Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PROFESIONALISME DAN KODE ETIK

Diajukan untuk memenuhi tugas Etika Profesi

Disusun oleh :

1. Adhiim Latifatur Rahmah NIM. 1431410075


2. Meilan Irma Dani NIM. 1431410118
3. Tri Aprillia Kusuma W. NIM. 1431410072

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Profesionalisme merupakan komitmen para anggota suatu profesi untuk
meningkatkan kemampuannya secara terus menerus. Sedangkan suatu pekerjaan
tertentu yang dilakukan berdasarkan keahlian khusus serta dijalankan dengan
penuh tanggung jawab biasa disebut profesi. Sebuah profesi harus dilandasi
dengan sikap profesional untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Seorang
profesional tidak serta merta diperoleh hanya karena dari keahlian semata,
melainkan juga diperoleh dari pengalaman terhadap praktik-praktik yang telah
dilakukan dalam pekerjaannya. Seorang profesional tersebut juga membawa
tanggung jawab yang besar dalam menjalankan profesinya, karena sebelumnya
mereka akan menjalani sumpah jabatan yang biasa disebut kode etik sebuah
profesi.
Kode etik untuk sebuah profesi adalah sumpah jabatan yang juga diucapkan
oleh para pejabat Negara. Kode etik dan sumpah adalah janji yang harus dipegang
teguh. Artinya, tidak ada toleransi terhadap siapa pun yang melanggarnya. Benar
adanya, dibutuhkan sanksi keras terhadap pelanggar sumpah dan kode etik
profesi. Bahkan, apabila memenuhi unsur adanya tindakan pidana atau perdata,
selayaknya para pelanggar sumpah dan kode etik itu harus diseret ke pengadilan.
Kode etik dan sumpah jabatan harus ditegakkan dengan sungguh-sungguh. Profesi
apa pun sesungguhnya tidak memiliki kekebalan di bidang hukum.
Penyalahgunaan profesi dengan berlindung di balik kode etik profesi harus
diberantas.

1.2 Tujuan
1. Menelaah beberapa kode etik dalam masyarakat engineering profesional
2. Menentukan apakah engineering adalah suatu profesi
3. Memahami kode etik
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Profesionalisme
Menurut kamus besar bahasa indonesia (2002:897) profesionalisme adalah
mutu, kualitas dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau orang
yang profesional. Seseorang dikatakan profesional jika memenuhi tiga kriteria,
yaitu mempunyai keahlian untuk melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya,
melaksanakan tugas sesuai dengan bidangnya, melaksanakan suatu tugas atau
profesi dengan menetapkan standar baku dibidang profesi yang bersangkutan dan
menjalankan tugas profesinya dengan mematuhi etika profesi yang telah
ditetapkan (Fujianti, 2012)
Gunz dan Gunz (1994) menyatakan bahwa untuk menjadi seorang
profesional sejati, seseorang harus memiliki komitmen profesional yang tinggi
untuk menggunakan waktu dan energinya dalam mempelajari dan mempraktikkan
pengetahuan dan ketrampilan profesionalnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan
ketrampilan adalan pondasi dari profesinalisme yang dapat meningkatkan
kompetensi profesional mereka. Alasan utama mengharapkan tingkat perilaku
profesional yang tinggi oleh setiap profesi adalah kebutuhan akan kepercayaan
publik atas kualitas jasa yang diberikan oleh profesi, tanpa memandang individu
yang menyediakan jasa tersebut.
Kalbers dan Forgarty (1995) berpendapat bahwa profesi dan
profesionalisme merupakan dua hal yang berbeda. Profesi merupakan jenis
pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria dan merupakan pekerjaan yang
dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang
mengandalkan suatu keahlian, sedangkan profesionalisme merupakan suatu
atribut indivual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan profesi
atau tidak. Sebuah profesi harus memiliki sebuah aturan standar profesional yang
memandu proses penyampaian jasa-jasa profesional. Hal tersebut dikarenakan
adanya perhatian terhadap kepentingan-kepentingan para pemegang saham dan
pihak-pihak luar lain yang menyangkut perilaku perusahaan dan ini merupakan
sebuah tanggungjawab sosial yang penting (Agustia, 2007).
Hall (1968) menyatakan bahwa ada lima dimensi profesionalisme, yaitu :
a. Afiliasi Komunitas (community affiliation) yaitu menggunakan ikatan profesi
sebagai acuan, termasuk didalamnya organisasi formal dan kelompok-kelompok
kolega informal sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para
profesional membangun kesadaran profesi.
b. Kebutuhan untuk mandiri (autonomy demand) merupakan suatu pandangan
bahwa seseorang yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri
tanpa tekanan dari pihak lain (Pemerintah, klien, mereka yang bukan anggota
profesi). Setiap adanya campur tangan (intervensi) yang datang dari luar,
dianggap sebagai hambatan terhadap kemandirian secara profesional. Banyak
yang menginginkan pekerjaan yang memberikan hak-hak istimewa untuk
membuat keputusan dan bekerja tanpa diawasi secara ketat. Rasa kemandirian
dapat berasal dari kebebasan melakukan apa yang terbaik menurut karyawan yang
bersangkutan dalam situasi khusus. Dalam pekerjaan yang terstruktur dan
dikendalikan oleh manajemen secara ketat, akan sulit menciptakan tugas yang
menimbulkan rasa kemandirian dalam tugas.
c. Keyakinan terhadap peraturan sendiri/profesi (belief self regulation) dimaksud
bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional adalah rekan
sesama profesi, buka orang luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam
bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
d. Dedikasi pada profesi (dedication) dicerminkan dari dedikasi profesional
dengan menggunakan pengetahuan dan kecakan yang dimiliki. Keteguhan untuk
tetap melaksanakan pekerjaan meskipun imbalan ekstrinsik berkurang. Sikap ini
merupakan ekspresi dari pencurahan diri yang total terhadap pekerjaan. Pekerjaan
didefinisikan sebagai tujuan. Totalitas ini sudah menjadi komitmen pribadi,
sehingga kompensasi utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan
rohani dan setelah itu baru materi.
e. Kewajiban sosial (social obligation) merupakan pandangan tentang pentingnya
profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun profesional
karena adanya pekerjaan tersebut.
Tujuh Syarat Pekerjaan Profesional
1. Pekerjaan tersebut adalah untuk melayani orang banyak (umum)
2. Bagi yang ingin terlibat dalam profesi dimaksud, harus melalui pelatihan yang
cukup lama dan berkelanjutan
3. Adanya kode etik dan standar yang ditaati berlakunya di dalam organisasi
tersebut
4. Menjadi anggota dalam organisasi profesi dan selalu mengikuti pertemuan
ilmiah yang diselenggarakan oleh organisasi profesi tersebut
5. Mempunyai media/publikasi yang bertujuan untuk meningkatkan keahlian dan
ketrampilan anggotanya
6. Kewajiban menempuh ujian untuk menguji pengetahuan bagi yang ingin
menjadi anggota
7. Adanya suatu badan tersendiri yang diberi wewenang oleh pemerintah untuk
mengeluarkan sertifikat

Tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian
"jasa profesi" (dan bukan okupasi) ialah
Bahwa kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan
demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak
terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;
Bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis
yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau
pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;
Bahwa kerja seorang profesional - diukur dengan kualitas teknis dan kualitas
moral - harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode
etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi
profesi.

Ciri-Ciri Profesionalisme
Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong
dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang profesional. Kualitas profesionalisme
didukung oleh ciri-ciri sebagai berikut :
a. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati ideal.
Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha
mewujudkan dirinya sebagai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan
mengidentifikasi dirinya kepada seseorang yang dipandang memiliki
piawaian tersebut. Yang dimaksud dengan piawai ideal ialah suatu
perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai
rujukan.
b. Meningkatkan dan memelihara image profesion
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk
selalu meningkatkan dan memelihara image profesion melalui perwujudan
perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai cara
misalnya penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap tubuh
badan, sikap hidup harian, dan hubungan dengan individu lainnya.
c. Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional
yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan
ketrampilannya.
d. Mengejar kualitas dan cita-cita dalan profesion
Profesionalisme ditandai dengan kualitas derajat rasa bangga akan profesion
yang dipegangnya. Dalam hal ini diharapkan agar seseorang itu memiliki rasa
bangga dan percaya diri akan profesinya.

2.2. Engineering sebagai profesi


Profesi adalah suatu bentuk pekerjaan yang mengharuskan pelakunya
memiliki pengetahuan tertentu yang diperoleh melalui pendidikan formal dan
keterampilan tertentu yang didapat melalui pengalaman kerja pada orang yang
terlebih dahulu menguasai keterampilan tersebut, dan terus memperbaharui
ketrampilannya sesuai dengan perkembangan teknologi. Tidak semua pekerjaan
adalah profesi, contohnya pekerjaan staf administrasi tidak masuk dalam golongan
profesi karena untuk bekerja sebagai staf administrasi seseorang bisa dari berbagai
latar belakang pendidikan, pengetahuan dan pengalaman, sedangkan akuntan
merupakan profesi karena seseorang yang bekerja sebagai akuntan haruslah
berpendidikan akuntansi dan memiliki pengalaman kerja beberapa tahun di kantor
akuntan (Hermawan, 2009).
Pada profesi yang melibatkan hidup orang banyak, gelar keprofesionalan
tersebut harus didapatkan melalui pengujian oleh organisasi profesional yang
diakui secara nasional atau internasional, dan hanya kandidat yang lulus yang
berhak menyandang gelar profesi ini dan melakukan pekerjaan untuk profesi ini.
Contoh yang paling jelas adalah profesi dokter (kesehatan manusia) di Indonesia,
hanya sarjana kedokteran yang menjadi anggota dari IDI boleh melakukan praktek
kedokterannya (Hermawan, 2009). Setiap disiplin dalam bidang teknik
mempunyai organisasi profesionalnya sendiri, seperti misalnya Persatuan Insinyur
Elektro dan Elektronika (Institute of Electrical and Electrnics Engineers (IEEE))
untuk para insinyur elektro dan Perkumpulan Insinyur Teknik Mesin Amerika
(American Society of Mechanical Enginneers (ASME)) untuk para insinyur
mesin.
Bila dimasukkan dalam definisi profesi di atas, Engineer bisa digolongkan
sebagai sebuah profesi. Deskripsi kerja dari seorang Engineer adalah melakukan
aktivitas engineering (analisa, rekayasa, spesifikasi, implementasi, dan validasi)
untuk menghasilkan produk digunakan untuk memecahkan masalah pada berbagai
bidang (Hermawan, 2009). Dan seorang engineer harus memiliki pengetahuan
mendalam tentang bidangnya, sama seperti dokter. Tidak semua orang bisa
melaksanakan pekerjaan seorang dokter, hanya orang yang memiliki pengetahuan
mendalam tentang bidang kedokteran dan memiliki pengalaman yang mendalam
tentang bidang kedokteran yang bisa menjalankan pekerjaan seorang dokter.

2.3. Kode Etik Profesi


2.3.1 Pengertian Kode Etik Profesi
Kamus besar Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1988, mendefinisikan etik sebagai (1) kumpulan asas atau nilai yang
berkenaan dengan akhlak; (2) nilai mengenai benar dan salah yang dianut
suatu golongan atau masyarakat sedangkan etika adalah ilmu tentang apa
yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak).
Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang
secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan
tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau
salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari. Kode
Etik juga dapat diartikan sebagai pola aturan, tata cara, tanda, pedoman etis dalam
melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan. Kode etik merupakan pola aturan atau
tata cara sebagai pedoman berperilaku. Tujuan kode etik agar profesional
memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya (Angelina,
2014).
Dalam kaitannya dengan profesi, bahwa kode etik merupakan tata cara atau
aturan yang menjadi standart kegiatan anggota suatu profesi. Suatu kode etik
menggambarkan nilai-nilai professional suatu profesi yang diterjemahkan
kedalam standart perilaku anggotanya. Nilai professional paling utama adalah
keinginan untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat. Ketaatan tenaga
profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu
dengan pikiran, jiwa dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk
dari masing-masing orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga
profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan
rusak dan yang rugi adalah dia sendiri.
Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat perkembangan
zaman maka kode etik mungkin menjadi usang atau sudah tidak sesuai dengan
tuntutan zaman. Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-
masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Kode etik dijadikan standart aktvitas
anggota profesi, kode etik tersebut sekaligus sebagai pedoman (guidelines).
Masyarakat pun menjadikan sebagai perdoman dengan tujuan mengantisipasi
terjadinya bias interaksi antara anggota profesi. Bias interaksi merupakan
monopoli profesi, yaitu memanfaatkan kekuasan dan hak-hak istimewa yang
melindungi kepentingan pribadi yang betentangan dengan masyarakat. Oteng/
Sutisna (1986: 364) mendefinisikan bahwa kode etik sebagai pedoman yang
memaksa perilaku etis anggota profesi.
Konvensi nasional IPBI ke-1 mendefinisikan kode etik sebagai pola
ketentuan, aturan, tata cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan aktifitas
maupun tugas suatu profesi. Bahasannya setiap orang harus menjalankan serta
menjiwai akan Pola, Ketentuan, aturan karena pada dasarnya suatu tindakan yang
tidak menggunakan kode etik akan berhadapan dengan sanksi.

2.3.2 Fungsi dan tujuan Kode etik profesi


Pada dasarnya kode etik memiliki fungsi ganda yaitu sebagai perlindungan
dan pengembangan bagi profesi. Fungsi seperti itu sama seperti apa yang
dikemukakan Gibson dan Michel yang lebih mementingkan pada kode etik
sebagai pedoman pelaksanaan tugas prosefional dan pedoman bagi masyarakat
sebagai seorang professional.
Biggs dan Blocher mengemukakan tiga fungsi kode etik yaitu :
1. Melindungi suatu profesi dari campur tangan pemerintah.
2. Mencegah terjadinya pertentangan internal dalam suatu profesi.
3. Melindungi para praktisi dari kesalahan praktik suatu profesi.
Tujuan dari kode etik :
1. Untuk menjunjung tinggi martabat profesi.
2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota.
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.
4. Untuk meningkatkan mutu profesi.
5. Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi.
6. Meningkatkan layanan di atas keuntungan pribadi.
7. Mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
8. Menentukan baku standarnya sendiri.

2.3.3 Kode etik organisasi engineering


Menurut Wijarnako (2011), Kode etik yang harus dimiliki oleh engineer yaitu:
1. Menerima tanggung jawab dalam pengambilan keputusan engineering
yang taat asas pada keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan publik, dan
segera menyatakan secara terbuka fatktor-faktor yang dapat
membahayakan publik atau lingkungan.
2. Menghindari konflik interes nyata atau yang terperkirakan sedapat
mungkin, dan membukakannya pada para pihak yang terpengaruh ketika
muncul.
3. Akan jujur dan realistis dalam menyatakan klaim atau perkiraan menurut
data yang tersedia.
4. Menolak sogokan dalam segala bentuknya.
5. Mengembangkan pemahaman teknologi, aplikasi yang sesuai, dan
kemungkinan konsekuensinya.
6. Menjaga dan mengembangkan kompetensi teknis dan mengambil tugas
teknologi yang lain hanya bila memiliki kualifikasi melalui pelatihan atau
pengalaman, atau setelah menyatakan secara terbuka keterbatasan
relevansi kami.
7. Memperlakukan dengan adil semua orang tanpa bergantung pada faktor-
faktor seperti ras, agama, jenis kelamin, keterbatasan fisik, umur dan asal
kebangsaan.
8. Berupaya menghindari kecelakaan pada orang lain, milik, reputasi, atau
pekerjaan dengan tindakan salah atau maksud jahat.
9. Membantu rekan sejawat dan rekan sekerja dalam pengembangan profesi
mereka dan mendukung mereka dalam mengikuti kode etik ini.

2.3.4 Keberatan-Keberatan dalam Kode Etik


Tidak semua seorang profesi menerima aturan kode etik sebuah profesi
tersebut. Meskipun kode etik banyak digunakan secara luas oleh banyak
organisasi, namun dalam praktiknya sangat sedikit yang menggunakan.
Kebanyakan seorang engineer lebih menerima apabila pekerjaannya tidak terlalu
diatur. Sehingga mereka beranggapan, selama masih dalam batas prosedur yang
berlaku, mereka dapat menjalankan pekerjaan tersebut sesuai yang mereka
inginkan (dalam hal ini tidak menyimpang pada fokus pekerjaan). Keberatan-
keberatan dalam kode etik inilah dinilai karena kode etik sendiri tidak mampu
menyelesaikan masalah secara maksimal melainkan ada yang menimbulkan
masalah-masalah baru lainnya.
2.3.5 Sanksi Pelanggaran Kode Etik
a. Sanksi moral
Sanksi moral yang didapat seorang pelanggar kode etik biasanya tak
terlihat secara nyata. Artinya, sanksi tersebut akan berpengaruh terhadap
mental pelanggar tersebut. Karena penilaian orang lain terhadap dirinya akan
berbeda dari sebelumnya. Misalnya, pelanggar tersebut tidak akan mendapat
kepercayaan penuh, merasa malu terhadap dirinya yang telah melakukan
pelanggaran tersebut, bahkan merasa dikucilkan oleh orang disekitarnya.
b. Sanksi dikeluarkan dari organisasi
Menurut Angelina (2014), Kasus-kasus pelanggaran kode etik akan
ditindak dan dinilai oleh suatu dewan kehormatan atau komisi yang dibentuk
khusus untuk itu. Karena tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku
yang tidak etis, seringkali kode etik juga berisikan ketentuan-ketentuan
profesional, seperti kewajiban melapor jika ketahuan teman sejawat
melanggar kode etik. Ketentuan itu merupakan akibat logis dari self
regulation yang terwujud dalam kode etik; seperti kode itu berasal dari niat
profesi mengatur dirinya sendiri, demikian juga diharapkan kesediaan profesi
untuk menjalankan kontrol terhadap pelanggar. Namun demikian, dalam
praktek sehari-hari control ini tidak berjalan dengan mulus karena rasa
solidaritas tertanam kuat dalam anggotaanggota profesi, seorang profesional
mudah merasa segan melaporkan teman sejawat yang melakukan
pelanggaran. Tetapi dengan perilaku semacam itu solidaritas antar kolega
ditempatkan di atas kode etik profesi dan dengan demikian maka kode etik
profesi itu tidak tercapai, karena tujuan yang sebenarnya adalah
menempatkan etika profesi di atas pertimbangan-pertimbangan lain. Lebih
lanjut masing-masing pelaksana profesi harus memahami betul tujuan kode
etik profesi baru kemudian dapat melaksanakannya.
Kode Etik Profesi merupakan bagian dari etika profesi. Kode etik
profesi merupakan lanjutan dari norma-norma yang lebih umum yang telah
dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Kode etik ini lebih memperjelas,
mempertegas dan merinci norma-norma ke bentuk yang lebih sempurna
walaupun sebenarnya norma-norma tersebut sudah tersirat dalam etika
profesi. Dengan demikian kode etik profesi adalah sistem norma atau aturan
yang ditulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan
tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang
dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang professional.
DAFTAR PUSTAKA

Agustia, Dian. 2007. Pengaruh Profesionalisme Auditor terhadap Job


satisfaction, Komitmen Organisasi, Job Performance serta Turnover
Intentions. Vol. 5 No. 3, Media Mahardika.
Angelina, Dessy Novita. 2014. Kode Etik Profesi. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Yayasan Administrasi Indonesia. Jakarta.
Fujianti, Lailah. 2012. Pengaruh Profesionalisme Terhadap Komitmen Organisasi
Dan Kepuasan Kerja Serta Dampaknya Terhadap Kinerja Akuntan
Publik. Prosiding Seminar Nasional Forum Bisnis dan Keuangan ISBN
: 978-602-17225-0-3.
Gunz, Hugh P. Dan Gunz, sarah P.. 1994. Profesional/Organizational
Commitment and Job Satisfaction for Employed Lawyers, dalam
Pengaruh Profesionalisme Terhadap Kinerja, Komitmen Organisasi,
Kepuasan kerja, Turnover Intentions dan Independen Akuntan Publik.
Human Relation Journal Vol. 47, hal 801-827.
Hall, Richard H.. 1968. Profesionalization and Bureaucratation, dalam
Pengaruh Profesionalisme Terhadap Kinerja, Komitmen Organisasi,
Kepuasan kerja, Turnover Intentions dan Independen Akuntan Publik.
American Sociological Reviwe Vol. 33 No. 1 hal 92-104.
Hasan, Alwi, dkk.. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional Balai Pustaka.
Hermawan, Julius. 2009. Software Engineer Sebagai Sebuah Profesi (Online).
http://www.oocities.org/hermanjul/SEProf.htm. Diakses pada 29 Maret
2017.
Kalbers, Lawrence P. Dan Forgarty, Timothy J..1995. Profesional and it
consequences: a study of internal auditors, dalam Pengaruh
Profesionalisme Terhadap Kinerja, Komitmen Organisasi, Kepuasan
kerja, Turnover Intentions dan Independen Akuntan Publik. Auditing
Journal of Practice and Theory (spring), Vol. 14 No.1, hal 64-85.
Wijanarko. 2011. Etika Profesi Seorang Engineer. (online)
https://bongez.wordpress.com/2011/04/23/etika-profesi-seorang-
engineer/. Diakses tanggal 28 Maret 2017