Anda di halaman 1dari 10

KANKER

DASAR KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Oleh:
Efi Zuhrortul K 142310101044
Puspa Cintia Dewi 162310101107
Wiwit Ulansari 162310101282

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS JEMBER
NOVEMBER,2017
A. BERITA

1.Studi: Segelas Alkohol Sehari Berisiko Sebabkan Kanker Kulit

Gloria Safira Taylor , CNN Indonesia | Senin, 07/08/2017 19:19 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Penelitian terbaru kembali menegaskan konsumsi segelas


alkohol sehari dapat menyebabkan seseorang berisiko terkena kanker kulit. Begitu
juga jika mengkonsumsi wine, bisa menyebabkan melanoma, jenis kanker kulit
berbahaya. Aktivitas itu bahkan ditengarai lebih berbahaya dibanding duduk di bar
atau berjemur lebih lama di bawah sinar matahari. Dilansir dari Daily Mail, penyebab
kanker kulit dari minuman alkohol tersebut diyakini karena adanya reaksi bahan
kimia yang dilepaskan ketika minuman alkohol tersebut masuk dalam tubuh.Studi
berskala besar juga menemukan konsumsi alkohol atau wine meningkatkan
kemungkinan dua jenis penyakit. Setiap 10 gram setiap harinya meningkatkan risiko
sebesar 11 persen pada satu jenis kanker, dan jenis penyakit kulit lainnya sebesar
tujuh persen.

Kanker kulit yang paling sering ditemui adalah kanker kulit non melanoma (NMSC).
Kanker tersebut kebalikan dari kanker kulit melanoma yang merupakan kanker kulit
paling berbahaya karena kemampuan metastasis dini. Inggris merupakan salah satu
negara yang paling banyak penduduknya yang terkena kanker kulit. Setiap tahunnya,
jumlah penderita juga mengalami peningkatan. Seorang dermatologi Dr Eunyoung
Cho dari dari Universitas Brown, Rhode Island mengatakan salah satu cara untuk
mengurangi kanker kulit tersebut adalah mengontrol perilaku seseorang dalam
konsumsi alkohol."Mengingat prevalensi kanker kulit dan minuman beralkohol yang
tinggi, maka memodifikasi perilaku konsumsi alkohol mungkin dapat membantu
mengurangi secara substansial potensi risiko terkena kanker kulit non melanoma,"
ujarnya.

"Ini adalah temuan penting mengingat ada beberapa cara untuk mencegah kanker
kulit," ucapnya kemudian.Tahun 2016, para peneliti juga menemukan jika segelas
anggur putih setiap hari meningkatkan risiko kanker kulit melanoma, jenis penyakit
yang ketiga dan paling mematikan sebanyak 13 persen. Bahkan, sekitar 3,6 persen
kasus kanker kulit di seluruh dunia dikaitkan dengan alkohol termasuk kanker hati,
kanker pankreas, kanker usus dan kanker payudara. Penyebabnya adalah zat etanol
dalam alkohol yang memetabolisme menjadi asetaldehida senyawa yang dapat
merusak DNA. Menurut Cho, secara umum metabolisme etanol berperan penting
dalam karsionegenesis alcohol. "Metabolisme etanol juga menghasilkan produksi
spesies oksigen reaktif yang menyebabkan kerusakan DNA dan berkontribusi
terhadap mutasi," tuturnya.Dalam penelitiannya tersebut, Cho mengumpulkan data
dari 13 penelitian sebelumnya termasuk yang diikuti peserta dari Inggris. Dia
membandingkannya dengan konsumsi alkohol pada 95.241 kasus kanker kulit non
melanoma.

Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology tersebut mendefinisikan


jika minuman standar sebanyak 10 gram alkohol sama dengan segelas kecil anggur
atau setengah liter bir. Dari situ ditemukan jika faktor risiko karsinoma sel skuamosa
kulit naik 11 persen dan karsinoma sel basal naik tujuh persen. Keduanya merupakan
tumor yang muncul di lapisan terluar dari kulit. Tidak seperti kanker kulit melanoma,
dua jensi sel tersebut biasanya mudah diobati. Cho mengatakan kanker kulit non
melanoma terutama mencakup karsinoma sel basal (BCC) dan karsinoma kulit
(cSCC) menyumbang sebagian besar kanker kulit dan juga merupakan keganasan
paling umum di Amerika Serikat ."Mereka yang lahir pada tahun 1994 memiliki
risiko seumur hidup 28-33 persen diperkirakan untuk BCC dan 7-11 persen untuk
cSCC. Selain itu, tingkat insiden BCC dan cSCC meningkat di seluruh dunia,"
ucapnya.

"Dalam analisis meta kami, asupan alkohol yang lebih tinggi dikaitkan secara
signifikan dengan peningkatan risiko BCC dan cSCC yang tergantung pada
dosis,"tuturnya.Diketahui, setiap tahunnya Inggris memiliki 100 ribu kasus baru
kanker kulit. Penyakit tersebut telah membunuh lebih dari 2500 orang atau sama
dengan tujuh orang meninggal setiap harinya karena penyakit tersebut.

2 .Dari Labu Siam Tercipta Salep Pengobat Kanker Kulit

Switzy Sabandar 23 Jul 2017, 23:07 WIB

Liputan6.com, Yogyakarta - Sekelompok mahasiswa Fakultas Biologi Universitas


Gadjah Mada (UGM) meneliti manfaat labu siam. Hasilnya, ekstrak sayur buah yang
dikenal dengan sebutan jipang itu dijadikan salep dan bisa untuk mengobati kanker
kulit. Dwi Jami Indah Nurhasanah, Bening Larasati, Dea Febiansi, dan Dhella
Apriliandha Roshitafandi yang mengadakan penelitian untuk mengetahui senyawa
antikanker dalam labu siam secara detail. Mereka mengadakan uji kualitatif, uji
kuantitatif, serta uji anti proliferasi menggunakan sel line yang memiliki sifat
proliferasi yang sama dengan sel kanker. Sampel yang diuji berupa ekstrak labu siam
dalam bentuk pasta. Uji kualitatif adalah uji kromatografi lapis tipis, sedangkan uji
kuantitatif adalah uji spektrofotometri. Dalam pengujian, labu siam dibagi menjadi
tiga parameter berdasarkan ukuran buahnya. Asumsinya, semakin besar ukuran buah,
maka umur dari buah tersebut semakin tua.
"Hasilnya, menunjukkan dari ketiga parameter umur labu siam yang digunakan,
semuanya mengandung senyawa saponin dan flavonoid yang merupakan senyawa
metabolit sekunder dan mempunyai sifat sebagai antikanker," ucap Indah, belum
lama ini.Selanjutnya, mengolah labu siam menjadi ekstrak. Ekstrak tersebut diolah
dalam bentuk salep dan hasil uji antiproliferatif menunjukkan positif. "Artinya,
ekstrak labu siam yang diujikan dapat menghambat pertumbuhan sel," ujar
mahasiswa UGM tersebut.

Indah menuturkan, penelitian ini bermula dari keprihatinan terhadap kanker


kulit Melanoma malignamerupakan salah satu jenis kanker yang bersifat ganas, cepat
menyebar, dan menyebabkan kematian.

Sekelompok mahasiswa Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta, menemukan salep Labu


Siam sebagai obat kanker kulit. (Liputan6.com/Switzy Sabandar).Organisasi
Kesehatan Dunia atau WHO mencatat, setidaknya terdapat 3.300 kasus melanoma
baru yang terjadi setiap tahun di Indonesia. Melanoma dapat muncul pada kulit
normal atau berawal dari tahi lalat. Perubahan tahi lalat normal menjadi melanoma ini
terkadang tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat.
Mahasiswa UGM ini menilai, selain sebagai terobosan unik, salep tersebut juga
meningkatkan nilai ekonomis labu siam yang selama ini hanya dianggap sebagai
sayur pelengkap. Padahal, labu siam memiliki banyak manfaat lainnya

3. Obat Kanker Terbaru Punya Efek Samping Hitamkan Rambut

Elise Dwi Ratnasari , CNN Indonesia | Selasa, 25/07/2017 20:15 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Ada masanya rasa putus asa melanda pasien kanker. Tak
hanya soal penyakit yang diderita, tetapi juga proses pengobatan yang membuat
tampilan fisik berubah, misalnya kerontokan rambut hingga kebotakan akibat
kemoterapi. Penemuan terbaru obat kanker ternyata memiliki efek yang sama sekali
berbeda. Obat ini mampu menghitamkan rambut pasien yang beruban.Peneliti dari
Spanyol melakukan tes pada tiga jenis obat kanker, Keytruda, Opdivo dan Tecentriq
yang disinyalir punya efek negatif pada pasien. Namun, justru hasil temuan mereka
begitu mengejutkan. Setelah mengonsumsi obat, sebanyak 14 pasien dari total 52
pasien yang terlibat studi mendapati rambut mereka yang beruban berubah menjadi
cokelat dan lama-kelamaan menghitam. Awalnya Noelia Rivera, dermatologis dari
Autonomous University, Barcelona, menduga hal ini hanyalah kasus khusus. Namun
saat mereka mengecek foto pasien lain sebelum dan sesudah konsumsi obat, hal
serupa terjadi. Dalam 13 kasus, rambut pasien yang beruban berubah menjadi cokelat
atau hitam sempurna. Sementara pada satu pasien, rambut berubannya berubah
menjadi hitam sebagian.Studi ini juga menunjukkan bahwa dalam 14 pasien ini juga
merespons pengobatan lebih baik baik dari pasien lain. Artinya, kembalinya pigmen
rambut menunjukkan bahwa obat bekerja pada mereka. Hingg saat ini, para dokter
yang terlibat belum punya penjelasan rinci soal perubahan warna rambut ini. Namun
mereka berencana untuk melakukan studi lanjutan soal efek samping yang
menguntungkan ini. Menariknya lagi, obat yang dilibatkan dalam studi ini
sebelumnya berhubungan dengan hilangnya warna rambut pada pasien melanoma,
atau kanker kulit. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmu pengobatan,
JAMA. Rivera memperingatkan untuk tidak menggunakan obat kanker ini untuk
mengatasi rambut beruban. Jika komponen pengubah warna rambut dalam obat
terkonfirmasi, maka pengobatan baru untuk kasus rambut beruban akan
dikembangkan, seperti dilansir dari Oddity Central.
B. Peran Perawat

a. Care Giver
Perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan secara langsung dan tidak
langsung kepada klien, dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang
meliputi : pengkajian dalam upaya pengumpulan data dan informasi yang benar,
menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan analisis data, merencanakan
intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul,
melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang ada dan melakukan
evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah
dilakukan.
a. Advocate
Perawat sebagai penghubung antara klien dengan tenaga medis lain dalam upaya
pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan klien memahami semua
informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tenaga medis lain. Perawat juga
bertindak sebagai sumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan
terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien.
b. Counselor
Perawat memberikan konseling / bimbingan kepada klien ,keluarga dan
masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling diberikan untuk
mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan sehat sakitnya ,
sehingga pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan ,mengubah
perilaku hidup kearah perilaku hidup sehat.
c. Educator
Perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya melalui pemberian
pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medis yang diterima
sehingga klien / keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang
diketahuinya. Selain itu, perawat juga memberikan pendidikan kesehatan kepada
kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kader kesehatan dan lain-lain.
d. Collaborator
Perawat bekerjasama dengan tim kesehatan lain serta keluarga dalam menentukan
rencana maupun pelaksanaan asuhan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan
kesehatan klien.
e. Change Agent
Perawat mengadakan / memberikan invasi dalam cara berfikir ,bersikap
,bertingkah laku dan meningkatkan keterampilan klien / keluarga agar menjadi sehat.
Hal ini mencakup perencanaan ,kerjasama ,perubahan yang sistematis yang
berhungan dengan klien dan cara memberikan perawatan kepada klien.
f. Consultan
Perawat sebagai sumber informasi yang dapat membatu memecahkan masalah
klien yang berkaitan dengan kondisi spesifik klien.
DAFTAR PUSTAKA

Ali H.Z. 2002. Dasar-dasar Keperawatan Profesional. Widya Medika. Jakarta.

Taylor, Gloria Safira.( 2017). Studi: Segelas Alkohol Sehari Berisiko Sebabkan
Kanker Kulit. Jakarta: CNN Indonesia [https://www.cnnindonesia.com/gaya-
hidup/20170807125350-255-232961/studi-segelas-alkohol-sehari-berisiko-
sebabkan-kanker-kulit/ Diakses pada tanggal 30 oktober pukul 16.00]

Sabandar, Switzy. (2017). Dari Labu Siam Tercipta Salep Pengobat Kanker Kulit.
Jakarta:Liputan6. [http://regional.liputan6.com/read/3032885/dari-labu-siam-
tercipta-salep-pengobat-kanker-kulit Diakses pada tanggal 30 Oktober 2017
pada pukul 16.45 WIB ]

Ratnasari, Elise Dwi.(2017). Obat Kanker Terbaru Punya Efek Samping Hitamkan
Rambut. Jakarta: CNN Indonesia [https://www.cnnindonesia.com/gaya-
hidup/20170725194754-255-230279/obat-kanker-terbaru-punya-efek-
samping-hitamkan-rambut/ Di akses pada tanggal 30 oktober 2017 pada pukul
17.00]