Anda di halaman 1dari 10

BAB I.

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Diskriminasi telah menjadi sumber utama ketidakadilan, karena dalam diskriminasi
kelompok-kelompok tertentu mereka terkecualian, bahkan mereka kehilangan hak-hak dasar
tertentu seperti kesehatan, jaminan sosial dan pendidikan dan lain-lain.
Perlu diketahui bahasa juga memainkan peranan penting dalam diskriminasi yaitu prasangka
negatif, nada menghina, sindir menyindir, dan kekuasaan sewenang-wenang.
Dalam bahasa diskriminatif maka digunakan istilah dengan berkonotasi rasis, classist atau
nasionalis. Kata-kata juga digunakan untuk membuat dan memelihara stereotip. Ada banyak
frase yang mengekspresikan diskriminasi namun tidak banyak yang menyadarinya. Untuk
semua ini, kita dapat mengatakan bahwa bahasa adalah bentuk diskriminasi dan membuat
sikap-sikap ini akan menembus perilaku masyarakat dalam menggunakan bahasa yang bersifat
diskriminatif.
Namun, ada upaya untuk menghentikan diskriminasi yaitu adanya jaminan
penghormatan terhadap hak-hak melalui hukum. Diskriminasi tidak boleh terjadi dalam
masyarakat, satu komunitas di mana kita harus belajar untuk memiliki koeksistensi sehat dan
damai, untuk memahami dan menerima perbedaan yang timbul dari keragaman budaya ada (
multikulturalisme). Diskriminasi, dalam bentuk apapun, tidak pernah hilang. Namun dapat
dihentikan di dalam lingkungan manusia itu sendiri dan terus membuat kesadaran bahwa
diskriminasi memberikan efek yang buruk. diskriminasi dapat dihentikan dimulai dari :
keluarga, sekolah, tempat kerja, transportasi, perdagangan, usaha , beberapa lembaga, olahraga,
dll). Dan juga memberikan kesadaran kepada orang lain akan dampak dari diskriminasi ini
dengan menekankan bahwa kita semua sama-sama manusia, tidak ada perbedaan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah kemanusiaan anti-diskriminatif menurut Soekarno?
2. Apakah definisi diskriminasi ?
3. Apakah macam-macam diskriminasi?
4. Bagaimana peran negara dalam persoalan diskriminasi?
5. Apakah upaya yang harus dilakukan untuk menghapus dikriminasi berdasarkan
pendidikan multikultural?
1.3 Tujuan dan Manfaat
1. Mengetahui kemanusiaan anti-diskriminatif menurut Soekarno
2. Mengetahui definisi diskriminasi
3. Mengetahui macam-macam diskriminasi
4. Mengetahui bagaimana peran negara dalam persoalan diskriminasi
5. Mengetahui upaya yang harus dilakukan untuk menghapus diskriminasi berdasarkan
pendidikan multikultural

1
BAB II. Isi
2.1 Kemanusiaan Anti Diskriminatif (Soekarno)
Kita (warga negara Indonesia) wajib berbangga dengan lahirnya putra sang fajar
Soekarno di bumi pertiwi. Lewat pemikiran pemikiran beliaulah NKRI berdiri kokoh
hingga hari ini. Di atas pondasi (Pancasila) beragam suku terikat, beragam warna kulit bersatu,
beragam Agama saling menghormati, beragam budaya saling menghargai dalam satu bingkai
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Soekarno juga terkenal di luar negeri dengan banyak memberikan gagasan-gagasan
di dunia internasional. Keprihatinnannya terhadap nasib bangsa asia-afrika, masih belum
merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri. dengan dasar tersebut
diselenggarakanlah konferensi asia-afrika untuk pertama kalinya di Bandung berkat jasanya
banyak negara asia-afrika yang memperoleh kemerdekaan.
2.2 Definisi Diskriminasi
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di
mana layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut.
Diskriminasi merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam masyarakat manusia, ini
disebabkan karena kecenderungan manusia untuk membeda-bedakan yang lain. Ketika
seseorang diperlakukan secara tidak adil karena karakteristik suku, antargolongan, kelamin,
ras, agama dan kepercayaan, aliran politik, kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga
merupakan dasar dari tindakan diskriminasi. (Sumber : wikipedia)
2.3 Macam-macam Diskriminasi
1. Diskriminasi Kelamin
Pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan jenis
kelamin. Biasanya ini terjadi kepada kaum perempuan yang dianggap lebih lemah
dibandingkan kaum laki-laki.

2. Diskriminasi Ras
Beranggapan bahwa segolongan ras tertentu yang paling unggul dibandingkan
dengan ras lainnya, atau lebih dikenal dengan istilah rasisme.

3. Diskriminasi Rasial
Kurang lebih sama dengan diskriminasi ras. Bedanya, diskriminasi model ini
lebih mengarah karena perbedaan warna kulit. Kasus ini sering menimpa kepada
orang-orang yang memiliki kulit gelap yang hidup di lingkungan masyarakat yang
mayoritas memiliki warna kulit lebih terang/putih.

4. Diskriminasi Umur
Individu diberi perlakuan yang tidak adil karena ia tergolong dalam
lingkungan umur tertentu

2
5. Diskriminasi Sosial
Pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan
kedudukan sosialnya. Sikap ini biasanya menimpa golongan kaum menengah ke
bawah, yang sering dijumpai di lembaga birokrasi dan lainnya.

6. Diskriminasi Kesehatan
Individu diberi perlakuan yang tidak adil karena mereka menderita penyakit
atau cacat tertentu. Contohnya seorang yang pernah menderita sakit jiwa telah di tolak
untuk mengisi jawatan tertentu, walaupun ia telah sembuh dan mempunyai keupayaan
yang di perlukan.

7. Diskriminasi Agama
Memperlakukan orang berbeda karena apa yang mereka percaya atau tidak
percaya. Seseorang dapat mengalami diskriminasi agama, karena : Mereka adalah
pengikut agama yang berbeda Mereka adalah pengikut denominasi yang berbeda
dalam agama tertentu Karena keyakinan agama mereka Karena praktek-praktek
keagamaan mereka Karena aksi-aksi yang terinspirasi dari ajaran agama.
2.4 Peran Negara dalam Persoalan Diskriminasi
Tidak ada yang menyangkal bahwa perilaku diskriminasi akan sangat bertentangan
dengan dengan nilai-nilai hak asasi manusia, oleh karena itu harus segera dihapuskan dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu bentuk diskriminasi adalah
didasarkan pada jenis kelamin. Sebagai salah satu upaya untuk meminimalisasi terjadinya
diskriminasi, Indonesia telah meratifikasi Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk
Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984
dan Konvensi tentang Hak-Hak Anak (CRC) melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun
1990. Di samping itu Indonesia juga telah menetapkan strategi pengarusutamaan gender yang
dikukuhkan dalam bentuk Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan
Gender Dalam Pembangunan.
Sebagai tindak lanjut berbagai upaya untuk menyempurnakan/merevisi peraturan
perundang-undangan dan kebijakan yang bias gender, diskriminatif terhadap perempuan dan
belum peduli anak telah dilakukan. Langkah-langkah atau upaya-upaya yang telah dilakukan
tersebut antara lain dengan memperbarui peraturan perundang-undangan serta menyesuaikan
dengan ratifikasi Konvensi/Kovenan yang telah dilakukan sebelumnya, disamping itu juga
memperbaiki tingkat pelayanan publik yang tidak mengandung diskriminasi terhadap berbagai
lapisan masyarakat.
Disahkannya RUU Kewarganegaraan Republik Indonesia oleh DPR tanggal 11 Juli
2006 yang menggantikan Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan
Republik Indonesia menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006, telah memberikan
kontribusi dalam upaya menghapuskan tindakan diskriminatif terhadap perempuan dan anak
dan kaum etnis serta telah mengakomodasikan berbagai kepentingan yang mendukung
penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk. Undang-undang tersebut antara lain berisi
ketentuan untuk melindungi perempuan yang menikah dengan pria berkebangsaan asing, tidak

3
secara otomatis status kewarganegaraan perempuan serta anak yang dilahirkan menjadi warga
negara asing.
Upaya memberikan perlindungan terhadap anak telah dilakukan dengan di
undangkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang antara
lain mengatur tentang pengurusan akte kelahiran anak yang bebas biaya. Namun pada
pelaksanaannya ketentuan ini belum sepenuhnya dapat dijalankan di beberapa daerah. Hal ini
antara lain disebabkan belum adanya komitmen yang maksimal dari aparat penyelenggara
negara dalam menjalankan ketentuan undang-undang secara konsisten dalam rangka
mengakomodasi kepentingan dan hak anak.
Untuk mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang
Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri dan dalam rangka
perlindungan terhadap ketenagakerjaan terutama terhadap tenaga kerja perempuan yang
bekerja di luar negeri yang rawan terhadap praktek diskriminasi, saat ini sedang dilakukan peta
permasalahan TKI perempuan dikaitkan dengan kebijakan ketenagakerjaan berupa Equal
Employment Opportunity (EEO).
Dalam rangka penghapusan kekerasan dalam rumah tangga, telah disahkan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Sebagai tindak lanjut dari undang-undang tersebut telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan
dalam Rumah Tangga yang telah ditetapkan pada tanggal 13 Februari 2006. Selain itu saat ini
tengah dibahas perubahan RUU KUHAP yang mengupayakan untuk mengintegrasikan konsep
sistem peradilan pidana terpadu antara aparat penegak hukum khususnya bagi penanganan
kasus kekerasan terhadap perempuan.
Di bidang pelayanan publik, pembahasan RUU tentang Pelayanan Publik masih terus
dilakukan di DPR. Diharapkan RUU ini dapat segera diselesaikan pada tahun 2007 sehingga
akan memberikan kepastian bagi seluruh aparatur pemerintah dalam melaksanakan pelayanan
publik sesuai dengan tugas dan wewenang masing-masing. Pelayanan aparatur pemerintah dari
segala lini dan segala segi menjadi lebih baik dan mempunyai dampak akan terpenuhinya hak-
hak dasar publik yang wajib dipenuhi pemerintah. Pelayanan prima merupakan keinginan
masyarakat termasuk pelaku usaha yang artinya pelayanan publik yang diberikan aparat
pelayanan publik tidak diskriminatif dan sesuai dengan prinsip keadilan. (Sumber :
http://gender-indonesia.blogspot.co.id)
2.5 Perlunya Pendidikan Multikultural
Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam masyarakat yang berbeda seperti
agama, suku, ras, kebudayaan, adat istiadat, bahasa, dan lain sebagainya menjadikan
masyarakat Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk. Dalam kehidupan yang beragam
seperti ini menjadi tantangan untuk mempersatukan bangsa Indonesia menjadi satu kekuatan
yang dapat menjunjung tinggi perbedaan dan keragaman masyarakatnya.

Hal ini dapat dilakukan dengan pendidikan multikultural yang ditanamkan kepada
anak-anak lewat pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Seorang guru bertanggung jawab
dalam memberikan pendidikan terhadap anak didiknya dan dibantu oleh orang tua dalam

4
melihat perbedaan yang terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun pendidkan
multikultural bukan hanya sebatas kepada anak-anak usia sekolah tetapi juga kepada
masyarakat Indonesia pada umumnya lewat acara atau seminar yang menggalakkan pentingnya
toleransi dalam keberagaman menjadikan masyarakat Indonesia dapat menerima bahwa
mereka hidup dalam perbedaan dan keragaman.
Ada tiga tantangan besar dalam melaksanakan pendidikan multikultural di Indonesia, yaitu:
1. Agama, suku bangsa dan tradisi
Agama secara aktual merupakan ikatan yang terpenting dalam kehidupan
orang Indonesia sebagai suatu bangsa. Bagaimanapun juga hal itu akan menjadi
perusak kekuatan masyarakat yang harmonis ketika hal itu digunakan sebagai senjata
politik atau fasilitas individu-individu atau kelompok ekonomi Masing-masing
individu telah menggunakan prinsip agama untuk menuntun dirinya dalam kehidupan
di masyarakat, tetapi tidak berbagi pengertian dari keyakinan agamanya pada pihak
lain. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui pendidikan multikultural untuk mencapai
tujuan dan prinsip seseorang dalam menghargai agama.

2. Kepercayaan
Unsur yang penting dalam kehidupan bersama adalah kepercayaan. Dalam
masyarakat yang plural selalu memikirkan resiko terhadap berbagai perbedaan.
Munculnya resiko dari kecurigaan/ketakutan atau ketidakpercayaan terhadap yang lain
dapat juga timbul ketika tidak ada komunikasi di dalam masyarakat/plural.

3. Toleransi
Toleransi merupakan bentuk tertinggi, bahwa kita dapat mencapai keyakinan.
Toleransi dapat menjadi kenyataan ketika kita mengasumsikan adanya perbedaan.
Keyakinan adalah sesuatu yang dapat diubah. Sehingga dalam toleransi, tidak harus
selalu mempertahankan keyakinannya.Untuk mencapai tujuan sebagai manusia
Indonesia yang demokratis dan dapat hidup di Indonesia diperlukan pendidikan
multikultural.

Adapun pentingnya pendidikan multikultural di Indonesia yaitu sebagai sarana


alternatif pemecahan konflik, peserta didik diharapkan tidak meninggalkan akar budayanya,
dan pendidikan multikultural sangat relevan digunakan untuk demokrasi yang ada seperti
sekarang.
1. Sarana alternatif pemecahan konflik
Penyelenggaraan pendidikan multikultural di dunia pendidikan diakui dapat
menjadi solusi nyata bagi konflik dan disharmonisasi yang terjadi di masyarakat.
Dengan kata lain, pendidikan multikultural dapat menjadi sarana alternatif pemecahan
konflik sosial-budaya. Saat ini pendidikan multikultural mempunyai dua tanggung
jawab besar, yaitu menyiapkan bangsa Indonesia untuk mengahadapi arus budaya luar
di era globalisasi dan menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam
budaya. Pada kenyataannya pendidikan multikultural belum digunakan dalam proporsi
yang benar. Maka, sekolah dan perguruan tinggi sebagai instirusi pendidikan dapat
mengembangkan kurikulum pendidikan multikultural dengan model masing-masing
sesuai dengan otonomi pendidikan atau sekolahnya sendiri.

5
2. Agar peserta didik tidak meinggalkan akar budaya
Selain sebagai sarana alternatif pemecahan konflik, pendidikan multikultural
juga signifikan dalam upaya membina peserta didik agar tidak meninggalkan akar
budaya yang ia miliki sebelumnya, saat ia berhubungan dengan realitas sosial-budaya
di era globalisasi. Pertemuan antar budaya di era globalisasi ini bisa menjadi ancaman
serius bagi peserta didik. Untuk menyikapi realitas tersebut, peserta didik tersebut
hendaknya diberikan pengetahuan yang beragam. Sehingga peserta didik tersebut
memiliki kemampuan global, termasuk kebudayaan. Dengan beragamnya kebudayaan
baik di dalam maupun di luar negeri, peserta didik perlu diberi pemahaman yang luas
tentang banyak budaya, agar siswa tidak melupakan asal budayanya.

Tantangan dalam dunia pendidikan kita, saat ini sangat berat dan kompleks.
Maka, upaya untuk mengantisipasinya harus dengan serius dan disertai solusi konkret.
Jika tidak ditanggapi dengan serius terutama dalam bidang pendidikan yang
bertanggung jawab atas kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) maka, peserta didik
tersebut akan kehilangan arah dan melupakan asal budayanya sendiri. Sehingga
dengan pendidikan multikultural itulah, diharapkan mampu membangun Indonesia
yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Karena keanekaragaman
budaya dan ras yang ada di Indonesia itu merupakan sebuah kekayaan yang harus kita
jaga dan lestarikan.

3. Sebagai landasan pengembangan kurikulum nasional


Pendidikan multikultural sebagai landasan pengembangan kurikulum menjadi
sangat penting apabila dalam memberikan sejumlah materi dan isi pelajaran yang harus
dikuasai oleh peserta didik dengan ukuran dan tingkatan tertentu. Pengembangan
kurikulum yang berdasarkan pendidikan multikultural dapat dilakukan berdasarkan
langkah-langkah sebagai berikut.
a. Mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku secara serentak seperti
sekarang menjadi filosofi pendidikan yang sesuai dengan tujuan, misi, dan
fungsi setiap jenjang pendidikan dan unit pendidikan.
b. Harus merubah teori tentang konten (curriculum content) yang mengartikannya
sebagai aspek substantif yang berisi fakta, teori, generalisasi, menuju
pengertian yang mencakup nilai moral, prosedur, proses, dan keterampilan
(skills) yang harus dimiliki generasi muda.
c. Teori belajar yang digunakan harus memperhatikan unsur keragaman sosial,
budaya, ekonomi, dan politik.
d. Proses belajar yang dikembangkan harus berdasarkan cara belajar berkelompok
dan bersaing secara kelompok dalam situasi yang positif. Dengan cara tersebut,
perbedaan antarindividu dapat dikembangkan sebagai suatu kekuatan
kelompok dan siswa terbiasa untuk hidup dengan keberanekaragaman budaya.
e. Evaluasi yang digunakan harus meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan
kepribadian peserta didik sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan.

6
4. Menuju masyarakat Indonesia yang Multikultural
Inti dari cita-cita reformasi Indonesia adalah mewujudkan masyarakat sipil
yang demokratis, dan ditegakkan hukum untuk supremasi keadilan, pemerintah yang
bersih dari KKN, terwujudnya keteraturan sosial serta rasa aman dalam masyarakat
yang menjamin kelancaran produktivitas warga masyarakat, dan kehidupan ekonomi
yang mensejahterakan rakyat Indonesia. Corak masyarakat Indonesia yang Bhineka
Tunggal Ika bukan hanya merupakan keanekaragaman suku bangsa saja melainkan
juga menyangkut tentang keanekaragaman budaya yang ada dalam masyarakat
Indonesia secara menyeluruh. Eksistensi keberanekaragaman tersebut dapat terlihat
dari terwujudnya sikap saling menghargai, menghormati, dan toleransi antar
kebudayaan satu sama lain. (Sumber : emarahmawati.blogspot.co.id)
2.6 Studi Kasus
Cerita Buruh Perempuan yang Alami Diskriminasi Gender di Lingkungan Kerja

Buruh perempuan masih menghadapi berbagai masalah kekerasan berbasis gender di


lingkungan kerja. Bentuk kekerasan ini muncul dalam berbagai wujud.

Ketua Umum Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) Jumisih mengatakan, pelecehan seksual
termasuk dalam kategori kekerasan berbasis gender. Pelecehan ini menjadi momok bagi setiap
buruh perempuan yang bekerja di pabrik.

Ia mengatakan, FLBP telah melakukan sebuah penelitian yang didasarkan pada wawancara
langsung kepada korban. Setidaknya sudah ada 25 kasus pelecehan seksual yang terjadi sejak
tahun 2012.

"Beberapa waktu lalu kita lakukan penelitian dengan pendeketan persuasif. Sebenarnya ada
enggak sih korban pelecehan di tempat kerja? Lalu diperoleh informasi ada 25 kasus di 25
perusahaan di zona industri. Ini hal yang mengejutkan. Satu saja kasus harus kita hadapi dan
menjadi tanggung jawab bersama," kata Jumisih.

Pernyataan ini disampaikannya saat acara peluncuran Sekolah Buruh Perempuan di Aula
Balai Dinas Ketenagakerjaan Jakarta Utara, Jalan Plumpang Semper, Koja, Jakarta Utara,
Sabtu (17/12/2016). Terhadap temuan itu, Jumisih kemudian menyampaikan kepada pihak
Kawasan Berikat Nusantara di Kawasan Cakung, Jakarta Utara.

Hasilnya muncul kesepakatan untuk membuat sebuah kawasan bebas pelecehan seksual.
Menurutnya ini adalah sebuah langkah preventif agar pelecehan kasus seksual tidak terulang.

"Kami di FDLP mendekati dan menyampaikan hasil itu di Kawasan Berikat Nusantara. Dari
situ kami buat kesepakatan tertulis, pihak kawasan akan mendukung penghapusan pelecehan
di tempat kerja. Kami bersama pihak kawasan launching plang yang bertuliskan 'kawasan
bebas dari pelecehan seksual'. Ini tindakan preventif kita agar tidak ada korban kelanjutan,"
ujar Jumisih.

7
Langkah selanjutnya yang dilakukan adalah pemulihan mental terhadap korban. Jumisih
mengatakan banyak buruh perempuan yang tidak menyadari hal itu dikarenakan tidak tahu
dan atas dasar ketakutan.

"Karena di kalangan buruh tidak mengerti itu adalah pelecehan, kadang juga karena ketakutan.
Seperti contohnya tidak dapat menolak ajakan kencan dari atasan. Karena hal itu dilakukan
oleh atasan mereka. Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia sudah beri dukunganya. Agar
upaya isu perempuan ini sama pentingnya ketika kita perjuangkan upah buruh, union busting
dan lainnya," ucapnya.

Luviana seorang mantan reporter dari stasiun televisi swasta juga mengatakan kekerasan
berbasis gender juga terjadi di industri media. Ia mengatakan ada diskriminasi dalam
perlakuan terhadap sesama jurnalis wanita.

"Saya ceritakan kalau dalam hal jurnalis. Ada juga perbedaan perlakuan di antara buruh
perempuan. Bagaimana perlakuan reporter di lapangan dengan presenter di studio itu berbeda.
Presenter di studio mendapatkan fasilitas yang baik seperti spa dan salon. Sementara reporter
di lapangan mengurus diri mereka sendiri," kata Luviana yang tergabung dalam Aliansi
Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.

Meski begitu, presenter di studio juga mengalami wujud kekerasan lainnya. Luviana
mengatakan, presenter wanita akan sangat dibatasi dalam makan. Bahkan ada seorang
presenter yang sehari hanya dibolehkan makan selembar roti tawar agar tidak mengalami
masalah berat badan.

Hal lain diceritakan oleh seorang guru, Retno Listyarty yang juga menjabat sebagai Sekretaris
Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia. Retno mengatakan, sangat sulit bagi seorang guru
perempuan untuk menjadi pemimpin di sekolah.

"Di sekolah tempat saya mengajar, mayoritas guru adalah perempuan. Cuma ada 7 orang guru
pria. Tapi tetap saja kepala sekolahnya dari kaum pria," kata Retno.

Retno mengatakan, secara umum tidak ada perbedaan yang menjadi tantangan bagi guru dan
buruh perempuan. Hal ini termasuk dalam kesulitan berorganisasi.

Menurutnya, sebagai seorang perempuan berorganisasi mempunyai kerumitan tersendiri.


Karena selain harus aktif dalam organisasi, seorang perempuan juga harus mengurus masalah
rumah tangga.

"Banyak juga di sekolah yang saat ini kesulitan untuk berorganisasi. Karena mereka harus
urus suami dan anak juga. Sehingga gaji yang sudah cukup, membuat mereka enggan untuk
menambah beban baru," tutur Retno yang pernah bersinggungan dengan Gubernur DKI
Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ini.

8
Meski demikian, Retno beranggapan bahwa berorganisasi adalah kunci untuk dapat
memperjuangkan hak-hak buruh perempuan. Dalam acara peluncuran SBP ini, mereka
berharap para buruh perempuan bisa mendapatkan penyadaran soal hak-hak. Sekaligus juga
dapat saling memberi dukungan dan advokasi. (Sumber : https://news.detik.com/berita/)

9
BAB III. Penutup
3.1 Kesimpulan
Nilai kemanusiaan adalah nilai mengenai harkat dan martabat manusia. Manusia
merupakan makhluk yang tertinggi di antara makhluk ciptaan Tuhan sehingga nilai-nilai
kemanusiaan tersebut mencerminkan kedudukan manusia sebagai makhluk tertinggi di antara
makluk-makhluk lainnya.
Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak seimbang terhadap perorangan, atau
kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorikal, atau atribut-atribut khas, seperti
berdasarkan ras, kesukubangsaan, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial.
Dari pengertian kemanusiaan dan diskriminasi diatas dapat disimpulkan bahwa
kemanusiaan anti diskriminasi adalah makhluk tertinggi dari ciptaan tuhan (manusia) yang
memiliki nilai-nilai kemanusiaan seperti sikap, sifat dan perilaku layaknya manusia, yang
setiap perilaku, sifat, ucapan, dan perbuatannya mencerminkan rasa tenggang rasa, menghargai
perbedaan, mengakui hak-hak orang lain, dan juga tidak semena-mena dalam menetapkan
keputusan atau peraturan.
Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup
bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap
orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri.
3.2 Saran & Kritik

Kita sebagai mahasiswa jangan sampai mempunyai sikap diskriminasi yang suka
membeda-bedakan antara teman yang satu dengan yang lain, ras, agama, orang kaya dan orang
miskin. Karena kita sebagai manusia juga membutuhkan orang lain, jika kita memiliki sifat
seperti itu maka secara tidak langsung kita pasti akan dijauhi orang lain.

10