Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS PERPAJAKAN

Oleh

NAMA : AMRAN IBRAHIM


NIM :15120014
JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

UNIVERSITAS ABULYATAMA

2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatu

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT tuhan semesta alam, karena atas hidayah
dan rahmat-NYA kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik, Insya Allah. Shalawat
serta salam kita curahkan kepada Nabi Pilihan Muhammad SAW,beserta keluarga dan para
sahabat-sahabat beliau yang telah ikut serta dalam menegakkan Agama Islam.

Makalah yang membahas tentang ANALISIS PERPAJAKAN ini, semoga bisa


menambah pemahaman yang lebih jauh lagi bagi kita semua. kami tahu sepenuhnya, bahwa
dalam penulisan dan penyusunan makalah ini masih perlu di sempurnakan lagi, akan tetapi
tanpa mengurangi rasa hormat kami, kami penyusun juga mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun baik dari dosen mata kuliah ini maupun dari teman-teman sekalian.

Banda aceh, 25 april 2017

Amran ibrahim
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI..
BAB I..........................................................................................................................
PENDAHULUAN......................................................................................................
A.Latar Belakang ................
B.Tujuan Penulisan Makalah........
BAB II..........................................................................................................................
PEMBAHASAN..........................................................................................................
1. Analisis Perpajakan.........
A. Pengertian Perpajakan.........
B. Unsur Pajak.............
C. Fungsi Pajak
D. Jenis-Jenis Pajak..
E. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan..
F. Syarat pemungutan pajak...

G. Manfaat Pajak

2. Kriteria Pajak yang Baik..........


3. Pengaruh Pajak dalam Ekonomi..........
4. Pengaruh pajak terhadap kestabilan harga pasar (barang dan jasa) dalam perekonomian
Indonesia..
BAB III..........................................................................................................................
PENUTUP.................................................;....................................................................
a. Kesimpulan..............................................................................................................
b. Saran.
DAFTAR PUSTAKA.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pajak merupakan salah satu sumber pemasukan kas negara yang digunakan untuk

pembangunan dengan tujuan akhir kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Oleh karena itu,

sektor pajak memegang peranan penting dalam perkembangan kesejahteraan bangsa. Namun,

tak bisa dipungkiri bahwa sulitnya Negara melakukan pemungutan pajak karena banyaknya

wajib pajak yang tidak patuh dalam membayar pajak merupakan suatu tantangan tersendiri.

Pemerintah telah memberikan kelonggaran dengan memberikan peringatan terlebih dahulu

melalui Surat Pemberitahuan Pajak (SPP). Akan tetapi, tetap saja banyak wajib pajak yang

lalai untuk membayar pajak bahkan tidak sedikit yang cenderung menghindari kewajiban

tersebut.

Hal ini mendorong pemerintah menciptakan suatu mekanisme yang dapat

memberikan daya pemaksa bagi para wajib pajak yang tidak taat hukum. Salah satu

mekanisme tersebut adalah gijzeling atau lembaga paksa badan. Keberadaan lembaga ini

masih kontroversial. Beberapa kalangan beranggapan bahwa pemberlakuan lembaga paksa

badan merupakan hal yang berlebihan. Di lain pihak, muncul pula pendapat bahwa lembaga

ini diperlukan untuk memberikan efek jera yang potensial dalam menghadapi wajib pajak

yang nakal.

Saat ini, penyelesaian permasalahan sengketa dibidang perpajakan telah memiliki

sarana dengan adanya Pengadilan Pajak. Sebelum Pengadilan Pajak berdiri, media yang

digunakan untuk menyelesaikan masalah sengketa pajak adalah Majelis Pertimbangan Pajak

yang kemudian berkembang menjadi Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (BPSP). Hadirnya

Pengadilan Pajak menimbulkan kerancuan mengingat obyek sengketa pajak adalah Surat
Ketetapan Pajak (SKP) yang masih merupakan lingkup obyek Peradilan Tata Usaha Negara

(PTUN).

Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak (UU

Nomor 14 Tahun 2002) memang terkesan memunculkan dualisme bahwa seolaholah

Pengadilan Pajak, yang hanya berkedudukan di Jakarta, itu berada di luar kekuasaan

kehakiman yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-

Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman (UU Nomor 14 Tahun 1970) sebagaimana telah

diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 dan terakhir diubah lagi dengan

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman (UU Nomor 4 Tahun

2004).

Sejalan dengan perkembangan ekonomi, teknologi informasi, sosial, politik, disadari


bahwa perlu dilakukan perubahan undang-undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan. Perubahan tersebut bertujuan untuk lebih memberikan keadilan, meningkatkan
pelayanan kepada Wajib Pajak, meningkatkan kepastian dan penegakan hokum, serta
mengantisipasi kemajuan di bidang perpajakan. Selain itu, Perubahan tersebut juga
dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur perpajakan, meningkatkan
keterbukaan administasi perpajakan dan meningkatkan kepatuhan sukarela Wajib Pajak.
Sistem, mekanisme, dan tata cara pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakan yang sedehana
menjadi cirri dan corak dalam perubahan Undang-Undang ini dengan tetap menganut sistem
self assessment.
Perubahan tersebut khususnya berkaitan dengan peningkatkan keseimbangan hak dan
kewajiban bagi masyarakat Wajib Pajak sehingga masyarakat wajib Pajak dapa
tmelaksanakan hak dan kewajiban perpajaknnya dengan lebih baik.
Sistem perpajakan yang lama ternyata sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat kehidupan sosial
ekonomi masyarakat Indonesia, baik dari segi kegotong royongan nasional maupun dalam
laju pembangunan nasional yang telah dicapai. Disamping itu, perpajakan yang lama tersebut
belum dapat menggerakan peran dari semua lapisan subyek pajak yang besar peranannya
dalam menghasilkan penerimaan dalam negri yang sangat diperlukan guna mewujudkan
kelangsungan dan peningkatan pembangunan nasional. Oleh karena itu pemerintah
menciptakan sistem perpajakan yang baru dengan yang lama.
B. Tujuan penulisan makalah tidak lain ialah :
1. Agar mahasiswa memahami sistem perpajakan yang baru.
2. Agar mahasiswa mnegerti Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan yang dilandasi pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, yang didalamnya
tertuang ketentuan yang menjujung tinggi hak warga Negara dan menempatkan kewajiban
perpajakan sebagai kewajiban kenegaraan.
3. Agar mengerti tujuan pokok perubahan Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan yang menganut kebijakan perpajakan yang telah ditentukan.
BAB II
PEMBAHASAN

1. ANALISIS PERPAJAKAN

A. Pengertian Perpajakan
Menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH.Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara
berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal
(kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum.Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-
unsur:
1. Dari rakyat kepada Negara
2. Iuran Berdasarkan undang-undang
3. Tanpa jasa timbale balik atau kontraprestasi dari Negara yang secara langsung dapat
ditunjuk.
4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang
bermanfaat bagi masyarakat luas.

B. Unsur Pajak.
Dari berbagai definisi yang diberikan terhadap pajak baik pengertian secara ekonomis
(pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah) atau pengertian
secara yuridis (pajak adalah iuran yang dapat dipaksakan) dapat ditarik kesimpulan tentang
unsur-unsur yang terdapat pada pengertian pajak antara lain sebagai berikut:

1. Pajak dipungut berdasarkan undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga
UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan "pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa
untuk keperluan negara diatur dalam undang-undang."
2. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (konraprestasi perseorangan) yang dapat
ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak kendaraantor
akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang tidak membayar pajak
kendaraan bermotor.
3. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam
rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.
4. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak tidak
memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundag-
undangan.
5. Selain fungsi budgeter (anggaran) yaitu fungsi mengisi Kas Negara/Anggaran Negara
yang diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga
berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam
lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mengatur / regulatif).

C. Fungsi Pajak
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara,
khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan
negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan.
Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

Fungsi anggaran (budgetair)

Sebagai sumber pendapatan negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-


pengeluaran negara. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan
pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pajak.
Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang,
pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari
tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan
pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan
pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.

Fungsi mengatur (regulerend)

Pemerintah bisa mengatur pertumbuhan ekonomi melalui kebijaksanaan pajak.


Dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar
negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi
produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar
negeri.
Fungsi stabilitas

Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang
berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan, Hal ini bisa
dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan
pajak, penggunaan pajak yang efektif dan efisien.

Fungsi redistribusi pendapatan

Pajak yang sudah dipungut oleh negara akan digunakan untuk membiayai semua
kepentingan umum, termasuk juga untuk membiayai pembangunan sehingga dapat membuka
kesempatan kerja, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

D. Jenis-Jenis Pajak.
Di tinjau dari segi Lembaga Pemungut Pajak dapat di bagi menjadi dua jenis yaitu:
Pajak Negara atau lebih sering disebut juga Pajak pusat yaitu pajak yang dipungut oleh
Pemerintah Pusat yang terdiri dari:

a. Pajak Penghasilan (PH)adalah pajak yang dikenakan terhadap Subyek Pajak atas
Penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak.Diatur dalam UU No. 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan yang diubah terakhir kali dengan UU Nomor 36
Tahun 2008

b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas konsumsi Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak di dalam Daerah Pabean. Orang Pribadi, perusahaan, maupun
pemerintah yang mengkonsumsi Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikenakan PPN.
Pada dasarnya, setiap barang dan jasa adalah Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak,
kecuali ditentukan lain oleh Undang-undang PPN. Tarif PPN adalah tunggal yaitu sebesar
10%. Dalam hal ekspor, tarif PPN adalah 0%. Yang dimaksud Dengan Pabean adalah
wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, peraian, dan ruang udara
diatasnya.yang biasanya diatur dalam UU No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan
Nilai
c. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) ialah Selain dikenakan PPN, atas
barang-barang kena pajak tertentu yang tergolong mewah, juga dikenakan PPn BM.
Yang dimaksud dengan Barang Kena Pajak yang tergolong mewah adalah :
a. Barang tersebut bukan merupakan barang kebutuhan pokok; atau
b. Barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat tertentu; atau
c. Pada umumnya barang tersebut dikonsumsi oleh masyarakat berpenghasilan tinggi; atau
d. Barang tersebut dikonsumsi untuk menunjukkan status; atau
e. Apabila dikonsumsi dapat merusak kesehatan dan moral masyarakat, serta mengganggu
ketertiban masyarakat. Dan biasanya Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang diubah
terakhir kali dengan UU No. 42 Tahun 2009

d. Bea Materai adalah pajak yang dikenakan atas dokumen, seperti surat perjanjian, akta
notaris, serta kwitansi pembayaran, surat berharga, dan efek, yang memuat jumlah uang
atau nominal diatas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan.yang diatur dalam UU No. 13
Tahun 1985 tentang Bea Materai
e. Bea Masuk

a. UU No. 10 Tahun 1995 jo. UU No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan

f. Cukai

a. UU No. 11 Tahun 1995 jo. UU No. 39 Tahun 2007 tentang Cukai

g. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pajak yang dikenakan atas kepemilikan atau
pemanfaatan tanah dan atau bangunan. PBB merupakan Pajak Pusat namun demikian
hampir seluruh realisasi penerimaan PBB diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik
Propinsi maupun Kabupaten/Kota.
h. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan
atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Seperti halnya PBB,
walaupun BPHTB dikelola oleh Pemerintah Pusat namun realisasi penerimaan BPHTB
seluruhnya diserahkan kepada Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun
Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan.
Pajak-pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah baik Propinsi maupun
Kabupaten/Kota antara lain meliputi :
1. Pajak Propinsi
a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bemotor;
d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.
2. Pajak Kabupaten/Kota
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C;
g. Pajak Parkir.

E. Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.


Dengan berpegang teguh pada prinsip kepastian hukum, keadilan, dan kesederhaan,
arah dan tujuan perubahan Undang-Undang tentang ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan ini mengacu pada kebijakan pokok sebagai berikut:
a. Meningkatkan efesiensi pemungutan pajak dalam rangka mendukung penerimaan Negara.
b. Menigkatakan pelayanan, kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat guna
meningkatkan daya saing dalam bidang penanaman modal, dengan tetap mendukung
pengembangan usaha kecil dan menengah.
c. Menyesuaikan tuntutan perkembangan sosial ekonomi masyarakat serta perkembangan di
bidang teknologi informasi.
d. Meningkatkan keseimbangan antara hak dan kewajiban
e. Menyederhanakan prosedur administrasi perpajakan
f. Meningkatakan penerapan prinsip self assement secara akuntabel dan konsisten, dan;
g. Mendukung iklim usaha kea rah yang lebih kondusif dan kompetitif.
F. Syarat pemungutan pajak

Tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada masyarakat. Bila terlalu tinggi,
masyarakat akan enggan membayar pajak. Namun bila terlalu rendah, maka pembangunan
tidak akan berjalan karena dana yang kurang. Agar tidak menimbulkan berbagai masalah,
maka pemungutan pajak harus memenuhi persyaratan yaitu:

a. pemungutan pajak harus adil

Pajak mempunyai tujuan untuk menciptakan keadilan dalam hal pemungutan pajak. Adil
dalam perundang-undangan maupun adil dalam pelaksanaannya. Contohnya :

1) Dengan mengatur hak dan kewajiban wajib pajak

2) Pajak diberlakukan bagi setiap warga negara yang memenuhi syarat sebagai wajib
pajak

3) Sanksi atas pelanggaran pajak diberlakukan secara umum sesuai dengan berat
ringannya pelanggaran

b. pengaturan pajak harus berdasarkan UU


Sesuai dengan Pasal 23 UUD 1945 yang berbunyi: "Pajak dan pungutan yang bersifat untuk
keperluan negara diatur dengan Undang-Undang", ada beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam penyusunan UU tentang pajak, yaitu:

1) Pemungutan pajak yang dilakukan oleh negara yang berdasarkan UU tersebut harus
dijamin kelancarannya

2) Jaminan hukum bagi para wajib pajak untuk tidak diperlakukan secara umum

3) Jaminan hukum akan terjaganya kerasahiaan bagi para wajib pajak

4) Pungutan tidak mengganggu perekonomian


Pemungutan pajak harus diusahakan sedemikian rupa agar tidak mengganggu kondisi
perekonomian, baik kegiatan produksi, perdagangan, maupun jasa. Pemungutan pajak jangan
sampai merugikan kepentingan masyarakat dan menghambat lajunya usaha masyarakat
pemasok pajak, terutama masyarakat kecil dan menengah.

c. system pemungutan pajak harus sederhana

Bagaimana pajak dipungut akan sangat menentukan keberhasilan dalam pungutan pajak.
Sistem yang sederhana akan memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak yang
harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat positif bagi para wajib pajak untuk
meningkatkan kesadaran dalam pembayaran pajak. Sebaliknya, jika sistem pemungutan pajak
rumit, orang akan semakin enggan membayar pajak.
G. Manfaat Pajak

Sebagaimana halnya perekonomian dalam suatu rumah tangga atau keluarga,


perekonomian negara juga mengenal sumber-sumber penerimaan dan pos-pos pengeluaran.
Pajak merupakan sumber utama penerimaan negara. Tanpa pajak, sebagian besar kegiatan
negara sulit untuk dapat dilaksanakan. Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja
pegawai sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana
umum seperti jalan-jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, kantor polisi dibiayai
dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak. Uang pajak juga digunakan untuk
pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap
warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau
pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak.

Dengan demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi
sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan
pembangunan.

Disamping fungsi budgeter (fungsi penerimaan) di atas, pajak juga melaksanakan fungsi
redistribusi pendapatan dari masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih
tinggi kepada masyarakat yang kemampuannya lebih rendah. Oleh karena itu tingkat
kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya secara baik dan benar
merupakan syarat mutlak untuk tercapainya fungsi redistribusi pendapatan. Sehingga pada
akhirnya kesenjangan ekonomi dan sosial yang ada dalam masyarakat dapat dikurangi secara
maksimal.

2. KRITERIA PAJAK YANG BAIK.


Kebijakan perpajakan akan memberi dampak yang signifikan jika disusun secara
komprehensif, dengan mempertimbangkan seluruh dampak yang dapat ditimbulkan pada
level ekonomi makro. Seperti dikutip dari Musgrave, kriteria yang bisa menentukan baik
tidaknya sebuah kebijakan perpajakan dapat dilihat sebagai berikut:

1. Penerimaan/pendapatan harus ditentukan dengan tepat dimana hal ini berkaitan dengan
Penerimaan pajak harus dirumuskan secara tepat, sehingga bisa merefleksikan kemampuan
membayar dari seluruh wajib pajak yang ada sehingga tidak terlalu besar atau terlalu kecil.
Jika jumlah yang ditetapkan terlalu besar, dikhawatirkan investor tidak akan mau
menanamkan modalnya di dalam negeri. Hal ini mengakibatkan multiplier efek yang
diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi tidak tercapai. Pada akhirnya,
jumlah target penerimaan pajak tidak akan pernah tercapai. Sebaliknya jika terlalu kecil,
dikhawatirkan jumlahnya tidak dapat membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah yang
bermanfaat untuk menciptakan value yang dapat merangsang perputaran gerak roda ekonomi.
2. Distribusi beban pajak harus adil. Setiap orang harus dikenakan pajak sesuai dengan
kemampuannya diman hal ini berkaitan dengan keadilan perpajakan pada intinya adalah,
beban pajak harus terdistribusi sedemikian rupa sehingga target pencapaian penerimaan pajak
bisa diimbangi dengan mengurangi kesenjangan pendapatan golongan masyarakat yang kaya
dengan golongan masyarakat miskin. Kecilnya kesenjangan bisa mendorong stabilisasi yang
kondusif bagi perbaikan ekonomi nasional.

3. Penanggung akhir beban pajak harus menjadi pokok perhatia maksudnya ialah Adanya
kemungkinan peralihan beban pajak kepada penanggung akhir, perlu dilakukan pengkajian
mendalam dengan melakukan simulasi yang menyeluruh untuk dapat memperoleh gambaran
dampak pembebanan penanggung akhir terhadap stabilisasi ekonomi. Perlu dibuat aturan-
aturan teknis yang simple dan dapat menghindarkan terjadinya salah sasaran. Jika pajak
diterapkan atas produk-produk tertentu, perlu dikaji serius mengenai elastisitas permintaan
dan penawarannya dalam ekonomi pasar.

4. Peraturan perpajakan harus mendukung kebijakan perekonomian dan mendorong pasar


yang efisien maksudnya ialah Ekonomi yang terus tumbuh dan pasar yang efisien harus terus
dijaga agar kemakmuran masyarakat tidak rusak akibat adanya penerapan kebijakan
perpajakan. Kemungkinan pergeseran titik equilibrium kurva permintaan dan penawaran
harus terus diantisipasi dan terus diawasi dengan memasukkan unsur-unsur spesifik para
pelaku ekonomi setempat.

5. Struktur pajak harus memudahkan penggunaan kebijakan fiskal untuk mencapai


stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi dimana Kebijakan perpajakan harus tetap
mengindahkan konsep kestabilan ekonomi. Harus dapat ditentukan pada awal permusan
kebijakan bahwa implementasinya pada akhirnya akan meminimalkan gejolak ekonomi,
misalnya dengan adanya kegiatan sosialisasi yang memadai. Ekonomi yang sering bergejolak
biasanya tidak menguntungkan iklim investasi. Dengan kata lain, investor-investor terutama
para pemodal asing sangat mengharapkan adanya kepastian iklim berusaha.

6. Sistem pajak harus menerapkan administrasi yang wajar dan mudah dipahami oleh wajib
pajak dimana Segala kebijakan harus mengacu pada kesederhanaan. Rumusan-rumusan yang
dipakai harus menghindari kesalahpahaman massal yang menyebabkan kekacauan pada
proses administrasi. Simulasi terhadap bakal munculnya kekeliruan yang tidak diharapkan
harus disiapkan secara matang. Simulasi tersebut bisa menggunakan beberapa skenario yang
berbeda dan mengamati hasilnya.

7. Biaya administrasi dan biaya-biaya pembayaran pajak lainnya harus dibuat serendah
mungkin dimana segala biaya yang tidak berkaitan langsung dengan beban pajak
sesungguhnya harus diminimalkan. Hal ini untuk memberikan kepastian berusaha bagi para
pemilik modal dalam rangka menghitung proyeksi keuntungan investasi. Dengan demikian
risiko biaya tinggi yang tidak terduga akibat penyelewengan peraturan oleh oknum pelaku
ekonomi bisa dieliminasi.

3. PENGARUH PAJAK DALAM EKONOMI

Pengaruh pajak terhadap perekonomian dapat kita bedakan menjadi pengaruh pajak
terhadap produksi dan terhadap distribusi produksi

Pengaruh terhadap produksi


Perngaruh pajak tehadap produksi dapat dibagi dalam pengaruhnya terhadap produksi
sebagai keseluruhan dan komposisi produksi. Pengaruhnya terhadap produksi sebagai
keseluruhan berlangsung melalui pengaruh-pengaruhnya terhadap kerja, tebungan dan
investasi. Kemudian lebih laju lagi kita melihat pengaruh-pengaruh pajak terhadap kerja,
tebungan dan investasi melalui kemampuan dan keinginan; yaitu kemampuan dan keinginan
untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi.

Pengaruh pajak terhadap kemampuan untuk bekerja, menabung, dan berinvestasi


Kemampuan setiap orang untuk bekerja akan berkurang apabila ia dikenai pajak yang
dapat mengurangi efisiensi kerjanya. Oleh karena itu suatu pajak yang dikenakan kepada
golongan yang mempunyai tingkat penghasilan yang rendah dalam suatu mesyarakat hanya
akan menurunkan tingkat efisiensi baik bagi golongan orang-orang dewasa maupun golongan
anak-anak pada masa yang akan datang.

Pengaruh pajak terhadap kemauan untuk bekerja, menabung, dan berinvestasi


Pada umunya dianggap bahwa pajak mempunyai pengaruh yang bersifat diinseftif
artinya ialah mengurangi keinginan untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi dari
wajib pajak. Perlu ditambahkan bahwa hanya pajak yang mempunyai sifat dikenakan secara
terus menerus akan berpengaruh terhadap keinginan untuk bekerja, menabung, dan
mengadakan investasi. Sebagai contoh adalah pajak penghasilan dan pbb

Pengaruh pajak terhadap komposisi produksi


Pajak dapat mengakibatkan adanya penyimpangan dalam penggunaan faktor
produksi, yaitu penggunaan yang seharusnya dpat menghasilakan produksi maksimum
menuju kearah penggunaan yang menghasilkan produksi lebih sedikit. Oleh karenanya pajak
yang dikenakan jangan sampai mengakibatkan adanya penyimpangan penggunaan faktor-
faktor produksi atau kalau memang tidak dapat dihindarkan, pajak yang dikenakan dlam
perekonomian jangan sampai menimbulkan terlalu benyak penyimpangan-penyimpangan.

Pengaruh pajak terhadap distribusi pendapatan


Baik atau tidaknya suatu kebijakan haruslah dipertimbangkan dari berbagai segi.
Hendaknya kita ketahui pula bahwa tujuan pembangunan suatu negara pada umumnya adalah
berupa peningkatan pendapatan nasional per kapita, penciptaan lapangan kerja, distribusi
pendapatan yang lebih merata dan keseimbangan dalam neraca pembayaran internasional.
Keempat tujuan umum pembangunan ini tidak selalu sejalan dan selaras dalam
pencapaiannya, melainakan seringkali untuk mencapai tujuan yang satu terpaksa harus
mengurangi keberhasilan dari tujuan yang lain. Sebagai contoh untuk mencapai laju
pertumbuhan ekonomi yang tinggi seringkali terjadi adanya distribusi pendapatan yang
kurang/tidak merata.

Pengaruh pajak terhadap keinginan untuk bekerja


Pajak progresif adalah pajak yang dikenakan dengan persentase yang semakin tinggi
dengan semakin tingginya taxable capacity. Jadi rata-rata tingkat pajak akan meningkatkan
untuk setiap dasar pajak. Jika pajak progresif dikenakan pada pendapatan kerja maka tenaga
kerja tersebut akan berkurang keniginannya untuk bekerja.

Utang negara
Hasil dari utang negara memainkan peran yang sangat penting baik sebagai sumber
dana pada saat terjadinya pinjaman maupun pada saat kita harus melunasi utang tersebut. Hal
yang demikian itu dialami terutama oleh negara-negara yang sedang dalam masa
perkembangan.
* Macam dan ciri utang negara
a. Reproductive debt and dead weight debt
Utang negara seringkali dibedakan antara apa yang disebut dengan Reproductive debt dan
dead weight debt . Reproductive debt adalah utang yang dijamin seluruhnya dengan
kekayaan negara berutang atas dasar nilai yang sama besarnya. Sedangkan dead weight debt
adalah utnag yang tanpa disetai dengan jaminan kekayaan
b. Pinjaman sukarela dan pinjaman paksa
c. Pinjaman dalam dan pinjaman luar negeri
d. Suku bungan pinjaman

* Sumber pinjaman negara


Pada dasarnya dariman pinjaman itu diperoleh dapat dikelompokkan menjadi 4
sumber
a. Dari para individu masyarakat
Pemberian pinjaman dari para individu melalui pembelian obligasi negara
b. Dari sektor perusahaan
Pemerintah juga bisa menhual obligasi kepada perusaahan asuransi atau sebagainya yang
bukan bank
c. Dari bank umum
Bank umum karena kemampuananya memberikan kredit berbeda dengan lembaga
keuangan
lain maka ini menciptakan tenaga beli baru dengan mendasarkan pada deking yang
dipunyainanya
d. Dari bank sentral
Pemerintah dpat menjual obligasi kepada bank sentral

* Beban dari utang negara


Untuk membiayai pengeluaran negara dapat ditempuh dengan pencetakan uang.
Memang pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan nasional adalah besar dan tidak
bersidat mengekang pertumbuhan pendapatan
* Utang luar negeri
Utang luar negeri merupakan suatu hal yang jelas. Selama jangka waktu tertentu
beban uang langsung dapat diukur dengan suatu jumlah pembayaran tertentu dalam bentuk
uang baik dalam pembayaran bungan maupun cicilan utan terhadap kreditur.

* Utang dalam negeri


Ini dalam hubungannya dengan pinjaman dalam negeri yang hnaya berupa
pemindahan dana atau kekayaan dalam suatu negara.

* Masalah pengelolaan utang negara


Karena pinjman luar negeri selalu disertai dengan kebutuhan devisa untuk melakukan
pembayaran. Pembyatran kembali pinjaman beserta bungannya merupakan pengeluaran
devisa yang utama bagi banyak negara-negara sedang berkembang

4. PENGARUH PAJAK TERHADAP KESATABILAN HARGA PASAR (BARANG


DAN
JASA) DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

Pajak berhubungan dengan system ekonomi Negara yang merupakan campur tangan
pemerintah dalam perekonomian. System ekonomi yang di anut Indonesia adalah system
ekonomi campuran yang dinamakan Sistem Ekonomi Demokrasi Pancasila. System ekonomi
campuran adalah system ekonomi yang berada diantara sistem ekonomi (Pihak swasta
mempunyai memilih usaha) liberal dan sistem komando (pemerintah sebagai pengatur
perekonomian mutlak). Sistem ekonomi demokrasi pancasila adalah sistem ekonomi yang
berpedoman pada sila-sila pancasila atas dasar demokrasi. Pemerintah mengatur
perekonomian Negara dengan pajak dan subsidi yang didapat dari pajak. Subsidi adalah
bantuan dari pemerintah untuk menekan harga. Subsidi juga bisa diartikan pengurangan
persenan pajak dalam suatu produk atau barang. Hal diatas bisa dilihat melalui skema circular
flow diagram dibawah ini:
Pajak didalam skema itu bertindak sebagai alat/ salah satu cara Negara/ pemerintah sebagai
pelaku ekonomi untuk mengatur perekenomian yang melingkupi semua aspek perekonomian

Pajak berfungsi sebagai Pengatur pertumbuhan ekonomi sebagai contoh dalam rangka
menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai
macam fasilitas keringanan pajak dan dalam rangka melindungi produksi dalam negeri,
pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri. Pajak menjadikan
harga barang dan jasa bervariasi tergantung besar pajak yang dibebankan. Barang luar negeri
bisanya lebih mahal dari barang produksi lokal dengan jenis barang dan kualias yang sama
pula, karena barang luar negeri menanggung beban pajak yang tinggi dibandingkan barang
lokal. Masuknya barang luar negeri ke dalam perekonomian menjadi pembanding dalam
menentukan harga standar yang di lakukan melalui kebijakkan pajak sehingga barang local
terlindungi atau dapat bersaing dengan barang impor. Dengan pajak tidak terjadi perang
harga produk yang dapat memicu inflasi dan monopoli oleh pihak swasta. Contohnya
ditariknya atau dikuranginya subsidi pada minyak tanah atau BBM mengakibatkan harga
minyak tanah/ BBM naik yang berdampak naiknya ongkos produksi dan ongkos distribusi
sehingga haraga barang lain ikut naik. Dilain pihak pemerintah memberikan subsidi pada
harga barang lain dan memberikan bantuan kepada masyarakat agar perekonomian tetap
stabil.

Didalam ilmu ekonomi harga adalah factor utama yang mempengaruhi permintaan
dan penawaran suatu barang yang akan membentuk pola kegiatan perekonomian sedangkan
factor lain adalah cateris paribus (Konstan). Sehingga harga pasar adalah hal utama yang
perlu dijaga kestabilannya di dalam perekonomian. Hal ini berhubungan dengan fungsi pajak
sebagai penjaga kestabilan perekonomian. Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana
untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi
dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur peredaran uang
di masyarakat, pemungutan pajak untuk dana subsidi dan pembangunan, penggunaan pajak
yang efektif dan efisien.

Harga yang tidak stabil dapat diatasi dengan kebijakkan pajak dengan menaikkan
persentase pajak dan menurunkan persentase pajak pada bidang-bidang yang berkaitan
dengan harga pasar dalam perekonomian. Dana Subsidi diperoleh melalui pajak yang
merupakan pendapatan Negara yang digunakan untuk pembangunan di segala sector agar
tujuan dapat tercapai. Pendapatan Negara hasil pajak dapat berguna untuk pembangunan
sumber daya manusia agar kemampuan terutama dalam perekonomian dapat meningkat
dalam usaha mencapai kesejahraan masyarakat. Pembangunan fisik seperti jalur transportasi
dapat terbangun kerena adanya pendapatan pemerintah yang sebagia besar melalui pajak.
Dengan lancarnya transportasi dapat mengurangi ongkos produksi dalam hal pendistribusian
factor produksi dan hasil produksi sehingga harga barang dan jasa dapat stabil dan
mengurangi masalah perekonomian.

. CONTOH KASUS

Kasus Manipulasi Pajak, dari Bakrie hingga BCA

Setelah mengulas masalah kasus pajak yang ada di BCA, saya jadi tertarik dan mulai mencari
tahu lebih jauh kasus-kasus pajak yang ada di Indonesia. Saya mendapatkan sebuah
kesamaan kasus yang terjadi di beberapa perusahaan besar di Indonesia, seperti Bakrie
Group, BCA, PT. Metropolitan Retailmart, Asian Agri, Berau Coal, dan lain sebagainya.
Kasus manipulasi pajak ini rupanya tidak hanya terjadi sekali, melainkan begitu banyak
perusahaan yang terlibat dalam kasus tersebut.

Masih ingatkah pembaca dengan nama Gayus Tambunan, seorang petugas pajak yang
menerima suap terkait pengurusan permohonan keberatan pajak. Kasus Gayus sama dengan
kasus pajak yang menimpa Hadi Poernomo, dan BCA.

Gayus Tambunan dipidana karena terbukti menerima suap uang sebesar Rp 925 juta rupiah
dari Roberto Santonius terkait kepengurusan gugatan keberatan pajak PT Metropolitan
Retailmart dan menerima 3,5 juta dollar Amerika dari Alif Kuncoro terkait kepengurusan
pajak tiga perusahaan Grup Bakrie, yakni PT Arutmin, PT Kaltim Prima Coal, dan PT Bumi
Resource.

Gayus Tambunan dinilai telah terbukti menerima suap dan melakukan tindak pencucian uang
dari tiga perusahaan Bakrie Group senilai 7 juta dollar AS, lalu membagi uang itu ke Alif
Kuncoro, Imam Cahyo Maliki, Maruli Pandapotan Manurung, dan pejabat-pejabat di Ditjen
Pajak lain. Saya terima tiga juta dollar AS, kata Gayus.

Gayus menjelaskan sumber dana yang dia terima ketika masih bekerja di Direktorat Jenderal
Pajak, yakni dari PT Bumi Recources, PT Arutmin, dan PT Kaltim Prima Coal. Dengan suap
tersebut Bakrie Group menginginkan Gayus Tambunan melakukan tiga pekerjaan, PT Bumi
Resources mengajukan banding tahun 2005, Gayus diminta untuk membuatkan surat
banding, surat bantahan-bantahan, dan termasuk persiapan apa saja yang dibutuhkan dengan
imbalan sebesar 3 juta dollar AS yang kemudian ia bagikan kepada Alif Kuncoro, Imam
Cahyo Maliki, Maruli Pandapotan Manurung.

Serupa dengan kasus Gayus Tambunan dengan sejumlah perusahaan terkait pengurusan
permohonan keberatan pajak, kasus yang sama juga terulang di tubuh Bank BCA dengan
Hadi Poernomo-nya, namun bedanya apabila kasus Gayus sudah tuntas, kasus penggelapan
pajak yang menyeret PT. Bank BCA Tbk dalam daftar hitam penyelidikan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) masih saja belum mencapai kata final sejak dibukanya
penyelidikan pada tahun 2003 silam.

Peran Hadi Poernomo dalam kasus pajak BCA diduga menyalahgunakan wewenangnya
sebagai Dirjen Pajak dengan dengan membuat Surat Keputusan (SK) yang melanggar
prosedur terkait permohonan keberatan wajib pajak yang disampaikan oleh pihak Bank BCA.
Hadi Poernomo selaku dirjen pajak diduga memanipulasi telaah direktorat PPH mengenai
keberatan SKPN PPH BCA. BCA mengajukan surat keberatan wajib pajak dengan nilai yang
cukup fantastis yakni sebesar Rp 5,7 triliun terkait kredit bermasalah-nya atau non
performance loan (NLP) kepada direktorat PPH Ditjen Pajak pada 17 Juli 2003.

Setelah ditelaah oleh Direktorat PPH, permohonan keberatan wajib pajak yang diajukan BCA
ditolak, namun oleh Hadi Poernomo selaku Dirjen Pajak mengintruksikan Direktur PPH yang
semula menolak menjadi menerima seluruh permohonan keberatan wajib pajak yang
dilayangkan pihak BCA sehari sebelum masa jatuh tempo pemberian keputusan final.

Oleh putusan Hadi Poernomo tersebut, diyakini BCA telah merugikan negara dengan tidak
membayar pajak sebesar Rp 375 miliar.

Selain itu, keputusan Hadi Poernomo mengabulkan permohonan keberatan pajak yang
diajukan BCA juga semakin terasa janggal apabila mengingat hal serupa juga dilayangkan
Bank Danamon perihal keberatan pajak atas nilai transaksi sebesar Rp 17 triliun tetapi ditolak
oleh pengadilan pajak. Anehnya, hal ini serupa namun hasilnya berbeda.

Dalam kasus ini KPK menetapkan Hadi Poernomo sebagai tersangka dengan dikenakan
ancaman hukuman maksimal 20 tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar berdasarkan
pelanggaran terhadap pasal 2 ayat 1 dan atau pasal 3 UU no 31 tahun 1999 sebagaimana
diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pasal 55
ayat 1 ke-1 KUHP. Dimana pasal tersebut mengatur mengenai setiap orang yang melawan
hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara maupun setiap orang yang menyalahgunakan kewenangan.

Selain dua kasus besar di atas, ada juga contoh kasus manipulasi pajak yang menimpa
perusahaan besar di Indonesia. Asian Agri dengan 14 anak usahanya terbukti tidak bayar
pajak sebesar Rp 1,259,9 triliun selama empat tahun, sehingga dikenakan sangsi atau denda
pajak sebesar Rp 653,4 miliar.
Maraknya kasus manipulasi pajak di Indonesia, saya harap instansi terkait pengawas pajak
bekerja lebih keras untuk meminimalisir adanya kasus-kasus serupa di masa yang akan
datang. Selain itu, KPK juga baiknya segera menuntaskan pengusutan kasus manipulasi pajak
yang masih menggantung.

KOMENTAR:

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran atau disingkat FITRA. Selain ICW, Forum
Pajak Berkeadilan dan BRSK ada satu lagi LSM yang juga peduli akan pengusutan kasus
pajak BCA yakni FITRA. Lagi-lagi sama dengan tiga organisasi yang saya sudah paparkan
diatas, tuntutannya sama yaitu agar KPK segera menuntaskan kasus ini. Koordinator FITRA,
Ucok Sky Khadafi KPK jangan hanya fokus pada Hadi. Tapi juga orang-orang BCA juga
yang mendapatkan keuntungaan dari kasus penglempangan pajak ini, segera periksa oleh
KPK, Sudah sangat jelas bahwa memang ada yang salah dengan BCA.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Pengusaha adalah orang pribadi atau badan dalam bentuk apa pun yang ada dalam kegiatan
usaha atau pekerjaannya mengahsilkan barang , mengimpor, mengekspor, melakukan usaha
perdagangan , memanfaatkan barang tidak mewujudkan dari luar daerah pabean.Pengusaha
Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan barang Kena Pajak dan atau
penyerahan Jasa kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan undang-undang pajak
pertambahan nilai 1984 dan perubahannya.

Setiap orang dengan sengaja tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak atau menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Pengukuhan
Pengusaha Kena Pajak , sehingga menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara dipidana
paling lambat enam bulan dan paling lama enam tahun dan denda paling sedikit dua kali
jumlah pajak terutang yang atau kurang dibayar dan paling banyak empat kali jumlah pajak
terutang atau tidak dibayar.
peran pajak khususnya dalam kestabilan harga pasar dan umumnya kestabilan pasar adalah
sebagai berikut:

a. Pajak merupakan campur tangan pemerintah dalam perekonomian


b. Pemerintah mengatur perekonomian Negara dengan pajak dan subsidi yang didapat dari
pajak
c. Pajak berfungsi sebagai Pengatur pertumbuhan ekonomi
d. Didalam ilmu ekonomi harga adalah factor utama yang mempengaruhi permintaan dan
penawaran suatu barang yang akan membentuk pola kegiatan perekonomian
e. Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk menjalankan kebijakan yang
berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi dapat dikendalikan
f. Kestabilan harga dapat diajaga dengan jalan mengatur peredaran uang di masyarakat
dengan
pajak, pemungutan pajak untuk dana subsidi dan pembangunan, penggunaan pajak yang
efektif
dan efisien.
g. Subsidi adalah bantuan dari pemerintah untuk menekan harga. Subsidi juga bisa diartikan
pengurangan persenan pajak dalam suatu produk atau barang.
h. Harga yang tidak stabil dapat diatasi dengan kebijakkan pajak dengan menaikkan
persentase
pajak dan menurunkan persentase pajak pada bidang-bidang yang berkaitan dengan harga
pasar dalam perekonomian

Saran
Direktur jenderal Pajak karena jabatan atau permohonan Wajib Pajak dapat:
Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan
yang terutang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dalam hal
sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan Wajib Pajak, atau bukan karena kesalahannya.
Mengurangkan atau membatalkan surat ketetapan pajak atau surat Tagihan Pajak yang tidak
benar atau Membatalkan hasil pemeriksaan atau surat ketetapan pajak dari hasil
pemeriksaan yang dilaksanakan tanpa:penyampaian Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan,
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dengan Wajib Pajak. Wajib pajak dapat mengajukan
keberatan hanya kepada Diektur Jenderal Pajak.
DAFTAR PUSTAKA

1. Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum


dan tata Cara Perpajakan.
2. Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan
tata Cara Perpajakan.
3. Republik Indonesia, Undang-undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
bangunan.
4. Kartasasmita, Husein, Penjelasan dan Komentar Pajak Penghasilan 1984, Yayasan Bina
pajak, Jakarta,1985.
5. Mardiasmo, Perpajakan 2009, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2009.
6. www.google.com
7. www.blogmonyet.com