Anda di halaman 1dari 20

PAPER KASUS PELANGGARAN KONSTITUSI DI INDONESIA

KASUS PENEMBAKAN MISTERIUS YANG MELIBATKAN

SOEHARTO

OLEH :

NI WAYAN EVY AYUDIA PRATIWI

16.321.2524

A10-B

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI

TAHUN AJARAN 2016/2017


DAFTAR ISI

Daftar Isi ........................................................................................................ i

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Kasus Penembakan Misteriusyang Melibatkan Soeharto .................... 3

2.2 Kronologi Kasus Penembakan yang Melibatkan Soeharto .................. 5

2.3 Hubungan konstitusi dengan Hak Asasi Manusia ................................ 6

2.4 Analisis Kasus Penembakan Misterius yang Melibatkan Soeharto ..... 9

2.5 Solusi yang dapat diberikan untuk Mencegah Keberlanjutan

Pelanggaran HAM ................................................................................ 11

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 16

Daftar Pustaka

i
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di

Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era

pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas

penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama.

Masa orde baru dimulai dengan dikeluarkannya supersemar pada 11 Maret

1966. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Setelah keluarnya

Supersemar, tindakan pertama Soeharto yaitu melakukan tindakan untuk

membubarkan PKI dan ormas-ormasnya. Pada awalnya pemerintahan berjalan

dengan baik. Namun, lama-kelamaan terjadi penyimpangan peranan

pemerintah eksekutif lebih dominan daripada pemerintah legislatif dan

yudikatif. Selain itu, dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia

berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi

yang merajalela di negara ini. Namun kesenjangan antara rakyat yang kaya

dan miskin juga semakin melebar.

Dengan menggunakan Orde Baru pimpinan militer di bawah Suharto telah

selama puluhan tahun mengebiri kehidupan demokratik, menindas kebebasan

bersuara dan berorganisai, mengontrol pers, membungkam suara kritis,

memalsu Pancasila, melakukan teror berjangka lama, membunuh dan

menculik para penentangnya, sambil mengeruk kekayaan publik dengan cara-

cara haram, serta melakukan korupsi dan pencurian dengan berbagai bentuk

1
dan cara. Orde Baru menyebabkan ini sebagian terbesar rakyat Indonesia telah

mengalami berbagai macam penderitaan. Kebijakan yang dikeluarkan oleh

presiden pada masa orde baru merupakan bentuk penyimpangan konstitusi

yang berhubungan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Kasus Penembakan Misterius yang Melibatkan Soeharto?

2. Bagaimana Kronologi Kasus Penembakan yang Melibatkan Soeharto?

3. Apa Hubungan Konstitusi dengan Hak Asasi Manusia?

4. Bagaimana Analisis Kasus Penembakan Misterius yang Melibatkan

Soeharto?

5. Apa Solusi yang dapat diberikan untuk Mencegah Keberlanjutan

Pelanggaran HAM?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kasus Penembakan Misterius yang Melibatkan Soeharto


Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyatakan,

penembakan misterius yang terjadi dari rentang waktu 1982 sampai 1985

termasuk dalam pelanggaran HAM berat. Hal tersebut didasarkan pada unsur-

unsur Pasal 9 Undang-Undang Nomor 26 tentang Pengadilan HAM, yaitu

pembunuhan, perampasan kemerdekaan, penyiksaan, dan penghilangan orang

secara paksa telah terpenuhi.

"Korban penembakan misterius adalah preman kelas teri atau mereka

yang melawan kekuasaan Orde Baru, residivis atau mantan narapidana, dan

orang yang diadukan sebagai penjahat. Ketiga korban itu dibunuh atau

dihilangkan dengan sengaja dan mereka tidak pernah diadili sesuai hukum

yang sah. Oleh karena itu, (penembakan misterius) termasuk pelanggaan

HAM berat karena sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 9 UU No

26/2000," ujar Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan Pelanggaran HAM Petrus,

Yosep Adi Prasetyo, di kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (24/7/2012).

Yosep turut pula mengungkapkan bahwa peristiwa penembakan

misterius tersebut terbukti melanggar HAM berat karena pengambilan

keputusan dalam petrus terbukti sepihak. Korban yang berjenis kelamin laki-

laki dan berusia rata-rata 23 sampai 52 tahun ditangkap, disiksa, dibunuh, dan

dihilangkan tanpa melalui peradilan yang sah untuk membuktikan korban

terbukti melanggar undang-undang pidana. Para saksi yang memberikan

3
keterangan pada Komnas HAM menyebutkan bahwa petrus berlangsung

secara sistematis dan meluas.

Kedua hal tersebut, menurut Yosep, merupakan cara yang digunakan

oleh pelaku dalam menjaring korban dan menghilangkan nyawa korban

penembakan misterius. Pelaku peristiwa penembakan misterius, lanjut Yosep,

diduga adalah TNI, Polri, Garnisun, dan pejabat sipil. Hal tersebut

berdasarkan keterangan dari para saksi yang menyebutkan bahwa korban

petrus diculik terlebih dahulu oleh aparat keamanan.

Tindakan dari aparat keamanan tersebut menindaklanjuti perintah

Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib)

Republik Indonesia di bawah komando dan pengendalian Presiden Soeharto.

"Kedudukan sebagai kepala negara atau pejabat pemerintahan tidak

membebaskannya dari tanggung jawab menurut hukum internasional. Jadi,

yang paling patut dimintai pertanggungjawaban atas penembakan misterius

adalah Presiden dan Pangkopkamtib saat itu karena kasus petrus adalah bentuk

pelanggaran HAM berat," paparnya.

Komnas HAM melalui tim Ad Hoc penyelidikan pelanggaran HAM

berat menyatakan, peristiwa penembakan misterius merekomendasikan kedua

hal pada pemerintah terkait. Dua hal tersebut adalah meminta Jaksa Agung

menindaklanjuti hasil penyelidikan Komnas HAM dengan penyidikan sesuai

ketentuan KUHAP dan UU No 26/2000 tentang pengadilan HAM. Selain itu,

Presiden dan DPR diminta mempercepat proses hukum dengan

memberlakukan asas retroaktif yang diatur Pasal 43 UU No 26/2000 tentang

pengadilan HAM. ( Jakarta, Kompas.com)

4
2.2 Kronologi Kasus Penembakan yang Melibatkan Soeharto
Penembakan misterius atau sering disingkat Petrus (operasi clurit)

adalah suatu operasi rahasia dari Pemerintahan Soeharto pada tahun 1980-an

untuk menanggulangi tingkat kejahatan yang begitu tinggi pada saat itu.

Operasi ini secara umum adalah operasi penangkapan dan pembunuhan

terhadap orang-orang yang dianggap mengganggu keamanan dan ketentraman

masyarakat khususnya di Jakarta dan Jawa Tengah. Pelakunya tak jelas dan

tak pernah tertangkap, karena itu muncul istilah "petrus", penembak misterius.

Petrus berawal dari operasi penanggulangan kejahatan di Jakarta. Pada

tahun 1982, Soeharto memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya,

Mayjen Pol Anton Soedjarwo atas keberhasilan membongkar perampokan

yang meresahkan masyarakat. Pada Maret tahun yang sama, di hadapan

Rapim ABRI, Soeharto meminta polisi dan ABRI mengambil langkah

pemberantasan yang efektif menekan angka kriminalitas. Hal yang sama

diulangi Soeharto dalam pidatonya tanggal 16 Agustus 1982. Permintaannya

ini disambut oleh Pangopkamtib Laksamana Soedomo dalam rapat koordinasi

dengan Pangdam Jaya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya dan Wagub DKI

Jakarta di Markas Kodam Metro Jaya tanggal 19 Januari 1983. Dalam rapat itu

diputuskan untuk melakukan Operasi Clurit di Jakarta, langkah ini kemudian

diikuti oleh kepolisian dan ABRI di masing-masing kota dan provinsi lainnya.

Pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas

akibat luka tembakan. Pada Tahun 1984 ada 107 orang tewas, di antaranya 15

orang tewas ditembak. Tahun 1985 tercatat 74 orang tewas, 28 di antaranya

tewas ditembak. Para korban Petrus sendiri saat ditemukan masyarakat dalam

kondisi tangan dan lehernya terikat. Kebanyakan korban juga dimasukkan ke

5
dalam karung yang ditinggal di pinggir jalan, di depan rumah, dibuang ke

sungai, laut, hutan dan kebun. Pola pengambilan para korban kebanyakan

diculik oleh orang tak dikenal dan dijemput aparat keamanan. Petrus pertama

kali dilancarkan di Yogyakarta dan diakui terus terang Dandim 0734 Letkol

CZI M Hasbi (kini Wakil Ketua DPRD Jateng, red) sebagai operasi

pembersihan para gali (Kompas, 6 April 1983). Panglima Kowilhan II Jawa-

Madura Letjen TNI Yogie S. Memet yang punya rencana

mengembangkannya. (Kompas, 30 April 1983). Akhirnya gebrakan itu

dilanjutkan di berbagai kota lain, hanya saja dilaksanakan secara tertutup.

2.3 Hubungan Konstitusi dengan Hak Asasi Manusia


Dasar keberadaan konstitusi adalah kesepakatan umum atau

persetujuan (consensus) di antara mayoritas rakyat mengenai bangunan yang

di idealkan berkenaan dengan negara. Konstitusi merupakan konsensus

bersama atau general agreement seluruh warga negara. Organisasi negara itu

diperlukan oleh warga masyarakat politik agar kepentingan mereka bersama

dapat dilindungi atau dipromosikan melalui pembentukan dan penggunaan

mekanisme yang disebut negara. Kepentingan paling mendasar dari setiap

warga negara adalah perlindungan terhadap hak-haknya sebagai manusia.

Oleh karena itu, Hak Asasi Manusia merupakan materi inti dari naskah

undang-undang dasar negara modern. Hak Asasi Manusia (HAM), adalah

seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan setiap manusia

sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang

wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh Negara, Hukum,

Pemerintahan, dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat

6
dan martabat manusia. Keterkaitan antara konstitusi dengan Hak Asasi

Manusia juga dapat dilihat dari perkembangan sejarah. Perjuangan

perlindungan Hak Asasi Manusia selalu terkait dengan perkembangan upaya

pembatasan dan pengaturan kekuasaan yang merupakan

ajaran konstitusionalisme.

Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak yang melekat pada

diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah

Ttuhan yang harus dihormati, dijaga, dan dilindungi oleh setiap individu,

masyarakat atau bangsa. Menurut Bagir Manan (2001) bentuk-bentuk HAM

dibagi menjadi 4 kategori yang salah satunya adalah Hak Sipil yang terdiri

dari hak diperlakukan sama di muka hukum, hak bebas dari kekerasan, hak

khusus bagi kelompok anggota masyarakat tertentu, serta hak hidup dan

kehidupan.

Sedangkan Baharudin Lopa (1999) membagi HAM dalam beberapa jenis.

Salah satunya adalah hak seseorang untuk hidup.

Diantara jenis-jenis HAM berdasarkan Deklarasi Universal tentang HAM

(DUHAM) adalah sebagai berikut:

Hak Personal, Hak sipil, dan politik yang terdapat pada pasal 321 dalam

DUHAM memuat: 10 Hak bebas dari serangan terhadap kehormatan dan

nama baik.

Dalam perundang-undangan RI terdapat 4 bentuk hokum tertulis yang memuat

aturan tentang HAM, yaitu:

7
1. Konstitusi (UUD 1945 Amandemen I IV), konstitusi RIS (bab khusus

tentang HAM, dan di tempatkan pada bab awal pasal 7 sampai pasal 33),

dan UUD 1950 (hampir sama dengan konstitusi RIS, hanya berbeda pada

penomoran pasal dan perubahan sedikit redaksional dalam pasal-pasal,

serta penambahan pasal yang signifikan tentang fungsi social, hak milik,

hak setiap warga Negara mendapat pengajaran, hak demonstrasi dan

mogok)

2. TAP MPR. Hal ini dapat dilihat dari TAP MPR NO. XVII tahun 1998

tentang pandangan dan sikap bangsa Indonesia terhadap HAM dan piagam

HAM Nasional

3. Undang-undang, antara lain UU No. 26 tahun 2000 tentang pengadilan

HAM, UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, UU No. 39 tahun 1999 tentang

HAM, UU No. 29 Tahun 1999 tentang ratifikasi konvensi penghapusan

segala bentuk diskriminasi dan lain-lain.

4. Peraturan pelaksanaan perundang-undangan, diantaranya : PP pengganti

UU (perpu) No. 1 tahun 1999 tentang pengadilan HAM.

Materi HAM dalam perubahan UUD 45:

BAB XA/28G :

(1) Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan,

martabat, harta benda dibawah kekuasaannya,serta berhak atas rasa aman

dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat

sesuatu yang merupakan hak asasi.

8
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang

merendahkan derajat dan martabat manusia dan berhak memperoleh suaka

politik dari negara lain.

2.4 Analisis Kasus Penembakan Misterius yang Melibatkan Soeharto


Kasus penembak misterius diatas merupakan kasus HAM terbesar

selama masa presiden soeharto. Kasus tersebut sampai sekarang belum

diproses secara hukum. Kasus penembak misterius ini merupakan kasus yang

menggambarakn bagaimana kondisi pemerintahan saat itu. pemerintahan

soeharto yang dikenal sangat diktator melakukan pembasmian terhadap

kelompok gabungan anak liar (gali) dengan dalih melakukan stabilitas

keamanan dan melakukan pembunuhan kepada meraka bila perlu dilakukan.

Secara garis besar, kasus ini berkaitan dengan pelanggaran Hak Asasi Manusia

(HAM) dan pelanggaran Konstitusi karena telah memberikan kebijakan

maupun perintah dengan sewenang-wenang.

Pertama, bila kita lihat pernyataan pada salah satu kategori Hak Asasi

Manusia yaitu hak sipil. Hak sipil terdiri dari hak diperlakukan sama di muka

hukum, hak bebas dari kekerasan, hak khusus bagi kelompok anggota

masyarakat tertentu, serta hak hidup dan kehidupan. Dalam kasus ini dapat

dilihat bahwa tindakan yang dilakukan oleh aparat pemerintah telah melanggar

hak sipil yang dimiliki oleh setiap individu warganegara baik yang baik

maupun yang jahat yaitu mendapatkan perlakuan yang sama dimuka hukum.

Hal itu terbukti dari mereka yang dituduh sebagai gabungn anak liar atau

dituduh melakukan kejahatan langsung saja diculik dan dibunuh. Bahkan ada

yang disiksa terlebih dahulu dan mayatnya ditinggalkan di emperan jalan

9
secara terikat dan dilihat oleh masyarakat sekitar. Selain hak untuk

diperlakukan sama dimuka hukum juga ada hak bebas dari kekerasan. Pada

kasus diatas jelas sekali banyak orang-orang yang merupakan target penembak

misterius diperlakukan secara tidak layak bahkan disiksa sebelum dibunuh.

Hal itu terbukti dari banyaknya target penembak misterius yang pada

jenazahnya terdapat bekas-bekas luka siksaan. Yang terakhir adalah hak untuk

hidup dimana dengan jelas target penembak misterius dibunuh secara

sewenang-wenang.

Kedua, bila ditinjau dari pendapat Baharudin Lopa tentang jenis-jenis

HAM bahwa tindakan penembak misterius ini telah melanggaar hak untuk

hidup yang dimiliki oleh para korban. Hal itu telah jelas diterangkan diatas

bahwa meskipun melakukan kejahatan mereka masih berhak untuk hidup

kecuali yang dilakukan adalah kejahatan yang tidak bisa ditoleransi dan

memang harus dihukum mati. Namun, pada kasus penembak misterius ini,

para target yang menjadi korban dan dibunuh tidak diketahui kejahatan apa

yang dilakukan. Mereka hanya di cap mengganggu keamanan dan langsung

diculik dan dibunuh. Bahkan hanya menggunakan tato dapat membuat orang

tersebut menjadi target penembak misterius.

Ketiga, bila kita tinjau dari pasal 321 DUHAM pada butir (10) bahwa

salah satu hak personal seseorang adalah hak perlindungan hukum dari

serangan terhadap kehormatan dan nama baik. Pada kasus ini jelas para target

telah direndahkan martabat dan kehormatannya serta tercoreng nama baiknya

dengan dituduh sebagai tersangka pelaku kejahatan tanpa bukti yang jelas dan

dibunuh secara semena-mena. Selain korban itu sendiri, nama baik dan

10
martabat keluarga korban telah hancur. Semua ini dilakukan pemerintah

sendiri sehingga tidak mungkin adanya perlindungan hukum terhadap korban

dan keluarga korban.

Terakhir, bila kita tinjau dari perubahan UUD 45 BAB XA/28G butir

(1) seperti yang telah saya sebutkan diatas bahwa tidak ada perlindungan dari

pemerintah kepada korban dan tidak mungkin hal itu dilakukan karena

pelanggaran HAM itu dilakukan sendiri oleh pemerintah. selain itu butir (2)

juga telah dilanggar dengan adanya pembunuhan dan penyiksaan terhadap

para korban sebagaimana sudah disebutkan diatas.

2.5 Solusi yang dapat diberikan dengan Pola Penyelesaian Pelanggaran HAM
Berat Masa Lalu untuk Mencegah Keberlanjutan Pelanggaran HAM
Penyelesaian atas pelanggaran HAM berat masa lalu merupakan salah

satu persoalan besar yang belum terselesaikan secara tuntas dan menyeluruh,

sehingga menjadi sebuah beban sejarah (burden of history).

Dalam penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu perlu adanya

penguraian sejumlah masalah diantaranya adalah penggunaan dasar hukum,

terkait dengan persyaratan (parameter) korban pelanggaran HAM berat masa

lalu, pemulihan hak-hak korban, pengampunan (amnesty) dan perlu adanya

institusi pelaksana (executing agency).

Permasalahan-permasalahan di atas tentu tidak mudah untuk

diselesaikan, perlu perhatian, kewibawaan semua pihak, utamanya pemerintah

dan aparat, serta keseriusan dalam menanganinya. Sedikitnya ada dua masalah

yang serius dalam usaha penanganan pelanggaran HAM berat masa lalu, yaitu

11
berkaitan dengan batasan waktu terjadinya pelanggaran di masa lalu, serta

masalah tarik menarik kepentingan politik.

Yang pertama, harus jelas terlebih dahulu dan disepakati batasan waktu

terjadinya pelanggaran, apakah sejak era orde lama, ataukah orde baru,

ataukah sejak era reformasi, atau bahkan sejak masa penjajahan Belanda dan

Jepang.

Yang kedua, tarik menarik kepentingan politik sudah tentu sulit

dihindarkan, karena banyaknya kepentingan korban dan juga kepentingan

pemerintah di dalamnya. Partai-partai politik tentu saja tidak akan tinggal

diam jika ternyata ada kadernya misalnya, diduga terlibat pelanggaran,

padahal ketika pelanggaran itu terjadi kader tersebut masih berdinas aktif di

institusi pemerintah maupun militer.

Penuntasan kasus pelanggaran HAM yang menjadi tanggung jawab

negara merupakan hal yang paling penting bagi korban dan keluarga korban

pelanggaran HAM. Pembangunan demokrasi Indonesia ke depan tidak akan

utuh selama penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM masih terbengkalai.

Penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu, bukan hanya untuk

memberikan keadilan bagi korban dan keluarga korban pelanggaran HAM

saja. Namun penuntasan kasus pelanggaran HAM akan memberikan efek jera

kepada para pelaku pelanggar HAM, sehingga di kemudian hari tidak terjadi

lagi kasus-kasus pelanggaran HAM yang serupa. Artinya penuntasan kasus

pelanggaran HAM akan memberikan jaminan keamanan bagi seluruh rakyat

Indonesia dari tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan pelanggaran HAM.

12
Jikalau kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu dibiarkan, maka pelanggaran

HAM akan berlanjut dan menimbulkan korban-korban baru.

Dalam penyelesaian terhadap pelanggaran HAM berat masa lalu,

terdapat empat pola yang lazimnya mungkin dapat dipilih.

(1) never to forget, never to forgive (tidak melupakan dan tidak

memaafkan, yang berati adili dan hukum),

(2) never to forget but to forgive (tidak melupakan tetapi kemudian

memaafkan, yang artinya adili dan kemudian ampuni),

(3) to forget but never to forgive (melupakan tetapi tidak pernah

memaafkan, yang artinya tidak ada pengadilan tetapi akan dikutuk

selamanya), dan

(4) to forget and to forgive (melupakan dan memaafkan, yang artinya

tidak ada pengadilan dan dilupakan begitu saja).

Sampai saat ini Indonesia belum pernah mengalami atau menjalankan

proses penyelesaian masalah pelanggaran HAM berat masa lalu. Usaha

menuju ke arah itu pernah dilakukan, yakni dengan membuat Rancangan

Undang-Undang (RUU) Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) yang

telah disahkan oleh DPR menjadi Undang-Undang No. 27 Tahun 2004. Dasar

pembentukan UU KKR adalah Tap MPR No. V/MPR/2000 tentang

Pemantapan Persatuan dan Kesatuan Nasional serta UUD 1945. Komisi

Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) mempunyai wewenang untuk menerima

pengaduan, menyelidiki pelanggaran HAM berat yang terjadi di masa lalu

dan membuat rekomendasi untuk kompensasi dan/atau rehabilitasi bagi

korban.Komisi Kebenaran juga merupakan langkah penting menuju

13
pemahaman keadaan yang menyebabkan pelanggaran masa lalu, belajar dari

masa lalu untuk memastikan bahwa kejahatan tersebut tidak akan dilakukan

lagi, dan memastikan bahwa pengalaman bersama diakui dan dilestarikan.

Namun sayangnya UU KKR terhenti sebelum dilaksanakan karena diajukan

judicial review oleh 6 orang (Arukat Djaswadi, dkk) ke Mahkamah Konstitusi

(MK), yang akhirnya dikabulkan oleh MK pada tahun 2006.

Sebagian elemen masyarakat menilai UU KKR dibatalkan karena

mengandung beberapa kelemahan, antara lain dalam pasal 24 yang berbunyi

: Dalam hal Komisi telah menerima pengaduan atau laporan pelanggaran

hak asasi manusia yang berat yang disertai permohonan untuk mendapatkan

kompensasi, restitusi, rehabilitasi atau amnesti, Komisi wajib memberikan

keputusan dalam jangka waktu paling lambat 90 (sembilan puluh) hari

terhitung sejak tanggal penerimaan permohonan.

Bisa dibayangkan hanya dalam waktu sangat singkat tersebut apakah

mungkin Komisi dapat menyelesaikan suatu kasus yang berat yang misalnya

melibatkan suatu institusi besar. Kemudian dalam pasal 27 yang berbunyi

:Kompensasi dan rehabilitasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dapat

diberikan apabila permohonan amnesti dikabulkan. Hal ini berarti jika

pelaku tidak diberikan amnesti baik oleh Presiden dan DPR atau pelaku tidak

terindikasi atau mungkin tidak dimaafkan oleh korban maka dia tidak

mendapat kompensasi dan rehabilitasi sebagaimana dimaksud UU tersebut.

Penyelesaian masalah pelanggaran HAM berat di masa lalu melalui

upaya konstitusional dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang Undang

(RUU) dinilai perlu diupayakan agar semua masalah pelanggaran tersebut

14
memiliki kejelasan hukum, untuk selanjutnya menjadi modal penting dalam

menata masa depan bangsa dan negara tercinta ini.

Adanya lembaga yang dapat mengurus dan memproses masalah

pelanggaran HAM berat di masa lalu tetap diperlukan. Hanya bagaimana

kedewasaan seluruh komponen bangsa dalam menyikapi dan secara serius

mencari jalan keluar untuk kemaslahatan bersama.

15
BAB III
PENUTUP

1.1 Kesimpulan
Perjuangan perlindungan Hak Asasi Manusia selalu terkait dengan

perkembangan upaya pembatasan dan pengaturan kekuasaan yang merupakan

ajaran konstitusionalisme.

Penembak misterius ini melakukan pelanggaran HAM yang telah

dilakukan oleh pemerintah indonesia kepada rakyatnya dan secara langsung

pemerintah indonesia pada saat itu telah melanggar peraturan dan Undang-

Undang yang dibuatnya sendiri

Adanya lembaga yang dapat mengurus dan memproses masalah

pelanggaran HAM berat di masa lalu tetap diperlukan. Hanya bagaimana

kedewasaan seluruh komponen bangsa dalam menyikapi dan secara serius

mencari jalan keluar untuk kemaslahatan bersama.

16
DAFTAR PUSTAKA

Erdianto, Kristian. 2016. Kontras Paparkan 10 Kasus Pelanggaran HAM yang

Diduga Melibatkan Soeharto (online)

(http://nasional.kompas.com/read/2016/05/25/07220041/Kontras.P

aparkan.10.Kasus.Pelanggaran.HAM.yang.Diduga.Melibatkan.Soe

harto?page=all diakses pada 8 Oktober 2017)

Kaelan. 2016. Pendidikan Pancasila Pendidikan Untuk Mewujudkan Nilai-Nilai

Pancasila, Rasa Kebangsaan Dan Cinta Tanah Air. Yogyakarta:

Paradigma

Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2012. Buku Modul

Kuliah Kewarganegaraan. Jakarta: Direktorat Pembelajaran Dan

Kemahasiswaan Direktorat jendral pendidikan Tinggi.

Muhamad. 2012. Kasus Penembak Misterius Zaman Soeharto (online)

(http://citizenshipterritory.weebly.com/assignments/kasus-

penembak-misterius-zaman-presiden-soeharto diakses pada 8

Oktober 2017)

Revianur, Aditya. 2012. Komnas HAM: Kasus Penembakan Misterius Termasuk

Pelanggaran HAM Berat (online)

(http://nasional.kompas.com/read/2012/07/24/1846330/komnas.ha

m.petrus.termasuk.pelanggaran.ham.berat diakses pada 8 Oktober

2017)

17
Ridwantono, Totok Achmad. 2007. Pengembangan Kepribadian Pendidikan

Kewarganegaraan Republik Indonesia; Suatu Tinjauan Yuridis,

Historis, Sosiologis atau Fungsional. Malang: Bayumedia

Publishing.

Wikipedia Indonesia. 2007. Hak Asasi Manusia. (online)

(id.wikipedia.Org/wiki/HakAsasi Manusia-26k.Diakses 14 Oktober

2017)

Winarno. 2016. Paradigma Baru Pendidikan Pancasila. Jakarta: Bumi Aksara.

18