Anda di halaman 1dari 4

ASMA BRONCHIALE

1. Kriteria a. Riwayat serangan sesak nafas yang berulang,


Diagnostik kadang-kadang hilang dengan spontan.
b. Pada waktu sesak napas dapat ditemukan tanda-
tanda obstruksi saluran napas pada pemeriksaan
fisik seperti :
- Ekspirasi yang memanjang.
- Mengi.
c. Kadang-kadang diagnosa apnea sukar ditegakan
karena riwayat yang samar-samar, gejala yang tidak
jelas misalnya, batuk darah sedangkan pemeriksaan
fisik tidak memberikan kelainan.

2. Diagnostik a. Obstruksi saluran napas atas (stridor).


Pembanding b. Disfungsi laring.
c. Penyakit paru obstruktif kronik.
d. Gagal jantung kongestif (asma kardial).
e. Emboli paru.
f. Infiltrasi eosinofil paru.
g. Batuk akibat obat (penyekat beta, inhibitas ACE).

3. Pemeriksaan a. Laboratorium.
Penunjang - Darah : persentase eosinofil pada hitung jenis
dan jumlah eosinofil yang meningkat, IgE
spesifik.
- Dahak dan sekret hidung : pemeriksaan
eosinofil.
b. Foto rontgen dada.
- Sebagian menunjukkan gambaran normal atau
hanya hiperinflasi pada serangan berat kadang-
kadang ditemukan pneumothoraks atau
atelektasis/kolaps lobus.
c. Tes kepekaan kulit.
- Dengan berbagai bahan alergen dapat
membantu untuk menemukan etiologi pada asma
atopik.
d. Uji faal kulit.
- Penurunan volume ekspirasi paksa detik pertama
(VEP) < 70%.
- Penurunan arus puncak ekspirasi (APE) < 120
1/m.
e. Uji provokasi bronkhus.
- Dengan cara ini dapat dilihat hiperreaktifitas
bronkhus yang dinyatakan dengan PC 20 yaitu
dosis provokasi yang menimbulkan penurunan
nilai VEP, sebesar 20% dibandingkan nilai awal.

4. Konsultasi Dokter Spesialis Anak.


5. Perawatan RS a. Rawat jalan.
b. Rawat inap pada serangan asma berat.

6. Terapi a. Asma ringan.


- Agonis Beta 2 inhalasi bila perlu, tidak lebih dari
3x/minggu.
- Agonis Beta inhalasi atau oral atau natrium
kromolin sebelum exercise atau terpapar alergen.
- Sebagai alternatif : agonis beta 2 oral atau
kombinasi dengan teofilin oral bila dosis
terapeutik agonis beta 2 tidak dapat dicapai
karena timbulnya efek samping.
b. Asma sedang.
- Anti inflamasi dosis rendah sampai sedang dan
bronkodilator berdasarkan kebutuhan.
- Anti inflamasi inhalasi setiap hari.
- Dosis awal steroid inhalasi 200-600 mcg.
Budesonide (BUD) atau Beclomehasone
Dipropionat (BDP)/hari pada anak dianjurkan
pemberian Natrium Kromolin pada awalnya (4-6
minggu) dan dievaluasi kembali.
- Agonis beta 2 short acting inhalasi bila perlu,
sebaiknya tidak > 3-4 x/hari.
- Bila gejala masih menetap, tingkatkan dosis
steroid inhalasi sampai 400-800 mcg BUD/non
steroid (Natrium Kromolin).
c. Asma berat.
- Anti inflamasi dosis tinggi dengan atau tanpa
steroid oral, bronkodilator oral dengan
bronkdilator inhalasi.
- Steroid inhalasi 800-1000 mcg. BUD/BBD/hari
atau dosis ekivalennya, baik dosis > 1000
mcg/hari harus dengan pengawasan dokter ahli.
- Teofilin slow release dan atau agonis beta 2 long
acting terutama untuk gejala malam.
Pertimbangan anti kolinergik.
- Steroid oral (selang sehari atau dosis tunggal
harian).
- Agonis beta 2 inhalasi menurut kebutuhan.
d. Pedoman pemberian steroid oral pada eksaserbasi.
- Steroid oral jangka pedek (penyelamat) sering
dibutuh- kan pada eksaserbasi pada semua
keadaan asma.
- Indikasi pemberian steroid adalah :
Gejala pemburukan progresif.
Gangguan tidur karena asma.
Gejala pagi berlanjut.
Respon terhadap bronkodilator berkurang.
APE menurun.

- Cara pemberian :
Prednison 30-40 mg tiap pagi hingga
terkontrol, obat dapat dihentikan atau
diturunkan 2 hari kemudian.
e. Serangan asma akut.
- Oksigen 4-6 1/m untuk mempertahankan saturasi
oksigen > 90%.
- Inhalasi/nebulizer dengan salah satu dari :
- Agonis Beta 2.
- Salbutamol 5 mg dapat diulang setiap 20 menit
dalam 1 jam.
- Fenoterol 2,5 mg dapat diulang setiap 20 menit
dalam 1 jam.
- Terbutalin 10 mg.
- Agonis beta 2 parenteral, sub kutan atau intra
vena, terbutalin 0,25 mg atau salbutamol 0,25 mg
dalam dextrosa 5% pelan-pelan.
- Adrenalin masih dapat digunakan bila tidak
tersedia obat Agonis Beta 2, dosis adrenalin 0,3
ml 1/1000 subkutan dapat diulang 3 x dalam 1
jam.
- Amoinofilin bius IV 5-6 mg/kg BB dengan bila
sudah mengguanakan aminofilin kurang 12 jam,
diberikan hanya setengah dosis.
- Kortikosteroid sistemik IV hidrokrtison 100-200
mg jika tidak ada respon segera atau penderta
menggunakan steroid oral atau dalam serangan
sangat berat, pemberian sedini mungkin sangan
diperlukan.
- Penilaian ulang :
- Respon baik.
Respon menetap selama 60 menit setelah
pengobatan. Pemeriksaan jasmani normal.
APE > 70%.
Tindakan : pulang ke rumah dengan
pengobatan dan kontrol kemudian.
- Respon tidak sempurna dalam waktu 1-2 jam.
Riwayat resiko tinggi.
Pemeriksaan jasmani gejala ringan sampai
sedang.
Tindakan : rawat di RS, oksigen diteruskan,
inhalasi Agonis Beta 2 dengan atau tanpa
antikoli nergik, kortikosteroid sistemik,
aminofilin intra vena dilanjutkan dengan
drip, awasi APE, tensi, nadi.
- Tidak ada respon (memburuk) dalam waktu 1
jam.
Riwayat resiko tinggi. Pemeriksaan jasmani
gejala berat, mengantuk, gelisah, lelah
dengan APE < 30%.
AGD : PCO2 > 45 mgHg dan < 60 mgHg.
Tindakan : rawat diruang perawatan intensif
(ICU), inhalasi agonis beta 2 dengan atau
tanpa anti koli nergik, kortikosteroid
sistemik, pertimbangkan Agonis Beta 2
subkutan, intra muskular atau intra vena,
oksigen, aminofilin intra vena, bila perlu
intubasi dan ventilasi mekanik.

7. Tempat -
Pelayanan
8. Penyulit Komplikasi :
- Infeksi saluran nafas.
- Atelektasis.
- Pneumotoraks, empisema kulit.
- Gagal napas.
- Aritmia (terutama bila
sebelumnya ada kelainan jantung).

9. Informed Tidak perlu.


Consent (tertulis)
10. Standar Dokter Umum.
Tenaga
11. Lama Beberapa hari sampai dengan 1 minggu.
Perawatan
12. Masa Dapat bekerja langsung.
Pemulihan
13. Output Serangan teratasi dan Meninggal.

14. Patologi -
Anatomi
15. Otopsi/Risalah -
Rapat