Anda di halaman 1dari 7

Resume Teori Akuntansi 8

Joza Santoso; Nomor absen: 18; 1401160205; 9-3 Alih Program


Bab IV Godfrey Edisi 7

A Conceptual Framework

PERAN KERANGKA KONSEPTUAL

1. Kerangka konseptual akuntansi bertujuan untuk menyediakan teori akuntansi yang


terstruktur. Dalam level teoritis tertinggi, kerangka konseptual menyatakan lingkup dan
tujuan pelaporan keuangan.
2. Pada level konseptual fundamental berikutnya, kerangka konseptual mengidentifikasi
dan mendefinisikan karakteristik kualitatif dari informasi keuangan seperti Relevance,
Reliability, Comparability, Timeliness, dan Understandability dan dasar dari elemen-
elemen akuntansi seperti Aset, Kewajiban, Ekuitas, Pendapatan, Beban, dan
Keuntungan.
3. Pada level operasional bawah, kerangka konseptual berisi prinsip-prinsip dan aturan
pengakuan dan pengukuran elemen-elemen dasar dan jenis informasi yang akan
disajikan dalam laporan keuangan.
4. Menurut FASB, kerangka konseptual adalah sebuah sistem koheren mengenai dasar
dan tujuan yang saling terkait yang diharapkan dapat menghasilkan standar yang
konsisten dan mengatur sifat, fungsi, dan batasan dalam akuntansi dan pelaporan
keuangan.
5. Kata sistem koheren dan konsisten mengindikasikan bahwa FASB menganjurkan
kerangka teoritis dan non-arbitrary, dan kata prescribes mendukung pendekatan
normatif.

Persoalan

6. Terdapat beberapa perdebatan mengenai pembentukan kerangka konseptual. Yang


pertama, beberapa akuntan berpendapat bahwa merumuskan teori akuntansi yang
umum melalui sebuah kerangka konseptual itu tidak perlu. Menurut mereka,
sebelumnya belum pernah ada kerangka konseptual dan para profesional tetap dapat
bertahan tanpa formulasi teori akuntansi yang bersifat umum.
7. Persoalan kedua, beberapa pihak bertahan pada pandangan mereka bahwa akuntansi
saat ini bersifat terlalu permisif karena mengizinkan berbagai alternatif akuntansi untuk
diterapkan dalam situasi dan kondisi yang sama.
8. Persoalan berikutnya adalah masalah inkonsistensi dalam penerapan akuntansi saat
ini. Mengizinkan entitas untuk memilih metode akuntansi mereka sendiri dalam
batasan prinsip akuntansi berlaku umum (PABU) cenderung berpotensi menciptakan
inkonsistensi.
9. Persoalan terakhir adalah banyaknya intervensi politik dalam netralitas pelaporan
akuntansi. Solomon berpendapat bahwa kebijakan akuntansi hanya dapat
diimplementasikan dengan membuat sebuah value judgement, tetapi tidak ada cara
untuk membuktikan bahwa value judgement suatu individual atau grup mana yang
lebih baik untuk masyarakat.
Manfaat

10. Manfaat dari kerangka konseptual menurut badan di Australia diikhtisarkan sebagai
berikut:
a. Persyaratan pelaporan akan menjadi lebih konsisten dan lebih logis karena
kerangka berasal dari serangkaian konsep yang teratur
b. Penghindaran akan persayaratan pelaporan akan menjadi lebih sulit
c. Badan yang menerbitkan persyaratan akan lebih akuntabel untuk setiap tindakan
dan keputusan akuntansi yang dilakukannya
d. Kebutuhan akan standar akuntansi yang spesifik menjadi berkurang dan
meminimalisasi risiko dari regulasi berlebihan atas standar akuntansi yang spesifik
tersebut.
e. Pengguna laporan keuangan dan auditor akan dapat lebih memahami persyaratan
lapran keuangan yang mereka hadapi
f. Pengaturan mengenai persyaratan akan lebih ekonomis karena persoalan tidak
lagi mengundang banyak perdebatan.

TUJUAN KERANGKA KONSEPTUAL

11. Laporan keuangan harus menyediakan informasi yang berguna untuk dsajikan kepada
investor potensial, kreditor, dan pengguna lainnya dalam membuat keputusan
investasi, kredit, atau keputusan serupa lainnya yang rasional.
12. Baik IASB dan FASB dalam kerangkanya mempertimbangkan bahwa tujuan utama
dari pelaporan keuangan adalah untuk mengomunikasikan informasi keuangan
kepada para pengguna. Oleh karena itu informasi yang baik seharusnya,
a. Berguna dalam proses pengambilan keputusan ekonomi
b. Berguna dalam menaksir prospek arus kas di masa depan
c. Mengenai sumber daya perusahaan, klaim terhadap sumber daya tersebut beserta
perubahannya

Karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi

MENGEMBANGKAN KERANGKA KONSEPTUAL


13. Pengembangan kerangka konseptual dipengaruhi oleh dua persoalan kunci yaitu:
a. Principles Approaches vs Rules-Based Approach untuk pengaturan standar
b. Informasi untuk pembuatan keputusan dan Decision Theory Approach

Principle Based dan Rule Based Dalam Pengaturan Standar

14. IASB ditujukan untuk membuat standar principle-based dan pembuatannya mengacu
kepada kerangka konseptual sebagai dasarnya. IASB menunjukkan ide dasar yang
menyokong pengembangan standar dan membantu para pengguna dalam
menginterpretasikan standar.
15. Tetapi standar lain seperti IAS 39 di sisi lain dikritik karena menjadi terlalu rule-based.
Menurut Nobes alasan suatu standar menjadi rule-based adalah standar tersebut
inkonsisten dengan kerangka konseptual. Nobes berpendapat bahwa penggunaan
prinsip yang tepat dapat membawa kepada komunikasi yang lebih jelas dan presisi
tanpa butuh aturan detail yang saat ini tercakup dalam standar.
16. Walaupun demikian, terdapat beberapa manfaat dari penerapan rule-base standard
berupa peningkatan komparabilitas dan veifiabilitas bagi para auditor dan regulator.
17. Standar FASB selama ini secara tradisional merupakan rule-based standard. Standar
tersebut menekankan pada prinsip yang telah diberikan.
18. Studi yang direkomendasikan bahwa standar akuntansi yang dikembangkan
menggunakan pendekatan principle-based seharusnya mempunyai karakteristik
berikut ini:
a. Berdasarkan improvisasi dari penerapan kerangka konseptual yang konsisten
b. Secara jelas menyatakan tujuan dari standar
c. Menyediakan detail dan struktur yang cukup bahwa standar dapat
dioperasionalisasikan dan diterapkan dalam dasar yang konsisten
d. Meminimalisasi penggunaan pengecualian dari standar
e. Menghindari penggunaan percentage tests yang mengizinkan ahli keuangan untuk
meraih ketaatan teknis menurut standar ketika menghindari maksud dari standar

Informasi Untuk Pengambilan Keputusan dan Pendekatan Decision-Theory

19. Data akuntansi dibutuhkan untuk pengambilan keputusan atau untuk tujuan
akuntabilitas. Informasi akuntansi untuk pengambilan keputusan dimulai dari fungsi
pertanggungjawaban.
20. Sejak awal tahun 1960, penekanan justru ditempatkan pada aspek pengambilan
keputusan dari informasi akuntansi. Salah satu alasan dari penekanan ini adalah
pengembangan dari decision theory.
21. Informasi untuk pengambilan keputusan bagaimanapun juga tidak dilihat sebagai
pengganti informasi terkait dengan pertanggungjawaban dan akuntabilitas. Informasi
untuk pengambilan keputusan mempunyai makna lebih dari informasi untuk
pertanggungjawaban.
a. Pertama, pengguna informasi keuangan diperluas untuk memasukkan semua
penyedia sumber daya (seperti investor potensial dan kreditur)
b. Kedua, informasi akuntansi dilihat sebagai data masukan untuk model prediksi
para pengguna
c. Ketiga, ketika pertanggungjawaban terkonsentrasi terutama dengan masa lalu
dengan tujuan untuk menaksir apa saja yang telah tercapai, prediksi melihat jauh
ke masa depan. Informasi akuntansi untuk pengguna eksternal tentu saja
berdasarkan kejadian di masa lalu, tetapi masa depan tidak dapat diabaikan ketika
pengambilan keputusan dijadikan tujuan dari akuntansi
22. Pendekatan decision-theory menggambarkan proses dimana output-output dari
sistem akuntansi menyediakan input-input pada model keputusan pengguna. Proses
decision-theory digambarkan sebagai berikut:

23. Setelah output sistem akuntansi dievaluasi, selanjutnya harus dipertimbangkan


informasi mana yang harus diperluas yang berguna dalam jangkauan para pengambil
keputusan.

Pengembangan Internasional: Kerangka Konseptual IASB dan FASB

24. Pada tahun 2004, FASB dan IASB setuju untuk menjalankan rancangan gabungan
untuk mengembangkan sebuah improvisasi dari kerangka konseptual yang biasa atau
telah ada. Kerangka revisi akan membangun kerangka FASB dan IASB yang telah
ada.
25. Badan menyatakan bahwa kerangka tersebut penting untuk memenuhi tujuan badan
dalam pengembangan standar yang bersifat principle-based, konsisten secara internal,
dan dapat dikonversi secara internasional. Mereka memelihara bahwa standar
tersebut akan mengarahkan pada pelaporan keuangan yang menyediakan informasi
yang dibutuhkan oleh penyedia modal untuk membuat keputusan dalam kapasitas
mereka sebagai penyedia modal.
26. Sebuah Exposure Draft (ED) telah dihasilkan pada Juni 2009 yang berisi
penangguhan pertimbangan atas persoalan sektor nonprofit.
27. ED tersebut mempunyai beberapa area yang menjadi perdebatan yaitu:
a. Entitiy vs Proprietorship Perspective
Entitas dan pemilikan menggambarkan pendekatan yang berbeda dalam
pelaporan keuangan
Badan merekomendasikan bahwa laporan keuangan harus dipersiapkan
dari perspektif entitas daripada perspektif pemilik atau kelas pemilik
tertentu
Banyak responden setuju bahwa entitas berbeda dari pemiliknya dan
dengan demikian setuju dengan pelaporan dari perspektif entitas.
b. Primary User Group
Badan menyatakan bahwa grup pengguna utama untuk tujuan umum
pelaporan keuangan ada dan merupakan penyedia modal yang potensial
Kebanyakan responden setuju dengan pendekatan Badan bahwa
penyedia modal potensial (para kreditur) sebuah entitas adalah Primary
User Group.
Responden lain mengkritisi fokus hanya pada primary user group dan
efeknya dapat terjadi pada pengakuan kebutuhan pihak lain, seperti untuk
kegiatan kemanusiaan dan monitoring corporate governance.
c. Decision Usefulness and Stewardship
Berdasarkan kebijakan Badan, tujuan pelaporan keuangan harus cukup
luas untuk mencakup seluruh keputusan yang dibuat oleh investor dan
kreditur dalam kapasitas mereka sebagai penyedia modal, termasuk
keputusan alokasi sumber daya dan juga keputusan yang dibuat untuk
melindungi dan meningkatkan investasi mereka.
d. Karakteristik Kualitatif
Perdebatan mengenai empat karakteristik kualitatif utama dalam kerangka
IASB: Understandability, Relevance, Reliability, dan Comparability.
28. Australia, Selandia Baru, Kanada, dan Britania Raya menerapkan pendekatan sector-
neutral yang menerapkan standar yang sama (tanpa perbedaan) bagi seluruh sektor,
baik sektor profit maupun sektor nonprofit.
29. Umpan balik dari Pengatur Standar Nasional menyarankan tiga area di mana
pertimbangan Badan saat ini mengangkat persoalan-persoalan mengenai sektor
nonprofit tersebut. Tiga area tersebut adalah:
a. Penekanan yang tidak memadai akan akuntabilitas dan pertanggungjawaban
b. Kebutuhan untuk memperluas pengguna yang teridentifikasi dan menerbitkan
alternatif primary user group
c. Ketidakakuratan fokus arus kas
30. Akan tetapi, memperluas kerangka konseptual mencakup sektor nonprofit akan
meningkatkan beban kerja Badan dan menghadapkan pada risiko dan kesulitan yang
lebih besar dalam mencapai keputusan. Oleh karena itu, IFACs IPSASB telah
memulai rancangan untuk mengembangkan kerangka konseptual untuk entitas sektor
publik.

KRITIK ATAS RANCANGAN KERANGKA KONSEPTUAL

31. Pengembangan kerangka konseptual menemui berbagai kritik di berbagai negara.


Terdapat dua pendekatan yang digunakan dalam analisis ini: pendekatan ilmiah dan
pendekatan profesional.
32. Asumsi pertama menyatakan bahwa kerangka konseptual harus menjadi sebuah
pendekatan ilmiah berdasarkan metode yang digunakan di area lain dalam
penyelidikan ilmiah. Akuntansi harus menjustifikasi validitas sumber daya dengan
logika dan pendekatan empiris atau keduanya.
33. Asumsi kedua adalah pendekatan profesional yang berkonsentrasi pada meresepkan
tindakan terbaik dengan menggunakan professional values.
34. Kerangka konseptual dikritik karena masih ditemukan masalah pada pendefinisian dan
pengukuran.
35. Area kritik pertama berasal dari kritik ilmiah. Kritik-kritik tersebut adalah:
a. Preskriptif
b. Konvensi dan aturan yang tidak spesifik
c. Tidak menyelesaikan persoalan pengungkapan zaman sekarang
d. Terdapat banyak definisi yang ambigu
e. Tidak menyelesaikan persolan pengukuran
f. Terdapat risiko pengambilan keputusan mekanis
g. Kerangka dapat saja berakhir dengan sendirinya
h. Terlalu bergantung pada definisi

Ontological and Epistemological Assumptions

36. Melalui rancangan kerangka konseptual, fokus diarahkan kepada menyediakan


informasi kepada pengguna laporan keuangan dalam bentuk yang tidak bias dan
objektif.
37. Bebas dari bias atau netralitas didefinisikan sebagai sebuah kualitas informasi yang
menghindari pengguna pada konklusi yang mengamankan kebutuhan tertentu,
keinginan, atau prasangka tertentu dari para pembuatnya.
38. Solomon menjelaskan akuntansi yang bebas dari bias sebagai financial mapmaking,
semakin baik sebuah peta, semakin lengkap peta tersebut menunjukkan fenomena
yang kompleks yang dipetakan.
39. Sedangkan menurut Feyerabend, kebenaran ilmiah bersifat tidak absolut melainkan
hanya merujuk pada pernyataan tentang sebuah realita yang terkonstruksi.
40. Hines mengatakan bahwa masalah dari pendekatan yang diadopsi oleh rancangan
kerangka konseptual IASB adalah bahwa di dalam komunitas ilmiah, realita sekarang
dipandang sebagai konstruksi dan dilanjutkan oleh praktisi sosial, sehingga
mencemari persepsi akuntan mengenai realitas ekonomi

Circularity of Reasoning

41. Tujuan dari kerangka konseptual adalah untuk memberikan petunjuk praktik akuntansi
sehari-hari.
42. Sebuah pandangan dangkal akan kerangka konseptual mengindikasikan bahwa
akuntan setidaknya mengikuti satu jalur ilmiah yang menyimpulkan dasar dan praktik
dari teori yang digeneralisasi.
43. Kerangka yang sudah ada di berbagai negara dilambangkan oleh sirkularitas internal.
Contohnya adalah pernyataan FASB nomor 2 yang menyebutkan kualitas informasi
seperti reliabilitas dinyatakan bergantung pada pencapaian karakteristik kualitatif
lainnya seperti penyajian secara jujur, netralitas, dan verifiabilitas.
44. Karakteristik kualitatif sering dinyatakan dalam istilah karakteristik kualitatif lain yang
tidak dioperasionalisasi.

An Unscientific Discipline

45. Pertanyaan yang timbul adalah, Apakah akuntansi adalah sebuah ilmu sains?
Kerangka konseptual telah mencoba untuk mengadopsi pendekatan ilmiah deduktif,
akan tetapi pendekatan ini dipertanyakan jika akuntansi tidak dikualifikasikan sebagai
sains.
46. Stamp berpendapat bahwa hingga kita yakin dalam pikiran kita tentang sifat dasar dari
akuntansi, adalah sia-sia belaka bagi profesi akuntansi untuk menginvestasikan
sumber daya yang besar dalam mengembangkan kerangka konseptual untuk
mendukung standar akuntansi.
47. Stamp juga mempertimbangkan bahwa akuntansi berkaitan lebih dekat dengan hukum
dibandingkan dengan physical science.

Positive Research

48. Rancangan kerangka konseptual mengabaikan penemuan empirik dari penelitian


akuntansi positif. Justru terkadang menimbulkan konflik satu sama lainnya.
49. Teori ini juga menemukan bukti bahwa pasar modal tidak efisien. Jika kerangka
konseptual dapat menjamin pengguna menerima informasi yang bermanfaat,
kerangka konseptual barulah dapat dikatakan menyajikan tujuan yang berguna.

Kerangka Konseptual Sebagai Sebuah Dokumen Kebijakan

50. Sebagai Badan Pengetahuan yang bersifat umum, kerangka konseptual gagal dalam
sejumlah tes ilmiah. Walau kita berpendapat bahwa realita hanya berupa sebuah
konstruksi sosial, tidak ada proses deduktif yang melekat dalam kerangka untuk
menerapkannya dalam fenomena empiris dengan tujuan untuk mengubah realitas
menjadi pernyataan yang lebih diinginkan dalam istilah tujuan asumsi.
51. Perbedaan antara teori dan kebijakan adalah sangat penting. Kerangka konseptual
tidak dihasilkan dalam kondisi vakum politik.
52. Kerangka konseptual dapat saja berupa refleksi kehendak dari grup-grup atau pihak-
pihak yang dominan.

Professional Values dan Self-Preservation

53. Penjelasan mengenai kerangka konseptual dalam beberapa istilah adalah sebagai
berikut:
a. Self-preservation: Menyiratkan pencairan kepentingan pribadi
b. Professional-values: Menyarankan idealisme dan altruisme
54. Gerboth berpendapat bahwa rasa tanggung jawab pribadi adalah yang membuat
keputusan akuntan menjadi objektif.
55. Sedangkan Hines berpendapat bahwa kemampuan profesi akuntansi untuk
mempertahankan legitimasi sebagai sebuah profesi akan dinilai oleh masyarakat
dalam hal defensibilitas teori yang jelas dari badan pengetahuan profesi.

KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK STANDAR AUDIT

56. Dalam review teks terkini, Miller menegaskan bahwa Mautz dan Sharaf mencoba
untuk menyediakan teori yang menyokong disiplin ilmu yang pada waktu itu dipandang
sebagai latihan praktis.
57. Secara fundamental, Mautz dan Sharaf memadang auditing sebagai suatu disiplin ilmu
berdasarkan pada logika. Ini berarti bahwa auditor tidak secara alami terbatas pada
verifikasi informasi akuntansi.
58. Peran verifikasi tradisional telah berkembang menjadi audit risiko bisnis.