Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

SEJARAH DAN TEORI ETIKA

Diajukan untuk memenuhi tugas Etika Profesi

Disusun oleh :

1. Afiati Saputri NIM. 1431410043


2. Ivan Firdausy NIM. 1431410093
3. Shafira Ardhany NIM. 1431410088

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Etika adalah salah satu cabang filsafat yang mendalami pertanyaan tentang
moralitas, mulai dari dasar bahasa yang dipakai, ontologi, dan hakikat
pengetahuan terhadap etika atau moral, bagaimana seharusnya nilai moral dibatasi
(etika normatif), bagaimana akibat (konsekuensi) moral dapat muncul dalam satu
situasi (etika terapan), bagaimana kapasitas moral atau pelaku (manusia) moral
dapat mengeluarkan pendapat dan apa hakikatnya (psikologi moral) dan
memaparkan apa nilai moral yang biasanya dipatuhi oleh orang (etika deskriptif).
Teori etika merupakan suatu tema yang tidak mudah dan tentu tidak
mungkin diuraikan. Secara konkret teori etika ini sering terfokuskan pada
perbuatan, dan dapat dikatakan juga bahwa teori etika membantu kita untuk
menilai keputusan etis. Teori etika menyediakan kerangka yang memungkinkan
kita memastikan benar tidaknya keputusan moral kita. Berdasarkan suatu
keputusan etika kita, keputusan moral yang kita ambil bisa menjadi beralasan.
Dengan kata lain, karena teori etika itu keputusan dilepaskan dari suasana
sewenan-wenang.
Dalam era globalisasi sering kali muncul masalah-masalah dalam etika,
dimana masalah tersebut muncul akibat menurunnya nilai-nilai moral dalam
masyarakat. Globalisasi membawa banyak tantangan dan persoalan yang harus
dihadapi serta menjadi tanggungjawab para profesional. Persoalan yang semakin
kompleks, keterkaitan, dan ketergantungan antar individu dalam sebuah sistem
akan memberikan dampak sosial dari setiap kebijakan maupun keputusan yang
diambil. Setiap profesi (tidak terkecuali) harus benar-benar menaruh perhatian
akan dampak sosial dari setiap keputusan yang diambil dan akan diterapkan.
Kehidupan masyarakat yang terus berubah cepat dan secara mendasar karena
terbentuknya suasana baru (reformasi) dan dipicu dengan kemajuan teknologi di
penghujung akhir abad 20 ini telah menyadarkan kita akan arti pentingnya nilai
moral dan etika serta meningkatnya peran profesionalisme di dalam
menyelesaikan tantangan dan persoalan yang dihadapi sehingga dapat
memberikan wawasan maupun keterampilan (skill) yang berhubungan dengan
persoalan manusia, organisasi, dan manajemen industri, lingkungan serta
persoalan-persoalan praktis yang dihadapi oleh industri dalam aktivitas rutin
sehari-hari.

1.2 Tujuan
1. Mengetahui sejarah pemikiran etika
2. Mengetahui dan memahami teori etika
3. Memahami masalah etika profesi engineering
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Etika


Secara historis etika sebagai usaha filsafat lahir dari keambrukan tatanan
moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2.500 tahun lalu. Karena pandangan-
pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi dipercaya, para filosof
mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan manusia.
Tempat pertama kali disusunnya cara-cara hidup yang baik dalam suatu
sistem dan dilakukan penyelidikan tentang soal tersebut sebagai bagian filsafat.
Menurut Poespoproddjo, kaum Yunani sering mengadakan perjalanan ke luar
negeri, kemudian mereka menjadi sangat tertarik akan kenyataan bahwa terdapat
berbagai macam kebiasaan, hukum, tata kehidupan, dan lain-lain. Bangsa Yunani
mulai bertanya apakah miliknya, hasil pembudayaan negara tersebut benar-benar
lebih tinggi karena tidak ada seorang pun dari Yunani yang akan mengatakan
sebaliknya, maka kemudian diajukanlah pertanyaan mengapa begitu? Kemudian
diselidikinya semua perbuatan dan lahirlah cabang baru dari filsafat yaitu etika.
Jejak-jejak pertama sebuah etika muncul dikalangan murid Pytagoras. Kita
tidak tahu banyak tentang Pytagoras. Dia lahir pada tahun 570 SM di Samos di
Asia Kecil Barat dan kemudian pindah ke daerah Yunani di Italia Selatan. Dia
meninggal 496 SM. Di sekitar Pytagoras terbentuk lingkaran murid yang
tradisinya diteruskan selama dua ratus tahun. Menurut mereka, prinsip-prinsip
matematika merupakan dasar segala realitas. Mereka penganut ajaran reinkarnasi.
Menurut mereka, badan merupakan kubur jiwa (soma-sema,tubuh-kubur). Agar
jiwa dapat bebas dari badan, manusia perlu menempuh jalan pembersihan.
Dengan bekerja dan bertapa secara rohani, terutama dengan berfilsafat dan
bermatematika, manusia dibebaskan dari ketertarikan indrawi dan dirohanikan.
Seratus tahun kemudian, Demokritos (460-371 SM) bukan hanya
mengajarkan bahwa segala apa dapat dijelaskan dengan gerakan bagian-bagian
terkecil yang tak terbagi lagi, yaitu atom-atom. Menurut Demokritos nilai
tertinggi adalah apa yang enak. Dengan demikian, anjuran untuk hidup baik
berkaitan dengan suatu kerangka pengertian hedonistik.
Sokrates (469-399 SM) tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya tidak
mudah direkonstruksi karena bagian terbesar hanya kita ketahui dari tulisan-
tulisan Plato. Dalam dialog-dialog Plato hampir selalu Sokrates yang menjadi
pembicara utama sehingga tidak mudah untuk memastikan pandangan aslinya
atau pandangan Plato sendiri. Melalui dialog Sokrates mau membawa manusia
kepada paham-paham etis yang lebih jelas dengan menghadapkannya pada
implikasi-implikasi anggapan-anggapannya sendiri. Dengan demikian, manusia
diantar kepada kesadaran tentang apa yang sebenarnya baik dan bermanfaat. Dari
kebiasaan untuk berpandangan dangkal dan sementara, manusia diantar kepada
kebijaksanaan yang sebenarnya.
Plato (427 SM) tidak menulis tentang etika. Buku etika pertama ditulis
oleh Aristoteles (384 SM). Namun dalam banyak dialog Plato terdapat uraian-
uraian bernada etika. Itulah sebabnya kita dapat merekonstruksi pikiran-pikiran
Plato tentang hidup yang baik. Intuisi dari Plato tentang hidup yang baik itu
mempengaruhi filsafat dan juga kerohanian di Barat selama 2.000 tahun. Baru
pada zaman modern paham tentang keterarahan objektif kepada Yang Ilahi dalam
segala yang ada mulai ditinggalkan dan diganti oleh berbagai pola etika;
diantaranya etika otonomi kesadaran moral Kant adalah yang paling penting.
Etika Plato tidak hanya berpengaruh di Barat, melainkan lewat Neoplatoisme juga
masuk ke dalam kalangan sufi Muslim. Disinilah nantinya jalur hubungan
pemikiran filsafat Yunani dengan pemikir muslim seperti Ibn Miskawaih yang
banyak mempelajari filsafat Yunani sehingga mempengaruhi tulisan-tulisannya
mengenai filsafat etika. Setelah Aristoteles, Epikuros (314-270 SM) adalah tokoh
yang berepengaruh dalam filsafat etika. Dia mendirikan sekolah filsafat di Athena
dengan nama Epikureanisme yang akan menjadi salah satu aliran besar filsafat
Yunani pasca Aristoteles. Berbeda dengan Plato dan Aristoteles, berbeda juga
dengan Stoa, Epikuros dan murid-muridnya tidak berminat memikirkan, apalagi
masuk ke bidang politik. Ciri khas filsafat Epikuros adalah penarikan diri dari
hidup ramai. Semboyannya adalah hidup dalam kesembunyian.
Tokoh-tokoh filsafat etika masih banyak lagi, dan penulis berkeinginan
membahas semuanya disini, namun karena keterbatasan tempat dan tema yang
diangkat maka tokoh yang disebut di atas penulis anggap sudah cukup mewakili
sejarah filsafat etika pada masa itu. Dan korelasinya dengan intelektual islam pada
masa sesudahnya seperti Ibn Miskawaih yang dalam banyak tulisannya (karya)
banyak dipengaruhi dari pemikiran tokoh filsafat Yunani.

2.2 Teori Etika


Etika sebagai disiplin ilmu berhubungan dengan kajian secara kritis
tentang adat kebiasaan, nilai- nilai, dan norma perilaku manusia yang dianggap
baik atau tidak baik. Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba
untuk menjelaskan suatu tindakan, sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut
pandang atau perspektif yang berlainan. Berikut ini beberapa teori etika:
2.2.1 Teori Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban.
Paham deontologi mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada
kaitannya sama sekali dengan tujuan, konsekuensi atau akibat dari tindakan
tersebut. Konsekuensi suatu tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk
menilai etis atau tidaknya suatu tindakan. Suatu perbuatan tidak pernah menjadi
baik karena hasilnya baik. Hasil baik tidak pernah menjadi alasan untuk
membenarkan suatu tindakan, melainkan hanya kisah terkenal Robinhood yang
merampok kekayaan orang-orang kaya dan hasilnya dibagikan kepada rakyat
miskin.
2.2.2 Teori Teleologi
Teleologi berasal dari akar kata Yunani telos, yang berarti akhir, tujuan,
maksud, dan logos, perkataan. Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala
sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Istilah teleologi
dikemukakan oleh Christian Wolff, seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi
merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan,
rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana
hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi
merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan
di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran
filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan kebijaksanaan objektif di luar
manusia.
Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral
akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan , Teleologi mengerti benar mana
yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir.Yang
lebih penting adalah tujuan dan akibat.Betapapun salahnya sebuah tindakan
menurut hukum, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu
dinilai baik.Ajaran teleologis dapat menimbulkan bahaya menghalalkan segala
cara. Dengan demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar
menurut hukum.Perbincangan baik dan jahat harus diimbangi dengan benar
dan salah. Lebih mendalam lagi, ajaran teleologis ini dapat menciptakan
hedonisme, ketika yang baik itu dipersempit menjadi yang baik bagi diri
sendiri. Teori teleologi mendorong munculnya teori utilitarianisme dan egoisme.
a) Utilitarianisme
Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat
bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the
greatest number). Paham utilitarianisme sebagai berikut: (1) Ukuran baik
tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi, atau tujuan dari tindakan
itu, apakah memberi manfaat atau tidak, (2) dalam mengukur akibat dari suatu
tindakan, satu-satunya parameter yang penting adalah jumlah kebahagiaan atau
jumlah ketidakbahagiaan, (3) kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada
siapa yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang
kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut
pandang kepentingan orang banyak.
Kritik terhadap teori utilitarianisme:
a. Utilitarianisme hanya menekankan tujuan/manfaat pada pencapaian
kebahagiaan duniawi dan mengabaikan aspek rohani.
b. Utilitarianisme mengorbankan prinsip keadilan dan hak individu
/minoritas demi keuntungan mayoritas (orang banyak).
b) Egoisme
Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan
egoisme. Pertama, egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan
bahwa semua tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self
servis). Menurut teori ini, orang boleh saja yakin ada tindakan mereka yang
bersifat luhur dan suka berkorban, namun semua tindakan yang terkesan luhur
dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut hanyalah sebuah ilusi. Pada
kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri. Menurut teori ini,
tidak ada tindakan yang sesungguhnya bersifat altruisme, yaitusuatu tindakan
yang peduli pada orang lain atau mengutamakan kepentingan orang lain dengan
mengorbankan kepentingan dirinya. Kedua, egoisme etis, adalah tindakan yang
dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (self-interest). Tindakan berkutat diri
ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan kepentingan orang lain,
sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu merugikan
kepentingan orang lain.
2.2.3 Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah
pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu
perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori
deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban. Malah bisa dikatakan, hak
dan kewajiban bagaikan dua sisi dari uang logam yang sama. Dalam teori etika
dulu diberi tekanan terbesar pada kewajiban, tapi sekarang kita mengalami
keadaan sebaliknya, karena sekarang segi hak paling banyak ditonjolkan. Biarpun
teori hak ini sebetulnya berakar dalam deontologi, namun sekarang ia mendapat
suatu identitas tersendiri dan karena itu pantas dibahas tersendiri pula. Hak
didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena
itu teori hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis. Teori hak
sekarang begitu populer, karena dinilai cocok dengan penghargaan terhadap
individu yang memiliki harkat tersendiri. Karena itu manusia individual siapapun
tidak pernah boleh dikorbankan demi tercapainya suatu tujuan yang lain.
Menurut perumusan termasyur dari Immanuel Kant: yang sudah kita kenal
sebagai orang yang meletakkan dasar filosofis untuk deontologi, manusia
merupakan suatu tujuan pada dirinya (an end in it self). Karena itu manusia selalu
harus dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan
semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu tujuan lain.
2.2.4 Teori Keutamaan
Dalam teori-teori yang dibahas sebelumnya, baik buruknya perilaku
manusia dipastikan berdasarkan suatu prinsip atau norma. Dalam konteks
utilitarisme, suatu perbuatan adalah baik, jika membawa kesenangan sebesar-
besarnya bagi jumlah orang terbanyak. Dalam rangka deontologi, suatu perbuatan
adalah baik, jika sesuai dengan prinsip jangan mencuri, misalnya. Menurut teori
hak, perbuatan adalah baik, jika sesuai dengan hak manusia. Teori-teori ini semua
didasarkan atas prinsip (rule-based).
Di samping teori-teori ini, mungkin lagi suatu pendekatan lain yang tidak
menyoroti perbuatan, tetapi memfokuskan pada seluruh manusia sebagai pelaku
moral. Teori tipe terakhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang
sikap atau akhlak seseorang. Dalam etika dewasa ini terdapat minat khusus untuk
teori keutamaan sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat
sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau norma. Namun demikian,
dalam sejarah etika teori keutamaan tidak merupakan sesuatu yang baru.
Sebaliknya, teori ini mempunyai suatu tradisi lama yang sudah dimulai pada
waktu filsafat Yunani kuno.
Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah
diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik secara
moral. Kebijaksanaan, misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat
seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah
keutamaan lain yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa
yang menjadi haknya. Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat
seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja
keras adalah keutamaan yang membuat seseorang mengatasi kecenderungan
spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang
adalah orang yang baik jika memiliki keutamaan. Hidup yang baik adalah hidup
menurut keutamaan (virtuous life).
Menurut pemikiran Aristoteles, hidup etis hanya mungkin dalam polis.
Manusia adalah makhluk politik, dalam arti tidak bisa dilepaskan dari polis atau
komunitasnya. Dalam etika bisnis, teori keutamaan belum banyak dimanfaatkan.
Solomon membedakan keutamaan untuk pelaku bisnis individual dan keutamaan
pada taraf perusahaan. Di samping itu, dia berbicara lagi tentang keadilan sebagai
keutamaan paling mendasar di bidang bisnis. Diantara keutamaan yang harus
menandai pebisnis perorangan bisa disebut : kejujuran, fairness, kepercayaan, dan
keuletan. Keempat keutamaan ini berkaitan erat satu sama lain dan kadang-kadang
malah ada tumpang tindih di antaranya. Kejujuran secara umum diakui sebagai
keutamaan pertama dan paling penting yang harus dimiliki pelaku bisnis.
Kejujuran menuntut adanya keterbukaan dan kebenaran. Jika mitra bisnis ingin
bertanya, pebisnis yang jujur selalu bersedia memberi keterangan. Tetapi suasana
keterbukaan itu tidak berarti si pebisnis harus membuka segala kartunya. Sambil
berbisnis, sering kita terlibat dalam negosiasi kadang-kadang malah negosiasi
yang cukup keras dan posisi sesungguhnya atau titik tolak kita tidak perlu
ditelanjangi bagi mitra bisnis. Garis perbatasan antara kejujuran dan
ketidakjujuran tidak selalu bisa ditarik dengan tajam.
Ketiga keutamaan lain bisa dibicarakan dengan lebih singkat. Keutamaan
kedua adalah fairness. Fairness adalah kesediaan untuk memberikan apa yang
wajar kepada semua orang dan dengan wajar dimaksudkan apa yang bisa
disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu transaksi. Insider trading
adalah contoh mengenai cara berbisnis yang tidak fair. Dengan insider trading
dimaksudkan menjual atau membeli saham berdasarkan informasi dari dalam
yang tidak tersedia bagi umum. Bursa efek sebagai institusi justru mengandaikan
semua orang yang bergiat disini mempunyai pengetahuan yang sama tentang
keadaan perusahaan yang mereka jualbelikan sahamnya. Orang yang bergerak
atas dasar informasi dari sumber tidak umum (jadi rahasia) tidak berlaku fair.
Kepercayaan (trust) juga merupakan keutamaan yang penting dalan
konteks bisnis. Kepercayaan harus ditempatkan dalam relasi timbal balik. Ada
beberapa cara untuk mengamankan kepercayaan. Salah satu cara adalah memberi
garansi atau jaminan. Cara-cara itu bisa menunjang kepercayaan antara pebisnis,
tetapi hal itu hanya ada gunanya bila akhirnya kepercayaan melekat pada si
pebisnis itu sendiri.
2.3 Masalah Kode Etik
Menurut Bertens (2007), situasi etis pada zaman modern ini ditandai oleh
tiga ciri antara lain: 1) adanya pluralitas moral; 2) munculnya masalah-masalah
etis baru yang sebelumnya tidak ada; 3) munculnya kesadaran baru di tingkat
dunia yang nampak jelas dengan adanya kepedulian etis yang universal. Maka
dari itu, setidaknya terdapat empat alasan perlunya etika pada zaman ini (Suseno,
1993). Pertama, individu hidup dalam masyarakat yang semakin pluralistik,
termasuk di dalamnya di bidang moralitas. Kedua, pada saat ini individu berada
dalam pusaran transformasi masyarakat yang berlangsung sangat cepat.
Gelombang modernisasi membawa perubahan yang mengenai semua segi
kehidupan. Ketiga, bahwa proses perubahan sosial, budaya dan moral yang terjadi
ini sering dipergunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk
memancing dalam air keruh. Keempat, etika juga diperlukan oleh kaum
agamawan.
Pribadi-pribadi manusia selalu mengadakan pertimbangan terhadap
tingkah laku mereka sendiri dan tingkah laku orang lain. Terdapat tindakan-
tindakan yang disetujui dan dinamakan benar atau tidak. Tindakan-tindakan lain
dicela atau tidak disetujui dinamakan salah atau jahat. Pertimbangan moral
berhadapan dengan tindakan manusia, yang bebas. Tindakan-tindakan yang tidak
bebas, yang pelakunya tidak dapat mengontrol perbuatannya, tidak dihubungkan
dengan pertimbangan moral, karena seseorang dianggap tidak dapat
bertanggungjawab terhadap tindakannya yang tidak dikehendaki. Dari paparan di
atas jelas bahwa persoalan etika adalah sebagai berikut:
1. Etika Deskriptif
Etika deskriptif sering menjadi bahasan dalam ilmu sosiologi. Etika
deskriptif bersangkutan dengan pencatatan terhadap corak-corak, predikat-
predikat serta tanggapan-tanggapan kesusilaan yang dapat ditemukan dilapangan
penelitian. Secara deskriptif dimaksudkan untuk mengetahui apa yang dianggap
baik dan apa yang dianggap tidak baik yang berlaku atau yang ada di dalam
masyarakat. Etika deskriptif melukiskan tingkah laku moral dalam pengertian
luas, seperti dalam adat kebiasaan, atau tanggapan-tanggapan tentang baik dan
buruk, tindakan-tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan.
Etika deskriptif adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan etika yang
berusaha untuk membuat deskripsi yang secermat mungkin tentang yang dianggap
tidak baik yang berlaku atau yang ada di dalam masyarakat. Etika deskriptif
hanya melukiskan tentang suatu nilai dan tidak memberikan penilaian.
2. Etika Normatif
Etika dipandang sebagai suatu ilmu yang mempunyai ukuran atau norma
standar yang dipakai untuk menilai suatu perbuatan atau tindakan seseorang atau
kelompok orang. Dalam hal ini etika normatif menjelaskan tentang tindakan-
tindakan yang seharusnya terjadi atau yang semestinya dilakukan oleh seseorang
atau kelompok orang. Etika normatif tidak seperti etika deskriptif yang hanya
melibatkan dari luar sistem nilai etika yang berlaku, tetapi etika normatif
melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia.
3. Etika Praktis
Etika praktis mengacu pada pengertian sehari-hari, yaitu persoalan etis
yang dihadapi seseorang ketika berhadapan dengan tindakan nyata yang harus
diperbuat dalam tindakannya sehari-hari.
4. Etika Individual dan Etika Sosial
Adalah etika yang bersangkutan dengan manusia sebagai perseorangan
saja. Di samping membicarakan kualitas etis perorangan saja, etika juga
membicarakan hubungan pribadi manusia dengan lingkungannya seperti
hubungan dengan orang lain. Etika individu berhubungan dengan sikap atau
tingkah laku perbuatan dari perseorangan. Sedangkan etika sosial berhubungan
dengan tingkah laku yang dilakukan oleh perseorangan sebagai bagian kesatuan
yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA

Baqir, Haidar. 2005. Saku Filsafat Islam. Bandung: Mizan.


Bertens, K. 1993. Etika Seri Filsafat Atma Jaya:15 . Jakarta: Gramedia Pustaka
Umum.
Fledderman, Charles B. 2006. Etika Enjiniring (Terjemahan: Bob Sabran dan
Shirley Affandy). Jakarta: Erlangga.
Rachels, J. 2004. Filsafat Moral (Terjemahan). Yogyakarta: Kanisus
Maraunuela, David. 2014. Teori Etika. Etika Bisnis, Universitas Kristen
Indonesia. https://www.academia.edu/7067311/TEORI_ETIKA diakses
pada 2 April 2017.
Misbah, Daqoiqul. 2012. Pengertian Filsafat Etika, Sejarah, dan
Problematikanya. Aqidah Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
(online) http://daqoiqul.blogspot.co.id/2012/09/pengertian-filsafat-
etika-sejarahdan.html diakses pada 2 April 2017.
Poespoprodjo. 1999. Filsafat Moral Kesusilaan Teori dan Praktek. Bandung:
Pustaka Grafika.
Suseno, Franz Magnis. 1993. Etika Dasar Masalah-Masalah Pokok Filsafat
Moral. Yogayakarta: Kanisius.
Widjajanti, Rosmaria Sjafariah. 2008. Etika. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.