes ini meningkatkan risiko
intervensi yang tidak perlu, seperti bedah caesar yang tidak perlu atau forsep/vakum
(ACOG, 2009).

6. Pemantauan Janin Secara Terus Menerus


Dalam Cochrane review (Alfirevic, Devane et al. 2006), perempuan dalam
kelompok EFM terus menerus berada 1,7 kali lebih mungkin untuk memiliki persalinan
secara caesar dan sedikit kemungkinan beresiko melahirkan dengan tindakan seperti
forceps atau vakum bila dibandingkan dengan perempuan dalam kelompok auskultasi
intermiten. Perempuan dalam kelompok EFM terus menerus juga lebih mungkin untuk
memerlukan obat nyeri.
Menariknya, para peneliti menemukan hubungan antara tingkat persalinan secara
caesar dan EFM terus menerus. Ini berarti bahwa di rumah sakit dengan tingkat
persalinan caesar lebih tinggi, dengan EFM dapat menyebabkan risiko lebih tinggi dari
bedah caesar. Salah satu tujuan dari EFM terus menerus adalah untuk mencegah cerebral
palsy. Namun, para peneliti telah menemukan bahwa pemantauan janin elektronik terus
menerus adalah tes yang tidak tepat untuk tujuan ini. Tingkat positif palsu untuk
memprediksi cerebral palsy setinggi 99,8% (yang pada dasarnya 100%), bahkan terjadi
multiple deselerasi terlambat atau penurunan variabilitas (Nelson, Dambrosia et al.
1996). Bahkan ACOG telah menyetujui bahwa auskultasi intermiten lah sebagai
alternatif yang tepat dan aman untuk pemantauan janin elektronik (ACOG, 2009).
Diperkirakan bahwa EFM mengarah ke satu caesar tambahan untuk setiap 58
wanita dipantau dan satu caesar tambahan untuk setiap 12 wanita berisiko tinggi dalam
persalinan (Alfirevic, 2006). Beberapa pedoman menyarankan bahwa EFM harus
digunakan bila ada strip intermiten yang abnormal, atau dengan penyakit parah yang
berhubungan dengan kehamilan, kelipatan, kehamilan pasca jangka, VBACs,
pembatasan pertumbuhan intrauterin, ketuban pecah dini, epidural, dan Pitocin. Namun,
rekomendasi ini didasarkan pada pendapat klinis, karena tidak ada bukti penelitian yang
mendukung rekomendasi ini (Bailey, 2009 : ACOG, 2009).
7. Hasil Penelitian
a) Membandinghkan EFM terus menerus dann Auskultasi Intermiten (1)
Dalam Cochrane review (Alfirevic, Devane et al. 2006), peneliti menyusun
hasil 12 acak, percobaan dikontrol dengan lebih dari 37.000 wanita. Hanya dua dari
studi yang berkualitas tinggi. Dalam semua studi ini, perempuan secara acak baik
menerima EFM terus menerus maupun auskultasi intermiten. Studi penelitian klasik
ini berlangsung sebagian besar di tahun 1970-an dan 1980-an, berarti bahwa bukti ini
telah ada selama setidaknya 30 tahun.
Tidak ada perbedaan antara perempuan yang menerima auskultasi intermiten
dan mereka yang menerima EFM terus menerus dalam kematian perinatal, cerebral
palsy, skor Apgar. Perempuan dalam kelompok EFM terus menerus berada 1,7 kali
lebih mungkin untuk memiliki caesar dan sedikit lebih mungkin untuk memiliki
forceps / vakum bila dibandingkan dengan wanita dalam kelompok auskultasi
intermiten. Perempuan dalam kelompok EFM terus menerus juga lebih mungkin
untuk memerlukan obat nyeri (Alfirevic, Devane et al. 2006).
b) Membandinghkan EFM terus menerus dan Auskultasi Intermiten (2)
Dalam satu studi (Herbst & Ingamarsson, 1994), peneliti secara acak lebih dari
4.000 wanita berisiko tinggi untuk menerima baik EFM terus menerus atau EFM
intermiten. EFM intermiten dilakukan selama 10-30 menit setiap 2 jam, dengan
stetoskop auskultasi setiap 15-30 menit di antara periode pemantauan. Para peneliti
tidak menemukan perbedaan hasil apapun. Namun, karena auskultasi intermiten
lebih unggul terus menerus dan EFM intermiten memiliki hasil yang sama adalah
mungkin bahwa auskultasi intermiten juga lebih baik daripada EFM.
Untuk membuat pilihan informasi yang lengkap, perlu memahami risiko dan
manfaat dari monitor janin elektronik. Dibandingkan dengan auskultasi intermiten,
EFM terus menerus memiliki manfaat penurunan risiko kejang yang baru lahir (hasil
langka). Namun, juga meningkatkan risiko persalinan caesar, meningkatkan risiko
bantuan forceps / vakum, dan meningkatkan risiko bahwa diperlukan obat nyeri
(Herbst & Ingamarsson, 1994).

8. Keuntungan Electronic Fetal Monitoring (EFM)


a) Tidak mempengaruhi kejadian cerebral palsy
b) Menurunkan rerata kejang neonatorum
c) Tidak mempengaruhi nilai APGAR (Rayburn William, 2001).
9. Kerugian Electronic Fetal Monitoring (EFM)
a) Ibu kurang bisa bergerak bebas, akibatnya akan memperlambat proses persalinan
karena perhatiannya teralih ke mesin.
b) Fokusnya ibu ke monitor dapat membuat ketakutan dan gangguan, bahkan
pendamping persalinan juga bisa ikut fokus ke monitor dan merasa cemas.
c) Meningkatkan risiko persalinan secara caesar danmeningkatkan risiko bantuan
forceps atau vakum (Rayburn William, 2001 : Alfirevic, 2006)
10. Kekurangan Electronic Fetal Monitoring (EFM)
a) Kurangnya sumber daya. Banyak tenaga kerja rumah sakit dan pengiriman unit dapat
memiliki hanya 1 atau 2.
b) Waktu perawat, bidan, atau dokter harus benar-benar berada di samping tempat tidur
wanita setiap 15-30 menit dan mengambil satu atau dua menit untuk mendengarkan
denyut jantung dan meraba kontraksi. Hal ini lebih mudah bagi perawat untuk hanya
melihat layar monitor.
c) Biaya atau harga alat yang mahal. Ada sekitar 28.000 monitor janin di lebih dari
3.400 rumah sakit di Amerika Serikat, yang mewakili investasi lebih dari $ 700 juta
dolar. Bahkan rumah sakit dapat menghabiskan lebih dari $ 200.000 per rumah sakit
pada sistem memantau elektronik. Pemantauan janin secara elektronik adalah
contoh sempurna dari teknologi tinggi, biaya tinggi, dan perawatan berbasis bukti
yang rendah (Bailey, 2009 : ACOG, 2009).

C. Intrapartum Fetal Monitoring dalam Kebidanan


Pemantauan janin tak bisa dilakukan secara kasat mata, karena ia masih bersembunyi
dalam rahim. Umumnya, pemantauan dilakukan dengan cara mendengar denyut jantung
janin. Bukan hanya keras atau lemahnya denyut jantung, tetapi juga perubahan iramanya,
terutama saat terjadi kontraksi rahim. Denyut jantung normal janin tidak mengalami stress
adalah 120-160 per menit. Ada beberapa macam alat yang digunakan untuk memantau
denyut jantung janin, seperti fetoscope, electronic fetal monitoring, telemetry monitoring,
doppler, electrode, dan monoral. Diantara beberapa alat tersebut, doppler dan monoral yang
paling sering digunakan oleh bidan di Bidan Praktik Mandiri/Swasta (Rayburn William,
2001).
Pemantauan denyut jantung janin elektronik (electronic fetal heart rate monitoring)
telah menjadi bagian dari asuhan kebidanan dirumah sakit dan penggunaannya tersebar luas
di Negara Inggris. Namun, penggunannya yang dilakukan secara tidak tepat telah dikaitkan
dengan meningkatnya kelahiran dengan bantuan alat dan bedah sesar, tanpa adanya manfaat
terhadap hasil akhir jangka panjang bagi neonatus ( Enkin et at, 2000).
Dalam suatu penelitian yang menelusuri sikap para bidan terhadap penggunaan mesin
electronic fetal monitoring (EFM), para bidan menolak pemikiran bahwa mereka telah
bergantung pada mesin tersebut (Sinelair, 2001). Bagaimanapun juga, pengetahuan,
pengalaman, dan mata yang terlatih untuk menginterpretasi hasil rekaman dengan efektif
dan kegagalan menginterpretasinya secara akurat adalah masalah besar merupakan faktor
yang mempengaruhi janin lahir mati intraparium (CESDI, 2000).
Pada tahun 2001, National Institute for Clinical Excellence (NICE) mempublikasikan
panduan yang memberi indikasi yang jelas bagi penggunaan pemantauan janin elektronik
dalam persatuan. Jika tidak diketahui adanya faktor-faktor risiko ibu atau janin, tidak
diperlukan penilaian electronic fetal monitoring (EFM) (Impey, 2003). Penegasan ini telah
direflesikan dalam panduan berikutnya. Selama persalinan kala satu, denyut jantung janin
harus diauskultasi setelah sebuah kontraksi, selama satu menit penuh, setiap 15 menit.
Denyut jantung janin harus berada dalam batas 110 dan 160 denyut per menit (NICE, 2007).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Efidenced Based Midwifery (EBM)


Evidence based artinya berdasarkan bukti, tidak lagi berdasarkan pengalaman atau
kebiasaan semata. Semua harus berdasarkan bukti dan bukti inipun tidak sekedar bukti. Tapi
bukti ilmiah terkini yang bisa dipertanggungjawabkan.
Pengertian Evidence Base menurut sumber lain yaitu The process of systematically
finding, appraising and using research findings as the basis for clinical decisions (NICE,
2008)
Evidenced Based Midwifery (EBM) ini sangat penting peranannya pada dunia
kebidanan karena dengan adanya EBM maka dapat mencegah tindakan tindakan yang tidak
diperlukan/tidak bermanfaat bahkan merugikan bagi pasien,terutama pada proses persalinan
yang diharapkan berjalan dengan lancar dan aman sehingga dapat menurunkan angka
kematian ibu dan angka kematian bayi.
EBM didirikan oleh Royal College of Midwives (RCM) dalam rangka untuk membantu
mengembangkan profesionalisme dan ilmiah atas dasar untuk perkembangan bidan untuk
berorientasi secara akademis.

B. EBM Dalam Persalinan Kala I


Kala I persalinan adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan nol
sampai pembukaan lengkap. Lama kala I untuk primigravida berlangsung 12 jam sedangkan
multigravida 8 jam. (Manuaba, 2010).
Menurut JNPK-KR Depkes RI (2008), Kala satu persalian terdiri dari dua fase yaitu
fase laten dan fase aktif.
a. Fase laten
1) Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan dan pembukaan
serviks secara bertahap.
2) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
3) Pada umumnya, berlangsung hampir atau hingga 8 jam.
b. Fase aktif
1) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara bertahap (kontraksi
diangap adekuat/memadai jika terjadi tiga kali atau lebih dalam waktu 10 menit,
dan berlangsung selama 40 detik atau lebih).
2) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap 10 cm, akan terjadi
dengan kecepatan rata rata 1 cm per jam (nulipara atau primigravida) atau
lebih dari 1 sampai 2 cm (multipara).
3) Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

Persalinan Kala I menurut Sumarah (2010) adalah kala pembukaan yang


berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap. Pada permulaan his kala
pembukaan berlangsung tidak begitu kuat sehingga ibu dapat berjalan-jalan. Memasuki
tahap inpartu apabila timbul his dan ibu mengelurkan lendir bercampur darah. Lendir
yang bercampur darah berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai
membuka atau mendatar, sedangkan darah berasal di sekitar kanalis servikalis tersebut
pecah karena pergeseran-pergeseran ketika serviks membuka.
Proses pembukaan dan penipisan serviks ini, terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase
laten (8 jam) dari pembukaan 0 cm sampai pembukaan 3 cm, dan fase aktif (7 jam) dari
pembukaan serviks 3 cm sampai pembukaan 10 cm. Dalam fase aktif dibagi menjadi 3
fase, yaitu fase akselerasi, dimana dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm,
fase dilatasi maksimal, yakni dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat cepat,
dari 4 cm menjadi 9 cm, dan fase deselerasi, dimana pembukaan 9 cm menjadi 10 cm.
Kontraksi menjadi lebih kuat dan lebih sering pada fase aktif. Keadaan tersebut
dapat dijumpai pada primigravida maupun mulitigravida, akan tetapi pada multigravida,
fase laten dan fase aktif lebih pendek. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara
primigravida dan multigravida. Pada primigravida ostium uteri internum akan membuka
terlebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis, kemudian ostium uteri
eksternum membuka.
Menurut Aprilia (2010), kala I berlangsung sekitar 13-14 jam untuk primigravida
dan 8-10 jam untuk multigravida. Pertama-tama ibu sedang dalam persalinan merasakan
kontraksi (his) yang ringan atau jarang, semakin lama, semakin berat. Kontraksi terjadi
sekitar 30-60 detik dan datang setiap lima sampai 20 menit.
Dalam buku Ilmu Kebidanan menurut Prawirohardjo (2009), his sesudah
kehamilan 36 minggu lebih meningkat sampai persalinan mulai, yakni permulaan kala I,
frekuensi ( jumlah his dalam waktu tertentu), dan amplitudo(tiap tekanan kontraksi) his
meningkat. Amplitudo uterus meningkat terus sampai 60 mmHg pada akhir kala I dan
frekuensi his menjadi 2 sampai 4 kontraksi tiap 10 menit. His menyebabkan pembukaan
dan penipisan disamping tekanan air ketuban pada permulaan kala I dan selanjutnya oleh
kepala janin yang makin masuk ke rongga panggul dan sebagai benda keras yang
mengadakan tekanan kepala serviks hingga pembukaan menjadi lengkap. Menurut
Sumarah (2008), kontraksi teratur minimal 3 kali dalam 10 menit, setiap kontraksi
berlangsung sedikit 40 detik.
Menurut Manuaba (2010), Hal yang perlu dilakukan dalam kala I adalah:
1) Memperhatikan kesabaran parturien.
2) Melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi temperatur perna-fasan berkala
sekitar 2 sampai 3 jam.
3) Pemeriksaan denyut jantung janin setiap jam sampai 1 jam.
4) Memperhatikan keadaan kandung kemih agar selalu kosong.
5) Memperhatikan keadaan patologis (meningkatnya lingkaran Bandle, ketuban
pecah sebelum waktu atau disertai bagian janin yang menumbung, perubahan
denyut jantung janin, pengeluaran mekoneum pada letak kepala, keadaan his
yang bersifat patologis, perubahan posisi atau penurunan bagian terendah janin).
6) Parturien tidak diperkenankan mengejan.

C. Asuhan Persalinan Kala I


1. Kebutuhan fisik Kala I fase laten :
a. Posisi
b. Mobilisasi
c. Nutrisi dan Hidrasi
d. Rasa Nyaman
Kebutuhan fisik Kala I fase aktif :
a. Manajemen nyeri
b. Kebutuhan nutrisi dan hidrasi
c. Posisi dan ambulasi
d. Kebutuhan eliminasi

2. Kebutuhan psikologi Kala I


a. Persiapan untuk persalinan
b. Memberikan informasi
c. Mengurangi kecemasan
d. Keikutsertaan dalam perencanaan
e. Berkenalan dengan para tenaga medis

3. Pain Relief
a. Farmakologi
b. Non Farmakologi

D. Dukungan dan Peran Bidan dalam Persalinan Kala I berdasarkan Evidence Based
Midwifery
Dukungan persalinan adalah asuhan yang sifatnya mendukung yaitu asuhan yang
bersifat aktif dan ikut serta dalam kegiatan selama persalinan merupakan suatu standar
pelayanan kebidanan, dimana ibu dibebaskan untuk memilih pendamping persalinan sesuai
keinginannya, misalnya suami, keluarga atau teman yang mengerti tentang dirinya.
Macam-macam dukungan persalinan :
a. Dukungan Fisik
b. Dukungan Emosional

Bentuk dukungan persalinan :


1) Memanggil ibu sesuai namanya, menghargai
2) Menjelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya
3) Mengajurkan ibu untuk bertanya danmembicarakan rasa takut atau khawatir.
4) Mendengarkan dan menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
5) Mengatur posisi yang nyaman bagi ibu
6) Memenuhi asupan cairan dan nutrisi ibu
7) Keleluasaan untuk mobilisasi, termasuk ke kamar kecil
8) Penerapan prinsip pencegahan infeksi yang sesuai
9) Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan sampai kelahiran
bayinya.
10) Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping selama persalinan.
11) Penjelasan mengenai proses/ kemajuan/ prosedur yang akan dilakukan
12) Mengajarkan suami dan anggota keluarga mengenai cara memperhatikan dan
mendukung ibu selama persalinan.
Kewenangan bidan dalam menolong persalinan normal diatur dalam
Permenkes 1464/ Menkes/ Per/ X/ 2010 pasal 10. Dalam hal ini permenkes menyebutkan
bidan dapat menolong persalinan normal. Persalinan normal melewati fase kala I
sehingga bidan berwenang untuk dapat menolong ibu bersalin secara normal dan
mempunyai kewajiban kepada pasien untuk dapat mengurangi rasa nyeri persalinan pada
kala I dan juga memberikan kebebasan kepada pasien untuk memilih posisi persalinan
yang diinginkannya.

E. Jurnal Evidence Based Persalinan Kala I


1. Maternal positions and mobility during first stage labour by Annemarie Lawrence,
Lucy Lewis, G Justus Hofmeyr, Therese Dowswell, Cathy Styles
The purpose of the review is to assess the effects of encouraging women to assume
different upright positions (including walking, sitting, standing and kneeling) versus
recumbent positions (supine, semi-recumbent and lateral) for women in the first stage of
labour on length of labour, type of delivery and other important outcomes for mothers
and babies.
The review includes 21 studies with a total of 3706 women. Overall, the first stage
of labour was approximately one hour shorter for women randomised to upright as
opposed to recumbent positions (MD -0.99, 95% CI -1.60 to -0.39). Women randomised
to upright positions were less likely to have epidural analgesia (RR 0.83 95% CI 0.72 to
0.96).
There is evidence that walking and upright positions in the first stage of labour
reduce the length of labour and do not seem to be associated with increased intervention
or negative effects on mothers' and babies' wellbeing. Women should be encouraged to
take up whatever position they find most comfortable in the first stage of labour.
Tujuan dari review ini adalah untuk mengetahui efek dari mendorong wanita
untuk mengetahui perbedaan upright positions dan recumbent positions pada wanita
dalam kala I persalinan pada lamanya persalinan, tipe persalinan, dan hasil penting
lainnya untuk ibu dan bayi.
Review ini menggunakan 21 penelitian dengan total 3706 wanita. Secara
keseluruhan, persalinan kala I rata-rata lebih singkat pada wanita dengan dengan upright
positions dibandingkan dengan recumbent positions (MD -0.99, 95% CI -1.60 to -0.39).
Terbukti bahwa berjalan dan upright positions pada persalinan kala I mengurangi
lamanya persalinan dan tidak ada hubungannya dengan peningkatan intervensi atau efek
negatif pada kesehatan ibu dan bayi. Wanita harus didorong untuk memilih posissi
apapun yang paling nyaman untuknya dalam kala I persalinan.

2. Hypnosis for pain management during labour and childbirth by Kelly Madden,
Philippa Middleton, Allan M Cyna, Mandy Matthewson, Leanne Jones
This review is one in a series of Cochrane reviews investigating pain management
for childbirth. This review is to examine the effectiveness and safety of hypnosis for pain
management during labour and childbirth.
We included nine trials randomising a total of 2954 women. In the main
comparison, women in the hypnosis group were less likely to use pharmacological pain
relief or analgesia than those in the control groups, (average risk ratio (RR) 0.73, 95%
CI 0.57 to 0.94, eight studies, 2916 women; very low-quality evidence; random-effects
model). There is currently not enough evidence to say whether hypnosis helps women feel
more satisfied about their pain relief in labour, nor whether it improves their sense of
coping with labour. Further high-quality research is needed and should include
assessment of women's satisfaction with pain relief and sense of coping in labour.
Review ini adalah salah satu seri dari review Cochrane yang meneliti tentang
penanganan nyeri persalinan. Review ini dimaksudkan tuntuk memeriksa keefektifan dan
keamanan dari hipnosis penanganan nyeri pada saat proses persalinan.
Kami menggunakan sembilan penelitian acak dengan total 2954 wanita. Dengan
perbandingan utama, wanita pada grup hipnosis lebih sedikit menggunakan analgesik
daripada wanita pada grup kontrol. Tidak ada bukti yang cukup untuk saat ini yang
mengatakan apakah hipnosis membuat wanita merasa lebih puas dengan penanganan
nyerinya dalam persalinan, atau apakah itu merupakan peningkatan dari adaptasinya
dalam persalinan. Penelitian lebih lanjut dengan kualitas yang lebih baik dibutuhkan dan
harus memasukkan penelitian tentang kepuasan wanita dengan penanganan nyeri dan
adaptasi persalinan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Evidence Based Midwifery


1. Definisi EBM
EBM didirikan oleh RCM dalam rangka untuk membantu mengembangkan
kuat profesional dan ilmiah dasar untuk pertumbuhan tubuh bidan berorientasi
akademis. RCM Bidan Jurnal telah dipublikasikan dalam satu bentuk sejak 1887
(Rivers, 1987), dan telah lama berisi bukti yang telah menyumbang untuk kebidanan
pengetahuan dan praktek. Pada awal abad ini, peningkatan jumlah bidan terlibat
dalam penelitian, dan dalam membuka kedua atas dan mengeksploitasi baru
kesempatan untuk kemajuan akademik. Sebuah kebutuhan yang berkembang diakui
untuk platform untuk yang paling ketat dilakukan dan melaporkan penelitian. Ada
juga keinginan untuk ini ditulis oleh dan untuk bidan.
EBM secara resmi diluncurkan sebagai sebuah jurnal mandiri untuk
penelitian murni bukti pada konferensi tahunan di RCM Harrogate, Inggris pada
tahun 2003 (Hemmings et al, 2003). Itu dirancang untuk membantu bidan dalam
mendorong maju yang terikat pengetahuan kebidanan dengan tujuan utama
meningkatkan perawatan untuk ibu dan bayi (Silverton, 2003). Jadi Evidence Based
Midwifery adalah cara yang untuk membantu tenaga kesehatan dalam membuat
keputusan saat merawat pasien sesuai dengan Kebutuhan pasien dan keahlian klinis
tenaga kesehatan berdasarkan bukti-bukti ilmiah

B. Evidence Based Midwifery INC Third Stage Of Labor


1. Definisi
Kala III persalinan dimulai dengan pengiriman selesai janin dan berakhir dengan
pengiriman selesai plasenta dan membran yang melekat. dokter segera mengakui
bahwa dari perspektif praktis, risiko komplikasi berlanjut untuk beberapa periode
setelah melahirkan plasenta. Untuk alasan ini, banyak pemerintah telah menganjurkan
tahap keempat disebut tenaga kerja, yang dimulai dengan pengiriman plasenta dan
berlangsung untuk jangka waktu yang sewenang-wenang sesudahnya. Durasi yang
paling umum dipilih adalah 1 jam; Namun, periode selama 4 jam telah diusulkan.
Panjang tahap ketiga itu sendiri biasanya 5-15 menit. Batas waktu mutlak untuk
pengiriman plasenta, tanpa bukti perdarahan yang signifikan, masih belum jelas.
Periode mulai dari 30-60 menit telah diusulkan
(http://www.kesehatanibu.depkes.go.id).
Manajemen aktif kala III (tiga) sangat penting dilakukan pada setiap
asuhan persalinan normal dengan tujuan untuk menurunkan angka kematian ibu. Saat
ini, manajemen aktif kala III (tiga) telah menjadi prosedur tetap pada
asuhan persalinannormal dan menjadi salah satu kompetensi dasar yang harus
dimiliki setiap tenaga kesehatan penolong persalinan (dokter dan bidan).
2. Tujuan Manajemen Aktif Kala III
Tujuan manajemen aktif kala III (tiga) adalah untuk
menghasilkan kontraksiuterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat
waktu, mencegah perdarahandan mengurangi kehilangan darah kala
III (tiga) persalinan jika dibandingkan
dengan penatalaksanaan fisiologis. Penatalaksanaan manajemen aktif kala III (tiga)
dapat mencegah terjadinya kasus perdarahan pasca persalinan yang disebabkan
oleh atonia uteri dan retensio plasenta (Depkes, 2008).
3. Keuntungan Manajemen Aktif Kala III
1. Persalinan kala tiga lebih singkat.
2. Mengurangi jumlah kehilangan darah.
3. Mengurangi kejadian retensio plasenta.

4. Langkah Manajemen Aktif Kala III


Langkah utama manajemen aktif kala III (tiga) ada tiga langkah yaitu (Depkes,
2008):
1. Pemberian suntikan oksitosin.
2. Penegangan tali pusat terkendali.
3. Masase fundus uteri
1) Pemberian suntikan oksitosin
Pemberian suntikan oksitosin dilakukan dalam 1 menit pertama
setelah bayi lahir. Namun perlu diperhatikan dalam pemberian
suntikan oksitosin adalah memastikan tidak ada bayi lain (undiagnosed
twin) di dalam uterus. Oksitosin dapat menyebabkan uterus berkontraksi
yang dapat menurunkan pasokan oksigen pada bayi. Panduan asuhan
intrapartum NICE merekomendasikan penggunaan 10 IU syntocinon
melalui injeksi IM. Meskipun tidak ada lisensi untuk cara pemberian
semacam ini, suatu kajian sistematik yang memeriksa kegunaaan oksitosin
sebagai profilaktit selama persalinan kala III. Menyimpulkan bahwa
oksitosin bermanfaat dalam pencegahan PPH.
Suntikan oksitosin dengan dosis 10 unit diberikan secara
intramuskuler (IM) pada sepertiga bagian atas paha bagian luar (aspektus
lateralis). Komponen syntocinon dari syntometrine bekerja dalam waktu 2
hingga 3 menit dan bertahan hanya selama 5 menit hingga 15 menit.
Tujuan pemberian suntikan oksitosin dapat
menyebabkan uterus berkontraksi dengan kuat dan efektif sehingga dapat
membantu pelepasan plasenta dan mengurangi kehilangan darah.
2) Penegangan tali pusat terkendali
Klem pada tali pusat diletakkan sekitar 5-10 cm
dari vulva dikarenakan dengan memegang tali pusat lebih dekat
ke vulva akan mencegah evulsi tali pusat. Meletakkan satu tangan di
atas simpisis pubis dan tangan yang satu memegang klem di
dekat vulva.Tujuannya agar bisa merasakan uterus berkontraksi
saat plasenta lepas.
Segera setelah tanda-tanda pelepasan plasenta terlihat
dan uterus mulai berkontraksi tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan
tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus ke arah lumbal
dan kepala ibu (dorso-kranial). Lakukan secara hati-hati untuk mencegah
terjadinya inversio uteri. Lahirkan plasenta dengan peregangan yang lembut
mengikuti kurvaalamiah panggul (posterior kemudian anterior).
Ketika plasenta tampak di introitus vagina,
lahirkan plasenta dengan mengangkat pusat ke atas dan
menopang plasenta dengan tangan lainnya .Putar plasenta secara lembut
hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu.
3) Masase fundus uteri
Segera setelah plasenta lahir, lakukan masase fundus uteri dengan
tangan kiri sedangkan tangan kanan memastikan bahwa kotiledon dan
selaput plasenta dalam keadaan lengkap. Periksa sisi maternal dan fetal.
Periksa kembali uterus setelah satu hingga dua menit untuk
memastikan uterus berkontraksi. Evaluasi kontraksi uterus setiap 15 menit
selama satu jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama satu
jam kedua pasca persalinan.
5. Asuhan Pada Ibu Bersalin Fisiologi Kala III
Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung
tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri
agak diatas pusat beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk
melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 menit 15
menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
Pengeluaran plasenta, disertai dengan pengeluaran darah. Komplikasi yang dapat
timbul pada kala III adalah perdarahan akibat atonia uteri, ratensio plasenta,
perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali pusat.
Tempat implantasi plasenta mengalami pengerutan akibat pengosongan
kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta dilepaskan dari perlekatannya
dan pengumpulan darah pada ruang utero-plasenter akan mendorong plasenta keluar.
Otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga
uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya
ukuran tempat perlekatan plasenta karena tempat perlekatan menjadi semakin kecil,
sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan
kemudian lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atau kedalam vagina
(Depkes RI 2008). Pada kala III, otot uterus (miometrium) berkontraksi
mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan
ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena
tempat perlekatan menjadi semkin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah
maka pasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah
lepas, plasenta akan turun ke bagian bawah uterus atauke dalam vagina.Setelah janin
lahir, uterus mengadakan kontraksi yang mengakibatkan penciutan permukaan
kavum uteri, tempat implantassi plasenta. Akibatnya, plasenta akan lepas dari tempat
implantasinya.
C. Contoh EBM INC Third Stage Of Labor
1) Penjepitan Tali Pusat Dan Pemotongan Tali pusat
a. Waktu Penjepitan Dan Pemotongan Tali Pusat
Selain manajemen aktif kala III ada juga yang disebut manajemen
fisiologis persalinan kala III atau penundaan penjepitan atau pengkleman tali
pusat sampai tali pusat berhenti berdenyut. Menurut WHO pada manajemen
fisiologis ini, waktu yang optimal untuk pengkleman dan pemotongan tali pusat
semua bayi tanpa memandang usia kehamilan atau berat badan janin adalah ketika
sirkulasi atau denyutan di tali pusat telah berhenti dan tali pusat terlihat mendatar
sekitar 3 menit atau lebih setelah bayi lahir.
Riksani (2012) menganjurkan untuk melakukan penjepitan dan pemotongan
tali pusat yaitu setelah tali pusat berhenti berdenyut lagi yaitu dengan kisaran
waktu sekitar 3 5 menit setelah bayi lahir, dan sangat tidak di anjurkan untuk
melakukan pemotongan tali pusat dini. Cernadas, dkk (2006) dalam penelitiannya
di Argentina menganjurkan penjepitan dan pemotongan tali pusat > 1 menit
setelah bayi lahir.Sedangkan menurut Chaparo, dkk (2006) dalam penelitiannya di
Mexico menganjurkan pemotongan tali pusat > 2 menit setelah bayi lahir.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat Chaparo (2006), Emhamed, dkk
(2004) dalam penelitiannya di Libya menganjurkan penjepitan dan pemotongan
tali pusat setelah tali pusat berhenti berdenyut yaitu setelah 2 4 menit setelah
bayi lahir Kesimpulannya, waktu pemotongan tali pusat terbaik adalah ketika tali
pusat telah berhenti mengalirkan darah dari plasenta ke bayi atau biasa disebut
ketika tali pusat berhenti berdenyut yaitu dengan kisaran waktu 2-4 menit setelah
bayi lahir.
b. Efek Positif Penundaan Pemotongan Tali Pusat
a) Mencegah anemia pada bayi baru lahir
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Andersson,dkk (2008) di
Rumah Sakit Halland, Halmstad, Swedia, menemukan bahwa bayi yang
dipotong tali pusatnya sesegera mungkin memiliki kadar zat besi yang lebih
rendah hingga usianya mencapai 6 bulan. Sama dengan hasil penelitian yang
dilakukan Andersson, dkk (2008), Menurut Qodri, dkk dengan menggunakan
sampel yaitu : 36 bayi baru lahir dengan 19 bayi baru lahir dilakukan
penjepitan dini (< 10 detik setelah lahir), dan sisanya dilakukan penudaan
pemotongan tali pusat dengan klasifikasi bayi yang tidak asfiksia, berat lahir
normal, aterm, kehamilan tunggal dengan persalinan spontan, di RSUP
Dr.Kariadi Semarang dan rumah Bidan praktek swasta (BPS), pada periode
waktu Agustus 2007 sampai dengan. Februari 2008. Hasil: Kadar Hb subyek
kelompok penjepitan dini: 13.4 s.d. 18.4g% dan penjepitan lanjut: 14.5 s.d.
20.1g%. Nuanpun Tanmoun, dkk melakukan penelitian di Departemen
Obstetri dan Ginekologi , Rumah Sakit Damnoen Saduak antara 25 Juli 2012
dan 15 Desember 2012 yang bertujuan membandingkan status hematologi
antara awal dan tertunda penjepitan tali pusat dan menentukan hasil yang
merugikan 48 jam setelah lahir. 148 bayi dipilih untuk penelitian ini. 72
secara acak menerima penjepitan tali pusat dini dan 76 tertunda penjepitan
tali pusat Pada awal kedua kelompok memiliki karakteristik demografi ibu
yang sama . Pada 48 jam setelah melahirkan, hemoglobin bayi secara statistik
signifikan lebih tinggi dalam penundaan penjepitan tali pusat dari penjepitan
tali pusat dini ( 17,8 g / dl pada penundaan pemotongan tali pusat dan 16,1 g /
dl pada pemotongan tali pusat dini, p < 0,001. Riksani (2012), Chaparo, dkk
(2006) dan saya sendiri memiliki pendapat yang sama bahwa penundaan
pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir dapat meningkatkan kadar
hemoglobin pada bayi sehingga dapat menurunkan resiko anemia pada bayi.
Saya melakukan studi pendahuluan pada 4 bayi baru lahir di BPS.Bidan X
dengan 2 bayi dilakukan pemotongan tali pusat dini dan 2 bayi dilakukan
penundaan pemotongan tali pusat, setelah 6 jam bayi dilakukan pemeriksaan
Hemoglobin dengan menggunakan HB Sahli. Hasil yang didapatkan yaitu :
13,3 dan 13,8 mg/dL pada pemotongan tali pusat dini, 14,5 dan 15,1 mg/dL
pada pemotongan tali pusat setelah 3 5 menit. Hal ini membuktikan bahwa
penundaan pemotongan tali pusat dapat menurunkan resiko anemia pada bayi
baru lahir.
b) Meningkatkan kadar hematokrit bayi
Selain meningkatkan kadar Hemoglobin (HB) pada bayi, penundaan
pemotongan tali pusat selama 180 detik juga dapat meningkatkan kadar
hematokrit pada bayi (Andersson,dkk, 2008). Sama dengan pendapat
Andersson (2008), Qodri (2007) melakukan penelitian pada bayi baru lahir
dengan melakukan penundaan pemotongan tali pusat dan pemotongan tali
pusat dini terhadap kadar hematokrit, didapatkan hasil kadar Ht bayi
penjepitan 15 detik: 37,6 s.d. 54,7% dan penjepitan 45 detik antara 41,6 s.d.
60,6%. Nuanpun Tanmoun, dkk (2012) juga melakukan penelitian terhadap
kadar hematologi bayi baru lahir yang dilakukan pemotongan tali pusat dini
dan penundaan pemotongan tali pusat. Didapatkan hasil terhadap kadar
hematokrit bayi mengalami kenaikan 54,5 % pada pemotongan tali pusat < 10
detik, dan 50,3 % pada pemotongan tali pusat > 120 detik, p < 0,001 Hal ini
menunjukan bahwa penundaan pemotongan tali pusat dapat meningkatkan
kadar hematokrit pada bayi baru lahir.
c) Mengurangi perdarahan postpartum pada ibu
Dengan menunggu sampai tali pusat berhenti berdenyut secara alami,
maka resiko anemia pada bayi dapat diturunkan serta dapat mengurangi
resiko perdarahan pada ibu (Andersson,dkk, 2008). Menurut Riksani (2012)
Penundaan pemotongan tali pusat dapat mengurangi resiko perdarahan pada
ibu pasca melahirkan.Walaupun masih sedikit bukti yang dapat menunjukan
bahwa penundaan pemotongan tali pusat dapat menurunkan resiko
perdarahan pada ibu pasca melahirkan.
d) Mengoptimalkan penyaluran oksigen ke bayi
Chaparo, dkk (2006) dalam penelitiannya di Meksiko.Juni 2006
sampai dengan Juni 2009. Mendapatkan hasil yaitu Penundaan pengikatan tali
pusat dari 2 menit dapat membantu mencegah kekurangan zat besi dari
berkembang pertumbuhan bayi selama 6 bulan pertama, sehingga dapat
mengoptimalkan penyaluran oksigen ke bayi
e) Meningkatkan bounding attachment
Selain dapat meningkatkan kadarhaemoglobin dan hematokrit pada
bayi, penundaan pemotongan tali pusat juga dapat meningkatkan bounding
attachment antara bayi dan ibu (Riksani, 2012)
f) Meningkatkan pertumbuhan otak bayi
Beberapa peneliti menemukan bahwa bayi yang dipotong tali
pusatnya sesegera mungkin memiliki kadar zat besi lebih rendah hingga
usianya mencapai 6 bulan. Walau waktunya tak lama, kekurangan zat besi
yang terjadi dapat mempengaruhi perkembangan otaknya. Walau waktunya
tak begitu lama, kekurangan zat besi yang terjadi dapat mempengaruhi
perkembangan otak bayi (Andersson,dkk, 2008). Berdasarkan berbagai
pendapat mengenai efek positif dari penundaan pemotongan tali pusat dari
berbagai sumber literatur dan referensi yang ada, maka dapat disimpulkan
bahwa penundaan pemotongan tali pusat memiliki banyak efek positif, seperti
: mencegah anemia pada bayi baru lahir, meningkatkan kadar hematokrit
bayi, mengurangi perdarahan postpartum pada ibu, mengoptimalkan
penyaluran oksigen ke bayi, meningkatkanbounding attachment antara ibu
dan bayi, serta dapat meningkatkan pertumbuhan otak bayi.
c. Efek Negatif Penundaan Pemotongan Tali Pusat
a) Hiperbilirubinemia
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tanmoun, dkk, di
Departemen Obstetri dan Ginekologi, Rumah Sakit Damnoen Saduak antara
25 Juli 2012 dan 15 Desember 2012 terhadap kadar hematologic bayi baru
lahir yang dilakukan pemotongan tali pusat dini dan penundaan pemotongan
tali pusat. Didapatkan terjadinya peningkatan terhadap kadar bilirubin dalam
darah bayi namun secara statistic tidak signifikan berpengaruh negatif
terhadap bayi yaitu 8,9 mg / dl pada penundaan pemotongan tali pusat dan 8,3
mg / dl pada pemotongan tali pusat dini, p = 0,21.
Menurut Riksani (2012) penundaan pemotongan tali pusat pada bayi
baru lahir tidak beresiko.Ikterus pada bayi baru lahir yang terjadi akibat
penundaan pemotongan tali pusat dapat mereda tanpa pengobatan hanya
dengan paparan sinar matahari sederhana. Pada analisis data yang dilakukan
oleh Eileen K. Hutton dan Eman S. Hassan pada Maret 2007, dari 8
percobaan dengan melibatkan 1009 neonatus tidak ditemukan adanya
peningkatan risiko terjadinya neonatal jaundice dalam 24 sampai 48 jam
pertama postnatal yang terkait dengan penundaan penjepitan tali pusat.
Namun pada 7 buah studi yang dilakukan oleh Rabe H, Reynolds G, dan
Diaz-Rosselo pada tahun 2007 yang melibatkan 297 neonatus, ditemukan
adanya peningkatan konsentrasi bilirubin pada neonates dengan penundaan
penjepitan tali pusat. Tetapi dari semua bayi yang mengalami peningkatan
bilirubin, hanya satu yang memerlukan terapi hiperbilirubinemia, sehingga
data tersebut tidak dapat digunakan untuk penarikan kesimpulan bahwa
peningkatan bilirubin tersebut membahayakan bayi.
Begitu juga yang ditulis pada penelitian dengan sistem randomized
controlled trial oleh Jose M. dan kawan-kawan tahun 2005, peningkatan
hematokrit darah vena yang terjadi pada neonatus dengan penundaan
penjepitan tali pusat selama 2-5 menit masih tergolong fisiologis dan dari
penelitian yang dilakukan tidak menunjukkan kemungkinan terjadinya risiko
yang berbahaya seperti resiko hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.
b) Policitemia
Penundaan pemotongan tali pusat juga memiliki efek negatif lain bagi
bayi selain hiperbilirubinemia. Tanmoun, dkk, melakukan penelitian di
Departemen Obstetri dan Ginekologi , Rumah Sakit Damnoen Saduak antara
25 Juli 2012 dan 15 Desember 2012 terhadap kadar hematologic bayi baru
lahir yang dilakukan pemotongan tali pusat dini dan penundaan pemotongan
tali pusat. Didapatkan terjadinya peningkatan terhadap kadar haemoglobin
pada bayi baru lahir yang dapat meningkatkan terjadinya policitemia namun
secara statistic juga tidak signifikan yaitu 0,65% pada penundaan pemotongan
tali pusat dan 0,48% pada pemotongan tali pusat dini, p = 0,25.
Begitu juga yang ditulis pada penelitian dengan sistem randomized
controlled trial oleh Jose M. dan kawan-kawan tahun 2005, peningkatan
hematokrit darah vena yang terjadi pada neonatus dengan penundaan
penjepitan tali pusat selama 2-5 menit masih tergolong fisiologis dan dari
penelitian yang dilakukan tidak menunjukkan kemungkinan terjadinya risiko
yang berbahaya seperti resiko polisitemia pada bayi baru lahir. Policitemia
pada bayi baru lahir yang terjadi akibat penundaan pemotongan tali pusat
dapat menurun tanpa pengobatan karena pada hari ke 5 7 secara fisiologis
bayi akan mengalami penurunan kadar Hemoglobin dalam darah, sehingga
pada keadaan ini policitemia tidak akan membahayakan keadaan bayi dan
akan hilang secara fisiologis (Riksani, 2012)

Dalam suatu penelitian yang penelitinya tidak disebutkan oleh WHO, review
meliputi 11 percobaan, meneliti perbedaan antara penjepitan dan pemotongan tali pusat
yang dini dan tertunda dalam hal resiko perdarahan postpartum. Tidak ada perbedaan
yang signifikan antara dua kelompok tersebut. Namun ada juga fakta yang menyebutkan
bahwa penjepitan tali pusat langsung atau segera setelah bayi lahir dapat meningkatkan
resiko perdarahan pasca melahirkan dan retensi plasenta dikarenakan oleh engorging
plasenta dengan darah bayi. Hal ini membuat lebih sulit bagi rahim berkontraksi dan
melepaskan plasenta. (Baston & Hall, 2012).
Terdapat berbagai pendapat yang berbeda mengenai waktu pengklemen tali pusat
yang tepat selama kala III persalinan. Pengkleman dini dilakukan pada 1-3 menit pertama
segera setelah kelahiran tanpa memeriksa apakah pulsasinya sudah berhenti atau belum.
Adapun efek dari dilakukannya pemotongan tali pusat segera ini adalah:
a. Tindakan ini dapat mengurangi volume darah yang kembali kejanin sebanyak 75-125
ml, terutama jika klem dilakukan dalam menit-menit pertama. Hal ini pada akhirnya
dapat menurunkan kadar haemoglobin neonatal dalam jangka pendek.
b. Hal ini dapat secara premature mengganggu fungsi pernafasan plasenta dalam
mempertahankan O2 dan melawan asidosis di masa awal kehidupan. Hal ini terutama
penting bagi bayi yang terlambat bernafas
c. Dapat menurunkan kadar bilirubin neonatal
d. Tindakan ini dapat meningkatkan kecenderungan tranfusi fetomaternal karena
volume darah yang lebih besar tertahan diplasenta. Tekanan vena semakin meningkat
dan retraksi semakin berlanjut; tekanan ini dapat cukup tinggi untuk menyebabkan
rupture pembuluh darah pada plasenta sehingga memfasilitasi transfer sel janin
kesistem maternatal; hal ini merupakan resiko bila kritis jika golongan darah ibu
adalah rhesus negatif.
e. Tindakan ini dapat menyebabkan pembuluh darah yang terpotong berisi sejumlah
bekuan darah, yang merupakan media ideal pertumbuhan bakteri (Fraser & Cooper,
2011).
Hasil penelitian Nuriah Arman, 2016 sesuai dengan penelitian lain. Pada tahun
2001, Judith dan Mercer meneliti efek penundaan penjepitan tali pusat. Penjepitan
ditunda 30-45 detik pada bayi prematur dan 3-10 menit pada bayi cukup bulan. Setelah
penjepitan ditunda, bayi cukup bulan dan prematur memiliki hematokrit yang lebih tinggi
pada usia 2 bulan dan kecenderungan peningkatan kadar feritin. Penelitian ini tidak
menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kadar bilirubin pada bayi cukup bulan
dan prematur dengan menunda penjepitan.
Berbagai anggapan bahwa penjepitan tali pusat tertunda dapat meningkatkan
tingkat polisitemia, polisitemia didefenisikan sebagai tingkat Ht lebih besar dari 65% dan
terjadi pada sekitar 2%-5% dari bayi cukup bulan. Penjepitan tertunda dapat
meningkatkan nilai hematokrit bayi karena terdapat volume darah tambahan. Perhatian
utama dengan polisitemia terkait dengan hiperviskositas darah yang dalam hal ini dapat
meningkatkan kadar bilirubin, tetapi aliran darah yang baik memungkinkan hati untuk
memproses bilirubin lebih efisien (Hutton EK, 2007)
Penelitian ini memberikan bukti yang meyakinkan bahwa menunda waktu
penjepitan tali pusat dapat meningkatkan status hematologi bayi pada 3 bulan pertama
kehidupan dan memperkaya simpanan besi hingga 6 bulan. Penelitian lain kemudian
membandingkan penundaan penjepitan (lebih dari 3 menit) dengan penjepitan segera
(kurang dari 10 detik), tidak ada perbedaan yang signifikan dalam polisitemia atau tingkat
bilirubin yang membutuhkan pengobatan pada kelompok penjepitan yang ditunda.
The Cochrane menjelajahi efek waktu tali pusat penjepit menunjukkan baik
manfaat dan bahaya untuk akhir penjepitan tali pusat (McDonald dan Middleton 2009).
Segera penjepitan tali pusat dikaitkan dengan mengurangi plasenta transfusi dan
menurunkan hemoglobin bayi. Setelah kelahiran, ada peningkatan yang signifikan pada
bayi perlu fototerapi untuk penyakit kuning disertai dengan peningkatan kadar
hemoglobin bayi dan tingkat serum feritin dalam beberapa bulan pertama kehidupan,
pada kelompok penjepitan akhir (McDonald dan Middleton 2009).
The Cochrane menjelajahi efek waktu tali pusat penjepit menunjukkan baik
manfaat dan bahaya untuk akhir penjepitan tali pusat (McDonald dan Middleton 2009).
Segera penjepitan tali pusat berhubungan dengan penurunan transfusi plasenta dan
menurunkan hemoglobin bayi. Setelah kelahiran, ada peningkatan yang signifikan pada
bayi membutuhkan fototerapi untuk penyakit kuning disertai dengan peningkatan kadar
hemoglobin bayi dan serum feritin dalam beberapa bulan pertama kehidupan, dalam
kelompok akhir penjepitan (McDonald dan Middleton 2008). Menanggapi bukti ini,
rekomendasi pedoman telah diubah untuk memasukkan tertunda penjepitan tali pusat
(Dewan Resusitasi 2011; RCOG 2009; WHO 2007).
Baru-baru ini Cochrane membandingkan manajemen aktif dan fisiologis (Begley
di al. 2011) menyimpulkan bahwa untuk 'semua' perempuan dalam studi (orang-orang di
rendah dan tinggi risiko perdarahan), manajemen aktif mengurangi pendarahan parah dan
anemia, tetapi meningkatkan darah tekanan, setelah nyeri, mual, muntah dan penggunaan
obat untuk menghilangkan rasa sakit di postnatal yang periode. Jumlah perempuan
kembali ke rumah sakit dengan pendarahan vagina meningkat dan ada pengurangan berat
lahir bayi yang baru lahir. Berat lahir rendah ini ini disebabkan hilangnya hingga 80 ml
darah bayi dipertahankan dalam plasenta karena awal penjepitan tali pusat (Farrar et al.
2009)..
Dari fakta yang dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa penundaan
pemotongan tali pusat perlu diadopsi dalam praktik kebidanan. Lotus birth merupakan
salah satu metode yang dapat memungkinkan penundaan pemotongan tali pusat
dilakukan meskipun masih kontroversi. Sebagai petugas kesehatan yang professional
perlu memahami tentang isu tersebut, sehingga dapat memberikan asuhan yang aman dan
sesuai dengan kebutuhan klien.

2) Lotus Birth
a. Pengertian Lotus Birth
Lotus Birth adalah proses persalinan pada kala III yang tidak langsung
dilakukan pemotongan tali pusat, tetapi dibiarkan tetap terhubung antara bayi dan
placenta hingga puput dengan sendirinya. Rata-rata tali pusat lepas dari perut bayi
sekitar 3-10 hari pasca persalinan.
Lotus birth meskipun tidak dianjurkan secara medis karena belum ada
bukti ilmiahnya, namun menjadi tren diantara ibu-ibu yang ingin melahirkan
terutama home birth. Bukti ilmiah memang belum ditemukan informasinya,
namun dapat ditemukan dalam penuturan para ibu yang telah melahirkan dan di
publis secara online dapat juga dalam berbagai buku yang telah ditulis oleh
mereka yang telah berpengalaman sebagai praktisi kesehatan maupun di tulis oleh
ibu bersalin itu sendiri (Djami,2012).

b. Sejarah Lotus Birth


Lotus Birth pertama kali dirintis di Negara Amerika Serikat. Meskipun
demikian, praktik ini sebenarnya sudah ada dalam budaya Bali, Aborigin
Australia. Sumber lain mengatakan bahwa praktik ini dimulai dengan Claire Day
yang sadar akan karya Jane Goodall seorang primatology mengamati proses
persalinan simpanse. Dia mencatat bahwa simpanse istirahat dan bergerak naik
turun di pohon-pohon dengan bayi mereka beserta plasenta yang tetap melekat
pada bayi hingga puput secara alami.
Claire menyadari ini adalah sikap makluk sosial, hewan yang cinta damai
dan tetap terhubung bersama-sama. Dia juga membaca banyak tulisan yang
menunjukkan bahwa banyak orang suci, seperti kisah Buddha dan Kristus tidak
diceritakan memotong tali pusat mereka saat dilahirkan. Claire menyimpulkan
bahwa memotong tali pusat adalah traumatis bagi bayi, dan bahwa kita sebagai
manusia akan menghabiskan terlalu banyak tahun mencoba untuk pulih dari ini.
Dr. Sarah Buckley, ibu dari 3 anak dengan metode persalinan Lotus Birth
mengatakan bahwa ketika tali pusat dipotong, akan menyebabkan stress pada bayi
sehingga bayi menjadi trauma. Meskipun tali pusat pada dasarnya adalah bukan
organ yang hidup, namun sebenarnya masih terjadi komunikasi dengan bayi.
Informasi mengenai Lotus birth ini juga terdapat dalam ajaran Budha, Hindu,
Kristen serta Yahudi. Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah "kelahiran teratai"
digunakan untuk menggambarkan para guru spiritual seperti Buddha Gautama dan
Padmasambhava (Lien Sen-hua). Kelahiran teratai juga ditemukan dalam
Hinduisme, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu. Di Indonesia dr. I. Nyoman
Hariyasa Sanjaya dalam seminar tentang Lotus Birth di Malang mengatakan
bahwa kalau pohon saja, dengan sendirinya menggugurkan daunnya,
mengapa kita memaksanya dengan cara memetik daunnya? Nah begitulah
sama halnya dengan Plasenta. Kalau tali pusat saja, bisa terlepas dengan
sendirinyamengapa kita harus mengklem/memotongnya Praktik
persalinan dengan Lotus birth telah dipraktikan oleh beberapa praktisi khususnya
bidan di tanah air diantaranya ibu Robin Lim di Bali, namun dari informasi yang
penulis dapatkan, preferensi untuk persalinan dengan metode Lotus Birth masih
sangat jarang sekitar 2-3 persalinan setiap bulannya (Djami, 2012).
c. Langkah-Langkah Dalam Proses Lotus Birth
Prosedur pertolongan persalinan dengan metode Lotus Birth adalah sebagai
berikut (Orbe, 2009):
1. Ketika bayi lahir , biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat melingkari leher
bayi, cukup di keluarkan melalui kepala.
2. Tunggu kelahiran placenta secara alamiah. Jangan gunakan oksitosin kaerena
oksitosin akan memaksa darah terlalu banyak terlalu cepat ke bayi dan
kompromi plasenta .
3. Ketika plasenta lahir, tempatkan ke dalam mangkuk bersihdi samping ibu .
4. Tunggu transfusi melalui tali pusat ke bayi sebelum menangani plasenta .
5. Basuhlah plasenta dengan air hangat dan keringkan .
6. Tempatkan plasenta ke dalam saringan saringan selama 24 jam untuk
memungkinkan drainase .
7. Bungkus plasenta dalam bahan penyerap, popok atau kain dan dimasukkan ke
dalam kantong plasenta. Ganti pembungkusnya setiap hari atau lebih sering
jika terjadi rembesan.Plasenta dapat diletakkan di tempat tidur yang telah
ditaburi garam laut (yang diganti setiap hari ) dapat pula dengan herbal yang
mengandung Echinacea, Calendula dan Arnica serta minyak Lavender .
d. Manfaat Lotus Brith
Manfaat dilakukannya lotus brith diantaranya (Djami, 2012) :
1. Tali pusat dibiarkan terus berdenyut sehingga memungkinkan terjadinya
perpanjangan aliran darah ibu ke janin
2. Oksigen vital yang melalui tali pusat dapat sampai ke bayi sebelum bayi
benar-benar dapat mulai bernafas sendiri
3. Lotus birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera setelah
lahir
4. Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan
terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment
5. Dr. Sarah Buckley mengatakan : bayi akan menerima tambahan 50-100ml
darah yang dikenal sebagai tranfusi placenta. Darah tranfusi ini mengandung
zat besi, sel darah merah, keping darah dan bahan gizi lain, yang akan
bermanfaat bagi bayi sampai tahun pertama.
e. Kerugian Lotus Birth
1. Rentan terjadi infeksi karena port de entry antara tali placenta, tali pusat dan
bayi masih ada. Namun pilihan untuk menggunakan metode ini adalah hak
ibu dan keluarga sehingga efek samping jika terjadi komplikasi seperti infeksi
merupakan tanggung jawab ibu dan keluarga.13
2. Tidak bisa diterapkan pada semua seting pelayanan karena terbatas oleh
keyakinan, budaya dan kebijakan serta bukti ilmiah.
3. Membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai dan SDM yang kompeten.
4. Perlu hati-hati dalam merawat bayi, tali pusat dan plasenta sebelum puput
agar tidak infeksi, tidak berbau dan tidak putus karena tindakan yang tidak di
sengaja karena terburu-buru atau tidak hati.
f. Alasan Memilih Lotus Birth
Beberapa alasan seorang ibu menentukan Lotus birth sebagai pilihan antara lain
(Ayuwinda, 2012) :
1. Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara
memotong tali pusat
2. Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang
memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu
yang tepat.
3. Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.
4. Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum
sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.
5. Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi.
Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga
plasenta telah lepas.
6. Alasan rohani atau emosional.
7. Tradisi budaya yang harus dilakukan.
8. Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali
pusat.
9. Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka
membutuhkan waktu untuk penyembuhan sedangkan jika tidak ada luka,
waktu penyembuhan akan minimal).

Secara medis hal ini tidak terbukti kebenarannya, bahkan jelas diketahui
bahwa ari ari atau plasenta yg berfungsi mengantarkan nutrisi dan oksigen dari ibu ke
janin saat berada didalam kandungan, tetapi bila dia sudah diluar rahim maka
plasenta ini sudah tdk berfungsi lagi. Dari penelitian Royal College Obstetric and
Gynecologist ( RCOG) dikatakan bahwa tdk ada bukti ilmiah yg mendukung bahwa
metode lotus birth dengan membiarkan ari ari berhari hari itu bermanfaat untuk bayi
yg sudah lahir, malah cenderung hal ini akan meningkatkan angka kejadian infeksi
karena ari ari ini merupakan jaringan mati bila sudah diluar kandungan.
Jelas tampak bahwa Lotus Birth ini adalah masalah kepercayaan yg tidak
terbukti secara ilmiah dan medis. Jadi bila dikatakan bahwa hal ini bisa membuat
bayi anda tidak anemia itu tidaklah benar, apa buktinya? Buktinya sejak dahulu kala
tdk ada bayi anemia setelah dipotong tali pusatnya.
Yang bisa dilakukan sekarang adalah Delayed Clamping atau penundaan
pemotongan tali pusat, itupun tidak lama dilakukan, dari banyak penelitian dikatakan
bahwa penundaan selama 1-3 menit terbukti dapat meningkatkan hemoglobin ( kadar
sel darah merah), hematokrit dan ferritin ( zat besi) pada bayi baru lahir. Bahkan
sebenarnya hal ini lebih bermanfaat pada bayi bayi yang lahir prematur ( dibawah 37
minggu) karena terbukti dapat meningkatkan hemoglobin dan ferritin dalam darah
bayi. Jadi menunda pemotongan tali pusat juga tidaklah perlu berlama lama cukup 1-
3 menit untuk mencegah anemia pada bayi, bukan berjam jam atau bahkan berhari
hari. Hal ini sudah dilakukan oleh banyak praktisi medis sambil IMD bayi diletakkan
di dada ibu sambil di bersihkan dan dihangatkan baru kemudian tali pusat di klem
dan dipotong dengan syarat keadaan ibu dan bayi bayi (http://www.lihatsantai.com).
Sedangkan Berdasarkan penelitian Lia Ratnasari, 2013 tentang Pengaruh
Persalinan Lotus Birth Terhadap Lama Pelepasan Plasenta, Lama Pelepasan Tali
Pusat Dan Keberhasilan Bounding Attachment didapatkan hasil Lama pelepasan
plasenta dengan metode Lotus Birth paling cepat 4 menit dan paling lama 14 menit
dengan rata-rata pelepasan plasenta sebesar 8,8 menit. Lama pelepasan plasenta
dengan metode Konvensional paling cepat 8 menit dan paling lama 15 menit dengan
rata-rata pelepasan plasenta sebesar 11 menit. Pelepasan plasenta pada metode Lotus
Birth lebih cepat dibandingkan dengan metode Konvensional jika dilihat dari ratarata
kedua kelompok.
Pada Lama pelepasan tali pusat dengan metode Lotus Birth paling cepat 3
hari dan paling lama 6 hari dengan rata-rata pelepasan tali pusat sebesar 4,67 hari (4
hari, 16 jam). Lama pelepasan tali pusat dengan metode Konvensional paling cepat 4
hari dan paling lama 7 hari dengan rata-rata pelepasan tali pusat sebesar 5,47 hari (5
hari, 11 jam). Pelepasan plasenta pada metode Lotus Birth lebih cepat dibandingkan
dengan metode Konvensional jika dilihat dari ratarata kedua kelompok.
Sedangkan pada Keberhasilan Bounding Attachment pada metode Lotus Birth
dengan rata-rata 9,89. Keberhasilan Bounding Attachment pada metode
Konvensional dengan rata-rata 7,45. Keberhasilan Bounding Attachment pada
metode Lotus Birth lebih baik dibandingkan dengan metode Konvensional jika
dilihat dari rata-rata kedua kelompok.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Evidence Based Midwifery (Practice)

Evidence Based Midwifery (EBM) didirikan untuk membantu mengembangkan


kekuatan profesional dan ilmiah dasar untuk pertumbuhan tubuh bidan berorientasi
akademis. RCM Bidan Jurnal telah dipublikasikan dalam satu bentuk sejak 1887 (Rivers,
1987), dan telah lama berisi bukti yang telah menyumbang untuk kebidanan pengetahuan
dan praktik . Pada awal abad ini, peningkatan jumlah bidan terlibat dalam penelitian, dan
dalam membuka kedua atas dan mengeksploitasi baru kesempatan untuk kemajuan
akademik.

Evidence Based Midwifery (EBM) secara resmi diluncurkan sebagai sebuah jurnal
mandiri untuk penelitian murni bukti pada konferensi tahunan di RCM Harrogate, Inggris
pada tahun 2003 (Hemmings et al, 2003). Hal ini dirancang untuk membantu bidan dalam
mendorong kemajuan yang terikat pengetahuan kebidanan dengan tujuan utama
meningkatkan perawatan untuk ibu dan bayi (Silverton, 2003).

EBM mengakui nilai yang berbeda jenis bukti harus berkontribusi pada praktik dan
profesi kebidanan. Jurnal kualitatif mencakup aktif serta sebagai penelitian kuantitatif,
analisis filosofis dan konsep serta tinjauan pustaka terstruktur, tinjauan sistematis, kohort
studi, terstruktur, logis dan transparan, sehingga bidan benar dapat menilai arti dan implikasi
untuk praktek, pendidikan dan penelitian lebih lanjut.

B. Asuhan Persalinan Normal

Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi
pada kehamilan cukup bulan (37 - 42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang
kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin
(Saifuddin,10). Persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara
spontan, berisiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama proses persalinan.
Bayi dilahirkan secara spontan dalam presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara
37 hingga 42 minggu lengkap. Setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi
sehat. Di dalam asuhan Persalinan terdapat lima aspek disebut juga sebagai lima benang
merah yang perlu mendapatkan perhatian, ke lima aspek tersebut yaitu:

1. Aspek Pemecahan Masalah yang diperlukan untuk menentukan Pengambilan


Keputusan Klinik (Clinical Decision Making).
2. Aspek Sayang Ibu yang Berarti sayang Bayi
3. Aspek Pencegahan Infeksi
4. Aspek Pencatatan (Dokumentasi)
5. Aspek Rujukan
C. Contoh EBM Pada Asuhan Persalinan

Tingginya angka kematian ibu Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan
kematian ibu tersebut sebenarnya dapat dicegah. Melalui upaya pencegahan yang efektif,
beberapa negara berkembang dan hampir semua negara maju, berhasil menurunkan angka
kesakitan dan kematian ibu ke tingkat yang sangat rendah. Berdasarkan data SDKI, selama
periode tahun 1991- 2007 angka kematian ibu mengalami penurunan dari 390 menjadi 228
per 100.000 KH. Namun pada SDKI 2012 angka kematian ibu mengalami peningkatan
kembali menjadi 359 per 100.000 KH. Asuhan Kesehatan Ibu selama dua dasawarsa terakhir
terfokus pada:

1. Keluarga Berencana
Membantu para ibu dan suaminya merencanakan kehamilan yang diinginkan
2. Asuhan Antenatal Terfokus (refocusing antenatal)
Memantau perkembangan kehamilan, mengenali gejala dan tanda bahaya,
menyiapkan persalinan dan kesediaan menghadapi komplikasi
3. Asuhan Pascakeguguran
Menatalaksanakan gawat-darurat keguguran dan komplikasinya serta tanggap
terhadap kebutuhan pelayanan kesehatan reproduksi lainnya
4. Persalinan yang Bersih dan Aman serta Pencegahan Komplikasi
Kajian dan bukti ilmiah menunjukkan bahwa asuhan persalinan bersih, aman dan
tepat waktu merupakan salah satu upaya efektif untuk mencegah terjadinya
kesakitan dan kematian.
Berdasarkan buku evidence based guidlines yang diambil dari jurnal cochrane
dengan tingkatan sumber jurnal meta analysis bahwa :
Perineal massage before labor is associated with a significantly higher chance of
intact perineum compared with no massage in nulliparous women. Perineal
massage and stertching of the perineum with a water-soluble lubricant in the
second stage of labor is associated with similar rates of intact perineum
compared with the control group, with decreased incidence of third-degree
lacerations (vincenzo berghella, evidence based guidlines, 2007).
Pijat atau peregangan perineum sangat baik dilakukan untuk merileksasikan otot
perineum sehingga saat proses persalinan pembukaan akan berjalan dengan
lancar. Pijat perineum sebelum persalinan dapat dilakukan dengan minyak
almond selama 5-10 menit perhari dalam 34 minggu hingga proses persalinan.
(vincenzo berghella, 2007)
5. Penatalaksanaan Komplikasi yang terjadi sebelum, selama dan setelahpersalinan.
(buku saku pelayanan kesehatan ibu dan anak, WHO 2013)
Dalam upaya menurunkan kesakitan dan kematian ibu, perlu diantisipasi adanya
keterbatasan kemampuan untuk menatalaksana komplikasi pada jenjang
pelayanan tertentu. Kompetensi petugas, pengenalan jenis komplikasi, dan
ketersediaan sarana pertolongan menjadi penentu bagi keberhasilan
penatalaksanaan komplikasi yang umumnya akan selalu berbeda menurut derajat,
keadaan dan tempat terjadinya

Fokus asuhan persalinan normal adalah persalinan bersih dan aman serta mencegah
terjadinya komplikasi. Hal ini merupakan pergeseran paradigma dari menunggu terjadinya
dan kemudian menangani komplikasi, menjadi pencegahan komplikasi. Persalinan bersih
dan aman serta pencegahan komplikasi selama dan pascapersalinan terbukti mampu
mengurangi kesakitan atau kematian ibu dan bayi baru lahir. Beberapa contoh dibawah ini,
menunjukkan adanya pergeseran paradigma tersebut diatas:
1. Mencegah Perdarahan Pascapersalinan yang disebabkan oleh Atonia Uteri
Upaya pencegahan perdarahan pascapersalinan dimulai pada tahap yang
paling dini. Setiap pertolongan persalinan harus menerapkan upaya pencegahan
perdarahan pascapersalinan, diantaranya manipulasi minimal proses persalinan,
penatalaksanaan aktif kala III, pengamatan melekat kontraksi uterus
pascapersalinan. Upaya rujukan obstetrik dimulai dari pengenalan dini
terhadap persalinan patologis dan dilakukan saat ibu masih dalam kondisi yang
optimal.
2. Laserasi/episiotomi
Dengan paradigma pencegahan, episiotomi tidak lagi dilakukan secara
rutin karena dengan perasat khusus, penolong persalinan akan mengatur ekspulsi
kepala, bahu, dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau hanya terjadi
robekan minimal pada perineum.
Routine episiotomy should not be performed, as restricting episiotomy use
is associated with less posterior perineal trauma, less suturing and fewer healing
complication (vincenzo berghella, evidence based guidlines, 2007). Episiotomi
yang rutin dilakukan tidak dianjurkan lagi karena dapat mengakibatkan trauma
perineum, penjahitan dan penyembuhan luka yang lama. Jika persalinan belum
membutuhkan tindakan episiotomi, sebaiknya tidak perlu dilakukan. (carolli G,
2007)
3. Retensio plasenta
Penatalaksanaan aktif kala tiga dilakukan untuk mencegah perdarahan,
mempercepat proses separasi dan melahirkan plasenta dengan pemberian
uterotonika segera setelah bayi lahir dan melakukan penegangan tali pusat
terkendali.
4. Partus Lama
Untuk mencegah partus lama, asuhan persalinan normal mengandalkan
penggunaan partograf untuk memantau kondisi ibu dan janin serta kemajuan
proses persalinan. Dukungan suami atau kerabat, diharapkan dapat memberikan
rasa tenang dan aman selama proses persalinanberlangsung. Pendampingan ini
diharapkan dapat mendukung kelancaran proses persalinan, menjalin
kebersamaan, berbagi tanggung jawab diantara penolong dan keluarga klien
5. Asfiksia Bayi Baru Lahir
Pencegahan asfiksia pada bayi baru lahir dilakukan melalui upaya
pengenalan/penanganan sedini mungkin, misalnya dengan memantau secara baik
dan teratur denyut jantung bayi selama proses persalinan, mengatur posisi tubuh
untuk memberi rasa nyaman bagi ibu dan mencegah gangguan sirkulasi utero-
plasenter terhadap bayi, teknik meneran dan bernapas yang menguntungkan bagi
ibu dan bayi.
(pubdiknakes ,2003)
Bila terjadi asfiksia, dilakukan upaya untuk menjaga agar tubuh bayi tetap
hangat, menempatkan bayi dalam posisi yang tepat, penghisapan lendir secara
benar, memberikan rangsangan taktil dan melakukan pernapasan buatan (bila
perlu). Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk mencegah asfiksia, memberikan
pertolongan secara tepat dan adekuat bila terjadi asfiksia dan mencegah
hipotermia.
6. Asuhan Sayang Ibu dan Bayi sebagai kebutuhan dasar persalinan
Asuhan sayang ibu adalah asuhan dengan prinsip saling menghargai
budaya, kepercayaan dan keinginan sang ibu. Salah satu prinsip dasarnya adalah
mengikutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran
bayi.
Perhatian dan dukungan kepada ibu selama proses persalinan akan
mendapatkan rasa aman dan keluaran yang lebih baik. Juga mengurangi
jumlah persalinan dengan tindakan (ekstraksi vakum, cunam dan seksio sesar)
dan persalinan akan berlangsung lebih cepat. (pubdiknakes ,2003)
Asuhan sayang ibu dalam proses persalinan :
a. Memanggil ibu sesuai namanya, menghargai dan memperlakukannya
sesuai martabatnya.
b. Menjelaskan asuhan dan perawatan yang akan diberikan pada ibu
sebelummemulai asuhan tersebut.
c. Menjelaskan proses persalinan kepada ibu dan keluarganya.
d. Mengajurkan ibu untuk bertanya dan membicarakan rasa takut atau
kuatir.
e. Mendengarkan dan menanggapi pertanyaan dan kekhawatiran ibu.
f. Memberikan dukungan, membesarkan hatinya dan menenteramkan
perasaan ibubeserta anggota keluarga yang lain.
g. Menganjurkan ibu untuk ditemani suaminya dan/atau anggota keluarga
yang lainselama persalinan dan kelahiran bayinya.
h. Mengajarkan suami dan anggota keluarga mengenai cara
memperhatikan danmendukung ibu selama persalinan dan kelahiran
bayinya.
i. Melakukan pencegahan infeksi yang baik secara konsisten.
j. Menghargai privasi ibu.
k. Menganjurkan ibu untuk mencoba berbagai posisi
selama persalinan dan kelahiran bayi.
l. Menganjurkan ibu untuk minum cairan dan makan makanan ringan
bila iamenginginkannya.
m. Menghargai dan membolehkan praktek-praktek tradisional yang tidak
memberipengaruh yang merugikan.
n. Menghindari tindakan berlebihan dan mungkin membahayakan
(episiotomi,pencukuran, dan klisma).
o. Menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya segera setelah lahir.
p. Membantu memulai pemberian ASI dalam 1 jam pertama setelah
kelahiran bayi.
q. Menyiapkan rencana rujukan (bila perlu).
r. Mempersiapkan persalinan dan kelahiran bayi dengan baik, bahan-
bahan,perlengkapan dan obat-obatan yang diperlukan. Siap melakukan
resusitasi bayibaru lahir pada setiap kelahiran bayi.
(pubdiknakes, 2003)

Tabel 1 contoh EBM INC & PNC

KEBIASAAN KETERANGAN
Tampon Vagina Tampon vagina menyerap darah tetapi tidak
menghentikan perdarahan, bahkan perdarahan
tetap terjadi dan dapat menyebabkan infeksi.
Gurita atau sejenisnya Selama 2 jam pertama atau selanjutnya
penggunaan gurita akan menyebabkan
kesulitan pemantauan involusio rahim.
Memisahkan ibu dan bayi Bayi benar-benar siaga selama 2 jam pertama
setelah kelahiran. Ini merupakan waktu yang
tepat untuk melakukan kontak kulit ke kulit
untuk mempererat bonding attachment serta
keberhasilan pemberian ASI.
Menduduki sesuatu yang panas Duduk diatas bara yang panas dapat
menyebabkan vasodilatasi, menurunkan
tekanan darah ibu dan menambah perdarahan
serta menyebabkan dehidrasi.
Review dari Cochrane menginformasikan bahwa epidural tidak hanya menghilangkan
nyeri persalinan, namun seperti tindakan medikal lainnya berdampak pada
perpanjangan persalinan, peningkatan penggunaan oksitosin, peningkatan persalinan
dengan tindakan seperti forcep atau vakum ekstraksi, dan tindakan seksio sesarea
karena kegagalan putaran paksi dalam, resiko robekan hingga tingkat 3-4 dan lebih
banyak membutuhkan tindakan episiotomy pada nulipara. (rock JP, 2000)
Studi lain tentang sentuhan persalinan membuktikan bahwa dengan sentuhan
persalinan 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea, pengurangan
penggunaan anestesi epidural hingga 85%, 70 % lebih sedikit kelahiran dibantu
forceps, 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih
pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap. (Field, dkk. Labor
pain in reduced by massage therapy. 1997)
Menyusui secara esklusif dapat meingkatkan gerakan peristaltik ibu sehingga
mencegah konstipasi ibu. Ibu yang menyusui secara eksklusif akan lebih sedikit yang
konstipasi. (Worhtington, williams. Nutrition throught the life cycle. 4 ed. Singapore
:McGraw Hill International Ed, 2000)