Anda di halaman 1dari 8

1.

Keyneses (ABSOLUT INCOME HYPOTHESIS)


Keynes membuat tiga asumsi tentang teori Konsumsi yaitu:
a. Keynes berasumsi bahwa kecenderungan mengkonsumsi marjinal atau marginal propersity
to costum (MPC) yaitu jumlah yang dikonsumsi dari setiap tambahan pendapatan adalah
antara nol dan satu. Pada saat pendapatan seseorang tinggi maka semakin tinggi pula
konsumsi dan tabungannya.
b. rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-rata
atau average propensity to costum (APC) turun ketika pendapatan naik. Menurut keynes,
proporsi tabungan orang kaya lebih besar daripada orang miskin. Jika diurutkan dari orang
sangat miskin sampai kaya akan terlihat proporsi tabungan terhadap pendapatan yang
semakin meningkat.
c. pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak memiliki
peran penting. Ini berbeda dengan ekonom klasik yang beranggapan bahwa semakin tinggi
tingkat suku bunga maka akan mendorong tingkat tabungan dan mengurangi konsumsi.
Kesimpulannya bahwa pengaruh jangka pendek dari tingkat bunga terhadap pengeluaran
individu dari pendapatannya bersifat sekunder dan relatif tidak penting. Jadi menurut Keynes
secara mutlak cenderung lebih banyak dipengaruhi dari pendapatan sekarang.

Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi konsumsi jangka pendek. Keynes tidak mengeluarkan
fungsi konsumsi jangka panjang karena menurut Keynes in the long run were all dead, yang
berarti di dalam jangka panjang, kita semua akan mati, sehingga jangka panjang tidak perlu
diprediksi.

Fungsi konsumsi Keynes dapat dijelaskan sebagai berikut :


1. Fungsi Konsumsi Keynes : C=Co +cYd
Dimana :
Co > 0. Co adalah Konsumsi subsidi (The Otonom Consumption) yaitu sejumlah konsumsi
yang diterima oleh konsumen apabila pendapatan mereka tidak ada, atau Y = 0.
Yd = Pendapatan Disposable atau pendapatan yang siap dikonsumsi. Yd = Y Tx + Tr.
Tx adalah Pajak dan Tr adalah Subsidi atau transfer.
2. Rata-rata konsumsi ( APC = Average Propensity to Consume) adalah ratio antara jumlah
konsumsi terhadap pendapatan, APC=C/Y.
3. Kecenderungan tambahan mengkonsumsi (MPC = c = DC/DY =Marginal Propensity to
Consume) adalah sejumlah perubahan konsumsi sebagai akibat dari berubahnya tingkat
pendapatan.
4. Rata-rata kecenderungan mengkonsumsi adalah lebih besar dari pada kecenderungan
mengkonsumsi marjinal atau APC > MPC.
5. APC tidak boleh konstan jika C0 adalah tidak nol. Jika Co = 0 maka fungsi konsumsi
akan mengurangi absolut income hypothesis dimana konsumsi sebanding dengan
pendapatan. Dan hal ini tidak konsisten dengan Keynes.

2. KUZNETS
Simon Kuznets menemukan fungsi konsumsi jangka panjang yaitu C = MPC x Y. Menurutnya
tidak ada perubahan yang cukup signifikan terhadap proporsi tabungan terhadap pendapatan
ketika pendapatan semakin meningkat, sehingga dalam jangka panjang, fungsi konsumsi
berbentuk stabil.
Asumsi dasar studi Kuznets yaitu :
a. Pajak perorangan dan pembayaran transfer adalah kecil (dalam periode ini).
b. Oleh karena itu adalah masuk akal jika menggunakan pendapatan total (GNP) sebagai
proxy untuk pendapatan disposal (Yd).
c. Jika terdapat hubungan antara konsumsi dan pendapatan disposable, maka juga harus ada
hubungan antara konsumsi dan GNP.

3. Duesenberry (The relative income hypothesis)


James Stemble Duessenberry membuat sumbangan penting bagi analisis pendapatan dan
kesempatan kerja Keynesian, dengan bukunya yang diterbitkan pada tahun 1949 yang berjudul
Income, Saving, and Consumers Behavior Theory. Namun Duesenberry menolak dua asumsi
yang telah dikemukakan oleh Simon Kuznets yaitu :
a. Setiap konsumsi keluarga merupakan keinginan sendiri, bukan akibat pengaruh dari
lingkungannya.
b. Konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan tahun itu, dan tidak dipengaruhi oleh pendapatan
tahun sebelumnya.
James Duessenberry mengemukakan pendapat bahwa apabila pendapatan berkurang, konsumen
tidak akan banyak mengurangi pengeluarannya untuk konsumsi. Untuk mempertahankan tingkat
konsumsi yang tinggi ini, mereka terpaksa mengurangi saving.
Dari hasil penelitiannya, dengan mengumpulkan data konsumsi dan pendapatan
disposable, fungsi konsumsi yang dibentuk oleh Duessenberry adalah sebagai berikut :
Ct = (Co cYo) Yt
Yt = Pendapatan disposable selama tahun ke t
Yo = Pendapatan paling tinggi yang pernah diperoleh satu tahun
sebelumnya.
Dari hasil penelitiannya Duessenberry membuat kesimpulan :
1. Konsumsi Seseorang akan tergantung pada penghasilan saat ini dan penghasilan
tertinggi tahun sebelumnya yang disebut Ratchet Effect
2. Perilaku konsumsi seseorang tergantung pula dengan perilaku konsumsi
lingkungannya yang disebut Demonstration Effect

Contoh: dina hidup di perumahan akan pola konsumsi cenderung tinggi, mereka biasanya bekerja
di perkantoran dengan jabatan dan gaji yang tinggi
Ketika dina turun jabatan maka ia tidak akan langsung menurunkan konsumsinya , biasanya
factor gengsi kepada rekan kerjanya ataupun teman lamanya. Pada akhirnya ia menggunakan
saving untuk memenuhi konsumsi tersebut. Namun butuh waktu yang sedikitlama untuk
mengubah pola konsumsi tersebut karena jika tidak menurunkan pola konsumsi maka akan
menghabiskan saving.

4. Milton Friedman (Permanent Income Hypotesis)


Teori dengan hipotesis pendapatan permanen, menurut teori ini pendapatan masyarakat dapat
digolongkan menjadi 2 yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan
sementara (transitory income).
a. Pendapatan permanen (permanent income) adalah pendapatan yang diharapkan orang
untuk terus bertahan dimasa depan. Pendapatan yang selalu diterima pada setiap periode
tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, misalnya pendapatan dari gaji, upah.
Pendapatan yang diperoleh dari semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang
(yang menciptakan kekayaan).
b. Pendapatan sementara (pendapatan transitoris) adalah bagian pendapatan yang tidak
diharapkan terus bertahan. Nilai pendapatan ini kadang positif dan kadang negatif.

Teori Permanen Income Hypothesis menjelaskan tentang perilaku konsumen yang


ingin memperoleh kepuasan maksimum dengan mengkonsumsi barang sesuai anggarannya.
Kepuasan maksimum akan tercapai saat kemiringan kurva indiferent atau slope indifferent
curve sama dengan budget line.

Tiga aspek pemikiran Friedman adalah :

1. Studi tentang fungsi ekonomi.


2. Argumennya tentang kesulitan dan permasalahan dalam penerapan kebijakan stabilitas.
3. Kontribusinya pada teori dan sejarah moneter.

Berlawanan dengan penekanan kebijakan fiskal yang dilakukan oleh ahli ekonomi
Keynesian, Friedman menyatakan bahwa uang dan kebijakan moneter berperan penting
dalam menentukan aktifitas ekonomi. Argumennya tentang pentingnya arti uang berasal
dari teori uang kuantitatif (MV=PQ), yang berarti bahwa jumlah uang dalam
perekonomian (M) dikalikan jumlah waktu yang digunakan tiap dolar dalam satu tahun
untuk membeli barang (V) harus sama dengan output ekonomi yang terjual tahun itu
(PQ).
Friedman mengakui bahwa daripada membeli barang orang-orang lebih suka
memegang uang karena alasan lain yaitu karena keamanan atau karena mereka berpikir
bahwa harga persedian dan harga aset-aset yang lain mungkin akan turun. Namun studi
empiris yang dilakukan Friedman menemukan bahwa faktor-faktor ekonomi ini hanya
berdampak kecil pada kecepatan dan dampaknya ini cenderung menurun dari waktu ke
waktu. Karena kecepatan uang relative stabil, maka jumlah uanglah yang terutama
berdampak pada tingkat aktivitas ekonomi.
Dengan kata lain, hipotesis Friedman ini menjelaskan bahwa konsumsi pada saat
ini tidak tergantung pada pendapatan saat ini tetapi lebih pada Expected Normal Income
(rata-rata pendapatan normal) yang disebut sebagai permanent income. Fungsi
konsumsinya adalah sebagai berikut :
v C = f (YP, i)
v YP = permanent income
v i = real interest rate.
Jadi apabila pendapatan konsumen itu tidak stabil, seperti pada gambar di atas, maka
selalu terjadi proses saving dan dissaving. Dalam jangka panjang, real interest rate
dianggap stabil, sehingga fungsi konsumen menjadi persentase dari permanent income.

Friedman menganggap pula bahwa tidak ada hubungan antara pendapatan sementara
dengan pendapatan permanen, juga antara konsumsi sementara dengan konsumsi permanen,
maupun konsumsi sementara dengan pendapatan sementara. Sehingga MPC dari pendapatan
sementara sama dengan nol yang berarti bila konsumen menerima pendapatan sementara
yang positif maka tidak akan mempengaruhi konsumsi. Demikian pula bila konsumen
menerima pendapatan sementara yang negatif maka tidak akan mengurangi konsumsi.
Hipotesis Pendapatan permanen menekankan pembentukan ekspektasi dari pendapatan
masa yang akan datang. Ia menyatakan bahwa kecenderungan mengkonsumsi dari
pendapatan permanen lebih tinggi daripada kecenderungan mengkonsumsi dari pendapatan
sendiri (tidak tetap).

5. FRANCO MODIGLIANI (LIFE CYCLE HYPOTHESIS)

Pendekatan ini dikemukakan oleh Albert Ando, Richard Brumberg dan Franco
Modigliani. Mereka berpendapat bahwa pendapatan relatif lebih rendah pada usia muda dan usia
lanjut. Dengan pola konsumsi manusia seperti huruf C, maka akan terjadi dissaving (mengurangi
tabungan) ketika usia muda dan usia lanjut. Sedangkan pada usia produksi, terjadi peningkatan
saving. Namun mereka berpendapat bahwa dalam jangka panjang rata-rata tabungan (expected
saving) E(S) = 0.

Mereka membagi tiga bagian pola konsumsi berdasarkan umur seseorang seperti pada
grafik dibawah ini.

Grafik Siklus Hidup


C
0

Bagian I adalah umur0 sampai dengan t0 seseorang mengalami dissaving dimana


orang tersebut belum memiliki pendapatan akan tetapi ia perlu konsumsi. Umur t0 sampai
t1, orang masih melakukan dissaving karena konsumsi yang lebih besar daripada
pendapatan. Bagian II adalah umur t1 sampai dengan t2 seseorang mengalami saving
dimana pendapatan lebih besar daripada konsumsi. Untuk bagian III adalah umur t2
dimana orang kembali melakukan dissaving. Ia tidak cukup lagi menghasilkan
pendapatan yang cukup untuk menutupi pengeluaran.

Fungsi konsumsi dari teori ini adalah

C = aW

a adalah MPC yang nilainya tergantung dari umur, selera, dan tingkat bunga,
sedangkan W dipengaruhi oleh nilai sekarang penghasilan dari kekayaan, nilai sekarang
penghasilan dari balas jasa kerja, dan nilai sekarang penghasilan dari upah yang
diharapkan diterima seumur hidup.

Secara spesifik fungsi konsumsinya sebagai berikut:

Di mana C adalah pengeluaran konsumsi, a adalah MPC, A adalah kekayaan, YL adalah


penghasilan dari kerja, YLE adalah penghasilan yang diharapkan seumur hidup sejak
tahun ini, dan T adalah sisa umur seseorang dihitung dari saat ini

Pencetus dari siklus-hidup hipotesis (life cycle hypothesis) ini ,mencoba untuk
menjelaskan tingkat tabungan dalam perekonomian. Modigliani menyatakan bahwa konsumen
akan menstabilkan tingkat konsumsi sepanjang masa hidupnya, misalnya dengan menabung
selama masa kerja dan mengeluarkannya pada masa pensiun.

Menurut Modigliani, konsumsi seseorang dipengaruhi oleh tiga hal, yaitu:


a. Pendapatan saat ini.

b. Kekayaan yang terakumulasi (akibat tabungan masa lalu).

c. Harapan penghasilan dimasa depan.

Jika pendapatan pada masa yang akan datang semakin tinggi (usia muda ke usia
produktif) maka orang itu akan meningkatkan konsumsinya, dan akan mengurangi konsumsinya
pada saat penghasilannya mulai menurun (usia produktif ke usia lanjut). Hal sama terjadi pada
orang yang memiliki kekayaan yang banyak (akumulasi tabungan, warisan, dan lain-lain), akan
mengkonsumsi lebih banyak dibandingkan orang yang tidak memiliki kekayaan, sehingga terlihat
pada saat usia lanjut konsumsi masih tetap tinggi, karena adanya akumalasi kekayaan yang
dikumpulkan saat masih produktif (konsumsi > saving).

Life cycle hypoyhesis menyatakan bahwa manusia akan merencanakan konsumsi dan
tabungannya untuk selama hidupnya dan akan mengalokasikannya secara optimal. Asumsinya :

a. Konsumen akan pensiun pada umur R dan meninggal pada usia T.

b. Ia akan bekerja dari t = 0, dan memperoleh pendapatan sebesar Y.

c. Besarnya konsumsi selama hidupnya adalah C1 = C2 = ..CT, berarti tingkat bunga adalah nol.

d. Tidak ada ketidak pastian tentang Y, T dan R dimasa datang.

e. Tidak ada kekayaan pada awalnya.

Keputusan untuk mengonsumsi berdasarkan pada :

Pendapatan yang diperoleh selama hidupnya R.Y

1. Tingkat konsumsi selama hidupnya = C.T


2. Sehingga : C.T = R.Y
3. Kekayaan awal = W
4. T-t adalah sisa hidup a t = waktu
5. R-t adalah masa pension
6. Sehingga : C ( T-t) = W + ( R-t).Y

Implikasi dari model Life Cycle Hypothesis ini adalah :

a. Manusia akan menabung selama hidupnya ( orang muda akan menabung lebih banyak).
b. Tabungan agregat tergantung pada trend demografi.

c. Secara keseluruhan, apabila pertumbuhan penduduk adalahn tetap, maka tabungan juga tetap
(konstan), perttumbuhan populasi akan meningkatkan tabungan.

d. Kenaikan pajak dan asuransi pensiun akan menurunkan tingkat tabungan.

Contoh life cycle hipotesis;

seseorang bekerja selama 45 tahun, Pendapatan pertahunnya adalah Rp. 100.000 tafsiran masa hidup
(berdasarkan angka harapan hidup) dihitung dari awal bekerja adalah 50 tahun

Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh informasi bahwa selama masa bekerja kecenderungan
mengkonsumsi orang tersebut adalah sebesar 0,9 yaitu 90% pendapatannya digunakan untuk konsumsi,
sisanya sebesar 10% tentu saja ditabung dan ini akan menjadi aktivanya.

Setara dengan menabung setiap tahunnya dikalikan dengan masa kerjanya yaitu 45 tahun. Tabungan
diperoleh dari besarnya pendapatan pertahun dikurangi dengan jumlah konsumsi.

Sejumlah 9000 adalah konsumsi semasa pensiun dan 4.050.000 adalah konsumsi selama masa kerja.
Dengan demikian besarnya tabungan selama masa bekerja hingga pensiunnya. inilah yang akan menjadi
warisan kepada keturunannya dan tentu saja akan menjadi kekayaan bagi penerusnya.