Anda di halaman 1dari 32

Kedokteran Keluarga

TB MDR

Disusun oleh:

FANYTHA LIBRA KARMILA


1610029003

Pembimbing:
dr. M. Khairul, M.Kes
drg. Aprillia Lailatul
dr. Sitti Nuriyatus Zahrah, M.K.N.
dr. Tiara

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MULAWARMAN
PUSKESMAS SEMPAJA
SAMARINDA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis.1,2 Organ yang paling sering diserang TB adalah
paru (pulmonary tuberculosis) tetapi TB juga dapat menyerang organ lain yang
disebut TB ekstra paru (extrapulmonary tuberculosis).3

Pada tahun 2013 diperkirakan 9 juta orang di dunia menderita TB


dengan angka kematian sebanyak 1,5 juta.2 Indonesia sendiri merupakan
negara dengan pasien tuberkulosis terbanyak ke-3 di dunia dengan prevalensi 10%
setelah India (30%) dan Cina (15%).4

Pada tahun 2013 angka prevalensi TB di Indonesia adalah 0.4% dari


jumlah penduduk yaitu 400 orang per 100.000 penduduk. Tuberculosis Multidrug
Resistance (TB-MDR) merupakan salah satu jenis TB yang resisten terhadap
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sekurangnya dua OAT yang paling ampuh
yaitu rifampisin dan isoniazid.5

Pada tahun 2013 WHO memperkirakan terdapat 480.000 kasus TB-MDR


dengan angka kematian 210.000.2 Pada tahun 2013 WHO memperkirakan
terdapat 6800 kasus baru TB MDR di Indonesia setaip tahunnya. Diperkirakan 2%
dari kasus TB baru dan 12% dari kasus TB pengobatan ulang merupakan kasus
TB MDS.4

Resistensi terhadap OAT sangat erat hubungannya dengan pengobatan


sebelumnya. Pasien TB yang sudah mendapatkan pengobatan memiliki
kemungkinan 4 kali lebih tinggi untuk terjadi resistensi dan 10 kali lipat
terjadinya TB-MDR. Kasus TB-MDR merupakan kasus yang sulit untuk
ditangani karena efek samping yang lebih banyak, biaya yang lebih besar
dan hasil yang kurang memuaskan.6

Pengobatan untuk penderita TB-MDR juga memerlukan waktu yang lama


yaitu sekitar 19-24 bulan dengan obat suntik selama minimal 4-6 bulan.4

2
BAB II
LAPORAN KASUS

Anamnesis dilakukan di rumah pasien pada tanggal 16 November 2017, secara


autoanamnesis.

2.1 Anamnesis
a) Identitas
Nama : Ny. F
Usia : 48 tahun (DOB 10 Sep 1969)
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Gg Warga RT 24 No 42, Samarinda
Status : Cerai mati
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga (IRT)
Suku : Banjar
Agama : Islam

b) Identitas Suami
Nama : Tn. S (alm)

c) Keluhan Utama:
Badan terasa lemas

d) Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merupakan pasien Puskesmas Sempaja sejak tahun 2015,
datang dengan keluhan batuk sejak 3 minggu dengan penurunan berat
badan lalu dipuskesmas dilakukan pemeriksaan dahak SPS dan
didapatakan hasil BTA TB positif pada 3 pemeriksaan dahak tersebut,
sehingga dilakukan pengobatan TB dengan lini 1 selama 6 bulan, setelah 2
bulan pengobatan dilakukan pemeriksaan dahak lagi dan didapatkan hasil
BTA positif kemudian dilanjutkan pengobatan bulan ke 3 hingga bulan ke 5

3
diperiksa sputum lagi namun dahak tetap positif sehingga pasien di rujuk
ke poli TB di RS AWS, di RS AWS pasien dilakukan pemerikaan Gen
Expert untuk TB MDR dengan menunggu hasil selama 5 bulan, selama
menunggu pasien berobat ke RS Islam dengan keluhan batuk dan
penurunan berat badan, di RS Islam pasien mendapatkan pengobatan TB
lini 1 selama 6 bulan setelah itu pasien kembali ke AWS untuk mengambil
hasil pemeriksaan sebelumnya dan pasien di diagnosis dengan TB MDR
dan dirawat inap diruang tulip selama 1 bulan, lalu pasien dikembalikan ke
puskesmas sempaja untuk melanjutkan terapi TB MDR.

e) Riwayat Penyakit Dahulu


Pada tahun 2014 pasien memiliki keluhan batuk 2 minggu, keringat malam
dan penurunan berat badan lalu berobat ke dokter praktek dan menjalani
pengobatan selama 3 bulan
Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi, diabetes melitus, asma, alergi,
maupun penyakit jantung.

f) Riwayat Penyakit Keluarga


Suami meninggal 5 tahun yang lalu dengan keluhan serupa, dan sempat
menjalani pengobatan selama 6 bulan

g) Riwayat Pengobatan
Pada tahun 2014 didiagnosis TB paru dan berobat selama 3 bulan di dokter
praktek
Pada awal tahun 2015 didiagnosis TB paru dan berobat selama 5 bulan di
puskesmas sempaja
Pada tahun 2016 didiagnosis TB paru dan berobat selama 6 bulan RS Islam

h) Riwayat Kebiasaan dan Psikososial


Pasien tinggal bersama seorang anak, dan terkadang ditemani oleh ibu
pasien . Pasien sehari-hari menjalani aktivitas di rumah sebagai ibu rumah
tangga. Kebiasaan makan 3 kali dalam sehari dengan porsi sedang. Pasien

4
tidak pernah berolahraga, dikarenakan kondisi tubuh pasien yang lemas.
Pasien tidak merokok, tidak minum minuman beralkohol, dan tidak
menggunakan obat-obatan terlarang.

i) Genogram

2.2 Pemeriksaan Fisik


A. Antropometri
Berat badan : 50 kg
Tinggi badan : 156 cm
B. Keadaan Umum : Sakit sedang
C. Kesadaran : Komposmentis (GCS 15 E4V5M6)
D. Tanda-Tanda Vital
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Frekuensi nadi : 88 kali/menit, reguler, adekuat
Frekuensi nafas : 22 kali/menit, reguler
Suhu : 36.8 0C per axiller

5
E. Status Generalisata
Kepala : Normocephal, rambut hitam lurus
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Telinga : Tidak ditemukan kelainan
Hidung : Tidak ditemukan kelainan
Tenggorok : Hiperemis (-), candidiasis (-), stomatitis (-)
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
Thoraks
- Pulmo
Inspeksi : Bentuk dada dan pergerakan nafas simetris
Palpasi : Fremitus raba dextra=sinistra
Perkusi : Sonor di seluruh lapangan paru
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
- Cor
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas kanan sepanjang parasternal line dextra
Batas kiri pada ICS V midclavicular line sinistra
Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Cembung, membesar arah memanjang, linea nigra
ada, striae albicans ada, scar bekas operasi tidak
ada
Auskultasi : Bising usus normal
Perkusi : Timpani pada keempat kuadran abdomen
Palpasi : Soefl, hepar dan lien tidak teraba, tidak ada nyeri
tekan, yang lain lihat status pemeriksaan obstetrik
Ekstremitas
- Superior : Akral hangat, CRT<2 detik, edema (-/-)
- Inferior : Akral hangat, CRT<2 detik, edema (-/-)

6
2.3 Pemeriksaan Penunjang
2015
Rontgen Thorax: KP Duplex lama aktif
Agustus 2015 (2 bulan pengobatan kategori 1)
BTA PS: 3+/2+
Desember 2015 (5 bulan pengobatan kategori 1)
BTA PS: 2+/negatif
Oktober 2016 (8 bulan pengobatan kategori 2 )
TB MDR (+)
Oktober 2017 (2 bulan pengobatan TB MDR)
Negatif/scanty 2/scanty 2

2.4 Diagnosis
TB MDR

2.5 Penatalaksanaan

- Non medikamentosa
Edukasi tentang infeksi yang di derita pasien.
Edukasi mengenai pencegahan penularan kepada anggota keluarga
dirumah
Edukasi cara minum obat dan motivasi minum obat serta injeksi obat
teratur
Edukasi dukungan keluarga
- Medikamentosa
Pirazinamid 1500mg
Etambutol 1200mg
Kanamisin 750mg
Levofloksasin 750mg
Etionamid 500mg
Sikloserin 500mg
Vitamin B6 100mg

7
2.6 Prognosis

Prognosis Ad Vitam : Dubia ad malam


Prognosis Ad Functionam : Dubia ad malam
Prognosis Ad Sanationam : Dubia ad malam

8
BAB III
ANALISIS KEDOKTERAN KELUARGA

3.1 Data Pasien

No Identitas pasien
1 Nama Tn. F
2. Umur 48 tahun
3. Jenis kelamin Perempuan
4. Status perkawinan Cerai mati
5. Agama Islam
6. Suku bangsa Banjar
7. Pendidikan Tamat SMP
8. Pekerjaan IRT
9. Alamat lengkap Gg Warga RT 24 No 42, Samarinda

3.2 Data Anggota Keluarga

Nama
Hub. Status Serumah
No Anggota Usia Pekerjaan
Keluarga Nikah
Keluarga Ya Tdk Kdg
1 Tn.S 46 th Almarhum Suami - - - -
2 Ny.M 23 th IRT Anak - - + -
3 An.I 18 th Pelajar Anak - + - -
4 An.D 7 th Pelajar Anak - - - -

3.3 Status Fisik, Sosial, Ekonomi, Keluarga dan Lingkungan

No Ekonomi Keluarga Keterangan


1 Luas tanah 12 x 8 meter
2 Luas bangunan 18 x 10 meter
3 Pembagian ruangan Rumah adalah rumah
pribadi, dinding terbuat dari
kayu, lantai terbuat dari
kayu dengan alas karpet,
terdiri dari, 1 ruang tamu, 2
kamar tidur, 1 dapur yang
merangkap ruang makan,

9
dan 1 WC yang jadi satu
dengan tempat mencuci
piring dan baju.
4 Besarnya daya listrik 450 watt
5 Tingkat pendapatan keluarga :
a. Pengeluaran rata-rata/bulan
Bahan makanan : Beras, lauk,
sayur, air minum Rp. 1.000.000,00
Di luar bahan makanan :
- Pendidikan -
- Kesehatan Rp. 50.000,00
- Listrik Rp.120.000,00
- Air Rp.100.000,00
- Lain-lain Rp.300.000,00
b. Penghasilan keluarga/bulan Rp. 2.000.000,00
No Perilaku Kesehatan Keterangan
1 Pelayanan promotif / preventif Puskesmas
2 Pemeliharaan kesehatan anggota Puskesmas /dokter / bidan
keluarga lain
3 Pelayanan pengobatan Puskesmas / dokter

4 Jaminan pemeliharaan kesehatan KIS


No Pola Makan Keluarga Keterangan
1 Pasien dan anggota keluarga Makan 3 kali sehari dengan
porsi sedang.
Menu : Nasi, sayur, lauk
(ikan, ayam, tempe), buah
(kadang-kadang).

No Aktivitas Pasien dan Keluarga Keterangan

1 Aktivitas fisik
A. Pasien Pasien bangun pagi pukul
05.30 sholat, mandi,

10
menonton TV dan
beristirahat.
2 Aktivitas mental Pasien melaksanakan shalat
5 waktu.

No Lingkungan Keterangan
1 Sosial Hubungan dengan
lingkungan sekitar baik,
semua tetangga saling
mengenal satu sama lain.
Namun pasien tidak pernah
ikut serta dalam kegiatan
kumpul-kumpul tetangga
seperti arisan dan pengajian.
2 Fisik/Biologik
Perumahan dan fasilitas Cukup
Luas tanah 10 x 9 meter
Luas bangunan 7 x 6 meter
Jenis dinding terbanyak Kayu
Jenis lantai terluas Kayu
Sumber penerangan utama Lampu listrik
Sarana MCK WC dan kamar mandi
terpisah.

Sarana Pembuangan Air Limbah Limbah dari kloset dibuang


di septic tank. Air cucian
piring dan baju dibuang
melalui pipa dari kamar
mandi ke selokan kecil di
belakang rumah pasien.

Sumber air sehari-hari Air PDAM


Sumber air minum Air galon isi ulang (dengan

11
dispenser)
Penampungan air Air dari tanki dialirkan
melalui pipa langsung ke
ember di kamar mandi
pasien
Pembuangan sampah Sampah dikumpulkan
menjadi satu plastik
kemudian dibuang ke
belakang rumah dan dibakar
3 Lingkungan kerja pasien Pasien tidak bekerja
sehingga hanya di rumah

PENILAIAN APGAR KELUARGA

Hampir
Hampir Kadang
tidak
Kriteria Pernyataan Selalu Kadang
pernah
(2) (1)
(0)
Adaptasi Saya puas dengan keluarga
saya karena masing-masing
anggota keluarga sudah
menjalankan peran sesuai
dengan seharusnya
Kemitraan Saya puas dengan keluarga
saya karena dapat membantu
memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dihadapi
Pertumbuhan Saya puas dengan kebebasan
yang diberikan keluarga saya
untuk mengembangkan
kemampuan yang saya miliki
Kasih sayang Saya puas dengan kehangatan
dan kasih sayang yang
diberikan keluarga saya

12
Kebersamaa Saya puas dengan waktu yang
n disediakan keluarga untuk
menjalin kebersamaan
Jumlah 3
Keterangan :
Total skor 8-10 = Fungsi keluarga sehat
Total skor 6-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
Total skor 5 = Fungsi keluarga sakit
Kesimpulan :
Nilai skor keluarga ini adalah 10, artinya keluarga ini menunjukan fungsi
keluarga sakit.

POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT KELUARGA

Jawaban
No Indikator Pertanyaan Keterangan
Ya Tdk
A. Perilaku Sehat
1 Tidak merokok
Tidak ada yang memiliki Pasien tidak pernah merokok.
kebiasaan merokok?

2 Persalinan
Di mana pasien bersalin? Pasien melahirkan dibidan

3 Imunisasi
Apakah bayi ibu sudah Anak pasien sudah
diimunisasi lengkap? mendapatkan imunisasi
lengkap.
4 Balita ditimbang
Apakah balita ibu sering Anak pasien ketika balita
ditimbang? Di mana? sering ditimbang di Posyandu
5 Sarapan pagi
Apakah seluruh anggota Pasien dan anak jarang

13
keluarga memiliki kebiasaan sarapan pagi.
sarapan pagi?
6 Dana sehat / Askes
Apakah pasien ikut menjadi Pasien merupakan peserta
peserta askes? BPJS
7 Cuci tangan
Apakah anggota keluarga Pasien dan suami selalu
mempunyai kebiasaan mencuci mencuci tangan dengan
tangan menggunakan sabun sabun sebelum makan dan
sebelum makan dan sesudah sesudah BAB
buang air besar?
8 Sikat gigi
Apakah anggota keluarga Pasien dan suami selalu
memiliki kebiasaan gosok gigi menggosok gigi
menggunakan pasta gigi? menggunakan pasta gigi 2
kali sehari yaitu setiap kali
mandi.
9 Aktivitas fisik / Olahraga
Apakah anggota keluarga Pasien dan anak jarang
melakukan olah raga teratur? berolahraga
B. Lingkungan Sehat
1 Jamban
Apakah di rumah tersedia Tersedia jamban jongkok di
jamban dan seluruh keluarga rumah dan pasien beserta
menggunakannya? suami menggunakannya.
2 Air bersih dan bebas jentik
Apakah di rumah tersedia air Di rumah menggunakan
bersih dengan tempat / tandon sumber air PDAM dan
air tidak ada jentik ? dialirkan melalui pipa
langsung ke ember di kamar
mandi pasien. Tidak ada
tempat penampungan air
yang berjentik.
3 Bebas sampah

14
Apakah di rumah tersedia Tersedia tempat sampah di
tempat sampah? Apakah di rumah. Rumah terlihat bersih
lingkungan sekitar rumah tidak dan tidak tampak sampah
ada sampah berserakan? berserakan di sekitar rumah.
4 SPAL
Apakah ada/tersedia SPAL di Limbah dari kloset dibuang
sekitar rumah? di septic tank. Air cucian
piring dan baju dibuang
melalui pipa dari kamar
mandi ke selokan kecil di
belakang rumah pasien.
5 Ventilasi
Apakah ada pertukaran udara di Ventilasi di ruang tamu,
dalam rumah? dapur cukup, namun kamar
tidur kurang

6 Kepadatan
Apakah ada kesesuaian luas Rumah cukup untuk 2 orang
rumah dengan jumlah anggota penghuni.
keluarga?
7 Lantai Seluruh lantai rumah terbuat
Apakah lantai bukan dari tanah? dari kayu. Lantai ruang tamu
dan kamar tidur dialasi
karpet.
C. Indikator Tambahan
1 ASI Eksklusif
Apakah ada bayi usia 0-6 bulan Anak pasien mendapat ASI
yang hanya mendapat ASI saja eksklusif sampai usia 6 bulan
sejak lahir sampai 6 bulan?
2 Konsumsi buah dan sayur Pasien anak rutin
Apakah dalam 1 minggu mengonsumsi sayur setiap
terakhir anggota keluarga hari namun jarang makan
mengkonsumsi buah dan sayur? buah

15
Jumlah 16 2

Klasifikasi
SEHAT I : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 1-5 pertanyaan (Merah)
SEHAT II : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 6-10 pertanyaan
(Kuning)
SEHAT III : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 11-15 pertanyaan (Hijau)
SEHAT IV : Dari 18 pertanyaan jawaban Ya antara 16-18 pertanyaan (Biru)
Kesimpulan
Dari 18 indikator yang ada, yang dapat dijawab Ya ada 17 pertanyaan yang
berarti identifikasi keluarga dilihat dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat masuk
dalam klasifikasi SEHAT IV.

RESUME FAKTOR RISIKO LINGKUNGAN KELUARGA

Faktor Risiko

Biologi Riwayat suami meninggal dengan keluhan serupa


Kehidupan sosial dengan sekitar tetangga cukup baik.
Rumah pasien cukup dekat dari sarana kesehatan namun karena kondisi
pasien lemas sehingga harus menunggu orang lain untuk mengantar ke
Psiko-Sosio-
puskesmas
Ekonomi
Pasien memiliki kartu jaminan kesehatan
Pasien tidak bekerja. Penghasilan bulanan dari pembayaran rumah sewa milik
pasien dan tabungan peninggalan suami
Higiene pribadi cukup.
Pasien meminum obat TB dan rutin ke puskesmas untuk injeksi antibiotik.
Perilaku
Pasien tidak melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum penyakitnya bertambah parah
Kesehatan
Pasien mengetahui tentang penyakitnya namun masih malas menjalani
pengobatan dengan sebaik-baiknya.
Pasien tidak pernah berolahraga sejak sakit, pasien sering dirumah dan
berbaring karena merasa lemas
Gaya Hidup
Pasien mengkonsumsi makanan 3-4x sehari dengan porsi sedikit

16
DIAGNOSIS KELUARGA (Resume Masalah Kesehatan)
Status Kesehatan dan Faktor Risiko (Individu, Keluarga, dan Komunitas)
1. Secara umum, pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat pada
pasien cukup baik dan penerapannya juga cukup baik.
2. Kategori PHBS masuk dalam sehat IV.
3. Status fungsi keluarga sakit.
4. Pengetahuan mengenai penularan dan pengobatan TB kurang yang terbukti
dari malasnya pasien menjalani pengobatan dan masih jarang menggunakan
masker saat dirumah dan kontak dengan keluarga.
5. Memiliki riwayat satu rumah dengan penderita TB
Status Upaya Kesehatan (Individu, Keluarga dan Komunitas)
1. Pasien memiliki jaminan kesehatan berupa BPJS
2. Pemeriksaan kesehatan dilakukan di Puskesmas, Praktek dokter, Rumah sakit
3. Pasien teratur minum obat
Status Lingkungan
1. Rumah tempat tinggal terlihat bersih dan tertata rapi, halaman depan rumah
dan samping rumah pasien bersih dan tidak ada sampah berserakan.
2. Ukuran luas rumah cukup memadai untuk menampung anggota keluarga dan
ventilasi cukup, kecuali ventilasi kamar
3. Hubungan dengan tetangga baik, saling mengenal satu sama lain.
4. Sanitasi dasar baik, tersedia air bersih dan sarana pembuangan air limbah.

Diagnosis Keluarga
Pasien Ny. F. Pasien merupakan pasien rawat jalan di Puskesmas Sempaja
yang didiagnosis dengan TB MDR. Secara umum keluarga ini memiliki
kesadaran PHBS yang baik dengan fungsi keluarga yang sakit. Keluarga ini
menempati rumah yang cukup sehat. Keluarga ini juga memiliki penerapan
hygiene pribadi dan sanitasi lingkungan yang cukup baik. Pengetahuan pasien
mengenai cara penularan dan pengobatan penyakitnya kurang. Pasien berobat
untuk penyakitnya secara rutin dan teratur namun masih sering merasa malas
minum obat.

17
RENCANA PENATALAKSANAAN MASALAH KESEHATAN
Masalah
No Penatalaksanaan
kesehatan
1. TB MDR Memberikan penjelasan bahwa ibu dapat menularkan
kuman TB kepada keluarga serumah dan tetangganya
Edukasi mengenai pentingnya melakukan pengobatan
TB MDR secara rutin dan teratur. Pasien juga diberi pengertian
untuk mengambil obat sesuai jadwal dan selalu membawa obat
setiap kali bepergian keluar rumah, juga perlunya peran aktif
pendamping dalam pengobatan.
Edukasi efek samping obat TB MDR
Memberikan dukungan psikososial

2. Jarak rumah Memberikan informasi kepada keluarga pasien mengenai


pasien untuk kondisi dan pengobatan yang dialami pasien saat ini sehingga
mengambil keluarga lebih memiliki rasa empati dan tanggung jawab kepada
obat ke pasien
Puskesmas
Sempaja
cukup dekat
namun pasien
lemas
sehingga
harus ada
yang
mengantar

PERAWATAN MASALAH KESEHATAN KELUARGA


Masalah
Tindakan Perawatan (Promotif, Preventif, Protektif)
Kesehata
n Individu Keluarga Komunitas

18
Memberikan edukasi Edukasi mengenai KIE/Penyuluh
bahwa pengobatan TB TB,cara penularan an mengenai
MDR merupakan serta pencegahan TB, cara
pengobatan yang penularannya penularan
panjang dan harus Edukasi kepada serta
dilakukan secara teratur. anggota keluarga pencegahan
Menjelaskan bahwa jika untuk tidak penularannya,
putus pengobatan TB mendiskriminasi dan juga
MDR tersebut tidak ada pasien mengenai
lagi pengobatan yang Edukasi untuk komplikasinya
TB lebih baik selalu memberi . Serta
MDR
Menjelaskan mengenai dukungan dan memberikan
efek samping obat TB semangat bagi pengertian
MDR pasien dalam kepada
menjalankan masyarakat
pengobatannya. untuk

Berkerjasama menghilangka

dengan pendamping n stigma dan

untuk mengontrol diskriminasi

minum obat terhadap


penderita TB.

SKORING KEMAMPUAN PENYELESAIAN MASALAH


DALAM KELUARGA

Skor
Masalah Upaya Penyelesaian
Awal
Fungsi Biologis 3 Edukasi mengenai pentingnya
TB MDR melakukan pengobatan TB MDR secara rutin dan
teratur
Menjelaskan bahwa jika putus

19
pengobatan TB MDR tersebut tidak ada lagi
pengobatan yang lebih baik
Menjelaskan mengenai efek samping
obat
Faktor Perilaku 4 Memberikan informasi kepada keluarga
Kesehatan Keluarga pasien mengenai kondisi dan pengobatan yang
Jarak rumah pasien untuk dialami pasien saat ini sehingga keluarga lebih
mengambil obat ke memiliki rasa empati dan tanggung jawab kepada
Puskesmas Sempaja cukup pasien
dekat namun pasien lemas
sehingga harus ada yang
mengantar
Faktor Psiko-Sosio- 3 Memberikan informasi kepada keluarga
Ekonomi pasien mengenai kondisi dan pengobatan yang
Kurang perhatiaanya dialami pasien saat ini sehingga keluarga lebih
keluarga terhadap memiliki rasa empati dan tanggung jawab kepada
kondisi kesehatan pasien
pasien Meminta kordinasi dari puskesmas
Stigma masyarakat pengambilan obat TB MDR mengenai kepatuhan
yang mengucilkan pasien terhadap pengambilan obat dan memonitor
penderita TB kepatuhan minum obat melalui pendamping.
Edukasi bahwa jika ada masalah dalam
keluarga sebaiknya masalah itu didiskusikan ke
keluarga, jika tidak bisa maka masalah dapat
diceritakan kepada teman, pendamping atau
tenaga kesehatan yang dipercaya yang dapat
memberikan tanggapan secara bijak terhadap
permasalahan yang sedang dihadapi.

Keterangan :
Skor 1 = Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi
Skor 2 = Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, hanya ada
keinginan; penyelesaian masalah dilakukan

20
sepenuhnya oleh provider
Skor 3 = Keluarga mau melakukan namun perlu pengendalian sumber
yang belum dimanfaatkan; penyelesaian masalah dilakukan
sebagian oleh provider.
Skor 4 = Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya; masih
tergantung pada upaya provider
Skor 5 = Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Studi kasus dilakukan pada pasien Ny. F usia 48 tahun dengan diagnosis
TB MDR. Pasien merupakan pasien Puskesmas Sempaja sejak tahun 2015,
keluhan batuk sejak 3 minggu dengan penurunan berat badan lalu dipuskesmas
dilakukan pemeriksaan dahak SPS dan didapatakan hasil BTA TB positif pada 3
pemeriksaan dahak tersebut, sehingga dilakukan pengobatan TB dengan lini 1
selama 6 bulan, setelah 2 bulan pengobatan dilakukan pemeriksaan dahak lagi dan
didapatkan hasil BTA positif kemudian dilanjutkan pengobatan bulan ke 3 hingga
bulan ke 5 diperiksa sputum lagi namun dahak tetap positif sehingga pasien di
rujuk ke poli TB di RS AWS, di RS AWS pasien dilakukan pemerikaan Gen
Expert untuk TB MDR dengan menunggu hasil selama 5 bulan, selama menunggu
pasien berobat ke RS Islam dengan keluhan batuk dan penurunan berat badan, di
RS Islam pasien mendapatkan pengobatan TB lini 1 selama 6 bulan setelah itu
pasien kembali ke AWS untuk mengambil hasil pemeriksaan sebelumnya dan
pasien di diagnosis dengan TB MDR dan dirawat inap diruang tulip selama 1
bulan, lalu pasien dikembalikan ke puskesmas sempaja untuk melanjutkan terapi
TB MDR.

Pasien tinggal satu rumah dengan seorang anaknya dan terkadang bersama
ibu pasien juga, keluarga ini menempati rumah yang cukup luas dengan ventilasi
yang cukup kecuali ventilasi pada kamar tidur pasien, kebersihan diri dan
lingkungan pasien dan keluarga tergolong sehat. Pengetahuan pasien mengenai
cara penularan dan pengobatan penyakitnya kurang dibuktikan dengan malasnya
pasien menggunakan masker saat kontak dengan orang dirumah. Pemasukan
keuangan keluarga pasien didapat dari uang sewa rumah kontrakan milik pasien
dan tabungan peninggalan almarhum suami. Pasien meminum obat untuk
penyakitnya secara rutin dan teratur namun terdapat sedikit kesulitan untuk
mencapai tempat pelayanan kesehatan karena pasien harus menunggu orang lain
yang dapat mengantar pasien kepuskesmas.

22
Sebagai dokter keluarga, langkah-langkah yang diambil pada
penangananan penyakit TB MDR yang sesuai dengan prinsip kedokteran keluarga
sebagai berikut :
1) Personal
1. Memberikan penjelasan mengenai TB dan TB MDR :
penyebab, cara penularan dan cara mencegah penularannya, pengobatan
serta komplikasinya
2. Memberikan penjelasan bahwa pengobatan TB MDR
merupakan pengobatan jangka panjang dan harus dilakukan secara
teratur dan merupakan pengobatan tahap akhir dari penyakit TB
3. Memberikan penjelasan efek samping pengobatan TB MDR

2) Komprehensif
Komprehensif meliputi semua aspek tingkat pencegahan (primer,
sekunder, dan tersier). Upaya pencegahan ini dilaksanakan sesuai dengan
perjalanan alamiah penyakit tersebut pada pasien dan anggota keluarga yang
lain.

Pencegahan primer :
Pencegahan primer adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat proses
penyakit belum mulai (pada periode pre-patogenesis) dengan tujuan agar
tidak terjadi proses penyakit dan mengurangi insiden penyakit dengan cara
mengendalikan faktor penyebab penyakit dan faktor risikonya. Karena pada
pasien sudah mengalami penyakit ini, sehingga pencegahan primer ditujukan
kepada anggota keluarga pasien. Upaya yang dilakukan untuk memutus mata
rantai infeksi dari agent host environment .
Health promotion seperti melakukan penyuluhan dengan memberikan
penjelasan mengenai faktor risiko penyakit
Specific protection seperti menjaga kebersihan perorangan, sanitasi
lingkungan, menggunakan masker saat kontak dengan pasien
Sanitasi lingkungan seperti menganjurkan mengubah lingkungan kamar
pasien seperti membuka korden dan jendela kamar, agar sinar matahari

23
bisa masuk ke kamar, menjaga kebersihan kamar (membersihkan jendela
seminggu sekali )
Menganjurkan kepada keluarga untuk mengawasi bersama kondisi
kesehatan pasien, juga mendukung pengobatan pasien.

Pencegahan sekunder :
Pencegahan sekunder adalah upaya pencegahan yang dilakukan saat
proses penyakit sudah berlangsung namun belum timbul tanda/gejala sakit
(patogenesis awal) dengan tujuan proses penyakit tidak berlanjut.
Pencegahan yang dilakukan untuk menghentikan proses penyakit lebih
lanjut dan mencegah komplikasi yang terdiri dari deteksi dini seperti
pemeriksaan BTA pada keluarga yang memiliki keluhan batuk > 2
minggu, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas dan keringat
malam dengan tujuan menyembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut,
mencegah penyebaran penyakit menular, mencegah komplikasi dan
akibat lanjutan.
Pemberian pengobatan yang tepat untuk menghentikan proses penyakit,
mencegah komplikasi, serta penyediaan fasilitas khusus untuk
membatasi ketidakmampuan dan mencegah kematian.

Pencegahan tersier :
Pencegahan penyakit tersier adalah pencegahan yang dilakukan saat
proses sudah lanjut (akhir periode patogenesis) dengan tujuan mencegah
cacat dan mengembalikan penderita ke status sehat. Tujuan dari pencegahan
ini yaitu menurunkan kelemahan dan kecacatan, memperkecil penderitaan
dan membantu penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisinya
yang terdiri dari disability limitation dan rehabilitation. Juga memberikan
konseling kepada keluarga.
1. Disability limitation seperti penyempurnaan dan intensifikasi pengobatan
lanjutan agar tidak terjadi komplikasi, pencegahan terhadap komplikasi
maupun cacat setelah sembuh, perbaikan fasilitas kesehatan sebagai
penunjang untuk pengobatan dan perawatan yang lebih intensif serta

24
mengusahakan pengurangan beban beban medis dan non medis (sosial)
pada penderita untuk memungkinkan meneruskan pengobatan dan
perawatannya.

2. Rehabilitasi seperti penyediaan fasilitas untuk pelatihan hingga fungsi


tubuh dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan penyadaran masyarakat
untuk menerima mereka dalam fase rehabilitasi.

3) Berkesinambungan
Pemantauan kesehatan dan kepatuhan dalam perawatan dan
pengobatan pasien oleh keluarga setelah pasien mendapatkan pengobatan
yang tepat, karena ketidakteraturan berobat dapat menimbulkan banyak
masalah dalam keberhasilan upaya penanggulangan penyakit TB MDR.

4) Koordinatif dan Kolaboratif


Koordinatif dan kolaboratif yaitu bekerjasama dan membagi peran dengan
pihak stakeholder terkait seperti kelompok dokter, terapis, analisis,
pemuka/tokoh masyarakat, termasuk keluarga pasien sendiri. Dokter, terapis
dan pasien harus bekerjasama untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Diagnosis dan terapi secara dini, dan disusul dengan perawatan yang cermat
akan mencegah pengembangan terjadinya komplikasi.

5) Memberdayakan Keluarga, Masyarakat, dan Lingkungannya


Memberikan KIE dan mempromosikan perilaku hidup yang sehat :
Memberikan penjelasan mengenai kondisi pasien saat ini kepada keluarga.
Jelaskan bahwa penyakitnya merupakan penyakit infeksi yang
membutuhkan support dan dukungan
Jika memungkinkan berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang TB
dan penularannya

25
MANDALA OF HEALTH

GAYA HIDUP
Jarang beraktivitas
Pola Makan kurang baik
PERILAKU KESEHATAN
Higiene pribadi cukup baik
Pasien meminum obat TB dan injeksi antibiotik secara rutin namun selalu ingin berhenti minum obat
LINGK. PSIKO-SOSIO-EKONOMI
Pasien tidak bekerja
Pendapatan bulanan dari uang sewa kontrakan rumah milik pasien
Perhatian keluarga kurang terhadap kondisi pasien
FAMILY
Kurangnya pengetahuan keluarga pasien mengenai penularan dan pengobatan TB
BIOLOGI
Riwayat kontak dengan penderita TB

PASIEN LINGK. FISIK


Pasien didiagnosa dengan TB MDR Ventilasi dan pencahayaan dikamar kurang

PELAYANAN KES.
Jarak rumah-pusat pelayanan kesehatan dekat namun karena lemas jadi sulit untuk ke Puskesmas
Memiliki BPJS

Komunitas:
Setelah sakit pasien jarang berkumpul bersama tetangga karena takut menularkan

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis


dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2006.
2. Worl Health Organization (WHO) [homepage on the Internet]. Global
Tuberkulosis Report 2014 [updated 2014; cited 2014 Nov 4]. Available at
www.who.int/tb/data.
3. Amin Z, Bahar A. Tuberkulosis Paru. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, K M S, Setisti S, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid III.
Edisi V. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009. Hal. 2230-2239
4. Pedoman penatalaksanaan TB 2Kementerian Kesehatan
5. Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Manajemen Terpadu Pengendalian
Tuberkulosis Resistan Obat. 2013:153
6. World Health Organization. Guidelines for The Programmatic
Management of Drug Resistant Tuberculosis. Emergency Update 2008.
2008.

27
PELAYANAN KES. KESEHATAN
PERILAKU Komunitas:FAMILY PASIEN LINGK. PSIKO-SOSIO-EKONOMI
LINGK.
LINGK.
FISIKKERJA
-Jarak mengambil obat ke Puskesmas Sempaja cukup jauh dan terkendala masalah transportasi
FAKTOR BIOLOGI Stigma
G3P1A1 masyarakat
gravid 35-36
mngenai
minggu
penyakit
denganHIV
Infeksi
HIV stadium 1 Pendapatan
Sarana sanitasi
keluargadasar
yang
- baik
minim
- Pendataan balik dari Puskesmas Lempake belum ada sehingga kordinasi kurang
Kurangnya pengetahuan pasien
- Kondisi
mengenai
pasien saat
komplikasi
ini sedang
HIV hamil
dan Infeksi Oportunistik
Metode penularan
Riwayat
yang
pengobatan
sering disalahpersepsikan Stigma
ARV 6,5 bulan di masyarakat danKondisi
diskriminasi
rumah masyarakat
dan lingkungan
terhadap
baik ODHA
Pasien memiliki riwayat hubungan seksual yang berisiko Pasien saat ini tidak memiliki keluhan Hygiene
Psikologis
perorangan
pasien mengenai
dan anggota
penyakit
keluarga
HIVbaik
Pem. Fisik : Tidak ditemukan kelainan
Pem. Penunjang
Mandala :ofCD4 323 sel/mm3
Health

28
DOKUMENTASI

Gambar 1. Rumah Pasien Tampak Depan

Gambar 2. Depan Rumah Pasien

29
Gambar 3. Halaman Samping Rumah Pasien

Gambar 4. Ruang tamu

30
Gambar 5. Kamar tidur pasien

Gambar 6. Dapur

31
\

Gambar 7. WC dan Kamar mandi Pasien

32