Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tanggung jawab sosial merujuk pada kewajiban-kewajiban sebuah
organisasi untuk melindungi dan memberi kontribusi kepada masyarakat dimana
ia berada. Sebuah organisasi mengemban tanggung jawab sosial dalam tiga
domain yaitu pada pelaku organisasi, pada lingkungan alam, dan pada
kesejahteraan sosial secara umum. Tanggung jawab sosial sangatlah harus
dijalankan, karena hal itu akan berdampak pada image organisasi atau
perusahaan dimata lingkungannya.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusun tertarik untuk menguraikan
lebih lanjut melalui beberapa ru usan diantaranya:
1. Tuntunan Islam Memelihara Lingkungan Alam
2. Kegiatan Ekonomi Dan Tanggung Jawab Lingkungan Alam
3. Pengertian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

1
BAB II
PEMBAHASAN
TANGGUNGJAWAB SOSIAL DALAM KAITANNYA DENGAN
LINGKUNGAN ALAM

A. Tuntunan Islam Memelihara Lingkungan Alam


Dalam Islam, lingkungan merupakan hal yang harus diperhatikan. Kita
diperintahkan untuk senantiasa memelihara lingkungan alam yang ada, hal ini
sesungguhnya merupakan bagian dari tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi
ini. Dalam menjalani kehidupan kita diperintahkan untuk selalu berperangai baik,
baik kepada diri dan orang lain dan lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda:1
:




( )
Artinya: Dari Abu Sa'id, Sa'ad bin Malik bin Sinan Al Khudri"Janganlah
engkau membahayakan dan saling merugikan". (HR Ibnu Majah dan Daruqutni)
Dalam hadits di atas, kita dilarang untuk berbuat sesuatu yang berbahaya dan
merugikan, termasuk di dalamnya membuat kerusakan lingkungan. Kita sebgai
khalifah di bumi ini harus memelihara bumi dan mengolahnya dengan semangat
ibadah. Hal ini tersirat dalam firman Allah SWT:





Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(keni'matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah
telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka)
bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan[1]
Dalam ayat di atas, Allah pertama-tama menyuruh kita untuk senantiasa mencari
kebahagiaan akhirat, artinya kita tidak boleh melupakan perintah-Nya yang paling
asasi, yakni beribadah kepadanya sebagaimana firmannya:


Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi (beribadah)kepada-Ku[2]
Setelah itu Allah melarang kita untuk melupakan bagian kita di dunia, ini
menunjukkan bahwa kita harus aktif dalam mencari karunianya dengan bekerja
dengan giat dan tidak bermalas-malas. Dalam redaksi ayat tersebut menggunakan
seruan larangan sehingga kita harus berusaha (berbisnis). Berusaha disini hendaknya

1
Budi Setyanto, dkk, Etika Bisnis Islam, Jakarta:Gramata Publishing, 2011, h.67

2
usaha yang dapat membawa kebaikan bagi orang lain. Bila kita lihat kembali, setelah
kita diperintahkan untuk beribadah, kita diperintahkan untuk mencari bagian dunia,
hal ini menunjukan dalam setiap tindak tanduk kita hendaknya didasari oleh agama
Allah dengan melakukan segalanya sesuai dengan perintah serta tuntunan agama
dengan tidak merugikan orang lain.2
Selanjutnya Allah memperingatkan kita untuk tidak berbuat kerusakan dimuka
bumi ini. Artinya dalam melakukan segala kegiatan kita hendaknya kita tidak
merusak lingkungan alam. Hal ini karena bila kita merusak maka sangat mungkin
menimbulkan kemudharatan bagi kita dan manuisa yang lainnya. Sehingga
bertentangan dengan maksud potongan ayat sebelumnya yang memerintahkan kita
untuk senantiasa melakukan usaha yang dapat memberikan kebaikan atau manfaat
kepada orang lain.
Di akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Ia membenci orang-orang yang berbuat
kerusakan. Maka hendaknya kita mengingat ini semua bahwa dalam setiap usaha
yang kita lakukan, hendaknya mendatangkan manfaat bagi orang lain dan tidak
menimbulkan kerusakan.
Jadi, dalam syariat Islam, kita perintahkan untuk selalu menjaga dan
memelihara etika dalam melaksanakan stiap kegiatan ibadah atau keduniaan,
termasuk di dalamnya kegiatan bisnis. Sebagai contoh, bagi algojo yang akan
mengeksekusi atau tukang jagal yang ingin menyembelih ternak, diperintahkan untuk
melakukannya dengan baik:
:


[.


]
Artinya: Dari abu ya'la, Syaddad bin Aus" Sesungguhnya Allah mewajibkan
berlaku baik pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh
dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara
yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang
disembelihnya" (HR. Muslim).

B. Kegiatan Ekonomi Dan Tanggung Jawab Lingkungan Alam


Sebagai mana dijelaskan di atas, Islam selalu mendorong kita untuk
senantiasa memlihara lingkungan alam dengan mengolahnya dengan bijak sehingga
menghasilkan kebaikan bagi semuanya serta menghindari untuk berbuat kerusakan
dan menjaga etika dalam bekerja. Setidaknya dalam melaksanakan kegiatan
pemenuhan kebutuhan hidup kita, baik itu sandang, papan ataupun pangan yang

2
M. Umer Capra, Islam dan Tatanan Ekonomi, terj.Ikhwan Abidin B., Jakarta: Gema Insani
Press, 2000, h.09

3
merupakan kebutuhan pokok manusia ataupun kebutuhan sekunder seperti mencapai
hal-hal yang kita impikan atau inginkan yang direalisasikan dengan kegiatan
ekonomi; produksi, distribusi, ataupun konsumsi haruslah tetap berdasarkan agama
dengan menerapkan etika hidup yang luhur dengan tidak berbuat kerusakan di muka
bumi ini.3
1. Etika Dalam Produksi
Eksplorasi nilai dan prinsip etika Islam dalam proses produksi berporos pada
proses kerja yang mencerminkan amal saleh dan amanah untuk mewujudkan
maslahah maksimum, profesionalisme dan pembelajaran sepanjang waktu untuk
mencapai efisiensi.[3] Proses kerja yang dilandasi dengan semangat untuk mencapai
out put yang sesuai dengan permintaan pasar sehingga dapat memperoleh laba yang
diinginkan tanpa menghadapi masalah yang berat di saat produksi ataupun
setelahnya, memang menjadi spirit tersendiri bagi setiap produsen. Namun tanggung
jawab sosial baik secara vertikal maupun horizntal juga perlu ditumbuhkan. Proses
produksi dengan menanamkan di dalamnya etika relijius, baik dalam memilih bahan,
mengolah dan menjaga kualitasnya dari segala aspek bisa dikatakan sebagai bentuk
tanggung jawab vertikal. Dengan memilih dan memilah bahan yang memang
dibolehkan oleh agama, yakni dengan hanya menggunakan hal-hal yang dihalalkan
dan menghindari hal-hal yang diharamkan merupakan wujud dari tanggung jawab
ini. Proses mendapatkan barang produksi juga termasuk di dalamnya, jangan sampai
bahannya halal tapi cara mendapatkannya yang haram. Itulah mengapa di dalam
Islam dilarang membeli barang dari orang dusun yang tidak mengetahui harga pasar
yang berlaku.
Dalam hal produksi yang berupa pengambilan langsung dari alam, hendaknya
menjaga keseimbangan alam, seperti tidak melakukan eksploitasi yang berlebihan.
Hendaknya mengambil secukupnya dan sekedarnya, jangan sampai merusak dan
mengancam keberlangsungan lingkungan alam seperti penggundulan hutan,
perburuan berlebihan, penangkapan ikan dengan bom atau racun dan sebagainya.
Sumber daya alam yang ada seyogyanya digunakan secara bersama-sama dan dicari
(eksploitasi) secara benar dan jujur serta dijaga dengan sebaik-baiknya karena
merupakan amanah dari Allah.[4] Maka dari itu tidak ada yang berhak
menghancurkannya, dan siapa saja yang berbuat kerusakan atasnya, tentu akan
mendapat siksa dari Allah.
Dalam hal pengolahan pun juga haruslah memperhatikan tata cara yang baik
dan bertanggung jawab. Dalam pengolahan suatu barang, hendaknya memperhatikan
beberapa hal. Pertama, tempat pengolahan hendaknya tidak mengganggu lingkungan
sekitar. Apabila dalam peroses pengolahan menimbulkan suara atau bau yang dapat

3
Rafik Issa Beekum, Etika Bisnis Islami, terj.Muhammad, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 200.h11

4
mengganggu lingkungan, maka hendaknya tempat (pabrik) dibangun di tempta yang
jauh dari pemukiman. Begitu juga bila memelihara hewan ternak, hendaknya
kandang berada di tempat yang sekiranya tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Selian itu, seringkali pengolahan terutama pada bidang industri menghasilkan
kotoran atau sisa-sisa yang tidak terpakai (limbah). Seyogyanya limbah dari suatu
proses produksi tidak langsung dibuang ke lingkungan alam, apalagi membuangnya
pada tempat dimana bergantung hajat hidup orang banyak seperti sungai, danau,
dekat mata air, laut, sawah dan sebagainya. Bila terdapat limbah, alangkah baiknya
untuk didaur agar bisa digunakan atau menetralisirnya sehingga tidak berbahaya bagi
lingkungan. Hal ini untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan. Bila
terjadi pemcemaran lingkungan, maka pihak yang bersalah harus bertanggung
jawab dengan membersihkan limbah tersebut dan/atau menutup/mengalihkan
pembuangan ke tempat yang jauh dan tidak mengganggu lingkungan seperti ke dasar
laut dalam.
Hal ini sesungguhnya juga demi kebaikan umat manusia sendiri, karena bila
lingkungan tercemar, maka yang akan menanggung rugi adalah manusia jua. Allah
SWT berfirman:




Artinya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena
perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

2. Etika Dalam Distribusi


Dalam distribusi, implementasi pokok etika sosialnya berada pada jual beli yang
mengarah pada kejujuran informasi dan timbangan yang diharapkan menghasilkan
rasa saling meridho diantara penjual dan pembeli. Dalam Al-Quran Allah berfirman:



Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kami saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama-suka di antara kamu


Artinya: Dan Syu'aib berkata: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan
timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak
mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat
kerusakan
Dalam kaitannya dengan lingkungan alam lebih kepada pengadaan prasarana
distribusi tersebut. Diantara hal yang sering menimbulkan masalah ialah lingkungan
pasar. Kebanyakan pasar terutama pasar tradisional di negara kita masih semberaut
dan kebersihannya tidak terjaga. Hal ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan
bagi penjual atau pembeli yang berkunjung ke pasar tersebut. Selain itu, bila pasar
tersebut berada di dekat sungai maka para pelaku usaha di pasar tersebut membuang

5
sampah ke sungai tersebut sehingga mengganggu ekosistem yang ada tersebut dan
tentu mengganggu warga yang bergantung atau berada di sepanjang aliran sungai
Di sisi lain, pembangunan pusat perbelanjaan yang layak seringkali menempati
tempat yang tidak semestinya. Sebagai contoh, pembangunan pusat perbelanjaan
(mall/ruko) sering dibangun pada lahan yang produktif untuk
penghasil/pengembangan pangan semisal sawah yang tanahnya
subur.[9] Seyogyanya bila akan membangun pusat perbelanjaan hendaknya pada
tempat atau lahan yang tidak produktif atau subur. Hal ini untuk mengantisipasi
kelangkaan pangan di masa depan.
3. Etika Dalam Konsumsi
Sebenarnya konsumsi tidak masuk ke dalam ranah bisnis, tapi karena
prilaku konsumen dalam melakukan konsumsi ikut menjadi pertimbangan bagi
pelaku bisnis lainnya (produsen &/distributor) maka penting juga untuk dubahas.
Selain itu dampak yang ditimbulkan oleh konsumen terhadap lingkungan alam
dewasa ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Dalam realitanya banyak kita
temukan pencemaran lingkungan juga dilakukan oleh konsumen. Pembuangan
sampah secara sembarangan menjadi hal terbesar dalam pencemaran lingkungan oleh
konsumen
Membuang sampah secara sembarangan berdampak serius pada lingkungan.
Tidak adanya pemisahan sampah organik dan anorganik menyebabkan daur ulang
atau penanganan sampah menjadi semakin rumit. Selain itu, kebanyakan sampah
dewasa ini berupa bahan anorganik yang sulit terurai secara alami, kalaupun bisa
memerlukan waktu yang panjang. Dampak lain dari membuang sampah
sembarangan ialah terjadinya berbagai bencana dan menyeebarnya beberapa
penyakit. Sampah-sampah yang dibuang ke suangai atau ke saluran air dapat
menyumbat saluran sehingga ketika turun hujan saluran tersumbat yang selanjutnya
menimbulkan banjir. Sampah-sampah anorganik juga menghambat peresapan air
hujan secara langsung ke dalam tanah, air tertahan di atas sampah tersebut, semisal
plastik, kaleng, ataupun yang lainnya. Genangan air pada sampah ini pada gilirannya
menjadi media penyebaran penyakit seperti menjadi tempat perkembangbiakan
nyamuk demam berdarah.
Oleh sebab itu perlu tindakan untuk mencegah atau mengurangi pencemaran
tersebut. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk merealisasikannya. Pertama,
perlunya menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan
lingkungan. Kedua, bila ada sampah plastik, hendaknya di daur ulang, atau dibakar,
atau mungkin dimanfaatkan kembali seperti membuat kerajinan tangn dari sampah
atau menjadikannya media tanam untuk menanam sayuran rumahan seperti bayam,
cabai dan lainnya.
Selanjutnya bagi pihak produsen hendaknya menggunakan plastik yang
lebih mudah terurai atau dapt didaur ulang. Hal ini telah dilakukan oleh beberapa

6
perusahaan, salah satunya AlfaMart yang menyediakan plastik yang mudah hancur
atau terurai.

C. Pengertian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan


Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility
adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki suatu
tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan
lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. CSR merupakan suatu
komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan
kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat atau pun
masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta
seluruh keluarganya
Definisi CSR menurut World Business Council on Sustainable Development
adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi
terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas
hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Wacana
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang kini
menjadi isu sentral yang semakin populer dan bahkan ditempatkan pada posisi yang
penting, karena itu kian banyak pula kalangan dunia usaha dan pihak-pihak terkait
mulai merespon wacana ini, tidak sekedar mengikuti tren tanpa memahami esensi
dan manfaatnya.[1]
Arti CSR Dalam Perspektif Islam yaitu singkatan dari Corporate Social
Responsibility artinya tanggung jawab sosial sebuah perusahaan terhadap
stakeholder yang terdiri dari sinergi 3P= Profit, People, Planet. Jadi inti dari CSR
adalah bagaimana dari sebuah perusahaan itu memiliki rasa tanggung jawab terhadap
kesejahteraan masyarakat (People) dan kelestarian limgkungan hidup (Planet)
disekitar mereka dengan tetap tidak lupa memperhitungkan untung (Profit) jangka
panjang yang akan didapat.
Contoh bentuk tanggung jawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan
kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan
lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk
pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang

7
bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang
berada di sekitar perusahaan tersebut berada.
a. Hubungan Perusahaan denganPekerja
1) Keputusan Perekrutan, Promosi, dll bagi pekerja.
Islam mendorong kita untuk memperlakukan setiap muslim secara adil. Sebagai
contoh, dalam perekrutan, promosi dan keputusan-keputusan lain dimana seorang
manajer harus menilai kinerja seseorang terhadap orang lain, kejujuran dan keadilan
adalah sebuah keharusan.
2) Upah yang adil
Dalam organisasi Islam, upah harus direncanakan dengan cara yang adil baik bagi
pekerja maupun juga majikan. Pada hari pembalasan, Rasulullah SAW akan menjadi
saksi terhadap orang yang mempekerjakan buruh dan mendapatkan pekerjaannya
diselesaikan olehnya namun tidak memberikan upah kepadanya.
3) Penghargaan terhadap keyakinan pekerja
Prinsip umum tauhid atau keesaan berlaku untuk semua aspek hubungan antara
perusahaan dan pekerjaannya. Pengusaha Muslim tidak boleh memperlakukan
perkerjaannya seolah-olah Islam tidak berlaku selama waktu kerja. Sebagai contoh,
pekerja Muslim harus diberi waktu untuk mengerjakan shalat, tidak boleh dipaksa
untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan moral Islam, harus di
beri waktu istirahat bila mereka sakit dan tidak dapat bekerja, dan lain-lain. Untuk
menegakkan keadilan dan keseimbangan, keyakinan para pekerja non-muslim juga
harus dihargai.
4)Akuntabilitas
Meskipun majikan atau pekerja secara sengaja saling menipu satu sama lain, namun
mereka berdua harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan Allah SWT.
sebagai contoh, Rasulullah SAW tidak pernah menahan upah siapapun.
5) Hak Pribadi
Jika seorang pekerja memiliki masalah fisik yang membuatnya tidak dapat
mengerjakan tugas terentu atau jika seorang pekerja telah berbuat kesalahan di masa
lalu, sang majikan tidak boleh menyiarkan berita tersebut. Hal ini akan melanggar
hak pribadi sang pekerja.

8
b. Hubungan Pekerja dengan Perusahaan
Berbagai persoalan etis mewarnai hubungan antara pekerja dengan perusahaan,
terutama berkaitan dengan persoalan kejujuran, kerahasiaan, dan konflik
kepentingan. Dengan demikian, seorang pekerja tidak boleh menggelapkan uang
perusahaan dan jyga tidak boleh membocorkan rahasia perusahaan kepada orang
luar. Praktek tidak etis lain terjadi jka para manajer menambahkan harga palsu untuk
makanan dan pelayanan dlam pembukuan keuanan perusahaan mereka. Beberapa
dari mereka melakukan penipuan karena merasa dibayar rendah dan ingin
mendapatkan upah yang adil. Pada saat yang lain, hal ini dilakukan hanya karena
ketamakkan. Bagi para pekerja Muslim, Allah SWT memberikan peringatan yang
jelas di dalam Al-quran:
Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang
nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia
tanpa alasan yang benar
Pekerja Muslim yang menyadari makna ayat diatas seharusnya tidak berbuat sesuatu
dengan cara-cara yang tidak etis.

c. Hubungan Perusahaan dan Pelaku Usaha Lain


1) Distributor
Berkaitan dengan distributor, etika bisnis menyatakan bahwa seseorang harus
melakukan negosiasi dengan harga yang adil dan tidak mengambil keuntungan
berdasarkan bagian atau kekuasaan yang lebih besar. Untuk menghindari
kesalahpahaman di masa depan, Allah SWT telah memerintahkan kita untuk
membuat perjanjian kewajiban bisnis secara tertulis. Transaksi gharar antara
perusahaan dan pemasoknya juga dilarang dalam Islam.selain persoalan di
perbolehkannya praktek agensi secara umum, pedagang dilarang campurtangan
dalam sistem pasar bebas melalui suatu bentuk perantaraan tertentu. Perantaraan
semacam ini mungkin akan menyebabkan terjadinya inflasi harga.
2) Pembeli atau Konsumen
Pembeli seharusnya menerima barang dalam kondisi baik dalam
kondisi baik dan dengan harga yang wajar.mereka juga harus di beri tau bila terdapat

9
kekurangan kekurangan pada suatu barang islam melarang praktek praktek di bawah
ini ketika berhubungan dengan konsumen atau pembeli:
a. Penggunaan alat ukur atau timbanagan yang tidak tepat
b. Penimbunan dan manipulasi harga
c. Penjualan barang palsu atau rusak
d. Bersumbah palsu untuk mendukung sebuah penjualan
e. Membeli barang curian
f. Larangan mengambil bunga atau riba
3) Pesaing
Meskipun negara negara barat menyatakan diri sebagai kawasan berdasarkan
prinsip persaingan pasar, publikasi publikasi bisnis utama akan memperlihatkan
bahwa sebuah bisnis akan brusaha memenangkan dirinya dan mengeliminasi para
pesaingnya. Dengan mengeliminasi para pesaingnya, sebuah perusahaan selanjutnya
akan dapat memperoleh hasil ekonomi di atas rata rata melalui praktek praktek
penimbunan dan monopoli harga.
2. Lingkungan Alam
Kaum muslim selalu didorong untuk menghargai alam. Bahkan, Allah telah
menunjuk keindahan alam sebagai salah satu dari tanda-tanda-Nya. Islam
menekankan peran manusia atas lingkungan alam dengan membuatnya bertanggung
jawab terhadap lingkungan sekelilingnya sebagai khalifah Allah SWT. Dalam
peranannya sebagai khalifah, seorang pengusaha Muslim diharapkan memelihara
lingkungan alamnya. Kecenderungan mutakhir paham environmentalisme bisnis,
dimana sebuah usaha secara proaktif memberi perhatian sangat cermat dalam
memperhatikan lingkungan, sebenarnya bukan merupakan suatu yang baru. Sejumlah
contoh semakin memperjelas betapa pentingnya hbungan Islam dengan lingkungan
alam, perlakuan terhadap binatang, polusi lingkungan dan hak-hak kepemilikan, dan
polusi lingkungan terhadap sumber-sumber alam bebas seperti misalnya udara dan
air.
3. Kesejahteraan Sosial Masyarakat
Selain harus bertanggung jawab kepada berbagai pihak yang berkepentingan
dalam usahanya dan lingkungan alam sekelilingnya, kaum Muslim dan
organisasitempat mereka bekerja juga diharapkan memberikan perhatian kepada

10
kesejahteran umum masyarakat dimana mereka tinggal. Sebagai bagian masyarakat,
pengusaha Muslim harus turut memperhatikan kesejateraan anggotanya yang miskin
dan lemah. Bisnis Muslim harus memberi perhatian kepada usaha-usaha amal dan
mendukung berbagai tindakan kedermawanan.

11
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Islam memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga lingkungan alam.
Dalam dua sumber Islam yang asasi, yakni Al-Quran dan Hadits Nabi terdapat
perintah untuk menjaga laingkungan alam, jangan sampai kita berbuat
kemudharatan dan kerusakan di muka bumi ini karena Allah sangat membenci
orang-orang yang berbuat kerusakan. Oleh sebab itu, dalam menjalankan
kehidupan kita di dunia ini hendaknya selalu melandaskan diri dengan rambu-
rambu agama sehingga segala tindak-tanduk kita bisa bernilai ibadah walaupun
itu merupakan pekerjaan dunia.
Begitu juga halnya dalam melakukan kegiatan ekonomi, sebisa mungkin
kita menghindari untuk berbuat kerusakan, baik dalam proses produksi dengan
melakukan pengambilan, pemilihan bahan, ataupun pengolahan produksi serta
limbah yang dihasilkan jangan sampai mengganggu lingkungan alam sekitar.
Sama halnya dengan distribusi dan konsumsi, hendaknya menjunjung nilai-nilai
etika Islami yang luhur dengan berlaku adil dan jujur serta membangun dan
memilih sarana dan prasarana dengan bijaksana.

B. Saran
Sebagai seorang mahasiswa yang tahu dalam segala hal, perbaikilah kata-
kata dalam berbahasa agar tidak menyeleweng dari ejaan yang telah ditentukan,
karena akan patalnya sebuah komunikasi ketika kita menggunakan kata-kata itu
dengan tidak benar. Oleh karena itu, gunakan kata-kata sesuai dengan norma-
norma yang ada,

12
DAFTAR PUSTAKA

Budi Setyanto, dkk, Etika Bisnis Islam, Jakarta:Gramata Publishing, 2011

M. Umer Capra, Islam dan Tatanan Ekonomi, terj.Ikhwan Abidin B., Jakarta: Gema Insani
Press, 2000

Rafik Issa Beekum, Etika Bisnis Islami, terj.Muhammad, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 200

13