Anda di halaman 1dari 19

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan umum Culex sp.

Di Indonesia telah diketahui lebih dari 23 macam species nyamuk salah

satunya dari genus culex yang dapat berperan sebagai vektor penular penyakit

filariasis. Nyamuk culex sp tersebar luas di seluruh tanah air sesuai dengan

keadaan lingkungan fisik dan biologik sebagai habitatnya (Agusri, 2008).

2.1.1 Taksonomi

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Order : Diptera

Family : Culicidae

Genus : Culex (Linnaeus, 1758).

2.1.2 Morfologi

Nyamuk berjalan melalui empat tahap yang terpisah dan berbeda dari siklus

hidup dan mereka adalah sebagai berikut: telur, larva, pupa, dan dewasa.

Masing-masing tahap dapat dengan mudah dikenali oleh penampilan khusus

mereka (Patrick, 1983).


5

2.1.2.1 Telur

Telur Culex sp. diletakkan di rakit oval longgar disemen bersama-sama dengan

100 atau lebih telur dalam sebuah rakit yang biasanya akan menetas 24-30 jam

setelah proses peletaka telur (Bates, 2002).

Gambar 2.1 Telur Culex sp. (Earts, 2005)

2.1.2.2 Larva

Kepala larva pendek dan gemuk menjadi lebih gelap menuju dasar. Kuas mulut

memiliki filamen kuning panjang yang digunakan untuk menyaring bahan organik.

perut ini terdiri dari delapan segmen, sifon, dan pelana. Setiap segmen memiliki

pola setae unik (Sirivanakarn dkk, 1978).

Sifon ada di sisi dorsal dari abdomen. Sifon Culex sp empat kali lebih panjang

daripada lebar dengan jumbai beberapa seta (Darsie dkk, 2000). Sadel

berbentuk barel dan berada di sisi ventral perut dengan empat papilla dubur

panjang menonjol dari bagian belakang (Sirivanakarn dkk, 1978).


6

Gambar 2.2 Larva Culex sp. (Frank, 2002)

2.1.2.2 Pupa

Serupa dengan spesies nyamuk lain, Kepompong Culex sp berbentuk koma dan

terdiri dari perpaduan kepala dan dada (cephalothorax dan perut). Warna

cephalothorax bervariasi dengan habitat dan lebih gelap di sisi posterior.

Breathing tube berbentuk seperti terompet digunakan untuk bernafas, adalah

sebuah tabung yang melebar dan menjadi lebih terang dalam warna seperti

meluas dari badan. perut ini memiliki delapan segmen, empat segmen pertama

yang paling gelap, dan warna lebih cerah ke arah posterior. Paddlenya, pada

puncak perut, adalah transparan dan kuat dengan dua setae kecil di bagian

belakang (Sirivanakarn dkk, 1978).

Gambar 2.3 Pupa Culex sp. (Cane, 2006)

2.1.2.4 Nyamuk Dewasa


7

Culex sp dewasa bervariasi 3,96-4,25 mm (Lima et al, 2003.). Nyamuk berwarna

coklat dengan mulut, dada, sayap, dan Tarsi lebih gelap daripada bagian tubuh.

Kepala berwarna coklat terang dengan bagian paling ringan di tengah. Antena

dan mulut panjangnya sama, tetapi dalam beberapa kasus antena yang sedikit

lebih pendek dari mulut. flagellum memunyai tigabelas segmen yang memiliki

sedikit atau tidak ada sisik (Sirivanakarn et al, 1987.). Timbangan dari dada

adalah sempit dan melengkung. perut telah pucat, sempit, band bulat di sisi

basal tergite masing-masing. Band hampir menyentuh tempat basolateral

mengambil bentuk half-moon (Darsie dkk, 2005).

Gambar 2.4 Culex sp. Dewasa (Cane, 2006)

Nyamuk Culex sp mempunyai kepala yang kecil dan berbentuk hampir bulat

menyerupai bola, terdapat mata besar yang sangat mencolok serta antena yang

panjang. Kepala dan dada dipisahkan oleh lapisan membran yang tipis. Mata

berukuran sangat besar yang sangat mencolok serta mempunyai mata yang

berdekatan pada jantan dan yang terpisah pada betina. Nyamuk ini memiliki

sepasang antena filament panjang yang tersegmentasi. Plumose mencolok pada

jantan dan pilose pada betina.Satu pasang antena yang panjang terdiri dari 14-

15 ruas, setiap ruas ditumbuhi bulu bulu. Mulut dari Culex terdiri dari labium

disertai enam kelompok stylets dan disesuaikan untuk menusuk dan mengisap.
8

mulut berbentuk panjang dan ramping, dan mengarah ke bawah dan ke depan

dari batas depan bagian bawah kepala culex(Harlow, 1987).

Stadium dewasa nyamuk Culex sp betina mempunyai palpus yang lebar dan

pendek dari probosisnya dan nyamuk Culex sp jantan mempunyai palpus yang

melebihi probosisnya. Sayap terbapat bercak hitam putih dan tubuh tanpa bintik

(Gandahusada, 1998).

Thorax terdiri dari 3 segmen yaitu prothorax, mesothorax, metathorax. Culex sp

betina biasanya memiliki perut berwarna pudar. (bagian belakang bagian

belakang dada serangga) scutellum secara merata melengkung. Spesies Culex

tidak memiliki spiracular bulu atau bulu pasca-spiracular (Tyndall, 2002).

Abdomen memiliki bentuk ujung tumpul, warna cokelat muda Culex sp memiliki

perut ditutupi dengan sisik yang membentuk tanda-tanda khas. Culex sp betina

biasanya memiliki ujung yang tumpul pada perut dengan sepasang cerci.

(Tyndall, 2002).

2.1.3 Tempat Perkembangbiakan

Dalam perkembangbiakan nyamuk selalu memerlukan tiga macam tempat yaitu

tempat berkembang biak (breeding places), tempat untuk mendapatkan darah

(feeding places) dan tempat untuk beristirahat (reesting palces) (Nurmaini, 2003).

Culex sp aktif pada malam hari, nyamuk ini pada air yang mengandung bahan

organik, seperti saluran pembuangan air dan got. Siklus hidup nyamuk adalah 10

14 hari, usia betina 20 40 hari dan jantan 7 10 hari. Menyukai suhu tubuh

dan gas CO2 yang dikeluarkan oleh pernafasan manusia (Nurmaini, 2003).
9

2.1.4 Siklus Hidup

Culex sp betina terbang pada malam hari untuk mencari air kaya nutrisi di mana

mereka akan bertelur. Pemberian makan larva pada materi biotic dalam air

membutuhkan waktu antara 5 8 hari untuk menyelesaikan pertumbuhan dalam

suhu 30 C. Perkembangan larva melalui empat tahap yang berakhir pada tahap

pupa. Setelah 36 jam dalam suhu 27C makan pupa akan berubah menjadi

bentuk dewasa (Gerberg et al, 1994).

Baik jantan dan betina mengambil makan gula dari tanaman. Setelah kawin,

betina mencari makan darah. Culex sp adalah pengumpan oportunistik, makan

pada mamalia dan / atau burung sepanjang malam. jantan bertahan hidup hanya

pada makan gula, sementara betina akan mengambil beberapa hisapan darah.

Setelah nyamuk betina mencerna makanan darah dan telur berkembang,

nyamuk tersebut menemukan tempat yang cocok untuk bertelur, dan siklus

dimulai lagi. Betina tunggal dapat menyimpan hingga lima rakit telur selama

siklus hidupnya (Gerberg et al. 1994).

Gambar 2.5 Daur Hidup Culex sp. (Birley et al, 1997)


10

Nyamuk Culex menggunakan rambut mulut untuk menyaring air, makanan, dan

berenang (Reisen, 2004). Ritme gigitan yaitu menggigit pada malam hari dan

biasanya berdiam diri di dalam ruangan sebelum dan setelah menghisap darah,

terkadang nyamuk jenis ini beristirahat di luar ruangan, lebih menyukai warna

yang lebih gelap, jenis nyamuk penerbang jarak jauh. Pada umumnya nyamuk

betina hidup lebih lama daripada nyamuk jantan. Biasanya umur nyamuk kira-kira

2 minggu. Nyamuk Culex betina mempunyai kebiasaan menghisap darah hospes

pada malam hari saja. Jarak terbangnya biasanya pendek mencapai jarak rata-

rata beberapa puluh meter saja. Nyamuk dewasa betina biasanya menghisap

darah manusia dan binatang baik di dalam maupun di luar rumah terutama

tempat atau benda berwarna gelap (Gandahusada , 1998).

Nyamuk betina tertarik terhadap bau, gas CO2 dan panas dari binatang dan

manusia. Darah yang dihisap digunakan untuk menyediakan protein untuk

mendewasakan beberapa telur (Birley et al, 1997).

2.1.5. Kepentingan Medis Culex sp.

Nyamuk Culex sp memiliki kepentingan medis sebagai vektor dari penyakit

chikungunya, filariasis & Japanese Encephalitis.

2.1.5.1 Filariasis (Penyakit kaki Gajah)

Filariasis adalah infeksi dengan cacing filaria, Wuchereria bancrofti, Brugia

malayi atau Brugia timori. Parasit ini ditransmisikan ke manusia melalui gigitan

nyamuk yang terinfeksi dan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam

pembuluh limfatik, menyebabkan kerusakan yang parah dan pembengkakan


11

(limfedema). nyeri, pembengkakan kaki dan organ genital merupakan tanda

klasik penyakit filariasis pada stadium akhir (WHO,2010).

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang

tersebut digigit nyamuk yang infektif yaitu nyamuk yang mengandung larva

stadium III ( L3 ). Nyamuk tersebut terdapat mikrofilaria sewaktu menghisap

darah penderita, Siklus penularan penyakit kaki gajah ini melalui dua tahap, yaitu

perkembangan dalam tubuh nyamuk (vector) dan tahap kedua perkembangan

dalam tubuh manusia (hospes) dan reservoair (Saroso, 2005).

Gejala klinis Filariais Akut adalah berupa, demam berulang-ulang selama tiga

sampai lima hari, Demam dapat hilang bila istirahat dan muncul lagi setelah

bekerja berat, pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah

lipatan paha, ketiap (lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit,

radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar

dari pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis),

filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening,

dapat pecah dan mengeluarkan nanah serta darah, pembesaran tungkai, lengan,

buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan terasa panas (early

lymphodema). Gejal klinis yang kronis ; berupa pembesaran yang menetap

(elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis

skroti) (Saroso, 2005).


12

2.1.5.2 Japanese Encephalitis

Virus yang menyebabkan Japanese ensefalitis ditularkan oleh nyamuk Culex

yang berkembang biak terutama di sawah banjir. Virus beredar di burung ardeid

(kowak dan kuntul). Babi inang, virus mereproduksi pada babi dan menginfeksi

nyamuk yang menghisap darah, tetapi tidak menyebabkan penyakit. Virus ini

cenderung meluas ke populasi manusia saat populasi nyamuk yang terinfeksi

eksplosif dan peningkatan tingkat manusia tergigit (culicines ini biasanya zoofilik,

yaitu mereka lebih memilih untuk menghisap darah dari binatang) (WHO, 2010).

Japanese ensefalitis (JE) adalah penyakit yang disebabkan oleh Flavivirus yang

mempengaruhi selaput di sekitar otak. Sebagian besar infeksi virus JE yang

ringan mempunyai gejala demam dan sakit kepala atau tanpa gejala yang jelas,

akan tetapi 1 dari 200 infeksi pada penyakit parah yang ditandai dengan onset

yang cepat demam tinggi, sakit kepala, leher kaku, disorientasi, koma, kejang,

kelumpuhan kejang, dan kematian. Tingkat fatalitas kasus dapat mencapai 60%

di antara mereka yang dengan gejala penyakit, 30% dari mereka yang bertahan

hidup dengan menderita kerusakan permanen pada sistem saraf pusat.

ensefalitis terjadi terutama pada anak muda karena anak-anak dan orang

dewasa telah terinfeksi dan kebal (WHO, 2010).

2.1.5.3 Chikungunya

Virus Chikungunya adalah anggota dari genus Alphavirus dan Togaviridae

keluarga (Pialoux , 2007). Gejalanya adalah demam tinggi, sakit perut, mual,

muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di

badan dan tangan, meski gejalanya mirip dengan Demam Berdarah Dengue,

pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan ( Schok ) maupun


13

kematian. Masa inkubasi : dua sampai empat hari, sementara Manifestasinya

tiga sampai sepuluh hari. Virus ini tidak ada vaksin maupun obat khususnya, dan

bisa hilang sendiri, namun, rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari

sampai berbulan-bulan (Saroso, 2005).

2.1.6. Pengendalian nyamuk

2.1.6.1 Pengendalian fisik

Pengendalian ini sering disebut sebagai pengendalian mekanik atau fisik yaitu

dengan cara menghilangkan tempat perkembangbiakan yang disukai nyamuk.

Program yang saat ini sedang digalakkan oleh pemerintah dikenal dengan

geakan 3M yaitu menguras tempat penampungan air seminggu sekali, menutup

rapat tempat penampungan air dan menimbun barang-barang bekas atau

sampah yang dapat menampung air hujan (Suroso, 1999).

2.1.6.2. Pengendalian biologis

Intervensi yang didasarkan pada pengenalan organisme pemangsa,

parasit, pesaing untuk menurunkan jumlah. Keuntungan dari tindakan

pengendalian secara biologis mencakup tidak adanya kontaminasi kimiawi

terhadap lingkungan (Hilda, 2007).

2.1.7.3. Pengendalian kimiawi

Dapat digunakan dengan insektisida kimia, seperti pengasapan atau

pengabutan, cara ini paling sering digunakan pada nyamuk dewasa. Sedangkan

pada larva dapat diberantas dengan cara menaburkan temephos, ke tempat-

tempat penampungan air (Sukana, 2005).


14

2.1.8. Pengendalian dengan Insektisida

Insektisida adalah bahan-bahan kimia yang digunakan untuk memberantas

serangga. Berdasarkan atas stadium serangga yang dibunuhnya, maka

insektisida dibagi menjadi imagosida yang ditujukan pada serangga dewasa,

larvasida yang ditujukan kepada larva serangga dan ovosida yang ditujukan

untuk membunuh telurnya (Soedarto, 2004).

Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan

meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni serangga

tersebut.

Menurut cara masuknya insektisida ke dalam tubuh serangga dibedakan menjadi

3 kelompok sebagai berikut:

1. Racun kontak (contact poisons)

Racun kontak adalah insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga

melalui kulit, celah/lubang alami pada tubuh (trachea) atau langsung

mengenai mulut si serangga. Serangga akan mati apabila

bersinggungan langsung (kontak) dengan insektisida tersebut.

Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun perut. (Satya,

2008).

2. Racun perut (stomach poisons)

Racun lambung atau perut adalah insektisida yang membunuh

serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui

makanan yang mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ

pencernaan serangga dan diserap oleh dinding usus kemudian

ditranslokasikan ke tempat sasaran yang mematikan sesuai dengan


15

jenis bahan aktif insektisida. Misalkan menuju ke pusat syaraf

serangga, menuju ke organ-organ respirasi, meracuni sel-sel lambung

dan sebagainya. Oleh karena itu, serangga harus memakan tanaman

yang sudah disemprot insektisida yang mengandung residu dalam

jumlah yang cukup untuk membunuh (Satya, 2008).

3. Racun pernapasan (fumigants)

Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui trachea

serangga dalam bentuk partikel mikro yang melayang di udara.

Serangga akan mati bila menghirup partikel mikro insektisida dalam

jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas, asap,

maupun uap dari insektisida cair (Satya, 2008).

Berdasarkan cara kerjanya, insektisida dapat dibedakan atas:

1. Insektisida golongan Antikolinesterase.

Golongan ini terdiri dari. Organofosfat seperti Parathion, Malathion,

Systox, HETP, Diazinon, Diklorvos, dan lain-lain serta golongan

Karbamat seperti Carbaryl Aldicarb, Propoxur, Zectran, Metacil, dan

lain-lain.

2. Insektisida golongan Organoklorin.

Golongan ini terdiri dari derivat kloroethana seperti DDT, siklodenia

seperti Chlordane, Aldrin, Dieldrin dan lain-lain, klorosikloheksan

seperti Lindan.

Insektisida sintesis tersebut walaupun mempunyai manfaat yang cukup besar

pada masyarakat, namun dapat pula memberikan dampak negatif pada manusia
16

dan lingkungan. Pada manusia dapat menimbulkan keracunan yang dapat

mengancam jiwa manusia atau menimbulkan penyakit atau cacat. DDT dan

organoklorin yang lain juga dapat berlaku sebagai agen kanker dan penyebab

penyakit kardiovaskular yang dapat menimbulkan kematian. Sedangkan

Parathion dapat menyebakan asma bronchial. Insektisida sintetis mempunyai

dampak yang tidak baik bagi lingkungan karena membutuhkan waktu yang lama

untuk bisa didegradasi. Salah satu bentuk pengaruh insektisida terhadap

lingkungan berupa peningkatan suhu udara (Munaf, 2008).

Insektisida alami merupakan senyawa yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Insektisida alami mudah dibuat dan diformulasi dengan cara yang relatif

sederhana dan bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak mencemari

lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan karena

residunya mudah hilang. Berdasarkan kenyataan tersebut di atas maka perlu

dicari alternatif lain untuk mengendalikan vektor penyakit tersebut dengan suatu

metode yang lebih ramah lingkungan. Salah satu cara yang lebih ramah

lingkungan adalah memanfaatkan tanaman anti nyamuk. (Kardinan, 2004).

2.1.9. Efek Residu

Insektisida yang di semprotkan pada tanaman tentu akan meninggalkan residu.

Residu insektisida terdapat pada semua tubuh tanaman seperti batang, daun,

buah, dan juga akar. Khusus pada buah, residu ini terdapat pada permukaan

maupun daging dari buah tersebut. Walaupun sudah dicuci atau di masak residu

insektisida ini terdapat pada makanan. Kebanyakan petani di indonesia

mengetahui bahaya insektisida, namun mereka tidak peduli dengan akibatnya.

Banyak sekali petani yang bekerja menggunakan insektisida tidak menggunakan


17

pengaman seperti masker, topi, pakaian yang menutupi seluruh tubuh, dan lain-

lain. Insektisida yang masuk ke dalam tubuh melalui kulit, saluran pernafasan

yang bisa mengakibatkan keracunan kronis pada jangka panjang (Soemirat,

2003).

2.2. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi)

2.2.1 Taksonomi Tanaman Belimbing wuluh

Divisi : Spermathophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dycotyledonae

Ordo : Oxalidales

Famili : Oxalidaceae

Genus : Avorrhoa dan Oxalis

Spesies : Averrhoa bilimbi (Purwaningsih, 2003).


18

Gambar 2.6 Belimbing wuluh (Ningharmanto, 2009)

2.2.2 Morfologi secara umum

Belimbing adalah asli Indonesia. Sifat asam pulp adalah karena kandungan asam

oksalat (Jalikop , 2009).


19

Buahnya berwarna hijau muda, berbentuk lonjong sebesar ibu jari dan rasanya

asam (safitri , 2010).

Pohon belimbing berkayu keras, tinggi pohon dapat mencapai12 meter dengan

penampilan ramping dan tidak terlalu besar. (Purwaningsih, 2003). Daunnya

bersirip genap. Penempatan daunya saling berhadap-hadapan, daunya lembut,

hijau dan halus pada permukaan atas, berbulu halus dan keputihan di bagian

bawah (Morton,2002).

2.2.3 Unsur Kimia

Batang Tanaman Belimbing wuluh mengandung saponin, tannin, glucoside,

kalsium oksalat, sulfur, asam format, dan perioksidase. Daun mengandung

tannin, sulfur, asam format, perioksidase, flavonoid, kalsium oksalat, dan kalium

sitrat (Safitri, 2010).

2.2.4 Manfaat

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) termasuk dalam famili Oxadilaceae

merupakan salah satu tanaman obat yang berpotensi dimanfaatkan untuk obat

antihipertensi. karena dapat menurunkan tekanan darah melalui stimulasi diuretik

pada hewan babi dan langsung menurunkan tekanan darah setelah diberi larutan

uji (Bipat et al, 2008).

Diketahui bahwa ekstrak ethanol etanol buah dan daun belimbing wuluh dapat

menurunkan glukosa darah ketika diberikan kepada tikus yang dibuat diabetes.

Di Filipina, daun belimbing wuluh digunakan sebagai obat gatal, bengkak,

rematik, sakit kulit, digigit serangga berbisa, obat batuk, tonikum sehabis
20

melahirkan dan mengurangi sakit radang. Secara farmakologi telah terbukti

bahwa rebusan daun belimbing wuluh dengan pemberian secara oral pada dosis

500 mg/kg tidak memberikan efek hipotermia tetapi memberikan efek antipiretik

dan dapat mengurangi efek inflamasi (Morton, 2002).


21

2.2.5 Daun belimbing wuluh Sebagai Insektisida

Kelebihan belimbing wuluh dapat dipakai untuk mengusir nyamuk secara alami

yaitu ramah lingkungan, tidak berasap, dan tidak berbau. Belimbing wuluh dapat

dimanfaatkan sebagai insektisida karena kandungan dari ekstrak ethanol daun

belimbing wuluh tersebut menguap, maka dapat menyebabkan kematian pada

nyamuk. Kelebihan lain daunnya ini juga tidak mengandung bahan kimia

berbahaya sehingga tidak berbahaya bagi kesehatan manusia.

2.2.6 Bahan aktif yang bersifat sebagai insektisida

Kandungan kimia alami yang terdapat pada daun belimbing wuluh yang diduga

memiliki aktivitas antiinflamasi adalah flavonoid dan saponin (Sudarsono dkk.,

2002). Flavonoid bentuk aglikon bersifat non-polar dan bentuk glikosidanya

bersifat polar. Untuk mengekstraksi flavonoid dapat digunakan pelarut ethanol

96% (Triatmoko, 2011). Saponin dapat di ekstraksi menggunakan pelarut etanol

ethanol 96% (Triatmoko, 2011).

2.2.6.1 Flavonoid

Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan

dalam senyawa senyawa ini adalah senyawa zat zat berwarna merah, ungu dan

biru dan sebagaian warna kuning ditemukan dalam tumbuh tumbuhan ( Widarto,

2008).

Flavonoid merupakan senyawa yang secara umum dapat ditemukan pada

semua jenis tumbuhan. Biasanya, satu jenis tumbuhan mengadung beberapa

macam flavonoid (Widarto, 2008). Flavonoid mempunyai sifat yang khas, yaitu

bau yang sangat tajam, sebagai besar merupakan pigmen warna kuning, dapat
22

larut dalam air dan pelarut organik, serta mudah terurai pada temperatur tinggi

(Dinata, 2006). Flavonoid dari daun belimbing wuluh di peroleh dengan cara

ekstraksi menggunakan ethanol (Karnaga el at, 1997).

Efek flavonoid terhadap macam macam organisme sangat banyak macamnya

dan dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung flavonoid dapat

di pakai dalam insektisida karena flavonoid bekerja sebagai inhibitor kuat

pernapasan ( Robinson, 2001).

Flavonoid mengganggu metabolisme energi di dalam tubuh serangga dengan

menghambat sistem pengangkutan elektron. Adanya hambatan pada proses

pengangkutan elektron akan menghalangi produksi ATP dan menyebabkan

penurunan pemakaian oksigen oleh serangga, akibatnya tidak bisa bernafas dan

akhirnya mati (Bloomquist, 1999).

2.2.6.2 Saponin

Ekstrak ethanol daun Belimbing wuluh mengandung zat aktif yang diduga dapat

berperan sebagai insektisida. bahan aktif dari ekstrak ethanol daun belimbing

wuluh yang berfungsi sebagai insektisida tersebut salah satunya saponin yang

diduga dapat menyebabkan penurunan tegangan permukaan sehingga naymuk

mudah mengalami trauma (Baskoro, 2011).