Anda di halaman 1dari 16

Latar Belakang

Tulang temporal merupakan tulang yang paling kompleks dalam tubuh manusia. Di dalam
tulang ini terdapat banyak struktur penting, termasuk koklea dan organ vestibular, nervus
facialis, arteri karotis, dan vena jugularis. Fraktur tulang temporal dapat melibatkan semua
atau tidak satupun dari struktur ini. Trauma yang berhubungan dengan saraf kranialis lainnya
(selain nervus facialis, yaitu VI [abducens], IX [glosofaringeal], X [vagus] dan XI
[aksesorius] juga dapat menyebabkan kelumpuhan.

Tulang temporal adalah struktur yang sangat tebal dan keras yang terletak di basis kranium.
Basis kranium memiliki beberapa foramina, seperti terlihat pada gambar di bawah, yang
merupakan daerah yang dengan resistensi rendah sehingga rentan terhadap cedera traumatik.
Oleh karena itu, patah tulang yang melibatkan tulang temporal akan berlanjut sepanjang basis
kranium dengan pola yang mengikuti titik anatomi terlemah tersebut.

Spektrum trauma tulang temporal sangat bervariasi, mulai dari konkusio kecil tanpa defisit
fungsional hingga trauma tumpul atau tembus dengan defisit multifungsional yang
melibatkan saraf pendengaran dan vestibular, nervus facialis, dan struktur intrakranial. Gejala
klinis yang secara khusus terkait dengan trauma tulang temporal meliputi kelumpuhan nervus
facialis (parsial atau lengkap), tuli (konduktif, sensorineural, atau campuran), vertigo, pusing,
otorrhagia, otorrhea cairan serebrospinal (LCS), perforasi membrana timpani, dan
hemotimpanum serta laserasi kanal.

Fraktur tulang temporal merupakan manifestasi yang sering terjadi pada trauma kepala.
Sebagian besar kasus fraktur tulang temporal melibatkan trauma berat pada tubuh dan/atau
kepala. Pada populasi dewasa, sekitar 90% fraktur tulang temporal dikaitkan dengan cedera
intrakranial yang terjadi bersamaan dan 9% dengan cedera vertebrae servikal. Oleh karena
itu, penanganan trauma tulang temporal mungkin bukan merupakan prioritas utama. Namun,
penilaian awal mengenai trauma tulang temporal di instalasi gawat darurat oleh petugas
darurat darurat dan tim penatalaksana trauma sangatlah penting.

Biasanya, spesialis bedah otolaringologi-kepala dan leher dipanggil untuk konsultasi saat
pasien sudah stabil sepenuhnya, yaitu berjam-jam setelah kejadian trauma. Inilah sebabnya
mengapa penilaian awal di ruang gawat darurat sangat penting dan akan membantu
manajemen selanjutnya untuk perbaikan fungsional. Hal ini juga merupakan alasan mengapa
pemahaman menyeluruh tentang etiologi, klasifikasi, komplikasi, dan pengobatan fraktur
tulang temporal diwajibkan bagi tenaga kesehatan yang terlibat dalam perawatan pasien
dengan kondisi tersebut.

Etiologi

Kepala merupakan bagian tubuh yang paling sering terluka. Cedera kepala terjadi pada
sekitar 75% dari semua kecelakaan lalu lintas. Sekitar 30% kasus trauma kepala
menyebabkan fraktur tengkorak. Telinga adalah organ indra yang paling sering rusak. Cedera
tulang temporal dilaporkan terjadi pada 14-22% dari semua fraktur tengkorak. Kecelakaan
lalu lintas merupakan penyebab dari 31% fraktur tulang temporal. Penyebab lainnya, menurut
urutan frekuensinya adalah serangan fisik, jatuh, kecelakaan sepeda motor, cedera pejalan
kaki, kecelakaan sepeda, dan luka tembak. Pria berusia 21-30 tahun merupakan kelompok
yang paling sering terlibat. Predisposisi pada laki-laki didasarkan pada peningkatan jumlah
laki-laki yang terlibat dalam kegiatan berisiko tinggi dibandingkan dengan wanita, dan bukan
pada kelemahan struktur tengkorak mereka. Fraktur tulang temporal bilateral memiliki
insidensi sebesar 8-29%.

Baru-baru ini, fraktur tulang temporal yang berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas
nampaknya mengalami penurunan, fraktur tulang temporal yang terkait dengan serangan,
terutama pada populasi perkotaan yang besar, nampaknya telah meningkat.

Populasi anak-anak mencakup 8-22% dari keseluruhan populasi pasien fraktur tulang
temporal. Fraktur tulang temporal pada populasi anak-anak juga terkait dengan tingginya
komplikasi intrakranial, sebesar 58%, dan dengan kelumpuhan nervus facialis, sebesar 3-9%.

Pada anak-anak, proporsi kecelakaan lalu lintas adalah sebesar 47% dan jatuh sebesar 40%.
Fraktur tulang temporal lebih sering terjadi pada anak-anak di bawah 6 tahun. Sekitar 75%
fraktur bersifat longitudinal, dan 25% bersifat transversal. Kapsula otik tidak terlibat pada
90% kasus namun terlibat dalam 10% kasus. Cedera intrakranial sering disertai tuli, yang
cenderung bersifat konduktif (56%) diikuti oleh tuli sensorineural (17%) dan campuran
(10%). Namun, nervus facialis tidak sering terkena (3%). Anak-anak sangat rentan terhadap
trauma, khususnya terjatuh dan kecelakaan lainnya. Namun, jika cedera tidak didapatkan
pada riwayat medis, harus dipertimbangkan kemungkinan adanya penyebab nontraumatik.

Klasifikasi

Pada tahun 1926, Ulrich merupakan orang pertama yang mengklasifikasikan fraktur tulang
temporal menjadi fraktur longitudinal dan fraktur transversal. Ghorayeb dan Yeakley, dalam
penelitiannya terhadap 150 kasus fraktur tulang temporal, menemukan bahwa sebagian besar
fraktur sebenarnya oblik dan juga sering campuran. Klasifikasi lainnya didasarkan terlibat
atau tidaknya kapsul otik. Fraktur yang tidak melibatkan kapsul otik berjalan anterolateral ke
kapsul otik dan disebabkan oleh pukulan ke regio temporoparietal. Fraktur yang melibatkan
kapsul otik berjalan langsung ke kapsul otik, merusak koklea dan kanalis semisirkularis, dan
disebabkan oleh pukulan ke regio oksipital (lihat Tabel 2). Klasifikasi yang disebutkan di atas
berguna dalam memprediksi sekuele otologi namun tidak dapat memprediksi komplikasi
neurologi, neuro-otologi, atau pada basis kranium. Meskipun sistem klasifikasi yang lebih
baru telah dibuat, sistem klasifikasi Ulrich, karena kesederhanaannya, masih merupakan
sistem yang paling umum digunakan.
Model klasifikasi tersebut memang belum memiliki dasar yang kuat, namun berguna untuk
memprediksi pola cedera. Sebagian besar fraktur tulang temporal benar-benar berjalan tidak
teratur dan jalurnya bervariasi, mengikuti pola oblik atau campuran seperti yang disebutkan
di atas. Oleh karena itu, penilaian fungsional merupakan hal yang penting dan wajib
dilakukan, dibandingkan menilai jenis frakturnya. Ada atau tidaknya defisit fungsional
tertentu mengindikasikan ada atau tidaknya kerusakan koklea, telinga tengah, vestibulum,
nervus kranialis, dura, atau SSP, terlepas dari didapatkannya fraktur atau tidak.

Fraktur Longitudinal

Fraktur longitudinal mencakup 80% dari semua fraktur tulang temporal. Fraktur ini sering
disebabkan oleh adanya gaya lateral pada mastoid atau pars skuamosa tulang temporal,
biasanya diakibatkan oleh pukulan pada daerah temporal atau parietal. Garis fraktur berjalan
sejajar sumbu panjang piramida petrosa, dimulai pada pars squamosa (mastoid atau kanalis
auditorius eksternal), seperti yang terlihat pada gambar di bawah, dan memanjang melalui
posterosuperior kanalis auditorius eksternal, berlanjut melintasi atap ruang telinga tengah di
anterior labirin, dan berakhir pada sisi anteromedial di tengah fosa kranial berdekatan dengan
foramen lacerum dan ovale.

Perjalanan fraktur yang paling umum terjadi adalah anterior dan ekstralabirin; namun,
walaupun jarang, perluasan ke intralabirin mungkin terjadi. Menurut literatur medis, fraktur
tulang temporal bilateral terdapat pada 8-29% dari semua fraktur.

Tanda dan gejala meliputi pendarahan ke lubang telinga dari kulit dan laserasi membran
timpani, hemotimpanum, fraktur kanalis auditorius eksternal, gangguan tulang pendengaran
yang menghasilkan tuli konduktif, dan kelumpuhan nervus facialis. Dua puluh persen fraktur
longitudinal melukai nervus facialis dan menyebabkan kelumpuhan. Lokasi luka biasanya
pada segmen horizontal nervus facialis yang berada distal dari ganglion genikulatum.
Otorinorea LCS sering terjadi tapi biasanya bersifat sementara. Tuli sensorineural dapat
terjadi akibat konkusio. Vertigo terjadi namun tidak berkaitan dengan derajat beratnya
fraktur.

Fraktur Transversal

Fraktur transversal mencakup 20% dari semua fraktur tulang temporal. Fraktur ini biasanya
disebabkan oleh pukulan pada region frontal atau parietal namun bisa juga terjadi akibat
pukulan pada oksipital. Garis fraktur berjalan tegak lurus ke sumbu panjang piramida petrosa
dan dimulai di fossa kranialis media (dekat dengan foramen lacerum dan spinosum). Garis ini
kemudian menyeberangi piramida petrosa secara transversal dan berakhir di foramen
magnum. Garis ini mungkin juga berlanjut melalui kanalis auditorius internal dan melukai
saraf secara langsung. Jalur garis dari fraktor tulang temporal transversal digambarkan pada
gambar di bawah ini

Struktur koklea dan vestibular biasanya rusak, menghasilkan tuli sensorineural dan vertigo
ablatif berat. Intensitas vertigo akan menurun setelah 7-10 hari dan kemudian terus menurun
secara stabil selama 1-2 bulan berikutnya, hanya menyisakan perasaan tidak seimbang yang
berlangsung sekitar 3-6 bulan, sampai akhirnya terjadi kompensasi. Nistagmus berat (derajat
ketiga) dapat terjadi sejak awal fraktur, dengan komponen cepat menjauhi lokasi fraktur.
Nistagmus ini dapat mudah terlihat secara kasat mata. Nistagmus ini juga menurun secara
progresif dalam intensitasnya (derajat ketiga, derajat kedua, derajat pertama) dan akhirnya
hilang. Gambar di bawah menggambarkan fraktur transversal tulang temporal kanan dengan
nistagmus spontan berat.

Walaupun jarang, tuli campuran dapat terjadi. Cedera nervus facialis terjadi pada 50% fraktur
transversal. Lokasi cedera dapat terjadi dimana saja mulai dari kanalis auditorius internus
hingga segmen horizontal yang berada distal dari ganglion genikulatum. Pneumolabirin juga
bisa terjadi.

Dari pemeriksaan histopatologi dapat terlihat hilangnya sel rambut, sel ganglion, dan sel
pendukung. Dalam kasus yang jarang terjadi, labirintitis osifikans terjadi sekunder akibat
trauma atau infeksi yang menyertainya. Hal ini harus diingat ketika kita mempertimbangkan
penempatan implan koklea setelah adanya fraktur tulang temporal.

Fraktur Oblik atau Campuran

Pola yang memanjang baik secara longitudinal dan transversal ini sering terjadi. Menurut
beberapa penulis, pola ini terjadi lebih sering daripada fraktur transversal saja atau
longitudinal saja. Sekitar 62-90% fraktur tulang temporal memiliki pola campuran dalam
literatur medis.

Tabel 1. Fraktur Longitudinal dan Transversal


Fraktur Longitudinal Fraktur Transversal
Insidensi Sekitar 80% Sekitar 20%
Mekanisme Trauma temporal atau parietal Trauma frontal atau oksipital
Otorea LCS Sering Kadang-kadang
Perforasi Sering Jarang
Membrana
Timpani
Kerusakan nervus 20% (sering berlangsung 50% (berat, biasanya permanen, dan
facialis sementara dan onsetnya tertunda) onsetnya cepat)
Tuli Sering (tipe konduktif dan Sering (sensorineural berat atau
sensorineural nada tinggi campuran)
sekunder akibat konkusio telinga
dalam yang terjadi bersamaan)
Hemotimpanum Sering (berkaitan dengan Mungkin (tidak)
otorrhagia)
Nistagmus Sering (biasanya spontan, Sering (intensitas tinggi [derajat tiga],
intensitas rendah [derajat satu spontan, komponen cepat mengarah ke
atau dua] atau posisional; sisi kontralateral, berlangsung lama,
nistagmus absans juga mungkin nistagmus posisional juga mungkin
terjadi) didapatkan sebelum dan sesudah masa
kompensasi)
Otorrhagia Sering Jarang
Vertigo Sering (intensitas rendah, Sering (intensitas tinggi, biasanya
dan/atau posisional, absans juga berkatitan dengan fase akut dengan
mungkin) mual dan muntah)

Tabel 2. Fraktur yang Mengenai Kapsul Otik dan yang Tidak Mengenai Kapsul Otik
Tidak Mengenai Kapsul Otik Mengenai Kapsul Otik
Insidensi Sekitar 95% Sekitar 5%
Mekanisme Trauma temporal atau parietal Trauma oksipital
Garis Fraktur Anterolateral dari kapsula otik Melewati kapsul otik
Jalur Pars skuamosa tulang temporal Foramen magnum, piramid
Dinding posterosuperior dari kanalis petrosus, dan kapsul otik
auditorius eksternal and membrane Juga foramen jugularis, kanalis
tympanic membrane sering terlibat auditorius internal, and foramen
Juga, sel udara mastoid dan telinga lacerum
tengah Membrana timpani dan kanalis
auditorius eksternal biasanya tidak
terkena
Kebocoran Fossa kranialis media (tegmentum Fossa kranialis posterior (telinga
LCS mastoideum, tegmentum timpanikum, tengah, tuba eustachius)
telinga tengah, and kanalis auditorius
eksternal atau tuba eustachius)
Keterlibatan Sering Jarang
tulang
pendengaran
Tuli Konduktif atau campuran Sensorineural
Kelumpuhan Lebih jarang Sering
wajah

Luka Tembus

Luka tusuk dan luka tembak merupakan luka tembus yang paling sering terjadi. Sebagian
besar pasien yang terlibat adalah pria dan orang muda. Luka tembak pada daerah medial dari
ganglion genikulatum biasanya berakibat fatal. Kapsul otik bisa berperan sebagai deflektor
peluru, yang melindungi otak. Cedera saraf kranial lainnya (selain nervus VII) dapat terjadi,
demikian juga kerusakan intraserebral dan cedera arteri atau vena. Kasus tersebut merupakan
cedera tulang temporal yang paling berat. Biasanya waktu terjadinya kelumpuhan nervus
facialis dan lokasi cedera diketahui dengan baik, melalui hasil pengamatan langsung atau
temuan CT.

Luka tembak pada tulang temporal sering mengakibatkan tuli sensorineural, kebocoran LCS,
dan gangguan nervus facialis, yang ditemukan pada kira-kira 50% pasien dan memerlukan
perbaikan dengan interposisi graft saraf.

Gejala dan Tanda

Pasien dengan fraktur tulang temporal biasanya memiliki beberapa luka traumatik. Cedera
intrakranial dan maksilofasial dikaitkan dengan trauma berat yang dapat menghasilkan
fraktur tulang temporal. Cedera terkait lainnya yang tidak terkait dengan kepala dan leher,
juga mungkin terjadi, seperti cedera abdomen, toraks dan ortopedi.
Pada evaluasi awal, penerapan protokol Advanced Trauma Life Support sangat penting dalam
penilaian dan pengelolaan pasien. Oleh karena itu, stabilisasi harus dilakukan terlebih dahulu.
Manajemen jalan nafas, evaluasi status neurologis, perdarahan, fraktur terbuka, dan luka di
dada dan perut dapat menunda diagnosis dini dan penanganan cedera tulang temporal.
Vertebra servikal harus dievaluasi dan distabilkan sebelum kepala boleh dimanipulasi.

Seperti yang disebutkan di awal artikel ini, spesialis otolaringologi biasanya bukan anggota
tim awal yang menangani pasien dengan cedera kepala. Oleh karena itu, spesialis bedah saraf,
spesialis saraf, dan dokter instalasi gawat darurat harus dilatih untuk menilai 2 aspek
terpenting dari fraktur tulang temporal: status kanalis eksternal (memeriksa adanya darah atau
LCS) dan status nervus facialis.

Pemeriksaan fisik pasien dengan trauma tulang temporal harus mencakup pemeriksaan neuro-
otologi lengkap, serta pemeriksaan hidung dan tenggorokan yang lengkap. Cari lokasi
benturan pada tengkorak. Periksa mata pasien untuk nistagmus, sebutkan arah dan derajatnya.
Nistagmus berat (derajat ketiga) sering terjadi pada pasien dengan fraktur transversal. Vertigo
sentral mungkin memiliki karakteristik vertikal atau perubahan arah yang tidak dapat
berkurang dengan fiksasi. Sebaliknya, vertigo perifer adalah bersifat horisontal atau
horizontal-rotatorik dan dapat berkurang dengan fiksasi.

Jika kondisi pasien memungkinkan, lakukan uji pendengaran dengan garpu tala untuk
bandingkan konduksi tulang dengan konduksi udara (tes Weber dan Rinne). Bedside masking
dapat dilakukan dengan menggosokkan selembar kertas pada daun telinga yang berlawanan.
Tes audiometrik vestibular lengkap dapat dilakukan kemudian karena biasanya tidak
diperlukan pada fase akut. Evaluasi audiologi lengkap wajib dilakukan sebelum dilakukannya
intervensi otologi.

Tanda Battle (ekimosis pada kulit postaurikular) dan tanda raccoon (ekimosis daerah
periorbital) mungkin ditemukan pada kedua jenis fraktur. Daun telinga diperiksa untuk
adanya laserasi dan hematoma.

Laserasi ditutup setelah dilakukan pembersihan dan debridemen tulang rawan yang terpapar.
Hematoma dikeringkan dan bantalan tekanan ditempatkan untuk mencegah akumulasi darah
berulang.

Sebagai tindakan pencegahan aseptik, kanalis eksternal diperiksa untuk adanya darah, LCS,
atau herniasi otak. Amati laserasi kanalis eksternal, deformitas, dan laserasi/perforasi
membrana timpani. Fraktur kanalis biasanya terjadi di sepanjang skutum dan atap kanalis
auditorius eksternal. Periksa adanya hemotimpanum.

Jangan membilas liang telinga dan jangan gunakan tampon di liang telinga kecuali jika
pendarahan sulit dikendalikan, karena hal ini dapat menimbulkan infeksi pada koklea dan
labirin, juga ke otak dan selaput otak. Jika perdarahan tidak dapat dikendalikan dengan
tampon, pasien dibawa ke ruang operasi untuk ligasi karotis atau angiografi untuk oklusi
dengan balon.
Liang telinga yang cedera berat berisiko tinggi terhadap pembentukan stenosis atau
kolesteatoma. Pasien ini harus dipantau secara ketat untuk terjadinya komplikasi ini.
Intervensi dini pada awal stenosis dapat mencegah masalah yang sulit diobati setelah stenosis
telah matur.

Periksa mandibula dan wajah tengah untuk adanya fraktur. Jika pasien sadar, tentukan adanya
vertigo. Periksa nervus facialis. Memeriksa kelumpuhan dan menentukan apakah hal tersebut
merupakan onset segera atau tertunda sangat penting. Hal ini mungkin sulit dilakukan pada
pasien yang diintubasi atau koma atau jika pelumpuh otot telah diberikan. Pemberian
rangsang nyeri bisa menimbulkan respons meringis, bahkan pada pasien koma.

Pada pasien dengan kelumpuhan wajah atau fistula LCS, audiogram diperlukan sebelum
operasi perbaikan dilakukan karena status pendengaran pasien dapat menentukan mertode
pembedahan yang akan dilakukan.

Sebuah studi prospektif oleh Montava dkk mengenai sekuele dari fraktur tulang temporal (39
pasien, 45 fraktur) menunjukkan bahwa gejalanya meliputi: masalah keseimbangan (44%),
hipakusis (56%), tinitus (56%), dan kelumpuhan wajah (15 %). Sekuele kokleovestibular
dideskripsikan sebagai kecacatan pada 75-80% pasien

Prognosis

Sebuah studi oleh Schell dan Kitsko menemukan bahwa pada anak-anak dengan gangguan
pendengaran terkait fraktur tulang temporal, sebagian besar dari mereka yang kapsul otiknya
tidak terkena hanya menderita gangguan pendengaran ringan dan tingkat pendengarannya
kembali normal setelah rata-rata 6 minggu, sementara 75% dari mereka yang mengalami
patah tulang pada kapsul otik menderita gangguan pendengaran berat. Penelitian ini
melibatkan 58 anak-anak, dengan kebanyakan tuli konduktif pada fraktur yang tidak
mengenai kapsul otik, dan tuli campuran pada fraktur yang merusak kapsul otik.

Studi Pencitraan

Pada sebagian besar pasien dengan fraktur tulang temporal telah dilakukan CT scan kepala
untuk menyingkirkan atau mengidentifikasi cedera intrakranial.

CT resolusi tinggi (HRCT) tulang temporal berguna dalam menilai cedera yang disertai
komplikasi kebocoran LCS, kelumpuhan wajah, atau kecurigaan cedera vaskular. Gambar
aksial dan koronal biasanya diperoleh dengan section 1 mm, juga dengan gambaran tulang
temporal yang diperbesar. Bone window diperlukan. CT resolusi tinggi aksial dari fraktur
tulang temporal kanan terlihat pada gambar di bawah ini.

HRCT tulang temporal diindikasikan jika intervensi bedah untuk penanganan komplikasi
otologis diperlukan.
Jika terdapat defisit neurologis sementara atau persisten pada pasien dengan fraktur basis
kranium, HRCT tulang temporal dengan CT angiografi diindikasikan untuk mengevaluasi
adanya cedera pada karotis petrosus.

Sebuah penelitian oleh Ulano dkk menunjukkan bahwa pada kasus trauma di mana fraktur
tulang temporal tidak terlihat pada CT scan, maka adanya udara di sekitar tulang temporal
dan ditemukannya udara pada sel mastoid atau opasitas pada rongga telinga tengah harus
menimbulkan kecurigaan akan adanya fraktur. Penelitian yang melibatkan 152 fraktur tulang
temporal, menemukan adanya udara di dekat prosesus stiloideus (94 fraktur, 61,8%), pada
sendi temporomandibular (80 fraktur, 52,6%), berdekatan dengan prosesus mastoidus (57
fraktur, 37,5%), dan di sepanjang sinus vena dura yang berdekatan (33 fraktur, 21,7%). Lebih
dari itu, 139 fraktur (91,4%) disertai dengan opasifikasi mastoid, dan 121 fraktur (79,6%)
menunjukkan opasitas pada rongga telinga tengah. Para peneliti juga menemukan adanya
hubungan positif antara fraktur kompleks dan pneumosefalus.

MRI tidak dapat mengidentifikasi fraktur tulang temporal. MRI memiliki sensitivitas dan
spesifisitas yang buruk dalam hal ini. MRI berguna dalam menilai struktur intrakranial
dan/atau kelumpuhan saraf yang tidak dijelaskan oleh HRCT. Alat ini juga dapat
mengidentifikasi perdarahan intralabirin, cedera batang otak, kompresi saraf, dan herniasi
intrakranial ke dalam rongga mastoid. MRI juga berguna sebelum intervensi bedah saraf
untuk fraktur tulang temporal, terutama melalui pendekatan fossa kranialis media.

Uji Lainnya

Uji stimulasi maksimum

Tes ini didasarkan pada pengamatan adanya kedutan otot wajah dengan menggunakan
stimulator nervus facialis Hilger setelah hari ketiga cedera, biasanya antara hari 3-14 pasca
cedera. Tes hanya digunakan dalam kasus kelumpuhan nervus facialis komplit (seperti yang
ditentukan oleh penilaian House-Brackmann) karena stimulasi wajah akan menimbulkan rasa
sakit. Stimulasi supramaksimal diaplikasikan dengan arus maksimal yang dapat ditolerir pada
sisi normal. Sisi yang terkena dibandingkan dengan sisi normal, dengan menggunakan arus
stimulasi yang sama. Respons yang negative atau menurun nyata (gerakan yang jarang
terlihat) mengindikasikan bahwa fungsi nervus facialis tidak kembali secara total.

Uji eksitabilitas saraf (uji eksitabilitas saraf minimal)

Tes ini mirip dengan tes sebelumnya yang menggunakan stimulator saraf Hilger setelah hari
ketiga cedera; Tes ini membandingkan besar arus ampere dari lokasi satu ke lokasi lainnya
yang diperlukan untuk memulai respon minimum yang dapat terlihat pada sisi yang terkena.
Perbedaan sebesar 3,5 mA atau lebih dikatakan signifikan, mencerminkan prognosis yang
buruk, dan mengindikasikan perlunya mempertimbangkan eksplorasi bedah.
Elektroneurografi

Elektroneurografi (ENOG) adalah teknik yang dirancang oleh Fisch. Teknik ini digunakan
setiap 2 hari antara hari ketiga dan 21 setelah trauma awal. Hasilnya dinyatakan dalam
persentase dari amplitudo potensial aksi pada sisi yang lumpuh dibandingkan dengan sisi
normal. Hasilnya berkorelasi dengan persentase degenerasi saraf. Menurut Fisch, degenerasi
sebesar 90% dari saraf yang terlibat dianggap signifikan dan merupakan ambang batas untuk
dilakukannya manajemen bedah.

Fisch telah mengemukakan indikasi untuk manajemen bedah berdasarkan "persentase


degenerasi saraf," yang menyarankan untuk dilakukannya eksplorasi dan dekompresi atau
perbaikan saat ENOG menunjukkan degenerasi sebesar 90%. Dengan kata lain, adanya
degenerasi dengan saraf yang masih berfungsi 10% atau kurang dibandingkan dengan sisi
normal dianggap sebagai titik balik kritis untuk dilakukannya manajemen bedah. Fisch
menemukan, secara histologis, bahwa cedera traumatis pada ganglion genikulatum
menginduksi degenerasi retrograde melalui segmen labirin dan meatus distal dari nervus
facialis. Fisch yakin bahwa fibrosis dapat terjadi dan akan menghambat regenerasi serat saraf
dan oleh karena itu, merekomendasikan dilakukannya pembedahan dini untuk menghindari
komplikasi fibrosis ini di kanalis facialis.

Nosan et al. yakin bahwa ENOG sangat penting dalam menentukan kebutuhan dan waktu
operasi untuk kelumpuhan wajah setelah trauma. Mereka yakin bahwa dengan menggunakan
ENOG, maka penentuan onset klinis dari kelumpuhan menjadi tidak perlu dilakukan, dan
bahwa pasien dengan kelumpuhan yang tertunda dapat memiliki cedera yang lebih berat
dibandingkan pasien dengan degenerasi ENOG yang lebih cepat. Mereka menyakini bahwa
waktu terjadinya kelumpuhan sejak onset cedera seharusnya tidak membingungkan masalah
ini.

Elektromiografi

Otot yang sedang beristirahat normalnya tidak menghasilkan aktivitas listrik spontan. Adanya
aktivitas elektromiografi spontan (potensial fibrilasi) yang ditemukan di otot
mengindikasikan terjadinya denervasi komplit. Pertimbangkan bahwa potensial fibrilasi
memerlukan waktu setidaknya 3 minggu untuk dapat terdeteksi dengan elektromiografi.
Adanya motor unit volunter (potensial aksi polifasik), sebaliknya, merupakan faktor
prognostik yang baik dan indikator terbaik dari regenerasi yang sedang terjadi.

Pendekatan bedah masih diperdebatkan. Beberapa pihak berwenang merekomendasikan


dilakukannya eksplorasi yang terbatas pada nervus facialis berdasarkan informasi klinis dan
radiografi. Fisch, di sisi lain, menyarankan eksplorasi dan dekomposisi total nervus facialis
dengan pendekatan fossa kranialis media dan transmastoid. Pada pasien yang memiliki tuli
sensorineural total, Fisch menyarankan pendekatan translabirin.

Terapi Medis
Secara umum, pasien dengan kelumpuhan wajah yang tertunda dikelola secara konservatif
dengan kortikosteroid sistemik selama 10-14 hari kecuali terdapat kontraindikasi medis.
Pasien dengan kelumpuhan total dengan onset dini harus menjalani tes awal dengan
stimulator saraf Hilger antara hari ke 3 dan 7. Jika tidak terdapat kehilangan stimulabilitas,
pasien diobservasi lebih lanjut. Jika terjadi kehilangan stimulabilitas saraf dalam satu
minggu, atau terdapat degenerasi lebih dari 90% pada ENOG dalam 2-3 minggu, maka perlu
dilakukan eksplorasi bedah.

Komplikasi

Komplikasi umum fraktur tulang temporal meliputi gangguan pendengaran, fistula LCS,
kelumpuhan nervus facialis, stenosis kanalis auditorius eksternal, pembentukan kolesteatoma,
dan cedera vaskular.

Tuli Konduktif

Tuli konduktif sering didapatkan pada fraktur longitudinal dan disebabkan oleh
hemotimpanum, perforasi membran timpani, atau gangguan tulang pendengaran parsial atau
total. Dislokasi tulang pendengaran lebih sering terjadi daripada fraktur tulang tersebut.
Perforasi membran timpani dan hemotimpanum biasanya sembuh dalam 3-4 minggu.

Pemindaian HRCT aksial dan koronal sangat membantu untuk mendiagnosis dislokasi tulang
pendengaran. Tulang yang paling sering terlibat pada trauma tulang temporal adalah inkus
karena tulang ini kurang stabil, memiliki ikatan yang lemah pada malleus dan stapes. Malleus
terhubung dengan otot tensor timpani dan tendonnya, dan stapes terhubung dengan otot
stapedius dan tendonnya. Mereka berkontraksi saat trauma dan menarik inkus ke medial.
Gerakan ini akan diperbesar oleh trauma, sehingga menyebabkan dislokasi medial dari inkus.

Kelainan berikut didapatkan pada fraktur tulang temporal:

Pemisahan sendi inkudostapedial: merupakan pemisahan sendi traumatik yang paling


sering terjadi (82%)
Dislokasi inkus (57%)
Fraktur kruris stapes (30%)
Fiksasi tulang pendengaran di atik (25%)
Pemisahan sendi inkudomalleolar

Lesi lain, seperti nekrosis yang tertunda pada prosesus longus inkus, dislokasi footplate
stapes, dan dislokasi malleus mungkin terjadi namun jarang terlihat.

Sebagian besar tuli konduktif nondisruptif terjadi secara spontan. Jika didapatkan tuli
konduktif yang lebih dari 30 dB setelah 2 bulan, pertimbangkan eksplorasi bedah kecuali tuli
konduktif terjadi pada telinga kontralateral. Eksplorasi/rekonstruksi telinga tengah pada kasus
trauma menghasilkan keluaran fungsional yang lebih baik dibandingkan dengan rekonstruksi
telinga tengah pada infeksi telinga kronis.
Tuli Sensorineural

Tuli sensorineural berat paling sering terjadi pada pasien yang mengalami fraktur transversal
dengan keterlibatan kapsul otik. Tuli sensorineural parsial juga mungkin terjadi. Tuli ringan
pada frekuensi rendah (takik 5 kHz) dapat terjadi pada fraktur longitudinal akibat konkusio
koklea. Produk darah dan gangguan seluler terlhat pada histopatologi.

Sebelum mempertimbangkan implan koklea, labirinitis osifikans harus dipertimbangkan jika


terjadi tuli sensorineural bilateral. Tuli sensorineural progresif juga telah dilaporkan terjadi
dengan atau tanpa vertigo. Bila terdapat vertigo dengan gangguan pendengaran yang
berfluktuasi atau progresif, hidrops endolimfatik traumatik atau fistula perilimfatik adalah
diagnosisnya. Gangguan pendengaran autoimun merupakan penyebab pada beberapa kasus
gangguan pendengaran progresif.

Tuli Campuran

Tuli campuran konduktif dan sensorineural mungkin sulit dideteksi jika terdapat tuli
sensorineural berat. Koreksi bedah dipertimbangkan jika menginginkan koreksi dari
komponen konduktif.

Vertigo/nistagmus

Kondisi ini sulit untuk dinilai selama fase cedera akut karena adanya trauma neurologi yang
terkait dan/atau cedera yang mengancam nyawa. Oleh karena itu, insidensi vertigo
diperkirakan memiliki spektrum yang luas yaitu sekitar 24-78% kasus. Nistagmus spontan
yang terlihat secara kasat mata merupakan tanda klinis yang penting pada fase akut trauma
tulang temporal. Hal ini biasanya berhubungan dengan fraktur tulang temporal transversal
dengan kerusakan koklea dan kanalis semisirkularis. Nistagmus spontan dalam kasus ini
merupakan derajat berat, horisontal atau horizontal-rotatorik, derajat ketiga, dan mengarah ke
telinga kontralateral. Nistagmus ini mencerminkan vertigo perifer dan dapat ditekan atau
berkurang oleh fiksasi (nistagmus pada vertigo sentral dapat memiliki arah vertikal,
horizontal, horizontal-rotatorik, atau yang berubah arah, dan intensitasnya dapat ditingkatkan
dengan fiksasi).

Vertigo yang menyertainya merupakan vertigo derajat berat, dengan sensasi berputar, dan
dikaitkan dengan mual dan muntah. Setelah fase akut berlalu, nistagmus spontan dan vertigo
sembuh dalam waktu 3-6 bulan. Pada waktu tersebut, ENG menunjukkan ketiadaan respon
vestibular pada labirin yang terlibat. Nistagmus spontan, horisontal atau horizontal-rotatorik,
pada derajat yang lebih ringan, yang tidak mudah dilihat secara kasat mata, juga dapat terjadi
pada fraktur longitudinal dan pada umumnya lebih ringan daripada yang terlihat pada fraktur
transversal. Selain itu, vertigo posttraumatik biasanya ditemukan pada cedera konkusio pada
labirin yang berhubungan dengan trauma tulang temporal yang tidak mengenai kapsul otik
atau aparatus vestibularis. Perhatikan bahwa cedera-cedera ini mungkin tidak terlihat pada
radiografi, juga bahwa insidensi vertigo atau intensitas dan durasinya berkaitan dengan
tingkat keparahan cedera tulang temporal.

Benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) Posttraumatik

BPPV posttraumatik umum terjadi. BPPV didefinisikan sebagai onset laten dari nistagmus
postural yang menghilang bila uji diulang beberapa kali (fatigue) dan tidak dapat
direproduksi. Pada BPPV, nistagmus rotatorik geotropis dapat dipicu dengan manuver Dix-
Hallpike. Setelah memposisikan telinga yang cedera ke bawah, periode laten 10 detik terjadi
sebelum nistagmus mulai terlihat. Nistagmus yang timbul bersifat terfiksasi, horizontal, atau
horizontal-rotatorik dan, setelah beberapa detik, mengalami kelelahan. Dengan pengulangan,
nistagmus tersebut tidak dapat direproduksi pada satu titik; sebaliknya, vertigo posisional
sentral adalah nistagmus yang berubah arah, tidak memiliki periode laten, tidak menghilang
bila uji diulang beberapa kali (tidak fatigue), dan mudah direproduksi. Vertigo postural
sentral dapat berkaitan dengan cedera atau perdarahan di batang otak, yang mengakibatkan
disfungsi nukleus vestibularis.

Pada BPPV dan vertigo postural sentral, nistagmus spontan dan vertigo biasanya sembuh
dalam 3-6 bulan dan gejala yang sisa terjadi selama 10-12 bulan; walaupun demikian, gejala
ini mungkin berlanjut pada pasien lansia. Kombinasi dari penyebab sentral dan perifer sangat
mungkin terjadi pada patofisiologi vertigo setelah trauma tulang tengkorak dan temporal.
Rehabilitasi vestibular atau reposisi kanal mungkin sangat penting, terutama pada BPPV.

Fistula Perilimfatik

Fistula perilimfatik juga dapat menyebabkan vertigo paroksismal. Onset timbulnya fistula
dan gejalanya mungkin tertunda. Diagnosis ini dipertimbangkan jika terjadi fluktuasi
gangguan pendengaran dan vertigo berdekatan dengan periode posttraumatik. Tes fistula di
liang telinga tidak boleh dilakukan pada situasi akut untuk menghindari trauma atau
komplikasi lebih lanjut. Perawatan medis awal terdiri dari istirahat di tempat tidur, elevasi
kepala, dan pelunak tinja. Eksplorasi bedah dapat diindikasikan pada fistula perilimfatik yang
persisten.

Hidrops endolimfatik traumatik

Hidrops endolimfatik traumatik sebagai penyebab vertigo posttraumatik memiliki etiologi


berikut: fistula tulang labirin, cedera membran labirin langsung, cedera pada sistem drainase
endolimfatik, atau trauma bedah. Onset hidrops traumatik dapat tertunda selama berbulan-
bulan atau bertahun-tahun.

Fistula cairan serebrospinal

Fistula LCS dapat terjadi akibat robekan dura setelah terjadi fraktur tulang temporal jenis
apapun (17%). Kebocoran hampir selalu menutup dalam waktu 4 minggu. Durasi rata-rata
kebocoran sekitar 4 hari. Fraktur longitudinal cenderung mengalami kebocoran yang lebih
parah, dan ini terjadi melalui fossa kranialis media. Fraktur transversal menyebabkan
kebocoran melalui fossa kranialis posterior. Lokasi fistula yang paling sering adalah
tegmentum timpanikum dan tegmentum mastoideum dimana kebocoran berasal dari fossa
kranialis media. Sebagian besar kebocoran LCS terlihat jelas dari adanya cairan jernih segera
setelah trauma terjadi. Koreksi LCS mungkin tertunda setelah trauma awal pada sekitar 28%
kasus. Pneumatokel dan herniasi otak jarang terjadi. Pneumatokel bisa sembuh tapi kadang-
kadang membesar.

LCS mengandung kadar kalium dan protein yang rendah dan kadar konsentrasi glukosa yang
tinggi. Uji kualitatif cairan untuk glukosa sangat membantu namun tidak spesifik. Uji
kuantitatif untuk kalium, protein, dan glukosa lebih akurat. Uji halo yang dilakukan dengan
menggunakan kertas saring mungkin sangat membantu (karena kertas memisahkan LCS dari
darah). Namun demikian, jika tersedia, uji beta-transferrin adalah uji diagnostik yang paling
akurat untuk LCS.

Otorrhea melalui laserasi kanal atau laserasi membran timpani biasanya merupakan gejala
yang terlihat, atau rhinorrhea mungkin merupakan satu-satunya gejala. Laju aliran meningkat
dengan aktivitas atau posisi membungkuk. LCS juga dapat diamati di telinga tengah di
belakang membran timpani yang intak setelah darah diserap.

Penggunaan antibiotik pada fistula LCS masih kontroversial. Dalam penelitian sebelum tahun
1970, MacGee dan rekannya melaporkan bahwa 16% pasien yang mendapat antibiotik
profilaksis mengalami meningitis. Rathmore tidak menemukan perbedaan insidensi
meningitis dengan atau tanpa antibiotik profilaksis. Demetriades dan rekannya menemukan
bahwa kejadian meningitis dan koinfeksi lainnya lebih tinggi pada kelompok yang tidak
menerima profilaksis. Villalobos dkk menggabungkan 12 penelitian (1970-1996) dari 1.241
subjek dan menyimpulkan bahwa profilaksis antibiotik tampaknya tidak menurunkan risiko
meningitis. Sampai saat ini, tidak ada jawaban yang jelas, walaupun literatur pada umumnya
mendukung penggunaan antibiotik profilaksis pada pasien dengan fistula LCS, terutama
dengan adanya laserasi terbuka atau koinfeksi.

Kebocoran LCS cenderung menutup secara spontan dengan elevasi kepala, istirahat di tempat
tidur, pelunak tinja, dan penghentian bersin, tegang, dan hembusan hidung. Pungsi lumbal
intermiten atau drainase lumbar dapat membantu jika kebocoran terus berlanjut. Namun,
eksplorasi bedah dapat diindikasikan untuk fistula LCS yang bertahan lebih dari 14 hari.

Radiografi diperlukan sebelum dilakukan perbaikan bedah. Kegunaan HRCT dan CT


cisternografi dalam mencari lokasi kebocoran LCS masih bisa diperdebatkan. HRCT sendiri
dapat memperlihatkan adanya defek tulang pada 70% pasien dengan fistula dan merupakan
tes yang paling spesifik. MRI mungkin menjadi langkah selanjutnya. Jika fraktur dapat
terlihat namun lokasi fistula tidak dapat teridentifikasi, CT cisternografi dengan agen kontras
intratekal (omnipaque) adalah prosedur pilihan diagnostik berikutnya. Namun, jika defek
tulang tidak dapat dilihat dengan HRCT, CT cisternografi jarang dapat menunjukkan lokasi
kebocoran. Fluorescein intratekal dapat digunakan saat tes lain gagal mendeteksi lokasi
kebocoran. Jika fistula tersebut sedang tidak berfungsi pada saat pencitraan dilakukan, maka
kebocoran LCS tidak dapat terdeteksi.

Metode bedah untuk penutupan fistula LCS setelah fraktur tulang temporal bergantung pada
letak fistula, status pendengaran kedua telinga, adanya herniasi otak melalui tegmentum, dan
patensi kanalis eksternal.

Meningitis

Terdapa risiko meningitis yang rendah (5-11%) pada pasien dengan kebocoran yang
berlangsung kurang dari 7 hari. Insiden ini meningkat menjadi 33-54% pada kebocoran yang
berlangsung lebih dari 7 hari. Kejadian ini meningkat seiring waktu dan biasanya
berhubungan dengan durasi kebocoran LCS. Risiko meningitis meningkat pada pasien yang
memiliki fraktur tulang temporal dengan fistula LCS, laserasi terbuka, dan koinfeksi. Brodie
dan Thompson menemukan kejadian meningitis sebesar 20% dengan adanya infeksi yang
terjadi bersamaan dan kejadian sebesar 3% tanpa adanya infeksi yang terjadi bersamaan.
Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae adalah organisme perusak yang
paling umum. Kejadian meningitis pada pasien dengan fistula LCS posttraumatik yang
diobati dengan antibiotik profilaksis adalah 2,1%. Pada pasien yang tidak menerima
antibiotik profilaksis, insidensinya secara signifikan lebih tinggi (8,7%).

Kelumpuhan nervus facialis

Cedera nervus facialis lebih sering terjadi pada fraktur transversal pada tulang temporal.
Sekitar 50% pasien dengan fraktur transversal memiliki kelumpuhan nervus facialis,
sedangkan 20% pasien dengan fraktur longitudinal memiliki kelumpuhan nervus facialis.
Insidensi fraktur longitudinal yang lebih tinggi (80%) dibandingkan fraktur transversal (20%)
membuat insidensi cedera nervus facialis pada fraktur longitudinal lebih sering terjadi. Lokasi
cedera saraf wajah pada fraktur tulang temporal paling sering terjadi di daerah perigenikulata
yaitu sebesar 82-93%.

Pada fraktur longitudinal, telinga media hampir selalu terlibat, meski kapsul otik tidak
terkena. Lokasi yang paling umum dari keterlibatan nervus facialis adalah segmen horizontal
dari bagian intratimpanic. Cedera biasanya disebabkan oleh kompresi dan iskemia. Beberapa
lokasi terlibat dalam 20% kasus, biasanya di bagian mastoid. Onset dapat segera atau tertunda
dan parsial atau komplit.

Pada fraktur transversal, kapsul otik ikut terkena. Kelumpuhan nervus facialis biasanya
terjadi komplit dan segera. Seringkali, terjadi avulsi atau terputusnya saraf karena terkena
pecahan tulang. Lokasi luka yang biasa terjadi adalah dari meatus akustikus internus ke
segmen horizontal distal ke ganglion genikulatum.

Terdapat perdebatan mengenai kelumpuhan nervus facialis yang mencakup keputusan untuk
dilakukannya operasi, waktu operasi, dan pendekatan bedah yang dipilih pada segmen yang
cedera. Evaluasi awal di unit gawat darurat sangat penting karena pasien dengan onset
kelumpuhan yang tertunda hampir selalu dapat sembuh. Oleh karena itu, onset yang tertunda
merupakan faktor prediktif yang paling penting untuk pemulihan saraf. Pasien dengan
kelumpuhan segera yang parsial juga hampir selalu sembuh. Kelumpuhan parsial
mencerminkan nervus facialis yang masih dapat berfungsi dengan kerusakan ringan dan
memiliki prognosis yang baik. Uji elektrodiagnostik biasanya tidak perlu dilakukan, dan
pasien ini harus diobati secara konservatif. Menentukan apakah kelumpuhan yang terjadi
segera merupakan kelumpuhan parsial atau komplit mungkin sulit dilakukan di unit gawat
darurat atau ICU. Infeksi telinga tengah dan mastoid dapat menyebabkan saraf yang awalnya
hanya terdenervasi sebagian menjadi terdenervasi secara total.

Kelumpuhan yang terjadi segera biasanya diakibatkan oleh terputusnya saraf. Terdapat
tingkat pemulihan yang lebih rendah untuk kelumpuhan dengan onset segera, sebuah fakta
yang menjadi kontroversi utama. Turner merawat 30 pasien dengan kelumpuhan komplit
secara konservatif dan melaporkan pemulihan yang baik pada 63% pasien. Maiman merawat
21 pasien dengan kelumpuhan wajah traumatis komplit dan melaporkan pemulihan penuh
pada 52% pasien dan pemulihan parsial pada 43% pasien. Jika dibandingkan dengan tingkat
pemulihan sebesar 55% jika dilakukan tindakan dekompresi saraf wajah, maka operasi
dekompresi tampaknya tidak diindikasikan. Sulit untuk menentukan apakah nervus facialis
telah terputus dan terkadang tidak mungkin diketahui tanpa eksplorasi bedah.

Keputusan untuk tindakan operasi dibuat dengan bantuan studi elektrodiagnostik. Umumnya
operasi harus dilakukan pada kasus "degenerasi saraf," terlepas dari onset kelumpuhan yang
terjadi segera atau tertunda. Studi elektrodiagnostik membantu petugas kesehatan untuk
membedakan degenerasi dan persentase degenerasi pada sisi trauma dibandingkan dengan
sisi normal.

Uji kelistrikan yang paling sering dipakai adalah tes stimulasi maksimum (MST), tes
eksitabilitas saraf (NET), elektroneuronografi (ENOG), dan elektromiografi (EMG).

Komplikasi Fraktur Tulang Temporal yang Tidak Biasa Terjadi

Perhatikan daftar di bawah ini:

Kelumpuhan saraf kranialis IX (glosofaringeal), X (vagus) dan XI (aksesorius): Saraf


kranial ini dapat ikut terkena pada fraktur foramen jugularis di apeks petrosus.
Penanganannya adalah secara konservatif
Kelumpuhan saraf kranialis VI (abdusens): Kondisi ini biasanya terjadi di daerah
kavum Meckel dan kanal Dorello. Pemulihan biasanya terjadi dalam waktu 6 bulan.
Terapi oklusi/patching mata mungkin merupakan satu-satunya tindakan yang
diperlukan.
Kelumpuhan saraf kranialis V (trigeminalis): Kondisi ini biasanya terjadi di daerah
kavum Meckel. Penatalaksanaannya secara konservatif. Otot mastikasi mungkin
terlibat.
Cedera arteri karotis intratemporal: Jenis cedera ini jarang terjadi, namun bisa sangat
berat dan bahkan mengancam nyawa. Jika fraktur kanalis karotis terlihat dengan CT
scan, maka kemungkinan telah terjadi cedera pada arteri karotis. Perdarahan yang
signifikan atau hebat dapat terlihat pada kanalis auditorik eksternal, hidung, dan
rongga mulut yang berkaitan dengan kemunduran status neurologis yang cepat.
Dalam kasus tersebut, perdarahan dapat dikontrol sebagian dengan memberi tekanan
pada lubang telinga, hidung, atau keduanya. Resusitasi dengan cairan infus segera
diperlukan pada pasien ini, serta persiapan untuk mengendalikan jalan napas dengan
intubasi. Setelah cedera arteri karotis telah diperiksa dan pasien cukup stabil, pasien
harus menjalani angiografi, oklusi balon, atau ligasi karotis. Oklusi balon tampaknya
lebih efektif untuk perdarahan hebat dibandingkan dengan ligasi.
Fistula kavernosus karotis adalah komplikasi vaskular yang tertunda dari fraktur
tulang temporal. Hal ini dicurigai jika terdapat eksoftalmus pulsatil atau nonpulsatil,
kemosis, dan bruit pada daerah yang terkena.
Trombosis sinus sigmoid: kondisi ini dapat terjadi namun jarang. Trombosis sinus
sigmoid biasanya terjadi secara aseptik dan asimtomatik. Hal ini dapat menyebabkan
peningkatan tekanan LCS dan septikemia jika ada infeksi. Diagnosis dibuat melalui
MRI, magnetic resonance angiography, magnetic resonance venography, atau
angiografi. Tanda Griesinger (trombosis vena emisari mastoid karena perluasan
trombus) juga bisa didapatkan. Penanganannya mungkin memerlukan eksplorasi sinus
dan ligasi vena jugularis di leher.
Kolesteatoma postraumatik: merupakan komplikasi lambat dari fraktur tulang
temporal dan disebabkan oleh jebakan kulit di kubah kranial atau tulang temporal.
Jaringan bisa tumbuh tanpa terdeteksi selama bertahun-tahun dan menjadi sangat
invasif karena ukurannya yang besar. Terapinya adalah dengan tindakan bedah.
Sindrom Elang Klasik: Kondisi ini mungkin terjadi setelah tonsilektomi. Sindrom ini
terdiri dari nyeri tenggorokan dengan sensasi benda asing yang terkait dengan disfagia
dan odinofagia. Sering juga didapatkan otalgia. Fraktur traumatik pada ligamentum
stiloideus dan stilohioideus yang mengalami osifikasi dapat menyebabkan penekanan
pada arteri karotis eksternal atau internal dan rangsang nyeri yang ditimbulkan dapat
dijalarkan ke pipi atau mata, menimbulkan nyeri yang tidak khas. Diagnosis tersebut
agak sulit dibuat setelah trauma terjadi dan dibuat dengan cara palpasi dan CT scan.
Pengurangan gejala dengan injeksi anestesi intraoral dapat membantu untuk
diagnosis. Pengobatannya adalah secara operatif.
Kokleolabirinitis simpatika: merupakan komplikasi fraktur tulang temporal yang
jarang terjadi. Kondisi ini signifikan secara klinis karena berpontensi untuk terjadinya
gangguan pendengaran pada telinga kontralateral. Etiologinya mungkin terkait dengan
inisiasi kerusakan telinga bagian dalam karena proses autoimun yang mentargetkan
protein telinga dalam, seperti yang terjadi pada poliarteritis nodosa. Fraktur koklea
dapat menyebabkan dilepaskannya antibodi telinga dalam dan menimbulkan
sensitisasi. Diagnosisnya sulit dibuat dan membutuhkan indeks kecurigaan klinis yang
tinggi. Hasil uji Western blot untuk antibodi antikoklear dapat positif maupun tidak.
Pengobatan mencakup imunosupressan.