Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KASUS

VOMITUS et causa GASTROPARESIS

Moderator :

dr. Anies Nuringtyas, Sp.A

Oleh:

Virda Dwi Septiani 1610221098

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RSPAD GATOT SOEBROTO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
PERIODE 14 OKTOBER 23 DESEMBER 2017
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. RN
Jenis kelamin : Perempuan
Tempat dan tanggal lahir : Jakarta, 13 Mei 2011
Umur : 6 tahun 5 bulan
Pendidikan : TK
Suku bangsa / Bangsa : Betawi / Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Kemayoran Timur RT 011 RW 007, Jakarta
No. Rekam Medik : 8595XX
Masuk RS tanggal : 19 Oktober 2017, jam 21.30 WIB
Datang sendiri/dikirim : Datang sendiri dengan orangtua

IDENTITAS ORANGTUA

Orangtua Ayah Ibu

Nama Tn. T Ny. P


Umur sekarang 28 tahun 25 tahun
Perkawinan ke 1 1
Pendidikan terakhir SMA SMP
Pekerjaan Pegawai Swasta Ibu Rumah Tangga
Pangkat - -
Agama Islam Islam
Suku bangsa Betawi Betawi
Keadaan kesehatan Baik Baik
II. ANAMNESIS
Alloanamnesis dari ibu pasien Kamis, 19 Oktober 2017 pukul 21.30 WIB
Keluhan utama : Mual dan muntah
Keluhan tambahan : lemas, nyeri perut

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan mual dan muntah. Satu hari
sebelum masuk Rumah Sakit (SMRS) pasien mengeluh mual dan muntah sejak pagi hari.
Mual dan muntah dirasakan terus menerus sepanjang hari. Ibu pasien mengatakan keluhan
muntah yang dikeluarkan adalah cairan bewarna kecoklatan. Muntah sudah lebih dari 10 kali
dalam sehari. Pasien muntah secara tiba-tiba tanpa ada pemicu muntah. Pasien mengatakan
perasaan mual disertai dengan pengeluaran air liur yang berlebihan.

Keluhan mual dan muntah disertai dengan nyeri perut. Nyeri perut yang dirasakan
seperti tertusuk-tusuk di bagian tengah dan kiri atas. Pasien tidak mau makan karena terasa
mual. Saat pasien dipaksakan untuk makan, pasien akan memuntahkan kembali makanan
tersebut. Pasien tampak lemas, pusing, bibirnya terlihat kering, dan pasien belum ada BAB.
BAK tidak ada keluhan. Pasien juga mengeluhkan demam tidak tinggi dan batuk berdahak
yang sulit dikeluarkan. Asupan makan pasien berkurang namun masih mau minum air putih
dan teh.

Pada bulan Agustus 2017, pasien dilakukan endoskopi dan dengan hasil esofaginitis
non erosif, sliding hernia, dan gastropati erosif. Pasien telah dirawat selama 3 minggu SMRS
di RSCM dan mendapat obat rumah paracetamol syr 3 x 7cc dan domperidon syr 3 x 4 cc.
Pasien dilakukan pemeriksaan barium meal di RSCM dan dengan hasil delayed gastric
emptying suspek hipomotilitas gaster dd/ gastric outletobstruction dan GERD grade 1 dan
disarankan gastric emptying study.

Riwayat penyakit dahulu


a. Pasien pernah menderita mual dan muntah sebelumnya pada usia 8 bulan dan 5
tahun.
b. Pasien tidak memiliki riwayat alergi obat maupun makanan.
c. Pasien pernah dirawat di rumah sakit karena keluhan mual dan muntah sebelumnya
Riwayat penyakit keluarga yang ada hubungannya dengan penyakit sekarang
Di keluarga tidak ada keluhan mual dan muntah seperti pasien.

Riwayat kehamilan
Status obstetrik ibu pada saat mengandung pasien adalah G1P0A0. Pasien merupakan
anak pertama dan tidak memiliki saudara kandung. Selama kehamilan ibu pasien tidak
merasakan keluhan, hanya perasaan mual diawal kehamilan. Ibu pasien rutin kontrol selama
hamil.

Riwayat kelahiran
Lahir bayi perempuan, 13 Mei 2011 spontan, P1A0. Usia gestasi 39 minggu, berat badan
lahir 3600 gram, panjang badan 49 cm. Sewaktu lahir langsung menangis. Ketuban jernih,
tidak terdapat kelainan bawaan. Persalinan ditolong oleh bidan.

Riwayat perkembangan

Pertumbuhan gigi I : 8 bulan

Psikomotor :

Menegakkan kepala : 4 bulan

Membalikkan badan : 4 bulan

Duduk : 7 bulan

Merangkak : 8 bulan

Berdiri : 12 bulan

Berjalan : 16 bulan

Berkata mama : 12 bulan

Kesan: perkembangan sesuai dengan usia.


Riwayat makanan

Umur ASI Susu Formula Bubur susu Nasi tim

0 6 bulan + - - -
6 12 bulan + + + (nasi + sayur) atau
(nasi + ayam/ikan)
3x sehari
(nasi + sayur) atau

12 bulan sekarang + + + (nasi + ayam/ikan)


3x sehari

Riwayat Imunisasi

Jenis imunisasi I II III IV

BCG 2 bulan - - -
DTP 2 bulan 4 bulan 6 bulan -
Polio Lahir 2 bulan 4 bulan 6 bulan
Campak 9 bulan - - -
HepatitisB Lahir 1 bulan 6 bulan -
Hib 2 bulan 4 bulan 6 bulan -

Kesan : imunisasi dasar lengkap

Riwayat Keluarga

Corak Reproduksi Ibu: Status kebidanan P1A0.

Keadaan anak: pasien merupakan anak tunggal.

Anggota Keluarga Lain yang serumah

Tidak ada.
Masalah Dalam Keluarga

Tidak ada.

Status Rumah Tinggal

Tinggal di perumahan, milik sendiri.

Lingkungan sekitar rumah bersih dan tertata. Ketersediaan air cukup baik, sumber air dari
PDAM. Ventilasi udara baik.

III. PEMERIKSAAN FISIS


Dilakukan pada tanggal Kamis, 19 Oktober 2017 pukul 21.30 WIB
Berat badan sebelum sakit : 16 kg
Berat badan sekarang : 13 kg
Panjang badan : 105 cm
Data antropometri
Berat badan : 13 kg
Panjang badan : 105 cm
Status antropometri dengan kurva CDC
BB/U : 65%
TB/U : 92%
BB/TB : 76%
Kesan : gizi kurang dengan perawakan normal
Tanda vital :
TD : Tidak dilakukan
Nadi :144 x/menit,kuat angkat,teratur, isi cukup.
RR : 24 x/menit, teratur, kedalaman cukup.
Suhu : 36,7oC (axial)
Keadaan umum : Gelisah, lemas
Kesadaran : Compos mentis
Pernapasan : Tidak ada napas cuping hidung dan tidak ada retraksi,
kedalaman cukup
Posisi : Tidur terlentang

Kepala : Normocephal, rambut hitam merata, tipis, tidak mudah dicabut.

Ubun-ubun besar sudah menutup.

Mata : Palpebra mata tidak cekung, konjungtiva tidak anemis, sklera


tidakikterik, kornea jernih, refleks cahaya langsung dan tidaklangsung
positif, pupil bulat isokor 2/2, air mata +/+.
Telinga : Daun telinga simetris kanan dan kiri, lekukan sempurna, liang
telinga lapang, tidak ada serumen, tidak ada sekret, tidak ada nyeri.
Hidung : Bentuk normal, deviasi septum tidak ada, mukosa tidak
hiperemis, tidak ada sekret, napas cuping hidung tidak ada.
Mulut : Bibir tidak sianosis, mukosa bibir kering, lidah tidak kotor, tidak
tremor, faring tidak hiperemis, Tonsil T2-T2 tenang.
Leher : Tidak teraba pembesaran KGB.
Toraks : bentuk dada normal, simetris, tidak ada retraksi, tidak ada
sikatriks,tidak ada pelebaran vena.
Paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada retraksi supraklavikular, interkostalis, epigastrial.
Palpasi : Vokal fremitus kanan sama dengan kiri.
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru.
Auskultasi : Suara napas dasar vesikuler.
Suara napas tambahan tidak ada, tidak ada rhonki dan wheezing.
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak.
Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga IV linea midklavikula sinistra, tidak
kuat angkat

Perkusi : Tidak dilakukan


Auskultasi : Bunyi jantung I-II reguler, gallop tidak ada, murmur tidak ada.
Abdomen
Inspeksi : Datar, tidak ada benjolan / distensi / luka / sikatrik / venektasi.
Auskultasi : Bising usus positif normal.
Palpasi : Supel, datar, nyeri tekan ada, hepar tidak teraba, limpa tidak teraba,
ginjal tidak teraba, turgor kembali cepat.
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen.
Ekstremitas : Akral hangat, edema tidak ada, tidak ada sianosis, tonus baik, CRT
<2 detik

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Hasil Laboratorium RSPAD Gatot Soebroto (19 Oktober 2017, pukul 22.17 WIB)

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan

Hematologi
Darah Rutin
Hb 13,3 10,5 13,5 g/dl
Ht 38 33 39 %
Eritrosit 4,8 3,7 5,3 juta/L
Leukosit 19.740 6000 17500 / L
Trombosit 528.000 150.000 400.000 /L
Hitung Jenis:
Basofil 0 01%
Eosinofil 1 13%
Neutrofil 59 50 70 %
Limfosit 31 20 40 %
Monosit 10 28%
MCV 81 70 86 fl
MCH 28 23 31 pg
MCHC 35 30 36 g/dL
Kimia Klinis
Natrium (Na) 141 132 145 mmol/L
Kalium (K) 4,3 3,1 5,1 mmol/L
Klorida (Cl) 100 96 111 mmol/L

V. RESUME
Pasien anak perempuan usia 6 tahun 5 bulan, berat badan 13 kg, datang
dengan keluhan muntah sejak 1 hari SMRS. Mual dan muntah dirasakan terus menerus
sepanjang hari. Ibu pasien mengatakan keluhan muntah yang dikeluarkan adalah cairan
bewarna kecoklatan. Muntah sudah >10 x dalam sehari. Keluhan mual dan muntah disertai
dengan nyeri perut pasien. Pasien tampak lemas, pusing, bibirnya terlihat kering, sulit BAB
dan BAK tidak ada keluhan. Pasien juga mengeluhkan demam tidak tinggi dan batuk pilek.
Asupan makan pasien berkurang namun masih mau minum air putih dan teh. Pasien sudah
dilakukan barium meal di RSCM dan dengan hasil delayed gastric emptying..

Dari pemeriksaan fisis ditemukan kesadaran compos mentis, tampak gelisah dan
lemas, tanda vital nadi 144x/menit, respirasi : 24 x/menit, suhu: 36,70C (axial), mata:
palpebra tidak cekung, mulut: bibir tidak sianosis, mukosa bibir kering, bising usus positif
normal, nyeri epigastrium, turgor kembali cepat, CRT < 2 detik.

VI. DIAGNOSIS BANDING


- Vomitus suspek gastroparesis
- Vomitus suspek GERD

VII. DIAGNOSIS KERJA


- Vomitus suspek gastroparesis
- Low intake

VIII. PENATALAKSANAAN
- IVFD KAEN 1B 1200 cc / 24 jam
- Inj. Ranitidin 3 x 10 mg IV
- Inj. Cefotaxime 3 x 400 mg IV
- Paracetamol sirup 3 x 5ml P.O.
- Susu F100 3 x 150 ml
- Makanan lunak 1300 kalori
IX. PROGNOSIS
Ad. Vitam : dubia ad bonam
Ad. Fungionam : dubia ad bonam
Ad. Sanationam : dubia
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi

Muntah adalah pengeluaran isi lambung secara paksa melalui mulut disertai kontraksi
lambung dan abdomen.1 Pada anak biasanya sulit untuk mendiskripsikan mual, mereka lebih
sering mengeluhkan sakit perut atau keluhan umum lainnya. Muntah merupakan suatu cara di
mana traktus gastrointestinal membersihkan dirinya sendiri dari isinya ketika hampir semua
bagian atas traktus gastrointestinal teriritasi secara luas, sangat mengembang atau bahkan
sangat terangsang.2 Kejadian ini biasanya disertai dengan menurunnya tonus otot lambung,
kontraksi, sekresi, meningkatnya aliran darah ke mukosa intestinal, hipersalivasi, keringat
dingin, detak jantung meningkat dan perubahan irama pernafasan. Refluks duodenogastrik
dapat terjadi selama periode nausea yang disertai peristaltik retrograde dari duodenum ke
arah antrum lambung atau secara bersamaan terjadi kontraksi antrum dan duodenum. Muntah
timbul bila persarafan atau otak menerima satu atau lebih pencetus seperti keracunan
makanan, infeksi pada gastrointestinal, efek samping obat, atau perjalanan. Mual biasanya
dapat timbul sebelum muntah.3,4

II. 2 Etiologi

Etilogi muntah pada bayi dan anak berdasarkan usia adalah sebagai berikut :5

Usia 0 2 Bulan :

a) Kolitis Alergika

Alergi terhadap susu sapi atau susu formula berbahan dasar kedelai. Biasanya diikuti
dengan diare, perdarahan rektum, dan rewel.

b) Kelainan anatomis dari saluran gastrointestinal

Kelainan kongenital, termasuk stenosis atau atresia. Manifestasinya berupa intoleransi


terhadap makanan pada beberapa hari pertama kehidupan.
c) Refluks Esofageal

Regurgitasi yang sering terjadi segera setelah pemberian susu. Sangat sering terjadi
pada neonatus; secara klinis penting bila keadaan ini menyebabkan gagal tumbuh
kembang, apneu, atau bronkospasme.

d) Peningkatan tekanan intrakranial

Rewel atau letargi disertai dengan distensi abdomen, trauma lahir danshaken baby
syndrome.

e) Malrotasi dengan volvulus

80% dari kasus ini ditemukan pada bulan pertama kehidupan, kebanyakan disertai
emesis biliaris.

f) Ileus mekonium

Inspissated meconium pada kolon distal; dapat dipikirkan diagnosiscystic fibrosis.

g) Necrotizing Enterocolitis

Sering terjadi khususnya pada bayi prematur terutama jika mengalami hipoksia saat
lahir. Dapat disertai dengan iritabilitas atau rewel, distensi abdomen dan hematokezia.

h) Overfeeding

Regurgitasi dari susu yang tidak dapat dicerna, wet-burps sering pada bayi dengan
kelebihan berat badan yang diberi air susu secara berlebihan.

i) Stenosis pylorus

Puncaknya pada usia 3-6 minggu kehidupan. Rasio laki-laki banding wanita adalah
5:1 dan keadaan ini sering terjadi pada anak laki-laki pertama. Manifestasi klinisnya
secara progresif akan semakin memburuk, proyektil, dan emesis nonbiliaris.
Usia 2 bulan-5 tahun.

a) Tumor otak

Pikirkan terutama jika ditemukan sakit kepala yang progresif, muntah-muntah,


ataksia, dan tanpa nyeri perut.

b) Ketoasidosis diabetikum

Dehidrasi sedang hingga berat, riwayat polidipsi, poliuri dan polifagi.

c) Korpus alienum

Dihubungkan dengan kejadian tersedak berulang, batuk terjadi tiba-tiba atau air liur
yang menetes.

d) Gastroenteritis

Sangat sering terjadi; sering adanya riwayat kontak dengan orang yang sakit, biasanya
diikuti oleh diare dan demam.

e) Trauma kepala

Muntah sering atau progresif menandakan konkusi atau perdarahan intrakranial.

f) Hernia inkarserasi

Onset dari menangis, anoreksia dan pembengkakan skrotum yang terjadi tiba-tiba.

g) Intussusepsi

Puncaknya terjadi pada bulan ke 6-18 kehidupan; pasien jarang mengalami diare atau
demam dibandingkan dengan anak yang mengidap gastroenteritis.

h) Posttusive

Seringkali, anak-anak akan muntah setelah batuk berulang atau batuk yang
dipaksakan.

i) Pielonefritis

Demam tinggi, tampak sakit, disuria atau polakisuria. Pasien mungkin mempunyai
riwayat infeksi traktus urinarius sebelumnya
Usia 6 tahun ke atas.

a) Adhesi

Terutama setelah operasi abdominal atau peritonitis.

b) Appendisitis

Manifestasi klinis dan lokasi nyeri bervariasi. Gejala sering terjadi termasuk nyeri
yang semakin meningkat, menjalar ke kuadran kanan bawah, muntah didahului oleh
nyeri, anoreksia, demam subfebril, dan konstipasi.

c) Kolesistitis

Lebih sering terjadi pada perempuan, terutama dengan penyakit hemolitik (contohnya,
anemia sel sabit). Ditandai dengan nyeri epigastrium atau kuadran kanan atas yang
terjadi secara tiba-tiba setelah makan.

d) Hepatitis

Terutama disebabkan oleh infeksi virus atau akibat obat; pasien mungkin mempunyai
riwayat buang air besar berwarna seperti dempul atau urin berwarna seperti teh pekat.

e) Inflammatory bowel disease

Berkaitan dengan diare, hematokezia, dan nyeri perut. Striktura bisa menyebabkan
terjadinya obstruksi.

f) Intoksikasi

Lebih sering terjadi pada anak yang sedang belajar berjalan dan remaja. Dicurigai jika
mempunyai riwayat depresi. Bisa juga disertai oleh gangguan status mental.

g) Migrain

Nyeri kepala yang berat; sering terdapatnya aura sebelum serangan seperti skotoma.
Pasien mungkin mempunyai riwayat nyeri kepala kronis atau riwayat keluarga dengan
migrain.

h) Pankreatitis
Faktor resiko termasuk trauma perut bagian atas, riwayat infeksi sebelumnya atau
sedang infeksi, penggunaan kortikosteroid, alkohol dan kolelitiasis.

i) Ulkus peptikum

Pada remaja, ratio wanita:pria = 4:1. Nyeri epigastrium kronik atau berulang, sering
memburuk pada waktu malam.

II. 3 Patofisiologi

Kemampuan untuk memuntahkan merupakan suatu keuntungan karena


memungkinkan pengeluaran toksin dari lambung. Muntah terjadi bila terdapat rangsangan
pada pusat muntah yangberasal dari, gastrointestinal, vestibulo okular, aferen kortikal yang
lebih tinggi, menuju CVC kemudian dimulai nausea, retching, ekpulsi isi lambung.1,3

Ada 2 regio anatomi di medulla yang mengontrol muntah, 1) chemoreceptor trigger


zone (CTZ) dan 2) central vomiting centre (CVC). CTZ terletak di area postrema pada dasar
ujung caudal ventrikel IV di luar blood brain barrier (sawar otak). Koordinasi pusat muntah
dapat dirangsang melalui berbagai jaras. Muntah dapat terjadi karena tekanan psikologis
melalui jaras yang kortek serebri dan sistem limbik menuju pusat muntah (CVC) dan jika
pusat muntah terangsang melalui vestibular atau sistim vestibuloserebelum dari labirin di
dalam telinga. Rangsangan bahan kimia melalui darah atau cairan otak (LCS ) akan terdeteksi
oleh CTZ. Mekanisme ini menjadi target dari banyak obat anti emetik. Nervus vagus dan
visera merupakan jaras keempat yang menstimulasi muntah melalui iritasi saluran cerna dan
pengosongan lambung yang lambat. Sekali pusat muntah terangsang maka cascade ini akan
berjalan dan akan menyebabkan timbulnya muntah. Pencegahan muntah mungkin dapat
melalui mekanisme ini.

Stimulasi pada reseptor suprameduler7

Muntah psikogenik
Peningkatan tekanan intrakranial (efusi subdural atau hematoma, edema otak,
atau tumor, hidrosefalus, meningoensefalitis, sindroma Reye)
Valvulus (migrain, hipertensi)
Kejang
Penyakit vestibuler, motion sickness

Stimulasi pada Chemoreceptor Trigger Zone

Obat-obatan : opiat, ipecac, digoksin, antikonvulsan


Toksin
Produk metabolisme :
- Asidemia, ketonemia, (diabetik ketoasidosis, lactic asidosis,
fenilketonuria, renal tubular asidosis)
- Aminoasidemia (tirosinemia, hipervalinemia, lisinuria, maple syrup
urine)
- Asidemia organis (asidemia metilmalonik, asidemia propionik,
asidemia isovalerik)
- Hiperamonemia (sindroma Reye, defek siklus urea)
- Lain-lain (intoleransi fruktosa herediter, galaktosemia, kelainan
oksidasi asam lemak, diabetes insipidus, insufisiensi adrenal,
hiperkalsemia, hipervitaminosis A)

Stimulasi pada reseptor perifer gastrointestinalis atau obstruksi traktus


gastrointestinalis atau keduanya

Faringeal : refleks menelan (sekret sinusitis, self induced rumination)


Esofageal
- Fungsional : refluks, akhalasia, lain-lain, dismotilitas esofageal
- Struktural : striktura, cincin, atresia dll.
Gastrik
- Ulkus peptikum, infeksi, dismotolitas/gastroparesis
- Obstruksi (benzoar, stenosis piloris, penyakit granulomatosus kronik)

Pada manusia muntah terdiri dari 3 aktivitas yang terkait, nausea (mual),retching dan
pengeluaran isi lambung. CTZ mengandung reseptor untuk bermacam-macam sinyal
neuroaktif yang menyebabkan muntah. Reseptor di CTZ diaktivasi oleh bahan-bahan
proemetik di dalam sirkulasi darah atau di cairan serebrospinal (CSF). Reseptor untuk
dopamin titik tangkap kerja dari apomorfin, asetilkolin, vasopresin, enkefalin, angiotensin,
insulin, endorfin, substansi P, dan mediator-mediator lain Stimulator oleh teofilin dapat
menghambat aktivitas proemetik dari bahan neuropeptik tersebut.

Eferen dari CTZ dikirim ke CVC, selanjutnya terjadi serangkaian kejadian yang
dimulai melalui spangnik vagus eferen. CVC terletak di traktus nukleus solitarius dan di
sekitar formasio retikularis medula tepat di bawah CTZ..

Muntah sebagai respons terhadap iritasi gastrointestinal, radiasi abdomen, dilatasi


gastrointestinal adalah kerja dari signal aferen nervus vagus ke pusat muntah yang dipicu
oleh pelepasan lokal mediator inflamasi dari mukosa yang rusak, dengan pelepasan sekunder
neurotransmiter. Eksitasi paling penting adalah serotonin dari sel enterokromafin mukosa.
Padamotion sickness diketahui bahwa gerakan perubahan arah tubuh yang cepat
menyebabkan orang tertentu muntah,signal aferen ke pusat muntah berasal darireseptor di
labirin dan impuls ditransmisikan terutama melalui inti vestibular ke dalam serebelum,
kemudian ke zona pencetus kemoreseptor, dan akhirnya ke pusat muntah.

Berbagai rangsangan psikis, termasuk gambaran yang memuakkan, dan faktor


psikologi lain dapat menyebabkan muntahmelalui jaras kortek serebri dan sistem limbik
menuju pusat muntah. Selain itu, gejala gastrointestinal meliputi peristaltik, salivasi,
takipnea, takikardi.

Terdapat tiga fase muntah, yaitu fase prodromal (fase pre-ejeksi), fase ejeksi dengan
retching dan muntah dan fase post ejeksi.4,8

1. Fase pre-ejeksi

Fase ini biasanya berlangsung sebentar, ditandai dengan mual dan dihubungkan
dengan peningkatan kadar vasopressin plasma (ADH), kadang-kadang kenaikan ini melebihi
tingkat vasopressin yang dibutuhkan dalam kerjanya sebagai antidiuretik dan mengganggu
aktifitas mioelektrisitas di antrum gaster sehingga terjadi takigastria. Awal dari
retchingmenyebabkan kontraksi retrograde yang kuat dimulai dari usus halus bagian bawah
membawa isi dari usus halus kembali ke lambung. Pada tahap awal dari iritasi gastrointestinal
atau distensi yang berlebihan, antiperistaltis mulai terjadi, sering beberapa menit sebelum
muntah terjadi. Antiperistaltis dapat dimulai sampai sejauh ileum di traktus intestinal, dan
gelombang antiperistaltik bergerak mundur, naik ke usus halus dengan kecepatan 2-
3cm/detik; proses ini dapat mendorong sebagian isi usus kembali ke duodenum, menjadi
sangat meregang. Peregangan ini menjadi faktor pencetus yang menimbulkan tindakan
muntah yang sebenarnya. Sistem saraf otonom teraktivasi sehingga terjadi takikardi,
vasokonstriksi dan berkeringat dingin. Sistem saraf vagus membuat traktus intestinal bagian
atas menjadi relaksasi dan memicu salivasi.

2. Fase ejeksi

Retching biasanya mendahului muntah. Fungsi dari retching masih belum diketahui.
Muntah merupakan gabungan dari kontraksi ritmik yang terkoordinasi dari diafragma, otot-
otot interkostalis eksterna dan otot abdomen memeras lambung dan mengeluarkan isi
lambung.

Pada saat muntah, kontraksi intrinsik kuat terjadi baik pada duodenum maupun
lambung, bersama dengan relaksasi sebagian dari sfingter esophagus bagian bawah, sehingga
membuat muntahan mulai bergerak ke dalam esophagus. Setelah itu terjadi kerja muntah
spesifik yang melibatkan otot-otot abdomen mengambil alih dan mendorong muntahan ke
luar.

Sekali pusat muntah telah cukup dirangsang dan timbul perilaku muntah, efek yang
pertama adalah (1) bernafas dalam, (2) naiknya tulang lidah dan faring untuk menarik sfingter
esofagus bagian atas supaya terbuka, (3) penutupan glotis, dan (4) pengangkatan palatum
mole untuk menutupi nares posterior. Kemudian datang kontraksi yang kuat ke bawah
diafragma bersama dengan rangsangan kontraksi semua otot dinding abdomen. Keadaan ini
memeras perut di antara diafragma dan otot-otot abdomen, membentuk suatu tekanan
intragastrik sampai ke batas yang tinggi. Akhirnya sfingter esophagus bagian bawah
berelaksasi secara lengkap, membuat pengeluaran isi lambung ke atas melalui esophagus.
Jadi kerja muntah berasal dari suatu kerja memeras otot-otot abdomen bersama dengan
pembukaan sfingter esophagus secara tiba-tiba sehingga isi lambung dapat dikeluarkan.

3. Fase Post-ejeksi

Fase post ejeksi belum seluruhnya dimengerti, bagaimana fungsi normal tubuh
kembali lagi sepenuhnya setelah mengalami muntah dan kapan muntah pertama akan diikuti
muntah lainnya lagi.
II. 4 Evaluasi Klinis

Evaluasi klinis muntah pada neonatus

a) Muntah bilier

Dapat terjadi pada semua umur, menandakan obstruksi intestinal atau infeksi sistemik.
Abnormalitas dari anatomi traktus gastrointestinal yang tampak pada minggu pertama
kehidupan dengan muntah bilier dan distensi abdomen termasuk di dalamnya malrotasi,
volvulus, atresia usus, sumbatan mekonium, hernia inkarserata dan agangliogenesis (Penyakit
Hirscprung)

b) Necrotizing Enterocolitis (NEC)

Necrotizing Enterocolitismerupakan kejadian inflamasi traktus intestinal paling sering


pada neonatus. Gejala dari NEC adalah distensi abdomen, muntah bilier dan adanya darah
pada tinja. Bayi baru lahir dengan NEC dapat juga menunjukan gejala infeksi sistemik
nonspesifik, seperti letargi, apneu, suhu tidak stabil dan syok. Necrotizing Enterocolitis
terutama ditemui pada bayi preterm dan NEC juga mempengaruhi 10% bayi yang lahir aterm.

c) Kelainan Metabolik

Inborn Errors of Metabolism harus diwaspadai akan adanya penyakit neonatus akut.
Beberapa faktor yang menyebabkan cenderung terjadinya NEC. Keadaan terkait lainnya,
termasuk letargi, hipotonia dan kejang.

d) Kelainan Neurologis

Abnormalitas susunan saraf pusat, seperti perdarahan intrakranial, hidrosefalus dan


edem serebri, harus dicurigai pada neonatus dengan defisit neurologis, peningkatan lingkar
kepala yang cepat dan penurunan hematokrit yang tidak dapat dijelaskan.

Evaluasi klinis muntah pada bayi

a) Stenosis pilorus

Stenosis pilorus merupakan pertimbangan utama etiologi muntah pada bayi.


Hipertrofi pilorus menyebabkan obstruksi pengeluaran cairan gaster di kanal pilorus. Lima
persen bayi dengan orangtua yang mengalami stenosis pilorus, mengalami kelainan ini. Laki-
laki lebih dipengaruhi dibanding wanita. Gejala stenosis pylorus dimulai pada umur dua
hingga tiga minggu, namun dapat terjadi pada rentang waktu sejak lahir hingga usia lima
bulan.Massa berukuran zaitun, dapat teraba di kuadran kanan atas.

b) Refluks gastroesofageal (GER) 10

GER merupakan kelainan gastroesofageal yang paling sering terjadi di masa bayi.
Kelainan ini disebabkan oleh fungsi sfingter esofageal bagian bawah (Lower Esophageal
Sfingter atau LES) yang belum matur pada bayi. Pada GER ditemui relaksasi sementara dari
sfingter esofagus bagian bawah yang terjadi secara tiba-tiba, berlangsung singkat, dimana
terjadi pergerakan retrograde isi lambung ke dalam esofagus. GER mewakili fenomena
fisiologis yang sering dijumpai pada tahun pertama kehidupan. Sebanyak 60-70% bayi
mengalami muntah setelah 24 jam menyusu, hal ini berlangsung hingga usia 3-4 bulan.

Refluks gastroesofageal dapatmenjadi patologis jika gejala menetap lebih dari 18-24
bulan dan atau ditemukannya komplikasi yang signifikan seperti gangguan tumbuh kembang,
episode rekuren dari bronkospasme dan pneumonia, apneu atau refluks esofagitis.

Selama beberapa tahun, GER pada bayi dan anak diduga timbul akibat tidak adanya
tonus pada LES (Lower Esophageal Sfingter), namun banyak penelitian terkini menunjukkan
bahwa tekanan pada LES pada kebanyakan pasien anak adalah normal, bahkan pada bayi
preterm.

Mekanisme mayor yang terjadi pada bayi dan anak kini telah dibuktikan akibat
adanya transien LES relazation. Beberapa faktor yang memicu terjadinya GER adalah
peningkatan volume cairan intragastrik dan posisi telentang. GER dapat juga dipicu oleh
penurunan viskositas cairan diet pada bayi dibandingkan dengan makanan dewasa yang lebih
padat.

Dibandingkan dengan dewasa, bayi lebih mudah terkena GER karena perbedaan daya
kembang lambung dan waktu pengosongan lambung yang lebih lambat.

d. Alergi pada gastrointestinal

Alergi susu sapi sangat jarang ditemui pada bayi dan masa awal kanak-kanak.
Umumnya terjadipada umur 2-3 tahun. Pada alergi ini dapat terjadi muntah, diare, kolik dan
kehilangan darah.
Evaluasi klinis dari muntah pada anak-anak

a) Ulkus peptikum pada anak lebih muda sering dikaitkan dengan muntah.

Ulkus peptikum harus dicurigai jika terdapat riwayat ulkus pada keluarga atau jika
terdapat hematemesis atau anemia defisiensi besi yang tidak dapat dijelaskan atau nyeri yang
sering membangunkan pasien dari tidurnya.

b) Pankreatitis

Pankreatitis relatif jarang menyebabkan muntah, namun seharusnya dipertimbangkan


pada pasien yang pernah mengalami trauma abdomen. Pasien biasanya mengeluhkan nyeri
epigastrium yang dapat menjalar ke punggung bagian tengah.

Faktor predisposisi lainnya termasuk penyakit virus (gondongan), obat (steroid,


azatioprin), anomali kongenital traktus bilier atau traktus pankreatikus, kolelitiasis,
hipertrigliseridemia dan riwayat pankreatitis pada keluarga

c) Gangguan sistem saraf pusat

Muntah persisten tanpa adanya keluhan sistemik atau keluhan gastrointestinal lainnya
menandakan adanya tumor intrakranial atau peningkatan tekanan intrakranial. Penemuan
gejala neurologis yang kurang jelas seperti ataksia, harus ditatalaksana dan dilakukan
pemeriksaan neurologis dengan cermat.

II. 5 Diagnosis

Anamnesis

Sifat dan ciri muntah akan membantu mengetahui penyebab muntah. Muntah
proyektil dapat dikaitkan dengan adanya obstruksi gastrointestinal atau tekanan intrakranial
yang meningkat. Muntah persisten pada neonatus dapat dicurigai ke arah kelainan metabolik
bawaan ditambah dengan adanya riwayat kematian yang tidak jelas pada saudaranya dan
multipel abortus spontan pada ibunya.1,9
Bahan muntahan dalam bentuk apa yang dimakan menunjukkan bahwa makanan
belum sampai di lambung danbelum dicerna oleh asam lambung berarti penyebab muntahnya
di esofagus. Muntah yang mengandung gumpalan susu yang tidak berwarna coklat atau
kehijauan mencerminkan bahwa bahan muntahan berasal dari lambung. Muntah yang
berwarna kehijauan menunjukkan bahan muntahan berasal dari duodenum di mana terjadi
obstruksi di bawah ampula vateri. Bahan muntahan berwarna merah atau kehitaman (coffee
ground vomiting) menunjukkan adanya lesi di mukosa lambung. Muntah yang terlalu
berlebihan dapat menyebabkan robekan pada mukosa daerah sfingter bagian bawah esofagus
yang menyebabkan muntah berwarna merah kehitaman (Mallory Weiss syndrome). Adanya
erosi atau ulkus pada lambung menyebabkan muntah berwarna hitam, kecoklatan, atau
bahkan merah karena darah belum tercerna sempurna. Pada periode neonatal darah ibu yang
tertelan oleh bayi pada waktu persalinan atau puting susu ibu yang luka akibat sedotan mulut
bayi, warna muntah juga berwarna kecoklatan, dapat dibedakan antara darah ibu dan bayi
dengan Apt test (alkali denaturation test). Muntah fekal menunjukan adanya peritonitis atau
obstruksi intestinal.

Jenis dan jumlah makanan atau minuman sebelum muntah (ASI atau susu formula,
makanan atau minuman lainnya), kehilangan berat badan, miksi terakhir dan perubahan
perilaku harus dicermati. Poin penting lainnya adalah apakah ada riwayat alergi atau intoleran
makanan dan pengobatan sebelumnya, apakah anak mengalami gejala lain seperti nyeri
kepala, diare atau letargi. Perlu juga ditanyakan kondisi medis anak sebelumnya, riwayat
pembedahan, riwayat bepergian ke negara berkembang dan sumber air minum dan apakah
anak sebelumnya mengkonsumsi makanan yang mungkin telah tercemar.

Kelainan anatomik kongenital, genetik, dan penyakit metabolik lebih sering terlihat
pada periode neonatal, sedangkan peptik, infeksi, dan psikogenik sebagai penyebab muntah
lebih sering terjadi dengan meningkatnya umur. Intoleransi makanan, perilaku menolak
makanan dengan atau tanpa muntah sering merupakan gejala dari penyakit jantung, ginjal,
paru, metabolik, genetik, atau kelainan neuromotorik.

Pemeriksaan fisik

- Tanda-tanda dehidrasi yaitu ubun-ubun yang cekung, turgor kulit


kembalilambat/sangatlambat, mulutkering, air mata yang
kering,berkurangnyafrekuensimiksi (kurangdarisatupopokbasahdalamenam jam
padabayi) atauanakdengandenyutjantungcepat (bervariasi, tergantungumuranak)
sehinggadapatdinilaiderajatdehidrasiuntukpenatalaksanaanselanjutnya.
- Iritasiperitoniumdicurigaipadaanak yang menahansakitdenganposisimemeluklutut,
perludiperiksaadanyadistensi, darmcountourdandarmsteifung,
peningkatansertabisingusus.
- Terabamassa, organomegali, perut yang
lunakatautegangharusdiperhatikandandiperiksadenganseksama.
Padapilorushipertrofiakanterabamassapadakuadrankananatasperut.
- Intususepsibiasanyaditandaidenganperut yang lunak,
masaberbentuksosispadakuadrankananatasdanadabahagian yang
kosongpadakuadrankananbawah (Dance sign)

Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium

- Darah lengkap

- Elektrolit serum pada bayi dan anak yang dicurigai mengalami dehidrasi.

- Urinalisis, kultur urin, ureum dan kreatinin untuk mendeteksi adanya infeksi atau
kelainan saluran kemih atau adanya kelainan metabolik.

- Asam amino plasma dan asam organik urin perlu diperiksa bila dicurigai adanya
penyakit metabolik yang ditandai dengan asidosis metabolik berulang yang tidak jelas
penyebabnya.

- Amonia serum perlu diperiksa pada muntah siklik untuk menyingkirkan


kemungkinan defek pada siklus urea.

- Faal hepar, amonia serum, dan kadar glukosa darah perlu diperiksa bila dicurigai ke
arah penyakit hati.

- Amilase serum biasanya akan meningkat pada pasien pankreatitis akut. Kadar lipase
serum lebih bermanfaat karena kadarnya tetap meninggi selama beberapa hari setelah
serangan akut.
- Feses lengkap, darah samar dan parasit pada pasien yang dicurigai gastroenteritis
atau infeksi parasit.

b. Ultrasonografi

Dilakukan pada pasien dengan kecurigaan stenosis pilorik, akan tetapi dua pertiga
bayi akan memiliki hasil yang negatif sehingga menbutuhkan pemeriksaan barium meal.

c. Foto polos abdomen

Posisi supine dan left lateral decubitusdigunakan untuk mendeteksi malformasi


anatomik kongenital atau adanya obstruksi.
Gambaran air-fluid levels menandakan adanya obstruksi tetapi tanda ini tidakspesifik
karena dapat ditemukan pada gastroenteritis
Gambaran udara bebas pada rongga abdomen, biasanya di bawah diafragma
menandakan adanya perforasi.

d. Barium meal

Tindakan ini menggunakan kontras yang nonionik, iso-osmolar, serta larut air.
Dilakukan bila curiga adanya kelainan anatomis dan atau keadaan yang menyebabkan
obstruksi pada pengeluaran gaster.

e. Barium enema

Untuk mendeteksi obstrusi usus bagian bawah dan bisa sebagai terapi pada
intususepsi.

II. 6 Diagnosis Banding

Tabel 1. Diagnosis Banding muntah pada bayi.


Tabel 2 Diagnosis Banding muntah pada anak dan Remaja.

II. 7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan awal pada pasien dengan keluhan muntah adalah mengkoreksi


keadaan hipovolemi dan gangguan elektrolit. Pada penyakit gastroenteritis akut dengan
muntah, obat rehidrasi oral biasanya sudah cukup untuk mengatasi dehidrasi.

Pada muntah bilier atau suspek obstuksi intestinal penatalaksanaan awalnya adalah
dengan tidak memberikan makanan secara peroral serta memasangnasogastic tube yang
dihubungkan denganintermittent suction. Pada keadaan ini memerlukan konsultasi dengan
bagian bedah untuk penatalaksanaan lebih lanjut.

Pengobatan muntah ditujukan pada penyebab spesifik muntah yang dapat


diidentifikasi. Penggunaan antiemetik pada bayi dan anak tanpa mengetahui penyebab yang
jelas tidak dianjurkan. Bahkan kontraindikasi pada bayi dan anak dengan gastroenteritis
sekunder atau kelainan anatomis saluran gastrointestinal yang merupakan kasus bedah
misalnya,hiperthrophic pyoric stenosis (HPS), apendisitis, batu ginjal, obstruksi usus, dan
peningkatan tekanan intrakranial. Hanya pada keadaan tertentu antiemetik dapat digunakan
dan mungkin efektif, misalnya pada mabuk perjalanan (motion sickness), mual dan muntah
pasca operasi, kemoterapi kanker, muntah siklik, gastroparesis, dan gangguan motilitas
saluran gastrointestinal.

Terapi farmakologis muntah pada bayi dan anak adalah sebagai berikut
a. Antagonis dopamin

Tidak diperlukan pada muntah akut disebabkan infeksi gastrointestinal karena


biasanya merupakan self limited. Obat-obatan antiemetik biasanya diperlukan pada
muntah pasca operasi, mabuk perjalanan, muntah yang disebabkan oleh obat-obatan
sitotoksik, dan penyakit refluks gastroesofageal. Contohnya Metoklopramid dengan
dosis pada bayi 0.1 mg/kgBB/kali PO3-4 kali per hari. Pasca operasi 0.25 mg/kgBB
per dosis IV 3-4 kali/hari bila perlu. Dosis maksimal pada bayi 0.75 mg/kgBB/hari.
Akan tetapi obat ini sekarang sudah jarang digunakan karena mempunyai efek
ekstrapiramidal seperti reaksi distonia dan diskinetik serta krisis okulonergik.

Domperidon adalah obat pilihan yang banyak digunakan sekarang ini


karenadapat dikatakan lebih aman. Domperidon merupakan derivate benzimidazolin
yang secara invitro merupakan antagonis dopamine. Domperidon mencegah refluks
esophagus berdasarkan efek peningkatan tonus sfingter esophagus bagian bawah.

b. Antagonisme terhadap histamine (AH1)

Diphenhydramine dan Dimenhydrinate (Dramamine) termasuk dalam


golongan etanolamin. Golongan etanolamin memiliki efek antiemetik paling kuat
diantara antihistamin (AH1) lainnya. Kedua obat ini bermanfaat untuk mengatasi
mabuk perjalanan (motion sickness) atau kelainan vestibuler. Dosisnya oral: 1-
1,5mg/kgBB/hari dibagi dalam 4-6 dosis.IV/IM: 5 mg/kgBB/haridibagi dalam 4
dosis.

c. Prokloperazin dan Klorpromerazin

Merupakan derivate fenotiazin. Dapat mengurangi atau mencegah muntah


yang disebabkan oleh rangsangan pada CTZ. Mempunyai efek kombinasi
antikolinergik dan antihistamin untuk mengatasi muntah akibat obat-obatan, radiasi
dan gastroenteritis. Hanya boleh digunakan untuk anak diatas 2 tahun dengan dosis
0.40.6 mg/kgBB/hari tiap dibagi dalam 3-4 dosis.

d. Antikolinergik

Skopolamine dapat juga memberikan perbaikan pada muntah karena faktor


vestibular atau stimulus oleh mediator proemetik. Dosis yang digunakan adalah 0,6
mikrogram/kgBB/ hari dibagi dalam 4 dosis dengan dosis maksimal 0,3mg per dosis.
e. 5-HT3 antagonis serotonin

Yang sering digunakan adalah Ondanasetron. Mekanisme kerjanya diduga


dilangsungkan dengan mengantagonisasi reseptor 5-HT yang terdapat pada CTZ di
area postrema otak dan mungkin juga pada aferen vagal saluran cerna. Ondansentron
tidak efektif untuk pengobatan motion sickness. Dosis mengatasi muntah akibat
kemoterapi 418 tahun: 0.15 mg/kgBB IV 30 menit senelum kemoterapi diberikan,
diulang 4 dan 8 jam setelah dosis pertama diberikan kemudiansetiap 8jam untuk 1-2
hari berikutnya. Dosis pascaoperasi: 212 yr <40>40 kg: 4 mg IV; >12 yr: dosis
dewasa8 mg PO/kali.

II. 8 Komplikasi

a. Komplikasi metabolik :

Dehidrasi, alkalosis metabolik,gangguan elektrolit dan asam basa, deplesi


kalium, natrium. Dehidrasi terjadi sebagai akibat dari hilangnya cairan lewat muntah
atau masukan yang kurang oleh karena selalu muntah. Alkalosis sebagai akibat dari
hilangnya asam lambung, hal ini diperberat oleh masuknya ion hidrogen ke dalam sel
karena defisiensi kalium dan berkurangnya natrium ekstraseluler. Kalium dapat hilang
bersama bahan muntahan dan keluar lewat ginjal bersama-sama bikarbonat.
Natriumdapat hilang lewat muntah dan urine. Padakeadaan alkalosis yang berat, pH
urine dapat 7 atau 8, kadar natrium dan kalium urine tinggi walaupun terjadi deplesi
Natrium dan Kalium

b. Gagal Tumbuh Kembang

Muntah berulang dan cukup hebat menyebabkan gangguan gizi karena intake
menjadi sangat berkurang dan bila hal ini terjadi cukup lama, maka akan terjadi
kegagalan tumbuh kembang.

c. Aspirasi Isi Lambung

Aspirasi bahan muntahan dapat menyebabkan asfiksia. Episode aspirasi ringan


berulang menyebabkan timbulnya infeksi saluran nafas berulang. Hal ini terjadi
sebagai konsekuensi GERD.
d. Mallory Weiss syndrome

Merupakan laserasi linier pada mukosa perbatasan esofagus dan


lambung.Biasanya terjadi pada muntah hebat berlangsung lama. Pada pemeriksaan
endoskopi ditemukan kemerahan padamukosa esofagus bagian bawah daerah LES.
Dalam waktu singkat akan sembuh. Bila anemia terjadi karena perdarahan hebat perlu
dilakukan transfusi darah

e. Peptik esofagitis

Akibat refluks berkepanjangan pada muntah kronik menyebabkan


iritasimukosa esophagus oleh asam lambung.

II. 9 Prognosis

Prognosis pasien dengan gejala muntah tergantung pada derajat dehidrasi dan
penatalaksanaan dehidrasi, etiologi penyakit yang menyebabkan muntah, serta komplikasi
yang terjadi dari muntah itu sendiri.
BAB III
ANALISIS KASUS

Pasien di diagnosis vomitus dehidrasi ringan sedang. Diagnosis tersebut ditegakkan


berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisis. Dari anamnesis didapatkan keluhan mual
muntah dirasakan terus menerus sepanjang hari sejak 1 hari SMRS.Pasien muntah berisi
cairan bewarna kecoklatan. Pasien mengeluhkan nyeri perut. Pasien tampak lemas. Pasien
tidak nafsu makan dan hanya ingin minum.

Dari pemeriksaan fisis didapatkan adanya manifestasi klinis dari dehidrasi ringan
sedang, yaitu keadaan umum pasien gelisah, kesadaran compos mentis, tanda tanda vital :
nadi 144x/menit, laju napas 24x/menit, suhu 36,7oC, mukosa bibir kering, turgor kulit baik
dan CRT < 2 detik.

Menurut saya diagnosis vomitus dehidrasi ringan sedang pada pasien ini sudah
sesuai, secara klinis menunjukan gejala vomitus yaitu muntah isi cairan lambung, dengan
konsistensi cair, warna kecoklatan, keadaan umum gelisah dan lemas, mukosa bibir kering,
dan CRT < 2 detik.

Menurut kepustakaan, Muntah adalah pengeluaran isi lambung secara paksa melalui
mulut disertai kontraksi lambung dan abdomen. Pada anak biasanya sulit untuk
mendiskripsikan mual, mereka lebih sering mengeluhkan sakit perut atau keluhan umum
lainnya. Muntah merupakan suatu cara di mana traktus gastrointestinal membersihkan dirinya
sendiri dari isinya ketika hampir semua bagian atas traktus gastrointestinal teriritasi secara
luas, sangat mengembang atau bahkan sangat terangsang. Kejadian ini biasanya disertai
dengan menurunnya tonus otot lambung, kontraksi, sekresi, meningkatnya aliran darah ke
mukosa intestinal, hipersalivasi, keringat dingin, detak jantung meningkat dan perubahan
irama pernafasan. Refluks duodenogastrik dapat terjadi selama periode nausea yang disertai
peristaltik retrograde dari duodenum ke arah antrum lambung atau secara bersamaan terjadi
kontraksi antrum dan duodenum. Muntah timbul bila persarafan atau otak menerima satu atau
lebih pencetus seperti keracunan makanan, infeksi pada gastrointestinal, efek samping obat,
atau perjalanan. Mual biasanya dapat timbul sebelum muntah.

Pada pasien ini penulis mengambil diagnosis banding GERD.


Dari diagnosis vomitus dehidrasi ringan sedang pasien diberi tata laksana sebagai
berikut:

1. IVFD KAEN 1B1200 cc/24 jam


Pada pasien ini, rehidrasi diberikan secara intravena dengan infus KAEN 1B 1200
cc/24 jam. Pemasangan NGT untuk memasukkan makanan. Kebutuhan cairan rumatan
dihitung berdasarkan cara Holiday dan Segarr, dimana:

10 kg I : 100 cc/kgBB/hari

10 kg II : 50cc/kgBB/hari

10 kg III : 20 cc/kgBB/hari

Berat badan pasien 13 kg 13 x 100 cc/kgBB/hari = 1300 cc/hari. Menurut


perhitungan pemberian cairan rumatan, cairan yang dibutuhkan adalah 1300 cc/hari,
pada pasien diberikan 1200 cc/hari karena pasien mau minum, sehingga kebutuhan
cairan rumatan pasien dapat tercapai dengan minum per oral dan parenteral.

2. Paracetamolsirup 3x5ml (Pengobatansimtomatik, Antipiretik)


Padapasieninidiberikanparacetamolsirup 3x5
mlsebagaipengobatansimtomatikantipiretik.
Sediaan paracetamol sirup yaitu 120mg/5ml, tiap 5 ml mengandung 120 mg
paracetamol. Paracetamol ini diberikan jika anak mengalami demam, dengan dosis 10-
15 mg/kgBB. Rentang dosis untuk pasien dengan berat badan 13 kg yaitu 130 mg 195
mg, pasien ini diberi dosis 5 ml sehingga dosis yang diberikan sudah sesuai dengan
kepustakaan.

PCT dapat mengganggu sintesis prostaglandin di dalam susunan saraf. Bekerja di


hipotalamus untuk menimbulkan antipiretik dan di SSP untuk menimbulkan analgesia.
PCT juga memiliki efek antiinflamasi yang ringan. PCT digunakan untuk mengobati
demam dan nyeri ringan hingga sedang.

Prognosis quo ad vitam bonam karena penyakit pada pasien saat ini tidak mengancam nyawa
jika ditangani dengan cepat dan tepat. Prognosis quo ad fungtionam bonam karena organ vital
pasien masih berfungsi dengan baik dan tidak terdapat adanya dehidrasi berat. Prognosis quo
ad sanationam dubia ad malam karena tingkat kekambuhan vomitus bergantung pada
higienitas dan imunitas pasien.
BAB 4
KESIMPULAN

Muntah merupakan keluarnya isi lambung ke mulut secara paksa. Muntah bisa
disebabkan kelainan gastrointestinal atau di luar gastrointestinal. Pendekatan diagnosis di
dasarkan kepada usia, makanan yang dimakan, warna muntah dan gejalalain yang bersamaan
dan keadaan psikologis anak. Penatalaksanaan awal pada pasien dengan keluhan muntah
adalah mengkoreksi keadaan hipovolemi dan gangguan elektrolit. Pada penyakit
gastroenteritis akut dengan muntah, obat rehidrasi oral biasanya sudah cukup untuk
mengatasi dehidrasi.

Prognosis pasien dengan gejala muntah tergantung pada derajat dehidrasi dan
penatalaksanaan dehidrasi, etiologi penyakit yang menyebabkan muntah, serta komplikasi
yang terjadi dari muntah itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA

1. Putra, DeddySatriya. Muntahpadaanak. Di suntingdan di terbitkan Klinik Dr.


Rocky. BagianIlmuKesehatanAnak RSUD Arifin Achmad/ FK-UNRI. Pekanbaru.
Diaksesdari http://www.dr-rocky.com. Last update Saturday, 28 March 2009 19:14
2. Suraatmaja, Sudaryat. 2005. Muntah pada bayi dan anak dalam
kapitaselektagastroenterologianak. CV. SagungSeto. Jakarta.
3. Sudarmo, SubijantoMarto. 2009. Penatalaksanaanmuntahpadabayidananak.
DivisiGastroenterologiLaboratotriumIlmuKesehatanAnak RSUD Dr. Soetomo/FK
Unair. Diakses darihttp://www.pediatrik.com/buletin/20060220-hw0gpy-buletin.pdf
4. Guyton and Hall, 1996. Textbook of medical physiology. 9th Ed. W. B Saunders
Company. Philadelphia.
5. Charles A. Pohl, Leonard G.Gomella, series editor. Pediatrics on call. Lange medical
book/McGraw-Hill. 2006:435
6. Lindley, Keith J, Andrews, Paul L. Pathogenesis and treatment of cyclical vomiting.
Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition [serial online] 2005 September.
Philadelphia.. Available from URL : www.jpgn.org
7. Scruggs, Karen and Johnson, Michael. 2004. Persistent vomiting in pediatric
treatment guidelines. Current Clinical Strategies. USA; p : 129-133
8. Keshav, Satish. 2004. Nausea and vomiting in the gastrointestinal system at a glance.
Blackwell Science Ltd. Australia; p: 62-63
9. Behrman RE, 1998. Major symptoms and signs of digestive tract disorders in nelson
essentials of pediatrics, 3rd ed. WB Saunders. Philadelphia;
10. Schwarz, Steven M. Gastroesophagealrefluks. [serial online] 2008, January 18th.
Philadelphia. Available from URL:http://emedicine.medscape.com/article/930029-
overview