Anda di halaman 1dari 15

SILSILAH ILMU EKONOMI BARAT

(Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ekonomi Makro)

Disusun oleh :
Siti Nurholisah 160810301015
Kelas C

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

2016
SILSILAH ILMU EKONOMI BARAT
A. PAHAM MERKANTILISME (ABAD 17 DAN 18)
Sejarah pemikiran ekonomi barat berawal dari kaum merkantilisme
yang merupakan pelopor pembuka pemikiran mengenai perekonomian
negara, yakni perekonomian untuk kesejahteraan negara. Kata merkantilisme
berasal dari bahasa latin, yaitu mercere yang berarti jual beli, atau bahasa
Inggris, yaitu merchant yang artinya adalah saudagar. Paham merkantilisme
ini berkembang pada zaman kekuasaan raja-raja abad pertengahan. Menteri
keuangan raja Lodewijk XIV yang bernama Jean Baptiste Colbert merupakan
tokoh utama dari lahirnya paham merkantilisme. Seorang merkantilisme
adalah seorang penganut paham bahwa suatu sistem perekonomian dimana
negara harus melakukan campur tangan seluas-luasnya terhadap dunia usaha
(business) dan perdagangan luar negeri.

Paham Merkantilisme ini menghendaki agar negara bisa menjual


(mengekspor) lebih banyak daripada membeli (mengimpor), serta banyak
mendatangkan logam mulia ke dalam negeri, sehingga kekayaan negara akan
meningkat. Para perintis merkantilisme juga menekankan pentingnya
kekuatan negara dan penaklukan luar negeri sebagai kebijakan utama dari
economic policy. Jika sebuah negara tidak mempunyai supply dari bahan
mentahnnya, maka mereka harus mendapatkan koloni, dimana mereka dapat
mengambil bahan mentah yang dibutuhkan. Koloni berperan bukan hanya
sebagai penyedia bahan mentah, tapi juga sebagai pasar bagi barang jadi.
Agar tidak terjadi suatu kompetisi, maka koloni harus dicegah untuk
melaksanakan produksi dan berdagang dengan pihak asing lainnya.

Ajaran merkantilisme dominan sekali diajarkan diseluruh sekolah Eropa


pada awal periode modern. Namun, di Prancis pelaksanaan paham ini
berjalan begitu ketatnya. Segala macam produksi, disrtribusi, dan
perdagangan luar negeri diatur dan dibatasi oleh pemerintah. Pajak juga
diberlakukan bagi kegiatan ekspor da impor. Parahnya lagi pada paham ini
para bangsawan dibebaskan membayar pajak sedangkan rakyat jelata harus
membayarnya. Sejak saat itulah muncul banyak kontraversi dan
ketidakpuasaan terhadap aliran merkantilisme ini.
B. PAHAM FISIOKRAT ( QUESNAY 1758 )
Akibat ketidakpuasan terhadap sistem merkantilisme karena segala
peraturan dikeluarkan untuk mengatur, membatasi, serta mencampuri segala
kegiatan produksi, distribusi, dan perdagangan luar negeri. Orang-orang
Prancis pertama yang menentang paham merkantilisme ini menamakan diri
mereka sebagai kaum fisiokrat (physiocrats). Tokoh utama dari kaum
fisiokrat ini adalah Francois Quesnay, dokter pribadi Lodewijk XV. Francois
menolak anggapan kaum merkantilisme bahwa kekayaan negara berpusat dari
industri dan perdagangan. Dia beranggapan bahwa hanya pertanianlah yang
dapat menghasilkan kekayaan. Hal inilah yang menyebabkan mereka
menyebut dirinya sebagai kaum fisiokrat. Kata fisiokrat berasal dari bahasa
Yunani, yaitu fisos artinya alam dan kratos yang berarti kekuasaan. Jadi,
fisiokratisme berpendirian bahwa alamlah penguasa kekayaan atau sumber
kekayaan. Francois juga merumuskan dasar ajarannya pada 2 hal pokok.
Pertama, pengendalian/kontrol atas perdagangan luar negri dan industri
(zaman merkantilisme) apapun bentuk pengendaliannya, justru akan
menghambat perkembangan ekonomi Karena terhambatnya arus pendapatan
dan barang. Ajaran Quesnay yang kedua menyatakan bahwa semua pajak
harus ditanggung para pemilik tanah (bukan petani) karena kehidupannya
yang mewah menjadi salah satu penyebab terhambatnya arus pendapatan
dikalangan rakyat.

Tokoh lain dari paham fisiokratisme adalah Jacques Turgot (1727-1781)


menteri keuangan Lodewijk XV. Pendapat dua orang tokoh mazhab
fisiokratisme menjadi salah satu penyebab pecahnya revolusi Prancis tahun
1789. Tidak hanya dua orang itu saja tokoh kaum fisiokrat. Akan tetapi
berapapun jumlah mereka, satu hal sudahlah pasti, yaitu bahwa semua orang
fisiokrat bersepakat pada suatu ide dasar, bahwa kekayaan datang dari tanah!
Hanya tanah sajalah yang mempunyai kekuatan pemberi kehidupan yang
berasal dari Tuhan. Dudley North dalam bukunya yang isinya mendukung
kaum fisiokrat serta mengecam merkantilisme. Filosof David Hume (1711
1776) menyatakan pula bahwa proses perekonimian ala merkantilisme akan
melenyapkan setiap kebaikan neraca perdagangan luar negeri. Lalu Bernard
Mandiville (1670 1733) dalam puisinya menegaskan bahwa kemakmuran
dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat dengan dan hanya dengan
membiarkan setiap orang untuk berbuat atas dasar kepentingan pribadinya,
tanpa campur tangan penguasa dan John Locke (1631 1704) seorang
negarawan dan filosof Inggris, menyerukan pentingnya kebebasan politik.

Pendapat kaum fisiokrat didukung dengan pendapat Sir Isaac Newton


(1642 - 1727) yang dikemukakan pada bukunya berjudul Mathematical
Principles of Natural Philosophy. Dalam bukunya ia menerangkan bahwa
bumi, planet-planet, bintang-bintang, satelit-satelit, masing-masing mengikuti
massa, kecepatan, dan gravitasinya, semuanya itu berjalan teratur dan
harmonis karena bergerak secara alamiah. Begitu Hugo Grotiun 91583
1645) Bapak Hukum Internasional menekankan agar diusahakan terjadi
kondisi fundamental untuk masyarakat manusia. Demikianlah, pada awal
abad XVIII, para filosof telah mengembangkan suatu teori tentang demokrasi
liberal yang berdasar pada hukum alam. Dasar pemikiran kaum fisiokrat
tentang pentingnya kebebasan ekonomi atau ekonomi liberal, yaitu
perekonomian yang terbebas dari segala bentuk kontrol pemerintah.
Kenyataan ini telah menggugah niat seorang professor dan filosof Skotlandia,
tamatan Universitas Glasgow dan Oxford, yang bernama Adam Smith (1723
1797).

C. MAHZAB KLASIK
a. Adam Smith (1776)
Pada tahun 1763, Adam Smith pergi ke Prancis sebagai atas
perdagangan kedutaan besar Inggris di Prancis. Ia bertemu dengan Francois
Quesnay dan Jacques Turgot di Paris, dan mereka bertiga berdiskusi tentang
bentuk dan corak perekonomian yang bagaimanakan yang terbaik. Sepulang
dari Prancis Adam Smith menulis bukunya yang berjudul An Inquiry into the
Nature and Cause of the Wealth of Nations (The Wealth of Nations)
diterbitkan pada tahun1776. Menurut Smith, kekayaan bukan datang dari
perdagangan dan tanah seperti kata orang merkantilis dan fisiokrat, tetapi dari
kerja manusia (human labor) karena atas usaha manusialah terjadinya
perdagangan dan pertanian. Selain itu, Sumber kekayaan bangsa adalah lahan,
tenaga kerja, keterampilan dan modal. Dengan demikian, timbul persoalan
pembagian pendapatan yakni upah untuk pekerja, laba bagi pemilik modal
dan sewa untuk tuan tanah. Tingkat sewa tanah akan meningkat, sedangkan
tingkat upah menurun dengan asumsi berlaku dana upah dan lahan lama-
kelamaan menjadi kurang subur, sedangkan persaingan tingkat laba menurun
yang akhirnya mencapai kegiatan ekonomi yang stationer. Smith berpendapat
bahwa pembagian kerja sangat berguna dalam usaha meningkatkan
produktivitas. Pembagian kerja akan mengembangkan spesialisasi.
Pertambahan penduduk berarti meningkatkan tenaga kerja, dalam hal ini
meningkatkan permintaan dan perluasan pasar.

Adam Smith mendasarkan tulisannya pada suatu system kebebasan


alami (a system of natural liberty) dimana setiap individu dipersilahkan untuk
mengejar kepentingannya masing-masing. Menurutnya, kepentingan pribadi
(self interes) merupakan kekuatan pengendali perekonomian. Semua proses
tersebut akan berjalan menuju kea rah kemakmuran bangsa, seolah-olah
setiap individu didorong oleh tangan gaib (the invisible hand) yang
mendorong mereka untuk maju. Pendapat Adam Smith tentang (invisible
hand) ini sebenarnya sudah tua sejak zamnnya Jean Baptiste Colbert pada
masa pemerintahan Lodewijk XIV, Colbert pernah bertanya kepada seorang
industriawan yang bernama Legendre: Apakah yang sebaiknya dilakukan
oleh pemerintah bagi kebaikan dunia usaha?. Legendre menjawab singkat:
Laizes nous faire (tinggalkan kami sendiri leave us alone). Adam Smith
dalam bukunya juga dibahas tentang kerja sebagai sumber kekayaan, nilai dan
pendapatan harga, teori pembagian pendapatan yang mencakup sewa, upah,
laba, akumulasi modal dan dasar-dasar ilmu keuangan Negara. Itulah
sebabnya Adam Smith diberi gelar Father of Modern Economics (Bapak Ilmu
Ekonomi Modern).

Sebelumnya istilah yang dipakai pada ilmu ini adalah political


economy, yang menyatakan bahwa ekonomi merupakan sebagian dari politik
pemerintah yang khusus berhubungan dengan hal-hal semisal pajak, utang
negara, dan perdagangan luar negeri. Jadi, dengan tidak mengabaikan fondasi
yang pernah diletakkan oleh kaum merkantilis dan fisiokrat, ilmu ekonomi
kita sekarang ini pada hakikatnya berdiri tegak diatas pondasi yang telah
dengan teguh dibina oleh Adam Smith.

b. David Ricardo (1817)


Sepaham dengan aliran atau paham yang diciptakan Adam Smith, maka
muncullah tokoh-tokoh lain David Ricardo yang berasal dari Inggris. Ricardo
adalah seorang Pemikir yang paling menonjol di antara segenap pakar
Mazhab Klasik. Ia sangat terkenal karena kecermatan berpikir, metode
pendekatannya hampir seluruhnya deduktif. David Ricardo telah
mengembangkan pemikiran-pemikiran Adam Smith secara lebih terjabar dan
juga lebih sistematis. Sedangkan pendekatan teoretis deduktif, pemikirannya
didasarkan atas hipotesis yang dijadikan kerangka acuannya untuk mengkaji
berbagai permasalahan menurut pendekatan logika.

Teori yang dikembangkan oleh Ricardo menyangkut empat kelompok


permasalahan yaitu: teori tentang distribusi pendapatan sebagai pembagian
hasil dari seluruh produksi dan disajikan sebagai teori upah, teori sewa tanah,
teori bunga dan laba, teori tentang nilai dan harga, teori perdagangan
internasional dan teori tentang akumulasi dan perkembangan ekonomi. Dalam
pandangan Ricardo, usaha membangun ekonomi itu merupakan kepentingan
rakyat yang harus diutamakan, karena mereka yang akan menikmati hasil
kemajuan pembangunan ekonomi itu.

c. T. R. Malthus (1798)
Malthus adalah seorang ilmuwan di bidang teologi yang kemudian
memusatkan perhatiannya kepada masalah-masalah ekonomi dalam
perkembangan masyarakat. Malthus adalah alumnus dari University of
Cambridge, Inggris. Malthus diangkat menjadi Profesor of History and
Political Economy di East India College. Bagian yang paling penting dalam
pola dasar pemikiran Malthus dan kerangka analisisnya ialah menyangkut
teori tentang sewa tanah dan teori tentang penduduk dengan bukunya yang
berjudul An Essay on the Principle of Population. Teori Malthus pada
dasarnya sederhana saja, Kelahiran yang tidak terkontrol menyebabkan
penduduk bertambah menurut deret ukur padahal persediaan bahan makanan
bertambah secara deret hitung. Malthus juga berpandangan bahwa kaum
pemilik modal adalah tokoh sentral dalam pembangunan ekonomi. Semakin
besar pabrik/perusahaan, semakin makmur pula penduduk sekitar. Jika semua
perusahaan dibiarkan maju, maka penduduk secara keseluruhan akan
mendapat manfaatnya dan seluruh negri menjadi makmur.

Namun, para pengusaha yang telah demikian makmurnya itu masih


juga ingin bertambah makmur. Dengan segala cara diusahakannya tambahan
keuntungan. Usaha yang paling populer waktu itu adalah pengambilan tenaga
kerja dan anak-anak sebagai pekerja karena upah keduanya rendah
dibandingkan dengan tenaga kerja pria. Akhirnya para pekerja pria
diberhentikan dan terjadi pengangguran besar-besaran dan kemiskinan
merajalela. Namun para kapitalis kebingungan karena barang yang mereka
hasilkan tidak terjual, karena rakyat miskin. Demikianlah dengan Amerika
Serikat pada tahun 1930-an pemikiran tersebut tidak berjalan lancar, pasalnya
disana justru terjadi deflasi yang bisa mengakibatkan kemiskinan secara
massal. Perekonomian Amerika Serikat jatuh ke tingkat serendah-rendahnya
dan inilah yang dikenal dengan zaman malaise atau depresi besar yang amat
terkenal itu.

d. John Maynard Keynes (1936)


Hal ini yang mendorong John Maynard Keynes (orang Inggris)
merevisi buah pikiran liberalisme Adam Smith yang tidak berpengaruh apa-
apa selain bencana. Pada tahun 1936, terbitlah bukunya Keynes yang berjudul
The general Theory of Employment, Interest and Money). Dalam buku itu
terdapat hal penting yang berbeda ddengan pendapat mazhab/paham klasik
yang mengharamkan campur tangan pemerintah dalam perekonomian,
diperkenalkanlah kebijakan ekonomi pemerintah yang sering disebut
kebijakan fiscal (fiscal policy).

Menurut Keynes, pemerintah harus turun tangan dalam mengatur dan


mengatasi perekonomian dengan 2 cara, yaitu pengeluaran pemerintah yang
besar-besaran guna membuka usaha, lapangan pekerjaan sehingga rakyat
miskin kembali bekerja dan pajak (pemasukan pemerintah). Pemikiran
mengenai aliran ekonomi baru yang dibawa dan dikembangkannya ini, maka
para ahli ekonomi zaman sekarang menyebutnya sebagai Keynesian
Economics (aliran Keynesian) atau kapitalisme.

C. SOSIALISME
a. Karl Heinrich Marx ( 1867 )
Karl Heinrich Marx, pendeta Nasrani dari jerman merasa prihatin
dengan penderitaan rakyat dan keganasan kaum kapitalis yang menindas
rakyat kecil. Kekacauan itu disebabkan karena merajalelanya kaum borjuis
(kapitalis) sehingga kaum proletar (masyarakat kebanyakan) menjadi
korbannya. Karl Marx mulai menuangkan idenya dalam bukunya yang
berjudul Das Kapitalis (Modal) tahun 1917. Menurut Marx yang merupakan
seorang ilmuwan dan pemikir besar bidang filosof serta Pemimpin Sosialisme
Modern, menurutnya negara harus diperintah oleh rakyat dan bentuk dictator
proletariat. Pemerintah yang memegang seluruh kekuasaan hanya
melaksanakan kepemerintahan atas nama kaum proletar.

b. Vladimir Ilich Lenin ( 1870-1924 )


Lenin adalah bapak revolusi Rusia. Karya tulisnya cukup banyak. Lenin
tidak sabar menunggu kejatuhan kapitalis seperti yang diramal Marx.
Daripada menunggu, ia berprinsip lebih lebih baik mendirikan Negara
komunis pertama di Rusia. Maksud ini tercapai melalui Revolusi Bolshevik
1917.
1. Kapitalisme Monopoli dan Imperialisme Lenin menguraikan beberapa
karakteristik kapitalisme monopoli sebagai berikut;
a. Konsentrasi produksi di tangan industri yang semakin sedikit
jumlahnya;
b. Menger ( penggabungan ) finansil dan capital industri, sewaktu bank-
bank dan lembaga finansil semakin menguasai kontrol atas alokasi
sumber- sumber modal;
c. Bangkitnya ekspor capital ( dan bukannya komoditas ) sebagai bentuk
utama pertukaran internasional
d. Pembagian dunia ke dalam lingkungan ekonomi dipengaruhi dan
dikontrol oleh kapitalis monopoli;
e. Pembagian lebih lanjut ( sub-divisi ) dunia ke dalam lingkungan
politik yang dipengaruhi oleh pemerintahan Negara- Negara kapitalis
mapan.

2. Teori pembangunan yang tak Imbang


Teori pembangunan tak imbang ( The Theory of Uneven
Development ) adalah batu loncatan analisis Lenin tentang lokus ( tempat
kejadian ) revolusi proletariat. Menurut Lenin, pertumbuhan di tiap Negara
tidak sama, termasuk di Negara- Negara kapitalis.

c. China, Uni Sovyet, dan Eropa Timur


Aliran pemikiran ekonomi yang diperkenalkan Marx dan Engels ini
dikenal dengan nama Komunisme (Communism) dan banyak dianut oleh
negara-negara Eropa Timur, termasuk (bekas) Uni Soviet dan Cina. Namun,
dalam perkembanganya, ternyata aliran ekonomi komunisme ini juga tidak
bisa bertahan lama. Dunia menyaksikan bahwa perkembangan ekonomi di
negara-negara penganut komunisme ini selalu tertinggal dari negara-negara
kapitalis barat. Akhirnya pada tahun 1991, presiden Uni Soviet Mikhail
Ivanovich Gorbachev membubarkan Partai Komunis Soviet yang kemudian
justru disusul dengan runtuhnya negara Uni Soviet itu sendiri. Sementara itu,
beberapa ahli ekonomi merasa bahwa ekonomi klasik tidak sepenuhnya salah.
Mereka berpendapat bahwa campur tangan pemerintah tetap tidak baik bagi
perekonomian, karena akan menyebabkan proses ekonomi di pasar berjalan
tidak wajar. Kemudian mereka merevisi paham ekonomi klasik dan
merumuskan aliran pemikiran ekonomi baru yang disebut aliran Ekonomi
Klasik Baru (Neoclassical Economics).

D. MAHZAB NEOKLASIK
a. John Stuart Mill ( 1848 )
Salah satu tokohnya adalah John Stuart Mill yang pemikirannya
dituangkan dalam bukunya yang berjudul "Principle of Political Economy",
dengan pemikiran yang eklektiknya. Sumbangan Mill yang paling besar
adalah metode ilmu ekonomi yang bersifat deduktif dan metode induktif.
Namun, hipotesisnya belum didukung dengan data empirik, disamping itu
pembahasannya tentang teori nilai tidak melihat dari biaya produksi, tetapi
telah menggunakan sisi permintaan melalui teori elastisitas. Mill menjelaskan
bahwa hukum yang mengatur produksi lain dengan hukum distribusi
pendapatan, juga memperkenalkan human capital investment, yaitu
keterampilan, kerajinan dan moral tenaga kerja dalam meningkatkan
produktivitas. Akibat pemikiran ini, muncullah aliran pemikiran ekonomi
baru yang disebut aliran Ekonomi Klasik Baru (Neoclassical Economics).

Aliran ini berpendapat bahwa jika terjadi masalah dalam perekonomian,


biar perekonomian itu sendiri yang memperbaikinnya. Dengan kata lain,
kebijakan perkataan lain, kebijakan fiskal (fiscal policy) yang diperkenalkan
oleh Keynes itu tetap mereka nyatakan haram karena mengizinkan campur
tangan pemerintah dalam perekonomian. Sebagai gantinya, mereka
megusulkan dipakainya kebijakan moneter ( moneter policy). Dengan
kebijakan moneter ini, mereka mengusulkan agar jika timbul masalah
ekonomi, maka cukuplah diadakan penyesuaian- peyensuaian dibidang
moneter saja, seperti menyesuaikan jumlah uang yang beredar dan suku
bunga. Mengikuti tema sentral ide kaum neoklasik ini, paham yang mereka
bawa itu sering pula disebut orang sebagai paham moneterisme.

b. Walras, Marshall, Fisher (1880-1910)


Tokoh selanjutnya adalah Fisher yang melihat dari arus pendapatan
masa depan perlu dinilai sekarang, yang dipengaruhi oleh kekuatan subjektif
dan objektif. Fisher menjelaskan pula terjadinya bunga melalui permintaan
dan penawaran terhadap tabungan dan investasi. Dia memberi sumbangan
pula pada tingkat bunga. Tingkat bunga merupakan marginal rate of return
over cost.

Pemikiran Marshall sebagai Bapak Ekonomi Neoklasik dan sumbangan


yang paling terkenal dari pemikiran Marshall adalah sitetis antara pemikiran
pemula dari marjinalis dan pemikiran Klasik. Menurutnya, bekerjanya kedua
kekuatan, yakni permintaan dan penawaran, ibarat bekerjanya dua mata
gunting. Dengan demikian, analisis ongkos produksi merupakan pendukung
sisi penawaran dan teori kepuasan marjinal sebagai inti pembahasan
permintaan. Untuk memudahkan pembahasan keseimbangan parsial, maka
digunakannya asumsi ceteris paribus, sedangkan untuk memperhitungkan
unsur waktu ke dalam analisisnya, maka pasar diklasifikasikan ke dalam
jangka sangat pendek, jangka pendek, dan jangka panjang. Dalam membahas
kepuasan marjinal terselip asumsi lain, yakni kepuasan marjinal uang yang
tetap.

Pemikiran Alfred Marshall yang mahir dalam menggunakan peralatan


matematika kedalam analisis ekonomi. Dalam pembahasan sisi permintaan,
Marshall telah menghitung koefisien barang yang diminta akibat terjadinya
perubahan harga secara relatif. Nilai koefisien ini dapat sama dengan satu,
lebih besar dan lebih kecil dari satu. Tetapi, ada dua masalah yang belum
mendapat penyelesaian dalam hal sisi permintaan, yakni aspek barang-barang
pengganti dan efek pendapatan. Robert Giffen telah dapat membantu
penyelesaian kaitan konsumsi dan pendapatan dengan permintaannya
terhadap barang-barang, sehingga ditemukan Giffen Paradox. Marshall juga
menemukan surplus konsumen. Pengertian ini dikaitkan pula dengan welfare
economics. Bahwa konsumen keseluruhan mengeluarkan uang belanja lebih
kecil daripada kemampuannya membeli. Jika itu terjadi, maka terjadi surplus
konsumen selama pajak yang dikenakan pada konsumen lebih kecil daripada
surplusnya itu, maka kesejahteraannya tidak menurun. Tetapi, pajak juga
dapat digunakan untuk subsidi, terutama bagi industri-industri yang struktur
ongkosnya telah meningkat. Marshall juga menjelaskan mengapa kurva
ongkos total rata-rata menurun dan meningkat. Hal ini berkaitan dengan
faktor internal dan eksternal perusahaan atau industri. Mekanisme permintaan
dan penawaran dapat mendatangkan ketidakstabilan, karena setiap usaha yang
dilakukan untuk kembali ke posisi seimbang ternyata membuat tingkat harga
dan jumlah barang menjauhi titik keseimbangan. Keadaan tidak stabil itu
terjadi jika kurva penawaran berjalan dari kiri-atas ke kanan-bawah. Jika
variabel kuantitas independen, maka terjadi kestabilan, tetapi jika berubah
harga menjadi independen, maka keadaan menjadi tidak stabil.

E. ILMU EKONOMI MAINSTREM MODERN


Dalam ilmu ekonomi mainstream modern, konsep pasar adalah setiap
struktur yang memungkinkan pembeli dan penjual untuk menukar jenis
barang, jasa dan informasi. Pertukaran barang atau jasa untuk uang adalah
transaksi. Pasar peserta terdiri dari semua pembeli dan penjual yang baik
yang memengaruhi harganya. Pengaruh ini merupakan studi utama ekonomi
dan telah melahirkan beberapa teori dan model tentang kekuatan pasar dasar
penawaran dan permintaan. Ada dua peran di pasar, yaitu pembeli dan
penjual. Pasar memfasilitasi perdagangan dan memungkinkan distribusi dan
alokasi sumber daya dalam masyarakat. Pasar mengizinkan semua item yang
diperdagangkan untuk dievaluasi dan harga. Sebuah pasar muncul lebih atau
kurang spontan atau sengaja dibangun oleh interaksi manusia untuk
memungkinkan pertukaran hak (kepemilikan) jasa dan barang.

F. PEREKONOMIAN DALAM TRANSISI


Perekonomian dalam masa transisi pada umumnya didefinisikan
sebagai negara-negara yang telah berpindah dari perekonomian dengan
perencanaan terpusat menjadi sistem perekonomian pasar dengan
kepemilikan pribadi dari aset-aset dan lembaga-lembaga yang mendukung
pasar. Termasuk didalamnya adalah negara-negara bekas Uni Soviet, negara-
negara di Eropa Timur dan Tengah yang pernah memiliki ikatan dengan Uni
Soviet dan negara-negara di Asia dan Afrika yang baru-baru saja mengalami
transformasi dalam sistem ekonominya, seperti RRC, Mongolia, dan
Vietnam. Dalam beberapa hal negara-negara transisi bekas Uni Soviet
berbeda dengan negara-negara transisi di Asia dan Afrika. Seperti dalam
budaya, struktur ekonomi, lingkup sektor informal,dantitik awal pratransisi.

Namun mereka sama dalam hal pengaruh dari dirombaknya sistem


badan usaha milik negera. Perubahan ini diperburuk dengan runtuhnya
hubungan dagang historis dan guncangan dalam aspek fiskal di dalam
anggaran pemerintah. Dampak dari kombinasi berbagai guncangan ini sangat
dramatis. Kemiskinan dan pengangguran meningkat, tingkat upahmenurun,
dan perusahan-perusahaan yang baru terbentuk berjuang agar dapat bersaing
di dalam pasar. Sampai tahun 1998,5,1 persen dari populasi di negara-negara
tersebut hidup dengan pendapatan kurang dari US$1 per hari (dibandingkan
dengan US$1,5 persen pada tahun 1990), diikuti dengan tingkat kesenjangan
pendapatan yang semakin melebar di negara-negara berpendapatan rendah
ataupun yang sedang mengalami konflik internal. Kelompok masyarakat yang
rentan akibat berbagai masalah tersebut tidak dapat seterusnya bergantung
pada program-program subsidi pemerintah. Peningkatan urbanisasi
melemahkan peran dari keluarga dan masyarakat dalam mengatasi masalah
sehari-hari, terutama di negara-negara Asia. Konflik dan semakin
memburuknya nilai tukar perdagangan (terms of trade) membuat proses
transisi semakin rumit di negara-negara Afrika yang berpendapatan rendah.