Anda di halaman 1dari 28

MATERI PENGAYAAN DOKTER MUDA

MYELITIS

Oleh :
Muhammad Anggitya Satria Hutama
0810713024

Pembimbing :
dr. Badrul Munir, Sp.S

LABORATORIUM / SMF ILMU PENYAKIT SARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
RSUD DR.SAIFUL ANWAR MALANG
2013

1
Daftar Isi
Definisi3
Anatomi..4
Klasifikasi..6
Poliomielitis..7
Mielitis Tranversa Akut.15
Algoritme..24
Resume.....25
Tanya Jawab27
Daftar Pustaka.28

2
Definisi
Pada abad 19, hampir semua penyakit pada
medula spinalis disebut mielitis. Dalam Dercums Of
Nervous Diseases pada 1895, Morton Prince menulis
tentang mielitis trumatik, mielitis kompresif dan
sebagainya, yaang agak memberikan kejelasan tentang
arti terminologi tersebut. Dengan bertambah majunya
pengetahuan neuropatologi, satu per satu penyakit di atas
dapat diseleksi hingga yang tergolong benar-benar karena
radang saja yang masih tertinggal.1
Menurut perjalanan klinis antar awitan hingga
munculnya gejala klinis mielitis dibedakan atas :
1. Akut : Simtom berkembang dengan cepat dan
mencapai puncaknya dalam tempo beberapa hari saja.
2. Sub Akut : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam
waktu 2-6 minggu.
3. Kronik : Perjalanan klinis penyakit berkembang dalam
waktu lebih dari 6 minggu.1
Beberapa istilah lain digunakan untuk dapat
menunjukkan dengan tepat, distribusi proses radang
tersebut. Bila mengenai substansia grisea disebut
poliomielitis, bila mengenai substansia alba disebut
leukomielitis. Dan bila seluruh potongan melintang medula
spinalis terserang proses radang maka disebut mielitis
transversa.2

3
Bila lesinya multipleks dan tersebar sepanjang
sumbu vertikel disebut mielitis diseminata atau difusa.
Sedang istilah meningomielitis menunjukkan adanya
proses radang baik pada meninges maupun medula
spinalis, demikian pula dengan meningoradikulitis
(meninges dan radiks). Proses radang yang hanya
terbatas pada durameter spinalis disebut pakimeningitis
dan bahan infeksi yang terkumpul dalam ruang epidural
disebut abses epidural atau granuloma.1
Istilah mielopati digunakan bagi proses
noninflamasi medula spinalis misalnya yang disebabkan
proses toksis, nutrisional, metabolik dan nekrosis.

Anatomi medulla spinalis


Medula spinalis mulai dari akhir medula oblongata
di foramen magnum sampai konus medullaris di level
Tulang Belakang L1-L2. Medula Spinalis berlanjut menjadi
kauda equina yang lebih tahan terhadap cedera. Medula
spinalis terdiri atas traktus ascendent (yang membawa
informasi di tubuh menuju ke otak seperti rangsang raba,
suhu, nyeri dan gerak posisi) dan traktus descenden (yang
membawa informasi dari otak ke anggota gerak dan
mengontrol fungsi tubuh)6
Medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteri
yang mempunyai hubungan istimewa, yaitu arteri spinalis

4
dan arteri radikularis. Arteri spinalis dibagi menjadi arteri
spinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri
vertebralis, sedangkan arteri radikularis dibagi menjadi
arteri radikularis posterior dan anterior yang dikenal juga
ramus vertebromedularis arteria interkostalis.
Medula spinalis disuplai oleh arteri spinalis anterior
dan arteri spinalis posterior. Nervus spinalis/ akar nervus
yang berasal dari medula spinalis melewati suatu lubang di
vertebra yang disebut foramen dan membawa informasi
dari medula spinalis sampai ke bagian tubuh dan dari
tubuh ke otak. Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi
menjadi dalam empat kelompok nervus spinalis, yaitu
a. Nervus servikal : (nervus di leher) yang berperan
dalam pergerakan dan perabaan pada lengan,
leher, dan anggota tubuh bagian atas.
b. Nervus thorak : (nervus di daerah punggung atas)
yang mempersarafi tubuh dan perut.
c. Nervus lumbal dan nervus sakral : (nervus
didaerah punggung bawah) yang mempersarafi
tungkai, kandung kencing, usus dan genitalia.
Ujung akhir dari medula spinalis disebut conus
medularis yang letaknya di L1 dan L2. Setelah akhir
medula spinalis, nervus spinalis selanjutnya bergabung
membentuk cauda equina.1

5
Klasifikasi
1. Mielitis yang disebabkan oleh virus.
a. Poliomielitis, group A dan B Coxsackie virus,
echovirus
b. Herpes zoster
c. Rabies
d. Virus B
2. Mielitis yang merupakan akibat sekunder dari penyakit
pada meningens dan medula spinalis.
a. Mielitis sifilitika
Meningoradikulitis kronik (tabes dorsalis) ,
Meningomielitis kronik, Sifilis meningovaskular ,
Meningitis gumatosa termasuk pakimeningitis spinal
kronik
b. Mielitis piogenik atau supurativa
Meningomielitis subakut, Abses epidural akut dan
granuloma, Abses medula spinalis
c. Mielitis tuberkulosa
Penyakit pott dengan kompresi medula spinalis ,
Meningomielitis tuberkulosa, Tuberkuloma medula
spinalis
d.Infeksi parasit dan fungus yang menimbulkan
granuloma epidural, meningitis lokalisata atau
meningomielitis dan abses

6
3. Mielitis (mielopati) yang penyebabnya tidak diketahui.
a. Pasca infeksiosa dan pasca vaksinasi
b. Kekambuhan sklerosis multipleks akut dan kronik
c. Degeneratif atau nekrotik.

POLIOMYELITIS
Poliomielitis anterior akuta (paralisis infantil,
penyakit Heinemedin) adalah suatu penyakit sistemik
akut yang disebabkan oleh infeksi virus polio dan
mengakibatkan kerusakan pada sel motorik di kornu
anterior medula spinalis, batang otak dan dapat pula
mengenai mesensefalon, sereblum, ganglia basal dan
motorik korteks serebri.
Penyakit ini dilaporkan pada tahun 1840 oleh
Jacob Heine lalu kemudian Medin pada tahun 1890
memberikan dasar epidemiologi penyakit ini. Oleh karena
itu dulu penyakit ini dikenal sebagai penyakit Heine-
Medin. 1

1. Epidemiologi
Goar (1955) dalam uraian tentang polio di negeri
yang sedang berkembang dengan sanitasi berkesimpulan
bahwa epidemi ditemukan 90% pada anak di bawah
usia 5 tahun karena itulah dulu disebut paralisis infantil.
Tapi bukan berarti poliomielitis tidak diketemukan pada

7
orang dewasa. Penyakit polio jarang didapatkan pada
usia di bawah umur 6 bulan, mungkin karana imunitas pasif
yang didapat dari ibu. 1

2. Etiologi
Virus polio adalah virus RNA yang termasuk
kelompok enterovirus dan famili picornavirus. Virus ini juga
termasuk salah satu virus yang terkecil, jadi ia termasuk
virus yang filtrabel. Terdapat 3 tipe virus polio yaitu:
1. Tipe 1 yaitu Brunhilde, yang sering menyebakan
paralisis.
2. Tipe 2 yaitu Lanshing
3. Tipe 3 yaitu Leon
Virus ini akan menimbulkan 3 macam antibodi,
tetapi tidak terdapat kekebalan silang. Virus ini hanya
dapat dimusnahkan dengan cara pengeringan atau
pemberian zat oksidator yang kuat seperti peroksida,
atau kalium permanganat. 1

3. Patogenesis
Poliomielitis merupakan penyakit yang sangat
menular, virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran
orofaring setelah ditularakan melalui cara oral-fekal.
Masa inkubasi biasanya antara 4-17 hari, tapi
bisa sampai 5 minggu. Bila virus banyak didapat pada

8
suatu daerah, maka timbulnya penyakit polio dapat
dicetuskan dengan adanya tindakan operasi pada
daerah tenggorokan dan mulut seperti misalnya
tonsilektomi dan ekstraksi gigi atau tindakan
penyuntikan atau vaksinasi DPT, kehamilan, kerja fisik
yang berat atau keletihan. Setelah masuk kedalam
tubuh, virus akan berkembang biak (multiplikasi) di
jaringan limfoid tonsil atau pada plak peyer di traktus
intestinalis kemudian ia akan menembus dinding usus
dan melalui darah akan tersebar ke seluruh tubuh
(viremia).2
Viremia ini tidak menimbulkan gejala
(asimtomatik) atau hanya sakit ringan saja. Diduga pada
kasus-kasus yang menimbulkan paralisis, virus mencapai
sistem saraf secara langsung melalui darah atau secara
retrograd melalui saraf tepi atau saraf simpatetik atau
ganglion sensorik pada tempat ia bermultiplikasi yaitu
pada traktus gastrointestinalis atau jaringan ekstraneural
yang lain.
Menurut Adams dan Victor (1985) dan Gilroy
Dan Meyer (1979), 95-99% pasien yang terinfeksi virus
polio mengalami infeksi subklinik (asimtomatik), 3%
mengalami infeksi sistemik, 1% yang mengalami
meningitis aseptik dan hanya 1% yang mengalami
poliomielitis paralitik.

9
4. Patologi
Pada awalnya, invasi virus menimbulkan reaksi
inflamasi dengan kromatolisis substansia Nissl sel saraf.
Perubahan ini diikuti dengan multiplikasi virus dalam
SSP lalu perubahan pada sel saraf ini berkembang
dengan cepat diikuti dengan disintegrasi nukleus dan
kemudian sel neuron mengalami nekrosis atau lisis
komplet. Atrofi dan paralisis akan menetap bila kurang
dari 10% neuron pada medula spinalis yang
bersangkutan yang masih baik.
Virus polio mempunyai predileksi pada kornu
anterior medula spinalis, batang otak, serebelum,
talamus dan hipotalamus dan area motorik korteks
serebri. 1

5. Gambaran Klinis
Seperti telah disebutkan di atas sebagian besar
(95-99%) kasus poliomielitis merupakan infeksi subklinis
atau asimtomatik, namun infeksi ini telah mampu
menimbulkan kekebalan alami.
Perjalanan klinis ditandai oleh 3 stadium, yaitu
poliomileitis abortif, poliomyelitis pre-paralitik atau non
paralitik, serta poliomyelitis paralitik.

10
Poliomielitis Abortif
Kemudian dapat dijumpai pula yang disebut
poliomielitis abortif, dalam hal ini timbul gejala infeksi
sistemik ringan karena terjadi viremia. Gejala infeksi
sistemik ringan ini seperti:
o Flu (sakit kepala, demam, malaise, batuk, pilek, mialgia
atau faringitis)
o Gastroenteritis ( mual, muntah, konstipasi diare, anoreksia )
Semua gejala di atas tidak khas. Diagnosis
pasti hanya dapat dibuat bila virus ditemukan pada
usapan tenggorokan atau feses.1

Poliomielitis Preparalitik Atau Nonparalitik


Setelah gejala prodormal seperti di atas dialami
selama 3-4 hari, lalu gejala tadi akan mereda, dan
setelah 10 hari penderita merasa lebih enak, timbullah
gejala fase kedua. Bentuk gejala seperti ini disebut
difasik. Bentuk ini sering dijumpai pada anak-anak tapi
pada penderita yang berusia lebih dari 15 tahun jarang
dijumpai.1
Pada fase kedua ini di jumpai gejala seperti
fase pertama (prodromal) disertai dengan gejala
neurologik ringan sakit kepala hebat, mialgia bertambah
hebat, spasme otot fleksor paha, nyeri dan kaku pada

11
otot kuduk dan punggung.
Pada anak-anak, bila dari sikap berbaring ia
hendak duduk maka kedua lutut akan fleksi sedang kedua
lengan dalam sikap ekstensi pada sendi siku untuk
dipakai menunjang kebelakang pada tempat tidur (tanda
tripod). Tanda ini timbul karena adanya spasme pada
otot-otot paravertebral, erektor trunsi sehingga anak
tidak dapat melakukan gerak antefleksi kolumna
vertebralis waktu hendak melakukan gerak dari
berbaring ke sikap duduk. Disamping itu tanda tripod
dapat pula dijumpai tanda kepala terkulai (Head Drop)
yaitu bila penderita yang dalam sikap berbaring hendak
kita tegakkan dengan cara menarik kedua ketiak atau
lengan maka kepala penderita akan terkulai kebelakang
(retrofleksi).1
Poliomielitis Paralitik
Secara klasik poliomielitis paralitik dibedakan
atas bentuk spinal, bulbar (bulbospinal) dan ensefalitik.
Paralisis timbul dalam waktu yang sangat cepat
(beberapa jam-48 jam atau lebih lambat (10-12hari).
Empat puluh delapan jam setelah suhu kembali normal,
biasanya tidak terdapat lagi progresivitas kelumpuhan.
Pola kelumpuhan bervariasi tapi hampir pasti tidak
simetris. Ekstremitas inferior lebih sering terkena
poliomielitis menimbulkan lebih berat pada otot-otot

12
proksimal.
Bentuk Bulbar sering menyebabkan kelumpuhan
otot pada N.IX dan X sehingga menimbulkan gangguan
menelan dan disfonia. Kelumpuhan otot wajah sering
pula dijumpai, tapi kelumpuhan otot okuler jarang
ditemukan. Yang paling berbahaya pada bentuk bulbar ini
adalah pernafasan. 4

6. Laboratorium
Virus polio dapat diisolasi dan dibiakkan dalam
jaringan, dari hapusan tenggorokan, darah, likuor dan
feses. Pemeriksaan likuor serebrospinalis menunjukkan
adanya pleositosis, kadar protein sedikit meninggi dan
kadar glukosa serta elektrolit normal, jumlah sel
berkisar antara 10-3000/ mm3 sedangkan tekanan tidak
meningkat. Pada stadium prepalitik atau paralitik dini
lebih banyak ditemukan leukosit PMN tapi setelah 72
jam lebih banyak ditemukan limfosit. Peningkatan
jumlah sel mencapai puncaknya pada minggu pertama
kemudian akan kembali normal setelah 2 atau 3
minggu. Kadar protein berkisar antara 30-120 mg/100
ml pada minggu pertama tapi jarang melampaui 150
mg/100 ml, kadar protein yang meninggi ini bertahan
selama 3-4 minggu.4

13
7. Differensial diagnosis
Poliomyelitis harus dibedakan dari :
a) Meningitis tuberkulosa
Pada analisa cairan serebronspinalis menunjukkan :
rendahnya glukosa, klorida sebanyak 500 mgm/100cc
atau kurang, serta adanya bakteri tahan asam pada
smear maupun hasil kultur.
b) Meningitis purulenta
Pasien tampak sakit berat, onset tanda meningeal
sangat cepat, reflex superficial bereaksi secara
simetris. Dari pemeriksaan serebronspinal akan
didapatkan ciran yang keruh, seperti susu, dan bila
disebabkan oleh bakteri, akan didapatkan bakteri
penyebab pada hapusan langsung atau hasil kultur.
c) Mumps meningoencephalitis
Dibedakan dengan adanya pembengkakan parotis,
namun pembengkakan akan mendahului 1 atau 2
minggu dari munculnya gejala meningitis. Pada kasus
dimana kelenjar saliva tidak terlibat, maka diagnosis
didasarkan pada peningkatan titer komplemen fiksasi
atau berdasarkan hasil tes aglutinasi inhibisi.
d) Rheumatic fever
Pada kasus dimana terdapat keterlibatan kolumna
spinalis dan ekstremitas tanpa pembengkakan dan
kemerahan yang nyata dapat sangat membingungkan.

14
Namun kelemahan dan kekakuan diakibatkan oleh
tahanan secara sadar terhadap gerakan yang
menimbulkan nyeri dari sendi yang terlibat.5

MIELITIS TRANSVERSA AKUT


1. Definisi
Myelitis Transversa adalah kelainan neurologis
yang disebabkan oleh peradangan di kedua sisi dari
satu tingkat, atau segmen, dari sumsum tulang
belakang. Istilah myelitis mengacu pada radang
sumsum tulang belakang; transversal hanya
menggambar kan posisi peradangan, yaitu, di seberang
lebar dari sumsum tulang belakang. Serangan peradangan
bisa merusak atau menghancurkan myelin, substansi
lemak yang meliputi isolasi sel serabut saraf. Ini
menyebabkan kerusakan sistem saraf yang mengganggu
inpuls antara saraf-saraf di sumsum tulang belakang dan
seluruh tubuh.3

2. Epidemiologi
Myelitis Transversa terjadi pada orang dewasa
dan anak-anak, di kedua jenis kelamin, dan di semua
ras. Faktor predisposisi pada keluarga tidak jelas.
Sebuah puncaknya pada tingkat insiden (jumlah kasus
baru per tahun) tampaknya terjadi antara 10 dan 19

15
tahun dan 30 dan 39 tahun. Meskipun hanya beberapa
studi telah meneliti tingkat insiden, diperkirakan bahwa
sekitar 1.400 kasus baru didiagnosis myelitis melintang
setiap tahun di Amerika Serikat, dan sekitar 33.000 orang
Amerika memiliki beberapa jenis kecacatan akibat
gangguan ini.2

3. Etiologi
Para peneliti tidak yakin mengenai penyebab
pasti transversa myelitis. Peradangan yang
menyebabkan kerusakan yang luas pada medulla
spinalis dapat diakibatkan oleh infeksi virus, reaksi
kekebalan yang abnormal, atau tidak cukup aliran darah
melalui pembuluh darah yang terletak di sumsum
tulang belakang.
Myelitis Transversa juga dapat terjadi sebagai
komplikasi sifilis, campak, penyakit Lyme, dan beberapa
vaksinasi, termasuk untuk cacar dan rabies serta
idiopatik.2
Myelitis transversa sering berkembang akibat
infeksi virus. Agen infeksi yang dicurigai menyebabkan
myelitis transversa termasuk varicella zoster, herpes
simpleks, sitomegalovirus, Epstein-Barr, influenza,
echovirus, human immunodeficiency virus (HIV), hepatitis
A, dan rubella. Bakteri infeksi kulit, infeksi telinga tengah

16
(otitis media), dan Mycoplasma pneumonia.

3. Patogenesis
Pasca-kasus infeksi, mekanisme sistem
kekebalan tubuh yang aktif akibat virus atau bakteri,
tampaknya memainkan peran penting dalam
menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang.
Meskipun peneliti belum mengidentifikasi mekanisme
yang tepat bagaimana terjadinya cedera tulang belakang
dalam kasus ini, mungkin rangsangan sistem kekebalan
sebagai respon terhadap infeksi menunjukkan bahwa
reaksi kekebalan tubuh mungkin bertanggung jawab.
Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh, yang
biasanya melindungi tubuh dari organisme asing, keliru
menyerang jaringan tubuh sendiri, menyebabkan
inflamasi dan, dalam beberapa kasus, menyebabkan
kerusakan myelin dalam sumsum tulang belakang.
Beberapa kasus myelitis transversa akibat dari
malformasi arteriovenosa spinal (kelainan yang
mengubah pola-pola normal aliran darah) atau penyakit
pembuluh darah seperti aterosklerosis yang
menyebabkan iskemia, penurunan tingkat normal oksigen
dalam jaringan sumsum tulang belakang. Iskemia dapat
terjadi di dalam sumsum tulang belakang akibat
penyumbatan pembuluh darah atau mempersempit, atau

17
faktor-faktor lain yang kurang umum. Pembuluh darah
membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan saraf tulang
belakang dan membawa sisa metabolik. Ketika
arterivenosus menjadi menyempit atau diblokir, mereka
tidak dapat memberikan jumlah yang cukup sarat oksigen
darah ke jaringan saraf tulang belakang. Ketika wilayah
tertentu dari sumsum tulang belakang menjadi
kekurangan oksigen, atau iskemik, sel saraf dan serat
mungkin mulai memburuk relative dengan cepat.
Kerusakan ini dapat menyebabkan peradangan luas,
kadang-kadang menyebabkan myelitis transversal.
Kebanyakan orang yang mengembangkan kondisi
sebagai akibat dari penyakit vaskular melewati usia 50,
punya penyakit jantung, atau baru saja menjalani operasi
dada atau abdominal.3
4. Gambaran klinis
Myelitis transversa dapat bersifat akut
(berkembang selama jam sampai beberapa hari) atau
subakut (berkembang lebih dari 2 minggu hingga 6
minggu). Gejala awal biasanya mencakup lokal nyeri
punggung bawah, tiba-tiba paresthesias (sensasi abnor
mal seperti membakar, menggelitik, menusuk, atau
kesemutan) di kaki, hilangnya sensorik, dan paraparesis
(kelumpuhan parsial kaki). Paraparesis sering
berkembang menjadi paraplegia. Dan mengakibatkan

18
gangguan genitourinary dan defekasi. Banyak pasien
juga melaporkan mengalami kejang otot, perasaan
umum tidak nyaman, sakit kepala, demam, dan
kehilangan nafsu makan. Tergantung pada segmen
tulang belakang yang terlibat, beberapa pasien mungkin
juga akan mengalami masalah pernapasan.
Dari berbagai macam gejala, empat ciri-ciri klasik
myelitis transversa yang muncul:
(1) kelemahan kaki dan tangan,
(2) nyeri,
(3) perubahan sensorik, dan
(4) disfungsi pencernaan dan kandung kemih. 2
Kebanyakan pasien akan mengalami berbagai
tingkat kelemahan di kaki mereka, beberapa juga
mengalaminya di lengan mereka. Awalnya, orang-orang
dengan myelitis transversal mungkin menyadari bahwa
kaki mereka tampak lebih berat dari biasanya.
Perkembangan penyakit selama beberapa minggu
sering mengarah pada kelumpuhan penuh dari kaki,
yang mengharuskan pasien untuk menggunakan kursi
roda.
Nyeri adalah gejala utama dari myelitis
transversa pada sepertiga sampai setengah dari semua
pasien. Rasa sakit dapat dilokalisasi di punggung bawah
atau dapat terdiri dari tajam, sensasi yang

19
memancarkan bawah kaki, lengan atau di sekitar dada.
Pasien yang mengalami gangguan sensoris
sering menggunakan istilah-istilah seperti mati rasa,
kesemutan, dingin, atau pembakaran untuk
menggambarkan gejala mereka. Sampai 80 persen dari
mereka yang myelitis transversa memiliki kepekaan yang
meningkat, sehingga pakaian atau sentuhan ringan
dengan jari signifikan menyebabkan rasa tidak nyaman
atau sakit (suatu keadaan yang disebut allodynia). Banyak
juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap
perubahan suhu yang ekstrem atau panas atau dingin.3
Gangguan pada genitourinary dan
gastrointestinal mungkin melibatkan peningkatan
frekuensi dorongan untuk buang air kecil atau buang
air besar, inkontinensia, kesulitan buang air kecil, dan
sembelit. Selama perjalanan penyakit, sebagian besar
orang dengan myelitis transversa akan mengalami satu
atau beberapa gejala.

5. Perjalanan penyakit
Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung
yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh mati rasa dan
kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke atas. Gejala
tersebut bisa semakin memburuk dan jika menjadi
berat akan terjadi kelumpuhan serta hilangnya rasa

20
disertai dengan hilangnya pengendalian pencernaan dan
kandung kemih. Lokasi terhambatnya impuls saraf pada
medula spinalis menentukan beratnya gejala yang timbul.

6. Diferensial Diagnosa
Mielitis transversa harus dibedakan dari
mielopati komprensi medula spinalis baik karena proses
neoplasma medula spinalis intrinsik maupun ekstrensik,
ruptur diskus intervertebralis akut, infeksi epidural dan
polineuritis pasca infeksi akut (Sindrom Guillain Barre).
Pungsi lumbal dapat dilakukan pada mielitis
transversa biasanya tidak didapati blokade aliran likuor,
pleositosis moderat (antara 20-200 sel/mm3) terutama
jenis limfosit, protein sedikit meninggi (50-120 mg/100
ml) dan kadar glukosa normal. Berbeda dengan sindrom
Guillain Barre di mana dijumpai peningkatan kadar
potein tanpa disertai pleositosis. Dan pada sindrom
Guillain Barre, jenis kelumpuhannya adalah flaksid serta
pola gangguan sensibilitasnya di samping mengenai
kedua tungkai juga terdapat pada kedua lengan.3
Lesi kompresi medula spinalis dapat dibedakan
dari mielitis karena perjalanan penyakitnya tidak akut
sering didahului dengan nyeri segmental sebelum
timbulnya lesi parenkim medula spinalis. Selain itu
pada pungsi lumbal dijumpai blokade aliran likuor

21
dengan kadar protein yang meningkat tanpa disertai
adanya sel. Dilakukan pungsi lumbal , CT scan atau
MRI, mielogram serta pemeriksaan darah.3

TATALAKSANA
Pemberian glukokortikoid atau ACTH, biasanya
diberikan pada penderita yang datang dengan gejala
awitanya sedang berlangsung dalam waktu 10 hari
pertama atau bila terjadi progresivitas defesit
neurologik. Glukokortikoid dapat diberikan dalam bentuk
prednison oral 1 mg/kg berat badan/hari sebagai dosis
tunggal selama 2 minggu lalu secara bertahap dan
dihentikan setelah 7 hari. Bila tidak dapat diberikan per
oral dapat pula diberikan metil prednisolon intravena
dengan dosis 0,8 mg/kg/hari dalam waktu 30 menit.
Selain itu ACTH dapat diberikan secara intramuskular
denagn dosis 40 unit dua kali per hari (selama 7 hari),
lalu 20 unit dua kali per hari (selama 4hari) dan 20
unit dua kali per hari (selama 3 hari). Untuk mencegah
efek samping kortikosteroid, penderita diberi diet rendah
garam dan simetidin 300 mg 4 kali/hari atau ranitidin
150 mg 2kali/hari. Selain itu sebagai alternatif dapat
diberikan antasid per oral.3
Pemasangan kateter diperlukan karena adanya
retensi urin, dan untuk mencegah terjadinya infeksi

22
traktus urinarius dilakukan irigasi dengan antiseptik dan
pemberian antibiotik sebagai prolifilaksis (trimetroprim-
sulfametoksasol, 1 gram tiap malam). Konstipasi dengan
pemberian laksan.
Pencegahan dekubitus dilakukan dengan alih
baring tiap 2 jam. Bila terjadi hiperhidrosis dapat diberikan
propantilinbromid 15 mg sebelum tidur. Disamping terapi
medikamentosa maka diet nutrisi juga harus
diperhatikan, 125 gram protein, vitamin dosis tinggi dan
cairan sebanyak 3 liter per hari diperlukan.
Setelah masa akut berlalu maka tonus otot mulai
meninggi sehingga sering menimbulkan spasme kedua
tungkai, hal ini dapat diatasi dengan pemberian
Baclofen 15-80 mg/hari, atau diazepam 3-4 kali 5
mg/hari. Rehabilitas harus dimulai sedini mungkin untuk
mengurangi kontraktur dan mencegah komplikasi
tromboemboli. 2

23
Algoritma myelitis

24
Resume

Mielitis adalah proses radang infektif maupun


non-infektif yang menyebabkan kerusakan nekrosis pada
substansia grisea dan alba. Menurut perjalanan klinisnya
dibagi menjadi : akut, subakut, kronis.menurut distribusinya
:poliomielitis, leukomielitis, mielitis tranversa, mielitis
diseminata, meningomielitis, mielopati. Medulla spinalis
mulai dari akhir medula oblongata di foramen magnum
sampai konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2
berlanjut menjadi kauda equina. Kalsifikasi berdasarkan :
Mielitis yang disebabkan oleh virus, Mielitis yang
merupakan akibat sekunder dari penyakit pada
meningens dan medula spinalis, Mielitis (mielopati) yang
penyebabnya tidak diketahui
Poliomielitis : penyakit sistemik akut yang
disebabkan oleh infeksi virus polio dan mengakibatkan
kerusakan pada sel motorik di kornu anterior medula
spinalis, batang otak dan dapat pula mengenai
mesensefalon, serebelum, ganglia basal dan motorik
korteks serebri, disebabkan virus polio, ditularkan melalui
fecal oral, hanya 1% yang mengalami poliomielitis paralitik,
invasi virus menimbulkan reaksi inflamasi dengan
kromatolisis substansia Nissl sel saraf, gambaran
klinisnya terdiri atas 3 stadium yaitu : poliomielitis abortif,

25
poliomielitis preparalitik atau nonparalitik, dan poliomilitis
paralitik.
Mielitis tranversa akuta adalah kelainan neurologis
yang disebabkan oleh peradangan di kedua sisi dari
satu tingkat, atau segmen, dari sumsum tulang
belakang, memiliki gambaran klinis 4 ciri klasik yaitu :
kelemahan kaki dan tangan, nyeri, perubahan sensorik, dan
disfungsi pencernaan dan kandung kemih. Penyakit harus
dibedakan dengan GBS dan lesi kompresi medulla spinalis.
Tatalaksananya antara lain : pemberian glukokortikoid atau
ACTH, pemasangan kateter, pemberian laksan, mencegah
dekubitus, serta penangan setelah melewati fase akut.

26
Tanya jawab

1. Apa saja keluhannya poliomyelitis ?


sebagian besar kasus poliomielitis merupakan
infeksi subklinis atau asimtomatik Kemudian
dapat dijumpai pula yang disebut poliomielitis
abortif, dalam hal ini timbul gejala infeksi
sistemik ringan karena ter jadi viremia. Gejala
infeksi sistemik ringan ini seperti:
Flu dan gangguan pencernaan
. Diagnosis pasti hanya dapat dibuat bila virus
ditemukan pada usapan tenggorokan atau fese.

2. Memerlukan pemeriksaan penunjang apa saja ?


Dilakukan pungsi lumbal , CT scan atau MRI,
mielogram serta pemeriksaan darah.

3. Biasanya keluhan apa yang seling muncul ?


Gejala biasanya dimulai dengan nyeri punggung
yang timbul secara tiba-tiba, diikuti oleh mati rasa
dan kelemahan otot kaki yang akan menjalar ke
atas. Gejala tersebut bisa semakin memburuk
dan jika menjadi berat akan terjadi kelumpuhan
serta hilangnya rasa disertai dengan hilangnya
pengendalian pencernaan dan kandung kemih.

27
DAFTAR PUSTAKA

1. Brian G. Weinshenker. 2008. An Approach to the


Diagnosis of Acute Transverse Myelitis,. Available from :
https://www.orpha.net/data/patho/Pro/en/AcuteTransverseMyel
itis-FRenPro16890v01.pdf

2. Kauman, Ellivnor. 2010. Acute Tranverse Myelitis. Available


from :
http://eradiology.bidmc.harvard.edu/LearningLab/central/Kauf
man.pdf

3. National Institute of Neurological disorder and stroke. 2009.


Transverse Myelitis Fact Sheet Available from :

4. Sidharta, Priguna. 1985. Neurologi Klinis Dalam Praktek


Umum,Cetakan ke 2 . Jakarta.

5. Tymchak , Shoun. 2010. Diagnosis of transfers myelitis.


Available from : http://www.logan.edu/mm/files/LRC/Senior-
Research/2000-Dec-78.pdf

6. Victor and Adam. 2000. Adam and Victor`s Principals of


Neurology 7th Edition. McGraw-Hill.

28